Kesalahpahaman tentang Pembagian Tauhid
Sebagian saudara-saudara muslim kita yang mengaku bermanhaj dan beraqidah Salaf, membagi tauhid menjadi Tauhid Rububiyah, Tauhid Uluhiyah dan Tauhid Asma wa Sifat. Mereka adalah yang memahami Al-Qur’an dan Hadits dengan konsep/metodologi yang kami beri nama “terjemahkan saja”. Telah kami uraikan dalam tulisan pada http://mutiarazuhud.wordpress.com/2011/02/02/terjemahkan-saja/
Konsep/metodologi pemahaman mereka adalah
Kita harus berserah diri, jangan menggunakan akal, apa yang Allah ta’ala dan Rasulullah sampaikan dan apa yang dicontohkan oleh Salafush Sholeh harus diterima dan diikuti apa adanya berdasarkan penterjemahan / penafsiran terhadap nash-nash Al-Qur’an dan Hadits secara dzahir karena Al-Qur’an diturunkan dalam bahasa Arab yang jelas.
Dalih konsep mereka dengan firman Allah yang artinya, “dengan bahasa Arab yang jelas”. (QS Asy Syu’ara’ [26]: 195).
Namun untuk pembagian Tauhid ini mereka tampaknya (seolah) ”mengingkari” bahwa segala sesuatu dalam Agama harus hanya mengikuti apa yang Allah ta’ala dan Rasulullah sampaikan dan apa yang dicontohkan oleh Salafush Sholeh. Mereka mengakui bahwa pembagian Tauhid itu tidak disebutkan dalam Al-Qur’an dan Hadits serta tidak didapati pula pada zaman Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam ataupun shahabat.
Mereka terpaksa mengikuti perkara baru, bagi kaum mereka dengan menggunakan istilah muhdats sedangkan perkara baru yang diikuti oleh muslim lain mereka langsung menuduh (menggunakan istilah) bid’ah.
Berikut pengakuan mereka yang kami kutip dari http://almanhaj.or.id/content/2333/slash/0
***** awal kutipan *****
Betapa tepatnya perkataan Syaikh Bakr Abu Zaid dalam risalahnya “At-Tahdzir” halaman 30 berkisar pembagian tauhid. Kata beliau : “Pembagian ini adalah hasil istiqra (telaah) para ulama Salaf terdahulu seperti yang diisyaratakan oleh Ibnu Mandah dan Ibnu Jarir Ath-Thabari serta yang lainnya. Hal ini pun diakui oleh Ibnul Qayim. Begitu pula Syaikh Zabidi dalam “Taaj Al-Aruus” dan Syaikh Syanqithi dalam “Adhwa Al-Bayaan” dan yang lainnya. Semoga Allah merahmati semuanya
***** akhir kutipan *****
Pada hakikatnya mereka ”terpaksa” mengakui bahwa untuk memahami Al-Qur’an dan Hadits harus menggunakan akal atau telaah (istiqra), kita tidak dapat sekedar “menterjemahkan saja”.
Jadi kelirulah mereka yang menolak tentang fiqih atau anti mazhab, karena fiqih atau mazhab pun merupakan hasil telaah (istiqra) terhadap Al-Qur’an dan Hadits yang melampaui konsep/metodologi “terjemahkan saja”. Silahkan baca tulisan pada http://mutiarazuhud.wordpress.com/2011/01/10/2011/01/18/paham-anti-mazhab/
Setelah waktu berlalu tampaknya kita harus mengkaji ulang hasil telaah (istiqra) para ulama tentang pembagian Tauhid atau untuk mudahnya kami menyebutnya “Tauhid menjadi tiga”.
Konsep atau pemahaman “tauhid menjadi tiga” pada kenyataannya digunakan untuk menilai atau menghukum saudara-saudara muslim lainnya. Bertebaranlah penilaian hingga pen-tahdzir-an, pen-hajr-an bahkan pentakfiran terhadap sesama saudara muslim dikarenakan prasangka bahwa muslim lain baru bertauhid Rububiyah belum bertauhid Uluhiyah. Sehingga lahirlah istilah “mukmin musyrik”. Selengkapnya silahkan baca tulisan pada http://mutiarazuhud.wordpress.com/2011/02/02/2011/01/10/mukmin-musyrik/
Pada hakikatnya tidak ada isitilah/tingkatan tauhid Rububiyah atau tidak dikatakan ber-tauhid jika manusia mengakui bahwa ada tuhan yang menciptakan, memiliki dan mengatur langit dan bumi serta seisinya.
Dengan tauhid Rububiyah secara tidak disadari kita mengakui bahwa non muslim atau bahkan kaum musyrik itu ber-tauhid. Padahal kita tahu bahwa (contohnya) orang-orang Yahudi dan orang-orang Nasrani tidaklah dikatakan mereka ber-agama ataupun mereka ber-tauhid. Pada hakikatnya tidak ada agama selain Islam. Selengkapnya silahkan baca tulisan pada http://mutiarazuhud.wordpress.com/2011/01/10/2011/01/21/agama-hanya-islam/
Manusia yang ber-tauhid hanyalah mereka yang mengakui agamanya adalah Islam dengan intinya mentaati perintah dasar/inti dari Allah Azza wa Jalla untuk ber-syahadah.
Tauhid adalah hanya menyembah/mengabdi atau mentaati Allah Azza wa Jalla.
”Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah (mengabdi) kepada-Ku” (QS Adz Dzariyaat [51]:56 )
Imam Ibnu Katsir rohimahulloh berkata, yaitu tujuan mereka Kuciptakan adalah untuk Aku perintah agar beribadah kepada-Ku, bukan karena Aku membutuhkan mereka (Tafsir Al Qur’anul ‘Adzhim, Tafsir surat Adz Dzariyaat). Makna menyembah(mengabdi) kepada-Ku dalam ayat ini adalah mentauhidkan Aku, sebagaimana ditafsirkan oleh para ulama salaf.
”Dan sungguhnya Kami telah mengutus rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan): “Sembahlah (mengabdilah kepada) Allah (saja), dan jauhilah Thaghut (sembahan selain Allah) itu” (QS An Nahl [16]:36 )
”Sembahlah (mengabdilah kepada) Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatupun” (QS An Nisaa [4]: 36 )
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Hak Allah yang harus ditunaikan hamba yaitu mereka menyembah-Nya dan tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu apapun…” (Riwayat Bukhori dan Muslim)
Ada sebagian manusia mengatakan bahwa Syaitan lebih ber-tauhid dibandingkan manusia, karena mereka tidak mau menyembah/bersujud kepada selain Allah. Syaitan tidak dikatakan ber-tauhid, intinya adalah karena tidak mentaati perintah Allah Azza wa Jalla.
Jika siapapun tidak mentaati perintah Allah ta’ala pada hakikatnya tidak mengakui ke-Maha Kuasa-an Allah Azza wa Jalla atau meyakini ada yang berkuasa selain Allah Azza wa Jalla. Inilah inti dari sikap/perbuatan syirik atau mensekutukan Allah ta’ala yakni tidak mentaati perintah Allah Azza wa Jalla. Nabi Adam a.s diturunkan ke dunia karena tidak mentaati perintah Allah Azza wa Jalla untuk menjauhi laranganNya.
Jadi, bagi siapa saja yang telah bersyahadat maka mereka termasuk hamba Allah ataupun mereka yang ber-tauhid. Jika dalam perjalanan mereka, kita melihat atau menilai mereka telah melakukan perbuatan atau menunjukan sikap yang condong kekufuran maka tidak secara otomatis membatalkan ke-Islaman. Kita tidak dapat memvonis kufur ahlul qiblat ( ummat Islam ) secara sepihak tanpa upaya klarifikasi. Selengkapnya silahkan baca tulisan pada http://mutiarazuhud.wordpress.com/2010/12/19/takfir/
Sebagai contoh kekeliruan yang dilakukan oleh para ulama di salafy.or.id yang memvonis sesat secara sepihak dan hanya melalui pemahaman sepihak terhadap tulisan/perkataan Syaikh Yusuf Qaradhawi. Selengkapnya silahkan baca tulisan pada
http://mutiarazuhud.wordpress.com/2011/01/28/takut-dan-harap/
Kita wajib berprasangka baik terhadap manusia apalagi dengan sesama muslim. Jika kita melihat amal perbuatan dari saudara muslim kita yang tidak kita pahami bisa jadi kita belum tahu dalil yang mereka gunakan atau bahkan kita selama ini keliru memahami nash-nash Al-Qur’an dan Hadits.
Allah Ta’ala berfirman.
“Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan berprasangka, karena sesungguhnya sebagian tindakan berprasangka adalah dosa dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain” [Al-Hujurat : 12]
Amirul Mukminin Umar bin Khathab berkata, “Janganlah engkau berprasangka terhadap perkataan yang keluar dari saudaramu yang mukmin kecuali dengan persangkaan yang baik. Dan hendaknya engkau selalu membawa perkataannya itu kepada prasangka-prasangka yang baik”
Ibnu Katsir menyebutkan perkataan Umar di atas ketika menafsirkan sebuah ayat dalam surat Al-Hujurat.
Disebutkan dalam kitab Al-Hilyah karya Abu Nu’aim (II/285) bahwa Abu Qilabah Abdullah bin Yazid Al-Jurmi berkata : “Apabila ada berita tentang tindakan saudaramu yang tidak kamu sukai, maka berusaha keraslah mancarikan alasan untuknya. Apabila kamu tidak mendapatkan alasan untuknya, maka katakanlah kepada dirimu sendiri, “Saya kira saudaraku itu mempunyai alasan yang tepat sehingga melakukan perbuatan tersebut”.
Abu Hatim bin Hibban Al-Busti bekata dalam kitab Raudhah Al-‘Uqala (hal.131), ”Orang yang berakal wajib mencari keselamatan untuk dirinya dengan meninggalkan perbuatan tajassus dan senantiasa sibuk memikirkan kejelekan dirinya sendiri. Sesungguhnya orang yang sibuk memikirkan kejelekan dirinya sendiri dan melupakan kejelekan orang lain, maka hatinya akan tenteram dan tidak akan merasa capai. Setiap kali dia melihat kejelekan yang ada pada dirinya, maka dia akan merasa hina tatkala melihat kejelekan yang serupa ada pada saudaranya. Sementara orang yang senantiasa sibuk memperhatikan kejelekan orang lain dan melupakan kejelekannya sendiri, maka hatinya akan buta, badannya akan merasa letih dan akan sulit baginya meninggalkan kejelekan dirinya”.
Kita sebaiknya meninggalkan hasil telaah(istiqra) tentang pembagian Tauhid menjadi tiga dan kembali kepada pemahaman Tauhid yang sesuai dengan Al-Qur’an dan Hadits. Bisa jadi adanya Tauhid Rububiyah dipengaruhi oleh kaum non muslim atau perang pemahaman (ghazwul fikri) yang dilancarkan oleh kaum non muslim untuk membenarkan adanya agama mereka. Sebagaimana yang telah kami sampaikan di atas bahwa agama hanyalah Islam. Firman Allah yang artinya, “Sesungguhnya agama disisi Allah hanyalah Islam” (QS Ali Imran [3]:19 )
Wassalamualaikum Wr Wb
Zon di Jonggol, Kab Bogor 16830

Mengesakan Tuhan (Tauhid) menurut aqidah pertengahan (aqidah wasithiyyah) Ibnu Taimiyyah :
1. Tauhid Rubbubiyyah(Ketuhanan): mengesakan Tuhan dalam hal penciptaan makhluk, pengatur alam semesta, pemberi rizki, dll yg berkaitan dg Hak Tuhan. Ternyata iblis dan musyrikin mekkah jaman dahulu itu mengakui tentang tauhid ini (tercatat jg dlm ttg pengakuan mereka ini)
2. Tauhid Ulluhiyyah : Tidak ada Tuhan yg berhak diibadahi dengan benar kecuali Allah. Tauhid ini mengesakan Tuhan dalam hal ibadah (hanya beribadah kpd Alloh baik dlm mlakukan sholat, berdo’a, dzikir, menyembelih(kur’ban), memohon pertolongan, perlindungan, dll). Iblis laknatulloh dan musyrikin mekkah tidak memiliki tauhid ini.
3. Tauhid Asma Wa Sifat (Nama dan sifat baik Dzat maupun Perbuatan) : menetapkan sifat-sifat Allah Ta’ala, tanpa
a. Ta’thil (mengingkari keberadaan sifat Allah /mengingkari sebagian darinya)
b. Tamtsil (Menyerupakan Allah dg makhluknya)
c. Tahrif ( merubah/mengganti sifat Tuhan)
d. Takyif (Menanyakan bagaimana caranya dri suatu sifat Tuhan.
Menanyakan cara Alloh Turun dari langit pada sepertiga malam, menanyakan cara istiwa Alloh diatas Arsy, menanyakan cara berbicaranya Alloh pada Musa, menanyakan bentuk wajah/tangan/telapak kaki Allah yg memang sudah terbukti ada dan itu tercatat oleh Qur’an dan Al Hadits dan itu kita dilarang meniadakan/menghilangkan/merubah maknanya seperti tangan Alloh diganti dg kekuasaan ini tidak boleh karena ini meniadakan sifat Alloh. Keberadaan Tangan Alloh ini bukan berarti kita menyerupakan dg makhluk, karena sudah pasti itu berbeda dg tangannya makhluk dan kita dilarang menanyakannya. Seperti halnya manusia kan punya nama, begitu jg dg Tuhan…tapi hal ini bukan berarti nama kita sama dg Tuhan.
beberapa ayat ttg sifat Allah SWT:
1. Berbicara : “Dan Allah berbicara kepada Musa dengan langsung”. (An-Nisa ‘ : 164) .
2. Tidak ada sesuatu pun yang menyerupai-Nya dan Dia Maha Mendengar lagi Maha Melihat (Asy-Syura : 11)
3. Marah: “Dan barangsiapa membunuh seorang mukmin secara sengaja, maka balasannya adalah Jahannam, ia kekal di dalamnya, sedangkan Allah MARAH dan melaknatnya.” (An-Nisa ‘ : 43)
4. Murka : “itu dikarenakan mereka mengikuti apa yang menjadikan Allah murka dan mereka membenci keridhaan-Nya.” (Muhammad : 28)
5. Tiba/datang : “Tiada yang mereka nanti-nantikan melainkan keda-
tangan Allah dan malaikat (pada hari kiamat) dalam naungan awan, dan iputuskanlah perkaranya.” (Al -Baqarah : 210 )
6. Wajah : “Dan tetap kekal Wajah Rabbmu yang mempunyai kebesaran dan kemuliaan.” (Ar-Rahman : 27)
7. Kedua Mata: “Dan bersabarlah dalam menunggu ketetapan Rabbmu, sesungguhnya kamu berada dalam penglihatan Mata Kami.” (Ath-Thur : 48)
8. Kedua Tangan : “Apakah yang menghalangi kamu sujud kepada (Adam) yang telah Ku-ciptakan dengan kedua tangan-Ku.” (Shad : 75)
9. Bersemayam /Istiwa’ : “Allah Yang Maha Pemurah, Yang bersemayam di atas
‘Arsy.” (Thaha : 5)
Intinya apa yg datang dari Allah (menurut Al Qur’an dan Al Hadits) maka kita wajib mempercayainya, khusus dlm asma dan sifat Alloh kita dilarang melakukan perubahan makna sebenarnya, menghilangkan, menyerupakan atau bahkan menanyakan caranya. Karena hal ini menyangkut bukti Tauhid kita kpd Yang Kuasa, jika kita melakukan ke-4 tadi , berarti tauhid kita masih dipertanyakan. Sementara tauhid ini yg akan menilai apakah kita ini calon penghuni syurga atau neraka…??.
banyak aliran yg melakukan salah satu dr 4 tadi seperti : faham Asy’Ariyyah (merubah makna tangan dg kekuasaan/qudwah, padahal sama aja ketika Alloh punya kekuasaan, manusia juga ada yg memiliki kekuasaan (yaitu para pemimpin), dan ini bukan berarti para pemimpin itu sama dg Tuhan, jadi perubahan ini tidak ada maknanya, malah justru kita tersesat karena menghilangkan salah satu sifat Alloh yg memang sudah disampaikan kebenarannya mlalui AL Qur’an.
Perlu dikaji dan direnungkan …karena dg Izin Allah…pemahaman inilah yg benar diantara faham -faham yg samar-samar/subhat (Wallohu A’lam)…smoga kita dpt petunjuk-Nya. Amin…., silahkan merujuk ke Aqidah washittiyyah ibnu Taymiyyah
Pembagian tauhid ini adalah untuk memperjelas, bukan mengikuti agama nasrani. Hal ini seperti ilmu nahwu untuk mempelajari bahasa arab. Sebenarnya menurut hemat sya, ini hanya kaidah/rumus untuk mempermudah kita memahami Islam. Pembagian itu adalah berdasarkan ayat Al Qur’an seperti tauhid Rububiyah : dlm ayat Al Qur’an Pun ada yg mengatakan bahwa ” Jika kamu tanyakan kepada mereka (musyrikin), siapa yg menciptakan, memberi rizki, dll, maka mereka akan menjawab “Allah”. Hal ini adalah membuktikan sebenarnya kafir musyrikin bahkan syaiton pun mengakui tentang Ketuhanan Allah ini , tapi mereka tidak mau Ta’at kdp Alloh SWT. Begitu juga Tauhid asma’ wasifat, kita harus meyakini bahwa nama, dan sifat Alloh (Dzat maupun perbuatan) itu benar adanya tanpa memalingkan maknanya/merubah makna, menghilangkan , dan menanyakan bagaimana cara atau bentuknya, bagaimana Ibnu Taimiyyah dikatakan mujassimah..sedangkan ajaran dia sendiri melarang menyerupakan dan menanyakan bagaimana cara dari sifat Allah. Dia sebenarnya hanya ingin merinci apa saja yg harus dipenuhi agar kita bertauhid dengan benar. Menurut hemat sya orang dikatakan bertauhid yg benar itu harus meyakini, membenarkan dan mengamalkan ketiga aspek yang mendukung kepada sebenar benarnya dlm bertauhid. Jadi setan dan musyrikin belum bertauhid, karena mereka tidak mengamalkan ketiga aspek tadi (hanya mengakui dari segi rububiyah/ketuhanan saja). Jadi Wajah/Kedua Tangan/ dll yg ada dalam al qur’an…apakah salah, jika kita mengakui hal tersebut, apakah mau diterjemahkan ke makna lain yg sebenarnya makna lain itu tetap saja dimiliki oleh Alloh SWT dan makhluknya (namun jelas tidak sama, dan kita dilarang menanyakan bagaimana bentuknya, seperti Imam Malik ditanya tentang Istiwa: dia meyakini itu, dan bilang bahwa menanyakan kaifiyatnya adalah bid’ah). Knapa para sahabat tidak ada yg menanyakan hal ini….??? sya yakin bahwa bagi para sahabat tidak ada yg perlu ditanyakan lagi, karena itu ayat Al Qur’an dan kita tinggal meyakininya. Penafsiran tentang sifat Alloh ini perlu dalil dari hadiits, kalau tidak ditemukan , jangan sekali-kali berani menafsirkan, karena konsekuensinya berat. Abul hasan Al Asy’ari yg dulu awalnya menafikan sifat2 ini (ttg Dzat Alloh/ wajah/kedua tangan), dia bertaubat dan merubah fatwanya, silahkan di cek di http://www.persis.or.id. (fiqh: pokok2 akidah ahlusunnah waljamaah). Mudah2an kita dapat petunjuk Allah SWT.. amin
Mas Hery Sopari,
Pembagian tauhid jadi tiga bukan dilakukan oleh Salafush Sholeh namun oleh ulama-ulama kemudian. Salah satu ulama yang gigih menyebarluaskan pembagian tauhid jadi tiga adalah ulama Ibnu Taimiyah. Pembagian tauhid jadi tiga termasuk perkara baru (bid’ah) dan termasuk bid’ah dlolalah. Kami telah menguraikan kesalahpahaman pembagian tauhid jadi tiga dalam tulisan pada
http://mutiarazuhud.wordpress.com/2011/05/03/2011/02/08/pembagian-tauhid/
Berikut link-link yang menguraikan kesalahpahaman pembagian tauhid jadi tiga
http://mutiarazuhud.wordpress.com/2010/05/05/tauhid-jadi-tiga/
http://ummatipress.com/2011/03/20/fatwa-ulama-aswaja-mesir-atas-kesesatan-pembagian-tauhid-salafy-wahabi/
http://ummatipress.com/2011/05/31/membantah-pembagian-tauhid-jadi-3-trinitas-wahabi-dengan-dalil-dalil-shahih/
http://al-ashairah.blogspot.com/search/label/Kebathilan%20Tauhid%20Tiga%20T
http://allahadatanpatempat.wordpress.com/2010/05/09/membongkar-kesesatan-ajaran-wahabi-yang-membagi-tauhid-kepada-3-bagian-aqidah-mereka-ini-nyata-bidah-sesat/
Ya Mas, betul, seperti ilmu nahwu pun tidak diajarkan jaman dahulu, tapi sebenarnya ini ilmu yg memperjelas dan mempermudah memahami islam. Sudah sya katakan bahwa Tauhid yg dimaksud Ibnu Taimiyyah sebenarnya tidak terpisah2. Namun ketiga aspeknya harus diakui dana diyakini. Jadi kalau diringkas itu : bertauhid itu perlu meyakini dan membenarkan 3 aspek :
1. Ketuhanan Alloh SWT yg Mengatur , mencipta, dan memberi rizki, dll yg berhubungan dengan Sang Pencipta. Syetan dan Kafir musyrikin mekah mengakui hal ini yg tercantum dalam al qur’an. (sya lupa ayatnya)
2. Hanya beribadah kepada Alloh SWT.
3. Mengakui dan meyakini kebenaran Asma dan Sifa ALloh SWT
sebenarnya ini untuk memperinci Tauhid saja (ilmu tauhid) , seperti ilmu nahwu memperinci dan menjelaskan tata bahasa ayat Al Qur’an dari segi bahasa padahal tdk pernah jaman dahulu para sahabat membahas ini…kan ini ilmu untuk mempermudah dan memahami islam, seperti matematika untuk membahas warisan. Tidak sepakat juga buat sya pribadi tdk mnjadi msalah, yg penting kita semua meyakini dan telah mempelajari ilmunya. Ketiga aspek itu menurut sya perlu diyakini dan dibenarkan, karena sumbernya ayat Al Qur’an semuanya. adapun mau dibagi 3 atau hanya satu, yg jelas syarat bertauhid itu ketiga aspek itu harus diyakini sebagai pokok akidah ahlusunnah wal jamaah dalam tauhid.
Mas Hery Sopari , pembagian Tauhid jadi tiga, tidak dapat disamakan “keberadaannya” dengan ilmu nahwu.
Hal yang dpermasalahkan adalah hasil istiqro (telaah) Tauhid jadi tiga bertentangan Al Qur’an dan As Sunnah
Berdasarkan pembagian Tauhid jadi tiga, contohnya timbul istilah “mukmin musyrik” karena bertauhid Rububiyyah namun dianggap belum bertauhid Uluhiyah
Kalangan kaum Wahabi/Salafi merupakan salah satu penggiat utama pembagian Tauhid ke dalam tiga macam (merekapun sepakat bahwa pembagian ini adalah “hasil karya” ulama/syaikh mereka dan bukan dari para Salafush Sholeh) yakni, Tauhid Rububiyyah, Tauhid Uluhiyyah dan Tauhid al-Asma’ wa al-Shifat
Berdasarkan pemahaman kaum Salafi Wahhabi, mereka beranggapan bahwa bertawassul dan beristigotsah adalah perbuatan yang menjadikan termasuk orang musyrik.
Penilaian kaum Salafi Wahhabi, dengan bertawassul dan beristighosah, kaum Nahdhiyyin tauhidnya baru sebatas tauhid Rububiyyah (mengakui adanya Tuhan sebagai pencipta) namun beribadah tidak hanya kepada Allah atau belum bertauhid Uluhiyah atau dengan kata lain menyekutukan Allah (syirik) sehingga menjadi termasuk orang musyrik.
Sedangkan dari pemahaman kaum Salafi Wahabi tentang sepuluh hal-hal yang membatalkan keislaman dimana salah satu pointnya adalah:
barangsiapa yang tidak mengkafirkan orang-orang musyrik, atau ragu akan kekafiran mereka, atau membenarkan paham (madzhab) mereka, maka dengan demikian dia telah kafir
Berdasarkan pemahaman Salafi Wahabi maka bagi muslim lainya yang tidak menkafirkan orang-orang (yang dengan pemahaman mereka dianggap) musyrik atau ragu akan kekafiran mereka atau membenarkan paham (madzhab) mereka, maka dengan demikian dia telah kafir juga.
Inilah yang dinamakan “pengkafiran beruntun”, kaum Salafi Wahabi menganggap beberapa amaliyah kaum Nahdiyyin menjadikan mereka orang-orang musyrik dan bagi muslim yang lain tidak mengakui kemusyrikan tersebut maka dengan demikian dia telah kafir juga.
Tampaknya perlu kita kaji ulang tentang pemahaman “Tauhid jadi tiga” karena adanya kecenderungan “memusyrikkan” kaum muslimin dengan pemahaman tauhid seperti itu.
Contoh keanehan “tauhid jadi tiga” bagi pemahaman kami bahwa, mereka memahami bahwa orang-orang non muslim bertauhid Rububiyyah bahwa mereka mengaku Tuhan sebagai pencipta, pemilik dan pengatur langit, bumi dan seisinya
Sedangkan kita tahu bahwa Tauhid yang merupakan ajaran seluruh Nabi semenjak Nabi Adam as sampai dengan Rasulullah artinya mengesakan Allah.
“Katakanlah: “Dia-lah Allah, Yang Maha Esa. (QS Al Ikhlas 112: 1 )
Jadi non muslim walaupun mengakui Tuhan sebagai pencipta tidaklah dapat dikatakan bertauhid karena mereka tidak mengesakan Allah.
Selengkapnya http://mutiarazuhud.wordpress.com/2010/05/05/tauhid-jadi-tiga/
Bagi non muslim itu, mereka tidak bertauhid atau mereka tidak mengesakan Allah sehingga mereka tidak termasuk orang-orang yang beriman.
Selengkapnya http://mutiarazuhud.wordpress.com/2010/09/23/2010/10/27/orang-orang-beriman/
Kaum Wahabi/Salafi dalam langkah yang mereka katakan sebagai “pemurnian Tauhid” sering mengungkapkan bahwa “separuh masa kenabian Rasulullah untuk mengajarkan tauhid” dan pemahaman tauhid mereka menisbatkan kepada Salafush Sholeh..
Sangat disayangkan dengan jargon “pemurnian tauhid”, mereka membuat istilah khusus untuk umat muslim lainnya seperti umat Islam yang senang berziarah kubur para wali dengan sebutan “Quburiyyun”, bahkan lebih tega lagi ketika mereka menyindir umat Islam yang senang memuji dan menyanjung Rasulullah Saw terasuk maulid Nabi. dengan sebutan “Abdun-Nabi” (hamba Nabi) yang mengesankan bahwa para penyanjung Rasulullah Saw. benar-benar telah menyembah beliau alias melakukan syirik (lihat Tafsir Seper Sepuluh Dari Al-Qur’an Al-Karim, hal. 95, buku ajaran Wahabi yang dibagikan Cuma-Cuma).
Julukan atau sebutan yang buruk kepada umat muslim lainnya atau kepada sesama saudara muslim, bukanlah cerminan akhlak yang baik atau muslim yang sholeh.
Hal ini yang kami khawatirkan dari kaum mereka adalah mereka menisbatkan dirinya kepada Salafush Sholeh namun mereka menyibukkan “teori”/ilmu Tauhid (alat) sehingga mereka tanpa disadari lupa bahwa hasil/output/tujuan dari ketauhidan itu sendiri.
Mereka sibuk mempelajari segala macam ketaatan para Salafush Sholeh namun secara tidak disadari mereka lupa berupaya seperti Salafush Sholeh yakni mencapai muslim yang sholeh.
Hasil/output dari ketauhidan itu sendiri adalah akhlak, yakni akhlak/adab kita sebagai hamba Allah dihadapanNya dan akhlak kita dengan sesama ciptaanNya termasuk akhlak kepada sesama manusia apalagi akhlak kepada sesama muslim yang telah bersyahadat.
Rasulullah mengatakan “Sesungguhnya aku diutus (Allah) untuk menyempurnakan Akhlak.” (HR Ahmad).
Yup Mas, pemahaman mas itu silahkan dipedomani, akan tetapi jangan lupa juga ada ayat al qur’an pun menyatakan apa2 yg kita olok2 itu bisa jadi lebih baik di mata Alloh dan sebaliknya. Memang betul, beberapa hal yg sya tdk sepakat dg mereka itu adalah ttg akhlak. Akan tetapi, dari segi pemahaman apakah mereka melenceng atau tidak, sya bandingkan dan kaji ulang dengan pemahaman pks/ikhwanul muslimin, muhammadiyyah, dan persis juga. di www. muhammadiyah.or.id disitu ada tulisan ttg “wahabi” yg dibuat oleh pimpinan wilayah muhammadiyyah jabar, intinya muhammadiyyah mengakui kebenaran faham salafy akan tetapi jika ada minoritas dari mereka yg bertentangan dg islam maka itu tdk bisa dijadikan pedoman baik untuk diikuti ataupun untuk dijadikan penilaian tentang kesalahan fahamnya.(Intinya : kalau ilmunya sesuai AL QUr’an dan Hadits maka itu wajib diikuti, kalau tidak yg tidak usah, jadi tidak disamaratakan, begitu juga dalam mencari ilmu, bisa jadi pendapat Imam A tdk shahih akan tetapi pendapat Imam B shahih dan sebaliknya, jadi tidak bisa diratakan dalam penilaian). Org2 pks maupun hizbut tahrir banyak yg sepakat dg mereka dar segi akidah maupun syari’at, yg berbeda hanya dalam menyikapi pemerintahan. Pembagian tauhid itu seperti ilmu ushul fiqh , yg membuat kaidah2 berdasarkan Al Qur’an dan Al Hadits untuk memudahkan kita mempelajari agama. Ilmu tauhid pun didasarkan pada ayat 2 alQUr’an, itu semua ada ayatnya, baik mengenai pengakuan org musyrik tentang ketuhanan Allah SWT, sehingga telaahan Ibnu Taimiyyah, berkesimpulan bahwa tauhid itu harus memenuhi 3 aspek (mengakui ketuhanan Allah SWT, Beribadah Hanya Kpd Allah, dan Mengakui Nama dan Sifat2 Allah yg tertera dlm AL Qur’an), nah apakah hal ini salah dan berbahaya…????hemat sya ini hanya sebuah rumusan/formula yg sejajar dg kaidah2 ushul fiqh. Adapun orang yg mengikutinya dg berani menyakiti sesama umat islam, berarti dia blm memahami bahwa islam ini adalah untuk rahmatan lil a’lamin. ” Tidak beriman kamu sebelum mencintai saudaramu seperti mencintai apa2 yg ada pada dirinya sendiri” (Arbain Nawawi). Adapun jika ada hal2 yg bertentangan dg Al Qur’an dan Al Hadits, seyogyanya perlu di sampaikan dg cara yg Ikhsan, baik dan Santun, dari sinilah perbedaan sya dg beberapa org salafy sendiri. Scara sosial sya lebih suka dg NU, Muhammadiyyah dan PKS, mereka lebih wise, lebih santun dan indah dalam berhubungan dg sesama umat islam/masyarakat lainnya.
Mas Hery Sopari, siapa yang memperolok-olok ?
Kami berupaya untuk meluruskan kesalahpahaman-kesalahpahaman yang telah terjadi selama ini karena Allah ta’ala semata sekaligus dalam rangka menegakkan Ukhuwah Islamiyah
Kami menyampaikan kenyataan adanya hasutan atau ghazwul fikri yang dilakukan oleh kaum Zionis Yahudi, salah satunya adalah mengangkat kembali pemahaman ala pemahaman ulama Ibnu Taimiyyah, ulama yang semula bermazhab Hambali namun pada akhirnya beliau lebih menyandarkan dengan belajar sendiri (secara otodidak) melalui cara muthola’ah (menelaah kitab) dan memahaminya dengan akal pikiran sendiri (pemahaman secara ilmiah)
Para ulama telah menyampaikan bahwa jika memahami Al Qur’an dan As Sunnah dengan belajar sendiri (secara otodidak) melalui cara muthola’ah (menelaah kitab) dan memahaminya dengan akal pikiran sendiri, kemungkinan besar akan berakibat negative seperti,
1. Ibadah fasidah (ibadah yang rusak) , ibadah yang kehilangan ruhnya atau aspek bathin
2. Tasybihillah Bikholqihi , penyerupaan Allah dengan makhluq Nya
Imam besar ahli hadis dan tafsir, Jalaluddin As-Suyuthi dalam “Tanbiat Al-Ghabiy Bi Tabriat Ibn ‘Arabi” mengatakan “Ia (ayat-ayat mutasyabihat) memiliki makna-makna khusus yang berbeda dengan makna yang dipahami oleh orang biasa. Barangsiapa memahami kata wajh Allah, yad , ain dan istiwa sebagaimana makna yang selama ini diketahui (wajah Allah, tangan, mata, bertempat), ia kafir secara pasti.”
Imam Ahmad ar-Rifa’i (W. 578 H/1182 M) dalam kitabnya al-Burhan al-Muayyad, “Sunu ‘Aqaidakum Minat Tamassuki Bi Dzahiri Ma Tasyabaha Minal Kitabi Was Sunnati Lianna Dzalika Min Ushulil Kufri”, “Jagalah aqidahmu dari berpegang dengan dzahir ayat dan hadis mutasyabihat, karena hal itu salah satu pangkal kekufuran”.
Begitupula peringatan yang disampaikan oleh khataman Khulafaur Rasyidin, Imam Sayyidina Ali ra dalam riwayat berikut,
Sayyidina Ali Ibn Abi Thalib ra berkata : “Sebagian golongan dari umat Islam ini ketika kiamat telah dekat akan kembali menjadi orang-orang kafir.“
Seseorang bertanya kepadanya : “Wahai Amirul Mukminin apakah sebab kekufuran mereka? Adakah karena membuat ajaran baru atau karena pengingkaran?”
Sayyidina Ali Ibn Abi Thalib ra menjawab : “Mereka menjadi kafir karena pengingkaran. Mereka mengingkari Pencipta mereka (Allah Subhanahu wa ta’ala) dan mensifati-Nya dengan sifat-sifat benda dan anggota-anggota badan.” (Imam Ibn Al-Mu’allim Al-Qurasyi (w. 725 H) dalam Kitab Najm Al-Muhtadi Wa Rajm Al-Mu’tadi).
Mereka yang terhasut atau menjadi korban ghazwul fikri dari kaum Zionis Yahudi, lebih memilih pemahaman/pendapat ulama yang mengaku-aku mengikuti pemahaman Salafush Sholeh namun kenyataannya mereka tidak bertalaqqi (mengaji) dengan Salafush Sholeh. Mereka “meninggalkan” pendapat/pemahaman Imam Mazhab yang empat, pemimpin / imam ijtihad kaum muslim pada umumnya yang bertalaqqi (mengaji) langsung dengan Salafush Sholeh.
Mereka mengikuti pemahaman Salafush Sholeh melalui upaya pemahaman terhadap lafaz/perkataan Salafush Sholeh dengan akal pikiran mereka sendiri. Sehingga boleh dikatakan mereka bermazhab dengan akal pikiran mereka sendiri atau dengan kata lain mereka telah menjadikan akal pikirannya sendiri sebagai berhala atau yang disebut menuhankan pendapat sendiri (istibdad bir ro’yi)
Hal yang harus kita ingat selalu janganlah menjadikan akal pikiran kita sebagai berhala
Allah Azza wa Jalla berfirman,
اتَّخَذُوا أَحْبَارَهُمْ وَرُهْبَانَهُمْ أَرْبَابًا مِنْ دُونِ اللَّهِ
“Mereka menjadikan para rahib dan pendeta mereka sebagai tuhan-tuhan selain Allah“. (QS at-Taubah [9]:31 )
Ketika Nabi ditanya terkait dengan ayat ini, “apakah mereka menyembah para rahib dan pendeta sehingga dikatakan menjadikan mereka sebagai tuhan-tuhan selain Allah?”
Nabi menjawab, “tidak”
« أما أنهم لم يكونوا يعبدونهم ولكنهم كانوا إذا أحلوا لهم شيئاً استحلوه وإذا حرموا عليهم شيئاً حرموه »
“Mereka tidak menyembah para rahib dan pendeta itu, tetapi jika para rahib dan pendeta itu menghalalkan sesuatu bagi mereka, mereka menganggapnya halal, dan jika para rahib dan pendeta itu mengharamkan bagi mereka sesuatu, mereka mengharamkannya“
Pada riwayat yang lain disebutkan, Rasulullah bersabda ” mereka (para rahib dan pendeta) itu telah menetapkan haram terhadap sesuatu yang halal, dan menghalalkan sesuatu yang haram, kemudian mereka mengikutinya. Yang demikian itulah penyembahannya kepada mereka.” (Riwayat Tarmizi)
Firman Allah ta’ala yang artinya, “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu haramkan apa-apa yang baik yang telah Allah halalkan bagi kamu dan janganlah kamu melampaui batas, sesungguhnya Allah tidak menyukai orang yang melampaui batas.” (Qs. al-Mâ’idah [5]: 87).
Mereka yang mengada-ada atau membuat perkara baru (bid’ah) yang bukan kewajiban menjadi kewajiban (ditinggalkan berdosa) atau sebaliknya, yang tidak diharamkan menjadi haram (dikerjakan berdosa) atau sebaliknya dan yang tidak dilarang menjadi dilarang (dikerjakan berdosa) atau sebaliknya adalah yang disebut sebagai ahli bid’ah.
Oleh karenanya ahli bid’ah termasuk pelaku perbuatan syirik, karena penyembahan kepada selain Allah, penyembahan diantara pembuat bid’ah (perkara baru) dengan pengikutnya, perbuatan yang tidak ada ampunannya.
Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda
إِنَّ اللهَ حَجَبَ اَلتَّوْبَةَ عَنْ صَاحِبِ كُلِّ بِدْعَةٍ
“Sesungguhnya Allah menutup taubat dari semua ahli bid’ah”. [Ash-Shahihah No. 1620]
Mereka yang tanpa disadari telah mengada-ada dalam perkara agama, mengada-ada dalam perkara perintah dan larangan berdasarkan akal pikiran mereka sendiri. Agama adalah perintahNya dan laranganNya
Dari Ibnu ‘Abbas r.a. berkata Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda, “di dalam agama itu tidak ada pemahaman berdasarkan akal pikiran, sesungguhnya agama itu dari Tuhan, perintah-Nya dan larangan-Nya.” (Hadits riwayat Ath-Thabarani)
Hal yang harus kita ingat pula bahwa Al Qur’an pada awalnya tidaklah dibukukan. Ayat-ayat Al Qur’an hanya dibacakan dan dihafal (imla) kemudian dipahami bersama dengan yang menyampaikannya.
Hal yang akan dipertanyakan terhadap sebuah pendapat / pemahaman seperti :
“Apakah yang kamu pahami telah disampaikan / dikatakan oleh ulama-ulama terdahulu yang tersambung lisannya kepada Rasulullah shallallahu alaihi wasallam ? “
“Siapakah ulama-ulama terdahulu yang mengatakan hal itu” ?
Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda yang artinya “Sampaikan dariku sekalipun satu ayat dan ceritakanlah (apa yang kalian dengar) dari Bani Isra’il dan itu tidak apa (dosa). Dan siapa yang berdusta atasku dengan sengaja maka bersiap-siaplah menempati tempat duduknya di neraka” (HR Bukhari)
Hakikat makna hadits tersebut adalah kita hanya boleh menyampaikan satu ayat yang diperoleh dari orang yang disampaikan secara turun temurun sampai kepada lisannya Sayyidina Muhammad bin Abdullah Shallallahu alaihi wasallam.
Kita tidak diperkenankan menyampaikan apa yang kita pahami dengan akal pikiran sendiri dengan cara membaca dan memahami namun kita sampaikan apa yang kita dengar dan pahami dari lisan mereka yang sanad ilmunya tersambung kepada lisannya Rasulullah shallallahu alaihi wasallam karena hanya perkataan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam yang merupakan kebenaran atau ilmuNya
Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda, “Barangsiapa menguraikan Al Qur’an dengan akal pikirannya sendiri dan merasa benar, maka sesungguhnya dia telah berbuat kesalahan”. (HR. Ahmad)
Dari Ibnu ‘Abbas r.a. berkata Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda, “di dalam agama itu tidak ada pemahaman berdasarkan akal pikiran, sesungguhnya agama itu dari Tuhan, perintah-Nya dan larangan-Nya.” (Hadits riwayat Ath-Thabarani)
Ibnul Mubarak berkata :”Sanad merupakan bagian dari agama, kalaulah bukan karena sanad, maka pasti akan bisa berkata siapa saja yang mau dengan apa saja yang diinginkannya.” (Diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Muqoddimah kitab Shahihnya 1/47 no:32 )
Dari Ibnu Abbas ra Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda…”Barangsiapa yg berkata mengenai Al-Qur’an tanpa ilmu maka ia menyediakan tempatnya sendiri di dalam neraka” (HR.Tirmidzi)
Imam Syafi’i ~rahimahullah mengatakan “tiada ilmu tanpa sanad”.
Al-Hafidh Imam Attsauri ~rahimullah mengatakan “Penuntut ilmu tanpa sanad adalah bagaikan orang yang ingin naik ke atap rumah tanpa tangga”
Bahkan Al-Imam Abu Yazid Al-Bustamiy , quddisa sirruh (Makna tafsir QS.Al-Kahfi 60) ; “Barangsiapa tidak memiliki susunan guru dalam bimbingan agamanya, tidak ragu lagi niscaya gurunya syetan” Tafsir Ruhul-Bayan Juz 5 hal. 203
Sanad ilmu / sanad guru sama pentingnya dengan sanad hadits.
Sanad hadits adalah otentifikasi atau kebenaran sumber perolehan matan/redaksi hadits dari lisan Rasulullah.
Sedangkan Sanad ilmu atau sanad guru adalah otentifikasi atau kebenaran sumber perolehan penjelasan baik Al Qur’an maupun As Sunnah dari lisan Rasulullah.
Contoh sanad Ilmu atau sanad guru Imam Syafi’i ra
1. Baginda Nabi Muhammad Shallallahu alaihi wasallam
2. Baginda Abdullah bin Umar bin Al-Khottob ra
3. Al-Imam Nafi’, Tabi’ Abdullah bin Umar ra
4. Al-Imam Malik bin Anas ra
5. Al-Imam Syafei’ Muhammad bin Idris ra
Al Imam Syafi’i ra mendapatkan penjelasan Al Qur’an dan As Sunnah dari lisannya Al-Imam Malik bin Anas ra,
Al-Imam Malik bin Anas ra mendapatkan penjelasan Al Qur’an dan As Sunnah dari lisannya Al-Imam Nafi’, Tabi’ Abdullah bin Umar ra,
Al-Imam Nafi’, Tabi’ Abdullah bin Umar ra mendapatkan penjelasan Al Qur’an dan As Sunnah dari lisannya Baginda Abdullah bin Umar bin Al-Khottob ra,
Baginda Abdullah bin Umar bin Al-Khottob ra mendapatkan penjelasan Al Qur’an dan As Sunnah dari lisannya Baginda Nabi Muhammad Shallallahu alaihi wasallam
Salah satu cara mempertahankan sanad ilmu atau sanad guru adalah dengan mengikuti pendapat/pemahaman pemimpin ijtihad kaum muslim (Imam Mujtahid Mutlak) alias Imam Mazhab yang empat dan penjelasan dari para pengikut Imam Mazhab sambil merujuk darimana mereka mengambil yaitu Al Quran dan as Sunnah.
Ulama yang tidak mau bermazhab , pada hakikatnya telah memutuskan rantai sanad ilmu atau sanad guru, berhenti pada akal pikirannya sendiri dimana didalamnya ada unsur hawa nafsu atau kepentingan.
Jadi Menurut Mas, apakah kita salah mengakui bahwa ayat2 Al Qur’an dibawah ini benar adanya…???dan kita yakin dengan sifat2 Allah SWT yg tertera dalam ayat itu, tanpa menyerupakan dengan makhluk. Seperti Imam Malik pernah ditanya mengenai Istiwa’, beliau menjawab, istiwa itu benar adanya, adapun menanyakan bagaimana caranya/kaifiyat itu adalah bid’ah. Ok Mas, sya mau menanyakan jadi maknanya /terjemahannya apa menurut Mas…??? ayat2 yg ada dibawah ini(khususnya ttg sifat Alloh), apakah ada makna lainnya…???.
hal ini memang berat, ketika Yg Benar menurut Allah adalah mengakui sesuai apa adanya tanpa menyerupakan dg makhluk. dan Jika Yg benar adalah seperti Yg Mas katakan, berarti meniadakan sifat2 Allah SWT yg Allah sendiri menyampaikannya dalam Al Qur’an. Ya akhirnya, terserah masing2 sesuai kapasitas ilmunya. Mengenai sanad, ya sya sepakat, tapi bukan berarti kita harus mengikuti salah satu mazhab, menurut akal sehat adalah ambil dalil yg paling shahih darimanapun itu keluar.
In ayat2 yg sya mau menanyakan maknanya Mas..???
1. Berbicara : “Dan Allah berbicara kepada Musa dengan langsung”. (An-Nisa ‘ : 164) .
2. Tidak ada sesuatu pun yang menyerupai-Nya dan Dia Maha Mendengar lagi Maha Melihat (Asy-Syura : 11)
3. Marah: “Dan barangsiapa membunuh seorang mukmin secara sengaja, maka balasannya adalah Jahannam, ia kekal di dalamnya, sedangkan Allah MARAH dan melaknatnya.” (An-Nisa ‘ : 43)
4. Murka : “itu dikarenakan mereka mengikuti apa yang menjadikan Allah murka dan mereka membenci keridhaan-Nya.” (Muhammad : 28)
5. Tiba/datang : “Tiada yang mereka nanti-nantikan melainkan keda-
tangan Allah dan malaikat (pada hari kiamat) dalam naungan awan, dan iputuskanlah perkaranya.” (Al -Baqarah : 210 )
6. Wajah : “Dan tetap kekal Wajah Rabbmu yang mempunyai kebesaran dan kemuliaan.” (Ar-Rahman : 27)
7. Kedua Mata: “Dan bersabarlah dalam menunggu ketetapan Rabbmu, sesungguhnya kamu berada dalam penglihatan Mata Kami.” (Ath-Thur : 48)
8. Kedua Tangan : “Apakah yang menghalangi kamu sujud kepada (Adam) yang telah Ku-ciptakan dengan kedua tangan-Ku.” (Shad : 75)
9. Bersemayam /Istiwa’ : “Allah Yang Maha Pemurah, Yang bersemayam di atas
‘Arsy.” (Thaha : 5).
“konsep ibnu taimiyyah: meyakini dalam ayat itu benar adanya, tetapi tidak menanyakan caranya, tidak menyerupakan dg makhluk”.
beberapa ulama:
Dr. yusuf qordhawi(Ikhwanulmuslimin/mesir), dia tdk menafikan peran ibnu Taimiyyah dlm Islam, dan tdk pernah mencerca/menjelekkan faham Ibnu Taimiyyah, Ulama2 Muhammadiyyah, Persis, HTI bahkan PKS, ko konsepnya sama ya…, artinya, ambil dalil yg paling shahih, sementara dalam msalah akidah mereka sepakat jg dg Ibnu Taimiyyah. silahkan buka di http://www.persis.or.id/index.php?rowfiq=0&mod=sitelogo&cmd=aqidah&mod=sitelogo , di link ini persis menyampaikan pokok akidah2 ahlusunnah menurut abul hasan al as’ari dalm kitab al ibanah (yg sering juga dijadikan rujukan masy indonesia). dalm pembahasan tsb intinya, konsepnya sama dg Ibnu Taimiyyah…, sya tdk memaksakan kita harus sama pemahamannya, yg penting kita punya dasar masing2, mudah2an Allah SWT memberikan taufik dan hidayahnya kpd kita semua.
Mas Hery Sopari , mas menanyakan
“sya mau menanyakan jadi maknanya /terjemahannya apa menurut Mas…??? ayat2 yg ada dibawah ini(khususnya ttg sifat Alloh), apakah ada makna lainnya…???”
Para Salafush Sholeh tidak memaknai atau mentafsirkan ayat-ayat sifat Allah sebagaimana makna yang diketahui orang awam atau sebagaimana yang telah diketahui atau makna dzahir.
Ulama salaf membiarkan ayat-ayat sifat sebagaimana datangnya tanpa menafsirkannya baik dengan mengambil makna hakiki (zhahir).
Inilah yang dimaksud dengan perkataan punggawa-punggawa salaf radhiyallahu anhum di bawah ini:
وقال الوليد بن مسلم : سألت الأوزاعي ومالك بن أنس وسفيان الثوري والليث بن سعد عن الأحاديث فيها الصفات ؟ فكلهم قالوا لي : أمروها كما جاءت بلا تفسير
“Dan Walid bin Muslim berkata: Aku bertanya kepada Auza’iy, Malik bin Anas, Sufyan Tsauri, Laits bin Sa’ad tentang hadits-hadits yang di dalamnya ada sifat-sifat Allah? Maka semuanya berkata kepadaku: “Biarkanlah ia sebagaimana ia datang tanpa tafsir.”
Ulama Salaf tidak mentafsirkan ayat-ayat sifat dengan tafsiran apapun, tidak memperdalam maknanya dan menyerahkan saja makna dan hakikat ayat itu kepada Allah Ta’ala. Allah yang tahu artinya apa.
Tugas kita hanya mengimani dan mensucikan (tanzih) Allah dari segala sifat kekurangan (naqsh) dan penyerupaan (tasybih).
Ini pula yang dimaksud dengan perkataan Imam Sufyan bin Uyainah radhiyallahu anhu:
كل ما وصف الله تعالى به نفسه فتفسيره تلاوته و السكوت عنه
“Setiap sesuatu yang Allah menyifati diri-Nya dengan sesuatu itu, maka tafsirannya adalah bacaannya (tilawahnya) dan diam daripada sesuatu itu”.
Sufyan bin Uyainah ingin memalingkan kita dari mencari makna zhahir dari ayat-ayat sifat dengan cukup melihat bacaannya saja, tafsiruhu tilawatuhu: tafsirannya adalah bacaannya. Bacaannya adalah melihat & mengikuti huruf-perhurufnya, bukan maknanya, bukan tafsiruhu ta’rifuhu.
Mayoritas mereka tidak mau mentafsirkan ayat-ayat sifat, jika ditafsirkan secara zhahir maka akan terjerumus kepada jurang tasybih (penyerupaan), sebab lafazh-lafazh ayat sifat sangat beraroma tajsim dan secara badihi (otomatis) pasti akan menjurus ke sana.
Terkait firman Allah QS. Thaha: 5 (ar-Rahman ‘Ala al-‘Arsy Istawa), Imam asy-Syafi’i berkata:
إن هذه الآية من المتشابهات، والذي نختار من الجواب عنها وعن أمثالها لمن لا يريد التبحر في العلم أن يمر بها كما جاءت ولا يبحث عنها ولا يتكلم فيها لأنه لا يأمن من الوقوع في ورطة التشبيه إذا لم يكن راسخا في العلم، ويجب أن يعتقد في صفات الباري تعالى ما ذكرناه، وأنه لا يحويه مكان ولا يجري عليه زمان، منزه عن الحدود والنهايات مستغن عن المكان والجهات، ويتخلص من المهالك والشبهات (الفقه الأكبر، ص 13)
“Ini termasuk ayat mutasyâbihât. Jawaban yang kita pilih tentang hal ini dan ayat-ayat yang semacam dengannya bagi orang yang tidak memiliki kompetensi di dalamnya adalah agar mengimaninya dan tidak –secara mendetail– membahasnya dan membicarakannya. Sebab bagi orang yang tidak kompeten dalam ilmu ini ia tidak akan aman untuk jatuh dalam kesesatan tasybîh. Kewajiban atas orang ini –dan semua orang Islam– adalah meyakini bahwa Allah seperti yang telah kami sebutkan di atas, Dia tidak diliputi oleh tempat, tidak berlaku bagi-Nya waktu, Dia Maha Suci dari batasan-batasan (bentuk) dan segala penghabisan, dan Dia tidak membutuhkan kepada segala tempat dan arah, Dia Maha suci dari kepunahan dan segala keserupaan” (al-Fiqh al-Akbar, h. 13).
Perkataan Imam Malik ra yang sering disalahpahami oleh mereka,
“Dan apa yang diriwayatkan dari Abdullah bin Wahhab dari Imam Malik bin Anas bahwasanya datang kepada beliau seorang dan berkata: “Wahai Abu Abdurrahman (Yang Maha Rahman bersemayam di atas arasy) maka bagaimana bersemayamnya?” Kemudian Imam Malik tertunduk kepalanya dan baru mengangkatnya kembali setelah peluh panas kemarahannya menyadarkan dirinya, lalu berkata: al-Istiwa Ghair Majhul, dan bagaimananya tidak tercerna akal, mengimaninya wajib, menanyakannya adalah bid’ah dan aku tidak melihat dirimu melainkan ahlu bid’ah. Maka Imam Malik menyuruhnya keluar”
Jangan disalahpahami bahwa Imam Malik melegalisasi kita untuk memaknakan bahwa Allah benar-benar bersemayam atau duduk di atas arasy hanya karena beliau mengatakan; al-istiwa’ ghoiru majhul, namun maksud Imam Malik adalah bahwa istiwa telah jelas penyebutannya (dalam Al Qur’an). Hal ini sama dengan dalil riwayat lain dari al-Lalika-i yang mempergunakan kata “al-Istiwa madzkur”, artinya kata Istawa telah benar-benar disebutkan dalam al-Qur’an.
Dengan demikian menjadi jelas bahwa yang dimaksud “al-Istiwa Ghair Majhul” artinya benar-benar telah diketahui penyebutan kata/lafaz Istawa tersebut di dalam al-Qur’an bukan sebagaimana makna zhahir atau makna yang dipahami sebagaimana lazimnya.
Imam besar ahli hadis dan tafsir, Jalaluddin As-Suyuthi dalam “Tanbiat Al-Ghabiy Bi Tabriat Ibn ‘Arabi” mengatakan “Ia (ayat-ayat mutasyabihat) memiliki makna-makna khusus yang berbeda dengan makna yang dipahami oleh orang biasa. Barangsiapa memahami kata wajh Allah, yad , ain dan istiwa sebagaimana makna yang selama ini diketahui (wajah Allah, tangan, mata, bertempat), ia kafir secara pasti.”
Imam Ahmad ar-Rifa’i (W. 578 H/1182 M) dalam kitabnya al-Burhan al-Muayyad, “Sunu ‘Aqaidakum Minat Tamassuki Bi Dzahiri Ma Tasyabaha Minal Kitabi Was Sunnati Lianna Dzalika Min Ushulil Kufri”, “Jagalah aqidahmu dari berpegang dengan dzahir ayat dan hadis mutasyabihat, karena hal itu salah satu pangkal kekufuran”.
Sayyidina Ali Ibn Abi Thalib ra berkata : “Sebagian golongan dari umat Islam ini ketika kiamat telah dekat akan kembali menjadi orang-orang kafir.“
Seseorang bertanya kepadanya : “Wahai Amirul Mukminin apakah sebab kekufuran mereka? Adakah karena membuat ajaran baru atau karena pengingkaran?”
Sayyidina Ali Ibn Abi Thalib ra menjawab : “Mereka menjadi kafir karena pengingkaran. Mereka mengingkari Pencipta mereka (Allah Subhanahu wa ta’ala) dan mensifati-Nya dengan sifat-sifat benda dan anggota-anggota badan.” (Imam Ibn Al-Mu’allim Al-Qurasyi (w. 725 H) dalam Kitab Najm Al-Muhtadi Wa Rajm Al-Mu’tadi).
Berikut pendapat Syaikhul Islam Ibnu Hajar Al Haitami pernah ditanya tentang akidah mereka yang semula para pengikut Mazhab Hambali, apakah akidah Imam Ahmad bin Hambal seperti akidah mereka ?
Beliau menjawab:
فأجاب بقوله : عقيدة إمام السنة أحمد بن حنل رضي الله عنه وأرضاه وجعل جنان المعارف متقلبه ومأواه وأقاض علينا وعليه من سوابغ امتنانه وبوأه الفردوس الأعلى من جنانه موافقة لعقيدة أهل السنة والجماعة من المبالغة التامة في تنزيه الله تعالى عما يقول الظالمون والجاحدون علوا كبيرا من الجهة والجسمية وغيرهما من سائر سمات النقص ، بل وعن كل وصف ليس فيه كمال مطلق ، وما اشتهر به جهلة المنسوبين إلى هذا الإمام الأعظم المجتهد من أنه قائل بشيء من الجهة أو نحوها فكذب وبهتان وافتراء عليه ، فلعن الله من نسب ذلك إليه أو رماه بشيء من هذه المثالب التي برأه الله منها
Akidah imam ahli sunnah, Imam Ahmad bin Hambal –semoga Allah meridhoinya dan menjadikannya meridhoi-Nya serta menjadikan taman surga sebagai tempat tinggalnya, adalah sesuai dengan akidah Ahlussunnah wal Jamaah dalam hal menyucikan Allah dari segala macam ucapan yang diucapkan oleh orang-orang zhalim dan menentang itu, baik itu berupa penetapan tempat (bagi Allah), mengatakan bahwa Allah itu jism (materi) dan sifat-sifat buruk lainnya, bahkan dari segala macam sifat yang menunjukkan ketidaksempurnaan Allah.
Adapun ungkapan-ungkapan yang terdengar dari orang-orang jahil yang mengaku-ngaku sebagai pengikut imam mujtahid agung ini, yaitu bahwa beliau pernah mengatakan bahwa Allah itu bertempat dan semisalnya, maka perkataan itu adalah kedustaan yang nyata dan tuduhan keji terhadap beliau. Semoga Allah melaknat orang yang melekatkan perkataan itu kepada beliau atau yang menuduh beliau dengan tuduhan yang Allah telah membersihkan beliau darinya itu.
وقد بين الحافظ الحجة القدوة الإمام أبو الفرج ابن الجوزي من أئمة مذهبه المبرئين من هذه الوصمة القبيحة الشنيعة أن كل ما نسب إليه من ذلك كذب عليه وافتراء وبهتان ، وأن نصوصه صريحة في بطلان ذلك وتنزيه الله تعالى عنه ، فاعلم ذلك فإنه مهم .
وإياك أن تصغي إلى ما في كتب ابن تيمية وتلميذه ابن قيم الجوزية وغيرهما ممن اتخذ إلهه هواه وأضله الله على علم ، وختم على سمعه وقلبه وجعل على بصره غشاوة فمن يهديه من بعد الله ، وكيف تجاوز هؤلاء الملحدون الحدود وتعدوا الرسوم وخرقوا سياج الشريعة والحقيقة فظنوا بذلك أنهم على هذى من ربهم وليسوا كذلك بل هم على أسوإ الضلال وأقبح الخصال وأبلغ المقت والخسران وأنهى الكذب والبهتان فخذل الله متبعه وطهر الأرض من أمثالهم
Al Hafizh Al Hujjah Al Imam, Sang Panutan, Abul Faraj Ibnul Jauzi, salah seorang pembesar imam mazhab Hambali yang membersihkan segala macam tuduhan buruk ini, telah menjelaskan tentang masalah ini bahwa segala tuduhan yang dilemparkan kepada sang imam adalah kedustaan dan tuduhan yang keji terhadap sang imam. Bahkan teks-teks perkataan sang imam telah menunjukkan kebatilan tuduhan itu, dan menjelaskan tentang sucinya Allah dari semua itu. Maka pahamilah masalah ini, karena sangat penting.
Janganlah sekali-kali kamu dekati buku-buku karangan Ibnu Taimiyah dan muridnya, Ibnul Qayyim dan orang seperti mereka berdua.
Siapa yang bisa memberikan petunjuk orang seperti itu selain Allah?
Bagaimana orang-orang atheis itu melampaui batas-batas, menabrak aturan-aturan dan merusak tatanan syariat dan hakikat, lalu mereka menyangka bahwa mereka berada di atas petunjuk dari tuhan mereka, padahal tidaklah demikian. Bahkan mereka berada pada kesesatan paling buruk, kemurkaan paling tinggi, kerugian paling dalam dan kedustaan paling besar. Semoga Allah menghinakan orang yang mengikutinya dan membersihkan bumi ini dari orang-orang semisal mereka.
Sumber : Al Fatawa Al Haditsiyah 1/480 karya Syaikhul Islam al-Imam Ibnu Hajar al-Haitami.
Apa yg disampaikan sangat bagus sekali, sya pun sepakat ketika kita menyamakan Alloh dg makhluknya merupakan hal yg terlarang. Imam Malik ketika ditanya ttg Istiwa, dia tidak mengatakan istiwa itu “duduk” maknanya. Tetapi istiwa itu sifat Allah, kita tdk boleh memaknainya dg penyerupaan thdp makhluk.
“”Jangan disalahpahami bahwa Imam Malik melegalisasi kita untuk memaknakan bahwa Allah benar-benar bersemayam atau duduk di atas arasy hanya karena beliau mengatakan; al-istiwa’ ghoiru majhul, namun maksud Imam Malik adalah bahwa istiwa telah jelas penyebutannya (dalam Al Qur’an). Hal ini sama dengan dalil riwayat lain dari al-Lalika-i yang mempergunakan kata “al-Istiwa madzkur”, artinya kata Istawa telah benar-benar disebutkan dalam al-Qur’an.”"
IbnuTaimiyyah dan ulama yg sepakat dg dia sya kira tidak mengatakan makna istiwa itu duduk, istiwa ‘alal ‘arsy adalah sifat Allah dan kita yakini itu karena ada dlm Al Qur’an, tanpa menanyakan maknanya atau caranya seperti apa. apakah berbeda..?? ketika ada ayat al qur’an “Dan tetap kekal Wajah Rabbmu yang mempunyai kebesaran dan kemuliaan.” (Ar-Rahman : 27), kita katakan itu sifat Allah, dan kita tdk boleh memaknainya dan tidak boleh menyerupakannya dg makhluk. Ini jelas ada di Al Qur’an, kita yakini keberannya, namun sekali lagi kita tdk boleh menanyakan caranya, menyerupakan dg makhluk.
Sifat Allah : Wajhullah , Asma Allah , kekuatan /kekuasaan Allah
wajah, nama, kekuasaan dan kekuatan ketiganya dimiliki makhluk juga. Namun bukan berarti serupa/ menyerupakan, jelas ini salah dan dosa, Apakah kita akan meniadakan Nama Allah atau Kekuasaan Allah , seperti pengingkaran thdp Wajhullah…???
Menurut Ibnu Taimiyyah : tidak boleh menyerupakan sifat Allah dg makhluk, tidak boleh menghilangkan/mengingkari sifat Allah, tidak boleh memalingkan maknanya diganti dg makna lain seperti Yadullah dg kekuasaan (padahal sama saja makna kekuasaan itu dimiliki juga oleh manusia, tapi sekali lagi bukan berarti sama/serupa (naudzubillahimindzalik, Maha Suci Allah ), namun disatu sisi kita juga bisa dikatakan mengingkari sifat Allah kalau tidak mau mengakui Sifat Allah yg ada di Al QUr’an.
Allah SWT mempunyai Dzat , akan tetapi kita tidak boleh menanyakan bagaimana bentuknya. Sementara yg ada di AL Qur’an adalah Sifat Allah yg telah Allah informasikan kpd ummat ini, Tetapi kita tdk boleh menanyakan, mnyerupakan dan menyamakan bentuk / tatacaranya seperti apa , karena hal ini bid’ah. (Wallohu A’lam), semoga Allah memberi petunjuk kpd Kita smua.
Perlu dalil dari As-Sunnah/hadits untuk memalingkan/merubah makna dari sifat2 Allah SWT, tapi saya kira salafus shalih pun tdk prnah menanyakan hal ini, karena buat mereka sudah jelas tdk ada keraguan lagi mengenai sifat2 Allah SWT :
beberapa ayat perlu dicermati :
1. Istiwa kalau dibaca ya tetap istiwa, kalau diterjemahkan tetap istiwa
ستوى لعرشا على الرحمن ;
Arrahmaanu ‘Alal Arsyistawa (Thaha : 5)
artinya ; Tuhan Yang Maha Pemurah, Yang bersemayam di atas `Arsy.
Kita tdk boleh merubah makna istiwa dg istaula atau dan lain2, kita wajib meyakini ayat ini benar (Allah istiwa diatas arsy) . Istiwa sering diterjemahkan kedalam bahasa Indonesia bersemayam, tapi kita tdk boleh menyerupakan dg makhluk yaitu bersemayamnya Allah seperti bersemayamnya manusia (ini bid’ah dan sesat), apalagi mengatakan bahwa duduk seperti duduknya manusia (itu jelas tasybih). Jadi tasybih itu penyerupaan bentuk/tatacara sifat2 Allah dg makhluknya. Adapun menetapkan sifat Allah seperti istiwa, hal ini adalah benar adanya sesuai Al Qur’an dan kita tidak menghilangkan sifat Istiwanya Allah diatas Arsy, namun tatacaranya hanya Allah yg Tahu, dan kita dilarang menanyakan, atau menyerupakan dg tatacara makhluknya). Begitu juga dg ayat2 dibawah ini.
2. Wajhullah kalau dibaca ya tetap wajhullah,, kalau diterjemahkan tetap Wajhulloh والإكرام جلال الذو ربك وجه ويبقى (Wayabqo Wajhurobbika Dzul Zalaali wal ikroom: Arrahman : 27) . Yg tidak boleh adalah menyerupakan wajah Allah dg Makhluknya, ini yg terlarang./kufur. Adapun menetapkan sifat Allah (wajhullah) , hal ini sama dg Istiwa yaitu sesuai dg Al Qur’an. Namun Maknanya/tatacaranya/bentuk dzatnya Hanya Allah yg Tahu, dan kita dilarang menanyakan itu.
3. bi Yadayya), pasti kita baca Bii Yadayya (bukan diubah jadi bii quwwata ), kalau diterjemahkan secara dzohir pasti Bi yadayya (kedua tanganku), kalau diterjemahkan menjadi quwwata : maka harus ada dalil dari Al QUr’an dan As-Sunnah.
, , بيدي خلقت لما أتسجد نأ منعك ما بليس يا قال العالين من كنت أم ستكبرتإ
(Qoola yaa iblisu maa mana’aka antasjuda limma kholaqtu bi yadayya astakbarta am kunta minal a’lamiin)
artinya : Allah berfirman: “Hai iblis, apakah yang menghalangi kamu sujud kepada yang telah Ku-ciptakan dengan kedua tangan-Ku. Apakah kamu menyombongkan diri ataukah kamu (merasa) termasuk orang-orang yang (lebih) tinggi?”. (Shad : 75)
Coba direnungkan dan difikirkan secara jernih : apakah kalimat bi Yadayya harus diubah dg bi Quwwah/dg kekuatan-Ku. Hanya karena takut menyerupakan Allah dg Makhluk…???, sekali kali tidaklah berarti menyerupakan Allah dg makhluk ketika kita menyifatkan sifat Allah sebagaimana sifat yg ada dimakhluk. Allah punya nama (asmaul husna), kekuatan/kekuasaan/ mendengar (sifal As-Sami’), melihat (Al Bashar), manusia pun punya itu smua namun BERBEDA/TIDAK SAMA/TDK SERUPA dg Kepunyaan Allah SWT (baik sifat Bentuk / tatacaranya), . Yang dilarang itu menyerupakan Allah , seperti kita katakan Wajah Allah (Wajhullah) sama dg wajahnya makhluk (nah ini yg salah/ mutasyabihaha dan mujasiimah itu). Kalau ibnu Taimiyyah tidak demikian Saudaraku, Justru beliau sendiri berpedoman pada ayat Laisaa Kamitslihi Syaiun (Tdk ada yg serupa dg-Nya).
Justru kalau kita menerjemahkan dg merubah makna dzohir menjadi makna kiasannya. Ini adalah suatu pengingkaran/tidak mengakui sifat Allah SWT yg jelas jelas Allah sampaikan dalam Al Qur’an, perubahan makna ini harus berdasarkan dalil bukan berdasarkan akal/logika.
Berdasarkan kaidah ini , kaum asy’ariah pada awalnya berkeyakinan : sesuatu yg diberi sifat pasti berjisim (memiliki raga), dan jisim 2 itu memiliki keserupaan. Jadi kalau Allah diberi sifat akan terjadi tasybih (penyerupaan dg makhluk), oleh karenanya menafikan/menghilangkan sifat2 Allah.
Hal ini dpt dibantah :
1. Sesungguhnya menetapkan asma dan sifat Allah berdasarkan akal adalah menyelisihi salafus shalih.
2. Harusnya menetapkan sifat Allah berdasarkan al Qur’an dan As-Sunnah/Al-Hadits, tanpa : tamsil (menyerupaka), ta;thil (meniadakan), takyif(menyakan bagaimana), dan tahrif( menyimpangkan dari makna aslinya)
Imam Abul Hasan Al As’ari dulunya tidak berani menetapkan sifat2 Allah, karena takut tasybih (penyerupan thdp makhluk), adapun setelan itu , Imam Al Asy’ari pun dalam kitab Al Ibânah ‘An Ushûli Diyânah , akhirnya mengakui akan sifat2 Allah SWT (wajhullah, yadullah, dll). http://www.persis.or.id (Pokok-Pokok Aqidah Ahlus Sunnah (I) 23 May 2011, hal 1) , linknya : http://www.persis.or.id/?mod=sitelogo&cmd=aqidah.