Sebaiknya tidak memahami sebagaimana arti yang telah diketahui
Mereka menyampaikan bahwa dalam memahami ayat-ayat sifat Allah mereka mengikuti Salafush Sholeh yakni tanpa takyif (mempersoalkan kaifiyahnya/hakikatnya, membayangkan, menanyakan bagaimana), tanpa tasybih / tamtsil (penyerupaan), tanpa ta’thil (penolakan atau peniadaan) dan tanpa takwil (penyimpangan makna dari zhahirnya tanpa dalil)
Mereka pada hakikatnya tidak mengikuti Salafush Sholeh karena Salafush Sholeh tidak juga memaknai atau mentafsirkan ayat-ayat sifat Allah sebagaimana makna yang diketahui orang awam atau sebagaimana yang telah diketahui atau makna dzahir.
Ulama salaf membiarkan ayat-ayat sifat sebagaimana datangnya tanpa menafsirkannya baik dengan mengambil makna hakiki (zhahir) maupun makna majazi (takwil).
Inilah yang dimaksud dengan perkataan punggawa-punggawa salaf radhiyallahu anhum di bawah ini:
وقال الوليد بن مسلم : سألت الأوزاعي ومالك بن أنس وسفيان الثوري والليث بن سعد عن الأحاديث فيها الصفات ؟ فكلهم قالوا لي : أمروها كما جاءت بلا تفسير
“Dan Walid bin Muslim berkata: Aku bertanya kepada Auza’iy, Malik bin Anas, Sufyan Tsauri, Laits bin Sa’ad tentang hadits-hadits yang di dalamnya ada sifat-sifat Allah? Maka semuanya berkata kepadaku: “Biarkanlah ia sebagaimana ia datang tanpa tafsir.”
Ulama Salaf tidak mentafsirkan ayat-ayat sifat dengan tafsiran apapun, tidak memperdalam maknanya, tidak mentakwilkan dan menyerahkan saja makna dan hakekat ayat itu kepada Allah Ta’ala. Allah yang tahu artinya apa.
Tugas kita hanya mengimani dan mensucikan (tanzih) Allah dari segala sifat kekurangan (naqsh) dan penyerupaan (tasybih).
Ini pula yang dimaksud dengan perkataan Imam Sufyan bin Uyainah radhiyallahu anhu:
كل ما وصف الله تعالى به نفسه فتفسيره تلاوته و السكوت عنه
“Setiap sesuatu yang Allah menyifati diri-Nya dengan sesuatu itu, maka tafsirannya adalah bacaannya (tilawahnya) dan diam daripada sesuatu itu”.
Sufyan bin Uyainah ingin memalingkan kita dari mencari makna zhahir dari ayat-ayat sifat dengan cukup melihat bacaannya saja, tafsiruhu tilawatuhu: tafsirannya adalah bacaannya.
Bacaannya adalah melihat & mengikuti huruf-perhurufnya, bukan maknanya, bukan tafsiruhu ta’rifuhu.
Mayoritas mereka tidak mau mentafsirkan ayat-ayat sifat, jika ditafsirkan secara zhahir maka akan terjerumus kepada jurang tasybih (penyerupaan), sebab lafazh-lafazh ayat sifat sangat beraroma tajsim dan secara badihi (otomatis) pasti akan menjurus ke sana. Begitu pula mereka tidak mau melakukan takwil sebab wa ma ya’lamu ta’wilahu illallah, “tidak ada yang mengetahui ta’wilnya melainkan Allah”
Imam Malik tidak mau membahas masalah ayat sifat ini. Sampai-sampai dia pernah mengusir orang yang menanyakan istiwa’nya Allah:
وما روي عن عبد الله بن الوهاب عن الإمام مالك بن أنس من أنه جاءه رجل فقال له: يا أبا عبد الرحمن {الرحمن على العرش استوى} فكيف إستوى؟ قال: فأطرق مالك رأسه حتى علاه الحضاء, ثم قال: الإستواء غير مجهول, و الكيف غير معقول, و الإيمان به واجب و السؤال عنه بدعة, وما أراك إلا مبتدعا. فأمره أن يخرج.
“Dan apa yang diriwayatkan dari Abdullah bin Wahhab dari Imam Malik bin Anas bahwasanya datang kepada beliau seorang dan berkata: “Wahai Abu Abdurrahman (Yang Maha Rahman bersemayam di atas arasy) maka bagaimana bersemayamnya?” Kemudian Imam Malik tertunduuuk kepalanya dan baru mengangkatnya kembali setelah peluh panas kemarahannya menyadarkan dirinya, lalu berkata: “‘Bersemayam’ bukan tidak diketahui, dan bagaimananya tidak tercerna akal, mengimaninya wajib, menanyakannya adalah bid’ah dan aku tidak melihat dirimu melainkan ahlu bid’ah. Maka Imam Malik menyuruhnya keluar”
Jangan disalahpahami bahwa Imam Malik melegalisasi kita untuk memaknakan bahwa Allah benar-benar bersemayam atau duduk di atas arasy hanya karena beliau mengatakan; al-istiwa’ ghoiru majhul, namun maksud Imam Malik adalah bahwa penyebutan kata tersebut benar adanya di dalam al-Qur’an. Hal ini sama dengan dalil riwayat lain dari al-Lalika-i yang mempergunakan kata “al-Istiwa madzkur”, artinya kata Istawa telah benar-benar disebutkan dalam al-Qur’an.
Dengan demikian menjadi jelas bahwa yang dimaksud “al-Istiwa Ghair Majhul” artinya benar-benar telah diketahui penyebutan kata/lafaz Istawa tersebut di dalam al-Qur’an bukan sebagaimana makna zhahir atau makna yang dipahami sebagaimana lazimnya.
Dalam memahami ayat-ayat sifat Allah, para ulama sejak dahulu telah menyampaikan peringatan seperti,
Imam Ahmad ar-Rifa’i (W. 578 H/1182 M) dalam kitabnya al-Burhan al-Muayyad, “Sunu ‘Aqaidakum Minat Tamassuki Bi Dzahiri Ma Tasyabaha Minal Kitabi Was Sunnati Lianna Dzalika Min Ushulil Kufri”
“Jagalah aqidahmu dari berpegang dengan dzahir ayat dan hadis mutasyabihat, karena hal itu salah satu pangkal kekufuran”.
Imam besar ahli hadis dan tafsir, Jalaluddin As-Suyuthi dalam “Tanbiat Al-Ghabiy Bi Tabriat Ibn ‘Arabi” mengatakan “Ia (ayat-ayat mutasyabihat) memiliki makna-makna khusus yang berbeda dengan makna yang dipahami oleh orang biasa. Barangsiapa memahami kata wajh Allah, yad , ain dan istiwa sebagaimana makna yang selama ini diketahui (wajah Allah, tangan, mata, bertempat), ia kafir secara pasti.”
Dalam memahami ayat-ayat sifat Allah kita harus mengikuti apa yang telah dipahami oleh para Salafush Sholeh. Bagaimana pemahaman Salafush Sholeh sebenarnya telah disampaikan melalui lisan ke lisan ulama-ulama yang sholeh hingga sampai kepada kita. Inilah yang disebut dengan sanad ilmu atau sanad guru.
Dalam memahami ayat-ayat sifat Allah , tidak boleh “tidak melewati kerongkongan” atau tidak boleh sampai kepala saja atau mempergunakan akal pikiran (otak/logika) sendiri atau secara otodidak
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Sepeninggalku kelak, akan muncul suatu kaum yang pandai membaca Al Qur`an tidak melewati kerongkongan mereka” (HR Muslim)
Pengertian “tidak melewati kerongkongan” adalah pemahaman hanya sampai kepala atau pemahaman dengan akal pikiran sendiri, ra’yu / logika tanpa sanad ilmu atau sanad guru
“Barangsiapa menguraikan Al Qur’an dengan akal pikirannya sendiri dan benar, maka sesungguhnya dia telah berbuat kesalahan”. (HR. Ahmad)
Dari Ibnu Abbas ra~ Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda…”barangsiapa yg berkata mengenai Al-Qur’an tanpa ilmu maka ia menyediakan tempatnya sendiri di dlm neraka” (HR.Tirmidzi)
Imam Syafi’i ~rahimahullah mengatakan “tiada ilmu tanpa sanad”.
Al-Hafidh Imam Attsauri ~rahimullah mengatakan “Penuntut ilmu tanpa sanad adalah bagaikan orang yang ingin naik ke atap rumah tanpa tangga”
Bahkan Al-Imam Abu Yazid Al-Bustamiy , quddisa sirruh (Makna tafsir QS.Al-Kahfi 60) ; “Barangsiapa tidak memiliki susunan guru dalam bimbingan agamanya, tidak ragu lagi niscaya gurunya syetan” Tafsir Ruhul-Bayan Juz 5 hal. 203
Kita ambil pelajaran dari bagaimana pendapat ulama panutan mereka yakni ulama Ibnu Taimiyah dalam memahami hadits berikut
Rasulullah bersabda (yang artinya): “Rabb kita Tabaraka wa Ta’ala turun pada setiap malam ke langit dunia, ketika masih tersisa sepertiga malam terakhir. Dia berfirman: ‘Siapa yang berdoa kepadaKu, niscaya Aku mengabulkannya, siapa yang memohon kepadaKu, niscaya Aku memberinya, siapa yang meminta ampun kepadaKu niscaya Aku mengampuninya!” (HR Bukhari)
Pendapat ulama Ibnu Taimiyah yang diyakini pula oleh para pengikutnya bahwa “Turunnya Allah Ta’ala ini sesuai dengan kebesaran dan keagunganNya Turun merupakan salah satu sifat Fi’liyah. Dia turun ketika Dia menghendaki dan kapan saja Dia menghendaki. Arti turun telah diketahui, tetapi bagaimana keadaan turun-Nya itu tidak diketahui, mengimaninya merupakan kewajiban, sedangkan bertanya mengenainya adalah bid’ah”.
Pada saat ulama Ibnu Taimiyah berkata “Dia turun ketika Dia menghendaki dan kapan saja Dia menghendaki” dan ”arti turun telah diketahui” maka beliau telah mentafsirkan lafaz nuzul sebagaimana makna yang selama ini diketahui atau makna dzahir dan Allah turun ke langit dunia pada waktu yang dikehendakiNya.
Padahal Salafush Sholeh sebagaimana yang telah kami sampaikan di atas, mereka tidak mentafsirkan dan hanya menyerahkan arti/makna kepada Allah Azza wa Jalla. Para Salafush Sholeh mendengar dan mentaati apa-apa yang telah disampaikan oleh Rasulullah shallallahu alaihi wasallam.
Berikut makna yang kami dengar dan pahami dari para ulama yang sanad ilmu tersambung kepada Rasululllah shalllallahu alaihi wasallam menyampaikan seperti,
*****awal kutipan*****
“Yang dimaksud adalah Allah itu senang semakin dekat, semakin dekat, semakin dekat kepada hamba hamba Nya disaat sepertiga malam terakhir semakin dekat Kasih Sayang Allah. Allah itu dekat tanpa sentuhan dan jauh tanpa jarak. Berbeda dengan makhluk, kalau dekat mesti ada sentuhan dan kalau jauh mesti ada jarak. “Allah laysa kamitslihi syai’un” (QS Assyura 11) (Allah tidak sama dengan segala sesuatu).
Allah subhanahu wa ta’ala turun mendekat kepada hamba Nya di sepertiga malam terakhir maksudnya Allah membukakan kesempatan terbesar bagi hamba hamba Nya di sepertiga malam terakhir.
Sepertiga malam terakhir kira kira pukul 2 lebih dinihari.., kalau malam dibagi 3, sepertiga malam terakhir kira kira pukul 2 lebih, sampai sebelum adzan subuh itu sepertiga malam terakhir, waktu terbaik untuk berdoa dan bertahajjud.
Disaat saat itu kebanyakan para kekasih lupa dengan kekasihnya. Allah menanti para kekasih Nya. Sang Maha Raja langit dan bumi Yang Maha Berkasih Sayang menanti hamba hamba yang merindukan Nya, yang mau memisahkan ranjangnya dan tidurnya demi sujudnya Kehadirat Allah Yang Maha Abadi. Mengorbankan waktu istirahatnya beberapa menit untuk menjadikan bukti cinta dan rindunya kepada Allah.”
*****akhir kutipan*****
Jadi pada hakikatnya dengan metode pemahaman seperti pemahaman ulama Ibnu Taimiyah justru dapat terjerumus kedalam tasybih, menyerupakan sifat Allah dengan sifat makhlukNya.
Oleh karenanya merekapun berkeyakinan bahwa Allah ta’ala mempunyai dua tangan dan kedua-duanya adalah kanan berdasarkan pemahaman mereka pada
Dari Abdullah bin ‘Amr r.a ia berkata: Rasulullah shallallahu alaihi wasallam telah bersabda: “Sesungguhnya orang-orang yang adil di sisi Allah Azza wa Jalla (pada hari kiamat) di atas mimbar-mimbar dari nur (cahaya) di sebelah kanan Ar Rahman dan kedua tangan-Nya adalah kanan. Yaitu orang-orang yang berlaku adil di dalam hukum mereka, dan pada kelaurga mereka, dan pada apa yang mereka pimpin”. (Hadits shahih riwayat. Muslim no 1827 dan Nasaa-i no 5379
Hal ini disampaikan contohnya pada http://moslemsunnah.wordpress.com/2010/03/29/benarkah-kedua-tangan-allah-azza-wa-jalla-adalah-kanan/
Beberapa ulama menyarankan untuk meninggalkan kitab-kitab karya ulama Ibnu Taimiyah, khususnya masalah i’tiqod sebagaimana yang terurai dalam http://ashhabur-royi.blogspot.com/2011/02/upaya-menetralkan-suntikan-racun.html.
Para ulama Ahlussunnah wal Jama’ah membantah pemahaman ulama Ibnu Taimiyah sebagaimana termuat dalam tulisan pada http://mutiarazuhud.files.wordpress.com/2010/02/ahlussunnahbantahtaimiyah.pdf dan para ulama menjelaskan adanya kesalahpahaman-kesalahpahaman seputar i’tiqod dalam tulisan pada http://mutiarazuhud.wordpress.com/2011/07/28/kesalahpahaman-itiqod/
Mereka bertanya, “kalau sifat wajah Allah, tangan, pinggang, betis, dll ditolak karena diangap menyerupai makhluk, kenapa tidak ditolak juga sifat mendengar, melihat ?
Sifat mendengar, sifat melihat kita sudah mengetahuinya namun tidak ada satupun ayat yang menyampaikan bahwa Allah ta’ala mendengar dengan telinga dan melihat dengan mata.
Kata wajah, misalnya, dalam Bahasa Arab biasa digunakan merujuk kepada wajah yang dikenal secara denotatif (makna dzahir), dan kadang juga digunakan oleh Bangsa Arab merujuk diri seseorang, artinya mereka menggunakan ungkapan “wajah” untuk menyebut “diri seseorang”, maksudnya adalah dzatnya, secara majaz.
Akan tetapi, orang Arab tidak pernah menggunakan kata wajah dalam arti “wajah, tapi tidak seperti wajah”. Padahal Al Qur’an berbahasa Arab, maka ayat-ayat dan kata-katanya seharusnya ditafsirkan dengan Bahasa Arab.
Kata “wajah”, orang Arab biasa menggunakannya secara majaz untuk mengungkapkan sosok seseorang demi memuliakannya. Maka mereka berkata: “jaa’a wajhul qoumi” telah datang wajah kaum.
Dengan demikian (QS Ar Rahmaan [55]: 27 )
وَيَبْقَى وَجْهُ رَبِّكَ ذُو الْجَلَالِ وَالْإِكْرَامِ
wayabqaa wajhu rabbika dzuul jalaali wal-ikraam, yang diterjemahkan “dan kekallah wajah Tuhanmu yang mempunyai kebesaran dan kemuliaan” makna wajah dalam konteks itu artinya adalah Dzat Allah Ta’ala sehingga makna yang harus kita pahami adalah, “Dan tetap kekal Dzat Tuhanmu yang mempunyai kebesaran dan kemuliaan”. Ingat bahwa dapat terjadi perbedaan antara terjemahan dengan makna sebagaimana yang telah kami sampaikan dalam tulisan pada http://mutiarazuhud.wordpress.com/2011/09/21/terjemahan-dan-makna/
Para ulama mengingatkan kita bahwa dalam memahami redaksi Qur’an, Hadits, atau lafaz/tulisan/ pernyataan para Ulama, hendaknya menggunakan disiplin ilmu, baik Nahwu, Shorof, Mantiq, Bilaghah atau ilmu yang lainnya. Jangan mengartikan mentah atau secara dzahir, karena akan berakibat keliru dalam memaknai redaksi, yang pada akhirnya keliru dalam pemahaman.
Semoga kita semua terlindung dari paham-paham yang sesat dan menyimpang. Amin Ya Rabbal Alamin
Wassalam
Zon di Jonggol, Kab Bogor 16830

Bahkan Al-Imam Abu Yazid Al-Bustamiy , quddisa sirruh (Makna tafsir QS.Al-Kahfi 60) ; “Barangsiapa tidak memiliki susunan guru dalam bimbingan agamanya, tidak ragu lagi niscaya gurunya syetan” Tafsir Ruhul-Bayan Juz 5 hal. 203
coba jika kita baca dan telaah sedikit surat al kahfi tersebut dari ayat 55-85. Sungguh sangat jauh penafsiran dari ayat 60 tersebut yang bunyinya dalam terjemah indonesia :
﴾ Al Kahfi:60 ﴿
Dan (ingatlah) ketika Musa berkata kepada muridnya: “Aku tidak akan berhenti (berjalan) sebelum sampai ke pertemuan dua buah lautan; atau aku akan berjalan sampai bertahun-tahun”.
tidak ada sedikitpun kata guru dan syetan dalam ayat 60 tsbt.
mengenai
Mereka bertanya, “kalau sifat wajah Allah, tangan, pinggang, betis, dll ditolak karena diangap menyerupai makhluk, kenapa tidak ditolak juga sifat mendengar, melihat ?
Sifat mendengar, sifat melihat kita sudah mengetahuinya namun tidak ada satupun ayat yang menyampaikan bahwa Allah ta’ala mendengar dengan telinga dan melihat dengan mata.
Kata wajah, misalnya, dalam Bahasa Arab biasa digunakan merujuk kepada wajah yang dikenal secara denotatif (makna dzahir), dan kadang juga digunakan oleh Bangsa Arab merujuk diri seseorang, artinya mereka menggunakan ungkapan “wajah” untuk menyebut “diri seseorang”, maksudnya adalah dzatnya, secara majaz.
Akan tetapi, orang Arab tidak pernah menggunakan kata wajah dalam arti “wajah, tapi tidak seperti wajah”. Padahal Al Qur’an berbahasa Arab, maka ayat-ayat dan kata-katanya seharusnya ditafsirkan dengan Bahasa Arab.
Kata “wajah”, orang Arab biasa menggunakannya secara majaz untuk mengungkapkan sosok seseorang demi memuliakannya. Maka mereka berkata: “jaa’a wajhul qoumi” telah datang wajah kaum.
Dengan demikian (QS Ar Rahmaan [55]: 27 )
setahu saya memang tidak ada terjemah “wajah” dari terjemahan al quran dalam bahasa indonesia, dua contoh terjemah yg bisa kita temui di internet adalah :
http://quranterjemah.com
﴾ Ar Rahmaan:27 ﴿
Dan tetap kekal Dzat Tuhanmu yang mempunyai kebesaran dan kemuliaan.
http://quran.com/55
Sahih International
And there will remain the Face of your Lord, Owner of Majesty and Honor.
Indonesian
Dan tetap kekal Dzat Tuhanmu yang mempunyai kebesaran dan kemuliaan.
jadi sedikit bingung siapa sebenarnya yg menerjemahkan kata Dzat dengan wajah sebenarnya. lagi pula bukankah kita semua sudah mengetahui seperti inti seolah2 permasalahan dalam tulisan ini :
﴾ Ali Imran:7 ﴿
Dialah yang menurunkan Al Kitab (Al Quran) kepada kamu. Di antara (isi)nya ada ayat-ayat yang muhkamaat, itulah pokok-pokok isi Al qur’an dan yang lain (ayat-ayat) mutasyaabihaat. Adapun orang-orang yang dalam hatinya condong kepada kesesatan, maka mereka mengikuti sebahagian ayat-ayat yang mutasyaabihaat daripadanya untuk menimbulkan fitnah untuk mencari-cari ta’wilnya, padahal tidak ada yang mengetahui ta’wilnya melainkan Allah. Dan orang-orang yang mendalam ilmunya berkata: “Kami beriman kepada ayat-ayat yang mutasyaabihaat, semuanya itu dari sisi Tuhan kami”. Dan tidak dapat mengambil pelajaran (daripadanya) melainkan orang-orang yang berakal.
sebagusnya seperti yang kita sama sama ketahui juga :
﴾ Ali Imran:64 ﴿
Katakanlah: “Hai Ahli Kitab, marilah (berpegang) kepada suatu kalimat (ketetapan) yang tidak ada perselisihan antara kami dan kamu, bahwa tidak kita sembah kecuali Allah dan tidak kita persekutukan Dia dengan sesuatupun dan tidak (pula) sebagian kita menjadikan sebagian yang lain sebagai tuhan selain Allah”. Jika mereka berpaling maka katakanlah kepada mereka: “Saksikanlah, bahwa kami adalah orang-orang yang berserah diri (kepada Allah)”.
mengenai siapa yang benar dan siapa yang salah, gak usah diperdebatkan, diperindah saja kalau bisa, siapa2 kira2 yang dikendakiNYA mendapat petunjuk kita semua kan tiada mengetahui.
﴾ Al Baqarah:213 ﴿
Manusia itu adalah umat yang satu. (setelah timbul perselisihan), maka Allah mengutus para nabi, sebagai pemberi peringatan, dan Allah menurunkan bersama mereka Kitab yang benar, untuk memberi keputusan di antara manusia tentang perkara yang mereka perselisihkan. Tidaklah berselisih tentang Kitab itu melainkan orang yang telah didatangkan kepada mereka Kitab, yaitu setelah datang kepada mereka keterangan-keterangan yang nyata, karena dengki antara mereka sendiri. Maka Allah memberi petunjuk orang-orang yang beriman kepada kebenaran tentang hal yang mereka perselisihkann itu dengan kehendak-Nya. Dan Allah selalu memberi petunjuk orang yang dikehendaki-Nya kepada jalan yang lurus.
nabi terakhir yang diutus sudah teramat lama, tiada lagi yang akan diutus, sebagaimana bukan kah juga sudah dikatakan tentang golongan2. Sebagusnya saya rasa kita Membuat Indah akhir zaman dengan Keindahan dan KeagunganNYA,… http://masrilkasim.kerenbanget.co/?p=359 . Dan pemikiran saya banyak yang mesti atau lebih penting kita lakukan dari setiap golongan, dengan cara menambah keimanan saja, hingga Insya Allah mudah2an dunia tidak seperti saat ini, coba kita perhatikan dunia saat ini, pemimpin menyalahgunakan kekuasaan, yang kaya mabuk dengan kekayaan, hingga tak perduli dengan saudara kita yang sedang kesusahan.
Bukankah dari semua golongan sepakat dengan sesama muslim itu saudara bagi muslim lainnya ? bukankah Islam itu ibarat sebuah bangunan ? bukankah juga ibarat anggota tubuh, yg jika satu bahagian sakit yg lain akan merasakannya ? masih banyak yang mesti kita lakukan ketimbang berdebat yang akan menimbulkan semakin runcingnya perpecahan ?
mudah2an Islam yang sama2 kita cintai ini benar2 menjadi sebuah bangunan yang teramat kuat, walau didalamnya ada berapapun golongan. itu Insya Allah terwujud dengan berjalan pada kesamaan, mengesampingkan perbedaan. Insya Allah mudah2an Dia meridhoi jika kita membela dan menegakkan jalanNYA,…
Mas Masril Kasim,
firman Allah ta’ala yang artinya,
“Dan (ingatlah) ketika Musa berkata kepada muridnya: “Aku tidak akan berhenti (berjalan) sebelum sampai ke pertemuan dua buah lautan; atau aku akan berjalan sampai bertahun-tahun” (QS Al Kahfi [18]:60)
Ahli tafsir menyampaikan bahwa murid Nabi Musa as adalah Yusya ‘bin Nun
Dijelaskan dalam surat Al Kahfi bagaimana gangguan syaitan pada orang-orang yang belajar agama
firman Allah ta’ala yang artinya,
“Maka tatkala mereka sampai ke pertemuan dua buah laut itu, mereka lalai akan ikannya, lalu ikan itu melompat mengambil jalannya ke laut itu
Maka tatkala mereka berjalan lebih jauh, berkatalah Musa kepada muridnya: “Bawalah kemari makanan kita; sesungguhnya kita telah merasa letih karena perjalanan kita ini”.
Muridnya menjawab: “Tahukah kamu tatkala kita mecari tempat berlindung di batu tadi, maka sesungguhnya aku lupa (menceritakan tentang) ikan itu dan tidak adalah yang melupakan aku untuk menceritakannya kecuali syaitan dan ikan itu mengambil jalannya ke laut dengan cara yang aneh sekali“. (QS Al Kahfi [18]: 61-63)
dan akhirnya Nabi Musa a.s dipertemukan dengan seorang pembimbing (mursyid) yakni Nabi Khidir a.s
firman Allah ta’ala yang artinya,
“Lalu mereka bertemu dengan seorang hamba di antara hamba-hamba Kami, yang telah Kami berikan kepadanya rahmat dari sisi Kami, dan yang telah Kami ajarkan kepadanya ilmu dari sisi Kami (QS Al Kahfi [18]:65)
Shahih Muslim 259: Dan telah menceritakan kepada kami Zuhair bin Harb telah menceritakan kepada kami Ismail bin Ibrahim dari Dawud dari asy-Sya’bi dari Masruq dia berkata, “Ketika aku duduk bersandar di samping Aisyah, maka dia berkata, ‘Wahai Abu Aisyah (Masruq)! Ada tiga perkara, barangsiapa yang memperbincangkan salah satu darinya, berarti dia telah melakukan pembohongan yang amat besar terhadap Allah.’ Aku bertanya, ‘Apakah tiga perkara itu? ‘ Aisyah menjawab, ‘Pertama, barangsiapa mengklaim bahwa Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam melihat Tuhannya maka sungguh dia telah membesarkan kebohongannya terhadap Allah.’ Aku yang duduk bersandar dari tadi, maka aku mulai duduk dengan baik, lalu aku berkata, ‘Wahai Ummul Mukminin! Berilah aku tempo, dan janganlah kamu membuatku terburu-buru, (dengarlah kata-kataku ini terlebih dahulu), bukankah Allah telah berfirman: ‘(Dan sesungguhnya Muhammad telah melihat Jibril itu (dalam rupanya yang asli) pada waktu yang lain) ‘ (Qs. Al Takwir: 23). Dan Firman Allah lagi: ‘(Dan sungguh Muhammad telah melihat ‘dia’ dalam bentuk rupanya yang asal sekali lagi) ‘ (Qs. An Najm: 13). Maka Aisyah menjawab, ‘Aku adalah orang yang pertama bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. mengenai perkara ini dari kalangan umat ini. Beliau telah menjawab dengan bersabda: “Yang dimaksud ‘dia’ dalam ayat itu adalah Jibril (bukan Allah), aku tidak pernah melihat Jibril dalam bentuk asalnya kecuali dua kali saja, yaitu semasa dia turun dari langit dalam keadaan yang terlalu besar sehingga memenuhi di antara lagit dan bumi.’ Kemudian Aisyah berkata lagi, ‘Apakah kamu tidak pernah mendengar bahwa Allah: ‘(Dia tidak dapat dilihat oleh penglihatan mata, sedangkan Dia dapat melihat dan mengetahui hakikat segala penglihatan mata, dan Dialah Yang Maha Bersifat Lemah Lembut lagi Maha Mendalam pengetahuannya) ‘ (Qs. Al An’am: 103). Atau, apakah kamu tidak pernah mendengar firman Allah: ‘(Dan tidaklah layak bagi seorang manusia, bahwa Allah mengajaknya berbicara kecuali berupa wahyu (dengan diberi mimpi) atau dari balik dinding (dengan mendengar suara saja) atau dengan mengutuskan utusan (Malaikat), lalu utusan itu menyampaikan wahyu kepadanya dengan izin Allah sesuatu yang dikehendaki-Nya. Sesungguhnya Allah Maha Tinggi, lagi Maha Bijaksana) ‘. (Qs. Asy Syura: 51). Kemudian Aisyah berkata lagi, ‘Barangsiapa yang mengklaim bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam telah menyembunyikan sebagian dari kitab Allah, maka sungguh dia telah membesarkan pendustaan terhadap Allah, sebagaimana firman Allah: ‘(Wahai Rasulullah, sampaikanlah sesuatu yang diturunkan kepadamu, dan jika kamu tidak melakukannya, maka berarti kamu tidak menyampaikan risalah-Nya) ‘ (Qs. Al Maidah: 67). Kemudian Aisyah berkata, “Barangsiapa mengklaim bahwa dia mampu mengabarkan tentang takdir yang akan terjadi besok, maka sungguh dia telah membesarkan kebohongan terhadap Allah. Allah berfirman: ‘(Katakanlah (hai Muhammad), tidak satu pun makhluk yang di langit dan bumi yang mengetahui kegaiban kecuali Allah) ‘. (Qs. An Naml: 65). Dan telah menceritakan kepada kami Muhammad bin al-Mutsanna telah menceritakan kepada kami Abdul Wahhab telah menceritakan kepada kami Dawud dengan sanad ini semisal hadits Ibnu Ulayyah, dan dia menambahkan, “Aisyah berkata, ‘Kalau seandainya Muhammad telah menyembunyikan sebagian dari wahyu yang diturunkan kepadanya, niscaya dia menyembunyikan ayat ini: ‘(Dan (ingatlah), ketika kamu berkata kepada orang yang mana Allah telah melimpahkan nikmat kepadanya dan kamu (juga) telah memberi nikmat kepadanya, ‘Tahanlah terus isterimu dan bertaqwalah kepada Allah’, sedang kamu menyembunyikan di dalam hatimu sesuatu yang mana Allah akan menyatakannya, dan kamu takut kepada manusia, sedang Allah-lah yang lebih berhak untuk kamu takuti) ‘ (Qs. al-Ahzab: 37). Telah menceritakan kepada kami Ibnu Numair telah menceritakan kepada kami bapakku telah menceritakan kepada kami Ismail dari asy-Sya’bi dari Masruq dia berkata, “Aku bertanya kepada Aisyah, ‘Apakah Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam melihat Rabbnya? ‘ Dia menjawab, ‘Mahasuci Allah, sungguh bulu kuduku merinding karena perkataan yang kamu ucapkan tadi’.” Lalu dia membawakan hadits tersebut dengan kisahnya. Dan hadits Dawud lebih sempurna dan panjang.”
http://id.lidwa.com/app/?k=muslim&n=259
﴾ Al Baqarah:272 ﴿
Bukanlah kewajibanmu menjadikan mereka mendapat petunjuk, akan tetapi Allah-lah yang memberi petunjuk (memberi taufiq) siapa yang dikehendaki-Nya. Dan apa saja harta yang baik yang kamu nafkahkan (di jalan allah), maka pahalanya itu untuk kamu sendiri. Dan janganlah kamu membelanjakan sesuatu melainkan karena mencari keridhaan Allah. Dan apa saja harta yang baik yang kamu nafkahkan, niscaya kamu akan diberi pahalanya dengan cukup sedang kamu sedikitpun tidak akan dianiaya (dirugikan).
﴾ Al Baqarah:255 ﴿
Allah, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia Yang Hidup kekal lagi terus menerus mengurus (makhluk-Nya); tidak mengantuk dan tidak tidur. Kepunyaan-Nya apa yang di langit dan di bumi. Tiada yang dapat memberi syafa’at di sisi Allah tanpa izin-Nya? Allah mengetahui apa-apa yang di hadapan mereka dan di belakang mereka, dan mereka tidak mengetahui apa-apa dari ilmu Allah melainkan apa yang dikehendaki-Nya. Kursi Allah meliputi langit dan bumi. Dan Allah tidak merasa berat memelihara keduanya, dan Allah Maha Tinggi lagi Maha Besar.
saya ada mempunyai teman akrab dahulu mas, dia selalu bilang seperti itu, mengenai guru yg mursyid. saya tanya, kita sebagai ummat Islam bukankah pedomannya Al Quran dan Sunnah ? pasti kita semua ummat Islam menjawab iya. di dalam Al Quran yg sempat saya baca, begitu banyak tentang kehendak Allah yang sepertinya kita harus tunduk, takluk terhadap kehendakNYA, bukankah kita sepakat dalam hal tersebut ? contoh :
﴾ Ar Ra’du:11 ﴿
Bagi manusia ada malaikat-malaikat yang selalu mengikutinya bergiliran, di muka dan di belakangnya, mereka menjaganya atas perintah Allah. Sesungguhnya Allah tidak merubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka merubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri. Dan apabila Allah menghendaki keburukan terhadap sesuatu kaum, maka tak ada yang dapat menolaknya; dan sekali-kali tak ada pelindung bagi mereka selain Dia.
banyak kita dengar ayat diatas hanya seperti ini :
Sesungguhnya Allah tidak merubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka merubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri.
hingga orang pasti beranggapan setelah orang tsbt berusaha, berdoa, dan kebetulan apa yg dia usahakan tersebut berhasil atau sesuai dengan takdirnya, akan membenarkan ayat tersebut. mungkin ketika melihat temannya yang telah berusaha mati2an, berdoa, tetapi tidak kunjung terlihat berhasil dalam ukuran sebatas dunia, dia menyangka ada apa2 dengan org tersebut, ada yg salah dengan org tersebut. padahal menurut sy, juika ada yg seperti itu kasusnya, itu dia hal teramat penting yg sering tak disebutkan,
Dan apabila Allah menghendaki keburukan terhadap sesuatu kaum, maka tak ada yang dapat menolaknya; dan sekali-kali tak ada pelindung bagi mereka selain Dia.
Seperti Jibril disebutkan teman saya adalah guru Muhammad, setahu saya Jibril hanya utusan Allah untuk menyampaikan wahyu, itu disebut dalam Hadist diatas. Umpama kita ada guru yg mursyid, jika Allah tidak menghendaki, kira kira bagaimana hasilnya ? sebab setahu saya tidak ada disebut dalam Al Quran dan Hadist2 belajar agama melalui guru yg mursyid. setahu saya banyak disebutkan jika Allah menghendaki terjadi, jika tidak mustahil. apakah kita tahu mengenai kehendak Allah, tidak berani saya berbicara kehendak Allah mas, seperti dalam Shahih Muslim 259 diatas.
Allah memberi petunjuk kepada siapa yang dikendakiNYA, siapa2 kah orang yang dikehendaki Allah tersebut saat ini ? Wallahualam,…
Saya terus terang mempelajari Agama ini sendiri mas, bukan dari golongan mana2, tetapi Alhamdulillah, segala puji hanya untuk Allah, semua saya rasakan selaras, Al Quran dan Sunnah suatu kesatuan yang tidak ada pertentangan sedikitpun, antara ayat dan ayat saling mendukung, antara ayat dan hadist saling menguatkan. sebab saya berusaha menundukkan pemikiran dan akal saya kepada kedua hal tersebut, Al Quran dan Sunnah, semua sangat jelas dan terang saya rasakan. Disini saya hanya sharing lho mas, bukan maksud gimana2, bukan maksud seolah olah saya benar, bukan, saya hanya mengutarakan apa yg saya rasakan sebatas yg saya pelajari,…
btw, terima kasih atas diskusinya mas,..
Mas Masril Kasim , tentulah Allah ta’ala tidak dapat dilihat dengan mata kepala
Firman Allah ta’ala yang artinya
“Dia tidak dapat dicapai oleh penglihatan mata” (QS Al An’am [6]:103)
Namun Allah ta’ala dapat dilihat dengan hati atau ain bashiroh
Imam Sayyidina Ali r.a. pernah ditanya oleh seorang sahabatnya bernama Zi’lib Al-Yamani,
“Apakah Anda pernah melihat Tuhan?”
Beliau menjawab, “Bagaimana saya menyembah yang tidak pernah saya lihat?”
“Bagaimana Anda melihat-Nya?” tanyanya kembali.
Sayyidina Ali ra menjawab “Dia tak bisa dilihat oleh mata dengan pandangan manusia yang kasat, tetapi bisa dilihat oleh hati”
Sebuah riwayat dari Ja’far bin Muhammad beliau ditanya: “Apakah engkau melihat Tuhanmu ketika engkau menyembah-Nya?” Beliau menjawab: “Saya telah melihat Tuhan, baru saya sembah”. Bagaimana anda melihat-Nya? dia menjawab: “Tidak dilihat dengan mata yang memandang, tapi dilihat dengan hati yang penuh Iman.”
Mereka yang dapat melihat Allah dengan hatinya disebut telah mencapai ihsan
Ada dua kondisi yang dicapai oleh muslim yang ihsan atau muslim yang telah bermakrifat.
Kondisi minimal adalah mereka yang selalu yakin diawasi oleh Allah Azza wa Jalla.
Kondiri terbaik adalah mereka yang dapat melihat Allah Azza wa Jalla dengan hati (ain bashiroh)
Apakah Ihsan ?
قَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ مَا الْإِحْسَانُ قَالَ أَنْ تَخْشَى اللَّهَ كَأَنَّكَ تَرَاهُ فَإِنَّكَ إِنْ لَا تَكُنْ تَرَاهُ فَإِنَّهُ يَرَاكَ
Lalu dia bertanya lagi, ‘Wahai Rasulullah, apakah ihsan itu? ‘ Beliau menjawab, ‘Kamu takut (takhsya / khasyyah) kepada Allah seakan-akan kamu melihat-Nya, maka jika kamu tidak melihat-Nya maka sesungguhnya Dia melihatmu.’ (HR Muslim 11)
Dalam hadits riwayat Imam Muslim Rasulullah menegaskan “jika kamu tidak melihat-Nya maka sesungguhnya Dia melihatmu” (HR Muslim 11) artinya memang ada kaum muslim yang dapat melihatnya namun bukan dengan mata kepala tetapi dengan hati atau ain bashiroh.
Imam Al Qusyairi mengatakan bahwa, “Asy-Syahid untuk menunjukkan sesuatu yang hadir dalam hati, yaitu sesuatu yang membuatnya selalu sadar dan ingat, sehingga seakan-akan pemilik hati tersebut senantiasa melihat dan menyaksikan-Nya, sekalipun Dia tidak tampak. Setiap apa yang membuat ingatannya menguasai hati seseorang maka dia adalah seorang syahid (penyaksi)”.
Syaikh Ibnu Athoillah mengatakan, “Sesungguhnya yang terhalang adalah anda, hai kawan. Karena anda sebagai manusia menyandang sifat jasad, sehingga terhalang untuk dapat melihat Allah. Apabila anda ingin sampai melihat Allah, maka intropeksi ke dalam, lihatlah dahulu noda dan dosa yang terdapat pada diri anda, serta bangkitlah untuk mengobati dan memperbaikinya, karena itu-lah sebagai penghalang anda. Mengobatinya dengan bertaubat dari dosa serta memperbaikinya dengan tidak berbuat dosa dan giat melakukan kebaikan“.
Syaikh Abdul Qadir Al-Jilany menyampaikan, “mereka yang sadar diri senantiasa memandang Allah Azza wa Jalla dengan qalbunya, ketika terpadu jadilah keteguhan yang satu yang mengugurkan hijab-hijab antara diri mereka dengan DiriNya. Semua banungan runtuh tinggal maknanya. Seluruh sendi-sendi putus dan segala milik menjadi lepas, tak ada yang tersisa selain Allah Azza wa Jalla. Tak ada ucapan dan gerak bagi mereka, tak ada kesenangan bagi mereka hingga semua itu jadi benar. Jika sudah benar sempurnalah semua perkara baginya. Pertama yang mereka keluarkan adalah segala perbudakan duniawi kemudian mereka keluarkan segala hal selain Allah Azza wa Jalla secara total dan senantiasa terus demikian dalam menjalani ujian di RumahNya”.
Nasehat Syaikh Ibnu Athoillah, “Seandainya Anda tidak dapat sampai / berjumpa kehadhirat Allah, sebelum Anda menghapuskan dosa-dosa kejahatan dan noda-noda keangkuhan yang melekat pada diri anda, tentulah anda tidak mungkin sampai kepada-Nya selamanya. Tetapi apabila Allah menghendaki agar anda dapat berjumpa denganNya , maka Allah akan menutupi sifat-sifatmu dengan sifat-sifat Kemahasucian-Nya , kekuranganmu dengan Kemahasempurnaan-Nya. Allah Ta’ala menerima engkau dengan apa yang Dia (Allah) karuniakan kepadamu, bukan karena amal perbuatanmu sendiri yang engkau hadapkan kepada-Nya.”
Munajat Syaikh Ibnu Athoillah, “Ya Tuhan, yang berada di balik tirai kemuliaanNya, sehingga tidak dapat dicapai oleh pandangan mata. Ya Tuhan, yang telah menjelma dalam kesempurnaan, keindahan dan keagunganNya, sehingga nyatalah bukti kebesaranNya dalam hati dan perasaan. Ya Tuhan, bagaimana Engkau tersembunyi padahal Engkaulah Dzat Yang Zhahir, dan bagaimana Engkau akan Gaib, padahal Engkaulah Pengawas yang tetap hadir. Dialah Allah yang memberikan petunjuk dan kepadaNya kami mohon pertolongan“
Sya sepakat dg Imam Sufyan bin Uyainah radhiyallahu anhu:
كل ما وصف الله تعالى به نفسه فتفسيره تلاوته و السكوت عنه
“Setiap sesuatu yang Allah menyifati diri-Nya dengan sesuatu itu, maka tafsirannya adalah bacaannya (tilawahnya) dan diam daripada sesuatu itu”.
jadi tafsirannya adalah tilawahnya seperti Istiwa’ ya istiwa (maknanya, tatacaranya hanya Allah SWT), wajhullah kalau dibaca ya tetap wajhullah (makna, bagaimananya hanya Allah Yg Tahu).