Mereka terhasut sudah terlampau jauh
Kami sangat menyayangkan tulisan atau komentar-komentar mereka yang dituliskan dengan kata-kata yang tidak patut bagi yang mengaku ittiba’ li Rasulihi (mengikuti Rasulullah)
Mereka sudah terlampau jauh termakan hasutan atau ghazwul fikiri (perang pemahaman) dari kaum Zionis Yahudi sehingga boleh jadi telah buta mata hatinya (ain bashiroh) sehingga hilang rasa takut bahwa Allah Azza wa Jalla melihat apa yang mereka tuliskan
Rasulullah bersabda, ‘Kamu takut (takhsya / khasyyah) kepada Allah seakan-akan kamu melihat-Nya, maka jika kamu tidak melihat-Nya maka sesungguhnya Dia melihatmu.’ (HR Muslim 11)
Mereka seolah-olah bertasyabuh dengan orang-orang kafir. Orang kafir melihat seorang muslim melakukan teror bom maka mereka berpendapat bahwa muslim adalah teroris
Mereka melihat muslim mengaku menjalankan tasawuf namun tidak menjalankan perkara syariat , lalu mereka berpendapat tasawuf adalah sesat
atau
Mereka berpendapat tasawuf adalah sesat ditimbulkan karena mereka memahami perkataan-perkataan ulama tasawuf tidak menggunakan ilmu balaghoh karena perkataan-perkataan ulama tasawuf sarat dengan bahasa cinta
Memang ada orang yang mengaku-aku menjalankan tasawuf atau mengaku sebagai seorang sufi namun kenyataan mereka tidaklah seperti pengakuannya.
Kita jangan terpancing dengan kata-kata dari komentar-komentar atau tulisan mereka yang menujukkan adab yang buruk sehingga melakukan hal yang serupa. Ahmad Shodiq, MA-Dosen Akhlak & Tasawuf, UIN Syarif Hidayatullah Jakarta mengutip perkataan Imam Syafi’i ~rahimahullah yang menyatakan bahwa orang yang buruk itu seperti pantatnya dandang (tempat menanak nasi) yang hitam. Kata Imam Syafi’i, dia hitam, dan dia ingin menempelkannya ke kulit kita. Kalau kita terpancing, maka yang hitam itu dua. Jadi kalau sampai kita sadar bahwa ada ruhani yang tidak stabil, dan kita terpancing untuk tidak stabil, maka sesungguhnya yang terjadi adalah dua ketidakstabilan, karena kita terpancing. Selengkapnya uraian dosen Ahmad Shodiq tentang tasawuf dan pendidikan akhlak ada dalam tulisan pada http://mutiarazuhud.wordpress.com/2010/06/07/pendidikan-akhlak/
Jangan pernah dengarkan perkataan, definisi atau uraian tentang tasawuf dari ulama yang tidak menjalankan tasawuf
Tasawuf sejak dahulu kala di perguruan-perguruan tinggi Islam adalah tentang akhak atau tentang ihsan
Tasawuf adalah jalan (thariqah) untuk mencapai muslim yang ihsan
Tasawuf adalah upaya memperjalankan diri hingga sampai (wushul) kepadaNya
Tasawuf adalah upaya untuk mencapai ma’rifat (menyaksikan Allah) tidak sekedar bersaksi dengan syahadah
Jika belum mencapai ma’rifat maka setiap kita akan bersikap atau melakukan perbuatan, ingatlah selalu perkataan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bahwa “Jika kamu tidak melihat-Nya maka sesungguhnya Dia melihatmu.’ (HR Muslim 11)
Jika kita terhasut sehingga tidak menjalankan tasawuf maka kita semakin sulit menemukan keadaan sepert ini
Alkisah, Imam at-Thabari menceritakan, usai penaklukan kota Madain, datanglah seorang laki-laki kepada para petugas pengumpul harta rampasan perang. Ia membawa sejumlah harta yang mencengangkan.
Petugas bertanya kepadanya, “Apakah kamu mengambil sebagian untukmu?”
Laki-laki itu menjawab, “Tidak, demi Allah!” Jika bukan karena Allah, pastilah harta ini sudah aku gelapkan untukku.”
Penasaran dengan jawaban itu, para petugas bertanya lagi, “Siapa nama kamu?”
Dijawab si laki-laki, “Tidak, kalian tidak perlu tahu namaku agar kalian dan orang-orang lain tak memujiku. Aku sudah cukup bersyukur kepada Allah dan puas dengan ganjaran-Nya itu.” Setelah diselidiki, diketahuilah, laki-laki itu bernama Amir bin Abdi Qais.
Kenapa seorang muslim taat beribadah, sholat lima waktu berjama’ah, rajin menunaikan sholat sunnah, telah menunaikan ibadah haji, rajin berpuasa senin kamis, suka bersedekah namun mereka tetap melakukan perbuatan korupsi ?
Perbuatan korupsi dan perbuatan buruk lainnya terjadi dikarenakan mereka tidak menjalankan tasawuf atau tidak sampai pengetahuan tasawuf pada mereka
Kalau saja mereka menjalankan tasawuf, setiap akan bersikap atau melakukan perbuatan minimal mengingat perkataan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam , “jika kamu tidak melihat-Nya maka sesungguhnya Dia melihatmu.’ (HR Muslim 11) , maka insyaallah mereka tidak akan melakukan korupsi atau perbuatan buruk lainnya karena mereka akan takut dengan Allah Azza wa Jalla yang selalu melihat apapun perbuatan mereka
Sekarang silahkan mereka pilih
Mengikuti ulama yang mengaku-aku mengikuti pemahaman Salafush Sholeh namun kenyataannya tidak bertalaqqi (mengaji) dengan Salafush Sholeh
atau
Mengikuti Imam Mazhab yang empat, pemimpin atau imam ijtihad kaum muslim pada umumnya (Imam Mujtahid Mutlak) yang bertalaqqi (mengaji) langsung dengan Salafush Sholeh. Imam Mazhab yang empat mengetahui dan mengikuti pemahaman Salafush Sholeh melalui lisannya Salafush Sholeh. Para Imam Mazhab yang empat melihat sendiri penerapan, perbuatan serta contoh nyata dari Salafush Sholeh.
Imam Mazhab yang empat menasehatkan agar kaum muslim menjalankan perkara syariat sebagaimana yang mereka sampaikan dalam kitab fiqih mereka sekaligus menjalankan tasawuf untuk mencapai muslim yang Ihsan , muslim yang berakhlakul karimah
Imam Syafi’i ~rahimahullah menyampaikan nasehat (yang artinya) ,”Berusahalah engkau menjadi seorang yang mempelajari ilmu fiqih dan juga menjalani tasawuf, dan janganlah kau hanya mengambil salah satunya. Sesungguhnya demi Allah saya benar-benar ingin memberikan nasehat padamu. Orang yang hanya mempelajari ilmu fiqih tapi tidak mahu menjalani tasawuf, maka hatinya tidak dapat merasakan kelazatan takwa. Sedangkan orang yang hanya menjalani tasawuf tapi tidak mahu mempelajari ilmu fiqih, maka bagaimana bisa dia menjadi baik (ihsan)?” [Diwan Al-Imam Asy-Syafi'i, hal. 47]
Begitupula dengan nasehat Imam Malik ~rahimahullah bahwa menjalankan tasawuf agar manusia tidak rusak dan menjadi manusia berakhlak baik
Imam Malik ~rahimahullah menyampaikan nasehat (yang artinya) “Dia yang sedang tasawuf tanpa mempelajari fikih (perkara syariat) rusak keimanannya , sementara dia yang belajar fikih tanpa mengamalkan Tasawuf rusaklah dia ., hanya dia siapa memadukan keduanya terjamin benar” .
Wassalam
Zon di Jonggol, Kab Bogor 16830
