Janganlah mengikuti pemahaman yang menyempal keluar dari pemahaman jumhur ulama
Mereka serukan, janganlah terpedaya dengan banyaknya orang yang melakukan peringatan Maulid Nabi sebagaimana firman Allah ta’ala yang artinya: “Dan jika kamu menuruti kebanyakan orang-orang yang di muka bumi ini, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah. Mereka tidak lain hanyalah mengikuti persangkaan belaka, dan mereka tidak lain hanyalah berdusta (terhadap Allah) ” (Q.S. Al An’aam [6] : 116 ).
Mereka tanpa disadari telah menjadi “perpanjangan-tangan” kaum Zionis Yahudi untuk meruntuhkan Ukhuwah Islamiyah.
Mereka terhasut dengan menyalahgunakan firman Allah ta’ala untuk kaum kafir dipergunakan untuk menyerang saudara-saudara muslimnya sendiri
Mereka tidak dapat membedakan antara “menuruti kebanyakan orang-orang yang di muka bumi” dalam firman Allah ta’ala tersebut dengan “menuruti pendapat kebanyakan ulama (jumhur ulama)”.
Makna firman Allah ta’ala dalam (QS Al An’aam [6]:116) adalah larangan “menuruti kebanyakan orang-orang yang dimuka bumi” yakni orang-orang musyrik. Hal ini dapat kita pahami dengan memperhatikan ayat-ayat sebelumnya pada surat tersebut. Secara tidak sadar mereka telah memfitnah Allah Azza wa Jalla , menggunakan firman Allah ta’ala untuk tujuan/maksud yang berbeda.
Inilah apa yang dikatakan oleh Imam sayyidina Ali ~karamallah wajhu , “kalimatu haqin urida bihil batil” (perkataan yang benar dengan tujuan yang salah).
Imam Al hafidh Abu Syaamah rahimahullah (Guru imam Nawawi), “Merupakan Bid’ah hasanah yang mulia dizaman kita ini adalah perbuatan yang diperbuat setiap tahunnya di hari kelahiran Rasul shallallahu alaihi wasallam dengan banyak bersedekah, dan kegembiraan, menjamu para fuqara, seraya menjadikan hal itu memuliakan Rasul shallallahu alaihi wasallam dan membangkitkan rasa cinta pada beliau shallallahu alaihi wasallam, dan bersyukur kepada Allah ta’ala dengan kelahiran Nabi shallallahu alaihi wasallam”.
Imam Al Hafidh Assakhawiy dalam kitab Sirah Al Halabiyah berkata “tidak dilaksanakan maulid oleh salaf hingga abad ke tiga, tapi dilaksanakan setelahnya, dan tetap melaksanakannya umat Islam di seluruh pelosok dunia dan bersedekah pada malamnya dengan berbagai macam sedekah dan memperhatikan pembacaan maulid, dan berlimpah terhadap mereka keberkahan yang sangat besar”.
Imam Al hafidh Ibn Abidin rahimahullah dalam syarahnya maulid ibn hajar berkata : “ketahuilah salah satu bid’ah hasanah adalah pelaksanaan maulid di bulan kelahiran nabi shallallahu alaihi wasallam”
Imam Al Hafidh Ibnul Jauzi rahimahullah, dengan karangan maulidnya yang terkenal “al aruus” juga beliau berkata tentang pembacaan maulid, “Sesungguhnya membawa keselamatan tahun itu, dan berita gembira dengan tercapai semua maksud dan keinginan bagi siapa yang membacanya serta merayakannya”.
Imam Al Hafidh Al Qasthalaniy rahimahullah dalam kitabnya Al Mawahibulladunniyyah juz 1 hal 148 cetakan al maktab al islami berkata: “Maka Allah akan menurukan rahmat Nya kepada orang yang menjadikan hari kelahiran Nabi saw sebagai hari besar”.
Di negara kita, peringatan Maulid Nabi telah diselenggarakan sejak agama Islam dibawa oleh para ulama keturunan cucu Rasulullah , yakni para Wali Songo.
Peringatan Maulid Nabi telah disepakati baik oleh umaro (penguasa) maupun oleh jumhur ulama yang diwakili oleh Majelis Ulama Indonesia sebagai sebuah amal kebaikan yang tidak bertentangan dengan Al Qur’an dan As Sunnah. Hal yang perlu diperhatikan adalah cara mengisi acara peringatan Maulid Nabi jangan sampai bertentangan dengan Al Qur’an dan As Sunnah.
Kita ikuti Sunnah Rasulullah bahwa jika kita mendapatkan perselisihan karena perbedaan pemahaman / pendapat maka agar selamat dari kesesatan kita disuruh untuk mengikuti as-sawad al a’zham atau mengikuti kesepakatan jumhur ulama
Rasulullah shallallahu alaihi wasallam menyampaikan, “Sesungguhnya umatku tidak akan bersepakat pada kesesatan. Oleh karena itu, apabila kalian melihat terjadi perselisihan maka ikutilah as-sawad al a’zham (jumhur ulama).” (HR. Ibnu Majah, Abdullah bin Hamid, at Tabrani, al Lalika’i, Abu Nu’aim. Menurut Al Hafidz As Suyuthi dalam Jamius Shoghir, ini adalah hadits Shohih)
Al-Hafidz Ibnu Hajar rahimahullah dalam Fathul Bari XII/37 menukil perkataan Imam Thabari rahimahullah yang menyatakan: “Berkata kaum (yakni para ulama), bahwa jamaah adalah Sawadul A’dzam.
Rasulullah shallallahu alaihi memperingatkan kita untuk menghindari pemahaman yang menyempal dari jamaah muslimin dan imamnya
Dari Ibnu ‘Abbas r.a. berkata Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda, “hendaklah kamu selalu bersama jamaah muslimin dan imam mereka“
Aku bertanya; kalau tidak ada jamaah muslimin dan imam bagaimana?
Nabi menjawab; hendaklah kau jauhi seluruh firqah (kelompok-kelompok pemahaman / sekte) itu, sekalipun kau gigit akar-akar pohon hingga kematian merenggutmu kamu harus tetap seperti itu. (Riwayat Bukhari VI615-616, XIII/35. Muslim XII/135-238 Baghawi dalam Syarh Sunnah XV/14. Ibnu Majah no. 3979, 3981. Hakim IV/432. Abu Dawud no. 4244-4247.Baghawi XV/8-10. Ahmad V/386-387 dan hal. 403-404, 406 dan hal. 391-399)
Kemudian diceritakan dari Ibnu Sirin dari Abi Mas’ud, bahwa beliau mewasiatkan kepada orang yang bertanya kepadanya ketika ‘Utsman dibunuh, untuk berpegang teguh pada Jamaah, karena Allah tidak akan mengumpulkan umat Muhammad shalallahu ‘alaihi wa sallam dalam kesesatan. Dan dalam hadits dinyatakan bahwa ketika manusia tidak mempunyai imam, dan manusia berpecah belah menjadi kelompok-kelompok maka janganlah mengikuti salah satu firqah/sekte. Hindarilah semua firqah/sekte itu jika kalian mampu untuk menghindari terjatuh ke dalam keburukan”.
Mereka yang menetapkan maupun mereka yang mengikuti larangan peringatan Maulid Nabi adalah mereka yang bertasyabuh kepada kaum Nasrani, menjadilkan ulama-ulama mereka sebagai tuhan selain Allah, sebagaimana yang telah diuraikan dalam tulisan pada http://mutiarazuhud.wordpress.com/2012/01/30/bertasyabuh-kaum-nasrani/
Wassalam
Zon di Jonggol, Kab Bogor 16830

mohon ijin… numpang copast…..
———-
Di negara kita, peringatan Maulid Nabi telah diselenggarakan sejak agama Islam dibawa oleh para ulama keturunan cucu Rasulullah , yakni para Wali Songo.
———————-
sekalian numpang tanya….:
mungkin ada yang tahu? siapa sih penulis buku-buku sejarah tentang Wali Songo yang banyak beredar di Indonesia ? kapan buku-buku sejarah ini mulai beredar di Indonesia? dan apakah ada yang tahu? Wali Songo adalah benar-benar keturunan cucu Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassalam ???
karena kalau ngelihat poto-poto para wali songo ini koq kayaknya terjadi distorsi, seperti Sunan Kalijogo di Jawa Tengah blangkonan depan mulus-belakang mbendol ( depan aman, belakang awas lho…. ), Sunan Ampel di Jawa Timur blangkonan depan- belakang sama mbendol ( apa adanya ), ataukah gambar-gambar itu hanya bohongan? banyak sekali lho gambarnya barengan 9 wali…..
Wallahu A’lam
terima kasih,
jarS_