Terhasut oleh pembatasan makna firmanNya
Mereka adalah hasil pengajaran para ulama korban hasutan atau ghazwul fikri (perang pemahaman) dari kaum Zionis Yahudi.
Salah satu penghasutnya adalah perwira Yahudi Inggris bernama Edward Terrence Lawrence yang dikenal oleh ulama jazirah Arab sebagai Laurens Of Arabian. Laurens menyelidiki dimana letak kekuatan umat Islam dan berkesimpulan bahwa kekuatan umat Islam terletak kepada ketaatan dengan mazhab (bermazhab) dan istiqomah mengikuti tharikat-tharikat tasawuf.
Laurens mengupah ulama-ulama yang anti tharikat dan anti mazhab untuk menulis buku buku yang menyerang tharikat dan mazhab. Buku tersebut diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa dan dibiayai oleh pihak orientalis.
Dalam tulisan sebelumnya pada http://mutiarazuhud.wordpress.com/2012/02/02/potongan-perkataan-ulama/ telah diuraikan bagaimana mereka terhasut oleh potongan perkataan ulama.
Dalam tulisan pada http://mutiarazuhud.wordpress.com/2012/02/03/terhasut-pengalihan-makna/ telah diuraikan bagaimana mereka terhasut oleh pengalihan makna perkataan ulama.
Dalam tulisan pada http://mutiarazuhud.wordpress.com/2012/02/05/menyalah-maknakan-hadits/ telah diuraikan bagaimana mereka terhasut oleh penyalah makna dari hadits.
Dalam tulisan kali ini diuraikan bagaimana mereka terhasut oleh pembatasan makna firman Allah ta’ala.
Contohnya.
Firman Allah ta’ala yang artinya, “Dan barangsiapa yang menentang Rasul sesudah jelas kebenaran baginya, dan mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang mu’min, Kami biarkan ia leluasa terhadap kesesatan yang telah dikuasainya itu*) dan Kami masukkan ia ke dalam Jahannam, dan Jahannam itu seburuk-buruk tempat kembali” (QS An Nisaa’ [4]:115) *) Allah biarkan mereka bergelimang dalam kesesatan
Mereka berpendapat bahwa sabilil mu’minin , jalan orang-orang mu’min terbatas hanya pada para Sahabat saja dan kemudian diikuti dengan orang-orang yang mengikuti mereka dari Tabi’in dan Tabi’ut Tabi’in. Contoh pendapat ulama mereka sebagaimana termuat dalam Al-Masaa-il oleh Abdul Hakim bin Amir Abdat – Halaman 240 s/d 246
Jadi kalau kaum muslim mengikuti apa yang disampaikan oleh orang-orang mu’min selain para Sahabat seperti Imam Mazhab yang empat maka termasuk tidak mentaati perintah Allah Azza wa Jalla sekaligus telah menentang Rasulullah shallallahu alaihi wasallam.
Bagaimana mereka mengetahui jalan atau cara beribadah para Sahabat kalau tidak mengikuti apa yang disampaikan oleh Imam Mazhab yang empat yang melihat langsung penerapan, perbuatan serta contoh nyata jalan atau cara beribadah dari Salafush Sholeh.
Mereka katakan telah mengikuti jalan atau cara beribadah para Sahabat namun kenyataannya mereka mengikuti akal pikiran mereka sendiri hasil belajar sendiri (secara otodidak) melalui cara muthola’ah, menelaah kitab.
Setiap upaya pemahaman bisa benar dan bisa pula salah. Kemungkinan salah akan semakin besar jika tidak berkompetensi sebagai imam mujtahid mutlak sebagaimana kompetensi Imam Mazhab yang empat.
Kesalahpahaman dapat ditimbulkan karena mereka tidak mendapatkan pemahaman Salafush Sholeh dari lisannya Salafush Sholeh sedangkan Imam Mazhab yang empat mendapatkan pemahaman Salafush Sholeh langsung dari lisannya Salafush Sholeh karena Imam Mazhab yang empat bertalaqqi (mengaji) langsung dengan Salafush Sholeh.
Merekalah korban hasutan atau ghazwul fikri (perang pemahaman) dari kaum Zionis Yahudi untuk memahami Al Qur’an dan As Sunnah dengan akal pikiran masing-masing dengan tujuan menimbulkan perselisihan di antara kaum muslim karena perbedaan pemahaman.
Rasulullah telah melarang kita untuk memahami Al Qur’an dengan akal pikiran kita sendiri
Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda, “Barangsiapa menguraikan Al Qur’an dengan akal pikirannya sendiri dan merasa benar, maka sesungguhnya dia telah berbuat kesalahan”. (HR. Ahmad)
Dari Ibnu ‘Abbas r.a. berkata Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda, “di dalam agama itu tidak ada pemahaman berdasarkan akal pikiran, sesungguhnya agama itu dari Tuhan, perintah-Nya dan larangan-Nya.” (Hadits riwayat Ath-Thabarani)
Ibnul Mubarak berkata :”Sanad merupakan bagian dari agama, kalaulah bukan karena sanad, maka pasti akan bisa berkata siapa saja yang mau dengan apa saja yang diinginkannya.” (Diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Muqoddimah kitab Shahihnya 1/47 no:32 )
Dari Ibnu Abbas ra Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda…”Barangsiapa yg berkata mengenai Al-Qur’an tanpa ilmu maka ia menyediakan tempatnya sendiri di dalam neraka” (HR.Tirmidzi)
Imam Syafi’i ~rahimahullah mengatakan “tiada ilmu tanpa sanad”.
Al-Hafidh Imam Attsauri ~rahimullah mengatakan “Penuntut ilmu tanpa sanad adalah bagaikan orang yang ingin naik ke atap rumah tanpa tangga”
Bahkan Al-Imam Abu Yazid Al-Bustamiy , quddisa sirruh (Makna tafsir QS.Al-Kahfi 60) ; “Barangsiapa tidak memiliki susunan guru dalam bimbingan agamanya, tidak ragu lagi niscaya gurunya syetan” Tafsir Ruhul-Bayan Juz 5 hal. 203
Sanad ilmu / sanad guru sama pentingnya dengan sanad hadits.
Sanad hadits adalah otentifikasi atau kebenaran sumber perolehan matan/redaksi hadits dari lisan Rasulullah.
Sedangkan Sanad ilmu atau sanad guru adalah otentifikasi atau kebenaran sumber perolehan penjelasan baik Al Qur’an maupun As Sunnah dari lisan Rasulullah.
Hal yang harus kita ingat bahwa Al Qur’an pada awalnya tidaklah dibukukan. Ayat-ayat Al Qur’an hanya dibacakan dan dihafal (imla) kemudian dipahami bersama dengan yang menyampaikannya.
Hal yang akan dipertanyakan terhadap sebuah pendapat / pemahaman seperti :
“Apakah yang kamu pahami telah disampaikan / dikatakan oleh ulama-ulama terdahulu yang tersambung lisannya kepada Rasulullah shallallahu alaihi wasallam ?”
“Siapakah ulama-ulama terdahulu yang mengatakan hal itu ?”
“Dari siapakah mendapatkan pemahaman seperti itu ?”
Imam Malik ra berkata: “Janganlah engkau membawa ilmu (yang kau pelajari) dari orang yang tidak engkau ketahui catatan (riwayat) pendidikannya (sanad ilmu)”
Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda yang artinya “Sampaikan dariku sekalipun satu ayat dan ceritakanlah (apa yang kalian dengar) dari Bani Isra’il dan itu tidak apa (dosa). Dan siapa yang berdusta atasku dengan sengaja maka bersiap-siaplah menempati tempat duduknya di neraka” (HR Bukhari)
Hakikat makna hadits tersebut adalah kita hanya boleh menyampaikan satu ayat yang diperoleh dari orang yang disampaikan secara turun temurun sampai kepada lisannya Sayyidina Muhammad bin Abdullah Shallallahu alaihi wasallam.
Kita tidak diperkenankan menyampaikan apa yang kita pahami dengan akal pikiran sendiri dengan cara membaca dan memahami namun kita sampaikan apa yang kita dengar dan pahami dari lisan mereka yang sanad ilmunya tersambung kepada lisannya Rasulullah shallallahu alaihi wasallam karena hanya perkataan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam yang merupakan kebenaran atau ilmuNya.
Rasulullah shallallahu alaihi wasallam menyampaikan agama kepada Sahabat. Sahabat menyampaikan kepada Tabi’in. Tabi’in menyampaikan pada Tabi’ut Tabi’in. Para Imam Mazhab yang empat, pemimpin atau imam ijtihad kaum muslim pada umumnya, mereka berijtihad dan beristinbat berlandaskan hasil bertalaqqi (mengaji ) pada Salafush Sholeh
Contoh sanad Ilmu atau sanad guru Imam Syafi’i ra
1. Baginda Nabi Muhammad Shallallahu alaihi wasallam
2. Baginda Abdullah bin Umar bin Al-Khottob ra
3. Al-Imam Nafi’, Tabi’ Abdullah bin Umar ra
4. Al-Imam Malik bin Anas ra
5. Al-Imam Syafei’ Muhammad bin Idris ra
“Orang yang berguru tidak kepada guru tapi kepada buku saja maka ia tidak akan menemui kesalahannya karena buku tidak bisa menegur tapi kalau guru bisa menegur jika ia salah atau jika ia tak faham ia bisa bertanya, tapi kalau buku jika ia tak faham ia hanya terikat dengan pemahaman dirinya, maka oleh sebab itu jadi tidak boleh baca dari buku, tentunya boleh baca buku apa saja boleh, namun kita harus mempunyai satu guru yang kita bisa tanya jika kita mendapatkan masalah” (Habib Munzir).
Asy-Syeikh as-Sayyid Yusuf Bakhour al-Hasani menyampaikan bahwa “maksud dari pengijazahan sanad itu adalah agar kamu menghafazh bukan sekadar untuk meriwayatkan tetapi juga untuk meneladani orang yang kamu mengambil sanad daripadanya, dan orang yang kamu ambil sanadnya itu juga meneladani orang yang di atas di mana dia mengambil sanad daripadanya dan begitulah seterusnya hingga berujung kepada kamu meneladani Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Dengan demikian, keterjagaan al-Qur’an itu benar-benar sempurna baik secara lafazh, makna dan pengamalan“
“Sanad adalah bagai rantai emas terkuat yg tak bisa diputus dunia dan akhirat, jika bergerak satu mata rantai maka bergerak seluruh mata rantai hingga ujungnya, yaitu Rasulullah shallallahu alaihi wasallam,” (Habib Munzir)
Keistimewaan syari’at Islam adalah adanya sanad atau mata rantai yang bersambung hingga pembawa syari’at itu sendiri; Rasulullah. Karena itulah munculnya faham-faham menyimpang yang dapat menyesatkan umat Islam sangat kecil kemungkinannya untuk tidak terdeteksi jika berpegang teguh kepada sanad.
Sanad inilah yang kemudian menjadi tradisi di kalangan Ahlus Sunnah wal Jama’ah untuk selalu dilestarikan, karena dengan terus membudayakannya akan terjamin kemurnian ajaran agama Allah ini tidak bercampur dengan akal pikiran manusia yang didalamnya ada unsur hawa nafsu atau kepentingan
Wassalam
Zon di Jonggol, Kab Bogor 16830

Syukron…
Pak,bisa tidak setiap Bapak post,langsung masuk ke blog saya,kalau bisa aku kasihkan sandi blog saya,,
terima kasih,
لولا السند لقال من قال ما شاء (الشافعى)
Andai tiada sanad, maka akan berkatalah orang2 yang berkata, sesuatu yg di inginkan ( istilah jawa : sak karepe dewe)
(As-syafi’i)
mas ASY – SAIDANI ………..sepakat ….
Mohon Maaf Mas Zon, saya mau bertanya apa landasan dalam amalan dibawah ini :
1. Melafalkan Niat sholat
2. Tahlilan
3. Barjanzian
4. Maulid
5. peringatan isra mi’raj
A. apakah para Imam Madzhab yg Mulia melakukannya juga…?? sebenarnya para ulama bukan berarti tidak menghormati para Imam Madzhab ketika mereka tidak bermadzhab kepada salah satu dari Imam Madzhab itu. Namun mereka dalam rangka mengikuti Rosulullah SAW yg jelas2 diperintahkan oleh Para Imam Madzhab.
Apakah Rosulullah SAW dan Para sahabatnya melakukan ke5 amalan itu semua…????
B. Bicara sanad—-> semua ulama menyepakati itu mas. Apakah ada riwayat dari mereka dalam melakukan hal2 diatas yg juga sampai kepada Rosulullah SAW.
C. Hukum tahlilan menurut mas apa…?? Ibadah Ketaatan (wajib), Sunah atau Yg diharamkan..??
D. Imam Imam ahli hadits itu seperti Imam Ahmad bin Hambal, Imam Bukhari, Imam Muslim, dll telah membukukan hadits2 dalam musnad maupun jami’us shahihnya. Peluang pendapat Imam Madzhab kurang pas/kurang sesuai dg hadits tetap ada, apakah kita mau mengikuti itu selamanya…??? atau kita kembalikan kepada haditsnya…?? Nah inilah dikalangan para ulama untuk terus menerus memperdalam hadits dan membandingkan dg fatwa2 Imam madzhab. Pada kondisi ini bisa jadi salah satu pendapat Imam Madzhab ada yg tdk pas/kurang sesuai dg haditsnya. Dan kita disuruh meninggalkannya sebagaimana ucapan Imam Syafii kepada Imam Ahmad. (ahmad kamu lebih mengathui hadits dari pada aku,maka jika ada pendapatku bertentangan dg hadits shahih, maka lemparkan pendapatku ke tembok dan ambilah hadits shahih tsbt)
E. Jadi kebanyakan ulama yg tdk bermadzhab itu kecenderungannya bermadzhab kepada Imam Ahmad bin Hanbal (beliau ahlul hadits). Jadi Ijtihad itu tidak mutlak kepada Imam Madzhab, siapapun kalau punya kapasitas untuk ijtihad , dia tdk salah kalau berijtihad sendiri/ atau mengikuti salah satu pendapat Imam Madzhab->namun tidak taklid buta. Karena para imam pun mengharamkan bertaklid buta kepada mereka.
F. Imam Sufyan Bin Uyainah, Imam AL A’uzai, Sufyan ATs Tsauri, apakah mereka bermadzhab kepada salah satu Imam madzhab yg 4 …??? tidak mas…, mereka mampu untuk berijtihad.
G. Imam Nawawi dlm Raduhatut thalibin menyebutkan ” seorang mujtahid tak punya kewajiban untuk bertaklid kepada mujtahid lain, baik dlm konteks untuk dijadikan amalan atau difatwakan kpd yg lain.
H. Imam nawawi dlm hal (R. Thalibin IV: 121); Yg benar menurut dalil, seseorang tdk wajib terikat dg mazhab tertentu, tetapi ia boleh meminta fatwa dari ulama manapun yg ia kehendaki atau yg kebetulan ia temui, tapi tdk dg tujuan mencari-cari yg gampang2 saja.
I. Jadi seseorang yg bermadzhab Syafi’i boleh2 saja mengikuti pendapat ulama lain yg juga seorang mujtahid, dan ini tdk akan merusak kesyafi’iyahannya (Abu Umar Basyir: hal 93)
J. Orang2 bermadzhab pun mengenal dinamika ilmu dan tak harus selamanya terikat dan terperangkan dalam madzhabnya, apalagi kalau yg dimaksud madzhab disini hanya sebagian penganut madzhab di sebuah negeri dan hanya zaman ini saja…
K. Imam Syafii berkata ” Apabila ada hadits shahih maka itulah madzhabku”. hadits shahih itu ada dimana…???, beliau pun tawadhu, bahwa beliaupun tdk ma’shum, dan tdk hafal semua hadits yg datang dari Rosulullah SAW, oleh karena itu Para Imam Ahlul Hadist telah mempermudah kita untuk mengetahui hadits2 shahih, hasan, dhaif, atau palsu bukan…??? dengan demikian mengikuti hadits shahih sekalipun berbeda dg Imam Syafi’i—> bukan berarti kita tdk menghormati beliau, justru kita dalam rangka taat kepada Rosulullah SAW.
L. Imam Malik mengatakan :”barang Siapa yg melakukan amalan bid’ah, lalu menganggap sebagai hasanah, bagus, berarti ia telah menuduh Nabi Muhammad telah menghianati risalahnya.
Makna ucapan Imam Malik ini:
Ulama/orang awam pun tahu bahwa dalam kewajiban (amalan ketaatan itu) jika ada bid’ah pasti sesat (missal : sholat subuh jadi 3 roka’at). Namun apakah ini yg dimaksud Imam Malik….??? Yg dimaksud Amalan bid’ah dalam hal ini adalah : amalan yg dibuat2 / baru yg menyerupai amalan ketaatan(kewajiban/yg telah disyariatkan) dan menganggapnya sebagai hasanah.
M. Hadits Riwayat Bukhari Muslim “ barang siapa yg membuat-buat amalan dalam agama ini yg bukan termasuk ajarannya, amalannya itu tertolak”. Ini sebuah larangan umum yg sudah mencakup semua amalan bid’ah baik dalam amalan ketaatan (wajib), maupun yg sunnah (sholat sunnah, shaum sunnah, tatacara /bacaan/waktunya harus sesuai dg yg dicontohkan Rosulullah SAW).
N. Sedangkan Tahlilan, dan ke 4 lainnya bukanlah yg Didiamkan oleh Rosulullah SAW. (karena ini tlah dilarang dalam hadits pada point M)Yg didiamkan itu adalah dalam jenis makanan, sandang/pangan (yg tdk termasuk dalam larangan Allah dan Rosul-Nya).
AL –Haitsami dalam Majma’uz Zawa’id “ Tidak bersisa satu hal pun yg dapat mendekatkan seseorang kepada surga dan menjauhkannya dari neraka kecuali sungguh sudah dijelaskan kepada kalian.
Hal ini sesuai dengan surat AL Maidah ayat 3: tentang telah disempurnakannya agama Islam ini. Jadi semua amalan baik yg wajib maupun sunnah telah disampaikan oleh Rosulullah SAW baik tatacara, bacaan maupun waktunya. Sehingga tdk perlu adanya penambahan amalan yg dibuat2 oleh manusia.
Contoh
Tahlilan :
>> didalamnya betul ada bacaan sholawat, alqur’an, dll, namun Rosulullah SAW tdk pernah memerintahkan jika ada orang yg meninggal harus membacakan ayat2 tertntu dg jumlah tertentu dibaca bersamaan, habis itu makan2.
>>> Yg berhak menetapkan perintah ibadah (tatacara, waktunya, maupun ucapannya) itu kewenangan Allah SWT yg disampaikan/dicontohkan oleh Rosulullah SAW. Adapun tahlilan (tatacara, bacaannya, dan waktunya seperti hari ke 7, ke 100, dll) ini buatan manusia, bahkan ini meniru niru agama hindu /budha. (Mantasabaha biqoumin fahuwa minhum: “barang siapa yg menyerupai suatu kaum maka termasuk golongannya).
Coba bandingkan dengan : sholat tahajud di siang hari , boleh tdk…?? tdk boleh bukan, ya…karena kita harus mengikuti contoh rosulullah SAW. Begitu juga dalam takziah kepadakeluarga yg meninggal maka haruslah mengikuti apa yg diperintahkan oleh Rosulullah SAW.
mas Hery : 1. Melafalkan Niat sholat
2. Tahlilan
3. Barjanzian
4. Maulid
5. peringatan isra mi’raj
adalah Amal perbuatan diluar perkara syariat (amal ketaatan) tidak harus selalu sesuai dengan apa yang dicontohkan oleh Rasulullah. Jadi yang harus benar-benar sesuai dengan apa yang dicontohkan dan dilakukan oleh Rasulullah hanyalah amal dalam kategori amal ketaatan (perkara syariat)……
Diluar perkara syariat (amal ketaatan) landasannya adalah jika tidak bertentangan dengan Al Qur’an dan As Sunnah pastilah merupakan amal kebaikan sebaliknya amal perbuatan yang bertentangan dengan Al Qur’an dan As Sunnah pastilah perkara buruk.
Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda, “Apa yang aku perintahkan maka kerjakanlah semampumu dan apa yang aku larang maka jauhilah“. (HR Bukhari).
Maknanya adalah apa yang dilarang oleh Rasulullah pastilah perkara syariat atau laranganNya (jika dilanggar berdosa) sedangkan apa yang diperintahkan oleh Rasulullah belum tentu perkara syariat atau kewajibanNya (jika ditinggalkan berdosa).
Apa yang diperintahkan oleh Rasulullah ada dua perkara yakni amal ketaatan (perkara syariat) dan amal kebaikan. Untuk itulah dibutuhkan kompetensi Imam Mujtahid Mutlak untuk menetapkan hukum perkara (istinbat)
@mas heri
mengapa para ulama islam dari madhab apapun klw baca sholawat dalam muqoddimah kitab mereka selalu menyebut kata [wa shohbihi]. padahal ini gk ada nash quran hadistnya
bid,ah gak ya? tolong dicarikan dalilnya..
jazakallah
Coba cari juga mas, ada dalilnya ga…?? katanya sih ada dikalangan sahabat, atau tabi’in, atau tabut tabi’in (sya jg blm cek). Apakah mas membaca itu…pakai wasohbihi…??? kalau ya…??kenapa anda membacanya sebelum tahu dalilnya…?? atau ikut2an ulama tanpa dalil, bukannya taklid buta itu diharamkan…???
mas Mamo
saya sepakat Amal perbuatan diluar ibadah mahdhoh (menurut mas perkara syariat/amal ketaatan) tidak harus selalu sesuai dengan apa yang dicontohkan oleh Rasulullah.
Namun Melafalkan niat, maulid, barjanzi, -> itu sudah menyerupai ibadah mahdhoh (menyerupai syari’at).
Jadi menurut mas Mamo semuanya bukan amalan ketaatan (wajib) bukan …??? jadi termasuk amal kebaikan—–>>> ini fatwa siapa…., Imam Madzhab yg mana yg mengkategorikan bahwa melafalkan niat, maulid, barjanzi, tahlilan sebagai amal kebaikan….?? sehingga kita bebas melakukannya…?? (afwan…setahu saya ini hanya ada di Indonesia)
lafal niat sholat itu –> rangkaian sholat -> berarti masuk ke Hukum ttg amalan ketaatan
Maulid , barjanzi,an karena –> meliputi tatacara, waktu, tertentu—> maka ini menghukuminya —> masuk kedalam amalan ketaatan, yg jika tdk ada perintahnya maka tdk perlu dilakukan, karena tertolak.
BETUL itu semua bukan syariat(amalan ketaatan) yg diperintahkan oleh Rosulullah SAW bukan….???
Namun semua itu telah menyerupai syari’at, seolah2 itu bagian dari ajaran Agama Islam. sehingga menurut ulama yg sya sepakat dg mereka: itu terkena hadits (barang siapa yg membuat amalan baru dalam agama ini maka tertolak).
O ya apakah amalan2 diatas itu nyambung sanadnya pada Imam Madzhab…???, karena setahu saya Imam Madzhab pun tidak pernah melakukan itu smua..??
Jadi sebenarnya siapa yg ikut imam madzhab itu…??? sya juga bisa aj mengklaim mengikuti Imam Syafi’i —>karena Imam Syafi’i tdk pernah melakukan tahlilan, maulid, tersebut bukan..???
@hery
>>>Coba cari juga mas, ada dalilnya ga…?? katanya sih ada dikalangan sahabat, atau tabi’in, atau tabut tabi’in (sya jg blm cek).
==klw dalil dari NASH al quran atw hadist sohih-hasan gak bakalan ditemukan??==
>>> Apakah mas membaca itu…pakai wasohbihi…??? kalau ya…??kenapa anda membacanya sebelum tahu dalilnya…??
==ya, saya baca. Dalil saya ..meski nash hadistnya gak ada tp smw ulama melakukannya..kecuali antum!!!==
>>>atau ikut2an ulama tanpa dalil, bukannya taklid buta itu diharamkan…???
==maklum mas.. saya gak mampu ijtihad. 1000 hadist saja gk apal apalagi Al quran.. …???==
mas Hery :Jadi menurut mas Mamo semuanya bukan amalan ketaatan (wajib) bukan …??? jadi termasuk amal kebaikan—–>>> ini fatwa siapa…., Imam Madzhab yg mana yg mengkategorikan bahwa melafalkan niat, maulid, barjanzi, tahlilan sebagai amal kebaikan….?? sehingga kita bebas melakukannya…?? (afwan…setahu saya ini hanya ada di Indonesia)…..ini menurut antum ………kalau menurut Imam Syafi’i ….
~rahimahullah berkata “Perkara-perkara yang baru (al muhdats) terbagi dua, Pertama : perkara baru yang bertentangan dengan kitab, sunnah, atsar para sahabat dan ijma’, ini adalah bid’ah dlalalah, kedua: perkara baru yang baik dan tidak bertentangan dengan salah satu dari hal-hal di atas, maka ini adalah perkara baru yang tidak tercela” (Diriwayatkan oleh al Hafizh al Baihaqi dalam kitabnya “Manaqib asy-Syafi’i”, Juz I, h. 469)
Perkara diluar perkara syariat tidak harus selalu sesuai dengan apa yang dicontohkan oleh Rasulullah
ana tetap ikut imam mujtahid yang JELAS …….maaf bukan antum ….
==klw dalil dari NASH al quran atw hadist sohih-hasan gak bakalan ditemukan??==
maksudnya: dikalangan sahabat, tabi’in, atau tabiut tabi’in (mereka juga para ulama)-> kalau ada ya tdk masalah. Mereka sudah ada jaminan dari Rosulullah SAW.
==ya, saya baca. Dalil saya ..meski nash hadistnya gak ada tp smw ulama melakukannya..kecuali antum!!!==
kalau ulama yg anda maksud adalah para sahabat, tabi’in. atau tabiut tabi’in->maka saya sepakat dg itu. karena mereka tidak mungkin tdk tahu dalil. Namun saya sebelum tahu dalilnya, saya tdk taklid buta. Bukankah ibadah itu harus tahu dalilnya…???
==maklum mas.. saya gak mampu ijtihad. 1000 hadist saja gk apal apalagi Al quran.. …???==
Allah tdk membebani ummatnya diluar batas kemampuan. Taklid Haram, jika tdk tahu dalil (itu fatwa Para Imam Madzhab). Bukan berarti ga hafal hadits /al qur’an kita boleh taklid tanpa menelusuri dalilnya..bukan…???. minimal kita tahu dalil sebelum melakukan suatu amalan. Bukankah begitu…??? ini gunanya kewajiban belajar sampai liang lahat. Bukan alasan yg logis ketika tdk hafal hadits, kemudian taklid buta (coba anda kaji ulang fatwa2 ulama, boleh ga taklid buta itu…??). Ikut2an tanpa tahu dalil…??? kan aneh…, apakah Para Imam yg anda ikuti itu akan bertanggung jawab atas diri Anda kelak di akhirat…??? tidak bukan…??? setiap orang akan bertanggungjawab atas dirinya masing2 toh…???
~rahimahullah berkata “Perkara-perkara yang baru (al muhdats) terbagi dua, Pertama : perkara baru yang bertentangan dengan kitab, sunnah, atsar para sahabat dan ijma’, ini adalah bid’ah dlalalah, kedua: perkara baru yang baik dan tidak bertentangan dengan salah satu dari hal-hal di atas, maka ini adalah perkara baru yang tidak tercela” (Diriwayatkan oleh al Hafizh al Baihaqi dalam kitabnya “Manaqib asy-Syafi’i”, Juz I, h. 469)
Saya tanya : Imam sayfi’i setelah berfatwa seperti itu , apakah dia memberi contoh : melafalkan niat, maulid, barjanzi, tahlilan.
Ini semua tdk ditemukan dalam fatwa2 ulama2 : termasuk Imam Syafi’i, apalagi para sahabat. Sebenarnya siapa yg mengikuti Imam Syafi’i…??. dari jaman dulu juga banyak orang yg meninggal, ga pernah Imam Syafi’i memimpin tahlilan yg tatacara dan waktunya seperti yg dilakukan di Indonesia…???
afwan…., Melafalkan niat, maulid, barjanzi, tahlilan—-> apakah ini menurut anda tdk bertentangan dg syari’at………..??? coba cek kembali kitab Imam Nawawi, Kitab Madzhab Syafi’i: apakah ada amalan2 seperti itu. Perlu hati2 dalam memakai fatwa ulama. Antum kan tahu contoh bid’ah hasanah yg disampaikan Imam Syafi’i : yaitu sholat tarawih berjama’ah—–> ini diajarkan oleh Rosulullah SAW, namun rosul khawatir karena takut dianggap wajib. dan Umar mulai menghidupkannya kembali. Jadi berbeda dg amalan2 yg antum klaim sbg bid’ah hasanah. Coba di kaji ulang…, seandainya antum utuh 100% sama persis melakukan amalan sesuai dg Imam Syafi’i–> maka saya setuju dg antum.
@hery
Allah tdk membebani ummatnya diluar batas kemampuan
>>spakat.
Taklid Haram, jika tdk tahu dalil (itu fatwa Para Imam Madzhab).
>>tolong bisa disebutkan nash qur’an-hadisnya?
>>>afwan…., Melafalkan niat, maulid, barjanzi, tahlilan—-> apakah ini menurut anda tdk bertentangan dg syari’at………..???
>> tidak bertentangan dg syari’at tuh. Alhamdulillah ane dah baca lebih dari 10 judul kitab ulama yang mengharamkan dan ulama yang menganjurkan. Ane cermati dalil2nya..mantab gak nglanggar tuh..
coba cek kembali kitab Imam Nawawi, Kitab Madzhab Syafi’I
>> dah di cek..
imam nawawi dalm persoalan melafadzkan niat berkata , “ wajib hukumnya niat dalam hati kaena niat adalah memaksudkan sesuatu. s/d dan apabila mengucapkan dg lisan dan niat dg hati, maka hal itu lebih kokoh” (majmu’ 1/316)
pertanyaan berikutnya akan ane jawab kemudian..
gimana mas??
Taklid dah kita bahas. dikomentar lainnya.
Antum mau ikut Rosulullah SAW dan sahabatnya atau mengikuti ijtihad para ulama…??? ulama itu kalau salah ijtihadnya mereka dapat pahala. Beda dg kita kalau ikut yg benar atau yg salah, hukumnya ditanggung sendiri.
ketika antum dah baca lebih dari 100 kitab pun yg mengharamkan, kalau prinsip ttg penerapan kedua hadits ini berbeda :
1. barangsiapa yg melakukan amalan yg tdk kami perintahkan maka tertolak)—>
2. barang siapa yg menyerupai suatu kaum , maka termasuk golongannya.
ya tdk akan pernah sama. Yup itu kesimpulan dan keyakinan antum yg nanti akan dipertanggungjawabkan kelak. Tentunya ane tetap berpegang teguh pada ulama yg melarangnya dalam rangka ittiba’ dan taat kepada Rosulullah SAW.
o ya ane mau tanya:
bagaimana sih awal mulanya tahlilan itu dari mana munculnya…??? kenapa perlu tahlilan, terus kenapa harus makan2 setelah tahlilan itu (bukankah ini memberatkan bagi keluarga yg ditinggal, yg sedang kedukaan…, ajaran mana sih ini/rosulullah SAW ngajarin tdk…??…padahal islam itu mudah, kenapa dijadikan ribet seperti itu…??), terus kyai yg mimpin tahlilan itu dikasih bayaran tdk…??
@hery
>>ya tdk akan pernah sama
==yg penting ukhwah aja..khilafiyah pasti selalu ada tu?
>>Yup itu kesimpulan dan keyakinan antum yg nanti akan dipertanggungjawabkan kelak.
=Insyaalaah=
>>Tentunya ane tetap berpegang teguh pada ulama yg melarangnya dalam rangka ittiba’ dan taat kepada Rosulullah SAW.
=sama, ane tetap berpegangan pada ulama yg membolehkannya semisal imam ahmad dan imam nawawi dlm rangka ittiba’ dan taat kepada Rosulullah SAW.
>>o ya ane mau tanya: bagaimana sih awal mulanya tahlilan itu dari mana? munculnya…???
==kalw tahlilan yg seperti di indonesia gak tahu tuh, gak ada refrensi valid. Tapi klw konteknya baca alquran/fatihah kayaknya sudah ada pada masa imam ahmad??
>> kenapa perlu tahlilan?
==tidak harus tahlilan tu..yang penting doa dan kirim pahala kalimah toyyibah. yasinan juga boleh.. ayat kursi jg boleh. Seperti pendapat imam ahmad dan imam syafi’I yg telah ditarjih imam nawawi=
>>terus kenapa harus makan2 setelah tahlilan itu
==tidak harus tuh.??
>>>bukankah ini memberatkan bagi keluarga yg ditinggal, yg sedang kedukaan…,
==alhamd.. klw di masyarakat kami pihak yg berduka justru mendapat banyak bantuan beras, uang, biaya perawatan n penguburan mayyit dll?
>>ajaran mana sih ini/rosulullah SAW ngajarin tdk??
==bisa ditemukan banyak dalil kok??
>>padahal islam itu mudah, kenapa dijadikan ribet seperti itu…??),
==gak ribet tu.. he..he.. yang ribet itu ya yang membuatnya ribet=
1. ==yg penting ukhwah aja..khilafiyah pasti selalu ada tu?
Sepakat, sya hanya sebatas menyampaikan pemahaman yg saya yakini, adapun yg tdk sepakat ya…ga apa2,.., karena kewajiban kita hanya menyampaikan, kewenangan hidayah itu hanya hak Allah SWT.
2. =sama, ane tetap berpegangan pada ulama yg membolehkannya semisal imam ahmad dan imam nawawi dlm rangka ittiba’ dan taat kepada Rosulullah SAW.
Emang Imam Ahmad membolehkan tahlilan seperti yg dilakukan kalangan NU, yg dilakukan setelah ada org yg meninggal…??? Atau hanya kirim pahala, mohon dalilnya apa…??? Ana blm tahu nih…??
3. ==kalw tahlilan yg seperti di indonesia gak tahu tuh, gak ada refrensi valid. Tapi klw konteknya baca alquran/fatihah kayaknya sudah ada pada masa imam ahmad??
Nah ini yg saya tanyakan, apakah Imam Ahmad fatwanya membolehkan kegiatan kumpul2 bersama di rumah duka (seperti tahlilan di Indonesia) atau hanya kirim Pahala aja…???, dalilnya yg mana yg antum pakai….?
a. Imam Suyuthi : Karena menurut ketetapan dlm madzhab kami, Syafi’iyah, bahwa pahala dari membaca al qur’an adalah untuk pembacanya bukan untuk yg diberi bacaan (fatwa Syaikh Athiyah Shaqr, Mei 1997, Al Azhar, Kairo)
b. Imam Nawawi di dalam kitab Majmu’ Syarah Muhadzdzab mengatakan : “ membaca Al Qur’an dan mengirimkan pahalanya untuk orang mati dan menggantikan sembahyang untuk seseorang yg mati atau sesamanya adalah tdk sampai kpd mayat yg dikirimkan menurut jumhur ulama dan Imam Syafi’i. Keterangan ini telah diulang2 beberapa kali oleh Imam Nawawi did lm kitabnya, syarah Muslim. (As-Subki, Taklimatul Majmu’ Syarah Muhadzdzab, juz 10 hal 426)
c. Imam Nawawi : Menurut pendapat yg mahsyur dlm madzhab syafi’i ttg bacaan Al Qur’an (yg pahalanya dikirimkan kpd mayat) ialah bahwa amalan tersebut tdk akan sampai kepada mayat. Sebagai dalilnya , Imam Syafi’I dan para pengikutnya mengambil dari firman Allah : Dan seseorang itu tdk akan memperoleh melainkan pahala dari daya usahanya
Dalam sebuah sabda Nabi, apabila manusia telah meninggal dunia, maka terputuslah segala sendiri amal usahanya kecuali tida daripada amalnya, sedekah jariah, ilmu yg bermanfaat dan anak shales yg mendoa’akannya (An- Nawawi , syarah muslim : Juz 1 hal 9).
Tahlilan merupakan budaya hindu :
ada ungkapan syukur pendeta (hindu) dlm sebuah acara : tahun 2006 silam bertempat di Lumajang, jawa timur, diselenggarakan kongres Asia para penganut agama Hindu. Salah satu point penting yg diangkat adalah ungkapan rasa syukur yg cukup medalam kepada tuhan mereka, karena bermanfaatnya salah satu ajaran agama mereka yakni peringatan kematian pada hari 1, 2,3,4, 5,6,7, 40, 100, 1000 dan hari matinya tiap tahun yg disebut geblake dalam istilah jawa, untuk kemaslahatan manusia yg terbukti dg diamalkannya ajaran tersebut oleh sebagian umat islam.
Rosulullah SAW bersabda : “Barang siapa yg menyerupai suatu kaum, mereka termasuk golongannya” (sunan abu dawud no. 4031)….(H. Mahrus Ali, 2007)
4. ==tidak harus tahlilan tu..yang penting doa dan kirim pahala kalimah toyyibah. yasinan juga boleh.. ayat kursi jg boleh. Seperti pendapat imam ahmad dan imam syafi’I yg telah ditarjih imam nawawi=
Dalilnya yg mana ya….???
5. ==alhamd.. klw di masyarakat kami pihak yg berduka justru mendapat banyak bantuan beras, uang, biaya perawatan n penguburan mayyit dll?
==bisa ditemukan banyak dalil kok??
==gak ribet tu.. he..he.. yang ribet itu ya yang membuatnya ribet=
Dalilnya yg mana …??? Ribet ga ribet ya memang relatif…, namun dalam tahlilan itu banyak ucapan2 syirik, apakah anda doyan baca sholawat nariyah, dan bacaan2 lainnya (itu banyak yg mengandung kesyirikan)…???
Bagaimana menurut antum: ttg hadits barang siapa yg melakukan amalan yg bukan dari perintah kami, maka tertolak.
Apakah tahlilan yg ada di Indonesia ini bukan amalan, terus namanya apa..…???
@hery
>>kewenangan hidayah itu hanya hak Allah SWT.
==betul…
>>Emang Imam Ahmad membolehkan tahlilan seperti yg dilakukan kalangan NU, yg dilakukan setelah ada org yg meninggal…??? Atau hanya kirim pahala?
==he..he..he..bukankah salah satu maksud tahlilan itu kirim doa’, selain silaturrahi juga??
>> mohon dalilnya apa…??? Ana blm tahu nih…??
=afwan, ane dah pernah baca ulasan2 dalil2nya.. tp gk hapal nih. Maklum otak Pentium 1 Lemot banget he..he.. coba di klik2 di goggle tulis saja “DALIL TAHLILAN” Silakan dikaji sendiri?=
>>>kumpul2 bersama di rumah duka (seperti tahlilan di Indonesia) atau hanya kirim Pahala aja…???, dalilnya yg mana yg antum pakai….?
==imam ahmad gak nyinggung soal apakah kirim pahala doanya sendiri2/berjamaah tuh? Menurut hemat ane sama saja. Apa harus dibedakan hukumnya antara tahlilan sendiri2 dan barjamaah ya??? =
>>pahala dari membaca al qur’an adalah untuk pembacanya bukan untuk yg diberi bacaan (fatwa Syaikh Athiyah Shaqr, Mei 1997, Al Azhar, Kairo)
==kalaw ini mah gak dibahas.. dah maklum tuh?
>>.b. Imam Nawawi di dalam kitab Majmu’ Syarah Muhadzdzab mengatakan
==dah ane jawab di penjelasan ane tentang penjelasan imam nawawi di kitab Al Adzkar hal 140 baris 7-10. Cet. Toha putra semarang..=
>>c. Imam Nawawi : Menurut pendapat yg mahsyur dlm madzhab syafi’i ttg bacaan Al Qur’an (yg pahalanya dikirimkan kpd mayat)
==maaf,..menurut ana ungkapan yg benar adlh “yg mahsyur dari madzhab syafi’I”.maaf, “dari” bukan “dalam”. Teks aslinya menggunakan kata “MIN” yg mengisyaratkan adanya ketidak pastian pendapat imam syafi’i==
>> Dan seseorang itu tdk akan memperoleh melainkan pahala dari daya usahanya
==betul,tapi ada hadist yg menjelaskan pahala haji,sodaqoh dan amal baik lain bisa dihadiahkan pada mayyit. Maaf, ane gk hapal dalilnya tp dah pernah baca ulasannya. Maklum, otak Pentium 1)
>>Dalam sebuah sabda Nabi, apabila manusia telah meninggal dunia, maka terputuslah segala sendiri amal usahanya kecuali tida daripada amalnya, sedekah jariah, ilmu yg bermanfaat dan anak shales yg mendoa’akannya (An- Nawawi , syarah muslim : Juz 1 hal 9).
== nabi, hanya menjelaskn putusnya “amal sendiri”. Tentang manfaat amalan orang lain bagi mayyit ada hadist yg lain, faktanya lagi..yg bermanfaat bukan hanya doa anak saleh saja..tapi doa keponakan, cucu bahkan orang lainpun bermanfat utk mayit=
>>Tahlilan merupakan budaya hindu
==he..he..hee..adakah org hindu yg tahlilan?? Silahkan pesiar ke pulau bali u/ cari data valid??
>>>Rosulullah SAW bersabda : “Barang siapa yg menyerupai suatu kaum, mereka termasuk golongannya” (sunan abu dawud no. 4031)….
==tahukan antum klw dulu bercelana juga diharamkan krn saat itu yg bercelana hanya org kafir?? Tapi sekarang muslim dan kafir toh sama2 bercelana??=
>> (H. Mahrus Ali, 2007)
== mantan kyai NU
>>Dalilnya yg mana ya….???
== gk hapal nih. Maklum otak Pentium 1 Lemot banget he..he.. coba di klik2 di goggle tulis saja “DALIL TAHLILAN” Silakan dikaji sendiri?=
>>>namun dalam tahlilan itu banyak ucapan2 syirik
== he..he.. negative thinking,ya?? Dah pernah ikut tahlilan di beberapa tempat? Setahu ane rangkaian bacaan tahlil mulai dari awal sampai do’a di ambil dr al qur’an dan kalimah toyyibah tuh??
>>apakah anda doyan baca sholawat nariyah, dan bacaan2 lainnya (itu banyak yg mengandung kesyirikan)…???
==he..he..he.. sejujurnya ane dah lama banget gk baca sholawat kecuali dalam sholat dan ketika dengar nama nabi disebut. Tapi menurut HEMAT ana sholawat nariyah dll tu jg gk syirik dan bisa dibuktikan scr syar’iyah ilmiyah??
>>Bagaimana menurut antum: ttg hadits barang siapa yg melakukan amalan yg bukan dari perintah kami, maka tertolak.
==setuju, sayangnya menurut HEMAT ana amalan2 yg jadi khilafiyah itu juga ada dalil2nya.
>>>Apakah tahlilan yg ada di Indonesia ini bukan amalan, terus namanya apa..…???
==he..he..he..namanya “KIRIM DOA” tuh??
1. ==he..he..he..bukankah salah satu maksud tahlilan itu kirim doa’, selain silaturrahi juga??
Mendo’akan dan silaturahmi itu memang ajaran Islam. Namun Tahlilan apakah ada perintahnya dlm agama ini dengan bacaan tertentu, waktu tertentu dan metoda tertentu…?? Padahal yg berhak memerintahkan ibadah itu (dengan tatacaranya) Hak Allah SWT bukan…?? Terus kalau ada kyai yg membuat tatacara ibadah tertentu dan memerintahkannya untuk dilakukan, bukankah dia merebut hak Allah SWT…???
2. ==imam ahmad gak nyinggung soal apakah kirim pahala doanya sendiri2/berjamaah tuh? Menurut hemat ane sama saja. Apa harus dibedakan hukumnya antara tahlilan sendiri2 dan barjamaah ya??? =
Berdo’a itu diperintahkan oleh Allah SWT, sedangkan ritual tahlilan (meskipun didalamnya ada do’a)…namun tidak pernah diperintahkan oleh Allah dan Rosulnya bahkan para Imam Madzhab pun tidak pernah melakukan itu dalam rangka peringatan hari kematian tersebut.
3. >>.b. Imam Nawawi di dalam kitab Majmu’ Syarah Muhadzdzab mengatakan
==dah ane jawab di penjelasan ane tentang penjelasan imam nawawi di kitab Al Adzkar hal 140 baris 7-10. Cet. Toha putra semarang..=
Wah susah dicari…,
4. ==betul,tapi ada hadist yg menjelaskan pahala haji,sodaqoh dan amal baik lain bisa dihadiahkan pada mayyit. Maaf, ane gk hapal dalilnya tp dah pernah baca ulasannya. Maklum, otak Pentium 1)
Konteksnya seperti apa …??? Apakah ada nazar dari si mayit…??
5. == nabi, hanya menjelaskn putusnya “amal sendiri”. Tentang manfaat amalan orang lain bagi mayyit ada hadist yg lain, faktanya lagi..yg bermanfaat bukan hanya doa anak saleh saja..tapi doa keponakan, cucu bahkan orang lainpun bermanfat utk mayit=
6. ==he..he..hee..adakah org hindu yg tahlilan?? Silahkan pesiar ke pulau bali u/ cari data valid??
Tahlilan yg seperti Nu yg ga mungkin lah…., tapi asal muasalnya…,yaitu : peringatan kematian hari ke 1,2, 3,4,5,6,7 40, 100, 1000…itu, dari mana…, knapa harus seperti itu??
Menurut antum hukum asal ibadah itu apa…??? Halal, tauqif, atau boleh buat tatacara sendiri…?? Bagaimana dengan firman Allah berfirman (Menciptakan dan memerintahkan itu hanyalah hak Allah…???
7. ==tahukan antum klw dulu bercelana juga diharamkan krn saat itu yg bercelana hanya org kafir?? Tapi sekarang muslim dan kafir toh sama2 bercelana??=
Apalagi dalam masalah ibadah - masa mau ngikutin orang hindu atau bekas budaya2 hindu…??
8 . ==he..he..he.. sejujurnya ane dah lama banget gk baca sholawat kecuali dalam sholat dan ketika dengar nama nabi disebut. Tapi menurut HEMAT ana sholawat nariyah dll tu jg gk syirik dan bisa dibuktikan scr syar’iyah ilmiyah??
Isi shilawat nariyah:
Ya Allah curahkan rahmat yg sempurna dan kesejahteraan yg sempurna kpd sayyidina Muhammad yg DENGANnya :
1. Segala ikatan lepas
2. Segala kesedihan lenyap karenanya
3. Segala cita2 tercapai
4. Segala kebutuhan akan diraih
5. Dan awanpun hujan dengannya.
…
1 sampai 5 itu hak Allah atau Hak rosul…???
9.
==he..he..he..namanya “KIRIM DOA” tuh??
Hhe…kirim do’a sama tahlilan bukankah beda…?? Doa itu diperintahkan, tahlilan itu ga ada yg perintahnya dari Allah SWT.
Syarat diterimanya amal….???
Bukankah syarat diterimanya ibadah itu iklhas dan ittiba’ (mengikuti contoh Rosulullah SAW dari baik tatacara maupun bacaan2nya..???)
Untuk sharing saja mengenai acara “Tahlilan” di tempat yang pernah Ane tinggal, di wilayah Menteng Atas, Pasar Minggu, Lenteng Agung, dan Ciganjur, salah satunya sbb. :
1. Shohibul Musibah memberikan sambutan antara lain memohon kepada jamaah untuk memaafkan almarhum, kemudian memohon keikhlasan jamaah mendoakan Almarhum. Selain itu, meminta kesediaan seorang Ustadz untuk memimpin “rangkaian doa”.
2. Ustadz yang diberi amanat, melaksanakan tugas dengan mengajak jamaah membaca Fatihah yang pahalanya dikirimkan kepada Nabi Saw, sahabat, kerabat, hingga Almarhum. Kemudian memimpin pembacaan Surah Yasin. Setelah pembacaan Surah Yasin, ada yang dilanjutkan Al Fatihah, Al Ikhlash, Al Falaq, An Nas, permulaan Surah Al Bakarah, Ayat Qursi, dll. Kemudian pembacaan Kalimah Thoiyyibah, Sholawat, dan biasanya dirangkai dengan doa. Ada pula yang menyelinginya dengan Maoizhoh Hasanah yang dirangkai doa. Terkadang ada juga disediakan sekedar air minum dan kue (sangat situasional).
3. Pada waktu pulang, tuan rumah terkadang menyediakan “besek/berkat” (tidak selalu), dan tidak lupa mengingatkan jamaah, untuk memasukkan kue yang tersedia ke dalam “besek”, agar tuan rumah tidak lagi terbebani mengantarkan kue ke tetangga untuk dihabiskan agar tidak tersisa percuma.
4. Sebelum jamaah pulang, tuan rumah tidak lupa menyampaikan terima kasih dan mengharapkan kehadiran jamaah pada acara berikutnya.
Itulah sedikit yang saya ketahui tentang acara Tahlilan yang pernah saya hadiri. Sepengetahuan saya, tuan rumah sangat berterima kasih atas kedatangan jamaah dan berkali-kali menyampaikan rasa terima kasih dan harapannya untuk hadir kembali pada acara berikutnya.
@hery
>>1.Namun Tahlilan …dst…2.Berdo’a itu diperintahkan oleh Allah SWT, sedangkan ritual tahlilan (meskipun didalamnya ada do’a)…dst…
====a.Tahlilan termasuk berdoa b. berdoa itu diperintahkan Allah tahlilan termasuk diperintahkan allah
a. bumi itu planet b. semua planet itu bulat bumi itu bulat
he..he..he..ksulitan memahami ya??==
>>.Wah susah dicari…,
==gampang, masuk aja ke toko kitab. Klw gak ada cet. toha putra ya seadanya. Buka bab “babu ma yanfa’ul mayyit min qouli ghoirihi”=
>>>Konteksnya seperti apa …??? Apakah ada nazar dari si mayit…??
==klik2 aja di goggle. Ketik “DALIL TAHLILAN”. Insya lebih komplet..
>>tapi asal muasalnya…,
==dari hadist sampainya pahala al qur’an kpd mayyit
>>yaitu : peringatan kematian hari ke 1,2, 3,4,5,6,7 40, 100, 1000
==betulkah SAAT INI di Bali/India melakukan peringatan kematian hari ke 1,2, 3,4,5,6,7 40, 100, 1000
>> knapa harus seperti itu??
==tidak harus.. dilakukan boleh.. tidak dilakukan ya tidak masalah??
>>>>Menurut antum hukum asal ibadah itu apa…??? Halal, tauqif, atau boleh buat tatacara sendiri…??
==lihat jenis ibadahnya apa?? Klw sholat/haji ya tauqif.. klw do’a ya kondisional??? Klw sholat hrs bahasa arab… KLW DOA YA TIDAK HARUS BHS ARAB MESKI NABI TIDAK PERNAH BERDO’A SELAIN DENGAN BHS ARAB?? He..he.. untuk yg terakhir ini jangan ditanyakan dalilnya ya??
>>> Bagaimana dengan firman Allah berfirman (Menciptakan dan memerintahkan itu hanyalah hak Allah…??
==kayaknya dalil gak terkait dg tahlilan tuh?? Klw dipaksakan dikait2kan ya monnggo??
>>tahukan antum klw dulu bercelana juga diharamkan krn saat itu yg bercelana hanya org kafir?? Tapi sekarang muslim dan kafir toh sama2 bercelana??=
masa mau ngikutin orang hindu atau bekas budaya2 hindu…??Apalagi dalam masalah ibadah –
===gak paham ya?? Dulu bercelana itu pasti TASABAUH dg org kafir, makanya haram?? Sekarang bercelana sudah tidak haram lagi karena undur tasabuhnya sudah hilang?? Nah, begitupun juga dg tahlil klw di PAKSAKAN dianggap tasabuh dg hindu. Sulit memahami ya??? ==
>>Isi shilawat nariyah:
Ya Allah curahkan rahmat yg sempurna dan kesejahteraan yg sempurna kpd sayyidina Muhammad yg DENGANnya :
1. Segala ikatan lepas
2. Segala kesedihan lenyap karenanya
3. Segala cita2 tercapai
4. Segala kebutuhan akan diraih
5. Dan awanpun hujan dengannya.
…
1 sampai 5 itu hak Allah atau Hak rosul…???
===he..he.. bahasa sufi tho??? ana tambahi ya.. dan “DENGAN”-nya ANTUM keluar dari jaman jahiliyah menuju islam. Menurut antum, seandainya nabi Muhammad itu tidak ada, apakah antum akan jadi seorang mukmin-muslim??
>>>Hhe…kirim do’a sama tahlilan bukankah beda…??
==ya beda lah.. komfletnya klw meminjam istilah antum BEDA BAHASA/LUGHOTAN
>>>Bukankah syarat diterimanya ibadah itu iklhas dan ittiba’ (mengikuti contoh Rosulullah SAW dari baik tatacara maupun bacaan2nya..???)
==ya, iya lah klw contohnya SHOLAT. Tapi klw contohnya DO’A apakah harus bahasa arab seperti ketika nabi berdoa?? Sehingga klw kita mengunakan bahasa jawa/indonesia/ inggris tidak diterima???
1.
>>. ====a.Tahlilan termasuk berdoa tahlilan termasuk diperintahkan allahb. berdoa itu diperintahkan Allah
a. bumi itu planet bumi itu bulatb. semua planet itu bulat
he..he..he..ksulitan memahami ya??==
…., secara akal bisa masuk, namun agama ini bukan akal, tapi Wahyu Ilahy. Berdo’a betul diperintahkan, namun dikemas menjadi tahlil—menurut hemat ane..menjadi lain hukumnya (karena tatacara, metode, waktu nya khusus)
2.
>>yaitu : peringatan kematian hari ke 1,2, 3,4,5,6,7 40, 100, 1000
==betulkah SAAT INI di Bali/India melakukan peringatan kematian hari ke 1,2, 3,4,5,6,7 40, 100, 1000
==tidak harus.. dilakukan boleh.. tidak dilakukan ya tidak masalah??
kenapa hari2nya seperti itu, apakah ada makna tertentu, darimana ajaran itu ustadz….??? Sya blm mengecek..namun sya sempat ngobrol aj.., namun kalau ustadz mau mengecek untuk bahan pertimbangan silahkan saja.
3.
==lihat jenis ibadahnya apa?? Klw sholat/haji ya tauqif.. klw do’a ya kondisional??? Klw sholat hrs bahasa arab… KLW DOA YA TIDAK HARUS BHS ARAB MESKI NABI TIDAK PERNAH BERDO’A SELAIN DENGAN BHS ARAB?? He..he.. untuk yg terakhir ini jangan ditanyakan dalilnya ya??
Ya…siip, sepakat. Namun masalah tahlilan…, ana ga sepakat itu disebut do’a. Karena ada jumlah dzikir tertentu, bacaannya tertentu pula, waktu tertentu pula. Dan menurut hemat ane, penetapan dalam ibadah (baik bacaan maupun tatacaranya dan waktunya). Karena perkara ini hanyalah Hak Allah SWT yg disampaikan oleh Rosulullah SAW.
4.
>>> (Menciptakan dan memerintahkan itu hanyalah hak Allah…??
==kayaknya dalil gak terkait dg tahlilan tuh?? Klw dipaksakan dikait2kan ya monnggo??
Disini letak perbedaan pemahaman, Tahlilan—>itu tatacara dan waktunya khusus, sehingga menyerupai syari’at , ibadah yg seolah2 diperintahkan oleh Allah SWT. Sementara ibadah khusus ini (mahdhoh)—ini perlu dalil yg khusus pula bukan…??? Jadi do’a dalam artian berdo’a memohon kepada Allah SWT…ya..dianjurkan. Namun Tahlilan dg tatacara (bacaan, waktu) yg khusus…tdk ada perintah dari Allah, tdk juga terdapat di As-Sunnah, bahkan Imam Madzhab sekalipun. Nah inilah perbedaan pandangan, kalau antum mengelompokkannya ke dalam do’a- ya jelas do’a tidak dilarang bahkan itu diperintahkan. Namun dengan kemasan Tahlilan dengan tatacara , waktu tertentu …, ulama2 yg tdk sepakat dg antum…, menghukuminya sebagai bid’ah (bid’ah dholalah kalau terminologi antum). Ya….inilah perbedaan ummat…, namun namanya manusia memang isi kepalanya juga beda2. Terserah kepada manusia mau ikut yg mana…., yg jelas…, kita berharap ummat ini mau belajar mengkaji dalilnya, jangan hanya ikut2an saja. dan mungkin nanti perbedaan ini akan beres setelah adanya Imam yg dijanjikan itu.
5.
>>tahukan antum klw dulu bercelana juga diharamkan krn saat itu yg bercelana hanya org kafir?? Tapi sekarang muslim dan kafir toh sama2 bercelana??=
Apalagi dalam masalah ibadah –masa mau ngikutin orang hindu atau bekas budaya2 hindu…??
===gak paham ya?? Dulu bercelana itu pasti TASABAUH dg org kafir, makanya haram?? Sekarang bercelana sudah tidak haram lagi karena undur tasabuhnya sudah hilang?? Nah, begitupun juga dg tahlil klw di PAKSAKAN dianggap tasabuh dg hindu. Sulit memahami ya??? ==
Hemat ana…, meskipun sekarang pakai celana, baju, atau gaya pakaian, gaya hidup…didalam hati terbesit mengikuti orang kafir….ya …tetap kena hadits itu ustadz…., apalagi dibidang ibadah…, ini yg dikhawatirkan. Ana faham bahwa orang yg melakukan tahlilan…tidak ada yg bermaksud mengikuti amalan agama lain…, …namun barometer nya apakah hati atau dzohirnya…??
6.
===he..he.. bahasa sufi tho??? ana tambahi ya.. dan “DENGAN”-nya ANTUM keluar dari jaman jahiliyah menuju islam. Menurut antum, seandainya nabi Muhammad itu tidak ada, apakah antum akan jadi seorang mukmin-muslim??
Atas izin Allah ana menuju Islam, dengan ajaran yg dibawa oleh Rosulullah SAW. Jadi betul Rosulullah membawa Islam, namun kalau tidak ada izin Allah…maka tidak mungkin kita sekarang ini beragama Islam bukan…?? Jadi intinya adalah Hak Allah untuk menghilangkan kesediahan dihati, mengabulkan do’a (cita2), yg memenuhi kebutuhan manusia, yg menurunkan hujan.
7
==ya beda lah.. komfletnya klw meminjam istilah antum BEDA BAHASA/LUGHOTAN
Oh iya menurut hemat ane…, lughoh sama syari’at beda banget ustadz…, sholat secara bahasa do’a, jadi apakah orang yg hanya berdo’a itu sudah menegakan sholat sesuai syari’at…??
8
==ya, iya lah klw contohnya SHOLAT. Tapi klw contohnya DO’A apakah harus bahasa arab seperti ketika nabi berdoa?? Sehingga klw kita mengunakan bahasa jawa/indonesia/ inggris tidak diterima???
Iya dlm do’a tidak masalah bahasa apapun, namun sekali lagi dg kemasan Tahlilan…,ana nda spakat sama antum….
Hanya ingin sharing dan mohon tanggapan.
Di tempat yang pernah saya tinggal, “Tahlilan” tidak hanya untuk orang yang meninggal. Ada yang “Tahlilan” karena mendapatkan rezeki seperti “ngobyek berhasil”, kenaikan pangkat, mendapatkan anak/keturunan, bahkan pada saat malam kemerdekakan nasional. Termasuk juga menyepakati belajar pengajian dengan materi “pembacaan tahlilan” yang di sepakati pada waktu tertentu, agar terjadwal dan bisa dihadiri para jamaah. .Terkadang materi dan “rangkaian tahlilan” berbeda-beda, tergantung latar belakang “Ustadz-nya”, baik pendidikan maupun daerah asalnya. Ada yang pake baca Yasinan, ada juga yang tidak. Ada yang pakai kajian tertentu, ada juga yang tidak. Apakah yang demikian juga termasuk menyerupai syariat? Syariat mana yang diserupai. Yang jelas semua itu disebut oleh jamaah “Tahlilan”. Mohon tanggapan.
Penetapan khusus (tatacara, bacaan dan waktu) menurut hemat saya itu perlu dalil khusus Mas Bima. Sahabat Ibnu Mas’ud yg melihat ada kumpulan orang yg dipimpin oleh sesorang mengajak dzikir sekian sekian memakai batu, beliau langsung memarahinya (haditsnya sya tdk hafal…,silahkan kalau mau dikaji dan dibandingkan). Silahkan kalau Mas Bima lebih memilih melakukan ibadah yg telah dibuat tatacaranya baik bacaan maupun ucapan tertentu. Memang pemahaman tidak bisa saling memaksakan….silahkan dikaji dan diyakini sendiri apakah mau mengikuti yg membolehkan atau yg tidak, keputusan ada di Mas Bima. Insya Allah kalau kita telah mengkaji dan meyakini suatu faham, Allah tidak akan membebani ummatnya diluar batas kemampuannya. Jika salah pun, kita berharap ampunan Allah SWT, namun jika benar Alhamdulillah itu adalah hidayah Allah…karena perkara ini adalah Hak Allah untuk memberikan hidayah maupun membiarkan kita berada dipersimpangan. Yang penting kita sudah bersungguh sungguh mencari kebenaran itu ( firman Allah SWT: Wainjahaduu fiina lanahdiyannahum subulanaa) dan tetap terus menerus memohon petunjuk Allah SWT. Yang penting kita rukun. Berdakwah memang harus dengan ikhsan, tidak boleh saling mencaci maki, dan akhirnya saling benci.
@ Mas Hery
Trims atas tanggapannya.
Saya pernah baca bahwa atsar Ibnu Mas’ud tersebut ada yang menilai dhoif, bahkan ada yang menilai bertentangan dengan banyak hadits shohih.
Mungkin ada yang dapat memberikan penjelasan?
Terima kasih
@hery
>>secara akal bisa masuk,
==Ketemu..
>>tapi Wahyu Ilahy.
==Dalil Wahyunya Sudah disinggung juga .. jadi dah komflet?
>>>Berdo’a betul diperintahkan, namun dikemas menjadi tahlil—menurut hemat ane..menjadi lain hukumnya (karena tatacara, metode, waktu nya khusus)
==monggo kalau mengharamkan tahlilan??
>>namun kalau ustadz mau mengecek untuk bahan pertimbangan silahkan saja.
==Klw pun iya.. hukum tasabuhnya sama dengan hukum tasabuh celana pd jaman penjajahan.. jadi sudah hilang..
>>Ya…siip, sepakat. Namun masalah tahlilan…, ana ga sepakat itu disebut do’a.
==talilan bukan doa??? tau definisi doa??
>>Dan menurut hemat ane, penetapan dalam ibadah (baik bacaan maupun tatacaranya dan waktunya).
==penetapan?? Kan tidak harus??
>>>. Namun dengan kemasan Tahlilan dengan tatacara ,
==tata caranya bebas.. talil doang boleh, tasbih saja monggo, yasin saja oke.. fatihah saja ya no problem ..intinya kirim pahala bacaannya..
>> waktu tertentu …,
==he..he..he..siang boleh, malam ya monggo, pagi klw libur kerja ya baik.. syukur bisa tiap malam jum’at..beserta anak istri??
>> ulama2 yg tdk sepakat dg antum
=he..he..termasuk antum…
>>menghukuminya sebagai bid’ah (bid’ah dholalah kalau terminologi antum).
=monggo, yang penting semoga kiriman PAKET PAHALAnya nyampe ke ortu, kakek-nenek dan semua muslimin termasuk yg mengharamkannya??
>> yg jelas…, kita berharap ummat ini mau belajar mengkaji dalilnya, jangan hanya ikut2an saja. dan mungkin nanti perbedaan ini akan beres setelah adanya Imam yg dijanjikan itu
==sepakat.. hanya orang2 yg telah matilah yg bisa buktikan apakah pahala tahlilan sampai/tidak??
>>Hemat ana…, meskipun sekarang pakai celana, baju, atau gaya pakaian, gaya hidup…didalam hati terbesit mengikuti orang kafir… ya …tetap kena hadits itu ustadz
==ya,iya lah..kan dihatinya terbersit megikuti org kafir?? Klw niatnya benar gmn??
>>Jadi betul Rosulullah membawa Islam, namun kalau tidak ada izin Allah…maka tidak mungkin kita sekarang ini beragama Islam bukan
==klw ini mah dah jelas?? Intinya.. meski dg IJIN ALLAH toh tetap tidak meninggalkan DENGAN adanya RASUL SAW??
>>Oh iya menurut hemat ane…, lughoh sama syari’at beda banget ustadz
==dah jelas tuh, bahkan ada satu lagi secara “ISTILAH”
>>Iya dlm do’a tidak masalah bahasa apapun, namun sekali lagi dg kemasan Tahlilan…,ana nda spakat sama antum…
==monggo yang penting ukhwah islamiyah…
@ bima as-syafi’i
>>>Mungkin ada yang dapat memberikan penjelasan?
==yg dijelaskan mas hery adalah tentang Dzikir berjamaah?? tentang sampainya pahala tahlilan/tidak sudah kami diskusikan di komen2 di atas…
Semoga copasan ini bisa bantu
1). Pada saat menggali khandaq (parit) Rasul saw dan sahabat2 radhiyallhu anhum bersenandung BERJAMAAH dengan ucapan : “HAAMIIIM LAA YUNSHARUUN..”. (Kitab Sirah Ibn Hisyam Bab Ghazwat Khandaq). Perlu diketahui bahwa sirah Ibn Hisyam adalah buku sejarah yg pertama ada dari seluruh buku sejarah, yaitu buku sejarah tertua. Karena ia adalah Tabi’in.
2). saat membangun Masjidirrasul saw : mereka bersemangat sambil bersenandung : “Laa ‘Iesy illa ‘Iesyul akhirah, Allahummarham Al Anshar wal Muhaajirah” setelah mendengar ini maka Rasul saw pun segera mengikuti ucapan mereka seraya bersenandung dengan semangat : “Laa ‘Iesy illa ‘Iesyul akhirah, Allahummarham Al Anshar wal Muhajirah.. ” (Sirah Ibn Hisyam Bab Hijraturrasul saw- bina’ masjidissyarif hal 116)
3). ucapan ini pun merupakan doa Rasul saw demikian diriwayatkan dalam shahihain
4). Firman Allah swt : “sabarkanlah dirimu bersama KELOMPOK orang orang yg berdoa pada tuhan mereka siang dan malam semata mata menginginkan keridhoan nya, dan janganlah kau jauhkan pandanganmu (dari mereka), untuk menginginkan keduniawian.” (qs alkahfi 28)
—Ayat ini turun ketika Salman Alfarisi ra berdzikir bersama para sahabat, maka Allah memerintahkan Rasul saw dan seluruh ummatnya duduk untuk menghormati orang2 yg berdzikir.—
5). Sahabat Rasul radhiyallahu’anhum mengadakan shalat tarawih berjamaah, dan Rasul saw justru malah menghindarinya, mestinya merekapun shalat tarawih SENDIRI SENDIRI, kalau toh Rasul saw melakukannya lalu menghindarinya, lalu mengapa Generasi Pertama yg terang benderang dg keluhuran ini justru mengadakannya dengan berjamaah.??? Sebab mereka merasakan ada kelebihan dalam berjamaah, yaitu syiar,
Umar ra setelah bersepakat dengan seluruh sahabat untuk jamaah tarawih, lalu Umar ra berkata : “WA NI’MAL BID’AH HADZIH..”. (inilah Bid’ah yg terindah).
sahabatkah atw orang2 yg datang sesudahnya yg lebih tahu tentang makna bid’ah??
—-LAA ‘IESYA ILLA ‘IESYUL AKHIRAH, ALLAHUMMARHAM AL ANSHAR WAL MUHAAJIRAH”— amin..amin..amin ya rabbal alamin..
==talilan bukan doa??? tau definisi doa??
menurut antum…???
>>Dan menurut hemat ane, penetapan dalam ibadah (baik bacaan maupun tatacaranya dan waktunya).
==penetapan?? Kan tidak harus??
Ya…kalau hanya do’a ya memang disyariatkan kita mendo’akan sesama muslim…, Tidak harus…?? namun hal ini sudah menjadi sesuatu amalan yg seperti diharuskan….??? sudah membudaya, seolah2 itu adalah ajaran yg diperintahkan Rosulullah SAW…, (meskipun antum mengaku bahwa itu tidak diharuskan), bahwa jika ada org yg meninggal kalau tidak tahlilan, akan jadi ucapan sentimen dari masyarakat. padahal kita tdk tahu keluarganya itu senang atau tidak atau malah terpaksa dlm melaksanakan, kalau kita kasih tahu mereka bahwa tdk usah melakukan tahlilan, mereka jawab …nanti jadi bahan omongan masyarakat.. , apakah akan timbul keikhlasan dlm ibadah seperti ini…??
==tata caranya bebas.. talil doang boleh, tasbih saja monggo, yasin saja oke.. fatihah saja ya no problem ..intinya kirim pahala bacaannya..
==he..he..he..siang boleh, malam ya monggo, pagi klw libur kerja ya baik.. syukur bisa tiap malam jum’at..beserta anak istri??
>>>>> knapa dilakukan 1,2,3,4,5,6,7 terus 40, terus 100, terus kadang 1000 hari…??? ada apa dengan hari2 itu….?? keyakinan dari mana ini…??? antum silahkan jawab tidak harus…, faktanya seperti itu…., tolong kasih penjelasan ustadz…..ana ga faham kenapa…harus diperingati hari2 itu…???
=he..he..termasuk antum…
>>>> ma’lum ana…bukan ulam…., ana hanya ingin mencari yg benar yg sesuai dengan Rosulullah SAW….
=monggo, yang penting semoga kiriman PAKET PAHALAnya nyampe ke ortu, kakek-nenek dan semua muslimin termasuk yg mengharamkannya??
==sepakat.. hanya orang2 yg telah matilah yg bisa buktikan apakah pahala tahlilan sampai/tidak??
Sampai ga..ya..?? wallohu a’lam, mudah2an sampai…dan dihitung sebagai mendo’akan….
==ya,iya lah..kan dihatinya terbersit megikuti org kafir?? Klw niatnya benar gmn??
hemat ane tolak ukurnya hati dan zhohirnya. Afwan ane blm tahu larangan Rosulullah SAW memakai celana itu maksudnya seperti apa…??? kalau masalah perkara dunia…, rosul bersabda bahwa kita lebih tahu dari pada beliau, kalau masalah ibadah tentunya beliau yg lbh tahu, peringatan hari kematian/tahlilan ke 7, 40, 100 hari, 1000 hari…kenapa ya..Rosulullah SAW…tdk melakukannya….???
==klw ini mah dah jelas?? Intinya.. meski dg IJIN ALLAH toh tetap tidak meninggalkan DENGAN adanya RASUL SAW??
>>>> Sudah pasti tidak akan menghilangkan peran keberadaan Rosulullah SAW, tapi bukan berarti karena Rosulullah —> semua kesusahan, cita2 dan doa terkabul, dan hujan turun. Itu Hak Allah SWT—-> itu wilayah ilahiah yg tanpa adanya Rosulullah SAW pun tetap Allah akan mengabulkan do’a, menghilangkan kesusahan, dan hak2 Ilahiah lainnya, kalimat dengannya menganggap karena sebab rosulullah SAW lah yg menghilangkan kesusahan, mengabulkan cita2, hujan turun. Apakah Allah SWT menciptakan, mengabulkan do’a/cita2, menghilangkan kesusahan hambanya, menurunkan hujan, memenuhi kebutuhan hamba-Nya disebabkan karena Rosulullah SAW…? bukankah itu karena Arrohman dan arrohiim….???
Pada suatu saat ada seseorang yang datang menemui Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam dan mengatakan: “Atas kehendak Allah dan kehendakmu wahai Rasul”, Maka beliau menghardiknya dengan mengatakan, “Apakah kamu ingin menjadikan aku sebagai sekutu bagi Allah? Katakan: Atas kehendak Allah semata.” Nidd atau sekutu artinya: matsiil wa syariik (yang serupa dan sejawat) (HR. Nasa’i dengan sanad hasan)
==monggo yang penting ukhwah islamiyah…
yup sepakat …
@Ustadz Asy Saidani
Terima kasih atas tambahan ilmunya.
Mengenai atsar Ibnu Mas’ud, saya pernah baca antara lain (mhn maaf kalau salah) :
1. Imam Ibnu Hajar Al Haitami menyatakan atsar tersebut mengandung kelemahan, karena adanya salah seorang perawi bernama ….?
2. Juga pernah saya baca (tapi lupa), bahwa Ibnu Mas’ud pernah menjadi bagian dari salah satu majelis dzikir (Kalau tidak salah riwayat Imam Ahmad)
3. Atsar Ibnu Mas’ud tentang larangan dzikir berjamaah, bertabrakan dengan hadits-hadits shohih yang menerangkan disyariatkannya dzikir berjamaah (saya lupa, tapi dalam tulisan terbaru Bang Zon, juga disunggung dalil dzikir berjamaah dari hadits shohih)
Terima kasih atas tanggapan Ustadz maupun rekan-rekan, semoga menjadi ilmu yang bermanfaat … Amin.
@hery
>>namun hal ini sudah menjadi sesuatu amalan yg seperti diharuskan….???
==”seperti diharuskan” berarti “tidak harus kan”??
>>seolah2 itu adalah ajaran yg diperintahkan Rosulullah SAW…,
== baca tahlil, tasbih, tahmid, ayat2 al qur’an dan mendoakan mayyit memang ajaran rosulullah kok??
>>>(meskipun antum mengaku bahwa itu tidak diharuskan), bahwa jika ada org yg meninggal kalau tidak tahlilan, akan jadi ucapan sentimen dari masyarakat.
==ini mah asumsi doang.. paling2 sentimennya “ya, dianggap anti tahlil, gitu aja?”
>> knapa dilakukan 1,2,3,4,5,6,7 terus 40, terus 100, terus kadang 1000 hari…???
==lho, kla ana mah pengennya 1,2,3,4,5,6,7,8,9,10,11,12,13 sampai 1000 hari full?? Tapi yang di undang apa mau?? Ya, paling itu..klw tiap malam jum’at ana n nyonya tahlilan + yasinan jamaah berdua..klw yg antum maksud ada tasabuh dg hindu (klw memang iya) kan udah ane jawab hukumnya sama dengan pake celana. Menurut kaidah fikih “al hukmu yaduru ma’a illatihi”. Ketika illatnya berubah, maka hukumnya pun jg ikut berubah???
>>>Afwan ane blm tahu larangan Rosulullah SAW memakai celana itu maksudnya seperti apa…???
==fatwa ulama pd jaman penjajahan belanda, bercelana itu HARAM karena TASABUH dg BELANDA. Masih sulit mengerti kaitan ini CELANA dg itu 1,2,3….1000 ya??
>> bukan berarti karena Rosulullah —> semua kesusahan, cita2 dan doa terkabul, dan hujan turun. Itu Hak Allah SWT—->
===he..he.ini yg agak refot…si SUFI menggunakan bahasa sufinya, si ANTI SUFI yg mendengar, memahami ucapan si SUFI dg bahasa versinya. Ya susah ketemu.. si sufi bilang “BOL” dg maksud bhs inggris yg berarti “Bola” si anti sufi yg asli jawa dan kurang pengalaman memahami kata “BOL” dg bhs jawa yg berarti “wasir yg keluar dari dubur”. Ya, lucu.. jadinya, si SUFI kena SEMFROT krn dianggap berkata jorok oleh si anti sufi. Untungnya si sufi orangnya sabar….
Sekedar coba jelaskan bhs si sufi “inggris” ya?…afwan klw salah.. maklum ane ngerti bhs “inggris” Cuma dikit2. Itupun dari tulisan terjemah film2 “inggris”.
“Dan dengannya (Muhammad) segala kesusahan jadi hilang”
Maksudnya,”seorang sufi yg menjalankan ajaran2 muhammad SAW dan mencontoh prilaku agungnya maka semua kesusahan akibat hal2 duniawi menjadi SIRNA SEMUA. Tidak ada lagi BELENGGU KESUSAHAN bagi si sufi karena dia sudah menjiwai arti sabar, tawadlu’,qonaah, pemaaf,belas kasih, ikhlas, tawakkal dll. Dan semua watak+sikap mulia ini dimiliki sufi DENGAN BERKAT Pertolongan, AJaran,Bimbingan dan petunjuk RASULULLAH.
CONTOH SKEMA
Seseorang gampang susah ketika kehilangan hal duniawi– > karena tidak menjiwai qona’ah/tawakkal.
Stelah menjiwai ajaran rasululah SAW ttg qona’ah/tawakkal — > orang tersebut jadi tidak susah ketika kehilangan duniawi. Hilangnya kesusahan ini akibat sikap qona’ah/tawakkal yg dijiwai si sufi BERKAT Pertolongan, AJaran,Bimbingan dan petunjuk RASULULLAH.
Klw dibaca dg MATA HATI dan FIKIRAN JERNIH maka ketemulah maksud kata”HILANGNYA SEMUA KESUSAHAN DENGAN (BERKAT) RASULULLAH”
Itulah sebabnya.. TIDAK ADA KATA SUSAH bg sufi DENGAN (berkat ajaran) RASULULLAH SAW.
Sulit dicerna ya?? Maap.. bhs ana kurang lancer..Ini hanya contoh… yg lain bisa di pahami juga asal dg menggunakan bahasa “inggris”. Apalagi klw bhs inggrisnya fasih…He..he.he..
>>>: “Atas kehendak Allah dan kehendakmu wahai Rasul”, Maka beliau menghardiknya dengan mengatakan, “Apakah kamu ingin menjadikan aku sebagai sekutu bagi Allah?
==he..he.. klw kasus ini BEDA dg kasus si SUFI. Adakah si sufi yang berkata, “ya allah dengan kekuasaan-MU, dan ya Muhammad dengan kekuasaanmu”?? antum cari dari pintu depan ke pintu belakang rumah antum ya gak bakal ketemu.. antum cari dimana2 juga gak ada??
————–SEMOGA BERMANFAAT———–
==”seperti diharuskan” berarti “tidak harus kan”??
Silahkan antum….persepsinya seperti itu…., prinsip ana:
1. Berdoa’ dg mengangkat tangan dianjurkan…, tetapi kalo tangannya ditelentangkan seperti mau senam…, tentunya hal ini bukan ajaran Rosulullah SAW.., dan kita sebagai ummat hanya perlu ta’at kepada Allah dan Rosul-Nya. Tatacara dlm ibadah ini : menurut hemat ane sangat krusial, dan ana lebih memilih untuk tdk melakukan hal2 yg rosul tdk mengajarkannya.
2. terus hadits mengenai Ibnu Mas’ud melarang org yg berdzikir dg tatacaranya sendiri. Syaikh AL Bani mensahihkan hadits ini.
== baca tahlil, tasbih, tahmid, ayat2 al qur’an dan mendoakan mayyit memang ajaran rosulullah kok??
Iya sepakat ustadz, namun adanya penghususan waktu, tatacara tertentu…prinsip ana…seperti koment pertama. Tapi yo…silahkan kalau antum prinsipnya..seperti itu…
==ini mah asumsi doang.. paling2 sentimennya “ya, dianggap anti tahlil, gitu aja?”
>> knapa dilakukan 1,2,3,4,5,6,7 terus 40, terus 100, terus kadang 1000 hari…???
==lho, kla ana mah pengennya 1,2,3,4,5,6,7,8,9,10,11,12,13 sampai 1000 hari full?? Tapi yang di undang apa mau?? Ya, paling itu..klw tiap malam jum’at ana n nyonya tahlilan + yasinan jamaah berdua..klw yg antum maksud ada tasabuh dg hindu (klw memang iya) kan udah ane jawab hukumnya sama dengan pake celana. Menurut kaidah fikih “al hukmu yaduru ma’a illatihi”. Ketika illatnya berubah, maka hukumnya pun jg ikut berubah???
yo monggo lah…., prinsip ana tetap sprti diatas….
==fatwa ulama pd jaman penjajahan belanda, bercelana itu HARAM karena TASABUH dg BELANDA. Masih sulit mengerti kaitan ini CELANA dg itu 1,2,3….1000 ya??
Oh fatwa ulama.., kirain hadits rosul…, ya…kalau ini mah ijtihad…, nda sulit…, cuman yg ane masih pertanyakan itu…kenapa Rosulullah SAW, Sahabat, Imam Madzhab tdk melakukan tahlilan, kirim2 pahala..kepada keluarganya…, padahal kita tahu juga merekalah yg lebih tahu ajaran Islam ini…, ini hanya share aja…, klo antum seperti itu…yup monggo…,
===he..he.ini yg agak refot…si SUFI menggunakan bahasa sufinya, si ANTI SUFI yg mendengar, memahami ucapan si SUFI dg bahasa versinya. Ya susah ketemu.. si sufi bilang “BOL” dg maksud bhs inggris yg berarti “Bola” si anti sufi yg asli jawa dan kurang pengalaman memahami kata “BOL” dg bhs jawa yg berarti “wasir yg keluar dari dubur”. Ya, lucu.. jadinya, si SUFI kena SEMFROT krn dianggap berkata jorok oleh si anti sufi. Untungnya si sufi orangnya sabar….
Sekedar coba jelaskan bhs si sufi “inggris” ya?…afwan klw salah.. maklum ane ngerti bhs “inggris” Cuma dikit2. Itupun dari tulisan terjemah film2 “inggris”.
“Dan dengannya (Muhammad) segala kesusahan jadi hilang”
Maksudnya,”seorang sufi yg menjalankan ajaran2 muhammad SAW dan mencontoh prilaku agungnya maka semua kesusahan akibat hal2 duniawi menjadi SIRNA SEMUA. Tidak ada lagi BELENGGU KESUSAHAN bagi si sufi karena dia sudah menjiwai arti sabar, tawadlu’,qonaah, pemaaf,belas kasih, ikhlas, tawakkal dll. Dan semua watak+sikap mulia ini dimiliki sufi DENGAN BERKAT Pertolongan, AJaran,Bimbingan dan petunjuk RASULULLAH.
CONTOH SKEMA
Seseorang gampang susah ketika kehilangan hal duniawi– > karena tidak menjiwai qona’ah/tawakkal.
Stelah menjiwai ajaran rasululah SAW ttg qona’ah/tawakkal — > orang tersebut jadi tidak susah ketika kehilangan duniawi. Hilangnya kesusahan ini akibat sikap qona’ah/tawakkal yg dijiwai si sufi BERKAT Pertolongan, AJaran,Bimbingan dan petunjuk RASULULLAH.
Klw dibaca dg MATA HATI dan FIKIRAN JERNIH maka ketemulah maksud kata”HILANGNYA SEMUA KESUSAHAN DENGAN (BERKAT) RASULULLAH”
Itulah sebabnya.. TIDAK ADA KATA SUSAH bg sufi DENGAN (berkat ajaran) RASULULLAH SAW.
Sulit dicerna ya?? Maap.. bhs ana kurang lancer..Ini hanya contoh… yg lain bisa di pahami juga asal dg menggunakan bahasa “inggris”. Apalagi klw bhs inggrisnya fasih…He..he.he..
>>>> Ana faham sebelum antum menjelaskan ini pun…,
Yup monggo lah… kalau tetap seperti itu prinsipnya.
co : dengan obat penyakit jadi sembuh
Atas ijin Allah dengan obat penyakit jadi sembuh
2 kalimat yg beda tipis, namun menurut hemat ana disitulah letak tauhidnya. Yg pertama bersandar pada sebab, yg kedua bersandar pada Allah SWT. Jadi perlu bahasa yg jelas.
Padahal yg dinilai Allah SWT adalah niyat dan dzohirnya. meskipun niatnya benar…namun dzohirnya salah…ya menurut syari’at tetap salah. Niatnya baca fatihah, tapi yg dibaca malah iftitah…, tetap salah sesuai dzohirnya. Karena kita sebagai manusia tidak dapat menilai hati seseorang, dengan dzohir nya itulah kita dpt menilai.
==he..he.. klw kasus ini BEDA dg kasus si SUFI. Adakah si sufi yang berkata, “ya allah dengan kekuasaan-MU, dan ya Muhammad dengan kekuasaanmu”?? antum cari dari pintu depan ke pintu belakang rumah antum ya gak bakal ketemu.. antum cari dimana2 juga gak ada??
>>> Yang dengannya hilang kesusahan, tercapai cita2.
hemat ana…perlu penegasan, bahwa yg menghilangkan kesusahan dan yg mengabulkan cita2 adalah Allah SWT. Perlu diperjelas dalam susunan bacaannya.
Sholawat nariyah ini siapa ya..yg bikin pertama kali, setahu saya orang jadi seneng sholawat ini dari pada yg diajarkan Rosulullah SAW, dg iming2 jika dibaca sekian bakal anu …., ana melihatnya ada unsur kesengajaan untuk memalingkan ummat dari sholawat yg diajarkan rosulullah SAW kepada sholawat2 seperti ini…., ummat perlu kritis menurut ana…
————–SEMOGA BERMANFAAT———–
@hery
>>> Berdoa’ dg mengangkat tangan dianjurkan…, tetapi kalo tangannya ditelentangkan seperti mau senam…, tentunya hal ini bukan ajaran Rosulullah SAW..,
==hwe..hwe.. apalagi klw kedua tangannya mengepal, ditegangkan dan mengarah ke langit??
>>>>co : dengan obat penyakit jadi sembuh
Atas ijin Allah dengan obat penyakit jadi sembuh
==he..he.he..he…
a.Dengan obat, penyakit(panu+kadas) jadi sembuh
b.Dengan Muhammad, penyakit (iri, takabbur, “ujub, ta’assub) jadi sembuh
Keduanya ATAS IJIN ALLAH
Monggo..pilih mana antum??
>>>Jadi perlu bahasa yg jelas.
==in kuntum la ta’qilun… in kuntum la tatafakkarun… afwan ya??
————————–nah, ini kajiannya..————————
عن عثمان بن حنيف رضي الله تعالى عنه أن رجلا أعمى جاء إلى النبي (صلى الله عليه وآله وسلم)، وهو جلوس معه، فشكا إليه ذهاب بصره فأمره بالصبر، فقال ليس لي قائد، وقد شق علي فقد بصري، فقال له: (ائت الميضأة فتوضأ ثم صل ركعتين ثم قل اللهم إني أتوجه إليك بنبيك محمد نبي الرحمة يا محمد إني توجهت بك إلى ربي في حاجتي لتقضى لي اللهم شفعه في) في وفي رواية (فإن كان لك حاجة فمثل ذلك)، قال عثمان بن حنيف: فوالله ما تفرق بنا المجلس حتى دخل علينا بصيرا كأنه لم يكن به ضر، هذا هو الحديث الصحيح الصريح الذي يقطع النزاع
“diriwayatkan dari ustman bin hanif RA bhw seorang lelaki buta datang kepada Nabi SAW ketika usman duduk2 bersama Nabi, lalu lelaki itu mengeluhkan kebutaannya. Maka nabi menyuruhnya bersabar. Lelaki berkata,”saya tidak punya penuntun dan kebutaanku sangat berat bagiku”. Lalu nabi bersabda kepadanya,”datangilah tempat wudlu, lalu berwudlulah, lalu sholat dua roka’at. Kemudian ucapkan (stlh sholat),”Ya.allah, aku menhadap kepadamu DG NABI-MU, MUHAMMAD, NABI RAHMAT,… HAI MUHAMMAD, aku menghadap DENGANMU kepada TUHANKU supaya HAJATKU dikabulkan. Ya allah berilah syafaat kepada Muhammad untuku” dalam riwayat yg lain, “apabila kamu punya hajat, maka seperti itu (cara berdo’anya). Usman bin hanif berkata,” Demi allah, kami (usman dan nabi) tidak berpisah dari majlis kecuali lelaki itu sehat matanya seakan2 tidak pernah sakit” —-> > SOHIH
—– monggo dianalisa dg soal obat … klw ragu kesahihan hadistnya ya monggo dianalisa bareng?
>>> Padahal yg dinilai Allah SWT adalah niyat dan dzohirnya. meskipun niatnya benar…namun dzohirnya salah…ya menurut syari’at tetap salah.
==bahasa antum kok aneh ya?? Yg pertama “ padahal yg dinilai allah” lha yg terakhir kok jadi berubah, “ya menurut syari’at tetap salah.. keduanya KADANG gak nyambung lho???
>>>hemat ana…perlu penegasan, bahwa yg menghilangkan kesusahan dan yg mengabulkan cita2 adalah Allah SWT. Perlu diperjelas dalam susunan bacaannya.
===penjelasan ini juga baik dari segi lafadz biar mudah dipaham, tp bisa jadi jelek klw tinjauannya ilmu balagoh. pun begitu, terkadang ada sesuatu itu klw dijelaskan malah susah dipaham dan hanya bisa dipahami dg bahasa isyarat. bahkan kadang ada sesutu yg kita alami sendiri..tapi kita kesulitan mnjelaskan pd orang lain?? contoh??
>>>Sholawat nariyah ini siapa ya..yg bikin pertama kali,
==aduh lupa.. yg ana tahu para tokoh sperti syeh abd. Qodir, syeh abil hasan as-syazili, imam nawawi, syeh ini, imam itu..sering punya redaksi sholawat dan zikir sendiri2 yg mungkin sesuai dengan “pengalaman spiritual” beliau2..
>>>setahu saya orang jadi seneng sholawat ini dari pada yg diajarkan Rosulullah SAW,
==penilaiannya gak bisa begitu.. .. seperti ketika semua muslimun memberi tambahan kata “wa shohbihi wat tabi’ina dst”.padahal ketika seorang sahabat bertanya, “ya rasulullah.. bagaimana saya bersholawat kepadamu?” Nabi Menjawab, “ ucapkan, ya allah, semoga sholawat atas Muhammad dan keluarganya.” (sohih). Nabi hanya menyebutkata, “MUHAMMAD DAN KELUARGANYA”. Mengapa kita menambahi dan “PARA SAHABATNYA”? bahkan kadang ditambahi “DAN PARA TABI’IN”?.penambahan ini, bukan berarti kita meninggalkan tuntunan nabi kan??
————–SEMOGA BERMANFAAT———–
==hwe..hwe.. apalagi klw kedua tangannya mengepal, ditegangkan dan mengarah ke langit??
>>>>hhhe….pasti lah…, pelajaran yg bisa dipetik….Tatacara sangat penting dalam ibadah bukan…??
Prinsip ana, dlm tahlilan pun ada runtutan bacaan khusus, tatacara tertentu…dan menurut yg faham bahasa arab…itu teh ada bahasa yg syirik…, (H. Mahrus Ali 2007), shg ana lbh baik nda nyemplung ke wilayah itu deh….
.Dengan obat, penyakit(panu+kadas) jadi sembuh
b.Dengan Muhammad, penyakit (iri, takabbur, “ujub, ta’assub) jadi sembuh
Keduanya ATAS IJIN ALLAH
Ya betul tapi kita harus sebutkan ATAS IJIN ALLAH, Kalau tidak disebutkan atas ijin Allah ….????? Syirik bukan…???
==in kuntum la ta’qilun… in kuntum la tatafakkarun… afwan ya??
>>>>Hhhe…hati2, jangan2 ini kembali ke antum…afwan juga…
”Ya.allah, aku menhadap kepadamu DG NABI-MU, MUHAMMAD, NABI RAHMAT,… HAI MUHAMMAD, aku menghadap DENGANMU kepada TUHANKU supaya HAJATKU dikabulkan. Ya allah berilah syafaat kepada Muhammad untuku” dalam riwayat yg lain, “apabila kamu punya hajat, maka seperti itu (cara berdo’anya). Usman bin hanif berkata,” Demi allah, kami (usman dan nabi) tidak berpisah dari majlis kecuali lelaki itu sehat matanya seakan2 tidak pernah sakit” —-> > SOHIH
—– monggo dianalisa dg soal obat … klw ragu kesahihan hadistnya ya monggo dianalisa bareng?
>>>>>>>>>>Bukankah Pada saat itu Nabi Masih hidup…??? pernah baca juga kan ustad…Umar bertawasul dg Paman Rosul ketika NAbi SAW dah wafat …?? Pendapat antum…??
==bahasa antum kok aneh ya?? Yg pertama “ padahal yg dinilai allah” lha yg terakhir kok jadi berubah, “ya menurut syari’at tetap salah.. keduanya KADANG gak nyambung lho???
>>> Hhhe…Afwan maksudnya Syari’at yg diajarkan Allah SWT. Artinya niyat..itu urusan hamba dg Allah SWT. Kita sebagai manusia telah diajarkan syari’at Islam…, jadi intinya: yg dzohir, ibadah yg Nampak…maka dinilai oleh aturan syariat yg diturunkan Allah SWT
===penjelasan ini juga baik dari segi lafadz biar mudah dipaham, tp bisa jadi jelek klw tinjauannya ilmu balagoh. pun begitu, terkadang ada sesuatu itu klw dijelaskan malah susah dipaham dan hanya bisa dipahami dg bahasa isyarat. bahkan kadang ada sesutu yg kita alami sendiri..tapi kita kesulitan mnjelaskan pd orang lain?? contoh??
>>>> Ga susah sepertinya.…..tinggal tambahkan dengan Ijin Allah SWT bukan…??
Kenapa orang arab Saudi/ ulama2 yg faham juga ttg bahasa Arab…tetep…, menyatakan itu syirik. (salah duanya …. H. Mahrus Ali, Hartono Ahmad jaiz, bahkan fatwa2 salafi seperti itu…, apa mereka nda faham balagoh…??? Ana tetep ah..berpegang pada ushul fiqh…hukum asal ibadah itu haram, lebih selamat menurut hemat ana. Terserah kalau antum…berbeda…monggo silahkan…
==aduh lupa.. yg ana tahu para tokoh sperti syeh abd. Qodir, syeh abil hasan as-syazili, imam nawawi, syeh ini, imam itu..sering punya redaksi sholawat dan zikir sendiri2 yg mungkin sesuai dengan “pengalaman spiritual” beliau2..
>>>ya.., jadi ga jelas kan asal usulnya..ustad az ga inget..apalagi orang awam…, waduh gimana ini….
namun tidak pernah ada yg mengamalkan sholawat2 mereka…., mana coba…??, sepertinya belum ada yg ngamalkan koq…?? Tapi Sholawat nariyah..kayanya banyak yg ngamalkan…, ga tau kenapa…? Mungkin antum tahu….??? Setahu ana…kebanyakan sih…ada yg pengen anu pengen anu…, ada khasiatnya apa lah…, ane jd bingung umat islam di Indonesia kalau denger hasiat suatu amalan..berapapun hitungannya.bahkan sampe ribuan…mau juga ngamalin, padahal bukan dari Rosulullah SAW…
==penilaiannya gak bisa begitu.. .. seperti ketika semua muslimun memberi tambahan kata “wa shohbihi wat tabi’ina dst”.padahal ketika seorang sahabat bertanya, “ya rasulullah.. bagaimana saya bersholawat kepadamu?” Nabi Menjawab, “ ucapkan, ya allah, semoga sholawat atas Muhammad dan keluarganya.” (sohih). Nabi hanya menyebutkata, “MUHAMMAD DAN KELUARGANYA”. Mengapa kita menambahi dan “PARA SAHABATNYA”? bahkan kadang ditambahi “DAN PARA TABI’IN”?.penambahan ini, bukan berarti kita meninggalkan tuntunan nabi kan??
>>>>>faktanya seperti itu ustadz.., ana juga dlu kental banget ma NU koq…., tambahan wasohbihi dalam mukadimah atau akhir , itu adalah do’a. tdk hanya wasohbihi…, sebelumnya juga diawali dg do’a2 lainnya…, Kita tahu dalam berdo’a apapun boleh selama dalam hal yg baik…, dan itu hemat ane bukan sholawat…, itu adalah rangkaian do’a…, ini hemat ana….
————–SEMOGA BERMANFAAT———–
@HERY
>>.Tatacara sangat penting dalam ibadah bukan…??
==iya jelas tho?… eh, dah tahukan ntum bagaimana cara nabi mengangkat tangan dlm berdoa? berikut dalilnya?? Ajari dong??
>>dan menurut yg faham bahasa arab…itu teh ada bahasa yg syirik…,
==he..he.. fahamnya separo2 kali..atw dia bermaksud memprovokasi? Atw dia terlalu JENIUS atw bahkan IDIOT dlm mendefinisikan syirik??
>>>(H. Mahrus Ali 2007),
==klw buku orang ini mah he..he..he..? ana lebih suka baca karangan ulama tim-teng dlm teks asli. Ya, untuk menghindari kesalahan translate bahasa.. juga lebih mempermudah menangkap yg tersirat dari teks2 asli..
>>>>Hhhe…hati2, jangan2 ini kembali ke antum…afwan juga…
==he..he.. klw antum banyak belajar gramatika + sastra arab..anda akan tau jawabannya..وحذف ما يعلم جائز
>>Bukankah Pada saat itu Nabi Masih hidup…???
==bukankah antum klw baca tahiyat dlm sholat “as-salamu alaiKA? “semoga sholawat atas KAMU (rasulullah). Dan ini diucapkan dlm setiap sholat?? apakah antum gak sadar bhw dalam tahiyat sholat antum, antum sebenarnya berbicara kepada nabi?? Bisa mencerna?????
>>> pernah baca juga kan ustad…Umar bertawasul dg Paman Rosul ketika NAbi SAW dah wafat …?? Pendapat antum…??
==pernahkan antum dengar sahabat bilal RA bertawassul kpd nabi stlah nabi wafat (sohih)?? Begitu juga dg ibnu mas’ud??(SOHIH) Bukankah mereka berdua ini juga sahabat??
>>>> Ga susah sepertinya.…..tinggal tambahkan dengan Ijin Allah SWT bukan…??
==
وحذف ما يعلم جائز كما bisa mengerti maksud2 kata2 yg sangat masyhur di dunia islam ini? sejak abad 7 sampai sekarang?? ==
>>Kenapa orang arab Saudi/ ulama2 yg faham juga ttg bahasa Arab…tetep…, menyatakan itu syirik. (salah duanya …. H. Mahrus Ali, Hartono Ahmad jaiz, bahkan fatwa2 salafi seperti itu…, apa mereka nda faham balagoh…???
== he..he.. kenapa ulama lain yg asli timteng dan jumlahnya lebih banyak (bahkan bisa jadi lebih alim) mengatakan itu gak syirik??
>>Ana tetep ah..berpegang pada ushul fiqh…hukum asal ibadah itu haram,
== he..he.. ini mah kaidah yg baru muncul abad 7 H? menurut ana dalilnya juga gak Qot’i?
>>>ya.., jadi ga jelas kan asal usulnya..
== asal-usulnya jelas..tapi ana lupa namanya.. lagian menurut ana yg penting bacaannya betul..isinya baik.. gitu aja?? apalagi juga sudah masyhur dikalangan ulama??
>>> wasohbihi dalam mukadimah atau akhir , itu adalah do’a. tdk hanya wasohbihi…, sebelumnya juga diawali dg do’a2 lainnya
==tapi kan sholawat?? Nariyahpun juga doa kok? Tahlilan juga do’a?? mengapa ‘ wasohbihi” yg merupakan tambahan dibolehkan (DAN INI JUGA SUDAH SEPERTI KEHARUSAN??) dan pd tahlilan dilarang? Kok nggak adil ya rasanya??
>>dan itu hemat ane bukan sholawat
== “ya.allah semoga sholawat salam atas Muhammad, keluarganya dan PARA SAHABT”. Ya akhi, apakah ini bukan sholawat??
————–SEMOGA BERMANFAAT———–
==iya jelas tho?… eh, dah tahukan ntum bagaimana cara nabi mengangkat tangan dlm berdoa? berikut dalilnya?? Ajari dong??
>>>…, artinya tatacara dalam tahlilan dg penetapan waktu (meskipun tdk harus), yg jelas disitu tersimpan keyakinan2 tertentu yg tdk ada petunjuknya dari rosulullah SAW. Seperti hadist ttg ibnu mas’ud yg melarang orang2 berdzikir di mesjid pakai kerikil dg hitungan tertentu. Ane tetep berpegang pd hadits tsrbt…dalam menyikapi tahlilan. Kalau masalah mayit mendapatkan manfaat dari do’a kita ya…ana sepakat dg fatwa Ibnu taimiyyah. Kalo antum masih tetep tahlilan…monggo….silahkan….
==he..he.. fahamnya separo2 kali..atw dia bermaksud memprovokasi? Atw dia terlalu JENIUS atw bahkan IDIOT dlm mendefinisikan syirik??
hhhe…kalau orang arab Saudi sendiri sekaligus ulama , maka aneh sekali kalau ga faham bahasa arab…, ga tau siapa yg jenius n idiot itu ya…???
==klw buku orang ini mah he..he..he..? ana lebih suka baca karangan ulama tim-teng dlm teks asli. Ya, untuk menghindari kesalahan translate bahasa.. juga lebih mempermudah menangkap yg tersirat dari teks2 asli..
Hhhe…ulama2 syi’i maksudnya…???monggo….silahkan….
==he..he.. klw antum banyak belajar gramatika + sastra arab..anda akan tau jawabannya..وحذف ما يعلم جائز
ajarin donk…??gmn sih maksud nya…???
==bukankah antum klw baca tahiyat dlm sholat “as-salamu alaiKA? “semoga sholawat atas KAMU (rasulullah). Dan ini diucapkan dlm setiap sholat?? apakah antum gak sadar bhw dalam tahiyat sholat antum, antum sebenarnya berbicara kepada nabi?? Bisa mencerna?????
Yo bisa…, makanya ada sahabat setelah meninggalnya rosul, diganti dg assalamu ala’ nabi toh…??
==pernahkan antum dengar sahabat bilal RA bertawassul kpd nabi stlah nabi wafat (sohih)?? Begitu juga dg ibnu mas’ud??(SOHIH) Bukankah mereka berdua ini juga sahabat??
Blm denger nih…, gimana nih…??
>>>> Ga susah sepertinya.…..tinggal tambahkan dengan Ijin Allah SWT bukan…??
==
وحذف ما يعلم جائز كما bisa mengerti maksud2 kata2 yg sangat masyhur di dunia islam ini? sejak abad 7 sampai sekarang?? ==
Hhhe…?? Terserah antum lah…, mau kaidah apapun yg antum jadikan dasar…, yg jelas…ana nda sepakat. Lebih selamat ikuti petunjuk Rosulullah SAW.
== he..he.. kenapa ulama lain yg asli timteng dan jumlahnya lebih banyak (bahkan bisa jadi lebih alim) mengatakan itu gak syirik??
Bukankah Rosulullah SAW dari Arab Saudi…?? Jadi apakah arab saudi…lebih jelek pemahaman bahasanya dari timur tengah lainnya…??? hhe
== he..he.. ini mah kaidah yg baru muncul abad 7 H? menurut ana dalilnya juga gak Qot’i?
Hhhe…, yo wis monggo…
>>>ya.., jadi ga jelas kan asal usulnya..
== asal-usulnya jelas..tapi ana lupa namanya.. lagian menurut ana yg penting bacaannya betul..isinya baik.. gitu aja?? apalagi juga sudah masyhur dikalangan ulama??
hhhe…sungguh aneh…., kalau kita dah biasa bicaranya dalil…, tapi yg ga jelas begini..ko diikuti…, tapi yo wis…, itu hak antum….yg penting kita rukun toh…???
==tapi kan sholawat?? Nariyahpun juga doa kok? Tahlilan juga do’a?? mengapa ‘ wasohbihi” yg merupakan tambahan dibolehkan (DAN INI JUGA SUDAH SEPERTI KEHARUSAN??) dan pd tahlilan dilarang? Kok nggak adil ya rasanya??
== “ya.allah semoga sholawat salam atas Muhammad, keluarganya dan PARA SAHABT”. Ya akhi, apakah ini bukan sholawat??
Kan bukan hanya ini yg dibaca toh…??ada pembukaan dulu/mukadiimah, terus didalamnya dimasukkan solawat kpd rosul n tambahan doa kepada sahabat. Ana melihatnya ini suatu rangkaian do’a. kalau nariyah mah khusus sholawat toh…??? Ana bukan melarang…, an amah hanya ngasih informasi yg berimbang…biarkanlah yg baca milih sesuai kapastis ilmu dan keyakinannya, jadi klo nda sepakat ya..ga apa2 toh…??
————–SEMOGA BERMANFAAT———–
@HERY
>>iya jelas tho?… eh, dah tahukan ntum bagaimana cara nabi mengangkat tangan dlm berdoa? berikut dalilnya?? Ajari dong??
==Kok belum di jawab pak ustadz??
>>> yg jelas disitu tersimpan keyakinan2 tertentu yg tdk ada petunjuknya dari rosulullah SAW.
== keyakinan apa ya?? Kayaknya ana klw ama nyonya tahlilan tiap juma’t gk ada keyakinan tertentu tu??
>>Seperti hadist ttg ibnu mas’ud yg melarang orang2 berdzikir di mesjid pakai kerikil dg hitungan tertentu.
== di jawab sama ayat ini
1. Firman Allah swt : “sabarkanlah dirimu bersama KELOMPOK orang orang yg berdoa pada tuhan mereka siang dan malam semata mata menginginkan keridhoan nya, dan janganlah kau jauhkan pandanganmu (dari mereka), untuk menginginkan keduniawian.” (qs alkahfi 28)
—Ayat ini turun ketika Salman Alfarisi ra berdzikir bersama para sahabat, maka Allah memerintahkan Rasul saw dan seluruh ummatnya duduk untuk menghormati orang2 yg berdzikir.—
2. Pada saat menggali khandaq (parit) Rasul saw dan sahabat2 radhiyallhu anhum bersenandung BERJAMAAH dengan ucapan : “HAAMIIIM LAA YUNSHARUUN..”. (Kitab Sirah Ibn Hisyam Bab Ghazwat Khandaq).
>>>Hhhe…ulama2 syi’i maksudnya…???monggo….silahkan….
==he..he.. alhamd.. ana banyak buku tulisan ulama Saudi, mesir, tunis,maroko, juga syi’I tuh.. kan katanya dilarang taklid?? Bagimana kita akan punya perbandingan klw Cuma baca kitab2 su’udiyah saja?? Akan di perbandinkan dg siapa dunk??
>>Yo bisa…, makanya ada sahabat setelah meninggalnya rosul, diganti dg assalamu ala’ nabi toh…??
>> maksudnya .. antum gk ngrasa ya klw saat tahiyat itu juga berbicara pd rosul??mengenahi adanya sahabat yg merubah selain sanadnya masih perlu dikaji yang pasti SYADZ.
>>>Blm denger nih…, gimana nih…??
==kok aneh ya??
>>Bukankah Rosulullah SAW dari Arab Saudi…??
== kok aneh ya yambungnya?? yg dibahas ttg ulama kok Nabi dimasukkan kategori ? ana kok baru dengar kali ini ada yg memasukkan nabi ke kategori ulama??
>>> Jadi apakah arab saudi…lebih jelek pemahaman bahasanya dari timur tengah lainnya…??? Hhe
== yang tenar sih begitu.. kan mereka mengunakan bhs arab pasaran.. yg terbaik sih saat ini katanya oman.. klw Nasional lho, coba aja kw liat film saudi??
== “ya.allah semoga sholawat salam atas Muhammad, keluarganya dan PARA SAHABT”. Ya akhi, apakah ini bukan sholawat??
Kan bukan hanya ini yg dibaca toh…??
==klw yang di baca Cuma ini gimana?? He..he.. lihat aja semua fatwa majlis fatwa arab Saudi.. terahir pasti ditutup dg doa SHOLAWAT INI SAJA.
————–SEMOGA BERMANFAAT———–