Termasuk sunnah Nabi
Mereka mengaku telah memurnikan ajaran agama Islam namun boleh jadi mereka sesungguhnya adalah mendangkalkan ajaran agama Islam
Pendapat mereka sunnah Nabi Shallallahu alaihi wasallam hanya terbatas pada apa yang telah dicontohkan atau dilakukan oleh Rasulullah saja.
Kita selalu melakukan perbuatan yang tidak bertentangan dengan Al Qur’an dan As Sunnah adalah termasuk mengikuti Sunnah Nabi.
Oleh karenanya secara tidak langsung peringatan Maulid Nabi adalah termasuk Sunnah Nabi karena termasuk perbuatan yang tidak bertentangan dengan Al Qur’an dan As Sunnah.
Hal yang perlu diperhatikan adalah cara mengisi acara peringatan Maulid Nabi jangan sampai bertentangan dengan Al Qur’an dan As Sunnah.
Berpahala atau tidaknya peringatan Maulid Nabi ataupun peringatan hari kelahiran kita sendiri, tergantung bagaimana kita mengisi acara peringatannya
Pada hakikatnya memperingati Maulid Nabi atau memperingati hari kelahiran kita sendiri ataupun memperingati kejadian di waktu lampau lainnya , telah sesuai dengan firmanNya , “Wal tandhur nafsun ma qaddamat li ghad” “Perhatikan masa lampaumu untuk hari esokmu” (QS al Hasyr [59] : 18 )
Sedangkan mereka yang mengada-ada larangan yang tidak pernah disampaikan oleh Rasulullah , justru mereka yang menentang Sunnah Nabi
Perkara agama atau perkara syariat termasuk perkara larangan bersumber hanya dari Allah ta’ala.
Dari Ibnu ‘Abbas r.a. berkata Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda, “di dalam agama itu tidak ada pemahaman berdasarkan akal pikiran, sesungguhnya agama itu dari Tuhan, perintah-Nya dan larangan-Nya.” (Hadits riwayat Ath-Thabarani)
Perkara larangan adalah hak Allah ta’ala menetapkannya dan Allah ta’ala tidak lupa.
Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda, “Sesungguhnya Allah telah mewajibkan beberapa kewajiban (ditinggalkan berdosa), maka jangan kamu sia-siakan dia; dan Allah telah memberikan beberapa larangan (dikerjakan berdosa)), maka jangan kamu langgar dia; dan Allah telah mengharamkan sesuatu (dikerjakan berdosa), maka jangan kamu pertengkarkan dia; dan Allah telah mendiamkan beberapa hal sebagai tanda kasihnya kepada kamu, Dia tidak lupa, maka jangan kamu perbincangkan dia.” (Riwayat Daraquthni, dihasankan oleh an-Nawawi)
Urusan agama atau perkara syariat, termasuk perkara larangan telah sempurna atau telah disampaikan seluruhnya oleh Rasulullah.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda, “Tidak tertinggal sedikitpun yang mendekatkan kamu dari surga dan menjauhkanmu dari neraka melainkan telah dijelaskan bagimu ” (HR Ath Thabraani dalam Al Mu’jamul Kabiir no. 1647)
“mendekatkan dari surga” = perkara kewajiban (ditinggalkan berdosa)
“menjauhkan dari neraka” = perkara larangan dan perkara pengharaman (dikerjakan berdosa)
Kalau ada larangan yang tidak pernah disampaikan oleh Rasulullah shallallahu alaihi wasallam maka ini termasuk bid’ah dholalah
Kesimpulannya, mereka dengan mengikuti pendapat atau fatwa ulama-ulama mereka bahwa peringatan Maulid Nabi adalah berdosa justru telah bertasyabuh dengan kaum Nasrani yakni menjadikan ulama-ulama mereka sebagai tuhan selain Allah.
Allah Azza wa Jalla berfirman, “Mereka menjadikan para rahib dan pendeta mereka sebagai tuhan-tuhan selain Allah“. (QS at-Taubah [9]:31 )
Ketika Nabi ditanya terkait dengan ayat ini, “apakah mereka menyembah para rahib dan pendeta sehingga dikatakan menjadikan mereka sebagai tuhan-tuhan selain Allah?”
Nabi menjawab, “tidak”, “Mereka tidak menyembah para rahib dan pendeta itu, tetapi jika para rahib dan pendeta itu menghalalkan sesuatu bagi mereka, mereka menganggapnya halal, dan jika para rahib dan pendeta itu mengharamkan bagi mereka sesuatu, mereka mengharamkannya“
Pada riwayat yang lain disebutkan, Rasulullah bersabda ”mereka (para rahib dan pendeta) itu telah menetapkan haram terhadap sesuatu yang halal, dan menghalalkan sesuatu yang haram, kemudian mereka mengikutinya. Yang demikian itulah penyembahannya kepada mereka.” (Riwayat Tarmizi)
Firman Allah Azza wa Jalla yang artinya,
“Katakanlah! Siapakah yang berani mengharamkan perhiasan Allah yang telah diberikan kepada hamba-hambaNya dan beberapa rezeki yang baik itu? Katakanlah! Tuhanku hanya mengharamkan hal-hal yang tidak baik yang timbul daripadanya dan apa yang tersembunyi dan dosa dan durhaka yang tidak benar dan kamu menyekutukan Allah dengan sesuatu yang Allah tidak turunkan keterangan padanya dan kamu mengatakan atas (nama) Allah dengan sesuatu yang kamu tidak mengetahui.” (QS al-A’raf: 32-33)
“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu haramkan apa-apa yang baik yang telah Allah halalkan bagi kamu dan janganlah kamu melampaui batas, sesungguhnya Allah tidak menyukai orang yang melampaui batas.” (Qs. al-Mâ’idah [5]: 87).
“Dan janganlah kamu mengatakan terhadap apa yang disebut-sebut oleh lidahmu secara dusta “Ini halal dan ini haram”, untuk mengada-adakan kebohongan terhadap Allah. Sesungguhnya orang-orang yang mengada-adakan kebohongan terhadap Allah tiadalah beruntung” [QS. An-Nahl : 116].
Dalam hadits Qudsi , Rasulullah bersabda: “Aku ciptakan hamba-hambaKu ini dengan sikap yang lurus, tetapi kemudian datanglah syaitan kepada mereka. Syaitan ini kemudian membelokkan mereka dari agamanya, dan mengharamkan atas mereka sesuatu yang Aku halalkan kepada mereka, serta mempengaruhi supaya mereka mau menyekutukan Aku dengan sesuatu yang Aku tidak turunkan keterangan padanya.” (Riwayat Muslim)
Wassalam
Zon di Jonggol, Kab Bogor 16830
