Mereka merasa bagian dari ahlus sunnah
Sebagaimana yang diberitakan pada http://www.kautsar.co.id/read/book/20/11/2012/184/mendamaikan-ahlusunnah-di-nusantara/ Pustaka Al Kautsar menerbitkan sebuah buku yang berjudul “Mendamaikan Ahlusunnah di Nusantara” yang ditulis oleh Abu Muhammad Waskito
Sebagaimana pula yang diberitakan pada http://alislamu.com/dunia-islam/5616-mendamaikan-ahlus-sunnah-di-nusantara.html bahwa Ahad (23/12/2012) bertempat di masjid Al-A’raf toko buku Walisongo Kwitang Jakarta digelar acara bedah buku yang dibedah oleh penulisnya sendiri AM.Waskito dan mewakili pembanding adalah ustadz Farid Achmad Okbah, MA dari Dewan Dakwah Islam Indonesia.
Sedikit mengkritisi paparan AM.Waskito dengan bukunya, ustadz Farid Achamd Okbah menyatakan ada beberapa hal dari buku “Mendamaikan Ahlus Sunnah di Nusantara” yang perlu dikritisi di mana menurutnya isi buku tersebut belum terlalu kongkrit dalam membahas bagaimana mendamaikan pertikaian yang sudah lama terjadi tersebut di kalangan umat Islam Indonesia.
Menurut beliau juga isi buku AM.Waskito belum banyak membahas hal-hal substansial terkait pertikaian kalangan Asy’ariyah dan Wahabiyah. Dan mendamaikan kalangan sesama Ahlussunnah tersebut perlu pengalaman lapangan yang nyata bukan hanya sekedar teori-teori semata. Namun meskipun begitu, ustadz Farid Achmad Okbah, yang juga pimpinan Islamic Center Al-Islam Bekasi ini memuji semangat dan niat tulus penulis buku dalam mencoba mencari akar permasalahan ASWAJA di Indonesia dan bagaimana mendamaikannya.
Di sisi lain Abu Muhammad Waskito atau nama kunyah Abi Syakir, penulis buku “Bersikap Adil Kepada Wahabi” dalam tulisannya yang kami arsip pada http://mutiarazuhud.files.wordpress.com/2012/11/manhaj-pemahaman-abu-muhammad-waskito.pdf mengatakan
***** awal kutipan *****
Dari sisi kajian ilmiah, ilmu-ilmu yang berkembang di majlis-majlis Salafi insya Allah sangat bermanfaat, disertai dengan metode kehujjahan yang bagus. Namun dari sisi kepedulian terhadap masalah-masalah riil yang dihadapi Ummat Islam, Salafi sangat kurang. Bahkan mungkin mereka tidak peduli dengan persoalan-persoalan itu. Dari sisi lain, kualitas hujjah ilmiah yang dimiliki seringkali menjadi sebab munculnya sikap angkuh dan mencela orang lain. Bahkan yang membuat saya sangat heran, banyak ustadz-ustadz atau pemuda Salafi yang memindahkan begitu saja setiap masalah yang ada di Timur Tengah, lalu disebarkan dengan penuh semangat di tengah-tengah masyarakat Indonesia. Atas alasan-alasan itu, saya tidak ingin terlibat secara langsung dalam majlis-majlis taklim Salafi. Di kemudian hari, alhamdulillah ada juga komunitas Dakwah Salafiyah yang bersikap hikmah dalam dakwah, samhah (toleran) dalam menyikapi perbedaan, dan peduli dengan persoalan-persoalan Ummat.
***** akhir kutipan *****
Apakah penulis buku Abu Muhammad Waskito membedakan antara firqoh Salafi dengan firqoh Wahabi ?
Apakah yang dimaksud oleh beliau sebagai dakwah salafiyah yang bersikap hikmah, toleran dan peduli ummat Islam adalah firqoh Wahabi ?
Sebagaimana yang telah disampaikan dalam tulisan pada http://mutiarazuhud.wordpress.com/2013/01/08/apakah-firqoh-salafi/ pada kenyataannya firqoh salafi dan firqoh wahabi adalah mereka yang mengaku-ngaku mengikuti ulama-ulama seperti ulama Ibnu Taimiyyah, ulama Muhammad bin Abdul Wahhab ataupun ulama Al Albani.
Bagaimana penulis buku Abu Muhammad Waskito dapat memberikan pendapat tentang ahlus sunnah jika diantara mereka saja saling bertengkar yang tidak menunjukkan sebagai ahlus sunnah, sebagaimana yang dapat diketahui contohnya pada http://www.alinshof.com/2009/12/silsilah-pembelaan-para-ulama-dan-duat_18.html berikut kutipannya
***** awal kutipan *****
Kami menggunakan istilah “salafy” (dengan menggunakan tanda petik) sebagai ta’rif (pengenal) bagi kelompok ini, karena hanya istilah ini-lah yang mereka diridhai (semoga nama tersebut sesuai dengan subtansinya). Sebab jika kami menggunakan nama lain, misalnya MANIS, mereka sangat keberatan dan mengatakan tidak pernah menisbatkan nama kelompok mereka dengan nama tersebut dan kami tidak ingin menzalimi mereka dalam hal ini. Demikian pula tatkala ada sebagaian ikhwah yang kemudian memberi ta’rif sebagai Salafy Yamani (nisbat kepada negeri Yaman, sebab yang banyak yang berfikrah semisal mereka rata-rata merupakan alumnus Yaman yang talaqqi pada ma’had Syaikh Muqbil –rahimahullah-) mereka-pun uring-uringan dan murka. Adapun alasan kami menggunakan tanda petik, sebab kami yakin bahwa tidak seluruh yang menisbatkan diri pada dakwah salaf berperangai dan berkelakuan seperti kelompok ini.
***** akhir kutipan *****
Sebagaimana yang telah disampaikan dalam tulisan pada http://mutiarazuhud.wordpress.com/2012/11/27/ciri-aliran-sesat/ bahwa Menurut Asy-Syathibi, secara umum tanda-tanda aliran sesat yang dikarenakan salah memahami Al Qur’an dan Hadits itu ada tiga.
1. Perpecahan dan Perceraiberaian
Hal tersebut seperti telah diingatkan dalam firman Allah subhanahu wa ta’ala:
“Dan janganlah kamu menyerupai orang-orang yang bercerai berai dan berselisih sesudah datang keterangan yang jelas kepada mereka”, (QS. 3 : 105).
“Dan Kami telah timbulkan permusuhan dan kebencian di antara mereka sampai hari kiamat”, (QS. 5 : 64).
Dalam hadits shahih, melalui Abu Hurairah radhiyallahu anhu, Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Sesungguhnya Allah ridha pada kamu tiga perkara dan membenci tiga perkara. Allah ridha kamu menyembah-Nya dan janganlah kamu mempersekutukannya, kamu berpegang dengan tali (agama) Allah dan janganlah kamu bercerai berai…”
Kemudian Asy-Syathibi mengutip pernyataan sebagian ulama, bahwa para sahabat banyak yang berbeda pendapat sepeninggal Nabi shallallahu alaihi wasallam, tetapi mereka tidak bercerai berai. Karena perbedaan mereka berkaitan dengan hal-hal yang masuk dalam konteks ijtihad dan istinbath dari al-Qur’an dan Sunnah dalam hukum-hukum yang tidak mereka temukan nash-nya.
2. Mengikuti Teks Mutasyabihat (dengan makna dzahir atau makna literal)
Seperti yang diingatkan dalam firman Allah subhanahu wa ta’ala: “Adapun orang-orang yang dalam hatinya condong kepada kesesatan, maka mereka mengikuti ayat-ayat mutasyabihat untuk menimbulkan fitnah untuk mencari-cari ta’wilnya”. (QS. 3 : 7). Ayat ini menegaskan bahwa orang-orang sesat selalu mengikuti ayat-ayat mutasyabihat dalam al-Qur’an. Mereka suka mengikuti teks yang mutasyabih, bukan yang muhkam.
Menurut Asy-Syathibi, yang dimaksud mutasyabih di sini adalah teks yang samar maknanya dan belum dijelaskan maksudnya. Menurutnya, mutasyabih itu ada dua; (1) mutasyabih haqiqi seperti lafal-lafal yang mujmal (global) dan ayat-ayat yang secara literal menunjukkan keserupaan Allah subhanahu wa ta’ala dengan makhluk. Dan (2) mutasyabih relatif (idhafi), yaitu ayat yang membutuhkan dalil eksternal untuk menjelaskan makna yang sebenarnya, meskipun secara sepintas, teks tersebut memiliki kejelasan makna
3. Mengikuti Hawa Nafsu
Sebagaimana diingatkan oleh firman Allah subhanahu wa ta’ala, “Adapun orang-orang yang dalam hatinya condong pada kesesatan (zaigh)”, (QS. 3 : 3). Kesesatan (zaigh) adalah lari dari kebenaran karena mengikuti hawa nafsu. Dalam ayat lain, “Dan siapakah yang lebih sesat dari pada orang yang mengikuti hawa nafsunya dengan tidak mendapat petunjuk dari Allah sedikitpun.” (QS. 28 : 50).
Asy-Syathibi dalam kitabnya al-I’tisham membuat sebuah pertanyaan yang dijawabnya sendiri, mengapa seseorang itu mengikuti hawa nafsu dan kemudian pendapat-pendapatnya menjelma dalam bentuk sebuah aliran sesat? Hal tersebut ada kaitanya dengan latar belakang lahirnya aliran-aliran sesat, yang sebagian besar berangkat dari ketidaktahuan terhadap Sunnah. Hal ini seperti diingatkan oleh sebuah hadits shahih, “Manusia menjadikan orang-orang bodoh sebagai pemimpin”.
Menurut Asy-Syathibi, setiap orang itu mengetahui terhadap dirinya apakah ilmunya sampai pada derajat menjadi mufti atau tidak. Ia juga mengetahui apabila melakukan introspeksi diri ketika ditanya tentang sesuatu, apakah ia berpendapat dengan ilmu pengetahuan yang terang tanpa kekaburan atau bahkan sebaliknya. Ia juga mengetahui ketika dirinya meragukan ilmu yang dimilikinya. Oleh karena itu, menurut Asy-Syathibi, seorang alim apabila keilmuannya belum diakui oleh para ulama, maka kealimannya dianggap tidak ada, sampai akhirnya para ulama menyaksikan kealimannya.
Dalam bedah buku yang dilakukan oleh penulis buku Abu Muhammad Waskito yang dapat kita ketahui pada video http://www.youtube.com/watch?v=cwyGXXoBq10 dan http://www.youtube.com/watch?v=r4MXptD3KUY mengakui bahwa mayoritas kaum muslim di Indonesia sejak dahulu kala dikenal sebagai Asy’ariah adalah Ahlus Sunnah wal Jama’ah dan baru kemudian datang ulama Muhammad bin Abdul Wahhab dengan pengikutnya yang membawa paham baru sebagaimana yang telah dijelaskan dalam tulisan pada http://mutiarazuhud.wordpress.com/2013/01/08/membawa-paham-baru/
Disisi lain Ustadz Yazid Jawaz dalam buku dengan judul “Mulia dengan manhaj salaf” menyebutkan firqoh-firqoh sesat dan menyesatkan. Yang nomor delapan disebutkan Asy’ariah. Yang nomor sembilan disebut Maturidiyah. Kemudian yang nomor empat belas atau yang nomor tiga belas Shufiyah, ahli tasawuf. Yang nomor empat belas Jama’ah Tabligh. Yang nomor lima belas Ikhwanul Muslimin. Yang nomor tujuh belas Hizbut Tahrir. Kabar ini disampaikan oleh Habib Muhammad Rizieq Shihab dalam video pada http://www.youtube.com/watch?v=hlCdzVo8Ueo dan http://www.youtube.com/watch?v=DZdjU2H6hpA Kutipan transkript video tersebut ada dalam tulisan pada http://mutiarazuhud.wordpress.com/2012/03/15/tanggapan-wahabi-syiah/
Begitupula Hartono Ahmad Jaiz dalam situsnya http://nahimunkar.com/18435/di-balik-lontaran-bombastis-habib-rs/ menyebarluaskan tuduhan bahwa Habib Muhammad Rizieq Shihab cenderung syiah Kemudian dibantah oleh Habib Muhammad Rizieq Shihab dalam video pada http://www.youtube.com/watch?v=Ey6tWnylKyA
Begitupula eramuslim.com dan Hartono Ahmad Jaiz dalam situsnya http://nahimunkar.com/11053/husen-alatas-rasil-am720-mengusung-syiah/ menyebarluaskan tuduhan bahwa Radio Silaturahim AM720 Pro Syi’ah. Kemudian dibantah oleh Geisz Chalifah Manager Humas Radio Silaturahim (RASIL AM 720.) sebagaimana contoh yang dimuat pada http://tanduksetan.wordpress.com/2012/07/01/wahabi-fitnah-radio-rasil-ustad-husin-alattas/
Jadi kesimpulannya Ukhuwah Islamiyah telah dicederai oleh perseteruan abadi diantara firqoh (sekte) Wahabi (Salafi) dengan firqoh (sekte) Syiah yang berimbas kepada mayoritas kaum muslim yang mengikuti Imam Mazhab yang empat.
Contohnya penulis buku Abu Muhammad Waskito dengan bukunya “Mendamaikan Ahlus Sunnah di Nusantara” tampaknya mengajak mayoritas kaum muslim yang mengikuti Imam Mazhab yang empat untuk membenci kaum syiah secara membabi buta dengan menganggap mereka semua adalah Rafidhah sebagaimana kutipan yang dimuat pada
Habib Muhammad Rizieq Shihab dalam dalam ceramah yang bertemakan “Hari Asyura dan Tragedi Karbala Dalam Perspektif Ahlusunnah wal Jama’ah” disiarkan Live oleh Radio Rasil AM 720 Khz mengatakan, “Saat ini ada segelintir kelompok yang sengaja menciptakan kondisi di mana setiap ada diantara ummat Islam yang membicarakan tentang Sayyidina Ali,Sayyidah Fatimah,Sayyidina Hasan dan Sayyidina Husein sebagai Tokoh-tokoh Ahlul Bait Nabi Muhammad shallallahu alaihi wasallam maka akan langsung di vonis sebagai Syiah sehingga diharapkan ummat akan takut atau minder membicarakan tentang Ahlul Bait Nabi shallallahu alaihi wasallam karena khawatir dicap sebagai Syiah.”
Habib Rizieq mendorong semua pihak khususnya para ulama untuk tidak ragu ragu membuka kepada ummat sejarah Perjuangan Al Husein sepahit apapun lembaran sejarahnya. Habib menegaskan bahwa Ahlul Bait Nabi shallallahu alaihi wasallam bukan hanya milik Syiah saja tetapi milik semua Ummat Islam, apapun madzhabnya, Ahlusunnah wal Jama’ah maupun Syiah.
Al Husein bin Ali bukan hanya menolak “Kekhilafahan” Yazid bin Muawiyah bahkan sebelumnya Al Husein juga telah menolak “Kekhilafahan” Ayah Yazid yaitu Muawiyah bin Abi Sufyan.
Adapun alasan Al Husein menolak Yazid menjadi pemimpin ummat Islam adalah :
- Khilafah harus ditentukan melalui Syuro sesuai kesepakatan antara Hasan bin Ali dengan Muawiyah bin Abi Sufyan.
- Yazid adalah orang yang moralnya buruk sehingga tidak berhak menjadi Pemimpin Ummat Islam.
- Yazid adalah seorang yang Fasik, Zalim dan banyak melakukan maksiat sehingga sangat tidak pantas memimpin ummat Rasulullah shallallahu alaihi wasallam. Dalam berbagai riwayat kita temukan bahwa Yazid adalah seorang Pemuda yang gemar berjudi, akrab dengan Khamr (minuman keras) dan senang bermain perempuan (zina) . Dalam hal ini, para Ulama telah sepakat akan kefasikan Yazid bin Muawiyah.
- Khilafah bukan harta warisan. Masih banyak Sahabat lain yang lebih layak untuk memimpin.
Ceramah selengkapnya dapat didengar pada http://radiosilaturahim.com/habib-riziek-shihab-asyura-karbala/
Dari ceramah tersebut dapat kita ketahui bahwa salaf pun tidak semuanya sholeh. Kalaiu ada yang mengkritisi Yazid bin Muawiyah maka ada yang mengatakannya sebagai mencela Salafush Sholeh.
Mereka menyalahgunakan hadits seperti Dari Abu Sa’id Al Khudriy Radhiyallahu’anhu beliau berkata: Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam telah bersabda: ‘Janganlah kalian mencela para sahabatku. Seandainya salah seorang dari kalian berinfaq emas seperti gunung uhud tidak akan menyamai satu mud (infaq) salah seorang dari mereka dan tidak pula setengahnya“. (HR. Bukhari dan Muslim dan Lainnya)
Asbabul Wurud:
Ucapan ini ditujukan kepada sahabat Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam dengan dalil sebab adanya hadits ini adalah kisah yang disebutkan dalam hadits ini, yaitu perkataan Abu Sa’id :
كَانَ بَيْنَ خَالِدِ بْنِ الْوَلِيدِ وَبَيْنَ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ عَوْفٍ شَيْءٌ فَسَبَّهُ خَالِدٌ
Antara Khalid bin Al Walid dan Abdurrahman bin ‘Auf terjadi perseteruan, lalu Khalid mencelanya.
Lalu peristiwa ini sampai kepada Rasulullah dan beliaupun berkata dengan hadits di atas.
Dengan demikian jelaslah kedudukan Khalid tidak sama dengan kedudukan Abdurrahman bin ‘Auf, karena Abdurrahman termasuk sahabat-sahabat yang masuk Islam di awal dakwah Rasulullah atau as-sabiqun al-awwalun sedangkan Khalid bin Walid masuk Islam belakangan setelah penaklukan kota Makkah. Namun para Sahabat jika mereka melakukan kesalahan akan dikoreksi oleh Rasulullah.
Jadi dari asbabul wurud hadits tersebut dapat diketahui terbatas pada as-sabiqun al-awwalun atau mereka yang termasuk 10 paling awal bersyahadat/bersaksi yakni, Abu Bakar Ash Shidiq ra, Umar bin Khattab ra, Ustman bin Affan ra, Ali bin Abi Thalib ra, Thalhah bin Abdullah ra, Zubeir bin Awwam ra, Sa’ad bin Abi Waqqas ra, Sa’id bin Zaid ra, ‘Abdurrahman bin ‘Auf ra dan Abu ‘Ubaidah bin Jarrah ra. Mereka yang dijamin oleh Allah ta’ala sebagaimana firmanNya yang artinya “Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) dari golongan muhajirin dan anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan merekapun ridha kepada Allah dan Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya selama-lamanya. Mereka kekal di dalamnya. Itulah kemenangan yang besar”. (QS At Taubah [9]:100 )
Sedangkan selain as-sabiqun al-awwalun , sebagaimana kaum muslim pada umumnya tergantung ketaqwaannya kepada Allah ta’ala yang ditunjukkan dengan akhlakul karimah
Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda “Sesungguhnya aku diutus (Allah) untuk menyempurnakan Akhlak.” (HR Ahmad)
Firman Allah ta’ala yang artinya,
“Sungguh dalam dirimu terdapat akhlak yang mulia”. (QS Al-Qalam:4)
“Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri tauladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan Dia banyak menyebut Allah”. (QS Al-Ahzab:21)
Tanda muslim dekat dengan Allah adalah muslim yang berakhlakul karimah, muslim yang sholeh.
Firman Allah ta’ala yang artinya,
”…Sekiranya kalau bukan karena karunia Allah dan rahmat-Nya, niscaya tidak ada seorangpun dari kamu yang bersih (dari perbuatan keji dan mungkar) selama-lamanya, tetapi Allah membersihkan siapa saja yang dikehendaki…” (QS An-Nuur:21)
“Sesungguhnya Kami telah mensucikan mereka dengan (menganugerahkan kepada mereka) akhlak yang tinggi yaitu selalu mengingatkan (manusia) kepada negeri akhirat. Dan sesungguhnya mereka pada sisi Kami benar-benar termasuk orang-orang pilihan yang paling baik.” (QS Shaad [38]:46-47)
“Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling taqwa di antara kamu” (QS Al Hujuraat [49]:13)
“Tunjukilah kami jalan yang lurus , (yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau beri ni’mat kepada mereka” (QS Al Fatihah [1]:6-7)
“Dan barangsiapa yang menta’ati Allah dan Rasul(Nya), mereka itu akan bersama-sama dengan orang-orang yang dianugerahi ni’mat oleh Allah, yaitu : Nabi-nabi, para shiddiiqiin, orang-orang yang mati syahid, dan orang-orang sholeh. Dan mereka itulah teman yang sebaik-baiknya .” (QS An Nisaa [4]: 69)
Muslim yang terbaik bukan nabi yang mendekatkan diri (taqarub) kepada Allah sehingga meraih maqom (derajat) disisiNya dan menjadi kekasih Allah (wali Allah) adalah shiddiqin, muslim yang membenarkan dan menyaksikan Allah dengan hatinya (ain bashiroh) atau muslim yang bermakrifat. Bermacam-macam tingkatan shiddiqin sebagaimana yang diuraikan dalam tulisan pada http://mutiarazuhud.wordpress.com/2011/01/14/2011/09/28/maqom-wali-allah
Muslim yang dekat dengan Allah sehingga menjadi kekasih Allah (Wali Allah) dirindukan oleh para Nabi dan Syuhada
Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda “sesungguhnya ada di antara hamba Allah (manusia) yang mereka itu bukanlah para Nabi dan bukan pula para Syuhada’. Mereka dirindukan oleh para Nabi dan Syuhada’ pada hari kiamat karena kedudukan (pangkat) mereka di sisi Allah Subhanahu wa Ta’ala“ Seorang dari sahabatnya berkata, “siapa gerangan mereka itu wahai Rasulullah? Semoga kita dapat mencintai mereka“. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam menjawab dengan sabdanya: “Mereka adalah suatu kaum yang saling berkasih sayang dengan anugerah Allah bukan karena ada hubungan kekeluargaan dan bukan karena harta benda, wajah-wajah mereka memancarkan cahaya dan mereka berdiri di atas mimbar-mimbar dari cahaya. Tiada mereka merasa takut seperti manusia merasakannya dan tiada mereka berduka cita apabila para manusia berduka cita”. (HR. an Nasai dan Ibnu Hibban dalam kitab shahihnya)
Hadits senada, dari ‘Umar bin Khathab ra bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda, “Sesungguhnya diantara hamba-hambaku itu ada manusia manusia yang bukan termasuk golongan para Nabi, bukan pula syuhada tetapi pada hari kiamat Allah ‘Azza wa Jalla menempatkan maqam mereka itu adalah maqam para Nabi dan syuhada.” Seorang laki-laki bertanya : “siapa mereka itu dan apa amalan mereka?”mudah-mudahan kami menyukainya“. Nabi bersabda: “yaitu Kaum yang saling menyayangi karena Allah ‘Azza wa Jalla walaupun mereka tidak bertalian darah, dan mereka itu saling menyayangi bukan karena hartanya, dan demi Allah sungguh wajah mereka itu bercahaya, dan sungguh tempat mereka itu dari cahaya, dan mereka itu tidak takut seperti yang ditakuti manusia, dan tidak susah seperti yang disusahkan manusia,” kemudian beliau membaca ayat : ” Ingatlah, sesungguhnya wali-wali Allah itu, tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati”. (QS Yunus [10]:62)
Wassalam
Zon di Jonggol, Kabupaten Bogor 16830
