<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>Mutiara Zuhud - Letakkan dunia pada tanganmu dan akhirat pada hatimu</title>
	<atom:link href="http://mutiarazuhud.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://mutiarazuhud.wordpress.com</link>
	<description>Kami sampaikan tanpa cinta dunia</description>
	<lastBuildDate>Tue, 31 Jan 2012 12:38:44 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='mutiarazuhud.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://s2.wp.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>Mutiara Zuhud - Letakkan dunia pada tanganmu dan akhirat pada hatimu</title>
		<link>http://mutiarazuhud.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://mutiarazuhud.wordpress.com/osd.xml" title="Mutiara Zuhud - Letakkan dunia pada tanganmu dan akhirat pada hatimu" />
	<atom:link rel='hub' href='http://mutiarazuhud.wordpress.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>Bertasyabuh kaum nasrani</title>
		<link>http://mutiarazuhud.wordpress.com/2012/01/30/bertasyabuh-kaum-nasrani/</link>
		<comments>http://mutiarazuhud.wordpress.com/2012/01/30/bertasyabuh-kaum-nasrani/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 30 Jan 2012 08:02:29 +0000</pubDate>
		<dc:creator>mutiarazuhud</dc:creator>
				<category><![CDATA[Islam]]></category>
		<category><![CDATA[Umum]]></category>
		<category><![CDATA[berdosa]]></category>
		<category><![CDATA[Bertasyabuh]]></category>
		<category><![CDATA[dikerjakan]]></category>
		<category><![CDATA[kaum]]></category>
		<category><![CDATA[larangan]]></category>
		<category><![CDATA[menetapkan]]></category>
		<category><![CDATA[menjadikan]]></category>
		<category><![CDATA[Nasrani]]></category>
		<category><![CDATA[pedoman]]></category>
		<category><![CDATA[sebagai]]></category>
		<category><![CDATA[sikap]]></category>
		<category><![CDATA[Tuhan]]></category>
		<category><![CDATA[ULAMA]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://mutiarazuhud.wordpress.com/?p=4684</guid>
		<description><![CDATA[Mereka bertasyabuh dengan kaum nasrani &#160; Dalam tulisan sebelumnya pada http://mutiarazuhud.wordpress.com/2012/01/27/perkataan-menyesatkan/  telah disampaikan bahwa karena perkataan bid’ah yang menyesatkan yakni “LAU KAANA KHOIRON LASABAQUNA ILAIHI” ,  “Seandainya hal itu baik, tentu mereka, para sahabat akan mendahului kita dalam melakukannya” sehingga mereka ragu mana yang merupakan amal kebaikan mana yang amal keburukan. Bahkan ada yang ikut-ikutan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=mutiarazuhud.wordpress.com&amp;blog=7078984&amp;post=4684&amp;subd=mutiarazuhud&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Mereka bertasyabuh dengan kaum nasrani</strong></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Dalam tulisan sebelumnya pada <a href="http://mutiarazuhud.wordpress.com/2012/01/27/perkataan-menyesatkan/">http://mutiarazuhud.wordpress.com/2012/01/27/perkataan-menyesatkan/</a>  telah disampaikan bahwa karena perkataan bid’ah yang menyesatkan yakni “<em>LAU KAANA KHOIRON LASABAQUNA ILAIHI</em>” ,  “<em>Seandainya hal itu baik, tentu mereka, para sahabat akan mendahului kita dalam melakukannya</em>” sehingga mereka ragu mana yang merupakan amal kebaikan mana yang amal keburukan. Bahkan ada yang ikut-ikutan bahwa “baik itu relatif tergantung sudut pandang manusia atau kesepakatan antar manusia”</p>
<p>Landasan atau pegangan kita untuk melakukan perbuatan diluar apa yang telah diwajibkan oleh Allah Azza wa Jalla, diluar perkara wajib dikerjakan dan wajib dijauhi dan tidak pernah dilakukan atau dicontohkan oleh Rasulullah shallallahu alaihi wasallam maupun oleh para Sahabat radliallahu ‘anhu adalah ,</p>
<p><em>Sikap atau perbuatan yang baik adalah jika sikap atau perbuatan tersebut  tidak bertentangan dengan Al Qur’an dan As Sunnah</em></p>
<p><em>Sikap atau perbuatan yang buruk adalah jika sikap atau perbuatan tersebut bertentangan dengan Al Qur’an dan As Sunnah</em></p>
<p>قاَلَ الشّاَفِعِي رَضِيَ اللهُ عَنْهُ -ماَ أَحْدَثَ وَخاَلَفَ كِتاَباً أَوْ سُنَّةً أَوْ إِجْمَاعاً أَوْ أَثَرًا فَهُوَ البِدْعَةُ الضاَلَةُ ، وَماَ أَحْدَثَ مِنَ الخَيْرِ وَلَمْ يُخاَلِفُ شَيْئاً مِنْ ذَلِكَ فَهُوَ البِدْعَةُ المَحْمُوْدَةُ -(حاشية إعانة 313 ص 1الطالبين -ج )</p>
<p>Artinya ;</p>
<p>Imam Syafi’i ra berkata –Segala hal yang baru (tidak terdapat di masa Rasulullah) dan menyalahi pedoman Al-Qur’an, Al-Hadits, Ijma’ (sepakat Ulama) dan Atsar (Pernyataan sahabat) adalah bid’ah yang sesat (bid’ah dholalah). Dan segala kebaikan yang baru (tidak terdapat di masa Rasulullah) dan tidak menyelahi pedoman tersebut maka ia adalah bid’ah yang terpuji  (bid’ah mahmudah atau bid’ah hasanah), bernilai pahala. (Hasyiah Ianathuth-Thalibin –Juz 1 hal. 313)</p>
<p>Cara lain untuk mengetahui suatu perbuatan adalah kebaikan atau keburukan dengan mengembalikannya kepada hati atau akal qalbu (raja atau hakim atau penguasa dari akal pikiran).</p>
<p>Wabishah bin Ma’bad r.a. berkata: Saya datang kepada Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, beliau bersabda, “Apakah engkau datang untuk bertanya tentang kebaikan?” Saya menjawab, “Benar.”Beliau bersabda, “Mintalah fatwa kepada hatimu sendiri. Kebaikan adalah apa-apa yang menenteramkan jiwa dan hati, sedangkan dosa adalah apa-apa yang mengusik jiwa dan meragukan hati, meskipun orang-orang memberi fatwa yang membenarkanmu.”   hadits diriwayatkan oleh Imam Ahmad bin Hambal dan Imam Ad-Darami dengan sanad hasan</p>
<p>Nawas bin Sam’an r.a. meriwayatkan dari Nabi shallallahu alaihi wasallam., beliau bersabda, “Kebaikan adalah akhlak yang baik, sedangkan dosa adalah segala hal yang mengusik jiwamu dan engkau tidak suka jika orang lain melihatnya.” (Diriwayatkan oleh Imam Muslim).</p>
<p>Permasalahan manusia tidak lagi dapat menggunakan hati atau akal qalbu mereka untuk menentukan mana yang baik dan mana yang buruk adalah karena dosa</p>
<p>Setiap dosa merupakan bintik hitam hati (ketiadaan cahaya), sedangkan setiap kebaikan adalah bintik cahaya pada hati Ketika bintik hitam memenuhi hati sehingga terhalang (terhijab) untuk menentukan mana yang baik dan mana yang buruk. Inilah yang dinamakan buta mata hati.</p>
<p>Allah ta’ala berfirman yang artinya,<br />
“<em>Dan barangsiapa yang buta (hatinya) di dunia ini, niscaya di akhirat (nanti) ia akan lebih buta (pula) dan lebih tersesat dari jalan (yang benar).</em>” (QS Al Isra 17 : 72)</p>
<p>“<em>maka apakah mereka tidak berjalan di muka bumi, lalu mereka mempunyai hati yang dengan itu mereka dapat memahami atau mempunyai telinga yang dengan itu mereka dapat mendengar. Karena sesungguhnya bukanlah mata itu yang buta, tetapi yang buta, ialah hati yang di dalam dada</em>” (QS Al Hajj [22]:46 )</p>
<p>Mereka yang berpendapat bahwa peringatan Maulid Nabi adalah perbuatan dosa karena termasuk bid’ah yang menyesatkan (bid’ah dholalah) dan setiap kesesatan akan bertempat di neraka menyampaikan pendapat mereka yang lain seperti,</p>
<p>“<em>Kalau orang Nasrani memperingati hari kelahirannya Nabi Isa bin Maryam, maka sebagian orang Islam juga ikut-ikutan memperingati hari kelahirannya nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>”.</p>
<p>Intinya mereka berpendapat bahwa peringatan Maulid Nabi adalah salah satu bentuk bertasyabuh dengan kaum Nasrani atau menyerupai perbuatan kaum Nasrani. Bagi mereka kaum muslim  yang memperingati Maulid Nabi termasuk mereka yang terhasut oleh kaum Zionis Yahudi atau mengekor pada kaum Zionis Yahudi.</p>
<p>Bertasyabuh yang terlarang adalah bertasyabuh perbuatan yang bertentangan dengan Al Qur’an dan As Sunnah atau bertasyabuh perbuatan yang akan mengantar kepada perbuatan yang bertentangan dengan Al Qur’an dan As Sunnah.</p>
<p>Bukanlah sebuah kesalahan bagi kaum Nasrani memperingati hari kelahirannya Nabi Isa bin Maryam. Kesalahan mereka adalah menjadikan Yesus , yang diyakini oleh mereka Nabi Isa bin Maryam menjadi putera Tuhan.</p>
<p>Firman Allah ta’ala yang artinya,<br />
“<em>Maka berimanlah kamu kepada Allah dan rasul-rasul-Nya dan janganlah kamu mengatakan : “(Tuhan itu) tiga”, berhentilah (dari ucapan itu). (Itu) lebih baik bagimu. Sesungguhnya Allah Tuhan Yang Maha Esa, Maha Suci Allah dari mempunyai anak, segala yang di langit dan di bumi adalah kepunyaan-Nya. Cukuplah Allah menjadi Pemelihara</em>“. ( QS An Nisaa [4]:171 )</p>
<p>“<em>Orang-orang Yahudi berkata: “Uzair itu putera Allah” dan orang-orang Nasrani berkata: “Al Masih itu putera Allah”. Demikianlah itu ucapan mereka dengan mulut mereka, mereka meniru perkataan orang-orang kafir yang terdahulu. Dilaknati Allah mereka , bagaimana mereka sampai berpaling?</em>” (QS At Taubah [9]:30 )</p>
<p>Hukum asal perbuatan diluar perkara syariat atau diluar dari apa yang telah diwajibkanNya (wajib dijalankan dan wajib dijauhi) adalah mubah sampai ada dalil yang melarangnya</p>
<p>Tidak ada larangan dalam Al Qur’an dan As Sunnah untuk memperingati hari kelahiran seorang manusia.</p>
<p>Kita boleh memperingati atau mengingat masa lampau untuk bekal hari esok.  Bahkan hal ini adalah anjuran dari Allah Azza wa Jalla, sebagaimana firmanNya,  “Wal tandhur nafsun ma qaddamat li ghad” “<em>Perhatikan masa lampaumu untuk hari esokmu</em>” (QS al Hasyr [59] : 18 )</p>
<p>Kita mengingat kelahiran kita dan kejadian-kejadian di waktu lampau untuk bekal kita mengisi biodata, riwayat hidup. Kita mengingat apa yang telah disampaikan orang tua, ulama kita dahulu untuk bekal menjalankan kehidupan kita hari ini dan esok.  Kita memperingati Maulid Nabi dan perjalanan hidupnya sebagai bekal kita meneladani dan mengimplementasikannya dalam kehidupan kita hari ini dan esok.</p>
<p>Mereka yang mengikuti pendapat ulama-ulama mereka bahwa peringatan Maulid Nabi adalah berdosa adalah mereka yang mengada-ada dalam perkara agama atau membuat perkara baru (bid’ah) dalam perkara syariat yakni perkara larangan yang jika dikerjakan / dilanggar akan berdosa.</p>
<p>Perkara agama atau perkara syariat termasuk perkara larangan bersumber hanya dari Allah ta&#8217;ala.</p>
<p>Dari Ibnu ‘Abbas r.a. berkata Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda, “<em>di dalam agama itu tidak ada pemahaman berdasarkan akal pikiran, sesungguhnya agama itu dari Tuhan, perintah-Nya dan larangan-Nya.</em>” (Hadits riwayat Ath-Thabarani)</p>
<p>Perkara larangan adalah hak Allah ta’ala menetapkannya dan Allah ta’ala tidak lupa.</p>
<p>Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda, “<em>Sesungguhnya Allah telah mewajibkan beberapa kewajiban (ditinggalkan berdosa), maka jangan kamu sia-siakan dia; dan Allah telah memberikan beberapa larangan (dikerjakan berdosa)), maka jangan kamu langgar dia; dan Allah telah mengharamkan sesuatu (dikerjakan berdosa), maka jangan kamu pertengkarkan dia; dan Allah telah mendiamkan beberapa hal sebagai tanda kasihnya kepada kamu, Dia tidak lupa, maka jangan kamu perbincangkan dia.</em>” (Riwayat Daraquthni, dihasankan oleh an-Nawawi)</p>
<p>Urusan agama atau perkara syariat atau perkara yang diwajibkanNya termasuk perkara larangan telah sempurna atau telah disampaikan seluruhnya oleh Rasulullah.</p>
<p>Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda, “Tidak tertinggal sedikitpun yang mendekatkan kamu dari surga dan menjauhkanmu dari neraka melainkan telah dijelaskan bagimu ” (HR Ath Thabraani dalam Al Mu’jamul Kabiir no. 1647)<br />
“mendekatkan dari surga” = perkara kewajiban (ditinggalkan berdosa)<br />
“menjauhkan dari neraka” = perkara larangan dan perkara pengharaman (dikerjakan berdosa)</p>
<p>Kalau ada larangan yang tidak pernah disampaikan oleh Rasulullah maka ini termasuk bid’ah dholalah</p>
<p>Kesimpulannya,  mereka dengan mengikuti pendapat atau fatwa ulama-ulama mereka bahwa peringatan Maulid Nabi adalah berdosa justru telah bertasyabuh dengan kaum Nasrani yakni menjadikan ulama-ulama mereka sebagai tuhan selain Allah.</p>
<p>Allah Azza wa Jalla berfirman,  “<em>Mereka menjadikan para rahib dan pendeta mereka sebagai tuhan-tuhan selain Allah</em>“. (QS at-Taubah [9]:31 )</p>
<p>Ketika Nabi ditanya terkait dengan ayat ini, “<em>apakah mereka menyembah para rahib dan pendeta sehingga dikatakan menjadikan mereka sebagai tuhan-tuhan selain Allah</em>?”</p>
<p>Nabi menjawab, “<em>tidak</em>”,  “<em>Mereka tidak menyembah para rahib dan pendeta itu, tetapi jika para rahib dan pendeta itu menghalalkan sesuatu bagi mereka, mereka menganggapnya halal, dan jika para rahib dan pendeta itu mengharamkan bagi mereka sesuatu, mereka mengharamkannya</em>“</p>
<p>Pada riwayat yang lain disebutkan, Rasulullah bersabda ”<em>mereka (para rahib dan pendeta) itu telah menetapkan haram terhadap sesuatu yang halal, dan menghalalkan sesuatu yang haram, kemudian mereka mengikutinya. Yang demikian itulah penyembahannya kepada mereka.</em>” (Riwayat Tarmizi)</p>
<p>Firman Allah Azza wa Jalla yang artinya,<br />
“<em>Katakanlah! Siapakah yang berani mengharamkan perhiasan Allah yang telah diberikan kepada hamba-hambaNya dan beberapa rezeki yang baik itu? Katakanlah! Tuhanku hanya mengharamkan hal-hal yang tidak baik yang timbul daripadanya dan apa yang tersembunyi dan dosa dan durhaka yang tidak benar dan kamu menyekutukan Allah dengan sesuatu yang Allah tidak turunkan keterangan padanya dan kamu mengatakan atas (nama) Allah dengan sesuatu yang kamu tidak mengetahui.</em>” (QS al-A’raf: 32-33)</p>
<p>“<em>Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu haramkan apa-apa yang baik yang telah Allah halalkan bagi kamu dan janganlah kamu melampaui batas, sesungguhnya Allah tidak menyukai orang yang melampaui batas.</em>” (Qs. al-Mâ’idah [5]: 87).</p>
<p>“<em>Dan janganlah kamu mengatakan terhadap apa yang disebut-sebut oleh lidahmu secara dusta “Ini halal dan ini haram”, untuk mengada-adakan kebohongan terhadap Allah. Sesungguhnya orang-orang yang mengada-adakan kebohongan terhadap Allah tiadalah beruntung</em>” [QS. An-Nahl : 116].</p>
<p>Dalam hadits Qudsi , Rasulullah bersabda: “<em>Aku ciptakan hamba-hambaKu ini dengan sikap yang lurus, tetapi kemudian datanglah syaitan kepada mereka. Syaitan ini kemudian membelokkan mereka dari agamanya, dan mengharamkan atas mereka sesuatu yang Aku halalkan kepada mereka, serta mempengaruhi supaya mereka mau menyekutukan Aku dengan sesuatu yang Aku tidak turunkan keterangan padanya.</em>” (Riwayat Muslim).</p>
<p>Mereka bertasyabuh dengan kaum nasrani karena mereka terhasut atau korban ghawul fikri (perang pemahaman) dari kaum Zionis Yahudi untuk memahami Al Qur’an dan As Sunnah dengan akal pikiran sendiri sehingga menimbulkan perselisihan di antara kaum muslim</p>
<p>Salah satu penghasutnya adalah perwira Yahudi Inggris bernama Edward Terrence Lawrence yang dikenal oleh ulama jazirah Arab sebagai Laurens Of Arabian. Laurens menyelidiki dimana letak kekuatan umat Islam dan berkesimpulan bahwa kekuatan umat Islam terletak kepada ketaatan dengan mazhab (bermazhab) dan istiqomah mengikuti tharikat-tharikat tasawuf. Laurens mengupah ulama-ulama yang anti tharikat dan anti mazhab untuk menulis buku buku yang menyerang tharikat dan mazhab. Buku tersebut diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa dan dibiayai oleh pihak orientalis.</p>
<p>Mereka yang terhasut meninggalkan pemahaman atau pendapat Imam Mazhab yang empat yang telah disepakati oleh jumhur ulama sejak dahulu sampai sekarang sebagai pemimpin atau imam ijtihad kaum muslim (Imam Mujtahid Mutlak)</p>
<p>Imam Mazhab yang empat bertalaqqi (mengaji) langsung dengan Salafush Sholeh.<br />
Imam Mazhab yang empat mengetahui dan mengikuti pemahaman Salafush Sholeh melalui lisannya Salafush Sholeh.<br />
Imam Mazhab yang empat melihat sendiri penerapan, perbuatan serta contoh nyata dari Salafush Sholeh.</p>
<p>Mereka yang terhasut merasa telah mengikuti pemahaman Salafush Sholeh namun kenyataannya mereka tidak lebih dari mengikuti pemahaman ulama-ulama yang mengaku-aku mengikuti pemahaman Salafush Sholeh namun tidak bertalaqqi (mengaji) dengan Salafush Sholeh. Dari mana ulama-ulama tersebut mendapatkan pemahaman Salafush Sholeh kalau bukan pemahaman ulama-ulama tersebut dengan akal pikiran mereka sendiri.</p>
<p>Marilah kita kembali mengikuti pemahaman Salafush Sholeh melalui apa yang disampaikan oleh Imam Mazhab yang empat dan mengikuti penjelasan-penjelasan yang disampaikan oleh para ulama-ulama terdahulu yang mengikuti Imam Mazhab yang empat sambil kita merujuk darimana mereka mengambilnya yakni Al Qur’an dan As Sunnah dengan menggunakan akal qalbu (akal pikiran yang ditundukkan kepada akal qalbu) berdasarkan karunia hikmah dari Allah Azza wa Jalla</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Wassalam</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Zon di Jonggol, Kab Bogor 16830</p>
<br />Filed under: <a href='http://mutiarazuhud.wordpress.com/category/islam/'>Islam</a>, <a href='http://mutiarazuhud.wordpress.com/category/umum/'>Umum</a>  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/mutiarazuhud.wordpress.com/4684/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/mutiarazuhud.wordpress.com/4684/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/mutiarazuhud.wordpress.com/4684/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/mutiarazuhud.wordpress.com/4684/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/mutiarazuhud.wordpress.com/4684/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/mutiarazuhud.wordpress.com/4684/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/mutiarazuhud.wordpress.com/4684/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/mutiarazuhud.wordpress.com/4684/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/mutiarazuhud.wordpress.com/4684/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/mutiarazuhud.wordpress.com/4684/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/mutiarazuhud.wordpress.com/4684/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/mutiarazuhud.wordpress.com/4684/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/mutiarazuhud.wordpress.com/4684/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/mutiarazuhud.wordpress.com/4684/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=mutiarazuhud.wordpress.com&amp;blog=7078984&amp;post=4684&amp;subd=mutiarazuhud&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://mutiarazuhud.wordpress.com/2012/01/30/bertasyabuh-kaum-nasrani/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/da9e7464e9e3c4447f52e554f6476dfa?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">mutiarazuhud</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Sandal dan Sabar</title>
		<link>http://mutiarazuhud.wordpress.com/2012/01/30/sandal-dan-sabar/</link>
		<comments>http://mutiarazuhud.wordpress.com/2012/01/30/sandal-dan-sabar/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 30 Jan 2012 07:57:19 +0000</pubDate>
		<dc:creator>mutiarazuhud</dc:creator>
				<category><![CDATA[Islam]]></category>
		<category><![CDATA[Umum]]></category>
		<category><![CDATA[Akhlak]]></category>
		<category><![CDATA[belajar]]></category>
		<category><![CDATA[guru]]></category>
		<category><![CDATA[Ilmu]]></category>
		<category><![CDATA[kurikulum]]></category>
		<category><![CDATA[mendidik anak]]></category>
		<category><![CDATA[pembiasaan]]></category>
		<category><![CDATA[Pendidikan]]></category>
		<category><![CDATA[Tasawuf]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://mutiarazuhud.wordpress.com/?p=4682</guid>
		<description><![CDATA[Akhlak itu pembiasaan &#160; Berikut tulisan berdasarkan apa yang disampaikan oleh Ahmad Shodiq, MA-Dosen Akhlak &#38; Tasawuf, UIN Syarif Hidayatullah Jakarta dalam sebuah wawancara dengan majalah Cahaya Sufi yang dimuat dalam edisi Oktober 2007 berikut kutipannya ****** awal kutipan ***** Pendidikan kita itu lucu. Kalau saya analisis kurikulum madrasah ibtidaiyyah (mata pelajaran aqidah akhlak), setelah [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=mutiarazuhud.wordpress.com&amp;blog=7078984&amp;post=4682&amp;subd=mutiarazuhud&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Akhlak itu pembiasaan </strong></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Berikut tulisan berdasarkan apa yang disampaikan oleh Ahmad Shodiq, MA-Dosen Akhlak &amp; Tasawuf, UIN Syarif Hidayatullah Jakarta dalam sebuah wawancara dengan majalah Cahaya Sufi yang dimuat dalam edisi Oktober 2007 berikut kutipannya</p>
<blockquote><p>****** awal kutipan *****</p>
<p>Pendidikan kita itu lucu. Kalau saya analisis kurikulum madrasah ibtidaiyyah (mata pelajaran aqidah akhlak), setelah saya lihat, saya jadi bingung sendiri. Ini yang menyusun sadar atau tidak ya?  Karena kalau dari kaca mata pendidikan, sesungguhnya sangat verbalistik, dan kognitif oriented.</p>
<p>Kalau pembelajaran akhlak seperti itu, menurut saya tidak bisa. Kalau saya kembali ke penjelasan Imam al-Ghazali di Ihya’, beliau mengharuskan akhlak itu dalam bentuk pembiasaan, tidak bisa dengan pembelajaran.</p>
<p>Kalau kita ingin menjadikan orang melakukan suatu hal, maka Imam al-Ghazali mengharuskan ia melakukan perbuatan orang seperti yang ia inginkan. Jadi kalau dia ingin menjadi faqih, maka dia harus melakukan apa yang dilakukan faqih, sampai dia menjadi faqih.</p>
<p>Kalau ingin menjadi orang sabar, dia harus berbuat seperti orang sabar, meskipun dia susah melakukan itu.</p>
<p>Kalau melihat itu, maka pendidikan akhlak kita nggak mengacu kesana. Jadi pendidikan itu hanya masuk dalam logika-logika dangkal, yang tidak meresap dalam batin.</p>
<p>Itu saja, kalau kita ngomong kurikulum, seburuk apapun, asal sang guru ‘alim, saya kira nggak masalah. Guru bisa melakukan itu. Tapi persoalannya berapa persen guru yang benar-benar bisa mendidik anak-anaknya?</p>
<p>Karena akhlak itu tidak bisa terwujud jika seseorang tidak melakukannya kan. Itu yang repot di pendidikan akhlak. Bagaimana seseorang bisa mengajarkan sabar, kalau dia sendiri nggak sabar.</p>
<p>Bukankah di Risalah Qusyairiyah dijelaskan, bahwa al-tashawwufu khuluqun faman zaada ‘alaika fi khuluqi zaada ‘alaika fi al-shifa’. Tasawuf itu kan akhlaq. Semakin  akhlaknya tambah bagus, pasti ruhaninya tambah bersih.</p>
<p>Bahkan sufi lain mendefinisikan “laisa al-tashawwuf al-rasman walaa ‘ilman”, tasawuf itu bukan keterampilan, bukan juga ilmu. Kalau tasawuf itu keterampilan, lafashala bil mujahadah, dia pasti bisa dicapai dengan mujahadah, training.</p>
<p>Seandainya tasawuf adalah ilmu, pasti dia bisa diperoleh melalui ta’lum, belajar. Tapi tasawuf itu sesungguhnya adalah takhalluq bi akhlaaqillah, bagaimana mengakhlakkan batin ruhani ini menjadi baik, sehingga tampil diluar menjadi baik, sebagai refleksi batin.</p>
<p>Contoh sederhana, ketika saya bertemu dengan Romo Yai Asrori (KH Ahmad Asrori Al Ishaqi) , ketika beliau menjelaskan masalah ini.</p>
<p>Beliau bilang, “<em>Gampang ngukur orang itu sabar atau punya ilmu tentang sabar. Kalau ada kyai cerita tentang kesabaran, coba buang sandalnya. Kalau kemudian dia marah, berarti dia baru punya ilmu sabar, tetapi belum saba</em>r”.</p>
<p><em>Jadi batasnya sandal ya, ha..ha..  (pewawancara)  </em></p>
<p>Lha iya. Apalagi kalau kyai itu sambil marah mengatakan, “<em>Kamu bisa dilaknat Allah, sandalnya kyai dibuang!</em>”,</p>
<p>Ya itu, semakin menjustifikasi kemarahannya dengan dalil. Jadi dalam kaitan ini, maka orang tidak menjadi mudah dalam mengukur orang lain. Karena ukuran-ukuran substantif itu menjadi lebih esensial dalam tasawuf, daripada ukuran formal.</p>
<p>Bisa jadi orang itu tidak bisa mengeluarkan satu dalilpun tentang tasawuf, tetapi bisa jadi ruhaninya sampai pada Allah.</p>
<p>Orang-orang tua yang tulus mencarikan rejeki untuk anak-anaknya dengan penuh kesabaran. Meskipun anaknya kuliah dan master dalam bidang ketasawufan, belum tentu dia bisa mengalahkan kesabaran bapak-ibunya.</p>
<p>Nah menurut saya, itu yang membuat Imam al-Ghazali mengatakan, sesungguhnya yang disebut ilmu ladunni dalam definisi luas, itu ya semua bentuk kesadaran batin yang mengantarkan orang untuk konsisten kembali kepada Allah.</p>
<p>Termasuk sabar, sebenarnya bagian dari mawahid. Kalau orang tidak diberi kesadaran ya nggak akan bisa.</p>
<p>Jadi kalau hadits Rasul mengatakan idza ahabballahu ‘abdan ibtalaahu wa idzabtalaahu shobbaraahu. Kalau Allah sayang kepada seorang hamba-Nya, maka ia akan dicoba, tapi ia dijadikan sabar oleh Allah. Kalau sudah sabar, innallaha ma’a al-shabirin.</p>
<p>***** akhir kutipan *****</p></blockquote>
<p>&nbsp;</p>
<p>Wassalam</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Zon di Jonggol, Kab Bogor 16830</p>
<p>&nbsp;</p>
<br />Filed under: <a href='http://mutiarazuhud.wordpress.com/category/islam/'>Islam</a>, <a href='http://mutiarazuhud.wordpress.com/category/umum/'>Umum</a>  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/mutiarazuhud.wordpress.com/4682/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/mutiarazuhud.wordpress.com/4682/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/mutiarazuhud.wordpress.com/4682/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/mutiarazuhud.wordpress.com/4682/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/mutiarazuhud.wordpress.com/4682/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/mutiarazuhud.wordpress.com/4682/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/mutiarazuhud.wordpress.com/4682/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/mutiarazuhud.wordpress.com/4682/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/mutiarazuhud.wordpress.com/4682/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/mutiarazuhud.wordpress.com/4682/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/mutiarazuhud.wordpress.com/4682/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/mutiarazuhud.wordpress.com/4682/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/mutiarazuhud.wordpress.com/4682/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/mutiarazuhud.wordpress.com/4682/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=mutiarazuhud.wordpress.com&amp;blog=7078984&amp;post=4682&amp;subd=mutiarazuhud&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://mutiarazuhud.wordpress.com/2012/01/30/sandal-dan-sabar/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/da9e7464e9e3c4447f52e554f6476dfa?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">mutiarazuhud</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Matilah sebelum mati</title>
		<link>http://mutiarazuhud.wordpress.com/2012/01/30/matilah-sebelum-mati/</link>
		<comments>http://mutiarazuhud.wordpress.com/2012/01/30/matilah-sebelum-mati/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 30 Jan 2012 07:53:22 +0000</pubDate>
		<dc:creator>mutiarazuhud</dc:creator>
				<category><![CDATA[Islam]]></category>
		<category><![CDATA[Umum]]></category>
		<category><![CDATA[agama]]></category>
		<category><![CDATA[Akhlak]]></category>
		<category><![CDATA[Hadits]]></category>
		<category><![CDATA[Hawa]]></category>
		<category><![CDATA[Hukum]]></category>
		<category><![CDATA[Ihsan]]></category>
		<category><![CDATA[jasad]]></category>
		<category><![CDATA[Jasmani]]></category>
		<category><![CDATA[kewajiban]]></category>
		<category><![CDATA[larangan]]></category>
		<category><![CDATA[Mati]]></category>
		<category><![CDATA[matilah sebelum mati]]></category>
		<category><![CDATA[mengendalikan]]></category>
		<category><![CDATA[Nafsu]]></category>
		<category><![CDATA[nasehat]]></category>
		<category><![CDATA[pengharaman]]></category>
		<category><![CDATA[perkara]]></category>
		<category><![CDATA[Ruh]]></category>
		<category><![CDATA[ruhani]]></category>
		<category><![CDATA[sanad]]></category>
		<category><![CDATA[Sholeh]]></category>
		<category><![CDATA[Syariat]]></category>
		<category><![CDATA[Tasawuf]]></category>
		<category><![CDATA[Wajib]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://mutiarazuhud.wordpress.com/?p=4680</guid>
		<description><![CDATA[Matilah sebelum mati &#160; Ada satu nasehat dari Rasulullah shallallahu alaihi wasallam yang berbunyi “Muutu qabla an tamuutu” yang artinya “matilah sebelum mati” Nasehat Rasulullah tersebut sarat dengan makna. Mati pada hakikatnya adalah terbebasnya ruh (ruhani) dari jasad (jasmani). Jadi upayakanlah dalam kehidupan ini ruh (ruhani) kita tidak terkukung oleh jasmani atau tidak terkukung oleh [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=mutiarazuhud.wordpress.com&amp;blog=7078984&amp;post=4680&amp;subd=mutiarazuhud&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Matilah sebelum mati </strong></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Ada satu nasehat dari Rasulullah shallallahu alaihi wasallam yang berbunyi “<em>Muutu qabla an tamuutu</em>” yang artinya “<em>matilah sebelum mati</em>”</p>
<p>Nasehat Rasulullah tersebut sarat dengan makna. Mati pada hakikatnya adalah terbebasnya ruh (ruhani) dari jasad (jasmani). Jadi upayakanlah dalam kehidupan ini ruh (ruhani) kita tidak terkukung oleh jasmani atau tidak terkukung oleh hawa nafsu. Upayakanlah ruh (ruhani) kita mengendalikan hawa nafsu bukan hawa nafsu yang mengendalikan ruh (ruhani) kita.</p>
<p>Berikut ulasan dari seorang teman akan nasehat dari Rasulullah di atas</p>
<p>***** awal kutipan *****</p>
<p>“Sebelum anda meninggal dunia, cobalah mematikan diri anda sejenak.</p>
<p>Tutuplah kedua mata anda dan bayangkan jenazah anda sedang berada di atas keranda mayat diiringi oleh para pengantar jenazah. Keadaan bagaimana yang anda inginkan setelah anda mati, maka jadilah seperti yang anda inginkan di saat anda hidup sekarang ini.</p>
<p>Perbaikilah kesalahan anda, perbaikilah tingkah laku anda, bertaubatlah di atas segala perbuatan maksiat anda, bukalah lembaran baru kehidupan anda dengan perjalanan hidup dan budi pekerti yang baik.</p>
<p>Cucilah hati anda dari kedengkian dan bersihkanlah dari pengkhianatan. Kelak anda akan mengingat apa yang telah anda lakukan karena makhluk-makhluk ibarat pena Allah ta’ala dan seluruh manusia adalah saksi Allah ta’ala di bumiNya.</p>
<p>Jika mereka bersaksi dengan memuji anda, maka itu adalah khabar baik buat anda dan kesaksian ini diterima di sisi Allah yang Maha Esa. Namun jika mereka bersaksi dengan menyebutkan keburukan anda, maka anda sangat merugi di atas apa yang sedang menanti anda“</p>
<p>*****akhir kutipan ****</p>
<p>Nasehat Rasulullah di atas tidak diingat lagi siapa-siapa perawinya sebagaimana umumnya hadits-hadits yang berhubungan dengan akhlak atau berhubungan dengan tentang Ihsan atau tasawuf.</p>
<p>Nasehat Rasulullah di atas disampaikan oleh para ulama yang sholeh bersanad ilmu sampai kepada lisannya Rasulullah shallallahu alaihi wasallam.</p>
<p>Mereka yang terhasut atau korban ghazwul fikri (perang pemahaman) dari kaum Zionis Yahudi umumnya akan mempertanyakan hal-hal seperti,</p>
<p>&#8220;<em>bagaimana antum bisa memvalidasi &#8220;nasehat&#8221; itu benar dari lisan Rasulullaah shallallahu &#8216;alaihi wasallam </em>?&#8221;<br />
&#8220;<em>bagaimana kita tahu itu sebuah hadits jika tidak diketahui sanadnya </em>?&#8221;</p>
<p>Pertanyaan mereka pada hakikatnya adalah mempertanyakan dalil terhadap sebuah nasehat.</p>
<p>Mereka yang mempertanyakan dalil terhadap sebuah nasehat merupakan wujud dari terkena hasutan atau ghazwul fikri (perang pemahaman) dari kaum Zionis Yahudi</p>
<p>Salah satu penghasutnya adalah perwira Yahudi Inggris bernama Edward Terrence Lawrence yang dikenal oleh ulama jazirah Arab sebagai Laurens Of Arabian. Laurens menyelidiki dimana letak kekuatan umat Islam dan berkesimpulan bahwa kekuatan umat Islam terletak kepada ketaatan dengan mazhab (bermazhab) dan istiqomah mengikuti tharikat-tharikat tasawuf. Laurens mengupah ulama-ulama yang anti tharikat dan anti mazhab untuk menulis buku buku yang menyerang tharikat dan mazhab. Buku tersebut diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa dan dibiayai oleh pihak orientalis.</p>
<p>Protokol Zionis yang ketujuhbelas<br />
…Kita telah lama menjaga dengan hati-hati upaya mendiskreditkan para ulama non-Yahudi dalam rangka menghancurkan misi mereka, yang pada saat ini dapat secara serius menghalangi misi kita. Pengaruh mereka atas masyarakat mereka berkurang dari hari ke hari. Kebebasan hati nurani yang bebas dari paham agama telah dikumandangkan dimana-mana. Tinggal masalah waktu maka agama-agama itu akan bertumbangan..</p>
<p>Mereka yang terhasut maka mereka tidak lagi mempercayai apa yang disampaikan oleh para ulama yang sholeh yang bersanad ilmu tersambung kepada lisannya Rasulullah, mereka tidak lagi mempercayai apa yang disampaikan oleh para ulama yang sholeh keturunan cucu Rasulullah ,  termasuk tidak lagi mempercayai apa yang disampaikan oleh Imam Mazhab yang empat.</p>
<p>Sehari-hari mereka disibukkan kembali dengan apa yang telah dilakukan dan diselesaikan oleh Imam Mazhab yang empat, padahal mereka tidak berkompetensi sebagai Imam Mujtahid Mutlak</p>
<p>Oleh karena kesibukkan mereka berijtihad dalam perkara syariat akhirnya mereka tidak punya waktu lagi untuk mendalami hadits-hadits tentang akhlak atau tentang ihsan atau tentang tasawuf</p>
<p>Hadits yang wajib diketahui sanadnya adalah hadits yang terkait dengan hukum atau terkait perkara agama atau perkara syariat, syarat sebagai hamba Allah, perkara yang telah diwajibkanNya, wajib dijalankan dan wajib dijauhi meliputi perkara kewajiban yang jika ditinggalkan berdosa, perkara larangan dan pengharaman yang jika dikerjakan/dilanggar berdosa.</p>
<p>Dari Ibnu ‘Abbas r.a. berkata Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda, “<em>di dalam agama itu tidak ada pemahaman berdasarkan akal pikiran, sesungguhnya agama itu dari Tuhan, perintah-Nya dan larangan-Nya</em>.” (Hadits riwayat Ath-Thabarani)</p>
<p>Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda, “<em>Sesungguhnya Allah telah mewajibkan beberapa kewajiban (ditinggalkan berdosa), maka jangan kamu sia-siakan dia; dan Allah telah memberikan beberapa larangan (dikerjakan berdosa)), maka jangan kamu langgar dia; dan Allah telah mengharamkan sesuatu (dikerjakan berdosa), maka jangan kamu pertengkarkan dia; dan Allah telah mendiamkan beberapa hal sebagai tanda kasihnya kepada kamu, Dia tidak lupa, maka jangan kamu perbincangkan dia.</em>” (Riwayat Daraquthni, dihasankan oleh an-Nawawi)</p>
<p>Urusan agama atau perkara syariat atau perkara yang diwajibkanNya (wajib dikerjakan dan wajib dijauhi) telah sempurna dan telah disampaikan seluruhnya oleh Rasulullah shallallahu alaihi wasallam.</p>
<p>Firman Allah ta’ala yang artinya, “<em>Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu ni`mat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu</em>”. (Qs. Al Maidah; 3)</p>
<p>Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda, “<em>Tidak tertinggal sedikitpun yang mendekatkan kamu dari surga dan menjauhkanmu dari neraka melainkan telah dijelaskan bagimu </em>” (HR Ath Thabraani dalam Al Mu’jamul Kabiir no. 1647)<br />
“mendekatkan dari surga” = perkara kewajiban (ditinggalkan berdosa)<br />
“menjauhkan dari neraka” = perkara larangan dan perkara pengharaman (dikerjakan berdosa)</p>
<p>Justu mereka yang suka melarang-larang perbuatan kaum muslim  atau menyampaikan larangan (sesuatu yang jika dikerjakan/dilanggar berdosa) wajib ditanyakan dalilnya atau sanadnya karena perkara larangan adalah hak Allah ta&#8217;ala menetapkannya dan Allah ta&#8217;ala tidak lupa.</p>
<p>Firman Allah Azza wa Jalla yang artinya,<br />
“<em>Katakanlah! Siapakah yang berani mengharamkan perhiasan Allah yang telah diberikan kepada hamba-hambaNya dan beberapa rezeki yang baik itu? Katakanlah! Tuhanku hanya mengharamkan hal-hal yang tidak baik yang timbul daripadanya dan apa yang tersembunyi dan dosa dan durhaka yang tidak benar dan kamu menyekutukan Allah dengan sesuatu yang Allah tidak turunkan keterangan padanya dan kamu mengatakan atas (nama) Allah dengan sesuatu yang kamu tidak mengetahui.</em>” (QS al-A’raf: 32-33)</p>
<p>“<em>Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu haramkan apa-apa yang baik yang telah Allah halalkan bagi kamu dan janganlah kamu melampaui batas, sesungguhnya Allah tidak menyukai orang yang melampaui batas.</em>” (Qs. al-Mâ’idah [5]: 87).</p>
<p>“<em>Dan janganlah kamu mengatakan terhadap apa yang disebut-sebut oleh lidahmu secara dusta “Ini halal dan ini haram”, untuk mengada-adakan kebohongan terhadap Allah. Sesungguhnya orang-orang yang mengada-adakan kebohongan terhadap Allah tiadalah beruntung</em>” [QS. An-Nahl : 116].</p>
<p>Dalam hadits Qudsi , Rasulullah bersabda: “<em>Aku ciptakan hamba-hambaKu ini dengan sikap yang lurus, tetapi kemudian datanglah syaitan kepada mereka. Syaitan ini kemudian membelokkan mereka dari agamanya, dan mengharamkan atas mereka sesuatu yang Aku halalkan kepada mereka, serta mempengaruhi supaya mereka mau menyekutukan Aku dengan sesuatu yang Aku tidak turunkan keterangan padanya.</em>” (Riwayat Muslim).</p>
<p>Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda : “<em>Barangsiapa menghalalkan sesuatu yang haram atau mengharamkan sesuatu yang halal, maka dia telah kafir</em>.”</p>
<p>Allah Azza wa Jalla berfirman yang artinya, “<em>Mereka menjadikan para rahib dan pendeta mereka sebagai tuhan-tuhan selain Allah</em>“. (QS at-Taubah [9]:31 )</p>
<p>Ketika Nabi ditanya terkait dengan ayat ini, “<em>apakah mereka menyembah para rahib dan pendeta sehingga dikatakan menjadikan mereka sebagai tuhan-tuhan selain Allah</em>?”</p>
<p>Nabi menjawab, “<em>tidak</em>”,  “<em>Mereka tidak menyembah para rahib dan pendeta itu, tetapi jika para rahib dan pendeta itu menghalalkan sesuatu bagi mereka, mereka menganggapnya halal, dan jika para rahib dan pendeta itu mengharamkan bagi mereka sesuatu, mereka mengharamkannya</em>“</p>
<p>Pada riwayat yang lain disebutkan, Rasulullah bersabda ”<em>mereka (para rahib dan pendeta) itu telah menetapkan haram terhadap sesuatu yang halal, dan menghalalkan sesuatu yang haram, kemudian mereka mengikutinya. Yang demikian itulah penyembahannya kepada mereka.</em>” (Riwayat Tarmizi)</p>
<p>Hadits-hadits tentang akhlak atau tentang ihsan (tasawuf), silahkan didalami atau tidak didalami, silahkan dipedulikan atau tidak dipedulikan sebagaimana hadits qudsi.</p>
<p>Namun bagi yang ingin meneladani akhlak Rasulullah maka sediakanlah waktu untuk menelusuri kembali hadits-hadits tentang nasehat atau tentang akhlak atau tentang ihsan (tasawuf) sebagai sarana untuk memperjalankan diri agar sampai (wushul) kepada Allah ta&#8217;ala atau sebagai sarana mendekatkan diri kepada Allah ta&#8217;ala. Telusurilah dari ulama-ulama yang telah dekat dengan Allah yakni  ulama-ulama yang sholeh yang bersanad ilmu tersambung kepada lisannya Rasulullah atau melalui ulama-ulama yang sholeh keturunan cucu Rasulullah.</p>
<p>Ingatlah selalu bahwa indikator atau tanda-tanda seorang ulama yang dekat dengan Allah atau ulama yang  telah mentaati Allah dan RasulNya sehingga mendapatkan maqom disisiNya minimal adalah ulama yang sholeh sehingga berkumpul dengan 4 golongan muslim disisiNya yakni para  Nabi (Rasulullah yang utama),  para Shiddiqin, para Syuhada dan muslim yang sholeh.</p>
<p>Firman Allah ta’ala yang artinya “<em>Dan barangsiapa yang menta’ati Allah dan Rasul(Nya), mereka itu akan bersama-sama dengan orang-orang yang dianugerahi ni’mat oleh Allah, yaitu : Nabi-nabi, para shiddiiqiin, orang-orang yang mati syahid, dan orang-orang saleh. Dan mereka itulah teman yang sebaik-baiknya </em>.” (QS An Nisaa [4]: 69 )</p>
<p>Semakin dekat seorang ulama kepada Allah sehingga mereka dapat menjadi kekasihNya (Wali Allah). Maqom Shiddiqin atau maqom kedekatan dengan Allah telah diuraikan dalam tulisan pada <a href="http://mutiarazuhud.wordpress.com/2011/09/09/2011/09/28/maqom-wali-allah">http://mutiarazuhud.wordpress.com/2011/09/09/2011/09/28/maqom-wali-allah</a></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Wassalam</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Zon di Jonggol, Kab Bogor 16830<strong><br />
</strong></p>
<br />Filed under: <a href='http://mutiarazuhud.wordpress.com/category/islam/'>Islam</a>, <a href='http://mutiarazuhud.wordpress.com/category/umum/'>Umum</a>  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/mutiarazuhud.wordpress.com/4680/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/mutiarazuhud.wordpress.com/4680/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/mutiarazuhud.wordpress.com/4680/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/mutiarazuhud.wordpress.com/4680/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/mutiarazuhud.wordpress.com/4680/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/mutiarazuhud.wordpress.com/4680/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/mutiarazuhud.wordpress.com/4680/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/mutiarazuhud.wordpress.com/4680/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/mutiarazuhud.wordpress.com/4680/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/mutiarazuhud.wordpress.com/4680/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/mutiarazuhud.wordpress.com/4680/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/mutiarazuhud.wordpress.com/4680/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/mutiarazuhud.wordpress.com/4680/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/mutiarazuhud.wordpress.com/4680/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=mutiarazuhud.wordpress.com&amp;blog=7078984&amp;post=4680&amp;subd=mutiarazuhud&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://mutiarazuhud.wordpress.com/2012/01/30/matilah-sebelum-mati/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/da9e7464e9e3c4447f52e554f6476dfa?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">mutiarazuhud</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Ikutilah Imam Mazhab</title>
		<link>http://mutiarazuhud.wordpress.com/2012/01/29/ikutilah-imam-mazhab/</link>
		<comments>http://mutiarazuhud.wordpress.com/2012/01/29/ikutilah-imam-mazhab/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 29 Jan 2012 01:25:15 +0000</pubDate>
		<dc:creator>mutiarazuhud</dc:creator>
				<category><![CDATA[Islam]]></category>
		<category><![CDATA[Umum]]></category>
		<category><![CDATA[Bermazhab]]></category>
		<category><![CDATA[empat]]></category>
		<category><![CDATA[Imam]]></category>
		<category><![CDATA[islamiyah]]></category>
		<category><![CDATA[Karunia]]></category>
		<category><![CDATA[Mazhab]]></category>
		<category><![CDATA[mengikuti]]></category>
		<category><![CDATA[Mujtahid]]></category>
		<category><![CDATA[Pemimpin]]></category>
		<category><![CDATA[Penjelasan]]></category>
		<category><![CDATA[Qalbu]]></category>
		<category><![CDATA[Sholeh]]></category>
		<category><![CDATA[Syafi'i]]></category>
		<category><![CDATA[tegakkan]]></category>
		<category><![CDATA[ukhuwah]]></category>
		<category><![CDATA[ULAMA]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://mutiarazuhud.wordpress.com/?p=4676</guid>
		<description><![CDATA[Kembalilah mengikuti apa yang disampaikan Imam Mazhab Sukar juga menyadarkan mereka dari hasutan atau ghazwul fikri (perang pemahaman) yang dilancarkan oleh kaum Zionis Yahudi Keinginan mereka baik yakni ingin mengikuti Rasulullah (ittiba&#8217; li Rasulihi) melalui penerapan, perbuatan serta contoh nyata dari Salafush Sholeh Namun amat disayangkan mereka mendapatkan pengetahuan penerapan, perbuatan serta contoh nyata dari [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=mutiarazuhud.wordpress.com&amp;blog=7078984&amp;post=4676&amp;subd=mutiarazuhud&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Kembalilah mengikuti apa yang disampaikan Imam Mazhab</strong></p>
<p>Sukar juga menyadarkan mereka dari hasutan atau ghazwul fikri (perang pemahaman) yang dilancarkan oleh kaum Zionis Yahudi</p>
<p>Keinginan mereka baik yakni ingin mengikuti Rasulullah (ittiba&#8217; li Rasulihi) melalui penerapan, perbuatan serta contoh nyata dari Salafush Sholeh</p>
<p>Namun amat disayangkan mereka mendapatkan pengetahuan penerapan, perbuatan serta contoh nyata dari Salafush Sholeh dari para ulama-ulama yang mengaku-aku mengikuti pemahaman Salafush Sholeh namun mereka tidak bertalaqqi (mengaji) dengan Salafush Sholeh Dari mana ulama-ulama tersebut mendapatkan pemahaman Salafush Sholeh kalau bukan pemahaman ulama-ulama tersebut dengan akal pikiran mereka sendiri.</p>
<p>Marilah kita kembali mengikuti pemahaman Salafush Sholeh melalui apa yang disampaikan oleh Imam Mazhab yang empat dan mengikuti penjelasan-penjelasan yang disampaikan oleh para ulama-ulama terdahulu yang mengikuti Imam Mazhab yang empat sambil kita merujuk darimana mereka mengambilnya yakni Al Qur’an dan As Sunnah dengan menggunakan akal qalbu (akal pikiran yang ditundukkan kepada akal qalbu) berdasarkan karunia hikmah dari Allah Azza wa Jalla</p>
<p>Jumhur ulama dari dahulu sampai sekarang telah sepakat bahwa Imam Mazhab yang empat adalah pemimpin atau imam ijtihad kaum muslim (Imam Mujtahid Mutlak)</p>
<p>Imam Mazhab yang empat bertalaqqi (mengaji) langsung dengan Salafush Sholeh.<br />
Imam Mazhab yang empat mengetahui dan mengikuti pemahaman Salafush Sholeh melalui lisannya Salafush Sholeh.<br />
Imam Mazhab yang empat melihat sendiri penerapan, perbuatan serta contoh nyata dari Salafush Sholeh.</p>
<p>Berhati-hatilah sebaiknya jangan serampangan dalam mengikuti pemahaman ulama agar tidak menjadi penyesalan di akhirat kelak</p>
<p>Firman Allah ta’ala yang artinya,<br />
“<em>(Yaitu) ketika orang-orang yang diikuti itu berlepas diri dari orang-orang yang mengikutinya, dan mereka melihat siksa; dan (ketika) segala hubungan antara mereka terputus sama sekali.</em>” (QS al Baqarah [2]: 166)</p>
<p>“<em>Dan berkatalah orang-orang yang mengikuti: “Seandainya kami dapat kembali (ke dunia), pasti kami akan berlepas diri dari mereka, sebagaimana mereka berlepas diri dari kami.” Demikianlah Allah memperlihatkan kepada mereka amal perbuatannya menjadi sesalan bagi mereka; dan sekali-kali mereka tidak akan keluar dari api neraka.</em>” (QS Al Baqarah [2]: 167)</p>
<p>Contohnya, sebaiknya janganlah mengikuti cara sholat Rasulullah shallallahu alaihi wasallam dari apa yang disampaikan oleh seorang ulama yang menuliskan kitab Sifat Sholat Nabi namun kita ketahui beliau tidak melihat langsung cara sholat Nabi melalui apa yang dicontohkan atau dilakukan oleh Salafush Sholeh. Beliau menyampaikan berdasarkan belajar sendiri (secara otodidak) melalui cara muthola’ah (menelaah kitab) dan memahaminya dengan akal pikiran sendiri (pemahaman secara ilmiah).</p>
<p>Pendapat para ulama tentang beliau yang menuliskan kitab Sifat Sholat Nabi telah disampaikan dalam tulisan pada <a href="http://mutiarazuhud.wordpress.com/2011/09/07/pendapat-ulama/">http://mutiarazuhud.wordpress.com/2011/09/07/pendapat-ulama/</a></p>
<p>Bahkan seorang ulama keturunan cucu Rasulullah yang mendapatkan pengajaran tentang sholat langsung dari orang tua – orang tua mereka terdahulu yang tersambung kepada Sayyidina Ali ra yang mendapatkan pengajaran langsung dari Rasulullah shallallahu alaihi wasallam mengatakan dalam tulisannya pada <a href="http://majelisrasulullah.org/index.php?option=com_simpleboard&amp;Itemid=34&amp;func=view&amp;id=22475&amp;catid=9">http://majelisrasulullah.org/index.php?option=com_simpleboard&amp;Itemid=34&amp;func=view&amp;id=22475&amp;catid=9</a> bahwa beliau sebenarnya tak suka bicara mengenai ini (menyampaikannya), namun beliau memilih mengungkapnya ketimbang hancurnya ummat”</p>
<p>Tokoh-tokoh Alawiyin (keturunan cucu Rasuullah) yang mendapatkan pengajaran agama dari orang tua-orang tua mereka terdahulu yang tersambung kepada lisannya Imam Sayyidina Ali yang mendapatkan pengajaran agama langsung dari Rasulullah shallallahu alaihi wasallam adalah ada­lah Imam-Imam mujtahid (dalam arti tidak mengikuti atau terikat dengan salah satu mazhab) seperti diriwayatkan oleh beberapa ulama, yang masing-masing tokoh terkenal dengan gelar &#8220;Imam&#8221; seperti Imam Al Muhajir, Imam Alawi bin Ubaidillah dan lain-lain.</p>
<p>Namun, ijtihad mereka seringkali bersesuaian dengan Imam Assyafi&#8217;i</p>
<p>Silahkan baca uraian pada <a href="http://freepages.genealogy.rootsweb.ancestry.com/~naqobatulasyrof/news/ris02/page4.htm">http://freepages.genealogy.rootsweb.ancestry.com/~naqobatulasyrof/news/ris02/page4.htm</a></p>
<p>Sekelumit perjalanan dakwah keturunan cucu Rasulullah dari mulai tulisan pada</p>
<p><a href="http://freepages.genealogy.rootsweb.ancestry.com/~naqobatulasyrof/news/ris02/page2.htm">http://freepages.genealogy.rootsweb.ancestry.com/~naqobatulasyrof/news/ris02/page2.htm</a><br />
<a href="http://freepages.genealogy.rootsweb.ancestry.com/~naqobatulasyrof/news/ris02/page3.htm">http://freepages.genealogy.rootsweb.ancestry.com/~naqobatulasyrof/news/ris02/page3.htm</a><br />
<a href="http://freepages.genealogy.rootsweb.ancestry.com/~naqobatulasyrof/news/ris02/page4.htm">http://freepages.genealogy.rootsweb.ancestry.com/~naqobatulasyrof/news/ris02/page4.htm</a><br />
<a href="http://freepages.genealogy.rootsweb.ancestry.com/~naqobatulasyrof/news/ris02/page5.htm">http://freepages.genealogy.rootsweb.ancestry.com/~naqobatulasyrof/news/ris02/page5.htm</a>  <a href="http://freepages.genealogy.rootsweb.ancestry.com/~naqobatulasyrof/news/ris02/page6.htm">http://freepages.genealogy.rootsweb.ancestry.com/~naqobatulasyrof/news/ris02/page6.htm</a><br />
<a href="http://freepages.genealogy.rootsweb.ancestry.com/~naqobatulasyrof/news/ris02/page7.htm">http://freepages.genealogy.rootsweb.ancestry.com/~naqobatulasyrof/news/ris02/page7.htm</a><br />
<a href="http://freepages.genealogy.rootsweb.ancestry.com/~naqobatulasyrof/news/ris02/page8.htm">http://freepages.genealogy.rootsweb.ancestry.com/~naqobatulasyrof/news/ris02/page8.htm</a><br />
<a href="http://freepages.genealogy.rootsweb.ancestry.com/~naqobatulasyrof/news/ris02/page9.htm">http://freepages.genealogy.rootsweb.ancestry.com/~naqobatulasyrof/news/ris02/page9.htm</a><br />
<a href="http://freepages.genealogy.rootsweb.ancestry.com/~naqobatulasyrof/news/ris02/page10.htm">http://freepages.genealogy.rootsweb.ancestry.com/~naqobatulasyrof/news/ris02/page10.htm</a></p>
<p>Begitupula Prof.Dr.H. Abdul Malik Karim Amrullah (HAMKA) dalam majalah tengah bulanan “Panji Masyarakat” No.169/ tahun ke XV11 15 februari 1975 (4 Shafar 1395 H) halaman 37-38 menjelaskan bahwa pengajaran agama Islam di negeri kita diajarkan langsung oleh para ulama keturunan cucu Rasulullah seperti Syarif Hidayatullah atau yang dikenal dengan Sunan Gunung Jati. Berikut kutipan penjelasan Buya Hamka</p>
<blockquote><p>***** awal kutipan ****</p>
<p>“Rasulallah shallallahu alaihi wasallam  mempunyai empat anak-anak lelaki yang semuanya wafat waktu kecil dan mempunyai empat anak wanita. Dari empat anak wanita ini hanya satu saja yaitu (Siti) Fathimah yang memberikan beliau shallallahu alaihi wasallam dua cucu lelaki dari perkawinannya dengan Ali bin Abi Thalib. Dua anak ini bernama Al-Hasan dan Al-Husain dan keturunan dari dua anak ini disebut orang <em>Sayyid</em> jamaknya ialah <em>Sadat</em>. Sebab Nabi sendiri mengatakan, <em>‘kedua anakku ini menjadi Sayyid </em>(Tuan) <em>dari pemuda-pemuda di Syurga’. </em>Dan sebagian negeri lainnya memanggil keturunan Al-Hasan dan Al-Husain <em>Syarif</em> yang berarti orang mulia dan jamaknya adalah <em>Asyraf. </em>Sejak zaman kebesaran Aceh telah banyak keturunan Al-Hasan dan Al-Husain itu datang ketanah air kita ini. Sejak dari semenanjung Tanah Melayu, kepulauan Indonesia dan Pilipina.</p>
<p>Harus diakui banyak jasa mereka dalam penyebaran Islam diseluruh Nusantara ini. Diantaranya Penyebar Islam dan pembangunan kerajaan Banten dan Cirebon adalah <em>Syarif Hidayatullah</em> yang diperanakkan di Aceh. Syarif kebungsuan tercatat sebagai penyebar Islam ke Mindanao dan Sulu. Yang pernah jadi <em>raja di Aceh</em> adalah bangsa Sayid dari keluarga <em>Jamalullail</em>, di Pontianak pernah diperintah bangsa <em>Sayyid Al-Qadri</em>. Di Siak oleh keluaga Sayyid bin <em>Syahab</em>, Perlis (Malaysia) dirajai oleh bangsa <em>Sayyid Jamalullail</em>. Yang dipertuan Agung 111 Malaysia Sayyid Putera adalah Raja Perlis. Gubernur Serawak yang ketiga, Tun Tuanku Haji Bujang dari keluarga <em>Alaydrus. </em><em> </em></p>
<p>Kedudukan mereka dinegeri ini yang turun temurun menyebabkan mereka telah menjadi anak negeri dimana mereka berdiam. Kebanyakan mereka jadi Ulama. Mereka datang dari hadramaut dari keturunan <em>Isa Al-Muhajir </em>dan <em>Fagih Al-Muqaddam</em>. Yang banyak kita kenal dinegeri kita yaitu keluarga Alatas, Assegaf, Alkaff, Bafaqih, Balfaqih, Alaydrus, bin Syekh Abubakar, Alhabsyi, Alhaddad, Al Jufri, Albar, Almusawa, bin Smith, bin Syahab, bin Yahya …..dan seterusnya.</p>
<p>Yang terbanyak dari mereka adalah keturunan dari Al-Husain dari Hadra- maut (Yaman selatan), ada juga yang keturunan Al-Hasan yang datang dari Hejaz, keturunan syarif-syarif Makkah Abi Numay, tetapi tidak sebanyak dari Hadramaut. Selain dipanggil Tuan Sayid mereka juga dipanggil <em>Habib</em>. Mereka ini telah tersebar didunia. Di negeri-negeri besar seperti Mesir, Baqdad, Syam dan lain-lain mereka adakan <em>NAQIB</em>, yaitu yang bertugas mencatat dan mendaftarkan keturunan-keturunan Sadat tersebut. Disaat sekarang umum- nya mencapai 36-37-38 silsilah sampai kepada Sayyidina Ali bin Abi Thalib dan Sayyidati Fathimah Az-Zahra ra.</p>
<p>Kesimpulan dari makalah Prof.Dr.HAMKA: Baik <em>Habib Tanggul</em> di Jawa Timur dan Almarhum <em>Habib Ali di Kwitang</em>, Jakarta, memanglah mereka keturunan dari Ahmad bin Isa Al-Muhajir yang berpindah dari Bashrah/Iraq ke Hadramaut, dan Ahmad bin Isa ini <em>cucu yang ke tujuh dari cucu Rasulallah saw. Al-Husain bin Ali bin Abi Thalib</em>.”</p>
<p>****** akhir kutipan ******</p></blockquote>
<p>Dari dahulu ulama-ulama kita bermazhab Imam Syafi&#8217;i. KH Ahmad Dahlan pendiri Muhammadiyah dan KH Hasyim Azhari pendiri NU memiliki guru yang sama yakni KH Sholeh Darat. Di Saudi, mereka juga memiliki guru yang sama, yaitu Syekh Ahmad Khatib Al Minangkabawi – ulama kelahiran Padang yang di masa itu dapat menduduki posisi Imam di Mekah karena ketinggian ilmunya. Syekh Ahmad Khatib adalah ulama bermazhab Syafi’i.</p>
<p>Oleh karenanya untuk menegakkan Ukhuwah Islamiyah , khususnya di Indonesia, marilah kita kembali bersatu padu kembali mengikuti apa yang disampaikan oleh Imam Syafi&#8217;i ~ rahimahullah.</p>
<p>Begitupula kita jangan terhasut oleh kaum Zionis Yahudi hingga kita tidak mencintai Ahlul Bait, keturunan cucu Rasulullah.</p>
<p>Imam Syafi’i ~rahimahullah bersyair, “<em>Wahai Ahlul-Bait Rasulallah, mencintai kalian adalah Kewajiban dari Allah diturunkan dalam al-Quran cukuplah bukti betapa tinggi martabat kalian tiada sholat tanpa shalawat bagi kalian</em>.”</p>
<p>Syair Beliau yang lain “<em>Jika sekiranya disebabkan kecintaan kepada keluarga Rasulallah shallallahu alaihi wasallam maka aku dituduh Rafidhi (Syi’ah). Maka saksikanlah jin dan manusia, bahwa sesungguhnya aku adalah Rafidhi</em>.”</p>
<p>Maksud perkataan Imam Syafi’i ~rahimahullah , jika mencintai keturunan cucu Rasulullah disebut Rafidhi maka beliau rela  disebut Rafidhi walaupun kita paham bahwa pemahaman syiah rafidhi telah menyelisihi pemahaman Ahlus Sunnah wal Jama&#8217;ah</p>
<p>Wassalam</p>
<p>Zon di Jonggol, Kab Bogor 16830</p>
<br />Filed under: <a href='http://mutiarazuhud.wordpress.com/category/islam/'>Islam</a>, <a href='http://mutiarazuhud.wordpress.com/category/umum/'>Umum</a>  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/mutiarazuhud.wordpress.com/4676/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/mutiarazuhud.wordpress.com/4676/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/mutiarazuhud.wordpress.com/4676/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/mutiarazuhud.wordpress.com/4676/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/mutiarazuhud.wordpress.com/4676/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/mutiarazuhud.wordpress.com/4676/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/mutiarazuhud.wordpress.com/4676/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/mutiarazuhud.wordpress.com/4676/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/mutiarazuhud.wordpress.com/4676/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/mutiarazuhud.wordpress.com/4676/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/mutiarazuhud.wordpress.com/4676/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/mutiarazuhud.wordpress.com/4676/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/mutiarazuhud.wordpress.com/4676/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/mutiarazuhud.wordpress.com/4676/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=mutiarazuhud.wordpress.com&amp;blog=7078984&amp;post=4676&amp;subd=mutiarazuhud&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://mutiarazuhud.wordpress.com/2012/01/29/ikutilah-imam-mazhab/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/da9e7464e9e3c4447f52e554f6476dfa?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">mutiarazuhud</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Tundukkan akal pikiran</title>
		<link>http://mutiarazuhud.wordpress.com/2012/01/29/tundukkan-akal-pikiran/</link>
		<comments>http://mutiarazuhud.wordpress.com/2012/01/29/tundukkan-akal-pikiran/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 28 Jan 2012 22:44:18 +0000</pubDate>
		<dc:creator>mutiarazuhud</dc:creator>
				<category><![CDATA[Islam]]></category>
		<category><![CDATA[Umum]]></category>
		<category><![CDATA[agama]]></category>
		<category><![CDATA[Akal]]></category>
		<category><![CDATA[akal qalbu]]></category>
		<category><![CDATA[AL Qur'an]]></category>
		<category><![CDATA[Allah]]></category>
		<category><![CDATA[As Sunnah]]></category>
		<category><![CDATA[belajar]]></category>
		<category><![CDATA[Cahaya]]></category>
		<category><![CDATA[Hadits]]></category>
		<category><![CDATA[hakim]]></category>
		<category><![CDATA[Hikmah]]></category>
		<category><![CDATA[ilham]]></category>
		<category><![CDATA[Ilmu]]></category>
		<category><![CDATA[Karunia]]></category>
		<category><![CDATA[memahami]]></category>
		<category><![CDATA[menundukkan]]></category>
		<category><![CDATA[panca indera]]></category>
		<category><![CDATA[pemahaman]]></category>
		<category><![CDATA[penguasa]]></category>
		<category><![CDATA[Petunjuk]]></category>
		<category><![CDATA[pikiran]]></category>
		<category><![CDATA[Raja]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://mutiarazuhud.wordpress.com/?p=4673</guid>
		<description><![CDATA[Pahamilah firmanNya dengan menundukkan akal pikiran kepada akal qalbu &#160; Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda, “Barangsiapa menguraikan Al Qur’an dengan akal pikirannya sendiri dan merasa benar, maka sesungguhnya dia telah berbuat kesalahan”. (HR. Ahmad) Dari Ibnu ‘Abbas r.a. berkata Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda, “di dalam agama itu tidak ada pemahaman berdasarkan akal pikiran, sesungguhnya [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=mutiarazuhud.wordpress.com&amp;blog=7078984&amp;post=4673&amp;subd=mutiarazuhud&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Pahamilah firmanNya dengan menundukkan akal pikiran kepada akal qalbu</strong></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda, “<em>Barangsiapa menguraikan Al Qur’an dengan akal pikirannya sendiri dan merasa benar, maka sesungguhnya dia telah berbuat kesalahan</em>”. (HR. Ahmad)</p>
<p>Dari Ibnu ‘Abbas r.a. berkata Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda, “<em>di dalam agama itu tidak ada pemahaman berdasarkan akal pikiran, sesungguhnya agama itu dari Tuhan, perintah-Nya dan larangan-Nya</em>.” (Hadits riwayat Ath-Thabarani)</p>
<p>Akal pikiran adalah hasil kerja otak dan memori. Otak adalah pemroses hasil atau keluaran dari panca indera.  Pemahaman dengan akal pikiran adalah pemahaman secara logika atau pemahaman secara ilmiah. Pemahaman dengan akal pikiran semata yang dikatakan sebagai akal pikiran mendahului firmanNya atau upaya pembenaran atau disebut juga dengan berdalih.</p>
<p>Rasulullah shallallahu alaihi wasallam telah melarang kita memahami firmanNya bersandarkan kepada akal pikiran semata atau pemahaman secara ilmiah semata namun pergunakanlah akal qalbu untuk memahami firmanNya atau pemahaman secara hikmah. Pemahaman secara hikmah yang dikatakan sebagai akal pikiran mengikuti firmanNya atau upaya mengikuti kebenaran atau disebut juga dengan berdalil</p>
<p>Firman Allah ta’ala,</p>
<p><em>afalam yasiiruu fii al-ardhi fatakuuna lahum quluubun ya&#8217;qiluuna bihaa aw aatsaanun yasma&#8217;uuna bihaa fa-innahaa laa ta&#8217;maa al-abshaaru walaakin ta&#8217;maa alquluubu allatii fii alshshuduuri</em></p>
<p>“<em>maka apakah mereka tidak berjalan di muka bumi, lalu mereka mempunyai hati yang dengan itu mereka dapat memahami atau mempunyai telinga yang dengan itu mereka dapat mendengar. Karena sesungguhnya bukanlah mata itu yang buta, tetapi yang buta, ialah hati yang di dalam dada</em>&#8221; (QS Al Hajj [22]:46 )</p>
<p>Akal qalbu adalah raja atau hakim atau penguasa dari akal pikiran.</p>
<p>Akal qalbu yang dapat memilih atau memahami mana yang haq dan mana yang bathil berdasarkan ilham atau petunjuk atau karunia atau cahaya dari Allah Azza wa Jalla</p>
<p>Firman Allah Azza wa Jalla yang artinya<br />
“<em>Dan Kami telah menunjukkan kepadanya dua jalan” (pilihan haq atau bathil)</em> (QS Al Balad [90]:10 )<br />
“<em>maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaannya</em>“. (QS As Syams [91]:8 )<br />
“<em>Allah membimbing kepada cahaya-Nya siapa yang dia kehendaki, dan Allah memperbuat perumpamaan-perumpamaan bagi manusia, dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.</em>” ( QS An Nuur [24]:35  )</p>
<p>Seorang anak kecil yang belum baligh , mereka tidak dikatakan berakal walaupun mereka sudah dapat menggunakan logika/rasio/otak nya</p>
<p>“<em>Tidak dikenakan kewajiban atas tiga golongan orang,yaitu anak-anak sampai baligh,orang gila sampai sadar,dan orang tidur sampai terbangun</em>” (HR.Bukhori,Abu Daud,At Tirmidzi,An Nasa’I,Ibnu Majah,Daruquthni,dan Ahmad).</p>
<p>Begitu pula dengan orang gila mereka dikatakan kehilangan akal walaupun mereka masih mempunyai otak.</p>
<p>Firman Allah ta’ala yang artinya, <em>‘Fu’aad (hati) tidak pernah mendustai apa-apa yang dilihatnya</em>’ (QS An Najm [53]:11).</p>
<p>Wabishah bin Ma’bad r.a. berkata: Saya datang kepada Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, beliau bersabda, “Apakah engkau datang untuk bertanya tentang kebaikan?” Saya menjawab, “Benar.”Beliau bersabda, “Mintalah fatwa kepada hatimu sendiri. Kebaikan adalah apa-apa yang menenteramkan jiwa dan hati, sedangkan dosa adalah apa-apa yang mengusik jiwa dan meragukan hati, meskipun orang-orang memberi fatwa yang membenarkanmu.”   hadits diriwayatkan oleh Imam Ahmad bin Hambal dan Imam Ad-Darami dengan sanad hasan</p>
<p>Nawas bin Sam’an r.a. meriwayatkan dari Nabi shallallahu alaihi wasallam., beliau bersabda, “<em>Kebaikan adalah akhlak yang baik, sedangkan dosa adalah segala hal yang mengusik jiwamu dan engkau tidak suka jika orang lain melihatnya</em>.&#8221; (Diriwayatkan oleh Imam Muslim).</p>
<p>Permasalahan manusia tidak lagi dapat menggunakan hati mereka untuk memahami firmanNya adalah karena dosa. Keadaan ini dinamakan buta mata hati.</p>
<p>‘Abdullâh bin Al-Mubarak meriwayatkan dari adh-Dhahak bin Muzahim, bahwasanya dia berkata;”Tidak seorangpun yang mempelajari Al-Qur`ân kemudian dia lupa, melainkan karena dosa yang telah dikerjakannya. Karena Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman : وَمَآأَصَابَكُم مِّن مُّصِيبَةٍ فَبِمَا كَسَبَتْ أَيْدِيكُمْ  (Dan apa saja musibah yang menimpa kamu maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri) –Qs asy-Syûra/42 ayat 30- . Sungguh, lupa terhadap Al-Qur`ân merupakan musibah yang paling besar * (. Fadha`ilul-Qur`ân, karya Ibnu Katsir, hlm. 147)</p>
<p>Setiap dosa merupakan bintik hitam hati (ketiadaan cahaya), sedangkan setiap kebaikan adalah bintik cahaya pada hati Ketika bintik hitam memenuhi hati sehingga terhalang (terhijab) untuk memahami firmanNya. Inilah yang dinamakan buta mata hati.</p>
<p>Sebagaimana firman Allah ta’ala yang artinya, “<em>Dan barangsiapa yang buta (hatinya) di dunia ini, niscaya di akhirat (nanti) ia akan lebih buta (pula) dan lebih tersesat dari jalan (yang benar)</em>.” (QS Al Isra 17 : 72)</p>
<p>&#8220;Media komunikasi&#8221; dengan firmanNya adalah ruhNya (ruhani)</p>
<p>Firman Allah ta’ala yang artinya “<em>Kemudian Dia menyempurnakan penciptaannya dan Dia tiupkan padanya sebagian dari Ruh-Nya dan Dia jadikan bagi kamu pendengaran, penglihatan dan rasa, tapi sedikit sekali kamu bersyukur</em>” (QS As Sajadah (32):9)</p>
<p>Ruhani (ruhNya) dinamakan akal, hati, nafsu</p>
<p>Ruh ketika berperasaan seperti sedih, gembira, senang, terhibur, marah atau sebagainya, maka ia dipanggil dengan hati.</p>
<p>Ruh ketika ia berkehendak, berkemauan atau merangsang sama ada sesuatu yang berkehendak itu positif atau negatif, baik atau buruk, yang dibenarkan atau tidak, yang halal ataupun yang haram, di waktu itu ia tidak dipanggil hati tetapi ia dipanggil nafsu.</p>
<p>Ruh ketika ia berfikir, mengkaji, menilai, memahami, menimbang dan menyelidik, maka ia dipanggil akal.</p>
<p>Bahkan menurut Imam Sayyidina Ali r.a. qalb mempunyai lima nama,</p>
<p>Pertama, disebut shadr, karena ia merupakan tempat terbitnya cahaya Islam (nuuru-l-islaam). Hal ini sebagaimana firman Allah Subhanahu wa ta’ala, ‘<em>Adakah sama dengan mereka yang dibukakan shadrnya untuk Islam….</em>” (QS Az Zumar [39] :22)’.</p>
<p>Kedua, disebut qalb, karena ia merupakan tempat terbitnya keimanan. Hal ini sebagaiamana firman-Nya, &#8220;<em>Mereka itulah yang ditulis dalam hatinya terdapat keimanan.</em>” (QS Al Mujaadilah [58]:22)’</p>
<p>Ketiga disebut fu’aad karena ia merupakan tempat terbitnya ma’rifah. Hal ini sebagaimana Firman Allah Subhanahu wa ta’ala, ‘<em>Fu’aad tidak pernah mendustai apa-apa yang dilihatnya</em>’ (QS An Najm [53]:11).</p>
<p>Keempat disebut lubb, karena ia merupakan tempat terbitnya tauhid. Hal ini sebagaimana firman-Nya, &#8220;<em>Sesungguhnya di dalam penciptaan langit dan bumi dan pergantian malam dan siang adalah ayat-ayat bagi ulil albaab (sang pemilik lubb)</em>’ (QS Ali Imran [3]:190).</p>
<p>Kelima, disebut syagf, karena it merupakan tempat terbitnya rasa saling menyayangi dan mencintai sesama makhluk. Hal ini sebagaimana firman-Nya, ’<em>Sungguh ia (Zulaikha) telah dikuasai oleh rasa cinta yang membara….</em>’ (QS Yusuf [12]:30)</p>
<p>Selain nama-nama yang telah disebutkan,  hati pun disebut juga dengan nama habbah al-quluub. Disebut demikian, karena ia merupakan tempat terbitnya cahaya, sebagaimana yang diterangkan Allah dalam hadis qudsi-Nya, ’<em>Tiada yang sanggup menampung-Ku, baik bumi maupun langit-Ku. Hanya hati hamba-Ku yang Mukmin yang dapat menampung-Ku.’</em></p>
<p>Apa yang diuraikan oleh Imam Sayyidina Ali ra terkait dengan sebuah hadits qudsi, Allah Azza wa Jalla berfirman: ’<em>Telah Kucipta seorang malaikat di dalam tubuh setiap anak keturunan Adam. Di dalam malaikat itu ada shadr. Di dalam shadr itu ada qalb. Di dalam qalb itu ada fu`aad. Di dalam fu`aad itu ada syagf. Di dalam syagf itu ada lubb. Di dalam lubb itu ada sirr. Dan di dalam sirr itu ada Aku.</em>”</p>
<p>Jadi yang dapat memahami firmanNya adalah ulil albab yang sering diterjemahkan sebagai orang-orang yang berakal atau pemilik lubb (qalbu) atau orang yang memahami firmanNya menggunakan akal qalbu berdasarkan karunia hikmah dari Allah Azza wa Jalla atau disebut juga pemahaman secara hikmah.</p>
<p>Allah Azza wa Jalla berfirman yang artinya “<em>Allah menganugerahkan al hikmah (pemahaman yang dalam tentang Al Qur’an dan As Sunnah) kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Dan barangsiapa yang dianugerahi hikmah, ia benar-benar telah dianugerahi karunia yang banyak. Dan hanya Ulil Albab yang dapat mengambil pelajaran (dari firman Allah)</em>“. (QS Al Baqarah [2]:269 ).</p>
<p>“<em>Dan tidak dapat mengambil pelajaran (daripadanya) melainkan Ulil Albab</em>” (QS Ali Imron [3]:7 )</p>
<p>Muslim yang dikaruniai hikmah adalah muslim yang menundukkan akal pikiran mereka kepada akal qalbu.</p>
<p>Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: “<em>Barangsiapa yang bertambah ilmunya tapi tidak bertambah hidayahnya, maka dia tidak bertambah dekat kepada Allah melainkan bertambah jauh&#8221;</em></p>
<p>Semakin banyak mengenal Allah (ma’rifatullah) melalui ayat-ayat-Nya qauliyah dan kauniyah, maka semakin dekat hubungan dengan-Nya.</p>
<p>Ilmu harus dikawal hidayah. Tanpa hidayah, seseorang yang berilmu menjadi sombong dan semakin jauh dari Allah ta’ala. Sebaliknya seorang ilmuwan yang mendapat hidayah (karunia hikmah) maka hubungannya dengan Allah ta’ala semakin dekat.</p>
<p>Tanda-tanda seorang muslim telah dekat dengan Allah atau  telah mentaati Allah dan RasulNya sehingga mendapatkan maqom disisiNya minimal adalah mencapai muslim yang sholeh sehingga berkumpul dengan 4 golongan muslim disisiNya yakni para  Nabi (Rasulullah yang utama),  para Shiddiqin, para Syuhada dan muslim yang sholeh.</p>
<p>Firman Allah ta’ala yang artinya “<em>Dan barangsiapa yang menta’ati Allah dan Rasul(Nya), mereka itu akan bersama-sama dengan orang-orang yang dianugerahi ni’mat oleh Allah, yaitu : Nabi-nabi, para shiddiiqiin, orang-orang yang mati syahid, dan orang-orang saleh. Dan mereka itulah teman yang sebaik-baiknya </em>.” (QS An Nisaa [4]: 69 )</p>
<p>Semakin dekat kita kepada Allah sehingga menjadi kekasihNya (Wali Allah). Maqom Shiddiqin atau kedekatan dengan Allah diuraikan dalam tulisan pada <a href="http://mutiarazuhud.wordpress.com/2011/09/09/2011/09/28/maqom-wali-allah/">http://mutiarazuhud.wordpress.com/2011/09/09/2011/09/28/maqom-wali-allah/</a></p>
<p>Kemampuan logika atau kemampuan menggunakan akal pikiran adalah kelebihan yang dikaruniakan Allah ta&#8217;ala kepada kaum Yahudi namun mereka tidak dikaruniakan kemampuan menggunakan akal kalbu atau pemahaman secara hikmah karena mereka termasuk manusia yang tidak dikehendaki Allah Azza wa Jalla</p>
<p>Hadits yang diriwayatkan Sufyan bin Uyainah dengan sanadnya dari Adi bin Hatim. Ibnu Mardawih meriwayatkan dari Abu Dzar, dia berkata, “Saya bertanya kepada Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam tentang orang-orang yang dimurkai“, beliau bersabda, ‘Kaum Yahudi.’ Saya bertanya tentang orang-orang yang sesat, beliau bersabda, “Kaum Nasrani.“</p>
<p>Kaum Yahudi atau yang dikenal sekarang kaum Zionis Yahudi menghasut atau melancarkan ghazwul fikri (perang pemahaman) kepada kaum muslim untuk memahami Al Qur&#8217;an dan As Sunnah dengan akal pikiran sendiri sehingga menimbulkan perselisihan di antara kaum muslim</p>
<p>Salah satu penghasutnya adalah perwira Yahudi Inggris bernama Edward Terrence Lawrence yang dikenal oleh ulama jazirah Arab sebagai Laurens Of Arabian. Laurens menyelidiki dimana letak kekuatan umat Islam dan berkesimpulan bahwa kekuatan umat Islam terletak kepada ketaatan dengan mazhab (bermazhab) dan istiqomah mengikuti tharikat-tharikat tasawuf. Laurens mengupah ulama-ulama yang anti tharikat dan anti mazhab untuk menulis buku buku yang menyerang tharikat dan mazhab. Buku tersebut diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa dan dibiayai oleh pihak orientalis.</p>
<p>Kaum muslim yang terhasut meninggalkan pemahaman atau pendapat Imam Mazhab yang empat yang telah disepakati oleh jumhur ulama sejak dahulu sampai sekarang sebagai pemimpin atau imam ijtihad kaum muslim (Imam Mujtahid Mutlak)</p>
<p>Imam Mazhab yang empat bertalaqqi (mengaji) langsung dengan Salafush Sholeh.<br />
Imam Mazhab yang empat mengetahui dan mengikuti pemahaman Salafush Sholeh melalui lisannya Salafush Sholeh.<br />
Imam Mazhab yang empat melihat sendiri penerapan, perbuatan serta contoh nyata dari Salafush Sholeh.</p>
<p>Mereka yang terhasut merasa telah mengikuti pemahaman Salafush Sholeh namun kenyataannya mereka tidak lebih dari mengikuti pemahaman ulama-ulama yang mengaku-aku mengikuti pemahaman Salafush Sholeh namun tidak bertalaqqi (mengaji) dengan Salafush Sholeh. Dari mana ulama-ulama tersebut mendapatkan pemahaman Salafush Sholeh kalau bukan pemahaman ulama-ulama tersebut dengan akal pikiran mereka sendiri.</p>
<p>Marilah kita kembali mengikuti pemahaman Salafush Sholeh melalui apa yang disampaikan oleh Imam Mazhab yang empat dan mengikuti penjelasan-penjelasan yang disampaikan oleh para ulama-ulama terdahulu yang mengikuti Imam Mazhab yang empat sambil kita merujuk darimana mereka mengambilnya yakni Al Qur’an dan As Sunnah dengan menggunakan akal qalbu (akal pikiran yang ditundukkan kepada akal qalbu) berdasarkan karunia hikmah dari Allah Azza wa Jalla</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Wassalam</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Zon di Jonggol, Kab Bogor 16830</p>
<br />Filed under: <a href='http://mutiarazuhud.wordpress.com/category/islam/'>Islam</a>, <a href='http://mutiarazuhud.wordpress.com/category/umum/'>Umum</a>  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/mutiarazuhud.wordpress.com/4673/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/mutiarazuhud.wordpress.com/4673/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/mutiarazuhud.wordpress.com/4673/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/mutiarazuhud.wordpress.com/4673/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/mutiarazuhud.wordpress.com/4673/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/mutiarazuhud.wordpress.com/4673/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/mutiarazuhud.wordpress.com/4673/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/mutiarazuhud.wordpress.com/4673/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/mutiarazuhud.wordpress.com/4673/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/mutiarazuhud.wordpress.com/4673/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/mutiarazuhud.wordpress.com/4673/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/mutiarazuhud.wordpress.com/4673/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/mutiarazuhud.wordpress.com/4673/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/mutiarazuhud.wordpress.com/4673/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=mutiarazuhud.wordpress.com&amp;blog=7078984&amp;post=4673&amp;subd=mutiarazuhud&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://mutiarazuhud.wordpress.com/2012/01/29/tundukkan-akal-pikiran/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/da9e7464e9e3c4447f52e554f6476dfa?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">mutiarazuhud</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Mendahului dalil naqli</title>
		<link>http://mutiarazuhud.wordpress.com/2012/01/27/mendahului-dalil-naqli/</link>
		<comments>http://mutiarazuhud.wordpress.com/2012/01/27/mendahului-dalil-naqli/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 27 Jan 2012 11:29:56 +0000</pubDate>
		<dc:creator>mutiarazuhud</dc:creator>
				<category><![CDATA[Islam]]></category>
		<category><![CDATA[Umum]]></category>
		<category><![CDATA[Akal]]></category>
		<category><![CDATA[alat]]></category>
		<category><![CDATA[bahasa]]></category>
		<category><![CDATA[bid'atin]]></category>
		<category><![CDATA[dalil]]></category>
		<category><![CDATA[Dengan]]></category>
		<category><![CDATA[dholalah]]></category>
		<category><![CDATA[kullu]]></category>
		<category><![CDATA[memahami]]></category>
		<category><![CDATA[mengikuti]]></category>
		<category><![CDATA[naqli]]></category>
		<category><![CDATA[pikiran]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://mutiarazuhud.wordpress.com/?p=4669</guid>
		<description><![CDATA[Janganlah memahami ilmu agama dengan akal pikiran sendiri &#160; Rasulullah shallallahu alaihi wasallam tidak pernah mengatakan &#8220;seluruh bid&#8217;ah sesat&#8221; namun Beliau mengatakan &#8220;kullu bid&#8217;atin dholalah&#8220; Dalam memahami ilmu agama janganlah menggunakan akal pikiran sendiri. Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda, “Barangsiapa menguraikan Al Qur’an dengan akal pikirannya sendiri dan merasa benar, maka sesungguhnya dia telah berbuat [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=mutiarazuhud.wordpress.com&amp;blog=7078984&amp;post=4669&amp;subd=mutiarazuhud&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Janganlah memahami ilmu agama dengan akal pikiran sendiri </strong></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Rasulullah shallallahu alaihi wasallam tidak pernah mengatakan &#8220;<em>seluruh bid&#8217;ah sesat</em>&#8221; namun Beliau mengatakan &#8220;<em>kullu bid&#8217;atin dholalah</em>&#8220;</p>
<p>Dalam memahami ilmu agama janganlah menggunakan akal pikiran sendiri.</p>
<p>Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda, “<em>Barangsiapa menguraikan Al Qur’an dengan akal pikirannya sendiri dan merasa benar, maka sesungguhnya dia telah berbuat kesalaha</em>n”. (HR. Ahmad)</p>
<p>Dari Ibnu ‘Abbas r.a. berkata Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda, “<em>di dalam agama itu tidak ada pemahaman berdasarkan akal pikiran, sesungguhnya agama itu dari Tuhan, perintah-Nya dan larangan-Nya.</em>” (Hadits riwayat Ath-Thabarani)</p>
<p>Yang dimaksud menggunakan akal pikiran sendiri adalah akal pikiran mendahului dalil naqli atau akal pikiran mendahului firmanNya atau akal pikiran mendahului sunnah Rasulullah.</p>
<p>Akal pikiran mendahului dalil naqli atau akal pikiran mendahuli firmanNya dikatakan sebagai upaya pembenaran.</p>
<p>Seharusnya adalah akal pikiran mengikuti dalil naqli atau akal pikiran mengikuti firmanNya atau akal pikiran mengikuti sunnah Rasulullah</p>
<p>Akal pikiran mengikuti dalil naqli atau akal pikiran mengikuti firmanNya dikatakan sebagai upaya mengikuti kebenaran.</p>
<p>Akal pikiran mengikuti dalil naqli atau akal pikiran mengikuti firmanNya adalah,</p>
<p>1. Memahami dengan mendengarkan apa yang disampaikan oleh ulama-ulama bersanad ilmu tersambung kepada lisannya Rasulullah shallallahu alaihi wasallam<br />
2. Memahami dengan alat-alat bahasa seperti nahwu, shorof, balaghoh, makna majaz dll<br />
3. Memahami dengan akal qalbu. Akal pikiran mengikuti akal qalbu , akal pikiran (otak / logika / memori) mengikuti qalbu yang telah diilhamkan oleh Allah Azza wa Jalla.</p>
<p>Firman Allah ta’ala yang artinya,<br />
“<em>maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaannya</em>“. (QS Asy Syams [91]:8)<br />
“<em>Dan Kami telah menunjukkan kepadanya dua jalan</em>” (QS Al Balad [90]:10)</p>
<p>Pemahaman dengan akal qalbu disebut pemahaman secara hikmah.</p>
<p>Allah Azza wa Jalla berfirman yang artinya “<em>Allah menganugerahkan al hikmah (pemahaman yang dalam tentang Al Qur’an dan As Sunnah) kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Dan barangsiapa yang dianugerahi hikmah, ia benar-benar telah dianugerahi karunia yang banyak. Dan hanya Ulil Albab yang dapat mengambil pelajaran (dari firman Allah)</em>“. (QS Al Baqarah [2]:269 ).<br />
Berikut memahami &#8220;<em>Kullu bid&#8217;atin dholalah</em>&#8220;  dengan alat bahasa</p>
<p>Pengertian kullu ada 3 macam yakni<br />
1. syay’in artinya setiap satu<br />
2. ba’din artinya setiap sebagian<br />
3. jam’in artinya setiap semua.</p>
<p>Al-Imam an-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menuliskan: “<em>Sabda Rasulullah “Kullu Bid’ah dlalalah” ini adalah ‘Amm Makhshush; artinya, lafazh umum yang telah dikhususkan kepada sebagian maknanya. Jadi yang dimaksud adalah bahwa sebagian besar bid’ah itu sesat (bukan mutlak semua bid’ah itu sesat)</em>” (al-Minhaj Bi Syarah Shahih Muslim ibn al-Hajjaj, j. 6, hlm. 154).</p>
<p>Hadits “Kullu bid’atin dholalah” menurut tata bahasanya ialah ‘Amm Makhsus, artinya makna bid’ah lebih luas dari makna sesat.</p>
<p>Maknanya adalah “<em>setiap sesat adalah bid’ah akan tetapi tidak setiap bid’ah adalah sesat</em>”.</p>
<p><strong>Setiap sesat adalah bid’ah </strong></p>
<p>Setiap yang sesat, Rasulullah shallallahu alaihi wasallam tidak pernah melakukannya</p>
<p>Contohnya meninggalkan sholat 5 waktu. Rasulullah Rasulullah shallallahu alaihi wasallam tidak pernah melakukannya.</p>
<p><strong>Tidak setiap bid’ah adalah sesat </strong></p>
<p>Tidak selalu perbuatan yang tidak pernah dilakukan oleh Rasulullah adalah sesat.</p>
<p>Jika perbuatan tersebut bertentangan dengan Al Qur’an dan As Sunnah maka perbuatan itu termasuk sesat (bid’ah dholalah)<br />
Jika perbuatan tersebut tidak bertentangan dengan Al Qur’an dan As Sunnah maka perbuatan itu termasuk hal yang baik (bid’ah hasanah/mahmudah)</p>
<p>Dengan kesadaran adanya bid’ah hasanah maka setiap kita akan melakukan perbuatan atau mencontohkan perbuatan yang tidak pernah dilakukan oleh Rasulullah shallallahu alaihi wasallam maka kita akan selalu merujuk kepada Al Qur’an dan As Sunnah.</p>
<p>قاَلَ الشّاَفِعِي رَضِيَ اللهُ عَنْهُ -ماَ أَحْدَثَ وَخاَلَفَ كِتاَباً أَوْ سُنَّةً أَوْ إِجْمَاعاً أَوْ أَثَرًا فَهُوَ البِدْعَةُ الضاَلَةُ ، وَماَ أَحْدَثَ مِنَ الخَيْرِ وَلَمْ يُخاَلِفُ شَيْئاً مِنْ ذَلِكَ فَهُوَ البِدْعَةُ المَحْمُوْدَةُ -(حاشية إعانة 313 ص 1الطالبين -ج )</p>
<p>Artinya ;<br />
Imam Syafei ra berkata –Segala hal yang baru (tidak terdapat di masa Rasulullah) dan menyalahi pedoman Al-Qur’an, Al-Hadits, Ijma’ (sepakat Ulama) dan Atsar (Pernyataan sahabat) adalah bid’ah yang sesat (bid&#8217;ah dholalah). Dan segala kebaikan yang baru (tidak terdapat di masa Rasulullah) dan tidak menyelahi pedoman tersebut maka ia adalah bid’ah yang terpuji  (bid&#8217;ah mahmudah atau bid&#8217;ah hasanah), bernilai pahala. (Hasyiah Ianathuth-Thalibin –Juz 1 hal. 313)</p>
<p>Kita harus terus mewaspadai upaya hasutan atau ghazwul fikri (perang pemahaman) yang dilancarkan oleh kaum Zionis Yahudi.</p>
<p>Salah satu penghasutnya adalah perwira Yahudi Inggris bernama Edward Terrence Lawrence yang dikenal oleh ulama jazirah Arab sebagai Laurens Of Arabian. Laurens menyelidiki dimana letak kekuatan umat Islam dan berkesimpulan bahwa kekuatan umat Islam terletak kepada ketaatan dengan mazhab (bermazhab) dan istiqomah mengikuti tharikat-tharikat tasawuf. Laurens mengupah ulama-ulama yang anti tharikat dan anti mazhab untuk menulis buku buku yang menyerang tharikat dan mazhab. Buku tersebut diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa dan dibiayai oleh pihak orientalis.</p>
<p>Cara-cara mereka menghasut sangat halus sekali,  contohnya mereka mengajak kaum muslim kembali kepada Al Qur&#8217;an dan As Sunnah dengan akal pikiran sendiri sehingga menimbulkan perselisihan di antara kaum muslim</p>
<p>Mereka yang terhasut meninggalkan pemahaman atau pendapat Imam Mazhab yang empat yang telah disepakati oleh jumhur ulama sejak dahulu sampai sekarang sebagai pemimpin atau imam ijtihad kaum muslim (Imam Mujtahid Mutlak)</p>
<p>Imam Mazhab yang empat bertalaqqi (mengaji) langsung dengan Salafush Sholeh.<br />
Imam Mazhab yang empat mengetahui dan mengikuti pemahaman Salafush Sholeh melalui lisannya Salafush Sholeh.<br />
Imam Mazhab yang empat melihat sendiri penerapan, perbuatan serta contoh nyata dari Salafush Sholeh.</p>
<p>Mereka yang terhasut merasa telah mengikuti pemahaman Salafush Sholeh namun kenyataannya mereka tidak lebih dari mengikuti pemahaman ulama-ulama yang mengaku-aku mengikuti pemahaman Salafush Sholeh namun tidak bertalaqqi (mengaji) dengan Salafush Sholeh. Dari mana ulama-ulama tersebut mendapatkan pemahaman Salafush Sholeh kalau bukan pemahaman ulama-ulama tersebut dengan akal pikiran mereka sendiri.</p>
<p>Marilah kita kembali mengikuti pemahaman Salafush Sholeh melalui apa yang disampaikan oleh Imam Mazhab yang empat dan mengikuti penjelasan-penjelasan yang disampaikan oleh para ulama-ulama terdahulu yang mengikuti Imam Mazhab yang empat sambil kita merujuk darimana mereka mengambilnya yakni Al Qur&#8217;an dan As Sunnah</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Wassalam</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Zon di Jonggol, Kab Bogor 16830</p>
<p>&nbsp;</p>
<br />Filed under: <a href='http://mutiarazuhud.wordpress.com/category/islam/'>Islam</a>, <a href='http://mutiarazuhud.wordpress.com/category/umum/'>Umum</a>  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/mutiarazuhud.wordpress.com/4669/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/mutiarazuhud.wordpress.com/4669/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/mutiarazuhud.wordpress.com/4669/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/mutiarazuhud.wordpress.com/4669/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/mutiarazuhud.wordpress.com/4669/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/mutiarazuhud.wordpress.com/4669/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/mutiarazuhud.wordpress.com/4669/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/mutiarazuhud.wordpress.com/4669/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/mutiarazuhud.wordpress.com/4669/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/mutiarazuhud.wordpress.com/4669/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/mutiarazuhud.wordpress.com/4669/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/mutiarazuhud.wordpress.com/4669/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/mutiarazuhud.wordpress.com/4669/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/mutiarazuhud.wordpress.com/4669/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=mutiarazuhud.wordpress.com&amp;blog=7078984&amp;post=4669&amp;subd=mutiarazuhud&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://mutiarazuhud.wordpress.com/2012/01/27/mendahului-dalil-naqli/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/da9e7464e9e3c4447f52e554f6476dfa?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">mutiarazuhud</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Perkataan menyesatkan</title>
		<link>http://mutiarazuhud.wordpress.com/2012/01/27/perkataan-menyesatkan/</link>
		<comments>http://mutiarazuhud.wordpress.com/2012/01/27/perkataan-menyesatkan/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 27 Jan 2012 11:25:14 +0000</pubDate>
		<dc:creator>mutiarazuhud</dc:creator>
				<category><![CDATA[Islam]]></category>
		<category><![CDATA[Umum]]></category>
		<category><![CDATA[AL Qur'an]]></category>
		<category><![CDATA[As Sunnah]]></category>
		<category><![CDATA[Baik]]></category>
		<category><![CDATA[bid'ah]]></category>
		<category><![CDATA[dilakukan]]></category>
		<category><![CDATA[hal itu baik]]></category>
		<category><![CDATA[ilahi]]></category>
		<category><![CDATA[KAANA]]></category>
		<category><![CDATA[KHOIRON]]></category>
		<category><![CDATA[LASABAQUNA]]></category>
		<category><![CDATA[LAU]]></category>
		<category><![CDATA[menyesatkan]]></category>
		<category><![CDATA[perkataan]]></category>
		<category><![CDATA[sahabat]]></category>
		<category><![CDATA[seandainya]]></category>
		<category><![CDATA[Sholeh]]></category>
		<category><![CDATA[tidak bertentangan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://mutiarazuhud.wordpress.com/?p=4666</guid>
		<description><![CDATA[Akibat perkataan bid’ah yang menyesatkan &#160; Luar biasa yang diakibatkan perkataan bid’ah yang menyesatkan yakni “LAU KAANA KHOIRON LASABAQUNA ILAIHI” ,  “Seandainya hal itu baik, tentu mereka, para sahabat akan mendahului kita dalam melakukannya” Perkataan tersebut adalah perkara baru (bid’ah) karena bukan firman Allah Azza wa Jalla dan bukan pula perkataan Rasulullah, bukan perkataan para [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=mutiarazuhud.wordpress.com&amp;blog=7078984&amp;post=4666&amp;subd=mutiarazuhud&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Akibat perkataan bid’ah yang menyesatkan</strong></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Luar biasa yang diakibatkan perkataan bid’ah yang menyesatkan yakni “LAU KAANA KHOIRON LASABAQUNA ILAIHI” ,  “<em>Seandainya hal itu baik, tentu mereka, para sahabat akan mendahului kita dalam melakukannya</em>”</p>
<p>Perkataan tersebut adalah perkara baru (bid’ah) karena bukan firman Allah Azza wa Jalla dan bukan pula perkataan Rasulullah, bukan perkataan para Sahabat atau Salaf yang Sholeh lainnya</p>
<p>Dari susunan kata “LAU KAANA KHOIRON LASABAQUNA ILAIHI” tak ada satupun yang dapat diartikan sebagai “para Sahabat”</p>
<p>Ada perkataan yang mirip dengan itu adalah pada firman Allah ta’ala, waqaala alladziina kafaruu lilladziina aamanuu law kaana khayran maa sabaquunaa ilayhi wa-idz lam yahtaduu bihi fasayaquuluuna haadzaa ifkun qadiimun</p>
<p>Dan orang-orang kafir berkata kepada orang-orang yang beriman: “<em>Kalau sekiranya di (Al-Qur’an) adalah suatu yang baik, tentulah mereka tiada mendahului kami (beriman) kepadanya. Dan karena mereka tidak mendapat petunjuk dengannya maka mereka akan berkata: “Ini adalah dusta yang lama</em>”. (QS al Ahqaaf [46]:11 ).</p>
<p>Maksud ayat ini ialah bahwa orang-orang kafir itu mengejek orang-orang Islam dengan mengatakan: Kalau sekiranya Al-Qur’an ini benar tentu kami lebih dahulu beriman kepadanya daripada mereka orang-orang miskin dan lemah itu seperti Bilal, ‘Ammar, Suhaib, Habbab radhiyallahu anhum dan sebagainya. Jelas perkataan tersebut adalah perkataan orang-orang kafir.</p>
<p>Tinjauan kritis terhadap perkataan bid’ah yang menyesatkan tersebut telah disampaikan dalam tulisan pada <a href="http://mutiarazuhud.wordpress.com/2012/01/16/bukan-perkataan-salaf/">http://mutiarazuhud.wordpress.com/2012/01/16/bukan-perkataan-salaf/</a></p>
<p>Akibat dari perkataan bid’ah yang menyesatkan tersebut segelintir kaum muslim secara tidak disadari tidak dapat dengan baik menggunakan Al Qur’an dan As Sunnah sebagai petunjuk dalam menjalankan kehidupan di dunia agar selamat di dunia dan di akhirat.</p>
<p>Firman Allah ta’ala yang artinya,<br />
&#8220;<em>Dengan kitab (Al-Qur’an) itulah Allah menunjuki orang-orang yang mengikuti keredhaan-Nya ke jalan keselamatan, dan (dengan kitab itu pula) Allah mengeluarkan orang-orang itu dari gelap gulita kepada cahaya yang terang benderang dengan seizin-Nya, dan menunjuki mereka ke jalan yang lurus</em>&#8220;. (QS Al Maa’idah [5] :16)</p>
<p>&#8220;<em>Kitab (Al-Quran) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertaqwa</em>&#8220;, (QS. Al Baqarah  [2]: 2)</p>
<p>Mereka ragu mana yang merupakan amal kebaikan mana yang amal keburukan. Bahkan ada yang ikut-ikutan bahwa “<em>baik itu relatif tergantung sudut pandang manusia atau kesepakatan antar manusia</em>”</p>
<p>Berikut pertanyaan dan pemahaman yang mereka sampaikan,</p>
<p><em>&#8220;Maulid Nabi adalah amal kebaikan&#8221;, baik di sini menurut apa?<br />
Apakah menurut Al Qur’an dan As Sunnah atau menurut hawa nafsu ?<br />
Yang bisa dijadikan tolok ukur perbuatan itu baik atau tidak adalah Al Qur’an dan As Sunnah.<br />
Antum sendiri mengkritisi mereka yang menggunakan akal pikiran dalam &#8216;membid&#8217;ahkan&#8217; sesuatu. Tapi akal pikiran pula yang antum gunakan untuk menilai &#8220;Maulid Nabi adalah amal kebaikan&#8221; </em><br />
Berikut penjelasan dari kami,</p>
<p>Setiap kita akan bersikap atau melakukan perbuatan diluar apa yang telah diwajibkan oleh Allah Azza wa Jalla yakni wajib dikerjakan dan wajib dijauhi , apa yang menjadi landasan bagi kita bahwa sikap atau perbuatan itu adalah baik atau buruk ?</p>
<p>Sikap atau perbuatan yang baik adalah jika sikap atau perbuatan tersebut sesuai atau tidak bertentangan dengan Al Qur&#8217;an dan As Sunnah<br />
Sikap atau perbuatan yang buruk adalah jika sikap atau perbuatan tersebut tidak sesuai atau bertentangan dengan Al Qur&#8217;an dan As Sunnah</p>
<p>Jadi segala sikap dan perbuatan yang tidak bertentangan dengan Al Qur&#8217;an dan As Sunnah adalah perkara baik atau amal kebaikan (hasanah / mahmudah / amalan sunnah)<br />
Sebaliknya , segala sikap dan perbuatan yang bertentangan dengan Al Qur&#8217;an dan As Sunnah adalah perkara buruk (sayyiah)</p>
<p>Tidak semua amal kebaikan disampaikan atau dicontohkan dalam Al Qur’an dan As Sunnah. Pada hakikatnya seluruh sikap dan perbuatan yang tidak bertentangan dengan Al Qur’an  dan As Sunnah adalah amal kebaikan.</p>
<p>Seluruh manusia yang ingin selamat dunia dan akhirat wajib melakukan sikap dan perbuatan  yang sesuai atau tidak bertentangan dengan Al Qur&#8217;an dan As Sunnah</p>
<p>Contohnya,<br />
Seseorang menggunakan facebook sebagai sarana belajar agama atau untuk berdakwah. Apakah perbuatan tersebut bertentangan atau tidak bertentangan dengan Al Qur&#8217;an dan As Sunnah ? Tentu perbuatan tersebut tidak bertentangan dengan Al Qur&#8217;an dan As Sunnah sehingga termasuk amal kebaikan</p>
<p>Seseorang menggunakan facebook untuk bergossip, fitnah, menghujat. Apakah perbuatan tersebut bertentangan atau tidak bertentangan dengan Al Qur&#8217;an dan As Sunnah ? Tentu perbuatan tersebut bertentangan dengan Al Qur&#8217;an dan As Sunnah sehingga termasuk amal keburukan.</p>
<p>Hal pokok yang disampaikan dalam Al Qur’an dan As Sunnah dan wajib diiikuti oleh seluruh manusia adalah urusan agama atau perkara syariat atau syarat sebagai hamba Allah atau segala perkara yang telah diwajibkanNya yakni wajib dikerjakan dan wajib dijauhi meliputi,<br />
Perkara kewajiban yang jika ditinggalkan berdosa<br />
Perkara larangan yang jika dikerjakan / dilanggar berdosa<br />
Perkara pengharaman yang jika yang jika dikerjakan / dilanggar berdosa</p>
<p>Dari Ibnu ‘Abbas r.a. berkata Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda, “<em>di dalam agama itu tidak ada pemahaman berdasarkan akal pikiran, sesungguhnya agama itu dari Tuhan, perintah-Nya dan larangan-Nya</em>.” (Hadits riwayat Ath-Thabarani)</p>
<p>Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda, “<em>Sesungguhnya Allah telah mewajibkan beberapa kewajiban (ditinggalkan berdosa), maka jangan kamu sia-siakan dia; dan Allah telah memberikan beberapa larangan (dikerjakan berdosa)), maka jangan kamu langgar dia; dan Allah telah mengharamkan sesuatu (dikerjakan berdosa), maka jangan kamu pertengkarkan dia; dan Allah telah mendiamkan beberapa hal sebagai tanda kasihnya kepada kamu, Dia tidak lupa, maka jangan kamu perbincangkan dia.</em>” (Riwayat Daraquthni, dihasankan oleh an-Nawawi)</p>
<p>Urusan agama atau perkara syariat atau perkara yang diwajibkanNya (wajib dikerjakan dan wajib dijauhi) telah sempurna.</p>
<p>Firman Allah ta&#8217;ala yang artinya, &#8220;<em>Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu ni`mat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu</em>”. (Qs. Al Maidah; 3)</p>
<p>Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda, “<em>Tidak tertinggal sedikitpun yang mendekatkan kamu dari surga dan menjauhkanmu dari neraka melainkan telah dijelaskan bagimu </em>” (HR Ath Thabraani dalam Al Mu’jamul Kabiir no. 1647)<br />
“mendekatkan dari surga” = perkara kewajiban (ditinggalkan berdosa)<br />
“menjauhkan dari neraka” = perkara larangan dan perkara pengharaman (dikerjakan berdosa)</p>
<p>Segala sikap dan perbuatan atau amalan diluar perkara syariat atau diluar dari apa yang telah diwajibkanNya (wajib dijalankan dan wajib dijauhi) yang tidak bertentangan dengan Al Qur’an dan As Sunnah atau yang tidak bertentangan dengan apa yang telah diwajibkanNya atau tidak bertentangan dengan perkara syariat atau tidak menyelisihi syar’i  atau  amalan sunnah atau amal kebaikan bertujuan untuk memperjalankan dirinya agar sampai (wushul) kepada Allah atau mendekatkan diri kepada Allah Azza wa Jalla.</p>
<p>Dalam sebuah hadits qudsi, Allah berfirman “<em>hamba-Ku tidak bisa mendekatkan diri kepada-Ku dengan sesuatu yang lebih Aku cintai daripada yang telah Aku wajibkan (perkara syariat), jika hamba-Ku terus menerus mendekatkan diri kepadaKu dengan amalan sunnah (amal kebaikan), maka Aku mencintai dia</em>“  (HR Bukhari 6021)</p>
<p>Seorang muslim melakukan segala sikap dan perbuatan atau amalan diluar perkara syariat atau diluar dari apa yang telah diwajibkanNya (wajib dijalankan dan wajib dijauhi) yang tidak bertentangan dengan Al Qur’an dan As Sunnah termasuk amalan / perbuatan mengingat Allah (dzikrullah).</p>
<p>Seluruh dzikrullah bertujuan untuk memperjalankan diri agar sampai (wushul) kepada Allah atau mendekatkan diri kepada Allah Azza wa Jalla</p>
<p>Dalam suatu riwayat. ”Qoola a’liyy bin Abi Thalib: Qultu yaa Rosuulolloh ayyun thoriiqotin aqrobu ilallohi? Faqoola Rasullulohi: dzikrullahi”. artinya; “Ali Bin Abi Thalib berkata; “aku bertanya kepada Rasullulah, jalan/metode(Thariqot) apakah yang bisa mendekatkan diri kepada Allah? “Rasullulah menjawab; “dzikrullah.”</p>
<p>Dalam urusan mendekatkan diri kepada Allah ta’ala, carilah jalan (washilah) masing-masing asalkan akhirnya adalah mencapai muslim yang baik, muslim yang sholeh, muslim yang ihsan.</p>
<p>Firman Allah ta’ala yang artinya “<em>Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan carilah jalan (washilah) yang mendekatkan diri kepada-Nya, dan berjihadlah pada jalan-Nya, supaya kamu mendapat keberuntungan</em>” (QS Al Maa’idah [5]: 35 )”</p>
<p>Jadi,  Maulid Nabi adalah amal kebaikan karena tidak bertentangan dengan Al Qur’an dan As Sunnah. Sekarang tergantung bagaimana cara mengisi peringatan Maulid Nabi  dan tinggalkanlah bentuk kegiatan yang bertentangan dengan Al Qur’an dan As Sunnah.</p>
<p>Maulid Nabi umumnya diisi dengan kegiatan membaca Al Qur’an, Sholawat, kajian dan ceramah seputar kehidupan Rasulullah dan implementasinya dalam kehidupan masa kini.</p>
<p>Kita boleh memperingati atau mengingat masa lampau untuk bekal hari esok,  bahkan hal ini adalah anjuran dari Allah Azza wa Jalla, sebagaimana firmanNya,  “Wal tandhur nafsun ma qaddamat li ghad” “<em>Perhatikan masa lampaumu untuk hari esokmu</em>” (QS al Hasyr [59] : 18 )</p>
<p>Imam Al hafidh Abu Syaamah rahimahullah (Guru imam Nawawi) : Merupakan Bid’ah hasanah yang mulia dizaman kita ini adalah perbuatan yang diperbuat setiap tahunnya di hari kelahiran Rasul shallallahu alaihi wasallam dengan banyak bersedekah, dan kegembiraan, menjamu para fuqara, seraya menjadikan hal itu memuliakan Rasul shallallahu alaihi wasallam dan membangkitkan rasa cinta pada beliau shallallahu alaihi wasallam, dan bersyukur kepada Allah ta’ala dengan kelahiran Nabi shallallahu alaihi wasallam.</p>
<p>Imam Al Hafidh Ibnul Jauzi rahimahullah, dengan karangan maulidnya yang terkenal “al aruus” juga beliau berkata tentang pembacaan maulid, “Sesungguhnya membawa keselamatan tahun itu, dan berita gembira dengan tercapai semua maksud dan keinginan bagi siapa yang membacanya serta merayakannya”.</p>
<p>Jadi, jika berpatokan baik dan buruk sebuah perbuatan bukan berdasarkan Al Qur’an dan As Sunnah dan berpatokan pada perkataan bid’ah yang menyesatkan yakni “LAU KAANA KHOIRON LASABAQUNA ILAIHI”  maka justru timbul perkara baru (bid’ah) dalam agama atau perkara baru (bid’ah) dalam perkara syariat yakni perkara larangan yang jika dikerjakan berdosa. Seolah-olah Allah Azza wa Jalla telah lupa berfirman karena yang tahu baik dan buruk bagi manusia hanyalah Allah Azza wa Jalla</p>
<p>Firman Allah Azza wa Jalla yang artinya, “<em>Katakanlah! Siapakah yang berani mengharamkan perhiasan Allah yang telah diberikan kepada hamba-hambaNya dan beberapa rezeki yang baik itu? Katakanlah! Tuhanku hanya mengharamkan hal-hal yang tidak baik yang timbul daripadanya dan apa yang tersembunyi dan dosa dan durhaka yang tidak benar dan kamu menyekutukan Allah dengan sesuatu yang Allah tidak turunkan keterangan padanya dan kamu mengatakan atas (nama) Allah dengan sesuatu yang kamu tidak mengetahui.</em>” (QS al-A’raf: 32-33)</p>
<p>Kami ada pernah mendengar mereka yang berpendapat bahwa bencana alam dan kemudharatan lainnya yang menimpa khususnya umat Islam di negara kita adalah karena masih melakukan perbuatan bid&#8217;ah dholalah yakni peringatan Maulid Nabi.</p>
<p>Sebagaimana yang telah diuraikan di atas peringatan Maulid Nabi tidaklah bertentang dengan Al Qur&#8217;an dan As Sunnah</p>
<p>Kemudharatan yang menimpa khususnya umat Islam di negara kita salah satunya boleh jadi dikarenakan penguasa negeri menjadikan Amerika yang dibelakangnya kaum Zionis Yahudi sebagai teman kepercaayan, penasehat bahkan pemimpin. Perbuatan inilah yang jelas-jelas bertentangan dengan Al Qur&#8217;an dan As Sunnah.</p>
<p>Firman Allah Azza wa Jalla,</p>
<p>“<em>Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu ambil menjadi teman kepercayaanmu orang-orang yang, di luar kalanganmu (karena) mereka tidak henti-hentinya (menimbulkan) kemudharatan bagimu. Mereka menyukai apa yang menyusahkan kamu. Telah nyata kebencian dari mulut mereka, dan apa yang disembunyikan oleh hati mereka adalah lebih besar lagi. Sungguh telah Kami terangkan kepadamu ayat-ayat (Kami), jika kamu memahaminya</em>” , (QS Ali Imran, 118)</p>
<p>“<em>Beginilah kamu, kamu menyukai mereka, padahal mereka tidak menyukai kamu, dan kamu beriman kepada kitab-kitab semuanya. Apabila mereka menjumpai kamu, mereka berkata “Kami beriman”, dan apabila mereka menyendiri, mereka menggigit ujung jari antaran marah bercampur benci terhadap kamu. Katakanlah (kepada mereka): “Matilah kamu karena kemarahanmu itu”. Sesungguhnya Allah mengetahui segala isi hati</em>“. (QS Ali Imran, 119)</p>
<p>“<em>Tidakkah kamu perhatikan orang-orang yang menjadikan suatu kaum yang dimurkai Allah sebagai teman? Orang-orang itu bukan dari golongan kamu dan bukan (pula) dari golongan mereka. Dan mereka bersumpah untuk menguatkan kebohongan, sedang mereka mengetahui</em>“. (QS Al Mujaadilah [58]:14 )</p>
<p>“<em>Janganlah orang-orang mu’min mengambil orang-orang kafir menjadi wali (pemimpin) dan meninggalkan orang-orang mu’min. Barang siapa berbuat demikian, niscaya lepaslah ia dari pertolongan Allah</em>…” (Qs. Ali-Imran : 28)</p>
<p>“<em>Kamu tidak akan mendapati sesuatu kaum yang beriman kepada Allah dan hari akhirat, saling berkasih sayang dengan orang-orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya, sekalipun orang-orang itu bapak-bapak, atau anak-anak, atau saudara-saudara ataupun keluarga mereka.</em>” (Qs. Al Mujadilah : 22)</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Wassalam</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Zon di Jonggol, Kab Bogor 16830</p>
<p>&nbsp;</p>
<br />Filed under: <a href='http://mutiarazuhud.wordpress.com/category/islam/'>Islam</a>, <a href='http://mutiarazuhud.wordpress.com/category/umum/'>Umum</a>  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/mutiarazuhud.wordpress.com/4666/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/mutiarazuhud.wordpress.com/4666/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/mutiarazuhud.wordpress.com/4666/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/mutiarazuhud.wordpress.com/4666/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/mutiarazuhud.wordpress.com/4666/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/mutiarazuhud.wordpress.com/4666/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/mutiarazuhud.wordpress.com/4666/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/mutiarazuhud.wordpress.com/4666/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/mutiarazuhud.wordpress.com/4666/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/mutiarazuhud.wordpress.com/4666/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/mutiarazuhud.wordpress.com/4666/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/mutiarazuhud.wordpress.com/4666/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/mutiarazuhud.wordpress.com/4666/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/mutiarazuhud.wordpress.com/4666/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=mutiarazuhud.wordpress.com&amp;blog=7078984&amp;post=4666&amp;subd=mutiarazuhud&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://mutiarazuhud.wordpress.com/2012/01/27/perkataan-menyesatkan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/da9e7464e9e3c4447f52e554f6476dfa?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">mutiarazuhud</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Barokah Maulid Nabi</title>
		<link>http://mutiarazuhud.wordpress.com/2012/01/26/barokah-maulid-nabi/</link>
		<comments>http://mutiarazuhud.wordpress.com/2012/01/26/barokah-maulid-nabi/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 25 Jan 2012 21:18:10 +0000</pubDate>
		<dc:creator>mutiarazuhud</dc:creator>
				<category><![CDATA[Islam]]></category>
		<category><![CDATA[Umum]]></category>
		<category><![CDATA[Abu]]></category>
		<category><![CDATA[abu lahab]]></category>
		<category><![CDATA[barokah]]></category>
		<category><![CDATA[berkah]]></category>
		<category><![CDATA[kegembiraan]]></category>
		<category><![CDATA[kelahiran]]></category>
		<category><![CDATA[Lahab]]></category>
		<category><![CDATA[mendapatkan]]></category>
		<category><![CDATA[Nabi]]></category>
		<category><![CDATA[riang]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://mutiarazuhud.wordpress.com/?p=4663</guid>
		<description><![CDATA[Barokah kegembiraan menyambut kelahiran Rasulullah &#160; Ketika Rasulullah lahir dari rahim ibunda tercintanya, Siti Aminah, Tsuwaibah datang kepada Abu Lahab seraya memberikan kabar tentang kelahiran Muhammad, keponakannya yang berupa bayi laki-laki sehat tanpa kekurangan suatu apa pun. Tatkala mendengar kabar kelahiran keponakan lelakinya ini, Abu lahab bersuka cita. Ia melompat-lompat riang gembira seraya meneriakkan kata-kata [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=mutiarazuhud.wordpress.com&amp;blog=7078984&amp;post=4663&amp;subd=mutiarazuhud&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Barokah kegembiraan menyambut kelahiran Rasulullah </strong></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Ketika Rasulullah lahir dari rahim ibunda tercintanya, Siti Aminah, Tsuwaibah datang kepada Abu Lahab seraya memberikan kabar tentang kelahiran Muhammad, keponakannya yang berupa bayi laki-laki sehat tanpa kekurangan suatu apa pun.</p>
<p>Tatkala mendengar kabar kelahiran keponakan lelakinya ini, Abu lahab bersuka cita. Ia melompat-lompat riang gembira seraya meneriakkan kata-kata pujian atas kelahiran keponakannya tersebut sepanjang jalan. Inilah bentuk kegembiraan Abu Lahab, sang paman yang kelak menjadi salah satu musuh bebuyutannya dalam berdakwah.</p>
<p>Namun rupanya tidak cukup sampai di situ saja luapan kegembiraannya kemudian dia membebaskan budak Tsuwaibah</p>
<p>وَقَالَ شُعَيْبٌ عَنْ الزُّهْرِيِّ قَالَ عُرْوَةُ ثُوَيْبَةُ أَعْتَقَهَا أَبُو لَهَبٍ</p>
<p>Syu&#8217;aib berkata; Dari Az Zuhri, bahwa telah berkata Urwah; Yang membebaskan Tsuwaibah adalah Abu Lahab. (HR Bukhari 4953)</p>
<p>حَدَّثَنَا الْحَكَمُ بْنُ نَافِعٍ أَخْبَرَنَا شُعَيْبٌ عَنْ الزُّهْرِيِّ قَالَ أَخْبَرَنِي عُرْوَةُ بْنُ الزُّبَيْرِ أَنَّ زَيْنَبَ بِنْتَ أَبِي سَلَمَةَ أَخْبَرَتْهُ أَنَّ أُمَّ حَبِيبَةَ بِنْتَ أَبِي سُفْيَانَ أَخْبَرَتْهَا أَنَّهَا قَالَتْ يَا رَسُولَ اللَّهِ انْكِحْ أُخْتِي بِنْتَ أَبِي سُفْيَانَ فَقَالَ أَوَتُحِبِّينَ ذَلِكِ فَقُلْتُ نَعَمْ لَسْتُ لَكَ بِمُخْلِيَةٍ وَأَحَبُّ مَنْ شَارَكَنِي فِي خَيْرٍ أُخْتِي فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّ ذَلِكِ لَا يَحِلُّ لِي قُلْتُ فَإِنَّا نُحَدَّثُ أَنَّكَ تُرِيدُ أَنْ تَنْكِحَ بِنْتَ أَبِي سَلَمَةَ قَالَ بِنْتَ أُمِّ سَلَمَةَ قُلْتُ نَعَمْ فَقَالَ لَوْ أَنَّهَا لَمْ تَكُنْ رَبِيبَتِي فِي حَجْرِي مَا حَلَّتْ لِي إِنَّهَا لَابْنَةُ أَخِي مِنْ الرَّضَاعَةِ أَرْضَعَتْنِي وَأَبَا سَلَمَةَ ثُوَيْبَةُ فَلَا تَعْرِضْنَ عَلَيَّ بَنَاتِكُنَّ وَلَا أَخَوَاتِكُنَّ قَالَ عُرْوَةُ وثُوَيْبَةُ مَوْلَاةٌ لِأَبِي لَهَبٍ كَانَ أَبُو لَهَبٍ أَعْتَقَهَا فَأَرْضَعَتْ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَلَمَّا مَاتَ أَبُو لَهَبٍ أُرِيَهُ بَعْضُ أَهْلِهِ بِشَرِّ حِيبَةٍ قَالَ لَهُ مَاذَا لَقِيتَ قَالَ أَبُو لَهَبٍ لَمْ أَلْقَ بَعْدَكُمْ غَيْرَ أَنِّي سُقِيتُ فِي هَذِهِ بِعَتَاقَتِي ثُوَيْبَةَ</p>
<p>Telah menceritakan kepada kami Al Hakam bin Nafi&#8217; Telah mengabarkan kepada kami Syu&#8217;aib dari Az Zuhri ia berkata; Telah mengabarkan kepadaku Urwah bin Az Zubair bahwa Zainab binta Abu Salamah Telah mengabarkan kepadanya bahwa Ummu Habibah binti Abu Sufyan Telah mengabarkan kepadanya bahwa ia pernah berkata, Wahai Rasulullah nikahilah saudaraku binti Abu Sufyan. Maka beliau balik bertanya: Apakah suka akan hal itu? aku menjawab, Ya. Namun aku tidak mau ditinggal oleh Anda. Hanya saja aku suka bila saudariku ikut serta denganku dalam kebaikan. Maka Nabi shallallahu &#8216;alaihi wasallam pun bersabda: Sesungguhnya hal itu tidaklah halal bagiku. Aku berkata, Telah beredar berita, bahwa Anda ingin menikahi binti Abu Salamah. Beliau bertanya: Anak wanita Ummu Salamah? aku menjawab, Ya. Maka beliau pun bersabda: Meskipun ia bukan anak tiriku, ia tidaklah halal bagiku. Sesungguhnya ia adalah anak saudaraku sesusuan. Tsuwaibah telah menyusuiku dan juga Abu Salamah. Karena itu, janganlah kalian menawarkan anak-anak dan saudari-saudari kalian padaku. Urwah berkata; Tsuwaibah adalah bekas budak Abu Lahab. Waktu itu, Abu Lahab membebaskannya, lalu Tsuwaibah pun menyusui Nabi shallallahu &#8216;alaihi wasallam. Dan ketika Abu Lahab meninggal, ia pun diperlihatkan kepada sebagian keluarganya di alam mimpi dengan keadaan yang memprihatinkan. Sang kerabat berkata padanya, Apa yang telah kamu dapatkan? Abu Lahab berkata.Setelah kalian, aku belum pernah mendapati sesuatu nikmat pun, kecuali aku diberi minum lantaran memerdekakan Tsuwaibah. (HR Bukhari  4711)</p>
<p>Hikmah dari kisah di atas adalah bahwa kegembiraan Abu Lahab menyambut kelahiran Rasulullah shallallahu alaihi wasallam dengan membebaskan budak Tsuwaibah  mendapatkan kebijaksanaan dari Allah Azza wa Jalla,  padahal segala amal kebaikan orang kafir  selama di dunia tidak bermanfaat di akhirat kelak.</p>
<p>Firman Allah ta&#8217;ala yang artinya,<br />
“<em>Orang-orang yang kafir kepada Tuhannya, amalan-amalan mereka adalah seperti abu yang ditiup angin dengan keras pada suatu hari yang berangin kencang. Mereka tidak dapat mengambil manfaat sedikitpun dari apa yang telah mereka usahakan (di dunia). Yang demikian itu adalah kesesatan yang jauh</em>”. (QS Ibrahim [14]:18 )</p>
<p>“<em>Dan orang-orang kafir amal-amal mereka adalah laksana fatamorgana di tanah yang datar, yang disangka air oleh orang-orang yang dahaga, tetapi bila didatanginya air itu dia tidak mendapatinya sesuatu apapun. Dan didapatinya (ketetapan) Allah disisinya, lalu Allah memberikan kepadanya perhitungan amal-amal dengan cukup dan Allah adalah sangat cepat perhitungan-Nya</em>” (QS An Nuur [24]:39 )</p>
<p>Kegembiraan Abu Lahab menyambut kelahiran Rasulullah shallallahu alaihi wasallam sebagai amal kebaikan yang tetap diperhitungkan walaupun Abu Lahab adalah seorang yang kafir.</p>
<p>Apalagi umat muslim yang mengikuti Salaf yang sholeh melalui apa yang telah disampaikan oleh Imam Mazhab yang empat yang melihat sendiri penerapan, perbuatan serta contoh nyata dari Salaf yang Sholeh dan juga gembira memperingati Maulid Nabi tentu mereka akan mendapatkan barokah yang sangat besar.</p>
<p>Berikut para Hafidh (mereka yang menghafal dan memahami 100.000 hadits ) berpendapat tentang peringatan Maulid Nabi.</p>
<p>Imam Al Hafidh Assakhawiy dalam kitab Sirah Al Halabiyah berkata <em>“tidak dilaksanakan maulid oleh salaf hingga abad ke tiga, tapi dilaksanakan setelahnya, dan tetap melaksanakannya umat Islam di seluruh pelosok dunia dan bersedekah pada malamnya dengan berbagai macam sedekah dan memperhatikan pembacaan maulid, dan berlimpah terhadap mereka keberkahan yang sangat besar</em>”</p>
<p>Imam Al hafidh Abu Syaamah rahimahullah (Guru imam Nawawi) : &#8220;<em>Merupakan Bid’ah hasanah yang mulia dizaman kita ini adalah perbuatan yang diperbuat setiap tahunnya di hari kelahiran Rasul shallallahu alaihi wasallam dengan banyak bersedekah, dan kegembiraan, menjamu para fuqara, seraya menjadikan hal itu memuliakan Rasul shallallahu alaihi wasallam dan membangkitkan rasa cinta pada beliau shallallahu alaihi wasallam, dan bersyukur kepada Allah ta’ala dengan kelahiran Nabi shallallahu alaihi wasallam</em>&#8220;</p>
<p>Imam Al hafidh Ibn Abidin rahimahullah dalam syarahnya maulid ibn hajar berkata : “<em>ketahuilah salah satu bid’ah hasanah adalah pelaksanaan maulid di bulan kelahiran nabi shallallahu alaihi wasallam</em>”</p>
<p>Imam Al Hafidh Ibnul Jauzi rahimahullah, dengan karangan maulidnya yang terkenal “al aruus” juga beliau berkata tentang pembacaan maulid, “<em>Sesungguhnya membawa keselamatan tahun itu, dan berita gembira dengan tercapai semua maksud dan keinginan bagi siapa yang membacanya serta merayakannya</em>”.</p>
<p>Imam Al Hafidh Al Qasthalaniy rahimahullah dalam kitabnya Al Mawahibulladunniyyah juz 1 hal 148 cetakan al maktab al islami berkata: “<em>Maka Allah akan menurukan rahmat Nya kepada orang yang menjadikan hari kelahiran Nabi saw sebagai hari besar</em>”.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Wassalam</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Zon di Jonggol, Kab Bogor 16830</p>
<br />Filed under: <a href='http://mutiarazuhud.wordpress.com/category/islam/'>Islam</a>, <a href='http://mutiarazuhud.wordpress.com/category/umum/'>Umum</a>  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/mutiarazuhud.wordpress.com/4663/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/mutiarazuhud.wordpress.com/4663/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/mutiarazuhud.wordpress.com/4663/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/mutiarazuhud.wordpress.com/4663/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/mutiarazuhud.wordpress.com/4663/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/mutiarazuhud.wordpress.com/4663/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/mutiarazuhud.wordpress.com/4663/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/mutiarazuhud.wordpress.com/4663/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/mutiarazuhud.wordpress.com/4663/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/mutiarazuhud.wordpress.com/4663/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/mutiarazuhud.wordpress.com/4663/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/mutiarazuhud.wordpress.com/4663/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/mutiarazuhud.wordpress.com/4663/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/mutiarazuhud.wordpress.com/4663/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=mutiarazuhud.wordpress.com&amp;blog=7078984&amp;post=4663&amp;subd=mutiarazuhud&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://mutiarazuhud.wordpress.com/2012/01/26/barokah-maulid-nabi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/da9e7464e9e3c4447f52e554f6476dfa?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">mutiarazuhud</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Peringatan Maulid Nabi</title>
		<link>http://mutiarazuhud.wordpress.com/2012/01/25/peringatan-maulid-nabi/</link>
		<comments>http://mutiarazuhud.wordpress.com/2012/01/25/peringatan-maulid-nabi/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 25 Jan 2012 09:58:14 +0000</pubDate>
		<dc:creator>mutiarazuhud</dc:creator>
				<category><![CDATA[Islam]]></category>
		<category><![CDATA[Umum]]></category>
		<category><![CDATA[Amal]]></category>
		<category><![CDATA[baru]]></category>
		<category><![CDATA[bid'ah]]></category>
		<category><![CDATA[Boleh]]></category>
		<category><![CDATA[bukan perkara kewajiban]]></category>
		<category><![CDATA[Kebaikan]]></category>
		<category><![CDATA[maulid]]></category>
		<category><![CDATA[mubah]]></category>
		<category><![CDATA[Nabi]]></category>
		<category><![CDATA[Peringatan]]></category>
		<category><![CDATA[peringatan maulid nabi]]></category>
		<category><![CDATA[perkara]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://mutiarazuhud.wordpress.com/?p=4689</guid>
		<description><![CDATA[Peringatan Maulid Nabi Peringatan Maulid Nabi, selama yang melaksanakannya berkeyakinan sebagai amal kebaikan tidaklah masalah Yang bermasalah adalah jika yang melaksanakan Maulid Nabi berkeyakinan sebagai sebuah kewajiban yang jika ditinggalkan berdosa karena Allah Azza wa Jalla tidak pernah menetapkannya sebagai kewajiban Perkara yang ditinggalkan berdosa (kewajiban) maupun yang dilanggar berdosa (larangan dan pengharaman) adalah hak [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=mutiarazuhud.wordpress.com&amp;blog=7078984&amp;post=4689&amp;subd=mutiarazuhud&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Peringatan Maulid Nabi </strong></p>
<p>Peringatan Maulid Nabi, selama yang melaksanakannya berkeyakinan sebagai amal kebaikan tidaklah masalah</p>
<p>Yang bermasalah adalah jika yang melaksanakan Maulid Nabi berkeyakinan sebagai sebuah kewajiban yang jika ditinggalkan berdosa karena Allah Azza wa Jalla tidak pernah menetapkannya sebagai kewajiban</p>
<p>Perkara yang ditinggalkan berdosa (kewajiban) maupun yang dilanggar berdosa (larangan dan pengharaman) adalah hak Allah Azza wa Jalla menetapkannya</p>
<p>Perkara yang ditinggalkan berdosa (kewajiban) maupun yang dilanggar berdosa (larangan dan pengharaman) adalah yang disebut sebagai perkara syariat atau dibeberapa hadits disebut dengan istilah &#8220;urusan agama&#8221; atau &#8220;urusan kami&#8221;</p>
<p>Dari Ibnu ‘Abbas r.a. berkata Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda, “<em>sesungguhnya agama itu dari Tuhan, perintah-Nya dan larangan-Nya</em>.” (Hadits riwayat Ath-Thabarani)</p>
<p>Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda, “<em>Sesungguhnya Allah telah mewajibkan beberapa kewajiban (ditinggalkan berdosa), maka jangan kamu sia-siakan dia; dan Allah telah memberikan beberapa larangan (dikerjakan berdosa)), maka jangan kamu langgar dia; dan Allah telah mengharamkan sesuatu (dikerjakan berdosa), maka jangan kamu pertengkarkan dia; dan Allah telah mendiamkan beberapa hal sebagai tanda kasihnya kepada kamu, Dia tidak lupa, maka jangan kamu perbincangkan dia</em>.” (Riwayat Daraquthni, dihasankan oleh an-Nawawi)</p>
<p>Perkara Syariat atau &#8220;urusan agama&#8221; atau &#8220;urusan kami&#8221; telah sempurna</p>
<p>Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda, “<em>Tidak tertinggal sedikitpun yang mendekatkan kamu dari surga dan menjauhkanmu dari neraka melainkan telah dijelaskan bagimu</em> ” (HR Ath Thabraani dalam Al Mu’jamul Kabiir no. 1647)<br />
“mendekatkan dari surga” = perkara kewajiban (ditinggalkan berdosa)<br />
“menjauhkan dari neraka” = perkara larangan dan perkara pengharaman (dikerjakan berdosa)</p>
<p>Jika ulama berfatwa dalam perkara kewajiban (ditinggalkan berdosa), perkara larangan (dikerjakan berdosa) dan perkara pengharaman (dikerjakan berdosa) wajib berlandaskan dengan apa yang telah ditetapkan oleh Allah Azza wa Jalla</p>
<p>Perkara Syariat harus sesuai dengan apa yang telah dilakukan atau dicontohkan oleh Rasulullah shallallahu alaihi wasallam</p>
<p>Dalam perkara syariat berlaku “<em>hukum asal ibadah adalah haram sampai ada dalil yang mensyari’atkannya atau menetapkannya</em>”</p>
<p>Perkara baru dalam perkara syariat adalah bid&#8217;ah dholalah</p>
<p>Sedangkan perkara baru (bid&#8217;ah) diluar perkara syariat, jika bertentang dengan Al Qur&#8217;an dan As Sunnah adalah termasuk bid&#8217;ah dholalah dan jika tidak bertentangan dengan Al Qur&#8217;an dan As Sunnah adalah termasuk bid&#8217;ah hasanah.</p>
<p>Imam Syafi’i ~rahimahullah berkata “<em>Apa yang baru terjadi dan menyalahi kitab al Quran atau sunnah Rasul atau ijma’ atau ucapan sahabat, maka hal itu adalah bid’ah yang dhalalah. Dan apa yang baru terjadi dari kebaikan dan tidak menyalahi sedikitpun dari hal tersebut, maka hal itu adalah bid’ah mahmudah (terpuji)</em>”</p>
<p>Imam Syafi’i ~rahimahullah berkata “<em>Perkara-perkara yang baru (al muhdats) terbagi dua, Pertama : perkara baru yang bertentangan dengan kitab, sunnah, atsar para sahabat dan ijma’, ini adalah bid’ah dlalalah, kedua: perkara baru yang baik dan tidak bertentangan dengan salah satu dari hal-hal di atas, maka ini adalah perkara baru yang tidak tercela</em>” (Diriwayatkan oleh al Hafizh al Baihaqi dalam kitabnya “Manaqib asy-Syafi’i”, Juz I, h. 469)</p>
<p>Perkara diluar perkara syariat tidak harus selalu sesuai dengan apa yang dicontohkan oleh Rasulullah</p>
<p>Dalam perkara diluar perkara syariat berlaku &#8220;hukum asal segala sesuatu adalah mubah sampai ada dalil yang melarangnya”</p>
<p>Para Hafidh (ahli hadits yang hafal 100.000 hadits dan dapat menshahihkan sanad dan matan hadis dan dapat men-ta&#8217;dil-kan dan men-jarh-kan rawinya) menyampaikan pendapat mereka tentang peringatan Maulid Nabi</p>
<p>Imam Al hafidh Abu Syaamah rahimahullah (Guru imam Nawawi) : “Merupakan Bid’ah hasanah yang mulia dizaman kita ini adalah perbuatan yang diperbuat setiap tahunnya di hari kelahiran Rasul shallallahu alaihi wasallam dengan banyak bersedekah, dan kegembiraan, menjamu para fuqara, seraya menjadikan hal itu memuliakan Rasul shallallahu alaihi wasallam dan membangkitkan rasa cinta pada beliau shallallahu alaihi wasallam, dan bersyukur kepada Allah ta’ala dengan kelahiran Nabi shallallahu alaihi wasallam“.</p>
<p>Imamul Qurra’ Alhafidh Syamsuddin Aljazriy rahimahullah dalam kitabnya ‘Urif bitta’rif Maulidissyariif : “Telah diriwayatkan Abu Lahab diperlihatkan dalam mimpi dan ditanya apa keadaanmu?, ia menjawab : “di neraka, tapi aku mendapat keringanan setiap malam senin, itu semua sebab aku membebaskan budakku Tsuwaibah demi kegembiraanku atas kelahiran Nabi shallallahu alaihi wasallam dan karena Tsuwaibah menyusuinya ” (shahih Bukhari hadits no.4813). maka apabila Abu Lahab Kafir yang Alqur’an turun mengatakannya di neraka mendapat keringanan sebab ia gembira dengan kelahiran Nabi shallallahu alaihi wasallam, maka bagaimana dengan muslim ummat Muhammad shallallahu alaihi wasallam yang gembira atas kelahiran Nabi shallallahu alaihi wasallam?, maka demi usiaku, sungguh balasan dari Tuhan Yang Maha Pemurah sungguh-sungguh ia akan dimasukkan ke sorga kenikmatan Nya dengan sebab anugerah Nya“.</p>
<p>Imam Al Hafidh Assakhawiy dalam kitab Sirah Al Halabiyah berkata “tidak dilaksanakan maulid oleh salaf hingga abad ke tiga, tapi dilaksanakan setelahnya, dan tetap melaksanakannya umat Islam di seluruh pelosok dunia dan bersedekah pada malamnya dengan berbagai macam sedekah dan memperhatikan pembacaan maulid, dan berlimpah terhadap mereka keberkahan yang sangat besar”.</p>
<p>Imam Al hafidh Ibn Abidin rahimahullah dalam syarahnya maulid ibn hajar berkata : “ketahuilah salah satu bid’ah hasanah adalah pelaksanaan maulid di bulan kelahiran nabi shallallahu alaihi wasallam”</p>
<p>Imam Al Hafidh Ibnul Jauzi rahimahullah, dengan karangan maulidnya yang terkenal “al aruus” juga beliau berkata tentang pembacaan maulid, “Sesungguhnya membawa keselamatan tahun itu, dan berita gembira dengan tercapai semua maksud dan keinginan bagi siapa yang membacanya serta merayakannya”.</p>
<p>Imam Al Hafidh Al Qasthalaniy rahimahullah dalam kitabnya Al Mawahibulladunniyyah juz 1 hal 148 cetakan al maktab al islami berkata: “Maka Allah akan menurukan rahmat Nya kepada orang yang menjadikan hari kelahiran Nabi saw sebagai hari besar”.</p>
<p>Rasulullah shallallahu alaihi wasallam menyampaikan bahwa di masa kemudian akan ada sekte / firqoh yang memerangi (memusuhi) kaum muslim pada umumnya, mereka membuat-buat larangan-larangan ataupun kewajiban berdasarkan akal pikirannya sendiri bukan berlandaskan Al Qur’an dan As Sunnah</p>
<p>Dari Ibnu ‘Abbas r.a. berkata Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda, “Sesungguhnya di masa kemudian akan ada peperangan di antara orang-orang yang beriman.” Seorang Sahabat bertanya: “Mengapa kita (orang-orang yang beriman) memerangi orang yang beriman, yang mereka itu sama berkata: ‘Kami telah beriman’.” Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Ya, karena mengada-adakan di dalam agama (mengada-ada dalam perkara yang merupakan hak Allah ta’ala menetapkannya yakni perkara kewajiban, larangan dan pengharaman) , apabila mereka mengerjakan agama dengan pemahaman berdasarkan akal pikiran, padahal di dalam agama itu tidak ada pemahaman berdasarkan akal pikiran, sesungguhnya agama itu dari Tuhan, perintah-Nya dan larangan-Nya.” (Hadits riwayat Ath-Thabarani).</p>
<p>Allah Azza wa Jalla berfirman,</p>
<p>اتَّخَذُوا أَحْبَارَهُمْ وَرُهْبَانَهُمْ أَرْبَابًا مِنْ دُونِ اللَّهِ</p>
<p>“<em>Mereka menjadikan para rahib dan pendeta mereka sebagai tuhan-tuhan selain Alla</em>h“. (QS at-Taubah [9]:31 )</p>
<p>Ketika Nabi ditanya terkait dengan ayat ini, “<em>apakah mereka menyembah para rahib dan pendeta sehingga dikatakan menjadikan mereka sebagai tuhan-tuhan selain Allah</em>?”</p>
<p>Nabi menjawab, “tidak”</p>
<p>« أما أنهم لم يكونوا يعبدونهم ولكنهم كانوا إذا أحلوا لهم شيئاً استحلوه وإذا حرموا عليهم شيئاً حرموه »</p>
<p>“<em>Mereka tidak menyembah para rahib dan pendeta itu, tetapi jika para rahib dan pendeta itu menghalalkan sesuatu bagi mereka, mereka menganggapnya halal, dan jika para rahib dan pendeta itu mengharamkan bagi mereka sesuatu, mereka mengharamkannya</em>“</p>
<p>Pada riwayat yang lain disebutkan, Rasulullah bersabda  ”<em>mereka (para rahib dan pendeta) itu telah menetapkan haram terhadap sesuatu yang halal, dan menghalalkan sesuatu yang haram, kemudian mereka mengikutinya. Yang demikian itulah penyembahannya kepada mereka.</em>” (Riwayat Tarmizi)</p>
<p>Firman Allah Azza wa Jalla yang artinya,</p>
<p>“<em>Katakanlah! Siapakah yang berani mengharamkan perhiasan Allah yang telah diberikan kepada hamba-hambaNya dan beberapa rezeki yang baik itu? Katakanlah! Tuhanku hanya mengharamkan hal-hal yang tidak baik yang timbul daripadanya dan apa yang tersembunyi dan dosa dan durhaka yang tidak benar dan kamu menyekutukan Allah dengan sesuatu yang Allah tidak turunkan keterangan padanya dan kamu mengatakan atas (nama) Allah dengan sesuatu yang kamu tidak mengetahui.</em>” (QS al-A’raf: 32-33)</p>
<p>“<em>Dan janganlah kamu mengatakan terhadap apa yang disebut-sebut oleh lidahmu secara dusta “Ini halal dan ini haram”, untuk mengada-adakan kebohongan terhadap Allah. Sesungguhnya orang-orang yang mengada-adakan kebohongan terhadap Allah tiadalah beruntung</em>” [QS. An-Nahl : 116].</p>
<p>Dalam hadits Qudsi , Rasulullah bersabda: “<em>Aku ciptakan hamba-hambaKu ini dengan sikap yang lurus, tetapi kemudian datanglah syaitan kepada mereka. Syaitan ini kemudian membelokkan mereka dari agamanya, dan mengharamkan atas mereka sesuatu yang Aku halalkan kepada mereka, serta mempengaruhi supaya mereka mau menyekutukan Aku dengan sesuatu yang Aku tidak turunkan keterangan padanya.</em>” (Riwayat Muslim).</p>
<p>Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda :</p>
<p>من حلل حراما او حرم حلالا فقد كفر</p>
<p>“<em>Barangsiapa menghalalkan sesuatu yang haram atau mengharamkan sesuatu yang halal, maka dia telah kafir.”</em></p>
<p>Pada zaman sekarang sudah mulai tampak orang-orang yang melarang menjalankan peringatan Maulid. Mereka mengada-ada larangan berdasarkan akal pikirannya sendiri.   Mereka adalah korban hasutan atau ghazwul fikri (perang pemahaman) dari kaum Zionis Yahudi. Mereka terhasut memahami Al Qur&#8217;an dan As Sunnah dengan akal pikiran mereka sendiri dan &#8220;meninggalkan&#8221; pemahaman Imam Mazhab yang empat, pemimpin atau imam ijtihad kaum muslim pada umumnya yang bertalaqqi (mengaji) langsung dengan Salafush Sholeh</p>
<p>Salah satu penghasutnya adalah perwira Yahudi Inggris bernama Edward Terrence Lawrence yang dikenal oleh ulama jazirah Arab sebagai Laurens Of Arabian. Laurens menyelidiki dimana letak kekuatan umat Islam dan berkesimpulan bahwa kekuatan umat Islam terletak kepada ketaatan dengan mazhab (bermazhab) dan istiqomah mengikuti tharikat-tharikat tasawuf. Laurens mengupah ulama-ulama yang anti tharikat dan anti mazhab untuk menulis buku buku yang menyerang tharikat dan mazhab. Buku tersebut diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa dan dibiayai oleh pihak orientalis.</p>
<p>Andaikan peringatan Maulid Nabi adalah sesat tentulah Majelis Ulama Indonesia telah  menyampaikan fatwanya.</p>
<p>Kita , kaum muslim khususnya di Indonesia telah menyelenggarakan peringatan Maulid Nabi turun temurun yang merupakan hasil pengajaran ulama-ulama keturunan cucu Rasulullah.</p>
<p>Prof.Dr.H. Abdul Malik Karim Amrullah (HAMKA) dalam majalah tengah bulanan “Panji Masyarakat” No.169/ tahun ke XV11 15 februari 1975 (4 Shafar 1395 H) halaman 37-38 telah menjelaskan bahwa umat Islam khususnya di Indonesia merupakan buah hasil pengajaran ulama-ulama keturunan cucu Rasulullah dan menyebarluaskan mazhab Imam Sayfi&#8217;i</p>
<p>Berikut kutipannya</p>
<p>********awal kutipan********</p>
<p>“Rasulallah shallallahu alaihi wasallam  mempunyai empat anak-anak lelaki yang semuanya wafat waktu kecil dan mempunyai empat anak wanita. Dari empat anak wanita ini hanya satu saja yaitu (Siti) Fathimah yang memberikan beliau shallallahu alaihi wasallam dua cucu lelaki dari perkawinannya dengan Ali bin Abi Thalib. Dua anak ini bernama Al-Hasan dan Al-Husain dan keturunan dari dua anak ini disebut orang <em>Sayyid</em> jamaknya ialah <em>Sadat</em>. Sebab Nabi sendiri mengatakan, <em>‘kedua anakku ini menjadi Sayyid </em>(Tuan) <em>dari pemuda-pemuda di Syurga’. </em>Dan sebagian negeri lainnya memanggil keturunan Al-Hasan dan Al-Husain <em>Syarif</em> yang berarti orang mulia dan jamaknya adalah <em>Asyraf. </em>Sejak zaman kebesaran Aceh telah banyak keturunan Al-Hasan dan Al-Husain itu datang ketanah air kita ini. Sejak dari semenanjung Tanah Melayu, kepulauan Indonesia dan Pilipina.</p>
<p>Harus diakui banyak jasa mereka dalam penyebaran Islam diseluruh Nusantara ini. Diantaranya Penyebar Islam dan pembangunan kerajaan Banten dan Cirebon adalah <em>Syarif Hidayatullah</em> yang diperanakkan di Aceh. Syarif kebungsuan tercatat sebagai penyebar Islam ke Mindanao dan Sulu. Yang pernah jadi <em>raja di Aceh</em> adalah bangsa Sayid dari keluarga <em>Jamalullail</em>, di Pontianak pernah diperintah bangsa <em>Sayyid Al-Qadri</em>. Di Siak oleh keluaga Sayyid bin <em>Syahab</em>, Perlis (Malaysia) dirajai oleh bangsa <em>Sayyid Jamalullail</em>. Yang dipertuan Agung 111 Malaysia Sayyid Putera adalah Raja Perlis. Gubernur Serawak yang ketiga, Tun Tuanku Haji Bujang dari keluarga <em>Alaydrus. </em><em> </em></p>
<p>Kedudukan mereka dinegeri ini yang turun temurun menyebabkan mereka telah menjadi anak negeri dimana mereka berdiam. Kebanyakan mereka jadi Ulama. Mereka datang dari hadramaut dari keturunan <em>Isa Al-Muhajir </em>dan <em>Fagih Al-Muqaddam</em>. Yang banyak kita kenal dinegeri kita yaitu keluarga Alatas, Assegaf, Alkaff, Bafaqih, Balfaqih, Alaydrus, bin Syekh Abubakar, Alhabsyi, Alhaddad, Al Jufri, Albar, Almusawa, bin Smith, bin Syahab, bin Yahya …..dan seterusnya.</p>
<p>Yang terbanyak dari mereka adalah keturunan dari Al-Husain dari Hadra- maut (Yaman selatan), ada juga yang keturunan Al-Hasan yang datang dari Hejaz, keturunan syarif-syarif Makkah Abi Numay, tetapi tidak sebanyak dari Hadramaut. Selain dipanggil Tuan Sayid mereka juga dipanggil <em>Habib</em>. Mereka ini telah tersebar didunia. Di negeri-negeri besar seperti Mesir, Baqdad, Syam dan lain-lain mereka adakan <em>NAQIB</em>, yaitu yang bertugas mencatat dan mendaftarkan keturunan-keturunan Sadat tersebut. Disaat sekarang umum- nya mencapai 36-37-38 silsilah sampai kepada Sayyidina Ali bin Abi Thalib dan Sayyidati Fathimah Az-Zahra ra.</p>
<p>Baik <em>Habib Tanggul</em> di Jawa Timur dan Almarhum <em>Habib Ali di Kwitang</em>, Jakarta, memanglah mereka keturunan dari Ahmad bin Isa Al-Muhajir yang berpindah dari Bashrah/Iraq ke Hadramaut, dan Ahmad bin Isa ini <em>cucu yang ke tujuh dari cucu Rasulallah saw. Al-Husain bin Ali bin Abi Thalib</em>.”.</p>
<p>***** akhir kutipan *****</p>
<p>Ulama-ulama kita dahulu bersatu dalam mazhab Imam Syafi&#8217;i. KH Ahmad Dahlan pendiri Muhammadiyah dan KH Hasyim Azhari pendiri NU memiliki guru yang sama yaitu KH Sholeh Darat. Di Saudi, mereka juga memiliki guru yang sama, yaitu Syekh Ahmad Khatib Al Minangkabawi – ulama kelahiran Padang yang di masa itu dapat menduduki posisi Imam di Mekah karena ketinggian ilmunya. Syekh Ahmad Khatib adalah ulama bermazhab Syafi’i.</p>
<p>Namun belakangan ini ada saja kaum muslim mengikuti pemahaman ulama-ulama yang mengaku mengikuti pemahaman Salafush Sholeh  namun sudah jelas-jelas mereka tidak bertalaqqi (mengaji) dengan Salafush Sholeh. Darimana mereka mendapatkan pemahaman Salafush Sholeh kalau bukan pemahaman mereka sendiri dengan akal pikiran mereka sendiri.</p>
<p>Seharusnya mereka mengetahui apa yang disampaikan ulama-ulama terdahulu sekitar  abad 12 Hijriah seperti</p>
<p>Dari kalangan ulama madzhab al-Maliki, al-Imam Ahmad bin Muhammad al-Shawi al-Maliki, ulama terkemuka abad 12 Hijriah dan semasa dengan pendiri Wahhabi, berkata dalam Hasyiyah ‘ala Tafsir al-Jalalain sebagai berikut:</p>
<p>هَذِهِ اْلآَيَةُ نَزَلَتْ فِي الْخَوَارِجِ الَّذِيْنَ يُحَرِّفُوْنَ تَأْوِيْلَ الْكِتَابِ وَالسُّنَّةِ وَيَسْتَحِلُّوْنَ بِذَلِكَ دِمَاءَ الْمُسْلِمِيْنَ وَأَمْوَالَهُمْ كَمَا هُوَ مُشَاهَدٌ اْلآَنَ فِيْ نَظَائِرِهِمْ وَهُمْ فِرْقَةٌ بِأَرْضِ الْحِجَازِ يُقَالُ لَهُمُ الْوَهَّابِيَّةُ يَحْسَبُوْنَ أَنَّهُمْ عَلىَ شَيْءٍ أَلاَ إِنَّهُمْ هُمُ الْكَاذِبُوْنَ. (حاشية الصاوي على تفسير الجلالين، ٣/٣٠٧).</p>
<p>“Ayat ini turun mengenai orang-orang Khawarij, yaitu mereka yang mendistorsi penafsiran al-Qur’an dan Sunnah, dan oleh sebab itu mereka menghalalkan darah dan harta benda kaum Muslimin sebagaimana yang terjadi dewasa ini pada golongan mereka, yaitu kelompok di negeri Hijaz yang disebut dengan aliran Wahhabiyah, mereka menyangka bahwa mereka akan memperoleh sesuatu (manfaat), padahal merekalah orang-orang pendusta.” (Hasyiyah al-Shawi ‘ala Tafsir al-Jalalain, juz 3, hal. 307).</p>
<p>Dari kalangan ulama madzhab Hanafi, al-Imam Muhammad Amin Afandi yang populer dengan sebutan Ibn Abidin, juga berkata dalam kitabnya, Hasyiyah Radd al-Muhtar sebagai berikut:</p>
<p>“مَطْلَبٌ فِي أَتْبَاعِ مُحَمَّدِ بْنِ عَبْدِ الْوَهَّابِ الْخَوَارِجِ فِيْ زَمَانِنَا :كَمَا وَقَعَ فِيْ زَمَانِنَافِيْ أَتْبَاعِ ابْنِ عَبْدِ الْوَهَّابِ الَّذِيْنَ خَرَجُوْا مِنْ نَجْدٍ وَتَغَلَّبُوْا عَلَى الْحَرَمَيْنِ وَكَانُوْايَنْتَحِلُوْنَ مَذْهَبَ الْحَنَابِلَةِ لَكِنَّهُمْ اِعْتَقَدُوْا أَنَّهُمْ هُمُ الْمُسْلِمُوْنَ وَأَنَّ مَنْ خَالَفَاعْتِقَادَهُمْ مُشْرِكُوْنَ وَاسْتَبَاحُوْا بِذَلِكَ قَتْلَ أَهْلِ السُّنَّةِ وَقَتْلَ عُلَمَائِهِمْ حَتَى كَسَرَ اللهُشَوْكَتَهُمْ وَخَرَبَ بِلاَدَهُمْ وَظَفِرَ بِهِمْ عَسَاكِرُ الْمُسْلِمِيْنَ عَامَ ثَلاَثٍ وَثَلاَثِيْنَ وَمِائَتَيْنِوَأَلْفٍ.” اهـ (ابن عابدين، حاشية رد المحتار، ٤/٢٦٢).</p>
<p>“Keterangan tentang pengikut Muhammad bin Abdul Wahhab, kaum Khawarij pada masa kita. Sebagaimana terjadi pada masa kita, pada pengikut Ibn Abdil Wahhab yang keluar dari Najd dan berupaya keras menguasai dua tanah suci. Mereka mengikuti madzhab Hanabilah. Akan tetapi mereka meyakini bahwa mereka saja kaum Muslimin, sedangkan orang yang berbeda dengan keyakinan mereka adalah orang-orang musyrik. Dan oleh sebab itu mereka menghalalkan membunuh Ahlussunnah dan para ulamanya sampai akhirnya Allah memecah kekuatan mereka, merusak negeri mereka dan dikuasai oleh tentara kaum Muslimin pada tahun 1233 H.” (Ibn Abidin, Hasyiyah Radd al-Muhtar ‘ala al-Durr al-Mukhtar, juz 4, hal. 262).</p>
<p>Dari kalangan ulama madzhab Hanbali, al-Imam Muhammad bin Abdullah bin Humaid al-Najdi berkata dalam kitabnya al-Suhub al-Wabilah ‘ala Dharaih al-Hanabilah ketika menulis biografi Syaikh Abdul Wahhab, ayah pendiri Wahhabi, sebagai berikut:</p>
<p>عَبْدُ الْوَهَّابِ بْنُ سُلَيْمَانَ التَّمِيْمِيُّ النَّجْدِيُّ وَهُوَ وَالِدُ صَاحِبِ الدَّعْوَةِ الَّتِيْ انْتَشَرَشَرَرُهَا فِي اْلأَفَاقِ لَكِنْ بَيْنَهُمَا تَبَايُنٌ مَعَ أَنَّ مُحَمَّدًا لَمْ يَتَظَاهَرْ بِالدَّعْوَةِ إِلاَّ بَعْدَمَوْتِ وَالِدِهِ وَأَخْبَرَنِيْ بَعْضُ مَنْ لَقِيْتُهُ عَنْ بَعْضِ أَهْلِ الْعِلْمِ عَمَّنْ عَاصَرَ الشَّيْخَ عَبْدَالْوَهَّابِ هَذَا أَنَّهُ كَانَ غَاضِبًا عَلىَ وَلَدِهِ مُحَمَّدٍ لِكَوْنِهِ لَمْ يَرْضَ أَنْ يَشْتَغِلَ بِالْفِقْهِكَأَسْلاَفِهِ وَأَهْلِ جِهَتِهِ وَيَتَفَرَّسُ فِيْه أَنَّهُ يَحْدُثُ مِنْهُ أَمْرٌ .فَكَانَ يَقُوْلُ لِلنَّاسِ: يَا مَا تَرَوْنَ مِنْ مُحَمَّدٍ مِنَ الشَّرِّ فَقَدَّرَ اللهُ أَنْ صَارَ مَاصَارَ وَكَذَلِكَ ابْنُهُ سُلَيْمَانُ أَخُوْ مُحَمَّدٍ كَانَ مُنَافِيًا لَهُ فِيْ دَعْوَتِهِ وَرَدَّ عَلَيْهِ رَدًّا جَيِّداًبِاْلآَياَتِ وَاْلآَثاَرِ وَسَمَّى الشَّيْخُ سُلَيْمَانُ رَدَّهُ عَلَيْهِ ( فَصْلُ الْخِطَابِ فِي الرَّدِّ عَلىَمُحَمَّدِ بْنِ عَبْدِ الْوَهَّابِ ) وَسَلَّمَهُ اللهُ مِنْ شَرِّهِ وَمَكْرِهِ مَعَ تِلْكَ الصَّوْلَةِ الْهَائِلَةِ الَّتِيْأَرْعَبَتِ اْلأَبَاعِدَ فَإِنَّهُ كَانَ إِذَا بَايَنَهُ أَحَدٌ وَرَدَّ عَلَيْهِ وَلَمْ يَقْدِرْ عَلَى قَتْلِهِ مُجَاهَرَةًيُرْسِلُ إِلَيْهِ مَنْ يَغْتَالُهُ فِيْ فِرَاشِهِ أَوْ فِي السُّوْقِ لَيْلاً لِقَوْلِهِ بِتَكْفِيْرِ مَنْ خَالَفَهُوَاسْتِحْلاَلِ قَتْلِهِ. اهـ (ابن حميد النجدي، السحب الوابلة على ضرائح الحنابلة، ٢٧٥).</p>
<p>“Abdul Wahhab bin Sulaiman al-Tamimi al-Najdi, adalah ayah pembawa dakwah Wahhabiyah, yang percikan apinya telah tersebar di berbagai penjuru. Akan tetapi antara keduanya terdapat perbedaan. Padahal Muhammad (pendiri Wahhabi) tidak terang-terangan berdakwah kecuali setelah meninggalnya sang ayah. Sebagian ulama yang aku jumpai menginformasikan kepadaku, dari orang yang semasa dengan Syaikh Abdul Wahhab ini, bahwa beliau sangat murka kepada anaknya, karena ia tidak suka belajar ilmu fiqih seperti para pendahulu dan orang-orang di daerahnya. Sang ayah selalu berfirasat tidak baik tentang anaknya pada masa yang akan datang. Beliau selalu berkata kepada masyarakat, “Hati-hati, kalian akan menemukan keburukan dari Muhammad.” Sampai akhirnya takdir Allah benar-benar terjadi. Demikian pula putra beliau, Syaikh Sulaiman (kakak Muhammad bin Abdul Wahhab), juga menentang terhadap dakwahnya dan membantahnya dengan bantahan yang baik berdasarkan ayat-ayat al-Qur’an dan hadits-hadits Nabi shallallahu alaihi wa sallam. Syaikh Sulaiman menamakan bantahannya dengan judul Fashl al-Khithab fi al-Radd ‘ala Muhammad bin Abdul Wahhab. Allah telah menyelamatkan Syaikh Sulaiman dari keburukan dan tipu daya adiknya meskipun ia sering melakukan serangan besar yang mengerikan terhadap orang-orang yang jauh darinya. Karena setiap ada orang yang menentangnya, dan membantahnya, lalu ia tidak mampu membunuhnya secara terang-terangan, maka ia akan mengirim orang yang akan menculik dari tempat tidurnya atau di pasar pada malam hari karena pendapatnya yang mengkafirkan dan menghalalkan membunuh orang yang menyelisihinya.” (Ibn Humaid al-Najdi, al-Suhub al-Wabilah ‘ala Dharaih al-Hanabilah, hal. 275).</p>
<p>Wassalam</p>
<p>Zon di Jonggol, Kab Bogor 16830</p>
<br />Filed under: <a href='http://mutiarazuhud.wordpress.com/category/islam/'>Islam</a>, <a href='http://mutiarazuhud.wordpress.com/category/umum/'>Umum</a>  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/mutiarazuhud.wordpress.com/4689/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/mutiarazuhud.wordpress.com/4689/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/mutiarazuhud.wordpress.com/4689/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/mutiarazuhud.wordpress.com/4689/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/mutiarazuhud.wordpress.com/4689/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/mutiarazuhud.wordpress.com/4689/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/mutiarazuhud.wordpress.com/4689/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/mutiarazuhud.wordpress.com/4689/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/mutiarazuhud.wordpress.com/4689/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/mutiarazuhud.wordpress.com/4689/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/mutiarazuhud.wordpress.com/4689/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/mutiarazuhud.wordpress.com/4689/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/mutiarazuhud.wordpress.com/4689/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/mutiarazuhud.wordpress.com/4689/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=mutiarazuhud.wordpress.com&amp;blog=7078984&amp;post=4689&amp;subd=mutiarazuhud&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://mutiarazuhud.wordpress.com/2012/01/25/peringatan-maulid-nabi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/da9e7464e9e3c4447f52e554f6476dfa?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">mutiarazuhud</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Gerakan telunjuk tasyahud</title>
		<link>http://mutiarazuhud.wordpress.com/2012/01/25/telunjuk-tasyahud/</link>
		<comments>http://mutiarazuhud.wordpress.com/2012/01/25/telunjuk-tasyahud/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 25 Jan 2012 09:48:47 +0000</pubDate>
		<dc:creator>mutiarazuhud</dc:creator>
				<category><![CDATA[Islam]]></category>
		<category><![CDATA[Umum]]></category>
		<category><![CDATA[Gerakan]]></category>
		<category><![CDATA[Sholat]]></category>
		<category><![CDATA[sifat sholat nabi]]></category>
		<category><![CDATA[telunjuk]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://mutiarazuhud.wordpress.com/?p=4686</guid>
		<description><![CDATA[Gerakan telunjuk tasyahud Istilah manhaj salaf atau mazhab salaf tidak pernah disampaikan oleh Imam Mazhab yang empat Istilah manhaj salaf atau mazhab salaf dipergunakan oleh ulama-ulama yang tidak pernah bertalaqqi (mengaji) dengan Salafush Sholeh agar orang banyak&#8221;terhipnotis&#8221; mengikuti pemahaman / pendapat / perkataan mereka dan &#8220;meninggalkan&#8221; pemahaman / pendapat / perkataan Imam Mazhab yang empat, [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=mutiarazuhud.wordpress.com&amp;blog=7078984&amp;post=4686&amp;subd=mutiarazuhud&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Gerakan telunjuk tasyahud</strong></p>
<p><strong></strong>Istilah manhaj salaf atau mazhab salaf tidak pernah disampaikan oleh Imam Mazhab yang empat</p>
<p>Istilah manhaj salaf atau mazhab salaf dipergunakan oleh ulama-ulama yang tidak pernah bertalaqqi (mengaji) dengan Salafush Sholeh agar orang banyak&#8221;terhipnotis&#8221; mengikuti pemahaman / pendapat / perkataan mereka dan &#8220;meninggalkan&#8221; pemahaman / pendapat / perkataan Imam Mazhab yang empat, pemimpin atau imam ijtihad kaum muslim pada umumnya (Imam Mujtahid Mutlak) yang bertalaqqi (mengaji) langsung dengan Salafush Sholeh.</p>
<p>Para Imam Mazhab yang empat mengetahui dan mengikuti pemahaman Salafush Sholeh melalui lisannya Salafush Sholeh. Mereka melihat sendiri penerapan, perbuatan serta contoh nyata dari Salafush Sholeh.</p>
<p>Segelintir muslim tidak menyadarinya, contohnya mereka mendapatkan sifat sholat Nabi dari ulama yang memahaminya dari lafaz/tulisan atau melalui cara muthola’ah (menelaah kitab) dan memahaminya dengan akal pikiran sendiri (pemahaman secara ilmiah). Mereka meninggalkan sifat sholat Nabi yang disampaikan Imam Mazhab yang empat yang melihat sendiri penerapan, perbuatan serta contoh nyata dari Salafush Sholeh. Imam Mazhab yang empat menuliskan apa yang mereka lihat kedalam kitab fiqih agar umat Islam kemudian yang tidak dapat melihat langsung penerapan, perbuatan serta contoh nyata dari Salafush Sholeh dapat mengikuti dengan &#8220;melihat&#8221; kitab fiqih mereka</p>
<p>Ibarat belajar berenang mana yang lebih baik belajar dari memahami lafaz/tulisan cara berenang atau langsung melihat contoh nyata ?</p>
<p>Contoh permasalahan menggerak-gerakkan telunjuk ketika tasyahud, berikut kami kutipkan  dari “Argumentasi ulama Syafi’iyah” oleh Ustadz H.Mujiburrahman dan buku-buku lainnya.</p>
<p>Diriwayatkan dari Abdullah bin Umar ra.; “Jika Rasulallah saw. duduk dalam tasyahhud, beliau meletakkan tangan kirinya diatas lututnya yang kiri, dan meletakkan tangan kanannya pada lutut yang kanan, seraya membuat (angka) lima puluh tiga sambil berisyarat dengan telunjuknya”. (HR. Imam Muslim dalam Shohih-nya I/408).</p>
<p>Yang dimaksud dengan lima puluh tiga dalam hadits itu ialah menggenggam tiga jari (jari tengah, jari manis dan kelingking) itulah angka tiga. Sedangkan jari telunjuk dan ibu jari di julurkan sehingga membentuk semacam lingkaran bundar yang mirip angka lima (angka bahasa arab), dengan demikian menjadilah semacam angka lima puluh tiga.</p>
<p>Dalam satu riwayat seperti yang diriwayatkan Imam Muslim I/408 dari Ali bin Abdurrahman Al-Mu’awi, dia mengatakan; “Abdullah bin Umar ra. melihat aku bermain-main dengan kerikil dalam sholat. Setelah berpaling (selesai sholat), beliau melarangku, seraya berkata; ‘Lakukanlah seperti apa yang dilakukan oleh Rasulallah itu’. Dia berkata; ‘Jika Rasulallah saw. duduk dalam sholat beliau meletakkan tangan kanannya pada paha kanannya seraya menggenggam semua jemarinya, dan mengisyaratkan (menunjukkan) jari yang dekat ibu jarinya ke kiblat. Beliau juga meletakkan tangan kirinya diatas paha kirinya’ ”Al-Isyarah (mengisyaratkan) itu menunjukkan tidak adanya (perintah) menggerak-gerakkan, bahkan meniadakannya untuk tahrik.</p>
<p>Diriwayatkan dari Numair Al-Khuzai seorang yang tsiqah dan salah seorang anak dari sahabat ; “Aku melihat Rasulallah saw. meletakkan dzira’nya [tangan dari siku sampai keujung jari] yang kanan diatas pahanya yang kanan sambil mengangkat jari telunjuknya dan mem- bengkokkannya [mengelukkannya] sedikit”. (HR.Ahmad III:471 ; Abu Dawud I:260 ; Nasa’i III:39 ; Ibn Khuzaimah dalam shohihnya I:354 dan penshohihannya itu ditetapkan oleh Ibn Hajar dalam Al-Ishabah no.8807 ; Ibn Hibban dalam As-Shohih V:273 ; Imam Baihaqi dalam As-Sunan Al-Kubra II:131 serta perawi lainnya.</p>
<p>Diriwayatkan dari Ibnu Zubair bahwa “Rasulallah saw. berisyarat dengan telunjuk dan beliau tidak menggerak-gerakkannya dan pandangan beliau pun tidak melampaui isyaratnya itu” (HR. Ahmad, Abu Dawud, An-Nasa’i dan Ibnu Hibban). Hadits ini merupakan hadits yang shohih sebagaimana diterangkan oleh Imam Nawawi dalam Al-Majmu’ jilid III:454 dan oleh sayyid Umar Barokat dalam Faidhul Ilaahil Maalik jilid 1:125.</p>
<p>Diriwayatkan pula dari Abdullah bin Zubair ra. bahwa “Rasulallah saw.berisyarat dengan jarinya (jari telunjuknya) jika berdo’a dan tidak menggerak-gerakkannya”. (HR.Abu ‘Awanah dalam shohihnya II:226 ; Abu Dawud I:260 ; Imam Nasa’i III:38 ; Baihaqi II:132 ; Baihaqi dalam syarh As-Sunnah III:178 dengan isnad shohih).</p>
<p>Ada pun hadits yang menyebutkan Yuharrikuha (menggerak-gerakkannya) itu tidak kuat (laa tatsbut) dan merupakan riwayat syadz (yang aneh). Karena hadits mengenai tasyahhud dengan mengisyaratkan (menunjukkan) telunjuk itu serta meniadakan tahrik adalah riwayat yang sharih (terang-terangan) dan diriwayatkan oleh sebelas rawi tsiqah dan kesemuanya tidak menyebutkan adanya tahrik tersebut.</p>
<p>Seseorang yang mengaku bahwa mutsbat (yang mengatakan ada) itu harus didahulukan (muqaddam) atas yang menafikan/meniadakannya, maka orang tersebut tidak memahami ilmu ushul. Karena kaidah ushul itu mempunyai kelengkapan yang tidak sesuai untuk dipakai dalam masalah itu.</p>
<p>Hadits-hadits lainnya yang tidak menyebutkan adanya menggerak-gerakkan jari telunjuk itu menguatkan keterangan dari hadits yang menafikannya.</p>
<p>Dari hadits Ibnu Zubair tersebut dapat di ambil kesimpulan bahwa:<br />
a). Sunnah mengangkat telunjuk diketika tasyahhud.<br />
b)  Nabi tidak menggerak-gerakkan telunjuknya dan pandangan Nabi terus tertuju kepada telunjuknya yang sedang berisyarat itu.</p>
<p>Menggerak-gerakkan jari makruh hukumnya:</p>
<p>Jumhur ulama Syafi’i memakruhkan menggerak-gerakkan telunjuk waktu tasyahhud, dalam Hasiyah al-Bajuri jilid 1:220: “Dan tidaklah boleh seseorang itu menggerak-gerakkan jari telunjuk- nya. Apabila digerak-gerakkan, maka makruh hukumnya dan tidak membatalkan sholat menurut pendapat yang lebih shohih dan dialah yang terpegang karena gerakan telunjuk itu adalah gerakan yang ringan. Tetapi menurut satu pendapat; Batal sholat seseorang apabila dia menggerak-gerakkan telunjuknya itu tiga kali berturut-turut [pendapat ini bersumber dai Ibnu Ali bin Abi Hurairah sebagaimana tersebut dalam Al-Majmu’ III/454]. Dan yang jelas bahwa khilaf [perbeda- an) tersebut adalah selama tapak tangannya tidak ikut bergerak. Tetapi jika tapak tangannya ikut bergerak maka secara pasti batallah shalatnya”.</p>
<p>Imam Nawawi dalam Fatawa-nya halaman 54 dan dalam Syarh Muhadzdab-nya III/454 menyatakan makruhnya menggerak-gerakkan telunjuk tersebut. Karena perbuatan tersebut merupakan perbuatan sia-sia dan main-main disamping menghilangkan kekhusyuan.</p>
<p>Dalam kitab Bujairimi Minhaj 1/218: “Tidak boleh mentahrik jari telunjuk karena ittiba’ (mengikuti sunnah Nabi). Jika anda berkata; ‘Sesungguhnya telah datang hadits yang shohih yang menunjuk kepada pentahrikan jari telunjuk dan Imam Malik pun telah mengambil hadits tersebut. Begitu pula telah beberapa hadits yang shohih yang menunjuk kepada tidak ditahriknya jari telunjuk. Maka manakah yang diunggulkan’? Saya menjawab: ‘Diantara yang mendorong Imam Syafi’i mengambil hadits-hadits yang menunjuk kepada tidak ditahriknya jari telunjuk adalah karena yang demikian itu dapat mendatangkan ketenangan yang senantiasa dituntut keberadaannya didalam sholat”.</p>
<p>Dalam kitab Tuhfatul Muhtaj II:80: “Tidak boleh mentahrik jari telunjuk diketika mengangkatnya karena ittiba’. Dan telah shohih hadits yang menunjuk kepada pentahrikannya, maka demi untuk menggabungkan kedua dalil, dibawalah tahrik itu kepada makna ‘diangkat’. Terlebih lagi didalam tahrik tersebut ada pendapat yang menganggapnya sebagai sesuatu yang haram yang dapat membatalkan sholat. Oleh karena itu kami mengatakan bahwa tahrik dimaksud hukumnya makruh”.</p>
<p>Dalam kitab Mahalli 1/164: “Tidak boleh mentahrik jari telunjuk karena berdasarkan hadits riwayat Abu Dawud. Pendapat lain mengatakan; ‘Sunnah mentahrik jari telunjuk karena berdasarkan hadits riwayat Baihaqi’, beliau berkata bahwa kedua hadits itu shohih. Dan didahulukannnya hadits pertama yang menafikan tahrik atas hadits kedua yang menetapkan tahrik adanya karena adanya beberapa maslahat pada ketiadaan tahrik itu”.</p>
<p>Dalam kitab Syarqawi 1/210: “Mengangkat telunjuk itu adalah dengan tanpa tahrik. Telah datang pula hadits yang menunjuk adanya tahrik. Namun dalam kasus ini yang menafikan didahulukan dari yang menetapkan. Berbeda dengan kaidah ushul Fiqih (bahwa yang menetapkan didahulu- kan dari yang menafikan). Hal ini karena adanya beberapa maslahat pada ketiadaan mentahrik itu yakni; ‘Bahwa yang dituntut dalam sholat adalah tidak bergerak karena bergerak-gerak dapat menghilangkan kekhusyu’an dan juga tahrik itu adalah sejenis perbuatan yang tidak ada gunanya dan sholat haruslah terpelihara dari hal tersebut selama itu memungkinkan. Oleh karena itu ada pendapat yang membatalkan shalat karena melakukan tahrik walau pun pendapat ini dho’if”.</p>
<p>Orang yang mengatakan sunnah hukumnya menggerak-gerakkan telunjuk berdalil hadits riwayat Wa’il bin Hujrin yang menerangkan tentang tata cara sholat Nabi. Riwayat yang dimaksud ialah: “Kemudian Nabi mengangkat jari telunjuknya maka aku melihat beliau menggerak-gerakkannya sambil berdo’a”. (HR.Nasa’i)</p>
<p>Hadits ini oleh sebagian madzhab Maliki dijadikan dalil untuk mensunnahkan tahrik yakni menggerak-gerakkan telunjuk itu dengan gerakan yang sederhana dimulai sejak awal tasyahhud hingga akhirnya. Dan gerakan tersebut mengarah ke kiri dan ke kanan, bukan ke atas dan ke bawah (Al-Fighul Islami 1/716).</p>
<p>Mereka juga berdalil dengan hadits dari Ibnu Umar yang menyatakan bahwa: “Menggerak-gerakkan telunjuk diwaktu shalat dapat menakut-nakuti setan”. Ini hadits dho’if karena hanya di riwayatkan seorang diri oleh Muhammad bin Umar al-Waqidi ( Al-Majmu’ III/454 dan Al-Minhajul Mubin hal.35).</p>
<p>Ibn ‘Adi dalam Al-Kamil Fi Al-Dhu’afa VI/2247; “Menggerak-gerakkan jari (telunjuk) dalam sholat dapat menakut-nakuti setan” adalah hadits maudhu’ ”.</p>
<p>Atau mereka berdalil dengan ucapan seorang Syeikh dalam kitabnya Sifat-sifat Sholat Rasulallah saw. ,khususnya halaman 158-159, mengemukakan sebuah hadits; “Beliau (saw.) mengangkat jarinya (dan) menggerak-gerakkannya seraya berdo’a. Beliau bersabda; ‘Itu yakni jari sungguh lebih berat atau lebih keras bagi setan daripada besi’ ”.</p>
<p>Padahal redaksi hadits yang sebenarnya tidak seperti yang disebutkan oleh Syeikh tersebut. Syeikh ini telah menyusun dua hadits yang berbeda dengan menyusupkan kata-kata yang sebenarnya bukan dari hadits, supaya dia mencapai kesimpulan yang dikehendakinya.</p>
<p>Redaksi hadits yang sebenarnya ialah seperti yang terdapat dalam Al-Musnad II:119, Al-Du’a karangan Imam Thabarani II:1087, Al-Bazzar dalam Kasyf Al-Atsar I:272 dan kitab hadits lainnya yang berbunyi:</p>
<p>“Diriwayatkan dari Nafi’, bahwa Abdullah bin Umar ra., jika (melakukan) sholat ber- isyarat dengan (salah satu) jarinya lalu diikuti oleh matanya, seraya berkata, Rasullah saw. bersabda; ‘Sungguh itu lebih berat bagi setan daripada besi’ “. Jadi dalam hadits tersebut tidak di sebutkan kata-kata Yuharrikuha (menggerak-gerakkannya) tetapi hanya disebutkan ‘berisyarat dengan jarinya’.</p>
<p>Tetapi Syeikh ini telah berani melakukan penyelewengan terhadap hadits (tahrif) sehingga dia mendapatkan apa yang dikehendaki meski pun dengan tadlis (menipu) dan tablis (menimbulkan keraguan pada umat Islam).</p>
<p>Al-Bazzar berkata; “Katsir bin Zaid meriwayatkan secara sendirian (tafarrud) dari Nafi’, dan tidak ada riwayat (yang diriwayatkan Katsir ini) dari Nafi’ kecuali hadits ini”.</p>
<p>Padahal Syeikh ini sendiri di kitab yang lain, Shohihah-nya IV:328 mengatakan; ‘Saya berkata, Katsir bin Zaid adalah Al-Aslami yang dha’if atau lemah’!</p>
<p>Hadits yang menyebutkan, ‘Sungguh ia (jari) itu lebih berat bagi setan daripada besi’, sebenarnya tidak shohih dan ciri kelemahannya itu setan atau iblis itu tidak bodoh sampai mau meletakkan kepalanya dibawah jari orang yang menggerak-gerakkannya sehingga setan itu terpukul dan terpental. Orang yang mengatakan bahwa ungkapan semacam itu dhahir maka dia salah dan tidak memahami ta’wil.</p>
<p>Sedangkan riwayat Abdullah bin Zubair yang memuat kata-kata La Yuharrikuha (tidak menggerak-gerakkannya) itu adalah tsabit (kuat) tidak dinilai syadz dan hadits shohih lainnya pun menguatkannya seperti hadits riwayat Muslim dari Abdullah bin Umar ra. dan lain-lain.</p>
<p>Para Imam (Mujtahidin) pun tidak mengamalkan hadits yang mengisyaratkan tahrik itu termasuk ulama dahulu dari kalangan Imam Malik (Malikiyyah) sekali pun.</p>
<p>Orang yang melakukan tahrik itu bukan dari madzhab Malikiyyah dan bukan juga yang lainnya.</p>
<p>Al-Hafidh Ibn Al-‘Arabi Al-Maliki dalam ‘Aridhat Al-Ahwadzi Syarh Turmduzi II/85 menyatakan; “Jauhilah olehmu menggerak-gerakkan jarimu dalam tasyahhud, dan janganlah berpaling keriwayat Al-‘Uthbiyyah, karena riwayat tersebut baliyyah (mengandung bencana)”.</p>
<p>Al-Hafidh Ibn Al-Hajib Al-Maliki dalam Mukhtashar Fiqh-nya mengatakan bahwa yang masyhur dalam madzhab Imam Malik adalah tidak menggerakkan telunjuk yang diisyaratkan itu.</p>
<p>Tiga imam madzhab lainnya yakni Hanafi, Syafi’i dan Hanbali tidak memakai dhohir hadits Wa’il bin Hujr tersebut sehingga dapat kita jumpai fatwa beliau bertiga tidak mensunnahkan tahrik. Hal ini disebabkan karena mensunnahkan tahrik berarti menggugurkan hadits Ibnu Zubair dan hadits-hadits lainnya yang menunjukkan Nabi saw. tidak menggerak-gerakkan telunjuk.</p>
<p>Imam Baihaqi yang bermadzhab Syafi’i memberi komentar terhadap hadits Wa’il bin Hujr sebagai berikut : “Terdapat kemungkinan bahwa yang dimaksud dengan tahrik disitu adalah mengangkat jari telunjuk, bukan menggerak-gerakkannya secara berulang sehingga dengan demikian tidaklah bertentangan dengan hadits Ibnu Zubair”.</p>
<p>Kesimpulan Imam Baihaqi adalah hasil dari penerapan metode penggabungan dua hadits yang berbeda karena hal tersebut memang memungkinkan. Kalau mengikuti komentar Imam Baihaqi ini, memang semulanya jari telunjuk itu diam dan ketika sampai pada hamzah illallah ia kita angkat, maka itu menunjukkan adanya penggerakan jari telunjuk tersebut, tetapi bukan digerak-gerakkan berulang-ulang sebagaimna pendapat sebagian orang. Wallahu a’lam</p>
<p>Wassalam</p>
<p>Zon di Jonggol, Kab Bogor 16830</p>
<br />Filed under: <a href='http://mutiarazuhud.wordpress.com/category/islam/'>Islam</a>, <a href='http://mutiarazuhud.wordpress.com/category/umum/'>Umum</a>  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/mutiarazuhud.wordpress.com/4686/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/mutiarazuhud.wordpress.com/4686/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/mutiarazuhud.wordpress.com/4686/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/mutiarazuhud.wordpress.com/4686/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/mutiarazuhud.wordpress.com/4686/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/mutiarazuhud.wordpress.com/4686/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/mutiarazuhud.wordpress.com/4686/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/mutiarazuhud.wordpress.com/4686/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/mutiarazuhud.wordpress.com/4686/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/mutiarazuhud.wordpress.com/4686/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/mutiarazuhud.wordpress.com/4686/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/mutiarazuhud.wordpress.com/4686/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/mutiarazuhud.wordpress.com/4686/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/mutiarazuhud.wordpress.com/4686/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=mutiarazuhud.wordpress.com&amp;blog=7078984&amp;post=4686&amp;subd=mutiarazuhud&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://mutiarazuhud.wordpress.com/2012/01/25/telunjuk-tasyahud/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/da9e7464e9e3c4447f52e554f6476dfa?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">mutiarazuhud</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Maksud Perkara Syariat</title>
		<link>http://mutiarazuhud.wordpress.com/2012/01/25/maksud-perkara-syariat/</link>
		<comments>http://mutiarazuhud.wordpress.com/2012/01/25/maksud-perkara-syariat/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 25 Jan 2012 02:44:35 +0000</pubDate>
		<dc:creator>mutiarazuhud</dc:creator>
				<category><![CDATA[Islam]]></category>
		<category><![CDATA[Umum]]></category>
		<category><![CDATA[amalan]]></category>
		<category><![CDATA[Baik]]></category>
		<category><![CDATA[diri]]></category>
		<category><![CDATA[diwajibkanNya]]></category>
		<category><![CDATA[Ihsan]]></category>
		<category><![CDATA[Kebaikan]]></category>
		<category><![CDATA[makrifat]]></category>
		<category><![CDATA[marifat]]></category>
		<category><![CDATA[memperjalankan]]></category>
		<category><![CDATA[Mendekatkan]]></category>
		<category><![CDATA[menjalankan kewajiban]]></category>
		<category><![CDATA[menjauhi larangan]]></category>
		<category><![CDATA[menjauhi yang diharamkan]]></category>
		<category><![CDATA[Muslim]]></category>
		<category><![CDATA[perkara]]></category>
		<category><![CDATA[Sampai]]></category>
		<category><![CDATA[Sholeh]]></category>
		<category><![CDATA[Sunnah]]></category>
		<category><![CDATA[syar'i]]></category>
		<category><![CDATA[Syariat]]></category>
		<category><![CDATA[wajib dijalankan]]></category>
		<category><![CDATA[wajib dijauhi]]></category>
		<category><![CDATA[Wushul]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://mutiarazuhud.wordpress.com/?p=4659</guid>
		<description><![CDATA[Tampaknya mereka belum paham yang dimaksud perkara syariat Setelah kami kaji lebih jauh mengapa mereka salah memahami tentang bid&#8217;ah, tampaknya dikarenakan mereka belum paham yang dimaksud perkara syariat Perkara syariat atau &#8220;urusan kami&#8221; adalah apa yang telah diwajibkanNya yakni wajib dijalankan dan wajib dijauhi meliputi, Perkara kewajiban yang jika ditinggalkan berdosa Perkara larangan yang jika [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=mutiarazuhud.wordpress.com&amp;blog=7078984&amp;post=4659&amp;subd=mutiarazuhud&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Tampaknya mereka belum paham yang dimaksud perkara syariat </strong></p>
<p>Setelah kami kaji lebih jauh mengapa mereka salah memahami tentang bid&#8217;ah, tampaknya dikarenakan mereka belum paham yang dimaksud perkara syariat</p>
<p>Perkara syariat atau &#8220;urusan kami&#8221; adalah apa yang telah diwajibkanNya yakni wajib dijalankan dan wajib dijauhi meliputi,</p>
<p>Perkara kewajiban yang jika ditinggalkan berdosa<br />
Perkara larangan yang jika dilanggar/dikerjakan berdosa<br />
Perkara pengharaman yang jika dilanggar/dikerjakan berdosa</p>
<p>Dari Ibnu ‘Abbas r.a. berkata Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda, “<em>di dalam agama itu tidak ada pemahaman berdasarkan akal pikiran, sesungguhnya agama itu dari Tuhan, perintah-Nya dan larangan-Nya.</em>” (Hadits riwayat Ath-Thabarani)</p>
<p>Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda, “<em>Sesungguhnya Allah telah mewajibkan beberapa kewajiban (ditinggalkan berdosa), maka jangan kamu sia-siakan dia; dan Allah telah memberikan beberapa larangan (dikerjakan berdosa)), maka jangan kamu langgar dia; dan Allah telah mengharamkan sesuatu (dikerjakan berdosa), maka jangan kamu pertengkarkan dia; dan Allah telah mendiamkan beberapa hal sebagai tanda kasihnya kepada kamu, Dia tidak lupa, maka jangan kamu perbincangkan dia</em>.” (Riwayat Daraquthni, dihasankan oleh an-Nawawi)</p>
<p>Urusan agama atau perkara syariat atau perkara yang diwajibkanNya telah sempurna.</p>
<p>Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda, <em>“Tidak tertinggal sedikitpun yang mendekatkan kamu dari surga dan menjauhkanmu dari neraka melainkan telah dijelaskan bagimu</em> ” (HR Ath Thabraani dalam Al Mu’jamul Kabiir no. 1647)<br />
“<em>mendekatkan dari surga</em>” = perkara kewajiban (ditinggalkan berdosa)<br />
“<em>menjauhkan dari neraka</em>” = perkara larangan dan perkara pengharaman (dikerjakan berdosa)</p>
<p>Dalam perkara syariat atau ibadah yang diwajibkanNya (wajib dijalankan dan wajib dijauhi) harus sesuai dengan apa yang telah dicontohkan atau dikerjakan oleh Rasulullah. Perkara baru dalam perkara syariat adalah bid&#8217;ah dholalah</p>
<p>Perkara syariat atau ibadah yang diwajibkanNya (wajib dijalankan dan wajib dijauhi) maka berlaku, “<em>hukum asal ibadah adalah haram sampai ada dalil yang mensyari’atkannya atau menetapkannya</em>”.</p>
<p>Sedangkan ibadah diluar perkara syariat atau diluar dari apa yang telah diwajibkanNya (wajib dijalankan dan wajib dijauhi) maka berlaku, “<em>hukum asal segala sesuatu adalah mubah sampai ada dalil yang melarangnya</em>”</p>
<p>Perbuatan diluar perkara syariat atau diluar dari apa yang telah diwajibkanNya (wajib dijalankan dan wajib dijauhi) tidak harus sesuai dengan apa yang telah dicontohkan atau dikerjakan oleh Rasulullah.</p>
<p>Perkara baru diluar perkara syariat atau diluar dari apa yang telah diwajibkanNya (wajib dijalankan dan wajib dijauhi) jika bertentangan dengan Al Qur&#8217;an dan As Sunnah adalah bid&#8217;ah dholalah</p>
<p>Perkara baru diluar perkara syariat atau diluar dari apa yang telah diwajibkanNya (wajib dijalankan dan wajib dijauhi) jika tidak bertentangan dengan Al Qur&#8217;an dan As Sunnah adalah bid&#8217;ah hasanah atau mahmudah</p>
<p>Imam Asy Syafi’i ~rahimahullah berkata “<em>Apa yang baru terjadi dan menyalahi kitab al Quran atau sunnah Rasul atau ijma’ atau ucapan sahabat, maka hal itu adalah bid’ah yang dhalalah. Dan apa yang baru terjadi dari kebaikan dan tidak menyalahi sedikitpun dari hal tersebut, maka hal itu adalah bid’ah mahmudah (terpuji)</em>”</p>
<p>Para Imam Mujtahid  dalam beristinbat, menetapkan hukum perkara suatu ibadah kedalam hukum taklifi yang lima (haram, makruh, wajib, sunnah, dan mubah) menghindari al-Maslahah al-Mursalah atau Al-Istislah atau kadang disamakan juga dengan al-Istihsan yakni “<em>Menetapkan hukum suatu masalah yang tak ada nash-nya atau tidak ada ijma’ terhadapnya, dengan berdasarkan pada kemaslahatan semata (yang oleh syara’  (dalam Al Qur’an dan As Sunnah) tidak dijelaskan ataupun dilarang</em>”</p>
<p>Menurut Imam Syafi’i  cara-cara penetapan hukum seperti  itu sekali-kali bukan dalil syar’i. Beliau menganggap orang yang menggunakannya  sama dengan menetapkan syari’at berdasarkan hawa nafsu atau berdasarkan pendapat sendiri (akal pikiran sendiri) yang mungkin benar dan mungkin pula salah.</p>
<p>Ibnu Hazm termasuk salah seorang ulama yang menolak cara-cara penetapan hukum seperti  itu Beliau menganggap bahwa cara penetapan seperti  itu menganggap baik terhadap sesuatu atau kemashlahatan menurut hawa nafsunya (akal pikiran sendiri), dan itu bisa benar dan bisa pula salah, misalnya mengharamkan sesuatu tanpa dalil.</p>
<p>Menetapkan sebagai perkara larangan atau pengharaman yang dikerjakan/dilanggar berdosa atau sebagai perkara kewajiban yang ditinggalkan berdosa berdasarkan maslahah mursalah atau berdasarkan  akibat baik dan buruk menurut akal pikiran manusia termasuk kedalam bid&#8217;ah dholalah karena yang mengetahui baik dan buruk bagi manusia hanyalah Allah Azza wa Jalla</p>
<p>Firman Allah Azza wa Jalla yang artinya, “<em>Katakanlah! Siapakah yang berani mengharamkan perhiasan Allah yang telah diberikan kepada hamba-hambaNya dan beberapa rezeki yang baik itu? Katakanlah! Tuhanku hanya mengharamkan hal-hal yang tidak baik yang timbul daripadanya dan apa yang tersembunyi dan dosa dan durhaka yang tidak benar dan kamu menyekutukan Allah dengan sesuatu yang Allah tidak turunkan keterangan padanya dan kamu mengatakan atas (nama) Allah dengan sesuatu yang kamu tidak mengetahui.</em>” (QS al-A’raf: 32-33)</p>
<p>Contoh perkara baru diluar perkara syariat atau diluar dari apa yang telah diwajibkanNya (wajib dijalankan dan wajib dijauhi)  yang tidak bertentangan dengan Al Qur&#8217;an dan As Sunnah adalah peringatan Maulid, sholawat badar, sholawat nariyah, ratib al Hadad ,  qashidah burdah, maulid barzanji , dan semua amalan baru lainnya yang tidak bertentangan dengan Al Qur&#8217;an dan As Sunnah</p>
<p>Berikut pendapat para Hafidh, mereka yang menghafal dan memahami lebih dari 100.000 hadits tentang peringatan Maulid</p>
<p>Imam Al hafidh Abu Syaamah rahimahullah (Guru imam Nawawi) : “<em>Merupakan Bid’ah hasanah yang mulia dizaman kita ini adalah perbuatan yang diperbuat setiap tahunnya di hari kelahiran Rasul shallallahu alaihi wasallam dengan banyak bersedekah, dan kegembiraan, menjamu para fuqara, seraya menjadikan hal itu memuliakan Rasul shallallahu alaihi wasallam dan membangkitkan rasa cinta pada beliau shallallahu alaihi wasallam, dan bersyukur kepada Allah ta’ala dengan kelahiran Nabi shallallahu alaihi wasallam</em>”.</p>
<p>Imamul Qurra’ Alhafidh Syamsuddin Aljazriy rahimahullah dalam kitabnya ‘Urif bitta’rif Maulidissyariif : “Telah diriwayatkan Abu Lahab diperlihatkan dalam mimpi dan ditanya apa keadaanmu?, ia menjawab : “di neraka, tapi aku mendapat keringanan setiap malam senin, itu semua sebab aku membebaskan budakku Tsuwaibah demi kegembiraanku atas kelahiran Nabi shallallahu alaihi wasallam dan karena Tsuwaibah menyusuinya ” (shahih Bukhari hadits no.4813). maka apabila Abu Lahab Kafir yang Alqur’an turun mengatakannya di neraka mendapat keringanan sebab ia gembira dengan kelahiran Nabi shallallahu alaihi wasallam, maka bagaimana dengan muslim ummat Muhammad shallallahu alaihi wasallam yang gembira atas kelahiran Nabi shallallahu alaihi wasallam?, maka demi usiaku, sungguh balasan dari Tuhan Yang Maha Pemurah sungguh-sungguh ia akan dimasukkan ke sorga kenikmatan Nya dengan sebab anugerah Nya.”</p>
<p>Imam Al Hafidh Assakhawiy dalam kitab Sirah Al Halabiyah berkata “<em>tidak dilaksanakan maulid oleh salaf hingga abad ke tiga, tapi dilaksanakan setelahnya, dan tetap melaksanakannya umat Islam di seluruh pelosok dunia dan bersedekah pada malamnya dengan berbagai macam sedekah dan memperhatikan pembacaan maulid, dan berlimpah terhadap mereka keberkahan yang sangat besar</em>”.</p>
<p>Imam Al hafidh Ibn Abidin rahimahullah dalam syarahnya maulid ibn hajar berkata : “<em>ketahuilah salah satu bid’ah hasanah adalah pelaksanaan maulid di bulan kelahiran nabi shallallahu alaihi wasallam</em>”</p>
<p>Imam Al Hafidh Ibnul Jauzi rahimahullah, dengan karangan maulidnya yang terkenal “al aruus” juga beliau berkata tentang pembacaan maulid, “<em>Sesungguhnya membawa keselamatan tahun itu, dan berita gembira dengan tercapai semua maksud dan keinginan bagi siapa yang membacanya serta merayakannya</em>”.</p>
<p>Imam Al Hafidh Al Qasthalaniy rahimahullah dalam kitabnya Al Mawahibulladunniyyah juz 1 hal 148 cetakan al maktab al islami berkata: “<em>Maka Allah akan menurukan rahmat Nya kepada orang yang menjadikan hari kelahiran Nabi saw sebagai hari besar</em>”</p>
<p>Seluruh sikap dan perbuatan atau amalan diluar perkara syariat atau diluar dari apa yang telah diwajibkanNya (wajib dijalankan dan wajib dijauhi) yang tidak bertentangan dengan Al Qur&#8217;an dan As Sunnah atau yang tidak bertentangan dengan apa yang telah diwajibkanNya atau tidak bertentangan dengan perkara syariat atau tidak menyelisihi syar’i disebut amalan sunnah atau amal kebaikan.</p>
<p>Amalan sunnah atau amal kebaikan tidak harus  apa yang telah dicontohkan atau dilakukan oleh Rasulullah maupun para Sahabat.  Melakukan perbuatan yang tidak bertentangan dengan Al Qur&#8217;an dan As Sunnah atau tidak bertentangan dengan perkara syariat atau tidak menyelisihi syar’i adalah menjalankan sunnah untuk berbuat kebaikan.</p>
<p>Secara matematis , “tidak bertentangan” = “tidak menyelisihi” = sesuai<br />
“tidak bertentangan”  dengan Al Qur’an dan As Sunnah = ”tidak menyelisihi” perkara syariat  = “tidak menyelisihi”  syar’i =  sesuai dengan syar’i , sesuai dengan syariat untuk berbuat kebaikan</p>
<p>Firman Allah ta’ala yang artinya, “<em>Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang bertakwa dan orang-orang yang berbuat kebaikan</em>” (QS An Nahl [16]: 28)</p>
<p>Jelas kesalahpahaman mereka yang berpendapat bahwa hal yang baik hanyalah apa yang telah dilakukan oleh para Sahabat dengan kaidah mereka “LAU KAANA KHOIRON LASABAQUNA ILAIHI” (Seandainya hal itu baik, tentu mereka, para sahabat akan mendahului kita dalam melakukannya).</p>
<p>Apakah hal baik hanya apa yang dilakukan oleh Sahabat saja ?<br />
Bagaimana hal yang baik yang pernah dilakukan kaum sebelum Muhammad bin Abdullah diutus sebagai Rasul Allah, apakah menjadi tidak baik karena para Sahabat tidak melakukannya ?<br />
Bagaimana hal yang baik  dilakukan oleh kaum muslim setelah generasi  Sahabat  sampai akhir zaman menjadi tidak baik karena para Sahabat tidak melakukannya ?</p>
<p>Kesalahpahaman kaidah tersebut telah disampaikan dalam tulisan pada <a href="http://mutiarazuhud.wordpress.com/2012/01/16/bukan-perkataan-salaf/">http://mutiarazuhud.wordpress.com/2012/01/16/bukan-perkataan-salaf/</a></p>
<p>Seorang muslim melakukan segala sikap dan perbuatan atau amalan diluar perkara syariat atau diluar dari apa yang telah diwajibkanNya (wajib dijalankan dan wajib dijauhi) yang tidak bertentangan dengan Al Qur&#8217;an dan As Sunnah atau yang tidak bertentangan dengan apa yang telah diwajibkanNya atau tidak bertentangan dengan perkara syariat atau tidak menyelisihi syar’i  atau  amalan sunnah atau amal kebaikan bertujuan untuk memperjalankan dirinya agar sampai (wushul) kepada Allah atau mendekatkan diri kepada Allah Azza wa Jalla.</p>
<p>Dalam sebuah hadits qudsi, Allah berfirman “<em>hamba-Ku tidak bisa mendekatkan diri kepada-Ku dengan sesuatu yang lebih Aku cintai daripada yang telah Aku wajibkan (perkara syariat), jika hamba-Ku terus menerus mendekatkan diri kepadaKu dengan amalan sunnah (amal kebaikan), maka Aku mencintai dia</em>&#8220;  (HR Bukhari 6021)</p>
<p>Seorang muslim melakukan segala sikap dan perbuatan atau amalan diluar perkara syariat atau diluar dari apa yang telah diwajibkanNya (wajib dijalankan dan wajib dijauhi) yang tidak bertentangan dengan Al Qur&#8217;an dan As Sunnah termasuk amalan / perbuatan mengingat Allah (dzikrullah).</p>
<p>Seluruh dzikrullah bertujuan untuk memperjalankan diri agar sampai (wushul) kepada Allah atau mendekatkan diri kepada Allah Azza wa Jalla</p>
<p>Dalam suatu riwayat. ”Qoola a’liyy bin Abi Thalib: Qultu yaa Rosuulolloh ayyun thoriiqotin aqrobu ilallohi? Faqoola Rasullulohi: dzikrullahi”. artinya; “Ali Bin Abi Thalib berkata; “aku bertanya kepada Rasullulah, jalan/metode(Thariqot) apakah yang bisa mendekatkan diri kepada Allah? “Rasullulah menjawab; “dzikrullah.”</p>
<p>Dalam urusan mendekatkan diri kepada Allah ta’ala, carilah jalan (washilah) masing-masing asalkan akhirnya adalah mencapai muslim yang baik, muslim yang sholeh, muslim yang ihsan.</p>
<p>Firman Allah ta’ala yang artinya “<em>Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan carilah jalan (washilah) yang mendekatkan diri kepada-Nya, dan berjihadlah pada jalan-Nya, supaya kamu mendapat keberuntungan</em>” (QS Al Maa’idah [5]: 35 )”</p>
<p>Contohnya Bilal ra memilih jalan mendekatkan diri kepada Allah dengan  amal kebaikan berupa selalu menjaga wudhunya dan menjalankan sholat selain sholat yang telah diwajibkanNya</p>
<p>Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pernah bertanya kepada Bilal ketika shalat Shubuh: “Hai Bilal, katakanlah kepadaku apakah amalanmu yang paling besar pahalanya yang pernah kamu kerjakan dalam Islam, karena tadi malam aku mendengar derap sandalmu di dalam surga? ‘ Bilal menjawab; ‘Ya Rasulullah, sungguh saya tidak mengerjakan amal perbuatan yang paling besar pahalanya dalam Islam selain saya bersuci dengan sempurna, baik itu pada waktu malam ataupun siang hari. lalu dengannya saya mengerjakan shalat selain shalat yang telah diwajibkan Allah kepada saya.”  (HR Muslim 4497)</p>
<p>Tanda-tanda seorang muslim telah dekat dengan Allah atau  telah mentaati Allah dan RasulNya sehingga mendapatkan maqom disisiNya minimal adalah mencapai muslim yang sholeh sehingga berkumpul dengan 4 golongan muslim disisiNya yakni para  Nabi (Rasulullah yang utama),  para Shiddiqin, para Syuhada dan muslim yang sholeh.</p>
<p>Firman Allah ta’ala yang artinya “<em>Dan barangsiapa yang menta’ati Allah dan Rasul(Nya), mereka itu akan bersama-sama dengan orang-orang yang dianugerahi ni’mat oleh Allah, yaitu : Nabi-nabi, para shiddiiqiin, orang-orang yang mati syahid, dan orang-orang saleh. Dan mereka itulah teman yang sebaik-baiknya </em>.” (QS An Nisaa [4]: 69 )</p>
<p>Semakin dekat kita kepada Allah sehingga menjadi kekasihNya (Wali Allah). Maqom Shiddiqin atau kedekatan dengan Allah diuraikan dalam tulisan pada <a href="http://mutiarazuhud.wordpress.com/2011/09/09/2011/09/28/maqom-wali-allah/">http://mutiarazuhud.wordpress.com/2011/09/09/2011/09/28/maqom-wali-allah/</a></p>
<p>Diantara para salaf yang sholeh pun terdapat perbedaan maqom kedekatan dengan Allah Azza wa Jalla  sebagaimana yang dapat diketahui dalam hadits berikut.</p>
<p>Suatu hari Umar r.a. kedatangan rombongan dari Yaman, lalu ia bertanya :<br />
“Adakah di antara kalian yang datang dari suku Qarn?”.<br />
Lalu seorang maju ke dapan menghadap Umar. Orang tersebut saling bertatap pandang sejenak dengan Umar. Umar pun memperhatikannya dengan penuh selidik.<br />
“Siapa namamu?” tanya Umar.<br />
“Aku Uwais”, jawabnya datar.<br />
“Apakah engkau hanya mempunyai seorang Ibu yang masih hidup?, tanya Umar lagi.<br />
“Benar, Amirul Mu’minin”, jawab Uwais tegas.<br />
Umar masih penasaran lalu bertanya kembali “Apakah engkau mempunyai bercak putih sebesar uang dirham?” (maksudnya penyakit kulit berwarna putih seperti panu tapi tidak hilang).<br />
“Benar, Amirul Mu’minin, dulu aku terkena penyakit kulit “belang”, lalu aku berdo’a kepada Allah agar disembuhkan. Alhamdulillah, Allah memberiku kesembuhan kecuali sebesar uang dirham di dekat pusarku yang masih tersisa, itu untuk mengingatkanku kepada Tuhanku”.<br />
“Mintakan aku ampunan kepada Allah”.<br />
Uwais terperanjat mendengar permintaan Umar tersebut, sambil berkata dengan penuh keheranan. “Wahai Amirul Mu’minin, engkau justru yang lebih behak memintakan kami ampunan kepada Allah, bukankah engkau sahabat Nabi?”<br />
Lalu Umar berkata “Aku pernah mendengar Rasulullah shallallahu alaihi wasallam berkata “Sesungguhnya sebaik-baik Tabiin adalah seorang bernama Uwais, mempunyai seorang ibu yang selalu dipatuhinya, pernah sakit belang dan disembuhkan Allah kecuali sebesar uang dinar di dekat pusarnya, apabila ia bersumpah pasti dikabulkan Allah. Bila kalian menemuinya mintalah kepadanya agar ia memintakan ampunan kepada Allah”<br />
Uwais lalu mendoa’kan Umar agar diberi ampunan Allah. Lalu Uwais pun menghilang dalam kerumunan rombongan dari Yaman yang akan melanjutkan perjalanan ke Kufah. (HR Ahmad, HR Muslim 4612)</p>
<p>Muslim yang memperjalankan diri hingga sampai (wushul) kepada Allah atau muslim yang mendekatkan diri kepada Allah akan mencapai muslim yang Ihsan hingga dapat menyaksikan Allah dengan hati atau mencapai muslim berma’rifat</p>
<p>Keadaan muslim yang Ihsan diuraikan oleh Rasulullah sebagai “<em>Kamu takut (takhsya / khasyyah) kepada Allah seakan-akan kamu melihat-Nya (berma’rifat), maka jika kamu tidak melihat-Nya maka sesungguhnya Dia melihatmu</em>.’ (HR Muslim 11)</p>
<p>Rasulullah bersabda “<em>Iman paling afdol ialah apabila kamu mengetahui bahwa Allah selalu menyertaimu dimanapun kamu berada</em>“. (HR. Ath Thobari)</p>
<p>Imam Sayyidina Ali r.a. pernah ditanya oleh seorang sahabatnya bernama Zi’lib Al-Yamani,<br />
“Apakah Anda pernah melihat Tuhan?”<br />
Beliau menjawab, “Bagaimana saya menyembah yang tidak pernah saya lihat?”<br />
“Bagaimana Anda melihat-Nya?” tanyanya kembali.<br />
Sayyidina Ali ra menjawab “Dia tak bisa dilihat oleh mata dengan pandangan manusia yang kasat, tetapi bisa dilihat oleh hati”</p>
<p>Sebuah riwayat dari Ja’far bin Muhammad beliau ditanya: “Apakah engkau melihat Tuhanmu ketika engkau menyembah-Nya?” Beliau menjawab: “Saya telah melihat Tuhan, baru saya sembah”. Bagaimana anda melihat-Nya? dia menjawab: “Tidak dilihat dengan mata yang memandang, tapi dilihat dengan hati yang penuh Iman.”</p>
<p>Jika belum dekat dengan Allah atau belum dapat menyaksikan Allah dengan hati atau belum mencapai ma’rifat maka setiap kita akan bersikap atau melakukan perbuatan, ingatlah selalu perkataan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bahwa “<em>Jika kamu tidak melihat-Nya maka sesungguhnya Dia melihatmu</em>.’ (HR Muslim 11)</p>
<p>Wassalam</p>
<p>Zon di Jonggol, Kab Bogor 16830</p>
<br />Filed under: <a href='http://mutiarazuhud.wordpress.com/category/islam/'>Islam</a>, <a href='http://mutiarazuhud.wordpress.com/category/umum/'>Umum</a>  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/mutiarazuhud.wordpress.com/4659/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/mutiarazuhud.wordpress.com/4659/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/mutiarazuhud.wordpress.com/4659/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/mutiarazuhud.wordpress.com/4659/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/mutiarazuhud.wordpress.com/4659/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/mutiarazuhud.wordpress.com/4659/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/mutiarazuhud.wordpress.com/4659/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/mutiarazuhud.wordpress.com/4659/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/mutiarazuhud.wordpress.com/4659/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/mutiarazuhud.wordpress.com/4659/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/mutiarazuhud.wordpress.com/4659/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/mutiarazuhud.wordpress.com/4659/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/mutiarazuhud.wordpress.com/4659/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/mutiarazuhud.wordpress.com/4659/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=mutiarazuhud.wordpress.com&amp;blog=7078984&amp;post=4659&amp;subd=mutiarazuhud&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://mutiarazuhud.wordpress.com/2012/01/25/maksud-perkara-syariat/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/da9e7464e9e3c4447f52e554f6476dfa?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">mutiarazuhud</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Mereka membuat larangan</title>
		<link>http://mutiarazuhud.wordpress.com/2012/01/24/mereka-membuat-larangan/</link>
		<comments>http://mutiarazuhud.wordpress.com/2012/01/24/mereka-membuat-larangan/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 24 Jan 2012 11:40:01 +0000</pubDate>
		<dc:creator>mutiarazuhud</dc:creator>
				<category><![CDATA[Islam]]></category>
		<category><![CDATA[Umum]]></category>
		<category><![CDATA[agama]]></category>
		<category><![CDATA[berantas]]></category>
		<category><![CDATA[berdosa]]></category>
		<category><![CDATA[bid'ah]]></category>
		<category><![CDATA[dikerjakan]]></category>
		<category><![CDATA[ditinggalkan]]></category>
		<category><![CDATA[halal]]></category>
		<category><![CDATA[haram]]></category>
		<category><![CDATA[kewajiban]]></category>
		<category><![CDATA[khurafat]]></category>
		<category><![CDATA[larangan]]></category>
		<category><![CDATA[mengada ada]]></category>
		<category><![CDATA[mentauhidkan]]></category>
		<category><![CDATA[perkara]]></category>
		<category><![CDATA[perkara baru]]></category>
		<category><![CDATA[sholawat]]></category>
		<category><![CDATA[Syariat]]></category>
		<category><![CDATA[syirik]]></category>
		<category><![CDATA[tahayul]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://mutiarazuhud.wordpress.com/?p=4656</guid>
		<description><![CDATA[Mereka membuat larangan berdasarkan akal pikiran Pengakuan mereka adalah mentauhidkan Allah ‘Azza wa Jalla dan mengikuti syariatNya, memberantas syirik, tahayul, bid’ah dan khurafat. Namun tampaknya kenyataan  berbeda antara pengakuan dengan sikap dan perbuatan mereka Contoh sederhana mereka membuat larangan-larangan maupun kewajiban seperti, Tidak boleh mengungkapkan cinta kepada Rasulullah dengan matan/redaksi sholawat sebagaimana yang kita inginkan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=mutiarazuhud.wordpress.com&amp;blog=7078984&amp;post=4656&amp;subd=mutiarazuhud&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Mereka membuat larangan berdasarkan akal pikiran</strong></p>
<p>Pengakuan mereka adalah mentauhidkan Allah ‘Azza wa Jalla dan mengikuti syariatNya, memberantas syirik, tahayul, bid’ah dan khurafat. Namun tampaknya kenyataan  berbeda antara pengakuan dengan sikap dan perbuatan mereka</p>
<p>Contoh sederhana mereka membuat larangan-larangan maupun kewajiban seperti,</p>
<p><em>Tidak boleh mengungkapkan cinta kepada Rasulullah dengan matan/redaksi sholawat sebagaimana yang kita inginkan</em><br />
atau<br />
<em>wajib bersholawat sebagaimana yang dicontohkan oleh  Rasulullah shallallahu alaihi wasallam</em></p>
<p>Larangan adalah perkara yang jika dikerjakan berdosa.<br />
Kewajiban adalah perkara yang jika tidak dikerjakan berdosa.</p>
<p>Berdasarkan akal pikiran,  mereka membuat larangan atau kewajiban yang tidak pernah ditetapkan oleh Allah Azza wa Jalla atau tidak pernah disampaikan oleh RasulNya.  Mereka tanpa disadari telah membuat perkara baru (bid’ah) atau mengada-ada dalam urusan agama atau dalam perkara syariat.</p>
<p>Dari Ibnu ‘Abbas r.a. berkata Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda, “<em>di dalam agama itu tidak ada pemahaman berdasarkan akal pikiran, sesungguhnya agama itu dari Tuhan, perintah-Nya dan larangan-Nya</em>.” (Hadits riwayat Ath-Thabarani)</p>
<p>Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda, “<em>Sesungguhnya Allah telah mewajibkan beberapa kewajiban (ditinggalkan berdosa), maka jangan kamu sia-siakan dia; dan Allah telah memberikan beberapa larangan (dikerjakan berdosa)), maka jangan kamu langgar dia; dan Allah telah mengharamkan sesuatu (dikerjakan berdosa), maka jangan kamu pertengkarkan dia; dan Allah telah mendiamkan beberapa hal sebagai tanda kasihnya kepada kamu, Dia tidak lupa, maka jangan kamu perbincangkan dia.</em>” (Riwayat Daraquthni, dihasankan oleh an-Nawawi)</p>
<p>Perkara kewajiban (ditinggalkan berdosa), perkara larangan (dikerjakan berdosa) maupun perkara pengharaman (dikerjakan berdosa) adalah berasal dari Allah Azza wa Jalla atau ditetapkanNya atau diwajibkanNya (wajib dikerjakan dan wajib dijauhi)</p>
<p>Urusan agama atau perkara syariat atau  perkara yang diwajibkanNya (wajib dikerjakan dan wajib dijauhi) telah sempurna.</p>
<p>Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda, “<em>Tidak tertinggal sedikitpun yang mendekatkan kamu dari surga dan menjauhkanmu dari neraka melainkan telah dijelaskan bagimu </em>” (HR Ath Thabraani dalam Al Mu’jamul Kabiir no. 1647)</p>
<p>“mendekatkan dari surga” = perkara kewajiban (ditinggalkan berdosa)<br />
“menjauhkan dari neraka” = perkara larangan dan perkara pengharaman (dikerjakan berdosa)</p>
<p>Baik atau buruk bagi manusia yang mengetahui adalah Allah Azza wa Jalla</p>
<p>Firman Allah Azza wa Jalla yang artinya,</p>
<p>“<em>Katakanlah! Siapakah yang berani mengharamkan perhiasan Allah yang telah diberikan kepada hamba-hambaNya dan beberapa rezeki yang baik itu? Katakanlah! Tuhanku hanya mengharamkan hal-hal yang tidak baik yang timbul daripadanya dan apa yang tersembunyi dan dosa dan durhaka yang tidak benar dan kamu menyekutukan Allah dengan sesuatu yang Allah tidak turunkan keterangan padanya dan kamu mengatakan atas (nama) Allah dengan sesuatu yang kamu tidak mengetahui.</em>” (QS al-A’raf: 32-33)</p>
<p>“<em>Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu haramkan apa-apa yang baik yang telah Allah halalkan bagi kamu dan janganlah kamu melampaui batas, sesungguhnya Allah tidak menyukai orang yang melampaui batas.</em>” (Qs. al-Mâ’idah [5]: 87).</p>
<p>“<em>Dan janganlah kamu mengatakan terhadap apa yang disebut-sebut oleh lidahmu secara dusta “Ini halal dan ini haram”, untuk mengada-adakan kebohongan terhadap Allah. Sesungguhnya orang-orang yang mengada-adakan kebohongan terhadap Allah tiadalah beruntung</em>” [QS. An-Nahl : 116].</p>
<p>Dalam hadits Qudsi , Rasulullah bersabda: “<em>Aku ciptakan hamba-hambaKu ini dengan sikap yang lurus, tetapi kemudian datanglah syaitan kepada mereka. Syaitan ini kemudian membelokkan mereka dari agamanya, dan mengharamkan atas mereka sesuatu yang Aku halalkan kepada mereka, serta mempengaruhi supaya mereka mau menyekutukan Aku dengan sesuatu yang Aku tidak turunkan keterangan padanya.</em>” (Riwayat Muslim).</p>
<p>Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda : “<em>Barangsiapa menghalalkan sesuatu yang haram atau mengharamkan sesuatu yang halal, maka dia telah kafir</em>.”</p>
<p>Mereka tanpa disadari  bisa terjerumus dalam kekufuran karena menjadikan ulama sebagai tuhan-tuhan  selain Allah. Mereka menyembah para ulama yang menetapkan larangan maupun kewajiban</p>
<p>Allah Azza wa Jalla berfirman,</p>
<p>اتَّخَذُوا أَحْبَارَهُمْ وَرُهْبَانَهُمْ أَرْبَابًا مِنْ دُونِ اللَّهِ</p>
<p>“<em>Mereka menjadikan para rahib dan pendeta mereka sebagai tuhan-tuhan selain Allah</em>“. (QS at-Taubah [9]:31 )</p>
<p>Ketika Nabi ditanya terkait dengan ayat ini, “<em>apakah mereka menyembah para rahib dan pendeta sehingga dikatakan menjadikan mereka sebagai tuhan-tuhan selain Allah</em>?”</p>
<p>Nabi menjawab, “<em>tidak</em>”</p>
<p>« أما أنهم لم يكونوا يعبدونهم ولكنهم كانوا إذا أحلوا لهم شيئاً استحلوه وإذا حرموا عليهم شيئاً حرموه »</p>
<p>“<em>Mereka tidak menyembah para rahib dan pendeta itu, tetapi jika para rahib dan pendeta itu menghalalkan sesuatu bagi mereka, mereka menganggapnya halal, dan jika para rahib dan pendeta itu mengharamkan bagi mereka sesuatu, mereka mengharamkannya</em>“</p>
<p>Pada riwayat yang lain disebutkan, Rasulullah bersabda ”<em>mereka (para rahib dan pendeta) itu telah menetapkan haram terhadap sesuatu yang halal, dan menghalalkan sesuatu yang haram, kemudian mereka mengikutinya. Yang demikian itulah penyembahannya kepada mereka.</em>” (Riwayat Tarmizi)</p>
<p>PerintahNya adalah bersholawatlah namun tidak ada larangan menggunakan matan/redaksi sholawat yang dibuat sendiri.</p>
<p>Firman Allah Azza wa Jalla, “<em>Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Hai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya</em>” (QS (QS Al Ahzab [33]: 56)</p>
<p>Imam Sayyidina Ali Karramallahu Wajhah, Imam Syafi’i ~ rahimahullah dan ulama-ulama terdahulu lainnya mempunyai matan/redaksi sendiri sesuai bagaimana mereka mengungkapkan kecintaannya kepada Rasulullah shallallahu alaihi wasallam</p>
<p>Shalawat Sayyidina ‘Ali Karramallahu Wajhah:</p>
<p>صَلَوَاتُ اللهِ وَمَلاَئِكَتِهِ وَأَنْبِيَائِهِ وَجَمِيْعِ خَلْقِهِ عَلَى مُحَمَّدٍ وَآلِ مُحَمَّدٍ وَعَلَيْهِمُ السَّلاَمُ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُه</p>
<p>Shalawatullahi wa malaa’ikatihi wa anbiyaa’ihi wa jamii’i khalqihii ‘alaa Muhammad wa aali Muhammad wa ‘alaih wa ‘alaihimussalaamu wa rahmatullaahi wa barakaatuh</p>
<p>“<em>Shalawat Allah, para MalaikatNya dan para NabiNya serta semua mahlukNya semoga terlimpah kepada Nabi Muhammad Saw dan Keluarganya dan keturunannya, dan semoga keselamatan Allah, rahmat Allah serta berkahNya terlimpahkan kepada Mereka</em>“.</p>
<p>Imam Syafi’i ~rahimahullah pun mempunyai matan/redaksi sholawat yang dibuatnya sendiri seperti.</p>
<p>“<em>Ya Allah, limpakanlah shalawat atas Nabi kami, Muhammad, selama orang-orang yang ingat menyebut-Mu dan orang-orang yang lalai melupakan untuk menyebut-Mu</em> ”<br />
atau<br />
“<em>Ya Allah, limpahkanlah shalawat atas cahaya di antara segala cahaya, rahsia di antara segala rahasia, penawar duka, dan pembuka pintu kemudahan, yakni Sayyidina Muhammad, manusia pilihan, juga kepada keluarganya yang suci dan sahabatnya yang baik, sebanyak jumlah kenikmatan Allah dan karunia-Nya</em>.”</p>
<p>Tulisan tentang matan/redaksi atau lafadz sholawat lainnya pada<br />
<a href="http://www.abatasa.com/pustaka/detail/tauhid/175/lafadz-lafadz-shalawat-dan-penjelasannya-1">http://www.abatasa.com/pustaka/detail/tauhid/175/lafadz-lafadz-shalawat-dan-penjelasannya-1</a><br />
<a href="http://www.abatasa.com/pustaka/detail/tauhid/180/lafadz-lafadz-shalawat-dan-penjelasannya-2">http://www.abatasa.com/pustaka/detail/tauhid/180/lafadz-lafadz-shalawat-dan-penjelasannya-2</a><br />
<a href="http://www.abatasa.com/pustaka/detail/tauhid/183/lafadz-lafadz-shalawat-dan-penjelasannya-3">http://www.abatasa.com/pustaka/detail/tauhid/183/lafadz-lafadz-shalawat-dan-penjelasannya-3</a><br />
<a href="http://www.abatasa.com/pustaka/detail/tauhid/188/lafadz-lafadz-shalawat-dan-penjelasannya-4">http://www.abatasa.com/pustaka/detail/tauhid/188/lafadz-lafadz-shalawat-dan-penjelasannya-4</a></p>
<p>Salah satu matan / redaksi sholawat yang mereka kritisi adalah sholawat badar.</p>
<p>Shalawat Badar</p>
<p>Shalatullah salamullah, &#8216;ala Thaha Rasulillah<br />
Shalatullah salamullah, &#8216;ala Yasin Habibillah<br />
Semoga shalawat dan salam selalu kepada Thaaha, Rasulullah<br />
Semoga shalawat dan salam selalu kepada Yasin, Rasulullah<br />
(Thaha dan Yaasin adalah panggilan / gelar untuk Rasulullah)</p>
<p>Tawasalna bibismillah, wa bilhadi Rasulillah,<br />
wa kulli mujahidin lillah, bi ahli badri, ya Allah<br />
Kami bertawasul dengan bismillah, petunjuk Rasulillah,<br />
dan dengan seluruh mujahidin Badar, ya Allah</p>
<p>Ilahi sallimil ummah, minal afaati wa niqmah<br />
wa min hammin wa min ghummah, bi ahli badri, ya Allah<br />
Tuhanku, selamatkanlah umat ini, dari derita dan bencana<br />
dan dari belenggu serta kebekuan, demi ahli Badar ya Allah</p>
<p>Ilahi-ghfir wa akrimna, binaili mathalibi minna<br />
Wa daf&#8217;i masaa-atin &#8216;anna, bi ahli badri, ya Allah<br />
Tuhanku, ampuni dan muliakan kami, dengan dikabulkannya permohonan kami,<br />
dan dijauhkannya kami dari tragedi yang memilukan, demi ahli Badar ya Allah</p>
<p>Sholawat Badar adalah  doa yang diawali dengan  sholawat berisikan tawassul dengan nama Allah, dengan Junjungan Nabi shallallahu alaihi wasallam  serta para mujahidin teristimewanya para pejuang Badar. Sholawat ini adalah hasil karya Kiyai Ali Manshur, yang merupakan cucu Kiyai Haji Muhammad Shiddiq. Selengkapnya dalam tulisan pada <a href="http://mutiarazuhud.wordpress.com/2011/05/02/sholawat-badar/">http://mutiarazuhud.wordpress.com/2011/05/02/sholawat-badar/</a></p>
<p>Inti doanya adalah  “<em>Tuhanku, selamatkanlah umat ini, dari derita dan bencana dan dari belenggu serta kebekuan</em>”<br />
dan<br />
“<em>Tuhanku, ampuni dan muliakan kami, dengan dikabulkannya permohonan kami, dan dijauhkannya kami dari tragedi yang memilukan</em>”</p>
<p>Bertawassul adalah adab berdoa,  berperantara pada kemuliaan seseorang,  kemuliaan tempat, kemuliaan  benda, kemuliaan waktu, kemuliaan doa atau dzikrullah  dihadapan Allah Azza wa Jalla</p>
<p>Tawassul dengan kemuliaan seseorang disisiNya adalah pembuka doa yang disampaikan sebelum doa inti ,  berisikan syair atau ungkapan kecintaan, penghormatan, pengakuan keutamaan derajat mereka (yang ditawasulkan) di sisi Allah Azza wa Jalla atau berisikan rasa syukur kita akan peran mereka (yang ditawasulkan)  menyiarkan agama Islam sehingga kita dapat mendapatkan ni’mat Iman dan ni’mat Islam.</p>
<p>Contoh:<br />
“<em>Hai sebaik-baik orang yang dikebumikan di lembah ini lagi paling agung, maka menjadi harumlah dari pancaran keharumannya semua lembah dan pegunungan ini. Diriku sebagai tebusan kubur yang engkau menjadi penghuninya; di dalamnya terdapat kehormatan, kedermawanan, dan kemuliaan.</em>“<br />
Selengkapnya pada <a href="http://mutiarazuhud.files.wordpress.com/2011/09/ikjuz5p281_285.pdf">http://mutiarazuhud.files.wordpress.com/2011/09/ikjuz5p281_285.pdf</a></p>
<p>atau contoh syair sholawat nariyah yang artinya “<em>yang dengan beliau terurai segala ikatan, hilang segala kesedihan, dipenuhi segala kebutuhan, dicapai segala keinginan dan kesudahan yang baik</em>”</p>
<p>Syair sholawat nariyah tersebut berisi ungkapan cinta sehingga memahaminya dengan bahasa cinta atau  balaghoh / majaz. Maknanya,  dengan peran Beliau shallallahu alaihi wasallam pembawa Al Qur’an, pembawa hidayah, pembawa risalah, yang dengan itu semualah kita menjadi muslim sehingga terurai segala ikatan dosa dan sihir, hilang segala kesedihan yaitu dengan sakinah, khusyu dan selamat dari siksa neraka, dipenuhi segala kebutuhan oleh Allah subhanahu wa ta’ala, dicapai segala keinginan dan kesudahan yang baik yaitu husnul khatimah dan sorga. Hal ini serupa dengan ungkapan cinta seorang pemuda pada kekasihnya seperti , “<em>Kehadiranmu membuatku senang dan bahagia tanpamu dunia ini bagiku adalah penjara</em>”  padahal kita paham bahwa yang membuat pemuda itu senang dan bahagia hanyalah Allah Azza wa Jalla perantaraan kehadiran kekasihnya.</p>
<p>Boleh berperantara pada kemuliaan seseorang baik yang masih hidup maupun yang sudah wafat karena kemuliaan seseorang di hadapan Allah tak akan sirna walaupun mereka sudah wafat.</p>
<p>Justru mereka yang membedakan bolehnya bertawassul pada yang hidup saja dan mengharamkan pada yang sudah wafat, maka mereka itu malah dirisaukan akan terjerumus pada kemusyrikan karena menganggap makhluk hidup bisa memberi manfaat, sedangkan akidah kita adalah semua yang hidup dan yang  sudah wafat  tak bisa memberi manfaat apa apa kecuali karena Allah ta’ala memuliakannya,  bukan karena ia hidup lalu ia bisa memberi manfaat dihadapan Allah, berarti si hidup itu sebanding dengan Allah Subhanahu wa  Ta’ala?,  si hidup bisa berbuat sesuatu pada keputusan Allah ?</p>
<p>Orang yang bertawassul tidak boleh berkeyakinan bahwa perantaranya kepada Allah bisa memberi manfaat dan madlorot kepadanya dan jika ia berkeyakinan bahwa sesuatu yang dijadikan perantaraan menuju Allah Subhanahu wa Ta’ala  itu bisa memberi manfaat dan madlorot, maka dia telah melakukan perbuatan syirik, karena yang bisa memberi manfaat dan madlorot sesungguhnya hanyalah Allah semata.</p>
<p>Selengkapnya tentang bertawassul dengan yang dimuliakanNya telah diuraikan dalam tulisan pada  <a href="http://mutiarazuhud.wordpress.com/2012/01/21/perantaraan-yang-dimuliakannya/">http://mutiarazuhud.wordpress.com/2012/01/21/perantaraan-yang-dimuliakannya/</a></p>
<p>Doa dengan diawali bertawassul  dalam sholawat badar memenuhi sunnah Rasulullah</p>
<p>Anas bin Malik r.a meriwayatkan bahwa Nabi Muhammad shallallahu alaihi wasallam bersabda: “<em>Tiada doa kecuali terdapat hijab di antaranya dengan di antara langit, hingga bershalawat atas Nabi shallallahu alaihi wasallam, maka apabila dibacakan shalawat Nabi, terbukalah hijab dan diterimalah doa tersebut, namun jika tidak demikian, kembalilah doa itu kepada pemohonnya</em>“</p>
<p>Rasulullah bersabda “<em>Jika salah seorang di antara kalian berdoa maka hendaknya dia memulainya dengan memuji dan menyanjung Allah, kemudian dia bershalawat kepada Nabi -shallallahu alaihi wasallam-, kemudian setelah itu baru dia berdoa sesukanya.</em>” (HR Ahmad, Abu Dawud dan dishahihkan oleh At Tirmidzi)</p>
<p>Salah satunya mereka mempermasalahkan nama lain Rasulullah yakni Thaha dan Yaasiin. Padahal Allah Azza wa Jalla  memanggil RasulNya dengan panggilan / gelar  tersebut.</p>
<p>Firman Allah ta&#8217;ala,<br />
&#8220;<em>Thaahaa.  Kami tidak menurunkan Al Quran ini kepadamu agar kamu menjadi susah</em>&#8220;. (QS.Thaha 20:1-2)</p>
<p>&#8220;<em>Yaa siin. Demi al-Quran yang penuh hikmah. Sesungguhnya kamu salah seorang dari Rasul-rasul</em>&#8220;,  (QS.Yasin 36:1-3)</p>
<p>Mereka juga mempermasalahkan syair yang berisikan  tawassul dengan ahli Badar.  Padahal di zaman Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam ,  syair berisikan tawassul dengan ahli Badar umum dipergunakan bahkan dilantunkan dengan diiringi  rebana sebagaimana terlukiskan dalam hadits berikut</p>
<p>Telah menceritakan kepada kami Musaddad Telah menceritakan kepada kami Bisyr bin Al Mufadldlal Telah menceritakan kepada kami Khalid bin Dzakwan ia berkata; Ar Rubayyi’ binti Mu’awwidz bin ‘Afran berkata; suatu ketika, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dan masuk saat aku membangun mahligai rumah tangga (menikah). Lalu beliau duduk di atas kasurku, sebagaimana posisi dudukmu dariku. Kemudian para budak-budak wanita pun memukul rebana dan mengenang keistimewaan-keistimewaan prajurit yang gugur pada saat perang Badar. Lalu salah seorang dari mereka pun berkata, “Dan di tengah-tengah kita ada seorang Nabi, yang mengetahui apa yang akan terjadi esok hari.” Maka beliau bersabda: “Tinggalkanlah ungkapan ini, dan katakanlah apa yang ingin kamu katakan.“ (HR Bukhari  4750)</p>
<p>Rasulullah shallallahu alaihi wasallam hanya mengkoreksi perkataan “<em>Dan di tengah-tengah kita ada seorang Nabi, yang mengetahui apa yang akan terjadi esok hari</em>” karena Beliau tahu sebatas yang diwahyukan namun beliau tidak melarang ungkapan cinta (sholawat) sebagaimana kita ingin mengungkapkannya dengan pernyataan <em>“katakanlah apa yang ingin kamu katakan</em>“</p>
<p>Wassalam</p>
<p>Zon di Jonggol, Kab Bogor 16830</p>
<br />Filed under: <a href='http://mutiarazuhud.wordpress.com/category/islam/'>Islam</a>, <a href='http://mutiarazuhud.wordpress.com/category/umum/'>Umum</a>  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/mutiarazuhud.wordpress.com/4656/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/mutiarazuhud.wordpress.com/4656/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/mutiarazuhud.wordpress.com/4656/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/mutiarazuhud.wordpress.com/4656/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/mutiarazuhud.wordpress.com/4656/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/mutiarazuhud.wordpress.com/4656/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/mutiarazuhud.wordpress.com/4656/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/mutiarazuhud.wordpress.com/4656/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/mutiarazuhud.wordpress.com/4656/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/mutiarazuhud.wordpress.com/4656/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/mutiarazuhud.wordpress.com/4656/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/mutiarazuhud.wordpress.com/4656/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/mutiarazuhud.wordpress.com/4656/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/mutiarazuhud.wordpress.com/4656/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=mutiarazuhud.wordpress.com&amp;blog=7078984&amp;post=4656&amp;subd=mutiarazuhud&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://mutiarazuhud.wordpress.com/2012/01/24/mereka-membuat-larangan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/da9e7464e9e3c4447f52e554f6476dfa?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">mutiarazuhud</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Melalui ulama bermazhab</title>
		<link>http://mutiarazuhud.wordpress.com/2012/01/23/melalui-ulama-bermazhab/</link>
		<comments>http://mutiarazuhud.wordpress.com/2012/01/23/melalui-ulama-bermazhab/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 23 Jan 2012 08:49:11 +0000</pubDate>
		<dc:creator>mutiarazuhud</dc:creator>
				<category><![CDATA[Islam]]></category>
		<category><![CDATA[Umum]]></category>
		<category><![CDATA[Bermazhab]]></category>
		<category><![CDATA[contoh nyata]]></category>
		<category><![CDATA[empat]]></category>
		<category><![CDATA[ibadah]]></category>
		<category><![CDATA[Imam]]></category>
		<category><![CDATA[Mazhab]]></category>
		<category><![CDATA[melalui]]></category>
		<category><![CDATA[Melihat]]></category>
		<category><![CDATA[pemahaman]]></category>
		<category><![CDATA[penerapan]]></category>
		<category><![CDATA[Pengikut]]></category>
		<category><![CDATA[perbuatan]]></category>
		<category><![CDATA[salaf sholeh]]></category>
		<category><![CDATA[ULAMA]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://mutiarazuhud.wordpress.com/?p=4647</guid>
		<description><![CDATA[Melihat salaf yang sholeh melalui ulama bermazhab &#160; Periodisasi salaf (terdahulu) dan khalaf (kemudian) adalah termasuk bagian dari hasutan atau ghazwul fikri (perang pemahaman) dari kaum Zionis Yahudi untuk memecah belah kaum muslim. Hal ini telah disampaikan dalam tulisan pada http://mutiarazuhud.wordpress.com/2011/12/27/salaf-dan-khalaf/ Berikut penjelasan lain dari analisa dan kajian kami selama ini. Periodisasi salaf (terdahulu) dan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=mutiarazuhud.wordpress.com&amp;blog=7078984&amp;post=4647&amp;subd=mutiarazuhud&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Melihat salaf yang sholeh melalui ulama bermazhab</strong></p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong></strong>Periodisasi salaf (terdahulu) dan khalaf (kemudian) adalah termasuk bagian dari hasutan atau ghazwul fikri (perang pemahaman) dari kaum Zionis Yahudi untuk memecah belah kaum muslim. Hal ini telah disampaikan dalam tulisan pada <a href="http://mutiarazuhud.wordpress.com/2011/12/27/salaf-dan-khalaf/">http://mutiarazuhud.wordpress.com/2011/12/27/salaf-dan-khalaf/</a></p>
<p>Berikut penjelasan lain dari analisa dan kajian kami selama ini.</p>
<p>Periodisasi salaf (terdahulu) dan khalaf (kemudian) adalah bagian hasutan atau ghazwul fikri (perang pemahaman) dari kaum Zionis Yahudi untuk mensukseskan gerakan anti mazhab.</p>
<p>Salah satu penghasutnya adalah perwira Yahudi Inggris bernama Edward Terrence Lawrence yang dikenal oleh ulama jazirah Arab sebagai Laurens Of Arabian. Laurens menyelidiki dimana letak kekuatan umat Islam dan berkesimpulan bahwa kekuatan umat Islam terletak kepada ketaatan dengan mazhab (bermazhab) dan istiqomah mengikuti tharikat-tharikat tasawuf. Laurens mengupah ulama-ulama yang anti tharikat dan anti mazhab untuk menulis buku buku yang menyerang tharikat dan mazhab. Buku tersebut diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa dan dibiayai oleh pihak orientalis.</p>
<p>Dengan periodisasi salaf (terdahulu) dan khalaf (kemudian)  bertujuan agar umat Islam  meninggalkan pemahaman / pendapat / perkataan Imam Mazhab yang empat karena ulama-ulama yang  kredibel menjelaskan pemahaman / pendapat / perkataan Imam Mazhab yang empat adalah ulama-ulama pengikut Imam Mazhab yang empat dan  merupakan ulama-ulama setelah generasi Salafush Sholeh.</p>
<p>Imam Mazhab yang empat tidak pernah menyampaikan istilah manhaj salaf maupun mazhab salaf. Begitupula ulama-ulama setelah generasi Salafush Sholeh yang menjelaskan pemahaman / pendapat / perkataan Imam Mazhab yang empat tidak pernah membawa-bawa istilah manhaj salaf maupun mazhab salaf.</p>
<p>Sehingga segelintir  kaum muslim yang terkena hasutan, mereka  meninggalkan segala pemahaman / pendapat / perkataan ulama-ulama pengikut Imam Mazhab yang empat  yang tidak membawa-bawa istilah manhaj salaf maupun mazhab salaf.</p>
<p>Manhaj salaf atau mazhab salaf menjadi semacam stempel bagi pemahaman / pendapat / perkataan ulama-ulama yang mengaku-aku mengikuti pemahaman Salafush Sholeh bahwa apa yang mereka sampaikan adalah pemahaman Salafush Sholeh padahal mereka jelas-jelas tidak bertalaqqi (mengaji) dengan Salafush Sholeh sehingga apa yang mereka sampaikan pada hakikatnya adalah pemahaman ulama-ulama mereka berdasarkan akal pikiran mereka sendiri.</p>
<p>Mereka yang terhasut periodisasi salaf (terdahulu) dan khalaf (kemudian) seperti kehilangan akal sehat atau seperti terhipnotis untuk hanya mengikuti pemahaman / pendapat / perkataan ulama-ulama yang membawa-bawa stempel manhaj salaf atau mazhab salaf. Berakibat pula ketidak-hormatan segelintir kaum muslim terhadap ulama-ulama yang tidak membawa-bawa stempel manhaj salaf atau mazhab salaf.</p>
<p>Contohnya klaim mereka bahwa Imam Nawawi, Imam Baihaqi, Ibnu Hajar telah terjatuh dalam kekufuran karena penakwilan terhadap sebagian sifat-sifat Allah sebaimana yang telah diketahui dalam tulisan pada <a href="http://mutiarazuhud.wordpress.com/2012/01/19/2011/09/07/klaim-mereka/">http://mutiarazuhud.wordpress.com/2012/01/19/2011/09/07/klaim-mereka/</a></p>
<p>Contohnya lainnya bagaimana upaya mereka memberikan stempel manhaj salaf atau mazhab salaf kepada Imam Asy&#8217;ari yang bermazhab Imam Syafi&#8217;i.  Dibuatlah &#8220;cerita&#8221;  bahwa pemikiran al-Imam Abu al-Hassan al-Asy`ari melalui tiga fase , meninggalkan pemahaman mutakzillah dan meinggalkan pemahaman Ibn Kullab serta kembali kepada pemahaman seperti mereka.</p>
<p>Padahal kitab ulama-ulama bermazhab terdahulu menyampaikan bahwa al-Imam Abu al-Hassan al-Asy`ari hanya meninggalkan pemahaman mutakzilah dan kembali kepada pemahaman Ahlus sunnah wal jama&#8217;ah sebagaimana pemahaman Ibnu Kullab. Hal ini dinyatakan contohnya oleh al-Hafiz Ibn Hajar al-`Asqalani di dalam kitabnya Lisan al-Mizan bahwa “Metodologi Ibn Kullab diikuti oleh al-Asy`ari di dalam kitab al-Ibanah”. (Ibn Hajar al-`Asqalani(t.t.), Lisan al-Mizan, Dar, al-Fikr, Beirut, juz 3, hal. 291). Pembahasan selengkapnya pada <a href="http://mutiarazuhud.wordpress.com/2011/03/11/al-ibanah/">http://mutiarazuhud.wordpress.com/2011/03/11/al-ibanah/ </a></p>
<p>Mereka boleh saja &#8220;mengutak-atik&#8221; kitab al-Imam Abu al-Hassan al-Asy`ari namun penjelasam pemahaman al-Imam Abu al-Hassan al-Asy`ari sebenarnya ada di dalam kitab dan hati para pengikut Imam Asy&#8217;ari (bermazhab Imam Syafi&#8217;i) dan pengikut Imam Maturidi (bermazhab Imam Hanafi)</p>
<p>Sudah jelas bagi kaum muslim pada umumnya bahwa Imam Mazhab yang empat telah disepakati oleh jumhur ulama sejak dahulu sampai sekarang sebagai pemimpin atau imam ijtihad kaum muslim pada umumnya (Imam Mujtahid Mutlak)</p>
<p>Imam Mazhab yang empat bertalaqqi (mengaji) langsung dengan Salafush Sholeh.<br />
Imam Mazhab yang empat mengetahui dan mengikuti pemahaman Salafush Sholeh melalui lisannya Salafush Sholeh.<br />
Imam Mazhab yang empat melihat sendiri penerapan, perbuatan serta contoh nyata dari Salafush Sholeh.</p>
<p>Iman Mazhab yang empat menyampaikan hasil ijtihad dan istinbat mereka kepada para murid-muridnya dan secara berkelanjutan disampaikan kepada ulama-ulama pengikuti Imam Mazhab yang empat sampai kepada ulama-ulama yang menyampaikannya kepada kaum muslim pada umumnya. Jadi secara tidak langsung , kaum muslim pada umumnya “melihat”  pemahaman, penerapan, perbuatan serta contoh nyata dari Salafush Sholeh melalui apa yang disampaikan oleh para ulama yang bermazhab.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Wassalam</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Zon di Jonggol, Kab Bogor 16830</p>
<br />Filed under: <a href='http://mutiarazuhud.wordpress.com/category/islam/'>Islam</a>, <a href='http://mutiarazuhud.wordpress.com/category/umum/'>Umum</a>  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/mutiarazuhud.wordpress.com/4647/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/mutiarazuhud.wordpress.com/4647/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/mutiarazuhud.wordpress.com/4647/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/mutiarazuhud.wordpress.com/4647/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/mutiarazuhud.wordpress.com/4647/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/mutiarazuhud.wordpress.com/4647/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/mutiarazuhud.wordpress.com/4647/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/mutiarazuhud.wordpress.com/4647/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/mutiarazuhud.wordpress.com/4647/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/mutiarazuhud.wordpress.com/4647/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/mutiarazuhud.wordpress.com/4647/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/mutiarazuhud.wordpress.com/4647/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/mutiarazuhud.wordpress.com/4647/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/mutiarazuhud.wordpress.com/4647/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=mutiarazuhud.wordpress.com&amp;blog=7078984&amp;post=4647&amp;subd=mutiarazuhud&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://mutiarazuhud.wordpress.com/2012/01/23/melalui-ulama-bermazhab/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/da9e7464e9e3c4447f52e554f6476dfa?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">mutiarazuhud</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Salaf yang sholeh</title>
		<link>http://mutiarazuhud.wordpress.com/2012/01/23/salaf-yang-sholeh/</link>
		<comments>http://mutiarazuhud.wordpress.com/2012/01/23/salaf-yang-sholeh/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 23 Jan 2012 08:39:41 +0000</pubDate>
		<dc:creator>mutiarazuhud</dc:creator>
				<category><![CDATA[Islam]]></category>
		<category><![CDATA[Umum]]></category>
		<category><![CDATA[Fatwa]]></category>
		<category><![CDATA[ijtihad]]></category>
		<category><![CDATA[ikuti]]></category>
		<category><![CDATA[Imam]]></category>
		<category><![CDATA[istinbat]]></category>
		<category><![CDATA[kewajiban]]></category>
		<category><![CDATA[larangan]]></category>
		<category><![CDATA[Mazhab]]></category>
		<category><![CDATA[melalui]]></category>
		<category><![CDATA[merujuk]]></category>
		<category><![CDATA[Muslim]]></category>
		<category><![CDATA[pemahaman]]></category>
		<category><![CDATA[Pemimpin]]></category>
		<category><![CDATA[Pendapat]]></category>
		<category><![CDATA[pengharaman]]></category>
		<category><![CDATA[perkara]]></category>
		<category><![CDATA[perkataan]]></category>
		<category><![CDATA[Salaf]]></category>
		<category><![CDATA[Sholeh]]></category>
		<category><![CDATA[Syariat]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://mutiarazuhud.wordpress.com/?p=4645</guid>
		<description><![CDATA[Ikuti salaf yang sholeh hingga menjadi muslim yang sholeh pula &#160; Periodisasi salaf (terdahulu) dan khalaf (kemudian) adalah termasuk bagian dari hasutan atau ghazwul fikri (perang pemahaman) dari kaum Zionis Yahudi untuk memecah belah kaum muslim. Hal ini telah disampaikan dalam tulisan pada http://mutiarazuhud.wordpress.com/2011/12/27/salaf-dan-khalaf/ Salafy adalah mereka yang menisbatkan kepada manhaj Salaf yang sholeh atau [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=mutiarazuhud.wordpress.com&amp;blog=7078984&amp;post=4645&amp;subd=mutiarazuhud&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Ikuti salaf yang sholeh hingga menjadi muslim yang sholeh pula </strong></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Periodisasi salaf (terdahulu) dan khalaf (kemudian) adalah termasuk bagian dari hasutan atau ghazwul fikri (perang pemahaman) dari kaum Zionis Yahudi untuk memecah belah kaum muslim. Hal ini telah disampaikan dalam tulisan pada <a href="http://mutiarazuhud.wordpress.com/2011/12/27/salaf-dan-khalaf/">http://mutiarazuhud.wordpress.com/2011/12/27/salaf-dan-khalaf/</a></p>
<p>Salafy adalah mereka yang menisbatkan kepada manhaj Salaf yang sholeh atau mereka yang mengikuti jalan yang telah dilalui kaum muslim terdahulu sehingga mencapai muslim yang sholeh atau muslim yang ihsan.</p>
<p>Jika mereka tidak mencapai kesholehan atau tidak mencapai muslim yang ihsan atau muslim yang menyaksikan Allah dengan hati (berma&#8217;rifat) maka penisbatannya telah gagal dan tidak patut menyandangkannya sebagai seorang salafy.</p>
<p>Seorang muslim dikatakan telah mengikuti atau mentaati Allah dan RasulNya sehingga mendapatkan maqom disisiNya atau dekat dengan Allah Azza wa Jalla adalah 4 golongan manusia yakni para Nabi (Rasulullah yang utama), para Shiddiqin, para Syuhada dan muslim yang sholeh</p>
<p>Firman Allah ta&#8217;ala yang artinya<br />
“<em>Dan barangsiapa yang menta’ati Allah dan Rasul(Nya), mereka itu akan bersama-sama dengan orang-orang yang dianugerahi ni’mat oleh Allah, yaitu : Nabi-nabi, para shiddiiqiin, orang-orang yang mati syahid, dan orang-orang saleh. Dan mereka itulah teman yang sebaik-baiknya </em>.” (QS An Nisaa [4]: 69 )</p>
<p>Semakin dekat kita kepada Allah sehingga menjadi kekasihNya (Wali Allah)</p>
<p>Maqom Shiddiqin atau kedekatan dengan Allah diuraikan dalam tulisan pada <a href="http://mutiarazuhud.wordpress.com/2011/09/09/2011/09/28/maqom-wali-allah/">http://mutiarazuhud.wordpress.com/2011/09/09/2011/09/28/maqom-wali-allah/</a></p>
<p>Semakin berilmu kita maka kita semakin takut kepada Allah Azza wa Jalla</p>
<p>Rasulullah bersabda ‘<em>Kamu takut (takhsya / khasyyah) kepada Allah seakan-akan kamu melihat-Nya (berma’rifat), maka jika kamu tidak melihat-Nya maka sesungguhnya Dia melihatmu.</em>’ (HR Muslim 11)</p>
<p>Firman Allah ta’ala yang artinya “<em>Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah ulama, sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Pengampu</em>” (QS Al Faathir [35]:28)</p>
<p>Sungguh luas ilmuNya, semakin kita mendalami ilmuNya semakin tersungkur sujud kepadaNya</p>
<p>Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: “<em>Barangsiapa yang bertambah ilmunya tapi tidak bertambah hidayahnya, maka dia tidak bertambah dekat kepada Allah melainkan bertambah jauh</em></p>
<p>Ingat manhaj Salaf yang sholeh bukan manhaj salaf karena salaf (orang-orang terdahulu) ada yang sholeh dan ada pula yang tidak sholeh seperti kaum khawarij. Contohnya Abdurrahman ibn Muljam adalah seorang yang sangat rajin beribadah. Shalat dan shaum, baik yang wajib maupun sunnah, melebihi kebiasaan rata-rata orang di zaman itu.Namun terpangaruh oleh hasutan atau ghazwul fikri (perang pemahaman) orang-orang Khawarij yang selalu berbicara mengatasnamakan Islam. Sampai akhirnya, dialah yang ditugasi menjadi eksekutor pembunuhan Imam Sayyidina Ali ra.</p>
<p>Manhaj Salaf yang sholeh artinya jalan yang telah dilalui kaum muslim terdahulu sehingga mencapai muslim yang sholeh atau muslim yang ihsan</p>
<p>Istilah manhaj salaf maupun mazhab salaf tidak pernah disampaikan oleh Imam Mazhab yang empat. Kedua istilah tersebutnya tampaknya disampaikan oleh mereka yang mengaku-aku mengikuti Salaf yang sholeh namun tidak pernah bertalaqqi (mengaji) dengan Salaf yang sholeh.</p>
<p>Marilah kita berhati-hati dalam mengikuti pendapat / pemahaman / perkataan seorang ulama agar tidak menjadikan penyesalan di akhirat kelak</p>
<p>Firman Allah ta’ala yang artinya,<br />
<em>(Yaitu) ketika orang-orang yang diikuti itu berlepas diri dari orang-orang yang mengikutinya, dan mereka melihat siksa; dan (ketika) segala hubungan antara mereka terputus sama sekali.</em>” (QS al Baqarah [2]: 166)</p>
<p>“<em>Dan berkatalah orang-orang yang mengikuti: “Seandainya kami dapat kembali (ke dunia), pasti kami akan berlepas diri dari mereka, sebagaimana mereka berlepas diri dari kami.” Demikianlah Allah memperlihatkan kepada mereka amal perbuatannya menjadi sesalan bagi mereka; dan sekali-kali mereka tidak akan keluar dari api neraka.</em>” (QS Al Baqarah [2]: 167)</p>
<p>Ulama yang pendapat / pemahaman / perkataan &#8211; nya patut kita ikuti adalah ulama yang telah disepakati oleh jumhur ulama dari dahulu sampai sekarang sebagai pemimpin atau imam ijtihad kaum muslim pada umumnya (Imam Mujtahid Mutlak).</p>
<p>Imam Mazhab yang empat melihat sendiri penerapan, perbuatan serta contoh nyata dari Salafush Sholeh. Imam Mazhab yang empat bertalaqqi (mengaji) langsung dengan Salafush Sholeh. Imam Mazhab yang empat mengetahui dan mengikuti pemahaman Salafush Sholeh melalui lisannya Salafush Sholeh</p>
<p>Oleh karenanya agar ibadah kita sesuai sebagaimana yang telah dilakukan oleh Rasulullah atau dalam urusan fiqih atau perkara syariat ataupun berfatwa dalam perkara kewajiban yang jika ditinggalkan berdosa atau perkara larangan yang jika dilanggar berdosa atau perkara pengharaman yang jika dilanggar berdosa sebaiknyalah kita merujuk kepada pendapat / pemahaman / perkataan Imam Mazhab yang empat.</p>
<p>Oleh karenanya pula pada perguruan tinggi Islam, fakultas syari’ah diperlukan jurusan perbandingan mazhab dan hukum.</p>
<p>Contoh ulama yang masih berpegang teguh kepada pemahaman/pendapat Imam Mazhab yang empat adalah Mufti Mesir Profesor Doktor Ali Jum`ah sebagaimana contoh yang terurai dalam tulisan pada <a href="http://mutiarazuhud.wordpress.com/2011/10/30/hukum-penutup-muka/">http://mutiarazuhud.wordpress.com/2011/10/30/hukum-penutup-muka/</a></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Wassalam</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Zon di Jonggol, Kab Bogor 16830</p>
<br />Filed under: <a href='http://mutiarazuhud.wordpress.com/category/islam/'>Islam</a>, <a href='http://mutiarazuhud.wordpress.com/category/umum/'>Umum</a>  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/mutiarazuhud.wordpress.com/4645/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/mutiarazuhud.wordpress.com/4645/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/mutiarazuhud.wordpress.com/4645/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/mutiarazuhud.wordpress.com/4645/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/mutiarazuhud.wordpress.com/4645/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/mutiarazuhud.wordpress.com/4645/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/mutiarazuhud.wordpress.com/4645/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/mutiarazuhud.wordpress.com/4645/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/mutiarazuhud.wordpress.com/4645/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/mutiarazuhud.wordpress.com/4645/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/mutiarazuhud.wordpress.com/4645/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/mutiarazuhud.wordpress.com/4645/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/mutiarazuhud.wordpress.com/4645/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/mutiarazuhud.wordpress.com/4645/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=mutiarazuhud.wordpress.com&amp;blog=7078984&amp;post=4645&amp;subd=mutiarazuhud&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://mutiarazuhud.wordpress.com/2012/01/23/salaf-yang-sholeh/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/da9e7464e9e3c4447f52e554f6476dfa?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">mutiarazuhud</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Tetap tidak berubah</title>
		<link>http://mutiarazuhud.wordpress.com/2012/01/23/tetap-tidak-berubah/</link>
		<comments>http://mutiarazuhud.wordpress.com/2012/01/23/tetap-tidak-berubah/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 23 Jan 2012 08:33:22 +0000</pubDate>
		<dc:creator>mutiarazuhud</dc:creator>
				<category><![CDATA[Islam]]></category>
		<category><![CDATA[Umum]]></category>
		<category><![CDATA[agama]]></category>
		<category><![CDATA[disampaikan]]></category>
		<category><![CDATA[ketetapanNya]]></category>
		<category><![CDATA[kewajiban]]></category>
		<category><![CDATA[larangan]]></category>
		<category><![CDATA[pengharaman]]></category>
		<category><![CDATA[perkara]]></category>
		<category><![CDATA[rasulullah]]></category>
		<category><![CDATA[sesuai]]></category>
		<category><![CDATA[Sholeh]]></category>
		<category><![CDATA[Syariat]]></category>
		<category><![CDATA[tidak berubah]]></category>
		<category><![CDATA[urusan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://mutiarazuhud.wordpress.com/?p=4643</guid>
		<description><![CDATA[Dalam urusan agama atau perkara syariat harus sebagaimana yang telah disampaikan oleh Rasulullah &#160; Dalam urusan mendekatkan diri kepada Allah ta&#8217;ala, carilah jalan (washilah) masing-masing asalkan akhirnya adalah mencapai muslim yang baik, muslim yang sholeh, muslim yang ihsan Seorang Muslim yang dikatakan telah berhasil mendekatkan diri kepada Allah ta&#8217;ala atau telah berhasil mentaati Allah dan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=mutiarazuhud.wordpress.com&amp;blog=7078984&amp;post=4643&amp;subd=mutiarazuhud&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Dalam urusan agama atau perkara syariat harus sebagaimana yang telah disampaikan oleh Rasulullah</strong></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Dalam urusan mendekatkan diri kepada Allah ta&#8217;ala, carilah jalan (washilah) masing-masing asalkan akhirnya adalah mencapai muslim yang baik, muslim yang sholeh, muslim yang ihsan</p>
<p>Seorang Muslim yang dikatakan telah berhasil mendekatkan diri kepada Allah ta&#8217;ala atau telah berhasil mentaati Allah dan RasulNya adalah muslim yang meraih maqom disisiNya.</p>
<p>Muslim yang meraih maqom disisiNya hanyalah 4 golongan manusia yakni para Nabi (yang utama Rasulullah), para Shiddiqin, para Syuhada dan muslim yang sholeh.</p>
<p>Firman Allah ta&#8217;ala yang artinya “<em>Dan barangsiapa yang menta’ati Allah dan Rasul(Nya), mereka itu akan bersama-sama dengan orang-orang yang dianugerahi ni’mat oleh Allah, yaitu : Nabi-nabi, para shiddiiqiin, orang-orang yang mati syahid, dan orang-orang saleh. Dan mereka itulah teman yang sebaik-baiknya</em> .” (QS An Nisaa [4]: 69 )</p>
<p>Maqom Shiddiqin atau kedekatan dengan Allah diuraikan dalam tulisan pada <a href="http://mutiarazuhud.wordpress.com/2011/09/09/2011/09/28/maqom-wali-allah/">http://mutiarazuhud.wordpress.com/2011/09/09/2011/09/28/maqom-wali-allah/</a></p>
<p>Namun dalam urusan agama atau perkara syariat, syarat sebagai hamba Allah tidak boleh berubah sampai akhir zaman</p>
<p>Dalam urusan agama atau perkara syariat harus sebagaimana yang disampaikan oleh Rasulullah shallallahu alaihi wasallam berdasarkan perintahNya dan laranganNya</p>
<p>Dari Ibnu ‘Abbas r.a. berkata Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda, “<em>sesungguhnya agama itu dari Tuhan, perintah-Nya dan larangan-Nya</em>.” (Hadits riwayat Ath-Thabarani)</p>
<p>Agama atau perkara syariat adalah segala perkara yang telah disyaratkan oleh Allah Azza wa Jalla yang harus dipenuhi sebagai hamba Allah yakni menjalankan segala apa yang telah ditetapkanNya atau diwajibkanNya, wajib dijalankan dan wajib dijauhi, meliputi menjalankan kewajibanNya yang jika ditinggalkan berdosa, menjauhi segala yang telah dilarangNya yang jika dilanggar berdosa dan menjauhi segala yang telah diharamkanNya yang jika dilanggar berdosa.</p>
<p>Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda, “<em>Sesungguhnya Allah telah mewajibkan beberapa kewajiban (ditinggalkan berdosa), maka jangan kamu sia-siakan dia; dan Allah telah memberikan beberapa larangan (dikerjakan berdosa)), maka jangan kamu langgar dia; dan Allah telah mengharamkan sesuatu (dikerjakan berdosa), maka jangan kamu pertengkarkan dia; dan Allah telah mendiamkan beberapa hal sebagai tanda kasihnya kepada kamu, Dia tidak lupa, maka jangan kamu perbincangkan dia.</em>” (Riwayat Daraquthni, dihasankan oleh an-Nawawi)</p>
<p>Janganlah mengada-ada dalam agama atau mengada-ada dalam perkara syariat seperti mengada-ada dalam perkara larangan yang jika dilanggar berdosa maupun mengada-ada dalam perkara kewajiban yang jika ditinggalkan berdosa karena perkara agama atau perkara syariat telah sempurna.</p>
<p>Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda, “<em>Tidak tertinggal sedikitpun yang mendekatkan kamu dari surga dan menjauhkanmu dari neraka melainkan telah dijelaskan bagimu</em> ” (HR Ath Thabraani dalam Al Mu’jamul Kabiir no. 1647)</p>
<p>“mendekatkan dari surga” = perkara kewajiban (ditinggalkan berdosa)<br />
“menjauhkan dari neraka” = perkara larangan dan perkara pengharaman (dikerjakan berdosa)</p>
<p>Dari Ibnu ‘Abbas r.a. berkata Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda, “<em>Sesungguhnya di masa kemudian akan ada peperangan di antara orang-orang yang beriman.” Seorang Sahabat bertanya: “Mengapa kita (orang-orang yang beriman) memerangi orang yang beriman, yang mereka itu sama berkata: ‘Kami telah beriman’.” Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Ya, karena mengada-adakan di dalam agama (mengada-ada dalam perkara yang merupakan hak Allah ta’ala menetapkannya yakni perkara kewajiban, larangan dan pengharaman) , apabila mereka mengerjakan agama dengan pemahaman berdasarkan akal pikiran, padahal di dalam agama itu tidak ada pemahaman berdasarkan akal pikiran, sesungguhnya agama itu dari Tuhan, perintah-Nya dan larangan-Nya.</em>” (Hadits riwayat Ath-Thabarani).</p>
<p>Allah Azza wa Jalla berfirman,</p>
<p>اتَّخَذُوا أَحْبَارَهُمْ وَرُهْبَانَهُمْ أَرْبَابًا مِنْ دُونِ اللَّهِ</p>
<p>“<em>Mereka menjadikan para rahib dan pendeta mereka sebagai tuhan-tuhan selain Allah</em>“. (QS at-Taubah [9]:31 )</p>
<p>Ketika Nabi ditanya terkait dengan ayat ini, “<em>apakah mereka menyembah para rahib dan pendeta sehingga dikatakan menjadikan mereka sebagai tuhan-tuhan selain Allah</em>?”</p>
<p>Nabi menjawab, “tidak”</p>
<p>« أما أنهم لم يكونوا يعبدونهم ولكنهم كانوا إذا أحلوا لهم شيئاً استحلوه وإذا حرموا عليهم شيئاً حرموه »</p>
<p>“<em>Mereka tidak menyembah para rahib dan pendeta itu, tetapi jika para rahib dan pendeta itu menghalalkan sesuatu bagi mereka, mereka menganggapnya halal, dan jika para rahib dan pendeta itu mengharamkan bagi mereka sesuatu, mereka mengharamkannya</em>“</p>
<p>Pada riwayat yang lain disebutkan, Rasulullah bersabda ”<em>mereka (para rahib dan pendeta) itu telah menetapkan haram terhadap sesuatu yang halal, dan menghalalkan sesuatu yang haram, kemudian mereka mengikutinya. Yang demikian itulah penyembahannya kepada mereka</em>.” (Riwayat Tarmizi)</p>
<p>Firman Allah ta’ala yang artinya,<br />
“<em>Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu haramkan apa-apa yang baik yang telah Allah halalkan bagi kamu dan janganlah kamu melampaui batas, sesungguhnya Allah tidak menyukai orang yang melampaui batas.</em>” (Qs. al-Mâ’idah [5]: 87).</p>
<p>“<em>Katakanlah! Siapakah yang berani mengharamkan perhiasan Allah yang telah diberikan kepada hamba-hambaNya dan beberapa rezeki yang baik itu? Katakanlah! Tuhanku hanya mengharamkan hal-hal yang tidak baik yang timbul daripadanya dan apa yang tersembunyi dan dosa dan durhaka yang tidak benar dan kamu menyekutukan Allah dengan sesuatu yang Allah tidak turunkan keterangan padanya dan kamu mengatakan atas (nama) Allah dengan sesuatu yang kamu tidak mengetahui.</em>” (QS al-A’raf: 32-33)</p>
<p>“<em>Dan janganlah kamu mengatakan terhadap apa yang disebut-sebut oleh lidahmu secara dusta “Ini halal dan ini haram”, untuk mengada-adakan kebohongan terhadap Allah. Sesungguhnya orang-orang yang mengada-adakan kebohongan terhadap Allah tiadalah beruntung</em>” [QS. An-Nahl : 116].</p>
<p>Dalam hadits Qudsi , Rasulullah bersabda: “<em>Aku ciptakan hamba-hambaKu ini dengan sikap yang lurus, tetapi kemudian datanglah syaitan kepada mereka. Syaitan ini kemudian membelokkan mereka dari agamanya, dan mengharamkan atas mereka sesuatu yang Aku halalkan kepada mereka, serta mempengaruhi supaya mereka mau menyekutukan Aku dengan sesuatu yang Aku tidak turunkan keterangan padanya.</em>” (Riwayat Muslim).</p>
<p>Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda :</p>
<p>من حلل حراما او حرم حلالا فقد كفر</p>
<p>“<em>Barangsiapa menghalalkan sesuatu yang haram atau mengharamkan sesuatu yang halal, maka dia telah kafir.</em>”</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Wassalam</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Zon di Jonggol, Kab Bogor 16830</p>
<br />Filed under: <a href='http://mutiarazuhud.wordpress.com/category/islam/'>Islam</a>, <a href='http://mutiarazuhud.wordpress.com/category/umum/'>Umum</a>  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/mutiarazuhud.wordpress.com/4643/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/mutiarazuhud.wordpress.com/4643/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/mutiarazuhud.wordpress.com/4643/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/mutiarazuhud.wordpress.com/4643/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/mutiarazuhud.wordpress.com/4643/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/mutiarazuhud.wordpress.com/4643/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/mutiarazuhud.wordpress.com/4643/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/mutiarazuhud.wordpress.com/4643/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/mutiarazuhud.wordpress.com/4643/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/mutiarazuhud.wordpress.com/4643/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/mutiarazuhud.wordpress.com/4643/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/mutiarazuhud.wordpress.com/4643/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/mutiarazuhud.wordpress.com/4643/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/mutiarazuhud.wordpress.com/4643/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=mutiarazuhud.wordpress.com&amp;blog=7078984&amp;post=4643&amp;subd=mutiarazuhud&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://mutiarazuhud.wordpress.com/2012/01/23/tetap-tidak-berubah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/da9e7464e9e3c4447f52e554f6476dfa?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">mutiarazuhud</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Bahaya tanpa sanad</title>
		<link>http://mutiarazuhud.wordpress.com/2012/01/23/bahaya-tanpa-sanad/</link>
		<comments>http://mutiarazuhud.wordpress.com/2012/01/23/bahaya-tanpa-sanad/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 22 Jan 2012 22:39:33 +0000</pubDate>
		<dc:creator>mutiarazuhud</dc:creator>
				<category><![CDATA[Islam]]></category>
		<category><![CDATA[Umum]]></category>
		<category><![CDATA[akibat]]></category>
		<category><![CDATA[berpendapat]]></category>
		<category><![CDATA[bukan ulama]]></category>
		<category><![CDATA[buruk]]></category>
		<category><![CDATA[Hawa]]></category>
		<category><![CDATA[hawa nafsu]]></category>
		<category><![CDATA[Nafsu]]></category>
		<category><![CDATA[sanad]]></category>
		<category><![CDATA[sesuai]]></category>
		<category><![CDATA[tanpa sanad]]></category>
		<category><![CDATA[tidak berakhlak baik]]></category>
		<category><![CDATA[tidak berma'rifat]]></category>
		<category><![CDATA[tidak patut diikuti]]></category>
		<category><![CDATA[tidak takut]]></category>
		<category><![CDATA[tidak yakin dilihat]]></category>
		<category><![CDATA[ULAMA]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://mutiarazuhud.wordpress.com/?p=4641</guid>
		<description><![CDATA[Tanpa sanad seorang ulama bisa berpendapat sesuai hawa nafsunya Mereka berpendapat, “Jangan pusingkan guru anda bersanad atau tidaknya, namun sembarang atau tidaknya dalam menyampaikan hadits-hadits yang mulia. Kalau asal sanad, maka Iblis lebih bersanad kepada Allah Jalla wa ‘Ala &#8230; Allahu a’lam” Iblis tidak dikatakan bersanad kepada Allah Azza wa Jalla karena Iblis tidak mengikuti [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=mutiarazuhud.wordpress.com&amp;blog=7078984&amp;post=4641&amp;subd=mutiarazuhud&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Tanpa sanad seorang ulama bisa berpendapat sesuai hawa nafsunya</strong></p>
<p>Mereka berpendapat, “<em>Jangan pusingkan guru anda bersanad atau tidaknya, namun sembarang atau tidaknya dalam menyampaikan hadits-hadits yang mulia. Kalau asal sanad, maka Iblis lebih bersanad kepada Allah Jalla wa ‘Ala &#8230; Allahu a’lam</em>”</p>
<p>Iblis tidak dikatakan bersanad kepada Allah Azza wa Jalla karena Iblis tidak mengikuti Allah Azza wa Jalla</p>
<p>Jika ada guru mengaku “saya bersambung kepada Rasulullah” maka periksa apa guru tersebut mengikuti guru-guru sebelumnya atau tidak.  Kalau dia tidak mengikuti guru-guru sebelumnya maka tentunya kita juga berfikir, walaupun guru punya seribu sanad yang jelas, kalau tidak mengikuti guru-guru sebelumnya berarti sanadnya terputus dan umumnya berhenti pada akal pikirannya sendiri yang didalamnya ada unsur hawa nafsu atau kepentingan.</p>
<p>Telah bercerita kepada kami Abu &#8216;Ashim adl-Dlahhak bin Makhlad telah mengabarkan kepada kami Al Awza&#8217;iy telah bercerita kepada kami Hassan bin &#8216;Athiyyah dari Abi Kabsyah dari &#8216;Abdullah bin &#8216;Amru bahwa Nabi shallallahu &#8216;alaihi wasallam bersabda: <em>&#8220;Sampaikan dariku sekalipun satu ayat dan ceritakanlah (apa yang kalian dengar) dari Bani Isra&#8217;il dan itu tidak apa (dosa). Dan siapa yang berdusta atasku dengan sengaja maka bersiap-siaplah menempati tempat duduknya di neraka</em>&#8221; (HR Bukhari 3202)</p>
<p>Hakikat makna hadits tersebut adalah kita hanya boleh menyampaikan satu ayat yang diperoleh (didengar)  dari guru-guru sebelumnya  disampaikan secara turun temurun sampai kepada lisannya Rasulullah  shallallahu alaihi wasallam.  Kita tidak diperkenankan menyampaikan akal pikiran kita semata.</p>
<p>Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda, “<em>Barangsiapa menguraikan Al Qur’an dengan akal pikirannya sendiri dan merasa benar, maka sesungguhnya dia telah berbuat kesalahan</em>”. (HR. Ahmad)</p>
<p>Dari Ibnu ‘Abbas r.a. berkata Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda, “<em>di dalam agama itu tidak ada pemahaman berdasarkan akal pikiran, sesungguhnya agama itu dari Tuhan, perintah-Nya dan larangan-Nya.</em>” (Hadits riwayat Ath-Thabarani)</p>
<p>Ibnul Mubarak berkata :”<em>Sanad merupakan bagian dari agama, kalaulah bukan karena sanad, maka pasti akan bisa berkata siapa saja yang mau dengan apa saja yang diinginkannya.</em>” (Diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Muqoddimah kitab Shahihnya 1/47 no:32 )</p>
<p>Dari Ibnu Abbas ra Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda…”<em>Barangsiapa yg berkata mengenai Al-Qur’an tanpa ilmu maka ia menyediakan tempatnya sendiri di dalam neraka</em>” (HR.Tirmidzi)</p>
<p>Imam Syafi’i ~rahimahullah mengatakan “<em>tiada ilmu tanpa sanad</em>”.</p>
<p>Al-Hafidh Imam Attsauri ~rahimullah mengatakan “<em>Penuntut ilmu tanpa sanad adalah bagaikan orang yang ingin naik ke atap rumah tanpa tangga</em>”</p>
<p>Bahkan Al-Imam Abu Yazid Al-Bustamiy , quddisa sirruh (Makna tafsir QS.Al-Kahfi 60) ; “<em>Barangsiapa tidak memiliki susunan guru dalam bimbingan agamanya, tidak ragu lagi niscaya gurunya syetan</em>” Tafsir Ruhul-Bayan Juz 5 hal. 203</p>
<p>Sanad ilmu / sanad guru sama pentingnya dengan sanad hadits.<br />
Sanad hadits adalah otentifikasi atau kebenaran sumber perolehan matan/redaksi hadits dari lisan Rasulullah<br />
Sedangkan Sanad ilmu atau sanad guru adalah otentifikasi atau kebenaran sumber perolehan penjelasan baik Al Qur’an maupun As Sunnah dari lisan Rasulullah.</p>
<p>Hal yang harus kita ingat bahwa Al Qur’an pada awalnya tidaklah dibukukan. Ayat-ayat Al Qur’an hanya dibacakan dan dihafal (imla) kemudian dipahami bersama dengan yang menyampaikannya.</p>
<p>Sanad adalah silsilah atau rantai yang menyambungkan kita dengan yang sebelum kita, hubungan, sanad adalah hubungan kalau secara bahasa sanad adalah sesuatu yang terkait kepada sesuatu yang lain atau sesuatu yang bertumpu pada sesuatu yang lain, tapi didalam maknanya ini secara istilah adalah bersambungnya ikatan bathin kita, bersambungnya ikatan perkenalan kita dengan orang lain, sebagian besar adalah guru-guru kita.</p>
<p>&#8220;<em>Orang yang berguru tidak kepada guru tapi kepada buku saja maka ia tidak akan menemui kesalahannya karena buku tidak bisa menegur tapi kalau guru bisa menegur jika ia salah atau jika ia tak faham ia bisa bertanya, tapi kalau buku jika ia tak faham ia hanya terikat dengan pemahaman dirinya, maka oleh sebab itu jadi tidak boleh baca dari buku, tentunya boleh baca buku apa saja boleh, namun kita harus mempunyai satu guru yang kita bisa tanya jika kita mendapatkan masalah</em>&#8221; (Habib Munzir).</p>
<p>Asy-Syeikh as-Sayyid Yusuf Bakhour al-Hasani menyampaikan bahwa &#8220;<em>maksud dari pengijazahan sanad itu adalah agar kamu menghafazh bukan sekadar untuk meriwayatkan tetapi juga untuk meneladani orang yang kamu mengambil sanad daripadanya, dan orang yang kamu ambil sanadnya itu juga meneladani orang yang di atas di mana dia mengambil sanad daripadanya dan begitulah seterusnya hingga berujung kepada kamu meneladani Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Dengan demikian, keterjagaan al-Qur’an itu benar-benar sempurna baik secara lafazh, makna dan pengamalan</em>&#8220;</p>
<p>&#8220;<em>Sanad adalah bagai rantai emas terkuat yg tak bisa diputus dunia dan akhirat, jika bergerak satu mata rantai maka bergerak seluruh mata rantai hingga ujungnya, yaitu Rasulullah saw</em>,&#8221; (Habib Munzir)</p>
<p>Kita jangan mengulang apa yang telah terjadi pada kaum Nasrani dimana ilmu agama mereka sanadnya terputus dari lisannya Nabi Isa a.s.  Kitab suci yang ditangan mereka telah bercampur dengan akal pikiran mereka sendiri di mana di dalamnya ada unsur  hawa nafsu atau kepentingan manusia belaka sehingga mereka tidak “mengenal”  Rasul Allah yang terakhir , Nabi Muhammad shallallahu alaihi wasallam</p>
<p>Firman Allah ta’ala yang artinya, “<em>Orang-orang (Yahudi dan Nasrani) yang telah Kami beri Al Kitab (Taurat dan Injil) mengenal Muhammad seperti mereka mengenal anak-anaknya sendiri. Dan sesungguhnya sebahagian diantara mereka menyembunyikan kebenaran, padahal mereka mengetahui.</em>” ( QS Al Baqarah [2]:146 )</p>
<p>Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda,  “<em> Demi Allah, yang diriku ada dalam genggaman tanganNya, tidaklah mendengar dari hal aku ini seseorangpun dari ummat sekarang ini, Yahudi, dan tidak pula Nasrani, kemudian tidak mereka mau beriman kepadaku, melainkan masuklah dia ke dalam neraka.”</em></p>
<p>Kaum Nasrani tanpa sanad ilmu maka para rahib atau pendeta mereka dapat berfatwa berdasarkan apa yang mereka inginkan. Sehingga mereka memberhalakan akal pikiran mereka sendiri yang didalamnya ada unsur hawa nafsu atau kepentingan.</p>
<p>Ibnul Mubarak berkata :”<em>Sanad merupakan bagian dari agama, kalaulah bukan karena sanad, maka pasti akan bisa berkata siapa saja yang mau dengan apa saja yang diinginkannya</em>.” (Diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Muqoddimah kitab Shahihnya 1/47 no:32 )</p>
<p>Allah Azza wa Jalla berfirman,</p>
<p>اتَّخَذُوا أَحْبَارَهُمْ وَرُهْبَانَهُمْ أَرْبَابًا مِنْ دُونِ اللَّهِ</p>
<p>“<em>Mereka menjadikan para rahib dan pendeta mereka sebagai tuhan-tuhan selain Allah</em>“. (QS at-Taubah [9]:31 )</p>
<p>Ketika Nabi ditanya terkait dengan ayat ini, “apakah mereka menyembah para rahib dan pendeta sehingga dikatakan menjadikan mereka sebagai tuhan-tuhan selain Allah?”</p>
<p>Nabi menjawab, “<em>tidak</em>”</p>
<p>« أما أنهم لم يكونوا يعبدونهم ولكنهم كانوا إذا أحلوا لهم شيئاً استحلوه وإذا حرموا عليهم شيئاً حرموه »</p>
<p>“<em>Mereka tidak menyembah para rahib dan pendeta itu, tetapi jika para rahib dan pendeta itu menghalalkan sesuatu bagi mereka, mereka menganggapnya halal, dan jika para rahib dan pendeta itu mengharamkan bagi mereka sesuatu, mereka mengharamkannya</em>“</p>
<p>Pada riwayat yang lain disebutkan, Rasulullah bersabda  ”<em>mereka (para rahib dan pendeta) itu telah menetapkan haram terhadap sesuatu yang halal, dan menghalalkan sesuatu yang haram, kemudian mereka mengikutinya. Yang demikian itulah penyembahannya kepada mereka.</em>” (Riwayat Tarmizi).</p>
<p>Kaum Zionis Yahudi telah menghasut segelintir ulama untuk memahami Al Qur’an dan As Sunnah dengan akal pikirannya sendiri  tidak lagi memperhatikan sanad ilmu, tidak lagi memperhatikan pendapat-pendapat ulama-ulama terdahulu yang tersambung sanadnya kepada Rasulullah shallallahu alaihi wasallam. Ulama-ulama yang terhasut berakibat mereka meninggalkan pemahaman Imam Mazhab yang empat, pemimpin atau imam ijtihad kaum muslim pada umumnya (Imam Mujtahid Mutlak) yang bertalaqqi (mengaji) langsung dengan Salafush Sholeh. Imam Mazhab yang empat mengetahui dan mengikuti pemahaman Salafush Sholeh melalui lisannya Salafush Sholeh. Para Imam Mazhab yang empat melihat sendiri penerapan, perbuatan serta contoh nyata dari Salafush Sholeh</p>
<p>Slogan yang disebarluaskan seperti “<em>Mari Kembali Kepada Al Qur&#8217;an dan As Sunnah dengan Pemahaman Para Salaf</em>”</p>
<p>Selintas terlihat slogan tersebut benar namun tidak jelas para salaf (orang orang terdahulu) yang mana yang dimaksud karena salaf (orang orang terdahulu) ada yang sholeh dan ada pula yang tidak sholeh seperti kaum khawarij.  Contohnya  Abdurrahman ibn Muljam adalah seorang yang sangat rajin beribadah. Shalat dan shaum, baik yang wajib maupun sunnah, melebihi kebiasaan rata-rata orang di zaman itu.Namun terpangaruh oleh hasutan atau ghazwul fikri (perang pemahaman) orang-orang Khawarij  yang selalu berbicara mengatasnamakan Islam. Sampai akhirnya, dialah yang ditugasi menjadi eksekutor pembunuhan Imam Sayyidina Ali ra.</p>
<p>Kesalahan redaksi tersebut selintas seperti masalah kecil namun hakikatnya mereka tidak paham indikator siapa orang yang layak untuk diikuti yakni orang-orang sholeh, muslim yang sholeh, muslim yang disisiNya.  Hal ini telah diuraikan dalam tulisan pada <a href="http://mutiarazuhud.wordpress.com/2012/01/23/ikuti-yang-sholeh/">http://mutiarazuhud.wordpress.com/2012/01/23/ikuti-yang-sholeh/</a></p>
<p>Setinggi apapun ilmu agama seorang ulama jika tidak berakhlak baik maka ulama tersebut tidak patut diikuti. Perawi hadits hanya karena pernah buang air kecil di jalan  atau berucap kata kotor maka dia telah dianggap tidak adil karena tidak memelihara muruu’ah (harga diri).</p>
<p>Seorang Muslim yang dikatakan telah mengikuti atau mentaati Allah dan RasulNya sehingga mendapatkan maqom disisiNya adalah 4 golongan manusia sebagaimana firmanNya yang artinya “<em>Dan barangsiapa yang menta’ati Allah dan Rasul(Nya), mereka itu akan bersama-sama dengan orang-orang yang dianugerahi ni’mat oleh Allah, yaitu : Nabi-nabi, para shiddiiqiin, orang-orang yang mati syahid, dan orang-orang saleh. Dan mereka itulah teman yang sebaik-baiknya </em>.” (QS An Nisaa [4]: 69 )</p>
<p>Pada hakikatnya seseorang yang tidak berakhlak baik (tidak sholeh) atau tidak mencapai muslim yang ihsan adalah bukan ulama</p>
<p>Firman Allah ta’ala yang artinya “<em>Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah ulama, sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Pengampu</em>” (QS Al Faathir  [35]:28)</p>
<p>Muslim yang berakhlak baik atau muslim yang ihsan adalah muslim yang takut kepada Allah baik karena dia selalu yakin diawasi oleh Allah Azza wa Jalla atau takut kepada Allah karena dia dapat menyaksikan Allah (berma’rifat)</p>
<p>Apakah Ihsan ?</p>
<p>قَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ مَا الْإِحْسَانُ قَالَ أَنْ تَخْشَى اللَّهَ كَأَنَّكَ تَرَاهُ فَإِنَّكَ إِنْ لَا تَكُنْ تَرَاهُ فَإِنَّهُ يَرَاكَ</p>
<p>Lalu dia bertanya lagi, ‘Wahai Rasulullah, apakah ihsan itu? ‘ Beliau menjawab, ‘Kamu takut (takhsya / khasyyah) kepada Allah seakan-akan kamu melihat-Nya (berma’rifat), maka jika kamu tidak melihat-Nya maka sesungguhnya Dia melihatmu.’ (HR Muslim 11)</p>
<p>Rasulullah bersabda “<em>Iman paling afdol ialah apabila kamu mengetahui bahwa Allah selalu menyertaimu dimanapun kamu berada</em>“. (HR. Ath Thobari)</p>
<p>Imam Sayyidina Ali r.a. pernah ditanya oleh seorang sahabatnya bernama Zi’lib Al-Yamani,<br />
“Apakah Anda pernah melihat Tuhan?”<br />
Beliau menjawab, “Bagaimana saya menyembah yang tidak pernah saya lihat?”<br />
“Bagaimana Anda melihat-Nya?” tanyanya kembali.<br />
Sayyidina Ali ra menjawab “Dia tak bisa dilihat oleh mata dengan pandangan manusia yang kasat, tetapi bisa dilihat oleh hati”</p>
<p>Sebuah riwayat dari Ja’far bin Muhammad beliau ditanya: “Apakah engkau melihat Tuhanmu ketika engkau menyembah-Nya?” Beliau menjawab: “Saya telah melihat Tuhan, baru saya sembah”. Bagaimana anda melihat-Nya? dia menjawab: “Tidak dilihat dengan mata yang memandang, tapi dilihat dengan hati yang penuh Iman.”</p>
<p>Seseorang walaupun berilmu agama yang tinggi namun  tidak dapat menyaksikan Allah dengan hati (berma’rifat) atau tidak selalu yakin bahwa Allah Azza wa Jalla melihat segala sikap dan perbuatannya sehingga berakhlak tidak baik maka hal itu menunjukkan ketidak dekatannya dengan Allah Azza wa Jalla</p>
<p>Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: “<em>Barangsiapa yang bertambah ilmunya tapi tidak bertambah hidayahnya, maka dia tidak bertambah dekat kepada Allah melainkan bertambah jauh</em>“</p>
<p>Jika belum dekat dengan Allah atau belum dapat menyaksikan Allah dengan hati atau belum mencapai ma’rifat maka setiap kita akan bersikap atau melakukan perbuatan, ingatlah selalu perkataan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bahwa “<em>Jika kamu tidak melihat-Nya maka sesungguhnya Dia melihatmu</em>.’ (HR Muslim 11)</p>
<p>Sungguh luas ilmuNya, semakin kita mendalami ilmuNya semakin tersungkur sujud kepadaNya</p>
<p>Wassalam</p>
<p>Zon di Jonggol, Kab Bogor 16830</p>
<br />Filed under: <a href='http://mutiarazuhud.wordpress.com/category/islam/'>Islam</a>, <a href='http://mutiarazuhud.wordpress.com/category/umum/'>Umum</a>  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/mutiarazuhud.wordpress.com/4641/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/mutiarazuhud.wordpress.com/4641/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/mutiarazuhud.wordpress.com/4641/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/mutiarazuhud.wordpress.com/4641/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/mutiarazuhud.wordpress.com/4641/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/mutiarazuhud.wordpress.com/4641/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/mutiarazuhud.wordpress.com/4641/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/mutiarazuhud.wordpress.com/4641/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/mutiarazuhud.wordpress.com/4641/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/mutiarazuhud.wordpress.com/4641/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/mutiarazuhud.wordpress.com/4641/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/mutiarazuhud.wordpress.com/4641/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/mutiarazuhud.wordpress.com/4641/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/mutiarazuhud.wordpress.com/4641/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=mutiarazuhud.wordpress.com&amp;blog=7078984&amp;post=4641&amp;subd=mutiarazuhud&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://mutiarazuhud.wordpress.com/2012/01/23/bahaya-tanpa-sanad/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/da9e7464e9e3c4447f52e554f6476dfa?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">mutiarazuhud</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Jalan bermakrifat</title>
		<link>http://mutiarazuhud.wordpress.com/2012/01/23/jalan-bermakrifat/</link>
		<comments>http://mutiarazuhud.wordpress.com/2012/01/23/jalan-bermakrifat/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 22 Jan 2012 22:31:30 +0000</pubDate>
		<dc:creator>mutiarazuhud</dc:creator>
				<category><![CDATA[Islam]]></category>
		<category><![CDATA[Umum]]></category>
		<category><![CDATA[akhiruddin]]></category>
		<category><![CDATA[Akhlak]]></category>
		<category><![CDATA[Allah]]></category>
		<category><![CDATA[allah taala]]></category>
		<category><![CDATA[awaluddim]]></category>
		<category><![CDATA[Baik]]></category>
		<category><![CDATA[berma'rifat]]></category>
		<category><![CDATA[Dengan]]></category>
		<category><![CDATA[diawasi]]></category>
		<category><![CDATA[fitrah manusia]]></category>
		<category><![CDATA[hati]]></category>
		<category><![CDATA[Ihsan]]></category>
		<category><![CDATA[makrifatullah]]></category>
		<category><![CDATA[Marifatullah]]></category>
		<category><![CDATA[Melihat]]></category>
		<category><![CDATA[mengenal]]></category>
		<category><![CDATA[mengenal allah]]></category>
		<category><![CDATA[menyaksikan]]></category>
		<category><![CDATA[Muslim]]></category>
		<category><![CDATA[panutan]]></category>
		<category><![CDATA[rasulullah]]></category>
		<category><![CDATA[Sholeh]]></category>
		<category><![CDATA[suri]]></category>
		<category><![CDATA[Takut]]></category>
		<category><![CDATA[tauladan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://mutiarazuhud.wordpress.com/?p=4639</guid>
		<description><![CDATA[Awaluddin makrifatullah,  akhiruddin makrifatullah Awal beragama adalah mengenal Allah Azza wa Jalla (makrifatullah) , akhir beragama atau tujuan beragama adalah muslim yang berakhlakul karimah atau muslim yang Ihsan atau muslim yang meyaksikan Allah (bermakrifat) Sedangkan anak kunci mengenal Allah Azza wa Jalla adalah mengenal diri sendiri Man ‘arafa nafsahu faqad ‘arafa rabbahu,  siapa yang kenal [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=mutiarazuhud.wordpress.com&amp;blog=7078984&amp;post=4639&amp;subd=mutiarazuhud&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Awaluddin makrifatullah,  akhiruddin makrifatullah</strong></p>
<p>Awal beragama adalah mengenal Allah Azza wa Jalla (makrifatullah) , akhir beragama atau tujuan beragama adalah muslim yang berakhlakul karimah atau muslim yang Ihsan atau muslim yang meyaksikan Allah (bermakrifat)</p>
<p>Sedangkan anak kunci mengenal Allah Azza wa Jalla adalah mengenal diri sendiri</p>
<p>Man ‘arafa nafsahu faqad ‘arafa rabbahu,  siapa yang kenal dirinya akan Mengenal Allah</p>
<p>Firman Allah Taala yang artinya “<em>Kami akan memperlihatkan kepada mereka tanda-tanda (kekuasaan) Kami di segenap ufuk dan pada diri mereka sendiri, sehingga jelaslah bagi mereka bahwa Al Qur’an itu adalah benar. Dan apakah Tuhanmu tidak cukup (bagi kamu) bahwa sesungguhnya Dia menyaksikan segala sesuatu?</em>“ (QS. Fush Shilat [41]:53 )</p>
<p>Pengenalan diri bahwa pada hakikatnya semua manusia telah menyaksikan Allah ketika mereka belum lahir ke alam dunia, pada keadaan fitri , sebelum panca inderanya berfungsi.</p>
<p>Firman Allah ta’ala yang artinya, “<em>Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): “Bukankah Aku ini Tuhanmu?” Mereka menjawab: “Betul (Engkau Tuhan kami), kami menjadi saks</em>i”. (QS- Al A’raf 7:172)</p>
<p>Setelah manusia terlahir ke alam dunia , maka mereka lupa akan kesaksian atau penyaksian terhadap Allah.</p>
<p>Hakikat kata insan (manusia) adalah nasiya , nis yan, tidak tahu, lupa.</p>
<p>Fitrah manusia adalah bertuhan, mencari Allah, ingin kembali menyaksikan Allah. Syarat untuk dapat menyaksikan Allah adalah fitri, suci sebagaimana sebelum manusia lahir ke dunia</p>
<p>Manusia terhalang  atau menghijabi dirinya sehingga tidak dapat  menyaksikan Allah dengan hatinya adalah karena dosa mereka. Setiap dosa merupakan bintik hitam hati (ketiadaan cahaya), sedangkan setiap kebaikan adalah bintik cahaya pada hati.  Ketika bintik hitam memenuhi hati sehingga terhalang (terhijab) dari menyaksikan Allah.  Inilah yang dinamakan buta mata hati.</p>
<p>Sebagaimana firman Allah ta’ala  yang artinya, “<em>Dan barangsiapa yang buta (hatinya) di dunia ini, niscaya di akhirat (nanti) ia akan lebih buta (pula) dan lebih tersesat dari jalan (yang benar)</em>.” (QS Al Isra 17 : 72)</p>
<p>“<em>maka apakah mereka tidak berjalan di muka bumi, lalu mereka mempunyai hati yang dengan itu mereka dapat memahami atau mempunyai telinga yang dengan itu mereka dapat mendengar? Karena sesungguhnya bukanlah mata itu yang buta, tetapi yang buta, ialah hati yang di dalam dada.</em>” (al Hajj 22 : 46)</p>
<p>Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda, <em>“Seandainya bukan karena setan menyelimuti jiwa anak cucu Adam, niscaya mereka menyaksikan malaikat di langit</em>” (HR Ahmad).</p>
<p>Allah Azza wa Jalla menciptakan tauladan bagi manusia pada diri Muhammad shallallahu alaihi wasallam.</p>
<p>Firman Allah ta’ala yang artinya,<br />
“<em>Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri tauladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan Dia banyak menyebut Allah</em>”. (QS Al-Ahzab:21)</p>
<p>“<em>Sungguh dalam dirimu terdapat akhlak yang mulia</em>”. (QS Al-Qalam:4)</p>
<p>Beliau sejak kecil dikenal berakhlak baik, jujur, amanah , dapat dipercaya dan sifat-sidat baik lainnya ditengah-tengah masyarakat jahiliyah.</p>
<p>Fitrahnya untuk menyaksikan Allah menghantarkan Rasulullah untuk berkhalwat (mengasingkan diri dari keramaian) dan bertahanuts (perenungan/kontemplas dirii) di gua hira.</p>
<p>Dari mulai disanalah diturunkan syarat-syarat untuk menyaksikan Allah kembali yang dinamakan perkara syariat atau dikenal dengan agama dimulai dengan menyaksikan Allah secara lisan yang dikenal dengan syahadat</p>
<p>Anak manusia dikatakan berada pada “on track” untuk dapat kembali menyaksikan Allah adalah setelah mereka mengucapkan syahadat.</p>
<p>Syahadat adalah penyaksian Allah yang diucapkan dan kemudian dibuktikan dengan memenuhi perkara syariat atau syarat sebagai hamba Allah yakni menjalankan kewajibanNya (ditinggalkan berdosa) , menjauhi laranganNya (dikerjakan berdosa) dan menjauhi apa yang telah diharamkanNya (dikerjakan berdosa)</p>
<p>Muslim yang membuktikan syahadat dengan menjalankan perkara syariat disebut mukmin, orang beriman</p>
<p>Firman Allah ta’ala yang artinya<br />
“Katakanlah: “Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu.” Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS Ali Imron [3]:31 )</p>
<p>“<em>Katakanlah: “Ta’atilah Allah dan Rasul-Nya; jika kamu berpaling, maka sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang kafir</em>” (QS Ali Imron [3]:32 )</p>
<p>“<em>dan ta’atlah kepada Allah dan Rasul-Nya jika kamu adalah orang-orang yang beriman.</em>” (QS Al Anfaal [8]:1 )</p>
<p>Muslim yang menjalankan amal ketaatan atau muslim yang beriman (mukmin) dan menjalankan amal kebaikan atau mereka yang mengungkapkan cintanya kepada Allah Allah Azza wa Jalla dan RasulNya adalah disebut muhsin / muhsinin, muslim yang ihsan atau muslim yang baik atau sholihin.</p>
<p>Firman Allah ta’ala yang artinya, “<em>Inilah ayat-ayat Al Qura’an yang mengandung hikmah, menjadi petunjuk dan rahmat bagi muhsinin (orang-orang yang berbuat kebaikan), (yaitu) orang-orang yang mendirikan shalat, menunaikan zakat dan mereka yakin akan adanya negeri akhirat. Mereka itulah orang-orang yang tetap mendapat petunjuk dari Tuhannya dan mereka itulah orang-orang yang beruntung</em>” (QS Lukman [31]:2-5)</p>
<p>Ada dua kondisi yang dicapai oleh muslim yang ihsan atau muslim yang telah bermakrifat.</p>
<p>Kondisi minimal adalah mereka yang selalu yakin diawasi oleh Allah Azza wa Jalla.<br />
Kondiri terbaik adalah mereka yang dapat melihat Allah Azza wa Jalla dengan hati (ain bashiroh)</p>
<p>Apakah Ihsan ?</p>
<p>قَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ مَا الْإِحْسَانُ قَالَ أَنْ تَخْشَى اللَّهَ كَأَنَّكَ تَرَاهُ فَإِنَّكَ إِنْ لَا تَكُنْ تَرَاهُ فَإِنَّهُ يَرَاكَ</p>
<p>Lalu dia bertanya lagi, ‘Wahai Rasulullah, apakah ihsan itu? ‘ Beliau menjawab, ‘Kamu takut (takhsya / khasyyah) kepada Allah seakan-akan kamu melihat-Nya, maka jika kamu tidak melihat-Nya maka sesungguhnya Dia melihatmu.’ (HR Muslim 11)</p>
<p>Rasulullah bersabda “<em>Iman paling afdol ialah apabila kamu mengetahui bahwa Allah selalu menyertaimu dimanapun kamu berada</em>“. (HR. Ath Thobari)</p>
<p>Imam Sayyidina Ali r.a. pernah ditanya oleh seorang sahabatnya bernama Zi’lib Al-Yamani,<br />
“Apakah Anda pernah melihat Tuhan?”<br />
Beliau menjawab, “Bagaimana saya menyembah yang tidak pernah saya lihat?”<br />
“Bagaimana Anda melihat-Nya?” tanyanya kembali.<br />
Sayyidina Ali ra menjawab “Dia tak bisa dilihat oleh mata dengan pandangan manusia yang kasat, tetapi bisa dilihat oleh hati”</p>
<p>Sebuah riwayat dari Ja’far bin Muhammad beliau ditanya: “Apakah engkau melihat Tuhanmu ketika engkau menyembah-Nya?” Beliau menjawab: “Saya telah melihat Tuhan, baru saya sembah”. Bagaimana anda melihat-Nya? dia menjawab: “Tidak dilihat dengan mata yang memandang, tapi dilihat dengan hati yang penuh Iman.”</p>
<p>Muslim yang telah mencapai Ihsan atau muslim yang telah bermakrifat, minimal mereka yang selalu merasa diawasi oleh Allah Azza wa Jalla atau yang terbaik mereka yang dapat melihat Allah dengan hati maka mereka mencegah dirinya dari melakukan sesuatu yang dibenciNya , menghindari perbuatan maksiat, menghindari perbuatan keji dan mungkar hingga terbentuklah muslim yang berakhlakul karimah sesuai dengan tujuan beragama atau sesuai dengan tujuan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam diutus oleh Allah Azza wa Jalla</p>
<p>Rasulullah menyampaikan yang maknanya “<em>Sesungguhnya aku diutus (Allah) untuk menyempurnakan Akhlak</em>.” (HR Ahmad).</p>
<p>Seorang muslim yang dikatakan telah mentaati Allah dan RasulNya adalah minimal muslim yang berakhlakul karimah atau muslim yang sholeh dan mereka akan berkumpul dengan orang-orang disisiNya. Hanya 4 golongan manusia yang disisiNya yakni para Nabi (Rasulullah yang utama), para Shiddiqin, para Syuhada dan orang-orang sholeh</p>
<p>Firman Allah ta&#8217;ala yang artinya “<em>Dan barangsiapa yang menta’ati Allah dan Rasul(Nya), mereka itu akan bersama-sama dengan orang-orang yang dianugerahi ni’mat oleh Allah, yaitu : Nabi-nabi, para shiddiiqiin, orang-orang yang mati syahid, dan orang-orang saleh. Dan mereka itulah teman yang sebaik-baiknya .</em>” (QS An Nisaa [4]: 69 )</p>
<p>Maqom Shiddiqin atau kedekatan dengan Allah diuraikan dalam tulisan pada <a href="http://mutiarazuhud.wordpress.com/2011/09/09/2011/09/28/maqom-wali-allah/">http://mutiarazuhud.wordpress.com/2011/09/09/2011/09/28/maqom-wali-allah/</a></p>
<p>Semakin dekat kita kepada Allah sehingga menjadi kekasihNya (Wali Allah)</p>
<p>Telah menceritakan kepadaku <em>Muhammad bin &#8216;Utsman bin Karamah</em> telah menceritakan kepada kami <em>Khalid bin Makhlad</em> Telah menceritakan kepada kami <em>Sulaiman bin Bilal</em> telah menceritakan kepadaku <em>Syarik bin Abdullah bin Abi Namir</em> dari <em>&#8216;Atho`</em> dari <em>Abu Hurairah</em> menuturkan, Rasulullah shallallahu &#8216;alaihi wasallam bersabda: &#8220;Allah berfirman; Siapa yang memusuhi wali-KU, maka Aku umumkan perang kepadanya, dan hamba-Ku tidak bisa mendekatkan diri kepada-Ku dengan sesuatu yang lebih Aku cintai daripada yang telah Aku wajibkan, jika hamba-Ku terus menerus mendekatkan diri kepadaKu dengan amalan sunnah, maka Aku mencintai dia, jika Aku sudah mencintainya, maka Akulah pendengarannya yang ia jadikan untuk mendengar, dan pandangannya yang ia jadikan untuk memandang, dan tangannya yang ia jadikan untuk memukul, dan kakinya yang dijadikannya untuk berjalan, jikalau ia meminta-Ku, pasti Kuberi, dan jika meminta perlindungan kepada-KU, pasti Ku-lindungi. Dan aku tidak ragu untuk melakukan sesuatu yang Aku menjadi pelakunya sendiri sebagaimana keragu-raguan-Ku untuk mencabut nyawa seorang mukmin yang ia (khawatir) terhadap kematian itu, dan Aku sendiri khawatir ia merasakan kepedihan sakitnya.&#8221; (HR Bukhari 6021)</p>
<p>Wali Allah adalah,<br />
Mereka yang mencintai Allah dan Allah mencintai mereka<br />
Mereka yang saling mencintai karena Allah ta&#8217;ala<br />
Wajah-wajah mereka memancarkan cahaya dan mereka berdiri di atas mimbar-mimbar dari cahaya<br />
Mereka itu tidak takut seperti yang ditakuti manusia, dan tidak susah seperti yang disusahkan manusia<br />
Mereka adalah muslim yang terbaik bukan Nabi yang dirindukan para Nabi dan para Syuhada</p>
<p>Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda “<em>sesungguhnya ada di antara hamba Allah (manusia) yang mereka itu bukanlah para Nabi dan bukan pula para Syuhada’. Mereka dirindukan oleh para Nabi dan Syuhada’ pada hari kiamat karena kedudukan (pangkat) mereka di sisi Allah Swt seorang dari shahabatnya berkata, siapa gerangan mereka itu wahai Rasulullah? Semoga kita dapat mencintai mereka. Nabi Saw menjawab dengan sabdanya: Mereka adalah suatu kaum yang saling berkasih sayang dengan anugerah Allah bukan karena ada hubungan kekeluargaan dan bukan karena harta benda, wajah-wajah mereka memancarkan cahaya dan mereka berdiri di atas mimbar-mimbar dari cahaya. Tiada mereka merasa takut seperti manusia merasakannya dan tiada mereka berduka cita apabila para manusia berduka cita</em>”. (HR. an Nasai dan Ibnu Hibban dalam kitab shahihnya)</p>
<p>Hadits senada, dari ‘Umar bin Khathab ra bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda, “<em>Sesungguhnya diantara hamba-hambaku itu ada manusia manusia yang bukan termasuk golongan para Nabi, bukan pula syuhada tetapi pada hari kiamat Allah ‘Azza wa Jalla menempatkan maqam mereka itu adalah maqam para Nabi dan syuhada.”Seorang laki-laki bertanya : “siapa mereka itu dan apa amalan mereka?”mudah-mudahan kami menyukainya. Nabi bersabda: “yaitu Kaum yang saling menyayangi karena Allah ‘Azza wa Jalla walaupun mereka tidak bertalian darah, dan mereka itu saling menyayangi bukan karena hartanya, dan demi Allah sungguh wajah mereka itu bercahaya, dan sungguh tempat mereka itu dari cahaya, dan mereka itu tidak takut seperti yang ditakuti manusia, dan tidak susah seperti yang disusahkan manusia,” kemudian beliau membaca ayat : ” Ingatlah, sesungguhnya wali-wali Allah itu, tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati</em>. (QS Yunus [10]:62 )</p>
<p>Jika belum dapat menyaksikan Allah dengan hati atau belum mencapai ma’rifat maka setiap kita akan bersikap atau melakukan perbuatan, ingatlah selalu perkataan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bahwa  “<em>Jika kamu tidak melihat-Nya maka sesungguhnya Dia melihatmu</em>.’ (HR Muslim 11)</p>
<p>Wassalam</p>
<p>Zon di Jonggol, Kab Bogor 16830</p>
<br />Filed under: <a href='http://mutiarazuhud.wordpress.com/category/islam/'>Islam</a>, <a href='http://mutiarazuhud.wordpress.com/category/umum/'>Umum</a>  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/mutiarazuhud.wordpress.com/4639/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/mutiarazuhud.wordpress.com/4639/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/mutiarazuhud.wordpress.com/4639/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/mutiarazuhud.wordpress.com/4639/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/mutiarazuhud.wordpress.com/4639/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/mutiarazuhud.wordpress.com/4639/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/mutiarazuhud.wordpress.com/4639/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/mutiarazuhud.wordpress.com/4639/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/mutiarazuhud.wordpress.com/4639/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/mutiarazuhud.wordpress.com/4639/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/mutiarazuhud.wordpress.com/4639/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/mutiarazuhud.wordpress.com/4639/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/mutiarazuhud.wordpress.com/4639/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/mutiarazuhud.wordpress.com/4639/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=mutiarazuhud.wordpress.com&amp;blog=7078984&amp;post=4639&amp;subd=mutiarazuhud&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://mutiarazuhud.wordpress.com/2012/01/23/jalan-bermakrifat/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/da9e7464e9e3c4447f52e554f6476dfa?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">mutiarazuhud</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Ikuti yang sholeh</title>
		<link>http://mutiarazuhud.wordpress.com/2012/01/23/ikuti-yang-sholeh/</link>
		<comments>http://mutiarazuhud.wordpress.com/2012/01/23/ikuti-yang-sholeh/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 22 Jan 2012 22:09:02 +0000</pubDate>
		<dc:creator>mutiarazuhud</dc:creator>
				<category><![CDATA[Islam]]></category>
		<category><![CDATA[Umum]]></category>
		<category><![CDATA[Akhlak]]></category>
		<category><![CDATA[akhlak yang mulia]]></category>
		<category><![CDATA[Baik]]></category>
		<category><![CDATA[berjalan]]></category>
		<category><![CDATA[empat]]></category>
		<category><![CDATA[Ihsan]]></category>
		<category><![CDATA[ikut]]></category>
		<category><![CDATA[Imam]]></category>
		<category><![CDATA[karimah]]></category>
		<category><![CDATA[makrifat]]></category>
		<category><![CDATA[Manhaj]]></category>
		<category><![CDATA[Mazhab]]></category>
		<category><![CDATA[menjalankan]]></category>
		<category><![CDATA[menuju]]></category>
		<category><![CDATA[Muslim]]></category>
		<category><![CDATA[nasehat]]></category>
		<category><![CDATA[perkara]]></category>
		<category><![CDATA[salaf yang sholeh]]></category>
		<category><![CDATA[Sholeh]]></category>
		<category><![CDATA[Syariat]]></category>
		<category><![CDATA[Tasawuf]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://mutiarazuhud.wordpress.com/?p=4637</guid>
		<description><![CDATA[Kita ikuti yang sholeh Marilah berjalan di atas manhaj Salaf yang sholeh berdasarkan apa yang disampaikan oleh Imam Mazhab yang empat, pemimpim / imam ijtihad kaum muslim pada umumnya (Imam Mujtahid Mutlak) yang bertalaqqi (mengaji) langsung dengan Salaf yang sholeh sehingga mendapatkan pemahaman Salaf yang sholeh langsung dari lisannya mereka  serta melihat sendiri penerapan, perbuatan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=mutiarazuhud.wordpress.com&amp;blog=7078984&amp;post=4637&amp;subd=mutiarazuhud&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Kita ikuti yang sholeh</strong></p>
<p>Marilah berjalan di atas manhaj Salaf yang sholeh berdasarkan apa yang disampaikan oleh Imam Mazhab yang empat, pemimpim / imam ijtihad kaum muslim pada umumnya (Imam Mujtahid Mutlak) yang bertalaqqi (mengaji) langsung dengan Salaf yang sholeh sehingga mendapatkan pemahaman Salaf yang sholeh langsung dari lisannya mereka  serta melihat sendiri penerapan, perbuatan serta contoh nyata dari Salaf yang sholeh.</p>
<p>Ingat manhaj Salaf yang sholeh bukan manhaj salaf karena salaf (orang-orang terdahulu) ada yang sholeh dan ada pula yang tidak sholeh seperti kaum khawarij.  Contohnya  Abdurrahman ibn Muljam adalah seorang yang sangat rajin beribadah. Shalat dan shaum, baik yang wajib maupun sunnah, melebihi kebiasaan rata-rata orang di zaman itu.Namun terpangaruh oleh hasutan atau ghazwul fikri (perang pemahaman) orang-orang Khawarij  yang selalu berbicara mengatasnamakan Islam. Sampai akhirnya, dialah yang ditugasi menjadi eksekutor pembunuhan Imam Sayyidina Ali ra.</p>
<p>Istilah manhaj salaf maupun mazhab salaf tidak pernah disampaikan oleh Imam Mazhab yang empat. Kedua istilah tersebutnya tampaknya disampaikan oleh mereka yang mengaku-aku mengikuti Salaf yang sholeh namun tidak pernah bertalaqqi (mengaji) dengan Salaf yang sholeh.</p>
<p>Manhaj Salaf yang sholeh artinya jalan yang telah dilalui kaum muslim terdahulu sehingga mencapai muslim yang sholeh atau muslim yang ihsan</p>
<p>Nasehat Imam Sayyidina Ali ra kepada puteranya sebagaimana yang telah dimuat dalam tulisan pada <a href="http://mutiarazuhud.wordpress.com/2010/11/04/nasehat-sayyidina-ali-ra/">http://mutiarazuhud.wordpress.com/2010/11/04/nasehat-sayyidina-ali-ra/</a> berikut kutipannya</p>
<p>****** awal kutipan *****</p>
<p>“<em>Sejak awal aku bermaksud menolong mengembangkan akhlak yang mulia dan mempersiapkanmu menjalani kehidupan ini. Aku ingin mendidikmu menjadi seorang pemuda dengan akhlak karimah, berjiwa terbuka dan jujur serta memiliki pengetahuan yang jernih dan tepat tentang segala sesuatu di sekelilingmu.</em></p>
<p><em>Pada mulanya aku hanya ingin mengajarimu Kitab Suci, secara mendalam, mengerti seluk-beluk (tafsir dan takwil)nya, membekalimu dengan pengetahuan yang lengkap tentang perintah dan larangan-Nya (hukum-hukum dan syariat-Nya) serta halal dan haramnya. Kemudian aku khawatir engkau dibingungkan oleh hal-hal yang diperselisihkan di antara manusia, akibat perbedaaan pandangan di antara mereka dan diperburuk oleh cara berpikir yang kacau, cara hidup yang penuh dosa, egoisme dan kecenderungan hawa nafsu mereka, sebagaimana membingungkan mereka yang berselisih itu sendiri.</em></p>
<p><em>Oleh karena itu, kutuliskan, dalam nasihatku ini,prinsip-prinsip dasar dari keutamaan, kemuliaan, kesholehan, kebenaran dan keadilan. Mungkin berat terasa olehmu, tetapi lebih baik membekali engkau dengan pengetahuan ini daripada membiarkanmu tanpa pertahanan berhadapan dengan dunia yang penuh dengan bahaya kehancuran dan kebinasaan. Karena engkau adalah pemuda yang sholeh dan bertaqwa, aku yakin engkau akan mendapatkan bimbingan dan pertolongan Ilahi (taufik dan hidayah-Nya) dalam mencapai tujuanmu. Aku ingin engkau berjanji pada dirimu untuk bersungguh-sungguh mengikuti nasihatku ini.</em></p>
<p><em>Ketahuilah wahai putraku, bahwa sebaik-baiknya wasiat adalah taqwa kepada Allah, bersunguh-sungguh menjalankan tugas yang diwajibkan-Nya atasmu, dan mengikuti jejak langkah Rasullullah dan orang-orang yang sholeh dari keluargamu”.</em></p>
<p>***** akhir kutipan *****</p>
<p>Jadi kalau tidak sholeh artinya telah gagal mengikuti Salaf yang sholeh telah gagal mengikuti Rasulullah shallallahu alaihi wasallam suri tauladan bagi seluruh manusia</p>
<p>Firman Allah ta’ala yang artinya,<br />
“<em>Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri tauladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan Dia banyak menyebut Allah</em>”. (QS Al-Ahzab:21)</p>
<p>“<em>Sungguh dalam dirimu terdapat akhlak yang mulia</em>”. (QS Al-Qalam:4)</p>
<p>Lantas aku (Sa&#8217;d bin Hisyam bin Amir) bertanya; &#8220;<em>Wahai Ummul mukminin, beritahukanlah kepadaku tentang akhlak Rasulullah shallallahu &#8216;alaihi wasallam.</em>&#8216;  &#8216;Aisyah menjawab; <em>Bukankah engkau telah membaca Al Qur’an?</em>  Aku menjawab; <em>Benar</em>, Aisyah berkata; <em>Akhlak Nabi shallallahu &#8216;alaihi wasallam adalah Al Quran</em> (HR Muslim 1233)</p>
<p>Dan telah menceritakan kepada kami Syaiban bin Farukh dan Abu Rabi&#8217; keduanya berkata; Telah menceritakan kepada kami Abdul Warits dari Abu At Tayyah dari Anas bin Malik dia berkata; Rasulullah shallallahu &#8216;alaihi wasallam adalah <em>&#8220;orang yang paling baik akhlaknya</em>&#8221; (HR Muslim 4273)</p>
<p>Rasulullah bersabda   &#8220;<em>Sesungguhnya orang yang terbaik di antara kalian ialah yang paling bagus akhlaknya.</em>&#8221; (HR Bukhari  5569)</p>
<p>Imam Mazhab yang empat telah menasehatkan bahwa untuk mencapai muslim yang sholeh atau muslim yang berakhlakul karimah atau muslim yang ihsan adalah menjalankan perkara syariat sebagaimana yang mereka uraikan dalam kitab fiqih dan sekaligus menjalankan tasawuf</p>
<p>Imam Syafi’i ~rahimahullah menyampaikan nasehat (yang artinya) ,”Berusahalah engkau menjadi seorang yang mempelajari ilmu fiqih dan juga menjalani tasawuf, dan janganlah kau hanya mengambil salah satunya. Sesungguhnya demi Allah saya benar-benar ingin memberikan nasehat padamu. Orang yang hanya mempelajari ilmu fiqih tapi tidak mau menjalani tasawuf, maka hatinya tidak dapat merasakan kelezatan takwa. Sedangkan orang yang hanya menjalani tasawuf tapi tidak mau mempelajari ilmu fiqih, maka bagaimana bisa dia menjadi baik (ihsan)?” [Diwan Al-Imam Asy-Syafi'i, hal. 47]</p>
<p>Begitupula dengan  nasehat Imam Malik ~rahimahullah bahwa menjalankan tasawuf agar manusia tidak rusak dan menjadi manusia berakhlak baik</p>
<p>Imam Malik ~rahimahullah menyampaikan nasehat (yang artinya) “Dia yang sedang tasawuf tanpa mempelajari fiqih (perkara syariat) rusak keimanannya , sementara dia yang belajar fikih tanpa mengamalkan Tasawuf rusaklah dia, hanya dia siapa memadukan keduanya terjamin benar” .</p>
<p>Muslim yang Sholeh atau Muslim yang berakhlakul karimah atau muslim yang Ihsan adalah tujuan Rasulullah diutus oleh Allah Azza wa Jalla</p>
<p>Rasulullah menyampaikan yang maknanya “Sesungguhnya aku diutus (Allah) untuk menyempurnakan Akhlak.” (HR Ahmad)</p>
<p>Seorang muslim dikatakan telah mengikuti atau mentaati Allah dan RasulNya sehingga mendapatkan maqom disisiNya atau dekat dengan Allah Azza wa Jalla adalah 4 golongan manusia yakni para Nabi (Rasulullah yang utama), para Shiddiqin, para Syuhada dan muslim yang sholeh</p>
<p>Firman Allah ta&#8217;ala yang artinya “<em>Dan barangsiapa yang menta’ati Allah dan Rasul(Nya), mereka itu akan bersama-sama dengan orang-orang yang dianugerahi ni’mat oleh Allah, yaitu : Nabi-nabi, para shiddiiqiin, orang-orang yang mati syahid, dan orang-orang saleh. Dan mereka itulah teman yang sebaik-baiknya </em>.” (QS An Nisaa [4]: 69 )</p>
<p>Semakin dekat kita kepada Allah sehingga menjadi kekasihNya (Wali Allah)</p>
<p>Maqom Shiddiqin atau kedekatan dengan Allah diuraikan dalam tulisan pada <a href="http://mutiarazuhud.wordpress.com/2011/09/09/2011/09/28/maqom-wali-allah/">http://mutiarazuhud.wordpress.com/2011/09/09/2011/09/28/maqom-wali-allah/</a></p>
<p>Semakin berilmu kita maka kita semakin takut kepada Allah Azza wa Jalla</p>
<p>Rasulullah bersabda ‘<em>Kamu takut (takhsya / khasyyah) kepada Allah seakan-akan kamu melihat-Nya (berma’rifat), maka jika kamu tidak melihat-Nya maka sesungguhnya Dia melihatmu.</em>’ (HR Muslim 11)</p>
<p>Firman Allah ta’ala yang artinya “<em>Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah ulama, sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Pengampu</em>” (QS Al Faathir [35]:28)</p>
<p>Sungguh luas ilmuNya, semakin kita mendalami ilmuNya semakin tersungkur sujud kepadaNya</p>
<p>Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: “<em>Barangsiapa yang bertambah ilmunya tapi tidak bertambah hidayahnya, maka dia tidak bertambah dekat kepada Allah melainkan bertambah jauh</em></p>
<p>Sekali lagi kami sampaikan bahwa tanda-tanda musilim yang dekat dengan Allah adalah muslim yang sholeh atau muslim yang telah mencapai Ihsan atau muslim yang telah bermakrifat, minimal mereka yang selalu merasa diawasi oleh Allah Azza wa Jalla atau yang terbaik mereka yang dapat melihat Allah dengan hati maka mereka mencegah dirinya dari melakukan sesuatu yang dibenciNya , menghindari perbuatan maksiat, menghindari perbuatan keji dan mungkar hingga terbentuklah muslim yang berakhlakul karimah sesuai dengan tujuan beragama atau sesuai dengan tujuan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam diutus oleh Allah Azza wa Jalla.</p>
<p>Jika belum dapat menyaksikan Allah dengan hati atau belum mencapai ma’rifat maka setiap kita akan bersikap atau melakukan perbuatan, ingatlah selalu perkataan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bahwa  “<em>Jika kamu tidak melihat-Nya maka sesungguhnya Dia melihatmu</em>.’ (HR Muslim 11)</p>
<p>Wassalam</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Zon di Jonggol , Kab Bogor 16830</p>
<br />Filed under: <a href='http://mutiarazuhud.wordpress.com/category/islam/'>Islam</a>, <a href='http://mutiarazuhud.wordpress.com/category/umum/'>Umum</a>  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/mutiarazuhud.wordpress.com/4637/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/mutiarazuhud.wordpress.com/4637/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/mutiarazuhud.wordpress.com/4637/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/mutiarazuhud.wordpress.com/4637/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/mutiarazuhud.wordpress.com/4637/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/mutiarazuhud.wordpress.com/4637/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/mutiarazuhud.wordpress.com/4637/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/mutiarazuhud.wordpress.com/4637/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/mutiarazuhud.wordpress.com/4637/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/mutiarazuhud.wordpress.com/4637/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/mutiarazuhud.wordpress.com/4637/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/mutiarazuhud.wordpress.com/4637/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/mutiarazuhud.wordpress.com/4637/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/mutiarazuhud.wordpress.com/4637/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=mutiarazuhud.wordpress.com&amp;blog=7078984&amp;post=4637&amp;subd=mutiarazuhud&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://mutiarazuhud.wordpress.com/2012/01/23/ikuti-yang-sholeh/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/da9e7464e9e3c4447f52e554f6476dfa?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">mutiarazuhud</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Ingin belajar hadits</title>
		<link>http://mutiarazuhud.wordpress.com/2012/01/21/ingin-belajar-hadits/</link>
		<comments>http://mutiarazuhud.wordpress.com/2012/01/21/ingin-belajar-hadits/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 21 Jan 2012 08:22:54 +0000</pubDate>
		<dc:creator>mutiarazuhud</dc:creator>
				<category><![CDATA[Islam]]></category>
		<category><![CDATA[Umum]]></category>
		<category><![CDATA[belajar]]></category>
		<category><![CDATA[benar]]></category>
		<category><![CDATA[beribadah]]></category>
		<category><![CDATA[Cara]]></category>
		<category><![CDATA[cukup]]></category>
		<category><![CDATA[dicontohkan]]></category>
		<category><![CDATA[dilakukan]]></category>
		<category><![CDATA[disampaikan]]></category>
		<category><![CDATA[Hadits]]></category>
		<category><![CDATA[Hukum]]></category>
		<category><![CDATA[ijtihad]]></category>
		<category><![CDATA[Ilmu]]></category>
		<category><![CDATA[Imam]]></category>
		<category><![CDATA[ingin]]></category>
		<category><![CDATA[istinbat]]></category>
		<category><![CDATA[Mazhab]]></category>
		<category><![CDATA[menetapkam]]></category>
		<category><![CDATA[mengaji]]></category>
		<category><![CDATA[Mujtahid]]></category>
		<category><![CDATA[pemahaman]]></category>
		<category><![CDATA[perkara]]></category>
		<category><![CDATA[Salaf]]></category>
		<category><![CDATA[Salafush]]></category>
		<category><![CDATA[sesuai]]></category>
		<category><![CDATA[Sholeh]]></category>
		<category><![CDATA[talaqqi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://mutiarazuhud.wordpress.com/?p=4634</guid>
		<description><![CDATA[Ingin belajar ilmu hadits &#160; Tanya:  “Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh&#8230;..Pak  Zon saya ingin mempelajari ilmu hadits, mohon sarannya dimana saya harus memulainya ? mungkin ada situs yang menyajikan ilmu hadits secara ringkas untuk pemula &#8230;..Wassalam” Jawab:  “Walaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh,  boleh kami tahu maksud tujuan mempelajari ilmu hadits” ? Tanya:  “Cara pikir saya sederhana saja pak, kita [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=mutiarazuhud.wordpress.com&amp;blog=7078984&amp;post=4634&amp;subd=mutiarazuhud&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Ingin belajar ilmu hadits</strong></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Tanya:  “<em>Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh&#8230;..Pak  Zon saya ingin mempelajari ilmu hadits, mohon sarannya dimana saya harus memulainya ? mungkin ada situs yang menyajikan ilmu hadits secara ringkas untuk pemula &#8230;..Wassalam</em>”</p>
<p>Jawab:  “<em>Walaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh,  boleh kami tahu maksud tujuan mempelajari ilmu hadits</em>” ?</p>
<p>Tanya:  “<em>Cara pikir saya sederhana saja pak, kita wajib mengenal Rasulullah sebagai orang Islam, tentu cara mengenal Beliau satu satunya cara adalah mengenal sunnah beliau&#8230;&#8230;kalau hanya membaca hadits yang didalil kan oleh seseorang kepada kita kadangkala timbul keraguan dihati&#8230;&#8230;sebab ada beberapa hadits yang shoheh tetapi kok isinya berbeda, dari situ saya berkeyakinan pasti keduanya tidak salah hanya saja kita belum mengilmuinya&#8230;.</em>”</p>
<p>Tanya:  “<em>Salah satu contoh tentang membaca bismilah di awal al Fatihah&#8230;&#8230;Dan lagi Al Quran tidak bisa dibuka tabirnya tanpa diteladani oleh Rasulullah&#8230;</em>”</p>
<p>Jawab:  “<em>Maaf, untuk mempelajari ilmu hadits umumnya tidak dapat dalam waktu seringkas-ringkasnya.  Kalau tujuan mempelajari ilmu hadits untuk mengetahui tata cara Ibadah sebagaimana yang disampaikan dan dilakukan oleh Rasulullah cara mudahnya berpegang saja pada Imam Mazhab yang empat</em>”</p>
<p>Tanya: <em>“o begitu ya&#8230;..tapi bisa ngak saya hanya sebatas pengenalan tentang ilmu hadis saja&#8230;.</em>”</p>
<p>Jawab: “<em>Imam Mazhab yang empat, pemimpin atau imam ijtihad kaum muslim pada umumnya (Imam Mujtahid Mutlak) yang bertalaqqi (mengaji) langsung dengan Salafush Sholeh</em>.”</p>
<p>Jawab: “<em>Imam Mazhab yang empat mengetahui dan mengikuti pemahaman Salafush Sholeh melalui lisannya Salafush Sholeh.</em>”</p>
<p>Jawab: “<em>Para Imam Mazhab yang empat melihat sendiri penerapan, perbuatan serta contoh nyata dari Salafush Sholeh</em>”</p>
<p>Tanya:  “<em>saya tidak punya target untuk mendalami ilmu hadis, tetapi sebatas pengenalan saja</em>”</p>
<p>Jawab:  “<em>Padahal untuk mengetahui tata cara ibadah sebagaimana yang dilakukan oleh Rasulullah melalui pemahaman hadits  tidak cukup dengan ilmu hadits. Bahkan Imam Bukhari dan Imam Muslim merekapun bermazhab, bertalaqqi (mengaji) dengan ulama yang mengikuti Imam Mazhab</em>”</p>
<p>Tanya:  “<em>selain ilmu hadits apa itu pak</em>”</p>
<p>Jawab:  “<em>ilmu hadits untuk menganalisa sanad dan matan hadits</em>”.</p>
<p>Jawab:   <em>“untuk mengetahui tata cara ibadah melalui hadits selain upaya pemahaman perlu lagi kompetensi beristinbat, menetapkan hukum perkara</em>”</p>
<p>Jawab:  “<em>untuk dapat beristinbat, menetapkan hukum perkara, harus mengetahui hadits dalam jumlah yang banyak berikut riwayat turunnya, tidak cukup dengan hadits yang telah dibukukan saja, harus tahu seluruh alat bahasa seperti nahwu, shorof, balaghoh, dll</em>”</p>
<p>Tanya: “<em>wah kalau untuk ikut menganalisa tentu kita tidak mampu lagi sebab sudah jauh sekali masanya</em>”</p>
<p>Jawab: “<em>yup,  oleh karenanya, untuk kita yang hidup pada zaman sekarang untuk mengetahui tata cara ibadah sebagaimana Rasulullah shallallahu alaihi wasallam lakukan cukupkan pada Imam Mazhab saja</em>”</p>
<p>Tanya : “<em>kalau begitu tentang sejarah ilmu hadits tentu masih bisa ditelusuri&#8230;kenapa 4 mahzab yang dipedomani ?” maksud saya selain mereka menyaksikan langsung ibadah Rasulullah dan Sahabat</em>”</p>
<p>Jawab: “<em>Kami sudah mengkaji dan menganalisa selama ini , hasutan untuk mengulang kembali pekerjaan Imam Mazhab yang empat berasal dari kaum Zionis Yahudi</em>”</p>
<p>Tanya:  “<em>begitu ya&#8230;..mungkinkah maksud mereka untuk membuat keributan tentang aturan agama Islam</em> ?”</p>
<p>Jawab: “yup,  halus sekali cara kerja kaum Zionis Yahudi, akibatnya segelintir kaum muslim tata cara sholatnya mengikuti akal pikiran ulama yang terkena hasutan untuk mengulang kembali apa yang telah dilakukan oleh Imam Mazhab yang empat , namun mereka tidak dikenal berkompetensi untuk berijtihad dan beristinbat”</p>
<p>Jawab:  “<em>apa pendapat ulama lainnya tentang ulama yang terkena hasutan tersebut ? . Silahkan baca tulisan pada <a href="http://mutiarazuhud.wordpress.com/2011/09/07/pendapat-ulama/">http://mutiarazuhud.wordpress.com/2011/09/07/pendapat-ulama/</a></em>”</p>
<p>Jawab: “<em>salah satunya dari seorang ulama keturunan cucu Rasulullah yang mendapatkan pengajaran tentang sholat langsung dari orang tua – orang tua mereka terdahulu yang tersambung kepada Sayyidina Ali ra yang mendapatkan pengajaran langsung dari Rasulullah shallallahu alaihi wasallam </em>“</p>
<p>Jawab: “<em>beliau mengatakan dalam tulisannya pada <a href="http://majelisrasulullah.org/index.php?option=com_simpleboard&amp;Itemid=34&amp;func=view&amp;id=22475&amp;catid=9">http://majelisrasulullah.org/index.php?option=com_simpleboard&amp;Itemid=34&amp;func=view&amp;id=22475&amp;catid=9</a> bahwa beliau sebenarnya tak suka bicara mengenai ini (menyampaikannya), namun beliau memilih mengungkapnya ketimbang hancurnya ummat</em>”</p>
<p>Tanya: “<em>Terima kasih pak, saya sudah paham sekarang&#8230;&#8230;.</em>”</p>
<p>Tanya : “<em>Saya paham sekarang makna firman Allah ta’ala yang artinya  “Dan orang-orang yang kafir berkata: &#8220;Janganlah kamu mendengar dengan sungguh-sungguh akan Al Quran ini dan buatlah hiruk-pikuk terhadapnya, supaya kamu dapat mengalahkan mereka (QS Fushshilat  [41]: 26 )</em>”.</p>
<p>Jawab: “<em>Alhamdulillah, kalau sudah paham</em>”</p>
<p>Tanya: “<em>saya pamit mungkin bapak mau istirahat wasalam</em>”</p>
<p>Jawab: “<em>Walaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh</em>”</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Wassalam</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Zon di Jonggol, Kab Bogor 16830</p>
<br />Filed under: <a href='http://mutiarazuhud.wordpress.com/category/islam/'>Islam</a>, <a href='http://mutiarazuhud.wordpress.com/category/umum/'>Umum</a>  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/mutiarazuhud.wordpress.com/4634/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/mutiarazuhud.wordpress.com/4634/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/mutiarazuhud.wordpress.com/4634/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/mutiarazuhud.wordpress.com/4634/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/mutiarazuhud.wordpress.com/4634/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/mutiarazuhud.wordpress.com/4634/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/mutiarazuhud.wordpress.com/4634/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/mutiarazuhud.wordpress.com/4634/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/mutiarazuhud.wordpress.com/4634/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/mutiarazuhud.wordpress.com/4634/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/mutiarazuhud.wordpress.com/4634/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/mutiarazuhud.wordpress.com/4634/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/mutiarazuhud.wordpress.com/4634/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/mutiarazuhud.wordpress.com/4634/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=mutiarazuhud.wordpress.com&amp;blog=7078984&amp;post=4634&amp;subd=mutiarazuhud&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://mutiarazuhud.wordpress.com/2012/01/21/ingin-belajar-hadits/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/da9e7464e9e3c4447f52e554f6476dfa?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">mutiarazuhud</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Perantaraan yang dimuliakanNya</title>
		<link>http://mutiarazuhud.wordpress.com/2012/01/21/perantaraan-yang-dimuliakannya/</link>
		<comments>http://mutiarazuhud.wordpress.com/2012/01/21/perantaraan-yang-dimuliakannya/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 21 Jan 2012 08:14:46 +0000</pubDate>
		<dc:creator>mutiarazuhud</dc:creator>
				<category><![CDATA[Islam]]></category>
		<category><![CDATA[Umum]]></category>
		<category><![CDATA[adab]]></category>
		<category><![CDATA[Akhlak]]></category>
		<category><![CDATA[bacaan]]></category>
		<category><![CDATA[Berdoa]]></category>
		<category><![CDATA[dikabulkan]]></category>
		<category><![CDATA[dimuliakanNya]]></category>
		<category><![CDATA[doa]]></category>
		<category><![CDATA[Hidup]]></category>
		<category><![CDATA[Kekasih]]></category>
		<category><![CDATA[Mati]]></category>
		<category><![CDATA[Muslim]]></category>
		<category><![CDATA[Perantaraan]]></category>
		<category><![CDATA[Sholeh]]></category>
		<category><![CDATA[sisiNya]]></category>
		<category><![CDATA[Tawassul]]></category>
		<category><![CDATA[tempat]]></category>
		<category><![CDATA[wafat]]></category>
		<category><![CDATA[waktu]]></category>
		<category><![CDATA[Wali]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://mutiarazuhud.wordpress.com/?p=4631</guid>
		<description><![CDATA[Berdoa dengan perantaraan yang dimuliakanNya &#160; Firman Allah ta’ala, alaa lillaahi alddiinu alkhaalishu waalladziina ittakhadzuu min duunihi awliyaa-a maa na&#8217;buduhum illaa liyuqarribuunaa ilaa allaahi zulfaa inna allaaha yahkumu baynahum fii maa hum fiihi yakhtalifuuna inna allaaha laa yahdii man huwa kaadzibun kaffaarun “Ingatlah, hanya kepunyaan Allah-lah agama yang bersih (dari syirik). Dan orang-orang yang mengambil [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=mutiarazuhud.wordpress.com&amp;blog=7078984&amp;post=4631&amp;subd=mutiarazuhud&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Berdoa dengan perantaraan yang dimuliakanNya</strong></p>
<p>&nbsp;<br />
Firman Allah ta’ala,</p>
<p>alaa lillaahi alddiinu alkhaalishu waalladziina ittakhadzuu min duunihi awliyaa-a maa na&#8217;buduhum illaa liyuqarribuunaa ilaa allaahi zulfaa inna allaaha yahkumu baynahum fii maa hum fiihi yakhtalifuuna inna allaaha laa yahdii man huwa kaadzibun kaffaarun</p>
<p>“<em>Ingatlah, hanya kepunyaan Allah-lah agama yang bersih (dari syirik). Dan orang-orang yang mengambil pelindung selain Allah (berkata): &#8220;Kami tidak menyembah mereka melainkan supaya mereka mendekatkan kami kepada Allah dengan sedekat-dekatnya&#8221;. Sesungguhnya Allah akan memutuskan di antara mereka tentang apa yang mereka berselisih padanya. Sesungguhnya Allah tidak menunjuki orang-orang yang pendusta dan sangat ingka</em>r” (QS Az Zumar [39]: 3 )</p>
<p>Sebagian orang menyalahgunakan firman Allah ta’ala ini untuk mensesatkan atau bahkan mengkafirkan kaum muslim yang berdoa dengan bertawassul dengan orang sholeh yang sudah wafat.</p>
<p>Padahal  “maa na&#8217;buduhum illaa liyuqarribuunaa ilaa allaahi” (QS Az Zumar [39]:3]) menjelaskan bahwa mereka menyembah selain Allah untuk mendekatkan diri kepada Allah. Juga ditegaskan dalam ayat tersebut  bahwa mereka adalah orang-orang pendusta dengan kata lain apa yang mereka katakan &#8220;<em>mendekatkan diri kepada Allah</em>&#8221; adalah dusta belaka</p>
<p>Sedang orang yang bertawassul dengan orang sholeh yang sudah wafat sama sekali tidak menyembahnya. Tetapi ia mengetahui bahwa orang sholeh itu memiliki kemuliaan di sisi Allah lalu ia bertawassul dengannya karena dimuliakanNya.</p>
<p>Berdoa dengan bertawassul adalah perintahNya</p>
<p>Firman Allah ta&#8217;ala yang artinya “<em>Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan carilah jalan (washilah) yang mendekatkan diri kepada-Nya, dan berjihadlah pada jalan-Nya, supaya kamu mendapat keberuntungan</em>” (QS Al Maa’idah [5]: 35 )”</p>
<p>Bertawassul adalah adab berdoa,  berperantara pada kemuliaan seseorang,  kemuliaan tempat, kemuliaan  benda , kemuliaan waktu, kemulian doa atau dzikrullah  dihadapan Allah Azza wa Jalla</p>
<p>Boleh berperantara pada kemuliaan seseorang baik yang masih hidup maupun yang sudah wafat karena kemuliaan seseorang di hadapan Allah tak akan sirna walaupun mereka sudah wafat. Terlebih lagi  mereka yang meraih kemuliaan disisiNya tetap hidup sebagaimana para Syuhada</p>
<p>Firman Allah ta’ala yang artinya<br />
”<em>Dan janganlah kamu mengatakan terhadap orang-orang yang gugur di jalan Allah (syuhada), (bahwa mereka itu ) mati; bahkan (sebenarnya) mereka itu hidup, tetapi kamu tidak menyadarinya.</em>” (QS Al Baqarah [2]: 154 )</p>
<p>”<em>Janganlah kamu mengira bahwa orang-orang yang gugur di jalan Allah (syuhada) itu mati; bahkan mereka itu hidup disisi Tuhannya dengan mendapat rezki.</em>” (QS Ali Imran [3]: 169)</p>
<p>Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda,</p>
<p>حياتي خير لكم ومماتي خير لكم تحدثون ويحدث لكم , تعرض أعمالكم عليّ فإن وجدت خيرا حمدت الله و إن وجدت شرا استغفرت الله لكم.</p>
<p>“<em>Hidupku lebih baik buat kalian dan matiku lebih baik buat kalian. Kalian bercakap-cakap dan mendengarkan percakapan. Amal perbuatan kalian disampaikan kepadaku. Jika aku menemukan kebaikan maka aku memuji Allah. Namun jika menemukan keburukan aku memohonkan ampunan kepada Allah buat kalian.</em>” (Hadits ini diriwayatkan oelh Al Hafidh Isma’il al Qaadli pada Juz’u al Shalaati ‘ala al Nabiyi Shallalahu alaihi wasallam. Al Haitsami menyebutkannya dalam Majma’u al Zawaaid dan mengkategorikannya sebagai hadits shahih dengan komentarnya : hadits diriwayatkan oleh Al Bazzaar dan para perawinya sesuai dengan kriteria hadits shahih)</p>
<p>Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda:</p>
<p>إن أعمالكم تعرض على أقاربكم وعشائركم من الأموات فإن كان خيرا استبشروا، وإن كان غير ذلك قالوا: اللهم لا تمتهم حتى تهديهم كما هديتنا)</p>
<p>“<em>Sesungguhnya perbuatan kalian diperlihatkan kepada karib-kerabat dan keluarga kalian yang telah meninggal dunia. Jika perbuatan kalian baik, maka mereka mendapatkan kabar gembira, namun jika selain daripada itu, maka mereka berkata: “Ya Allah, janganlah engkau matikan mereka sampai Engkau memberikan hidayah kepada mereka seperti engkau memberikan hidayah kepada kami.” (HR. Ahmad dalam musnadnya).</em></p>
<p>Justru mereka yang membedakan bolehnya bertawassul pada yang hidup saja dan mengharamkan pada yang sudah wafat, maka mereka itu malah dirisaukan akan terjerumus pada kemusyrikan karena menganggap makhluk hidup bisa memberi manfaat, sedangkan akidah kita adalah semua yang hidup dan yang  sudah wafat  tak bisa memberi manfaat apa apa kecuali karena Allah ta’ala memuliakannya,  bukan karena ia hidup lalu ia bisa memberi manfaat dihadapan Allah, berarti si hidup itu sebanding dengan Allah Subhanahu wa  Ta’ala?,  si hidup bisa berbuat sesuatu pada keputusan Allah ?</p>
<p>Orang yang bertawassul tidak boleh berkeyakinan bahwa perantaranya kepada Allah bisa memberi manfaat dan madlorot kepadanya dan jika ia berkeyakinan bahwa sesuatu yang dijadikan perantaraan menuju Allah Subhanahu wa Ta’ala  itu bisa memberi manfaat dan madlorot, maka dia telah melakukan perbuatan syirik, karena yang bisa memberi manfaat dan madlorot sesungguhnya hanyalah Allah semata.</p>
<p>Bertawassul adalah adab berdoa , salah satu usaha agar do’a yang kita panjatkan diterima dan dikabulkan Allah Subhanahu wa ta’ala</p>
<p>Bertawassul dengan kemulian orang yang sudah wafat,  sebagaimana yang tercantum dalam Tafsir Ibnu Katsir surat An-nisa ayat 64, <a href="http://mutiarazuhud.files.wordpress.com/2011/09/ikjuz5p281_285.pdf">http://mutiarazuhud.files.wordpress.com/2011/09/ikjuz5p281_285.pdf</a></p>
<p>**** awal kutipan ****<br />
Al-Atabi ra menceritakan bahwa ketika ia sedang duduk di dekat kubur Nabi Shallallahu alaihi wasallam, datanglah seorang Arab Badui, lalu ia mengucapkan,</p>
<p>“Assalamu’alaika, ya Rasulullah (semoga kesejahteraan terlimpahkan kepadamu, wahai Rasulullah). Aku telah mendengar Allah ta’ala berfirman yang artinya, ‘Sesungguhnya jikalau mereka ketika menganiaya dirinya datang kepadamu, lalu memohon ampun kepada Allah, dan Rasul pun memohonkan ampun untuk mereka, tentulah mereka menjumpai Allah Maha Penerima Tobat lagi Maha Penyayang‘ (QS An-Nisa: 64),</p>
<p>Sekarang aku datang kepadamu, memohon ampun bagi dosa-dosaku (kepada Allah) dan meminta syafaat kepadamu (agar engkau memohonkan ampunan bagiku) kepada Tuhanku.”</p>
<p>Kemudian lelaki Badui tersebut mengucapkan syair berikut , yaitu:<br />
“Hai sebaik-baik orang yang dikebumikan di lembah ini lagi paling agung, maka menjadi harumlah dari pancaran keharumannya semua lembah dan pegunungan ini. Diriku sebagai tebusan kubur yang engkau menjadi penghuninya; di dalamnya terdapat kehormatan, kedermawanan, dan kemuliaan.“</p>
<p>Kemudian lelaki Badui itu pergi, dan dengan serta-merta mataku terasa mengantuk sekali hingga tertidur.</p>
<p>Dalam tidurku itu aku bermimpi bersua dengan Nabi shallallahu alaihi wasallam., lalu beliau shallallahu alaihi wasallam bersabda, “Hai Atabi, susullah orang Badui itu dan sampaikanlah berita gembira kepadanya bahwa Allah telah memberikan ampunan kepadanya!”<br />
***** akhir kutipan *****</p>
<p>Bertawassul dengan kemulian tempat seperti berdoa di Multazam, Raudoh, Maqam Ibrahim dll</p>
<p>Bertawassul dengan waktu seperti berdoa pada sepertiga malam terakhir, berdoa ketika wukuf di pada Arafah, dll</p>
<p>Bertawassul dengan kemuliaan benda seperti berdoa memohon kesembuhan kepada Allah dengan perantaraan ludah orang-orang yang mulia disisi Allah</p>
<p>Telah menceritakan kepadaku Shadaqah bin Al Fadl telah mengabarkan kepada kami Ibnu ‘Uyainah dari ‘Abdurrabbihi bin Sa’id dari ‘Amrah dari ‘Aisyah dia berkata; Biasanya dalam meruqyah, beliau membaca: BISMILLAHI TURBATU ARDLINA BI RIIQATI BA’DLINA YUSYFAA SAQIIMUNA BI IDZNI RABBINA (Dengan nama Allah, Debu tanah kami dengan ludah sebagian kami semoga sembuh orang yang sakit dari kami dengan izin Rabb kami.  (HR Bukhari 5305)</p>
<p>Telah menceritakan kepada kami Abu Bakr bin Abu Syaibah dan Zuhair bin Harb serta Ibnu Abu ‘Umar dan lafazh ini miliknya Ibnu Abu ‘Umar dia berkata; Telah menceritakan kepada kami Sufyan dari ‘Abdu Rabbih bin Sa’id dari ‘Amrah dari ‘Aisyah bahwa apabila seseorang mengadukan suatu penyakit yang dideritanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, seperti sakit kudis, atau luka, maka Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berucap sambil menggerakkan anak jarinya seperti ini -Sufyan meletakkan telunjuknya ke tanah, kemudian mengangkatnya- Bismillahi turbatu ardhina biriiqati ba’dhina liyusyfaa bihi saqiimuna bi idzni rabbina. (Dengan nama Allah, dengan debu di bumi kami, dan dengan ludah sebagian kami, semoga sembuhlah penyakit kami dengan izin Rabb kami). Ibnu Abu Syaibah berkata; ruqyah tersebut berbunyi; Yusyfaa saqiimunaa’. Dan Zuhair berkata; Doa ruqyah tersebut berbunyi; Liyusyfaa saqiimunaa.’  (HR Muslim  4069)</p>
<p>Yang dimaksud ludah sebagian kami adalah ludah hambaNya yang disisiNya</p>
<p>Bertawassul dengan kemuliaan doa atau dzikrullah seperti berdoa memohon kesembuhan kepada Allah dengan perantaraan bacaan surat Al Fatihah</p>
<p>Telah menceritakan kepada kami Yahya bin Yahya At Tamimi; Telah mengabarkan kepada kami Husyaim dari Abu Bisyr dari Abu Al Mutawakkil dari Abu Sa’id Al Khudri bahwa beberapa orang sahabat melakukan perjalanan jauh dan berhenti untuk istirahat pada salah satu perkampungan ‘Arab, lalu mereka minta dijamu oleh penduduk kampung itu. Tetapi penduduk enggan menjamu mereka. Penduduk bertanya kepada para sahabat; ‘Adakah di antara tuan-tuan yang pandai mantera? Kepala kampung kami digigit serangga.’ Menjawab seorang sahabat; ‘Ya, ada! Kemudian dia mendatangi kepala kampung itu dan memanterainya dengan membaca surat Al Fatihah. Maka kepala kampung itu pun sembuh. Kemudian dia diberi upah kurang lebih tiga puluh ekor kambing. Tetapi dia enggan menerima seraya mengatakan; ‘Tunggu! Aku akan menanyakannya lebih dahulu kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, apakah aku boleh menerimanya.’ Lalu dia datang kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam menanyakannya hal itu, katanya; ‘Ya, Rasulullah! Demi Allah, aku telah memanterai seseorang dengan membacakan surat Al Fatihah.’ Beliau tersenyum mendengar cerita sahabatnya dan bertanya: ‘Bagaimana engkau tahu Al Fatihah itu mantera? ‘ Kemudian sabda beliau pula: ‘Terimalah pemberian mereka itu, dan berilah aku bagian bersama-sama denganmu.’ Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Basysyar dan Abu Bakr bin Nafi’ keduanya dari Ghundar Muhammad bin Ja’far dari Syu’bah dari Abu Bisyr melalui jalur ini, dia menyebutkan di dalam Haditsnya; ‘Kemudian orang itu mulai membacakan Ummul Qur’an, dan mengumpulkan ludahnya lalu memuntahkannya, setelah itu orang itu sembuh. (HR Muslim 4080)</p>
<p>Berdoa dengan bertawassul perantaraan sholawat kepada Nabi Muhammad Shallallahu alaihi wasallam</p>
<p>Anas bin Malik r.a meriwayatkan bahwa Nabi Muhammad shallallahu alaihi wasallam bersabda: “<em>Tiada doa kecuali terdapat hijab di antaranya dengan di antara langit, hingga bershalawat atas Nabi shallallahu alaihi wasallam, maka apabila dibacakan shalawat Nabi, terbukalah hijab dan diterimalah doa tersebut, namun jika tidak demikian, kembalilah doa itu kepada pemohonnya</em>“</p>
<p>Rasulullah bersabda “<em>Jika salah seorang di antara kalian berdoa maka hendaknya dia memulainya dengan memuji dan menyanjung Allah, kemudian dia bershalawat kepada Nabi -shallallahu alaihi wasallam-, kemudian setelah itu baru dia berdoa sesukanya</em>.” (HR Ahmad, Abu Dawud dan dishahihkan oleh At Tirmidzi)</p>
<p>Mereka bertanya kenapa kita harus bertawasul dalam berdoa sedangkan kita dijanjikan oleh Allah Azza wa Jalla akan mengabulkan segala permohonan hambaNya sebagaimana firmanNya yang artinya, “<em>Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdo’a apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah-Ku) dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran</em>” (QS Al Baqarah [2]:186 )</p>
<p>Kadang kita dalam memahami ayat di atas mengambil hanya sebagaian dari ayat itu yakni “<em>Aku mengabulkan permohonan orang yang berdo’a apabila ia memohon kepada-Ku</em>“. Sehingga sebagian muslim, ketika selesai berdoa, seolah-olah “menagih janji” Allah Subhanahu wa Ta’ala berdasarkan apa yang dipahaminya itu.</p>
<p>Padahal dalam ayat itu juga telah dijelaskan jalan/cara/syarat agar Allah ar Rahmaan ar Rahiim mengabulkan doa hambaNya pada kalimat berikutnya  “<em>maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah-Ku) dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran</em>” maknanya doa akan terkabul tergantung kedekatan kita kepada Allah Azza wa Jalla atau tergantung kadar ketaatan kepada Allah dan RasulNya.</p>
<p>Seorang Muslim yang dikatakan telah mentaati Allah dan RasulNya sehingga mendapatkan maqom disisiNya adalah 4 golongan manusia sebagaimana firmanNya yang artinya “<em>Dan barangsiapa yang menta’ati Allah dan Rasul(Nya), mereka itu akan bersama-sama dengan orang-orang yang dianugerahi ni’mat oleh Allah, yaitu : Nabi-nabi, para shiddiiqiin, orang-orang yang mati syahid, dan orang-orang saleh. Dan mereka itulah teman yang sebaik-baiknya .</em>” (QS An Nisaa [4]: 69 )</p>
<p>Maqom Shiddiqin atau kedekatan dengan Allah diuraikan dalam tulisan pada <a href="http://mutiarazuhud.wordpress.com/2011/09/09/2011/09/28/maqom-wali-allah/">http://mutiarazuhud.wordpress.com/2011/09/09/2011/09/28/maqom-wali-allah/</a></p>
<p>Semakin dekat kita kepada Allah bahkan sampai menjadi kekasihNya (Wali Allah) maka Allah telah menjanjikan pasti akan mengabulkan segala permintaan</p>
<p>Dalam sebuah hadits qudsi Rasulullah bersabda, Allah ta’ala berfirman  “<em>jika Aku sudah mencintainya, maka Akulah pendengarannya yang ia jadikan untuk mendengar, dan pandangannya yang ia jadikan untuk memandang, dan tangannya yang ia jadikan untuk memukul, dan kakinya yang dijadikannya untuk berjalan, jikalau ia meminta-Ku, pasti Kuberi, dan jika meminta perlindungan kepada-KU, pasti Ku-lindungi. Dan aku tidak ragu untuk melakukan sesuatu yang Aku menjadi pelakunya sendiri sebagaimana keragu-raguan-Ku untuk mencabut nyawa seorang mukmin yang ia (khawatir) terhadap kematian itu, dan Aku sendiri khawatir ia merasakan kepedihan sakitnya</em>&#8221; (HR Bukhari 6021)</p>
<p>Contohnya bagaimana Sayyidina Umar bin Khathab ra yang kita tahu setingkat beliau tentu bisa berdoa langsung kepada Allah ta&#8217;ala ,  namun beliau menjadikan Uwais ra seorang Tabi&#8217;in menjadi perantara bagi doanya kepada Allah Azza wa Jalla mengikuti pesan dari Rasulullah shallallahu alaihi wasallam.</p>
<p>Suatu hari Umar r.a. kedatangan rombongan dari Yaman, lalu ia bertanya :<br />
“Adakah di antara kalian yang datang dari suku Qarn?”.<br />
Lalu seorang maju ke dapan menghadap Umar. Orang tersebut saling bertatap pandang sejenak dengan Umar. Umar pun memperhatikannya dengan penuh selidik.<br />
“Siapa namamu?” tanya Umar.<br />
“Aku Uwais”, jawabnya datar.<br />
“Apakah engkau hanya mempunyai seorang Ibu yang masih hidup?, tanya Umar lagi.<br />
“Benar, Amirul Mu’minin”, jawab Uwais tegas.<br />
Umar masih penasaran lalu bertanya kembali “Apakah engkau mempunyai bercak putih sebesar uang dirham?” (maksudnya penyakit kulit berwarna putih seperti panu tapi tidak hilang).<br />
“Benar, Amirul Mu’minin, dulu aku terkena penyakit kulit “belang”, lalu aku berdo’a kepada Allah agar disembuhkan. Alhamdulillah, Allah memberiku kesembuhan kecuali sebesar uang dirham di dekat pusarku yang masih tersisa, itu untuk mengingatkanku kepada Tuhanku”.<br />
“Mintakan aku ampunan kepada Allah”.<br />
Uwais terperanjat mendengar permintaan Umar tersebut, sambil berkata dengan penuh keheranan. “Wahai Amirul Mu’minin, engkau justru yang lebih behak memintakan kami ampunan kepada Allah, bukankah engkau sahabat Nabi?”<br />
Lalu Umar berkata “Aku pernah mendengar Rasulullah shallallahu alaihi wasallam berkata “Sesungguhnya sebaik-baik Tabiin adalah seorang bernama Uwais, mempunyai seorang ibu yang selalu dipatuhinya, pernah sakit belang dan disembuhkan Allah kecuali sebesar uang dinar di dekat pusarnya, apabila ia bersumpah pasti dikabulkan Allah. Bila kalian menemuinya mintalah kepadanya agar ia memintakan ampunan kepada Allah”<br />
Uwais lalu mendoa’kan Umar agar diberi ampunan Allah. Lalu Uwais pun menghilang dalam kerumunan rombongan dari Yaman yang akan melanjutkan perjalanan ke Kufah. (HR Ahmad)</p>
<p>Hadits senada diriwayatkan oleh Imam Muslim</p>
<p>Telah menceritakan kepadaku Zuhair bin Harb; Telah menceritakan kepada kami Hasyim bin Al Qasim; Telah menceritakan kepada kami Sulaiman bin Al Mughirah; Telah menceritakan kepadaku Sa&#8217;id Al Jurairi dari Abu Nadhrah dari Usair bin Jabir bahwa penduduk Kufah mengutus beberapa utusan kepada Umar bin Khaththab, dan di antara mereka ada seseorang yang biasa mencela Uwais. Maka Umar berkata; Apakah di sini ada yang berasal dari Qaran. Lalu orang itu menghadap Umar. Kemudian Umar berkata: &#8216;Sesungguhnya Rasulullah shallallahu &#8216;alaihi wasallam telah bersabda: Sesungguhnya akan datang kepadamu seorang laki-laki dari Yaman yang biasa dipanggil dengan Uwais. Dia tinggal di Yaman bersama Ibunya. Dahulu pada kulitnya ada penyakit belang (berwarna putih). Lalu dia berdo&#8217;a kepada Allah, dan Allahpun menghilangkan penyakit itu, kecuali tinggal sebesar uang dinar atau dirham saja. Barang siapa di antara kalian yang menemuinya, maka mintalah kepadanya untuk memohonkan ampun kepada Allah untuk kalian. Telah menceritakan kepada kami Zuhair bin Harb dan Muhammad bin Al Mutsanna keduanya berkata; Telah menceritakan kepada kami &#8216;Affan bin Muslim; Telah menceritakan kepada kami Hammad yaitu Ibnu Salamah dari Sa&#8217;id Al Jurairi melalui jalur ini dari &#8216;Umar bin Al Khaththab dia berkata; Sungguh aku telah mendengar Rasulullah shallallahu &#8216;alaihi wasallam bersabda: Sebaik-baik tabi&#8217;in, adalah seorang laki-laki yang dibiasa dipanggil Uwais, dia memiliki ibu, dan dulu dia memiliki penyakit belang ditubuhnya. Carilah ia, dan mintalah kepadanya agar memohonkan ampun untuk kalian.&#8217; (HR Muslim 4612)</p>
<p>Wassalam</p>
<p>Zon di Jonggol, Kab Bogor 16830</p>
<br />Filed under: <a href='http://mutiarazuhud.wordpress.com/category/islam/'>Islam</a>, <a href='http://mutiarazuhud.wordpress.com/category/umum/'>Umum</a>  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/mutiarazuhud.wordpress.com/4631/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/mutiarazuhud.wordpress.com/4631/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/mutiarazuhud.wordpress.com/4631/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/mutiarazuhud.wordpress.com/4631/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/mutiarazuhud.wordpress.com/4631/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/mutiarazuhud.wordpress.com/4631/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/mutiarazuhud.wordpress.com/4631/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/mutiarazuhud.wordpress.com/4631/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/mutiarazuhud.wordpress.com/4631/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/mutiarazuhud.wordpress.com/4631/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/mutiarazuhud.wordpress.com/4631/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/mutiarazuhud.wordpress.com/4631/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/mutiarazuhud.wordpress.com/4631/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/mutiarazuhud.wordpress.com/4631/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=mutiarazuhud.wordpress.com&amp;blog=7078984&amp;post=4631&amp;subd=mutiarazuhud&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://mutiarazuhud.wordpress.com/2012/01/21/perantaraan-yang-dimuliakannya/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/da9e7464e9e3c4447f52e554f6476dfa?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">mutiarazuhud</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Sebagaimana yang diikuti</title>
		<link>http://mutiarazuhud.wordpress.com/2012/01/21/sebagaimana-yang-diikuti/</link>
		<comments>http://mutiarazuhud.wordpress.com/2012/01/21/sebagaimana-yang-diikuti/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 21 Jan 2012 08:03:22 +0000</pubDate>
		<dc:creator>mutiarazuhud</dc:creator>
				<category><![CDATA[Islam]]></category>
		<category><![CDATA[Umum]]></category>
		<category><![CDATA[Alam]]></category>
		<category><![CDATA[alam barzakh]]></category>
		<category><![CDATA[alam jabarut]]></category>
		<category><![CDATA[diikuti]]></category>
		<category><![CDATA[ketiadaan]]></category>
		<category><![CDATA[Mati]]></category>
		<category><![CDATA[Mereka]]></category>
		<category><![CDATA[panutan]]></category>
		<category><![CDATA[perpindahan]]></category>
		<category><![CDATA[sebagaiman]]></category>
		<category><![CDATA[teladan]]></category>
		<category><![CDATA[tidur]]></category>
		<category><![CDATA[wafat]]></category>
		<category><![CDATA[wali Allah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://mutiarazuhud.wordpress.com/?p=4629</guid>
		<description><![CDATA[Mereka akan sebagaimana yang mereka ikuti &#160; Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda, “Seandainya bukan karena setan menyelimuti jiwa anak cucu Adam, niscaya mereka menyaksikan malaikat di langit” (HR Ahmad). Mereka berpendapat bahwa apa yang disampakan dalam tulisan pada http://mutiarazuhud.wordpress.com/2012/01/19/bertemu-datuk/ tentang atas izin Allah Azza wa Jalla pada sebagian keturunan cucu Rasulullah untuk dapat menemui Datuk [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=mutiarazuhud.wordpress.com&amp;blog=7078984&amp;post=4629&amp;subd=mutiarazuhud&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Mereka akan sebagaimana yang mereka ikuti</strong></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda, <em>“Seandainya bukan karena setan menyelimuti jiwa anak cucu Adam, niscaya mereka menyaksikan malaikat di langit</em>” (HR Ahmad).</p>
<p>Mereka berpendapat bahwa apa yang disampakan dalam tulisan pada <a href="http://mutiarazuhud.wordpress.com/2012/01/19/bertemu-datuk/">http://mutiarazuhud.wordpress.com/2012/01/19/bertemu-datuk/</a> tentang atas izin Allah Azza wa Jalla pada sebagian keturunan cucu Rasulullah untuk dapat menemui Datuk mereka, Rasulullah shallallahu alaihi wasallam adalah hal yang mustahil.  Kita berlindungan kepada Allah Azza wa Jalla atas pengingkaran mereka terhadap ke Maha Kuasa an Allah Azza wa Jalla</p>
<p>Izin Allah Azza wa Jalla untuk dapat menemui Rasulullah shallallahu alaihi wasallam diberikan juga kepada kaum muslim yang dikehendakiNya, yang telah mencapai muslim yang Ihsan pada tingkatan shiddiqin atau Wali Allah (kekasih Allah).</p>
<p>Tingkatan shiddiqin contohnya telah diuraikan oleh Al-Hakim al-Tirmidzi (205-320H/ 820-935M) yang membagi maqamat al-walayah (derajat kedekatan para Wali Allah ke dalam lima maqamat)</p>
<p>Kelima maqamat itu adalah:<br />
al-muwahhidin<br />
al-shadiqin<br />
al-shiddiqin<br />
al-muqarrabin<br />
al-munfaridin</p>
<p>Uraian selengkapnya dalam tulisan pada <a href="http://mutiarazuhud.wordpress.com/2011/09/28/maqom-wali-allah/">http://mutiarazuhud.wordpress.com/2011/09/28/maqom-wali-allah/</a></p>
<p>Jika kita mendalami tingkatan-tingkatan alam seperti</p>
<p>Alam Jabarut<br />
Alam Malakut<br />
Alam Mitsal (alam barzakh)<br />
Maqam Ahdah yang mencakup alam Lahut dan Martabat Dzat;<br />
Maqam Wahdah mencakup alam Jabarut dan Martabat Sifat;<br />
Maqam Wahidiyah mencakup alam Wahidiyah dan Martabat al-Asma’;<br />
Maqam Roh yang mencakup alam Malakut dan Martabat Af’al;<br />
Maqam Mitsal; dan<br />
Maqam Insan dan alam Syahadah.</p>
<p>Kita akan memahami apa yang dimaksud peristiwa mi&#8217;raj dimana Rasulullah bertemu dengan para Nabi terdahulu di tingkatan-tingkatan langit atau maqom</p>
<p>Jika kita termasuk muslim yang dikehendakiNya maka kitapun dapat menemui Rasulullah pada maqomnya dan bertemu dengan beliau dan minta nasehat beliau bagaimana menghadapi zaman yang kita hadapi saat ini yang dikatakan oleh Beliau sebagai babak Mulkan Jabbriyyan (Penguasa-penguasa yang memaksakan kehendak seraya mengabaikan kehendak Allah dan RasulNya).</p>
<p>Periode kehidupan umat Islam di dunia telah digambarkan oleh Nabi Muhammad shallallahu alaihi wasallam,  “<em>Kalian akan mengalami babak Kenabian selama masa yang Allah kehendaki, kemudian babak kekhalifahan mengikuti manhaj Kenabian selama masa yang Allah kehendaki, kemudian babak Raja-raja yang menggigit,selama masa yang Allah kehendaki, kemudian babak para penguasa yang memaksakan kehendak selama masa yang Allah kehendaki, kemudian kalian akan mengalami babak kekhalifahan mengikuti manhaj Kenabian, kemudian Nabi diam.</em>” (HR Ahmad)</p>
<p>Sebagaimana kita ketahui Ummat Islam dewasa ini sedang menjalani babak keempat dari lima babak perjalanan sejarahnya di akhir zaman.</p>
<p>Tiga babak sebelumnya telah dilalui:<br />
Babak pertama, babak An-Nubuwwah (Kenabian) yakni masa ketika manhaj kenabian berlangsung<br />
Babak kedua, babak Khilafatun ’ala Minhaj An-Nubuwwah (Kekhalifahan yang mengikuti Sistem / Metode Kenabian)<br />
Babak ketiga, babak Mulkan ’Aadhdhon (Raja-raja yang menggigit)., masa ketika raja-raja masih “mengigit” / berpegangan pada Al-Qur’an dan Hadits.</p>
<p>Sesudah berlalunya babak ketiga yang ditandai dengan tigabelas abad masa kepemimpinan Kerajaan Daulat Bani Umayyah, kemudian Kerajaan Daulat Bani Abbasiyyah dan terakhir Kesultanan Utsmani Turki, maka selanjutnya ummat Islam memasuki babak keempat, babak Mulkan Jabbriyyan (Penguasa-penguasa yang memaksakan kehendak seraya mengabaikan kehendak Allah dan RasulNya).</p>
<p>Babak keempat diawali semenjak runtuhnya Kesultanan Utsmani Turki yang sekaligus merupakan kekhalifahan Islam terakhir pada tahun 1924. Setelah runtuhnya sistem pemerintahan Islam, maka selanjutnya ummat Islam mulai menjalani kehidupan dengan mengekor kepada pola kehidupan bermasyarakat dan bernegara ala Barat.</p>
<p>Mulailah di berbagai negeri muslim didirikan di atasnya berbagai nation-state (negara bedasarkan kesatuan bangsa / wilayah). Padahal sebelumnya semenjak Nabi shollallahu ’alaih wa sallam menjadi kepala negara Daulah Islamiyyah (Negara Islam) pertama di Madinah, ummat Islam hidup dalam sistem aqidah-state (negara berdasarkan kesatuan aqidah) selama ribuan tahun.</p>
<p>Begitupula sebagaimana yang telah disampaikan dalam tulisan pada <a href="http://mutiarazuhud.wordpress.com/2012/01/18/berguru-dengan-rasulullah/">http://mutiarazuhud.wordpress.com/2012/01/18/berguru-dengan-rasulullah/</a> bahwa kita bisa berguru dengan manusia yang telah berada di alam yang lain atau sekedar mengkonfirmasi kebenaran atau makna sebenarnya dari sebuah hadits kepada Rasulullah sesuatu hal yang mustahil menurut mereka yang memahami Al Qur&#8217;an dan As Sunnah secara dzahir atau memahami sebagaimana yang tersurat atau pemahaman berdasarkan akal piiran atau pemahaman secara ilmiah.</p>
<p>Berikut kutipannya</p>
<p>***** awal kutipan *****</p>
<p>Rasulullah bersabda “<em>Barang siapa yang bermimpi melihatku, maka dia melihatku karena setan tidak akan bisa menyerupai diriku</em>.” (HR Muslim 4206)</p>
<p>“<em>Alangkah miskinnya seorang murid jika gurunya hanya orang-orang hidup atau manusia biasa</em>“.</p>
<p>Suatu saat Imam al-Gazali ditanya muridnya perihal banyaknya hadis ahad atau hadis tak populer yang dikutip dalam kitabnya, Ihya’ ‘Ulum al-Din. Lalu, al-Ghazali menjawab, dirinya tak pernah mencantumkan sebuah hadis dalam Ihya’ tanpa mengonfirmasikan kebenarannya kepada Rasulullah.</p>
<p>Jika ada lebih dari 200 hadis dikutip di dalam kitab itu, berarti lebih 200 kali Imam al-Gazali berjumpa dengan Rasulullah. Padahal, Imam al-Ghazali hidup pada 450 H/1058 M hingga 505 H/1111 M, sedangkan Rasulullah wafat tahun 632 M. Berarti, masa hidup antara keduanya terpaut lima abad.</p>
<p>Kitab Ihya’ yang terdiri atas empat jilid itu ditulis di menara Masjid Damaskus, Suriah, yang sunyi dari hiruk pikuk manusia. Pengalaman lain, Ibnu ‘Arabi juga pernah ditanya muridnya tentang kitabnya, Fushush al-Hikam. Setiap kali sang murid membaca pasal yang sama dalam kitab itu selalu saja ada inspirasi baru.</p>
<p>Menurutnya, kitab Fushush bagaikan mata air yang tidak pernah kering. Ibnu ‘Arabi menjawab, kitab itu termasuk judulnya dari Rasulullah yang diberikan melalui mimpi. Dalam mimpi itu, Rasulullah mengatakan, “Khudz hadzal kitab, Fushush al-Hikam (ambil kitab ini, judulnya Fushush al-Hikam).”</p>
<p>***** akhir kutipan *****</p>
<p>Muslim yang disisiNya, mereka hidup sebagaimana para syuhada</p>
<p>Firman Allah ta’ala yang artinya<br />
”<em>Dan janganlah kamu mengatakan terhadap orang-orang yang gugur di jalan Allah (syuhada), (bahwa mereka itu ) mati; bahkan (sebenarnya) mereka itu hidup, tetapi kamu tidak menyadarinya.</em>” (QS Al Baqarah [2]: 154 )</p>
<p>”<em>Janganlah kamu mengira bahwa orang-orang yang gugur di jalan Allah (syuhada) itu mati; bahkan mereka itu hidup disisi Tuhannya dengan mendapat rezki.</em>” (QS Ali Imran [3]: 169)</p>
<p>Muslim yang disisiNya hanyalah 4 golongan manusia yakni para Nabi (Rasulullah yang utama), para Shiddiqin, para Syuhada dan orang-orang sholeh</p>
<p>Firman Allah ta’ala yang artinya,<br />
“<em>Tunjukilah kami jalan yang lurus</em>” (QS Al Fatihah [1]:6 )<br />
” <em>(yaitu) Jalan orang-orang yang telah Engkau beri ni’mat kepada mereka….</em>” (QS Al Fatihah [1]:7 )<br />
“<em>Dan barangsiapa yang menta’ati Allah dan Rasul(Nya), mereka itu akan bersama-sama dengan orang-orang yang dianugerahi ni’mat oleh Allah, yaitu : Nabi-nabi, para shiddiiqiin, orang-orang yang mati syahid, dan orang-orang saleh. Dan mereka itulah teman yang sebaik-baiknya .</em>” (QS An Nisaa [4]: 69 )</p>
<p>Hal yang harus kita ingat bahwa manusia yang meninggal dunia pada hakikatnya hanya berpindah alam saja.</p>
<p>Rasulullah bersabda, “<em>sebagaimana engkau tidur begitupulah engkau mati, dan sebagaimana engkau bangun (dari tidur) begitupulah engkau dibangkitkan (dari alam kubur)</em>”</p>
<p>Rasulullah shallallahu alaihi wasallam telah membukakan kepada kita salah satu sisi tabir kematian. Bahwasanya tidur dan mati memiliki kesamaan, ia adalah saudara yang sulit dibedakan kecuali dalam hal yang khusus, bahwa tidur adalah mati kecil dan mati adalah tidur besar.</p>
<p>Ibnu Zaid berkata, “<em>Mati adalah wafat dan tidur juga adalah wafat</em>”.</p>
<p>Al-Qurtubi dalam at-Tadzkirah mengenai hadis kematian dari syeikhnya mengatakan: “Kematian bukanlah ketiadaan yang murni, namun kematian merupakan perpindahan dari satu keadaan kepada keadaan lain.”</p>
<p>Rasulullah bersabda,</p>
<p>حياتي خير لكم ومماتي خير لكم تحدثون ويحدث لكم , تعرض أعمالكم عليّ فإن وجدت خيرا حمدت الله و إن وجدت شرا استغفرت الله لكم.</p>
<p>“<em>Hidupku lebih baik buat kalian dan matiku lebih baik buat kalian. Kalian bercakap-cakap dan mendengarkan percakapan. Amal perbuatan kalian disampaikan kepadaku. Jika aku menemukan kebaikan maka aku memuji Allah. Namun jika menemukan keburukan aku memohonkan ampunan kepada Allah buat kalian.</em>” (Hadits ini diriwayatkan oelh Al Hafidh Isma’il al Qaadli pada Juz’u al Shalaati ‘ala al Nabiyi Shallalahu alaihi wasallam. Al Haitsami menyebutkannya dalam Majma’u al Zawaaid dan mengkategorikannya sebagai hadits shahih dengan komentarnya : hadits diriwayatkan oleh Al Bazzaar dan para perawinya sesuai dengan kriteria hadits shahih)</p>
<p>Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda:</p>
<p>(ما من رجل يزور قبر أخيه ويجلس عليه إلا استأنس ورد عليه حتي يقوم)</p>
<p>“<em>Tidak seorangpun yang mengunjungi kuburan saudaranya dan duduk kepadanya (untuk mendoakannya) kecuali dia merasa bahagia dan menemaninya hingga dia berdiri meninggalkan kuburan itu</em>.” (HR. Ibnu Abu Dunya dari Aisyah dalam kitab Al-Qubûr).</p>
<p>Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda:</p>
<p>(ما من أحد يمربقبر أخيه المؤمن كان يعرفه في الدنيا فيسلم عليه إلا عَرَفَهُ ورد عليه السلام)</p>
<p>“<em>Tidak seorang pun melewati kuburan saudaranya yang mukmin yang dia kenal selama hidup di dunia, lalu orang yang lewat itu mengucapkan salam untuknya, kecuali dia mengetahuinya dan menjawab salamnya itu</em>.” (Hadis Shahih riwayat Ibnu Abdul Bar dari Ibnu Abbas di dalam kitab Al-Istidzkar dan At-Tamhid).</p>
<p>Nabi  shallallahu alaihi wasallam bersabda:</p>
<p>إن أعمالكم تعرض على أقاربكم وعشائركم من الأموات فإن كان خيرا استبشروا، وإن كان غير ذلك قالوا: اللهم لا تمتهم حتى تهديهم كما هديتنا)</p>
<p>“<em>Sesungguhnya perbuatan kalian diperlihatkan kepada karib-kerabat dan keluarga kalian yang telah meninggal dunia. Jika perbuatan kalian baik, maka mereka mendapatkan kabar gembira, namun jika selain daripada itu, maka mereka berkata: “Ya Allah, janganlah engkau matikan mereka sampai Engkau memberikan hidayah kepada mereka seperti engkau memberikan hidayah kepada kami</em>.” (HR. Ahmad dalam musnadnya).</p>
<p>Mereka akan sebagaimana mereka yang ikuti.</p>
<p>Ulama panutan mereka membiarkan para pengikutnya melecehkan Nabi di hadapannya, seperti dengan berkata: “<em>Tongkatku ini masih lebih baik dari Muhammad, karena tongkat-ku masih bisa digunakan membunuh ular, sedangkan Muhammad telah mati dan tidak tersisa manfaatnya sama sekali</em>&#8220;</p>
<p>Kita berlindungan kepada Allah Azza wa Jalla dari keadaan akhlak seperti itu.</p>
<p>Sungguh luas ilmuNya, semakin kita mendalami ilmuNya semakin tersungkur sujud kepadaNya</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Wassalam</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Zon di Jonggol, Kab Bogor 16830</p>
<br />Filed under: <a href='http://mutiarazuhud.wordpress.com/category/islam/'>Islam</a>, <a href='http://mutiarazuhud.wordpress.com/category/umum/'>Umum</a>  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/mutiarazuhud.wordpress.com/4629/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/mutiarazuhud.wordpress.com/4629/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/mutiarazuhud.wordpress.com/4629/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/mutiarazuhud.wordpress.com/4629/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/mutiarazuhud.wordpress.com/4629/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/mutiarazuhud.wordpress.com/4629/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/mutiarazuhud.wordpress.com/4629/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/mutiarazuhud.wordpress.com/4629/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/mutiarazuhud.wordpress.com/4629/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/mutiarazuhud.wordpress.com/4629/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/mutiarazuhud.wordpress.com/4629/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/mutiarazuhud.wordpress.com/4629/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/mutiarazuhud.wordpress.com/4629/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/mutiarazuhud.wordpress.com/4629/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=mutiarazuhud.wordpress.com&amp;blog=7078984&amp;post=4629&amp;subd=mutiarazuhud&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://mutiarazuhud.wordpress.com/2012/01/21/sebagaimana-yang-diikuti/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/da9e7464e9e3c4447f52e554f6476dfa?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">mutiarazuhud</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Terputus amalannya</title>
		<link>http://mutiarazuhud.wordpress.com/2012/01/21/terputus-amalannya/</link>
		<comments>http://mutiarazuhud.wordpress.com/2012/01/21/terputus-amalannya/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 21 Jan 2012 07:44:11 +0000</pubDate>
		<dc:creator>mutiarazuhud</dc:creator>
				<category><![CDATA[Islam]]></category>
		<category><![CDATA[Umum]]></category>
		<category><![CDATA[Alam]]></category>
		<category><![CDATA[Amal]]></category>
		<category><![CDATA[amalan]]></category>
		<category><![CDATA[anak]]></category>
		<category><![CDATA[diperhitungkan]]></category>
		<category><![CDATA[doa]]></category>
		<category><![CDATA[dunia]]></category>
		<category><![CDATA[Ilmu]]></category>
		<category><![CDATA[jariyah]]></category>
		<category><![CDATA[lain]]></category>
		<category><![CDATA[manfaat]]></category>
		<category><![CDATA[manusia]]></category>
		<category><![CDATA[meninggal]]></category>
		<category><![CDATA[perbuatan]]></category>
		<category><![CDATA[Sedekah]]></category>
		<category><![CDATA[shaleh]]></category>
		<category><![CDATA[terputus]]></category>
		<category><![CDATA[tidak]]></category>
		<category><![CDATA[wafat]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://mutiarazuhud.wordpress.com/?p=4626</guid>
		<description><![CDATA[Terputuslah segala amalannya حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ أَيُّوبَ وَقُتَيْبَةُ يَعْنِي ابْنَ سَعِيدٍ وَابْنُ حُجْرٍ قَالُوا حَدَّثَنَا إِسْمَعِيلُ هُوَ ابْنُ جَعْفَرٍ عَنْ الْعَلَاءِ عَنْ أَبِيهِ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِذَا مَاتَ الْإِنْسَانُ انْقَطَعَ عَنْهُ عَمَلُهُ إِلَّا مِنْ ثَلَاثَةٍ إِلَّا مِنْ صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ أَوْ عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ أَوْ وَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=mutiarazuhud.wordpress.com&amp;blog=7078984&amp;post=4626&amp;subd=mutiarazuhud&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Terputuslah segala amalannya </strong></p>
<p>حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ أَيُّوبَ وَقُتَيْبَةُ يَعْنِي ابْنَ سَعِيدٍ وَابْنُ حُجْرٍ قَالُوا حَدَّثَنَا إِسْمَعِيلُ هُوَ ابْنُ جَعْفَرٍ عَنْ الْعَلَاءِ عَنْ أَبِيهِ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِذَا مَاتَ الْإِنْسَانُ انْقَطَعَ عَنْهُ عَمَلُهُ إِلَّا مِنْ ثَلَاثَةٍ إِلَّا مِنْ صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ أَوْ عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ أَوْ وَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ</p>
<p>Telah menceritakan kepada kami Yahya bin Ayyub dan Qutaibah -yaitu Ibnu Sa&#8217;id- dan Ibnu Hujr mereka berkata; telah menceritakan kepada kami Isma&#8217;il -yaitu Ibnu Ja&#8217;far- dari Al &#8216;Ala&#8217; dari Ayahnya dari Abu Hurairah, bahwa Rasulullah shallallahu &#8216;alaihi wasallam bersabda: &#8220;Apabila salah seorang manusia meninggal dunia, maka terputuslah segala amalannya kecuali tiga perkara; sedekah jariyah, ilmu yang bermanfa&#8217;at baginya dan anak sholeh yang selalu mendoakannya.&#8221;  (HR Muslim 3084)</p>
<p>Sebagian ulama “mempergunakan” hadits  di atas untuk menolak sampainya pahala kepada orang yang sudah mati.</p>
<p>Hadits itu hanya mengatakan “inqatha’a ‘amaluhu , terputus amalnya maknanya adalah setiap manusia setelah meninggal dunia maka kesempatan beramalnya sudah terputus  atau apapun yang mereka perbuat  tidak akan diperhitungkan lagi amalnya  kecuali amal yang masih diperhitungkan terus  adalah apa yang dihasilkan dari amal yang mereka perbuat ketika masih hidup seperti,</p>
<p>1.    Sedekah jariyah<br />
2.    Ilmu yang bermanfaat bagi dirinya dan yang disampaikan kepada orang lain<br />
3.    Mendidik anak sehingga menjadi anak sholeh yang selalu mendoakannya</p>
<p>Hadits tersebut tidak dikatakan,  “inqata’a intifa’uhu”, “terputus keadaannya untuk memperoleh manfaat”.</p>
<p>Adapun amal orang lain, maka itu adalah milik (haq) dari amil yakni orang yang mengamalkan itu kepada si mayyit  maka akan sampailah pahala orang yang mengamalkan itu kepada si mayyit.</p>
<p>Para ulama menyatakan bahwa do’a dalam shalat jenazah bermanfaat bagi si mayyit. Begitupula sedekah atau amal kebaikan orang lain bermafaat bagi si  mayyit seperti bebasnya utang mayyit yang ditanggung oleh orang lain sekalipun bukan keluarga. Ini berdasarkan hadits Abu Qotadah dimana ia telah menjamin untuk membayar hutang seorang mayyit sebanyak dua dinar. Ketika ia telah membayarnya Nabi bersabda: “Sekarang engkau telah mendinginkan kulitnya” (HR Ahmad).</p>
<p>Jadi si mayyit masih mendapatkan manfaat (intifa’) dari amal orang lain yang membayarkan utangnya termasuk sedekah lainnya yang dilakukan oleh orang llain atas nama si mayyit.  Sedekah bisa dalam bentuk bacaan. Rasulullah shallallahu alaihi wasallam telah menyampaikan bahwa sedekah tidak selalu dalam bentuk harta</p>
<p>حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ مُحَمَّدِ بْنِ أَسْمَاءَ الضُّبَعِيُّ حَدَّثَنَا مَهْدِيُّ بْنُ مَيْمُونٍ حَدَّثَنَا وَاصِلٌ مَوْلَى أَبِي عُيَيْنَةَ عَنْ يَحْيَى بْنِ عُقَيْلٍ عَنْ يَحْيَى بْنِ يَعْمَرَ عَنْ أَبِي الْأَسْوَدِ الدِّيلِيِّ عَنْ أَبِي ذَرٍّ أَنَّ نَاسًا مِنْ أَصْحَابِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالُوا لِلنَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَا رَسُولَ اللَّهِ ذَهَبَ أَهْلُ الدُّثُورِ بِالْأُجُورِ يُصَلُّونَ كَمَا نُصَلِّي وَيَصُومُونَ كَمَا نَصُومُ وَيَتَصَدَّقُونَ بِفُضُولِ أَمْوَالِهِمْ قَالَ أَوَ لَيْسَ قَدْ جَعَلَ اللَّهُ لَكُمْ مَا تَصَّدَّقُونَ إِنَّ بِكُلِّ تَسْبِيحَةٍ صَدَقَةً وَكُلِّ تَكْبِيرَةٍ صَدَقَةً وَكُلِّ تَحْمِيدَةٍ صَدَقَةً وَكُلِّ تَهْلِيلَةٍ صَدَقَةً وَأَمْرٌ بِالْمَعْرُوفِ صَدَقَةٌ وَنَهْيٌ عَنْ مُنْكَرٍ صَدَقَةٌ</p>
<p>Telah menceritakan kepada kami Abdullah bin Muhammad bin Asma` Adl Dluba’i Telah menceritakan kepada kami Mahdi bin Maimun Telah menceritakan kepada kami Washil maula Abu Uyainah, dari Yahya bin Uqail dari Yahya bin Ya’mar dari Abul Aswad Ad Dili dari Abu Dzar bahwa beberapa orang dari sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bertanya kepada beliau, Wahai Rosulullah, orang-orang kaya dapat memperoleh pahala yang lebih banyak. Mereka shalat seperti kami shalat, puasa seperti kami puasa dan bersedekah dengan sisa harta mereka. Maka beliau pun bersabda: Bukankah Allah telah menjadikan berbagai macam cara kepada kalian untuk bersedekah? Setiap kalimat tasbih adalah sedekah, setiap kalimat takbir adalah sedekah, setiap kalimat tahmid adalah sedekah, setiap kalimat tahlil adalah sedekah, amar ma’ruf nahi munkar adalah sedekah (HR Muslim 1674)</p>
<p>Firman Allah <em>ta&#8217;ala, wa-an laysa lil-insaani illaa maa sa&#8217;aa</em>,  &#8220;<em>dan bahwasanya seorang manusia tiada memperoleh selain apa yang telah diusahakannya</em>&#8221; (QS An Najm [53]:39</p>
<p>Ayat Al-Qur’an itu tidak menafikan adanya kemanfaatan untuk seseorang dengan sebab usaha orang lain. Ayat Al Qur’an itu hanya menafikan “kepemilikan seseorang terhadap usaha orang lain”. Allah Subhanahu wa ta’ala hanya mengabarkan bahwa “laa yamliku illa sa’yah (orang itu tidak akan memiliki kecuali apa yang diusahakan sendiri). Adapun usaha orang lain, maka itu adalah milik bagi siapa yang mengusahakannya. Jika dia mau, maka dia boleh memberikannya kepada orang lain dan pula jika ia mau, dia boleh menetapkannya untuk dirinya sendiri. (jadi huruf “lam” pada lafadz “lil insane” itu adalah “lil istihqaq” yakni menunjukan arti “milik”).</p>
<p>Masuknya seorang muslim bersama golongan kaum muslimin yang lain didalam ikatan Islam adalah merupakan sebab paling besar dalam hal sampainya kemanfaatan dari masing-masing kaum muslimin kepada yang lainnya baik di dalam kehidupan ini maupun sesudah mati nanti dan doa kaum muslimin yang lain.</p>
<p>Dalam satu penjelasan disebutkan bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala menjadikan iman sebagai sebab untuk memperoleh kemanfaatan dengan doa serta usaha dari kaum mukminin yang lain. Maka jika seseorang sudah berada dalam iman, maka dia sudah berusaha mencari sebab yang akan menyampaikannya kepada yang demikian itu.</p>
<p>Dengan demikian pahala ketaatan yang dihadiahkan kepadanya dan kaum mukminin sebenarnya bagian dari usahanya sendiri. Oleh karenanya setiap manusia yang telah bersyahadat maka setelah mereka mati akan mendapatkan manfaat dari doa kaum muslimin lainnya yang masih hidup dari doa seperti<br />
“<em>Astaghfirullahalazim li wali waa lidaiya wali jami il muslimina wal muslimat wal mukminina wal mukminat al ahya immin hum wal amwat</em>”<br />
<em>&#8220;Ampunilah aku ya Allah yang Maha Besar, kedua ibu bapaku, semua muslimin dan muslimat, mukminin dan mukminat yang masih hidup dan yang telah mat</em>i.”</p>
<p>Terlebih lagi bagi kaum muslim yang telah mencapai muslim yang ihsan , minimal muslim yang sholeh maka mereka akan mendapatkan manfaat dari sholawat bagi hamba yang sholeh yang diucapkan oleh kaum muslimin yang masih hidup  ketika mereka menjalankan sholat dalam doa tasyahhud, “Assalaamu’alaina wa’alaa ‘ibaadillaahish shoolihiin”</p>
<p>Rasulullah menyampaikan bahwa ketika kita membaca doa tasyahhud mengucapkan “Assalaamu’alaina wa’alaa ‘ibaadillaahish shoolihiin”, maka hal itu sudah mencakup seluruh hamba-hamba yang sholeh baik di langit maupun di bumi“.  Hamba yang sholeh di langit maknanya penduduk langit, para malaikat dan kaum muslim disisiNya termasuk hamba  sholeh yang sudah wafat , dan hamba  yang sholeh di bumi adalah hamba yang sholeh yang masih hidup</p>
<p>Telah menceritakan kepada kami Umar bin Hafsh telah menceritakan kepada kami Ayahku telah menceritakan kepada kami Al A&#8217;masy dia berkata; telah menceritakan kepadaku Syaqiq dari Abdullah dia berkata; Ketika kami membaca shalawat di belakang Nabi shallallahu &#8216;alaihi wasallam, maka kami mengucapkan: ASSALAAMU &#8216;ALALLAHI QABLA &#8216;IBAADIHI, ASSALAAMU &#8216;ALAA JIBRIIL, ASSSALAAMU &#8216;ALAA MIKAA`IIL, ASSALAAMU &#8216;ALAA FULAAN WA FULAAN (Semoga keselamatan terlimpahkan kepada Allah, semoga keselamatan terlimpah kepada Jibril, Mika&#8217;il, kepada fulan dan fulan). Ketika Nabi shallallahu &#8216;alaihi wasallam selesai melaksanakan shalat, beliau menghadapkan wajahnya kepada kami dan bersabda: Sesungguhnya Allah adalah As salam, apabila salah seorang dari kalian duduk dalam shalat (tahiyyat), hendaknya mengucapkan; AT-TAHIYYATUT LILLAHI WASH-SHALAWAATU WATH-THAYYIBAATU, ASSALAAMU &#8216;ALAIKA AYYUHAN-NABIYYU WA RAHMATULLAHI WA BARAKAATUH, ASSALAAMU &#8216;ALAINAA WA &#8216;ALA &#8216;IBAADILLAAHISH SHAALIHIIN, (penghormatan, rahmat dan kebaikan hanya milik Allah. Semoga keselamatan, rahmat, dan keberkahan tetap ada pada engkau wahai Nabi. Keselamatan juga semoga ada pada hamba-hamba Allah yang sholeh. Sesungguhnya jika ia mengucapkannya, maka hal itu sudah mencakup seluruh hamba-hamba yang sholeh baik di langit maupun di bumi, lalu melanjutkan; ASYHADU ALLAA ILAAHA ILLALLAH WA ASYHADU ANNA MUHAMMADAN &#8216;ABDUHU WA RASUULUH (Aku bersaksi bahwa tiada Dzat yang berhak disembah selain Allah, dan Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya). Setelah itu ia boleh memilih do&#8217;a yang ia kehendaki. (HR Bukhari 5762)</p>
<p>Hal yang harus kita ingat bahwa manusia yang meninggal dunia pada hakikatnya hanya berpindah alam saja dan mereka masih melakukan perbuatan namun sudah tidak diperhitungkan lagi apa yang mereka lakukan sebagai amal perbuatan.</p>
<p>Rasulullah bersabda, “<em>sebagaimana engkau tidur begitupulah engkau mati, dan sebagaimana engkau bangun (dari tidur) begitupulah engkau dibangkitkan (dari alam kubur)</em>”</p>
<p>Rasulullah shallallahu alaihi wasallam telah membukakan kepada kita salah satu sisi tabir kematian. Bahwasanya tidur dan mati memiliki kesamaan, ia adalah saudara yang sulit dibedakan kecuali dalam hal yang khusus, bahwa tidur adalah mati kecil dan mati adalah tidur besar.</p>
<p>Ibnu Zaid berkata, “<em>Mati adalah wafat dan tidur juga adalah wafat</em>”.</p>
<p>Al-Qurtubi dalam at-Tadzkirah mengenai hadis kematian dari syeikhnya mengatakan: “<em>Kematian bukanlah ketiadaan yang murni, namun kematian merupakan perpindahan dari satu keadaan kepada keadaan lain.</em>”</p>
<p>Rasulullah bersabda,</p>
<p>حياتي خير لكم ومماتي خير لكم تحدثون ويحدث لكم , تعرض أعمالكم عليّ فإن وجدت خيرا حمدت الله و إن وجدت شرا استغفرت الله لكم.</p>
<p>&#8220;<em>Hidupku lebih baik buat kalian dan matiku lebih baik buat kalian. Kalian bercakap-cakap dan mendengarkan percakapan. Amal perbuatan kalian disampaikan kepadaku. Jika aku menemukan kebaikan maka aku memuji Allah. Namun jika menemukan keburukan aku memohonkan ampunan kepada Allah buat kalian</em>.” (Hadits ini diriwayatkan oelh Al Hafidh Isma’il al Qaadli pada Juz’u al Shalaati ‘ala al Nabiyi Shallalahu alaihi wasallam. Al Haitsami menyebutkannya dalam Majma’u al Zawaaid dan mengkategorikannya sebagai hadits shahih dengan komentarnya : hadits diriwayatkan oleh Al Bazzaar dan para perawinya sesuai dengan kriteria hadits shahih)</p>
<p>Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda:</p>
<p>(ما من رجل يزور قبر أخيه ويجلس عليه إلا استأنس ورد عليه حتي يقوم)</p>
<p>“Tidak seorangpun yang mengunjungi kuburan saudaranya dan duduk kepadanya (untuk mendoakannya) kecuali dia merasa bahagia dan menemaninya hingga dia berdiri meninggalkan kuburan itu.” (HR. Ibnu Abu Dunya dari Aisyah dalam kitab Al-Qubûr).</p>
<p>Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda:</p>
<p>(ما من أحد يمربقبر أخيه المؤمن كان يعرفه في الدنيا فيسلم عليه إلا عَرَفَهُ ورد عليه السلام)</p>
<p>“<em>Tidak seorang pun melewati kuburan saudaranya yang mukmin yang dia kenal selama hidup di dunia, lalu orang yang lewat itu mengucapkan salam untuknya, kecuali dia mengetahuinya dan menjawab salamnya itu.</em>” (Hadis Shahih riwayat Ibnu Abdul Bar dari Ibnu Abbas di dalam kitab Al-Istidzkar dan At-Tamhid).</p>
<p>Nabi  shallallahu alaihi wasallam bersabda:</p>
<p>إن أعمالكم تعرض على أقاربكم وعشائركم من الأموات فإن كان خيرا استبشروا، وإن كان غير ذلك قالوا: اللهم لا تمتهم حتى تهديهم كما هديتنا)</p>
<p>&#8220;<em>Sesungguhnya perbuatan kalian diperlihatkan kepada karib-kerabat dan keluarga kalian yang telah meninggal dunia. Jika perbuatan kalian baik, maka mereka mendapatkan kabar gembira, namun jika selain daripada itu, maka mereka berkata: “Ya Allah, janganlah engkau matikan mereka sampai Engkau memberikan hidayah kepada mereka seperti engkau memberikan hidayah kepada kami</em>.” (HR. Ahmad dalam musnadnya).</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Wassalam</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Zon di Jonggol, Kab Bogor 16830</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Sumber inspirasi tulisan : http://salmanfiddin.wordpress.com/2010/09/18/sampaikah-kiriman-amal-dan-hadiah-bacaan-alquran-untuk-orang-mati/</p>
<br />Filed under: <a href='http://mutiarazuhud.wordpress.com/category/islam/'>Islam</a>, <a href='http://mutiarazuhud.wordpress.com/category/umum/'>Umum</a>  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/mutiarazuhud.wordpress.com/4626/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/mutiarazuhud.wordpress.com/4626/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/mutiarazuhud.wordpress.com/4626/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/mutiarazuhud.wordpress.com/4626/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/mutiarazuhud.wordpress.com/4626/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/mutiarazuhud.wordpress.com/4626/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/mutiarazuhud.wordpress.com/4626/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/mutiarazuhud.wordpress.com/4626/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/mutiarazuhud.wordpress.com/4626/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/mutiarazuhud.wordpress.com/4626/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/mutiarazuhud.wordpress.com/4626/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/mutiarazuhud.wordpress.com/4626/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/mutiarazuhud.wordpress.com/4626/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/mutiarazuhud.wordpress.com/4626/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=mutiarazuhud.wordpress.com&amp;blog=7078984&amp;post=4626&amp;subd=mutiarazuhud&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://mutiarazuhud.wordpress.com/2012/01/21/terputus-amalannya/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/da9e7464e9e3c4447f52e554f6476dfa?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">mutiarazuhud</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Mereka terhasut</title>
		<link>http://mutiarazuhud.wordpress.com/2012/01/19/mereka-terhasut/</link>
		<comments>http://mutiarazuhud.wordpress.com/2012/01/19/mereka-terhasut/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 19 Jan 2012 04:52:46 +0000</pubDate>
		<dc:creator>mutiarazuhud</dc:creator>
				<category><![CDATA[Islam]]></category>
		<category><![CDATA[Umum]]></category>
		<category><![CDATA[Anti]]></category>
		<category><![CDATA[Baik]]></category>
		<category><![CDATA[fikri]]></category>
		<category><![CDATA[ghazwul]]></category>
		<category><![CDATA[Ihsan]]></category>
		<category><![CDATA[jalan]]></category>
		<category><![CDATA[korban]]></category>
		<category><![CDATA[Mazhab]]></category>
		<category><![CDATA[menuju]]></category>
		<category><![CDATA[Mereka]]></category>
		<category><![CDATA[Muslim]]></category>
		<category><![CDATA[pemahaman]]></category>
		<category><![CDATA[perang]]></category>
		<category><![CDATA[ruhani]]></category>
		<category><![CDATA[Sholeh]]></category>
		<category><![CDATA[tarekat]]></category>
		<category><![CDATA[Tasawuf]]></category>
		<category><![CDATA[terhasut]]></category>
		<category><![CDATA[thariqoh]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://mutiarazuhud.wordpress.com/?p=4617</guid>
		<description><![CDATA[Mereka terhasut sudah terlampau jauh   Kami sangat menyayangkan tulisan atau komentar-komentar mereka yang dituliskan dengan kata-kata yang tidak patut bagi yang mengaku ittiba&#8217; li Rasulihi (mengikuti Rasulullah) Mereka sudah terlampau jauh termakan hasutan atau ghazwul fikiri (perang pemahaman) dari kaum Zionis Yahudi sehingga boleh jadi telah buta mata hatinya (ain bashiroh) sehingga hilang rasa [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=mutiarazuhud.wordpress.com&amp;blog=7078984&amp;post=4617&amp;subd=mutiarazuhud&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Mereka terhasut sudah terlampau jauh</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p>Kami sangat menyayangkan tulisan atau komentar-komentar mereka yang dituliskan dengan kata-kata yang tidak patut bagi yang mengaku ittiba&#8217; li Rasulihi (mengikuti Rasulullah)</p>
<p>Mereka sudah terlampau jauh termakan hasutan atau ghazwul fikiri (perang pemahaman) dari kaum Zionis Yahudi sehingga boleh jadi telah buta mata hatinya (ain bashiroh) sehingga hilang rasa takut bahwa Allah Azza wa Jalla melihat apa yang mereka tuliskan</p>
<p>Rasulullah bersabda, <em>‘Kamu takut (takhsya / khasyyah) kepada Allah seakan-akan kamu melihat-Nya, maka jika kamu tidak melihat-Nya maka sesungguhnya Dia melihatmu.</em>’ (HR Muslim 11)</p>
<p>Mereka seolah-olah bertasyabuh dengan orang-orang kafir. Orang kafir melihat seorang muslim melakukan teror bom maka mereka berpendapat bahwa muslim adalah teroris</p>
<p>Mereka melihat muslim mengaku menjalankan tasawuf namun tidak menjalankan perkara syariat , lalu mereka berpendapat tasawuf adalah sesat</p>
<p>atau</p>
<p>Mereka berpendapat tasawuf adalah sesat ditimbulkan karena mereka memahami perkataan-perkataan ulama tasawuf tidak menggunakan ilmu balaghoh karena perkataan-perkataan ulama tasawuf sarat dengan bahasa cinta</p>
<p>Memang ada orang yang mengaku-aku menjalankan tasawuf atau mengaku sebagai seorang sufi namun kenyataan mereka tidaklah seperti pengakuannya.</p>
<p>Kita jangan terpancing  dengan kata-kata dari komentar-komentar atau tulisan mereka yang menujukkan adab yang buruk sehingga melakukan hal yang serupa.  Ahmad Shodiq, MA-Dosen Akhlak &amp; Tasawuf, UIN Syarif Hidayatullah Jakarta mengutip perkataan Imam Syafi’i  ~rahimahullah yang menyatakan bahwa orang yang buruk itu seperti pantatnya dandang (tempat menanak nasi) yang hitam. Kata Imam Syafi’i, dia hitam, dan dia ingin menempelkannya ke kulit kita. Kalau kita terpancing, maka yang hitam itu dua. Jadi kalau sampai kita sadar bahwa ada ruhani yang tidak stabil, dan kita terpancing untuk tidak stabil, maka sesungguhnya yang terjadi adalah dua ketidakstabilan, karena kita terpancing. Selengkapnya uraian dosen Ahmad Shodiq tentang tasawuf dan pendidikan akhlak ada dalam tulisan pada <a href="http://mutiarazuhud.wordpress.com/2010/06/07/pendidikan-akhlak/">http://mutiarazuhud.wordpress.com/2010/06/07/pendidikan-akhlak/</a></p>
<p>Jangan pernah dengarkan perkataan, definisi  atau uraian tentang tasawuf dari ulama yang tidak menjalankan tasawuf</p>
<p>Tasawuf sejak dahulu kala di perguruan-perguruan tinggi Islam adalah tentang akhak atau tentang ihsan<br />
Tasawuf adalah jalan (thariqah) untuk mencapai muslim yang ihsan<br />
Tasawuf adalah upaya memperjalankan diri hingga sampai (wushul) kepadaNya<br />
Tasawuf adalah upaya untuk mencapai ma&#8217;rifat (menyaksikan Allah) tidak sekedar bersaksi dengan syahadah</p>
<p>Jika belum mencapai ma&#8217;rifat maka setiap kita akan bersikap atau melakukan perbuatan, ingatlah selalu perkataan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bahwa  &#8220;<em>Jika kamu tidak melihat-Nya maka sesungguhnya Dia melihatmu</em>.’ (HR Muslim 11)</p>
<p>Jika kita terhasut sehingga tidak menjalankan tasawuf maka kita semakin sulit menemukan keadaan sepert ini</p>
<p>Alkisah, Imam at-Thabari menceritakan, usai penaklukan kota Madain, datanglah seorang laki-laki kepada para petugas pengumpul harta rampasan perang. Ia membawa sejumlah harta yang mencengangkan.<br />
Petugas bertanya kepadanya, “Apakah kamu mengambil sebagian untukmu?”<br />
Laki-laki itu menjawab, “Tidak, demi Allah!” Jika bukan karena Allah, pastilah harta ini sudah aku gelapkan untukku.”<br />
Penasaran dengan jawaban itu, para petugas bertanya lagi, “Siapa nama kamu?”<br />
Dijawab si laki-laki, “Tidak, kalian tidak perlu tahu namaku agar kalian dan orang-orang lain tak memujiku. Aku sudah cukup bersyukur kepada Allah dan puas dengan ganjaran-Nya itu.” Setelah diselidiki, diketahuilah, laki-laki itu bernama Amir bin Abdi Qais.</p>
<p>Kenapa seorang muslim taat beribadah, sholat lima waktu berjama&#8217;ah, rajin menunaikan sholat sunnah, telah menunaikan ibadah haji, rajin berpuasa senin kamis, suka bersedekah namun mereka tetap melakukan perbuatan korupsi ?</p>
<p>Perbuatan korupsi dan perbuatan buruk lainnya terjadi dikarenakan mereka tidak menjalankan tasawuf atau tidak sampai pengetahuan tasawuf pada mereka</p>
<p>Kalau saja mereka menjalankan tasawuf,  setiap  akan bersikap atau melakukan perbuatan minimal mengingat perkataan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam  , &#8220;<em>jika kamu tidak melihat-Nya maka sesungguhnya Dia melihatmu</em>.’ (HR Muslim 11) , maka insyaallah mereka tidak akan melakukan korupsi atau perbuatan buruk lainnya karena mereka akan takut dengan Allah Azza wa Jalla yang selalu melihat  apapun  perbuatan mereka</p>
<p>Sekarang silahkan mereka pilih</p>
<p>Mengikuti ulama yang mengaku-aku mengikuti pemahaman Salafush Sholeh namun kenyataannya tidak bertalaqqi (mengaji) dengan Salafush Sholeh</p>
<p>atau</p>
<p>Mengikuti Imam Mazhab yang empat, pemimpin atau imam ijtihad kaum muslim pada umumnya (Imam Mujtahid Mutlak) yang bertalaqqi (mengaji) langsung dengan Salafush Sholeh. Imam Mazhab yang empat mengetahui dan mengikuti pemahaman Salafush Sholeh melalui lisannya Salafush Sholeh. Para Imam Mazhab yang empat melihat sendiri penerapan, perbuatan serta contoh nyata dari Salafush Sholeh.</p>
<p>Imam Mazhab yang empat menasehatkan  agar kaum muslim menjalankan perkara syariat sebagaimana yang mereka sampaikan dalam kitab fiqih mereka sekaligus menjalankan tasawuf untuk mencapai muslim yang Ihsan , muslim yang berakhlakul karimah</p>
<p>Imam Syafi’i ~rahimahullah menyampaikan nasehat (yang artinya) ,”<em>Berusahalah engkau menjadi seorang yang mempelajari ilmu fiqih dan juga menjalani tasawuf, dan janganlah kau hanya mengambil salah satunya. Sesungguhnya demi Allah saya benar-benar ingin memberikan nasehat padamu. Orang yang hanya mempelajari ilmu fiqih tapi tidak mahu menjalani tasawuf, maka hatinya tidak dapat merasakan kelazatan takwa. Sedangkan orang yang hanya menjalani tasawuf tapi tidak mahu mempelajari ilmu fiqih, maka bagaimana bisa dia menjadi baik (ihsan)?</em>” [Diwan Al-Imam Asy-Syafi'i, hal. 47]</p>
<p>Begitupula dengan nasehat Imam Malik ~rahimahullah bahwa menjalankan tasawuf agar manusia tidak rusak dan menjadi manusia berakhlak baik</p>
<p>Imam Malik ~rahimahullah menyampaikan nasehat (yang artinya) “<em>Dia yang sedang tasawuf tanpa mempelajari fikih (perkara syariat) rusak keimanannya , sementara dia yang belajar fikih tanpa mengamalkan Tasawuf rusaklah dia ., hanya dia siapa memadukan keduanya terjamin benar</em>” .</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Wassalam</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Zon di Jonggol, Kab Bogor 16830</p>
<br />Filed under: <a href='http://mutiarazuhud.wordpress.com/category/islam/'>Islam</a>, <a href='http://mutiarazuhud.wordpress.com/category/umum/'>Umum</a>  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/mutiarazuhud.wordpress.com/4617/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/mutiarazuhud.wordpress.com/4617/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/mutiarazuhud.wordpress.com/4617/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/mutiarazuhud.wordpress.com/4617/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/mutiarazuhud.wordpress.com/4617/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/mutiarazuhud.wordpress.com/4617/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/mutiarazuhud.wordpress.com/4617/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/mutiarazuhud.wordpress.com/4617/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/mutiarazuhud.wordpress.com/4617/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/mutiarazuhud.wordpress.com/4617/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/mutiarazuhud.wordpress.com/4617/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/mutiarazuhud.wordpress.com/4617/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/mutiarazuhud.wordpress.com/4617/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/mutiarazuhud.wordpress.com/4617/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=mutiarazuhud.wordpress.com&amp;blog=7078984&amp;post=4617&amp;subd=mutiarazuhud&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://mutiarazuhud.wordpress.com/2012/01/19/mereka-terhasut/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/da9e7464e9e3c4447f52e554f6476dfa?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">mutiarazuhud</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Abad 12 Hijriah</title>
		<link>http://mutiarazuhud.wordpress.com/2012/01/19/abad-12-hijriah/</link>
		<comments>http://mutiarazuhud.wordpress.com/2012/01/19/abad-12-hijriah/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 19 Jan 2012 04:47:30 +0000</pubDate>
		<dc:creator>mutiarazuhud</dc:creator>
				<category><![CDATA[Islam]]></category>
		<category><![CDATA[Umum]]></category>
		<category><![CDATA[belas]]></category>
		<category><![CDATA[dua]]></category>
		<category><![CDATA[hijriah]]></category>
		<category><![CDATA[kejadian]]></category>
		<category><![CDATA[Mazhab]]></category>
		<category><![CDATA[orang yahudi]]></category>
		<category><![CDATA[Riwayat]]></category>
		<category><![CDATA[Sejarah]]></category>
		<category><![CDATA[sekte]]></category>
		<category><![CDATA[Sholeh]]></category>
		<category><![CDATA[Wahabi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://mutiarazuhud.wordpress.com/?p=4615</guid>
		<description><![CDATA[Kejadian di abad kedua belas hijriah &#160; Berikut ini adalah tulisan tentang kisah sejarah sebuah sekte untuk kita ambil hikmahnya Firman Allah ta&#8217;ala, Wal tandhur nafsun ma qaddamat li ghad  “Perhatikan masa lampaumu untuk hari esokmu” (QS al Hasyr [59] : 18 ) Tulisan ini bukanlah ditujukan untuk membangkitkan rasa kebencian kepada sekte tersebut karena [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=mutiarazuhud.wordpress.com&amp;blog=7078984&amp;post=4615&amp;subd=mutiarazuhud&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Kejadian di abad kedua belas hijriah</strong></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Berikut ini adalah tulisan tentang kisah sejarah sebuah sekte untuk kita ambil hikmahnya</p>
<p>Firman Allah ta&#8217;ala, <em>Wal tandhur nafsun ma qaddamat li ghad  </em>“<em>Perhatikan masa lampaumu untuk hari esokmu</em>” (QS al Hasyr [59] : 18 )</p>
<p>Tulisan ini bukanlah ditujukan untuk membangkitkan rasa kebencian kepada sekte tersebut karena mereka adalah termasuk manusia yang telah bersyahadat namun mereka terkena hasutan atau ghazwul fikri (perang pemahaman) dari kaum Zionis Yahudi</p>
<p>Salah satu penghasutnya adalah perwira Yahudi Inggris bernama Edward Terrence Lawrence yang dikenal oleh ulama jazirah Arab sebagai Laurens Of Arabian. Laurens menyelidiki dimana letak kekuatan umat Islam dan berkesimpulan bahwa kekuatan umat Islam terletak kepada ketaatan dengan mazhab (bermazhab) dan istiqomah mengikuti tharikat-tharikat tasawuf. Laurens mengupah ulama-ulama yang anti tharikat dan anti mazhab untuk menulis buku buku yang menyerang tharikat dan mazhab. Buku tersebut diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa dan dibiayai oleh pihak orientalis.</p>
<p>Mereka terhasut untuk &#8220;meninggalkan&#8221; pemahaman Imam Mazhab yang empat, pemimpin atau imam ijtihad kaum muslim pada umumnya (Imam Mujtahid Mutlak) yang bertalaqqi (mengaji) langsung dengan Salafush Sholeh.  Imam Mazhab yang empat mengetahui dan mengikuti pemahaman Salafush Sholeh melalui lisannya Salafush Sholeh. Imam Mazhab yang empat melihat sendiri penerapan, perbuatan serta contoh nyata dari Salafush Sholeh.</p>
<p>Kaum Yahudi memang diciptakan oleh Allah Azza wa Jalla sebagaimana yang dikehendakiNya</p>
<p>Kaum Yahudi dan kaum musyrik, termasuk yang terjerumus kemusyrikan, terjerumus dalam kekufuran yang disebabkan oleh berbagai macam sebab, mereka mempunyai rasa permusuhan terhadap manusia yang telah bersyahadat</p>
<p>Firman Allah ta’ala yang artinya, “<em>orang-orang yang paling keras permusuhannya terhadap orang beriman adalah orang-orang Yahudi dan orang-orang musyrik</em>” ( QS Al Maaidah [5]: 82 )</p>
<p>Kalau kita telusuri hasutan-hasutan kaum Yahudi yang kita kenal pada zaman sekarang sebagai kaum Zionis Yahudi sudah berlangsung sejak dahulu kala , sejak mereka berpaling dari kitab Taurat dan selanjutnya mereka berkeinginan untuk membunuh para Nabi, termasuk keinginan mereka untuk membunuh Nabi Isa a.s. Dilanjutkan membunuh para pengikut para Nabi baik dengan “tangan” mereka langsung atau melalui “tangan” seorang muslim yang mereka hasut sehingga terjadi pembunuhan di antara sesama muslim sebagaimana yang terjadi dalam pembunuhan terhadap Sayyidina Utsman bin Affan ra, Sayyidinna Ali bin Abi Thalib ra, Sayyidina Husein bin Ali ra dll</p>
<p>Hal yang harus kita ingat bahwa apapun yang telah terjadi adalah atas kehendak Allah Azza wa Jalla juga. Jadi kita, kaum muslim pada umumnya menghadapi segala kehendakNya dengan sikap dan perbuatan yang dicintaiNya.</p>
<p>Tujuan kita adalah meluruskan kesalahpahaman-kesalahpahaman mereka karena Allah ta&#8217;ala semata dengan mengembalikan mereka untuk mengikuti pemahaman Imam Mazhab yang empat serta mengikuti penjelasan-penjelasan dari ulama-ulama terdahulu pengikut Imam Mazhab yang empat sambil merujuk darimana para Imam Mazhab yang empat mengambilnya yakni Al Qur&#8217;an dan As Sunnah.</p>
<p>Mereka adalah sekte yang terkenal dengan perbuatan mengada-ada di dalam agama atau di dalam perkara syariat yakni mengada-ada perkara larangan yang jika dilanggar berdosa maupun mengada-ada perkara kewajiban yang jika ditinggalkan berdosa. Padahal perkara agama atau perkara syariat telah sempurna.</p>
<p>Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda, “<em>Tidak tertinggal sedikitpun  yang mendekatkan kamu dari surga dan menjauhkanmu dari neraka melainkan telah dijelaskan bagimu</em> ” (HR Ath Thabraani dalam Al Mu’jamul Kabiir no. 1647)</p>
<p>“mendekatkan dari surga” = perkara kewajiban (ditinggalkan berdosa)<br />
“menjauhkan dari neraka” = perkara larangan  dan perkara pengharaman (dikerjakan berdosa)</p>
<p>Mereka mengada-ada dalam perkara larangan dan kewajiban hingga mereka memerangi kaum muslim pada umumnya.</p>
<p>Dari Ibnu ‘Abbas r.a. berkata Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda, “Sesungguhnya di masa kemudian akan ada peperangan di antara orang-orang yang beriman.” Seorang Sahabat bertanya: “Mengapa kita (orang-orang yang beriman) memerangi orang yang beriman, yang mereka itu sama berkata: ‘Kami telah beriman’.” Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Ya, karena mengada-adakan di dalam agama (mengada-ada dalam perkara yang merupakan hak Allah ta’ala menetapkannya yakni perkara kewajiban, larangan dan pengharaman) , apabila mereka mengerjakan agama dengan pemahaman berdasarkan akal pikiran, padahal di dalam agama itu tidak ada pemahaman berdasarkan akal pikiran, sesungguhnya agama itu dari Tuhan, perintah-Nya dan larangan-Nya.” (Hadits riwayat Ath-Thabarani)</p>
<p>Al-Allamah Sayyid Alwi bin Ahmad bin Hasan bin Al-Quthub Abdullah Al-Haddad menyebutkan dalam kitabnya Jala&#8217;udz Dzolam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Abbas bin Abdul Muthalib dari Nabi Shallallahu alaihi wasallam: &#8220;<em>Akan keluar di abad kedua belas nanti di lembah BANY HANIFAH seorang lelaki, yang tingkahnya bagaikan sapi jantan (sombong), lidahnya selalu menjilat bibirnya yang besar, pada zaman itu banyak terjadi kekacauan, mereka menghalalkan harta kaum muslimin, diambil untuk berdagang dan menghalalkan darah kaum muslimin</em>&#8221; (Al Hadits)</p>
<p>BANY HANIFAH adalah kaum nabi palsu Musailamah Al-Kadzdzab dan Muhammad bin Saud. Kemudian dalam kitab tersebut Sayyid Alwi menyebutkan bahwa orang yang tertipu ini tiada lain ialah Muhammad bin Abdul Wahab.</p>
<p>Dikatakan tertipu karena penguasa Muhammad bin Saud dapat &#8220;memperalat&#8221; ulama Muhammad bin Abdul Wahhab</p>
<p>Penguasa Muhammad bin Saud membutuhkan seorang ulama yang dapat mengisi rakyatnya dengan ideologi yang keras, demi untuk memperkokoh pemerintahan dan kekuasaannya.</p>
<p>Padahal ulama dilarang mendatangi pintu penguasa karena mereka akan sukar menegakkan kebenaran. Fatwanya bisa jadi merupakan pembenaran terhadap keinginan/hawa nafsu penguasa.</p>
<p>Diriwayatkan dari Ibnu Abbas r.a, dari Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda “<em>barangsiapa mendatangi pintu penguasa maka ia akan terfitnah</em>” ( HR Abu Dawud [2859]).</p>
<p>Diriwayatkan dari Abu Anwar as-Sulami r.a, ia berkata, “<em>Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda, ‘Jauhilah pintu-pintu penguasa, karena akan menyebabkan kesulitan dan kehinaan‘</em>,”</p>
<p>Pendiri ajaran wahabiyah, ulama Muhammad bin Abdul Wahhab meninggal tahun 1206 H / 1792 M, seorang ulama mencatat tahunnya dengan hitungan Abjad: Ba daa halaakul khobiits (Telah nyata kebinasaan Orang yang Keji)</p>
<p>Berikut adalah informasi dari ulama-ulama bermazhab tentang keadaan di abad kedua belas hijriah</p>
<p>Dari kalangan ulama madzhab al-Maliki, al-Imam Ahmad bin Muhammad al-Shawi al-Maliki, ulama terkemuka abad 12 Hijriah dan semasa dengan pendiri Wahhabi, berkata dalam Hasyiyah ‘ala Tafsir al-Jalalain sebagai berikut:</p>
<p>هَذِهِ اْلآَيَةُ نَزَلَتْ فِي الْخَوَارِجِ الَّذِيْنَ يُحَرِّفُوْنَ تَأْوِيْلَ الْكِتَابِ وَالسُّنَّةِ وَيَسْتَحِلُّوْنَ بِذَلِكَ دِمَاءَ الْمُسْلِمِيْنَ وَأَمْوَالَهُمْ كَمَا هُوَ مُشَاهَدٌ اْلآَنَ فِيْ نَظَائِرِهِمْ وَهُمْ فِرْقَةٌ بِأَرْضِ الْحِجَازِ يُقَالُ لَهُمُ الْوَهَّابِيَّةُ يَحْسَبُوْنَ أَنَّهُمْ عَلىَ شَيْءٍ أَلاَ إِنَّهُمْ هُمُ الْكَاذِبُوْنَ. (حاشية الصاوي على تفسير الجلالين، ٣/٣٠٧).</p>
<p>“Ayat ini turun mengenai orang-orang Khawarij, yaitu mereka yang mendistorsi penafsiran al-Qur’an dan Sunnah, dan oleh sebab itu mereka menghalalkan darah dan harta benda kaum Muslimin sebagaimana yang terjadi dewasa ini pada golongan mereka, yaitu kelompok di negeri Hijaz yang disebut dengan aliran Wahhabiyah, mereka menyangka bahwa mereka akan memperoleh sesuatu (manfaat), padahal merekalah orang-orang pendusta.” (Hasyiyah al-Shawi ‘ala Tafsir al-Jalalain, juz 3, hal. 307).</p>
<p>Dari kalangan ulama madzhab Hanafi, al-Imam Muhammad Amin Afandi yang populer dengan sebutan Ibn Abidin, juga berkata dalam kitabnya, Hasyiyah Radd al-Muhtar sebagai berikut:</p>
<p>“مَطْلَبٌ فِي أَتْبَاعِ مُحَمَّدِ بْنِ عَبْدِ الْوَهَّابِ الْخَوَارِجِ فِيْ زَمَانِنَا :كَمَا وَقَعَ فِيْ زَمَانِنَافِيْ أَتْبَاعِ ابْنِ عَبْدِ الْوَهَّابِ الَّذِيْنَ خَرَجُوْا مِنْ نَجْدٍ وَتَغَلَّبُوْا عَلَى الْحَرَمَيْنِ وَكَانُوْايَنْتَحِلُوْنَ مَذْهَبَ الْحَنَابِلَةِ لَكِنَّهُمْ اِعْتَقَدُوْا أَنَّهُمْ هُمُ الْمُسْلِمُوْنَ وَأَنَّ مَنْ خَالَفَاعْتِقَادَهُمْ مُشْرِكُوْنَ وَاسْتَبَاحُوْا بِذَلِكَ قَتْلَ أَهْلِ السُّنَّةِ وَقَتْلَ عُلَمَائِهِمْ حَتَى كَسَرَ اللهُشَوْكَتَهُمْ وَخَرَبَ بِلاَدَهُمْ وَظَفِرَ بِهِمْ عَسَاكِرُ الْمُسْلِمِيْنَ عَامَ ثَلاَثٍ وَثَلاَثِيْنَ وَمِائَتَيْنِوَأَلْفٍ.” اهـ (ابن عابدين، حاشية رد المحتار، ٤/٢٦٢).</p>
<p>“Keterangan tentang pengikut Muhammad bin Abdul Wahhab, kaum Khawarij pada masa kita. Sebagaimana terjadi pada masa kita, pada pengikut Ibn Abdil Wahhab yang keluar dari Najd dan berupaya keras menguasai dua tanah suci. Mereka mengikuti madzhab Hanabilah. Akan tetapi mereka meyakini bahwa mereka saja kaum Muslimin, sedangkan orang yang berbeda dengan keyakinan mereka adalah orang-orang musyrik. Dan oleh sebab itu mereka menghalalkan membunuh Ahlussunnah dan para ulamanya sampai akhirnya Allah memecah kekuatan mereka, merusak negeri mereka dan dikuasai oleh tentara kaum Muslimin pada tahun 1233 H.” (Ibn Abidin, Hasyiyah Radd al-Muhtar ‘ala al-Durr al-Mukhtar, juz 4, hal. 262).</p>
<p>Dari kalangan ulama madzhab Hanbali, al-Imam Muhammad bin Abdullah bin Humaid al-Najdi berkata dalam kitabnya al-Suhub al-Wabilah ‘ala Dharaih al-Hanabilah ketika menulis biografi Syaikh Abdul Wahhab, ayah pendiri Wahhabi, sebagai berikut:</p>
<p>عَبْدُ الْوَهَّابِ بْنُ سُلَيْمَانَ التَّمِيْمِيُّ النَّجْدِيُّ وَهُوَ وَالِدُ صَاحِبِ الدَّعْوَةِ الَّتِيْ انْتَشَرَشَرَرُهَا فِي اْلأَفَاقِ لَكِنْ بَيْنَهُمَا تَبَايُنٌ مَعَ أَنَّ مُحَمَّدًا لَمْ يَتَظَاهَرْ بِالدَّعْوَةِ إِلاَّ بَعْدَمَوْتِ وَالِدِهِ وَأَخْبَرَنِيْ بَعْضُ مَنْ لَقِيْتُهُ عَنْ بَعْضِ أَهْلِ الْعِلْمِ عَمَّنْ عَاصَرَ الشَّيْخَ عَبْدَالْوَهَّابِ هَذَا أَنَّهُ كَانَ غَاضِبًا عَلىَ وَلَدِهِ مُحَمَّدٍ لِكَوْنِهِ لَمْ يَرْضَ أَنْ يَشْتَغِلَ بِالْفِقْهِكَأَسْلاَفِهِ وَأَهْلِ جِهَتِهِ وَيَتَفَرَّسُ فِيْه أَنَّهُ يَحْدُثُ مِنْهُ أَمْرٌ .فَكَانَ يَقُوْلُ لِلنَّاسِ: يَا مَا تَرَوْنَ مِنْ مُحَمَّدٍ مِنَ الشَّرِّ فَقَدَّرَ اللهُ أَنْ صَارَ مَاصَارَ وَكَذَلِكَ ابْنُهُ سُلَيْمَانُ أَخُوْ مُحَمَّدٍ كَانَ مُنَافِيًا لَهُ فِيْ دَعْوَتِهِ وَرَدَّ عَلَيْهِ رَدًّا جَيِّداًبِاْلآَياَتِ وَاْلآَثاَرِ وَسَمَّى الشَّيْخُ سُلَيْمَانُ رَدَّهُ عَلَيْهِ ( فَصْلُ الْخِطَابِ فِي الرَّدِّ عَلىَمُحَمَّدِ بْنِ عَبْدِ الْوَهَّابِ ) وَسَلَّمَهُ اللهُ مِنْ شَرِّهِ وَمَكْرِهِ مَعَ تِلْكَ الصَّوْلَةِ الْهَائِلَةِ الَّتِيْأَرْعَبَتِ اْلأَبَاعِدَ فَإِنَّهُ كَانَ إِذَا بَايَنَهُ أَحَدٌ وَرَدَّ عَلَيْهِ وَلَمْ يَقْدِرْ عَلَى قَتْلِهِ مُجَاهَرَةًيُرْسِلُ إِلَيْهِ مَنْ يَغْتَالُهُ فِيْ فِرَاشِهِ أَوْ فِي السُّوْقِ لَيْلاً لِقَوْلِهِ بِتَكْفِيْرِ مَنْ خَالَفَهُوَاسْتِحْلاَلِ قَتْلِهِ. اهـ (ابن حميد النجدي، السحب الوابلة على ضرائح الحنابلة، ٢٧٥).</p>
<p>“Abdul Wahhab bin Sulaiman al-Tamimi al-Najdi, adalah ayah pembawa dakwah Wahhabiyah, yang percikan apinya telah tersebar di berbagai penjuru. Akan tetapi antara keduanya terdapat perbedaan. Padahal Muhammad (pendiri Wahhabi) tidak terang-terangan berdakwah kecuali setelah meninggalnya sang ayah. Sebagian ulama yang aku jumpai menginformasikan kepadaku, dari orang yang semasa dengan Syaikh Abdul Wahhab ini, bahwa beliau sangat murka kepada anaknya, karena ia tidak suka belajar ilmu fiqih seperti para pendahulu dan orang-orang di daerahnya. Sang ayah selalu berfirasat tidak baik tentang anaknya pada masa yang akan datang. Beliau selalu berkata kepada masyarakat, “Hati-hati, kalian akan menemukan keburukan dari Muhammad.” Sampai akhirnya takdir Allah benar-benar terjadi. Demikian pula putra beliau, Syaikh Sulaiman (kakak Muhammad bin Abdul Wahhab), juga menentang terhadap dakwahnya dan membantahnya dengan bantahan yang baik berdasarkan ayat-ayat al-Qur’an dan hadits-hadits Nabi shallallahu alaihi wa sallam. Syaikh Sulaiman menamakan bantahannya dengan judul Fashl al-Khithab fi al-Radd ‘ala Muhammad bin Abdul Wahhab. Allah telah menyelamatkan Syaikh Sulaiman dari keburukan dan tipu daya adiknya meskipun ia sering melakukan serangan besar yang mengerikan terhadap orang-orang yang jauh darinya. Karena setiap ada orang yang menentangnya, dan membantahnya, lalu ia tidak mampu membunuhnya secara terang-terangan, maka ia akan mengirim orang yang akan menculik dari tempat tidurnya atau di pasar pada malam hari karena pendapatnya yang mengkafirkan dan menghalalkan membunuh orang yang menyelisihinya.” (Ibn Humaid al-Najdi, al-Suhub al-Wabilah ‘ala Dharaih al-Hanabilah, hal. 275).</p>
<p>Inilah berita sedih dan memprihatinkan bagi peradaban Islam dan sejarah peradaban umat manusia secara umum.</p>
<p>Pemerintahan Wahabi Arab Saudi telah menghancurkan ratusan situs/tempat sejarah Islam yang telah berusia 14 abad. Semua ini dilakukan semata-mata demi uang dan modernisasi walaupun dibungkus dengan ‘dalil-dalil agama’ versi mereka, bukan dalil-dalil agama yang difatwakan oleh jumhur ulama umat Islam dunia.</p>
<p>Bagaimana bisa dibiarkan begitu saja sepak terjang kaum Wahabi yang merupakan kelompok sangat minoritas dari umat Islam secara keseluruhan ini untuk mengobok-obok warisan peradaban Islam tanpa izin atau musyawarah dulu dengan mayoritas umat Islam dunia ?</p>
<p>Inilah yang akhirnya terjadi ketika orang-orang Arab Badui Nejed menguasai tanah suci Mekah-Madinah setelah berhasil memberontak dari Kekhilafahan Usmani (Ottoman Empire). Pemberontakan yang disokong Inggris ini akhirnya berujung pembentukan negara baru yang bernama Kerajaan Saudi Arabia yang wilayahnya meliputi kawasan Hijaz dan sekitarnya, termasuk dua tanah suci Mekah dan Madinah. Kaum Quraisy yang penduduk asli Mekah pun lama-kelamaan kian tersingkir. Bahkan bani Hasyim juga telah dipaksa bermigrasi ke Yordania (dengan skenario Inggris).</p>
<p>Kini Mekah dan Madinah sudah tak sama lagi dengan Mekah dan Madinah yang kita baca di buku-buku sejarah Islam. Suasana sakralnya makin tergerus oleh suasana hedonisme ala Amerika.</p>
<p>Dulu ketika kaum pemberontak Wahabi Nejed ini berhasil menguasai kota suci Mekah dan Madinah setelah mengalahkan pasukan pemerintah Khilafah Usmani, maka para ulama di Nusantara ini pun segera merespons dengan pembentukan ‘Komisi Hijaz’. Respons ini karena para pemberontak Wahabi tersebut telah mulai melakukan perusakan dan penghancuran situs-situs sejarah Islam yang mereka temui di kedua kota suci tersebut.</p>
<p>Namun lama-kelamaan karena kerajaan Wahabi Saudi Arabia ini makin eksis (apalagi dengan dukungan penuh dari Amerika dan Inggris) maka respons tersebut kian kendur. Dan tak terasa sudah sekitar 300 situs sejarah peradaban Islam yang mereka hancurkan.</p>
<p>Berikut kami kutip dari berbagai sumber tentang sekte Wahabi dan perkembangannya</p>
<p>************ awal kutipan **********</p>
<p>Sejak semula Muhammad bin Abdul Wahab sangat gemar mempelajari sejarah nabi-nabi palsu, seperti Musailamah Al-Kadzdzab, Aswad Al-Ansiy, Tulaihah Al-Asadiy dll. Agaknya dia punya keinginan mengaku nabi, ini tampak sekali ketika ia menyebut para pengikut dari daerahnya dengan julukan Al-Anshar, sedangkan pengikutnya dari luar daerah dijuluki Al-Muhajirin.</p>
<p>Kalau seseorang ingin menjadi pengikutnya, dia harus mengucapkan dua syahadat di hadapannya kemudian harus mengakui bahwa sebelum masuk Wahabi dirinya adalah musyrik, begitu pula kedua orang tuanya. Dia juga diharuskan mengakui bahwa para ulama besar sebelumnya telah mati kafir. Kalau mau mengakui hal tersebut dia diterima menjadi pengikutnya, kalau tidak dia pun langsung dibunuh.</p>
<p>Muhammad bin Abdul Wahab juga sering merendahkan Nabi <em>Shallallahu &#8216;Alaihi wa Sallam</em> dengan dalih pemurnian akidah, dia juga membiarkan para pengikutnya melecehkan Nabi di hadapannya, sampai-sampai seorang pengikutnya berkata: “Tongkatku ini masih lebih baik dari Muhammad, karena tongkat-ku masih bisa digunakan membunuh ular, sedangkan Muhammad telah mati dan tidak tersisa manfaatnya sama sekali.</p>
<p>Muhammad bin Abdul Wahab di hadapan pengikutnya tak ubahnya seperti Nabi di hadapan umatnya. Pengikutnya semakin banyak dan wilayah kekuasaan semakin luas. Keduanya bekerja sama untuk memberantas tradisi yang dianggapnya keliru dalam masyarakat Arab, seperti tawassul, ziarah kubur, peringatan Maulid dan sebagainya.</p>
<p>Tak mengherankan bila para pengikut Muhammad bin Abdul Wahab lantas menyerang makam-makam yang mulia. Bahkan, pada 1802, mereka menyerang Karbala-Irak, tempat dikebumikan jasad cucu Nabi Muhammad <em>Shallallahu &#8216;Alaihi wa Sallam, Husein </em>bin Ali bin Abi Thalib. Karena makam tersebut dianggap tempat munkar yang berpotensi syirik kepada Allah. Dua tahun kemudian, mereka menyerang Madinah, menghancurkan kubah yang ada di atas kuburan, menjarah hiasan-hiasan yang ada di Hujrah Nabi Muhammad.</p>
<p>Keberhasilan menaklukkan Madinah berlanjut. Mereka masuk ke Mekkah pada 1806, dan merusak kiswah, kain penutup Ka’bah yang terbuat dari sutra. Kemudian merobohkan puluhan kubah di Ma’la, termasuk kubah tempat kelahiran Nabi <em>Shallallahu &#8216;Alaihi wa Sallam,</em> tempat kelahiran Sayyidina Abu Bakar dan Sayyidina Ali, juga kubah Sayyidatuna Khadijah, masjid Abdullah bin Abbas. Mereka terus menghancurkan masjid-masjid dan tempat-tempat kaum solihin sambil bersorak-sorai, menyanyi dan diiringi tabuhan kendang. Mereka juga mencaci-maki ahli kubur bahkan sebagian mereka kencing di kubur kaum salihin tersebut.</p>
<p>Gerakan kaum Wahabi ini membuat Sultan Mahmud II, penguasa Kerajaan Usmani, Istanbul-Turki, murka. Dikirimlah prajuritnya yang bermarkas di Mesir, di bawah pimpinan Muhammad Ali, untuk melumpuhkannya. Pada 1813, Madinah dan Mekkah bisa direbut kembali. Gerakan Wahabi surut. Tapi, pada awal abad ke-20, Abdul Aziz bin Sa’ud bangkit kembali mengusung paham Wahabi. Tahun 1924, ia berhasil menduduki Mekkah, lalu ke Madinah dan Jeddah, memanfaatkan kelemahan Turki akibat kekalahannya dalam Perang Dunia I. Sejak itu, hingga kini, paham Wahabi mengendalikan pemerintahan di Arab Saudi.</p>
<p>Dewasa ini pengaruh gerakan Wahabi bersifat global. Riyadh mengeluarkan jutaan dolar AS setiap tahun untuk menyebarkan ideologi Wahabi. Sejak hadirnya Wahabi, dunia Islam tidak pernah tenang penuh dengan pergolakan pemikiran, sebab kelompok ekstrem itu selalu menghalau pemikiran dan pemahaman agama Sunni-Syafi’i yang sudah mapan.</p>
<p>Kekejaman dan kejahilan Wahabi lainnya adalah meruntuhkan kubah-kubah di atas makam sahabat-sahabat Nabi <em>Shallallahu &#8216;Alaihi wa Sallam</em> yang berada di Ma’la (Mekkah), di Baqi’ dan Uhud (Madinah) semuanya diruntuhkan dan diratakan dengan tanah dengan mengunakan dinamit penghancur. Demikian juga kubah di atas tanah Nabi <em>Shallallahu &#8216;Alaihi wa Sallam</em> dilahirkan, yaitu di Suq al Leil diratakan dengan tanah dengan menggunakan dinamit dan dijadikan tempat parkir onta, namun karena gencarnya desakan kaum Muslimin International maka dibangun perpustakaan. Kaum Wahabi benar-benar tidak pernah menghargai peninggalan sejarah dan menghormati nilai-nilai luhur Islam.</p>
<p>Semula AI-Qubbatul Khadra (kubah hijau) tempat Nabi Muhammad <em>Shallallahu &#8216;Alaihi wa Sallam</em> dimakamkan juga akan dihancurkan dan diratakan dengan tanah tapi karena ancaman International maka orang-orang biadab itu menjadi takut dan mengurungkan niatnya. Begitu pula seluruh rangkaian yang menjadi manasik haji akan dimodifikasi termasuk maqom Ibrahim akan digeser tapi karena banyak yang menentangnya maka diurungkan.</p>
<p>Pengembangan kota suci Makkah dan Madinah akhir-akhir ini tidak mempedulikan situs-situs sejarah Islam. Makin habis saja bangunan yang menjadi saksi sejarah Rasulullah <em>Shallallahu &#8216;Alaihi wa Sallam</em> dan sahabatnya. Bangunan itu dibongkar karena khawatir dijadikan tempat keramat. Bahkan sekarang, tempat kelahiran Nabi <em>Shallallahu &#8216;Alaihi wa Sallam</em> terancam akan dibongkar untuk perluasan tempat parkir. Sebelumnya, rumah Rasulullah pun sudah lebih dulu digusur. Padahal, disitulah Rasulullah berulang-ulang menerima wahyu. Di tempat itu juga putra-putrinya dilahirkan serta Khadijah meninggal</p>
<p>Islam dengan tafsiran kaku yang dipraktikkan Wahabisme paling punya andil dalam pemusnahan ini. Kaum Wahabi memandang situs-situs sejarah itu bisa mengarah kepada pemujaan berhala baru.  Pada bulan Juli yang lalu, Sami Angawi, pakar arsitektur Islam di wilayah tersebut mengatakan bahwa beberapa bangunan dari era Islam kuno terancam musnah. Pada lokasi bangunan berumur 1.400 tahun Itu akan dibangun jalan menuju menara tinggi yang menjadi tujuan ziarah jamaah haji dan umrah.</p>
<p>“Saat ini kita tengah menyaksikan saat-saat terakhir sejarah Makkah. Bagian bersejarahnya akan segera diratakan untuk dibangun tempat parkir,” katanya kepada Reuters. Angawi menyebut setidaknya 300 bangunan bersejarah di Makkah dan Madinah dimusnahkan selama 50 tahun terakhir. Bahkan sebagian besar bangunan bersejarah Islam telah punah semenjak Arab Saudi berdiri pada 1932. Hal tersebut berhubungan dengan maklumat yang dikeluarkan Dewan Keagamaan Senior Kerajaan pada tahun 1994. Dalam maklumat tersebut tertulis, “Pelestarian bangunan bangunan bersejarah berpotensi menggiring umat Muslim pada penyembahan berhala.” (Mirip Masonic bukan?)</p>
<p>Nasib situs bersejarah Islam di Arab Saudi memang sangat menyedihkan. Mereka banyak menghancurkan peninggalan-peninggalan Islam sejak masa Ar-Rasul <em>Shallallahu &#8216;Alaihi wa Sallam.</em> Semua jejak jerih payah Rasulullah itu habis oleh modernisasi ala Wahabi. Sebaliknya mereka malah mendatangkan para arkeolog (ahli purbakala) dari seluruh dunia dengan biaya ratusan juta dollar untuk menggali peninggalan-peninggalan sebelum Islam baik yang dari kaum jahiliyah maupun sebelumnya dengan dalih obyek wisata. Kemudian dengan bangga mereka menunjukkan bahwa zaman pra Islam telah menunjukkan kemajuan yang luar biasa, tidak diragukan lagi ini merupakan pelenyapan bukti sejarah yang akan menimbulkan suatu keraguan di kemudian hari.</p>
<p>Gerakan Wahabi dimotori oleh para juru dakwah yang radikal dan ekstrim, mereka menebarkan kebencian permusuhan dan didukung oleh keuangan yang cukup besar. Mereka gemar menuduh golongan Islam yang tak sejalan dengan mereka dengan tuduhan kafir, syirik dan ahli bid’ah. Itulah ucapan yang selalu didengungkan di setiap kesempatan, mereka tak pernah mengakui jasa para ulama Islam manapun kecuali kelompok mereka sendiri.</p>
<p>Di negeri kita ini mereka menaruh dendam dan kebencian mendalam kepada para Wali Songo yang menyebarkan dan meng-Islam-kan penduduk negeri ini.</p>
<p>Mereka mengatakan ajaran para wali itu masih kecampuran kemusyrikan Hindu dan Budha, padahal para Wali itu telah meng-Islam-kan 90 % penduduk negeri ini. Mampukah Wahabi-wahabi itu meng-Islam-kan yang 10% sisanya? Mempertahankan yang 90 % dari terkaman orang kafir saja tak bakal mampu, apalagi mau menambah 10 % sisanya. Justru mereka dengan mudahnya mengkafirkan orang-orang yang dengan nyata bertauhid kepada Allah <em>Subhanahu wa Ta&#8217;ala.</em> Jika bukan karena Rahmat Allah yang mentakdirkan para Wali Songo untuk berdakwah ke negeri kita ini, tentu orang-orang yang menjadi corong kaum Wahabi itu masih berada dalam kepercayaan animisme, penyembah berhala atau masih kafir. (Naudzu billah min dzalik).</p>
<p>Oleh karena itu janganlah dipercaya kalau mereka mengaku-aku sebagai faham yang hanya berpegang teguh pada Al-Qur’an dan As-Sunnah. Mereka berdalih mengikuti keteladanan kaum salaf apalagi mengaku sebagai golongan yang selamat dan sebagainya, itu semua omong kosong belaka. Mereka telah menorehkan catatan hitam dalam sejarah dengan membantai ribuan orang di Makkah dan Madinah serta daerah lain di wilayah Hijaz (yang sekarang dinamakan Saudi). Tidakkah anda ketahui bahwa yang terbantai waktu itu terdiri dari para ulama yang shaleh dan alim, bahkan anak-anak serta balita pun mereka bantai di hadapan ibunya. Tragedi berdarah ini terjadi sekitar tahun 1805. Semua itu mereka lakukan dengan dalih memberantas bid’ah, padahal bukankah nama Saudi sendiri adalah suatu nama bid’ah” Karena nama negeri Rasulullah <em>Shallallahu &#8216;Alaihi wa Sallam</em> diganti dengan nama satu keluarga kerajaan pendukung faham wahabi yaitu As-Sa’ud.</p>
<p>******* akhir kutipan ******</p>
<p>Berikut kisah yang disampaikan turun temurun dari keturunan Syeikh Nawawi bin Umar Al-Bantani,  bersumber dari: <a href="http://www.facebook.com/photo.php?fbid=220630637981571&amp;set=a.220630511314917.56251.100001039095629">http://www.facebook.com/photo.php?fbid=220630637981571&amp;set=a.220630511314917.56251.100001039095629</a></p>
<p>****** awal kutipan *****</p>
<p>Pada zaman dahulu di kota Mekkah keluarga Syeikh Nawawi bin Umar Al-Bantani (pujangga Indonesia dan makamnya di Ma&#8217;la Mekkah Saudi Arabia) pun tidak luput dari sasaran pembantaian Wahabi. Ketika salah seorang keluarga beliau bernama Syeikh Ahmad Hadi asal Jaha Cilegon Banten sedang duduk memangku cucunya, tiba-tiba gerombolan Wahabi datang memasuki rumahnya tanpa diundang dan dengan kejamnya mereka langsung membantai dengan cara menyembelihnya hingga tewas. Dalam pembantaian (penyembelihan) itu darah Syeikh Ahmad Hadi mengalir membasahi tubuh cucunya yang masih kecil yang sedang berada dalam pangkuannya.</p>
<p>Sedangkan keluarga Syeikh Nawawi Al-Bantany yang lainnya dari golongan laki-laki dikejar-kejar oleh gerombolan Wahabi untuk dihabisi dan dibunuh. Alhamdulillah Allah swt masih melindungi mereka, sehingga mereka selamat sampai ke tanah air Indonesia dengan cara menyamar sebagai perempuan.</p>
<p>******* akhir kutipan ******</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Wassalam</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Zon di Jonggol, Kab Bogor 16830</p>
<br />Filed under: <a href='http://mutiarazuhud.wordpress.com/category/islam/'>Islam</a>, <a href='http://mutiarazuhud.wordpress.com/category/umum/'>Umum</a>  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/mutiarazuhud.wordpress.com/4615/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/mutiarazuhud.wordpress.com/4615/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/mutiarazuhud.wordpress.com/4615/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/mutiarazuhud.wordpress.com/4615/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/mutiarazuhud.wordpress.com/4615/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/mutiarazuhud.wordpress.com/4615/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/mutiarazuhud.wordpress.com/4615/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/mutiarazuhud.wordpress.com/4615/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/mutiarazuhud.wordpress.com/4615/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/mutiarazuhud.wordpress.com/4615/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/mutiarazuhud.wordpress.com/4615/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/mutiarazuhud.wordpress.com/4615/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/mutiarazuhud.wordpress.com/4615/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/mutiarazuhud.wordpress.com/4615/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=mutiarazuhud.wordpress.com&amp;blog=7078984&amp;post=4615&amp;subd=mutiarazuhud&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://mutiarazuhud.wordpress.com/2012/01/19/abad-12-hijriah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/da9e7464e9e3c4447f52e554f6476dfa?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">mutiarazuhud</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Bertemu Datuk</title>
		<link>http://mutiarazuhud.wordpress.com/2012/01/19/bertemu-datuk/</link>
		<comments>http://mutiarazuhud.wordpress.com/2012/01/19/bertemu-datuk/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 19 Jan 2012 00:27:54 +0000</pubDate>
		<dc:creator>mutiarazuhud</dc:creator>
				<category><![CDATA[Islam]]></category>
		<category><![CDATA[Umum]]></category>
		<category><![CDATA[Bertemu]]></category>
		<category><![CDATA[cucu]]></category>
		<category><![CDATA[datuk]]></category>
		<category><![CDATA[Keturunan]]></category>
		<category><![CDATA[maulid]]></category>
		<category><![CDATA[rasulullah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://mutiarazuhud.wordpress.com/?p=4621</guid>
		<description><![CDATA[Bertemu Datuk (Didikan Ibunda al-Habib ‘Ali bin Muhammad al-Habsyi (Shohibul Maulid) Untuk Cinta Nabi Shallallahu alaihi wasallam) Oleh: al-Habib ‘Ali Ridlo bin Luqman al-Kaff Di waktu umur Habibana ‘Ali bin Muhammad al-Habsyi 7 tahun, ibunda beliau memanggil beliau dan berkata, “Yaa ‘Ali, engkau mau dapat ridlo ku tidak di dunia dan akhirat..?” “Iya, ya ummii..” [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=mutiarazuhud.wordpress.com&amp;blog=7078984&amp;post=4621&amp;subd=mutiarazuhud&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Bertemu Datuk </strong></p>
<p>(Didikan Ibunda al-Habib ‘Ali bin Muhammad al-Habsyi (Shohibul Maulid) Untuk Cinta Nabi Shallallahu alaihi wasallam)</p>
<p>Oleh: al-Habib ‘Ali Ridlo bin Luqman al-Kaff</p>
<p>Di waktu umur Habibana ‘Ali bin Muhammad al-Habsyi 7 tahun, ibunda beliau memanggil beliau dan berkata,</p>
<p>“Yaa ‘Ali, engkau mau dapat ridlo ku tidak di dunia dan akhirat..?”<br />
“Iya, ya ummii..” Jawab beliau.<br />
“Kalau engkau mau dapat ridlo dariku, ada syaratnya..!!” Kata ibunda Habib ‘Ali.<br />
“Apa syaratnya, ummi..??”<br />
“Hmm.. Engkau harus bertemu dengan datukmu, Rosul Allah Shallallahu alaihi wasallam.” Jawab ummi beliau.</p>
<p>Habib ‘Ali al-Habsyi yang masih kecil bingung. Dia tidak mengetahui bagaimana cara untuk bertemu dengan datuknya. Mulailah beliau mencari tahu dan belajar dengan guru-gurunya. Pergilah beliau ke salah satu tempat majelis Ulama, kemudian dia berkisah tentang permasalahannya untuk mendapat ridlo ibunya dengan cara seperti tadi. Lalu gurunya berkata, “Yaa ‘Ali, kalau engkau ingin bertemu dengan Rosul Allah Shallallahu alaihi wasallam maka engkau harus mencintai Beliau Shallallahu alaihi wasallam dahulu dan tak akan ada rasa cinta jika engkau tak kenal dengan yang di cinta.”</p>
<p>Belajarlah beliau tentang sejarah Baginda Nabi Shallallahu alaihi wasallam Tidak hanya itu, setiap orang alim yang ada selalu di tanya tentang masalah ini. Walhasil, banyaklah guru beliau. Ada yang berkisah kalau guru beliau mencapai ribuan orang.</p>
<p>Nah.. seiring waktu berjalan, bertambahlah umur beliau sampai mencapai usia kurang lebih 20 tahun, beliau akhirnya bermimpi bertemu datuknya shallallahu alaihi wasallam. Begitu terbangun dari tidurnya, beliau langsung memberitahu ibunya.</p>
<p>“Yaa ummii… ‘Ali sudah bertemu Baginda Rosul Allah Shallallahu alaihi wasallam.” Kata al-Habib ‘Ali sambil menangis haru.<br />
Tetapi, apa jawab ibunda beliau..!!!?? “Yaa ‘Ali, dimana engkau bertemu Beliau?”<br />
“Di dalam mimpiku, Ummii.” Kata al-Habib ‘Ali.<br />
“Yaa ‘Ali, pergi engkau dari hadapanku. Engkau bukan anakku…!!!!”<br />
Menangislah beliau… Keinginan hati untuk menyenangkan sang ibu pupus sudah.</p>
<p>Dalam kegelisahannya, beliau kembali bertanya kepada guru-gurunya, namun tak satupun dapat menjawabnya. Mengapa ibu beliau justru marah setelah mendapat laporan beliau tentang mimpinya.</p>
<p>Pada suatu malam beliau kembali bermunajah untuk dapat bertemu datuknya Shallallahu alaihi wasallam. Larut dalam tangisan tengah malam, al-hasil tidurlah beliau. Dan al-Hamdulillah beliau kembali beremu dengan datuknya Shallallahu alaihi wasallam.</p>
<p>“Yaa Jiddy (Kakek ku), Yaa Rosul Allah Shallallahu alaihi wasallam. Anakmu ini ingin menanyakan tentang perihal ummii.” Kata al-Habib ‘Ali kepada Rosul Allah Shallallahu alaihi wasallam. “Duhai ‘Ali anakku, sampaikan salamku kepada ibumu..” Jawab Rosul Allah Shallallahu alaihi wasallam di dalam mimpinya al-Habib ‘Ali.</p>
<p>Begitu bangun, beliau langsung mengetuk pintu kamar umminya sambil menangis tersedu-sedu. “Duhai Ummii, anakmu telah bertemu lagi dengan Baginda Rosul Allah Shallallahu alaihi wasallam dan Beliau kirim salam kepada Ummii.” Kata al-Habib ‘Ali.</p>
<p>Tiba-tiba dari kamar, ibunda beliau keluar dan berkata, “Yaa ‘Ali, kapan dan dimana engkau bertemu datukmu Shallallahu alaihi wasallam..??” Tanya ibunda al-Habib ‘Ali</p>
<p>“Aku bertemu beliau di dalam mimpiku.” Jawab al-Habib ‘Ali dengan tangisan yang tak putus-putus.<br />
“Pergi dari hadapanku ya ‘Ali…!!! Engkau bukan anakku..!!” Jawabnya.</p>
<p>Jawaban sang ibu benar-benar meruntuhkan hati al-Habib ‘Ali. Kemudian pintu kamar ibunda al-Habib ‘Ali al-Habsyi tertutup lagi, meninggalkan beliau seorang diri.</p>
<p>Esok harinya beliau mengadu kembali kepada guru-gurunya namun tak satupun dari mereka yang dapat menenangkan hati beliau. Semakin hari kegelisahannya semakin menjadi-jadi, setiap detik setiap saat beliau terus-terusan mengadu dan bermunajah serta bertawajjuh kepada Allah dan Rosul Allah Shallallahu alaihi wasallam.</p>
<p>Tibalah suatu malam, beliau hanyut jauh ke dalam lautan munajah dan mahabbah yang amat sangat dahsyat kepada Nabi Shallallahu alaihi wasallam. Kemudian beliau sujud yang sangat lama, tiba-tiba dalam keadaan sujud beliau mendengar suara yang lemah lembut,</p>
<p>“Yaa ‘Ali, angkat kepalamu..!!! Datukmu ada di mata zhohirmu.”</p>
<p>Begitu al-Habib ‘Ali al-Habsyi mengangkat kepalanya seraya membuka kedua pelupuk matanya perlahan-lahan, bergetarlah seluruh tubuh Habibana ‘Ali. Beliau menangis dan berkata, “Marhaba bikum Yaaa Jiddii, Yaa Rosul Allah..” Ternyata sosok tersebut adalah Rosul Allah Shallallahu alaihi wasallam berada di hadapan al-Habib ‘Ali.</p>
<p>Kemudian Rosul Allah Shallallahu alaihi wasallam berkata, “Duhai anakku, sampaikan salamku kepada ummi mu dan katakan kepadanya kalau aku menunggunya di sini..!!”</p>
<p>Seolah-olah gempa. Bergetar sekujur tubuh al-Habib ‘Ali al-Habsyi, beliau merangkak ke kamar ibundanya. “Yaa ‘Ummi, aku telah bertemu kembali dengan Rosul Allah Shallallahu alaihi wasallam dengan mata zhohirku dan Beliau menunggu Ummi di kamar ‘Ali..”</p>
<p>Ibunda beliau membuka pintu kamarnya seraya berkata, “Ini baru anakku engkau telah mendapat ridlo dari ku.”</p>
<p>******</p>
<p>&nbsp;</p>
<br />Filed under: <a href='http://mutiarazuhud.wordpress.com/category/islam/'>Islam</a>, <a href='http://mutiarazuhud.wordpress.com/category/umum/'>Umum</a>  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/mutiarazuhud.wordpress.com/4621/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/mutiarazuhud.wordpress.com/4621/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/mutiarazuhud.wordpress.com/4621/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/mutiarazuhud.wordpress.com/4621/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/mutiarazuhud.wordpress.com/4621/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/mutiarazuhud.wordpress.com/4621/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/mutiarazuhud.wordpress.com/4621/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/mutiarazuhud.wordpress.com/4621/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/mutiarazuhud.wordpress.com/4621/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/mutiarazuhud.wordpress.com/4621/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/mutiarazuhud.wordpress.com/4621/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/mutiarazuhud.wordpress.com/4621/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/mutiarazuhud.wordpress.com/4621/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/mutiarazuhud.wordpress.com/4621/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=mutiarazuhud.wordpress.com&amp;blog=7078984&amp;post=4621&amp;subd=mutiarazuhud&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://mutiarazuhud.wordpress.com/2012/01/19/bertemu-datuk/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/da9e7464e9e3c4447f52e554f6476dfa?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">mutiarazuhud</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Berguru dengan Rasulullah</title>
		<link>http://mutiarazuhud.wordpress.com/2012/01/18/berguru-dengan-rasulullah/</link>
		<comments>http://mutiarazuhud.wordpress.com/2012/01/18/berguru-dengan-rasulullah/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 18 Jan 2012 02:49:01 +0000</pubDate>
		<dc:creator>mutiarazuhud</dc:creator>
				<category><![CDATA[Islam]]></category>
		<category><![CDATA[Umum]]></category>
		<category><![CDATA[Alam]]></category>
		<category><![CDATA[berguru]]></category>
		<category><![CDATA[Hidup]]></category>
		<category><![CDATA[jabarut]]></category>
		<category><![CDATA[malakut]]></category>
		<category><![CDATA[mitsal]]></category>
		<category><![CDATA[mulk]]></category>
		<category><![CDATA[penghuni]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://mutiarazuhud.wordpress.com/?p=4611</guid>
		<description><![CDATA[Mungkinkah Murid Berguru kepada Penghuni Alam Lain Oleh:  Prof Dr Nasaruddin Umar Guru Besar Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Rasulullah bersabda &#8220;Barang siapa yang bermimpi melihatku, maka dia melihatku karena setan tidak akan bisa menyerupai diriku.&#8221; (HR Muslim 4206) &#160; &#8220;Alangkah miskinnya seorang murid jika gurunya hanya orang-orang hidup atau manusia biasa&#8220;. Suatu saat [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=mutiarazuhud.wordpress.com&amp;blog=7078984&amp;post=4611&amp;subd=mutiarazuhud&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Mungkinkah Murid Berguru kepada Penghuni Alam Lain</strong></p>
<p>Oleh:  Prof Dr Nasaruddin Umar Guru Besar Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah</p>
<p>Rasulullah bersabda &#8220;<em>Barang siapa yang bermimpi melihatku, maka dia melihatku karena setan tidak akan bisa menyerupai diriku</em>.&#8221; (HR Muslim 4206)</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&#8220;<em>Alangkah miskinnya seorang murid jika gurunya hanya orang-orang hidup atau manusia biasa</em>&#8220;.</p>
<p>Suatu saat Imam al-Gazali ditanya muridnya perihal banyaknya hadis ahad atau hadis tak populer yang dikutip dalam kitabnya, Ihya&#8217; &#8216;Ulum al-Din. Lalu, al-Ghazali menjawab, dirinya tak pernah mencantumkan sebuah hadis dalam Ihya&#8217; tanpa mengonfirmasikan kebenarannya kepada Rasulullah.</p>
<p>Jika ada lebih dari 200 hadis dikutip di dalam kitab itu, berarti lebih 200 kali Imam al-Gazali berjumpa dengan Rasulullah. Padahal, Imam al-Ghazali hidup pada 450 H/1058 M hingga 505 H/1111 M, sedangkan Rasulullah wafat tahun 632 M. Berarti, masa hidup antara keduanya terpaut lima abad.</p>
<p>Kitab Ihya&#8217; yang terdiri atas empat jilid itu ditulis di menara Masjid Damaskus, Suriah, yang sunyi dari hiruk pikuk manusia. Pengalaman lain, Ibnu &#8216;Arabi juga pernah ditanya muridnya tentang kitabnya, Fushush al-Hikam. Setiap kali sang murid membaca pasal yang sama dalam kitab itu selalu saja ada inspirasi baru.</p>
<p>Menurutnya, kitab Fushush bagaikan mata air yang tidak pernah kering. Ibnu &#8216;Arabi menjawab, kitab itu termasuk judulnya dari Rasulullah yang diberikan melalui mimpi. Dalam mimpi itu, Rasulullah mengatakan, &#8220;Khudz hadzal kitab, Fushush al-Hikam (ambil kitab ini, judulnya Fushush al-Hikam).&#8221;</p>
<p>Kitab Jami&#8217; Karamat al-Auliya&#8217; karangan Syekh Yusuf bin Isma&#8217;il al-Nabhani, sebanyak dua jilid, mengulas sekitar 625 tokoh/ulama yang memiliki karamah, yaitu pengalaman luar biasa mulai dari Sahabat Nabi hingga tokoh abad ke-19.</p>
<p>Sayang, di dalamnya tidak dimasukkan sejumlah orang yang dapat dikategorikan sebagai wali yang berasal dari Indonesia. Seperti beberapa ulama yang tergabung di dalam Wali Songo. Dalam kitab ini, Subhanallah, ternyata pengalaman batin dan spiritual hamba Allah SWT berbeda-beda.</p>
<p>Umumnya mereka sudah berada di atas maqam yang lebih tinggi atau di atas rata-rata. Ternyata alam gaib bagi setiap orang tidak sama. Ada yang masih tebal dan ada yang sudah transparan (mukasyafah). Bagi mereka yang sudah berada di tingkat mukasyafah, sudah bisa berkomunikasi lintas alam.</p>
<p>Mereka seperti hidup di alam yang bebas dimensi, tidak lagi terikat dengan ruang dan waktu. Mereka bisa berkomunikasi interaktif dengan makhluk dan para penghuni alam lain, baik di alam malakut, alam jabarut, maupun alam barzakh lainnya. Sulit mengatakan apa yang diungkapkan dalam kitab Jami&#8217; Karamat al-Auliya&#8217; itu mitos atau bohong.</p>
<p>Sebab, Allah dalam sejumlah ayat ditambah hadis-hadis Rasulullah menekankan adanya kemungkinan hamba-hamba Tuhan yang memiliki kemampuan untuk mengakses apa yang disebut William C Chittick sebagai The Imaginal Worlds. Menurut istilah Imam al-Ghazali, itu disebut sebagai alam hayal atau alam mitsal, seperti istilah Ibnu &#8216;Arabi.</p>
<p>Dari sisi ini, muncul pernyataan bahwa alangkah miskinnya seorang murid jika gurunya hanya orang-orang hidup atau hanya manusia biasa. Bahkan, Chittick, pengagum Ibnu Arabi, menemukan bukti-bukti dalam kita Futuhat al-Makkiyah (4 jilid) karya Ibnu Arabi mengatakan, &#8220;The person with whom he met had lived many thousands of years before.&#8221; (Orang yang pernah dijumpai (Ibnu Arabi) hidup ribuan tahun silam).</p>
<p>Singkat cerita, Ibnu Arabi pernah menjumpai seseorang yang memperkenalkan diri telah hidup 40 tahun. Ibnu Arabi mengatakan, bagaimana mungkin, Nabi Adam saja belum hidup ketika itu. Lalu orang itu mengatakan, Adam yang mana, sambil mengingatkannya pada hadis Nabi Muhammad, &#8220;Innallaha lhalaqa miata alaf Adam&#8221; (Sesungguhnya Allah telah menciptakan 100.000 Adam). (Lihat Futuhat, jilid III, h. 459).</p>
<p>Orang-orang yang memiliki batin bersih setelah menempuh suluk, mujahadah, dan riyadhah, maka sangat berpeluang bisa menjalin komunikasi interaktif dengan para penghuni alam-alam lain. Termasuk kemampuan berkomunikasi atau belajar dari arwah para auliya&#8217; dan arwah kekasih Tuhan lainnya.</p>
<p>Di dalam sebuah hadis disebutkan, &#8220;Seandainya bukan karena dosa yang menutupi kalbu Bani Adam, niscaya mereka menyaksikan malaikat di langit.&#8221; (HR Ahmad dari Abi Hurairah). Sebaliknya, penghuni makhluk cerdas alam lain, yang diistilahkan dalam Alquran man fi al-sama&#8217;, juga bisa menyaksikan hamba-hamba kekasih Tuhan di bumi sebagaimana dinyatakan Rasulullah, &#8220;Sesungguhnya para penghuni langit mengenal penghuni bumi yang selalu mengingat dan berzikir kepada Allah bagaikan bintang yang bersinar di langit.&#8221;</p>
<p>Dalam Alquran dinyatakan dalam ayat, &#8220;Untuk mereka kabar gembira waktu mereka hidup di dunia dan di akhirat.&#8221; (QS Yunus/10:64). Para ulama tafsir mengomentari ayat ini sesuai dengan pengalaman sahabat Nabi Muhammad, Abu Darda&#8217;, yang menanyakan apa maksud ayat ini.</p>
<p>Rasulullah menjelaskan, &#8220;Yang dimaksud ayat ini ialah mimpi baik yang dilihat atau diperlihatkan Allah SWT kepadanya.&#8221; Dalam ayat lain lebih jelas lagi Allah berfirman, &#8220;Allah memegang jiwa (orang) ketika matinya dan (memegang) jiwa (orang) yang belum mati di waktu tidurnya.&#8221; (QS al-Zumar/39:42).</p>
<p>Dalam kita-kitab tafsir Isyari, ayat ini mendapatkan komentar panjang bahwa di waktu tidur orang bisa mendapatkan banyak pencerahan. Bahkan, dalam Alquran juga menunjukkan kepada kita sejumlah syariat dibangun di atas mimpi (al-manam), seperti perintah ibadah kurban (QS al-Shafat/37:102).</p>
<p>Dari uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa berkomunikasi dan sekaligus belajar kepada para penghuni alam lain sangat dimungkinkan oleh orang-orang yang telah sampai kepada maqam tertentu. Namun, kita perlu hati-hati bahwa sehebat apa pun ilmu dan inspirasi yang diperoleh seseorang tetap tidak boleh menyetarakan diri dengan Nabi Muhammad sebagai khatamun nubuwwah.</p>
<p>Kehati-hatian lain ialah jangan sampai bisikan setan dianggap bisikan suci dari penghuni alam lain. Oleh karena itu, Imam al-Gazali pernah mewanti-wanti, jika ada orang menjalani suluk tanpa syekh atau mursyid, dikhawatirkan setan yang akan membimbingnya. Bagaimana berguru pada para penghuni alam lain, akan dibahas dalam artikel mendatang.  (Tulisan ini pernah dimuat di Republika, 25 Februari 2011)</p>
<p><strong>Bagaimana berguru kepada penghuni alam lain</strong></p>
<p><strong></strong>Oleh:  Prof Dr Nasaruddin Umar Guru Besar Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah</p>
<p>Diantara mereka ber – tajassud kepadaku di bumi, yang lainnya ber – tajassud di udara.<br />
Diantara mereka ber – tajassud di manapun aku berada, yang lainya ber – tajassud di langit.<br />
Mereka mengajarku dan akupun mengajarinya. Namun keberadaanku tidak sama.<br />
Aku tetap di dalam entitasku. Mereka tidak tetap dalam entitasnya.<br />
Mereka menjelmakan diri dalam berbagai bentuk. Seperti air yang masuk di dalam cangkir yang berwarna”.<br />
(Ibnu Arabi, Futuhat al-Makiyah, Juz 1 h 735).</p>
<p>Dalam artikel lalu digambarkan kemungkinan orang berguru kepada alam alam lain. Sebagaimana dilakukan orang-orang khusus yang berhasil menembus hijab atau menyingkap tabir yang juga diisyaratkan dalam Alquran dan hadis. Ternyata tidak sedikit orang berhasil mengakses dan berkomunikasi dengan penghuni alam spiritual itu. Ternyata tidak sedikit orang berhasil mengakses dan berkomunikasi dengan penghuni alam spiritual itu.</p>
<p>Contohnya, pengalaman batin Ibnu Arabi yang diungkapkan dalam bentuk syair seperti dikutip di atas. Masalahnya. di sini adalah mekanisme apa yang dilalui para Sufi yang berhasil menembus batas alam spiritual tersebut?. Sebelum membahas pertanyaan ini, terlebih dahulu kita perlu memahami apa yang dimaksud alam oleh para Sufi. Secara kebahasaan, alam berasal dari akar kata ‘alima-ya’lamu, berarti mengetahui. Dari akar kata ini terbentuk kata `alam yang artinya tanda, petunjuk, atau bendera; dan `alamah yang bermakna ala¬mat atau sesuatu yang melalui dirinya dapat diketahui sesuatu yang lain (ma bihi ya’lamu al-syai).</p>
<p>Dalam perspektif tasawuf, alam adalah segala sesuatu selain Allah SWT (ma siwa Allah).</p>
<p>Alam adalah tanda yang menunjuk kepada (adanya) Allah. Alam juga memberikan kesadaran dan pengetahuan. Alam meliputi seluruh universalitas (kulliyyat) alam dengan segenap bentuknya secara ijmali / undifferentiated.</p>
<p>Alam dalam form atau bentuk ini, pada ilmu filsafat dikenal dengan istilah al-’aql al-awwal / the first intellect. Dari sini, Allah sebagai al-Rahman dimanifestasikan.  Di sisi lain, alam mencakup pula hakikat seluruh partikularitas (juziyyat) secara tafshili l differentiated yang terkandung di dalam al-’aql al-awwal / the first intellect.</p>
<p>Dari sini, nama Allah sebagai al-Rahim dimanifestasikan. Pendapat ini juga banyak diakomodasi di dalam kitab-kitab tafsir, terutama dalam menjelaskan perbedaan konteks antara al-Rahman dan al¬Rahim dalam ayat pertama dan ketiga dari Sarah al-Fatihah: Maha Pengasih lagi Maha Penyayang (al Rahman al-Rahim).</p>
<p>Orang yang menggabungkan kedua karakter alam di atas biasa disebut manusia paripurna (insan kamil), karena secara ijmal / undifferentiated menjadi bagian dalam martabat ruh, dan secara tafshil/ differentiated bagian dalam martabat qalb. Insan kamil menjadi sebuah alam universal yang merepresentasikan keseluruhan nama-nama Allah.</p>
<p>Ia sudah menjadi manifestasi (madzhar) nama-nama Allah. Pembahasan lebih rinci konsep insan kamil ini akan dilakukan dalam satu artikel tersendiri. Dalam perspektif tasawuf, alam tidak terbatas hanya dalam dua bentuk, yaitu dengan meminjam istilah Muhammad Abduh, ‘alam syahadah dan ‘alam ghaib, tapi alam bisa tak berbatas.</p>
<p>Sebab mencakup pula kehadiran Ilahiyah universal (al-hadharat al-kulliyyat / universal divine presences), yang di antaranya ada yang lebih dekat ke alam syahadah mutlak, dan lainnya lebih dekat ke alam gaib mutlak. Alam sering juga digunakan dalam dua konteks, yaitu alam secara keseluruhan (semua kecuali Allah) dan alam dalam konteks tingkatan alam, seperti ‘alam al-mulk, `alam al-mitsal, ‘alam al-malakut, dan alam jabarut.</p>
<p>Masing-masing alam ini mempunyai penghuni. Manusia bisa mengakses dan sekaligus menjadi bagian dari alam-alam tersebut bersama dengan makhluk-makhluk spiritual lainnya seperti malaikat dan jin. Hal itu dapat dilakukan tentu saja jika manusia itu mampu menyingkap tabir rahasia yang selama ini menghijab dirinya.</p>
<p>Manusia di alam fana ini berada di alam malakut dan dalam keadaan tertentu ia bisa mengalami transformasi spiritual ke alam alam lain. Tentu, sesuai dengan kemampuan yang dimiliki atau diberikan kepadanya oleh Allah. Tingkatan-tingkatan alam lebih banyak digunakan dalam konteks kedua, yakni tingkatan alam spiritual.</p>
<p>Di setiap tingkatan alam, al Haq (Allah) selalu mengindikasikan kehadiranNya, sehingga tidak ada suatu ruang, waktu, dan dimensi yang bebas dari cakupan Al Haq meskipun dikenal berbagai tingkatan, pada hakikatnya tetap hanya satu kehadiran (al-hadharat), yakni kehadiran Ilahiyyah (al hadharat al-Ilahiyyah).</p>
<p>Secara sederhana, tingkatan alam yang akan menjadi objek pembahasan di sini ialah alam mulk, alam mitsal, alam malakut, dan alam jabarut.</p>
<p>Untuk berguru kepada para penghuni alam-alam tersebut, pengenalan mendalam mengenai alam-alam itu perlu dilakukan. Selain mengenal berbagai alam, manusia sepatutnya nya mengenal dirinya sendiri dulu secara mendalam. Setelah mengenal alam-alam spiritual dan rahasia besar yang ada di dalam diri manusia, langkah berikutnya berupa mendekatkan diri kepada Allah.</p>
<p>Diperlukan mursyid* untuk membimbing kita dan seorang yang mulai memasuki pencarian spiritual menempuh jalan khusus, itulah yang disebut murid atau salik.</p>
<p>Kemudian, para murid itu akan menjalani berbaga ritual (riyadhah) secara konsisteni sampai mereka menembus berbagai lapis alam dan menyingkap beragam hijab rahasia. Murid yang berhasil menembus batas dan menyingkap tabir disebut mukasyafah, yakni prestasi spiritual</p>
<p>Sumber : Republika, Dialog Jumat, 4 Maret 2011.</p>
<p>*/ Mursyid , suatu maqom/tingkat awal  yang berhasil dicapai orang-orang yang terpilih oleh Allah.</p>
<p>Mursyid adalah guru spiritual yang mewakili Nabi Muhammad SAW, yang beliau itulah (Nabi Shallallahu alaihi wasallam) yang mampu mengarahkan setiap manusia yang melakukan perjalanan spiritual sehingga tetap dalam jalan yang lurus yang diridloi Allah Subhanahu wa ta&#8217;ala).</p>
<br />Filed under: <a href='http://mutiarazuhud.wordpress.com/category/islam/'>Islam</a>, <a href='http://mutiarazuhud.wordpress.com/category/umum/'>Umum</a>  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/mutiarazuhud.wordpress.com/4611/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/mutiarazuhud.wordpress.com/4611/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/mutiarazuhud.wordpress.com/4611/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/mutiarazuhud.wordpress.com/4611/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/mutiarazuhud.wordpress.com/4611/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/mutiarazuhud.wordpress.com/4611/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/mutiarazuhud.wordpress.com/4611/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/mutiarazuhud.wordpress.com/4611/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/mutiarazuhud.wordpress.com/4611/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/mutiarazuhud.wordpress.com/4611/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/mutiarazuhud.wordpress.com/4611/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/mutiarazuhud.wordpress.com/4611/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/mutiarazuhud.wordpress.com/4611/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/mutiarazuhud.wordpress.com/4611/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=mutiarazuhud.wordpress.com&amp;blog=7078984&amp;post=4611&amp;subd=mutiarazuhud&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://mutiarazuhud.wordpress.com/2012/01/18/berguru-dengan-rasulullah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/da9e7464e9e3c4447f52e554f6476dfa?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">mutiarazuhud</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Bukan perkataan Salaf</title>
		<link>http://mutiarazuhud.wordpress.com/2012/01/16/bukan-perkataan-salaf/</link>
		<comments>http://mutiarazuhud.wordpress.com/2012/01/16/bukan-perkataan-salaf/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 16 Jan 2012 08:32:43 +0000</pubDate>
		<dc:creator>mutiarazuhud</dc:creator>
				<category><![CDATA[Islam]]></category>
		<category><![CDATA[Umum]]></category>
		<category><![CDATA[Baik]]></category>
		<category><![CDATA[baru]]></category>
		<category><![CDATA[bid'ah]]></category>
		<category><![CDATA[Bukan]]></category>
		<category><![CDATA[Hal]]></category>
		<category><![CDATA[ILAIH]]></category>
		<category><![CDATA[KAANA]]></category>
		<category><![CDATA[KHOIRON]]></category>
		<category><![CDATA[LASABAQUNA]]></category>
		<category><![CDATA[LAU]]></category>
		<category><![CDATA[perkara]]></category>
		<category><![CDATA[perkataan]]></category>
		<category><![CDATA[rasulullah]]></category>
		<category><![CDATA[sahabat]]></category>
		<category><![CDATA[Salafush]]></category>
		<category><![CDATA[seandainya]]></category>
		<category><![CDATA[Sholeh]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://mutiarazuhud.wordpress.com/?p=4609</guid>
		<description><![CDATA[Bukan perkataan Salafush Sholeh &#160; “LAU KAANA KHOIRON LASABAQUNA ILAIH” (Seandainya hal itu baik, tentu mereka, para sahabat akan mendahului kita dalam melakukannya) Apakah hal baik hanya apa yang dilakukan oleh Sahabat saja ? Bagaimana hal yang baik yang pernah dilakukan kaum sebelum Muhammad bin Abdullah diutus sebagai Rasul Allah, apakah menjadi tidak baik karena [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=mutiarazuhud.wordpress.com&amp;blog=7078984&amp;post=4609&amp;subd=mutiarazuhud&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Bukan perkataan Salafush Sholeh</strong></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>“LAU KAANA KHOIRON LASABAQUNA ILAIH” (Seandainya hal itu baik, tentu mereka, para sahabat akan mendahului kita dalam melakukannya)</p>
<p>Apakah hal baik hanya apa yang dilakukan oleh Sahabat saja ?</p>
<p>Bagaimana hal yang baik yang pernah dilakukan kaum sebelum Muhammad bin Abdullah diutus sebagai Rasul Allah, apakah menjadi tidak baik karena para Sahabat tidak melakukannya ?</p>
<p>Setelah Rasulullah shallallahu alaihi wasallam diutus oleh Allah Azza wa Jalla, <strong>hal yang baik adalah segala sikap dan perbuatan atau segala perkara yang tidak bertentangan dengan Al Qur&#8217;an dan As Sunnah</strong></p>
<p>Bagaimana hal yang baik  dilakukan oleh kaum muslim setelah generasi  Sahabat  sampai akhir zaman menjadi tidak baik karena para Sahabat tidak melakukannya ?</p>
<p>Kalimat “LAU KAANA KHOIRON LASABAQUNA ILAIH” (Seandainya hal itu baik, tentu mereka, para sahabat akan mendahului kita dalam melakukannya) bukanlah firman Allah ta&#8217;ala dan bukanlah perkataan Rasulullah maupun para Salafush SholehAda perkataan yang mirip dengan itu adalah pada firman Allah ta&#8217;ala</p>
<p>waqaala alladziina kafaruu lilladziina aamanuu law kaana khayran maa sabaquunaa ilayhi wa-idz lam yahtaduu bihi fasayaquuluuna haadzaa ifkun qadiimun</p>
<p><em>Dan orang-orang kafir berkata kepada orang-orang yang beriman: &#8220;Kalau sekiranya di (Al-Qur&#8217;an) adalah suatu yang baik, tentulah mereka tiada mendahului kami (beriman) kepadanya. Dan karena mereka tidak mendapat petunjuk dengannya maka mereka akan berkata: &#8220;Ini adalah dusta yang lama&#8221;</em>. (QS al Ahqaaf [46]:11 ).</p>
<p>Maksud ayat ini ialah bahwa orang-orang kafir itu mengejek orang-orang Islam dengan mengatakan: &#8220;Kalau sekiranya Al-Qur&#8217;an ini benar tentu kami lebih dahulu beriman kepadanya daripada mereka orang-orang miskin dan lemah itu seperti Bilal, &#8216;Ammar, Suhaib, Habbab radhiyallahu anhum dan sebagainya.</p>
<p>Jelas perkataan tersebut adalah perkataan orang-orang kafir</p>
<p>Namun entah bagaimana perkataan “LAU KAANA KHOIRON LASABAQUNA ILAIH” (Seandainya hal itu baik, tentu mereka, para sahabat akan mendahului kita dalam melakukannya) muncul dalam kitab tafsir Ibnu Katsir pada saat mentafsirkan (QS al Ahqaaf [46]:11 ) pula</p>
<p>Berikut kutipan terjemahannya</p>
<p>******<br />
Sedangkan Ahlusunnah wal Jama’ah berpendapat bahwa setiap perbuatan dan ucapan yang tidak ada dasarnya dari Sahabat Rasulullah adalah bid’ah, karena bila hal itu baik, niscaya mereka akan lebih dahulu melakukannya daripada kita, sebab mereka tidak pernah mengabaikan suatu kebaikanpun kecuali mereka telah lebih dahulu melaksanakannya<br />
******</p>
<p>Kalau kita kaji kutipan atau paragraf tersebut tidak ada kaitannya dengan (QS al Ahqaaf [46]:11 ).</p>
<p>Belum ada yang mengkaji kenapa paragraf tersebut bisa ada pada penafsiran (QS al Ahqaaf [46]:11 )</p>
<p>Perkataan “LAU KAANA KHOIRON LASABAQUNA ILAIH” (Seandainya hal itu baik, tentu mereka, para sahabat akan mendahului kita dalam melakukannya) muncul pula dalam kitab tafsir Ibnu Katsir pada saat mentafsirkan firman Allah ta&#8217;ala</p>
<p>allaa taziru waaziratun wizra ukhraa<br />
(yaitu) bahwasanya seorang yang berdosa tidak akan memikul dosa orang lain</p>
<p>wa-an laysa lil-insaani illaa maa sa&#8217;aa<br />
dan bahwasanya seorang manusia tiada memperoleh selain apa yang telah diusahakannya</p>
<p>QS An-Najm [53] ayat 38 dan 39</p>
<p>Tampaknya Ibnu Katsir ~rahimahullah dengan perkataan “LAU KAANA KHOIRON LASABAQUNA ILAIH” (Seandainya hal itu baik, tentu mereka, para sahabat akan mendahului kita dalam melakukannya) khusus pada pendapat beliau bahwa para Sahabat tidak pernah melakukan “pengiriman pahala bacaan al-Qur’an“.</p>
<p>Jadi tidak ada kaitannya “LAU KAANA KHOIRON LASABAQUNA ILAIH” (Seandainya hal itu baik, tentu mereka, para sahabat akan mendahului kita dalam melakukannya) dengan QS An-Najm [53] ayat 38 dan 39</p>
<p>Berikut kutipan kajian ulama tentang QS An-Najm [53] ayat 38 dan 39  bersumber dari <a href="http://salmanfiddin.wordpress.com/2010/09/18/sampaikah-kiriman-amal-dan-hadiah-bacaan-alquran-untuk-orang-mati/">http://salmanfiddin.wordpress.com/2010/09/18/sampaikah-kiriman-amal-dan-hadiah-bacaan-alquran-untuk-orang-mati/</a></p>
<p>****** awal kutipan ******</p>
<p>Firman Allah QS An-Najm [53] ayat 38 dan 39 terkait belum dikabarkan kepadanya apa yang ada dalam kitab nabi Musa dan nabi Ibrahim yang telah memenuhi kewajibannya bahwa seseorang tidak akan memikul dosa orang lain dan bahwasanya tiada yang didapat oleh manusia selain dari yang diusahakannya</p>
<p>Dalam syarah thahawiyah hal. 1455 diterangkan dua jawaban untuk ayat tersebut :</p>
<p>1. Manusia dengan usaha dan pergaulannya yang santun memperoleh banyak kawan dan sahabat, melahirkan banyak anak, menikahi beberapa isteri melakukan hal-hal yang baik untuk masyarakat dan menyebabkan orang-orang cinta dan suka padanya. Maka banyaklah orang-orang itu yang menyayanginya. Merekapun berdoa untuknya dan menghadiahkan pula pahala dari ketaatan-ketaatan yang sudah dilakukannya, maka itu adalah bekas dari usahanya sendiri.</p>
<p>Bahkan masuknya seorang muslim bersama golongan kaum muslimin yang lain didalam ikatan Islam adalah merupakan sebab paling besar dalam hal sampainya kemanfaatan dari masing-masing kaum muslimin kepada yang lainnya baik di dalam kehidupan ini maupun sesudah mati nanti dan doa kaum muslimin yang lain.</p>
<p>Dalam satu penjelasan disebutkan bahwa Allah Subhanahu wa ta&#8217;ala menjadikan iman sebagai sebab untuk memperoleh kemanfaatan dengan doa serta usaha dari kaum mukminin yang lain. Maka jika seseorang sudah berada dalam iman, maka dia sudah berusaha mencari sebab yang akan menyampaikannya kepada yang demikian itu. (Dengan demikian pahala ketaatan yang dihadiahkan kepadanya dan kaum mukminin sebenarnya bagian dari usahanya sendiri).</p>
<p>2. Ayat al-qur’an itu tidak menafikan adanya kemanfaatan untuk seseorang dengan sebab usaha orang lain. Ayat AlQur’an itu hanya menafikan “kepemilikan seseorang terhadap usaha orang lain”.</p>
<p>Allah Subhanahu wa ta&#8217;ala hanya mengabarkan bahwa “laa yamliku illa sa’yah (orang itu tidak akan memiliki kecuali apa yang diusahakan sendiri). Adapun usaha orang lain, maka itu adalah milik bagi siapa yang mengusahakannya. Jika dia mau, maka dia boleh memberikannya kepada orang lain dan pula jika ia mau, dia boleh menetapkannya untuk dirinya sendiri. (jadi huruf “lam” pada lafadz “lil insane” itu adalah “lil istihqaq” yakni menunjukan arti “milik”).</p>
<p>Demikianlah dua jawaban yang dipilih pengarang kitab syarah thahawiyah.</p>
<p>Pendapat yang lain,</p>
<p>Berkata pengarang tafsir Khazin : “Yang demikian itu adalah untuk kaum Ibrahim dan musa. Adapun ummat islam (umat Nabi Muhammad Shallallahu alaihi wasallam), maka mereka bisa mendapat pahala dari usahanya dan juga dari usaha orang lain”.</p>
<p>Jadi ayat itu menerangkan hukum yang terjadi pada syariat Nabi Musa dan Nabi Ibrahim, bukan hukum dalam syariat nabi Muhammad Shallallahu alaihi wasallam. Hal ini dikarenakan pangkal ayat tersebut berbunyi : “ Atau belum dikabarkan kepadanya apa yang ada dalam kitab nabi musa dan nabi Ibrahim yang telah memenuhi kewajibannya bahwa seseorang tidak akan memikul dosa orang lain dan bahwasanya tiada yang didapat oleh manusia selain dari yang diusahakannya”.</p>
<p>Sahabat Nabi, Ahli tafsir yang utama Ibnu Abbas Ra. Berkata dalam menafsirkan ayat tersebut : “ ayat tersebut telah dinasakh (dibatalkan) hukumnya dalam syariat kita dengan firman Allah Subhanahu wa ta&#8217;ala: “Kami hubungkan dengan mereka anak-anak mereka ”, maka dimasukanlah anak ke dalam sorga berkat kebaikan yang dibuat oleh bapaknya ’ (tafsir khazin juz IV/223).</p>
<p>Firman Allah yang dikatakan oleh Ibnu Abbas Ra sebagai penasakh surat an-najm ayat 39 itu adalah surat at-thur ayat 21 yang lengkapnya sebagai berikut :</p>
<p>“Dan orang-orang yang beriman dan anak cucu mereka mengikuti mereka dengan iman, maka kami hubungkan anak cucu mereka itu dengan mereka dan tidaklah mengurangi sedikitpun dari amal mereka. Tiap-tiap orang terikat dengan apa yang dikerjakannya”.</p>
<p>Jadi menurut Ibnu abbas, surat an-najm ayat 39 itu sudah terhapus hukumnya, berarti sudah tidak bisa dimajukan sebagai dalil.</p>
<p>d. Tersebut dalam Nailul Authar juz IV ayat 102 bahwa kata-kata : “Tidak ada seseorang itu…..” Maksudnya “tidak ada dari segi keadilan (min thariqil adli), adapun dari segi karunia (min thariqil fadhli), maka ada bagi seseorang itu apa yang tidak dia usahakan.</p>
<p>Demikianlah penafsiran dari surat An-jam ayat 39. Banyaknya penafsiran ini adalah demi untuk tidak terjebak kepada pengamalan dengan zhahir ayat semata-mata karena kalau itu dilakukan, maka akan banyak sekali dalil-dalil baik dari al-qur’an maupun hadits-hadits shahih yang ditentang oleh ayat tersebut sehingga menjadi gugur dan tidak bisa dipakai sebagai dalil.</p>
<p>***** akhir kutipan *****</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Rasulullah shallallahu alaihi wasallam telah menyampaikan bahwa sedekah tidak selalu dalam bentuk harta</p>
<p>حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ مُحَمَّدِ بْنِ أَسْمَاءَ الضُّبَعِيُّ حَدَّثَنَا مَهْدِيُّ بْنُ مَيْمُونٍ حَدَّثَنَا وَاصِلٌ مَوْلَى أَبِي عُيَيْنَةَ عَنْ يَحْيَى بْنِ عُقَيْلٍ عَنْ يَحْيَى بْنِ يَعْمَرَ عَنْ أَبِي الْأَسْوَدِ الدِّيلِيِّ عَنْ أَبِي ذَرٍّ أَنَّ نَاسًا مِنْ أَصْحَابِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالُوا لِلنَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَا رَسُولَ اللَّهِ ذَهَبَ أَهْلُ الدُّثُورِ بِالْأُجُورِ يُصَلُّونَ كَمَا نُصَلِّي وَيَصُومُونَ كَمَا نَصُومُ وَيَتَصَدَّقُونَ بِفُضُولِ أَمْوَالِهِمْ قَالَ أَوَ لَيْسَ قَدْ جَعَلَ اللَّهُ لَكُمْ مَا تَصَّدَّقُونَ إِنَّ بِكُلِّ تَسْبِيحَةٍ صَدَقَةً وَكُلِّ تَكْبِيرَةٍ صَدَقَةً وَكُلِّ تَحْمِيدَةٍ صَدَقَةً وَكُلِّ تَهْلِيلَةٍ صَدَقَةً وَأَمْرٌ بِالْمَعْرُوفِ صَدَقَةٌ وَنَهْيٌ عَنْ مُنْكَرٍ صَدَقَةٌ</p>
<p>Telah menceritakan kepada kami <em>Abdullah bin Muhammad bin Asma` Adl Dluba’i</em> Telah menceritakan kepada kami <em>Mahdi bin Maimun</em> Telah menceritakan kepada kami <em>Washil</em> maula Abu Uyainah, dari <em>Yahya bin Uqail</em> dari <em>Yahya bin Ya’mar</em> dari <em>Abul Aswad Ad Dili</em> dari <em>Abu Dzar</em> bahwa beberapa orang dari sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bertanya kepada beliau, Wahai Rosulullah, orang-orang kaya dapat memperoleh pahala yang lebih banyak. Mereka shalat seperti kami shalat, puasa seperti kami puasa dan bersedekah dengan sisa harta mereka. Maka beliau pun bersabda: Bukankah Allah telah menjadikan berbagai macam cara kepada kalian untuk bersedekah? Setiap kalimat tasbih adalah sedekah, setiap kalimat takbir adalah sedekah, setiap kalimat tahmid adalah sedekah, setiap kalimat tahlil adalah sedekah, amar ma’ruf nahi munkar adalah sedekah (HR Muslim 1674)</p>
<p>Kita boleh bersedekah dengan dzikrullah yakni  tasbih, takbir, tahmid, tahlil, membaca Al Fatihah, membaca Yasin,  bahkan mengkhatamkan Al Qur’an.</p>
<p>Usaha sedekah dalam bentuk pahala bacaan dapat memberikannya kepada orang lain dan pula jika ia mau, dia boleh menetapkannya untuk dirinya sendiri.</p>
<p>Mereka membantah dengan pendapat masyhur (pendapat secara umum) Imam As Syafi’i bahwa pahala bacaan tidak sampai. Padahal ada penjelasan pahala bacaan yang bagaimana yang tidak sampai.</p>
<p>Al Imam An Nawawi adalah murid Al Imam Syafi’i yang bersambung sanadnya kepada beliau, maka kita mengambil pendapat dari muridnya karena muridnya lebih tahu disaat seperti ketika Al Imam Syafi’i berbicara, sebagaimana yang diriwayatkan berikut,</p>
<p>*****awal kutipan*****<br />
Suatu waktu Al Imam Syafi’i ditanya oleh seseorang yang kaya raya, dia berkata: “wahai Al Imam, aku berjima’ dengan istriku di siang hari bulan Ramadhan, apa yang harusnya aku lakukan?”,<br />
maka Al Imam berkata : “berpuasalah 2 bulan berturut-turut, dan jika terputus sehari saja maka harus diulang kembali dari awal”,<br />
maka orang itu berkata : “tidak ada yang lain kah”, Al Imam menjawab : “tidak ada”.</p>
<p>Kemudian datang seorang miskin dan bertanya : “wahai Al imam, aku berjima’ dengan istriku di siang hari bulan Ramadhan, apa yang harus aku perbuat?”<br />
Al Imam menjawab : “berilah makan 60 orang miskin”, orang itu berkata : “ tidak ada yang lainkah wahai Al Imam?”, Al Imam Syafi’I menjawab : “tidak ada”<br />
Maka muridnya bertanya : “ wahai Al Imam mengapa engkau katakan demikian kepada orang yang bertanya, padahal memberi makan 60 orang miskin atau berpuasa 2 bulan berturut-turut keduanya bisa dilakukan?!”,<br />
maka Al Imam berkata : “karena orang yang pertama adalah orang yang kaya raya, jika dikatakan kepadanya agar memberi makan 60 orang miskin maka bisa jadi ia akan berkumpul dengan istrinya setiap hari di siang bulan ramadhan, dan orang yang kedua karena dia orang miskin jika disuruh puasa maka hal itu sangat mudah baginya karena ia telah terbiasa dengan keadaan lapar setiap harinya, maka disuruh agar memberi makan 60 orang miskin, dan hal ini sulit baginya namun supaya tidak diulanginya lagi perbuatan itu”.</p>
<p>Demikian fatwa Al Imam Syafi’i, maka Al Imam mengatakan bahwa bacaan Al Qur’an tidak sampai kepada yang wafat, karena orang-orang kaya yang di masa itu jauh hari sebelum mereka wafat, mereka akan membayar orang-orang agar jika ia telah wafat mereka menghatamkan Al Qur’an berkali-kali dan pahalanya untuknya, maka Al Imam Syafi’i mengatakan bahwa pahala bacaan Al Qur’an tidak bisa sampai kepada yang wafat.</p>
<p>*****akhir kutipan*****</p>
<p>Jadi syarat sampai pahala bacaan tergantung niat (hati), kalau niat tidak lurus seperti niat “jual-beli” maka pahala bacaan tidak akan sampai.</p>
<p>Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “<em>Sesungguhnya Allah tidak melihat kepada rupa kalian, tetapi Allah melihat kepada hati kalian</em>.” (HR Muslim)</p>
<p>Hal senada juga diungkapkan oleh Syaikh Ahmad bin Qasim al-Ubadi dalam hasyiah Tuhfatul Muhtaj Jilid VII/74 : “<em>Kesimpulan bahwa jika seseorang meniatkan pahala bacaan kepada mayyit atau dia mendoakan sampainya pahala bacaan itu kepada mayyit sesudah membaca Al-Qur’an atau dia membaca disamping kuburnya, maka hasillah bagi mayyit itu seumpama pahala bacaannya dan hasil pula pahala bagi orang yang membacanya </em>”.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Wassalam</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Zon di Jonggol, Kab Bogor 16830</p>
<p>&nbsp;</p>
<br />Filed under: <a href='http://mutiarazuhud.wordpress.com/category/islam/'>Islam</a>, <a href='http://mutiarazuhud.wordpress.com/category/umum/'>Umum</a>  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/mutiarazuhud.wordpress.com/4609/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/mutiarazuhud.wordpress.com/4609/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/mutiarazuhud.wordpress.com/4609/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/mutiarazuhud.wordpress.com/4609/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/mutiarazuhud.wordpress.com/4609/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/mutiarazuhud.wordpress.com/4609/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/mutiarazuhud.wordpress.com/4609/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/mutiarazuhud.wordpress.com/4609/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/mutiarazuhud.wordpress.com/4609/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/mutiarazuhud.wordpress.com/4609/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/mutiarazuhud.wordpress.com/4609/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/mutiarazuhud.wordpress.com/4609/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/mutiarazuhud.wordpress.com/4609/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/mutiarazuhud.wordpress.com/4609/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=mutiarazuhud.wordpress.com&amp;blog=7078984&amp;post=4609&amp;subd=mutiarazuhud&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://mutiarazuhud.wordpress.com/2012/01/16/bukan-perkataan-salaf/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/da9e7464e9e3c4447f52e554f6476dfa?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">mutiarazuhud</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Solusi penangkal SEPILIS</title>
		<link>http://mutiarazuhud.wordpress.com/2012/01/16/solusi-penangkal-sepilis/</link>
		<comments>http://mutiarazuhud.wordpress.com/2012/01/16/solusi-penangkal-sepilis/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 16 Jan 2012 04:58:31 +0000</pubDate>
		<dc:creator>mutiarazuhud</dc:creator>
				<category><![CDATA[Islam]]></category>
		<category><![CDATA[Umum]]></category>
		<category><![CDATA[AL Qur'an]]></category>
		<category><![CDATA[As Sunnah]]></category>
		<category><![CDATA[baru]]></category>
		<category><![CDATA[bid'ah]]></category>
		<category><![CDATA[Dengan]]></category>
		<category><![CDATA[hasanah]]></category>
		<category><![CDATA[kepada]]></category>
		<category><![CDATA[kesadaran]]></category>
		<category><![CDATA[Liberalisme]]></category>
		<category><![CDATA[Mazhab]]></category>
		<category><![CDATA[mencontohkan]]></category>
		<category><![CDATA[merujuk]]></category>
		<category><![CDATA[Mujtahid]]></category>
		<category><![CDATA[penangkal]]></category>
		<category><![CDATA[perbuatan]]></category>
		<category><![CDATA[PLURALISME]]></category>
		<category><![CDATA[quran]]></category>
		<category><![CDATA[Sekulerisme]]></category>
		<category><![CDATA[SEPILIS]]></category>
		<category><![CDATA[Solusi]]></category>
		<category><![CDATA[Sunnah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://mutiarazuhud.wordpress.com/?p=4604</guid>
		<description><![CDATA[Bid&#8217;ah hasanah solusi penangkal paham sekulerisme pluralisme dan liberalisme Dalam tulisan pada http://mutiarazuhud.wordpress.com/2012/01/15/bisa-terjerumus-sekulerisme/ kami sampaikan bahwa menolak adanya bid&#8217;ah hasanah bisa terjerumus paham sekulerisme Solusi penangkal paham sekulerisme atau solusi penangkal paham SEPILIS (sekulerisme, pluralisme, liberalisme) secara umum adalah dengan pemahaman akan adanya bid&#8217;ah hasanah sebagaimana yang disampaikan oleh Imam Mazhab yang empat, pemimpin atau [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=mutiarazuhud.wordpress.com&amp;blog=7078984&amp;post=4604&amp;subd=mutiarazuhud&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Bid&#8217;ah hasanah solusi penangkal paham sekulerisme pluralisme dan liberalisme</strong></p>
<p>Dalam tulisan pada <a href="http://mutiarazuhud.wordpress.com/2012/01/15/bisa-terjerumus-sekulerisme/">http://mutiarazuhud.wordpress.com/2012/01/15/bisa-terjerumus-sekulerisme/</a> kami sampaikan bahwa menolak adanya bid&#8217;ah hasanah bisa terjerumus paham sekulerisme</p>
<p>Solusi penangkal paham sekulerisme atau solusi penangkal paham SEPILIS (sekulerisme, pluralisme, liberalisme) secara umum adalah dengan pemahaman akan adanya bid&#8217;ah hasanah sebagaimana yang disampaikan oleh Imam Mazhab yang empat, pemimpin atau imam ijtihad kaum muslim pada umumnya (Imam Mujtahid Mutlak) yang bertalaqqi (mengaji) langsung dengan Salafush Sholeh.</p>
<p>Dengan kesadaran adanya bid&#8217;ah hasanah maka setiap kita akan melakukan perbuatan atau mencontohkan perbuatan yang tidak pernah dilakukan oleh Rasulullah shallallahu alaihi wasallam maka kita akan merujuk kepada Al Qur&#8217;an dan As Sunnah.</p>
<p>Jika perbuatan tersebut bertentangan dengan Al Qur&#8217;an dan As Sunnah maka perbuatan itu termasuk bid&#8217;ah dholalah<br />
Jika perbuatan tersebut tidak bertentangan dengan Al Qur&#8217;an dan As Sunnah maka perbuatan itu termasuk bid&#8217;ah hasanah</p>
<p>Imam Syafi’i ~rahimahullah berkata “<em>Apa yang baru terjadi dan menyalahi kitab al Quran atau sunnah Rasul atau ijma’ atau ucapan sahabat, maka hal itu adalah bid’ah yang dhalalah. Dan apa yang baru terjadi dari kebaikan dan tidak menyalahi sedikitpun dari hal tersebut, maka hal itu adalah bid’ah mahmudah (terpuji)</em>”</p>
<p>Imam Syafi’i ~rahimahullah berkata “<em>Perkara-perkara yang baru (al muhdats) terbagi dua, Pertama : perkara baru yang bertentangan dengan kitab, sunnah, atsar para sahabat dan ijma’, ini adalah bid’ah dlalalah, kedua: perkara baru yang baik dan tidak bertentangan dengan salah satu dari hal-hal di atas, maka ini adalah perkara baru yang tidak tercela</em>” (Diriwayatkan oleh al Hafizh al Baihaqi dalam kitabnya “Manaqib asy-Syafi’i”, Juz I, h. 469)</p>
<p>Pemahaman yang memisahkan bid&#8217;ah kedalam urusan agama dan bid&#8217;ah secara bahasa atau bid&#8217;ah urusan dunia adalah bentuk keterjermusan kedalam paham Sekulerisme , paham yang memisahkan urusan dunia dan urusan agama (urusan akhirat).</p>
<p>Firman Allah Azza wa Jalla,  <em>alyawma akmaltu lakum diinakum</em>, “<em>Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu</em>” (QS Al Maaidah [5]:3)</p>
<p>Islam itu din yang sempurna, tercakup di dalamnya semua aspek kehidupan di dunia untuk kebahagiaan di akhirat. Aspek-aspek itu antara lain kehidupan berpolitik, bermasyarakat, bernegara, bermuamalah dan sebagainya</p>
<p>Apakah sikap dan perbuatan yang termasuk urusan dunia boleh bertentangan dengan Al Qur&#8217;an dan As Sunnah ?</p>
<p>Setiap sikap dan perbuatan manusia urusan dunia maupun urusan akhirat harus tetap merujuk dengan Al Qur’an dan As Sunnah dan menetapkannya dalam hukum taklifi yang lima (haram, makruh, wajib, sunnah, dan mubah).   Perbuatan merujuk dengan Al Qur’an dan As Sunnah termasuk  dzikrullah (mengingat Allah).</p>
<p>Jadi urusan dunia  adalah ibadah juga. Jika urusan dunia tersebut bertentangan dengan Al Qur&#8217;an dan As Sunnah maka termasuk amal keburukan (sayyiah) dan jika urusan dunia tersebut tidak bertentangan dengan Al Qur&#8217;an dan As Sunnah maka termasuk amal kebaikan.</p>
<p>Urusan dunia yang tidak bertentangan dengan Al Qur&#8217;an dan As Sunnah dan tidak pernah dilakukan oleh Rasulullah maka termasuk juga ke dalam bid&#8217;ah hasanah</p>
<p>Paham SEPILIS (Sekulerisme, Pluralisme, Liberalisme) diusung oleh kaum Zionis Yahudi. Hal ini telah diuraikan dalam tulisan pada<br />
<a href="http://mutiarazuhud.wordpress.com/2011/12/25/2010/01/18/sekularisme-pluralisme-dan-liberalisme/">http://mutiarazuhud.wordpress.com/2011/12/25/2010/01/18/sekularisme-pluralisme-dan-liberalisme/</a><br />
<a href="http://mutiarazuhud.wordpress.com/2011/12/25/2010/02/03/penghambaan-sesama-manusia/">http://mutiarazuhud.wordpress.com/2011/12/25/2010/02/03/penghambaan-sesama-manusia/</a><br />
<a href="http://mutiarazuhud.wordpress.com/2011/12/25/2010/02/23/bahaya-laten/">http://mutiarazuhud.wordpress.com/2011/12/25/2010/02/23/bahaya-laten/</a><br />
<a href="http://mutiarazuhud.wordpress.com/2011/12/25/2010/01/13/dibalik-krisis/">http://mutiarazuhud.wordpress.com/2011/12/25/2010/01/13/dibalik-krisis/</a></p>
<p>Allah Azza wa Jalla menciptakan kaum Yahudi sebagaimana yang dikehendakiNya</p>
<p>Kaum Yahudi dan kaum musyrik, termasuk yang terjerumus kemusyrikan, terjerumus dalam kekufuran yang disebabkan oleh berbagai macam sebab, mereka mempunyai rasa permusuhan terhadap manusia yang telah bersyahadat</p>
<p>Firman Allah ta’ala yang artinya, “<em>orang-orang yang paling keras permusuhannya terhadap orang beriman adalah orang-orang Yahudi dan orang-orang musyrik</em>” ( QS Al Maaidah [5]: 82 )</p>
<p>Kita dapat menyaksikan bagaimana paham SEPILIS (Sekulerisme, Pluralisme, Liberalisme) mulai merasuk kedalam perguruan-perguran tinggi Islam di negeri kita seperti yang dulu bernama IAIN. Juga ke dalam universitas Islam di wilayah kerajaan dinasti Saudi tentu dengan cara-cara yang lebih halus dan terarah.</p>
<p>Kaum Zionis Yahudi tentu juga berupaya memasukkan paham SEPILIS (Sekulerisme, Pluralisme, Liberalisme) ke dalam organisasi-organisasi masyarakat seperti Nahdlatul Ulama, Muhammadiyah dll</p>
<p>Begitu juga kaum Zionis Yahudi  berupaya memasukkan paham SEPILIS (Sekulerisme, Pluralisme, Liberalisme) ke dalam sistem pemerintahan seluruh negara di dunia ini. Termasuk ke dalam pemerintahan kerajaan dinasti Saudi. Pemerintahan kerajaan dinasti Saudi walaupun mereka berupaya memerintah berlandaskan syariat Islam namun tidak sepenuhnya berlandaskan syariat Islam. Sistem pemerintahan yang mereka terapkan adalah Monarki (kerajaan) . Mereka katakan bahwa mereka mengikuti khalifah Muawiyyah.</p>
<p>Khalifah Muawiiyah ketika itu bermaksud meniru suksesi kepemimpinan yang ada di Persia dan Bizantium, yaitu Monarki (kerajaan). Akan tetapi, gelar pemimpin pusat tidak di sebut raja (<em>malik)</em>, mereka tetap menggunakan gelar khalifah dengan makna konotatif yang di perbaharui. Langkah awal dalam rangka memperlancar pengankat Yazid sebagai penggantinya adalah menjadikan Yaizid Ibn Muawiyyah sebagi putra mahkota (tahun 53 H).</p>
<p>Penunjukkan Yazid sebagai putra mahkota telah melahirkan reaksi dari masyrakat. Proses terjadi dimasyarakat karena Muawiyyah telah mengubah sistem suksesi peminpin; di samping itu, pengangkatan Yazid sebagai pengganti Muawiyyah berarti telah terjadi pelanggaran perjanjian antara Muawiyyah dengan Hasan Ibn Ali ra .</p>
<p>Ketika Yazid naik tahta, sejumlah tokoh terkemuka di Madinah menolak melakukan bai’at. Akan tetapi, Muawiyyah berhasil memaksa mereka untuk melakukan bai’at. Dua tokoh yang tidak berhasil dipaksa melakukan bai’at adalah Husain Ibn Ali dan Abd Allah Ibn Zuabair. Apa yang dilakukan dan dicontohkan oleh Muawiyyah membentuk kepemimpinan pemerintahan dengan sistem kerajaan meniru peradaban Persia dan Bizantium pada hakikatnya adalah perkara baru (bid’ah).</p>
<p>Rasulullah bersabda : “<em>Tidak boleh bagi tiga orang berada dimanapun di bumi ini, tanpa mengambil salah seorang diantara mereka sebagai amir (pemimpin) </em>”</p>
<p>Sungguh, dianggap (penisbatan) berkhianat kepada Allah , Rasul-Nya dan kaum mukminin, merupakan ancaman keras bagi siapapun yang tidak bertanggung jawab dalam memilih pemimpin, sebagaimana sabda Rasulullah yang diriwayatkan dari Ibnu Abbas: “<em>Barangsiapa memilih seseorang menjadi pemimpin untuk suatu kelompok, yang di kelompok itu ada orang yang lebih diridhai Allah dari pada orang tersebut, maka ia telah berkhianat kepada Allah, Rasul-Nya dan orang-orang yang beriman</em>.” (HR. Hakim)</p>
<p>Dalam sejarah Islam kita kenal adanya ahlu a-halli wa al-‘aqdi yang merupakan demokrasi berdasarkan perwakilan yang berkompetensi dan terpercaya.  Ketetapan/fatwa/kebijaksanaan diambil dengan permusyawaratan / perwakilan.</p>
<p>Musyawarah untuk mufakat sistem perwakilan yang berkompetensi dan terpercaya atau ahlu a-halli wa al-‘aqdi telah dicontohkan oleh para Khulafaur Rasyidin dalam menetapkan khalifah pertama setelah wafatnya Sayyidina Muhammad shallallahu alaihi wasallam.</p>
<p>Begitupula , pemerintahan kerajaan dinasti Saudi dan pemerintahan beberapa negara lainnya yang dipimpin oleh penguasa negara yang beragama Islam menjadikan kaum kafir sebagai teman kepercayaan, penasehat, pelindung dan pemimpin.</p>
<p>Firman Allah Azza wa Jalla,</p>
<p>“<em>Tidakkah kamu perhatikan orang-orang yang menjadikan suatu kaum yang dimurkai Allah sebagai teman? Orang-orang itu bukan dari golongan kamu dan bukan (pula) dari golongan mereka. Dan mereka bersumpah untuk menguatkan kebohongan, sedang mereka mengetahui</em>“. (QS Al Mujaadilah [58]:14 )</p>
<p>“<em>Janganlah orang-orang mu’min mengambil orang-orang kafir menjadi wali (pemimpin) dan meninggalkan orang-orang mu’min. Barang siapa berbuat demikian, niscaya lepaslah ia dari pertolongan Allah</em>…” (Qs. Ali-Imran : 28)</p>
<p>“<em>Kamu tidak akan mendapati sesuatu kaum yang beriman kepada Allah dan hari akhirat, saling berkasih sayang dengan orang-orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya, sekalipun orang-orang itu bapak-bapak, atau anak-anak, atau saudara-saudara ataupun keluarga mereka.</em>” (Qs. Al Mujadilah : 22)</p>
<p>“<em>Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu ambil menjadi teman kepercayaanmu orang-orang yang, di luar kalanganmu (karena) mereka tidak henti-hentinya (menimbulkan) kemudharatan bagimu. Mereka menyukai apa yang menyusahkan kamu. Telah nyata kebencian dari mulut mereka, dan apa yang disembunyikan oleh hati mereka adalah lebih besar lagi. Sungguh telah Kami terangkan kepadamu ayat-ayat (Kami), jika kamu memahaminya</em>” , (QS Ali Imran, 118)</p>
<p>“<em>Beginilah kamu, kamu menyukai mereka, padahal mereka tidak menyukai kamu, dan kamu beriman kepada kitab-kitab semuanya. Apabila mereka menjumpai kamu, mereka berkata “Kami beriman”, dan apabila mereka menyendiri, mereka menggigit ujung jari antaran marah bercampur benci terhadap kamu. Katakanlah (kepada mereka): “Matilah kamu karena kemarahanmu itu”. Sesungguhnya Allah mengetahui segala isi hati</em>“. (QS Ali Imran, 119)</p>
<p>Sikap para ulama yang menyerahkan &#8220;urusan dunia&#8221; secara bulat-bulat kepada penguasa negeri adalah bentuk keterjerumusan kedalam paham sekulerisme.</p>
<p>Begitu pula dengan paham pluralisme boleh jadi telah masuk kedalam pemerintahan dinasti kerajaan Saudi Perhatikan video pada <a href="http://www.youtube.com/watch?v=48kUEx9iGk8">http://www.youtube.com/watch?v=48kUEx9iGk8</a></p>
<p>Berikut transkript subtitle yang kami dapatkan dari melihat  video tersebut.</p>
<p>***** awal transkript subtitle *****</p>
<p>Adapun langkah yang berbahaya adalah apa yang dilakukan Raja Abdulloh yang meminta untuk mendekatkan berbagai agama dan menyetujui suatu agama yang diridhoi oleh PBB dan dianut oleh seluruh bangsa.</p>
<p>Raja Abdullah:<br />
”Saya meminta kepada seluruh agama yang turun dari langit” (samawi)<br />
”Untuk berkumpul dengan saudara-saudara mereka dalam satu iman dan ketaatan kepada seluruh agama, karena kita menghadap kepada satu Tuhan”<br />
”Saya pernah berpikiran untuk mengunjungi Vatican, dan sayapun telah mengunjunginya”<br />
”Sayapun bertemu dengan Paus dan saya berterima kasih padanya”<br />
”Saya berterima kasih (karena) dia menemui saya”<br />
”Saya tidak akan melupakan pertemuan seorang manusia dengan seorang manusia”<br />
”dan ketika itu aku tawarkan ide ini kepadanya yaitu untuk menghadap kepada Tuhan ~ Yang Maha Perkasa lagi Mulia ~”<br />
”Menghadap kepada Tuhan Yang Maha Perkasa lagi Mulia, dalam apa yang Dia perintahkan dalam agama-agama yang turun dari langit dalam Taurat, Injil dan Al Qur’an”<br />
”Kita meminta kepada Tuhan Yang Maha Mulia lagi Perkasa agar memberi petunjuk pada kita semua”<br />
”Semua agama-agama ini kepada satu kalimat yang diperintahkan oleh Tuhan ~Yang Maha Perkasa lagi Mulia ~ untuk dilaksanakan oleh manusia”<br />
”Insyaallah dalam waktu sedekat mungkin, dan ketika kita berkumpul dan telah disetujui, Insyaallah, semuanya dalam kebaikan ~ semua agama”<br />
”Saya akan pergi ke PBB, Saya juga yakin hingga orang yang beriman dengan Abrahamisme”<br />
”Saya juga menginginkan mereka …. tapi ketiganya ini wajib bagi mereka Taurat, Injil dan Al-Qur’an dan selebihnya Insyaallah semuanya baik”<br />
”Pada mereka ada kebaikan, karena kemanusiaan mereka juga bagus”<br />
”karena moral mereka juga bagus dan karena negara mereka juga bagus dan karena semuanya adalah keluarga”</p>
<p>Sungguh keluarga Saudi telah memulai ~dalam kemurtadan yang jelas ~ mepersiapkan sebuah agama baru , dan itu dilakukan dengan beberapa langkah. Yang pertama adalah konferensi Makkah yang terakhir yang mengumpulkan beberapa kelompok sesat dan menyimpang dari hukum Allah untuk menyetujui agama yang baru. Sebagaimana pada fase berikutnya ditawarkan kepada Yahudi, Nasrani dan Budha di konferensi Spanyol dengan munculnya sebuah agama yang disetujui oleh PBB dan agar bisa diterima oleh semuanya. Padahal cukuplah Allah bagi kita, dan (Dia lah) sebaik-baiknya Pelindung.<br />
***** akhir transkript subtitle *****</p>
<p>Paham pluralisme merasuk kedalam kaum muslim dengan menyalahgunakan firman Allah ta&#8217;ala yang artinya,</p>
<p>&#8220;<em>Sesungguhnya orang-orang mu&#8217;min, orang-orang Yahudi, orang-orang Nasrani dan orang-orang Shabiin, siapa saja diantara mereka yang benar-benar beriman kepada Allah, hari kemudian dan beramal sholeh , mereka akan menerima pahala dari Tuhan mereka, tidak ada kekhawatiran kepada mereka, dan tidak (pula) mereka bersedih hati.&#8221; </em>(QS Al Baqarah [2]: 62)</p>
<p>Makna firman Allah ta&#8217;ala tersebut adalah</p>
<p>Kaum Yahudi pada zaman Nabi Musa a.s yang mentaati syariat yang dibawa oleh Nabinya dan beramal sholeh akan masuk surga<br />
Kaum Nasrani pada zaman Nabi Isa a.s yang mentaati syariat yang dibawa oleh Nabinya dan beramal sholeh akan masuk surga<br />
Kaum Shabiin , orang-orang yang mengikuti syari&#8217;at Nabi-nabi zaman dahulu dan beramal sholeh akan masuk surga</p>
<p>Namun setelah syariat disempurnakan ketika Rasulullah di utus maka semua manusia wajib mengikuti syariat yang dibawa oleh Rasulullah.</p>
<p>Jika manusia mentaati syariat yang dibawa oleh Rasulullah dan beramal sholeh niscaya masuk surga,  telah diuraikan dalam tulisan pada <a href="http://mutiarazuhud.wordpress.com/2011/12/29/masuk-surga/">http://mutiarazuhud.wordpress.com/2011/12/29/masuk-surga/</a></p>
<p>Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda, “ <em>Demi Allah, yang diriku ada dalam genggaman tanganNya, tidaklah mendengar dari hal aku ini seseorangpun dari ummat sekarang ini, Yahudi, dan tidak pula Nasrani, kemudian tidak mereka mau beriman kepadaku, melainkan masuklah dia ke dalam neraka.”</em></p>
<p>Hadits yang diriwayatkan Sufyan bin Uyainah dengan sanadnya dari Adi bin Hatim. Ibnu Mardawih meriwayatkan dari Abu Dzar, dia berkata, “Saya bertanya kepada Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam tentang orang-orang yang dimurkai“, beliau bersabda, ‘Kaum Yahudi.’ Saya bertanya tentang orang-orang yang sesat, beliau bersabda, “Kaum Nasrani.“</p>
<p>Kaum Yahudi dan Kaum Nasrani kalau mereka benar-benar mengikuti syariat yang di bawa Nabi mereka maka mereka pasti telah disampaikan akan kedatangan Nabi Muhammad sebagai Rasul Allah yang terakhir</p>
<p>Firman Allah ta’ala yang artinya,<br />
“<em>Orang-orang (Yahudi dan Nasrani) yang telah Kami beri Al Kitab (Taurat dan Injil) mengenal Muhammad seperti mereka mengenal anak-anaknya sendiri. Dan sesungguhnya sebahagian diantara mereka menyembunyikan kebenaran, padahal mereka mengetahui.</em>” ( QS Al Baqarah [2]:146 )</p>
<p>“<em>Ataukah kamu (hai orang-orang Yahudi dan Nasrani) mengatakan bahwa Ibrahim, Isma’il, Ishaq, Ya’qub dan anak cucunya, adalah penganut agama Yahudi atau Nasrani?” Katakanlah: “Apakah kamu lebih mengetahui ataukah Allah, dan <strong>siapakah yang lebih zalim dari pada orang yang menyembunyikan syahadah dari Allah  yang ada padanya?</strong>” Dan Allah sekali-kali tiada lengah dari apa yang kamu kerjakan</em>. (QS Al Baqarah [2]:140 )</p>
<p>“<em>Dan (ingatlah), ketika Allah mengambil perjanjian dari para nabi: “Sungguh, apa saja yang Aku berikan kepadamu berupa kitab dan hikmah kemudian datang kepadamu seorang rasul yang membenarkan apa yang ada padamu, niscaya kamu akan sungguh-sungguh beriman kepadanya dan menolongnya”. Allah berfirman: “Apakah kamu mengakui dan menerima perjanjian-Ku terhadap yang demikian itu?” Mereka menjawab: “Kami mengakui”. Allah berfirman: “Kalau begitu saksikanlah (hai para nabi) dan Aku menjadi saksi (pula) bersama kamu</em>“. ( QS Ali Imran [3]:81 )</p>
<p>Sayyidina Ali bin Abi Thalib kw. berkata:  <em>‘Setiap kali Allah subhanahu wa ta’ala mengutus seorang nabi, mulai dari Nabi Adam sampai seterusnya, maka kepada nabi-nabi itu Allah subhanahu wa ta’ala  menuntut janji setia mereka bahwa jika nanti Rasulallah shallallahu alaihi wasallam. diutus, mereka akan beriman padanya, membelanya dan mengambil janji setia dari kaumnya untuk melakukan hal yang sama’</em>.</p>
<p>Firman Allah Azza wa Jalla yang artinya, “<em>Dan Ibrahim telah mewasiatkan ucapan itu kepada anak-anaknya, demikian pula Ya’qub. (Ibrahim berkata): “Hai anak-anakku! Sesungguhnya Allah telah memilih agama ini bagimu, maka janganlah kamu mati kecuali dalam memeluk agama Islam</em>“. (QS Al Baqarah [2]: 132 )</p>
<p>“illa wa antum muslimuun”, “kecuali dalam keadaan muslim” , “kecuali dalam keadaan memeluk agama Islam”, kecuali manusia yang berserah diri kepada Allah Azza wa Jalla, berserah diri dengan mentaati perintahNya dan laranganNya.</p>
<p>PerintahNya dan laranganNya telah disempurnakan ketika Muhammad bin Abdullah diutus menjadi Rasulullah.</p>
<p>Firman Allah Azza wa Jalla yang artinya, “<em>Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu ni’mat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu</em>” ( QS Al Maaidah [5]:3 )</p>
<p>Jadi penduduk surga pastilah seorang muslim, mereka yang telah bersyahadat.  Jika kaum non muslim benar-benar bertauhid atau berkeyakinan bahwa tiada tuhan selain Allah maka mereka akan mentaati tuhannya Nabi Muhammad Shallallahu alaihi wasallam untuk bersyahadat atau memeluk agama Islam jika tidak maka mereka termasuk kaum kafir.</p>
<p>Hakikat kafir atau menyekutukan Allah atau mereka yang melakukan perbuatan syirik adalah mereka yang tidak mengakui ke -Maha Kuasa – an Allah Azza wa Jalla</p>
<p>Iblis dimurkai oleh Allah Azza wa Jalla karena mereka tidak mengakui ke -Maha Kuasa -an Allah Azza wa Jalla dengan tidak mentaati kewajibanNya berupa perintah untuk sujud kepada manusia (Nabi Adam a.s).</p>
<p>Orang Islam yang bersujud (sholat) menghadap Ka’bah, tidak berarti dia menyembah Ka’bah, akan tetapi dia sebenarnya sedang bersujud dan menyembah Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan menghadap ke Ka’bah perwujudan menjalankan perintahNya atau mengakui ke Maha Kuasa an Allah Azza wa Jalla. Begitu juga para malaikat sujud kepada manusia (Nabi Adam a.s) perwujudan melaksanakan perintahNya atau mengakui ke Maha Kuasa an Allah Azza wa Jalla.</p>
<p>Kaum Yahudi dan Kaum Nasrani walaupun sebagain kecil mereka beriman kepada Allah namun tetap dimurkai oleh Allah Azza wa Jalla dan dinyatakan sebagai orang-orang yang sesat karena mereka tidak mengakui ke-Maha Kuasa-an Allah Azza wa Jalla dengan tidak mentaati kewajibanNya berupa perintah untuk bersyahadat.</p>
<p>Sebagaimanapun amal kebaikan yang kaum non muslim  lakukan,  selama mereka tidak bersyahadat maka tidak akan bermanfaat di akhirat kelak</p>
<p>“<em>Orang-orang yang kafir kepada Tuhannya, amalan-amalan mereka adalah seperti abu yang ditiup angin dengan keras pada suatu hari yang berangin kencang. Mereka tidak dapat mengambil manfaat sedikitpun dari apa yang telah mereka usahakan (di dunia). Yang demikian itu adalah kesesatan yang jauh</em>”. (QS Ibrahim [14]:18 )</p>
<p>“<em>Sesungguhnya Allah memasukkan orang-orang mu’min dan beramal sholeh ke dalam jannah yang mengalir di bawahnya sungai-sungai. Dan orang-orang kafir bersenang-senang (di dunia) dan mereka makan seperti makannya binatang. Dan jahannam adalah tempat tinggal mereka</em>”. (QS Muhammad [47]:12 )</p>
<p>Wassalam</p>
<p>Zon di Jonggol, Kab Bogor 16830</p>
<br />Filed under: <a href='http://mutiarazuhud.wordpress.com/category/islam/'>Islam</a>, <a href='http://mutiarazuhud.wordpress.com/category/umum/'>Umum</a>  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/mutiarazuhud.wordpress.com/4604/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/mutiarazuhud.wordpress.com/4604/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/mutiarazuhud.wordpress.com/4604/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/mutiarazuhud.wordpress.com/4604/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/mutiarazuhud.wordpress.com/4604/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/mutiarazuhud.wordpress.com/4604/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/mutiarazuhud.wordpress.com/4604/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/mutiarazuhud.wordpress.com/4604/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/mutiarazuhud.wordpress.com/4604/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/mutiarazuhud.wordpress.com/4604/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/mutiarazuhud.wordpress.com/4604/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/mutiarazuhud.wordpress.com/4604/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/mutiarazuhud.wordpress.com/4604/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/mutiarazuhud.wordpress.com/4604/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=mutiarazuhud.wordpress.com&amp;blog=7078984&amp;post=4604&amp;subd=mutiarazuhud&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://mutiarazuhud.wordpress.com/2012/01/16/solusi-penangkal-sepilis/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/da9e7464e9e3c4447f52e554f6476dfa?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">mutiarazuhud</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Bisa terjerumus sekulerisme</title>
		<link>http://mutiarazuhud.wordpress.com/2012/01/15/bisa-terjerumus-sekulerisme/</link>
		<comments>http://mutiarazuhud.wordpress.com/2012/01/15/bisa-terjerumus-sekulerisme/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 14 Jan 2012 22:38:59 +0000</pubDate>
		<dc:creator>mutiarazuhud</dc:creator>
				<category><![CDATA[Islam]]></category>
		<category><![CDATA[Umum]]></category>
		<category><![CDATA[bid'ah]]></category>
		<category><![CDATA[fikri]]></category>
		<category><![CDATA[ghazwul]]></category>
		<category><![CDATA[hasanah]]></category>
		<category><![CDATA[kaum]]></category>
		<category><![CDATA[kesadaran]]></category>
		<category><![CDATA[Liberalisme]]></category>
		<category><![CDATA[menolak]]></category>
		<category><![CDATA[Paham]]></category>
		<category><![CDATA[PLURALISME]]></category>
		<category><![CDATA[Sekulerisme]]></category>
		<category><![CDATA[SEPILIS]]></category>
		<category><![CDATA[terjerumus]]></category>
		<category><![CDATA[yahudi]]></category>
		<category><![CDATA[zionis]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://mutiarazuhud.wordpress.com/?p=4600</guid>
		<description><![CDATA[Mereka menolak bid’ah hasanah bisa terjerumus paham sekulerisme Dalam tulisan sebelumnya pada http://mutiarazuhud.wordpress.com/2012/01/13/tanggapan-bantahan-bidah/ kami telah tanggapi tiga buah bantahan mereka akan adanya bid’ah hasanah. Contoh bid’ah hasanah lainnya adalah pembukuan Al Qur’an, perbuatan ini tidak dilakukan atau tidak dicontohkan oleh Rasulullah. Mereka membantah dengan pendapat bahwa perbuatan pembukuan Al Qur’an adalah termasuk maslahah mursalah. Kemudian [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=mutiarazuhud.wordpress.com&amp;blog=7078984&amp;post=4600&amp;subd=mutiarazuhud&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Mereka menolak bid’ah hasanah bisa terjerumus paham sekulerisme</strong></p>
<p>Dalam tulisan sebelumnya pada <a href="http://mutiarazuhud.wordpress.com/2012/01/13/tanggapan-bantahan-bidah/">http://mutiarazuhud.wordpress.com/2012/01/13/tanggapan-bantahan-bidah/ </a>kami telah tanggapi tiga buah bantahan mereka akan adanya bid’ah hasanah.</p>
<p>Contoh bid’ah hasanah lainnya adalah pembukuan Al Qur’an, perbuatan ini tidak dilakukan atau tidak dicontohkan oleh Rasulullah.</p>
<p>Mereka membantah dengan pendapat bahwa perbuatan pembukuan Al Qur’an adalah termasuk maslahah mursalah. Kemudian mereka menyampaikan perbedaan maslahah mursalah dengan bid’ah</p>
<p>Maslahah Mursalah : Bisa bertambah dan berkurang atau bahkan ditinggalkan sesuai dengan kebutuhan, karena ia sekedar sarana &amp; bukan tujuan hakiki, alias bukan ibadah yang berdiri sendiri.</p>
<p>Bid’ah :  Bersifat paten dan dipertahankan hingga tidak bertambah atau berkurang, karena ia merupakan tujuan hakiki alias ibadah yang berdiri sendiri dan bukan sarana.</p>
<p>Kalau kita pelajari batasan bid’ah yang mereka sampaikan dan dimaksud oleh mereka tentu sebagai bid’ah dholalah maka perbuatan pembukuan Al Qur’an termasuk bid’ah dholalah sesuai batasan yang mereka sampaikan.</p>
<p>Perbuatan pembukuan Al Qur’an bersifat paten dan terus dipertahankan , tidak bertambah atau berkurang sebagaimana yang dicontohkan oleh Salafush Sholeh. Kalau jumlah atau bentuk atau tekhnologi pembukuan Al Qur&#8217;an termasuk dalam perbuatan pembukuan Al Qur’an.<br />
Tanda-tanda waqaf, saktah, isymam, dan semisalnya adalah untuk kemudahan untuk membacanya namun perbuatannya adalah pembukuan Al Qur&#8217;an. Sedangkan bentuk pembukuan Al Qur&#8217;an dalam bentuk kaset, cd, gadget hanyalah perbedaan bentuk, perbuatannya  tetap  pembukuan Al Qur’an<br />
Perbuatan pembukuan Al Qur&#8217;an , tujuannya hakiki untuk memudahkan kaum muslim untuk membaca, mengetahui, memahami Al Qur&#8217;an sampai akhir zaman</p>
<p>Perbuatan pembukuan Al Qur’an adalah bid’ah  (perkara baru) karena tidak pernah dilakukan atau dicontohkan oleh Rasulullah.</p>
<p>Perbuatan pembukuan Al Qur’an adalah bid’ah hasanah karena perbuatan tersebut diluar perkara syariat atau diluar dari apa yang telah diwajibkan oleh Allah Azza wa Jalla dan tidak bertentangan dengan Al Qur’an dan As Sunnah.</p>
<p>Contoh bid’ah hasanah lainnya adalah perjalanan ibadah haji menggunakan pesawat terbang ,tentu suatu perbuatan yang tidak pernah dilakukan atau dicontohkan oleh Rasulullah</p>
<p>Penggunaan pesawat terbang untuk perjalanan ibadah haji  diluar perkara syariat atau diluar dari apa yang telah diwajibkan oleh Allah Azza wa Jalla dan tidak bertentangan dengan Al Qur’an dan As Sunnah sehingga termasuk bid’ah hasanah</p>
<p>Mereka membantah dengan pendapat sebagai berikut,</p>
<p>Penggunaan pesawat terbang untuk perjalanan ibadah haji adalah bid’ah , tidak pernah dilakukan oleh Rasulullah dalam melaksanakan ibadah haji namun bid&#8217;ah secara bahasa jadi hukumnya mubah (boleh)  dan merupakan urusan dunia berlandaskan perkataan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam , “wa antum a’lamu bi amri dunyakum,  “dan kamu sekalian lebih mengetahui urusan-urusan duniamu”.   (HR.  Muslim 4358 ).</p>
<p>Berdasarkan pendapat mereka tersebut dengan sendirinya mereka membagi bid’ah kedalam dua kategori yakni urusan dunia dan urusan agama walaupun hadits yang berbunyi “kullu bid’atin dholalah” mereka maknai sebagai “seluruh bid’ah adalah dholalah”.  Dalam hadits tersebut yang dimaksud dengan bid’ah (mereka katakan)  adalah bid’ah (perkara baru) dalam urusan agama. Terlihat inkonsistensi mereka dalam memaknai bid&#8217;ah.</p>
<p>Hati-hatilah jangan sampai terjerumus ke dalam paham sekulerisme,  paham yang memisahkan urusan dunia dan urusan agama (urusan akhirat).</p>
<p>Firman Allah Azza wa Jalla,  alyawma akmaltu lakum diinakum, “<em>Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu</em>” (QS Al Maaidah [5]:3)</p>
<p>Islam itu din yang sempurna, tercakup di dalamnya semua aspek kehidupan di dunia untuk kebahagiaan di akhirat. Aspek-aspek itu antara lain kehidupan berpolitik, bermasyarakat, bernegara, bermuamalah dan sebagainya</p>
<p>Apakah sikap dan perbuatan yang termasuk urusan dunia boleh bertentangan dengan Al Qur&#8217;an dan As Sunnah ?</p>
<p>Setiap sikap dan perbuatan manusia urusan dunia maupun urusan akhirat harus tetap merujuk dengan Al Qur’an dan As Sunnah dan menetapkannya dalam hukum taklifi yang lima (haram, makruh, wajib, sunnah, dan mubah).   Perbuatan merujuk dengan Al Qur’an dan As Sunnah termasuk  dzikrullah (mengingat Allah).</p>
<p>Jadi urusan dunia  adalah ibadah juga. Jika urusan dunia tersebut bertentangan dengan Al Qur&#8217;an dan As Sunnah maka termasuk amal keburukan (sayyiah) dan jika urusan dunia tersebut tidak bertentangan dengan Al Qur&#8217;an dan As Sunnah maka termasuk amal kebaikan.</p>
<p>Urusan dunia yang tidak bertentangan dengan Al qur&#8217;an dan As Sunnah dan tidak pernah dilakukan oleh Rasulullah maka termasuk juga ke dalam bid&#8217;ah hasanah</p>
<p>Urusan dunia tidak boleh dilepaskan dengan urusan akhirat,  bahkan urusan dunia seperti &#8220;jual beli&#8221; terkait pula dengan perkara syariat.</p>
<p><strong>Perkara syariat atau disebut dalam beberapa hadits sebagai &#8220;urusan agama&#8221; atau &#8220;urusan kami&#8221; adalah, &#8220;segala perkara yang telah disyaratkan oleh Allah Azza wa Jalla yang harus dipenuhi sebagai hamba Allah yakni menjalankan segala apa yang telah ditetapkanNya atau diwajibkanNya, wajib dijalankan dan wajib dijauhi, meliputi menjalankan kewajibanNya yang jika ditinggalkan berdosa, menjauhi segala yang telah dilarangNya yang jika dilanggar berdosa dan menjauhi segala yang telah diharamkanNya yang jika dilanggar berdosa&#8221;.</strong></p>
<p>Dari Ibnu ‘Abbas r.a. berkata Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda, “<em>sesungguhnya agama itu dari Tuhan, perintah-Nya dan larangan-Nya.</em>” (Hadits riwayat Ath-Thabarani)</p>
<p>Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda, “<em>Sesungguhnya Allah telah mewajibkan beberapa kewajiban (ditinggalkan berdosa), maka jangan kamu sia-siakan dia; dan Allah telah memberikan beberapa larangan (dikerjakan berdosa)), maka jangan kamu langgar dia; dan Allah telah mengharamkan sesuatu (dikerjakan berdosa), maka jangan kamu pertengkarkan dia; dan Allah telah mendiamkan beberapa hal sebagai tanda kasihnya kepada kamu, Dia tidak lupa, maka jangan kamu perbincangkan dia.</em>” (Riwayat Daraquthni, dihasankan oleh an-Nawawi)</p>
<p>Sebagai hamba Allah maka seluruh sikap dan perbuatan kita adalah untuk beribadah kepada Allah ta’ala karena itulah tujuan kita diciptakanNya. Hal ini telah kami uraikan dalam tulisan pada <a href="http://mutiarazuhud.wordpress.com/2011/12/15/seluruhnya-ibadah/">http://mutiarazuhud.wordpress.com/2011/12/15/seluruhnya-ibadah/</a></p>
<p>Firman Allah ta’ala yang artinya<br />
“<em>Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku</em>” (QS Adz Dzaariyaat 51 : 56)<br />
“<em>Beribadahlah kepada Tuhanmu sampai kematian menjemputmu</em>” (QS al Hijr [15] : 99)</p>
<p>Perbuatan sebagai hamba Allah hanya 2 kategori yakni perkara syariat dan diluar perkara syariat</p>
<p>Dalam perkara syariat berlaku “<em>hukum asal ibadah adalah haram sampai ada dalil yang mensyari&#8217;atkannya atau menetapkannya</em>”.</p>
<p>Dalam perkara syariat harus sesuai dengan apa yang disampaikan dan dicontohkan oleh Rasulullah shallallahu alaihi wasallam</p>
<p>Perkara baru (bid’ah) dalam perkara syariat,   perkara baru dalam perkara kewajiban (jika ditinggalkan berdosa), perkara larangan (jika dilanggar berdosa) maupun perkara pengharaman (jika dilanggar berdosa) adalah bid’ah dholalah.</p>
<p>Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda, “<em>Tidak tertinggal sedikitpun  yang mendekatkan kamu dari surga dan menjauhkanmu dari neraka melainkan telah dijelaskan bagimu</em> ” (HR Ath Thabraani dalam Al Mu’jamul Kabiir no. 1647)</p>
<p>“mendekatkan dari surga” = perkara kewajiban (ditinggalkan berdosa)<br />
“menjauhkan dari neraka” = perkara larangan  dan perkara pengharaman (dikerjakan berdosa)</p>
<p>Jika ulama berfatwa dalam perkara kewajiban (ditinggalkan berdosa), perkara larangan (dikerjakan berdosa) dan perkara pengharaman (dikerjakan berdosa) wajib berlandaskan dengan apa yang telah ditetapkan oleh Allah Azza wa Jalla</p>
<p>Firman Allah Azza wa Jalla yang artinya,</p>
<p>“<em>Katakanlah! Siapakah yang berani mengharamkan perhiasan Allah yang telah diberikan kepada hamba-hambaNya dan beberapa rezeki yang baik itu? Katakanlah! Tuhanku hanya mengharamkan hal-hal yang tidak baik yang timbul daripadanya dan apa yang tersembunyi dan dosa dan durhaka yang tidak benar dan kamu menyekutukan Allah dengan sesuatu yang Allah tidak turunkan keterangan padanya dan kamu mengatakan atas (nama) Allah dengan sesuatu yang kamu tidak mengetahui.</em>” (QS al-A’raf: 32-33)</p>
<p>“<em>Dan janganlah kamu mengatakan terhadap apa yang disebut-sebut oleh lidahmu secara dusta “Ini halal dan ini haram”, untuk mengada-adakan kebohongan terhadap Allah. Sesungguhnya orang-orang yang mengada-adakan kebohongan terhadap Allah tiadalah beruntung</em>” [QS. An-Nahl : 116].</p>
<p>Dalam hadits Qudsi , Rasulullah bersabda: “<em>Aku ciptakan hamba-hambaKu ini dengan sikap yang lurus, tetapi kemudian datanglah syaitan kepada mereka. Syaitan ini kemudian membelokkan mereka dari agamanya, dan mengharamkan atas mereka sesuatu yang Aku halalkan kepada mereka, serta mempengaruhi supaya mereka mau menyekutukan Aku dengan sesuatu yang Aku tidak turunkan keterangan padanya.</em>” (Riwayat Muslim).</p>
<p>Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda :</p>
<p>من حلل حراما او حرم حلالا فقد كفر</p>
<p>“<em>Barangsiapa menghalalkan sesuatu yang haram atau mengharamkan sesuatu yang halal, maka dia telah kafir.”</em></p>
<p>Sedangkan sikap dan perbuatan, diluar perkara syariat  (diluar dari apa yang telah diwajibkanNya) berlaku “<em>hukum asal segala sesuatu adalah mubah sampai ada dalil yang melarangnya</em>”</p>
<p>Sikap dan perbuatan,  diluar perkara syariat (diluar dari apa yang telah diwajibkanNya) yang tidak pernah dicontohkan oleh Rasulullah berlaku kaidah sebagai berikut</p>
<p>1. Jika bertentangan dengan Al Qur’an dan As Sunnah maka termasuk bid’ah dholalah<br />
2. Jika tidak bertentangan dengan Al Qur’an dan As Sunnah maka termasuk bid’ah hasanah atau bid’ah mahmudah</p>
<p>Imam Syafi’i ~rahimahullah berkata “Apa yang baru terjadi dan menyalahi kitab al Quran atau sunnah Rasul atau ijma’ atau ucapan sahabat, maka hal itu adalah bid’ah yang dhalalah. Dan apa yang baru terjadi dari kebaikan dan tidak menyalahi sedikitpun dari hal tersebut, maka hal itu adalah bid’ah mahmudah (terpuji)”</p>
<p>Imam Syafi’i ~rahimahullah berkata “Perkara-perkara yang baru (al muhdats) terbagi dua, Pertama : perkara baru yang bertentangan dengan kitab, sunnah, atsar para sahabat dan ijma’, ini adalah bid’ah dlalalah, kedua: perkara baru yang baik dan tidak bertentangan dengan salah satu dari hal-hal di atas, maka ini adalah perkara baru yang tidak tercela” (Diriwayatkan oleh al Hafizh al Baihaqi dalam kitabnya “Manaqib asy-Syafi’i”, Juz I, h. 469)</p>
<p>Perselisihan terjadi disebabkan kesalahpahaman mereka memaknai hadits, &#8220;Kullu bid&#8217;atin dholalah&#8221;</p>
<p>Pengertian kullu ada 3 macam yakni<br />
1. syay’in artinya setiap satu<br />
2. ba’din artinya setiap sebagian<br />
3. jam’in artinya setiap semua.</p>
<p>Al-Imam an-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menuliskan: “<em>Sabda Rasulullah “Kullu Bid’ah dlalalah” ini adalah ‘Amm Makhshush; artinya, lafazh umum yang telah dikhususkan kepada sebagian maknanya. Jadi yang dimaksud adalah bahwa sebagian besar bid’ah itu sesat (bukan mutlak semua bid’ah itu sesat)</em>” (al-Minhaj Bi Syarah Shahih Muslim ibn al-Hajjaj, j. 6, hlm. 154)</p>
<p>Dikatakan sebagian besar atau kebanyakan bid&#8217;ah itu sesat karena bid&#8217;ah dholalah adalah perkara baru dalam perkara syariat (perkara yang telah diwajibkanNya) dan perkara baru diluar perkara syariat yang bertentangan dengan Al Qur&#8217;an dan As Sunnah. Sedangkan bid&#8217;ah hasanah hanyalah perkara baru diluar perkara syariat yang tidak bertentangan dengan Al Qur&#8217;an dan As Sunnah.</p>
<p>Berikut kami uraikan penyalahgunaan hadits, <em>wa antum a’lamu bi amri dunyakum</em>,  “<em>dan kamu sekalian lebih mengetahui urusan-urusan duniamu</em>”.   (HR.  Muslim 4358 ) yang dilakukan oleh kaum sekulerisme</p>
<p>Hadits selengkapnya,</p>
<p>حَدَّثَنَا أَبُو بَكْرِ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ وَعَمْرٌو النَّاقِدُ كِلَاهُمَا عَنْ الْأَسْوَدِ بْنِ عَامِرٍ قَالَ أَبُو بَكْرٍ حَدَّثَنَا أَسْوَدُ بْنُ عَامِرٍ حَدَّثَنَا حَمَّادُ بْنُ سَلَمَةَ عَنْ هِشَامِ بْنِ عُرْوَةَ عَنْ أَبِيهِ عَنْ عَائِشَةَ وَعَنْ ثَابِتٍ عَنْ أَنَسٍ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَرَّ بِقَوْمٍ يُلَقِّحُونَ فَقَالَ لَوْ لَمْ تَفْعَلُوا لَصَلُحَ قَالَ فَخَرَجَ شِيصًا فَمَرَّ بِهِمْ فَقَالَ مَا لِنَخْلِكُمْ قَالُوا قُلْتَ كَذَا وَكَذَا قَالَ أَنْتُمْ أَعْلَمُ بِأَمْرِ دُنْيَاكُمْ</p>
<p>Telah menceritakan kepada kami Abu Bakr bin Abu Syaibah dan &#8216;Amru An Naqid seluruhnya dari Al Aswad bin &#8216;Amir; Abu Bakr berkata; Telah menceritakan kepada kami Aswad bin &#8216;Amir; Telah menceritakan kepada kami Hammad bin Salamah dari Hisyam bin &#8216;Urwah dari Bapaknya dari &#8216;Aisyah dan dari Tsabit dari Anas bahwa Nabi shallallahu &#8216;alaihi wasallam pernah melewati suatu kaum yang sedang mengawinkan pohon kurma lalu beliau bersabda: “Sekiranya mereka tidak melakukannya, kurma itu akan (tetap) baik”.  Tapi setelah itu, ternyata kurma tersebut tumbuh dalam keadaan rusak. Hingga suatu saat Nabi shallallahu &#8216;alaihi wasallam melewati mereka lagi dan melihat hal itu beliau bertanya: &#8216;Ada apa dengan pohon kurma kalian? Mereka menjawab; Bukankah anda telah mengatakan hal ini dan hal itu?  Beliau lalu bersabda: &#8216;Kalian lebih mengetahui urusan dunia kalian&#8217; (HR Muslim 4358)</p>
<p>Kaum sekulerisme berpendapat urusan dunia tidaklah diurus oleh agama, terbukti dalam hadits tersebut Rasulullah salah memberikan nasehat dalam penanaman kurma berikut contoh pernyataan mereka selengkapnya</p>
<p><em>&#8220;Ketika Nabi shallalahu alaihi wasallam memberikan nasihat tentang cara mengawinkan pohon kurma supaya berbuah, ini bisa dianggap bahwa beliau sudah memasukkan otoritas agama untuk urusan duniawi yang di mana beliau tidak mendapatkan wahyu atau kewenangan untuk itu. Tapi ternyata dalam masalah menanam kurma ini pendapat beliau keliru. Pohon kurma itu malah menjadi mandul. Maka para petani kurma itu mengadu lagi kepada Nabi saw, meminta pertanggungjawaban beliau. Dan beliau menyadari kesalahan advisnya waktu itu dan dengan rendah hati berkata, “Kalau itu berkaitan dengan urusan agama ikutilah aku, tapi kalau itu berkaitan dengan urusan dunia kamu, maka “Antum a’lamu bi umuri dunyaakum”, kamu sekalian lebih mengetahui urusan duniamu. Rasulullah mengakui keterbatasannya. Rasulullah bukanlah penentu untuk segala hal. Rasul bukanlah orang yang paling tahu untuk segala hal. Bahkan untuk urusan dunia di jaman beliau pun beliau bukanlah orang yang paling tahu. Jadi tidak mungkin jika kita menuntut Rasulullah untuk mengetahui segala sesuatu hal tentang urusan dunia. Apalagi kalau mengurusi urusan kita di jaman modern ini…! Tentu tidak mungkin kita harus mencari-cari semua aturan tetek-bengek dalam hadist beliau. Itu namanya set-back. Lha wong di jamannya saja Rasulullah menyatakan bahwa ada hal-hal yang tidak beliau pahami dan hendaknya tidak mengikuti pendapat beliau dalam ‘urusan duniamu’ tersebut</em>.&#8221;</p>
<p>Dalam hadits di atas Rasulullah hanya memberikan tanggapan mengapa mesti kurma itu dikawinkan segala, mengapa tidak dibiarkan begitu saja secara alami. Hal ini dapat kita ketahui terkait firman Allah Azza wa Jalla,  “subhaana alladzii khalaqa al-azwaaja kullahaa mimmaa tunbitu al-ardhu” ,  “<em>Maha Suci Tuhan yang telah menciptakan pasangan-pasangan semuanya, baik dari apa yang ditumbuhkan oleh bumi</em>”  (QS Yaa Siin [36]:36).</p>
<p>Permasalahan kurma tersebut tumbuh dalam keadaan rusak tidaklah terkait dengan tanggapan Rasulullah.</p>
<p>Sedangkan makna perkataan Rasulullah,  “wa antum a’lamu bi amri dunyakum,  “dan kamu sekalian lebih mengetahui urusan-urusan duniamu” ,  yang dimaksud “urusan dunia”  khusus urusan disiplin ilmu tertentu atau pengetahuan tertentu di luar ilmu agama, seperti dalam hadits tersebut adalah ilmu pertanian, ilmu pengetahuan manusia dalam membantu perkawinan kurma. Namun ilmu pengetahuan yang didalami oleh manusia harus tetap merujuk dengan Al Qur’an dan As Sunnah dan menetapkannya dalam hukum taklifi yang lima (haram, makruh, wajib, sunnah, dan mubah).  Perbuatan merujuk dengan Al Qur’an dan As Sunnah termasuk ke dalam dzikrullah (mengingat Allah) sebagaimana Ulil Albab</p>
<p>Ulil Albab sebagaimana firman Allah yang artinya, “<em>(yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): “Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka</em>” (Ali Imran: 191).</p>
<p>Wassalam</p>
<p>Zon di Jonggol, Kab Bogor 16830</p>
<br />Filed under: <a href='http://mutiarazuhud.wordpress.com/category/islam/'>Islam</a>, <a href='http://mutiarazuhud.wordpress.com/category/umum/'>Umum</a>  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/mutiarazuhud.wordpress.com/4600/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/mutiarazuhud.wordpress.com/4600/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/mutiarazuhud.wordpress.com/4600/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/mutiarazuhud.wordpress.com/4600/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/mutiarazuhud.wordpress.com/4600/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/mutiarazuhud.wordpress.com/4600/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/mutiarazuhud.wordpress.com/4600/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/mutiarazuhud.wordpress.com/4600/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/mutiarazuhud.wordpress.com/4600/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/mutiarazuhud.wordpress.com/4600/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/mutiarazuhud.wordpress.com/4600/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/mutiarazuhud.wordpress.com/4600/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/mutiarazuhud.wordpress.com/4600/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/mutiarazuhud.wordpress.com/4600/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=mutiarazuhud.wordpress.com&amp;blog=7078984&amp;post=4600&amp;subd=mutiarazuhud&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://mutiarazuhud.wordpress.com/2012/01/15/bisa-terjerumus-sekulerisme/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/da9e7464e9e3c4447f52e554f6476dfa?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">mutiarazuhud</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Tanggapan bantahan bid&#8217;ah</title>
		<link>http://mutiarazuhud.wordpress.com/2012/01/13/tanggapan-bantahan-bidah/</link>
		<comments>http://mutiarazuhud.wordpress.com/2012/01/13/tanggapan-bantahan-bidah/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 13 Jan 2012 11:22:34 +0000</pubDate>
		<dc:creator>mutiarazuhud</dc:creator>
				<category><![CDATA[Islam]]></category>
		<category><![CDATA[Umum]]></category>
		<category><![CDATA[agama]]></category>
		<category><![CDATA[bantahan]]></category>
		<category><![CDATA[baru]]></category>
		<category><![CDATA[belajar agama]]></category>
		<category><![CDATA[bid'ah]]></category>
		<category><![CDATA[dliuar]]></category>
		<category><![CDATA[haram]]></category>
		<category><![CDATA[hasanah]]></category>
		<category><![CDATA[ilmu agama]]></category>
		<category><![CDATA[kewajiban]]></category>
		<category><![CDATA[larangan]]></category>
		<category><![CDATA[laranganNya]]></category>
		<category><![CDATA[pengharaman]]></category>
		<category><![CDATA[perintahNya]]></category>
		<category><![CDATA[perkara]]></category>
		<category><![CDATA[Syariat]]></category>
		<category><![CDATA[Tanggapan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://mutiarazuhud.wordpress.com/?p=4595</guid>
		<description><![CDATA[Tanggapan terhadap bantahan mereka akan adanya bid’ah hasanah Al-Qur’an diturunkan dalam bahasa Arab yang jelas namun pemahaman yang dalam haruslah dilakukan oleh orang-orang yang berkompeten atau ahlinya (ulama). Firman Allah ta’ala yang artinya, “Kitab yang dijelaskan ayat-ayatnya, yakni bacaan dalam bahasa Arab, untuk kaum yang mengetahui” (QS Fush shilat [41]:3) Pada hakikatnya kita diperintahkan untuk [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=mutiarazuhud.wordpress.com&amp;blog=7078984&amp;post=4595&amp;subd=mutiarazuhud&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Tanggapan terhadap bantahan mereka akan adanya bid’ah hasanah </strong></p>
<p>Al-Qur’an diturunkan dalam bahasa Arab yang jelas namun pemahaman yang dalam haruslah dilakukan oleh orang-orang yang berkompeten atau ahlinya (ulama).</p>
<p>Firman Allah ta’ala yang artinya, “<em>Kitab yang dijelaskan ayat-ayatnya, yakni bacaan dalam bahasa Arab, untuk kaum yang mengetahui</em>” (QS Fush shilat [41]:3)</p>
<p>Pada hakikatnya kita diperintahkan untuk mengikuti orang yang mengetahui Al Qur’an dan As Sunnah</p>
<p>Firman Allah ta’ala yang artinya, “<em>Maka bertanyalah kepada orang yang mempunyai pengetahuan jika kamu tidak mengetahui.</em>” [QS. an-Nahl : 43]</p>
<p>Pertanyaanlah adalah pemahaman/pendapat ulama siapakah yang patut kita ikuti agar tidak menimbulkan penyesalan di akhirat kelak.</p>
<p>Firman Allah ta’ala yang artinya,</p>
<p>“<em>(Yaitu) ketika orang-orang yang diikuti itu berlepas diri dari orang-orang yang mengikutinya, dan mereka melihat siksa; dan (ketika) segala hubungan antara mereka terputus sama sekali.</em>” (QS al Baqarah [2]: 166)</p>
<p>“<em>Dan berkatalah orang-orang yang mengikuti: “Seandainya kami dapat kembali (ke dunia), pasti kami akan berlepas diri dari mereka, sebagaimana mereka berlepas diri dari kami.” Demikianlah Allah memperlihatkan kepada mereka amal perbuatannya menjadi sesalan bagi mereka; dan sekali-kali mereka tidak akan keluar dari api neraka.</em>” (QS Al Baqarah [2]: 167)</p>
<p>Hal yang harus kita ingat selalu dalam memahami ilmu agama lebih baik dan selamat kita mengikuti pemahaman atau pendapat Imam Mazhab yang empat sebagai pemimpin atau imam ijtihad kaum muslim pada umumnya (Imam Mujtahid Mutlak) yang bertalaqqi (mengaji) dengan Salafush Sholeh.</p>
<p>Kita mengikuti Imam Mazhab yang empat beserta penjelasan dari ulama-ulama pengikut mereka sambil merujuk darimana mereka mengambil yaitu Al Quran dan as Sunnah.</p>
<p>Begitupula kita dalam belajar agama, di dunia maya melalui media internet maupun di dunia nyata melalui buku, tulisan atau mengaji kepada ulama , pastikanlah apa yang disampaikan bersumber dari pemahaman atau pendapat Imam Mazhab atau pastikan penulis atau pendakwahnya bermazhab dengan salah satu Imam Mazhab yang empat.</p>
<p>Imam Malik ra berkata: “<em>Janganlah engkau membawa ilmu (yang kau pelajari) dari orang yang tidak engkau ketahui catatan (riwayat) pendidikannya (sanad ilmu)</em>”</p>
<p>Sebaiknya janganlah mengikuti pemahaman ulama yang mengaku-aku mengikuti pemahaman Salafush Sholeh namun kenyataannya mereka tidak bertalaqqi (mengaji) dengan Salafush Sholeh. Darimana mereka mendapatkan pemahaman Salafush Sholeh kalau bukan pemahaman mereka sendiri dengan akal pikiran mereka sendiri.</p>
<p>Sebaiknya jangan pula mengikuti pendapat ulama yang berasal dari perkataan atau kitab Imam Mazhab yang empat namun telah ditahrif atau dipahami oleh ulama bukan pengikut Imam Mazhab dengan akal pikiran mereka sendiri.</p>
<p>Rasulullah telah melarang kita untuk memahami Al Qur’an dengan akal pikiran kita sendiri</p>
<p>Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda, “<em>Barangsiapa menguraikan Al Qur’an dengan akal pikirannya sendiri dan merasa benar, maka sesungguhnya dia telah berbuat kesalahan</em>”. (HR. Ahmad)</p>
<p>Dari Ibnu ‘Abbas r.a. berkata Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda, “<em>di dalam agama itu tidak ada pemahaman berdasarkan akal pikiran, sesungguhnya agama itu dari Tuhan, perintah-Nya dan larangan-Nya.</em>” (Hadits riwayat Ath-Thabarani)</p>
<p>Ibnul Mubarak berkata :”<em>Sanad merupakan bagian dari agama, kalaulah bukan karena sanad, maka pasti akan bisa berkata siapa saja yang mau dengan apa saja yang diinginkannya.</em>” (Diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Muqoddimah kitab Shahihnya 1/47 no:32 )</p>
<p>Dari Ibnu Abbas ra Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda…”<em>Barangsiapa yg berkata mengenai Al-Qur’an tanpa ilmu maka ia menyediakan tempatnya sendiri di dalam neraka</em>” (HR.Tirmidzi)</p>
<p>Imam Syafi’i ~rahimahullah mengatakan “<em>tiada ilmu tanpa sanad</em>”.</p>
<p>Al-Hafidh Imam Attsauri ~rahimullah mengatakan “<em>Penuntut ilmu tanpa sanad adalah bagaikan orang yang ingin naik ke atap rumah tanpa tangga</em>”</p>
<p>Bahkan Al-Imam Abu Yazid Al-Bustamiy , quddisa sirruh (Makna tafsir QS.Al-Kahfi 60) ; “<em>Barangsiapa tidak memiliki susunan guru dalam bimbingan agamanya, tidak ragu lagi niscaya gurunya syetan</em>” Tafsir Ruhul-Bayan Juz 5 hal. 203</p>
<p>Sanad ilmu / sanad guru sama pentingnya dengan sanad hadits.<br />
Sanad hadits adalah otentifikasi atau kebenaran sumber perolehan matan/redaksi hadits dari lisan Rasulullah.<br />
Sedangkan Sanad ilmu atau sanad guru adalah otentifikasi atau kebenaran sumber perolehan penjelasan baik Al Qur’an maupun As Sunnah dari lisan Rasulullah.</p>
<p>Hal yang harus kita ingat bahwa Al Qur’an pada awalnya tidaklah dibukukan. Ayat-ayat Al Qur’an hanya dibacakan dan dihafal (imla) kemudian dipahami bersama dengan yang menyampaikannya.</p>
<p>Hal yang akan dipertanyakan terhadap sebuah pendapat / pemahaman seperti :<br />
“<em>Apakah yang kamu pahami telah disampaikan / dikatakan oleh ulama-ulama terdahulu yang tersambung lisannya kepada Rasulullah shallallahu alaihi wasallam</em> ?&#8221;<br />
“Siapakah ulama-ulama terdahulu yang mengatakan hal itu ?&#8221;<br />
“<em>Dari siapakah mendapatkan pemahaman seperti itu</em> ?&#8221;</p>
<p>Imam Malik ra berkata: “<em>Janganlah engkau membawa ilmu (yang kau pelajari) dari orang yang tidak engkau ketahui catatan (riwayat) pendidikannya (sanad ilmu)</em>”</p>
<p>Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda yang artinya “<em>Sampaikan dariku sekalipun satu ayat dan ceritakanlah (apa yang kalian dengar) dari Bani Isra’il dan itu tidak apa (dosa). Dan siapa yang berdusta atasku dengan sengaja maka bersiap-siaplah menempati tempat duduknya di neraka</em>” (HR Bukhari)</p>
<p>Hakikat makna hadits tersebut adalah kita hanya boleh menyampaikan satu ayat yang diperoleh dari orang yang disampaikan secara turun temurun sampai kepada lisannya Sayyidina Muhammad bin Abdullah Shallallahu alaihi wasallam.</p>
<p>Kita tidak diperkenankan menyampaikan apa yang kita pahami dengan akal pikiran sendiri dengan cara membaca dan memahami namun kita sampaikan apa yang kita dengar dan pahami dari lisan mereka yang sanad ilmunya tersambung kepada lisannya Rasulullah shallallahu alaihi wasallam karena hanya perkataan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam yang merupakan kebenaran atau ilmuNya.</p>
<p>Rasulullah shallallahu alaihi wasallam menyampaikan agama kepada Sahabat. Sahabat menyampaikan kepada Tabi’in. Tabi’in menyampaikan pada Tabi’ut Tabi’in. Para Imam Mazhab yang empat, pemimpin / imam ijtihad kaum muslim pada umumnya, mereka berijtihad dan beristinbat berlandaskan hasil bertalaqqi (mengaji ) pada Salafush Sholeh</p>
<p>Contoh permasalahan yang menjadi perseilsihan adalah dalam memahami tentang bid’ah.</p>
<p>Dalam memahami tentang bid’ah tidak terlepas dengan pemahaman terhadap apa yang dimaksud dengan agama atau perkara syariat atau disebut juga “urusan kami”.</p>
<p>Dari Ibnu ‘Abbas r.a. berkata Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda, “<em>sesungguhnya agama itu dari Tuhan, perintah-Nya dan larangan-Nya.</em>” (Hadits riwayat Ath-Thabarani)</p>
<p><strong>Agama atau perkara syariat adalah segala perkara yang telah disyaratkan oleh Allah Azza wa Jalla  yang harus dipenuhi sebagai hamba Allah  yakni menjalankan segala apa yang telah ditetapkanNya atau diwajibkanNya, wajib dijalankan dan wajib dijauhi, meliputi menjalankan kewajibanNya yang jika ditinggalkan berdosa, menjauhi segala yang telah dilarangNya yang jika dilanggar berdosa dan menjauhi segala yang telah diharamkanNya yang jika dilanggar berdosa</strong>.</p>
<p>Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda, “<em>Sesungguhnya Allah telah mewajibkan beberapa kewajiban (ditinggalkan berdosa), maka jangan kamu sia-siakan dia; dan Allah telah memberikan beberapa larangan (dikerjakan berdosa)), maka jangan kamu langgar dia; dan Allah telah mengharamkan sesuatu (dikerjakan berdosa), maka jangan kamu pertengkarkan dia; dan Allah telah mendiamkan beberapa hal sebagai tanda kasihnya kepada kamu, Dia tidak lupa, maka jangan kamu perbincangkan dia.</em>” (Riwayat Daraquthni, dihasankan oleh an-Nawawi)</p>
<p>Al-Imam an-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menuliskan: “<em>Sabda Rasulullah “Kullu Bid’ah dlalalah” ini adalah ‘Amm Makhshush; artinya, lafazh umum yang telah dikhususkan kepada sebagian maknanya. Jadi yang dimaksud adalah bahwa sebagian besar bid’ah itu sesat (bukan mutlak semua bid’ah itu sesat)</em>” (al-Minhaj Bi Syarah Shahih Muslim ibn al-Hajjaj, j. 6, hlm. 154).</p>
<p>Dalam perkara syariat berlaku kaidah “<em>hukum asal ibadah adalah haram sampai ada dalil yang mensyari&#8217;atkannya atau menetapkannya</em>”.</p>
<p>Dalam perkara syariat harus sesuai dengan apa yang  disampaikan dan dicontohkan oleh Rasulullah shallallahu alaihi wasallam<br />
Perkara baru (bid’ah) dalam perkara syariat pastilah termasuk bid’ah dholalah.</p>
<p>Sedangkan sikap dan perbuatan  yang baru , yang tidak pernah dilakukan / dicontohkan oleh Rasulullah  dan diluar apa yang telah diwajibkanNya atau diluar perkara syariat maka berlaku kaidah sebagai berikut,</p>
<p>1. Sikap dan perbuatan yang baru bertentangan dengan Al Qur’an dan As Sunnah maka termasuk bid’ah dholalah<br />
2. Sikap dan perbuatan yang baru tidak bertentangan dengan Al Qur’an dan As Sunnah  maka termasuk  bid’ah hasanah atau bid’ah mahmudah</p>
<p>Perkara baru (bid’ah) diluar apa yang telah diwajibkanNya atau diluar perkara syariat berlaku kaidah “<em>hukum asal segala sesuatu adalah mubah sampai ada dalil yang melarangnya</em>”</p>
<p>Segala sikap dan perbuatan diluar apa yang telah diwajibkanNya atau diluar perkara syariat yang tidak bertentangan dengan Al Qur’an dan As Sunnah disebut sebagai amal kebaikan sebagai sarana memperjalankan diri agar sampai (wushul) kepada Allah Azza wa Jalla atau sebagai sarana mendekatkan diri kepada Allah Azza wa Jalla  hingga dapat meraih cintaNya</p>
<p>Dalam sebuah hadits qudsi Rasulullah bersabda,  “<em>hamba-Ku tidak bisa mendekatkan diri kepada-Ku dengan sesuatu yang lebih Aku cintai daripada yang telah Aku wajibkan (perkara syariat), jika hamba-Ku terus menerus mendekatkan diri kepadaKu dengan amalan sunnah (amal kebaikan), maka Aku mencintai dia</em>” (HR Muslim 6021)</p>
<p>Diluar perkara syariat,   kita selalu bersikap dan melakukan perbuatan yang tidak bertentangan dengan Al Qur’an dan As Sunnah maka termasuk dzikrullah (mengingat Allah). Kita mengingat Allah setiap akan bersikap dan berbuat sebagai sarana memperjalankan diri agar sampai (wushul) kepada Allah Azza wa Jalla atau sebagai sarana mendekatkan diri kepada Allah Azza wa Jalla  hingga dapat meraih cintaNya</p>
<p>Dalam suatu riwayat. ”Qoola a’liyy bin Abi Thalib: Qultu yaa Rosuulolloh ayyun thoriiqotin aqrobu ilallohi? Faqoola Rasullulohi: dzikrullahi”. artinya; “Ali Bin Abi Thalib berkata; “aku bertanya kepada Rasullulah, jalan / metode (thariqot) apakah yang bisa mendekatkan diri kepada Allah? “Rasullulah menjawab; “dzikrullah.”</p>
<p>Segala sikap dan perbuatan diluar apa yang telah diwajibkanNya atau diluar perkara syariat tidak harus sesuai sebagaimana yang dicontohkan oleh Rasulullah shallallahu alaihi wasallam. Boleh terjadi perkara baru dalam perkara diluar apa yang telah diwajibkanNya atau diluar perkara syariat.</p>
<p>Imam Syafi’i ~rahimahullah berkata “<em>Apa yang baru terjadi dan menyalahi kitab al Quran atau sunnah Rasul atau ijma’ atau ucapan sahabat, maka hal itu adalah bid’ah yang dhalalah. Dan apa yang baru terjadi dari kebaikan dan tidak menyalahi sedikitpun dari hal tersebut, maka hal itu adalah bid’ah mahmudah (terpuji)</em>”</p>
<p>Imam Syafi’i ~rahimahullah berkata “<em>Perkara-perkara yang baru (al muhdats) terbagi dua, Pertama : perkara baru yang bertentangan dengan kitab, sunnah, atsar para sahabat dan ijma’, ini adalah bid’ah dlalalah,  kedua: perkara baru yang baik dan tidak bertentangan dengan salah satu dari hal-hal di atas, maka ini adalah perkara baru yang tidak tercela</em>” (Diriwayatkan oleh al Hafizh al Baihaqi dalam kitabnya “Manaqib asy-Syafi’i”, Juz I, h. 469)</p>
<p>Contoh bid’ah hasanah adalah peringatan Maulid Nabi sebagaimana yang telah disampaikan oleh para ulama yang mengikuti pemahaman atau pendapat Imam Mazhab yang empat.</p>
<p>Imam Al hafidh Abu Syaamah rahimahullah (Guru imam Nawawi) : “<em>Merupakan Bid’ah hasanah yang mulia dizaman kita ini adalah perbuatan yang diperbuat setiap tahunnya di hari kelahiran Rasul shallallahu alaihi wasallam dengan banyak bersedekah, dan kegembiraan, menjamu para fuqara, seraya menjadikan hal itu memuliakan Rasul shallallahu alaihi wasallam dan membangkitkan rasa cinta pada beliau shallallahu alaihi wasallam, dan bersyukur kepada Allah ta’ala dengan kelahiran Nabi shallallahu alaihi wasallam</em>“.</p>
<p>Imamul Qurra’ Alhafidh Syamsuddin Aljazriy rahimahullah dalam kitabnya ‘Urif bitta’rif Maulidissyariif : “<em>Telah diriwayatkan Abu Lahab diperlihatkan dalam mimpi dan ditanya apa keadaanmu?, ia menjawab : “di neraka, tapi aku mendapat keringanan setiap malam senin, itu semua sebab aku membebaskan budakku Tsuwaibah demi kegembiraanku atas kelahiran Nabi shallallahu alaihi wasallam dan karena Tsuwaibah menyusuinya ” (shahih Bukhari hadits no.4813). maka apabila Abu Lahab Kafir yang Alqur’an turun mengatakannya di neraka mendapat keringanan sebab ia gembira dengan kelahiran Nabi shallallahu alaihi wasallam, maka bagaimana dengan muslim ummat Muhammad shallallahu alaihi wasallam yang gembira atas kelahiran Nabi shallallahu alaihi wasallam?, maka demi usiaku, sungguh balasan dari Tuhan Yang Maha Pemurah sungguh-sungguh ia akan dimasukkan ke sorga kenikmatan Nya dengan sebab anugerah Nya</em>“.</p>
<p>Imam Al Hafidh Assakhawiy dalam kitab Sirah Al Halabiyah berkata “<em>tidak dilaksanakan maulid oleh salaf hingga abad ke tiga, tapi dilaksanakan setelahnya, dan tetap melaksanakannya umat Islam di seluruh pelosok dunia dan bersedekah pada malamnya dengan berbagai macam sedekah dan memperhatikan pembacaan maulid, dan berlimpah terhadap mereka keberkahan yang sangat besar</em>”.</p>
<p>Imam Al hafidh Ibn Abidin rahimahullah dalam syarahnya maulid ibn hajar berkata : “<em>ketahuilah salah satu bid’ah hasanah adalah pelaksanaan maulid di bulan kelahiran nabi shallallahu alaihi wasallam</em>”</p>
<p>Imam Al Hafidh Ibnul Jauzi rahimahullah, dengan karangan maulidnya yang terkenal “al aruus” juga beliau berkata tentang pembacaan maulid, “<em>Sesungguhnya membawa keselamatan tahun itu, dan berita gembira dengan tercapai semua maksud dan keinginan bagi siapa yang membacanya serta merayakannya</em>”.</p>
<p>Imam Al Hafidh Al Qasthalaniy rahimahullah dalam kitabnya Al Mawahibulladunniyyah juz 1 hal 148 cetakan al maktab al islami berkata: “<em>Maka Allah akan menurukan rahmat Nya kepada orang yang menjadikan hari kelahiran Nabi saw sebagai hari besar</em>”.</p>
<p><strong>Mereka yang bukan bermazhab Syafi’i  membantah adanya bid’ah hasanah dengan pendapat sebagai berikut</strong></p>
<p>“<em>maksud Imam As-Syafii adalah pengklasifikasian bid&#8217;ah ditinjau dari sisi bahasa. Oleh karenanya beliau berdalil dengan perkataan Umar bin Al-Khottoob :&#8221;Sebaik-baik bid&#8217;ah adalah ini (yaitu sholat tarawih berjamaah)&#8221;. Padahal telah diketahui bersama &#8211; bahwasanya sholat tarwih berjamaah pernah dikerjakan oleh Nabi shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em>”</p>
<p>Kesalahpahaman yang telah terjadi selama ini seolah-olah Umar bin Al-Khottoob tidak mengetahui bahwa Rasulullah shallallahu &#8216;alaihi wa sallam pernah mengerjakan sholat tarwih berjama’ah.  Yang dimaksud Umar bin Al-Khottoob dengan “sebaik-baik bid’ah” adalah meramaikan malam bulan ramadhan dengan sholat tarwih berjama’ah sebulan penuh sebagai bagian dari syiar Islam.</p>
<p>“<em>Shalat tarawih termasuk dari syi’ar Islam yang tampak maka serupa dengan shalat ‘Ied</em>”. (Syarh Shahih Muslim, 6/282)</p>
<p>Jadi yang dikatakan bid’ah atau perkara baru adalah melaksanakan sholat tarwih berjama’ah setiap malam di bulan Ramadhan karena Rasulullah tidak melakukannya setiap malam dan mencontohkan meninggalkannya pada beberapa malam agar kaum muslim tidak berkeyakinan sebagai sebuah kewajiban yang jika ditinggalkan berdosa.</p>
<p>حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ يَحْيَى قَالَ قَرَأْتُ عَلَى مَالِكٍ عَنْ ابْنِ شِهَابٍ عَنْ عُرْوَةَ عَنْ عَائِشَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ صَلَّى فِي الْمَسْجِدِ ذَاتَ لَيْلَةٍ فَصَلَّى بِصَلَاتِهِ نَاسٌ ثُمَّ صَلَّى مِنْ الْقَابِلَةِ فَكَثُرَ النَّاسُ ثُمَّ اجْتَمَعُوا مِنْ اللَّيْلَةِ الثَّالِثَةِ أَوْ الرَّابِعَةِ فَلَمْ يَخْرُجْ إِلَيْهِمْ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَلَمَّا أَصْبَحَ قَالَ قَدْ رَأَيْتُ الَّذِي صَنَعْتُمْ فَلَمْ يَمْنَعْنِي مِنْ الْخُرُوجِ إِلَيْكُمْ إِلَّا أَنِّي خَشِيتُ أَنْ تُفْرَضَ عَلَيْكُمْ قَالَ وَذَلِكَ فِي رَمَضَانَ</p>
<p>Telah menceritakan kepada kami Yahya bin Yahya ia berkata, saya telah membacakan kepada Malik dari Ibnu Syihab dari Urwah dari Aisyah bahwasanya; Pada suatu malam (di bulan Ramadlan), Rasulullah shallallahu &#8216;alaihi wasallam shalat di Masjid, lalu diikuti oleh beberapa orang sahabat. Kemudian (pada malam kedua) beliau shalat lagi, dan ternyata diikuti oleh banyak orang. Dan pada malam ketiga atau keempat mereka berkumpul, namun Rasulullah shallallahu &#8216;alaihi wasallam tidak keluar shalat bersama mereka. Maka setelah pagi, beliau bersabda: &#8220;Sesungguhnya aku tahu apa yang kalian lakukan semalam. Tiada sesuatu pun yang menghalangiku untuk keluar dan shalat bersama kalian, hanya saja aku khawatir (shalat tarawih itu) akan diwajibkan atas kalian.&#8221; ( HR Muslim 1270 )</p>
<p>Bid’ah hasanah , jika yang melakukan sholat tarawih berjamaah sebulan penuh berkeyakinan bahwa itu adalah amal kebaikan selama bulan ramadhan walaupun Rasulullah tidak mencontohkan / melakukannya sebulan penuh.</p>
<p>Bid’ah dholalah, jika mereka berkeyakinan bahwa sholat tarawih berjamaah sebulan penuh adalah kewajibanNya atau perintahNya (ditinggalkan berdosa) karena sholat tarawih sebulan penuh tidak pernah ditetapkan oleh Allah Azza wa Jalla sebagai kewajiban (ditinggalkan berdosa). Yang ditetapkan oleh Allah Azza wa Jalla sebagai kewajiban (ditinggalkan berdosa) yang harus dikerjakan sebulan penuh pada bulan Ramadhan adalah berpuasa.</p>
<p>Begitupula dengan peringatan Maulid Nabi,</p>
<p>Bid’ah hasanah, jika yang melakukan peringatan Maulid Nabi berkeyakinan sebagai amal kebaikan bukan termasuk perkara syariat atau bukan termasuk apa yang disyaratkan oleh Allah Azza wa Jalla yang harus dipenuhi sebagai hamba atau bukan termasuk perkara syariat</p>
<p>Bid’ah dholalah, jika yang melakukan peringatan Maulid Nabi berkeyakinan sebagai kewajiban yang jika ditinggalkan berdosa karena peringatan Maulid Nabi adalah termasuk perkara yang tidak diwajibkanNya.</p>
<p><strong></strong><strong>Mereka yang bukan bermazhab Syafi’i  kembali membantah adanya bid’ah hasanah dengan pendapat sebagai berikut</strong></p>
<p>&#8220;<em>Imam Asy-Syafi&#8217;i menghendaki dengan bid&#8217;ah hasanah adalah perkara-perkara yang termasuk dalam bab al-maslahah al-mursalah, yaitu perkara-perkara adat yang mewujudkan kemaslahatan bagi manusia dan tidak terdapat dalil (nas) khusus, karena hal ini tidaklah tercela sesuai dengan kesepakatan para Sahabat meskipun hal ini dinamakan dengan muhdatsah (perkara yang baru) atau dinamakan bid&#8217;ah jika ditinjau dari sisi bahasa</em>&#8220;.</p>
<p>Pendapat atau pemahaman seperti ini adalah menjurus kepada paham Sekulerisme , suatu paham yang menyakini bahwa ada perbuatan manusia sebagai ibadah yang berhubungan dengan urusan akhirat dan ada perbuatan manusia sebagai perkara-perkara adat atau kebiasaan yang berhubungan dengan urusan dunia yang mewujudkan kemaslahatan bagi manusia.</p>
<p>Padahal sebagai hamba Allah maka seluruh sikap dan perbuatan kita adalah untuk beribadah kepada Allah ta’ala karena itulah tujuan kita diciptakanNya. Hal ini telah kami uraikan dalam tulisan pada <a href="http://mutiarazuhud.wordpress.com/2011/12/15/seluruhnya-ibadah/">http://mutiarazuhud.wordpress.com/2011/12/15/seluruhnya-ibadah/</a></p>
<p>Firman Allah ta’ala yang artinya<br />
“<em>Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku</em>” (QS Adz Dzaariyaat 51 : 56)<br />
“<em>Beribadahlah kepada Tuhanmu sampai kematian menjemputmu</em>” (QS al Hijr [15] : 99)</p>
<p>Sebagai hamba Allah maka kita harus menjalankan perkara syariat atau menjalankan apa yang diwajibkanNya dan diluar perkara syariat atau diluar dari apa yang telah diwajibkanNya, kita  harus bersikap dan melakukan perbuatan yang tidak bertentangan dengan Al Qur’an dan As Sunnah.</p>
<p>Entah itu perkara adat atau kebiasaan atau perbuatan yang berhubungan antar manusia atau perbuatan “urusan dunia” harus hanya dilakukan jika tidak bertentangan dengan Al Qur’an dan As Sunnah.</p>
<p>Seluruh perbuatan diluar perkara syariat atau diluar apa yang telah diwajibkanNya harus merujuk dengan hukum taklifi yang lima (haram, makruh, wajib, sunnah, dan mubah).  Langkah merujuk inilah termasuk dzikrullah (mengingat Allah) sebagai sarana memperjalankan diri agar sampai (wushul) kepada Allah atau sarana mendekatkan diri kepada Allah.</p>
<p>Berhubungan antar manusia kita harus mengingat Allah sehingga sikap dan perbuatan antar manusia sesuai dengan apa yang dicintaiNya.  Sedangkan berhubungan dengan Allah kita harus mengingat bahwa kita adalah hambaNya.</p>
<p>Jadi perbuatan diluar perkara syariat atau diluar apa yang telah diwajibkanNya adalah termasuk ibadah kepada Allah selama perbuatan tersebut tidak bertentangan dengan Al Qur’an dan As Sunnah  karena sebelum kita melakukan perbuatan tersebut harus mengingat Allah, harus mengingat apakah bertentangan atau tidak bertentangan dengan Al Qur’an dan As Sunnah. Kita hanya melakukan perbuatan diluar perkara syariat atau diluar apa yang telah diwajibkanNya yang tidak bertentangan dengan Al Qur’an dan As Sunnah.</p>
<p>Jadi mungkin saja akan terjadi perbuatan diluar perkara syariat atau diluar apa yang telah diwajibkanNya yang tidak bertentangan dengan Al Qur’an dan As Sunnah namun tidak pernah dilakukan oleh Rasulullah maupun para Sahabat yang dinamakan bid’ah hasanah atau bid’ah mahmudah.</p>
<p>Sedangkan yang dimaksud al-Maslahah al-Mursalah atau Al-Istislah atau kadang disamakan juga dengan al-Istihsan adalah “<em>Menetapkan hukum suatu masalah yang tak ada nash-nya atau tidak ada ijma’ terhadapnya, dengan berdasarkan pada kemaslahatan semata (yang oleh syara’  (dalam Al Qur’an dan As Sunnah) tidak dijelaskan ataupun dilarang</em>”</p>
<p>Menurut Imam Syafi’i  cara-cara penetapan hukum seperti  itu sekali-kali bukan dalil syar’i. Beliau menganggap orang yang menggunakannya  sama dengan menetapkan syari’at berdasarkan hawa nafsu atau berdasarkan pendapat sendiri (akal pikiran sendiri) yang mungkin benar dan mungkin pula salah.</p>
<p>Ibnu Hazm termasuk salah seorang ulama yang menolak cara-cara penetapan hukum seperti  itu Beliau menganggap bahwa cara penetapan seperti  itu menganggap baik terhadap sesuatu atau kemashlahatan menurut hawa nafsunya (akal pikiran sendiri), dan itu bisa benar dan bisa pula salah, misalnya mengharamkan sesuatu tanpa dalil.</p>
<p>Dari Ibnu ‘Abbas r.a. berkata Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda, “<em>di dalam agama itu tidak ada pemahaman berdasarkan akal pikiran, sesungguhnya agama itu dari Tuhan, perintah-Nya dan larangan-Nya.</em>” (Hadits riwayat Ath-Thabarani)</p>
<p>Hal yang harus kita hindari adalah menetapkannya sebagai kewajiban (ditinggalkan berdosa) padahal tidak diwajibkanNya,  menetapkannya sebagai larangan (dilanggar berdosa) padahal tidak dilarangNya, menetapkan sebagai perkara haram (dilanggar berdosa) padahal tidak diharamkanNya dimana kesalahan dalam menetapkan hukum perkara menjerumuskan menjadi  ahli bid’ah,  mereka yang mengada-ada dalam agama atau dalam perkara syariat yang merupakan hak Allah Azza wa Jalla menetapkannya.</p>
<p>Jadi kesalahpahaman dalam memahami bid’ah , justru akan menjerumuskan  menjadi ahli bid’ah, mengada-ada dalam agama atau mengada-ada dalam perkara syariat yakni mengada-ada dalam perkara larangan yang tidak pernah dilarang oleh Allah Azza wa Jalla maupun RasulNya</p>
<p>Firman Allah ta’ala yang artinya,</p>
<p>“<em>Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu haramkan apa-apa yang baik yang telah Allah halalkan bagi kamu dan janganlah kamu melampaui batas, sesungguhnya Allah tidak menyukai orang yang melampaui batas.</em>” (Qs. al-Mâ’idah [5]: 87).</p>
<p>“<em>Katakanlah! Siapakah yang berani mengharamkan perhiasan Allah yang telah diberikan kepada hamba-hambaNya dan beberapa rezeki yang baik itu? Katakanlah! Tuhanku hanya mengharamkan hal-hal yang tidak baik yang timbul daripadanya dan apa yang tersembunyi dan dosa dan durhaka yang tidak benar dan kamu menyekutukan Allah dengan sesuatu yang Allah tidak turunkan keterangan padanya dan kamu mengatakan atas (nama) Allah dengan sesuatu yang kamu tidak mengetahui</em>.” (QS al-A’raf: 32-33)</p>
<p>“<em>Dan janganlah kamu mengatakan terhadap apa yang disebut-sebut oleh lidahmu secara dusta “Ini halal dan ini haram”, untuk mengada-adakan kebohongan terhadap Allah. Sesungguhnya orang-orang yang mengada-adakan kebohongan terhadap Allah tiadalah beruntung</em>” [QS. An-Nahl : 116].</p>
<p>Dalam hadits Qudsi , Rasulullah bersabda: “<em>Aku ciptakan hamba-hambaKu ini dengan sikap yang lurus, tetapi kemudian datanglah syaitan kepada mereka. Syaitan ini kemudian membelokkan mereka dari agamanya, dan mengharamkan atas mereka sesuatu yang Aku halalkan kepada mereka, serta mempengaruhi supaya mereka mau menyekutukan Aku dengan sesuatu yang Aku tidak turunkan keterangan padany</em>a.” (Riwayat Muslim).</p>
<p>Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda :</p>
<p>من حلل حراما او حرم حلالا فقد كفر</p>
<p>“<em>Barangsiapa menghalalkan sesuatu yang haram atau mengharamkan sesuatu yang halal, maka dia telah kafir.</em>”</p>
<p><strong>Bantahan lainnya dari mereka pengikut ulama Ibnu Taimiyyah berlandaskan pendapat beliau sebagai berikut,</strong></p>
<p>Ulama Ibnu Taimiyah dalam Al-Qawa’id An-Nuraniyyah Al-Fiqhiyyah (hal 112) berkata, “Dengan mencermati syari’at, maka kita akan mengetahui bahwa ibadah-ibadah yang diwajibkan Allah atau yang disukaiNya, maka penempatannya hanya melalui syari’at”</p>
<p>Dalam Majmu Al-Fatawa (XXXI/35), beliau berkata, “Semua ibadah, ketaatan dan taqarrub adalah berdasarkan dalil dari Allah dan RasulNya, dan tidak boleh seorang pun yang menjadikan sesuatu sebagai ibadah atau taqarrub kepada Allah kecuai dengan dalil syar’i”.</p>
<p>Ulama Ibnu Taimiyyah semula bermazhab Hambali, bertalaqqi (mengaji) kepada ulama-ulama bermazhab Hambali. Namun pada akhirnya ulama Ibnu Taimiyyah memahami Al Qur’an dan As Sunnah  lebih menyandarkan dengan belajar sendiri (secara otodidak) melalui cara muthola’ah (menelaah kitab) dan memahaminya dengan akal pikiran sendiri (pemahaman secara ilmiah). Hal ini telah diuraikan dalam tulisan pada <a href="http://mutiarazuhud.wordpress.com/2012/01/01/2011/07/28/semula-bermazhab-hambali/">http://mutiarazuhud.wordpress.com/2012/01/01/2011/07/28/semula-bermazhab-hambali/</a></p>
<p>Dari pendapat Ulama Ibnu Taimiyyah di atas maka kita dapat simpulkan bahwa beliau termasuk salah satu ulama yang berpendapat bahwa perbuatan manusia ada ibadah dan ada pula bukan ibadah.</p>
<p>Sebenarnya pada saat beliau mengatakan “<em>Semua ibadah, ketaatan dan taqarrub adalah berdasarkan dalil dari Allah dan RasulNya</em>”  sudah menjelaskan kategori perbuatan manusia yakni perbuatan yang berhubungan dengan ketaatan atau perkara syariat  dan perbuatan yang berhubungan dengan upaya taqarrub kepada Allah atau upaya memperjalankan diri agar sampai (wushul)  kepada Allah atau mendekatkan diri kepada Allah.  Perbuatan yang mendekatkan diri kepada Allah adalah  perbuatan diluar perkara syariat (diluar apa yang telah diwajibkanNya) yang tidak bertentangan dengan Al Qur’an dan As Sunnah.</p>
<p>Sebagaimana yang telah kami sampaikan diatas bahwa mungkin saja terjadi perbuatan diluar perkara syariat atau diluar apa yang telah diwajibkanNya yang tidak bertentangan dengan Al Qur’an dan As Sunnah yang tidak pernah dilakukan atau dicontohkan oleh Rasulullah yang disebut dengan bid’ah hasanah</p>
<p>Contoh Bid’ah hasanah lainnya adalah membuat matan/redaksi sholawat sendiri yang isinya tidak bertentangan dengan Al Qur’an dan As Sunnah</p>
<p>Perintahnya adalah bersholawatlah namun tidak ada larangan menggunakan matan/redaksi sholawat yang dibuat sendiri.</p>
<p>Firman Allah Azza wa Jalla,</p>
<p>“<em>Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Hai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya</em>” (QS (QS Al Ahzab [33]: 56)</p>
<p>Imam Sayyidina Ali Karramallahu Wajhah, Imam Syafi’i ~ rahimahullah dan ulama-ulama terdahulu lainnya mempunyai matan/redaksi sendiri sesuai bagaimana mereka mengungkapkan kecintaannya kepada Rasulullah shallallahu alaihi wasallam</p>
<p>Shalawat Sayyidina ‘Ali Karramallahu Wajhah:</p>
<p>صَلَوَاتُ اللهِ وَمَلاَئِكَتِهِ وَأَنْبِيَائِهِ وَجَمِيْعِ خَلْقِهِ عَلَى مُحَمَّدٍ وَآلِ مُحَمَّدٍ وَعَلَيْهِمُ السَّلاَمُ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ</p>
<p>Shalawatullahi wa malaa’ikatihi wa anbiyaa’ihi wa jamii’i khalqihii<br />
‘alaa Muhammad wa aali Muhammad wa ‘alaih<br />
wa ‘alaihimussalaamu wa rahmatullaahi wa barakaatuh</p>
<p>&#8220;<em>Shalawat Allah, para MalaikatNya dan para NabiNya serta semua mahlukNya<br />
semoga terlimpah kepada Nabi Muhammad Saw dan Keluarganya dan keturunannya,<br />
dan semoga keselamatan Allah, rahmat Allah serta berkahNya terlimpahkan kepada Mereka</em>&#8220;.</p>
<p>Imam Syafi’i ~rahimahullah pun mempunyai matan/redaksi sholawat yang dibuatnya sendiri seperti.<br />
“<em>Ya Allah, limpakanlah shalawat atas Nabi kami, Muhammad, selama orang-orang yang ingat menyebut-Mu dan orang-orang yang lalai melupakan untuk menyebut-Mu</em> ”<br />
atau<br />
“<em>Ya Allah, limpahkanlah shalawat atas cahaya di antara segala cahaya, rahsia di antara segala rahasia, penawar duka, dan pembuka pintu kemudahan, yakni Sayyidina Muhammad, manusia pilihan, juga kepada keluarganya yang suci dan sahabatnya yang baik, sebanyak jumlah kenikmatan Allah dan karunia-Nya.</em>”</p>
<p>Tulisan tentang matan/redaksi atau lafadz sholawat lainnya pada<br />
<a href="http://www.abatasa.com/pustaka/detail/tauhid/175/lafadz-lafadz-shalawat-dan-penjelasannya-1">http://www.abatasa.com/pustaka/detail/tauhid/175/lafadz-lafadz-shalawat-dan-penjelasannya-1</a><br />
<a href="http://www.abatasa.com/pustaka/detail/tauhid/180/lafadz-lafadz-shalawat-dan-penjelasannya-2">http://www.abatasa.com/pustaka/detail/tauhid/180/lafadz-lafadz-shalawat-dan-penjelasannya-2</a><br />
<a href="http://www.abatasa.com/pustaka/detail/tauhid/183/lafadz-lafadz-shalawat-dan-penjelasannya-3">http://www.abatasa.com/pustaka/detail/tauhid/183/lafadz-lafadz-shalawat-dan-penjelasannya-3</a><br />
<a href="http://www.abatasa.com/pustaka/detail/tauhid/188/lafadz-lafadz-shalawat-dan-penjelasannya-4">http://www.abatasa.com/pustaka/detail/tauhid/188/lafadz-lafadz-shalawat-dan-penjelasannya-4</a></p>
<p>Wassalam</p>
<p>Zon di Jonggol, Kab Bogor 16830</p>
<br />Filed under: <a href='http://mutiarazuhud.wordpress.com/category/islam/'>Islam</a>, <a href='http://mutiarazuhud.wordpress.com/category/umum/'>Umum</a>  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/mutiarazuhud.wordpress.com/4595/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/mutiarazuhud.wordpress.com/4595/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/mutiarazuhud.wordpress.com/4595/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/mutiarazuhud.wordpress.com/4595/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/mutiarazuhud.wordpress.com/4595/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/mutiarazuhud.wordpress.com/4595/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/mutiarazuhud.wordpress.com/4595/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/mutiarazuhud.wordpress.com/4595/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/mutiarazuhud.wordpress.com/4595/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/mutiarazuhud.wordpress.com/4595/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/mutiarazuhud.wordpress.com/4595/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/mutiarazuhud.wordpress.com/4595/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/mutiarazuhud.wordpress.com/4595/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/mutiarazuhud.wordpress.com/4595/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=mutiarazuhud.wordpress.com&amp;blog=7078984&amp;post=4595&amp;subd=mutiarazuhud&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://mutiarazuhud.wordpress.com/2012/01/13/tanggapan-bantahan-bidah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>5</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/da9e7464e9e3c4447f52e554f6476dfa?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">mutiarazuhud</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>
