Feeds:
Pos
Komentar

Posts Tagged ‘Al Hasan Al Basri’

Tasawuf

 

Tujuan beragama adalah menjadi muslim yang baik, muslim yang sholeh, muslim yang berakhlakul karimah, muslim yang ihsan, muslim yang bermakrifat yakni muslim yang menyaksikan Allah dengan hatinya (ain bashiroh).

Rasulullah menyampaikan yang maknanya “Sesungguhnya aku diutus (Allah) untuk menyempurnakan Akhlak.” (HR Ahmad).

Firman Allah ta’ala yang artinya,

Sungguh dalam dirimu terdapat akhlak yang mulia”. (QS Al-Qalam:4)

Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri tauladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan Dia banyak menyebut Allah”. (QS Al-Ahzab:21)

Imam Sayyidina Ali ra berpesan, “Allah subhanahu wa ta’ala telah menjadikan akhlak mulia sebagai perantara antara Dia dan hambaNya. Oleh karena itu,berpeganglah pada akhlak, yang langsung menghubungkan anda kepada Allah

Imam Malik ~rahimahullah menasehatkan agar kita menjalankan perkara syariat sekaligus menjalankan tasawuf agar manusia tidak rusak dan menjadi manusia berakhlak baik

Imam Malik ~rahimahullah menyampaikan nasehat (yang artinya) “Dia yang sedang tasawuf tanpa mempelajari fiqih (menjalankan syariat) rusak keimanannya , sementara dia yang belajar fiqih (menjalankan syariat) tanpa mengamalkan Tasawuf rusaklah dia, hanya dia siapa memadukan keduanya terjamin benar

Begitupula Imam Syafi’i ~rahimahullah menasehatkan kita agar mencapai ke-sholeh-an sebagaimana salaf yang sholeh adalah dengan menjalankan perkara syariat sebagaimana yang mereka sampaikan dalam kitab fiqih sekaligus menjalankan tasawuf untuk mencapai muslim yang baik, muslim yang sholeh, muslim yang berakhlakul karimah atau muslim yang Ihsan

Imam Syafi’i ~rahimahullah menyampaikan nasehat (yang artinya) ,”Berusahalah engkau menjadi seorang yang mempelajari ilmu fiqih (menjalani syariat) dan juga menjalani tasawuf, dan janganlah kau hanya mengambil salah satunya. Sesungguhnya demi Allah saya benar-benar ingin memberikan nasehat padamu. Orang yang hanya mempelajari ilmu fiqih (menjalani syariat) tapi tidak mau menjalani tasawuf, maka hatinya tidak dapat merasakan kelezatan takwa. Sedangkan orang yang hanya menjalani tasawuf tapi tidak mau mempelajari ilmu fiqih (menjalani syariat), maka bagaimana bisa dia menjadi baik (ihsan)?” [Diwan Al-Imam Asy-Syafi'i, hal. 47]

Sebelum belajar Tasawuf, Imam Ahmad bin Hambal menegaskan kepada putranya, Abdullah ra. “Hai anakku, hendaknya engkau berpijak pada hadits. Anda harus hati-hati bersama orang-orang yang menamakan dirinya kaum Sufi. Karena kadang diantara mereka sangat bodoh dengan agama.” Namun ketika beliau berguru kepada Abu Hamzah al-Baghdady as-Shufy, dan mengenal perilaku kaum Sufi, tiba-tiba dia berkata pada putranya “Hai anakku hendaknya engkau bermajlis dengan para Sufi, karena mereka bisa memberikan tambahan bekal pada kita, melalui ilmu yang banyak, muroqobah, rasa takut kepada Allah, zuhud dan himmah yang luhur (Allah)” Beliau mengatakan, “Aku tidak pernah melihat suatu kaum yang lebih utama ketimbang kaum Sufi.” Lalu Imam Ahmad ditanya, “Bukanlah mereka sering menikmati sama’ dan ekstase ?” Imam Ahmad menjawab, “Dakwah mereka adalah bergembira bersama Allah dalam setiap saat…”

Imam Nawawi ~rahimahullah berkata : “ Pokok-pokok metode ajaran tasawwuf ada lima : Taqwa kepada Allah di dalam sepi maupun ramai, mengikuti sunnah di dalam ucapan dan perbuatan, berpaling dari makhluk di dalam penghadapan maupun saat mundur, ridha kepada Allah dari pemberian-Nya baik sedikit ataupun banyak dan selalu kembali pada Allah saat suka maupun duka “. (Risalah Al-Maqoshid fit Tauhid wal Ibadah wa Ushulut Tasawwuf halaman : 20, Imam Nawawi)

Abu Bakar ra berkata, “Orang-orang saleh itu akan dicabut satu persatu, sehingga manusia hanya tinggal yang fasik saja, seperti serbuk kurma dan gandum. Allah sudah tidak peduli lagi terhadap mereka

Semakin akhir zaman maka semakin sedikit atau semakin asing muslim yang mencapai maqom disisiNya atau muslim yang sholeh, muslim yang ihsan, muslim yang bermakrifat, muslim yang menyaksikan Allah ta’ala dengan hati mereka (ain bashiroh).

Orang yang asing, orang-orang yang berbuat kebajikan ketika manusia rusak atau orang-orang shalih di antara banyaknya orang yang buruk, orang yang menyelisihinya lebih banyak dari yang mentaatinya”. (HR. Ahmad)

Islam pada awalnya asing diantara manusia yang berakhlak buruk (non muslim / jahiliyah) dan pada akhirnya akan asing atau semakin sedikit muslim yang mencapai maqom disisiNya atau muslim yang sholeh, muslim yang ihsan, muslim yang bermakrifat, muslim yang menyaksikan Allah ta’ala dengan hati mereka (ain bashiroh).

Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Abbad dan Ibnu Abu Umar semuanya dari Marwan al-Fazari, Ibnu Abbad berkata, telah menceritakan kepada kami Marwan dari Yazid -yaitu Ibnu Kaisan- dari Abu Hazim dari Abu Hurairah dia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Islam muncul dalam keadaan asing, dan ia akan kembali dalam keadaan asing, maka beruntunglah orang-orang yang terasing.” (HR Muslim 208)

DEFINISI TASAWUF

Tasawuf sulit didefinisikan tetapi Istilah/ kata ”tasawuf” timbul pada masa Tabi’in namun benih-benihnya sudah ada sejak jaman Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam dan Para Sahabat. Tentang Tasawuf AL-HASAN AL-BASRI (Madinah,21H – Basrah,110 H) seorang ulama besar dalam beberapa bidang Ilmu, seperti: Hadis, Fikih dan Tafsir, juga seorang pendidik dan sufi, berkata:

”Barangsiapa yang memakai tasawuf karena tawaduk (kepatuhan) kepada Allah akan ditambah Allah cahaya dalam diri dan Hatinya, dan barang siapa yang memakai tasawuf karena kesombongan kepadanya akan dicampakkan kedalam neraka

Ia menyampaikan pesan-pesan pendidikannya melalui 2 Cara:

1. Ia mengajak murid-muridnya menghidupkan kembali kondisi masa salaf, seperti yang terjadi pada masa para sahabat nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam, terutama masa umar bin Khattab, yang selalu berpegang teguh kepada kitabullah dan sunah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam;

2. Ia menyerukan kepada murid-muridnya untuk bersikap Zuhud dalam menghadapi kemewahan dunia, zuhud dalam pengertiannya adalah tidak tamak terhadap kemewahan dunia dan tidak pula lari dari persoalan dunia, tetapi selalu merasa cukup dengan apa yang ada.

Perikehidupan (sirah) nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam merupakan benih-benih tasawuf yaitu pribadi nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam yang sederhana, zuhud, dan tidak pernah terpesona dengan kemewahan dunia. Dalam salah satu Doanya ia memohon: ”Wahai Allah, Hidupkanlah aku dalam kemiskinan dan matikanlah aku selaku orang miskin” (HR.at-Tirmizi, Ibnu Majah dan al-Hakim).

Pada suatu waktu Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam datang kerumah istrinya, Aisyah binti Abu Bakar as-Siddiq. Ternyata dirumahnya tidak ada makanan. Keadaan ini diterimanya dengan sabar, lalu ia menahan lapar dengan berpuasa” (HR.Abu Dawud, at-Tirmizi dan an-Nasa-i) .

Ibadah nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam juga sebagai cikal bakal tasawuf. Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam adalah orang yang paling tekun beribadah. Dalam satu riwayat dari Aisyah RA disebutkan bahwa pada suatu malam nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam mengerjakan shalat malam, didalam salat lututnya bergetar karena panjang dan banyak rakaat salatnya. Tatkala rukuk dan sujud terdengar suara tangisnya namun beliau tetap melaksanakan salat sampai azan Bilal bin Rabah terdengar diwaktu subuh. Melihat nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam demikian tekun melakukan salat, Aisyah bertanya: ”Wahai Junjungan, bukankah dosamu yang terdahulu dan yang akan datang diampuni Allah, mengapa engkau masih terlalu banyak melakukan salat?” nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam menjawab:” Aku ingin menjadi hamba yang banyak bersyukur” (HR.Bukhari dan Muslim).

Selain banyak salat nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam banyak berzikir. Beliau berkata: “Sesungguhnya saya meminta ampun kepada Allah dan bertobat kepada-Nya setiap hari tujuh puluh kali” (HR.at-Tabrani).

Dalam hadis lain dikatakan bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam meminta ampun setiap hari sebanyak seratus kali (HR.Muslim). Selain itu nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam banyak pula melakukan iktikaf dalam mesjid terutama dalam bulan Ramadan.

Akhlak nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam merupakan acuan akhlak yang tidak ada bandingannya. Akhlak nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam bukan hanya dipuji oleh manusia, tetapi juga oleh Allah Subhabahu wa Ta’ala. Hal ini dapat dilihat dalam firman Allah Subhanahu wa Ta’ala yang artinya: “Dan sesungguhnya kami (Muhammad) benar-benar berbudi pekerti yang agung”.(QS.Al Qalam:4) ketika Aisyah ditanya tentang Akhlak Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam, Beliau menjawab: Akhlaknya adalah Al-Qur’an”(HR.Ahmad dan Muslim).

Tingkah laku nabi tercermin dalam kandungan Al-Qur’an sepenuhnya. Dalam diri nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam terkumpul sifat-sifat utama, yaitu rendah hati, lemah lembut, jujur, tidak suka mencari-cari cacat orang lain, sabar, tidak angkuh, santun dan tidak mabuk pujian. Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam selalu berusaha melupakan hal-hal yang tidak berkenan di hatinya dan tidak pernah berputus asa dalam berusaha.

Oleh karena itu, Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam merupakan tipe ideal bagi seluruh kaum muslimin, termasuk pula para sufi. Hal ini sesuai dengan firman Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam surat Al-Ahzab ayat 21 yang artinya:”Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut nama Allah.”.

Kehidupan Empat Sahabat Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam.

Sumber lain yang menjadi sumber acuan oleh para sufi adalah kehidupan para sahabat yang berkaitan dengan keteguhan iman, ketakwaan, kezuhudan dan budi pekerti luhur. Oleh karena setiap orang yang meneliti kehidupan rohani dalam Islam tidak dapat mengabaikan kehidupan kerohanian para sahabat yang menumbuhkan kehidupan sufi diabad-abad sesudahnya.

Kehidupan para sahabat dijadikan acuan oleh para sufi karena para sahabat sebagai murid langsung Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam dalam segala perbuatan dan ucapan mereka senantiasa mengikuti kehidupan Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam.

Oleh karena itu perilaku kehidupan mereka dapat dikatakan sama dengan perilaku kehidupan Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, kecuali hal-hal tertentu yang khusus bagi Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam. Setidaknya kehidupan para Sahabat adalah kehidupan yang paling mirip dengan kehidupan yang dicontohkan oleh Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam karena mereka menyaksikan langsung apa yang diperbuat dan dituturkan oleh Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam.

Oleh karena itu Al-Qur’an memuji mereka: ” Orang-orang yang terdahulu lagi pertama-tama (masuk Islam) diantara orang Muhajirin dan Anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan merekapun ridha kepada Allah dan Allah sediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai didalamnya, mereka kekal didalamnya selama-lamanya. Itulah kemenangan yang besar”. (QS.At Taubah:100).

Abu Nasr as-Sarraj at-Tusi menulis didalam bukunya, Kitab al-Luma`, tentang ucapan Abi Utbah al-Hilwani (salah seorang tabiin) tentang kehidupan para sahabat:” Maukah saya beritahukan kepadamu tentang kehidupan para sahabat Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam? Pertama, bertemu kepada Allah lebih mereka sukai dari pada kehidupan duniawi. Kedua, mereka tidak takut terhadap musuh, baik musuh itu sedikit maupun banyak. Ketiga, mereka tidak jatuh miskin dalam hal yang duniawi, dan mereka demikian percaya pada rezeki Allah Subhanahu wa Ta’ala.”

Adapun kehidupan keempat sahabat Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam yang dijadikan panutan para sufi secara rinci adalah sbb:

1. Abu Bakar as-Siddiq. Pada mulanya ia adalah salah seorang Kuraisy yang kaya. Setelah masuk Islam, ia menjadi orang yang sangat sederhana. Ketika menghadapi perang Tabuk, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bertanya kepada para sahabat, Siapa yang bersedia memberikan harta bendanya dijalan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Abu Bakar lah yang pertama menjawab:”Saya ya Rasulullah.” Akhirnya Abu Bakar memberikan seluruh harta bendanya untuk jalan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Melihat demikian, Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bertanya kepada: ”Apalagi yang tinggal untukmu wahai Abu Bakar?” ia menjawab:”Cukup bagiku Allah dan Rasul-Nya.”

Diriwayatkan bahwa selama enam hari dalam seminggu Abu Bakar selalu dalam keadaan lapar. Pada suatu hari Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam pergi kemesjid. Disana Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bertemu Abu Bakar dan Umar bin Khattab, kemudian ia bertanya:”Kenapa anda berdua sudah ada di mesjid?” Kedua sahabat itu menjawab:”Karena menghibur lapar.”

Diceritakan pula bahwa Abu Bakar hanya memiliki sehelai pakaian. Ia berkata:”Jika seorang hamba begitu dipesonakan oleh hiasan dunia, Allah membencinya sampai ia meninggalkan perhiasan itu.” Oleh karena itu Abu Bakar memilih takwa sebagai ”pakaiannya.” Ia menghiasi dirinya dengan sifat-sifat rendah hati, santun, sabar, dan selalu mendekatkan diri kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan ibadah dan zikir.

2. Umar bin Khattab yang terkenal dengan keheningan jiwa dan kebersihan kalbunya, sehingga Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam berkata:” Allah telah menjadikan kebenaran pada lidah dan hati Umar.” Ia terkenal dengan kezuhudan dan kesederhanaannya. Diriwayatkan, pada suatu ketika setelah ia menjabat sebagai khalifah, ia berpidato dengan memakai baju bertambal dua belas sobekan.

Diceritakan, Abdullah bin Umar, putra Umar bin Khatab, ketika masih kecil bermain dengan anak-anak yang lain. Anak-anak itu semua mengejek Abdullah karena pakaian yang dipakainya penuh dengan tambalan. Hal ini disampaikannya kepada ayahnya yang ketika itu menjabat sebagai khalifah. Umar merasa sedih karena pada saat itu tidak mempunyai uang untuk membeli pakaian anaknya. Oleh karena itu ia membuat surat kepada pegawai Baitulmal (Pembendaharaan Negara) diminta dipinjami uang dan pada bulan depan akan dibayar dengan jalan memotong gajinya.

Pegawai Baitulmal menjawab surat itu dengan mengajukan suatu pertanyaan, apakah Umar yakin umurnya akan sampai bulan depan. Maka dengan perasaan terharu dengan diiringi derai air mata , Umar menulis lagi sepucuk surat kepada pegawai Baitul Mal bahwa ia tidak lagi meminjam uang karena tidak yakin umurnya sampai bulan yang akan datang.

Disebutkan dalam buku-buku tasawuf dan biografinya, Umar menghabiskan malamnya beribadah. Hal demikian dilakukan untuk mengibangi waktu siangnya yang banyak disita untuk urusan kepentingan umat. Ia merasa bahwa pada waktu malamlah ia mempunyai kesempatan yang luas untuk menghadapkan hati dan wajahnya kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.

3. Usman bin Affan yang menjadi teladan para sufi dalam banyak hal. Usman adalah seorang yang zuhud, tawaduk (merendahkan diri dihadapan Allah Subhanahu wa Ta’ala), banyak mengingat Allah Subhanahu wa Ta’ala, banyak membaca ayat-ayat Allah Subhanahu wa Ta’ala, dan memiliki akhlak yang terpuji. Diriwayatkan ketika menghadapi Perang Tabuk, sementara kaum muslimin sedang menghadapi paceklik, Usman memberikan bantuan yang besar berupa kendaraan dan perbekalan tentara.

Diriwayatkan pula, Usman telah membeli sebuah telaga milik seorang Yahudi untuk kaum muslimin. Hal ini dilakukan karena air telaga tersebut tidak boleh diambil oleh kaum muslimin.

Dimasa pemerintahan Abu Bakar terjadi kemarau panjang. Banyak rakyat yang mengadu kepada khalifah dengan menerangkan kesulitan hidup mereka. Seandainya rakyat tidak segera dibantu, kelaparan akan banyak merenggut nyawa.

Pada saat paceklik ini Usman menyumbangkan bahan makanan sebanyak seribu ekor unta.

Tentang ibadahnya, diriwayatkan bahwa Usman terbunuh ketika sedang membaca Al-Qur’an. Tebasan pedang para pemberontak mengenainya ketika sedang membaca surah Al-Baqarah ayat 137 yang artinya:…”Maka Allah akan memelihara kamu dari mereka. Dan Dia lah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” ketika itu ia tidak sedikitpun beranjak dari tempatnya, bahkan tidak mengijinkan orang mendekatinya. Ketika ia rebah berlumur darah, mushaf (kumpulan lembaran) Al-Qur’an itu masih tetap berada ditangannya.

4. Ali bin Abi Talib yang tidak kurang pula keteladanannya dalam dunia kerohanian. Ia mendapat tempat khusus di kalangan para sufi. Bagi mereka Ali merupakan guru kerohanian yang utama. Ali mendapat warisan khusus tentang ini dari Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam. Abu Ali ar-Ruzbari , seorang tokoh sufi, mengatakan bahwa Ali dianugerahi Ilmu Laduni. Ilmu itu, sebelumnya, secara khusus diberikan Allah Subhanahu wa Ta’ala kepada Nabi Khaidir AS, seperti firmannya yang artinya:…”dan telah Kami ajarkan padanya ilmu dari sisi Kami.” (QS.Al Kahfi:65).

Kezuhudan dan kerendahan hati Ali terlihat pada kehidupannya yang sederhana. Ia tidak malu memakai pakaian yang bertambal, bahkan ia sendiri yang menambal pakiannya yang robek.

Suatu waktu ia tengah menjinjing daging di Pasar, lalu orang menyapanya:”Apakah tuan tidak malu memapa daging itu ya Amirulmukminin (Khalifah)?” Kemudian dijawabnya:”Yang saya bawa ini adalah barang halal, kenapa saya harus malu?”.

Abu Nasr As-Sarraj at-Tusi berkomentar tentang Ali. Katanya:”Di antara para sahabat Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam Amirulmukminin Ali bin Abi Talib memiliki keistimewahan tersendiri dengan pengertian-pengertiannya yang agung, isyarat-isyaratnya yang halus, kata-katanya yang unik, uraian dan ungkapannya tentang tauhid, makrifat, iman, ilmu, hal-hal yang luhur, dan sebagainya yang menjadi pegangan serta teladan para sufi.

Kehidupan Para Ahl as-Suffah.

Selain keempat khalifah yang telah disampaikan di atas, sebagai rujukan para sufi dikenal pula para Ahl as-Suffah.

Mereka ini tinggal di Mesjid Nabawi di Madinah dalam keadaan serba miskin, teguh dalam memegang akidah, dan senantiasa mendekatkan diri kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Diantara Ahl as-Suffah itu ialah Abu Hurairah, Abu Zar al-Giffari, Salman al-Farisi, Mu’az bin Jabal, Imran bin Husin, Abu Ubaidah bin Jarrah, Abdullah bin Mas’ud, Abdullah bin Abbas dan Huzaifah bin Yaman.

Abu Nu’aim al-Isfahani, penulis tasawuf (w. 430/1038) menggambarkan sifat Ahl as-Suffah di dalam bukunya Hilyat al-Aulia`(Permata para wali) yang artinya: Mereka adalah kelompok yang terjaga dari kecendrungan duniawi, terpelihara dari kelalaian terhadap kewajiban dan menjadi panutan kaum miskin yang menjauhi keduniaan. Mereka tidak memiliki keluarga dan harta benda. Bahkan pekerjaan dagang ataupun peristiwa yang berlangsung disekitar mereka tidak lah melalaikan mereka dari mengingat Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Mereka tidak disedihkan oleh kemiskinan material dan mereka tidak digembirakan kecuali oleh suatu yang mereka tuju.

Diantara Ahl as-Suffah itu ada yang mempunyai keistimewahan sendiri. Hal ini memang diwariskan oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam kepada mereka seperti Huzaifah bin Yaman yang telah diajarkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam tentang ciri-ciri orang Munafik. Jika ia berbicara tentang orang munafik, para Sahabat yang lain senantiasa ingin mendengarkannya dan ingin mendapatkan ilmu yang belum diperolehnya dari Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam. Umar bin Khattab pernah tercengang mendengar uraian Huzaifah tentang ciri-ciri orang munafik.

Adapun Abu Zar al-Giffarri adalah seorang Ahl as-Suffah termasyur yang bersifat sosial. Ia tampil sebagai prototipe (tokoh pertama) fakir sejati. Abu Zar tidak pernah memiliki apa-apa, tetapi ia sepenuhnya milik Allah Subhanahu wa Ta’ala dan akan menikmati hartanya yang abadi. Apabila ia diberikan sesuatu berupa materi, maka materi tersebut dibagi-bagi kepada para fakir miskin.

Kehidupan Para Tabiin. Setelah periode sahabat berlalu muncul periode Tabiin (sekitar abad ke-1 H dan ke-2 H).

Pada masa itu kondisi sosial-politik sudah mulai berubah dari masa sebelumnya. Konflik-konflik politik yang dimulai dari masa Usman bin Affan berkepanjangan sampai kemasa-masa sesudahnya. Konflik tersebut ternyata mempunyai dampak terhadap kehidupan beragama, yakni munculnya kelompok-kelompok Bani Umayyah, Syiah, Khawarij dan Murjiah.

Pada masa kekuasaan Bani Umayyah, kehidupan politik berubah total. Dengan sistem pemerintahan monarki, khalifah-khalifah Bani Umayyah secara bebas berbuat kezaliman-kezaliman, terutama terhadap kelompok syiah, yakni kelompok politik yang paling gencar menentangnya. Puncak kekejaman mereka terlihat jelas pada saat terbunuhnya Husein bin Ali bin Abi Talib di Karbala.

Kasus pembunuhan ini ternyata mempunyai pengaruh yang besar dalam masyarakat Islam pada masa itu. Kekejaman Bani Umayyah yang tak henti-hentinya itu membuat kelompok penduduk kufah merasa menyesal karena telah menghianati Husein dan memberikan dukungan kepada pihak yang melawan Husein. Mereka menyebut kelompoknya Tawabun (Kaum Tawabin).

Disamping gejolak politik yang berkepanjangan, perubahan kondisi sosialpun terjadi. Hal ini mempunyai pengaruh besar dalam pertumbuhan kehidupan beragama masyarakat islam.

Pada masa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam dan para sahabat, secara umum kaum muslimin hidup dalam keadaan sederhana. Ketika Bani Umayyah memegang tampuk kekuasaan, hidup mewah mulai meracuni masyarakat, terutama terjadi dikalangan istana.

Mu`awiyah bin Abu Sufyan sebagai Khalifah nampak semakin jauh dari tradisi kehidupan Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam serta para sahabat-sahabat utama dan semakin dekat dengan traidisi kehidupan raja-raja Romawi.

Kemudian anaknya, Yazid (memerintah 61 H/680 M- 64 H/683 M), dikenal sebagai khalifah yang tidak memperdulikan ajaran-ajaran agama. Dalam sejarah, Yazid dikenal sebagai pemabuk. Dalam situasi yang demikian kaum muslimin yang saleh merasa berkewajiban menyeruhkan kepada masyarakat untuk hidup zuhud, sederhana, saleh dan tidak tenggelam dalam buaian hawa nafsu.

Diantara para penyeru tersebut adalah Abu Zar al-Giffari. Dia melancarkan kritik tajam kepada Bani Umayyah yang sedang tenggelam dalam kemewahan dan menyeruhkan agar ditetapkan keadilan sosial dalam Islam.

Dari perubahan-perubahan kondisi sosial tersebut sebagian masyarakat mulai melihat kembali pada kesederhanaan kehidupan Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam dan para sahabatnya.

Sejak itu kehidupan Zuhud menyebar luas dikalangan masyarakat. Para pelaku Zuhud disebut Zahid atau karena ketekunan beribadah maka disebut `abid.

Tokoh Tabiin kelas pertama yang muncul di Madinah ialah Sa’id bin Musayyab (15-94H). Ia banyak mendapat pendidikan dari Mertuanya, Abu Hurairah. Pada dirinya terkumpul kealiman dalam bidang hadist dan fikih disamping juga dalam bidang ibadah, kezuhudan dan akhlak mulia.

Selanjutnya muncul Salim bin Abdullah bin Umar bin Khattab, seorang tabiin yang hidup zuhud. Diriwayatkan (berdasarkan ucapan tabiin) suatu kali Sulaiman bin Abdul Malik masuk ke Mesjidilharam. Didalam mesjid dilihatnya Salim dan ditegurnya:”Mintalah kepadaku segala kebutuhanmu”. Jawab Salim:” Demi Allah, dalam Baitullah ini aku tidak meminta kepada siapapun kecuali kepada Allah.”

Pelopor Tasawuf

Dikota Basrah muncul AL-HASAN AL-BASRI (Madinah,21H/642M – Basrah,110 H/728M) seorang ulama besar dalam beberapa bidang Ilmu, seperti: Hadis, Fikih dan Tafsir, juga seorang pendidik dan sufi. Nama lengkapnya Abu Sa’id al-Hasan bin Abi Hasan Yasar al-Basri. Ayahnya bernama Yasar al-Basri Maula Zaid bin Sabit al Ansari, sedangkan ibunya bernama Khairah Maulat Ummu Salamah. Keluarga al-Hasan al-Basri adalah keluarga yang berilmu dan menaruh perhatian terhadap ilmu terutama Al Qur’an dan Hadis. Ibunya sendiri sangat dekat dengan Ummu Salamah, salah seorang istri Rasulullah , tergolong orang berilmu. Ibunya adalah penghapal dan periwayat hadis, yang menerima dan meriwayatkan banyak hadis dari Ummu Salamah.

Pendidikan awal Al Hasan al-Basri diperoleh dari keluarganya sendiri terutama dari Ibunya. Ibunya memberikan pengaruh yang besar tehadap perkembangan dan pertumbuhan al Hasan al-Basri dan saudaranya Sa’id bin Abi Hasan Yasar al-Basri. Ia banyak mendengar riwayat hadits dari ibunya, para Sahabat dan para Tabiin dan pada usianya 14 Tahun ia sudah menghapal al Qur’an. Ia banyak belajar dan berada dalam asuhan ilmu dari Ali bin Abi Talib, terutama ilmu tentang kerohanian dan dari Huzaifah bin Yaman.

Menurut Ibnu Hajar al-Asqalani menyebutkan bahwa al Hasan al Basri, selain sempat bertemu Ali bin Abi Talib, ia juga sempat bertemu Talhah bin Ubaidillah, dan Aisyah binti Abu Bakar. Ia menerima hadis riwayat beberapa sahabat dan para perawi hadis lainnya seperti: Ubay bin Ka’b (w.19H), Sa’id bin Ubadah, Umar bin Khattab, Ammar bin Yasir, Abu Hurairah, Usman bin Affan, Abdullah bin Umar, Hamid at-Tawil, Yazid bin Abi Maryam, dan Mu’awiyah bin Abu Sufyan.

Menurut Ahmad Ismail al-Basit, seorang ulama Yordania, membagi masa kehidupan al Hasan atas tiga periode yaitu:

(1) periode Tahun 21-42 H;
(2) periode tahun 43-53H; dan
(3) periode 53-110H.

Periode pertama merupakan periode kehidupannya di Madinah, ia banyak menimba ilmu bukan hanya dari ibunya tetapi dari sebagian sahabat.

Pada periode kedua, ia melibatkan diri dalam peperangan dan penaklukan wilayah-wilayah baru. Pada saat yang bersamaan ia banyak bertemu dengan para sahabat-sahabat Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam dan menimba ilmu dari mereka. Pada periode ini juga ia menjadi sekretaris Rabi` bin Ziyad al-Harisi (w.53), seorang amir Sijistan Khurasan (Persia).

Periode ke tiga ia habiskan waktunya di Basra untuk menyampaikan dan mengajarkan ilmunya. Ia membuka madrasah al Hasan al-Basri, Ia menyampaikan pesan-pesan pendidikannya melalui 2 Cara:

1.  Ia mengajak murid-muridnya menghidupkan kembali kondisi masa salaf, seperti yang terjadi pada masa para sahabat nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, terutama masa umar bin Khattab, yang selalu berpegang teguh kepada kitabullah dan sunah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam;

2. Ia menyerukan kepada murid-muridnya untuk bersikap Zuhud dalam menghadapi kemewahan dunia, zuhud dalam pengertiannya adalah tidak tamak terhadap kemewahan dunia dan tidak pula lari dari persoalan dunia, tetapi selalu merasa cukup dengan apa yang ada

Tentang tasawuf al Hasan al-Basri berkata:

”Barangsiapa yang memakai tasawuf karena tawaduk (kepatuhan) kepada Allah akan ditambah Allah cahaya dalam diri dan Hatinya, dan barang siapa yang memakai tasawuf karena kesombongan kepadanya akan dicampakkan kedalam neraka”.

Al Hasan al-Basri masyhur dengan kezuhudannya yang berlandaskan Khauf (Takut kepada kemurkaan Allah Subhanahu wa Ta’ala) dan diiringi dengan rajā (senantiasa mengharapkan Rahmat Allah Subhanahu wa Ta’ala). Saking takutnya kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala ia selalu membayangkan bahwa neraka itu seakan-akan diciptakan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala semata-mata hanya untuk dirinya. Oleh sebab itu al Hasan al-Basri mengatakan: ”Jauhilah dunia ini karena ia sebenarnya serupa dengan ular, licin pada perasaan tangan, tetapi racunnya mematikan.”

Kedalaman pengetahuan al-Hasan al-Basri mengenai tasawuf cenderung untuk mengartikan beberapa istilah dalam agama Islam menurut pendekatan tasawuf.

Islam, misalnya, diartikan penyerahan hati dan jiwa hanya kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dan keselamatan seseorang muslim dari gangguan muslim lain.

Orang beriman, menurutnya adalah orang yang mengetahui bahwa apa yang dikatakan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala, itu pula yang harus dia katakan.

Orang mukmin ialah orang yang paling baik amalannya dan paling takut kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dan sekalipun ia menafkahkan hartanya setinggi gunung ia seakan-akan tidak dapat melihatnya (tidak menceritakannya).

Para sufi menurut pengertiannya adalah orang yang hatinya selalu bertaqwa kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dan memiliki ciri al: berbicara benar, menepati janji, mengadakan silaturahmi, menyayangi yang lemah, tidak memuji diri dan mengerjakan yang baik-baik.

Fakih, menurutnya orang yang zahid terhadap dunia dan senang terhadap akhirat, melihat dan memahami agamanya, senantiasa beribadah kepada tuhannya, bersikap warak, menjaga kehormatan kaum muslimin dan harta benda mereka dan menjadi penasihat dan pembimbing bagi masyarakatnya.

Al Hasan al-Basri dan para ulama lain seperti Sulaiman bin Umar. Merupakan ulama besar yang dimintai kerjasamanya oleh Umar bin Abdul Azis (Madinah, 63 H/682M – 101H/720M)

Khalifah dinasti Umayyah, yang pertama, yang meminta nasihat dan Fatwa mereka tentang berbagai kebijaksanaan, mengajarkan rakyat mengenai hukum syariat, setia mengikuti perintah Allah Subhanahu wa Ta’ala dan menjauhi larangannya.

Dan pada masa Umar bin Abdul Azis umat Islam mengalami kesejahteraan dan masalah Khilafiah antara Syiah dan Suni dapat diluruskan..

Sebenarnya banyak tokoh-tokoh lain yang baik untuk diteladani seperti Malik Bin Dinar (w.171 H) murid dari al Hasan al-Basri, Tokoh Tabiin di kufah antara lain Sufyan as-Sauri (97-161H) yang terkenal kealimannya dalam bidang hadis dan fikih, tokoh kufah lainya seperti: Rabi bin Khaisam, Sa’id bin Jubair, Tawus bin Kaisan al-Yamani, Sufyan bin Uyainah, Jabir bin Hayyan dan Abu Hasyim. Umumnya mereka mempunyai ketekunan yang istimewah dalam beribadah. Dalam hal ini satu riwayat dari Imam al-Gazali dikatakan bahwa diantara mereka ada yang sanggup melakukan qiyām al-lail (Shalat malam) sepanjang malam.

Berikut nasihat, pendapat dan fatwa para imam dan ulama tentang sufi dan tasawuf:

Imam Abu Hanifa (81-150 H./700-767 CE)

Imam Abu Hanifa (r) (85 H.-150 H) berkata, “Jika tidak karena dua tahun, saya telah celaka. Karena dua tahun saya bersama Sayyidina Ja’far as-Sadiq dan mendapatkan ilmu spiritual yang membuat saya lebih mengetahui jalan yang benar”.

Ad-Durr al-Mukhtar, vol 1. p. 43 bahwa Ibn ‘Abideen said, “Abi Ali Dakkak, seorang sufi, dari Abul Qassim an-Nasarabadi, dari ash-Shibli, dari Sariyy as-Saqati dari Ma’ruf al-Karkhi, dari Dawad at-Ta’i, yang mendapatkan ilmu lahir dan batin dari Imam Abu Hanifa (r), yang mendukung jalan Sufi.” Imam berkata sebelum meninggal: lawla sanatan lahalaka Nu’man, “Jika tidak karena dua tahun, Nu’man (saya) telah celaka.” Itulah dua tahun bersama Ja’far as-Sadiq.

Imam Malik (94-179 H./716-795 CE)

Imam Malik (r): “man tassawaffa wa lam yatafaqah faqad tazandaqa wa man tafaqaha wa lam yatsawwaf faqad fasadat, wa man tafaqaha wa tassawafa faqad tahaqqaq. (Barangsiapa mempelajari/mengamalkan tasauf tanpa fikh maka dia telah zindik, dan barangsiapa mempelajari fikh tanpa tasauf dia tersesat, dan siapa yang mempelari tasauf dan fikh dia meraih kebenaran).” (dalam buku ‘Ali al-Adawi dari keterangan Imam Abil-Hassan, ulama fikh, vol. 2, p. 195)

Imam Syafi’i (150-205 H./767-820 CE)

Imam Syafi’i : ”Saya bersama orang sufi dan aku menerima 3 ilmu:

1. Mereka mengajariku bagaimana berbicara.
2. Mereka mengajariku bagaimana memperlakukan orang dengan kasih dan hati lembut.
3. Mereka membimbingku ke dalam jalan tasawuf

[Kashf al-Khafa and Muzid al-Albas, Imam 'Ajluni, vol. 1, p. 341.]

Dalam Diwan (puisi) Imam Syafii, nomor 108 :

“Jadilah ahli fiqih dan sufi Jangan menjadi salah satunya Demi Allah Aku menasehatimu”.

Imam Ahmad bin Hanbal (164-241 H./780-855 CE)

Imam Ahmad (r) : “Ya walladee ‘alayka bi-jallassati ha’ula’i as-Sufiyya. Fa innahum zaadu ‘alayna bikathuratil ‘ilmi wal murqaba wal khashiyyata waz-zuhda wa ‘uluwal himmat (Anakku jika kamu harus duduk bersama orang-orang sufi, karena mereka adalah mata air ilmu dan mereka tetap mengingat Allah dalam hati mereka. Mereka orang-orang zuhud dan mereka memiliki kekuatan spiritual yang tertinggi,” –Tanwir al-Qulub, p. 405, Shaikh Amin al-Kurdi)

Imam Ahmad (r) tentang Sufi:”Aku tidak melihat orang yang lebih baik dari mereka” ( Ghiza al-Albab, vol. 1, p. 120)

Imam al-Qushayri (d. 465 H./1072 CE)

Imam al-Qushayri tentang Tasawuf: “Allah membuat golongan ini yang terbaik dari wali-wali-Nya dan Dia mengangkat mereka di atas seluruh hamba-hamba-Nya sesudah para Rasul dan Nabi, dan Dia memberi hati mereka rahasia Kehadiran Ilahi-Nya dan Dia memilih mereka diantara umat-Nya yang menerima cahaya-Nya. Mereka adalah sarana kemanusiaan, Mereka menyucikan diri dari segala hubungan dengan dunia dan Dia mengangkat mereka ke kedudukan tertinggi dalam penampakan (kasyf). Dan Dia membuka kepada mereka Kenyataan akan Keesaan-Nya. Dia membuat mereka untuk melihat kehendak-Nya mengendalikan diri mereka. Dia membuat mereka bersinar dalam wujud-Nya dan menampakkan mereka sebagai cahaya dan cahaya-Nya .” [ar-Risalat al-Qushayriyya, p. 2]

Imam Ghazali (450-505 H./1058-1111 CE)

Imam Ghazali, hujjatul-Islam, tentang tasawuf : “Saya tahu dengan benar bahwa para Sufi adalah para pencari jalan Allah, dan bahwa mereka melakukan yang terbaik, dan jalan mereka adalah jalan terbaik, dan akhlak mereka paling suci. Mereka membersihkan hati mereka dari selain Allah dan mereka menjadikan mereka sebagai jalan bagi sungai untuk mengalirnya kehadiran Ilahi [al-Munqidh min ad-dalal, p. 131].

Imam Nawawi (620-676 H./1223-1278 CE)

Dalam suratnya al-Maqasid : “Ciri jalan sufi ada 5 : menjaga kehadiran Allah dalam hati pada waktu ramai dan sendiri mengikuti Sunah Rasul dengan perbuatan dan kata menghindari ketergantungan kepada orang lain bersyukur pada pemberian Allah meski sedikit selalu merujuk masalah kepada Allah swt [Maqasid at-Tawhid, p. 20]

Imam Fakhr ad-Din ar-Razi (544-606 H./1149-1209 CE)

Imam Fakhr ad-Din ar-Razi : “Jalan para sufi adalah mencari ilmu untuk memutuskan diri mereka dari kehidupan dunia dan menjaga diri mereka agar selalu sibuk dalam pikiran dan hati mereka dengan mengingat Allah, pada seluruh tindakan dan perilaku” .” [Ictiqadat Furaq al-Musliman, p. 72, 73]

Ibn Khaldun (733-808 H./1332-1406 CE)

Ibn Khaldun : “Jalan sufi adalah jalan salaf, ulama-ulama di antara Sahabat, Tabi’een, and Tabi’ at-Tabi’een. Asalnya adalah beribadah kepada Allah dan meninggalkan perhiasan dan kesenangan dunia” [Muqaddimat ibn Khaldan, p. 328]

Tajuddin as-Subki

Mu’eed an-Na’eem, p. 190, dalam tasauf: “Semoga Allah memuji mereka dan memberi salam kepada mereka dan menjadikan kita bersama mereka di dalam sorga. Banyak hal yang telah dikatakan tentang mereka dan terlalu banyak orang-orang bodoh yang mengatakan hal-hal yang tidak berhubungan dengan mereka. Dan yang benar adalah bahwa mereka meninggalkan dunia dan menyibukkan diri dengan ibadah” Dia berkata: “Mereka adalah manusia-manusia yang dekat dengan Allah yang doa dan shalatnya diterima Allah, dan melalui mereka Allah membantu manusia.

Jalaluddin as-Suyuti

Dalam Ta’yad al-haqiqat al-’Aliyya, p. 57: “tasawuf dalam diri mereka adalah ilmu yang paling baik dan terpuji. Dia menjelaskan bagaimana mengikuti Sunah Nabi dan meninggalkan bid’ah”

Ulama besar, Ibn ‘Abidin dalam Rasa’il Ibn Abidin (p. 172-173) menyatakan: ” Para pencari jalan ini tidak mendengar kecuali Kehadiran Ilahi dan mereka tidak mencintai selain Dia. Jika mereka mengingat Dia mereka menangis. Jika mereka memikirkan Dia mereka bahagia. Jika mereka menemukan Dia mereka sadar. Jika mereka melihat Dia mereka akan tenang. Jika mereka berjalan dalan Kehadiran Ilahi, mereka menjadi lembut. Mereka mabuk dengan Rahmat-Nya. Semoga Allah merahmati mereka”. [Majallat al-Muslim, 6th ed., 1378 H, p. 24].

Abul ‘Ala Mawdudi

Dalam Mabadi’ al-Islam (p. 17), “Tasauf adalah kenyataan yang tandanya adalah cinta kepada Allah dan Rasul Shallallahu ‘alaihi wasallam, di mana sesorang meniadakan diri mereka karena tujuan mereka (Cinta), dan seseorang meniadakan dari segala sesuatu selain cinta Allah dan Rasul” “Tasauf mencari ketulusan hati, menyucikan niat dan kebenaran untuk taat dalam seluruh perbuatannya.” Ringkasnya, tasauf, dahulu maupun sekarang, adalah sarana efektif untuk menyebarkan kebenaran Islam, memperluas ilmu dan pemahaman spiritual, dan meningkatkan kebahagian dan kedamaian. Dengan itu manusia dapat menemukan diri sendir dan, dengan demikian, menemukan Tuhannya. Dengan itu manusia dapat meningkatkan, merubah dan menaikan diri sendiri dan mendapatkan keselamatan dari kebodohan dunia dan dari godaan keindahan materi. Dan Allah yang lebih mengetahui niat hamba-hamba-Nya.

 

Wassalam

 

Zon di Jonggol, Kab Bogor 16830

Read Full Post »

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 364 pengikut lainnya.