Feeds:
Pos
Komentar

Posts Tagged ‘anarkis’

Hindari radikalisme

Kita sedih mendengar kasus penyerangan terhadap Pondok Pesantren Terbuka Ma’had Al Robbaniy di Dusun Krajan, Kelurahan Karangtengah, Kecamatan Sumbersari, Jember

Berikut kutipan informasinya,

******* awal kutipan *****
Penyerangan dan perusakan terjadi Jumat malam, 20 April 2012. Ratusan warga beramai-ramai menyerbu pesantren tersebut karena dinilai mengajarkan aliran sesat yang bertentangan dengan ajaran agama Islam. “Masyarakat sini yang sudah menerima dengan senang hati. Sekarang mereka malah menganggap warga di sini kafir,” kata seorang warga, Ahmad Mulyono.

Warga menyerang menggunakan batu dan kayu. Akibatnya, kaca dan genteng pesantren hancur. Tak berapa lama, aparat Polres Jember berhasil menenangkan warga. Sekitar 50 penghuni pesantren juga berhasil diselamatkan.

Mulyono dan sejumlah warga mengungkapkan bahwa, dalam beberapa bulan terakhir, penghuni pesantren yang berdiri sejak tahun 2007 itu mulai gencar menyebarkan ajaran yang bertentangan dengan keyakinan dan tradisi keagamaan masyarakat sekitar. Mereka mengharamkan tahlil dan ziarah kubur. “Yang parah, mereka berusaha meyakinkan masyarakat bahwa Nabi Muhammad Shallallahu alaihi wasallam  tidak perlu dimuliakan karena hanya manusia biasa saja,” ujar Mulyono.

Berdasarkan kajian sementara yang dilakukan MUI, materi pengajian yang disampaikan oleh pengurus pesantren tidak menyalahi aturan dan sudah sesuai ajaran agama Islam. Namun penyampaian ajaran terkadang menyinggung kebiasaan yang dilakukan warga sekitar. “Soal khilafiyah, seperti tahlil dan ziarah kubur, kalau disampaikan di internal jemaah pesantren tidak menjadi masalah, tetapi ketidaksetujuan mereka disampaikan secara terbuka sehingga menimbulkan keresahan masyarakat,” katanya.

MUI Jember menyatakan Pesantren Terbuka Robbaniy bukanlah pondok pesantren karena belum memenuhi beberapa persyaratan. Menurut Subahar, setidaknya ada lima syarat yang harus dipenuhi sebuah lembaga untuk bisa disebut pondok pesantren, yakni memiliki kiai atau ulama yang menetap di lingkungan pesantren tersebut, memiliki santri yang menetap di dalam lingkungan pesantren, memiliki musala atau masjid, melakukan kajian kitab Islam klasik, dan memiliki pondok atau asrama tempat para santri tinggal. “Yang datang ke sana untuk melakukan kajian Islam hampir semua dari luar, tidak menetap. Dan tidak ada asrama untuk santri seperti umumnya pesantren,” katanya.

Sumber: http://www.tempo.co/read/news/2012/04/22/180398820/Penyerangan-Pesantren-Mahad-Robbaniy-Masih-Diselidiki
******  akhir kutipan  ******

Berdasarkan informasi  tersebut tampak Pondok PesantrenTerbuka Ma’had Al Robbaniy berpaham radikalisme. Lingkungan sekitar merasa telah dikafirkan oleh mereka.

Dalam sebuah hadits , dari Anas ra , Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda “Tiga hal merupakan pokok iman ; menahan diri dari orang yang menyatakan Tiada Tuhan kecuali Allah. Tidak memvonis kafir akibat dosa dan tidak mengeluarkannya dari agama Islam akibat perbuatan dosa”

Al-Allamah Al-Imam Al-Sayyid Ahmad Masyhur Al-Haddad mengatakan, “ Telah ada konsensus ulama untuk melarang memvonis kufur ahlul qiblat  (ummat Islam) kecuali akibat dari tindakan yang mengandung unsur meniadakan eksistensi Allah, kemusyrikan yang nyata yang tidak mungkin ditafsirkan lain, mengingkari kenabian, prinsip-prinsip ajaran agama Islam yang harus diketahui ummat Islam tanpa pandang bulu (Ma ‘ulima minaddin bidldloruroh), mengingkari ajaran yang dikategorikan mutawatir atau yang telah mendapat konsensus ulama dan wajib diketahui semua ummat Islam tanpa pandang bulu.

Vonis kufur tidak boleh dijatuhkan kecuali oleh orang yang mengetahui seluk-beluk keluar masuknya seseorang dalam lingkaran kufur dan batasan-batasan yang memisahkan antara kufur dan iman dalam hukum syari’at Islam. Tidak diperkenankan bagi siapapun memasuki wilayah ini dan menjatuhkan vonis kufur berdasarkan prasangka dan dugaan tanpa kehati-hatian, kepastian dan informasi akurat

Memvonis kufur seorang muslim secara serampangan akan berakibat fatal.  Dalam sebuah hadits disebutkan :

Ibnu Umar berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Siapa pun orang yang berkata kepada saudaranya, ‘Wahai kafir’ maka sungguh salah seorang dari keduanya telah kembali dengan kekufuran tersebut, apabila sebagaimana yang dia ucapkan. Namun apabila tidak maka ucapan tersebut akan kembali kepada orang yang mengucapkannya.” (HR Muslim 92)

Tindakan radikal akan menimbulkan tindakan radikal pula sebagaimana akhlak yang buruk akan menularkan kepada yang lain.

Ahmad Shodiq, MA-Dosen Akhlak & Tasawuf, UIN Syarif Hidayatullah Jakarta mengutip perkataan Imam Syafi’i  ~rahimahullah yang menyatakan bahwa orang yang buruk itu seperti pantatnya dandang (tempat menanak nasi) yang hitam. Kata Imam Syafi’i, dia hitam, dan dia ingin menempelkannya ke kulit kita. Kalau kita terpancing, maka yang hitam itu dua. Jadi kalau sampai kita sadar bahwa ada ruhani yang tidak stabil, dan kita terpancing untuk tidak stabil, maka sesungguhnya yang terjadi adalah dua ketidakstabilan, karena kita terpancing. Selengkapnya uraian dosen Ahmad Shodiq tentang tasawuf dan pendidikan akhlak ada dalam tulisan pada http://mutiarazuhud.wordpress.com/2010/06/07/pendidikan-akhlak/

Radikalisme atau akhlak yang buruk dapat tumbuh dari  sikap mementingkan diri sendiri atau kelompok, mereka yang tidak mau berjama’ah minal muslimin. Oleh karenanya radikalisme atau akhlak yang buruk janganlah dibalas dengan tindakan radikal pula , bersabarlah jika ingin berjumpa Rasulullah shallallahu alaihi wasallam di telaga al Haudl (di surga)

Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berkata kepada kaum Anshar,  “sepeninggalku nanti, akan kalian jumpai sikap atsarah (sikap egoism, individualisme, orang yang mementingkan dirinya sendiri dan kelompok). Maka bersabarlah kalian hingga kalian berjumpa denganku dan tempat yang dijanjikan untuk kalian adalah telaga al-Haudl (di surga)” . (HR Bukhari 3509)

Begitupula dengan demo-demo jangan sampai timbul tindakan radikal atau anarkis, membuat kerusakan di muka bumi.

Radikalisme atau akhlak yang buruk timbul pada umumnya bagi mereka yang tidak mendapatkan pengajaran tasawuf atau pengajaran akhlak / tentang ihsan.

Pendidikan agama yang menyeluruh adalah sebagaimana perbincangan malaikat Jibril dengan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam di hadapan para Sahabat yakni meliputi aqidah (Iman) , ibadah (Islam/syariat) dan akhlaq (Ihsan/tasawuf)

Laki-laki itu bertanya, ‘Wahai Rasulullah, apakah Islam itu? ‘ Beliau menjawab, ‘Islam adalah kamu tidak menyekutukan Allah dengan sesuatu apa pun, mendirikan shalat, membayar zakat, dan berpuasa Ramadlan.’ Dia berkata, ‘Kamu benar.’ Lalu dia bertanya lagi, ‘Wahai Rasulullah, apakah iman itu? ‘ Beliau menjawab, ‘Kamu beriman kepada Allah, malaikat-Nya, kitab-Nya, beriman kepada kejadian pertemuan dengan-Nya, beriman kepada para Rasul-Nya, dan kamu beriman kepada hari kebangkitan serta beriman kepada takdir semuanya’. Dia berkata, ‘Kamu benar’. Lalu dia bertanya lagi, ‘Wahai Rasulullah, apakah ihsan itu? ‘ Beliau menjawab, ‘Kamu takut (khasyyah) kepada Allah seakan-akan kamu melihat-Nya (bermakrifat), maka jika kamu tidak melihat-Nya (bermakrifat) maka sesungguhnya Dia melihatmu. (HR Muslim 11)

Pada umumnya  pondok pesantren disampaikan  pengetahuan tentang aqidah (Iman) dan ibadah (Islam/syariat) saja.  Yang luput adalah pengetahuan tentang akhlak (Ihsan/tasawuf).

Apalagi pengetahuan aqidah (iman) hanya berdasarkan makna dzahir, metodologi “terjemahkan saja” hanya dengan hanya memandang dari sudut bahasa (lughat) dan istilah (terminologis)  melupakan ilmu-ilmu yang bersangkutan dengan bahasa arab itu seumpama nahwu, sharaf, balaghah (ma’ani, bayan dan badi’) dll. Begitupula dengan perkara syariat atau fiqih, umumnya tidak mengikuti pemimpin atau imam ijtihad kaum muslim (Imam Mujtahid) yakni Imam Mazhab yang empat yang bertalaqqi (mengaji) dengan Salafush Sholeh) dan melihat langsung bagaimana Salafush Sholeh menjalankan perkara syariat.

Pengetahuan tentang akhlak (Ihsan/tasawuf) sangat diperlukan untuk mengawal pengetahuan syariat maupun pengetahuan aqidah.

Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Barangsiapa yang bertambah ilmunya tapi tidak bertambah hidayahnya, maka dia tidak bertambah dekat kepada Allah melainkan bertambah jauh

Tanpa kawalan akhlak (Ihsan/tasawuf) seseorang yang berilmu menjadi sombong dan semakin jauh dari Allah ta’ala.

Pondok pesantren adalah wadah untuk menghasilkan ulama namun pertanyaannya, apakah telah berhasil mencetak santri menjadi ulama ?

Secara bahasa, kata ulama adalah bentuk jamak dari kata ‘aalim. ‘Aalim adalah isim fail dari kata dasar: ‘ilmu. Jadi ‘aalim adalah orang yang berilmu.

Kenyataannya sebagian pondok pesantren tidaklah menghasilkan ulama namun sekedar menghasilkan orang yang berilmu sebatas penyelesaian kurikulum pendidikan semata.

Lalu dia bertanya lagi, ‘Wahai Rasulullah, apakah ihsan itu? ‘ Beliau menjawab, ‘Kamu takut (khasyyah) kepada Allah seakan-akan kamu melihat-Nya (bermakrifat), maka jika kamu tidak melihat-Nya (bermakrifat) maka sesungguhnya Dia melihatmu. (HR Muslim 11)

Akhlak yang buruk adalah mereka yang tidak takut kepada Allah atau mereka yang berpaling dari Allah karena mereka memperturutkan hawa nafsu.

Firman Allah ta’ala yang artinya

…Janganlah kamu mengikuti hawa nafsu, karena ia akan menyesatkan kamu dari jalan Allah..” (QS Shaad [38]:26)

Katakanlah: “Aku tidak akan mengikuti hawa nafsumu, sungguh tersesatlah aku jika berbuat demikian dan tidaklah (pula) aku termasuk orang-orang yang mendapat petunjuk” (QS An’Aam [6]:56 )

Akhlak yang baik adalah mereka yang takut kepada Allah karena mereka selalu yakin diawasi oleh Allah Azza wa Jalla  atau mereka yang selalu memandang Allah setiap akan bersikap atau berbuat sehingga mencegah dirinya dari melakukan sesuatu yang dibenciNya , menghindari perbuatan maksiat, menghindari perbuatan keji dan mungkar hingga terbentuklah muslim yang berakhlakul karimah

Jelas lah ulama  adalah muslim yang berilmu dan mengenal Allah (ma’rifatullah) atau muslim yang bermakrifat atau muslim yang ihsan (muhsin), muslim yang takut kepada Allah.

Firman Allah ta’ala yang artinya “Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah ulama” (QS Al Faathir [35]:28).

Berdasarkan informasi di atas, contoh akhlak buruk lainnya adalah berkeyakinan bahwa “Nabi Muhammad Shallallahu alaihi wasallam  tidak perlu dimuliakan karena hanya manusia biasa saja” .  Keyakinan ini adalah bagian dari hasutan atau ghazwul fikri (perang pemahaman) yang dilancarkan oleh kaum Zionis Yahudi.

Firman Allah ta’ala yang maknanya “Katakanlah: Sesungguhnya aku ini manusia biasa seperti kamu” (Al Kahfi [18]: 110 ) hanyalah untuk mengingatkan agar kita tidak menjadikan atau meyakini Rasulullah sebagai “bukan manusia” atau sebagai tuhan, bukan untuk menetapkan derajat Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam. Mustahil Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam dijadikan tauladan bagi seluruh manusia jika ada manusia lain yang derajatnya lebih mulia dan lebih agung darinya

Begitupula perkataan Rasulullah “Jangan memujiku secara berlebihan seperti kaum Nasrani yang memuji Isa putera Maryam” hanyalah untuk mengingatkan atau membatasi jangan memuji seperti kaum Nasrani yang menjadikan Nabi Isa as sebagai putera Tuhan.

Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Janganlah kalian melampaui batas dalam memujiku (mengkultuskan) sebagaimana orang Nashrani mengkultuskan ‘Isa bin Maryam. Sesungguhnya aku hanyalah hamba-Nya, maka itu katakanlah ‘abdullahu wa rasuuluh (hamba Allah dan utusan-Nya”). (HR. Bukhari no 3189)

Jadi batasannya hanyalah jangan menjadikan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam sebagai tuhan selain Allah.  Mana lagi batas pujian bagi tingkatan manusia yang dianggap berlebihan untuk manusia yang paling mulia dan paling agung ?

Rasulullah tidak pernah melarang bagaimanapun ungkapan sholawat asalkan ungkapan sholawat itu tidak bertentangan dengan Al-Qur’an dan Hadits.

Kalau batas berlebihan dalam bilangan sholawat. Rasulullah pun tidak pernah melarangnya.

Berkata Ubay,” Wahai Rasulullah, aku memperbanyak bershalawat atasmu, lantas berapa kadar banyaknya shalawat yang sebaiknya aku lakukan?”
Beliau shallallahu alaihi wasallam menjawab,” Berapa banyaknya terserah padamu.”
Ubay berkata,” Bagaimana kalau seperempat (dari seluruh doa yang aku panjatkan)?”
Beliau shallallahu alaihi wasallam menjawab,” Terserah padamu. Tetapi jika engkau menambah maka akan lebih baik lagi.”
Ubay berkata,” Bagaimana jika setengah?”
Beliau shallallahu alaihi wasallam menjawab,” Terserah padamu, tatapi jika engkah menambah maka akan lebih baik lagi.”
Ubay berkata,” Bagaimana jika duapertiga?”
Beliau shallallahu alaihi wasallam menjawab,”Terserah padamu, tetapi jika engkau menambah maka akan lebih baik lagi.”
Ubay berkata,” Kalau demikian maka aku jadikan seluruh doaku adalah shalawat untukmu.”
Bersabda Nabi shallallahu alaihi wasallam,” Jika demikian halnya maka akan tercukupi segala keinginanmu dan diampuni segala dosamu.”

Janganlah melarang atau mengharamkan sesuatu yang Allah ta’ala tidak turunkan keterangan padanya.

Dalam melarang, mengharamkan, mewajibkan sesuatu digunakanlah metodologi istinbat (menetapkan hukum perkara) namun dilakukan bagi mereka yang mempunyai kompetensi sebagai Imam Mujtahid dan sanad ilmu tersambung kepada Rasulullah shallallahu alaihi wasallam

Definisi ahli bid’ah adalah mereka yang melarang sesuatu yang tidak dilarangNya, mengharamkan sesuatu yang tidak diharamkanNya, mewajibkan sesuatu yang tidak diwajibkanNya atau mereka yang mencontohkan sesuatu di luar perkara syariat yang bertentangan dengan Al Qur’an dan Hadits.

Firman Allah Azza wa Jalla yang artinya, “Katakanlah! Tuhanku hanya mengharamkan hal-hal yang tidak baik yang timbul daripadanya dan apa yang tersembunyi dan dosa dan durhaka yang tidak benar dan kamu menyekutukan Allah dengan sesuatu yang Allah tidak turunkan keterangan padanya dan kamu mengatakan atas (nama) Allah dengan sesuatu yang kamu tidak mengetahui.” (QS al-A’raf: 32-33)

Dalam hadits Qudsi , Rasulullah bersabda: “Aku ciptakan hamba-hambaKu ini dengan sikap yang lurus, tetapi kemudian datanglah syaitan kepada mereka. Syaitan ini kemudian membelokkan mereka dari agamanya, dan mengharamkan atas mereka sesuatu yang Aku halalkan kepada mereka, serta mempengaruhi supaya mereka mau menyekutukan Aku dengan sesuatu yang Aku tidak turunkan keterangan padanya.” (Riwayat Muslim)

Marilah kita ambil pelajaran / hikmah dari kisah/nasehat berikut ini yang ditulis oleh Syaikh Ibnu Athoillah dalam bukunya “Umwan al Tawfiq fi Adab al Thariq”. Salah satu terjemahan buku tersebut bisa didapatkan dari penerbit Zaman dengan judul Terapi Makrifat – Kasidah Cinta dan Amalan Wali Allah.

***** awal kutipan *****
Seorang Sultan pernah mendatangi kuburan Abu Yazid ra. Ia bertanya kepada orang-orang, “Adakah yang pernah bertemu dengan Abu Yazid?” Seseorang menunjukkannya kepada seorang kakek tua yang pernah bertemu dengannya.

Sultan itu bertanya, “Pernahkah kau mendengar apa yang dikatakan Abu Yazid?”.

Ya. Ia pernah berkata, “Siapa saja yang mengunjungiku, niscaya ia tidak akan terbakar api neraka.”

Jawabannya itu terasa aneh di telinga sang sultan sehingga ia kembali berkata, “Bagaimana mungkin Abu Yazid berkata seperti itu, sementara Abu Jahal pernah melihat Nabi saw saja, nyatanya dibakar api (neraka)”.

Kakek itu menjelaskan, “Abu Jahal tidak melihat/memandang nabi saw. Ia hanya melihat/memandang anak yatim yang dipelihara Abu Thalib. Seandainya ia melihat/memandang Nabi saw, tentu ia tidak akan terbakar api neraka.

Sultan mengangguk takzim mendengar penjelasan orang tua itu. Ia kagumi jawabannya.

Jelasnya, Abu Jahal tidak melihat Nabi shallallahu alaihi wasallam dengan sikap yang mengagungkan dan memuliakannya. Ia tidak percaya bahwa Muhammad adalah utusan Allah. Seandainya ia melihat Nabi disertai sikap yang mengagungkan dan memuliakan, niscaya ia tidak akan dibakar api neraka. Alih-alih, ia melihat Muhammad sebagai anak yatim yang lemah dan hina yang diasuh Abu Thalib. Pandangan semacam itu tentu saja tidak bermanfaat.

***** akhir kutipan *****

Oleh karenanya sebaiknya janganlah memandang Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam sebagai manusia yang biasa agar tidak berakibat seperti apa yang dialami oleh Abu Jahal.

Wassalam

Zon di Jonggol, Kab Bogor 16830

Read Full Post »

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 353 pengikut lainnya.