Feeds:
Pos
Komentar

Posts Tagged ‘contoh yang jelek’

Bid’ah dalam agama

 

Bid’ah dholalah adalah bid’ah sayyiah dan sunnah sayyiah

Sunnah Sayyiah adalah mencontohkan atau meneladankan perbuatan atau perkara baru (bid’ah)  diluar perkara syariat (di luar dari apa yang telah disyariatkanNya) yang menyalahi laranganNya atau bertentangan dengan Al Qur’an , As Sunnah, Ijma dan Qiyas.

Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda “Dan siapa yang melakukan satu sunnah sayyiah dalam Islam, maka ia mendapatkan dosanya dan dosa orang-orang yang mengamalkan sunnah tersebut setelahnya tanpa mengurangi dosa-dosa mereka sedikitpun.” (HR Muslim 4830)

Arti kata sunnah dalam sunnah sayyiah bukanlah sunnah Rasulullah atau hadits atau sunnah (mandub) karena tentu tidak ada sunnah Rasulullah yang sayyiah, tidak ada hadits yang sayyiah dan tidak ada perkara sunnah (mandub) yang sayyiah.

Jadi sunnah sayyiah adalah sesuatu yang tidak dilakukan oleh orang lain sebelumnya atau contoh atau suri tauladan atau perkara baru di luar perkara syariat yang bertentangan dengan Al Qur’an dan Hadits , termasuk ke dalam bid’ah dholalah

Bid’ah Sayyiah atau bid’ah yang sesat adalah bid’ah dalam urusan agama atau bid’ah dalam urusan kami atau bid’ah dalam perkara syariat.

Apakah yang dimaksud bid’ah dalam urusan agama ?

Apakah agama ?

Rujukan pertama

Dari Ibnu ‘Abbas r.a. berkata Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda, “di dalam agama itu tidak ada pemahaman berdasarkan akal pikiran, sesungguhnya agama itu dari Tuhan, perintah-Nya dan larangan-Nya.” (Hadits riwayat Ath-Thabarani)

Rujukan kedua

Firman Allah ta’ala

اَلْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الإسْلامَ دِينًا

Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Aku cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Aku ridai Islam itu Jadi agama bagimu.” (QS. al-Maidah: 3)

Ibnu Katsir berkata dalam tafsirnya, “Ayat ini menunjukkan nikmat Allah yang paling besar, yaitu ketika Allah menyempurnakan agama bagi manusia sehingga mereka tidak lagi membutuhkan agama selain islam, tidak membutuhkan seorang nabi pun selain nabi kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Karena itulah Allah ta’ala mengutus beliau sebagai nabi penutup para nabi dan mengutus beliau kepada manusia dan jin. Tidak ada sesuatu yang halal melainkan yang Allah halalkan, tidak ada sesuatu yang haram melainkan yang Allah haramkan dan tidak ada agama kecuali perkara yang di syariatkan-Nya.”

Rasulullah Shallallau ‘Alaihi wa Sallam bersabda: “Apa-apa yang Allah halalkan dalam kitabNya adalah halal, dan apa-apa yang diharamkan dalam kitabNya adalah haram, dan apa-apa yang didiamkanNya adalah dibolehkan. Maka, terimalah kebolehan dari Allah, karena sesungguhnya Allah tidak lupa terhadap segala sesuatu.” Kemudian beliau membaca (Maryam: 64): “Dan tidak sekali-kali Rabbmu itu lupa.” (HR. Al Hakim dari Abu Darda’, beliau menshahihkannya. Juga diriwayatkan oleh Al Bazzar)

Rujukan ketiga

Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda, “Sesungguhnya Allah telah mewajibkan beberapa kewajiban , maka jangan kamu sia-siakan dia; dan Allah telah memberikan beberapa larangan, maka jangan kamu langgar dia; dan Allah telah mengharamkan sesuatu, maka jangan kamu pertengkarkan dia; dan Allah telah mendiamkan beberapa hal sebagai tanda kasihnya kepada kamu, Dia tidak lupa, maka jangan kamu perbincangkan dia.” (Riwayat Daraquthni, dihasankan oleh an-Nawawi dan tercantum dalam hadits Arba’in yang ketiga puluh)

Kesimpulan dari rujukan-rujukan di atas
Agama adalah bukan akal pikiran manusia
Agama adalah dari Allah Azza wa Jalla berisikan perintahNya dan laranganNya
Agama adalah bersumber dari Allah Azza wa Jalla berisikan perkara yang disyariatkanNya meliputi kewajiban, apa yang telah dilarang dan diharamkanNya

Maka yang dimaksud dengan bid’ah dalam agama atau mengada-ada dalam urusan agama adalah
“Mengada-ada terhadap perkara yang disyariatkanNya atau mengada-ada terhadap perintahNya dan laranganNya yakni
Melarang sesuatu yang tidak dilarangNya
Mengharamkan sesuatu yang tidak diharamkanNya
Mewajibkan sesuatu yang tidak diwajibkanNya”

Jadi kesimpulannya,  mereka yang melarang peringatan Maulid Nabi adalah mereka yang melakukan bid’ah dalam agama yakni melarang sesuatu yang tidak dilarangNya

Sedangkan kaum muslim pada umumnya yang melakukan peringatan Maulid Nabi Muhammad Shallallahu alaihi wasallam tidak termasuk melakukan bid’ah dalam agama karena tidak satupun ulama yang sholeh yang menyampaikan bahwa peringatan Maulid Nabi Muhammad Shallallahu alaihi wasallam adalah sebuah kewajiban yang jika ditinggalkan berdosa.

Peringatan Maulid Nabi Muhammad Shallallahu alaihi wasallam adalah bid’ah dalam perkara kebaikan karena tidak menyalahi satupun laranganNya atau perkara yang tidak bertentangan dengan Al Qur’an dan Hadits.

Contoh pelaku bid’ah dalam agama

Mereka yang melarang mencintai dan memuji manusia yang paling mulia, Sayyidina Nabi Muhammad shallallahu alaihi wasallam dan lebih memilih mencintai dan mengenang ulama Muhammad bin Abdul Wahhab dalam sepekan dengan judul acara “Pekan Memorial Muhammad bin Abdul Wahhab” . Sumber: http://sunnah-hasanah.blogspot.com/2012/04/perayaan-maulid-muhammad-bin-abdul.html  

Mereka melakukan pembelaan bahwa acara “Pekan Memorial Muhammad bin Abdul Wahhab”  berbeda dengan acara peringatan Maulid Nabi ,  sebagaimana yang kita dapat ketahui pada http://kangaswad.wordpress.com/2011/02/28/antara-pekan-muhammad-bin-abdul-wahhab-dan-maulid-nabi/

Salah satu alasan perbedaannya sebagaimana yang disampaikan ulama Muhammad bin Shalih Al ‘Utsaimin rahimahullah adalah Pekan Memorial Syaikh Muhammad bin Abdil Wahhab Rahimahullahu Ta’ala” tidak dianggap sebagai suatu bentuk taqarrub kepada Allah Azza Wa Jalla”.

Apakah mereka memang sengaja melakukan perbuatan yang bukan taqarrub kepada Allah Azza Wa Jalla artinya mereka memang melakukan perbuatan yang menjauhkan diri dari Allah Azza wa Jalla ?

Alasan kedua adalah “Pekan Memorial Syaikh Muhammad bin Abdil Wahhab Rahimahullahu Ta’ala” tidak diadakan secara rutin dan sebagaimana rutinnya hari raya. Isi dari kegiatan ini adalah memberikan menjelaskan dan merilis tulisan-tulisan beliau kepada masyarakat serta menerangkan tentang pribadi beliau. Karena penjelasan tentang hal ini banyak belum diketahui banyak orang

Kesimpulannya tidak ada perbedaan antara “Pekan Memorial Muhammad bin Abdil Wahhab” dengan “Perayaan memorial Nabi Muhammad Shallallahu alaihi wasallam” yang disebut Maulud sama-sama perkara baru atau bid’ah dalam kebaikan bukan bid’ah dalam agama.

Peringatan “Pekan Memorial Muhammad bin Abdil Wahhab” tidak dirutinitaskan oleh penentuan waktu hari pelaksanaannya, sedangkan Maulid  Nabi juga demikian tidak selalu bertepatan dengan hari kelahiran Nabi Muhammad shallallahu alaihi wasallam,  kedua-duanya hanya mengambil momen, kalau Maulid Nabi momennya adalah hari kelahiran Nabi Muhammad shallallahu alaihi wasallam sedangkan “Pekan Memorial Muhammad bin Abdil Wahhab” adalah mengenang dan merilis karya-karya Ulama Muhammad bin Abdul Wahhab.

Sedangkan tujuannya, kalau “Pekan Memorial Muhammad bin Abdil Wahhab” untuk menyebarluaskan faham wahabi dan merefresh ingatan agar semangat wahabisme tumbuh terus, begitu juga Maulud Nabi tujuannya adalah menimbulkan, menambah dan menyemangati nilai juang Islamiah Rasulullah shallallahu alaihi wasallam sekaligus dalam rangka syiar agama Islam.

Tentulah kaum muslim pada umumnya lebih memilih mensyiarkan apa yang disampaikan oleh Sayyidina Nabi Muhammad shallallahu alaihi wasallam daripada mensyiarkan apa yang dipahami oleh ulama Muhammad bin Abdul Wahhab. Apalagi ulama Muhammad bin Abdul Wahhab tidak dikenal berkompetensi sebagai Imam Mujtahid Mutlak sehingga bisa saja beliau keliru dengan apa yang beliau pahami.

Terlebih ulama Muhammad bin Abdul Wahhab diketahui tidak mau mempelajari kitab fiqih yang ditulis oleh Imam Mazhab yang empat sebagaimana informasi yang disampaikan oleh  Ulama madzhab Hanbali, al-Imam Muhammad bin Abdullah bin Humaid al-Najdi berkata dalam kitabnya al-Suhub al-Wabilah ‘ala Dharaih al-Hanabilah ketika menulis biografi Syaikh Abdul Wahhab, ayah pendiri Wahhabi, sebagai berikut:

Abdul Wahhab bin Sulaiman al-Tamimi al-Najdi, adalah ayah pembawa dakwah Wahhabiyah, yang percikan apinya telah tersebar di berbagai penjuru. Akan tetapi antara keduanya terdapat perbedaan. Padahal Muhammad (pendiri Wahhabi) tidak terang-terangan berdakwah kecuali setelah meninggalnya sang ayah. Sebagian ulama yang aku jumpai menginformasikan kepadaku, dari orang yang semasa dengan Syaikh Abdul Wahhab ini, bahwa beliau sangat murka kepada anaknya, karena ia tidak suka belajar ilmu fiqih seperti para pendahulu dan orang-orang di daerahnya. Sang ayah selalu berfirasat tidak baik tentang anaknya pada masa yang akan datang. Beliau selalu berkata kepada masyarakat, “Hati-hati, kalian akan menemukan keburukan dari Muhammad.” Sampai akhirnya takdir Allah benar-benar terjadi.

Padahal Allah ta’ala berfirman yang artinya “Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) dari golongan Muhajirin dan Anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan merekapun ridha kepada Allah dan Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya selama-lamanya. Mereka kekal di dalamnya. Itulah kemenangan yang besar“.  (QS at Taubah [9]:100)

Dari firmanNya tersebut dapat kita ketahui bahwa orang-orang yang diridhoi oleh Allah Azza wa Jalla adalah orang-orang yang mengikuti Salafush Sholeh.

Sedangkan orang-orang yang mengikuti Salafush Sholeh yang paling awal dan utama adalah Imam Mazhab yang empat karena Imam Mazhab yang empat bertemu dan bertalaqqi (mengaji) dengan Salafush Sholeh sehingga Imam Mazhab yang empat mendapatkan pemahaman Salafush Sholeh dari lisannya langsung dan Imam Mazhab yang empat melihat langsung cara beribadah atau manhaj Salafush Sholeh.

Tidak seperti ulama-ulama pada akhir zaman yang mencari tahu cara beribadah atau manhaj Salafush Sholeh melalui upaya pemahaman bersandarkan muthola’ah, menelaah kitab yang bisa saja keliru dalam pemahamannya.

Jadi cara kita meraih ridho Allah Azza wa Jalla adalah mengikuti orang-orang yang mengikuti Salafush Sholeh secara langsung yakni dengan mengikuti Imam Mazhab yang empat berdasarkan apa yang disampaikan oleh para ulama yang sholeh yang memiliki ilmu riwayah dan dirayah dari Imam Mazhab yang empat.

 

Wassalam

 

Zon di Jonggol, Kab Bogor 16830

Read Full Post »

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 347 pengikut lainnya.