Feeds:
Pos
Komentar

Posts Tagged ‘Ibn al Jawzi’

Beberapa Kesalahan Mendasar Orang-Orang Yang Mengaku Bermadzhab Hanbali

 

Ibn al Jawzi  bernama Jamaluddin Abu al Faraj Abdurrahman bin Ali bin Muhammad bin Ali al Qurasyi al Baghdadi, dikenal dengan sebutan Ibn al Jawzi; al imam al hafizh al mufassir al ushuliyy al mutakallim. Salah seorang ulama Ahlussunnah terkemuka multidisipliner; ahli hadits (al Hafizh), ahli fiqih (al Faqih), ahli tafsir (al Mufassir), ahli teologi (al Mutakallaim), ahli sejarah (al Mu’arrikh), sufi terkemuka yang zuhud dan wara’. Lahir tahun 510 H, dan wafat pada 7 Ramadlan tahun 597 H.

Kutipan terjemahan dari  kitab Daf’u  syubah at-tasybih bi-akaffi at-tanzih  karya Ibn al Jawzi, sumber: http://mutiarazuhud.files.wordpress.com/2012/12/dafu-syubah-imam-ibn-al-jauzi.pdf

Beberapa nama penulis kitab yang telah aku sebutkan di atas, dasar kesalahan yang terjadi pada diri mereka adalah dalam tujuh perkara berikut:

1.  Mereka selalu menamakan setiap teks yang memberitakan tentang Allah sebagai sifat-sifat-Nya, padahal tujuan teks-teks tersebut hanya untuk mengungkapkan penyandaran saja (al-Idlâfah). [Artinya penyandaran sesuatu kepada nama Allah untuk menunjukan bahwa Allah memuliakan sesuatu tersebut]. Sementara, tidak setiap bentuk Idlâfah itu dalam pengertian sifat, contohnya firman Allah tentang Nabi Isa: وَنَفَخْتُ فيْه مِنْ رُوْحِي (الحجر: 29)

Kata ”من روحي” dalam ayat ini tidak boleh dipahami bahwa Allah memiliki sifat yang disebut dengan ”ruh” [lalu sebagian ruh tersebut adalah bagian dari Nabi Isa yang ditiupkan kepadanya]. (Tetapi yang dimaksud adalah bahwa ruh tersebut adalah ruh yang dimuliakan oleh Allah). Barangsiapa memahami bahwa setiap Idlâfah itu sebagai sifat maka dia seorang yang telah sesat dan ahli bid’ah.

2.  Mereka selalu saja berkata: ”Hadits-hadits yang kita bicarakan ini adalah hadits-hadits mutasyâbihât yang maknanya tidak diketahui oleh siapapun kecuali oleh Allah saja”, lalu mereka berkata: ”Kita harus memahami hadits-hadits tersebut sesuai makna zahirnya”.

Kata-kata seperti ini adalah ungkapan yang sangat aneh, mereka mengatakan ”Makna-maknanya tidak diketahui oleh siapapun kecuali oleh Allah saja”, tapi begitu mereka sendiri memaknai itu semua dalam makna zahirnya. Padahal siapapun tahu bahwa makna zahir dari kata ”Istawâ” adalah duduk, dan makna zahir ”nuzûl” adalah pindah dengan bergerak dari satu tempat (atas) ke tempat yang lain (bawah). [Lalu adakah pantas jika Allah disifati dengan sifat-sifat benda semacam ini? Allah maha suci dari apa yang dikatakan oleh orang-orang kafir dengan kesucian yang agung].

3. Mereka sendiri telah menetapkan sifat-sifat bagi Allah sesuai dengan apa yang mereka kehendaki, padahal sesungguhnya seluruh sifat-sifat Allah itu hanya kita tetapkan sesuai dengan apa yang telah ditetapkan oleh Allah sendiri dengan dalil-dalil yang pasti (tawqîfiyyah).

4.  Dalam menetapkan sifat-sifat Allah mereka tidak pernah membedakan antara hadits-hadits yang masyhur; seperti sabda Rasulullah:

ينْزلُ ربّنا إلَى السّماء الدّنيا

dengan hadits-hadits yang tidak benar; seperti hadits:

رأيتُ ربّي فِي أحْسَن صُوْرة

dengan hanya bahwa keduanya diriwayatkan dalam hadits lalu secara langsung mereka menetapkan sifat-sifat bagi Allah; tidak peduli baik itu dengan dasar yang masyhur atau tidak.

5. Dalam menetapkan sifat-sifat Allah mereka tidak membedakan antara hadits marfû’ (yang langsung berasal dari Rasulullah) dengan hadits mawqûf (yang berasal dari pernyataan seorang sahabat, atau yang berasal dari pernyataan seorang tabi’in). Dengan hanya bahwa semua itu diriwayatkan dalam sebuah hadits lalu secara langsung mereka menetapkan sifat-sifat bagi Allah; tidak peduli baik itu hadits marfû’ atau mawqûf.

6.  Dalam memahami sifat-sifat Allah, terhadap beberapa teks mereka melakukan takwil sementara terhadap beberapa teks lainnya mereka tidak memakai takwil [Artinya pemahaman mereka hanya didasarkan kepada hawa nafsu belaka]. Seperti dalam sebuah hadits:

مَنْ أتَانِي يَمْشِي أتَيتُهُ هَروَلة

[Makna literal hadits ini tidak boleh kita ambil, mengatakan: ”Siapa mendatangi-Ku dengan berjalan maka Aku (Allah) akan mendatanginya dengan lari kecil”. Makna zahirnya seakan Allah berlari].

Mereka memahami hadits ini dengan takwil, mereka tidak memahaminya dalam makna zahirnya. Mereka berkata: ”Kandungan hadits ini adalah untuk mengungkapkan karunia dan nikmat yang diberikan oleh Allah kepada hamba-Nya”.

7. Mereka memahami kandungan hadits-hadits mutasyâbihât dalam makna indrawi. Ini nyata dan sangat jelas ada dalam ungkapan-ungkapan mereka, seperti kata: ”Yanzil bi dzâtih ”ينزل بذاته”, Yantaqil ”ينتقل”, Yatahawwal ”يتحول”. [Ini ungkapan-ungkapan sesat, karena itu semua hanya berlaku untuk sifat-sifat benda. Dalam pemahaman mereka; yanzil bidzâtih artinya; ”Allah turun dengan Dzat-Nya”, yantaqil artinya; ”Allah pindah”, dan yatahawwal artinya; ”Allah berubah dari satu keadaan kepada keadaan yang lain”]. Lalu mereka berkata: ”Lâ kamâ na’qil ”لا كما نعقل”; artinya: ”Itu semua tidak seperti yang kita bayangkan dalam akal pikiran kita”. Kata-kata terakhir inilah yang banyak mengelabui orang-orang awam. Padahal kesimpulan mereka ini jelas telah menyalahi akal sehat karena berangkat dari pemahaman indrawi dan sifat-sifat benda pada hak Allah.

Berangkat dari sini aku melihat bahwa menuliskan buku bantahan terhadap kesesatan mereka adalah sebuah keharusan, supaya keyakinan-keyakinan buruk semacam itu tidak lagi disandarkan kepada Imam Ahmad bin Hanbal. Bahkan mungkin saja seandainya aku terus berdiam diri maka mereka akan mengatakan bahwa akidah buruk yang mereka yakini itu merupakan keyakinan diriku. Bagi siapapun jangan menganggap perkara semacam ini masalah remeh, karena berpijak dan mengamalkan sebuah dalil; terlebih dalam masalah-masalah akidah yang menyangkut pengetahuan kita kepada Allah tidak boleh hanya didasarkan kepada taqlid buta.

Read Full Post »

Older Posts »

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 386 pengikut lainnya.