Feeds:
Pos
Komentar

Posts Tagged ‘menjawab dakwah kaum ‘salafi’’

Buku yang sebaiknya dimiliki agar tidak timbul penyesalan di akhirat kelak

 

Alhamdulillah, segala puji bagi-Nya, shalawat dan salam semoga selalu tercurah kepada Sayyidina Nabi Muhammad Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, keluarganya, para Sahabat dan orang-orang yang selalu istiqomah mengikuti dan memperjuangkan ajaran-ajaran Beliau shallallahu ‘alaihi wasallam hingga akhirat kelak, melalui apa yang telah disampaikan oleh para ulama yang sholeh yang memiliki sanad ilmu (sanad guru) tersambung kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.

Telah hadir sebuah buku yang sebaiknya dimiliki oleh kaum muslim agar tidak timbul penyesalan di akhirat kelak karena mengikuti orang-orang yang salah memahami Al Qur’an dan As Sunnah.

Buku tersebut judul aslinya adalah ” Al Mutasyaddidun, manhajuhum wa munaqasyatu ahammi qadlayahum” yang ditulis oleh Prof, DR Ali Jum’ah , yang menjabat sebagai Mufti Mesir sejak 28 September 2003 sampai sekarang yang kemudian diterjemahkan dan diterbitkan oleh penerbit Khatulistiwa Press beralamat Jl Datuk Ibrahim No. 19, Condet, Balekambang, Jakarta Timur. Telp 021 8098583. Website: http://www.khatulistiwapress.com/

Buku yang diterjemahkan diberi judul , “Menjawab Dakwah Kaum ‘Salafi’

Kata salafi dalam tanda petik karena banyak sekali sekte atau firqoh yang menamakan dirinya salafi.

Salafi pada kenyaataanya adalah mereka yang kembali kepada Al Qur’an dan As Sunnah atau mereka yang memahami Al Qur’an dan As Sunnah bersandarkan mutholaah (menelaah kitab) secara otodidak (shahafi) dengan akal pikirannya sendiri mengikuti kaum musyabbihah yang pada kenyataannya mengikuti kaum Yahudi, bermazhab dzahiriyyah yakni berpendapat, berfatwa, beraqidah (beri’tiqod) berpegang pada nash secara dzahir.

Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda, “Barangsiapa menguraikan Al Qur’an dengan akal pikirannya sendiri dan merasa benar, maka sesungguhnya dia telah berbuat kesalahan”. (HR. Ahmad)

Apakah orang yang otodidak dari kitab-kitab hadits layak disebut ahli hadits

Syaikh Nashir al-Asad menjawab pertanyaan ini: “Orang yang hanya mengambil ilmu melalui kitab saja tanpa memperlihatkannya kepada ulama dan tanpa berjumpa dalam majlis-majlis ulama, maka ia telah mengarah pada distorsi. Para ulama tidak menganggapnya sebagai ilmu, mereka menyebutnya shahafi atau otodidak, bukan orang alim… Para ulama menilai orang semacam ini sebagai orang yang dlaif (lemah). Ia disebut shahafi yang diambil dari kalimat tashhif, yang artinya adalah seseorang mempelajari ilmu dari kitab tetapi ia tidak mendengar langsung dari para ulama, maka ia melenceng dari kebenaran. Dengan demikian, Sanad dalam riwayat menurut pandangan kami adalah untuk menghindari kesalahan semacam ini” (Mashadir asy-Syi’ri al-Jahili 10)

Al-Hafidz adz-Dzahabi berkata: “al-Walid mengutip perkataan al-Auza’i: “Ilmu ini adalah sesuatu yang mulia, yang saling dipelajari oleh para ulama. Ketika ilmu ini ditulis dalam kitab, maka akan dimasuki oleh orang yang bukan ahlinya.” Riwayat ini juga dikutip oleh Ibnu Mubarak dari al-Auza’i. Tidak diragukan lagi bahwa mencari ilmu melalui kitab akan terjadi kesalahan, apalagi dimasa itu belum ada tanda baca titik dan harakat. Maka kalimat-kalimat menjadi rancu beserta maknanya. Dan hal ini tidak akan terjadi jika mempelajari ilmu dari para guru”

Salafi yang dimaksud dalam buku tersebut adalah sekte atau firqoh salafi wahabi yang mengikuti ajaran ulama Muhammad bin Abdul Wahhab atau ajaran wahabi yang disebarluaskan oleh kerajaan dinasti Saudi. Kita melihat kenyaataan bahwa kerajaan dinasti Saudi adalah sekutu dari Zionis Yahudi Amerika sedangkan Zionis Yahudi Amerika merupakan pendukung Zionis Yahudi Israel

Buku tersebut dapat berguna untuk menangkal ajaran Wahabi yang disebarluaskan oleh kerajaan dinasti Saudi dengan sokongan dana USD 2 miliar setiap tahunnya sebagaimana yang dapat kita ketahui dari tulisan pada http://www.merdeka.com/khas/wahabi-benci-nabi-aliansi-wahabi-dan-saudi-1.html

Istilah as-salafiyah pada dasarnya mengandung makna yang baik, namun belakangan disalah-pahami atau disalah-gunakan atau bahkan cenderung “dirampas” oleh orang-orang yang mencoba menisbatkan diri mereka ke dalam tiga generasi pertama dari umat Islam. Sebagian mereka bahkan mengklaim secara terang-terangan sebagai satu-satunya pewaris Salaf, tidak ada salafi kecuali mereka.

Mereka menggunakan kata as-salafiyah sebagai identitas kelompok yang menganggap diri mereka paling benar. Dengan menggunakan nama salafi, mereka mengklaim bahwa hanya merekalah yang paling amanah dalam menyampaikan akidah salaf dan hanya merekalah representasi dari “manhaj salaf” atau “mazhab salaf” dalam memahami serta mengaplikasikan ajaran Islam

Contohya sebagaimana yang dapat kita ketahui dari situs mereka pada http://almanhaj.or.id/content/1474/slash/0/antara-ahlus-sunnah-dan-salafiyah/  di mana mereka mengutip perkataan atau fatwa dari ulama panutan mereka yakni ulama Ibnu Taimiyyah, “Barangsiapa mengingkari penisbatan kepada salaf danmencelanya, maka perkataannya terbantah dan tertolak ‘karena tidak ada aib untuk orang-orang yang menampakkan mazhab salaf dan bernisbat kepadanya bahkan hal itu wajib diterima menurut kesepakatan ulama, karena mazhab salaf itu pasti benar” [Majmu Fatawa 4/149]

Kitapun tahu bahwa nama sebuah mazhab tidak dinisbatkan kepada nama suatu kaum melainkan kepada nama ulama yang melakukan ijtihad dan istinbat serta ulama yang berkompetensi sebagai Imam Mujtahid Mutlak.

Prof. Dr. Muhammad Sa’id Ramadhan Al-Buthi dalam As-Salafiyyah: Marhalah Zamaniyyah Mubarakah, La Mazhab Islami yang sudah diterbitkan dalam bahasa Indonesia oleh penerbit Gema Insani Press menjelaskan bahawasanya, “istilah salaf itu bukanlah suatu mazhab dalam Islam, sebagaimana yang dianggap oleh sebagian mereka yang mengaku sebagai salafi, tetapi istilah salaf itu sendiri merujuk kepada suatu zaman awal umat Islam“.

Zaid bin Tsabit RA berkata, “Aku pernah mendengar Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: Semoga Allah mengelokkan rupa orang yang mendengar Hadits dariku, lalu dia menghafalnya-dalam lafadz riwayat lain: lalu dia memahami dan menghafalnya- kemudian dia menyampaikannya kepada orang lain. Terkadang orang yang membawa ilmu agama menyampaikannya kepada orang yang lebih paham darinya,dan terkadang orang yang membawa ilmu agama tidak memahaminya” (Hadits ShahihRiwayat Abu Dawud, at-Tirmidzi, Ibnu Majah, ad-Darimi, Ahmad, Ibnu Hibban,at-Thabrani dalam al-Mu’jamul Kabir, dan imam-imam lainnya).

Dari hadits tersebut kita paham memang ada perawi yang sekedar menghafal saja tanpa memahami hadits yang dihafalnya. Pada hakikatnya, sebagian besar yang disampaikan oleh para perawi hadits adalah perkataan Rasulullah bukan hasil pemahaman atau ijtihad dan istinbat dari para perawi hadits.

Imam Nawawi dalam Majmu’ Syarah al-Muhadzdzab berkata “dan tidak boleh bagi orang awam bermazhab dengan mazhab salah seorang dari pada imam-imam di kalangan para Sahabat radhiallahu ‘anhum dan selain mereka daripada generasi awal,walaupun mereka lebih alim dan lebih tinggi darajatnya dibandingkan dengan (ulama’) selepas mereka; hal ini karena mereka tidak meluangkan masa sepenuhnya untuk mengarang (menyusun) ilmu dan meletakkan prinsip-prinsip asas/dasar dan furu’/cabangnya. Tidak ada salah seorang daripada mereka (para sahabat) sebuah mazhab yang dianalisa dan diakui. Sedangkan para ulama yang datang setelah mereka (para sahabat) merupakan pendukung mazhab para Sahabat dan Tabien dan kemudian melakukan usaha meletakkan hukum-hukum sebelum berlakunya perkara tersebut; dan bangkit menerangkan prinsip-prinsip asas/dasar dan furu’/cabangilmu seperti (Imam) Malik dan (Imam) Abu Hanifah dan selain dari mereka berdua.”

Dalam buku tersebut, Prof, DR Ali Jum’ah menjawan dakwah kaum Salafi Wahabi dengan manhaj (metode ajaran) Al Azhar yang selama berabad-abad telah menegakkan paham Ahlus sunnah wal Jama’ah. Aliran Ahlus sunnah wal Jama’ah ini bila dibandingkan dengan aliran maupun mazhab yang lain dalam konteks akidah, maka posisinya jauh lebih moderat. Contohnya, para pengikutnya mengakui semua Sahabat Nabi shallallahu alaihi wasallam tidak seperti beberapa aliran Syiah yang mengingkari banyak Sahabat Nabi kecuali Sayyidina Ali kamarallahu wajhu dan sejumlah Sahabat yang memihak kepadanya.

Pada halaman 16 dituliskan

***** awal kutipan *****
“Sedangkan Manhaj Al-Azhar dalam bidang akidah adalah mengajarkan paham Asy’ariyah, yaitu sebuah paham akidah yang diikuti oleh mayoritas kaum muslimin di dunia ini. Dalam bidang fikih, Al-Azhar mengajarkan Fiqih ala Madzahibul Arba’ah (Fikih Imam Mazhab yang Empat), yaitu Hanafiyah, Malikiyah, Syafi’iyyah dan Hanabilah. Selain itu, tidak mengingkari adanya ijtihad individu atau golongan seperti Ibadhiyah, Zhahiriyah, Imamiyah dan Zaidiyah. Kalau kita membuat literatur fikih maka bisa menemukan lebih dari 80 mazhab, bahkan sampai mengutip langsung dari al Qur’an atau sunnah beberapa dalil yang dianggap sesuai dengan kebutuhan masyarakat dewasa ini.

Manhaj moderat Al Azhar berusaha untuk merealisasikan maqaashid al-‘ulya (tujuan-tujuan yang utama), yaitu perlindungan terhadap jiwa, akal, agama, kehormatan dan harta. Kelima maqaashid di atas merupakan representasi dari ketentuan umum dan representasi dari hak-hak manusia. Itu juga merupakan representasi dari tujuan syariah yang mulia, fitur peradaban Islam dan nlai-nilai kemanusiaan.

Sedangkan dalam bidang akhlak dan budi pekerti, Al Azhar mengajarkan beberapa aliran dalam tasawuf yang memberikan pendidikan kepada manusia untuk senantiasa membersihkan dirinya dari berbagai penyakit hati, seperti sombong, keras kepala dan lainnya. Kemudian menghiasi hatinya dengan nilai-nilai luhur yang diperoleh dengan cara merujuk literatur-literatur yang benar, bermanfaat serta didasarkan kepada ketaatan kepada Allah , RasulNya dan ulil amri.
***** akhir kutipan ******

Pada halaman 18 dituliskan

***** awal kutipan *****
Kaum ‘salafi’ ekstrem berpegang teguh dengan beberapa masalah yang sebenarnya tidak mewakili mayoritas umat. Lagi pula semua masalah tersebut bersifat furu’iyyah (cabang). Ironisnya, mereka justru menjadikannya sebagai barometer untuk pengkelompokkan kaum muslimin. Kemudian mereka meneriakkan kepada seluruh masyarakat bahwa masalah itu sudah punya rumusan hukum yang qath’i (pasti) dan tidak ada pertentangan di dalamnya. Tidak kalah anehnya, mereka juga mengklaim bahwa kebenaran hanya ada di tangan mereka. Orang yang mengemukakan pendapat yang bertentangan dengan mereka akan diklaim sebagai pemberontak, fasik dan menyimpang. Paling tidak, orang itu akan dianggap sebagai hamba yang tidak taat dan meremehkan agama, bahkan diklaim sebagai ingkar sunnah.

Mereka menyibukkan kaum muslimin dengan berbagai permasalahan tersebut. Sekalipun, mayoritas dalil yang melegitimasi pendapat mereka hanyalah dalil lemah, bahkan cacat.
**** akhir kutipan *****

Prof, DR Ali Jum’ah dengan buku tersebut mencoba menjawab 17 masalah dari banyak masalah, yaitu

1. Mensifati Allah ta’ala dengan ruang (tempat).
2. Menghina pengikut mazhab Asy’ariyah.
3. Mengingkari praktek taqlid dalam mazhab fikih yang empat.
4. Lancang mengibral fatwa tanpa didasari keahlian dan ketentuan.
5. Memperluas pemahaman bid’ah sehingga menyebabkan sebagian besar kaum muslim dianggap sebagai ahli bid’ah
6. Mengharamkan tawasul kepada Rasulullah shallallahu alaihi wasallam dan menganggapnya sebagai perbuatan syirik kepada Allah
7. Mengharamkan shalat di masjid yang di dalamnya terdapat makam dan memerintahkan secara terang-terangan untuk membongkarnya.
8. Menganggap tabarruk (mengambil berkah) dengan atsar (peninggalan) Nabi shallallahu alaihi wasallam dan orang yang shaleh lainnya sebagai termasuk perbuatan syirik kepada Allah
9. Mengharamkan peringatan Maulid Nabi Muhammad shallallahu alaihi wasallam dan menganggapnya sebagai perbuatan bid’ah.
10 Mengharamkan safar (perjalanan) untuk menziarahi makan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam dan juga makam-makam Nabi maupun orang shaleh lainnya.
11. Menuduh orang yang mengharapkan sesuatu dengan berkata “Demi Nabi shallallahu alaihi wasallam” sebagai tindakan syirik kecil
12. Mengklaim kedua orang tua Rasulullah shallallahu alaihi wasallam sebagai ahli neraka di hari kiamat kelak
13. Orang meninggal tidak memiliki perasaan apa-apa terhadap orang yang menziarahi makamnya
14. Mengingkari berbagai macam dzikir dan wirid.
15. Menganggap biji tasbih sebagai bid’ah
16. Berpedoman pada penampilan lahir, dan menjadikan bentuk pakaian tertentu sebagai bagian dari ibadah.
17. Berdakwah tanpa bekal yang cukup, dan mencampur adukkan antara nasihat dengan ilmu

Wassalam

Zon di Jonggol, Kabupaten Bogor 16830

Read Full Post »

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 363 pengikut lainnya.