Feeds:
Tulisan
Komentar

Tulisan terkirim dikaitan (tagged) ‘Pilpres’

Ajakan menimbulkan perselisihan

Pada kenyataanya bahwa ajakan “kembali kepada Al Qur’an dan As Sunnah” dengan cara memahami Al Qur’an dan As Sunnah maupun perkataan ulama terdahulu bersandarkan  mutholaah (menelaah kitab) secara otodidak (shahafi) dengan akal pikiran mereka sendiri dan pemahamannya selalu berpegang pada nash secara dzahir atau pemahamannya selalu dengan makna dzahir dari sudut arti bahasa (lughot) dan istilah (terminologi) saja, tujuannya adalah untuk menimbulkan perselisihan di antara kaum muslim sehingga dapat meruntuhkan Ukhuwah Islamiyah karena timbulnya firqah dalam Islam  sebagaimana yang telah disampaikan dalam tulisan pada http://mutiarazuhud.wordpress.com/2014/01/23/timbullah-firqah/

Tulisan dalam bentuk file pdf silahkan download pada http://mutiarazuhud.files.wordpress.com/2014/01/penyebab-timbulnya-firqah-dalam-islam.pdf dalam bentuk file word silahkan download pada http://mutiarazuhud.files.wordpress.com/2014/01/penyebab-timbulnya-firqah-dalam-islam.docx

Hal inilah yang dipergunakan oleh kaum Yahudi atau yang kita kenal sekarang dengan Zionis Yahudi sebagai hasutan atau ghazwul fikri (perang pemahaman) untuk mewujudkan keinginan mereka menjadi pemimpin dunia dan menjalankan apa yang dinamakan mereka sebagai “New World Order” (tatanan dunia baru). Padahal kaum Yahudi adalah kaum yang dimurkai oleh Allah Azza wa Jalla dan dipermalukan dengan tidak lagi memiliki tanah sehingga mereka mencaplok tanah Palestina.

Kaum muslim disibukkan dengan mengulang kembali apa yang telah dikerjakan dan dihasilkan oleh Imam Mazhab yang empat sedangkan mereka tidak berkompetensi sebagai Imam Mujtahid Mutlak

Kaum muslim disibukkan dengan “ajakan menegakkan syariat Islam” namun pada hakikatnya adalah menegakkan pemahaman mereka sendiri terhadap  Al Qur’an dan As Sunnah maupun perkataan ulama terdahulu bersandarkan mutholaah (menelaah kitab) secara otodidak (shahafi) dengan akal pikiran mereka sendiri dan pemahamannya selalu berpegang pada nash secara dzahir atau pemahamannya selalu dengan makna dzahir dari sudut arti bahasa (lughot) dan istilah (terminologi) saja.

Akibatnya kita dapat saksikan di Irak, Afghanistan, Somalia, Suriah, Libya, Mesir, Turki  dan negara-negara lainnya sehingga kaum muslim tidak bersatu padu menghadapi musuh sebenarnya.

Zionis Yahudi Amerika ingin mencitrakan dirinya sebagai pahlawan. Zionis Yahudi Amerika ibarat sutradara Holywoowd, Salafi Jihadi seperti al Qaeda (yang pada awalnya dibentuk dan didanai oleh Zionis Yahudi Amerika) diperankan sebagai yang memusuhi Zionis Yahudi Amerika sedangkan beberapa penguasa negeri yang mengaku muslim namun bersekutu dengan Zionis Yahudi Amerika diperankan sebagai sahabat yang mendukung Zionis Yahudi Amerika.

Begitupula di negara kita, partai-partai yang ingin mewarnai sistem pemerintahan dengan syariat Islam dan berupaya agar penguasa negeri bukanlah dari kalangan yang mendukung SEPILIS (Sekularisme, Pluralisme, Liberalisme) atau bahkan non muslim namun pada kenyataannya parta-partai tersebut tidak bersatu padu untuk mengusung satu calon presiden yang kelak akan mentaati ulil amri yakni para fuqaha yang mengikuti Rasulullah shallallahu alaihi wasallam dengan mengikuti Imam Mazhab yang empat.

Mereka masing-masing mengusung calon presiden sendiri dan dengan pemahaman mereka sendiri terhadap Al Qur’an dan As Sunnah serta perkataan ulama terdahulu.

Allah Azza wa Jalla telah berfirman bahwa jika kita berlainan pendapat tentang sesuatu maka taatilah ulil amri yakni para fuqaha yang faqih dalam memahami Al Qur’an dan As Sunnah

Firman Allah ta’ala yang artinya “Hai orang-orang yang beriman, ta’atilah Allah dan ta’atilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al-Qur’an) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya” (QS An Nisaa [4]:59)

Bagaimana cara mentaati Allah dan RasulNya tanpa melalui ulil amri ?

Apakah mentaati akal pikiran sendiri atau mentaati orang-orang yang memahami Al Qur’an dan As Sunnah bersandarkan mutholaah (menelaah kitab) secara otodidak (shahafi) dengan akal pikiran mereka sendiri dan pemahamannya selalu berpegang pada nash secara dzahir atau pemahamannya selalu dengan makna dzahir dari sudut arti bahasa (lughot) dan istilah (terminologi) saja.

Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda, “Barangsiapa menguraikan Al Qur’an dengan akal pikirannya sendiri dan merasa benar, maka sesungguhnya dia telah berbuat kesalahan”. (HR. Ahmad)

Apakah orang yang otodidak dari kitab-kitab hadits layak disebut ahli hadits

Syaikh Nashir al-Asad menjawab pertanyaan ini: “Orang yang hanya mengambil ilmu melalui kitab saja tanpa memperlihatkannya kepada ulama dan tanpa berjumpa dalam majlis-majlis ulama, maka ia telah mengarah pada distorsi. Para ulama tidak menganggapnya sebagai ilmu, mereka menyebutnya shahafi atau otodidak, bukan orang alim… Para ulama menilai orang semacam ini sebagai orang yang dlaif (lemah). Ia disebut shahafi yang diambil dari kalimat tashhif, yang artinya adalah seseorang mempelajari ilmu dari kitab tetapi ia tidak mendengar langsung dari para ulama, maka ia melenceng dari kebenaran. Dengan demikian, Sanad dalam riwayat menurut pandangan kami adalah untuk menghindari kesalahan semacam ini” (Mashadir asy-Syi’ri al-Jahili 10)

Orang yang berguru tidak kepada guru tapi kepada buku saja maka ia tidak akan menemui kesalahannya karena buku tidak bisa menegur tapi kalau guru bisa menegur jika ia salah atau jika ia tak faham ia bisa bertanya, tapi kalau buku jika ia tak faham ia hanya terikat dengan pemahaman dirinya sendiri menurut akal pikirannya sendiri.

Siapakah ulil amri yang harus ditaati oleh kaum muslim ?

Rasulullah shallallahu alaihi wasallam adalah sosok ulama dan umara sekaligus. Begitu juga para khulafaur Rasyidin seperti Sayyidina Abu Bakar, Sayyidina Umar, Sayyidina Ustman dan Sayyidina Ali radhiyallahuanhum, begitu juga beberapa khalifah dari bani Umayah dan bani Abbas.

Namun dalam perkembangan sejarah Islam selanjutnya, sangat jarang kita dapatkan seorang pemimpin negara yang benar-benar paham terhadap Islam. Dari sini, mulailah terpisah antara ulama dan umara.

Ibnu Abbas ra sebagaimana yang disebutkan oleh Imam Thobari dalam tafsirnya telah menyampaikan bahwa ulil amri yang ditaati adalah para pakar fiqih atau para ulama yang menguasai hukum-hukum Allah.

Oleh karenanya siapapun pemimpin atau penguasa negerinya, kaum muslim sebaiknya selalu mentaati para fuqaha atau mufti setempat karena merekalah yang paling menguasai hukum hukum dari Al Qur’an dan As Sunnah.

Dalam menghadapi permasalahan dalam negeri yang ditaati adalah mufti setempat karena pihak luar tidak terjamin terbebas dari fitnah.

Sebagaimana yang disampaikan dalm tulisan pada http://mutiarazuhud.wordpress.com/2013/08/16/tidak-mentaati-fuqaha/ bahwa salah satu penyebab konflik di Mesir sehingga kaum muslim saling bunuh membunuh karena  ada pihak-pihak yang  tidak lagi mentaati para fuqaha.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bertanya lagi: ‘Apakah kamu yang telah membunuhnya? ‘ Dia menjawabnya, ‘Ya.’ Beliau bertanya lagi: ‘Lalu apa yang hendak kamu perbuat dengan kalimat, ‘Tidak ada tuhan (yang berhak disembah) kecuali Allah’, jika di hari kiamat kelak ia datang (untuk minta pertanggung jawaban) pada hari kiamat nanti? ‘ (HR Muslim 1429)

Jika dua orang muslim saling bertemu (untuk berkelahi) dengan menghunus pedang masing-masing, maka yang terbunuh dan membunuh masuk neraka. aku pun bertanya: Wahai Rasulullah, ini bagi yang membunuh, tapi bagaimana dengan yang terbunuh? Maka Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam menjawab: Dia juga sebelumnya sangat ingin untuk membunuh temannya.(HR Bukhari 30)

Pepatah orang tua kita dahulu menyatakan: “Menang jadi arang, kalah jadi abu”. artinya mereka sama-sama dalam kerugian.

Diriwayatkan hadits dari Abu Hurairah, Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Demi Allah, kalian tidak akan masuk surga hingga kalian beriman. Belum sempurna keimanan kalian hingga kalian saling mencintai.” (HR Muslim)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Kamu akan melihat orang-orang mukmin dalam hal saling mengasihi, mencintai, dan menyayangi bagaikan satu tubuh. Apabila ada salah satu anggota tubuh yang sakit, maka seluruh tubuhnya akan ikut terjaga dan panas (turut merasakan sakitnya).” (HR Bukhari 5552) (HR Muslim 4685)

Syarat atau kompetensi yang harus dipenuhi sebagai seorang mufti adalah sebagaimana yang disampaikan oleh KH. Muhammad Nuh Addawami

***** awal kutipan *****
Di masa hidup Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam menerima risalah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam tersebut relatif mudah, tidak sulit sesulit pada masa setelah wafatnya, apalagi setelah inqiradh para Sahabatnya.

Di masa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam masih hidup di dunia, bagi yang ingin menerima risalahnya hanya tinggal bertanya kepadanya dan mengikuti langsung apa-apa yang dikatakan, dikerjakan dan direstuinya.

Sedangkan pada masa setelah wafat beliau Shallallahu ‘Alaihi Wasallam terutama setelah inqiradh para Sahabatnya apalagi dalam masalah baru seiring dengan perkembangan zaman, kesulitan menerima risalah itu amat terasa sulit sekali, sehingga para penerimanya memerlukan kecermatan yang kuat dalam memahami al-Quran dan as-Sunnah, berijtihad dan beristinbath yang akurat menurut metoda yang dapat dipertanggungjawabkan keabsahannya menurut ukuran prinsip-prinsip risalah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam itu sendiri dengan logika yang benar, berbekal perbendaharaan ilmu yang cukup jumlah dan jenisnya, berlandaskan mental (akhlaq) dan niat semata-mata mencari kebenaran yang diridhai Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Hal semacam itu diperlukan karena keadaan kalam Allah Subhanahu wa Ta’ala dan kalam Rasulillah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam itu adalah kalam yang balaghah sesuai dengan muqtadhal hal dan muqtadhal maqam, keadaan lafadz-lafadznya beraneka ragam, ada lafadz nash, ada lafadz dlahir, ada lafadz mijmal, ada lafadz bayan, ada lafadz muawwal, ada yang umum, ada yang khusus, ada yang mutlaq, ada yang muqoyyad, ada majaz, ada lafadz kinayah selain lafadz hakikat. ada pula nasikh dan mansukh dan lain sebagainya.

Oleh karena itu bagi setiap sang penerima risalah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam pada masa setelah wafat beliau Shallallahu ‘Alaihi Wasallam dan setelah inqiradh para Sahabatnya radhiallahu anhum memerlukan :

a. Mengetahui dan menguasai bahasa arab sedalam-dalamnya, karena al-quran dan as-sunnah diturunkan Allah dan disampaikan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam dalam bahasa Arab yang fushahah dan balaghah yang bermutu tinggi, pengertiannya luas dan dalam, mengandung hukum yang harus diterima. Yang perlu diketahui dan dikuasainya bukan hanya arti bahasa tetapi juga ilmu-ilmu yang bersangkutan dengan bahasa arab itu seumpama nahwu, sharaf, balaghah (ma’ani, bayan dan badi’).

b. Mengetahui dan menguasai ilmu ushul fiqh, sebab kalau tidak, bagaimana mungkin menggali hukum secara baik dan benar dari al-Quran dan as-Sunnah padahal tidak menguasai sifat lafad-lafad dalam al-Quran dan as-Sunnah itu yang beraneka ragam yang masing-masing mempengaruhi hukum-hukum yang terkandung di dalamnya seperti ada lafadz nash, ada lafadz dlahir, ada lafadz mijmal, ada lafadz bayan, ada lafadz muawwal, ada yang umum, ada yang khusus, ada yang mutlaq, ada yang muqoyyad, ada majaz, ada lafadz kinayah selain lafadz hakikat. ada pula nasikh dan mansukh dan lain sebagainya.

c. Mengetahui dan menguasai dalil ‘aqli penyelaras dalil naqli terutama dalam masalah-masalah yaqiniyah qath’iyah.

d. Mengetahui yang nasikh dan yang mansukh dan mengetahui asbab an-nuzul dan asbab al-wurud, mengetahui yang mutawatir dan yang ahad, baik dalam al-Quran maupun dalam as-Sunnah. Mengetahui yang sahih dan yang lainnya dan mengetahui para rawi as-Sunnah.

e. Mengetahui ilmu-ilmu yang lainnya yang berhubungan dengan tata cara menggali hukum dari al-Quran dan as-Sunnah.

Bagi yang tidak memiliki kemampuan, syarat dan sarana untuk menggali hukum-hukum dari al-Quran dan as-Sunnah dalam masalah-masalah ijtihadiyah padahal dia ingin menerima risalah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam secara utuh dan kaffah, maka tidak ada jalan lain kecuali taqlid kepada mujtahid yang dapat dipertanggungjawabkan kemampuannya.

Diantara para mujtahid yang madzhabnya mudawwan adalah empat imam mujtahid, yaitu:

- Imam Abu Hanifah Nu’man bin Tsabit;
- Imam Malik bin Anas;
- Imam Muhammad bin Idris Asy-Syafi’i ; dan
- Imam Ahmad bin Hanbal.

Mengharamkan taqlid dan mewajibkan ijtihad atau ittiba’ dalam arti mengikuti pendapat orang disertai mengetahui dalil-dalilnya terhadap orang awam (yang bukan ahli istidlal) adalah fatwa sesat dan menyesatkan yang akan merusak sendi-sendi kehidupan di dunia ini.

Memajukan dalil fatwa terhadap orang awam sama saja dengan tidak memajukannya. (lihat Hasyiyah ad-Dimyathi ‘ala syarh al- Waraqat hal 23 pada baris ke-12).

Apabila si awam menerima fatwa orang yang mengemukakan dalilnya maka dia sama saja dengan si awam yang menerima fatwa orang yang tidak disertai dalil yang dikemukakan. Dalam artian mereka sama-sama muqallid, sama-sama taqlid dan memerima pendapat orang tanpa mengetahui dalilnya.

Yang disebut muttabi’ “bukan muqallid” dalam istilah ushuliyyin adalah seorang ahli istidlal (mujtahid) yang menerima pendapat orang lain karena dia selaku ahli istidlal dengan segala kemampuannya mengetahui dalil pendapat orang itu.

Adapun orang yang menerima pendapat orang lain tentang suatu fatwa dengan mendengar atau membaca dalil pendapat tersebut padahal sang penerima itu bukan atau belum termasuk ahli istidlal maka dia tidak termasuk muttabi’ yang telah terbebas dari ikatan taqlid.

Pendek kata arti ittiba’ yang sebenarnya dalam istilah ushuliyyin adalah ijtihad seorang mujtahid mengikuti ijtihad mujtahid yang lain.
***** akhir kutipan *****

Oleh karenanya setelah masa kehidupan Imam Madzhab yang empat, para mufti yakni orang yang faqih untuk membuat fatwa selalu merujuk kepada salah satu dari Imam Madzhab yang empat.

Allah ta’ala berfirman yang artinya

“Kitab yang dijelaskan ayat-ayatnya, yakni bacaan dalam bahasa Arab, untuk kaum yang mengetahui” (QS Fush shilat [41]:3)

“Maka bertanyalah kepada orang yang mempunyai pengetahuan jika kamu tidak mengetahui.” [QS. an-Nahl : 43]

Al Qur’an adalah kitab petunjuk namun kaum muslim membutuhkan seorang penunjuk.

Al Qur’an tidak akan dipahami dengan benar tanpa Rasulullah shallallahu alaihi wasallam sebagai seorang penunjuk

Firman Allah ta’ala yang artinya “Dan kami sekali-kali tidak akan mendapat petunjuk kalau Allah tidak memberi kami petunjuk. Sesungguhnya telah datang rasul-rasul Tuhan kami, membawa kebenaran“. (QS Al A’raf [7]:43)

Secara berjenjang, penunjuk para Sahabat adalah Rasulullah shallallahu alaihi wasallam. Penunjuk para Tabi’in adalah para Sahabat. penunjuk para Tabi’ut Tabi’in adalah para Tabi’in dan penunjuk kaum muslim sampai akhir zaman adalah Imam Mazhab yang empat

Suatu ketika Rasulullah shallallahu alaihi wasallam mengadu kepada Tuhan: “Aku akan meninggalkan dunia ini, Aku akan meninggalkan umatku. Siapakah yang akan menuntun mereka setelahku? Bagaimana nasib mereka sesudahku?”

Allah ta’ala lalu menurunkan firman-Nya :

walaqad atainaaka sab’an mina almatsaanii wal qur’aana al’azhiima

“Kami telah mengaruniakanmu Assab’ul-matsani dan al-Qur’an yang agung.” (QS Al Hijr [15]:87)

Assab’ul-matsani dan al-Qur’an, dua pegangan yang menyelamatkan kita dari kesesatan, dua perkara yang telah membuat Rasulullah shallallahu alaihi wasallam tenang meninggalkan umat.

Al Qur’an kita telah mengetahuinya lalu apakah yang dimaksud dengan Assab’ul-matsani ?

“Sab’an minal-matsani” terdiri dari tiga kata; Sab’an, Min dan al-Matsani. Sab’an berarti tujuh. Min berarti dari. Sementara al-Matsani adalah bentuk jama’ dari Matsna yang artinya dua-dua. Dengan demikian maka Matsani berarti empat-empat (berkelompok-kelompok, setiap kelompok terdiri dari empat).

Dalam sebuah hadits Rasul menyebutkan bahwa Assab’ul-matsani itu adalah surat Fatihah. Itu benar, namun yang dimaksud oleh hadits tersebut adalah bahwasanya Assab’ul-matsani (tujuh kelompok) itu telah diisyaratkan oleh salah satu ayat dalam surat Fatihah, tepatnya pada firman-Nya yang artinya “Ya Allah, tunjukilah kami jalan yang lurus, yaitu jalan orang-orang yang Engkau karuniai nikmat“. (QS Al Fatihah [1]:6-7)

Mereka itulah Assba’ul-matsani, sebagaimana firman Allah yang artinya, “Orang-orang yang dikaruniai nikmat oleh Allah adalah: Para nabi, para shiddiqin, para syuhada’ dan orang-orang shalih, mereka itulah sebaik-baik teman“. (QS An Nisaa [4]: 69)

Imam Mazhab yang empat termasuk  assab’ul-matsani yakni orang-orang yang telah dikaruniai nikmat oleh Allah ta’ala sehingga berada pada jalan yang lurus dan menjadi seorang penunjuk yang patut untuk diikuti dalam memahami kitab petunjuk (Al Qur’an) sehingga menyelamatkan kita dari kesesatan serta menghantarkan kita mencapai kebahagian dunia dan akhirat.

Tentulah kita mengikuti atau taqlid kepada Imam Mazhab yang empat dengan merujuk kepada Al Qur’an dan As Sunnah. Imam Mazhab yang empat patut untuk diikuti oleh kaum muslim karena jumhur ulama telah sepakat dari dahulu sampai sekarang sebagai para ulama yang berkompetensi sebagai Imam Mujtahid Mutlak, pemimpin atau imam ijtihad dan istinbat kaum muslim.

Kelebihan lainnya, Imam Mazhab yang empat adalah masih bertemu dengan Salafush Sholeh.

Contohnya Imam Syafi”i ~rahimahullah adalah imam mazhab yang cukup luas wawasannya karena bertemu atau bertalaqqi (mengaji) langsung kepada Salafush Sholeh dari berbagai tempat, mulai dari tempat tinggal awalnya di Makkah, kemudian pindah ke Madinah, pindah ke Yaman, pindah ke Iraq, pindah ke Persia, kembali lagi ke Makkah, dari sini pindah lagi ke Madinah dan akhirnya ke Mesir. Perlu dimaklumi bahwa perpindahan beliau itu bukanlah untuk berniaga, bukan untuk turis, tetapi untuk mencari ilmu, mencari hadits-hadits, untuk pengetahuan agama. Jadi tidak heran kalau Imam Syafi’i ~rahimahullah lebih banyak mendapatkan hadits dari lisannya Salafush Sholeh, melebihi dari yang didapat oleh Imam Hanafi ~rahimahullah dan Imam Maliki ~rahimahullah

Imam Mazhab yang empat adalah para ulama yang sholeh dari kalangan “orang-orang yang membawa hadits” yakni membawanya dari Salafush Sholeh yang meriwayatkan dan mengikuti sunnah Rasulullah shallallahu alaihi wasallam

Jadi kalau kita ingin ittiba li Rasulullah (mengikuti Rasulullah) atau mengikuti Salafush Sholeh maka kita menemui dan bertalaqqi (mengaji) dengan para ulama yang sholeh dari kalangan “orang-orang yang membawa hadits”.

Para ulama yang sholeh dari kalangan “orang-orang yang membawa hadits” adalah para ulama yang sholeh yang mengikuti salah satu dari Imam Mazhab yang empat.

Para ulama yang sholeh yang mengikuti dari Imam Mazhab yang empat adalah para ulama yang sholeh yang memiliki ketersambungan sanad ilmu (sanad guru) dengan Imam Mazhab yang empat atau para ulama yang sholeh yang memiliki ilmu riwayah dan dirayah dari Imam Mazhab yang empat.

Jadi bermazhab dengan Imam Mazhab yang empat adalah sebuah kebutuhan bagi kaum muslim yang tidak lagi bertemu dengan Rasulullah maupun Salafush Sholeh.

Memang ada mazhab yang lain selain dari Imam Mazhab yang empat namun pada kenyataannya ulama yang memiliki ilmu riwayah dan dirayah dari Imam Mazhab yang lain sudah sukar ditemukan pada masa kini.

Contohnya Syiah Ziadiyah. Syiah artinya pengikut. Merekai mengikuti ulama yang sholeh dari kalangan ahlul bait keturunan cucu Rasulullah shallallahu alaihi wasallam yakni Imam Zaid bin Ali bin Husein bin Ali bin Abi Thalib.

Namun pada kenyataannya mereka yang mengaku-aku sebagai Syiah Zaidiyah pada masa kini pada hakikatnya tidak lagi murni mengikuti mazhab Zaidiyyah.

Salah satu ulama Zaidiyyah, Imam Ahmad as-Syarafiy (w. 1055 H) menegaskan bahwa: “Syi’ah Zaidiyah terpecah kepada tiga golongan, yaitu: Batriyah, Jaririyah, dan Garudiyah. Dan konon ada yang membagi sekte Zaidiyah kepada: Shalihiyah, Sulaimaniyah dan Jarudiyah. Dan pandangan Shalihiyah pada dasarnya sama dengan pandangan Batriyyah. Dan sekte Sulaymaniyah sebenarnya adalah Jarririyah. Jadi ketiga sekte tersebut merupakan golongan-golongan Syi’ah Zaidiyyah pada era awal. Ketiga sekte inipun tidak berafiliasi kepada keturunan Ahlu Bait sama sekali. Mereka hanyalah sekedar penyokong berat imam Zaid ketika terjadi revolusi melawan Bani Umayah, dan mereka ikut berperang bersama imam Zaid”.

Menurut pendapat Dr. Samira Mukhtar al-Laitsi dalam bukunya (Jihad as-Syi’ah), ketiga sekte tersebut merupakan golongan Syi’ah Zaidiyyah di masa pemerintahan Abbasiah. Dan mayoritas dari mereka ikut serta dalam revolusi imam Zaid. Dan ketiga sekte tersebut dianggap paling progresif dan popular serta berkembang pesat pada masa itu. Dan setelah abad kedua, gerakan Syi’ah Zaidiyah yang nampak di permukaan hanyalah sekte Garudiyah. Hal ini disebabkan karena tidak ditemukannya pandangan-pandangan yang dinisbahkan kepada sekte Syi’ah Zaidiyah lainnya.

Pada hakikatnya mereka tidak lagi mengikuti pendiri mazhab Zaidiyyah, mereka mengikuti hasil ijtihad imam-imam mereka sendiri.

Begitupula mazhab dari keturunan cucu Rasulullah shallallahu alaihi wasallam Imam Ja’far as-Shadiq ra. Ia adalah mujtahid serta diakui ahli sunnah. Dunia Islam bukan tidak mengakui kemampuan dan kehebatan Imam Ja’far as-Shadiq ra sebagai mujtahidin, karena selain sebagai pemikir Islam yang memiliki martabat yang tinggi dalam tingkat keilmuan, beliau tergolong ulama yang saleh. Hanya saja, murid-muridnya mengabaikan usaha gurunya, sehingga tak mampu menjaga hasil karya mereka, sehingga kemutawatiran sanadnya tidak lagi terjaga.

Mereka pada umumnya salah memahami pendapat seperti Imam Syaukani yang berkata: “Seseorang yang hanya mengandalkan taqlid (mengikut pandangan tertentu) seumur hidupnya tidak akan pernah bertanya kepada sumber asli yaitu “Qur’an dan Hadits”, dan ia hanya bertanya kepada pemimpin mazhabnya. Dan orang yang senantiasa bertanya kepada sumber asli Islam tidak dikatagorikan sebagai Muqallid (pengikut)”.

Mereka salah memahami perkataan Imam Syaukani yang terbatas bagi siapa saja yang mampu mencapai tingkatan mujtahid

Penjelasan tentang derajat mujtahid mutlak dan tingkatan mufti dalam madzhab As Syafi’i, silahkan baca tulisan pada http://almanar.wordpress.com/2010/09/21/tingkatan-mufti-madzhab-as-syafi’i/

Salah satu ulama yang memelopori untuk tidak taqlid kepada Imam Mazhab yang empat adalah Ibnu Taimiyyah yang diikuti oleh Muhammad bin Abdul Wahhab.

Ibnu Taimiyyah dalam bukunya berjudul Araddu ‘alã al-Hululiyyah wa al-Ittihadiyyah mengungkapkan keinginannya untuk membasmi pemikiran-pemikiran Islam yang taqlid (mengikuti) kepada Imam Mazhab yang empat dan menyebarluaskan perlunya membuka kembali pintu ijtihad seluas-luasnya.

Sebagaimana tulisan ust Ahmad Zarkasih yang kami arsip pada http://mutiarazuhud.wordpress.com/2013/08/06/matang-sebelum-waktunya/ bahwa orang-orang yang salah memahami Al Qur’an dan As Sunnah dapat menjadi liberal atau bahkan atheis

Berikut kutipannya

***** awal kutipan *****
Memang wajar, bahkan sangat wajar sekali jika ada seseorang mempertanyakan adanya perbedaan pandangan. Tapi tidak wajar kalau mereka membawa-bawa label “Kembali pada Al Qur’an dan As Sunnah” kemudian meyalahkan para Imam Mujtahid, seakan-akan para Imam Mujtahid tidak mengerti isi ayat dan kandungan hadits.

Justru para Imam Mujtahid orang yang paling mengerti madlul ayat dan hadits dibanding kita-kita yang masih berlabel “Muqollid”, bahkan dengan strata taqlid paling rendah.

Mereka bilang “Saya tidak mau terpaku dengan ajaran orang tua dan guru saya. Saya mau mencari ajaran yang benar”. Hal ini yang membuat kita semakin khawatir. Dengan umur yang masih seperti itu, mereka begitu yakin untuk tidak ber-taqlid (ikuti) kepada yang memang seharusnya ia taqlid.

Mereka menolak untuk menerima sepenuhnya apa yang ia dapatkan dari rumah, juga dari gurunya tapi mereka tidak punya pegangan untuk bisa berdiri dan menjadi sandaran sendiri.

Akhirnya, yang dilakukan kembali mencari di jalanan, seperti dengan buka laptop, searching google dan akhirnya bertemu dengan ratusan bahkan ribuan hal yang sejatinya mereka belum siap menerimanya semua. Sampai saat ini kita masih tidak memandang google sebagai sumber pencarian ilmu yang valid dan aman. Mendatangi guru dan bermuwajahah dengan beliau itu yang diajarkan syariah dan jalan yang paling aman.

Hal yang kita khawatirkan, nantinya mereka besar menjadi muslim yang membenci para imam mazhab dengan seluruh ijtihadnya. Dan kelompok pemuda semacam ini sudah kita temui banyak disekitar kita sekarang.

Dengan dalih “Kembali kapada al-quran dan sunnah”, mereka dengan pongah berani mecemooh para imam, padahal apa yang dipermasalahkan itu memang benar-benar masalah yang sama sekali tidak berdampak negatif kalau kita berbeda didalamnya.

Atau lebih parah lagi, ia menjadi orang yang anti dengan syariahnya sendiri. Karena sejak kecil sudah terlalu matang dengan banyak keraguan di sana sini.

Seperti orang yang belum matang dengan agamanya sendiri tapi kemudian sudah belajar perbandingan agama. Ujung-ujungnya mereka jadi atheism, karena banyak kerancuan yang dia temui.

Sama juga orang yang belum matang fiqih satu mazhab, kemudian mereka tiba-tiba belajar perbandingan mazhab. Satu mazhab belum beres, kemudian sudah dibanding-bandingkan. Ujung-ujungnya jadi Liberal, yang menganggap bahwa ijtihad itu terbuka untuk siapa saja dan dimana saja. Jadi sebebas-bebasnya lah mereka menfasirkan ini itu.
***** akhir kutipan *****

Charles Cruzman mengemukakan teori tentang asal muasal kaum liberal dan fundamentalis seperti mereka yang menamakan kaumnya sebagai Salafi yang berakar pada pemikiran yang sama.

Keduanya berangkat dari kegelisahan untuk melakukan perubahan atau pembaharuan dalam rangka membasmi pemikiran-pemikiran yang taqlid (mengikuti) Imam Mazhab yang empat

Bedanya adalah bahwa jika kaum liberal melakukan perubahan dengan menatap ke depan sambil membawa masa lalu yang relevan, sementara kaum fundamentalis sepenuhnya kembali ke masa lalu.

Demikianlah kutipan tesis Charles Cruzman yang termuat dalam tulisan kaum Liberal yang kami arsip pada http://mutiarazuhud.files.wordpress.com/2013/12/jejak-liberal-dalam-pemikiran-ibnu-taimiyyah.pdf

Salah satu cara menarik minat orang banyak, Ibnu Taimiyyah menamakan upaya pemahamannya terhadap Al Qur’an dan As Sunnah maupun perkataan ulama salaf (terdahulu) dengan nama “mazhab salaf” sebagaimana yang dapat kita ketahui contohnya dari situs http://almanhaj.or.id/content/1474/slash/0/antara-ahlus-sunnah-dan-salafiyah/  di mana mereka mengutip perkataan atau fatwa dari ulama panutan mereka yakni Ibnu Taimiyyah, “Barangsiapa mengingkari penisbatan kepada salaf dan mencelanya, maka perkataannya terbantah dan tertolak ‘karena tidak ada aib untuk orang-orang yang menampakkan mazhab salaf dan bernisbat kepadanya bahkan hal itu wajib diterima menurut kesepakatan ulama, karena mazhab salaf itu pasti benar” [Majmu Fatawa 4/149]

Dengan stempel “mazhab salaf” maka orang-orang yang meneladani dan mengikuti pemahaman Ibnu Taimiyyah merasa pasti benar sehingga timbul kesombongan dan meremehkan pendapat muslim yang lain. Al-Hâfizh adz-Dzahabi adalah murid dari Ibn Taimiyah namun beliau menasehatkan gurunya atas kesombongannya dan agar ia berhenti dari menyerukan pemahaman-pemahaman ekstrimnya, serta berhenti dari kebiasaan mencaci-maki para ulama sholeh terdahulu.  Untuk ini kemudian adz-Dzahabi menuliskan beberapa risalah sebagai nasehat kepada Ibn Taimiyah  sekaligus hal ini sebagai “pengakuan” dari seorang murid terhadap kesalahpahaman gurunya sendiri. Risalah pertama berjudul Bayân Zghl al-‘Ilm Wa ath-Thalab, dan risalah kedua berjudul an-Nashîhah adz-Dzhabiyyah Li Ibn Taimiyah. Kutipannya ada dalam tulisan pada http://mutiarazuhud.wordpress.com/2013/08/25/nasehat-seorang-murid/

Dengan stempel “mazhab salaf” maka orang-orang yang meneladani mengikuti pemahaman Ibnu Taimiyyah merasa pasti benar atas pemahaman mereka masing-masing terhadap Al Qur’an dan As Sunnah maupun perkataan para Sahabat sehingga timbullah firqah-firqah yang masing-masing merasa paling benar.

Pada hakikatnya tidak ada mazhab salaf karena nama mazhab tidak dinisbatkan pada generasi melainkan pada nama perorangan yang berkompetensi sebagai Imam Mujtahid Mutlak sehingga patut menjadi pemimpin atau imam ijtihad dan istinbat yang ditaklidi (diikuti) oleh kaum muslim

Oleh karenanya setelah masa kehidupan Imam Madzhab yang empat, para mufti yakni orang yang faqih untuk membuat fatwa selalu merujuk kepada salah satu dari Imam Madzhab yang empat.

Salaf artinya terdahulu sedangkan orang-orang terdahulu ada yang baik dan ada pula yang buruk seperti penduduk Najed dari Bani Tamim yang disebut-sebut dalam beberapa hadits untuk dapat kita ambil hikmah atau pelajaran yakni orang-orang seperti Dzul Khuwaishirah sebagaimana yang telah disampaikan dalam tulisan pada http://mutiarazuhud.wordpress.com/2014/01/08/dari-bani-tamim/

Perlu kita ingat bahwa nama para Sahabat tercantum pada hadits sebagai perawi bukanlah menyampaikan pemahaman atau hasil ijtihad atau istinbat mereka melainkan para Sahabat sekedar mengulangi kembali apa yang diucapkan oleh Rasulullah shallallahu alaihi wasallam

Zaid bin Tsabit RA berkata, “Aku pernah mendengar Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: Semoga Allah mengelokkan rupa orang yang mendengar Hadits dariku, lalu dia menghafalnya-dalam lafadz riwayat lain: lalu dia memahami dan menghafalnya- kemudian dia menyampaikannya kepada orang lain. Terkadang orang yang membawa ilmu agama (hadits) menyampaikannya kepada orang yang lebih paham darinya,dan terkadang orang yang membawa ilmu agama (hadits) tidak memahaminya” (Hadits ShahihRiwayat Abu Dawud, at-Tirmidzi, Ibnu Majah, ad-Darimi, Ahmad, Ibnu Hibban,at-Thabrani dalam al-Mu’jamul Kabir, dan imam-imam lainnya).

Dari hadits tersebut kita paham memang ada perawi (para Sahabat) yang sekedar menghafal dan menyampaikan saja tanpa memahami hadits yang dihafal dan disampaikannya.

Imam Nawawi dalam Majmu’ Syarah al-Muhadzdzab berkata “dan tidak boleh bagi orang awam bermazhab dengan mazhab salah seorang dari pada imam-imam di kalangan para Sahabat radhiallahu ‘anhum dan selain mereka daripada generasi awal,walaupun mereka lebih alim dan lebih tinggi darajatnya dibandingkan dengan (ulama’) selepas mereka; hal ini karena mereka tidak meluangkan waktu sepenuhnya untuk mengarang (menyusun) ilmu dan meletakkan prinsip-prinsip asas/dasar dan furu’/cabangnya. Tidak ada salah seorang daripada mereka (para Sahabat) sebuah mazhab yang dianalisa dan diakui. Sedangkan para ulama yang datang setelah mereka (para Sahabat) merupakan pendukung mazhab para Sahabat dan Tabien dan kemudian melakukan usaha meletakkan hukum-hukum sebelum berlakunya perkara tersebut; dan bangkit menerangkan prinsip-prinsip asas/dasar dan furu’/cabang ilmu seperti (Imam) Malik dan (Imam) Abu Hanifah dan selain dari mereka berdua.”

Jadi pendapat atau pemahaman para Sahabat tidak bisa didapatkan dari membaca hadits. Ketika orang membaca hadits maka itu adalah pemahaman orang itu sendiri bukan pendapat atau permahaman para Sahabat

Mereka berijtihad dengan pendapatnya terhadap hadits tersebut. Apa yang mereka katakan tentang hadits tersebut, pada hakikatnya adalah hasil ijtihad dan ra’yu mereka sendiri. Sumbernya memang hadits tersebut tapi apa yang mereka sampaikan semata lahir dari kepala mereka sendiri. Sayangnya mereka mengatakan kepada orang banyak bahwa apa yang mereka ketahui dan sampaikan adalah pemahaman para Sahabat

Tidak ada yang dapat menjamin hasil upaya ijtihad mereka pasti benar dan terlebih lagi mereka tidak dikenal berkompetensi sebagai Imam Mujtahid Mutlak. Apapun hasil ijtihad mereka, benar atau salah, mereka atas namakan kepada para Sahabat. Jika hasil ijtihad mereka salah, inilah yang namanya fitnah terhadap para Sahabat.

Sedangkan Ibnu Taimiyyah, Ibnu Qoyyim Al Jauziah, Muhammad bin Abdul Wahhab, Muhammad Abduh ataupun Albani maupun Muqbil bin Hadi al-Wadi’i, mereka bukanlah Imam Mujtahid Mutlak sehingga tidak patut untuk ditaklidi (diikuti) oleh kaum muslim

Dalam tulisan pada http://mutiarazuhud.wordpress.com/2013/10/20/tetaplah-sebagai-ormas/ bahwa Prof. Dr Yunahar Ilyas, Lc, MA menyampaikan slogan “Muhammadiyah bukan Dahlaniyah” artinya Muhammadiyah hanyalah sebuah organisasi kemasyarakatan atau jama’ah minal muslimin bukan sebuah sekte atau firqoh yang mengikuti pemahaman KH Ahmad Dahlan karena KH Ahmad Dahlan sebagaimana mayoritas kaum muslim (as-sawadul a’zham ) pada masa sekarang mengikuti Rasulullah shallallahu alaihi wasallam dengan mengikuti Imam Mazhab yang empat.

Jadi ketika sebuah jama’ah minal muslimin atau sebuah kelompok kaum muslim atau sebuah ormas menetapkan untuk mengikuti pemahaman seseorang atau pemahaman sebuah majlis dari kelompok tersebut terhadap Al Qur’an dan As Sunnah dan tidak berkompetensi sebagai Imam Mujtahid Mutlak atau ahli istidlal maka berubahlah menjadi sebuah sekte atau firqah.

Ulama yang sholeh terdahulu kita dari kalangan Sunni Syafei yang ternama sampai Semenanjung Tanah Melayu, Brunei Darussalam, Singapur sampai Pathani, negeri Siam atau Thailand yakni KH. Sirajuddin Abbas (lahir 5 Mei 1905, wafat 23 Ramadhan 1401H atau 5 Agustus 1980) dalam buku berjudul I’tiqad Ahlussunah Wal Jamaah yang diterbitkan oleh Pustaka Tarbiyah Baru, Jl Tebet Barat XA No.28, Jakarta Selatan 12810 dalam cetakan ke 8, 2008 tercantum dua buah sekte atau firqoh dalam Islam yakni firqoh berdasarkan pemahaman Ibnu Taimiyyah dari halaman 296 sampai 351 dan firqoh berdasarkan pemahaman Muhammad bin Abdul Wahhab dari halaman 352 sampai 380.

Ustadz Ahmad Sarwat,Lc,.MA dalam tulisan pada http://www.rumahfiqih.com/x.php?id=1357669611&title=adakah-mazhab-salaf.htm mengatakan

***** awal kutipan ****
Ibnu Taimiyah, Ibnul Qayyim dan Ibnu Hazm, kalau dilihat angka tahun lahirnya, mereka juga bukan orang salaf, karena mereka hidup jauh ratusan tahun setelah Rasulullah shallallahu alaihi wasallam wafat. Apalagi Syeikh Bin Baz, Utsaimin dan Al-Albani, mereka bahkan lebih bukan salaf lagi, tetapi malahan orang-orang khalaf yang hidup sezaman dengan kita.

Sayangnya, Ibnu Taymiyah, Ibnul Qayyim, apalagi Bin Baz, Utsaimin termasuk Al-Albani, tak satu pun dari mereka yang punya manhaj, kalau yang kita maksud dengan manhaj itu adalah arti sistem dan metodologi istimbath hukum yang baku. Bahasa mudahnya, mereka tidak pernah menciptakan ilmu ushul fiqih. Jadi mereka cuma bikin fatwa, tetapi tidak ada kaidah, manhaj atau polanya.

Kalau kita ibaratkan komputer, mereka memang banyak menulis file word, tetapi mereka tidak menciptakan sistem operasi. Mereka punya banyak fatwa, mungkin ribuan, tetapi semua itu levelnya cuma fatwa, bukan manhaj apalagi mazhab.

Bukan Salaf Tetapi Dzahihiri

Sebenarnya kalau kita perhatikan metodologi istimbath mereka yang mengaku-ngaku sebagai salaf, sebenarnya metode mereka itu tidak mengacu kepada masa salaf. Kalau dipikir-pikir, metode istimbah yang mereka pakai itu lebih cenderung kepada mazhab Dzhahiriyah. Karena kebanyakan mereka berfatwa hanya dengan menggunakan nash secara Dzhahirnya saja.

Mereka tidak menggunakan metode istimbath hukum yang justru sudah baku, seperti qiyas, mashlahah mursalah, istihsan, istishhab, mafhum dan manthuq. Bahkan dalam banyak kasus, mereka tidak pandai tidak mengerti adanya nash yang sudah dinasakh atau sudah dihapus dengan adanya nash yang lebih baru turunnya.

Mereka juga kurang pandai dalam mengambil metode penggabungan dua dalil atau lebih (thariqatul-jam’i) bila ada dalil-dalil yang sama shahihnya, tetapi secara dzhahir nampak agak bertentangan. Lalu mereka semata-mata cuma pakai pertimbangan mana yang derajat keshahihannya menurut mereka lebih tinggi. Kemudian nash yang sebenarnya shahih, tapi menurut mereka kalah shahih pun dibuang.

Padahal setelah dipelajari lebih dalam, klaim atas keshahihan hadits itu keliru dan kesalahannya sangat fatal. Cuma apa boleh buat, karena fatwanya sudah terlanjur keluar, ngotot bahwa hadits itu tidak shahih. Maka digunakanlah metode menshahihan hadits yang aneh bin ajaib alias keluar dari pakem para ahli hadits sendiri.

Dari metode kritik haditsnya saja sudah bermasalah, apalagi dalam mengistimbath hukumnya. Semua terjadi karena belum apa-apa sudah keluar dari pakem yang sudah ada. Seharusnya, yang namanya ulama itu, belajar dulu yang banyak tentang metode kritik hadits, setelah itu belajar ilmu ushul agar mengeti dan tahu bagaimana cara melakukan istimbath hukum. Lah ini belum punya ilmu yang mumpuni, lalu kok tiba-tiba bilang semua orang salah, yang benar cuma saya seorang.
***** akhir kutipan *****

Ketaatan umat Islam kepada ulil amri setempat yakni para fuqaha (mufti) yang dipimpin oleh mufti agung lebih didahulukan dari pada ketaatan kepada pemimpin ormas maupun penguasa negeri dalam rangka menyunjung persatuan dan kesatuan kaum muslim sesuai semangat piagam Madinah yang memuat keharusan mentaati Nabi Muhammad Shallallahu alaihi wasallam yang ketika itu sebagai ulil amri dalam jama’atul muslimin

***** awal kutipan *****
Pasal 1

Sesungguhnya mereka satu bangsa negara (ummat), bebas dari (pengaruh dan kekuasaan) manusia.

Pasal 17

Perdamaian dari orang-orang beriman adalah satu

Tidak diperkenankan segolongan orang-orang yang beriman membuat perjanjian tanpa ikut sertanya segolongan lainnya di dalam suatu peperangan di jalan Tuhan, kecuali atas dasar persamaan dan adil di antara mereka

Pasal 36 ayat 1

Tidak seorang pun diperbolehkan bertindak keluar, tanpa ijinnya Muhammad Shallallahu alaihi wasallam
***** akhir kutipan *****

Kita dapat memetik pelajaran dari provinsi Hadramaut dalam menghadapi krisis di Yaman. Provinsi Hadramaut merupakan provinsi terbesar di Yaman yang menjadi penentu bagi stabilitas ekonomi di mana tujuh puluh persen devisa negara dihasilkan dari sumber daya alam Hadhramaut yang kaya minyak dan laut yang luas.  Salah satu solusinya adalah membentuk  Dewan Nasional di bawah pimpinan Profesor al-Habib Abdullah Baharun, Rektor universitas al-Ahgaff dan mengeluarkan Deklarasi Hadhramaut dan salah satu hal yang utama adalah menyunjung persatuan dan kesatuan.

Begitupula kita dapat mengambil pelajaran dari kerajaan Islam Brunei Darussalam berideologi Melayu Islam Beraja (MIB) dengan penerapan nilai-nilai ajaran Agama Islam dirujuk kepada golongan Ahlus Sunnah wal Jamaah yang dipelopori oleh Imam Al Asyari dan mengikut Mazhab Imam Syafei. Sultan Brunei disamping sebagai kepala negara dan kepala pemerintahan merangkap sebagai perdana menteri dan menteri pertahanan dengan dibantu oleh dewan penasihat kesultanan dan beberapa menteri, juga bertindak sebagai pemimpin tertinggi Agama Islam dimana dalam menentukan keputusan atas sesuatu masalah dibantu oleh Mufti Kerajaan.

Negara kitapun ketika awal berdirinya memiliki lembaga tinggi negara yang bernama “Dewan Pertimbangan Agung” yang berunsurkan ulama yang sholeh yang dapat memberikan pertimbangan dan usulan kepada pemerintah dalam menyelenggarakan pemerintahan agar tidak bertentangan dengan Al Qur’an dan As Sunnah.

Lembaga negara yang berunsurkan kata “agung” seperti Mahkamah Agung , Jaksa Agung pada hakikatnya adalah wakil-wakil Tuhan dalam menegakkan keadilan di muka bumi agar sesuai dengan Al Qur’an dan As Sunnah.

Salah satu contoh ulama yang menjadi anggota “Dewan Pertimbangan Agung” adalah Syaikh Muhammad Jamil Jambek ulama pelopor pembaruan Islam dari Sumatera Barat awal abad ke-20 yang pernah berguru dengan Syeikh Ahmad Khatib Al-Minangkabawi yang merupakan ulama besar Indonesia yang pernah menjadi imam, khatib dan guru besar di Masjidil Haram, sekaligus Mufti Mazhab Syafi’i pada akhir abad ke-19 dan awal abad ke-20.

Namun dalam perjalanannya Dewan Pertimbangan Agung perannya dalam roda pemerintahan di negara kita “dikecilkan”. Bahkan pada zaman era Surharto, singkatan DPA mempunyai arti sebagai “Dewan Pensiun Agung” karena keanggotaanya terdiri dari pensiunan-pensiunan pejabat. Sehingga pada era Reformasi , Dewan Pertimbangan Agung dibubarkan dengan alasan sebagai lembaga yang tidak effisien.

Jadi cara mengawal syariat Islam dalam sistem pemerintahan di negara kita dengan cara mengembalikan wewenang para ahli fiqih untuk menasehati dan membimbing penguasa negeri sehingga dalam menjalankan roda pemerintahan tidak bertentangan dengan Al Qur’an dan As Sunnah sehingga tidak ada keraguan lagi bagi kaum muslim untuk mentaati penguasa negeri

Wassalam

Zon di Jonggol, Kabupaten Bogor 16830

Read Full Post »

Presiden yang layak

Kriteria presiden yang layak untuk dipilih 

Sebagaimana yang telah disampaikan dalam tulisan pada http://mutiarazuhud.wordpress.com/2014/01/05/siapa-presiden-sebenarnya/  bahwa seorang Presiden adalah seorang manajer yang mengelola seluruh sumber daya yang meliputi sumber daya fisik dan konseptual untuk kepentingan rakyatnya  bukan untuk kepentingan pencitraan (penampilan), self esteem (penghargaan diri), self-actualization (aktualisasi diri) atau bahkan kepentingan partai atau golongan.

Untuk gas dan minyak bumi yang merupakan karunia dan amanah dari Allah Azza wa Jalla yang dianugerahkan kepada rakyat Indonesia,  sebaiknya rakyat Indonesia dibebani harga jual berdasarkan biaya penambangan, pengolahan  dan pendistribusian tanpa memasukkan cost opportunity (biaya peluang) jika gas atau minyak bumi di ekspor sehingga negara kita memiliki keunggulan komparatif (comparative advantage) dibandingkan negara lainnya dan memicu aspek produksi lainnya.

Kalau dikatakan bahwa gas elpiji yang dikonsumsi pada saat sekarang ini 50% adalah impor karena kapasitas kilang Pertamina tidak mencukupi sebagaimana informasi dari http://finance.detik.com/read/2013/02/21/152756/2176192/1034/ maka seharusnya kebijakan yang didahulukan adalah penambahan kapasitas kilang.

Kebijakan ini perlu disegerakan karena harga impor termasuk cost  opportunity (biaya peluang) dan sekaligus kebijakan ini untuk menghilangkan gosip bahwa pemerintah gemar menangguk komisi impor.

Jadi kesimpulannya cara mengatasi kerugian Pertamina yang diakibatkan harga jual gas elpiji sebelumnya di bawah harga pokok produksi adalah dengan meningkatkan kapasitas kilang bukannya menaikkan harga jual kepada rakyat Indonesia.

Kegagalan atau kekurangan kemampuan Pertamina dalam memproduksi gas elpiji janganlah dibebankan kepada rakyat Indonesia.

Kegagalan atau kekurangan kemampuan Pertamina dalam memproduksi gas elpiji adalah kegagalan SBY sebagai presiden dalam mengelola sumber daya yang ada untuk kepentingan rakyat Indonesia.

Lalu bagaimana kriteria presiden yang layak untuk dipilih ?

Presiden yang layak dipilih adalah presiden yang tidak mengemis kepada Zionis Yahudi Amerika

Presiden yang mampu melepaskan ketergantungan kepada negara-negara maju dengan mengupayakan kemandirian rakyatnya menjemput rezeki dengan cara sebagai produsen, seperti petani, nelayan, peternak, pedagang dari hasil produksi bangsa sendiri, pabrikan yang memberikan nilai tambah produk bangsa sendiri, sesuai dengan firman Allah Ta’ala yang artinya,

“Allah-lah yang telah menciptakan langit dan bumi dan menurunkan air hujan dari langit, kemudian Dia mengeluarkan dengan air hujan itu berbagai buah-buahan menjadi rezki untukmu; dan Dia telah menundukkan bahtera bagimu supaya bahtera itu, berlayar di lautan dengan kehendak-Nya, dan Dia telah menundukkan (pula) bagimu sungai-sungai.”. (QS Ibrahim  [14]:32).

Sesungguhnya Kami telah menempatkan kamu sekalian di muka bumi dan Kami adakan bagimu di muka bumi (sumber) penghidupan. Amat sedikitlah kamu bersyukur. (QS Al A’raf [7:10)

Selama pemerintah masih menjadikan Zionis Yahudi Amerika sebagai "teman kepercayaan" atau penasehat atau bahkan pemimpin maka akan terus mendatangkan kemudharatan bagi rakyat Indonesia yang mayoritas muslim

Firman Allah ta’ala yang artinya

“Tidakkah kamu perhatikan orang-orang yang menjadikan suatu kaum yang dimurkai Allah sebagai teman? Orang-orang itu bukan dari golongan kamu dan bukan (pula) dari golongan mereka. Dan mereka bersumpah untuk menguatkan kebohongan, sedang mereka mengetahui“. (QS Al Mujaadilah [58]:14 )

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu ambil menjadi teman kepercayaanmu orang-orang yang, di luar kalanganmu (karena) mereka tidak henti-hentinya (menimbulkan) kemudharatan bagimu. Mereka menyukai apa yang menyusahkan kamu. Telah nyata kebencian dari mulut mereka, dan apa yang disembunyikan oleh hati mereka adalah lebih besar lagi. Sungguh telah Kami terangkan kepadamu ayat-ayat (Kami), jika kamu memahaminya” , (QS Ali Imran, 118)

“Beginilah kamu, kamu menyukai mereka, padahal mereka tidak menyukai kamu, dan kamu beriman kepada kitab-kitab semuanya. Apabila mereka menjumpai kamu, mereka berkata “Kami beriman”, dan apabila mereka menyendiri, mereka menggigit ujung jari antaran marah bercampur benci terhadap kamu. Katakanlah (kepada mereka): “Matilah kamu karena kemarahanmu itu”. Sesungguhnya Allah mengetahui segala isi hati“. (QS Ali Imran, 119)

Contohnya Negeri Palestina belum dapat merdeka sepenuhnya karena Presiden Palestina, Mahmoud Abbas belum dapat sepenuhnya mengupayakan kemandirian rakyat Palestina dan melepaskan ketergantungannya kepada Zionis Yahudi Israel

Para pemimpin negeri kaum muslim berada,  pada kenyataannya belum dapat melepaskan sepenuhnya ketergantungannya kepada Zionis Yahudi Amerika dan sekutunya.

Para pemimpin negeri memang harus memperisapkan diri terhadap akibat dari upaya melepaskan ketergantungan atau keterkaitan dengan Zionis Yahudi Amerika dan sekutunya.

Contohnya keruntuhan Iraq, salah satunya adalah dikarenakan beliau mempelopori penggantian mata uang dolar sebagai alat tukarnya, termasuk dalam komoditi minyak.

Seperti apa yg dirumuskan oleh Nowmky, bahwa globalisasi merupakan konspirasi negara-negara barat, maka Globalisasi tersebut dijadikan negara-negara barat untuk menguasai bidang-bidang tertentu sehingga mereka bisa mengontrol apapun yang dikehendakinya. Globalisasi itu sangat berpengaruh pada aspek ekonomi maupun perdagangan. Sumber-sumber ekonomi negara-negara berkembang maupun sedang berkembang dikuasai oleh barat. Dimana di dalamnya ada konspirasi untuk menguasai dunia lewat hegemoninya. Dan di dunia perdagangan, dolar merupakan salah satu jalan untuk memudahkan konspirasi itu.

Perdagangan dunia sekarang ini, tak lebih dari sekedar permainan, dimana AS menyediakan dolar dan negara lainnya menyediakan komoditas yang bisa dibeli dengan dolar. Dunia yang begitu terbelit ekonominya satu sama lainnya, berupaya keras untuk melakukan hubungan dagang dengan harapan memperoleh keuntungan komparatif. Mereka bersaing dengan memaksimalkan ekspor yang sebesar-besarnya untuk mendapatkan dolar, yang pada akhirnya bisa dipakai untuk membayar utang negara dalam bentuk Dolar, dan untuk mempertebal cadangan devisa agar nilai tukar Mata Uang Domestiknya terpelihara…”(Asia Times, 11 April 2002).

Penggunaan dolar sebagai alat tukar (uang kartal) dalam transaksi-transaksi dimulai ketika negara-negara OPEC pada tahun 1971 menerima dengan “ikhlas dan sukarela” dolar sebagai satu-satunya alat tukar dalam transaksi jual beli minyaknya. Dan mulai saat itu pula hegemoni AS berjalan lancar untuk menguasai dunia. Selanjutnya bidang-bidang lainnya kemudian menjadi latah dan ikut-ikutan menggunakan dolar sebagai alat tukar. Akibatnya negara-negara lain harus mengikuti perkembangan nilai dolar yang semakin menurun ketimbang dengan menggunakan uang dengan back up emas yang justru nilainya semakin meningkat.  Bahkan nilai Euro lebih besar dari dolar. Hal tersebut dapat dilihat dari penggunaan holey dolar di Australia dimana dolar tersebut di beking oleh emas sehingga bisa meningkatkan nilai totalnya sebesar 25 % dan mencegah keluarnya logam dari koloni.

Padahal jika mereka mengetahui sejarah dolar yang dikeluarkan oleh federal reserve yang merupakan bank buatan yahudi, maka tidak akan ada negara yang menggunakan dolar. Awal terbentuknya dolar itu sendiri sarat dengan tujuan menguasai negara lain.  Sebagaimana yang dikatakan oleh  seorang milyuner Yahudi  kelahiran Jerman yang memegang kerajaan dunia perbankan di Eropa, Meyer Amshel Rothchild (1743-1812),  give me control over a nations economic and I don’t care who writes its laws. Sedangkan James Abram Garfiled menyatakan  bahwa Whom ever that control the money or economic of nation , they would control the nation too.

Dari apa yang dikatakan Rotchild dan Garfield penguasaan atas suatu negara tidak harus dengan mengepur dengan persenjataan tetapi cukup dengan menguasai ekonominya melalui menguasaan mata uangnya. Inilah kunci dari permainan ekonomi AS dalam  menguasai dunia. Ini hanya salah satu aspek saja hegemoni dari AS (barat) saja dan masih banyak aspek lain.

Seperti yang dikatakan oleh Henry Ford, presiden AS, “Barangkali ada bagusnya rakyat Amerika pada umumnya tidak mengetahui asal-usul uang kartal dolar, karena jika mereka mengetahuinya, saya yakin esok pagi akan timbul revolusi“. Selain itu pada dasarnya siapa pun yang menggunakan dolar, maka mereka mempunyai utang atau bunga di federal reserve, secara rasional semakin banyak uang dengan dolar maka semakin banyak pula bunga (utang) yang diperoleh.

Di era globalisasi ini, penggunaan dolar sebagai alat tukar internasional di segala bidang masih dilakukan akan tetapi dengan adanya inflasi dolar di AS pada tahun 2008 yang mempengaruhi seluruh negara dibelahan dunia itu membuat banyak negara ingin berpaling dari dolar. Pada tahun 1995 saja, menurut data UNCTAD-WB-WTO, mata uang ekspor dunia dalam dolar sebesar 47,6 %. Sedangkan koleksi Dolar di negara-negara berkembang dalam cadangan devisanya sebanyak 63,5 % dan jumlah utang Jeratan utang dalam bentuk dolar di negara-negara berkembang sebesar 50 %.

Kekhawatiran AS meningkat ketika Presiden Republik Islam Iran Mahmoud Ahmadinejad mengusulkan agar negara-negara OPEC mengganti mata uang transaksi minyak dari dolar ke euro pada pertemuan KTT OPEC bulan Nobember 2007.  Tuntutan menggusur dolar AS diperjuangkan kelompok negara anti-AS yang dipelopori Iran dan Venezuela.  Namun, sampai KTT berakhir, sama sekali tidak disebut-sebut soal usul pengubahan patokan mata uang ini. Diduga, kubu pro-AS yang dimotori Arab Saudi mengeblok usul radikal tersebut.

Menurut analisa William Engdahl dari Global Research,  “memiliterisasi” selat Mandab dan perompak Somalia adalah merupakan upaya AS untuk menekan negara-negara OPEC agar tetap melakukan transaksi dalam dollar Amerika.  Semua negara  Arab Saudi, Mesir, Somalia, Jibouti, Eritrea, Sudan, dan Yaman saling berhadapan dengan Selat Mandab (Bab el Mandab) yang super-strategis, tanker-tanker minyak dari Teluk Persia harus lewat ke Selat Mandab, baru kemudian melewati Kanal Suez, dan menuju Mediterania.

Engdahl kemudian menyoroti kasus bajak laut Somalia yang membuat kacau di Selat Mandab selama dua tahun terakhir. Pertanyaannya: bagaimana mungkin bajak laut dari Somalia, sebuah negara yang berada di nomor teratas dalam list ‘negara gagal’ (failed state) sampai punya senjata dan logistik yang canggih, sampai-sampai dalam dua tahun terakhir mampu membajak 80 kapal dari berbagai negara? Bahkan pembajak Somalia itu memakai gaya-gaya penjahat di negara maju: menelpon langsung kantor koran Times di Inggris, memberitahukan bahwa mereka sudah membajak.

Merajalelanya perompak Somalia di Selat Mandab memberi alasan kepada AS untuk menaruh kapal perangnya di sana. Pemerintah Mesir, Sudan, Jibouti, Eritrea, Somalia, Arab Saudi, sudah terkooptasi oleh AS sehingga diperkirakan tidak akan memberikan reaksi negatif bagi militerisasi AS di Selat Mandab. Kini, masih ada satu negara di sekeliling Selat Mandab yang masih perlu ditaklukkan: Yaman.

Pemerintah Yaman memang pro-AS, tapi masalahnya, Presiden Ali Abdullah Saleh tidak cukup kuat untuk mengontrol negaranya, karena itulah dia harus ‘digulingkan’. Aksi-aksi protes di Yaman saat ini, karenanya, sangat bersesuaian dengan keinginan AS.

Begitupula apa yang terjadi di negara Somalia setelah sejak jatuhnya pemerintahan militer di bawah diktator Mohammed Siad Barre, negara Somalia menjadi negara yang tidak aman. Berbagai konflik terus mendera negara ini. Mulai dari kelaparan hingga perang saudara. Sejak tahun 1991, Somalia merupakan negara yang sering sekali terjadi perang saudara. Perang yang bermula dari meluapnya kemarahan rakyat kepada pemerintahan Mohammed Siad Barre kala itu, ternyata terus berlanjut hingga 15 tahun lamanya. Perang saudara tersebut mengakibatkan terpecahnya beberapa wilayah Somalia, dan berdirinya dua blok politik yang berseberangan antara satu dengan lainnya. Yang pertama bernama Somaliland dan yang kedua bernama Puntland. Keduanya saling mengklaim sebagai negara yang sah dan berdaulat. Tidak hanya itu, sebagian wilayah Somalia lainnya pun terpecah menjadi beberapa bagian dalam klan-klan Somalia.

Pemerintahan Somalia yang diakui dunia internasional adalah “Pemerintahan Transisi Nasional”, dikepalai oleh Abdul Kassim Salat Hassan yang kemudian, diganti dengan Abdullah Yusuf pada parlemen transisional Somalia ditahun 2004.  Kendati legalitas pemerintahan Abdullah Yusuf diakui oleh masyarakat internasional, akan tetapi ia tidak mengantongi otoritas aktual dalam pemerintahannya. Artinya banyak kebijakan dan keputusan strategis negara yang didikte dan dipengaruhi oleh pihak-pihak tertentu.

Kondisi yang serbakacau, akhirnya mendorong para ulama dan tokoh agama membentuk Uni Pengadilan Islam atau Union of Islamic Court (UIC) tahun 2003. Mereka pun menjadi tandingan Pemerintah Federal Sementara (PSF) pimpinan Presiden Abdullahi Yusuf Ahmad yang kurang disukai rakyat.

UIC pimpinan Sharif Syekh Ahmed berusaha menghentikan krisis berkepanjangan di negeri berpenduduk mayoritas Muslim itu dengan menerapkan syariat Islam. Bagi UIC, hanya Islam yang bisa menyatukan Somalia. UIC, berbasis di utara ibukota Mogadishu, berusaha mengembalikan ketertiban dan syariah Islam di kota yang marak dengan tindakan anarki.

UIC terdiri dari berbagai kelompok Islam di Somalia. Rakyat Somalia menyambut baik kehadiran UIC.   ”Akhirnya kami melihat berakhirnya pembunuhan warga sipil dan perampokan terhadap rumah-rumah mereka,” kata Amina, aktivis kemanusiaan di selatan Mogadishu.  Ia menambahkan,”Toko-toko yang menjual narkotika juga sudah ditutup”.

Warga di kota-kota besar seperti Mogadishu, Jowhar, dan Balad mengatakan, transportasi kini lebih lancar, binis mulai menggeliat, dan senjata-senjata sudah tidak terlihat lagi di jalan-jalan. “Kami akhirnya menikmati situasi yang aman dan stabil” kata Ali Mayo, seorang warga Mogadishu pada situs Islamonline.

Dalam waktu singkat, UIC mampu menarik simpati warga.  . UIC menguasai seluruh bagian ibukota pada Juni 2006 dengan mengusir para kepala suku berhaluan sekuler pro-Amerika.  Sebagian besar wilayah, seperti Jowhar, Kismayo, Beledweyne, dikuasai, dengan basis di Mogadishu.

Ketika itulah, syariat Islam diterapkan di wilayah-wilayah ini. UIC juga memberikan bantuan sosial, kesehatan, dan pendidikan kepada warga.Hanya saja, tampilnya UIC dengan syariat Islam cukup mengkhawatirkan negara-negara tetangga yang non-Muslim, juga pihak Barat. Mereka tidak ingin pengaruh Islam makin meluas di benua Afrika, yang dipandang bisa menumbuhkan kelompok-kelompok garis keras.

Maka, pada Desember 2006, pasukan PSF dengan didukung tentara Ethiopia dan negara Barat, menyerang basis-basis UIC. Serangan ini membuat UIC terdesak dari Mogadishu sebelum kehilangan seluruh wilayah. Mereka selanjutnya bergerilya. Pertikaian panjang tak terhindarkan. PBB mengirimkan pasukan perdamaian untuk meredam konflik. Meski begitu, para pejuang Islam berikrar untuk terus melawan pemerintah dukungan Barat, mengusir tentara asing, sekaligus mengembalikan penerapan syariat Islam di seluruh wilayah Somalia.

Dari pengamatan koresponden BBC, Mohammad Olad Hassan, meski telah tersingkir, syariat Islam yang diusung UIC sudah kadung dicintai oleh warga Somalia. Parameternya bisa terlihat ketika UIC berkuasa. Masyarakat menilai, saat hukum Islam dijalankan, tercipta kondisi aman. “Stabilitas terwujud, juga tidak muncul kekhawatiran terhadap tindak kejahatan dan peredaran narkoba,” kata dia.

Oleh karena itulah, sebenarnya pengaruh Islam pada aspek kemasyarakatan dan kekuatan politik tidak lenyap begitu saja. Warga, sambung Olad Hassan, tetap menghormati hukum Islam, kendati pemerintah lebih condong pada pengaruh Barat.

Sementara itu, Haroun Hassan, jurnalis Somalia yang bertugas di London, mengonfirmasi bahwa masyarakat Somalia cenderung memilih syariat Islam karena merasa kecewa dengan sistem demokrasi ala Barat. “Dalam pandangan warga, sistem politik modern yang diadopsi pemerintah justru melanggengkan praktik korupsi, nepotisme, dan tata kelola yang buruk,” katanya.

Mohammad Olad Hassan lantas menegaskan, rakyat Somalia menginginkan elemen-elemen Islam kembali terlibat pada pemerintahan baru yang akan dibentuk kemudian. Mereka berdoa agar syariat Islam hadir sebagai unsur utama lagi. Doa itu dikabulkan Allah Subhanahu wa ta’ala. Setelah melalui perundingan panjang, tercapai kesepakatan antara pemerintah dengan pejuang Islam. Ada dua butir penting, yakni penarikan mundur pasukan Ethiopia dan berlanjut pada penerapan syariat Islam di seluruh negeri.

Kalangan dunia Islam menyambut gembira keputusan parlemen Somalia yang menyepakati secara aklamasi pemberlakuan syariat Islam. Situs eramuslim melaporkan, keputusan ini merupakan cerminan keinginan rakyat yang menginginkan hidup di bawah hukum Islam.

Presiden Somalia terpilih Syaikh Syarif Syekh Ahmad menyetujui gencatan senjata dan penerapan syariat Islam guna mengakhiri konflik panjang yang melanda negara itu.

Ketua Himpunan Ulama Muslim Internasional, Dr Yusuf Al Qaradhawi, melalui utusannya menyampaikan seruan terhadap semua faksi perjuangan di Somalia melakukan pembicaraan damai.

Seruan ini rupanya disambut positif Syeikh Syarif. ”Kami tegaskan respon kami atas seruan anda ”tanpa syarat”, dan kami telah siap melakukan kerja sama dengan Anda dan berusaha agar apa yang Anda, yang kami amat mengharapkan keberhasilannya”, ungkap Syarif.

Syarif juga menegaskan bahwa pihaknya juga siap menerima faksi-faksi lain yang berbeda pendapat dengannya untuk melakukan pembicaraan damai untuk mewujudkan Somalia yang terbabas dari cengkraman penjajah dan menerpakan syari’at Islam di semua lini kehidupan.

Sebagaimana diketahui, setelah Syarif diangkat menjadi pemimpin Somalia pada Januari  2009 lalu, faksi pejuang Somalia terbagi menjadi dua, antara pendukung dan penentang.

Sebagian kelompok Mahakim Al Islami, yang dipimpin oleh Syeikh Abdul Qadir Ali Umar, Harakah Al Ishlah (Ikhwan Al Muslimun), Harakah Tajammu’ Al Islami dan Jama’ah Ahlu Sunnah wa al Jama’ah adalah 4 faksi menyatakan dukungan kepada Syarif.

Sedangkan Harakah As Syabab Al Mujahidin serta Al Mahakim Al Islami wilayah Asmarah, Al Jabhah Al Islamiyah serta Mu’askar Anuli, yang bergabung dalam Hizb Al Islami.

Syeikh Syarif sebagai kepala pemerintahan transisi menegaskan, “Islam adalah dasar dalam setiap gerak pemerintah Somalia.”  Akan tetapi Syeikh Syarif menolak pemikiran Syabab Mujahidin yang menurutnya masih jauh dari konsep Islam ideal.

Tampaknya permasalahan di Somalia selain menghadapi campur tangan pihak asing juga permasalah internal dalam Somalia yakni perbedaan pemahaman terhadap syariat Islam.

Perbedaan pemahaman yang berakibat penderitaan bagi rakyat Somalia. Banyak mereka terbunuh adalah manusia-manusia yang telah bersyahadat hanya diakibatkan ego dari masing pihak.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bertanya lagi: ‘Apakah kamu yang telah membunuhnya? ‘ Dia menjawabnya, ‘Ya.’ Beliau bertanya lagi: ‘Lalu apa yang hendak kamu perbuat dengan kalimat, ‘Tidak ada tuhan (yang berhak disembah) kecuali Allah’, jika di hari kiamat kelak ia datang (untuk minta pertanggung jawaban) pada hari kiamat nanti? ‘ (HR Muslim 142)

Jika dua orang muslim saling bertemu (untuk berkelahi) dengan menghunus pedang masing-masing, maka yang terbunuh dan membunuh masuk neraka. aku pun bertanya: Wahai Rasulullah, ini bagi yang membunuh, tapi bagaimana dengan yang terbunuh? Maka Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam menjawab: Dia juga sebelumnya sangat ingin untuk membunuh temannya.(HR Bukhari 30)

Pepatah orang tua kita dahulu menyatakan: “Menang jadi arang, kalah jadi abu”. artinya mereka sama-sama dalam kerugian.

Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda “Aku mendahului kalian ke telaga. Lebar telaga itu sejauh antara Ailah ke Juhfah. Aku tidak khawatir bahwa kalian akan kembali musyrik sepeninggalku. Tetapi yang aku takutkan ialah kamu terpengaruh oleh dunia. Kalian berlomba-lomba untuk mendapatkannya kemudian berbunuh-bunuhan, dan akhirnya kalian musnah seperti kemusnahan umat sebelum kalian”. (HR Muslim 4249)

Diriwayatkan hadits dari Abu Hurairah, Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Demi Allah, kalian tidak akan masuk surga hingga kalian beriman. Belum sempurna keimanan kalian hingga kalian saling mencintai.” (HR Muslim)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Kamu akan melihat orang-orang mukmin dalam hal saling mengasihi, mencintai, dan menyayangi bagaikan satu tubuh. Apabila ada salah satu anggota tubuh yang sakit, maka seluruh tubuhnya akan ikut terjaga dan panas (turut merasakan sakitnya).” (HR Bukhari 5552) (HR Muslim 4685)

Begitupula walaupun Raja Faisal Al Saud bin Abdul Aziz menyatakan pada Washington Post pada 17 September 1969 dengan pernyataan seperti

“We, the Saudi Familiy, are cousins of the Jews: we entirely disagree with any Arab or Muslem Authority which shows any antagonism to the Jews; but we must live together with them in peace. Our country (Arabia) is the fountain head from where the first Jew sprang, and his descendants spread out all over the world.”.

Terjemahan:

“Kami, Keluarga Saudi, adalah saudara sepupu dari orang-orang Yahudi: kita sama sekali tidak setuju dengan penguasa Arab atau Muslim yang menunjukkan sikap permusuhan kepada orang Yahudi, tetapi kita harus hidup bersama dengan mereka dalam damai. Negara kami (arabia) adalah sumber awal Yahudi dan nenek moyangnya, lalu menyebar keseluruh dunia“

Hubungan kekeluargaan mereka  kita dapati juga keterangannya dari video pada http://www.youtube.com/watch?v=7tVQ5NNBFhc

Namun sepanjang riwayat Penguasa dinasti Saudi, Raja Faisal bin Abdul Azis sajalah yang sesuai dengan apa yang kaum muslimin inginkan, namun atas kehendak Allah, beliau terbunuh.

Kenapa Raja Faisal bin Abdul Azis terbunuh ?

Hampir seluruh informasi yang kita dapat menceritakan bahwa beliau terbunuh karena kepemimpinan beliau tidak sesuai dengan keinginan orang-orang yang paling keras permusuhannya terhadap orang beriman.

Firman Allah ta’ala yang artinya,

“orang-orang yang paling keras permusuhannya terhadap orang beriman adalah orang-orang Yahudi dan orang-orang musyrik” (QS Al Maaidah [5]: 82)

Setelah resolusi PBB mengenai pemecahan Palestina dan pendirian Israel, Pangeran Faisal (masih belum menjadi raja) mendesak ayahandanya supaya memutuskan hubungan dengan Amerika Serikat, tetapi desakannya itu ditolak.

Selepas skandal keuangan Raja Saud, Pangeran Faisal dilantik menjadi pemerintah sementara. Pada tanggal 2 November 1964, ia dilantik menjadi raja setelah Raja Saud di usir keluar dari Arab Saudi ke Yunani.

Raja Faisal melakukan banyak reformasi sewaktu menjadi raja, diantaranya adalah memperbolehkan anak-anak perempuan bersekolah, televisi, dan sebagainya. Usahanya ini mendapat tentangan dari berbagai pihak karena perkara-perkara ini dianggap bertentangan dengan Islam. Ia berasa amat kecewa saat Israel memenangkan Perang Enam Hari pada tahun 1967.

Pada tahun 1973, Raja Faisal memulai suatu program yang bertujuan untuk memajukan kekuatan tentara Arab Saudi. Pada tanggal 17 Oktober 1973, ia menghentikan ekspor minyak Arab Saudi ke Amerika Serikat yang menyebabkan harga minyak di Amerika Serikat melambung tinggi. Hal ini dilakukan untuk mendesak Amerika Serikat agar menekan Israel keluar dari wilayah Palestina.

Kebijakan Raja Faisal untuk menghentikan ekspor minyak sudah sesuai dengan sunnah Rasulullah

Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda yang artinya “Barang siapa menahan (menutup) anggur pada hari-hari pemetikan, hingga ia menjualnya kepada orang Yahudi, Nasrani, atau orang yang akan membuatnya menjadi khamr, maka sungguh ia akan masuk neraka” (At Thabraniy dalam Al Ausath dan dishahihkan oleh Al Hafidz Ibnu Hajar Al Asqolaniy).

Sedangkan dalam hadits yang diriwayatkan oleh Al Baihaqiy ada tambahan “orang yang diketahui akan membuatnya menjadi khamr”

Berdasarkan hadits ini, As Syaukani menyatakan haramnya menjual perasan anggur kepada orang yang akan membuatnya menjadi khamr ( Nailul Authar V hal 234). Kesimpulan tersebut dapat diterima, karena memang dalam hadits tersebut terdapat ancaman neraka sebagai sanksi bagi orang yang mengerjakan. As Syaukani tidak hanya membatasi jual beli anggur yang akan dijadikan sebagai khamr, tetapi juga mengharamkan setiap jual-beli yang membantu terjadinya kemaksiatan yang dikiaskan pada hadits tersebut

Telah jelas keharaman jual-beli yang membantu terjadinya kemaksiatan.

Firman Allah ta’ala yang artinya “….dan tolong menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebaikan dan takwa, dan jangan tolong menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran/permusuhan. Bertakwalah kepada Allah, sungguh, Allah sangat berat siksa-Nya.” (QS Al Ma’idah [5]:2)

Raja Faisal telah meneladani untuk tidak menyerahkan hasil tambang atau hasil kekayaan alam yang dikaruniakan Allah Azza wa Jalla kepada kaum muslim kepada orang-orang jahat yang dapat memberikan kekuatan finansial bagi mereka untuk dipergunakan membeli peluru guna membunuh kaum muslim diberbagai belahan negara kaum muslim.

Dari Ibnu Umar Ra. ia berkata: “Pada satu ketika dibawa ke hadapan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam sepotong emas. Emas itu adalah emas zakat yang pertama sekali dibawa oleh Bani Sulaim dari pertambangan mereka. Maka sahabat berkata: “Hai Rasulullah! Emas ini adalah hasil dari tambang kita”. Lalu Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam menjawab, “Nanti kamu akan dapati banyak tambang-tambang, dan yang akan menguasainya adalah orang-orang jahat“. (HR. Baihaqi)

Namun kenyataan yang “tampak” kemudian adalah pada tanggal 25 Maret 1975, Raja Faisal ditembak mati oleh anak adiknya, yaitu Faisal bin Musad. Beberapa analisa mengatakan pembunuhan ini ada dalam pengaturan kaum Zionis Yahudi.

Raja Faisal adalah salah satu sosok penguasa negeri yang mentaati peringatan Allah Azza wa Jalla untuk tidak menjadikan kaum Zionis Yahudi sebagai teman kepercayaan.

 

Wassalam

 

Zon di Jonggol, Kabupaten Bogor 16830

Read Full Post »

Older Posts »

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 312 pengikut lainnya.