Feeds:
Pos
Komentar

Posts Tagged ‘ulama khalaf’

Ulama khalaf

Ulama khalaf adalah penerus ulama salaf

 

Berikut uraian  mengenai istilah salaf dan khalaf yang kami kutip dengan sedikit penyesuaian dari http://singkirkankepalsuan.blogspot.com/2012/05/kholaf-penerus-salaf.html

***** awal kutipan *****

Sekitar Istilah Salaf dan Khalaf

Di antara gejala buruk yang berlaku dalam bidang ilmu agama adalah munculnya golongan yang mengaku lebih memahami manhaj salaf di banding para ulama’ sebelum mereka yakni ulama yang di sebut oleh mereka sebagai “ulama khalaf”.   Untuk menjadikan diri mereka berhak mengetahui siapa sebenarnya salaf dan apa sebenarnya manhaj salaf, maka mereka menamakan diri mereka dengan nama “salafi”, yaitu orang yang mengikut jejak salaf.

Ketidaktauan Terhadap Istilah

Golongan intelektual yang setengah matang yang muncul dalam lapangan intelektual Islam terpaksa menciptakan terminologi-terminologi (mustalahat) baru untuk mengelabui golongan yang lebih jahil daripada mereka. Lalu, mereka menggunakan istilah tertentu dengan takrif/definisi baru yang menyimpang dari penggunaan asalnnya dengan tujuan untuk mendominasi dan memonopoli istilah tersebut.

Maka, muncullah terminologi seperti “salafi”, “khalafi” dan sebagainya yang mana sebelumnya, para ulama’ hanya menggunakan istilah khalaf dan salaf saja.

Salafi menurut mereka adalah: “orang2 yang mengikuti manhaj salaf”.

Khalafi menurut mereka adalah: “orang yang tidak mengikut manhaj salaf”.

Padahal, istilah salaf dan khalaf yang digunakan oleh para ulama’ secara sepakat sebelum munculnya golongan mereka adalah:

Salaf: Generasi yang hidup dalam kurun pertama sehingga kurun ketiga hijrah, atau sampai kurun kelima hijrah. pendapat paling kuat adalah, sampai kurun ketiga hijrah.

Khalaf: Generasi yang hidup setelah kurun ketiga atau kelima hijrah.

Maka, istilah salaf dan khalaf dalam penggunaan asal dari para ulama’ tidak pernah di maksudkan sebagai suatu perbedaan manhaj, tetapi lebih di maksudkan pada perbedaan tempo masa saja.

Sampai pada masa munculnya golongan mereka yang mengaku sebagai salafi, yang padahal mereka hanyalah meneruskan pemahaman Ibn Taimiyyah yang sering mengaku lebih memahami salaf di banding dengan ulama’-ulama’ lain sebelumnya atau yang sezaman dengannya khususnya dari kalangan Asya’irah yang dianggap kurang memahami manhaj salaf, lalu memulai usaha menamakan diri sebagai salafi dan lalu menamakan selain mereka sebagai khalafi.

***** akhir kutipan *****

Ditengarai kaum Zionis Yahudi mencitrakan atau menghasut seolah-olah ulama khalaf bukanlah penerus ulama Salaf dengan tujuan menghilangkan peranan Imam Mazhab yang empat sebagai pemimpin atau imam ijtihad kaum muslim (Imam Mujtahid Mutlak).  Kaum Zionis Yahudi  berupaya untuk membingungkan kaum muslim dalam bermazhab sekaligus upaya menimbulkan perselisihan dan perpecahan di antara kaum muslim karena perbedaan pemahaman dikarenakan adanya segelintir kaum muslim yang tidak bermazhab

Protokol Zionis yang ketujuhbelas

Kita telah lama menjaga dengan hati-hati upaya mendiskreditkan para ulama non-Yahudi (termasuk Imam Mazhab yang empat) dalam rangka menghancurkan misi mereka, yang pada saat ini dapat secara serius menghalangi misi kita. Pengaruh mereka atas masyarakat mereka berkurang dari hari ke hari. Kebebasan hati nurani yang bebas dari paham agama telah dikumandangkan dimana-mana. Tinggal masalah waktu maka agama-agama itu akan bertumbangan…..

Sesungguhnya penerus ulama Salaf adalah ulama khalaf yakni para ulama yang sholeh yang bermazhab dengan Imam Mazhab yang empat.

Imam Mazhab yang empat bertemu dan bertalaqqi (mengaji) langsung dengan ulama Salaf.

Imam Mazhab yang empat menyampaikan hasil talaqqi mereka dengan ulama salaf dalam bentuk ijtihad dan istinbat mereka dan menuliskan dalam kitab-kitab fiqih mereka agar umat Islam di kemudian hari yang tidak bertemu dan bertalaqqi (mengaji) dengan ulama Salaf dapat menelusurinya melalui kitab-kitab fiqih yang mereka tulis.

Imam Mazhab yang empat telah disepakati oleh jumhur ulama yang sholeh dari dahulu sampai sekarang sebagai pemimpin atau imam ijtihad kaum muslim (Imam Mujtahid Mutlak)

Imam Mazhab yang empat adalah para ulama yang terbaik dalam memahami Al Qur’an dan Hadits. Belum ada satupun ulama setelah mereka yang dapat menyaingi kompetensi mereka dalam memahami Al Qur’an dan Hadits.

Imam Mazhab yang empat masih terjaga kemutawatiran sanad dan kemurnian agama dan aqidahnya. Tidak tercampur dengan prasangka atau akal pikiran manusia yang diliputi hawa nafsu dan kepentingan ataupun tidak tercampur dengan hasutan atau ghazwul fikri (perang pemahaman) dari kaum Zionis Yahudi

Mereka berbeda diantara berempat, semata-mata dikarenakan terbentuk setelah adanya furu’ (cabang), sementara furu’ tersebut ada disebabkan adanya sifat zanni dalam nash. Oleh sebab itu, pada sisi zanni inilah kebenaran bisa menjadi banyak (relatif), mutaghayirat disebabkan pengaruh bias dalil yang ada. Boleh jadi nash yang digunakan sama, namun cara pengambilan kesimpulannya berbeda.

Zanni juga terbagi dua: dari sudut datangnya dan dari sudut lafaznya. Ayat Qur’an mengandung sejumlah ayat yang lafaznya membuka peluang adanya beragam penafsiran.

Contoh dalam soal menyentuh wanita ajnabiyah dalam keadaan wudhu’, kata “aw lamastumun nisa” dalam al-Qur’an terbuka untuk ditafsirkan. Begitu pula lafaz “quru” (QS 2:228) terbuka untuk ditafsirkan. Ini yang dinamakan zanni al-dilalah.

Selain hadis mutawatir, hadis lainnya bersifat zanni al-wurud. Ini menunjukkan boleh jadi ada satu ulama yang memandang shahih satu hadis, tetapi ulama lain tidak memandang hadis itu shahih.

Ini wajar saja terjadi, karena sifatnya adalah zanni al-wurud. Hadis yang zanni al-wurud itu juga ternyata banyak yang mengandung lafaz zanni al-dilalah.

Jadi, sudah terbuka diperselisihkan dari sudut keberadaannya, juga terbuka peluang untuk beragam pendapat dalam menafsirkan lafaz hadis itu.

* zanni al-wurud : selain hadis mutawatir
* zanni al-dilalah : lafaz dalam hadis mutawatir dan lafaz hadis yang lain (masyhur, ahad)

Nah, Syari’ah tersusun dari nash qat’i sedangkan fiqh tersusun dari nash zanni.

Contoh praktis:

1. (a) kewajiban puasa Ramadlan (nashnya qat’i dan ini syari’ah),
(b) kapan mulai puasa dan kapan akhi Ramadlan itu (nashnya zanni dan ini fiqh)

Catatan: hadis mengatakan harus melihat bulan, namun kata “melihat” mengandung penafsiran.

2. (a) membasuh kepala saat berwudhu itu wajib (nash qat’i dan ini Syari’ah)
(b) sampai mana membasuh kepala itu? (nashnya zanni dan ini fiqh)

Catatan: kata “bi” pada famsahuu biru’usikum terbuka utk ditafsirkan.

3. (a) memulai shalat harus dengan niat (nash qat’i dan ini Syari’ah)

(b) apakah niat itu dilisankan (dengan ushalli) atau cukup dalam hati (ini Fiqh)

Catatan: sebagian ulama memandang perlu niat itu ditegaskan dalam bentuk “ushalli” untuk menguatkan hati sedangkan ulama lain memandang niat dalam hati saja sudah cukup

 

 

Wassalam

Zon di Jonggol, Kab Bogor 16830

Read Full Post »

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 374 pengikut lainnya.