Feeds:
Pos
Komentar

Archive for the ‘Islam’ Category


Allah Maha Tinggi bukan ketinggian secara hissi

Tangkapan layar di atas adalah contoh mereka yang secara tidak langsung memfitnah Al Muzani karena perkataan Beliau,

عال على عرشه

Pada umumnya diterjemahkan, “Maha Tinggi di atas ArsyNya”

Namun diterjemahkan dengan MENYISIPKAN kata BERADA menjadi, “Allah Maha Tinggi (BERADA) di atas ArsyNya” agar sesuai keinginan atau hawa nafsunya yakni memaknai dalam MAKNA DZAHIR atau secara hissi (materi/fisikal) yakni KETINGGIAN TEMPAT.

Padahal MAKNA TINGGI bagi Allah Ta’ala sebagaimana yang dijelaskan oleh para ulama seperti Al-Mufassir al-Qurthubi

يراد به علو القدر والمنزلة لا علو المكان

Yang dimaksud adalah ketinggian derajat (keagungan) dan kedudukanNya bukan ketinggian tempat.

Atau al-Muhaddits al-Faqîh al-Imam asy-Syaikh Abdullah al-​Harari menjelaskan

والذي يليق بالله هو علو القدر لا علوالمكان

Dan makna yang layak bagi Allah adalah makna ketinggian derajat (keagungan) bukan ketinggian tempat.

لأنه لا شأن في علوّ المكان إنما الشأن في علو القدر

Karena ketinggian tempat itu bukan tolak ukur untuk menetapkan kemuliaan. Yang menjadi tolak ukur adalah ketinggian derajat (keagungan)

Lalu mereka mengingkari penjelasan para ulama di atas, dengan mengatakan,

***** awal kutipan *****
Itu tidak sesuai dengan siyaqul kalamnya karena kalau dimaknai ketinggian qudroh dan derajat maka tidak perlu dihubungkan dengan anak kalimat, “IlmuNya meliputi segala sesuatu” .
***** akhir kutipan *****

Padahal ilmuNya meliputi segala sesuatu, juga termasuk meliputi Arsy BUKAN Allah Ta’ala ISTAQARRA (berada / menetap tinggi) di atas Arsy.

Contoh lain ilmuNya meliputi segala sesuatu termasuk meliputi Arsy adalah meliputi Lauh mahfudh di atas Arsy

Dari Abu Hurairah, Rasulullah bersabda

لَمَّا قَضَى اللَّهُ الخَلْقَ كَتَبَ فِي كِتَابِهِ فَهُوَ عِنْدَهُ فَوْقَ العَرْشِ إِنَّ رَحْمَتِي غَلَبَتْ غَضَبِي

“Ketika Allah menentukan nasib manusia, Ia menulis di kitab-Nya yang berada di sisi-Nya di atas Arasy. Sesungguhnya rahmat-Ku mengalahkan murka-Ku.” (HR Bukhari dan Muslim)

Imam Ibnu Hajar mengatakan:

وَلَا مَحْذُورَ فِي إِجْرَاءِ ذَلِكَ عَلَى ظَاهِرِهِ لِأَنَّ الْعَرْشَ خَلْقٌ مِنْ خَلْقِ اللَّهِ وَيُحْتَمَلُ أَنْ يَكُونَ الْمُرَادُ بِقَوْلِهِ فَهُوَ عِنْدَهُ أَيْ ذِكْرُهُ أَوْ عِلْمُهُ فَلَا تَكُونُ الْعِنْدِيَّةُ مَكَانِيَّةٌ بَلْ هِيَ إِشَارَةٌ إِلَى كَمَالِ كَوْنِهِ مَخْفِيًّا عَنِ الْخَلْقِ مَرْفُوعًا عَنْ حَيِّزِ إِدْرَاكِهِمْ

“Tak masalah memahami hadits tersebut secara dzahir (bahwa Lauh mahfûdh benar-benar di atas Arasy) sebab sesungguhnya Arasy adalah salah satu makhluk dari makhluk-makhluk Allah. Ada kemungkinan bahwa yang dimaksud dengan “di sisi-Nya” adalah di sisi ilmu Allah. Jadi penyebutan sisi di sini bukanlah dalam makna tempat tetapi itu adalah isyarat bagi kesempurnaan Lauh mahfudh yang tersembunyi dari makhluk dan tinggi terangkat dari batas pengetahuan mereka.” (Ibnu Hajar, Fathul al-Baari, juz VI, halaman 291)

Tentu tidak ada ulama yang MENTERJEMAHKAN dan MEMAKNAI “di sisi-Nya” adalah BERADA atau BERTEMPAT di sisi Allah secara hissi (materi/fisikal) melainkan dalam makna maknawi yakni derajat, maqomat, manzilah

Begitupula kitab Lauh Mahfudh di sisiNya di atas Arsy bukan dalam makna BERADA atau BERTEMPAT atau secara hissi (materi/fisikal) DI SISI Allah Ta’ala.

Oleh karenya para ulama Allah menjelaskan bahwa Allah Ta’ala itu “dekat tidak bersentuh dan jauh tidak berjarak” atau “dekat tidak bersekutu, jauh tidak berantara”

Imam Abul Hasan al Asy’ari dalam “Maqalatul Islamiyin” jilid I hal 281 menuliskan,

أنهم يقولون: إن البارىء ليس بجسم ولا محدود ولا ذي نهاية

Mereka (ahlus sunnah) berkata, “Sesungguhnya Allah bukan jism, tidak berhadd (TIDAK TERBATAS) dan TIDAK BERJARAK”

Pengertian ولا حد , (TIDAK TERBATAS) adalah Allah Ta’ala TIDAK TERBATAS pada salah satu di antara enam arah (atas, bawah, kiri, kanan, depan, belakang)

Begitupula Imam Abul Wahid At Tamimi (W 410 H, ulama yang paling dekat zamannya dengan Imam Ahmad) membawakan riwayat Imam Ahmad di dalam kitab Beliau “I’tiqad Imam Al Munabbal Abi Abdillah Ahmad bin Hanbal hal 38;

والله تعالى لم يلحقه تغير ولا تبدل ولا يلحقه الحدود قبل خلق العرش ولا بعد خلق العرش

“Dan Allah Ta’ala tidak mengalami perubahan dan TIDAK TERBATAS oleh hadd, baik sebelum Allah menciptakan Arsy, maupun setelah Allah menciptakan Arsy”

Imam sayyidina Ali karamallahu wajhah mengingatkan bahwa orang yang menganggap Tuhan BERBATAS dengan makhluk contohnya BERBATAS dengan arsy adalah mereka yang belum mengenal Allah (makrifatullah)

Imam Sayyidina Ali karamallahu wajhah berkata

من زعمأن إلهنا محدود فقد جهل الخالق المعبود

”Barang siapa menganggap bahwa Tuhan kita mahdud/terbatas maka ia telah jahil, tidak mengenal Tuhan Sang Pencipta.” (Hilyatul Awliyâ’; Abu Nu’aim al Isfahani,1/73)

Jadi mereka yang BELUM MENGENAL Allah (Makrifatullah) “dengan sebenar keagungan-Nya”.(QS Az Zumar [39]:67) AKIBAT METODE PEMAHAMAN mereka selalu dengan MAKNA DZAHIR.

Padahal jika BELUM MENGENAL Allah dapat berakibat amal ibadah sepanjang hidupnya tidak diterima oleh Allah Azza wa Jalla.

Imam Ghazali berkata:

لا تصح العبادة إلا بعد معرفة المعبود

“Tidak sah ibadah (seorang hamba) kecuali setelah mengetahui (mengenal Allah) yang wajib disembah”.

“Awaluddin makrifatullah, akhiruddin makrifatullah”.

Artinya, awal beragama adalah makrifatullah (mengenal Allah) dan akhir beragama makrifatullah dalam arti menyaksikan Allah dengan hati (ain bashiroh).

Oleh karenanya SEJAK DINI sebaiknya disampaikan tentang aqidatul khomsin (lima puluh aqidah) dimana di dalamnya diuraikan tentang 20 sifat wajib bagi Allah sebagai SARANA untuk MENGENAL Allah yang merupakan hasil istiqro (telaah) para ulama yang bersumber dari Al Qur’an dan Hadits.

20 sifat wajib bagi Allah dapat juga dipergunakan sebagai pedoman dan batasan-batasan untuk dapat memahami ayat-ayat mutasyabihat tentang sifat-sifat Allah

Abdul Karim bin Hawazin al-Qusyairi an-Naisaburi asy-Syaf’i (W 465 H) dalam Lata’if al-Isyarat mengingatkan bahwa,

Langit maupun arsy dalam makna dzahir atau secara hissi (materi/fisikal) arah atas (jihah) adalah kiblat bagi doa seluruh makhluk

Sedangkan langit, arsy dalam makna majaz atau secara maknawi adalah terkait melihat Al-Haq, Yang Maha Tinggi.

Allah Ta’ala memudahkan siapa yang dikehendakiNya untuk dapat melihat Allah dengan hatinya (ain bashirah).

Imam Sayyidina Ali r.a. pernah ditanya oleh seorang sahabatnya bernama Zi’lib Al-Yamani, “Apakah Anda pernah melihat Tuhan?” Beliau menjawab, “Bagaimana saya menyembah yang tidak pernah saya lihat?” “Bagaimana Anda melihat-Nya?” tanyanya kembali. Sayyidina Ali ra menjawab “Dia tak bisa dilihat oleh mata dengan pandangan manusia yang kasat, tetapi bisa dilihat oleh hati”

Malaikat Jibril ketika menampakkan sebagai seseorang berpakaian putih bertanya, ‘Wahai Rasulullah, apakah IHSAN itu? ‘ Beliau menjawab, ‘Kamu takut kepada Allah seakan-akan kamu melihat-Nya (makrifatullah), maka jika kamu tidak melihat-Nya maka sesungguhnya Dia melihatmu.” (HR Muslim 11)

Jadi jika seseorang bermakrifat yakni dapat melihat Allah dengan hatinya (ain bashirah) atau pengawasan Allah tertanam di hatinya karena BERKEYAKINAN bahwa “Allah Ta’ala itu dekat tidak bersentuh dan jauh tidak berjarak” maka setiap akan bersikap atau berbuat sesuatu ia selalu mencegah dirinya dari melakukan sesuatu yang dibenciNya , menghindari perbuatan maksiat, menghindari perbuatan keji dan mungkar.

Sikap dan perilaku seperti itulah yang membentuk menjadi muslim yang berakhlakul karimah atau muslim yang sholeh atau muslim yang IHSAN.

Oleh karenanya orang-orang yang BERAKHLAK BURUK seperti mereka yang terjerumus kesombongan dan menolak kebenaran BERKAITAN dengan akhlak buruk mereka kepada Allah Ta’ala yakni orang-orang yang ‘Aashin (DURHAKA) atau MENGHINA Allah, seperti orang-orang yang “menjauhkan” Allah Ta’ala dengan menetapkan arah (jihah) atau tempat bagi Allah di atas Arsy.

Orang-orang yang “menjauhkan” Allah Ta’ala AKIBAT mereka belum bermakrifat yakni mereka belum dapat memandang Allah dengan hatinya (ain bashirah)

Para ulama Allah mengatakan bahwa salah satu bentuk nafsu hijab terbesar itu justru kesombongan, karena sombong itu, membuat, manusia hanya melihat dirinya. Kita bisa bayangkan, kalau keadaan batin itu hanya melihat dirinya sendiri, orang lain tidak kelihatan, bagaimana dia bisa menyaksikan Allah dengan hatinya (ain bashiroh)

Orang-orang yang “menjauhkan” Allah Ta’ala adalah orang-orang yang BERTAMBAH ILMUNYA namun SEMAKIN JAUH dari Allah Ta’ala karena mereka TERJERUMUS KESOMBONGAN.

Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Barangsiapa yang bertambah ilmunya tapi tidak bertambah hidayahnya, maka dia tidak bertambah dekat kepada Allah melainkan bertambah jauh“

Sebagaimana diperibahasakan oleh orang tua kita dahulu bagaikan padi semakin berisi semakin merunduk, semakin berilmu dan beramal maka semakin tawadhu, rendah hati dan tidak sombong.

Rasulullah bersabda: “Kesombongan adalah menolak kebenaran dan menganggap remeh orang lain.” (Shahih, HR. Muslim no. 91 dari hadits Abdullah bin Mas’ud)

Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda , “Tiada masuk surga orang yang dalam hatinya terdapat sebesar biji sawi dari kesombongan. kesombongan adalah menolak kebenaran dan meremehkan manusia” (HR. Muslim)

Sayyidina Umar ra menasehatkan “Yang paling aku khawatirkan dari kalian adalah bangga terhadap pendapatnya sendiri. Ketahuilah orang yang mengakui sebagai orang cerdas sebenarnya adalah orang yang sangat bodoh. Orang yang mengatakan bahwa dirinya pasti masuk surga, dia akan masuk neraka“

Begitupula ungkapan-ungkapan yang artinya “di atas” maupun “di langit” bagi Allah adalah BUKAN dalam pengertian arah atau tempat bagi Allah Ta’ala NAMUN untuk mengungkapkan keagungan dan kemuliaan Allah dalam pengertian,

علوّ المرتبة

Uluww al-Martabah (derajat yang tinggi)

Al-Imam al-Hafizh Ibn al Jawzi menjelaskan bahwa dalam bahasa Arab biasa dipakai ungkapan: “فلان فوق فلان ”; artinya; “derajat si fulan (A) lebih tinggi dibanding si fulan (B)”, ungkapan ini bukan bermaksud bahwa si fulan (A) berada di atas pundak si fulan (B) ketika menjelaskan mereka yang “LUPA” atau salah memahami firman Allah Ta’ala, “Wa Huwa al-Qahiru Fawqa ‘Ibadih” (QS. Al-An’am: 18)

***** awal kutipan ****
Mereka lupa bahwa pengertian “fawq”, “فوق ” dalam makna indrawi (makna dzahir) hanya berlaku bagi setiap jawhar dan benda saja.

Mereka meninggalkan makna “fawq” dalam pengertian “Uluww al-Martabah”, “علوّ المرتبة ”; “derajat yang tinggi”.
***** akhir kutipan ****

Al-Imâm al-Hâfizh Jalaluddin as-Suyuthi dalam al-Itqan Fi ‘Ulum al-Qur’an menuliskan tentang pemahaman fawq pada hak Allah, sebagai berikut:

“…antara lain sifat fawqiyyah, seperti dalam firman-Nya: “Wa Huwa al-Qahiru Fawqa ‘Ibadih” (QS. Al-An’am: 18), dan firman-Nya: “Yakhafuna Rabbahum Min Fawqihim” (QS. An-Nahl: 50). Makna fawq dalam ayat ini bukan dalam pengertian arah atas. Makna fawq dalam ayat tersebut sama dengan makna fawq dalam firman Allah yang lain tentang perkataan Fir’aun: “Wa Inna Fawqahum Qahirun” (QS. Al-A’raf: 127), bahwa pengertiannya bukan berarti Fir’aun berada di atas pundak Bani Isra’il, tapi dalam pengertian ia menguasai Bani Isra’il”.

Al-Imam Badruddin ibn Jama’ah berkata

***** awal kutipan *****
Makna “فوق ” , “fawq” bukanlah dalam pengertian tempat karena adanya tempat dan arah bagi Allah adalah sesuatu yang batil, maka pemaknaan fawq pada hak Allah pasti dalam pengertian ketinggian derajat dan keagungan-Nya, Maha Menguasai dan Maha Menundukkan para hambaNya seperti dalam firman Allah Ta’ala , wa huwa al-qaahiru fawqa ‘ibaadihi

Jika yang dimaksud fawq dalam pengertian tempat dan arah maka sama sekali tidak memberikan indikasi kemuliaan dan keistimewaan karena sangat banyak pembantu atau hamba sahaya yang bertempat tinggal di atas atau lebih tinggi dari tempat tuannya – Apakah itu menunjukan bahwa pembantu dan hamba sahaya tersebut lebih mulia dari majikannya sendiri ?
***** akhir kutipan ******

Begitupula Al-Imam Ibn Jahbal dalam risalah Fi Nafy al-Jihah dalam Thabaqat asy-Syafi’iyyah, j. 9, h. 47. memuat bantahan keras terhadap Ibn Taimiyah yang mengatakan bahwa Allah bertempat di atas arsy.

****** awal kutipan ******
… bila dikatakan dalam bahasa Arab: “al-Khalifah Fawq as-Sulthan wa as-Sulthan Fawq al-Amir”, maka artinya: “Khalifah lebih tinggi kedudukannya di atas raja, dan raja lebih tinggi kedudukannya di atas panglima”, atau bila dikatakan: “Jalasa Fulan Fawq Fulan”, maka artinya: “Si fulan yang pertama kedudukannya di atas si fulan yang kedua”, atau bila dikatakan: “al-‘Ilmu Fawq al-‘Amal” maka artinya: “Ilmu kedudukannya di atas amal”.

Contoh makna ini dalam firman Allah: “Wa Rafa’na Ba’dlahum Fawqa Ba’dlin Darajat” (QS. Az-Zukhruf: 32), artinya Allah meninggikan derajat dan kedudukan sebagian makhluk-Nya atas sebagian yang lain. Makna ayat ini sama sekali bukan dalam pengertian Allah menjadikan sebagian makhluk-Nya berada di atas pundak sebagian yang lain.
****** akhir kutipan ******

Al-Imam al-Hafizh Ibn al Jawzi menjelaskan bahwa secara tekstual (dipahami dengan MAKNA DZAHIR) , dasar kata fiis sama’i dalam bahasa Arab dipergunakan untuk mengungkapkan sesuatu yang ”berada di dalam sebuah tempat dengan diliputi oleh tempat itu sendiri”, padahal Allah tidak diliputi oleh suatu apapun sebagaimana penjelasannya yang termuat dalam kitabnya berjudul Daf’u syubahat-tasybih bi-akaffi at-tanzih ketika mencontohkan ayat-ayat al-Qur’an yang seringkali disalahpahami oleh firqah atau kaum MUJASSIMAH seperti firman Allah Ta’ala

أَأَمِنْتُمْ مَنْ فِي السَّمَاءِ

aamintum man fiis samaa-i (QS Al Mulk [67]:16)

Berikut kutipan penjelasannya

***** awal kutipan *****
Argumen kuat dan nyata telah menegaskan bahwa yang dimaksud ayat ini bukan dalam makna dzahirnya karena dasar kata fiis sama’i dalam bahasa Arab dipergunakan untuk mengungkapkan sesuatu yang ”berada di dalam sebuah tempat dengan diliputi oleh tempat itu sendiri”; padahal Allah tidak diliputi oleh suatu apapun.

Pemahaman ayat di atas tidak sesuai jika dipahami dalam makna indrawi (makna dzahir) seperti ini, karena bila demikian maka berarti Allah diliputi oleh langit (bisa jadi sama besar, lebih besar, atau lebih kecil dari langit itu sendiri)

Pemahaman yang benar adalah bahwa ayat tersebut untuk mengungkapkan keagungan dan kemuliaan Allah.
***** akhir kutipan ******

Dengan kitabnya tersebut Al-Imam al-Hafizh Ibn al Jawzi MEMBERSIHKAN segala tuduhan buruk atau FITNAH terhadap Imam Ahmad bin Hanbal bahwa Beliau memahami “apa yang telah Allah Ta’ala sifatkan untuk diriNya” SELALU dengan MAKNA DZAHIR.

Imam al-Hafidz Ibnu Hajar telah menerangkan dalam Kitab at-Tauhid; “Al Kirmani berkata, مَنْ فِى السَّمَاءِ makna dzâhir- nya jelas bukan yang dimaksudkan, sebab Allah Maha Suci dari bertempat di sebuah tempat, akan tetapi, karena sisi atas adalah sisi termulia di banding sisi-sisi lainnya, maka ia disandarkan kepada-Nya sebagai isyarat akan ketinggian dalam arti kemuliaan atau keagungan Dzat dan sifat-Nya.“

Oleh karenanya terhadap firmanNya pada (QS Al Mulk [67]:16) para mufassir (ahli tafsir) telah sepakat menyisipkan “(berkuasa)” agar tidak dipahami “berada” atau “bertempat” sehingga menafsirkannya menjadi,

Apakah kamu merasa aman terhadap Allah yang (berkuasa) di langit bahwa Dia akan menjungkir balikkan bumi bersama kamu, sehingga dengan tiba-tiba bumi itu bergoncang?

Berikut kutipan dari tafsir Jalalain penerbit Sinar Baru Algensindo buku ke 2 hal 1129, juz 29, Al Mulk [67]:16

***** awal kutipan ******
a-amintum, (Apakah kalian merasa aman) dapat dibaca secara tahqiq dan dapat pula dibaca secara tashil

man fiis samaa-i, (terhadap kekuasaan Allah yang di langit) yakni pengaruh dan kekuasaan-Nya yang di langit

an yakhsifa, (bahwa Dia akan menjungkir balikkan) berkedudukan menjadi badal dari lafaz man

bikumul ardha fa-idzaa hiya tamuuru, (bumi bersama kalian, sehingga dengan tiba-tiba bumi itu berguncang) menjadi gempa dan menindih kalian
****** akhir kutipan ******

Dalam majalah al-Azhar yang diterbitkan oleh para ulama al-Azhar pada edisi Muharram tahun 1357 H dalam pembahasan tafsir surat al-A’la, menuliskan sebagai berikut:

“al-A’la adalah salah satu sifat Allah. Yang dimaksud dengan al-‘uluww dalam hal ini adalah dalam pengertian keagungan, menguasai, dan ketinggian derajat, bukan dalam pengertian arah dan tempat, karena Allah maha suci dari arah dan tempat”.

Jadi ungkapan “serahkan sama yang di atas” BUKAN dalam pengertian TEMPAT atau ARAH ataupun JARAK NAMUN maksudnya adalah “Uluww al-Martabah”, “علوّ المرتبة ”; “derajat yang tinggi” untuk mengungkapkan keagungan dan kemuliaan Allah.

Begitupula para ulama menjelaskan bahwa arah atas adalah qiblat orang berdoa.

Al Imam Al Hafizh An Nawawi berkata, “Dan Dialah Allah yang apabila orang menyeru-Nya, orang itu menghadap ke langit (dengan tangan), sebagaimana orang Shalat menghadap Ka’bah, dan tidaklah demikian itu karena Allah di langit, sebagaimana bahwa sungguh Allah tidak berada di arah Ka’bah, karena sesungguhnya langit itu qiblat orang berdoa sebagaimana bahwa sungguh Ka’bah itu Qiblat orang Shalat” [Syarah Shahih Muslim jilid :5 hal :22]

Imam Al-Hafidh Murtadha Az-Zabidi berkata: “Maka adapun angkat tangan ke arah langit ketika berdoa, karena sesungguhnya langit itu qiblat doa”, lalu Beliau menjelaskan,

***** awal kutipan *****”
Jika dipertanyakan, ketika adalah kebenaran itu maha suci Allah yang tidak ada jihat (arah), maka apa maksud mengangkat tangan dalam doa ke arah langit ? maka jawaban nya dua macam yang telah disebutkan oleh At-Thurthusyi :

Pertama: sesungguhnya angkat tangan ketika doa itu permasalahan ibadah seperti menghadap Ka’bah dalam Shalat, dan meletakkan dahi di bumi dalam sujud, serta mensucikan Allah dari tempat Ka’bah dan tempat sujud, maka langit itu adalah qiblat doa.

Kedua: manakala langit itu adalah tempat turun nya rezeki dan wahyu, dan tempat rahmat dan berkat, karena bahwa hujan turun dari langit ke bumi hingga tumbuhlah tumbuhan, dan juga langit adalah tempat Malaikat, maka apabila Allah menunaikan perkara, maka Allah memberikan perkara itu kepada Malaikat, dan Malaikat-lah yang memberikan kepada penduduk bumi, dan begitu juga tentang diangkat nya segala amalan (kepada Malaikat juga), dan dilangit juga ada para Nabi, dan langit ada syurga yang menjadi cita-cita tertinggi, manakala adalah langit itu tempat bagi perkara-perkara mulia tersebut, dan tempat tersimpan Qadha dan Qadar, niscaya tertujulah semua kepentingan ke langit, dan orang-orang berdoa pun menunaikan ke atas langit”[Ittihaf, jilid 5, hal 244]
***** akhir kutipan ******

Imam Ahlus Sunnah Abu Mansur Al-Maturidi berkata “Adapun mengangkat tangan ke langit adalah ibadah, hak Allah menyuruh hamba-Nya dengan apa yang Ia kehendaki, dan mengarahkan mereka kemana yang Ia kehendaki, dan sesungguhnya sangkaan seseorang bahwa mengangkat pandangan ke langit karena Allah di arah itu, sungguh sangkaan itu sama dengan sangkaan seseorang bahwa Allah di dasar bumi karena ia meletakkan muka nya di bumi ketika Shalat dan lain nya, dan juga sama seperti sangkaan seseorang bahwa Allah di timur/barat karena ia menghadap ke arah tersebut ketika Shalat, atau Allah di Mekkah karena ia menunaikan haji ke Mekkah” [Kitab At-Tauhid – 75]

Al Imam Al Hafizh Suyuthi menjelaskan bahwa firman Allah Ta’ala yang ARTINYA “Naiklah malaikat-malaikat dan Jibril kepada-Nya MAKNANYA adalah naik ke tempat turun bagi perintahNya di langit . (Tafsir Al-Jalalain, QS Al-Ma’arij [70] :4)

Tempat turun bagi perintahNya bukan berarti tempat bagi Allah karena Allah Subhanahu wa Ta’ala suci dari arah dan tempat.

Rasulullah dengan gamblang atau terang benderang menafikan arah maupun tempat bagi Allah Ta’ala dengan sabdanya,

فليس فوقك شيء

Tidak ada sesuatu apapun di atas-Mu

dan sabdanya

فليس دونك شيء

“tidak ada sesuatu apapun di bawah-Mu”

Al-Hafizh al Baihaqi (w 458 H) dalam kitabnya al Asma wa ash Shifat, hlm. 506 menjelaskan

***** awal kutipan *****
واستدل بعض أصحابنا في نفي المكان عنه بقول النبي صلى الله عليه و سلم

Dan telah berdalil sebagian sahabat kami (ahlus sunnah) dalam menafikan tempat bagi Allah dengan sabda Rasululullah shallallahu alaihi wasallam,

أنت الظاهر فليس فوقك شىء, وأنت الباطن فليس دونك شىء

Engkau Adz Dzahir, tidak ada sesuatu apapun di atas-Mu dan Engkau Al Bathin, tidak ada sesuatu apapun di bawah-Mu. (HR Muslim 4888)

وإذا لم يكن فوقه شىء ولا دونه شىء لم يكن في مكان

“jika tidak ada sesuatu di atas dan di bawahNya itu artinya Allah tidak ada pada tempat”.
***** akhir kutipan *****

Begitupula dalam sabda Rasulullah di atas, kata kunci Rasullah menafikan arah ataupun tempat bagi Allah Ta’ala adalah dengan menyebut asma Allah, Adz-Dzahir dan Al-Bathin.

Al-Hafizh al Baihaqi menjelaskan,

الظاهر فيصح إدراكه بالأدلة, الباطن فلا يصح إدراكه بالكون في مكان

Allah Ta’ala, adalah Adz-Dzahir – maka Dia bisa diketahui dengan bukti-bukti (dalil) , Allah Ta’ala adalah Al-Bathin -. maka Dia tidak bisa diketahui dengan tempat.

Begitupula Rasulullah menafikan Arsy sebagai tempat bagi Allah dengan sabdanya,

قَالَ كَانَ فِيْ عَمَاءٍ مَا تَحْتَهُ هَوَاءٌ وَمَا فَوْقَهُ هَوَاءٌ وَخَلَقَ عَرْشَهُ عَلىَ الْمَاءِ

“Allah ada tanpa sesuatu apapun yang menyertaiNya. Di atasNya tidak ada sesuatu dan di bawahNya tidak ada sesuatu. Lalu Allah menciptakan Arsy di atas air.” .

قَالَ أَحْمَدُ بْنُ مَنِيْعٍ قَالَ يَزِيْدُ بْنُ هَارُوْنَ الْعَمَاءُ أَيْ لَيْسَ مَعَهُ شَيْءٌ

Ahmad bin Mani’ berkata, bahwa Yazid bin Harun berkata, (makna) Ama` adalah (Allah ada) tanpa sesuatu apapun yang menyertaiNya (Sunan at Tirmidzi, 3109)

Sedangkan sabda Rasulullah yang ARTINYA “Lalu Allah menciptakan Arsy di atas air.” MAKNANYA BUKANLAH Allah Ta’ala BERUBAH menjadi di atas ‘Arsy karena Allah Ta’ala tidak boleh disifatkan berubah.

Rasulullah sekedar memberitakan bahwa Allah Ta’ala menciptakan Arsy di atas air.

Rasulullah tidak pernah bersabda bahwa Allah Ta’ala menciptakan Arsy berada di bawahNya.

Imam al-Qadli Badruddin ibn Jama’ah dalam kitab berjudul Idlah ad-Dalil Fî Qath’i Hujaj Ahl at-Ta’thîl, hlm. 106-107 menuliskan

***** awal kutipan *****
Kemudian kata “tsumma” dalam firman-Nya: “Tsumma Istawa” bukan dalam pengertian “tertib atau berkesinambungan” dalam perbuatan-Nya, tetapi untuk memberikan paham tertib atau kesinambungan dalam pemberitaan, bukan dalam perbuatan-Nya.
**** akhir kutipan ****

Al-Imam al-Qurthubi menuliskan: “Allah yang Maha Agung tidak boleh disifati dengan perubahan atau berpindah dari suatu tempat ke tempat yang lain. Dan mustahil Dia disifati dengan sifat berubah atau berpindah. Karena Dia ada tanpa tempat dan tanpa arah, dan tidak berlaku atas-Nya waktu dan zaman. Karena sesuatu yang terikat oleh waktu itu adalah sesuatu yang lemah dan makhluk” (al-Jami’ Li Ahkam al-Qur’an, j. 20, h. 55, dalam QS. al-Fajr: 22)

Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda

كَانَ اللهُ وَلَمْ يَكُنْ شَيْءٌ غَيْرُهُ

“Allah ada dan tidak ada sesuatu apapun selain Allah.”

Imam Sayyidina Ali bin Abi Thalib berkata “Allah ada dan belum ada tempat dan Dia sekarang (setelah menciptakan tempat) tetap seperti semula ada tanpa tempat”

Syaikh Ibnu Athoilah berkata “Allah ada, dan tidak ada sesuatupun besertaNya. Dia kini adalah tetap sebagaimana adanya”

Jadi jelaslah bahwa Allah Ta’ala ada sebagaimana awalnya dan sebagaimana akhirnya.

Allah Ta’ala ada sebagaimana sebelum diciptakan ciptaanNya, sebagaimana setelah diciptakan ciptaanNya.

Allah Ta’ala ada sebagaimana sebelum diciptakan ‘Arsy , sebagaimana setelah diciptakan ’Arsy

Jadi Allah Ta’ala ada dan tidak berubah !!! , mustahil disifatkan berubah (huduts)

Imam Syafi’i berkata

إنه تعالى كان ولا مكان فخلق الـمكان وهو على صفة الأزلية كما كان قبل خلقه الـمكان لا يجوز عليه التغيِير فى ذاته ولا في صفاته

“Sesungguhnya Allah Ta’ala ada dan tidak ada tempat, maka Dia menciptakan tempat, sementara Dia tetap atas sifat azali-Nya, sebagaimana Dia ada sebelum Dia menciptakan tempat, tidak boleh atas-Nya berubah pada dzat-Nya dan pada sifat-Nya”. (Kitab Ithaf As-Sadati Al-Muttaqin –Jilid 2-halaman 36).

Wassalam

Zon di Jonggol, Kabupaten Bogor 16830

Read Full Post »

Older Posts »