Feeds:
Artikel
Komentar

Posts Tagged ‘ahli fiqih’


Mufti Betawi Sayyid Utsman lebih mendahulukan persatuan dan kesatuan

Kita prihatin beredar di media atau jejaring sosial seperti Facebook berupa meme bahwa mufti Betawi, Sayyid Utsman yang memfatwakan haram hukumnya memberontak kepada Belanda namun mereka belum dapat menujukkan bukti otentik fatwanya.

Bukti otentik fatwa yang biasanya diikuti dengan dalil dari mufti Betawi, Sayyid Utsman SANGAT DIPERLUKAN untuk mengetahui KEADAAN dan PERMASALAHAN (Masail) sebenarnya saat itu dan bagaimana pembahasannya (Bahtsul) berdalilkan Al Qur’an dan Hadits.

Sayyid Utsman adalah salah seorang fuqaha (ahli fiqih) yang memelopori “Islam politik” yakni dalam kehidupannya dan termasuk dunia perpolitikan selalu “memandang Allah dengan hatinya” yakni merujuk kepada Allah dan Rasulullah alias merujuk kepada Al Qur’an dan Hadits.

Boleh jadi Sayyid Utsman berpegang pada prinsip “Di mana bumi dipijak di situ langit dijunjung” artinya walaupun kita tinggal di negeri kaum kuffar termasuk di negeri yang sedang DIJAJAH Belanda tetap kita mentaati aturan dan konstitusi yang diberlakukan demi keamanan dan keadilan dalam dalam kehidupan negara.

Rasulullah bersabda TAATILAH walaupun yang memerintahkan kalian seorang budak dan dahulukanlah menjaga persatuan dan kesatuan daripada memeranginya.

Begitupula Allah Ta’ala berfirman yang artinya, “Allah tidak melarang kamu untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tiada memerangi kamu karena agama dan tidak (pula) mengusir kamu dari negerimu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil“. (Al-Mumtahanah [60]: 8 )

Jadi bolehlah (untuk sementara waktu) MENTAATI penjajah Belanda sejauh mereka TIDAK MEMERANGI karena agama maknanya sejauh mereka membolehkan umat Islam menjalani kewajiban agamanya.

Rasulullah memang melarang “mendatangi pintu penguasa” namun janganlah dipahami dengan makna dzahir yakni larangan bertamu, bersilaturahmi, memenuhi undangan atau bekerjasama dengan penguasa

Pahamilah dalam makna majaz (makna kiasan) atau makna dibalik yang tertulis (tersurat) atau makna yang tersirat.

Jadi larangan “mendatangi” pintu penguasa maknanya adalah larangan untuk “membenarkan” tindakan atau kebijakan penguasa yang bertentangan dengan Al Qur’an dan Hadits.

Begitupula perintah Allah Ta’ala untuk bersikap lemah lembut terhadap sesama muslim dan bersikap KERAS terhadap orang-orang kafir sebaiknya dipahami dalam makna majaz (makna kiasan) yakni TEGAS BERPENDIRIAN.

Jadi Sayyid Utsman “mendatangi” penguasa penjajah Belanda dengan pengetahuan dan penegakkan hukum Islam sehingga Beliau disegani oleh pembesar Belanda dan “ditugaskan” sebagai mufti Betawi.

Contoh TEGAS BERPENDIRIAN Sayyid Utsman sebagaimana yang diceritakan oleh Fathurrochman Karyadi ketika Sayyid Utsman setelah mendapatkan laporan dari masyarakat tentang kegiatan pemotongan babi secara illegal di sebuah sungai di Batavia mendatangi pembesar Belanda dengan meletakkan bintang tanda jasa dari Ratu Belanda di pantatnya sehingga membuat penjaga istana dan para petinggi Belanda pun kalang kabut sebagaimana yang dikisahkan pada https://www.hikmahalawiyah.org/apa-kabar-mahya/habib-utsman-bin-yahya-penjagalan-babi-dan-nasionalisme/

***** awal kutipan *****
Sampai di dalam, Habib Utsman dipersilahkan masuk ke dalam satu ruangan dan diterima pembesar Belanda. Beliau kemudian mencopot bintang tanda jasa yang ada di pantatnya dan diletakkan di meja. Pada kesempatan itu Habib Utsman meminta agar praktek liar pemotongan babi segera dihentikan dan bila tidak, beliau akan membuang bintang kehormatan itu.

Akhirnya Belanda mengikuti kemauan Habib Utsman dan menutup tempat penjagalan Babi di Batavia itu. Kisah itu kata Fathurrochman diceritakan oleh anak Habib Ustman yang ikut serta ke Istana Bogor, yaitu Habib Hasan bin Utsman Bin Yahya.

“Beliau berjihad dengan caranya sendiri. Dengan strategi-strategi yang sangat halus,” tutup Fathurrochman.
***** akhir kutipan *****

Jadi perjuangan atau jihad untuk kemerdekaan tidak selalu melalui angkat sejata namun bisa melalui strategi politik memposisikan diri dapat sejajar dengan pembesar penjajah supaya dapat didengar dan diakui dalam diplomasi politik.

Contoh lain TEGAS BERPENDIRIAN KH Hasyim Asy’ari walau pada akhirnya menerima dengan catatan sebagai Shumubucho, Kepala Jawatan Agama namun Beliau adalah tokoh Islam yang menolak melakukan ritual sakeirei, yaitu penghormatan pada kaisar dengan cara membungkukkan badan menghadap ke arah Tokyo. Sikap penolakan sakeirei ini juga ditunjukkan oleh Haji Rasul, ayah dari Buya Hamka.

Tokoh-tokoh Islam politik yang ikut berjuang untuk kemerdekaan NKRI lebih mendahulukan persatuan dan kesatuan dengan membangun kekuatan ekonomi umat Islam sebagai BENTENG Islam yang KOKOH daripada perjuangan secara seporadis yang dapat menimbulkan korban harta, darah dan nyawa.

Sayyid Utsman adalah salah satu tokoh Islam politik yang mendukung Sarekat Islam (SI) dan Beliau menegaskan bahwa SI sangat berguna bagi umat muslim dan keberadaannya sesuai dengan ajaran Islam.

Sayyid Utsman mempertajam pernyataan itu dengan menghadirkan sejumlah fakta bahwa, dengan keberadaan SI ini, gairah keislaman tampak makin meningkat sebagaimana yang dituangkan dalam tulisan berjudul Sinar Astrallamp (1913).

Perihal ini merupakan bukti Sayyid Utsman dalam mendukung SI dan sekaligus menjamin pihak penjajah, bahwa kehadiran SI jauh dari ancaman yang membahayakan.

Perlu ditegaskan bahwa seiring jabatannya, pandangan Utsman telah mengisi pengetahuan pihak penjajah tentang SI.

Akhirnya, pada 30 Juni 1912, Idenburg mengabulkan permohonan SI dengan memberi dasar hukum resmi atas keberadaan SI (Kaptein 2014) sebagaimana yang diberitakan pada https://beritagar.id/artikel/telatah/kisah-ulama-hadrami-sayyid-utsman-menjadi-teman-belanda

Setelah itu tokoh-tokoh Islam politik sepakat menyatukan organisasi Islam yang telah “lelah” berseteru membentuk Majelis Islam A’la Indonesia (MIAI)

“Kita sekarang bukan hidup pada 25 tahun lalu. Kita sudah bosan, kita sudah payah bermusuh-musuhan. Sedih kita rasakan kalau perbuatan itu timbul daripada ulama, padahal ulama itu semestinya lebih halus budinya, berhati-hati lakunya. Karena ulama itu sudah ditentukan menurut firman Allah: Ulama itu lebih takut kepada Allah. Karena ulama tentunya lebih paham dan lebih mengerti kepada dosa dan bahayanya bermusuh-musuhan.” keluhan KH Mas Mansur, ulama sekaligus mantan ketua Muhammadiyah kala itu sebagaimana yang diberitakan pada http://republika.co.id/berita/kolom/wacana/phtia8385/7-november-1945-islam-politik-dan-lahirnya-partai-masyumi

Bayangkan ketika masa penjajahanpun, tokoh-tokoh Islam politik mampu mempersatukan umat Islam dan salah satunya membangun Bait al-Mal secara besar-besaran untuk orang-orang tak mampu.

Bandingkan dengan penguasa negeri sekarang yang didukung tokoh-tokoh muslim yang mengaku nasionalis namun condong mengikuti paham SEKULERISME untuk menjalankan roda pemerintahan mengedapankan cara memajaki penghasilan rakyat dan bahkan memungut iuran BPJS.

Sedangkan tetangga Brunei Darussalam tidak memajaki penghasilan maupun pertambahan nilai dari rakyatnya dan hanya memajaki badan usaha sebesar 18.5%

Kegiatan MIAI mulai berpengaruh hingga meliputi 35 keresidenan di Jawa, menyaingi Biro Urusan Agama yang menjadi organ resmi Jepang untuk pengendalian Islam di daerah.

Wondoamiseno, ketua MIAI yang juga tokoh Sarekat Islam, mengharapkan bahwa Bait al-Mal, “… haruslah mencapai setiap desa, setiap kampung, sampai lembah-lembah pegunungan, dan menciptakan jiwa kesatuan… dan menjadi BENTENG Islam yang KOKOH…. Kita akan mempergunakan (kantor-kantor bendahara) tersebut untuk membangun pagar pelindung di sekeliling Islam di desa-desa, terhadap mata-mata sekutu…. Marilah kita semua, para pejabat pemerintah, penghulu, ulama, kiai, membentuk suatu keluarga besar sebagaimana diperintahkan Allah….”

Di mata Jepang, perkembangan Bait al-Mal ini bergerak tanpa restu Shumubu dan menjadi ancaman kebijakan Islam oleh Jepang di Indonesia.

Menurut Harry J Benda, MIAI tampaknya ingin membangun sebuah jaringan sel-sel Islam di Indonesia tanpa restu Jepang. Bagi Jepang, MIAI dipimpin sebagian tokoh PSII yang ingin melepaskan dari pengaruh Jepang.

Jepang pun memandang tokoh-tokoh PSII sebagai RADIKAL. MIAI pernah menentang berbagai kebijakan Belanda, salah satunya UU Perkawinan.

Jepang menganggap perasaan anti-Belanda MIAI dapat berpotensi menjadi antiasing (termasuk) Jepang.

Rezim Jepang tak ingin mengambil risiko. Pada 24 Oktober 1943 Jepang membubarkan MIAI.

Jadi kesimpulannya sejak zaman penjajahan anggapan atau tuduhan RADIKALISME disematkan kepada gerakan tokoh Islam politik yang ingin menjalankan kehidupannya termasuk kehidupan berpolitik dan kebijakan yang merujuk kepada Al Qur’an dan Hadits.

Orang-orang yang mengaku muslim namun berbeda pendapat dengan tokoh-tokoh Islam Politik adalah mereka yang condong mengikuti paham SPILIS yakni SEKULERISME, PLURALUSME dan LIBERALISME.

Dalam fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI) No: 7/MUNAS VII/MUI/II/2005 tentang KESESATAN paham Liberalisme, Sekularisme dan Pluralisme dimuat DEFINISI SEKULERISME AGAMA adalah MEMISAHKAN urusan dunia dari agama; agama hanya digunakan untuk mengatur hubungan pribadi dengan Tuhan, sedangkan hubungan sesama manusia diatur hanya dengan berdasarkan kesepakatan sosial.

Jadi ketika urusan dunia (hubungan sesama manusia) termasuk dunia perpolitikan mereka yang mengaku muslim tidak mau “memandang Allah dengan hatinya” atau “berpaling” dari Allah dan mengikuti hawa nafsu mereka yakni tidak mau merujuk kepada Allah dan Rasulullah alias tidak mau merujuk kepada Al Qur’an dan Hadits.

Begitupula kita wajib berprasangka baik kepada sesama muslim dan apalagi Sayyid Utsman adalah seorang fuqaha (ahli fiqih) dari keturunan cucu Rasulullah.

Orang-orang yang mengaku muslim (oknum muslim) namun menggiring opini dan memanipulasi persepsi publik dengan sifat buruk terhadap para ulama dari kalangan cucu Rasulullah akan terjerumus munafik karena bertentangan dengan ucapan sholawat mereka bagi ahlul bait Rasulullah ketika mereka sholat.

Imam Syafi’i bersyair, “Wahai Ahlul-Bait Rasulullah, mencintai kalian adalah kewajiban dari Allah diturunkan dalam al-Quran cukuplah bukti betapa tinggi martabat kalian tiada sholat tanpa shalawat bagi kalian.”

Imam at Tirmidzi dan Imam ath Thabrani meriwayatkan sebuah hadits dari Ibnu Abbas ra., ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda, “Cintailah Allah agar kalian memperoleh sebagian nikmat-Nya, cintailah aku agar kalian memperoleh cinta Allah, dan cintailah keluargaku (ahlul baitku) agar kalian memperoleh cintaku.”

Wassalam

Zon di Jonggol, Kabupaten Bogor 16830

Read Full Post »

Older Posts »