Feeds:
Pos
Komentar

Posts Tagged ‘ahli kubur’

Mengapa ada yang bersikukuh BERTAWASSUL dengan AMAL KEBAIKAN seperti sedekah (hadiah) bacaan Al Qur’an di sisi kuburan

Dalam tulisan sebelumnya telah disampaikan bahwa TIDAK TERLARANG atau BOLEH umat Islam di sisi kuburan berdoa kepada Allah dengan MENJAGA ADAB dalam BERDOA yakni MENGAWALINYA BERTAWASSUL dengan AMAL KEBAIKAN seperti mengucapkan salam kepada ahli kubur atau sedekah (hadiah) bacaan Al Qur’an seperti surat Al Fatihah atau surat lainnya SEBELUM DOA INTI dipanjatkan kepada Allah Ta’ala untuk ahli kubur atau kepentingan sendiri seperti dimudahkan usahanya atau hajat lainnya sebagaimana yang telah disampaikan pada https://mutiarazuhud.wordpress.com/2020/05/02/melarang-baca-al-quran/

Lalu ada yang bertanya, mengapa BERTAWASSUL dengan AMAL KEBAIKAN seperti sedekah (hadiah) bacaan Al Qur’an, bahkan berhari-hari di sisi kuburan, bukankah dapat dilakukan di mana saja?

Tentu berdoa kepada Allah dengan MENJAGA ADAB dalam BERDOA yakni MENGAWALINYA BERTAWASSUL dengan AMAL KEBAIKAN seperti sedekah (hadiah) bacaan Al Qur’an seperti surat Al Fatihah atau surat lainnya kepada ahli kubur seperti para kekasih Allah (wali Allah) yang telah wafat SEBELUM DOA INTI dipanjatkan kepada Allah BOLEH dilakukan di mana saja, TIDAK HARUS di sisi kuburan mereka.

Ada beberapa alasan mereka yang BERTAWASSUL dengan AMAL KEBAIKAN seperti sedekah (hadiah) bacaan Al Qur’an kepada ahli kubur seperti para kekasih Allah (wali Allah) yang telah wafat dilakukan di sisi kuburan..

Salah satunya mereka mengaitkannya dengan pahala bacaan untuk ahli kubur dan salah satu syarat dari tiga syaratnya adalah pembacaannya di hadapan ahli kubur secara fisik yakni di sisi kuburan

Begitupula qaul masyhur Imam Syafi’i bahwa “bacaan Al Qur’an tidak sampai kepada yang wafat” adalah karena tidak terpenuhi salah satu syarat dari tiga syarat sebagaimana penjelasan dari para ulama mazhab Syafi’i sebagai berikut,

Syaikhul Islam al-Imam Zakariyya al-Anshari dalam Fathul Wahab menyampaikan penjelasan dari Imam An Nawawi :

“Dan apa yang dikatakan sebagai qaul masyhur dibawa atas pengertian apabila pembacaannya tidak di hadapan mayyit, tidak meniatkan pahala bacaannya untuknya atau meniatkannya, dan tidak mendo’akannya bahkan Imam as-Subkiy berkata ; “yang menunjukkan atas hal itu (sampainya pahala) adalah hadits berdasarkan istinbath bahwa sebagian al-Qur’an apabila diqashadkan (ditujukan) dengan bacaannya akan bermanfaat bagi mayyit dan diantara yang demikian, sungguh telah di tuturkannya didalam syarah ar-Raudlah”. (Fathul Wahab bisyarhi Minhajit Thullab lil-Imam Zakariyya al-Anshari asy-Syafi’i [2/23]).

Syaikhul Islam al-Imam Ibnu Hajar al-Haitami dalam Tuhfatul Muhtaj :

“Sesungguhnya pendapat masyhur adalah diatas pengertian apabila pembacaan bukan dihadapan mayyit (hadlirnya mayyit), pembacanya tidak meniatkan pahala bacaannya untuk mayyit atau meniatkannya, dan tidak mendo’akannya untuk mayyit” (Tuhfatul Muhtaj fiy Syarhi al-Minhaj lil-Imam Ibn Hajar al-Haitami [7/74].)

Jadi kesimpulannya Al Imam Syafi’i ~rahimahullah mensyaratkan sampai pahala bacaan jika memenuhi salah satu dari syarat-syarat berikut

1. Pembacaan dihadapan mayyit (hadlirnya mayyit),
2. Pembacanya meniatkan pahala bacaannya untuk mayyit
3. Pembacanya mendo’akannya untuk mayyit.

Berkata Muhammad bin ahmad almarwazi : “ Saya mendengar Imam Ahmad bin Hanbal berkata : “Jika kamu masuk ke pekuburan, maka bacalah Fatihatul kitab, al-ikhlas, al falaq dan an-nas dan jadikanlah pahalanya untuk para penghuni kubur, maka sesungguhnya pahala itu sampai kepada mereka. Tapi yang lebih baik adalah agar sipembaca itu berdoa sesudah selesai dengan: “ Ya Allah, sampaikanlah pahala ayat yang telah aku baca ini kepada si fulan …” (Hujjatu Ahlis sunnah waljamaah hal. 15)

Namun pada hakikatnya BERTAWASSUL dengan AMAL KEBAIKAN seperti sedekah (hadiah) bacaan Al Qur’an TIDAK TERKAIT dengan PAHALA BACAAN untuk ahli kubur.

Untuk apa pahala bacaan Al Qur’an seperti Al Fatihah bagi ahli kubur para kekasih Allah (Wali Allah)?

Apalagi membaca atau memperdengarkan bacaan Al Qur’an berhari-hari di sisi kuburan ahli kubur para pendosa, justru dapat menjadi penyesalan bagi mereka.

Berapa banyak pahala bacaan Al Qur’an yang harus dikirimkan kepada ahli kubur para pendosa sehingga timbangannya lebih berat pahala daripada dosanya?

Begitupula pada hakikatnya kita masuk surga bukan karena pahala semata yang kita hadapkan kepada Allah namun karena keridhoan Allah Ta’ala.

Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda dalam sebuah hadits, “Lan yadhula ahadukumul jannata bi ‘amalihi”. Seseorang tidak akan masuk surga karena amalnya semata-mata. Kemudian salah seorang bertanya, “Wa laa anta yaa Rasuulallaahi?” Tidak pula engkau ya Rasulullah? Lalu Nabi shallallahu alaihi wasallam menjawab, “Wa laa anaa illa an yataghamada niiyallaahu bi rahmatih” Tidak juga aku, melainkan Allah mengkaruniai aku dengan rahmat-Nya

Jadi ada kemungkinan karena menjaga adab dalam berdoa kepada Allah dengan mengawalinya BERTAWASSUL dengan AMAL KEBAIKAN seperti sedekah (hadiah) bacaan Al Qur’an seperti dengan Al Fatihah untuk ahli kubur SEBELUM DOA INTI dipanjatkan kepada Allah Ta’ala untuk ahli kubur LEBIH MUSTAJAB sehingga meraih ridho Allah Ta’ala dan mengampuni dosa-dosa ahli kubur.

Sunnah Rasulullah agar doa inti yang kita panjatkan kepada Allah lebih mustajab maka kita disunnahkan diawali bertawasul dengan amal kebaikan berupa memuji Allah Subhanahu wa Ta’ala dan bertawasul dengan amal kebaikan berupa sholawat (menghadiahkan doa selamat bagi Rasulullah) sebelum doa inti kita panjatkan kepada Allah Azza wa Jalla

Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda “Jika salah seorang di antara kalian berdoa maka hendaknya dia memulainya dengan memuji dan menyanjung Allah, kemudian dia bershalawat kepada Nabi -shallallahu alaihi wasallam-, kemudian setelah itu baru dia berdoa sesukanya.” (HR Ahmad, Abu Dawud dan dishahihkan oleh At Tirmidzi)

Anas bin Malik r.a meriwayatkan bahwa Nabi Muhammad shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Tiada doa kecuali terdapat hijab di antaranya dengan di antara langit, hingga bershalawat atas Nabi shallallahu alaihi wasallam, maka apabila dibacakan shalawat Nabi, terbukalah hijab dan diterimalah doa tersebut, namun jika tidak demikian, kembalilah doa itu kepada pemohonnya“.

KH. Maimoen Zubair berwasiat tentang pentingnya wasilah (Tawassul). Beliau mengingatkan bahwa, “yang termasuk orang yang tidak punya adab terhadap Allah Subhanahu wa Ta’ala itu nak, orang yang selalu berdo’a langsung minta yang diinginkan tanpa memuji Allah dahulu, tanpa wasilah menggunakan salah satu Asma’ul Husnahnya Allah tanpa wasilah kepada baginda Nabi Muhammad shallallahu alaihi wasallam dahulu, sukanya langsung minta apa yang di inginkan”.

Begitupula kita bersholawat (doa keselamatan) kepada Rasulullah bukan berarti Rasulullah membutuhkan sholawat (doa keselamatan) dari umatnya.

Namun pada hakikatnya sholawat ADALAH amal kebaikan untuk sarana (wasilah) bersilaturahmi dengan Rasulullah.

Dengan kita bersholawat maka kita mendapatkan balasan salam atau doa keselamatan dari Rasulullah dengan maqamnya (manzilah, kedudukan, derajat) di sisi Allah.

Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam bersabda: “Tidaklah seseorang mengucapkan salam kepadaku kecuali Allah mengembalikan ruhku kepadaku sehingga aku membalas salam.(HR. An-Nasa’i Al-Hakim 2/421)

Contoh lain dalam susunan doa setelah sholat, sebelum doa inti kita panjatkan kepada Allah Ta’ala, kita menjaga ADAB dalam BERDOA diawali bertawasul dengan amal kebaikan yakni memohonkan ampunan kepada PENDUDUK LANGIT (kaum mukmin yang telah wafat)

“Astaghfirullahalazim li wali waa lidaiya wali jami il muslimina wal muslimat wal mukminina wal mukminat al ahya immin hum wal amwat”

“Ampunilah aku ya Allah yang Maha Besar, kedua ibu bapaku, semua muslimin dan muslimat, mukminin dan mukminat yang masih hidup dan yang telah mati.”

Sebaliknya PENDUDUK LANGIT yakni para kekasih Allah (Wali Allah) yang telah wafat, jika mereka menginginkan dapat mendoakan kepada Allah Ta’ala bagi penduduk dunia yang menjalin tali silaturahmi dengan mereka

Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda, “Hidupku lebih baik buat kalian dan matiku lebih baik buat kalian. Kalian bercakap-cakap dan mendengarkan percakapan. Amal perbuatan kalian disampaikan kepadaku. Jika aku menemukan kebaikan maka aku memuji Allah. Namun jika menemukan keburukan aku memohonkan ampunan kepada Allah buat kalian.” (Hadits ini diriwayatkan oelh Al Hafidh Isma’il al Qaadli pada Juz’u al Shalaati ‘ala al Nabiyi Shallalahu alaihi wasallam. Al Haitsami menyebutkannya dalam Majma’u al Zawaaid dan mengkategorikannya sebagai hadits shahih)

Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda, “Sesungguhnya perbuatan kalian diperlihatkan kepada karib-kerabat dan keluarga kalian yang telah meninggal dunia. Jika perbuatan kalian baik, maka mereka mendapatkan kabar gembira, namun jika selain daripada itu, maka mereka berkata: “Ya Allah, janganlah engkau matikan mereka sampai Engkau memberikan hidayah kepada mereka seperti engkau memberikan hidayah kepada kami.” (HR. Ahmad dalam musnadnya).

Jadi jika seseorang melakukan ziarah kubur dalam rangka silaturahmi dan berbicara hajatnya dengan ahli kubur bukan berarti ahli kubur yang mengabulkan atau mewujudkan hajat pemohon melainkan ahli kubur dengan maqamnya (manzilah, kedudukan, derajat) disisi Allah mendoakan hajat pemohon kepada Allah Azza wa Jalla.

Rasulullah bersabda bahwa ahli kubur dapat mendengar namun mereka tidak dapat menjawab secara langsung.

Dari Tsabit Al Bunani dari Anas bin Malik Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam meninggalkan jenazah perang Badar tiga kali, setelah itu beliau mendatangi mereka, beliau berdiri dan memanggil-manggil mereka, beliau bersabda: Hai Abu Jahal bin Hisyam, hai Umaiyah bin Khalaf, hai Utbah bin Rabi’ah, hai Syaibah bin Rabi’ah, bukankah kalian telah menemukan kebenaran janji Rabb kalian, sesungguhnya aku telah menemukan kebenaran janji Rabbku yang dijanjikan padaku. Umar mendengar ucapan nabi Shallallahu ‘alaihi wa Salam, ia berkata: Wahai Rasulullah, bagaimana mereka mendengar dan bagaimana mereka menjawab, mereka telah menjadi bangkai? Beliau bersabda: Demi Dzat yang jiwaku berada ditanganNya, kalian tidak lebih mendengar ucapanku melebihi mereka, hanya saja mereka tidak bisa menjawab (secara langsung) (HR Muslim 5121)

Rasulullah bersabda, “Tidak seorangpun yang mengunjungi kuburan saudaranya dan duduk kepadanya (untuk mendoakannya) kecuali dia merasa bahagia dan menemaninya hingga dia berdiri meninggalkan kuburan itu.” (HR. Ibnu Abu Dunya dari Aisyah dalam kitab Al-Qubûr).

Rasulullah bersabda, “Tidak seorang pun melewati kuburan saudaranya yang mukmin yang dia kenal selama hidup di dunia, lalu orang yang lewat itu mengucapkan salam untuknya, kecuali dia mengetahuinya dan menjawab salamnya itu.” (Hadis Shahih riwayat Ibnu Abdul Bar dari Ibnu Abbas di dalam kitab Al-Istidzkar dan At-Tamhid)

Jadi BERTAWASSUL dengan AMAL KEBAIKAN seperti sedekah (hadiah) bacaan Al Qur’an untuk ahli kubur adalah ADAB BERDOA sebelum doa inti dipanjatkan kepada Allah untuk ahli kubur atau kepentingan sendiri dapat dipergunakan sebagai sarana bersilaturahmi dengan ahli kubur dan dapat dilakukan di mana saja.

Begitupula alasan lain mereka yang BERTAWASSUL dengan AMAL KEBAIKAN seperti sedekah (hadiah) bacaan Al Qur’an untuk ahli kubur dilakukan di sisi kuburannya karena mereka menginginkan “mendatangi” atau bersilaturahmi dengan ahli kubur seperti para kekasih Allah (wali Allah) yang telah wafat secara fisik.

Imam Ahmad dengan sanad yang baik (hasan) menceritakan dari Al-Mutthalib bin Abdillah bin Hanthab, dia berkata : “Marwan bin al-Hakam sedang menghadap ke arah makam Rasulullah -shallallahu alayhi wa sallam-, tiba-tiba ia melihat seseorang sedang merangkul makam Rasulullah. Kemudian ia memegang kepala orang itu dan berkata: ‘Apakah kau tahu apa yang kau lakukan?’. Orang tersebut menghadapkan wajahnya kepada Marwan dan berkata: ‘Ya saya tahu! Saya tidak datang ke sini untuk batu dan bata ini. Tetapi saya datang untuk sowan (silaturahmi) kepada Rasulullah -shallallahu alaihi wa sallam-’. Orang itu ternyata Abu Ayyub Al-Anshari -radliyallahu anhu-. (Diriwayatkan Imam Ahmad, 5;422 dan Al-Hakim, 4;560)

Bahkan Imam Malik membenci perkataan “menziarahi kubur Rasulullah” dan Beliau lebih menyukai mengatakannya seperti dengan “mendatangi Rasullah” karena Imam Malik meyakini bahwa Rasulullah dan kaum muslim yang telah meraih maqamat (kedudukan atau derajat) dekat dengan Allah seperti para Wali Allah (kekasih Allah) atau para Shiddiqin maupun Sholihin walaupun mereka telah wafat, tetap hidup seperti para syuhada

Imam Malik adalah orang yang sangat menghormati dan memuliakan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, sampai-sampai ia enggan naik kendaraan di kota Madinah karena menyadari bahwa tubuh Rasulullah shallallahu alaihi wasallam dikubur di tanah Madinah, sebagaimana ia nyatakan, “Aku malu kepada Allah Ta’ala untuk menginjak tanah yang di dalamnya ada Rasulullah shallallahu alaihi wasallam. dengan kaki hewan (kendaraan-red)” (lihat Syarh Fath al-Qadir, Muhammad bin Abdul Wahid As-Saywasi, wafat 681 H., Darul Fikr, Beirut, juz 3, hal. 180).

Jadi adalah fitnah bagi orang-orang yang menyandarkan perkataan kepada Imam Malik bahwa Beliau membenci atau melarang ziarah kubur Rasulullah

Imam Ibnu Hajar al-Asqallani, di dalam kitab Fathul-Bari juz 3 hal. 66, menjelaskan, bahwa Imam Malik membenci ucapan “aku menziarahi kubur Nabi shallallahu alaihi wasallam.” adalah karena semata-mata dari sisi adab, bukan karena membenci amalan ziarah kuburnya. Hal tersebut dijelaskan oleh para muhaqqiq (ulama khusus) mazhabnya. Dan ziarah kubur Rasulullah shallallahu alaihi wasallam adalah termasuk amalan yang paling afdhal dan pensyari’atannya jelas, dan hal itu merupakan ijma’ para ulama.

Begitupula mendatangi Rasulullah selain menziarahi kuburan Beliau bagi yang mampu adalah bertawassul dengan bersholawat kepadanya sehingga kita dikenal oleh Rasulullah

Hujjatul Islam Al Ghazali meriwayatkan

***** awal kutipan *****
Ada seorang laki-laki yang lupa membaca shalawat kepada Rasulullah shallallahu alaihi wasallam.

Lalu pada suatu malam ia bermimpi melihat Rasulullah tidak mau menoleh kepadanya, dia bertanya, “Ya Rasulullah, apakah engkau marah kepadaku?”

Beliau menjawab, “Tidak.”

Dia bertanya lagi, “Lalu sebab apakah engkau tidak memandang kepadaku?”

Beliau menjawab, “Karena aku tidak mengenalmu.”

Laki-laki itu bertanya, “Bagaimana engkau tidak mengenaliku, sedang aku adalah salah satu dari umatmu? Para ulama meriwayatkan bahwa sesungguhnya engkau lebih mengenali umatmu dibanding seorang ibu mengenali anaknya?”

Rasulullah shallallahu alaihi wasallam menjawab, “Mereka benar, tetapi engkau tidak pernah mengingat aku dengan shalawat. Padahal kenalku dengan umatku adalah menurut kadar bacaan shalawat mereka kepadaku.”

Terbangunlah laki-laki itu dan mengharuskan dirinya untuk bershalawat kepada Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, setiap hari 100 kali.

Dia selalu melakukan itu, hingga dia melihat Rasululah lagi dalam mimpinya.

Dalam mimpinya tersebut Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda, “Sekarang aku mengenalmu dan akan memberi syafa’at kepadamu.” Yakni karena orang tersebut telah menjadi orang yang cinta kepada Rasulullah dengan memperbanyak shalawat kepada Beliau…
***** akhir kutipan *****

Jadi mendatangi Rasulullah dengan bersholawat kepadanya dapat dilakukan di mana saja.

Berikut contoh riwayat yang menegur seseorang yang bersusah payah mendatangi Rasulullah.

Dari Ali bin Al Husain Radhiallahu’anhu menuturkan, bahwa ia melihat seseorang masuk kedalam celah-celah yang ada pada kuburan Rasulullah, kemudian berdo’a, maka ia pun melarangnya seraya berkata kepadanya :
“Maukah kamu aku beritahu sebuah hadits yang aku dengar dari bapakku dari kakekku dari Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam, beliau bersabda:

“لا تتخذوا قبري عيدا، ولا بيوتكم قبورا، وصلوا علي فإن تسليمكم يبلغني حيث كنتم”

“Janganlah kalian jadikan kuburanku sebagai ied, dan janganlah kalian jadikan rumah-rumah kalian sebagai kuburan, dan ucapkanlah doa salam untukku, karena doa salam kalian akan sampai kepadaku dari mana saja kalian berada” (diriwayatkan dalam kitab Al Mukhtarah).”

Begitupula terkait sabda Rasulullah “janganlah kalian jadikan kuburanku sebagai ‘ied”, berikut kutipan tulisan salah satu ulama panutan mereka yang dipanggil sebagai ustadz Firanda yang mengutip dan dikatakan sebagai perkataan atau pendapat Imam Suyuthi sebagaimana yang dipublikasikan pada http://www.firanda.com/index.php/artikel/bantahan/324-ulama-syafi-iyah-mengingkari-bid-ah

Berikut kutipannya,

***** awal kutipan *****
Berdoa dan beribadah di kuburan para Nabi dan orang-orang sholeh. As-Suyuthi berkata :

“Diantara tempat-tempat tersebut adalah tempat-tempat yang memiliki kekhususan, akan tetapi hal ini tidak melazimkan untuk menjadikan tempat-tempat tersebut sebagai ‘ied, dan juga tidak melazimkan untuk sholat di sisinya atau ibadah-ibadah yang lainnya, seperti doa di sisinya. Diantara tempat-tempat tersebut adalah kuburan para nabi dan kuburan orang-orang sholeh” (Al-Amru bil ittibaa’ hal 125)

“Sisi pendalilannya adalah, bahwasanya kuburan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah kuburan yang paling mulia di atas muka bumi. Dan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah melarang untuk menjadikan kuburan tersebut sebagai ‘ied yaitu yang didatangi berulang-ulang, maka kuburan selain beliau –siapapun juga dia- lebih utama untuk dilarang.
***** akhir kutipan *****

Kutipan perkataan atau pendapat tersebut mereka katakan berasal dari kitab berjudul al-Amr bil-Ittiba’ wan Nahyu ‘anil Ibtida’ (Anjuran mengikuti Nabi dan larangan berbuat bid’ah) karya Imam Suyuthi namun kami belum menemukan judul kitab tersebut dari 36 judul kitab karya Beliau sebagaimana yang tercantum pada http://id.wikipedia.org/wiki/Jalaluddin_as-Suyuthi

Kemungkinan yang dimaksud terlarang oleh Imam Suyuthi adalah berdoa kepada Allah di sisi kuburan yang tidak lazim atau tidak dikenal sebagai kekasih Allah (wali Allah).

Hal yang menarik, dalam kitab yang sama pada bahasan “Macam-Macam Bid’ah”, apakah mereka dapat “menerima” pendapat atau perkataan Imam As-Suyuthi yang menjelaskan bahwa bid’ah terbagi menjadi 2 yaitu bid’ah yang baik dan bid’ah yang buruk dan mengutip pernyataan Imam As-Syafi’i rahimahullah sebagaimana yang telah disampaikan pada http://www.muslimedianews.com/2015/01/kitab-haqiqatus-sunnah-wal-bidah.html

Para fuqaha (ahli fiqih) mengingatkan bahwa perkara larangan yang jika dikerjakan berdosa maupun perkara yang disyariatkan dan merupakan suatu kewajiban yang jika ditinggalkan berdosa haruslah berdasarkan dalil yang jelas (qathi).

Kalau dikatakan sabda Rasulullah , “janganlah kalian jadikan kuburanku sebagai ‘ied” adalah larangan untuk sering (berulang-ulang) atau banyak mendatangi Rasulullah (menziarahi makam Rasulullah) maka tidak jelas batasannya.

Berapakah batasan yang termasuk atau dikatakan sering (berulang-ulang) atau batasan banyak ?

Apakah lebih dari satu, dua, tiga kali atau berapa kali ?

Sedangkan terhadap para Syuhada, Rasulullah mencontohkan menziarahi mereka sekali setahun.

“Adalah Rasulullah shallallahu alaihi wasallam berziarah ke makam syuhada’ Uhud pada setiap tahun. Dan ketika Beliau sampai di lereng gunung Uhud beliau mengucapkan dengan suara keras “semoga kesejahteraan dilimpahkan kepada kamu berkat kesabaranmu, maka alngkah baiknya tempat kesudahan”. Kemudian Abu Bakar, Umar bin Khatthab dan Utsman bin ‘Affan juga melakukan seperti tindakan Nabi tersebut”.

Tentulah Rasulullah yang lebih mulia daripada para Syuhada tidak terlarang atau boleh untuk didatangi (diziarahi kuburannya) lebih dari sekali dalam setahun.

Para ulama menjelaskan bahwa sabda Rasulullah “janganlah kalian jadikan kuburanku sebagai ‘ied” bukanlah larangan sering mendatangi Rasulullah (menziarahi kuburan Rasulullah) namun sebaliknya yakni anjuran untuk memperbanyak mendatangi Rasulullah (menziarahi kuburan Rasulullah) karena makna sebenarnya “janganlah kalian jadikan kuburanku sebagai ‘ied” bukan dalam makna dzahir namun dalam makna majaz (makna kiasan atau metaforis) yakni “janganlah kalian mendatangiku (menziarahiku) sekali atau dua kali dalam setahun seperti ‘ied”

Al-Qadli bin ‘Iyyadl dan Ibnu Hajar mengatakan, sebagaimana dikutip oleh al-Khafaji didalam kitab Nasimur Riyadl (3/502), maksudnya adalah janganlah kalian menjadikannya sebagai ‘Ied didalam setahun hanya sekali, tetapi berbanyaklah menziarahinya (mendatanginya)

Syaikh Zakiyuddin al-Mundziri berkata: kemungkinan pengertian yang dikehendaki dari hal tersebut adalah dorongan memperbanyak menziarahi Nabi shallallahu alaihi wasallam, tidak melalaikan hingga tidak diziarahi kecuali pada sebagian waktu seperti hari raya (‘Ied), dimana hari raya tidak datang didalam 1 tahun kecuali dua kali.

Jadi wujud dari mencintai Rasulullah dengan bersilaturahmi mendatangi Rasulullah sehingga dikenal oleh Rasulullah selain menziarahi kuburannya adalah dengan memperbanyak shalawat kepada Beliau.

Al Habib Umar bin Hafidz menasehatkan bahwa “tanda kerinduan kepada Rasulullah shallallahu alaihi wasallam yang sungguh-sungguh di dalam diri seseorang akan menjadikannya benar-benar mengikuti Rasulullah dan banyak bersholawat padanya”

Jadi amat merugilah bagi mereka yang mengaku mencintai Rasulullah namun bersholawat hanya pada saat sholat wajib maupun sholat sunnah saja.

Rasulullah bersabda “Seseorang akan bersama dengan orang yang dicintainya (pada hari kiamat)”. (HR Bukhari 5702)

Dari Ibnu Mas’ud ra. bahwasanya Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda : ”Orang yang paling dekat denganku nanti pada hari kiamat, adalah mereka yang paling banyak membaca shalawat untukku” (HR. Turmudzi)

Ubayy bin Ka’ab Al-Anshary ra bertanya, “Ya Rasulullah, aku senantiasa membaca shalawat untukmu. Sebaiknya, berapa banyak lagi aku membaca shalawat untukmu? Nabi menjawab, “Terserah kamu.” Ubay bertanya lagi, “Bagaimana kalau seperempat waktu dari setiap hariku?” Nabi menjawab, “Terserah. Jika kamu tambah, itu lebih baik.” Ubay melanjutkan bertanya, “Sepertiga?” Nabi lagi-lagi menjawab, “Terserah. Jika kamu tambah, itu lebih baik.” Ubay kembali bertanya, “Setengah?” Nabi menjawab, “Sesukamu, jika ditambah akan lebih baik.” Ubay bertanya lagi, “Bagaimana jika kutambah dua pertiga?” Nabi menjawab, “Terserah. Jika kamu tambah lebih baik.” Ubay melanjutkan, “Ya Rasulullah, akan kugunakan seluruh hariku untuk bershalawat kepadamu.” Nabi menjawab, “Kalau begitu, keinginanmu akan dicukupi dan dosamu akan diampuni Allah Subhanau wa Ta’ala.”

Rasulullah merindukan, mencintai dan mengenal umatnya walaupun belum bertemu karena tidak hidup pada zaman Salafush Sholeh namun banyak bersholawat.

Abu Ubaidah bin Jarrah ra bertanya kepada Rasulullah, “Wahai Rasulullah shallallahu alaihi wasallam adakah orang yang lebih baik dari kami? Kami memeluk Islam dan berjihad bersama Engkau”.

Beliau shallallahu alaihi wasallam menjawab “Ya ada, yaitu kaum yang akan datang setelah kalian, yang beriman kepadaku padahal mereka tidak melihatku”. (Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Ahmad dalam Musnad Ahmad juz 4 hal 106 hadis no 17017. Hadits ini juga diriwayatkan oleh Ad Darimi dalam Sunan Ad Darimi juz 2 hal 398 hadis no 2744 dengan sanad yang shahih.)

Rasulullah merindukan, mencintai dan mengenal umat Islam pada umumnya dan seperti di Indonesia karena banyak bersholawat

Berikut kutipan ceramah Syaikh KH. Muhyiddin Abdul Qadir al-Manafi

******* awal kutipan *******
Tatkala salah satu guru Prof. DR. al-Muhaddits as-Sayyid Muhammad bin Alawi al-Maliki dan Al-‘Allamah al-‘Arif billah Syaikh Utsman bersama rombongan ulama lainnya pergi berziarah ke Makam Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, tiba-tiba beliau diberikan kasyaf (tersingkapnya hijab) oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala. dapat berjumpa dengan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam.

Di belakang Nabi Muhammad shallallahu alaihi wasallam sangat banyak orang yang berkerumunan. Ketika ditanya oleh guru as-Sayyid Muhammad al-Maliki itu: “Ya Rasulullah, siapakah orang-orang itu?”

Rasulullah shallallahu alaihi wasallam pun menjawab: “Mereka adalah umatku yang sangat aku cintai.”

Dan diantara sekumpulan orang yang banyak itu ada sebagian kelompok yang sangat banyak jumlahnya. Lalu guru as-Sayyid Muhammad al-Maliki bertanya lagi: “Ya Rasulullah, siapakah mereka yang berkelompok sangat banyak itu?”

Rasulullah shallallahu alaihi wasallam kemudian menjawab: “Mereka adalah bangsa Indonesia yang sangat banyak mencintaiku dan aku mencintai mereka.”

Akhirnya, guru as-Sayyid Muhammad al-Maliki itu menangis terharu dan terkejut. Lalu beliau keluar dan bertanya kepada jama’ah: “Mana orang Indonesia? Aku sangat cinta kepada Indonesia.”
****** akhir kutipan ******

Wassalam

Zon di Jonggol, Kabupaten Bogor 16830

Read Full Post »

Older Posts »