Feeds:
Pos
Komentar

Posts Tagged ‘ala benny moerdani’

isu obor rakyat

Dua buah tulisan terkait isu obor rakyat

Berikut dua buah tulisan terkait isu obor rakyat yang kebenarannya perlu ditelusuri lebih lanjut karena identitas penulis belum dapat diketahui. Jadi kedua tulisan berikut anggap saja sebagai bacaan belum menjadi fakta

Tulisan pertama bersumber dari http://muslimina.blogspot.com/2014/06/obor-rakyat-politik-dizolimi-ala-jokowi.html atau arsipnya pada http://www.scribd.com/document/397756114/Apakah-Obor-Rakyat-Termasuk-Play-Victim

****** awal kutipan ******
Oleh : Berric Dondarrion

Berkat kesaksian Gun Gun Heriyanto, dosen ilmu komunikasi Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah yang mengaku pernah diminta sumbangan artikel untuk Tabloid Obor Rakyat, akhirnya pengelola dan kolumnis Obor rakyat yang menghebohkan itu diketahui bernama Darmawan Sepriyossa dan Setiyardi Boediono, Komisaris PTPN XIII, keduanya mantan jurnalis Majalah Tempo.

Skak mat bagi kubu Prabowo-Hatta?

Tidak juga karena sudah diketahui bahwa Jokowi-JK memiliki hobi melakukan Politik Dizolimi alias Play Victim maka dapat dipastikan Obor Rakyat juga adalah bagian taktik “menyakiti diri sendiri dan kemudian menyalahkan orang lain sebagai pelakunya” yang secara konsisten dimainkan oleh Jokowi selama dua tahun terakhir.

Awalnya terbersit Obor Rakyat memang diterbitkan oleh kubu Prabowo-Hatta, dan bila demikian maka mereka bodoh. Tapi bila dipikir sekali lagi, proses terbukanya identitas di balik pengelola Obor Rakyat sangat mencurigakan bukan?

Bila Obor Rakyat memang dimaksudkan sebagai kampanye hitam, lantas untuk apa Darmawan Sepriyossa menghubungi Gun Gun Heriyanto untuk meminta artikel dan menayangkan artikel tersebut di tabloid yang notabene menjadi heboh karena dorongan kubu Jokowi-JK sendiri.

Tindakan Darmawan Sepriyossa tersebut jelas menimbulkan remah-remah roti besar yang mengarah ke dirinya dan selanjutnya dia menunjuk hidung Setiyardi sebagai pengelolanya. Eureka! Main Politik Dizolimi lagi si Jokowi…dasar..

Kasus ini 100% identik kasus babinsa bukan?

Ketika itu SBY dengan emosi mengungkap bahwa ada oknum TNI/Polri aktif yang seharusnya netral tapi malah mendukung salah satu pasangan capres dengan alasan mencari sekoci penyelamat.

Setelah itu kubu Jokowi-JK melempar isu babinsa memihak Prabowo-Hatta tapi sekarang malah terbukti bahwa TNI, Polri dan BIN mendukung mereka dengan aktif menjegal lawan; dan lebih parahnya Trimedya Pandjaitan, timses Jokowi-JK malah ketangkap basah bertemu Komjend Budi Gunawan dan Komisaris KPU Hadar Hafis Gumay dengan tujuan antara lain memberikan soal contekan kepada Jokowi-JK untuk debat capres.

Benar kata pepatah, sepandai-pandainya tupai melompat, akhirnya jatuh juga dan bau bangkai pasti tercium. Mari kita lihat beberapa bukti bahwa Obor Rakyat adalah pekerjaan kubu Jokowi-JK:

Bukti Pertama: Kita harus ingat bahwa Luhut Binsar Pandjaitan/LB Pandjaitan sang anak emas dan anak murid Benny Moerdani yang berarti cucu murid Ali Moertopo adalah orang yang membina dan mempersiapkan Jokowi sebagai capres boneka untuk menandingi Prabowo. Dengan demikian strategi yang dijalankan oleh LB Pandjaitan untuk memenangkan Jokowi pasti mengadopsi ilmu penggalangan Ali Moertopo dan LB Moerdani.

Bukti Kedua: Formula yang digunakan oleh kubu Jokowi-JK melalui tangan intel partikelirnya, LB Pandjaitan adalah formula yang sama ketika Ali Moertopo merekayasa Kerusuhan Malari 15 Januari 1974/Malari sampai ketika Benny Moerdani merekayasa Peristiwa 27 Juli 1996/Kudatuli dan Kerusuhan 13-14 Mei 1998/Rusuh Mei:

a. Tabloid Obor Rakyat yang berisi berita-berita negatif tentang Jokowi yang mengambil isi tulisan Raden Nuh di Twitter via Triomacan2000 tanpa sedikitpun menulis tentang Prabowo atau Hatta sehingga mudah menggiring opini bahwa tabloid tersebut dibuat oleh kubu Prabowo-Hatta untuk mendiskriditkan Jokowi-JK.

Formula di atas adalah mirip proses awal dimulainya Malari yaitu melalui Dokumen Ramadi yang menyatakan masa kepemimpinan Soeharto sudah akan berakhir dan akan diganti oleh Jenderal Soemitro; sama dengan angket buatan Aberson Marie Silaloho menjelang Kudatuli yang menyatakan masa kepemimpinan Soeharto harus diteruskan oleh Megawati dan mirip dengan dokumen rencana revolusi oleh “kelompok pro demokrasi” yang ditemukan di Rumah Susun Johar di Tanah Tinggi, Tanah Abang setelah ada bom rakitan meledak prematur lima bulan sebelum Rusuhan Mei.

b. Sejak awal Tabloid Obor Rakyat sudah diarahkan kepada Prabowo-Hatta diarahkan sejak Darmawan Sepriyossa meminta Gun Gun Heriyanto menyumbang artikel yang masuk ke Tabloid Obor Rakyat dan setelah Gun Gun mengungkap fakta ini, Darmawan mengungkap pengelola tabloid adalah Setiardi Boediono yang di facebooknya berisi puja-puji kepada Prabowo.

Malari dari awal sudah diarahkan kepada target penjatuhan yaitu Jenderal Soemitro sebab dia dekat dengan Hariman Siregar pemimpin mahasiswa, rumor dia mencetuskan “Kepemimpinan Gaya Baru” dan Dokumen Ramadi.

Demikian pula Kudatuli dari awal diarahkan kepada Soeharto seperti Dr. Soerjadi dikisahkan direkrut untuk menggeser Megawati, kongres di Medan dibayar oleh cukong Orde Baru (Sofjan Wanandi); dan Alex Widya Siregar sebagai pengumpul preman yang menyerang adalah PDI Pro Soerjadi dan pemimpin serangan adalah Sutiyoso dan SBY.

Begitu juga dengan Rusuh Mei, sejak awal penembakan Trisakti; “penculikan aktivis” dan Rusuh Mei sudah ditiupkan ke arah Prabowo dan Soeharto, selain itu PRD meniupkan rumor bahwa dokumen di Tanah Tinggi adalah rekayasa intelijen.

c. Bau busuk Tabloid Obor Rakyat tercium karena mereka hanya mengulang isi tweet akun Triomacan2000/TM2000, dan kita tahu bahwa admin akun tersebut adalah Raden Nuh; Abdul Rasyid; dan Syahganda Nainggolan, ketiganya adalah mantan HMI dan sebelum kampanye pilpres tidak pernah “menyerang” tokoh alumni HMI, dan pengecualian dilakukan baru-baru ini dengan “membuka korupsi Jusuf Kalla.”

Raden Nuh adalah kader Partai Hanura, partai pendukung Jokowi yang mengidolakan Wiranto; Abdul Rasyid memang staf khusus menko perekonomian di bawah Hatta Rajasa tapi sekarang dia menjadi stafsus Chairul Tandjung sebagai menko yang baru, dan uniknya Abdul Rasyid dan Syahganda adalah orang yang memprakarsai berdirinya Pamswakarsa atas permintaan Wiranto.

Wiranto sendiri adalah binaan Benny Moerdani yang ditempatkan di kabinet terakhirnya Presiden Soeharto!! Sedangkan Darmawan Sepriyossa dan Setiardi Boediono adalah mantan jurnalis majalah Tempo tidak lain adalah pendukung utama Jokowi-JK dan didirikan Goenawan Mohamad, anak didik Ivan Kats sebagai agen CIA dan Fikri Jufri yang sangat mengidolakan Benny Moerdani dari CSIS!!

Malari terkuak karena ternyata Hariman Siregar, pemimpin demo mahasiswa adalah bentukan dari Ali Moertopo sendiri; demikian pula massa yang menunggangi demo adalah massa GUPPI yang dilatih oleh Ali Moertopo di CSIS dan Lim Bian Koen dari CSIS terekam sering datang ke kantor GUPPI bertemu Ramadi yang setelah Malari mati misterius di tahanan.

Kudatuli terkuak karena berdasarkan kesaksian Rachmawati Soekarnoputri, adik Megawati terungkap ternyata Megawati dan Benny bersekongkol untuk menjatuhkan Soeharto, selain itu Dr. Soerjadi, dan Aberson Marie adalah anak didik Benny Moerdani.

Sedangkan “penculikan aktivis”; penembakan Trisakti; Rusuh Mei terungkap karena kesaksian Salim Said bahwa Benny Moerdani mau menjatuhkan Soeharto melalui gerakan massa yang mengejar orang China dan Kristen; kesaksian Lim Bian Koen, pendiri CSIS di bukunya bahwa Wiranto adalah anak didik terakhir Benny Moerdani di kabinet Soeharto, dan Fachrul Razi maupun Soebagyo HS adalah anggota klik Wiranto yang setia pada Benny.

d. Uraian huruf a, b, dan c memang belum cukup membuktikan bahwa Tabloid Obor Rakyat terbit atas instruksi kubu Jokowi-JK tapi dapat dijadikan titik tolak untuk menyelidiki lebih dalam, misalnya siapa di belakang akun TM2000 yang tiba-tiba berstatus non-aktif setelah pengelola Tabloid Obor Rakyat terbongkar?

Selain alumni Tempo, apakah Darmawan Sepriyossa, Gun Gun Heriyanto dan Setiardi Boediono memiliki hubungan dengan kubu Jokowi-JK?

Siapa yang membiayai penerbitan Tabloid Obor Rakyat?

Mengapa mereka membuat berita dengan mendasarkan kepada twit TM2000?

Mengapa Jokowi mendiamkan twit dari TM2000 bahwa dia tidak bisa sholat dan menunggu sekian lama baru dia bersedia diliput sholat berjemaah, biar kesan dizolimi bisa meningkat?

Saya tidak akan heran bila nantinya ditemukan Darmawan Sepriyossa, Gun Gun Heriyanto dan Setiardi Boediono ditemukan memiliki hubungan dengan kubu Jokowi-JK sama seperti ketiga admin TM2000 memiliki hubungan dengan Wiranto dan Hanura; toh semua jenderal yang di sisi Jokowi-JK memang memiliki hubungan dengan Wiranto,

Apalagi nyatanya JK “memelihara” orang-orang yang dia tempatkan di partai lain supaya menggerakan partai sesuai kepentingan dia seperti Bupati Kabupaten Bogor Rachmat Yasin dari PPP atau Walikota Makassar Ilham Arief Sirajuddin, mantan Golkar yang pindah ke Demokrat tapi setia kepada Jusuf Kalla.

Berdasarkan bukti-bukti di atas maka kita bisa memasukan isu Tabloid Obor Rakyat ke daftar Politik Dizolimi yang sudah dilakukan oleh Jokowi-JK.
****** akhir kutipan ******

Berric Dondarrion adalah penulis di kompasiana yang beberapa tulisannya telah dihapus. Silahkan periksa link-link pada http://media.kompasiana.com/new-media/2014/06/02/berric-dondarrion-kompasioner-fenomenal-sehari-bisa-bikin-5-artikel-662395.html
Bahkan accountnya di-suspend http://www.kompasiana.com/Berric99

Tulisan kedua bersumber dari http://politik.kompasiana.com/2014/06/18/akal-bulus-jk-surya-paloh-dan-muhammad-reza-di-balik-penyebaran-tabloid-obor-659303.html

****** awal kutipan ******
Tiba-tiba saja kasus tabloid Obor Rakyat menjadi perhatian khusus dalam proses Pemilihan Presiden 2014. Pasalnya, hasil cetakan media tersebut, yang belakangan di klaim milik Asisten Staf Khusus Presiden RI Setyardi, ditengarai telah menyebarkan fitnah dan menista Calon Presiden Joko Widodo yang diusung koalisi PDI Perjuangan. Dan tidak hanya itu, tabloid yang diedarkan di kalangan tertentu itu ditengarai jadi penyebab merosotnya popularitas Jokowi, mantan Walikota Solo dan Gubernur nonaktif DKI Jakarta.

Mari kita ulas, siapa saja di balik tabloid Obor tersebut.

Nama Setyardi, di kalangan aktivis mahasiswa ’98 cukup familiar. Pernah menjadi wartawan majalah Tempo dan aktif dalam mendukung pergerakan mahasiswa dalam menghadapi Orde Baru di ujung kekuasaan. Namun, benarkah motivasi tabloid Obor untuk menghancurkan popularitas Jokowi? Jawabnya, tidak!

Peredaran tabloid Obor yang berisikan pembahasan di sosial media dan di angkat ke media cetak untuk lantas disebarkan ke pesantren-pesantren di Jawa Barata, Jawa Tengah dan Jawa Timur dengan tampilan yang vulgar dan kampungan namun dikemas dalam layout yang menarik sebetulnya dipakai sebagai alat propaganda pasangan Jokowi-JK. Sebab, semua personal pemain yang berada di belakang penerbitan tabloid tersebut memiliki koneksi dengan Jusuf Kalla dan donatur pasangan Capres dan Cawapres nomor urut 2 tersebut.

Awal karier Setyardi di majalah Tempo menghasilkan pertemanan antara lain dengan Muchlis Hasyim. Muchlis sempat berkarier bersama di majalah Tempo bersama Setyardi. Dimana keduanya juga sempat mengenyam pendidikan di Bandung. Setyardi di STT Telkom dan Muchlis di Universitas Islam Bandung (Unisba). Keduanya juga sama-sama tidak lulus dari perguruan tinggi tersebut. Muchlis lantas terbang ke Washington, AS dan menyelesaikan sarjananya di sana. Dan baru kembali ketika dipanggil Surya Paloh, pemilik harian Media Indonesia.

Sekembalinya dari Amerika, Muchlis ditempatkan sebagai redaktur internasional di Media Indonesia dan menjadi orang kepercayaan Surya Paloh. Hingga akhirnya, dia menempati posisi redaktur eksekutif. Di kalangan wartawan, Muchlis dikenal memiliki lobi-lobi cukup bagus dengan pemilik modal dan penguasa. Dan karena kepiawaiannya itulah lantas berhasil mendirikan media online inilah.com. Sebuah portal berita yang dukungan dananya banyak dicover Muhammad Reza, orang yang dikenal sebagai mafia minyak. Hubungan Muh dan Muchlis sangat dekat seperti kakak dan adik.

Pada Pilpres 2004, Muchlis aktif di Mega Center untuk membantu K.H. Hasyim Muzadi yang pada saat itu menjadi cawapres Megawati. Namun, ketika pasangan Mega-Hasyim kalah, dia meloncat ke Jusuf Kalla. Kehadiran Muchlis di Istana Wapres atas prakarsa Alwi Hamu, pemilik harian Fajar di Makassar. Dan Muchlis masih terbilang sebagai keponakan dari Alwi Hamu yang merupakan karib keluarga Jusuf Kalla. Saat JK menjabat Wapres, Muchlis didapuk sebagai Press Officer Wakil Presiden.

Saat ini, selain memiliki portal berita inilah.com, Muchlis juga mendirikan Inilah Koran di Bandung dan Bogor. Dia menggandeng wartawan senior Rakyat Merdeka dan pendiri tabloid Indonesia Monitor, Syahrial Nasution. Syahrial di kalangan wartawan dikenal dekat dengan Presiden SBY. Dan pada Pilpres 2004 menjadi Ketua Media Center SBY-JK. Konon, dana untuk mendirikan Inilah Koran juga berasal dari Muhamad Reza. Muchlis sengaja merekrut Syahrial karena dikenal kritis terhadap isu mafia migas. Belakangan diketahui hubungan keduanya, merenggang. Muchlis juga melebarkan sayapnya dengan mendirikan Inilah Koran di Bogor dengan merekrut mantan wartawan senior Jawa Pos, Alfian. Dan terakhir mendirikan sebuah percetakan di Bandung.

Nama lain di belakangang tabloid Obor adalah Darmawan Sepriossa, alumnus Universitas Padjajaran (Unpad) Bandung. Dia dikenal cukup dekat dengan para petinggi TNI dan Badan Intelijen Negara (BIN). Wartawan yang biasa ngepos di Mabes TNI dan Polhukam ini berteman baik dengan Setyardi. Darmawan juga punya hubungan cukup baik dengan petinggi partai di PDIP.

Lantas, apa cerita yang dapat diambil dari penggalan kisah orang-orang yang namanya dikait-kaitkan dengan tabloid Obor?

Sebetulnya tidak lepas dari permainan transaksi politik dalam rangka membesarkan nama Joko Widodo yang seolah-olah difitnah dan dikerdilkan.

Para dalang di balik tabloid Obor, semuanya berada di pihak Jokowi-JK. Dan motifasi kontra intelijen seperti ini biasa terjadi menjelang pergantian kekuasaan.

Setyardi cs hanyalah boneka yang diperalat dan ‘dibeli’ untuk menjalankan misi. Dalang utamanya adalah Surya Paloh, Jusuf Kalla dan Muhammad Reza.

Inilah yang menjadi jawaban atas kegundahan Hasjim Djoyohadikusumo, adik kandung Capres Prabowo. Cawapres Hatta Rajasa yang selama ini dikait-kaitkan dibiayai mafia minyak Muh Reza ternyata, cuma isapan jempol.

Hingga kini, logistik yang dijanjikan Muh untuk menyokong duet Prabowo-Hatta tak kunjung turun. Rupanya, dana sudah mengalir ke Jokowi yang selalui merajai survey.

Sehingga, dengan membesar-besarkan kasus tabloid Obor, popularitas Jokowi yang terus menurun dapat didongkrak kembali dengan strategi memfitnah diri sendiri.
***** akhir kutipan *****

Read Full Post »