Feeds:
Pos
Komentar

Posts Tagged ‘berbeda’

Janganlah mengambil ilmu dari orang yang tidak diketahui sanad ilmunya

Mereka masih saja berprasangka buruk kepada kaum muslim yang bertawassul kepada ahli kubur yang telah meraih maqom disisiNya sebagai penyembah kuburan.

Hal ini serupa dengan ulama panutan mereka yakni ulama Muhammad bin Abdul Wahhab yang berprasangka buruk kepada kaum muslim yang melakukan ziarah kubur sambil bertabarruk dan bertawassul dengan ahli kubur yang telah meraih maqom disisi Allah Azza wa Jalla sebagai penyembah kuburan dan menjulukinya dengan panggilan jahiliyah yakni Kuburiyyun. Contohnya terurai dalam syarah Qawaidul Arba’ yang ditulis oleh ulama Sholih Fauzan Al-Fauzan pada halaman 28. Silahkan baca pada https://mutiarazuhud.files.wordpress.com/2012/03/pemahaman-tauhid-maw.pdf

Kaum muslim yang melakukan ibadah ziarah kubur dengan bertawassul maksudnya mereka memohon kepada Allah Azza wa Jalla dengan perantaraan (washilah) maqom keutamaan ahli kubur disisi Allah ta’ala.

Kaum muslim yang bertawassul paham sekali bahwa hanya Allah Azza wa Jalla yang mengabulkan permohonan bukan ahli kubur yang ditawassulkan dan Allah Azza wa Jalla menyukai disebut nama-nama hambaNya yang telah meraih maqom disisiNya ketika hambaNya berdoa.

Muslim yang dekat dengan Allah atau muslim yang meraih maqom disisiNya yakni muslim yang berakhlakul karimah, muslim yang sholeh, muslim yang ihsan, muslim yang bermakrifat yakni muslim yang membenarkan dan menyaksikan Allah dengan hatinya (ain bashiroh)

Muslim yang dekat dengan Allah atau muslim yang meraih maqom disisiNya yakni muslim yang telah dikaruniakan ni’mat oleh Allah Azza wa Jalla sehingga selalu berada dalam kebenaran, selalu berada pada jalan yang lurus.

Firman Allah ta’ala

…Sekiranya kalau bukan karena karunia Allah dan rahmat-Nya, niscaya tidak ada seorangpun dari kamu yang bersih (dari perbuatan keji dan mungkar) selama-lamanya, tetapi Allah membersihkan siapa saja yang dikehendaki…” (QS An-Nuur:21)

Sesungguhnya Kami telah mensucikan mereka dengan (menganugerahkan kepada mereka) akhlak yang tinggi yaitu selalu mengingatkan (manusia) kepada negeri akhirat. Dan sesungguhnya mereka pada sisi Kami benar-benar termasuk orang-orang pilihan yang paling baik.” (QS Shaad [38]:46-47)

Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling taqwa di antara kamu” (QS Al Hujuraat [49]:13)

Tunjukilah kami jalan yang lurus , (yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau beri ni’mat kepada mereka” (QS Al Fatihah [1]:6-7)

Dan barangsiapa yang menta’ati Allah dan Rasul(Nya), mereka itu akan bersama-sama dengan orang-orang yang dianugerahi ni’mat oleh Allah, yaitu : Nabi-nabi, para shiddiiqiin, orang-orang yang mati syahid, dan orang-orang sholeh. Dan mereka itulah teman yang sebaik-baiknya .” (QS An Nisaa [4]: 69)

Muslim yang terbaik untuk bukan Nabi dalam meraih maqom disisiNya sehingga menjadi kekasih Allah (wali Allah) dengan mencapai shiddiqin, muslim yang membenarkan dan menyaksikan Allah dengan hatinya (ain bashiroh) atau muslim yang bermakrifat. Bermacam-macam tingkatan shiddiqin sebagaimana yang diuraikan dalam tulisan pada https://mutiarazuhud.wordpress.com/2011/01/14/2011/09/28/maqom-wali-allah

Para Sahabat ketika duduk dalam shalat (tahiyyat),  bertawasul dengan menyebut nama-nama orang-orang sholeh yang telah wafat maupun dengan para malaikat namun Rasulullah shallallahu alaihi wasallam mengajarkan untuk menyingkatnya menjadi  “Assalaamu’alaina wa’alaa ‘ibaadillaahish shoolihiin”, maka hal itu sudah mencakup seluruh hamba-hamba Allah yang sholeh baik di langit maupun di bumi“.

Hamba Allah yang sholeh di langit maknanya penduduk langit, para malaikat dan kaum muslim yang telah meraih maqom disisiNya yang telah  wafat , dan hamba  sholeh di bumi adalah hamba Allah yang sholeh yang masih hidup.

Telah menceritakan kepada kami Umar bin Hafsh telah menceritakan kepada kami Ayahku telah menceritakan kepada kami Al A’masy dia berkata; telah menceritakan kepadaku Syaqiq dari Abdullah dia berkata; Ketika kami membaca shalawat di belakang Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, maka kami mengucapkan: ASSALAAMU ‘ALALLAHI QABLA ‘IBAADIHI, ASSALAAMU ‘ALAA JIBRIIL, ASSSALAAMU ‘ALAA MIKAA`IIL, ASSALAAMU ‘ALAA FULAAN WA FULAAN (Semoga keselamatan terlimpahkan kepada Allah, semoga keselamatan terlimpah kepada Jibril, Mika’il, kepada fulan dan fulan). Ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam selesai melaksanakan shalat, beliau menghadapkan wajahnya kepada kami dan bersabda: Sesungguhnya Allah adalah As salam, apabila salah seorang dari kalian duduk dalam shalat (tahiyyat), hendaknya mengucapkan; AT-TAHIYYATUT LILLAHI WASH-SHALAWAATU WATH-THAYYIBAATU, ASSALAAMU ‘ALAIKA AYYUHAN-NABIYYU WA RAHMATULLAHI WA BARAKAATUH, ASSALAAMU ‘ALAINAA WA ‘ALA ‘IBAADILLAAHISH SHAALIHIIN, (penghormatan, rahmat dan kebaikan hanya milik Allah. Semoga keselamatan, rahmat, dan keberkahan tetap ada pada engkau wahai Nabi. Keselamatan juga semoga ada pada hamba-hamba Allah yang shalih. Sesungguhnya jika ia mengucapkannya, maka hal itu sudah mencakup seluruh hamba-hamba yang shalih baik di langit maupun di bumi, lalu melanjutkan; ASYHADU ALLAA ILAAHA ILLALLAH WA ASYHADU ANNA MUHAMMADAN ‘ABDUHU WA RASUULUH (Aku bersaksi bahwa tiada Dzat yang berhak disembah selain Allah, dan Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya). Setelah itu ia boleh memilih do’a yang ia kehendaki. (HR Bukhari 5762)

Para Sahabat , bertawassul dan bertabarruk ke makam Rasulullah sebagaimana yang disampaikan oleh Ibnu katsir dalam kitab tarikhnya 7/105: “Berkata al hafidz Abu Bakar al Baihaqi, telah menceritakan Abu Nashar bin Qutadah dan Abu bakar al Farisi, mereka berdua berkata: telah menceritakan kepada kami Abu Umar bin Mathor, telah menceritakan kepada kami Ibrahim bin Ali Addzahli, telah menceritakan kepada kami Yahya bin Yahya, telah menceritakan kepada kami Abu Mu’awiyah dari ‘Amasy dari Abi Shalih dari Malik Ad Daar Ia berkata, “Orang-orang mengalami kemarau panjang saat pemerintahan Umar. Kemudian seorang laki-laki datang ke makam Nabi Shallallahu alaihi wasallam dan berkata “Ya Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam mintakanlah hujan untuk umatmu karena mereka telah binasa”. Kemudian orang tersebut mimpi bertemu Rasulullah shallallahu alaihi wasallam dan dikatakan kepadanya “datanglah kepada Umar dan ucapkan salam untuknya beritahukan kepadanya mereka semua akan diturunkan hujan. Katakanlah kepadanya “bersikaplah bijaksana, bersikaplah bijaksana”. Maka laki-laki tersebut menemui Umar dan menceritakan kepadanya akan hal itu. Kemudian Umar berkata “Ya Tuhanku aku tidak melalaikan urusan umat ini kecuali apa yang aku tidak mampu melakukannya” (Sanadnya shahih adalah penetapan dari Ibnu katsir. Malik adalah Malik Ad Daar dan ia seorang bendahara gudang makanan pada pemerintahan Umar,ia adalah tsiqoh)

Al hafidz Ibnu Hajar al Asqolani dalam fathul bari juz 2 pada kitab aljumah bab sualun nas al imam idza qohathu”, Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah dengan sanad yang shahih dari riwayat Abu Shalih As Saman dari Malik Ad Daar seorang bendahara Umar. Ia berkata “Orang-orang mengalami kemarau panjang saat pemerintahan Umar. Kemudian seorang laki-laki datang ke makam Nabi Shallallahu alaihi wasallam dan berkata “Ya Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam mintakanlah hujan untuk umatmu karena mereka telah binasa datanglah kepada Umar dst..dan laki2 itu adalah Bilal bin Haris al Muzani”.

Begitupula sebagaimana yang disampaikan Sahabat Nabi sebagaimana yang terlukis pada Tafsir Ibnu Katsir pada ( QS An Nisaa [4] : 64 ) Scan kitab tafsir dapat dibaca pada https://mutiarazuhud.files.wordpress.com/2011/09/ikjuz5p281_285.pdf

Berikut kutipannya

**** awal kutipan ****

Al-Atabi ra menceritakan bahwa ketika ia sedang duduk di dekat kubur Nabi Shallallahu alaihi wasallam, datanglah seorang Arab Badui, lalu ia mengucapkan, “Assalamu’alaika, ya Rasulullah (semoga kesejahteraan terlimpahkan kepadamu, wahai Rasulullah). Aku telah mendengar Allah ta’ala berfirman yang artinya, ‘Sesungguhnya jikalau mereka ketika menganiaya dirinya datang kepadamu, lalu memohon ampun kepada Allah, dan Rasul pun memohonkan ampun untuk mereka, tentulah mereka menjumpai Allah Maha Penerima Tobat lagi Maha Penyayang‘ (QS An-Nisa: 64),

Sekarang aku datang kepadamu, memohon ampun bagi dosa-dosaku (kepada Allah) dan meminta syafaat kepadamu (agar engkau memohonkan ampunan bagiku) kepada Tuhanku.”

Kemudian lelaki Badui tersebut mengucapkan syair berikut , yaitu: “Hai sebaik-baik orang yang dikebumikan di lembah ini lagi paling agung, maka menjadi harumlah dari pancaran keharumannya semua lembah dan pegunungan ini. Diriku sebagai tebusan kubur yang engkau menjadi penghuninya; di dalamnya terdapat kehormatan, kedermawanan, dan kemuliaan.“

Kemudian lelaki Badui itu pergi, dan dengan serta-merta mataku terasa mengantuk sekali hingga tertidur.

Dalam tidurku itu aku bermimpi bersua dengan Nabi shallallahu alaihi wasallam., lalu beliau shallallahu alaihi wasallam bersabda, “Hai Atabi, susullah orang Badui itu dan sampaikanlah berita gembira kepadanya bahwa Allah telah memberikan ampunan kepadanya!”

***** akhir kutipan *****

Begitupula ulama yang sholeh dari kalangan Ahlul Bait, keturunan cucu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, Habib Munzir Al Musawa mengatakan,

***** awal kutipan *****

“Tak ada ulama salaf yang sholeh yang membedakan antara tawassul pada yang hidup dan mati, karena tawassul adalah berperantara pada kemuliaan seseorang, atau benda (seperti air liur yang tergolong benda) dihadapan Allah, bukanlah kemuliaan orang atau benda itu sendiri, dan tentunya kemuliaan orang dihadapan Allah tidak sirna dengan kematian.

Justru mereka yang membedakan bolehnya tawassul pada yang hidup saja dan mengharamkan pada yang mati, maka mereka itu malah dirisaukan akan terjerumus pada kemusyrikan karena menganggap makhluk hidup bisa memberi manfaat, sedangkan akidah kita adalah semua yang hidup dan yang mati tak bisa memberi manfaat apa apa kecuali karena Allah memuliakannya, bukan karena ia hidup lalu ia bisa memberi manfaat dihadapan Allah, berarti si hidup itu sebanding dengan Allah??, si hidup bisa berbuat sesuatu pada keputusan Allah??

Tidak saudaraku.. Demi Allah bukan demikian, Tak ada perbedaan dari yang hidup dan dari yang mati dalam memberi manfaat kecuali dengan izin Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Yang hidup tak akan mampu berbuat terkecuali dengan izin Allah Subhanahu wa Ta’ala dan yang mati pun bukan mustahil memberi manfaat bila memang di kehendaki oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Ketahuilah bahwa pengingkaran akan kekuasaan Allah Subhanahu wa Ta’ala atas orang yang mati adalah dirisaukan terjebak pada kekufuran yang jelas, karena hidup ataupun mati tidak membedakan kodrat Ilahi dan tidak bisa membatasi kemampuan Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Ketakwaan mereka dan kedekatan mereka kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala tetap abadi walau mereka telah wafat”

***** akhir kutipan *****

Hal yang perlu kita ingat selalu bahwa ulama yang sholeh dari kalangan Ahlul Bait (para Habib atau para Sayyid), keturunan cucu Rasulullah shallallahu alaihi wasallam mendapatkan pengajaran agama dari orang tua-orang tua mereka terdahulu yang tersambung kepada Imam Sayyidina Ali ra yang mendapatkan pengajaran agama langsung dari lisannya Rasulullah shallallahu alaihi wasallam sehingga terjaga kemutawatiran sanad, kemurnian agama dan aqidahnya.

Dari Ibnu Abbas ra Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda…”Barangsiapa yg berkata mengenai Al-Qur’an tanpa ilmu maka ia menyediakan tempatnya sendiri di dalam neraka” (HR.Tirmidzi)

Imam Syafi’i ~rahimahullah mengatakan “tiada ilmu tanpa sanad”.

Al-Hafidh Imam Attsauri ~rahimullah mengatakan “Penuntut ilmu tanpa sanad adalah bagaikan orang yang ingin naik ke atap rumah tanpa tangga

Ibnul Mubarak berkata :”Sanad merupakan bagian dari agama, kalaulah bukan karena sanad, maka pasti akan bisa berkata siapa saja yang mau dengan apa saja yang diinginkannya (dengan akal pikirannya sendiri).” (Diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Muqoddimah kitab Shahihnya 1/47 no:32 )

Imam Malik ra berkata: “Janganlah engkau membawa ilmu (yang kau pelajari) dari orang yang tidak engkau ketahui catatan sanad ilmunya

Bahkan Al-Imam Abu Yazid Al-Bustamiy , quddisa sirruh (Makna tafsir QS.Al-Kahfi 60) ; “Barangsiapa tidak memiliki susunan guru dalam bimbingan agamanya, tidak ragu lagi niscaya gurunya syetan” Tafsir Ruhul-Bayan Juz 5 hal. 203

Berikut sanad ilmu Al Allamah Al Musnid Alhabib Ibrahim Bin Agil bin Yahya yang merupakan tempat menimba ilmu dari Guru Mulia  Al Musnid Al Allamah Al Habib Umar bin Hafidh, yang merupakan tempat menimba ilmu dari Habib Munzir Al Musawa.

Sanad kepada Imam Syafii

حدث الفقيه الشيخ عمر بن حسين الداغستاني المكي سماعا لبعضه واجازه لسائره عن السيد

عبدالكريم بن حمزه الدربندي الداغستاني عن الشيخ عبد الحميد الشرواني الداغستاني محشي

التحفة عن ابراهيم بن محمد الباجوري عن شيخيه محمد الفضالي والسيد حسن بن درويس

القويسني كلاهما عن عبدالله ابن حجازي الشرقاوى عن محمد بن سالم الحفني عن ابي حامد محمد

بن محمد البديري عن البرهان ابراهيم بن حسن الكورانى عن الصفى احمد بن محمد القشاغي

سماعا لبعضه واجازه لسائره عن الشمس محمد بن احمد الرملي الصغير اجازه عن شيخ الاسلام

زكرياء بن محمد الانصارى عن الحافظ ابن حجر العسقلانى عن الصلاه محمد بن احمد بن ابى عمرو

المقدسي عن مسند الدنيا الفخر ابى الحسن غلى بن احمد بن عبدالواهد السعدي عرف بابن البخاري

عن ابي المكارم احمد بن محمد اللبان وابي جعفر محمد ابن ااحمد بن نصر الصيدلاني كلاهما عن

ابي على الحسن بن احمد الحداد عن الحافظ ابي نعيم احمد بن عبدالله الاسبهاني عن ابي العباس

محمد بن يعقوب الاصم قال اخبرنا ابومحمد الربيع بن سليمان المراري قال اخبرنا به الامام المجتهد

.ابو عبدالله محمد بن ادريس الشافعى المطلبى القرشي
Sanad kepada Imam Hambali

اروى المسند للامام احمد بن محمد بن حنبل الشيبانى عن الشيخ عمر بن حمدان المحرسي محدث

الحرمين سماعا لكثير منه واجازه لباقيه وعن الامام الحافظ السيد احمد بن محمد بن الصديق

الغماري الطنجى وعن شارحه الشيخ احمد عبدالرحمن البنا الساعاتي اجازة منهما الاخير عن

الاولين اجازة وهما عن المعمر الشيخ الطيب محمد النيفر شيخ الاسلام بتونس عن الشريف محمد

بن على الخطابي الشهير بالسنوسي عن المسند محمد بن سالم بن ناصر الدرعي عن احمد بن عبد

الفتاح الملوي عن عبدالله بن سالم البصري عن حافظ وقته الشمس محمد بن علاء الدين البابلى

عن على بن يحيي الزيادي عن الشهاب احمد بن محمد بن حمزه الرملى عن الشمس محمد بن عبد

الرحمن السخاوي عن العز عبدالرحيم بن محمد عرف بابن الفرات الحنفى عن ابي العباس احمد

بن محمد الجوخي قال اخبرتنا ام احمد زينب بنت مكى الحرنية سماعا قالت اخبرنا ابوعلى حنبل بن

عبدالله الرصافي البغدادي قال اخبرنا ابو القاسم هبة الله بن محمد بن عبد الواحد الحصين الشيباني

قال اخبرنا ابو على الحسن ابن على التميمى المذهب الواعظ قال اخبرنا ابوبكر احمد بن جعفر بن

حمدان مالك القطيعي قال اخبرنا ابوعبدالرحمن عبدالله الامام قال حدثنى ابي الامام احمد بن محمد

.ابن حنبل الشيباني

ح( واويه ايضا عن المعمر السيد على بن على الحبشى الخريبي المدني والسيد عبد الرحمن بن)

عبيدالله السقاف واخرين عن السيد عيدروس بن عمر الحبشي صاحب العقد وهو اجازه عن الشيخ

الجمال محمد بن عبدالله باسودان والشيخ عبدالقادربالمكى عن حافظ وقته الشمس محمد بن علاء

الدين البابلى عن على بن يحيي الزيادى عن الشهان احمد بن محمد بن حمزة الرملى عن الشمس

محمد بن عبدالرحمن السخاوى عنلزعبدالرحيم بن محمد عرف بابن الفرات الحنفى عن ابي العباس

احمد بن محمد الجوخي قال اخبرتنا ام احمد زينب بنت مكى الحرنية سماعا قالت اخبرنا ابوعلى

حنبل بن عبدالله الرصافي البغدادي قال اخبرنا ابو القاسم هبة الله بن محمد بن عبد الواحد الحصين

الشيباني قال اخبرنا ابو على الحسن ابن على التميمى المذهب الواعظ قال اخبرنا ابوبكر احمد بن

جعفر بن حمدان مالك القطيعي قال اخبرنا ابوعبدالرحمن عبدالله الامام قال حدثنى ابي الامام احمد

.بن محمد ابن حنبل الشيباني

Sanad kepada Imam Tabrani

أروى المعجم الصغير للامام الحافظ الطبرانى عن المعمر القاضى حسين بن على العمري الصنعانى

اجازة عن شيخيه السيد اسماعيل بن محسن بن عبدالكريم والمؤرخ محمد بن اسماعيل الكبسى

كلاهما عن القاضى محمد بن على الشوكانى عن السيد الامام عبدالقادر بن احمد عن شيخه السيد

العلامة احمد بن عبدالرحمن الشامى عن السيد العلامة الحسين بن احمد زباره عن شيخه القاضى

العلامة احمد بن صالح بن ابى الرجال عن الشمس محمد بن العلاء البابلى عن على بن يحيي

الزيادى عن احمد بن محمد الرملى عن محمد بن عبدالرحمن السخاوى عن العز عبدالرحيم عرف

بابن الفرات عن الصلاح بن ابى عمر عن الفخر ابن البخارى عن ابى جعفر الصيدلانى عن ابى على

.الحداد عن المؤلف الحافظ ابى القاسم سليمان بن احمد الطبرانى

Sanad kepada Imam Assuyuthiy

أروى الجامع الصغيروالاتقان عن الشيخ عمر حمدان المحرسى سماعا والسيد محمد ابن عيدروس

الحبشى كلاهما عن والد الثانى المسند السيد عيدروس الحبشى صاحب العقد عن السيد عبدالله بن

حسين بن طاهر عن السيد الامام عمر بن محمد بن سهل عن أبيه عن السيد عبدالىحمن بن عبدالله

بلفقيه )ح( ورواه السيد عيدروس بن عمر الحبشي ايضا عن العفيف السيد حسين عبدالله بلفقيه عن

ابيه السيد حسين بن عبدالله بلفقيه عن ابيه عبدالله بلفقيه عن العلامة الوجيه السيد عبدالرحمن بن

عبدالله بلفقيه عن ابيه السيد عبدالله بن احمد بلفقيه عن السيد عبدالرحمن ابن ابراهيم عن الشيخ

احمد الشناوي عن ابيه الشيخ على الشناوى عن الشيخ عبدالوهاب الشعرانى عن المؤلف الحافظ

.الجلا ل عبدالرحمن بن ابي بكر السيوطى وبهدا السند اروى سائر مؤلفاته

Sanad kepada Imam Nawawi

اروى الاربعين النووية عن الشيخ عمر حمدان المحرسى سماعا لكثير منه واجازة لباقيه عن الشيخ

فالح بن محمد الظاهري محدث المدينة المنورة عن الاستاذ السيد محمد بن على الخطابى السنفى

الشهير بالسنوسى عن ابي حفص عمر بن عبد الكريم العطار المكى عن السيد على بن عبدالبر

الونائى عن الامام السيد محمد مرتضى بن محمد الزبيدى الواسطى الحنفى عن السيد الاصيل عمر

بن احمد بن عقيل عن حافظ الحجاز وسنده عبدالله بن سالم البصرى عن الشمس محمد بن علاء

الدين البابلى عن الامام سالم بن محمد السنهورى عن النجم محمد الغيطي عن القاضي زكرياء بن

محمد الانصاري عن ابي الشروطى عن ابي عبدالله محمد بن احمد بن محمد الرّفّا عن ابي الربيع

سليمان بن سالم الغزي عن ابي الحسن على بن ابراهيم بن داود العطار عن المؤلف الامام محيى

.الدين ابي زكرياء يحيي بن شرف النووى

Masih ada sanad-sanad lain yang tidak dimuat dalam tulisan ini seperti,

Sanad kepada Imam Ibn Majah
Sanad kepada Imam Nasai
Sanad kepada Imam Tirmidziy
Sanad kepada Imam Abu Dawud
Sanad kepada Imam Muslim dengan sanad alawiyyin
Sanad kepada Imam Malik
Sanad kepada Imam Ibn Hajar Al Asqalaniy
Sanad kepada Imam Assyaukaniy
Sanad kepada Imam Ghazali

Uraian selengkapnya silahkan temukan dalam ebook pada https://mutiarazuhud.files.wordpress.com/2012/05/kenalilah_akidahmu_2.pdf

Berikut sedikit kutipannya

****** awal kutipan ******

SANAD KEPADA IMAM MUSLIM

Dari guru mulia Al Allamah Almusnid Alhabib Umar bin Hafidh,
Dari Almusnid Alhabib Ibrahim bin Aqil bin Yahya,
Dari Almusnid Assayyid Salim Assirri,
Dari Almusnid Alhabib Muhammad bin Ibrahim Balfaqih,
Dari Almusnid Alhabib Ahmad bin Ali Aljunaid,
Dari Almusnid Alhabib Abdullah bin Husein Balfaqih,
Dari ayahnya, Almusnid Alhabib Husein bin Abdullah Balfaqih,
Dari ayahnya, Almusnid Alhabib Abdullah bin Alwi balfaqih,
Dari Almusnid Alhabib Idrus bin Abdurrahman Balfaqih,
Dari Almusnid Al Imam Alhabib Idrus bin Abdurrahman Balfaqih,
Dari Almusnid Al Imam Alhabib Abdurrahman bin Abdullah Balfaqih
Dari hujjatul IslamAl Musnid Al Imam Abdullah bin Alwi Alhaddad,
Dari Almusnid Alhabib Abdurrahman bin Abdullah bin Ahmad Baharun,
Dari Almusnid Al Imam Alhabib Abubakar bin Abdurrahman bin Syahab,
Dari ayahnya Almusnid Al Imam Abdurrahman bin Syahabuddin,
Dari Al Muhaddits Al Imam Muhammad bin Ali Khirid,
Dari Al Muhaddits Al Imam Assayyid Muhammad bin Abdurrahman Al Asqa’, Balfaqih,
Dari Al Imam Abdullah bin Abi Bakar Alaidrus,
Dari Al Imam Umar Almuhdhor bin Abdurrahman Assegaf,
Dari Al Imam Muhammad bin Hasan Jamalullail,
Dari Al Imam Abdurrahman bin Muhammad Assegaf,
Dari Almusnid Al Imam Muhammad bin Alwi shahibul ‘amaim,
Dari Almusnid Assayyid Abdullah bin Alwi bin Alfaqihilmuqaddam,
Dari ayahnya, Al Musnid Assayyid Alwi bin Al Faqihilmuqaddam Muhammad,
Dari ayahnya, Hujjatul Islam Al Imam Muhammad Faqihil Muqaddam Muhammad bin Ali,
Dari Al Imam Alhafidh Assayyid Ali bin Muhammad bin Ahmad bin Jadiid
Dari Al Hafidh Al Imam Abi Ali bin Husein Al Anshariy Al Batlyusiy,
Dari Assyeikh Abi Abdillah Muhammad bin Alfadhl Assha’idiy Al farrawiy,
Dari Alhusein Abdulghafir bin Muhammad bin Abdulqadir Al Farisiy,
Dari Abul Abbas Ahmad bin Muhammad bin Isa Al Jaludiy Annaisaburiy,
Dari Syeikh Ibrahim bin Muhammad bin Sufyan ALfaqiih Azzahid,
Dari Hujjatul Islam Al Imam Abul Husein Muslim bin Hajjaj Alqusyairiy Annaisaburiy Rahimahullah (Imam Muslim).

SANAD IMAM BUKHARI

Dari guru Mulia Al Allamah Al Musnid Alhabib Umar bin Muhammad bin Salim bin Hafidh, Alhafidh,
Dari guru beliau Al Allamah Al Musnid Alhabib Ibrahim bin Umar bin Aqil bin Yahya Alhafidh,
Dari guru beliau Al Allamah Al Musnid Alhabib Ali bin Abdurrahman Alhabsyi (kwitang) Alhafidh,,
Dari guru beliau Al Muhaddits Al Musnid Alhabib Idrus bin Umar Alhabsyi Alhafidh,
Dari guru beliau Al Allamah Al Musnid Alhabib Abdullah bin Husein bin Thahir Alhafidh,
Dari guru beliau Al Allamah Al Musnid Alhabib Umar bin Segaf Assegaf Alhafidh,
Dari ayah beliau sekaligus guru beliau Al Allamah Al Musnid Alhabib Segaf bin Muhammad bin Umar Assegaf Alhafidh,
Dari guru beliau Al Allamah Al Musnid Alhabib Abdurrahman bin Abdullah Balfaqih Alhafidh,,
Dari guru beliau Al Allamah Al Muhaddits Al Musnid Alhabib Abdullah bin Alwi Alhaddad shohiburratib Alhafidh,
Dari guru beliau Al Allamah Al Musnid Alhabib Abdurrahman bin Abdullah bin Ahmad Baharun Alhafidh,
Dari guru beliau Al Allamah Al Musnid Alhabib Abubakar bin Abdurrahhman Ibn Shihabuddin Alhafidh,,
Dari ayah beliau sekaligus guru beliau Al Allamah Al Musnid Alhabib Abdurrahman bin Shihabuddin Ahmad bin Abdurrahman bin Syeikh Ali Alhafidh,
Dari guru beliau Al Muhaddits yang termasyhur Al Imam Muhammad bin Ali Khird Alhafidh,
Dari guru beliau Al Muhaddits yang termasyhur Al Imam Muhammad bin Abdurrahman Al Asqa’ Balfaqih Alhafidh,
Dari guru beliau Al Musnid Al Muhaddits yang termasyhur Al Imam Abdullah Alaydrus Al Akbar bin Abubakar, Alhafidh,
Dari guru beliau Al Musnid Al Imam Umar Al Muhdhor bin Imam Abdurrahman Assegaf Alhafidh,
Dari ayah beliau sekaligus guru beliau Al Musnid Al Imam Abdurrahman Assegaf bin Muhamad, Alhafidh,,
Dari guru beliau Al Musnid Al Imam Muhammad bin Alwi shohibul ‘Amaa’im, Alhafidh,
Dari guru beliau Al Musnid Al Imam Abdullah bin Alwi, Alhafidh,
Dari ayahanda beliau sekaligus guru beliau Al Musnid Al Imam Alwi bin Faqihil Muqaddam Muhammad bin Ali, Alhafidh,
Dari ayahanda beliau sekaligus guru beliau Al Musnid Al Imam Faqihil Muqaddam Muhammad bin Ali Ba’alawiy, Alhafidh,
Dari guru beliau Al Musnid Al Imam Ali bin Muhammad bin Ahmad bin Jadiid, Alhafidh,
Dari guru beliau Al Musnid Abi Abdillah Muhammad bin Ismail Ibn Abi Shaif Alyamaniy, Alhafidh,
Dari guru beliau Assyeikh Al Musnid Abil Hasan Ali bin Humaid bin Ammar Al Athrabalsiy, Alhafidh,
Dari guru beliau Assyeikh Al Musnid Abu Maktum Isa bin Abi Dzarr Al harawiy, Alhafidh,
Dari ayah beliau sekaligus guru beliau Assyeikh Abu Dzarr bin Abd bin Ahmad Al harawiy, Alhafidh,
Dari guru beliau Abu Ishaq Ibrahim bin Amad Al Balakhiy Almustamaliy, Alhafidh,
Dari guru beliau Al Imam Abu Abdillah Muhammad bin Yusuf bin Matharr AL Firabriy, Alhafidh,
Dari guru beliau Hujjatul Islam wa Barakatul Anaam Al Imam Abu Abdillah Muhammad bin Ismail bin Bardizbah Al Bukhari rahimahullah.

***** akhir kutipan *****

Wassalam

Zon di Jonggol, Kab Bogor 16830

Iklan

Read Full Post »

Older Posts »