Feeds:
Pos
Komentar

Posts Tagged ‘berbicara dengan’

Isu transkrip percakapan megawati dengan jaksa agung

Benarkah Megawati berbicara dengan Jaksa Agung terkait penanganan kasus TransJakarta

Kejaksaan Agung meminta penyebar percakapan Jaksa Agung Basrief Arief dan Megawati Soekarnoputri soal penanganan kasus bus TransJakarta, yakni Ketua Progress 98, Faisal Assegaf, bertanggung jawab atas tindakannya sebagaimana yang diberitakan pada http://pemilu.okezone.com/read/2014/06/18/567/1000775/penyebar-percakapan-megawati-basrief-harus-tanggung-jawab

Berikut kutipan selanjutnya

****** awal kutipan ******
Seyogyanya pemberi laporan harus bertanggung jawab. Ada transkripan berarti harus ada rekamannya. Kita belum pernah mendengar rekamannya. Kita tidak akan menanggapi hal-hal yang belum jelas. Silakan double check ke KPK apakah ada hal itu,” ungkap Kepala Pusat Penerangan Hukum Kejagung, Tony Spontana kepada wartawan di kantornya, Jakarta, Rabu (18/6/2014).

Tony menambahkan, Jaksa Agung sudah mengambil langkah dengan melaporkan hal tersebut langsung ke Kapolri Jenderal Pol Sutarman untuk diusut. “Jaksa Agung sudah menyampaikan hal itu ke Kapolri, rentetan itu sudah ada menjelang pilpres, hal-hal semacam ini jangan dibiarkan berkembang,” sambungnya.

Menurut dia, Faisal Assegaf harus berani menjelaskan informasi yang diketahuinya mengenai transkrip pembicaraan itu kepada pihak kepolisian.

“Sudah saya sampaikan, dia gentlemen, dia melaporkan dan akan bertanggung jawab. Soal tindak lanjut, hari ini yang diterima transkrip, saya juga bisa membuat transkip 100 biji seperti itu. Kalau tidak ada buktinya. Kita hanya berpegang pada fakta,” tegasnya.

Dia mengaku sudah bertemu dengan Faisal Assegaf dan menerima bukti transkipan tersebut. Pihaknya akan menyerahkan sepenuhnya kepada kepolisian untuk menindaklanjuti.
***** akhir kutipan *****

Pemberitaan Ketua Umum PDI Perjuangan, Megawati Soekarnoputri, melakukan pembicaraan dengan Jaksa Agung Basrief Arief. Pembicaraan tersebut diduga untuk mengamankan kasus bus Transjakarta yang melibatkan Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo (Jokowi) yang kini maju sebagai capres sebagaimana yang diberitakan pada http://pemilu.okezone.com/read/2014/06/18/567/1000667/beredar-transkrip-pembicaraan-megawati-jaksa-agung-soal-kasus-transjakarta

Berikut kutipan selanjutnya

***** awal kutipan *****
Percakapan tersebut terjadi melalui sambungan telepon selular dengan durasi tiga menit 12 detik, sekira pukul 23.09 WIB pada 3 Mei 2014.
Berikut isi percakapan Megawati dengan Basrie Arief sebagaimana yang diperoleh Okezone:

Basrief Arief: Terima kasih bu, arahannya sudah saya terima, langsung saya rapatkan dengan teman-teman.

Megawati: Itu anu, sampean jangan khawatir, soal media saya ke Pak Surya, nanti beliau yang berusaha meredam.

Basrief Arief: Makasih bu, eskalasi pemberitaan beberapa hari agak naik, tapi alhamdulillah trendnya mulai menurun. Tim kami sudah menghadap Pak Jokowi meminta yang bersangkutan agar tidak terlalu reaktif ke media massa.

Megawati: Syukurlah kalau begitu, intinya jangan sampai masalah ini (kasus Transjakarta) melemahkan kita, bisa blunder hadapi Pilpres, tolong diberi kepastian, soal teknis bicarakan langsung dengan Pak Trimedia dan mas Todung, aku percaya sama sampaean.

Basrief Arief: Tadi sore kami sudah berkoordinasi, insya Allah semuanya berjalan lancar, mohon dukungan dan doanya bu. Saya akan berusaha maksimal, Pak Trimedia juga sudah menjamin data-datanya.

Megawati: Amien, semua ini ujian, semoga tidak berlarut-larut, apa sih yang enggak dipolitisir, apalagi situasi kini makin dinamis, tapi saya percaya sampean dan kawan-kawan bisa meyakinkan ke media, saya percaya bisa diatasi, jangan kasus ini Pak Jokowi jadi terseret dan membuat agenda kita semua berantakan.

Basyrief Arief: “Insya Allah saya usahakan, sekali lagi terima kasih kepercayaan ibu kepada saya dan teman-teman, kita komit kok bu, untuk urusan ini (kasus Transjakarta) saya pasang badan.
***** akhir kutipan *****

Ketua Progres 98 Faizal Assegaf mengaku dirinya tidak mempolitisir bocornya transkip percakapan Jaksa Agung Basrief Arief dengan Ketua Umum PDI Perjuangan Megawati Soekarno Putri sebagaimana yang diberitakan pada http://www.tribunnews.com/metropolitan/2014/06/18/faisal-ngaku-peroleh-transkrip-mega-jaksa-agung-dari-orang-suruhan-bambang

Berikut kutipan selanjutnya

***** awal kutipan *****
Dikatakannya saat mendatangi Kejaksaan Agung, bila dirinya ingin mempolitisir transkip percakapan tersebut maka dirinya dengan mudah bisa menyebarkan percakapan tersebut di dunia maya.

“Kalau kami ingin demikian (mempolitisir) ini, kami akan gunakan cara umum yang dipakai, dengan cara menyebarkan ke dunia maya. Tapi ini saya datang dengan tujuan meminta klarifikasi agar tidak menjadi bola liar, apalagi menyangkut kasus TransJakarta ini masih menjadi misteri,” ungkap Faizal.

Dikatakannya, ia mendapatkan transkip tersebut dari seorang pegawai KPK setelah dirinya melaporkan dugaan grativikasi yang dilakukan Gubernur DKI Jakarta Non Aktif Joko Widodo pada 6 Juni 2014.

Kemudian ia pulang dan datang seseorang yang mengaku suruhan pimpinan KPK Bambang Widjojanto. Pertemuannya hanya sekitar tujuh menit.

Orang yang mengenakan kemeja putih yang menemui Faizal tersebut memberikan transkip tersebut.

Awalnya Faizal tidak percaya, tetapi kemudian dirinya diperdengarkan rekamannya dan ia mengenali suara Megawati sehingga dirinya yakin. Tetapi hingga kini Faizal tidak mengetahui apa motif dibalik pembocoran transkip perbincangan tersebut.

“Saya tidak tahu motivasi mereka, mereka mengutus orang datang ke kami yang melaporkan dugaan gratifikasi,” katanya.

Dikatakan dia, dengan dirinya melaporkan kasus dugaan gratifikasi Joko Widodo, maka menjadi sebuah dilema bagi semua komisioner KPK. “Bambang lewat utusannya itu mengatakan, sudahlah nggak usah mengangkat kasus itu. Bongkar saja kasus TransJakarta,” ungkapnya.

Faizal pun menantang KPK untuk membuka rekaman CCTV-nya yang menampilkan dirinya saat berkunjung ke markas KPK pada 6 Juni 2014 sekitar pukul 14.00 WIB. “Siapa saja yang saya temui di KPK tentu bisa menjadi bukti,” katanya.

Menyikapi hal tersebut, Jaksa Agung Basrief Arief membantah ada pembicaraan dengan Megawati mengenai kasus TransJakarta. Melalui Kepala Pusat Penerangan Hukum Kejaksaan Agung Tony Spontana menegaskan bahwa hal tersebut merupakan fitnah belaka.

“Beliau (Jaksa Agung) tadi pada saat acara silaturahmi dengan purna adhiyaksa menyampaikan dalam sambutan resminya, satu diantaranya jaksa agung menyampaikan terkait laporan progres 98, beliau menyampaikan dengan tegas itu adalah fitnah yang sangat keji. Jadi kita terjemahkan saja itu tidak benar,” ungkapnya.

Begitu juga Wakil Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), Bambang Widjojanto membantah pernah mengirim Ajudan atau utusannya untuk memberikan transkip rekaman tentang upaya penyelematan Gubernur DKI nonaktif, Joko Widodo (Jokowi) terkait kasus dugaan korupsi TransJakarta yang tengah digarap Kejaksaan Agung (Kejagung).

“KPK menggunakan system Law Full Intercept sehingga dapat dipastikan tidak akan ada informasi hasil intersep yang bisa keluar pada pihak yang tidak punya kaitan dengan pihak yang menangani kasus,” kata Bambang.
****** akhir kutipan *****

Santer beredar kabar bahwa AS melalui kegiatan intelijennya mengetahui bahwa Jokowi akan tersandung kasus korupsi TransJakarta sebagaimana yang diberitakan pada http://politik.rmol.co/read/2014/06/04/158116/Amerika-Serikat-Putuskan-Tidak-Dukung-Jokowi-

Berikut kutipan selanjutnya

***** awal kutipan *****
“Saya kira intelijen Amerika juga sudah punya pemetaan, proyeksi kemenangan yang sangat akurat sehingga saat ini, Amerika mengambil sikap ke tengah di antara kedua poros ini,” ujar pengamat politik dari Universitas Indonesia (UI), Agung Suprio kepada Rakyat Merdeka Online, Rabu siang (4/6).

Dan seperti biasa, pihak negeri Paman Sam itu tidak akan mendukung pasangan capres dan cawapres yang dinilai tidak menguntungkan untuk kebijakan politik maupun ekonomi mereka.

“Sikap Amerika yang berubah itu memang karakter politik luar negeri Amerika yang oportunis dan pragmatis. Amerika bersikap netral sekarang karena melihat dua kubu semakin imbang. Trend elektabilitas Jokowi-JK turun dan Prabowo-Hatta naik mendapatkan perhatian dari Amerika,” papar Agung.

Agung bahkan menilai AS telah memutuskan untuk tidak mendukung pasangan capres dan cawapres yang didukung oleh PDIP, Nasdem, PKB, Hanura dan PKPI itu.

“Ya benar sekali. Tepatnya jika dilihat dari persepsi publik dimana sebelumnya tampak Amerika dukung Jokowi sekarang Amerika balik ke tengah bersikap netral dengan menerima siapapun capres yang terpilih,” tegasnya.
***** akhir kutipan *****

Trend elektabilitas Jokowi-JK turun dan Prabowo-Hatta naik sebagaimana yang disampaikan oleh pengamat politik dari Universitas Indonesia (UI), Agung Suprio serupa dengan yang diberitakan pada http://www.tribunnews.com/pemilu-2014/2014/06/05/pengamat-jelaskan-alasan-elektabilitas-jokowi-cenderung-turun

Berikut kutipan selanjutnya

***** awal kutipan ****
Budiman, Pengamat Politik dari Konsep Indonesia (Konsepindo) Research and Consulting, menyatakan, tren menurunnya elektabilitas Jokowi karena ia dianggap mengabaikan amanah masyarakat untuk membenahi Kota Jakarta selama lima tahun.

“Ternyata kini beliau menjadi capres. Sehingga sebagian besar publik tentunya sangat kecewa,” kata Budiman di Cinere, Depok, Kamis (5/6/2014).

Hal itulah, katanya yang menjadi penyebab tidak bertambahnya elektabilitas Jokowi secara signifikan setelah pileg lalu.

Sementara tren meningkatnya elektabilitas Prabowo, kata Budiman, lebih disebabkan karena sebagian masyarakat memindahkan pilihannya dari Jokowi ke Prabowo.

Sementara, Peneliti Lingkaran Survey Indonesia (LSI) Rully Akbar mengatakan, mayoritas warga Jakarta yang memilih Jokowi saat Pilgub 2012 lalu, merasa kecewa karena Jokowi dianggap tidak menempati janjinya memimpin Jakarta selama lima tahun.

“Warga menjadi kecewa dengan Jokowi,” katanya.

Hasil survei LSI ini seolah membenarkan prediksi beberapa tokoh yang menyebut banyak warga kecewa berat dengan Jokowi.

Ratna Sarumpaet, Ketua Majelis Kedaulatan Rakyat Indonesia (MKRI), yang merupakan mantan Tim Sukses Jokowi saat Pilgub DKI 2012 lalu, mengatakan, warga DKI mulai kehilangan kepercayaan ketika Jokowi dicalonkan sebagai presiden oleh PDIP.

“Jangan salahkan masyarakat, jika nanti kehilangan kepercayaan dan kebanggaan yang sebelumnya ada,” kata Ratna.

Menurut Ratna, saat ini Jokowi bukan hanya tidak beretika, tapi juga mulai tampak tak memiliki karakter.
***** akhir kutipan *****

Trend elektabilitas Jokowi-JK turun juga diakui oleh Jokowi sendiri sebagaimana yang diberitakan pada http://nasional.kompas.com/read/2014/06/16/1521448/Jokowi.Kaget.Elektabilitasnya.di.Jakarta.Merosot

***** awal kutipan *****
“Survei kita untuk Jakarta pada hari-hari terakhir memang kalah. Saya sendiri kaget,” ujar dia di Rumah Koalisi, Jalan Borobudur 18, Menteng, Jakarta Pusat, Senin (16/6/2014) siang.

Jokowi mengatakan, sebelum pencapresan, elektabilitasnya masih sekitar 74 persen. Namun, seiring dengan berjalannya waktu, tingkatannya kian menurun. Jokowi memprediksi, pemilih di DKI Jakarta, terutama kelas menengah ke bawah, terpengaruh isu-isu miring tentangnya.
***** akhir kutipan *****

Kita harus bedakan antara isu miring (isu negatif) dengan berita negatif terkait capres.

Isu negatif adalah informasi yang tidak berdasarkan data pendukung hanya berdasarkan asumsi atau praduga sedangkan berita negatif berdasarkan data pendukung yang perlu diklarifikasi lebih lanjut oleh capres itu sendiri.

Contohnya pengakuan Mantan Kepala Dinas Perhubungan DKI Jakarta Udar Pristono sebagaimana diberitakan pada http://news.liputan6.com/read/2049246/udar-pristono-mengaku-kenal-makelar-bus-transjakarta-lewat-jokowi

****** awal kutipan *****
“Saya ngomong sejujur-jujurnya. Yang saya tahu namanya Bimo. Saya kenal sama Pak Bimo di teras Balaikota,” ujar Udar Pristono di ruangannya di Balai Kota DKI Jakarta, Selasa (13/5/2014).

Kala itu, ia menghadap Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo (Jokowi) untuk melaporkan perihal perhubungan. Ketika keluar ruangan, Michael Bimo bersama Ketua Umum Kopaja Nanang Basuki, tengah menunggu Jokowi untuk menghadap.

“Tapi Pak Gubernur mau keluar. Akhirnya sudah, pak gubernur bilang ‘kamu ke pak Pris aja soal apa diutarakan,” tutur dia.
******* akhir kutipan ******

Ketua Umum Pengurus Pusat (PP) Muhammadiyah Din Syamsuddin menyampaikan pada http://www.tribunnews.com/pemilu-2014/2014/05/15/din-syamsuddin-sarankan-capres-dan-cawapres-klarifikasi-kesalahannya

***** awal kutipan ******
“Bukan kelemahannya (yang diklarifikasi), kelemahan itu manusiawi”.

Hemat saya dalam rangka pemilihan dan pemberian amanat untuk memimpin bangsa dan negara ini, kesalahan-kesalahan dari individu dari Capres dan Cawapres, baik hukum, moral, politik, itu perlu diklarifikasi,”

Din tidak ingin setiap kesalahan-kesalahan yang dimiliki setiap tokoh Capres maupun Cawapres disembunyikan atau ditutup-tutupi. Hal tersebut akan memberikan dampak yang tidak baik dalam kepemimpinannya nanti bila terpilih.

Ia mencontohkan, bila seorang Capres atau Cawapres terindikasi, maka harus dijelaskan sejelas-jelasnya.

“Kalau tidak (dijelaskan), Capres Cawapres korupsi, kemudian ditutup-tutupi, kemudian dia terpilih lalu dia merasa enak, sehingga kalau begitu saya korupsi lagi. Itu tidak baik,” ucapnya.

Untuk itu, sebaiknya individu Capres dan Cawapres siapapun mereka yang akan tampil dam memiliki kesalahan baik hukum, politik, moral dan lain-lain itu perlu diklarifikasi.

“Jangan sampai jadi hal yang ditutupi, terbungkus, karena tidak baik bagi kepimimpinan dia dan hubungannya dengan rakyat pada masa yang akan datang,” ungkapnya.
****** akhir kutipan ******

Wassalam

 

Zon dI Jonggol, Kabupaten Bogor 16830

Read Full Post »