Feeds:
Pos
Komentar

Posts Tagged ‘bisa masuk neraka’

Khatib bisa masuk neraka

 

Berikut adalah contoh akibat memahami hadits “Kullu bid’ah dholalah” dengan makna dzahir atau dengan terjemahannya saja atau bersandarkan arti bahasa (lughot) dan istilah (terminologi) saja.

Rasulullah shallallahu alaihi wasallam tidak pernah menyampaikan perkara kewajiban (perkara yang ditinggalkan berdosa) seperti berdoalah sebagaimana beliau berdoa. Oleh karenanya kita boleh berdoa kepada Allah ta’ala atau membuat untaian doa dengan bahasa kita sendiri.

Pada saat sholat Jum’at di suatu masjid yang kami singgahi dalam sebuah perjalanan dimana khatibnya adalah hasil pengajaran ulama yang dipaksakan oleh penguasa kerajaan dinasti Saudi untuk mengikuti pemahaman ulama Muhammad bin Abdul Wahhab.

Khatib mengatakan bahwa kita boleh berdoa kepada Allah ta’ala dengan bahasa kita sendiri (bahasa Indonesia) namun tidak boleh membuat untaian doa dalam bahasa Arab yang tidak pernah dicontohkan oleh Rasulullah shallallahu alaihi wasallam karena hal itu termasuk bid’ah dholalah, yang melakukannya pasti akan masuk neraka. Khatib menjelaskan pendapatnya dengan mencontohkan bahwa ratib Al Haddad karena tidak pernah dicontohkan oleh Rasulullah shallallahu alaihi wasallam maka termasuk bid’ah dholalah.

Padahal ratib Al Haddad merupakan karya ulama yang sholeh dari kalangan Ahlul Bait, keturunan cucu Rasulullah shallallahu alaihi wasallam yakni Imam Al-Allamah Al-Habib Abdullah bin Alwy Al-Haddad bin Muhammad bin Ahmad bin Abdullah bin Muhammad bin Alwy bin Ahmad bin Abu Bakar Al–Thowil bin Ahmad bin Muhammad bin Abdullah bin Ahmad Al-Faqih bin Abdurrohman bin Alwy bin Muhammad Shôhib Mirbath bin Ali Khôli’ Qosam bin Alwi bin Muhammad Shôhib Shouma’ah bin Alwi bin Ubaidillah bin Al-Muhâjir Ilallôh Ahmad bin Isa bin Muhammad An-Naqîb bin Ali Al-Uraidhi bin Imam Jakfar Ash-Shodiq bin Muhammad Al-Baqir bin Ali Zainal Abidin bin Imam As-Sibth Al-Husein bin Al-Imam Amirul Mukminin Ali bin Abi Tholib suami Az-Zahro Fathimah Al-Batul binti Rasulullah Muhammad Shallallahu alaihi wasallam.

Tentulah Imam Al-Allamah Al-Habib Abdullah bin Alwy Al-Hadad mendapatkan pengajaran agama dari orangtua-orang tua beliau yang tersambung kepada Imam Sayyidina Ali ra yang mendapatkan pengajaran agama langsung dari Rasulullah shallallahu alaihi wasallam sehingga insya Allah terjaga kemutawatiran sanad, kemurnian agama dan aqidahnya.

Kerancuan pernyataan khatib kalangan mereka adalah bahwa kita boleh membuat untaian doa dalam bahasa kita sendiri (dalam bahasa Indonesia) namun terlarang membuat untaian doa dalam bahasa Arab. Lalu bagaimana orang Arab membuat untaian doa dalam bahasa mereka sendiri (dalam bahasa Arab) kalau membuat untaian doa dalam bahasa Arab adalah bid’ah dholalah dan akan bertempat di neraka ?

Jelas khatib tersebut telah mengada ada dalam urusan agama atau mengada-ada dalam perkara syariat atau mengada-ada dalam urusan yang merupakan hak Allah ta’ala menetapkannya yakni mengada-ada larangan atau membuat sesuatu larangan yang tidak pernah dilarang oleh Allah Azza wa Jalla maupun tidak pernah disampaikan oleh Rasulullah shallallahu alaihi wasallam. Artinya khatib telah terjerumus menjadi ahli bid’ah

Ahli bid’ah adalah adalah mereka yang mengada-ada dalam urusan agama atau mengada-ada dalam perkara syariat atau mengada-ada dalam urusan yang merupakan hak Allah ta’ala menetapkannya yakni mereka yang melarang sesuatu yang tidak dilarangNya, mengharamkan sesuatu yang tidak diharamkanNya, mewajibkan sesuatu yang tidak diwajibkanNya atau mereka yang melakukan sunnah sayyiah yakni mencontohkan atau meneladankan sesuatu di luar perkara syariat yang bertentangan dengan Al Qur’an dan Hadits.

Dari Ibnu ‘Abbas r.a. berkata Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda, “di dalam agama itu tidak ada pemahaman berdasarkan akal pikiran, sesungguhnya agama itu dari Tuhan, perintah-Nya dan larangan-Nya.” (Hadits riwayat Ath-Thabarani)

Dalam melarang, mengharamkan, mewajibkan sesuatu digunakanlah metodologi istinbat (menetapkan hukum perkara) namun dilakukan bagi mereka yang mempunyai kompetensi sebagai Imam Mujtahid.

Ahli bid’ah adalah mereka yang menganggap Allah Azza wa Jalla telah lupa

Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda, “Sesungguhnya Allah telah mewajibkan beberapa kewajiban (ditinggalkan berdosa), maka jangan kamu sia-siakan dia; dan Allah telah memberikan beberapa larangan (dikerjakan berdosa)), maka jangan kamu langgar dia; dan Allah telah mengharamkan sesuatu (dikerjakan berdosa), maka jangan kamu pertengkarkan dia; dan Allah telah mendiamkan beberapa hal sebagai tanda kasihnya kepada kamu, Dia tidak lupa, maka jangan kamu perbincangkan dia.” (Riwayat Daraquthni, dihasankan oleh an-Nawawi)

Ahli bid’ah adalah mereka yang menyekutukan Allah sehingga Allah ta’ala menutup taubat mereka sampai mereka meninggalkan bid’ahnya.

Dari Anas r.a. berkata: Rasulullah shallallahu alaihi wasallam pernah bersabda : “Sesungguhnya Allah menutup taubat dari tiap-tiap orang dari ahli bid’ah sehingga ia meninggalkan bid’ahnya.” (H. R. Thabrani)

Ahli bid’ah adalah mereka yang menyekutukan Allah oleh karenanya mereka akan bertempat di neraka

Firman Allah Azza wa Jalla yang artinya, “Katakanlah! Tuhanku hanya mengharamkan hal-hal yang tidak baik yang timbul daripadanya dan apa yang tersembunyi dan dosa dan durhaka yang tidak benar dan kamu menyekutukan Allah dengan sesuatu yang Allah tidak turunkan keterangan padanya dan kamu mengatakan atas (nama) Allah dengan sesuatu yang kamu tidak mengetahui.” (QS al-A’raf: 32-33)

Dalam hadits Qudsi , Rasulullah bersabda: “Aku ciptakan hamba-hambaKu ini dengan sikap yang lurus, tetapi kemudian datanglah syaitan kepada mereka. Syaitan ini kemudian membelokkan mereka dari agamanya, dan mengharamkan atas mereka sesuatu yang Aku halalkan kepada mereka, serta mempengaruhi supaya mereka mau menyekutukan Aku dengan sesuatu yang Aku tidak turunkan keterangan padanya.” (Riwayat Muslim)

Mereka yang termakan hasutan atau korban ghazwul fikri (perang pemahaman) dari kaum Zionis Yahudi sehingga mereka memahami Al Qur’an dan Hadits dengan makna dzahir atau dengan terjemahannya saja atau bersandarkan arti bahasa (lughot) dan istilah (terminologi) saja.

Mereka tidak memperhatikan ilmu-ilmu yang bersangkutan dengan bahasa arab itu seumpama nahwu, sharaf, balaghah (ma’ani, bayan dan badi’). Mereka tidak juga memperhatikan sifat lafadz-lafadz dalam al-Quran dan as-Sunnah itu yang beraneka ragam seperti ada lafadz nash, ada lafadz dlahir, ada lafadz mijmal, ada lafadz bayan, ada lafadz muawwal, ada yang umum, ada yang khusus, ada yang mutlaq, ada yang muqoyyad, ada majaz, ada lafadz kinayah selain lafadz hakikat dan lain lainnya.

Akibat mereka tidak dapat memahami hadits “Kullu bid’ah dholalah”  tanpa disadari telah bertasyabuh dengan kaum Nasrani menjadikan ulama-ulama mereka sebagai tuhan-tuhan  selain Allah karena mereka melarang sesuatu yang tidak dilarangNya, mengharamkan sesuatu yang tidak diharamkanNya, mewajibkan sesuatu yang tidak diwajibkanNya atau mereka yang melakukan sunnah sayyiah yakni mencontohkan atau meneladankan sesuatu di luar perkara syariat yang bertentangan dengan Al Qur’an dan Hadits

Allah Azza wa Jalla berfirman, “Mereka menjadikan para rahib dan pendeta mereka sebagai tuhan-tuhan selain Allah“. (QS at-Taubah [9]:31 )

Ketika Nabi ditanya terkait dengan ayat ini, “apakah mereka menyembah para rahib dan pendeta sehingga dikatakan menjadikan mereka sebagai tuhan-tuhan selain Allah?” Nabi menjawab, “tidak”, “Mereka tidak menyembah para rahib dan pendeta itu, tetapi jika para rahib dan pendeta itu menghalalkan sesuatu bagi mereka, mereka menganggapnya halal, dan jika para rahib dan pendeta itu mengharamkan bagi mereka sesuatu, mereka mengharamkannya

Pada riwayat yang lain disebutkan, Rasulullah bersabda ”mereka (para rahib dan pendeta) itu telah menetapkan haram terhadap sesuatu yang halal, dan menghalalkan sesuatu yang haram, kemudian mereka mengikutinya. Yang demikian itulah penyembahannya kepada mereka.” (Riwayat Tarmizi)

Oleh karenanya agar tidak terjerumus menjadi ahli bid’ah, sebaiknya bacalah uraian tentang cara memahami hadits “Kullu bid’ah dholalah” dalam tulisan pada https://mutiarazuhud.wordpress.com/2012/05/10/tinjauan-kullu-bidah/

 

Wassalam

 

Zon di Jonggol, Kab Bogor 16830

Iklan

Read Full Post »