Feeds:
Pos
Komentar

Posts Tagged ‘Boleh’


Jika tidak CANTIK nan MENGGODA maka boleh tidak bercadar

Salah seorang menyampaikan kutipan yang dinisbatkan sebagai pendapat KH Hasyim Asy’ari pendiri ormas NU dan katanya dari buku Ahkam al Fuqaha’ fi Muqarrati Mu’tamarat Nahdhatil Ulama’, Kumpulan Masalah2 Diniyah dalam Muktamar NU ke-1 s/d 15 yang diterbitkan oleh Pengurus Besar Nahdhatul Ulama dan Penerbit CV Toha Putra Semarang.

Tepatnya pada juz kedua yang berisi hasil keputusan Muktamar NU kedelapan yang diadakan di Batavia (Jakarta) pada tanggal 12 Muharram 1352 H atau 7 Mei 1933 H pada halaman 8-9 tercantum fatwa yang merupakan jawaban pertanyaan yang berasal dari Surabaya sebagai berikut:

***** awal kutipan *****
135 Tanya, Bagaimana hukumnya keluarnya wanita akan bekerja dengan terbuka muka dan kedua tangannya? Apakah HARAM atau makruh?

Kalau dihukumkan HARAM, apakah ada pendapat yang menghalalkan? Karena demikian itu telah menjadi darurat ataukah tidak? (Surabaya).

ج: يحرح خروجها لذلك بتلك الحالة على المعتمد والثاني يجوز خروجها لأجل المعاملة مكشوفة الوجه والكفين إلى الكوعين. وعند الحنفية يجوز ذلك بل مع كشف الرجلين إلى الكوعين إذا أمنت الفتنة.

Jaw.: Hukumnya wanita keluar yang demikian itu HARAM, menurut pendapat yang mu’tamad, menurut pendapat lain boleh wanita keluar untuk jual beli dengan terbuka muka dan kedua telapak tangannya, dan menurut Mazhab Hanafi, demikian itu boleh bahkan dengan terbuka kakinya (sampai mata kaki-ed) APABILA TIDAK ADA FITNAH
***** akhir kutipan *****

Pada hakikatnya TIDAK ADA IKHTILAF (perbedaan pendapat) bahwa hukum asal dari perkara CADAR atau PURDAH yakni kain penutup muka (wajah) perempuan dalam bahasa Arab disebut juga dengan NIQAB ADALAH mubah (boleh) karena TIDAK MUNGKIN KH Hasyim Asy’ari pendiri ormas NU maupun Imam Mazhab yang empat MENENTANG atau KEBERATAN dengan apa yang telah DIKECUALIKAN oleh AllahTa’ala.

Buktinya dalam kutipan di atas, KH Hasyim Asy’ari ketika menyampaikan pendapatnya mewajibkan cadar/purdah/niqab, Beliau juga menyampaikan pendapat lain bahwa hukumnya mubah (boleh) wanita keluar untuk jual beli dengan terbuka muka dan kedua telapak tangannya, dan menurut Mazhab Hanafi, demikian itu boleh bahkan dengan terbuka kakinya (sampai mata kaki-ed) APABILA “TIDAK ADA FITNAH”.

Maknanya KH Hasyim Asy’ari MEMBOLEHKAN menggunakan pendapat yang lain SELAMA “TIDAK ADA FITNAH” karena Beliau tidak mengatakan atau tidak mentahdzir pendapat tersebut KELIRU atau bahkan menganggap atau menuduhnya SESAT.

Jadi kesimpulannya para ulama berpendapat penggunaan CADAR/PURDAH/NIQAB (penutup muka bagi wanita) berubah dari hukum asalnya MUBAH (BOLEH) menjadi WAJIB atau SUNAH (berpahala) adalah TIDAK BERLAKU UMUM namun dengan BATASAN atau KONDISI/KEADAAN tertentu seperti suatu KEADAAN AKAN MENIMBULKAN FITNAH, dapat mengundang pandangan yang diharamkan atau lainnya.

Hukum asal dari perkara CADAR/PURDAH/NIQAB (penutup muka bagi wanita adalah MUBAH (BOLEH) atau wajah bukan aurat bagi wanita SELAMA TIDAK MENIMBULKAN FITNAH.

Hal ini serupa dengan peringatan Maulid Nabi untuk mengenang Rasulullah hukum asalnya adalah mubah (boleh) SELAMA kegiatan untuk mengisi acara peringatan Maulid Nabi tidak menyalahi larangan Allah Ta’ala dan Rasulullah.

Peringatan maulid Nabi adalah wasail (perantara atau sarana) sedangkan maqoshidnya (tujuannya) adalah mengenal, mengenang dan meneladani Rasulullah.

Hukum asal dari peringatan Maulid Nabi adalah mubah (boleh), boleh dilakukan dan boleh ditinggalkan.

Lalu mengapa menjadi sunnah dalam arti dikerjakan berpahala ?

Hal ini dikarenakan maqoshid (tujuan) dari Maulid Nabi adalah sunnah yakni mengenal Rasulullah dan meneladaninya karena hukum wasail itu mengikuti hukum maqoshid sebagaimana kaidah ushul fiqh lil wasail hukmul maqoshid.

Contoh lain dari kaidah lil wasail hukmul maqoshid. Anda membeli air hukum asalnya mubah, mau beli atau tidak terserah anda. Akan tetapi suatu saat tiba waktu sholat wajib sedangkan air sama sekali tidak ada kecuali harus membelinya dan anda punya kemampuan untuk itu maka hukum membeli air adalah wajib.

Jadi kaidah ushul fiqih lil wasail hukmul maqoshid (hukum wasail itu mengikuti hukum maqoshid) dapat diterapkan dalam perkara CADAR/PURDAH/NIQAB (penutup muka bagi wanita) yakni,

Dengan WASAIL (sarana) menggunakan CADAR/PURDAH/NIQAB (penutup muka bagi wanita) hukum asalnya dari MUBAH (BOLEH) menjadi SUNNAH (berpahala) karena MAQOSHID (tujuannya) untuk menghindari FITNAH.

Contohnya jika seorang wanita keluar rumah dan merasa yakin akan melewati kumpulan pemuda dengan KONDISI/KEADAAN bertabiat yang diselorohkan “kambing dibedakin juga suka” maka hukum menggunakan CADAR berubah dari mubah (boleh) menjadi wajib untuk menghindari fitnah gangguan dari pemuda tersebut karena Allah Ta’ala memerintahkan menggunakan Jalabib (bentuk jamak dari lafadz Jilbab) dan MEMBOLEHKAN wajah dan kedua telapak tangan agar mudah dikenal sebagai wanita baik dan supaya tidak diganggu atau dijahili.

Namun jika seorang wanita keluar rumah dan merasa yakin akan melewati pemuda dengan KONDISI/KEADAAN bertabiat selalu menjaga pandangannya maka hukum perkara menggunakan CADAR/PURDAH/NIQAB tetap pada hukum asalnya mubah (boleh)

Sebagian ulama Maliki menyebutkan pendapat bahwa hukumnya tidak wajib namun laki-laki wajib menundukkan pandangannya. Pendapat ini dinukil Mawwaq dari Iyadh.

Ibnu Marzuuq dalam kitab Ightimamul Furshah, ia berkata: ‘Inilah pendapat yang masyhur dalam madzhab Maliki’ bahwa berpendapat wajah wanita bukanlah aurat, namun memakai cadar hukumnya sunnah (dianjurkan) dan menjadi wajib jika dikhawatirkan menimbulkan fitnah) .

Bahkan ada ulama yang MEMERINCI BATASAN atau KONDISI / KEADAAN tertentu seperti Syaikh Zarruq dalam kitab Syarhul Waghlisiyyah berpendapat bahwa

ﻭﻓﺼَّﻞ ﺍﻟﺸﻴﺦ ﺯﺭﻭﻕ ﻓﻲ ﺷﺮﺡ ﺍﻟﻮﻏﻠﻴﺴﻴﺔ ﺑﻴﻦ ﺍﻟﺠﻤﻴﻠﺔ ﻓﻴﺠﺐ ﻋﻠﻴﻬﺎ ، ﻭﻏﻴﺮﻫﺎ ﻓﻴُﺴﺘﺤﺐ

“jika cantik maka wajib, jika tidak cantik maka sunnah (berpahala)” (Hasyiyah ‘Ala Syarh Az Zarqaani, 176)

Al Imam Al Mufassir Muhammad Ath Tahir Ibn Asyur berpegang kepada pendapat yang Mu’tamad dalam Madzhab Maliki dan Jumhur, yaitu:

Yang dimaksud dengan الزينة ada dua,

– Az Ziinah Al Khalqiyyah (Perhiasan Bawaan lahir, seluruh tubuh wanita, terkhusus wajah dan dua telapak tangan)

– Az Zinah Al Muktasabah (Perhiasan berupa kosmetik, pakaian, dan perhiasan2 yg biasa dipakai wanita umumnya)

Jadi boleh wanita berhias untuk keluar rumah SELAMA hiasannya TIDAK MENIMBULKAN FITNAH seperti hiasan yang “sensual” yakni CANTIK nan MENGGODA dalam arti akan menimbulkan fitnah Zina Mata yang disabdakan oleh Rasulullah bahwa pengertian Zina Mata adalah melihat kepada wanita dan “dibenarkan” oleh kemaluannya atau melihat kepada wanita yang mempengaruhi (terkait) dengan kemaluannya atau hawa nafsu, keinginan, angan-angan yang merupakan zina hati pula.

Rasulullah bersabda bersabda:

ﻛُﻞُّ ﻋَﻴْﻦٍ ﺯَﺍﻧِﻴَﺔ

“Setiap Mata berzina” . (HR Turmudzi, Ahmad, Ibnu Khuzaiman, Ibnu Hibban)

Ini contoh lain kata kullu yang artinya setiap yakni “Setiap mata berzina” serupa dengan “Setiap bid’ah sesat” termasuk Amm Makhshus yakni lafadz umum yang dibatasi jangkauannya sehingga maknanya adalah kullu ba’din yakni “setiap dalam arti sebagian”.

Hadits “kullu bid’ah dholalah” yang artinya “setiap bid’ah sesat”, jumhur ulama telah sepakat dibatasi jangkauannya atau di-takhsis munfasil (terpisah) atau DIKECUALIKAN dengan hadits tentang “sunnah hasanah” dan “sunnah sayyiah”

Sedangkan hadits “setiap mata berzina” dibatasi jangkauannya atau di-takhsis munfasil (terpisah) atau DIKECUALIKAN dengan hadits seperti

Sahabat Ali bin Abi Thalib menuturkan bahwa Rasulullah bersabda kepadanya, “Janganlah engkau mengikuti pandangan pertama dengan pandangan berikutnya. Karena pandangan pertama (yang tidak disengaja) adalah untukmu (tidak berdosa), sedangkan pandangan berikutnya tidak halal untukmu.” (HR. Abu Daud)

Jarir bin Abdillah berkata, “Aku pernah bertanya kepada Rasulullah mengenai pandangan yang tiba-tiba. Beliau menyuruhkan untuk memalingkan pandanganku.” (HR. Muslim)

Jadi yang DIKECUALIKAN dari mata yang berzina adalah “pandangan pertama” atau melihat pertama yang tidak disengaja.

Sedangkan yang termasuk mata yang berzina (zina mata) adalah setiap mata yang melihat kepada wanita dan “dibenarkan” oleh kemaluannya atau melihat kepada wanita yang mempengaruhi atau terkait dengan kemaluannya atau hawa nafsu, keinginan, angan-angan yang merupakan zina hati pula.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Sesungguhnya manusia itu telah ditentukan nasib perzinaannya yang tidak mustahil dan pasti akan dijalaninya. Zina kedua mata adalah melihat, zina kedua telinga adalah mendengar, zina lidah adalah berbicara, zina kedua tangan adalah menyentuh, zina kedua kaki adalah melangkah, dan zina hati adalah berkeinginan dan berangan-angan, sedangkan semua itu akan ditindak lanjuti atau ditolak oleh kemaluan.” (HR Muslim 4802).

Jadi yang DIKECUALIKAN dari zina mata adalah melihat wanita yang tidak terkait dengan kemaluan seperti “pandangan pertama” atau contoh lainnya dokter pria membantu pasien wanita, guru pria mengajar murid wanita, ustadz pria yang berdakwah di jama’ah wanita dan lain lain.

Begitupula hukum asal perkara menggunakan cadar/purdah/niqab bagi wanita BUKAN KEWAJIBAN ataupun SUNNAH (MANDUB) melainkan MUBAH (boleh) KARENA para fuqaha (ahli fiqih) mengatakan bahwa perkara apapun yang TIDAK ADA DALIL yang menjelaskan KEWAJIBAN (perintah) atau KEHARAMAN (larangan) sesuatu secara jelas (qathi) , maka perkara tersebut merupakan amrun mubah atau hukum asalnya adalah mubah (boleh).

Grand Syaikh Al Azhar, Prof. Dr. Ahmed Al Tayeb dalam sebuah wawancara menyampaikan pendapat (fatwa) ulama pada umumnya bahwa Cadar/Purdah/Niqab itu bukanlah perkara Wajib, bukan pula perkara Sunah, bukan pula perkara Mandub. Tapi ia juga bukan perkara Makruh dan juga tidak terlarang. Ia adalah perkara Amrun Mubah (dibolehkan). Seorang wanita boleh memakainya, boleh juga melepaskannya, sesuai dengan kondisi dan kebutuhannya.

Silahkan saksikan wawancaranya dalam video pada https://m.facebook.com/story.php?story_fbid=10157968718567065&id=752272064

Sedangkan ketika ditanya bagaimana hukumnya seorang wanita yang tidak memakai jilbab?

Berikut kutipan jawaban Grand Syaikh Al Azhar, Prof. Dr. Ahmed Al Tayeb

***** awal kutipan *****
Wanita PELAKU MAKSIAT. Dia BERMAKSIAT SEPERTI layaknya wanita yang BERDUSTA atau yang melakukan apa saja dari perkara maksiat.

Tapi anda perlu perhatikan bahwa maksiat itu ada berbagai tingkatan. Ada yang dosa besar.

Tapi apakah itu (tidak memakai jilbab) termasuk DOSA BESAR ?

Tidak, ia bukan dosa besar tapi itu termasuk MAKSIAT, dia BERDOSA KARENA itu MENYALAHI salah satu PERINTAH Allah, PERINTAH syariat.
***** akhir kutipan*****

Dalam video tersebut Beliau juga mengingatkan bahwa jika berpendapat bahwa wanita yang tidak memakai jilbab itu sebagai wanita yang telah keluar dari Islam (murtad), maka itu SALAH !!!

Jadi kita harus ingat selalu sabda Rasulullah bahwa terhadap orang yang menyatakan Tiada Tuhan kecuali Allah, kita harus menahan diri dan tidak memvonis kafir akibat dosa dan tidak mengeluarkannya dari agama Islam akibat perbuatan dosa”

Begitupula Imam Abu Abdillah Al-Qurthubi rahimahullah (wafat 671 H) berkata : “Adapun seorang muslim dia tidak dikafirkan walaupun melakukan dosa besar”

Begitupula para ulama tidak menetapkan CADAR/PURDAH/NIQAB sebagai sebuah KEWAJIBAN atau SUNNAH (MANDUB) berdalilkan AYAT HIJAB (di balik tabir) karena kewajiban di balik tabir khusus bagi istri Rasulullah selengkapnya dapat dibaca pada https://mutiarazuhud.wordpress.com/2020/01/23/jilbab-bukan-ikhtilaf/

Boleh jadi wanita yang mewajibkan yang tidak diwajibkan oleh Allah Ta’ala dan Rasulullah mengikuti pendapat (fatwa) ulama mereka mewajibkan bercadar di ZAMAN NOW (zaman sekarang) di mana pada umumnya pria bertabiat menjaga pandangannya TERJERUMUS GHULUW (melampaui batas) dalam beragama atau MEMPERSULIT DIRI SENDIRI.

Contohnya kita bisa melihat bagaimana kesulitan wanita bercadar makan bakso atau kuliner lainnya di sebuah pujasera.

Bahkan lucunya ketika sekumpulan wanita bercadar menggunakan “tongsis” untuk selfie, bagaimana sulitnya mereka mengenal sosok-sosok dalam foto tersebut.

Kaum Nasrani melampaui batas (ghuluw) dalam beragama tidak hanya dalam menuhankan al Masih dan ibundanya namun mereka melampaui batas (ghuluw) dalam beragama karena mereka melarang (mengharamkan) yang sebenarnya tidak dilarangNya (diharamkanNya) atau sebaliknya mewajibkan yang sebenarnya tidak diwajibkanNya

Allah Ta’ala berfirman yang artinya, “Mereka menjadikan para rahib dan pendeta mereka sebagai tuhan-tuhan selain Allah“. (QS at-Taubah [9]:31)

Ketika Nabi ditanya terkait dengan ayat ini, “apakah mereka menyembah para rahib dan pendeta sehingga dikatakan menjadikan mereka sebagai tuhan-tuhan selain Allah?” Nabi menjawab, “tidak”, “Mereka tidak menyembah para rahib dan pendeta itu, tetapi jika para rahib dan pendeta itu menghalalkan sesuatu bagi mereka, mereka menganggapnya halal, dan jika para rahib dan pendeta itu mengharamkan bagi mereka sesuatu, mereka mengharamkannya“

Pada riwayat yang lain disebutkan, Rasulullah bersabda ”mereka (para rahib dan pendeta) itu telah menetapkan haram terhadap sesuatu yang halal, dan menghalalkan sesuatu yang haram, kemudian mereka mengikutinya. Yang demikian itulah penyembahannya kepada mereka.” (Riwayat Tarmizi)

Orang-orang yang GAGAL PAHAM atau SALAH MEMAHAMI sabda Rasulullah “Kullu bid’atin dholalah” PASTI akan TERJERUMUS BID’AH dalam URUSAN AGAMA yakni,

Mereka MELARANG (MENGHARAMKAN) yang TIDAK DILARANG (DIHARAMKAN) oleh Allah Ta’ala dan Rasulullah atau sebaliknya mereka MEWAJIBKAN yang tidak DIWAJIBKAN oleh Allah Ta’ala dan Rasulullah.

Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda “Barang siapa yang membuat perkara baru (BID”AH) dalam URUSAN AGAMA yang tidak ada sumbernya (tidak diturunkan keterangan padanya) maka tertolak.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Perkara agama atau URUSAN AGAMA meliputi perkara kewajiban (jika ditinggalkan berdosa) maupun larangan (jika dilanggar berdosa) berasal dari Allah Azza wa Jalla bukan menurut akal pikiran manusia.

Dari Ibnu ‘Abbas r.a. berkata Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda,“di dalam agama itu tidak ada pemahaman berdasarkan akal pikiran, sesungguhnya agama itu dari Tuhan, perintah-Nya dan larangan-Nya.” (Hadits riwayat Ath-Thabarani).

Firman Allah Ta’ala yang artinya “Apa yang diberikan Rasul kepadamu, maka terimalah. Dan apa yang dilarangnya bagimu, maka tinggalkanlah.” (QS al-Hasyr [59]:7)

Rasulullah mengatakan, “Apa yang aku perintahkan maka kerjakanlah semampumu dan apa yang aku larang maka jauhilah“. (HR Bukhari).

Perintah Allah dan RasulNya hukumnya ada dua yakni Wajib dan Sunnah (mandub).

Sedangkan larangan Allah dan RasulNya hukumnya ada dua pula yakni Haram dan Makruh.

Selebihnya hukumnya adalah mubah (boleh) dan Allah Ta’ala tidak lupa.

Pelaku BID’AH dalam URUSAN AGAMA adalah mereka yang MENGANGGAP Allah Ta’ala LUPA dan menuduh atau memfitnah Rasulullah telah menyembunyikan sesuatu dari apa-apa yang diturunkan Allah Ta’ala (Hr Bukhari 7380 dan Muslim 177)

Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda, “Sesungguhnya Allah telah mewajibkan beberapa kewajiban (ditinggalkan berdosa), maka jangan kamu sia-siakan dia; dan Allah telah memberikan beberapa larangan (dikerjakan berdosa), maka jangan kamu langgar dia; dan Allah telah mengharamkan sesuatu (dikerjakan berdosa), maka jangan kamu pertengkarkan dia; dan Allah telah mendiamkan beberapa hal sebagai tanda kasihnya kepada kamu, Dia tidak lupa, maka jangan kamu perbincangkan dia.” (Riwayat Daraquthni, dihasankan oleh an-Nawawi)

Firman Allah Ta’ala yang artinya “Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu ni’mat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu” (QS Al-Maaidah: [5] : 3)

Ibnu Katsir ketika mentafsirkan (QS. al-Maidah [5]:3) berkata, “Tidak ada sesuatu yang halal melainkan yang Allah halalkan, tidak ada sesuatu yang haram melainkan yang Allah haramkan dan tidak ada agama kecuali perkara yang disyariatkan-Nya.”

Imam Jalaluddin As Suyuti dalam kitab tafsir Jalalain ketika mentafsirkan “Pada hari ini telah Kusempurnakan untukmu agamamu” yakni hukum-hukum halal maupun haram yang tidak diturunkan lagi setelahnya hukum-hukum dan kewajiban-kewajibannya.

Para Imam Mujtahid telah mengingatkan bahwa contoh perbuatan menyekutukan Allah adalah mereka yang salah dalam berijtihad dan beristinbat (menggali hukum) dari Al Qur’an dan Hadits sehingga mereka terjerumus melarang (mengharamkan) yang tidak dilarang (diharamkan) oleh Allah Ta’ala dan RasulNya atau mewajibkan yang tidak diwajibkan oleh Allah Ta’ala dan RasulNya

Firman Allah yang artinya, “Katakanlah! Tuhanku hanya mengharamkan hal-hal yang tidak baik yang timbul daripadanya dan apa yang tersembunyi dan dosa dan durhaka yang tidak benar dan kamu menyekutukan Allah dengan sesuatu yang Allah tidak turunkan keterangan padanya dan kamu mengatakan atas (nama) Allah dengan sesuatu yang kamu tidak mengetahui.” (QS al-A’raf [7]: 33)

Rasulullah bersabda, “Sesungguhnya Rabbku memerintahkanku untuk mengajarkan yang tidak kalian ketahui yang Ia ajarkan padaku pada hari ini: ‘Semua yang telah Aku berikan pada hamba itu halal, Aku ciptakan hamba-hambaKu ini dengan sikap yang lurus, tetapi kemudian datanglah syaitan kepada mereka. Syaitan ini kemudian membelokkan mereka dari agamanya,dan mengharamkan atas mereka sesuatu yang Aku halalkan kepada mereka, serta mempengaruhi supaya mereka mau menyekutukan Aku dengan sesuatu yang Aku tidak turunkan keterangan padanya”. (HR Muslim 5109)

Oleh karenanya pelaku BID’AH dalam URUSAN AGAMA lebih dicintai iblis daripada pelaku maksiat karena mereka menjadikan ulama-ulama mereka sebagai tuhan selain Allah yakni mereka menganggap buruk sesuatu sehingga mereka MELARANG (mengharamkan) yang TIDAK DILARANG (diharamkan) oleh Allah Ta’ala dan Rasulullah atau sebaliknya mereka menganggap baik sesuatu sehingga mereka MEWAJIBKAN yang TIDAK DIWAJIBKAN oleh Allah Ta’ala dan Rasulullah.

Oleh karena para pelaku BID’AH dalam URUSAN AGAMA TIDAK MENYADARINYA sehingga mereka sulit bertaubat.

Faktor terpenting yang mendorong seseorang untuk bertaubat adalah merasa berbuat salah dan merasa berdosa. Perasaan ini banyak dimiliki oleh pelaku kemaksiatan tapi tidak ada dalam hati orang-orang yang melakukan BID’AH dalam URUSAN AGAMA.

Ali bin Ja’d mengatakan bahwa dia mendengar Yahya bin Yaman berkata bahwa dia mendengar Sufyan (ats Tsauri) berkata, “Bid’ah itu lebih disukai Iblis dibandingkan dengan maksiat biasa. Karena pelaku maksiat itu lebih mudah bertaubat. Sedangkan pelaku bid’ah itu sulit bertaubat” (Diriwayatkan oleh Ibnu Ja’d dalam Musnadnya no 1809 )

Wassalam

Zon di Jonggol, Kabupaten Bogor 16830

Read Full Post »

Older Posts »