Feeds:
Pos
Komentar

Posts Tagged ‘Buya’

Ulama yang Sholeh

Ulama yang sholeh

Pada zaman modern ini ada sebuah kesalahpahaman yang luar biasa. Ada banyak ulama (ahli ilmu) yang mengaku-aku sebagai pengikut Rasulullah dan pengikut Salafush Sholeh.

Ulama (ahli ilmu) belum tentu termasuk pengikut Rasulullah dan Salafush Sholeh sampai mereka menunjukkan  ke-shaleh-an nya.

Telah kami sampaikan bahwa urutan langkah-langkah sehingga dapat dikatakan telah beragama dan sholeh adalah  ilmu —> amal —> akhlak
Amal berdasarkan ilmu berdasarkan Al-Quran dan Hadits
Amal yang sering diperbuat akan membentuk akhlak yang baik, maka jadilah mereka ulama yang berakhlak baik, ulama sholeh atau alim ulama. Ulama Sholeh semakin berilmu dan beramal maka mereka semakin merunduk (tawadu) bagaikan padi yang berisi.

Rasulullah mengatakan “Sesungguhnya aku diutus (Allah) untuk menyempurnakan Akhlak.” (HR Ahmad)..

Ulama sholehlah yang termasuk pengikut Rasulullah dan Salafush Sholeh karena mereka telah termasuk orang-orang sholeh atau  muslim yang sholeh (sholihin) , muslim yang baik, muslim yang ihsan (muhsin/muhsinin) yakni muslim yang dapat memandang Allah ta’ala dengan hati atau hakikat keimanan atau minimal muslim yang selalu yakin bahwa Allah ta’ala selalu melihat segala sikap/perbuatan manusia.

Tulisan selengkapnya tentang siapa sebenarnya para pengikut Rasulullah dan para Salafush Sholeh, silahkan baca tulisan pada https://mutiarazuhud.wordpress.com/2011/03/05/pengikut-salafush-sholeh-sebenarnya/

Ulama sholeh adalah ulama yang berakhlak yang dipengaruhi oleh rasa memandang Allah ta’ala  atau minimal rasa selalu dilihat Allah ta’ala  sehingga berakhlak baik di hadapan Allah ta’ala, berakhlak baik terhadap ciptaanNya yang lain seperti alam, tumbuh-tumbuhan, hewan,dll serta berakhlak baik bagi sesama manusia apalagi sesama muslim.

Sasaran yang paling utama bagi ulama  adalah mengenal Allah (ma’rifatullah) dan mendapatkan Ridha-Nya. Semakin banyak mengenal Allah (ma’rifatullah) melalui ayat-ayat-Nya qauliyah dan kauniyah, maka semakin dekat hubungan dengan-Nya.   Ilmu harus dikawal hidayah. Tanpa hidayah, seseorang yang berilmu menjadi sombong dan semakin jauh dari Allah ta’ala. Sebaliknya seorang ilmuwan yang mendapat hidayah maka hubungannya dengan Allah ta’ala semakin dekat. Rasulullah saw. bersabda: “Barangsiapa yang bertambah ilmunya tapi tidak bertambah hidayahnya, maka dia tidak bertambah dekat kepada Allah melainkan bertambah jauh“.

Kami sangat merindukan ulama seperti alm Buya Hamka. Bagi kami beliau termasuk ulama sholeh.

Buya Hamka adalah salah satu ulama yang mencontohkan bagaimana bersikap lemah lembut terhadap orang mukmin,  bersikap keras terhadap orang-orang kafir, berjihad di jalan Allah, dan  tidak takut kepada celaan orang yang suka mencela. Sebagaimana firman Allah ta’ala yang artinya,

…kelak Allah akan mendatangkan suatu kaum yang Allah mencintai mereka dan mereka pun mencintai-Nya, yang bersikap lemah lembut terhadap orang yang mukmin, yang bersikap keras terhadap orang-orang kafir, yang berjihad di jalan Allah, dan yang tidak takut kepada celaan orang yang suka mencela. Itulah karunia Allah, diberikan-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya, dan Allah Maha Luas (pemberian-Nya) lagi Maha Mengetahui“. (QS. Al-Maidah: 54)

Beliau terkenal tegas kepada orang-orang yang tidak bersyahadat, contohnya beliau medakwahkan untuk tidak mengucapkan “selamat” kepada kaum Nasrani namun beliau memperlakukan kaum nasransi sebagaimana seharusnya memperlakukan ciptaan Allah ta’ala yang lainnya.

Di mata beliau tetap kaum nasrani bukanlah termasuk orang-orang beragama dan bukanpula orang-orang beriman sebagaimana yang beliau uraikan dalam tafsirnya. Silahkan baca sehubungan itu dalam tulisan
https://mutiarazuhud.wordpress.com/2010/10/28/2009/04/23/jangan-memfitnah-buya-hamka/
dan tafsir beliau atas surat Al Baqarah [2]: 22-26
https://mutiarazuhud.wordpress.com/2010/10/28/2009/04/23/toleransi-beragama/

Oleh karenanya berdasarkan dari  tafsir beliau dan diolah dari pemahaman kami maka kami tuliskan
https://mutiarazuhud.wordpress.com/2011/03/03/2011/01/21/agama-hanya-islam/
dan
https://mutiarazuhud.wordpress.com/2011/03/03/2010/10/27/orang-orang-beriman/

Buya Hamka lah yang menyadarkan kami ketika dewasa  bahwa ada Tasawuf dalam Islam yakni tentang Ihsan atau Akhlak,  yang disebut beliau dengan “Tasawuf Modern” artinya bagaimana penerapan Tasawuf dalam Islam di zaman modern ini.  Tasawuf sebagaimana sejak Rasulullah ajarkan dan diikuti oleh para Salafush Sholeh yakni tentang Ihsan atau akhlak
Rasulullah mengatakan “Sesungguhnya aku diutus (Allah) untuk menyempurnakan Akhlak.” (HR Ahmad).

Sebagaimana yang kami telah jelaskan dalam tulisan pada
https://mutiarazuhud.wordpress.com/2011/02/11/rasulullah-bertasawuf/
dan
https://mutiarazuhud.wordpress.com/2011/02/14/penjelasan-bertasawuf/

Tasawuf adalah sekedar istilah untuk lingkup tentang Ihsan/akhlak sebagaimana istilah fiqih untuk tentang Islam dan Ushuluddin untuk tentang Iman atau i’tiqad

Sejak dahulu kala di perguruan tinggi Islam , silabus/kurikulum Tasawuf pastilah seputar akhlak atau Ihsan. Entah bagaimana sebagian ulama  sibuk memperdebatkan istilah Tasawuf , bukan memperhatikan lingkupan tasawuf itu sendiri.  Kesalahpahaman ini harus kita luruskan segera termasuk upaya  penjernihan (tashfiyah), pembersihan (tanqiyah) terhadap Tasawuf itu sendiri terutama menghilangkan pemahaman-pemahaman yang berasal dari luar agama Islam karena kebenaran hanyalah dari Allah Azza wa Jalla semata dan pada hakikatnya tidak ada agama lain selain agama Islam.

Apa yang terjadi sekarang  adalah kebalikan dari yang ditauladankan oleh alm Buya Hamka, ada kita temukan ulama yang keras kepada saudara muslim sendiri dan lemah lembut terhadap orang-orang kafir dan suka mencela, men-jarh, mentahdzir atau menilai pribadi ulama lainnya dan mengaku-aku sebagai pengikut Salafush Sholeh.  Jelas jauh panggang daripada api.

Cobalah tengok bagaimana mereka saling berbantah-bantahan , saling keras bagi sesama saudara muslim. Contohnya silahkan baca tulisan yang cukup terkenal pada

http://moslemsunnah.wordpress.com/2010/01/25/salafi-vs-sabili/

Sungguh jika manusia telah bersyahadat maka telah dikaruniakan rasa persaudaraan
Firman Allah ta’ala yang artinya“Orang-orang beriman itu sesungguhnya bersaudara (QS Al Hujurat [49]:10 )

Sedangkan manusia yang belum/tidak bersyahadat maka mereka mempunyai rasa permusuhan yang keras  terhadap kaum muslim.
Firman Allah ta’ala yang artinya, “orang-orang yang paling keras permusuhannya terhadap orang beriman adalah orang-orang Yahudi dan orang-orang Musyrik” ( QS Al Maaidah [5]: 82 ).

Biarkan manusia yang belum/tidak bersyahadat memusuhi kita. Kita tidak pernah memusuhi mereka karena keberadaan mereka di dunia adalah kehendak Allah Azza wa Jalla dan sebagai cobaan bagi kaum muslim. Kalau mereka benar-benar menunujukkan sikap/perbuatan tidak baik dengan kita, barulah kita perangi sebagaimana saudara-saudara kita memerangi Yahudi Israel yang telah menjajah negeri Palestina. Saudara-saudara kita di Palestina bukan memerangi kaum Yahudi namun mereka memerangi perbuatan kaum Yahudi. Hal ini telah kami uraikan dalam tulisan pada https://mutiarazuhud.wordpress.com/2011/01/28/takut-dan-harap/

Jadi kalau sesama muslim timbul rasa permusuhan, maka perlu dipertanyakan kembali syahadat mereka. Apalagi permusuhan tersebut terjadi pada sesama ulama (ahli ilmu), jelas sudah mereka tidak termasuk ulama yang sholeh dan bukan pengikut Rasulullah maupun pengikut Salafush Sholeh.

Wassalam

Zon di Jonggol, Kab Bogor, 16830 .

Read Full Post »

Older Posts »