Feeds:
Pos
Komentar

Posts Tagged ‘Cintailah Ahlul Bait Rasulullah’


Cintailah Habib yang memperjuangkan NKRI tetap bersyariah agar memperoleh cinta dari Rasulullah

Mereka mengaku muslim namun ironisnya di NKRI yang BERKETUHANAN YANG MAHA ESA pada kenyataannya ada yang membenci dan bahkan mengkriminalisasi Habib Rizieq Shihab, ulama dari kalangan ahlul bait, keturunan cucu Rasulullah.

Imam at Tirmidzi dan Imam ath Thabrani meriwayatkan sebuah hadits dari Ibnu Abbas ra., ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda, “Cintailah Allah agar kalian memperoleh sebagian nikmat-Nya, cintailah aku agar kalian memperoleh cinta Allah, dan cintailah keluargaku (ahlul baitku) agar kalian memperoleh cintaku.”

Imam Syafi’i bersyair, “Wahai Ahlul-Bait Rasulullah, mencintai kalian adalah kewajiban dari Allah diturunkan dalam al-Quran cukuplah bukti betapa tinggi martabat kalian tiada sholat tanpa shalawat bagi kalian.”

Padahal Habib Rizieq Shihab hanyalah memperjuangkan NKRI sejak merdeka tetap bersyariah.

Habib Rizieq Shihab mengingatkan bahwa salah satu contoh hoax atau fitnah adalah mereka yang MENGANGGAP atau MENUDUH bahwa,

– NKRI bersyariah ingin mengganti Pancasila, ingin mengganti UUD 1945.

– NKRI bersyariah ingin menghilangkan Negara Kesatuan Republik Indonesia atau anti NKRI

– NKRI bersyariah ingin menghancurkkan kebhinekaan.

Semua itu fitnah, semua itu dusta, semua itu bohong yang dibuat oleh mereka yang anti kepada agama. Mereka yang selama ini selalu phobia (alergi) atau bahkan memusuhi (anti) syariat Islam.

Berikut penjelasan Habib Rizieq Shihab tentang Apa itu NKRI bersyariah sebagaimana video pada http://www.youtube.com/watch?v=07m4Rqu_5_8

***** awal kutipan *****
1. NKRI bersyariah adalah NKRI yang beragama, bukan komunis atau atheis yang tanpa agama.

2. NKRI bersyariah adalah NKRI yang berketuhanan Yang Maha Esa.

3. NKRI bersyariah adalah NKRI yang menjunjung tinggi nilai-nilai luhur Ketuhanan Yang Maha Esa.

4. NKRI bersyariah adalah NKRI yang tunduk dan patuh kepada hukum Tuhan Yang Maha Esa, yaitu hukum Allah swt.

5. NKRI bersyariah adalah NKRI yang berkemanusiaan yang adil dan beradab.

6. NKRI bersyariah adalah NKRI yang menjaga persatuan Indonesia.

7. NKRI bersyariah adalah NKRI yang mengedepankan musyawarah dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, sesuai amanat asas kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyaratan perwakilan.

8. NKRI bersyariah adalah NKRI yang menolak neolib sosialis, maupun neolib kapitalis untuk mewujudkan asas keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.

9. NKRI bersyariah adalah NKRI yang menjamin setiap umat beragama untuk menjalankan ibadah dan syariat agamanya masing-masing.

10. NKRI bersyariah adalah NKRI yang melindungi rakyat dari segala maksiat.

11. NKRI bersyariah adalah NKRI yang menghadirkan pejabat yang amanat dan tidak khianat.

12. NKRI bersyariah adalah NKRI yang melindungi umat Islam sebagai mayoritas rakyat Indonesia dari mengkonsumsi segala produk yang haram, baik makanan dan minuman serta pakaian maupun kosmetik dan alat kebersihan serta obat-obatan.

13. NKRI bersyariah adalah NKRI yang mencintai dan menghormati para ulama beserta santri, bukan mengkriminalisasi atau menterorisasi mereka.

14. NKRI bersyariah adalah NKRI yang menjadikan pribumi sebagai tuan di negeri sendiri.

15. NKRI bersyariah adalah NKRI yang menghargai dan melindungi madrasah dan pesantren, bukan memarjinalkan dan mencurigainya.

16. NKRI bersyariah adalah NKRI yang anti korupsi, anti miras, anti narkoba, anti judi, anti pornografi, anti pornoaksi, anti prostitusi, anti LGBT, anti teroris, anti separatis, anti fitnah, anti kebohongan, anti kemungkaran, anti kezaliman.

17. NKRI bersyariah adalah NKRI yang berdasarkan Pancasila dan UUD 18 Agustus 1945 asli yang dijiwai Piagam Jakarta 22 Juni 1945 sesuai amanat Dekrit Presiden 5 Juli 1959.
***** akhir kutipan *****

Oleh karenanya dalam rangka pemilihan umum legislatif 2019, kami menyerukan bagi umat Islam untuk memilih calon legislatif (caleg) dan partai politik (parpol) yang mencintai NKRI BERSYARIAH karena NKRI Berketuhanan Yang Maha Esa

Haram hukumnya bagi umat Islam memilih calon legislatif (caleg) dan partai politik (parpol) yang alergi, mempermasalahkan atau bahkan anti NKRI BERSYARIAH karena NKRI Berketuhanan Yang Maha Esa.

Jika saat ini ada yang menolak NKRI BERSYARIAH, maka mereka TIDAK MENGERTI SEJARAH dan BUKAN PANCASILAIS SEJATI.

Elite atau petinggi partai PPP, M. Romahurmuziy menyebut bahwa “jika saat ini ada yang menolak NKRI BERSYARIAH, maka mereka TIDAK MENGERTI SEJARAH,” sebagaimana yang diberitakan pada http://news.detik.com/berita/d-4376304/rommy-sebut-ada-yang-salah-paham-dengan-nkri-bersyariah

Berikut kutipan beritanya,

***** awal kutipan *****
Ketua Umum PPP M. Romahurmuziy menjelaskan konsep NKRI Bersyariah yang dilontarkan PPP dalam Harlah ke-46 beberapa waktu lalu. Menurutnya, hal itu merupakan upaya PPP mengawal dan memproduksi Undang-undang (UU) bernuansa syariah.

Menurut Rommy, UU bernuansa syariah atau diinspirasi dari syariat Islam ini pun sudah diterapkan di Indonesia dan terbukti diterima oleh semua kalangan. Setidaknya sudah ada 22 UU bernunsa syariah seperti UU Perkawinan, Zakat, Wakaf, Jaminan Produk Halal, Perbankan Syariah, dan lainnya.

Meski demikian, Rommy menyebut ada sejumlah pihak yang salah paham dengan konsep NKRI Bersyariah. Bahkan ada yang mengira NKRI Bersyariah ini mempunyai agenda khilafah.

Rommy mengatakan saat ada penanggalan 7 kata dalam Piagam Jakarta, ada gentleman agreement atau kesepakatan di mana umat Islam diperbolehkan untuk melaksanakan syariat Islam yang diatur dalam aturan di bawah Undang-undang Dasar.

“NKRI bersyariah sebenarnya adalah konsekuensi sejarah dari ditanggalnya tujuh kata dalam Piagam Jakarta. Makanya PPP menfasilitasi peribatan yang membutuhkan pengaturan setingkau Undang-undang ini bisa dikawal oleh satu partai politik,” kata Rommy.

NKRI Bersyariah, lanjut Rommy, juga merupakan solusi tengah bagi sejumlah elemen yang sebelumnya menuntut khilafah. Karena tuntutan khilafah yang mereka usung sebenarnya adalah menuntut pelaksanaan syariah.
****** akhir kutipan ******

Jadi kita harus dapat membedakan antara KHILAFAH dengan SYARIAT ISLAM karena TANPA KHILAFAH tetap ada kewajiban menjalankan SYARIAT ISLAM bagi kaum muslim

Kami prihatin dengan mereka yang menganggap atau menuduh umat Islam yang istiqomah menjalankan syariat Islam yakni menjalankan perintahNya dan menjauhi laranganNya adalah PENDUKUNG KHILAFAH

Kaum muslim yang tinggal di negeri kaum kuffar pun mempunyai kewajiban menjalankan syariat Islam yakni menjalankan perintahNya dan menjauhi laranganNya, apalagi NKRI berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa.

NKRI didirikan atas kesepakatan bersama dan salah satu kesepakatannya adalah NKRI berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa artinya NKRI adalah NEGARA TAUHID.

NKRI BUKAN NEGARA KOMUNIS atau ATHEIS yang anti Tuhan. BUKAN JUGA NEGARA LIBERAL yang anti agama dan BUKAN PULA NEGARA SEKULER yang anti syariat

NKRI melindungi semua agama dan menjamin kebebasan beragama bagi seluruh bangsa Indonesia tanpa paksaan.

Jadi muslim yang PANCASILAIS sejati adalah berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa artinya bagi umat Islam segala perilaku dan perbuatannya harus merujuk kepada Al Qur’an dan Hadits.

Oleh karenanya habib Rizieq mengingatkan bahwa penegakkan ayat suci di NKRI BUKANLAH MAKAR dan TIDAKLAH MELANGGAR KONSENSUS NASIONAL namun merupakan kewajiban agama yang sekaligus merupakan amanat konstitusi NKRI baik landasan IDIIL Pancasila maupun landasan KONSTITUSIONIL UUD 1945.

Landasan IDIIL Pancasila, sila pertama Ketuhanan Yang Maha Esa dan landasan KONSTITUSIONIL UUD 1945 baik di pembukaan maupun di batang tubuhnya, dalam pasal 29 ayat 1 bahwa dasar negara RI adalah Ketuhanan Yang Maha Esa.

Berdasarkan landasan IDIIL maupun landasan KONSTITUSIONIL bahwa rakyat dan bangsa Indonesia dalam kehidupan beragama dan berbangsa serta bernegara wajib menjunjung tinggi hukum Tuhan Yang Maha Esa yaitu hukum Tuhan yang tertuang dalam ayat-ayat suci.

Habib Rizieq memperjuangkan ayat suci di atas ayat konstitusi melawan propaganda ayat konstitusi di atas ayat suci sebagaimana video pada http://www.youtube.com/watch?v=mJNOCbuhCK8

Dalam video yang disampaikan ketika acara reuni 212, Habib Rizieq mengingatkan bahwa umat Islam harus patuh pada konstitusi namun ayat konstitusi tersebut harus sejalan dengan ayat suci.

Berikut beberapa kutipan pernyataan Habib Rizieq dalam video tersebut

***** awal kutipan *****
Propaganda ayat konstitusi di atas ayat suci adalah propaganda busuk dari kalangan anti agama

Ayat suci adalah wahyu Ilahi yang Maha Tinggi dan wajib ditaati sehingga tidak boleh direvisi apalagi diganti.

Sedangkan konstitusi adalah produk akal insani yang wajib tunduk kepada ayat suci karena ayat suci merupakan wahyu Ilahi

Jadi selama ayat konstitusi seiring dan sejalan dengan ayat suci maka wajib kita patuhi namun jika ayat konstitusi melanggar dan bertentangan dengan ayat suci maka wajib ayat konstitusi tersebut diamandemen dan diperbaiki, direvisi, diganti, diluruskan agar senafas dan senyawa dengan ayat suci yang merupakan wahyu ilahi.

Ayat-ayat konstitusi yang dibuat wajib dikawal dan dijaga serta dirawat agar tidak bertentangan dengan ayat suci.
***** akhir kutipan *****

Contoh ayat konstitusi di atas ayat suci adalah mereka yang mengatakan bahwa pornografi atas nama kesenian atau atas nama kebudayaan, prostitusi atas nama hak asasi manusia atau atas nama ekonomi, LGBT atas nama hak asasi manusia dan lain lainnya.

Contohnya dahulu petinggi PDIP Megawati memang pernah mengatakan dengan bangga, “Kami satu-satunya partai yang dengan gagah berusaha agar RUU (pornografi) itu tidak diundangkan dan tidak diberlakukan,” sebagaimana yang diberitakan pada http://news.detik.com/read/2009/06/27/171232/1155093/700/mega-cerita-kegagahan-pdip-tolak-ruu-pornografi

“Sebagai bangsa yang pluralis, dengan keanekaragaman suku bangsa, agama dan etnis. Tidak mungkin hal itu diberlakukan,” tegas Mega.

Contoh lainnya yang terekam sejarah pada http://nasional.kompas.com/read/2008/10/30/13264812/akhirnya.ruu.pornografi.disahkan

****** awal kutipan *****
JAKARTA, KAMIS — Setelah melalui proses sidang yang panjang, Kamis (30/12) siang, akhirnya RUU Pornografi disahkan. RUU tersebut disahkan minus dua Fraksi yang sebelumnya menyatakan walk out, yakni Fraksi PDS dan Fraksi PDI-P.

Menteri Agama Maftuh Basyuni mewakili pemerintah mengatakan setuju atas pengesahan RUU Pornografi ini.

Menurutnya, RUU ini nondiskriminasi tanpa menimbulkan perbedaan ras, suku, dan agama. Substansi RUU juga dirasa tepat dan definisi dirasa sangat jelas. RUU ini untuk melindungi masyarakat dan sebagai tindak lanjut UU perlindungan anak dan penyiaran.
****** akhir kutipan ******

Begitupula haram memilih Partai Solidaritas Indonesia yang mempermasalahkan syariat Islam maupun ayat Tuhan karena NKRI Berketuhanan Yang Maha Esa.

Bahkan mereka “menghukum” kadernya yang menyetujui adanya poligami (ayat Tuhan) dan Perda Syariah sebagaimana contoh berita pada http://news.detik.com/berita/4353517/psi-nonaktifkan-4-kader-yang-pro-poligami-dan-perda-syariah

Begitupula muncul viral video emak-emak yang mengungkapkan kekhawatiran berlebihan seperti bahwa “Perempuan sama perempuan boleh menikah, laki-laki sama laki-laki boleh menikah” sebagaimana yang telah disampaikan pada https://mutiarazuhud.wordpress.com/2019/02/28/video-khawatir-berlebihan/

Kekhawatiran berlebihan tersebut kemungkinan karena dahulu Megawati mengatakan bahwa Jokowi adalah “petugas partai” sedangkan “dibelakang” Megawati diberitakanlah adanya para politisi PDI-P para pendukung paham Liberalisme yakni salah satunya mendukung LGBT seperti Zuhairi Misrawi, Musdah Mulia, Eva Kusuma Sundari dan Rieke Diah Pitaloka sebagaimana contoh berita pada http://suaranasional.com/2017/12/22/ini-dia-para-politisi-pdip-pendukung-lgbt-minta-diakui-negara/

***** awal kutipan *****
Pendapat Musdah Mulia dikutip dari Harian The Jakarta Post, Jumat (28/3/2008).

Menurut Musdah, homoseksual dan homoseksualitas adalah alami dan diciptakan oleh Tuhan, karena itu dihalalkan dalam Islam

Musdah, para sarjana Muslim moderat berpendapat, bahwa tidak ada alasan untuk menolak homoseksual. Dan bahwasanya pengecaman terhadap homoseksual atau homoseksualitas oleh kalangan ulama aurus utama dan kalangan Muslim lainnya hanyalah didasarkan pada penafsiran sempit terhadap ajaran Islam.

The Jakarta Post menulis pendapat Musdah: “Moderate Muslim scholars said there were no reasons to reject homosexuals under Islam, and that the condemnation of homosexuals and homosexuality by mainstream ulema and many other Muslims was based on narrow-minded interpretations of Islamic teachings.”
***** akhir kutipan ******

Ditengarai (diduga) orang-orang yang mengaku muslim namun alergi atau anti NKRI BERSYARIAH adalah mereka yang terpengaruh paham Sekularisme, Liberalisme dan Pluralisme.

Oleh karenanya sepatutnya umat Islam membela, mengawal dan mendorong penguasa negeri untuk menegakkan fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI) No: 7/MUNAS VII/MUI/II/2005 tentang KESESATAN paham Liberalisme, Sekularisme dan Pluralisme.

Dalam fatwa MUI tersebut, DEFINISI SEKULARISME AGAMA adalah memisahkan urusan dunia dari agama; agama hanya digunakan untuk mengatur hubungan pribadi dengan Tuhan, sedangkan hubungan sesama manusia diatur hanya dengan berdasarkan kesepakatan sosial.

DEFINISI LIBERALISME AGAMA adalah mereka yang memahami nash-nash agama (Al-Qur’an & Hadits) dengan menggunakan akal pikiran yang bebas; dan hanya menerima doktrin-doktrin agama yang sesuai dengan akal pikiran mereka semata.

Sedangkan DEFINISI PLURALISME AGAMA adalah suatu paham yang mengajarkan bahwa semua agama adalah sama dan karenanya kebenaran setiap agama adalah relatif; oleh sebab itu, setiap pemeluk agama tidak boleh mengklaim bahwa hanya agamanya saja yang benar sedangkan agama yang lain salah. Pluralisme agama juga mengajarkan bahwa semua pemeluk agama akan masuk dan hidup berdampingan di surga.

Sedangkan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam telah bersabda, “ Demi Allah, yang diriku ada dalam genggaman tanganNya, tidaklah mendengar dari hal aku ini seseorangpun dari ummat sekarang ini, Yahudi, dan tidak pula Nasrani, kemudian tidak mereka mau beriman kepadaku, melainkan masuklah dia ke dalam neraka.”

Hamad bin Salamah meriwayatkan dari Adi bin Hatim, dia berkata, “Saya bertanya kepada RasulullahShallallahu alaihi wasallam ihwal ‘bukan jalannya orang-orang yang dimurkai’. Beliau bersabda, “Yaitu kaum Yahudi.’ Dan bertanya ihwal ‘bukan pula jalannya orang-orang yang sesat’. “Beliau bersabda, ‘Kaum Nasrani adalah orang-orang yang sesat.’

Dalam fatwa MUI telah pula diingatkan bahwa bagi masyarakat muslim yang tinggal bersama pemeluk agama lain (pluralitas agama), dalam masalah sosial yang tidak berkaitan dengan aqidah dan ibadah, umat Islam bersikap inklusif, dalam arti tetap melakukan pergaulan sosial dengan pemeluk agama lain sepanjang tidak saling merugikan

Firman Allah Ta’ala yang artinya, “Allah tiada melarang kamu untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tiada memerangimu karena agama dan tidak (pula) mengusir kamu dari negerimu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil.” (QS. Al-Mumtahanah [60]:8 )

“Hai orang-orang yang beriman hendaklah kamu jadi orang-orang yang selalu menegakkan (kebenaran) karena Allah, menjadi saksi dengan adil. Dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap sesuatu kaum, mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa. Dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS Al Maa-idah [5]:8 )

Gus Dur sangat menghormati pluralis (keberagaman).

Gus Dur adalah tokoh Islam terdepan dalam memerangi sikap-sikap intoleran terhadap penganut agama lain namun bukan tokoh Islam yang membenarkan agama selain Islam

Syaiful Arif dalam diskusi dan bedah buku hasil karyanya bertajuk “Humanisme Gus Dur: Pergumulan Islam dan Kemanusiaan” di hotel Akmani, Jl. KH Wahid Hasyim No. 91, Jakarta (12/11/2013) menyampaikan pendapatnya bahwa penyematan “Gus Dur Bapak Pluralisme” dinilai kurang tepat

“Saya tidak sependapat dengan penyematan gelar tersebut. Pasalnya, Gus Dur itu sangat konsen memperjuangkan kemanusiaan. Ketika beliau membela minoritas non-muslim, Tionghoa, Ahmadiyah, dan lain-lain, maka yang dibela adalah manusianya. Bukan institusi Tionghoa dan Ahmadiyahnya”. kata Arif.

Jelaslah bahwa yang diperjuangkan oleh Gus Dur adalah kemanusiaannya yakni mengakui, menghormati, toleran, merangkul, membela keberagaman manusia dengan keyakinannya (pluralis) bukan memperjuangkan membenarkan agama selain Islam atau memperjuangkan membenarkan pemahaman firqah Ahmadiyah dan firqah-firqah lainnya yang menyempal keluar (kharaja) dari mayoritas kaum muslim (as-sawadul a’zham).

Wassalam

Zon di Jonggol, Kabupaten Bogor 16830

Iklan

Read Full Post »