Feeds:
Pos
Komentar

Posts Tagged ‘dengan perhitungan’


Marilah sepakati kriteria visibilitas hilal

Pada hakikat tidak masalah “MELIHAT” hilal dengan perhitungan (hisab) namun perhitungan (hisab) untuk “mensimulasikan” keadaan bagaimana “HILAL TERLIHAT” oleh mata manusia di suatu titik yang disimulasikan atau yang disebut kriteria visibilitas hilal atau imkanur rukyat.

Timbul masalah dan perbedaan dengan mereka yang “ngotot” “MELIHAT” hilal hanya dengan metode hisab (perhitungan) kemungkinannya adalah karena belum menyepakati kriteria visibilitas hilal atau imkanur rukyat.

Pokok perbedaan terjadi karena “MELIHAT” hilal berdasarkan perhitungan (hisab) hanya berpegang pada ADANYA HILAL (WUJUDUL HILAL) tanpa memperhatikan kriteria visibilitas hilal yakni apakah HILAL dapat dilihat oleh mata manusia.

Perhitungan astronomis menyatakan, tinggi hilal sekitar 2 derajat dengan beda azimut 6 derajat dan umur bulan sejak ijtimak 8 jam. Jarak sudut Bulan-Matahari 6,8 derajat, dekat dengan limit Danjon yang menyatakan jarak minimal 7 derajat untuk mata manusia rata-rata yang dapat dikatakan “HILAL TERLIHAT”.

Kriteria tinggi 2 derajat dan umur bulan 8 jam ini yang kemudian diadopsi sebagai kriteria imkanur rukyat MABIMS (negara-negara Brunei Darussalam, Indonesia, Malaysia, dan Singapura) pada tahun 1996.

Bahkan berdasarkan kajian astronomis yang dilakukan LAPAN terhadap data rukyatul hilal di Indonesia (1962-1997) yang didokumentasikan oleh Departemen Agama RI diperoleh dua kriteria visibilitas hilal ( “HILAL TERLIHAT”) yang rumusannya disederhanakan sesuai dengan praktik hisab-rukyat di Indonesia.

“AWAL BULAN” ditandai dengan terpenuhi kedua-duanya, bila hanya salah satu maka dianggap BELUM masuk tanggal.

Kriteria Hisab-Rukyat Indonesia adalah sebagai berikut,

Pertama, umur hilal minimum 8 jam.

Kedua, tinggi bulan minimum tergantung beda azimut Bulan-Matahari. Bila bulan berada lebih dari 6 derajat tinggi minimumnya 2,3 derajat. Tetapi bila tepat berada di atas matahari, tinggi minimumnya 8,3 derajat.

Berikut contoh “MELIHAT” hilal berdasarkan perhitungan (hisab) atau hisab kontemporer sistem “Nautical Al-Manac” dan “disimulasikan” “MELIHAT” hilal (Ru’yatul Hilal), Selasa, 15 Mei 2018 M, di titik yang “disimulasikan” yakni Pusat Observasi Bulan (POB) Pelabuhanratu, Sukabumi, Jawa Barat yang disampaikan oleh yai Thobary Syadzily pada http://www.facebook.com/thobary.syadzily/posts/1881701191874499

Titik “LIHAT” pada hari Selasa, 15 Mei 2018 M yang “disimulasikan”atau diperhitungkan adalah

Pusat Observasi Bulan (POB) : Pelabuhanratu, Sukabumi, Jawa Barat
Lintang Tempat (Ø ) : -7° 01′ 44,6” Lintang Selatan
Bujur Tempat ( λ ) : 106° 33′ 27,8” Bujur Timur
Tinggi Tempat/ Elevasi ( EL ) : 52,685 meter di atas Permukaan Laut

Hasil “simulasi” atau perhitungan (hisab) adalah,

****** awal kutipan *******
1. Ijtima’ ( اجتماع / Konjungsi / New Moon ) akhir bulan Sya’ban 1439 H terjadi pada hari Selasa Kliwon, 15 Mei 2018 M. pada pukul 18 : 48 : 00 WIB (Malam hari)

2. Matahari Terbenam ( غروب الشمس/ Sunset ) pada pukul 17 : 44 : 00 WIB.

3. Hilal Terbenam ( غروب الهلال / Moonset ) pada pukul 17 : 43 : 36 WIB.

4. Umur Hilal (عمر الهلال / Age of the Crescent Moon ) = -1 jam 4 menit.

5. Greenwich Hour Angle (GHA) Bulan pada tgl 15 Mei 2018 pukul 10:44 GMT = 341° 17′ 30,4”

6. Deklanasi Bulan tgl 15 Mei 2018 pukul 10:44 GMT = 14° 02 ‘ 58 ”

7. Horizontal Parallax Bulan tgl 15 Mei 2018 pukul 10:44 GMT = 0° 59 ‘ 36 ”

8. Semi Diameter Bulan tgl 15 Mei 2018 pukul 10:44 GMT = 0° 16 ‘ 12 ”

9. Tinggi Hakiki / Geosentris Hilal ارتفاع الهلال الحقيقي ) / True or Geocentric Altitude of the Crescent Moon) = 0° 22 ‘ 4,5 ” = 0,4 derajat ( di atas ufuk / above horizon ).

10. Tinggi Lihat / Toposentris Hilal ( ارتفاع الهلال المرئي/ Apparent or Topocentric Altitude of the Crescent Moon ) = -0° 5 ‘ 56,72 ” = -0,1 derajat ( di bawah ufuk / below horizon ).

11. Lama Hilal di atas ufuk ( مكث الهلال فوق الأفق / Long of the Crescent Moon ) = 00 menit 00 detik (kosong).

12. Azimuth Matahari ( سمت الشمس / Azimuth of the Sun ) = 288° 55 ‘ 14″ atau 288,9°.

13. Azimuth Hilal ( سمث الهلال / Azimuth of the Crescent ) = 284° 12 ‘ 18,4 ” atau 284,2°.

14. Posisi Hilal (منزلة الهلال / Position of the Crescent Moon) 4° 42 ‘ 55,6 ” atau 4,7 derajat di sebelah Selatan Matahari Terbenam dalam keadaan miring ke Utara sebesar 88° 47 ‘ 46,25 ” atau 88,8°.

15. Lebar Nurul Hilal (سمك الهلال / Crescent Widht) = 0° 18 ‘ 51,46 ” = 0,314293547 jari.

16.Elongasi (زاوية الاستطالة / Elongation) = 4° 44′ 46″ atau 3,8 derajat.
****** akhir kutipan *****

Kesimpulannya, diperkirakan berdasarkan ilmu astronomi, ketinggian hilal toposentris / mar’i tersebut di atas sebesar – 0° 5’ 56,92 atau – 0,1 derajat (di bawah ufuk) mustahil bisa dirukyat atau dilihat, baik dengan menggunakan teropong (teleskop) maupun mata telanjang (naked eye).

Dengan demikian “awal Ramadhan” jatuh pada hari Kamis Pahing, 17 Mei 2018 M.

Jadi tampaknya Sidang Itsbat dan pengumuman Menteri Agama RI hanyalah untuk memenuhi standar prosedur yang telah disepakati bersama.

Wassalam

Zon di Jonggol, Kabupaten Bogor 16830

Read Full Post »