Feeds:
Pos
Komentar

Posts Tagged ‘di atas Arsy’


Contoh mereka menyalahkan Imam Ibn al Jawzi dengan mengatasnamakan ulama Salaf

Berikut kutipan pendapat ustadz mereka dengan mengatasnamakan ulama Salaf.

***** awal kutipan ****
yang dimaksud fis samaa` adalah ‘alas samaa seperti halnya kalimat fii djuzu’in nakhl. Itu sudah disepakati semua ulama salaf jadi tak perlu dipelintir lagi.

Kutipan antum itu tidak menunjukkan sama sekali bahwa ayat tersebut menegasikan keberadaan Allah di luar alam seperti yg diyakini para salaf.
***** akhir kutipan *****

Ustadz mereka MENYALAHKAN penjelasan Al-Imam al-Hafizh Ibn al Jawzi bahwa yang dimaksud ayat (QS Al Mulk [67]:16) bukan dalam makna dzahirnya karena dasar kata fis sama dalam bahasa Arab dipergunakan untuk mengungkapkan sesuatu yang ”berada di dalam sebuah tempat dengan diliputi oleh tempat itu sendiri”; padahal Allah tidak diliputi oleh suatu apapun.

Karena ustadz mereka berpendapat bahwa keberadaan Dzat Allah di luar alam, di arah atas secara hissi (materi /fisikal) yakni di atas Arasy ada “bukan tempat” atau ada yang mengatakan Al Makan Al ‘Adami (tempat ketiadaan) sebagaimana yang telah disampaikan pada https://mutiarazuhud.wordpress.com/2020/02/14/ada-bukan-tempat/

Ustadz mereka mengatasnamakan Ad Darimi mengatakan bahwa memang yang di atas langit lebih dekat kepada Allah secara hissi (materi / fisikal) dari pada yang di bumi. Adapun kedekatan kala sujud maka itu adalah kedekatan maknawi sebagaimana tangkapan gambar pada https://mutiarazuhud.files.wordpress.com/2020/02/ad-darimi-mujassimah.jpg

Ad-Darimi yang sering dikutip oleh mereka bukanlah Abdullah ibn Abdul Rahman (W 255H) penulis kitab Sunnan Ad Darimi

Namun Utsman ibn Said Ad-Darimi (W 272H) TOKOH MUJASSIMAH penulis kitab an-Naqdl sebagaimana yang dikabarkan pada https://web.facebook.com/notes/aqidah-ahlussunnah-allah-ada-tanpa-tempat/hati2-ada-2-orang-nama-ad-darimi-yg-jauh-berbeda-yg-1-sesat-yg-1-lagi-ahli-hadit/135050559845195/

Sedangkan kita mengikut para Sahabat yang menafikan arah (jihah) bagi Allah dengan sabda Rasulullah contohnya yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari.

حَدَّثَنَا مُسَدَّدٌ حَدَّثَنَا يَحْيَى عَنْ سُفْيَانَ قَالَ حَدَّثَنِي الْأَعْمَشُ عَنْ أَبِي وَائِلٍ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ
عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ مَا يَنْبَغِي لِأَحَدٍ أَنْ يَقُولَ أَنَا خَيْرٌ مِنْ يُونُسَ بْنِ مَتَّى

Telah menceritakan kepada kami Musaddad Telah menceritakan kepada kami Yahya dari Sufyan dia berkata; Telah menceritakan kepadaku Al A’masy dari Abu Wail dari ‘Abdullah dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Tidak layak bagi siapapun untuk mengatakan; ‘Aku lebih baik dari Yunus bin Mata.’ (HR Bukhari 4237)

Jadi Rasulullah diangkat hingga ke Sidrah al-Muntaha TIDAK BOLEH dikatakan LEBIH DEKAT kepada Allah Ta’ala dibanding Nabi Yunus yang berada di dalam perut ikan besar yang kemudian dibawa hingga ke kedalaman lautan. Baik arah atas maupun arah bawah, keduanya bagi Allah Ta’ala sama saja.

Begitupula Rasulullah menafikan arah maupun tempat bagi Allah Ta’ala dengan sabdanya

وأنت الظاهر فليس فوقك شيء وأنت الباطن فليس دونك شيء

Engkau Adz Dzahir, tidak ada sesuatu apapun di atas-Mu dan Engkau Al Bathin tidak ada sesuatu apapun di bawah-Mu (HR Muslim 4888)

Berikut kutipan penjelasan Al-Hafizh al Baihaqi (w 458 H) dalam kitabnya al Asma wa ash Shifat, hlm. 506 yang menetapkan hadits tersebut sebagai salah satu dalil untuk menafikan arah dan tempat bagi Allah. Maha Suci Allah Subhanahu wa Ta’ala dari arah dan tempat.

***** awal kutipan ******
والذي روي في اخر هذا الحديث إشارة إلى نفي المكان عن الله تعالى, وأن العبد أينما كان فهو في القرب والبعد من الله تعالى سواء

“….dan yang disebutkan di akhir hadits adalah indikasi penafian tempat bagi Allah Ta’ala dan seorang hamba di mana pun berada maka jauh dan dekatnya ia kepada Allah Ta’ala itu sama saja.

الظاهر فيصح إدراكه بالأدلة, الباطن فلا يصح إدراكه بالكون في مكان

Allah Ta’ala, adalah Adz-Dzahir – maka Dia bisa diketahui dengan bukti-bukti (dalil) , Allah Ta’ala adalah Al-Bathin -. maka Dia tidak bisa diketahui dengan tempat.

واستدل بعض أصحابنا في نفي المكان عنه بقول النبي صلى الله عليه و سلم

Dan telah berdalil sebagian sahabat kami (ahlus sunnah) dalam menafikan tempat bagi Allah dengan sabda Rasululullah shallallahu alaihi wasallam,

أنت الظاهر فليس فوقك شىء, وأنت الباطن فليس دونك شىء

Engkau Adz Dzahir, tidak ada sesuatu apapun di atas-Mu dan Engkau Al Bathin, tidak ada sesuatu apapun di bawah-Mu. (HR Muslim 4888)

وإذا لم يكن فوقه شىء ولا دونه شىء لم يكن في مكان

“jika tidak ada sesuatu di atas dan di bawahNya itu artinya Allah tidak ada pada tempat”.
***** akhir kutipan *****

Berikut kutipan penjelasan Al-Imam al-Hafizh Ibn al Jawzi dalam kitab Daf’u syubahat-tasybih bi-akaffi at-tanzih terkait firman Allah Ta’ala, aamintum man fiis samaa-i (QS Al Mulk [67]:16)

***** awal kutipan *****
Argumen kuat dan nyata telah menegaskan bahwa yang dimaksud ayat ini bukan dalam makna dzahirnya karena dasar kata fis sama dalam bahasa Arab dipergunakan untuk mengungkapkan sesuatu yang ”berada di dalam sebuah tempat dengan diliputi oleh tempat itu sendiri”; padahal Allah tidak diliputi oleh suatu apapun.

Pemahaman ayat di atas tidak sesuai jika dipahami dalam makna indrawi (makna dzahir) seperti ini, karena bila demikian maka berarti Allah diliputi oleh langit (bisa jadi sama besar, lebih besar, atau lebih kecil dari langit itu sendiri)

Pemahaman yang benar adalah bahwa ayat tersebut untuk mengungkapkan keagungan dan kemuliaan Allah.
***** akhir kutipan ******

Imam al-Hafidz Ibnu Hajar telah menerangkan dalam Kitab at-Tauhid; “Al Kirmani berkata, مَنْ فِى السَّمَاءِ makna dzâhir- nya jelas bukan yang dimaksudkan, sebab Allah Maha Suci dari bertempat di sebuah tempat, akan tetapi, karena sisi atas adalah sisi termulia di banding sisi-sisi lainnya, maka ia disandarkan kepada-Nya sebagai isyarat akan ketinggian dalam arti kemuliaan atau keagungan Dzat dan sifat-Nya.“

Oleh karenanya terhadap firmanNya pada (QS Al Mulk [67]:16) para mufassir (ahli tafsir) telah sepakat menyisipkan “(berkuasa)” agar tidak dipahami “berada” atau “bertempat” sehingga menafsirkannya menjadi,

Apakah kamu merasa aman terhadap Allah yang (berkuasa) di langit bahwa Dia akan menjungkir balikkan bumi bersama kamu, sehingga dengan tiba-tiba bumi itu bergoncang?

Berikut kutipan dari tafsir Jalalain penerbit Sinar Baru Algensindo buku ke 2 hal 1129, juz 29, Al Mulk [67]:16

***** awal kutipan ******
a-amintum, (Apakah kalian merasa aman) dapat dibaca secara tahqiq dan dapat pula dibaca secara tashil

man fiis samaa-i, (terhadap kekuasaan Allah yang di langit) yakni pengaruh dan kekuasaan-Nya yang di langit

an yakhsifa, (bahwa Dia akan menjungkir balikkan) berkedudukan menjadi badal dari lafaz man

bikumul ardha fa-idzaa hiya tamuuru, (bumi bersama kalian, sehingga dengan tiba-tiba bumi itu berguncang) menjadi gempa dan menindih kalian
****** akhir kutipan ******

Perhatikanlah status, “copasan”, postingan atau tulisan mereka yang mengatakan Asy’ariyah SESAT ketika mereka MENGUTIP PERKATAAN Imam Asy’ari maupun ulama terdahulu lainnya,

1. Mereka PAHAMI dan TERJEMAHKAN “فوق” , “fawq” yang artinya “di atas” DISISIPKAN kata “BERADA” menjadi (BERADA) “di atas”

2. Mereka PAHAMI dan TERJEMAHKAN ISTAWA artinya BERADA.

3. Mereka PAHAMI dan MENAKWILKAN ISTAWA dengan ISTAQARRA artinya MENETAP TINGGI

Al-Imam Badruddin ibn Jama’ah berkata

***** awal kutipan *****
Makna “فوق ” , “fawq” bukanlah dalam pengertian tempat karena adanya tempat dan arah bagi Allah adalah sesuatu yang batil, maka pemaknaan fawq pada hak Allah pasti dalam pengertian ketinggian derajat dan keagungan-Nya, Maha Menguasai dan Maha Menundukkan para hambaNya seperti dalam firman Allah Ta’ala , wa huwa al-qaahiru fawqa ‘ibaadihi

Jika yang dimaksud fawq dalam pengertian tempat dan arah maka sama sekali tidak memberikan indikasi kemuliaan dan keistimewaan karena sangat banyak pembantu atau hamba sahaya yang bertempat tinggal di atas atau lebih tinggi dari tempat tuannya – Apakah itu menunjukan bahwa pembantu

dan hamba sahaya tersebut lebih mulia dari majikannya sendiri ?
***** akhir kutipan ******

Begitupula Al-Imam al-Hafizh Ibn al Jawzi dalam penjelasan firman Allah: “Wa Huwa al-Qahiru Fawqa ‘Ibadih” (QS. Al-An’am: 18), menuliskan sebagai berikut:

***** awal kutipan ****
Mereka lupa bahwa pengertian “fawq”, “فوق ” dalam makna indrawi (makna dzahir) hanya berlaku bagi setiap jawhar dan benda saja.

Mereka meninggalkan makna “fawq” dalam pengertian “Uluww al-Martabah”, “علوّ المرتبة ”; “derajat yang tinggi”.

Padahal dalam bahasa Arab biasa dipakai ungkapan: “فلان فوق فلان ”; artinya; “derajat si fulan (A) lebih tinggi dibanding si fulan (B)”, ungkapan ini bukan bermaksud bahwa si fulan (A) berada di atas pundak si fulan (B).
***** akhir kutipan ****

Al-Imam Ibn Jahbal dalam risalah Fi Nafy al-Jihah dalam Thabaqat asy-Syafi’iyyah, j. 9, h. 47. memuat bantahan keras terhadap Ibn Taimiyah yang mengatakan bahwa Allah bertempat di atas arsy.

****** awal kutipan ******
Fawq dalam pengertian ketinggian derajat dan kedudukan.

Contoh, bila dikatakan dalam bahasa Arab: “al-Khalifah Fawq as-Sulthan wa as-Sulthan Fawq al-Amir”, maka artinya: “Khalifah lebih tinggi kedudukannya di atas raja, dan raja lebih tinggi kedudukannya di atas panglima”, atau bila dikatakan: “Jalasa Fulan Fawq Fulan”, maka artinya: “Si fulan yang pertama kedudukannya di atas si fulan yang kedua”, atau bila dikatakan: “al-‘Ilmu Fawq al-‘Amal” maka artinya: “Ilmu kedudukannya di atas amal”.

Contoh makna ini dalam firman Allah: “Wa Rafa’na Ba’dlahum Fawqa Ba’dlin Darajat” (QS. Az-Zukhruf: 32), artinya Allah meninggikan derajat dan kedudukan sebagian makhluk-Nya atas sebagian yang lain. Makna ayat ini sama sekali bukan dalam pengertian Allah menjadikan sebagian makhluk-Nya berada di atas pundak sebagian yang lain.

Contoh lainnya firman Allah tentang perkataan para pengikut Fir’aun: “Wa Inna Fawqahum Qahirun” (QS. Al-A’raf: 127). Yang dimaksud ayat ini adalah bahwa para pengikut yang setia kepada Fir’aun -merasa- menguasai dan lebih tinggi kedudukannya di atas Bani Isra’il. Makna ayat ini sama sekali bukan berarti para pengikut Fir’aun tersebut berada di atas pundak-pundak atau di atas punggung-punggung Bani Isra’il”
****** akhir kutipan ******

Begitupula ungkapan “di langit” dan “di atas” untuk mengungkapkan keagungan dan kemuliaan Allah bukan arah dan tempat.

Contohnya ungkapan seperti “serahkan sama yang di atas” BUKAN dalam pengertian TEMPAT atau ARAH ataupun JARAK NAMUN maksudnya adalah “Uluww al-Martabah”, “علوّ المرتبة ”; “derajat yang tinggi” untuk mengungkapkan keagungan dan kemuliaan Allah.

Dalam majalah al-Azhar yang diterbitkan oleh para ulama al-Azhar pada edisi Muharram tahun 1357 H dalam pembahasan tafsir surat al-A’la, menuliskan sebagai berikut:

“al-A’la adalah salah satu sifat Allah. Yang dimaksud dengan al-‘uluww dalam hal ini adalah dalam pengertian keagungan, menguasai, dan ketinggian derajat, bukan dalam pengertian arah dan tempat, karena Allah maha suci dari arah dan tempat”.

Berkata Imam Nawawi: “Dan Dialah Allah yang apabila orang menyeru-Nya, orang itu menghadap ke langit (dengan tangan), sebagaimana orang Shalat menghadap Ka’bah, dan tidaklah demikian itu karena Allah di langit, sebagaimana bahwa sungguh Allah tidak berada di arah Ka’bah, karena sesungguhnya langit itu qiblat orang berdoa sebagaimana bahwa sungguh Ka’bah itu Qiblat orang Shalat” [Syarah Shahih Muslim jilid :5 hal :22]

Al-Hafidh Ibnu Hajar Al-Asqalani berkata: “Ibnu Batthal berkata: sesungguhnya langit itu qiblat doa, sebagaimana Ka’bah itu qiblat Shalat” [Fathul Bari, jilid 2, hal 296]

Imam Al-Hafidh Murtadha Az-Zabidi berkata: “Maka adapun angkat tangan ke arah langit ketika berdoa, karena sesungguhnya langit itu qiblat doa” [Ittihaf, jilid 2, hal 170]. kemudian Imam Al-Hafidh Murtadha Az-Zabidi juga berkata: “Jika dipertanyakan, ketika adalah kebenaran itu maha suci Allah yang tidak ada arah (jihat), maka apa maksud mengangkat tangan dalam doa ke arah langit ? maka jawaban nya dua macam yang telah disebutkan oleh At-Thurthusyi :

Pertama: sesungguhnya angkat tangan ketika doa itu permasalahan ibadah seperti menghadap Ka’bah dalam Shalat, dan meletakkan dahi di bumi dalam sujud, serta mensucikan Allah dari tempat Ka’bah dan tempat sujud, maka langit itu adalah qiblat doa.

Kedua: manakala langit itu adalah tempat turun nya rezeki dan wahyu, dan tempat rahmat dan berkat, karena bahwa hujan turun dari langit ke bumi hingga tumbuhlah tumbuhan, dan juga langit adalah tempat Malaikat, maka apabila Allah menunaikan perkara, maka Allah memberikan perkara itu kepada Malaikat, dan Malaikat-lah yang memberikan kepada penduduk bumi, dan begitu juga tentang diangkat nya segala amalan (kepada Malaikat juga), dan dilangit juga ada para Nabi, dan langit ada syurga yang menjadi cita-cita tertinggi, manakala adalah langit itu tempat bagi perkara-perkara mulia tersebut, dan tempat tersimpan Qadha dan Qadar, niscaya tertujulah semua kepentingan ke langit, dan orang-orang berdoa pun menunaikan ke atas langit”[Ittihaf, jilid 5, hal 244]

Begitupula mereka menjadikan hadits yang diriwayatkan oleh Muawiyah bin al-Hakam as-Sulami yang ketika itu BARU MASUK ISLAM sebagai pokok dalam aqidah.

Namun pada kenyataannya Imam Muslim TIDAK MELETAKKAN hadits tersebut pada BAB AQIDAH atau KEIMANAN melainkan pada BAB SHALAT yakni haramnya berbicara saat shalat karena hal pokok yang SHAHIH dan TIDAK DIPERSELISIHKAN adalah pada bagian sabda Rasulullah shallallahu alaihi wasallam yang artinya, “Sesungguhnya shalat ini, tidak pantas di dalamnya ada percakapan manusia, karena shalat itu hanyalah tasbih, takbir dan membaca al-Qur’an.” (HR Muslim 836)

Hadits yang diriwayatkan oleh Muawiyah bin al-Hakam as-Sulami adalah hadits panjang yang terdiri dari beberapa bagian

Namun para ulama berpendapat bahwa KHUSUSNYA pada bagian kisah budak Jariyah termasuk hadits mudhtharib matan (redaksi) yakni hadits kacau (guncang) matan (redaksinya) KARENA perbedaan matannya (redaksi) dengan riwayat yang lainnya yang tidak memuat pertanyaan “di mana Allah”.

Selain alasan perbedaan matan (redaksi), Muawiyah bin al-Hakam as-Sulami KHUSUSNYA pada bagian kisah budak Jariyah meriwayatkan hadits TIDAK dengan MATAN (redaksi) ASLI sabda Nabi shallallahu alaihi wasallam.

Ia meriwayatkannya dengan ma’nan (hanya kandungan maknanya saja) alias MATAN (redaksi) dari Muawiyah bin al-Hakam as-Sulami SECARA PRIBADI berdasarkan penyaksiannya terhadap percakapan secara isyarat yang dapat pula dipengaruhi oleh keadaannya yang baru masuk Islam sehingga ia terjatuh dalam kesalahan.

Hal ini dapat diketahui dari pernyataan Muawiyah bin al-Hakam as-Sulami, “Wahai Rasul shallallahu alaihi wasallam sesungguhnya aku adalah seorang yang baru saja berada di dalam kejahiliyahan kemudian datang Islam”.

Contohnya Imam Syafi’i dalam Manaqib imam Syafi’I, al-Baihaqi : 1/396 menjelaskan

واختلف عليه في إسناده ومتنه، وهو إن صح فكان النبي – صلى الله عليه وسلم – خاطبها على قَدرِ معرفتها، فإنها وأمثالها قبل الإسلام كانوا يعتقدون فيالأوثان أنها آلهة في الأرض، فأراد أن يعرف إيمانها، فقال لها: أين اللَّه؟ حتى إذا أشارت إلى الأصنام عرف أنها غير مؤمنة، فلما قالت: في السماء، عرفأنها برئت من الأوثان، وأنها مؤمنة بالله الذي في السماء إله وفي الأرض إله، أو أشار، وأشارت إلى ظاهر ما ورد به الكتاب.

“Dan telah terjadi khilaf pada sanad dan matan nya (hadits jariyah), dan seandainya shahih Hadits tersebut, maka adalah Nabi –shallallahu ‘alaihi wasallam- bertanya kepada hamba tersebut menurut kadar pemahaman nya, karena bahwa dia (hamba) dan kawan-kawan nya sebelum Islam, mereka meyakini bahwa berhala adalah Tuhan yang ada di bumi, maka Nabi ingin mengetahui keimanan nya,maka Nabi bertanya : “Dimana Allah ?” sehingga apabila ia menunjuk kepada berhala, Nabi mengetahui bahwa ia bukan Islam, maka manakala ia menjawab : “Diatas langit” Nabi mengetahui bahwa ia terlepas dari berhala dan bahwa ia adalah orang yang percaya kepada Allah yaitu Tuhan di langit dan Tuhan di bumi, atauNabi mengisyarah dan ia mengisyarah kepada dzahir yang datang dalam Al-Quran”.

Para ulama menegaskan bahwa budak perempuan tersebut berisyarat dengan telunjuknya ke arah langit adalah untuk mengungkapkan keagungan atau ketinggian derajat Allah Ta’ala bukan dalam pengertian arah dan tempat, karena Allah Maha Suci dari arah dan tempat”.

Hujjatul Islam Abu Hamid Al Ghazali berkata bahwa budak itu adalah seorang yang bisu dan ia tidak memiliki cara lain untuk menunjukkan ketinggian Allah Yang Maha Kamal kecuali dengan menggunakan bahasa isyarat menunjuk langit. (DR. Muhyiddin Al Shafi, Muhadharat Fie Al `Aqidah Al Islamiyyah Qism Al Ilahiyyat, Maktabah Iman dan Maktabah Al Jami`ah Al Azhariyyah, Kairo, cet. ke II, 2010)

Ulama Hambali Al Imam al-Hafidz Ibn Al Jawzi berkata “Aku (Ibnul Jawzi) berkata: “Para ulama (Ahlussunnah Wal Jama’ah) telah menetapkan bahwa Allah tidak diliputi oleh langit dan bumi serta tidak diselimuti oleh segala arah. Adapun bahwa budak perempuan tersebut berisyarat dengan mengatakan di arah langit adalah untuk tujuan mengagungkan.

Begitupula Imam Nawawi (w. 676 H/1277 M) dalam Syarah Shahih Muslim (Juz. 5 Hal. 24-25) maka ia mentakwilnya agar tidak menyalahi Hadis Mutawatir dan sesuai dengan ushulus syariah. Yakni pertanyaan ‘Aina Allah? diartikan sebagai pertanyaan tentang kedudukan Allah bukan tempat Allah, karena aina dalam bahasa Arab bisa digunakan untuk menanyakan tempat dan juga bisa digunakan untuk menanyakan kedudukan atau derajat. Jadi maknanya; “Seberapa besar pengagunganmu kepada Allah?”. Sedangkan jawaban Fis Sama’ diartikan dengan uluwul kodri jiddan (derajat Allah sangat tinggi).

Jadi sebaiknya kita tidak mengikuti aqidah Muawiyah bin al-Hakam as-Sulami yang ketika meriwayatkan kisah budak Jariyah tersebut baru masuk Islam.

Sebenarnya, keyakinan bahwa Tuhan bertempat terimbas oleh cerita-cerita tradisional bahwa ‘alam Tuhan’ itu berada di langit, seiring dengan ‘alam dewa-dewa’ keyakinan non muslim.

Alam dewa dan alam Tuhan selalu dikaitkan dengan alam tinggi, yang dipersepsi berada di langit, dalam arti ruang yang sesungguhnya. Sehingga, kita sering mendengar cerita-cerita tentang ‘turunnya’ para dewa-dewi, bidadari, atau bahkan ‘Tuhan’ sendiri dari langit nun jauh di sana menuju ke Bumi.

Konsep seperti itu bukan konsep Islam yang justru diluruskan oleh datangnya Islam yang dibawa oleh para Nabi dan keluarga nabi Ibrahim alaihi salam – termasuk keturunan terakhirnya Rasulullah Muhammad shallallahu alaihi wasallam

Oleh karenanya para ulama sepakat bahwa KHUSUSNYA pada bagian kisah budak Jariyah yang diriwayatkan Muawiyah bin al-Hakam as-Sulami dianggap sebagai hadits mudhtharib karena pertanyaan “Di mana Allah” adalah MATAN (redaksi) hadits SECARA PRIBADI dari Muawiyah bin al-Hakam as-Sulami yang ketika itu baru masuk Islam merupakan pertanyaan yang TIDAK PATUT ditujukan kepada Allah sebagaimana contohnya dijelaskan oleh Imam sayyidina Ali bin Abi Thalib

وقال سيدنا علي رضي الله عنه :” إن الذي أين الأين لا يقال له أين وإن الذي كيف الكيف لا يقال له كيف

رواه أبو المظفر الإسفراييني في كتابه في التبصير في الدين / ص: 98

“Sesungguhnya yang menciptakan aina (tempat) tidak boleh dikatakan baginya di mana (pertanyaan tentang tempat), dan yang menciptakan kayfa (sifat-sifat makhluk) tidak boleh dikatakan baginya bagaimana” (diriwayatkan oleh Abu Muzhaffar al-Asfarayini dalam kitabnya at-Tabshir fi ad-Din, hal. 98.

Abu Muzhaffar al-Asfarayini (W. 471 H/1078 M) nama sebenarnya ialah
Syahrur bin Thahir bin Muhammad al-Asfarayani. Selain faqih Mazhab
Syafi’i, ia adalah muhaddits dan mufassir (ahli tafsir).

Abu al Muzhafar adalah mertua Abu Al Manshur al Baghdadi (W. 429 H/1038 M)

Abu Al Manshur al Baghdadi juga meriwayatkan penjelasan
Imam Sayyidina Ali ra dalam kitabnya al Farq bayna al Firaq (perbedaan di antara Aliran-aliran), hal. 333

Imam Sayyidin Ali ra berkata,

إنَّ اللهَ خلَقالْعرشإظْهارا لقُدرتهولم يتخذْهمكَانا لذَات

رواه أبو منصور البغدادي في الفرق بين الفرق/ ص : ٣٣٣

“Sesungguhnya Allah menciptakan ‘Arsy (makhluk Allah yang paling besar) untuk menampakkan kekuasaan-Nya bukan untuk menjadikannya tempat bagi Dzat-Nya”.

Berikut penjelasan para ulama lainnya bahwa pertanyaan “Di mana” tidak patut ditujukan kepada Allah Ta’ala.

Ibnu Hajar al Asqallani dalam Fathu al Bari-nya,1/221:“Karena sesungguhnya jangkauan akal terhadap rahasia-rahasia ketuhanan itu terlampau pendek untuk menggapainya, maka tidak boleh dialamatkan kepada ketetapan-Nya: Mengapa dan bagaimana begini? Sebagaimana tidak boleh juga mengalamatkan kepada keberadaan Dzat-Nya: Di mana?.”

Al Imam Fakhruddin ibn ‘Asakir (W. 620 H) dalam risalah aqidahnya mengatakan: “Allah ada sebelum ciptaan, tidak ada bagi-Nya sebelum dan sesudah, atas dan bawah, kanan dan kiri, depan dan belakang, keseluruhan dan bagian-bagian, tidak boleh dikatakan “Kapan ada-Nya ?”, “Di mana Dia ?” atau “Bagaimana Dia ?”, Dia ada tanpa tempat”.

Imam al Qusyairi menyampaikan, ” Dia Tinggi Yang Maha Tinggi, Luhur Yang Maha Luhur dari ucapan “bagaimana Dia?” atau “dimana Dia?”. Tidak ada upaya, jerihpayah, dan kreasi-kreasi yang mampu menggambari-Nya,atau menolak dengan perbuatan-Nya atau kekurangan dan aib. Karena, tak ada sesuatu yang menyerupai-Nya. Dia Maha Mendengar dan Melihat. Kehidupan apa pun tidak ada yang mengalahkan-Nya. Dia Dzat Yang Maha Tahu dan Kuasa“

Begitupula pada hakikatnya pertanyaan “di mana” atau “bagaimana” tidak patut ditujukan kepada Allah Ta’ala karena melanggar larangan Rasulullah yakni larangan untuk memikirkan Dzat Allah.

Rasulullah bersabda, ” Berpikirlah tentang nikmat-nikmat Allah, dan jangan sekali-kali engkau berpikir tentang Dzat Allah“.

Jadi sunnah Rasulullah untuk meyakini keberadaan Allah adalah dengan memikirkan nikmat-nikmat yang telah diberikanNya atau dengan memikirkan tanda-tanda (kekuasaan) Allah Azza wa Jalla.

Oleh karenanya ungkapan-ungkapan seperti,

“Allah wujud (ada) di mana mana”

atau

“apa yang terlihat di mana mana adalah wujud (keberadaan) Allah”

bukan berarti Allah Ta’ala bertempat di mana mana namun maknanya adalah bahwa kita bisa mengetahui dan meyakini keberadaan dan kebesaran Allah Ta’ala serta mengenal Allah (makrifatullah) adalah dengan memperhatikan alam dan isinya atau semua yang terlihat oleh mata yang merupakan tanda-tanda kekuasaanNya atau disebut juga ayat-ayat kauniyah, ayat-ayat yang meliputi segala macam ciptaan Allah,baik itu yang kecil (mikrokosmos) ataupun yang besar (makrokosmos).

Firman Allah Ta’ala yang artinya

“Kami akan memperlihatkan kepada mereka tanda-tanda (kekuasaan) Kami di segenap ufuk dan pada diri mereka sendiri, sehingga jelaslah bagi mereka bahwa Al Qur’an itu adalah benar. Dan apakah Tuhanmu tidak cukup (bagi kamu) bahwa sesungguhnya Dia menyaksikan segala sesuatu?“ (QS. Fush Shilat [41]:53)

“Katakanlah: “Perhatikanlah apa yang ada di langit dan di bumi. Tidaklah bermanfaat tanda kekuasaan Allah dan rasul-rasul yang memberi peringatan bagi orang-orang yang tidak beriman“. (QS Yunus [10] : 101).

Wassalam

Zon di Jonggol, Kabupaten Bogor 16830

Read Full Post »

Older Posts »