Feeds:
Pos
Komentar

Posts Tagged ‘diperlukan penutup dada’


Standard jilbab pada zaman Sahabat Nabi

Berikut kutipan “standard” Jilbab dari Abdullah bin Abbas radhiyallahu anhu, mufassir paling populer dari kalangan Sahabat Nabi sebagaimana yang dikutip pada https://m.facebook.com/story.php?story_fbid=169962597569336&id=100036667895310

***** awal kutipan *****
Standard khimar/الخمار (penutup kepala wanita muslimah) yang sering kita sebut kerudung, yang Allâh firmankan pada ayat:

وَلْيَضْرِبْنَ بِخُمُرِهِنَّ عَلَى جُيُوبِهِنَّ

1- Menutup rambut secara sempurna.
2- Menutup dada.
3- Menutup pangkal leher serta batas leher bagian atas, (keseluruhannnya).
***** akhir kutipan ****

“Standard” Jilbab dari Abdullah bin Abbas radhiyallahu anhu adalah sesuai dengan Asbabun Nuzul (QS. an-Nur [24] : 31)” YAKNI pakaian wanita saat itu DIMANA dada mereka TERLIHAT sehingga diperlukan penutup di atas dada.

Jadi pada hakikatnya tidak ada masalah model pakaian ditambah jilbab ataupun kerudung selama AURAT dapat TERTUTUPI KECUALI wajah dan kedua telapak tangan.

Berikut asbabun nuzul berdasarkan riwayat yang dikemukakan bahwa Asma’ binti Murtsid, pemilik kebun kurma, sering dikunjungi wanita-wanita yang bermain-main dikebunnya tanpa berkain panjang sehingga kelihatan gelang-gelang kakinya. Demikian juga DADA dan sanggul-sanggul mereka KELIHATAN. Berkatalah Asma’: “Alangkah buruknya (pemandangan) ini.” Turunnya ayat ini (QS: 24 An-Nuur: 31) sampai, … ‘auratin nisa’… (…aurat wanita…) berkenaan dengan peristiwa tersebut, yang memerintahkan kepada kaum Mukminat untuk menutup aurat mereka. [Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim dari Muqatil yang bersumber dari Jabir bin ‘Abdillah].

Perintah Allah Ta’ala sudah jelas (qathi) yakni

“yudnina ‘alaihinna min jalabibihinn”

“Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka”

Lafadz Jalabib adalah bentuk jamak dari lafadz Jilbab

BERLAKU BAGI,

qul li`azwajika wa banatika wa nisa`il-mu`minina,

” katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mukmin” (QS. al Ahzab [33] : 59)

Jadi TIDAK ADA ikhtilaf (perbedaan pendapat) dalam memahami perintah Allah untuk wanita mukmin menggunakan JILBAB.

Sedangkan bagaimana cara melaksanakan perintah Allah untuk menggunakan JILBAB ikutilah arahan para fuqaha (ahli fiqih).

NAMUN sebaiknya janganlah MENENTANG atau KEBERATAN dengan apa yang telah DIKECUALIKAN oleh Allah Ta’ala sebagaimana firmanNya yang artinya,

“janganlah mereka menampakkan perhiasannya, KECUALI yang (biasa) nampak dari padanya. (QS. an-Nur [24] : 31)”

Ibnu ‘Abbas radhiyallahu anhu berkata (mengomentari ayat ini), ‘yang dimaksud adalah wajah dan dua telapak tangannya’.

Al Imam Al Hafizh An Nawawi dalam Al Majmu’, 3: 122 dan juga disinggung Beliau dalam Minhajuth Tholibin, 1: 188 mengatakan,

ان المشهور من مذهبنا أن عورة الرجل ما بين سرته وركبته وكذلك الامة وعورة الحرة جميع بدنها الا الوجه والكفين وبهذا كله قال مالك وطائفة وهي رواية عن احمد

“Pendapat yang masyhur dalam mazhab kami (syafi’iyah) bahwa aurat pria adalah antara pusar hingga lutut, begitu pula budak perempuan. Sedangkan aurat perempuan merdeka adalah seluruh badannya KECUALI wajah dan telapak tangan. Demikian pula pendapat yang dianut oleh Malik dan sekelompok ulama serta menjadi salah satu pendapat Imam Ahmad.”

Para ulama menyarankan sebaiknya menggunakan cadar atau penutup muka bagi wanita dengan BATASAN atau KONDISI/KEADAAN tertentu seperti suatu keadaan akan menimbulkan fitnah, dapat mengundang pandangan yang diharamkan atau lainnya.

Namun pada kenyataannya Allah Ta’ala maupun Rasulullah tidak pernah memerintahkan bagi wanita untuk menggunakan CADAR/PURDAH/NIQAB.

Jadi hukum perkara menggunakan cadar/purdah/niqab bagi wanita BUKAN KEWAJIBAN ataupun SUNNAH (MANDUB) melainkan MUBAH (boleh) karena para fuqaha (ahli fiqih) mengatakan bahwa perkara apapun yang TIDAK ADA DALIL yang menjelaskan KEWAJIBAN (perintah) atau KEHARAMAN (larangan) sesuatu secara jelas (qathi) , maka perkara tersebut merupakan amrun mubah atau hukum asalnya adalah mubah (boleh).

Begitupula Grand Syaikh Al Azhar, Prof. Dr. Ahmed Al Tayeb dalam sebuah wawancara menyampaikan pendapat (fatwa) ulama pada umumnya bahwa Cadar/Purdah/Niqab itu bukanlah perkara Wajib, bukan pula perkara Sunah, bukan pula perkara Mandub. Tapi ia juga bukan perkara Makruh dan juga tidak terlarang. Ia adalah perkara Amrun Mubah (dibolehkan). Seorang wanita boleh memakainya, boleh juga melepaskannya, sesuai dengan kondisi dan kebutuhannya.

Silahkan saksikan wawancaranya dalam video pada https://m.facebook.com/story.php?story_fbid=10157968718567065&id=752272064

Sedangkan ketika ditanya bagaimana hukumnya seorang wanita yang tidak memakai jilbab?

Berikut kutipan jawaban Grand Syaikh Al Azhar, Prof. Dr. Ahmed Al Tayeb

***** awal kutipan *****
Wanita PELAKU MAKSIAT. Dia BERMAKSIAT SEPERTI layaknya wanita yang BERDUSTA atau yang melakukan apa saja dari perkara maksiat.

Tapi anda perlu perhatikan bahwa maksiat itu ada berbagai tingkatan. Ada yang dosa besar.

Tapi apakah itu (tidak memakai jilbab) termasuk DOSA BESAR ?

Tidak, ia bukan dosa besar tapi itu termasuk MAKSIAT, dia BERDOSA KARENA itu MENYALAHI salah satu PERINTAH Allah, PERINTAH syariat.
***** akhir kutipan*****

Dalam video tersebut Beliau juga mengingatkan bahwa jika berpendapat bahwa wanita yang tidak memakai jilbab itu sebagai wanita yang telah keluar dari Islam (murtad), maka itu SALAH !!!

Jadi kita harus ingat selalu sabda Rasulullah bahwa terhadap orang yang menyatakan Tiada Tuhan kecuali Allah, kita harus menahan diri dan tidak memvonis kafir akibat dosa dan tidak mengeluarkannya dari agama Islam akibat perbuatan dosa”

Begitupula Imam Abu Abdillah Al-Qurthubi rahimahullah (wafat 671 H) berkata : “Adapun seorang muslim dia tidak dikafirkan walaupun melakukan dosa besar”

Begitupula para ulama tidak menetapkan CADAR/PURDAH/NIQAB sebagai sebuah KEWAJIBAN atau SUNNAH (MANDUB) berdalilkan AYAT HIJAB (di balik tabir) karena kewajiban di balik tabir khusus bagi istri Rasulullah selengkapnya dapat dibaca pada https://mutiarazuhud.wordpress.com/2020/01/23/jilbab-bukan-ikhtilaf/

Wassalam

Zon di Jonggol, Kabupaten Bogor 16830

Read Full Post »