Feeds:
Pos
Komentar

Posts Tagged ‘dipertanyakan’


Apakah elektabilitas Jokowi turun karena salah pilih cawapres

Para pengamat politik mengingatkan bahwa hasil survei petahana di bawah 50% adalah titik ambang kritis karena maknanya di bawah 50% calon pemilih yang masih “mempercayai” petahana.

Contohnya belajar dari Malaysia, survei pada hari terakhir menjelang pencoblosan Nadjib memperoleh 48%, Mahathir Mohamad 33%. Pemenangnya Mahathir, Nadjib tersingkir sebagaimana contoh tulisan pada http://www.teropongsenayan.com/98713-kekalahan-jokowi-di-survei-kompas

Kami prihatin terhadap warga NU yang bersusah payah mendukung dengan “ancaman” seperti “kalau cawapres bukan dari kader NU” pada akhirnya DIPERTANYAKAN dan bahkan DIPERMASALAHKAN menurunkan elektabilitas capres Jokowi sampai “tergerus” di bawah 50% sebagaimana contoh berita pada http://poskotanews.com/2019/03/23/elektabilitas-jokowi-terkejar-karena-salah-pilih-cawapres/

Bahkan pada akhir berita disimpulkan bahwa

***** awal kutipan *****
Tapi keyakinan bahwa Ma’ruf Amin akan mendongkrak elektabilitas ternyata hanya fiksi.

Jokowi yang berharap suara NU ke kubunya semua, ternyata banyak juga yang njepluk (lepas) ke kubu Prabowo.
***** akhir kutipan *****

Berikut kutipan berita selengkapnya.

***** awal kutipan *****
PILPRES tinggal 3 minggu lagi, dua Capres terus berjuang menaikkan elektabilitas.

Tapi survei Litbang Kompas hasilnya tak menggembirakan kubu Jokowi, sebab elektabilitas Capres No. 02 terus mengejarnya.

Jokowi-Ma’ruf Amin 49,2 persen, sementara Prabowo-Sandi 37,4 persen. Jangan-jangan Jokowi salah pilih Cawapres.

Pada Pilpres 2009, SBY untuk memperpanjang masa jabatannya dengan pede menggandeng teknokrat Boediono, bukan orang parpol.

Parpol mitra koalisi semua ACC, karena Guru Besar UGM itu tak berpotensi Nyapres di 2014. Dan faktanya, pilihan SBY tepat, dia bisa memerintah untuk kedua kalinya.

Beda dengan Jokowi, dia kurang pede untuk maju ke periode keduanya.

Buktinya, meski semula sudah mantap menggandeng Mahfud MD, begitu kena manuver Muhaimin Iskandar (Ketum PKB) dan Romahurmuziy (Ketum PPP), mendadak goyah.

Mereka mengatakan bahwa Jokowi akan kalah jika tidak menggandeng ulama NU. Dan disodorkannyalah KH Ma’ruf Amin, Ketua MUI.

Padahal sesungguhnya Cak Imin dan Rommy ini juga berambisi jadi Cawapres Jokowi.

Cuma Ketum PPP ini mainnya halus, sementara Ketum PKB ini terang-terangan, pasang spanduk dan baliho ke mana-mana.

Bahkan Cak Imin pernah nakut-nakuti, “Kalau tak pilih saya, Jokowi akan kalah.”

Akhirnya, meski Ma’ruf Amin sudah sepuh, digandeng juga dan Mahfud MD dikorbankan.

Bagi Jokowi, yang penting bisa menaikkan elektabilitas sekaligus menangkal isyu anti Islam.

Padahal faktanya, sebagaimana hasil survei Litbang Kompas, Cawapres Ma’ruf Amin hanya disukai generasi oversek (50 tahun ke atas), sementara Cawapres Sandiaga Uno disenangi anak muda.

Akhirnya pil pahit harus ditelan Jokowi, elektabilitas Jokowi yang di sejumlah lembaga survei di atas 50 persen, versi Litbang Kompas tinggal 49,2 persen.

Prabowo di lembaga survei umumnya pada kisaran 31 persen, kini mengejar menjadi 37 %. Tinggal terpaut 11 persen dari semula 20 persen.
***** akhir kutipan **’**

Iklan

Read Full Post »

Older Posts »