Feeds:
Pos
Komentar

Posts Tagged ‘harap’

Takut dan Harap

Setelah kami menurunkan tulisan
https://mutiarazuhud.wordpress.com/2011/01/27/mazhab-ataukah-manhaj/ Tulisan didalamnya ada peringatan disampaikan oleh Syeikh Dr. Yusuf Al-Qaradhawi mengingatkan umat Islam untuk tidak perlu mendengar dukhala ilmi terkait pentakfiran yang dilakukan oleh mereka.

Datang salah satu pesan menanggapi tulisan tersebut dari salah seorang yang mengaku pengikut jejak para ulama salaf (terdahulu) mengingatkan kepada saya tentang vonis kesesatan terhadap Syaikh Yusuf Qaradhawi. Mereka menyampaikan beberapa link, salah satunya adalah http://www.salafy.or.id/print.php?id_artikel=641

Dalam situs itu Syaikh Yusuf Qaradhawi dinyatakan sesat oleh mereka, salah satunya karena pernyataan Syaikh Yusuf Qaradhawi,

Aku katakan, jihad kami melawan Yahudi bukan karena mereka Yahudi. Sebagian ikhwan sudah ada yang menulis dan membahas masalah ini. Mereka menganggap bahwa kita ini memerangi Yahudi karena mereka Yahudi padahal kami tidak berpendapat demikian. Kami tidak memerangi Yahudi karena alasan aqidah namun kami memerangi Yahudi karena alasan tanah. Kami tidak memerangi orang-orang kafir karena mereka kafir namun kami memerangi mereka sebab mereka merampas dan menyerobot tanah serta rumah kami tanpa hak.” (Harian Ar Raayah nomor 4696, 24 Sya’ban 1415 H/25 Januari 1995 M)

Pernyataan itu bukanlah sebuah kesesatan.

Kita memerangi Yahudi sama sekali bukan karena mereka Yahudi. Mereka Yahudi adalah kehendakNya. Kita tidak memerangi kehendakNya. Hal yang kita perangi adalah sikap orang-orang Yahudi terhadap kita. Itulah yang disampaikan oleh Syaikh Yusuf Qaradhawi bahwa “kami memerangi mereka sebab mereka merampas dan menyerobot tanah serta rumah kami tanpa hak”

Dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap sesuatu kaum, mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa.” (QS Al Maaidah [5]: 8 )

Orang-orang Yahudi ada di dunia ini adalah kehendakNya. Mereka lah yang paling keras permusuhannya kepada kita
Sesungguhnya kamu dapati orang-orang yang paling keras permusuhannya terhadap orang-orang yang beriman ialah orang-orang Yahudi dan orang-orang musyrik” ( QS Al Maaidah: 82 ).

Kita memerangi orang-orang Yahudi karena sikap/perbuatan mereka terhadap kita

Allah tidak melarang kamu untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tiada memerangimu karena agama dan tidak (pula) mengusir kamu dari negerimu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil” (QS Al Mumtahanah [60]:8 )
Janganlah engkau berdebat dengan Ahli Kitab melainkan dengan cara yang terbaik, kecuali orang-orang yang zhalim di antara mereka..” (QS Al Ankabut [29]:46 )

Dalam situs itu kaum Salafy menyampaikan pendapatnya atas pernyataan Syaikh Yusuf Qaradhawi sbb:

Mungkin bagi Qaradhawi tanah lebih berharga daripada aqidah. Seandainya Yahudi tidak menyerobot tanah Palestina maka Qaradhawi tidak akan berpendapat tentang adanya jihad melawan Yahudi karena sudah tidak ada alasan tanah yang mengharuskan untuk berjihad memerangi mereka.

Dan kemudian mereka berhujjah dengan firman Allah

Katakanlah : ‘Jika bapak-bapak, anak-anak, saudara-saudara, istri-istri, kaum keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatiri kerugiannya, dan rumah-rumah tempat tinggal yang kamu sukai adalah lebih kamu cintai daripada Allah dan Rasul-Nya dan (dari) berjihad di jalan-Nya maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya.’ Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang fasik.” (At Taubah : 24).

Begitulah pendapat ulama Salafy bahwa mempertahankan tanah dan rumah saudara-saudara kita di Palestina bukanlah termasuk yang dinamakan berjihad di jalan –Nya.

Bagi kaum Salafy jika orang-orang Yahudi tidak merampas dan menyerobot tanah serta rumah saudara-saudara kita di Palestina tanpa hak, maka kaum Salafy tetap berjihad memerangi orang-orang Yahudi dengan alasan aqidah ?
Apakah yang dimaksud dengan ulama Salafy, jihad di jalan-Nya adalah ”meluruskan” aqidah orang-orang Yahudi ? atau akan membasmi orang-orang Yahudi dari muka bumi ?

Jihad kita dan saudara-saudara kita di Palestina terhadap orang-orang Yahudi adalah atas perbuatan zhalim mereka terhadap saudara-saudara kita di Palestina.

Jihad atas sikap/perbuatan mereka ! bukan atas keberadaan ataupun aqidah mereka di dunia.

Jika kita berjihad atas keberadaan atau aqidah mereka maka sesungguhnya memerangi kehendakNya, karena keberadaan atau aqidah mereka adalah semata-mata kehendakNya

Firman Allah yang artinya,
Dan kalau Allah menghendaki, niscaya Dia menjadikan kamu satu umat (saja), tetapi Allah menyesatkan siapa yang dikehendaki-Nya dan memberi petunjuk kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Dan sesungguhnya kamu akan ditanya tentang apa yang telah kamu kerjakan“. [QS An Nahl [16]:93 )

Kita dapat melihat dengan jelas perbedaan memahami pernyataan Syaikh Yusuf Qardhawi,  begitu pula perbedaan memahami nash-nash Al-Qur’an dan Hadits

Kebenaran itu dari Allah yang Ahad namun kita yang sama-sama telah bersyahadat tidak dapat mengatakan satu upaya pemahaman saja yang benar yang lain sesat. Semua upaya pemahaman adalah berupaya untuk meraih kebenaran, upaya menuju jalan yang lurus.

Kita harus dapat menghargai perbedaan pemahaman diantara hamba-hamba Allah yang telah bersyahadat. Perbedaan pemahaman adalah kehendakNya. Kita tidak dapat mempertanyakan kehendakNya, namun kita di akhirat nanti, akan ditanya bagaimana sikap kita atas kehendakNya.

Sikap ulama Salafy terhadap perbedaan pemahaman dengan Syaikh Yusuf Qaradhawi adalah dengan menjatuhkan vonis sesat kepada Beliau. Mereka akan mempertangung-jawabkan sikap mereka di akhirat kelak.

Semua ini terjadi karena mereka fanatik dengan kaumnya (ta’asub) dan menuhankan pendapat (kaum) sendiri (istibdad bir ro’yi). Menuhankan dalam arti apapun pendapat baik dari diri maupun kaumnya sendiri adalah sebuah kebenaran. Mereka beranggapan, “hanya merekalah yang berada dalam jalan kebenaran dan selain mereka telah terjerumus dalam kesesatan.” Permasalahan inilah yang dimaksud dengan ekstreem/ghuluw dalam pemahaman agama. “Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas” (QS Al Maa’idah [5]:87 ). Tulisan selengkapnya mengenai ekstrem dalam pemahaman agama, silahkan baca pada
https://mutiarazuhud.wordpress.com/2011/01/26/2010/08/18/ekstrem-dalam-pemikiran-agama/

Salah satu sebab mereka fanatik adalah salah memahami hadits ”73 golongan masuk neraka dan hanya satu masuk surga”

Mereka yakin bahwa kaum mereka adalah satu yang masuk surga bahkan ada sebagian dari mereka begitu yakin bahwa mereka memegang ”sertifikat” surga

Bagi kami kaum muslim yang mendalami Tasawuf atau tentang Ihsan, hadits 73 golongan bukanlah “digunakan” untuk menetapkan apa yang yang kita pahami atau kaum kita adalah yang dimaksud 1 golongan masuk surga dan selain kita adalah termasuk 73 golongan.

Namun hadits tersebut “digunakan” agar kita selalu dalam keadaan “memeriksa” kesesuaian antara yang kita pahami dan jalani dengan Al-Qur’an dan Hadits.
Keadaan ”memerika” ini harus kita pertahankan sampai kematian menjemput kita karena sesungguhnya keputusan kita termasuk 1 golongan yang masuk surga adalah kehendakNya , tidak ada satupun manusia yang mengetahui atau memastikannnya kecuali apa yang telah ditetapkan Allah ta’ala seperti contoh 10 Sahabat yang pertama-tama mengikuti Rasulullah

Dan orang-orang yang terdahulu lagi yang petama-tama (masuk Islam) di antara orang-orang Muhajirin dan Anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridho kepada mereka dengan mereka dan mereka ridho kepada Allah. Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai. Mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Itulah kemenangan yang agung.” (Qs At-Taubah : 100)

Dalam tasawuf keadaan ”memeriksa” kesesuaian antara yang kita pahami dan jalani dengan Al-Qur’an dan Hadits termasuk bagian ”pengenalan diri sendiri” yakni sikap khauf’ (takut) dan raja (harap).

Inilah yang dicontohkan oleh Imam Syafi’i ~rahimullah ketika beliau ditanya apakah beliau termasuk sufi. Beliau tidak menjawab atau mengakui sebagai sufi karena sufi sebagaimana disampaikan oleh Syaikh Abu al-Abbas r.a adalah dinisbatkan kepada perbuatan Allah pada manusia. Maksudnya, shafahu Allah, yakni Allah menyucikannya sehingga ia menjadi seorang sufi

Firman Allah ta’ala yang artinya: ”…Sekiranya kalau bukan karena karunia Allah dan rahmat-Nya, niscaya tidak ada seorangpun dari kamu yang bersih (dari perbuatan keji dan mungkar) selama-lamanya, tetapi Allah membersihkan siapa saja yang dikehendaki…” (QS An-Nuur:21)

Firman Allah yang artinya,
[38:46] Sesungguhnya Kami telah mensucikan mereka dengan (menganugerahkan kepada mereka) akhlak yang tinggi yaitu selalu mengingatkan (manusia) kepada negeri akhirat.
[38:47] Dan sesungguhnya mereka pada sisi Kami benar-benar termasuk orang-orang pilihan yang paling baik.
(QS Shaad [38]:46-47).

Kita tidak boleh mengakui bahwa kita seorang sufi, karena sufi bukanlah sebuah pengakuan.

Imam Syafi’i _ rahimullah menjawab dengan sikap tawadhunya,
Uhibbu as shalihiina walastu minhum la’ali an anaala bihim syafa’ah

“Aku mencintai orang shalih walaupun aku tidak seperti mereka namun aku berharap memperoleh syafa’at dari Rasulullah saw (untuk menjadi/termasuk orang yang Sholeh)“.

Imam Syafii mengatakan  ”tidak seperti mereka” karena sikap khauf(takut) , namun beliau berharap (raja’) ”termasuk orang-orang sholeh” karena dapat menjadi orang-orang sholeh atau sufi atau muhsin/muhsinin adalah semata-mata perbuatanNya terhadap manusia.

Sekiranya tidaklah karena kurnia Allah dan rahmat-Nya kepada kamu sekalian, niscaya tidak seorangpun dari kamu bersih (dari perbuatan-perbuatan keji dan mungkar itu) selama-lamanya, tetapi Allah membersihkan siapa yang dikehendaki-Nya. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (QS An Nuur [24]:21 )

Semoga kita dapat menjadi muslim yang sholeh atau muhsin atau muslim yang Ihsan atau muslim yang dapat seolah-olah melihatNya atau minimal selalu yakin dan keadaan sadar bahwa Allah ta’ala melihat segala perbuatan kita setiap saat.

Assalaamu’alaina wa’alaa ‘ibaadillaahish shoolihiin
,

Semoga keselamatan bagi kami dan hamba-hamba Allah yang sholeh”.

Wassalam

Zon  di Jonggol, Kab Bogor,  16830

Read Full Post »