Feeds:
Pos
Komentar

Posts Tagged ‘indikator’

Tanda tanda  seorang muslim telah beragama dengan baik dan benar

Secara kasat mata  kaum Zionis Yahudi  merusak akhlak kaum muslim melalui  pornografi, narkotika dan miras, liberalisme, gaya hidup bebas, gaya hidup individu termasuk nasionalisme, hedonisme, dll

Nasionalisme

Nasionalisme adalah individualisme dalam skala negara. Kaum muslim dibatasi oleh negara. Jadi bisa saja antara dua negara seperti Indonesia dengan Malaysia berperang padahal yang berperang adalah sama-sama muslim.

Dahulu kita “terikat” pada kesatuan dalam aqidah (aqidah state) atau jama’atul muslimin (jama’ah kaum muslim) dan berakhir pada masa kekhalifahan Turki Ustmani.

Sebuah episode sejarah keemasan Turki saat dipimpin oleh Khalifah Sultan Abdul Hamid II di awal abad ke-20. Saat itu Theodore Hertzl, pemimpin Gerakan Zionis Internasional, mendatangi Abdul Hamid untuk meminta agar Turki Utsmani mau membagi sebagian tanah Palestina untuk dijadikan negara Israel.

Permintaan Hertzl ini disertai dengan bujuk rayu dan janji, jika keinginannya dituruti maka Turki dan juga Sultan Abdul Hamid II akan diberi hadiah sangat besar oleh gerakan Zionis Internasional.

Namun dengan sikap tegas Abdul Hamid mengusir Hertzl seraya berkata, “Turki tidak akan pernah sekali pun menyerahkan Tanah Palestina kepada kamu hai orang-orang Yahudi. Tanah Palestina bukanlah milik Turki, melainkan milik seluruh umat Islam dunia. Jangan bermimpi bisa menginjak Tanah Palestina selama saya masih hidup!”

Sebab itu, Hertzl dan para tokoh Zionis lainnya merancang suatu konspirasi untuk menghancurkan kekhalifahan Islam Turki Utsmani sehingga kekhalifahan ini benar-benar ambruk pada tahun 1924 dan Turki pun diubah menjadi negeri Sekuler.

Keberakhiran kekhalifahan pada dasarnya karena terpengaruh paham individualisme yang dilancarkan oleh kaum Zionis Yahudi

Paham individualisme untuk memecah belah umat Islam atau upaya meruntuhkan Ukhuwah Islamiyah. Kita telah terpecah belah ke dalam beberapa wilayah atau negara atau kesatuan dalam negara (nation state) yang dikenal dengan propaganda nasionalisme. Salah satu hasutan kaum Zionis Yahudi adalah menumbuhkan nasionalisme Arab

Secara perlahan namun pasti, “lembaga-lembaga pengkajian” yang dipimpin para orientalis Barat ini meracuni pemikiran umat Islam Turki. Para orientalis menjelek-jelekkan sistem Islam dan membangga-banggakan sistem nasionalisme. Dari sinilah lahir gerakan nasionalisme Arab. Jenderal Allenby mengirim seorang perwira Yahudi Inggris bernama Edward Terrence Lawrence ke Hijaz untuk menemui para pemimpin di sana. TE. Lawrence ini diterima dengan sangat baik dan seluruh hasutannya di makan mentah-mentah oleh tokoh-tokoh Hijaz. Maka orang-orang dari Hijaz ini kemudian membangkitkan nasionalisme Arab dan mengajak tokoh-tokoh pesisir Barat Saudi untuk berontak terhadap kekuasaan kekhalifahan Turki Utsmaniyah, dan setelah itu mendirikan Kerajaan Islam Saudi Arabia.

Paham nasionalisme adalah paham individualisme dalam skala besar yakni skala negara.

Dengan terhasut paham nasionalisme (individualisme skala besar) mengakibatkan “keadaan perang” di negara atau wilayah saudara muslim lainnya seperti di Palestina, Afghanistan, dll, tidak dianggap atau dirasakan sebagai keadaan perang di negara kaum muslim lainnya.

Sedangkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Kamu akan melihat orang-orang mukmin dalam hal saling mengasihi, mencintai, dan menyayangi bagaikan satu tubuh. Apabila ada salah satu anggota tubuh yang sakit, maka seluruh tubuhnya akan ikut terjaga dan panas (turut merasakan sakitnya).” (HR Bukhari 5552) (HR Muslim 4685)

Sehingga sebagian penguasa negeri yang mengaku beragama Islam , tidak merasa bersalah menjadikan Amerika yang dibelakangnya kaum Zionis Yahudi, kaum yang dimurkai Allah Azza wa Jalla sebagai “teman kepercayaan”, penasehat, pelindung.

Firman Allah Azza wa Jalla
Tidakkah kamu perhatikan orang-orang yang menjadikan suatu kaum yang dimurkai Allah sebagai teman? Orang-orang itu bukan dari golongan kamu dan bukan (pula) dari golongan mereka. Dan mereka bersumpah untuk menguatkan kebohongan, sedang mereka mengetahui“. (QS Al Mujaadilah [58]:14 )

Janganlah orang-orang mu’min mengambil orang-orang kafir menjadi wali (pemimpin) dan meninggalkan orang-orang mu’min. Barang siapa berbuat demikian, niscaya lepaslah ia dari pertolongan Allah…” (Qs. Ali-Imran : 28)

Kamu tidak akan mendapati sesuatu kaum yang beriman kepada Allah dan hari akhirat, saling berkasih sayang dengan orang-orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya, sekalipun orang-orang itu bapak-bapak, atau anak-anak, atau saudara-saudara ataupun keluarga mereka.” (Qs. Al Mujadilah : 22)

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu ambil menjadi teman kepercayaanmu orang-orang yang, di luar kalanganmu (karena) mereka tidak henti-hentinya (menimbulkan) kemudharatan bagimu. Mereka menyukai apa yang menyusahkan kamu. Telah nyata kebencian dari mulut mereka, dan apa yang disembunyikan oleh hati mereka adalah lebih besar lagi. Sungguh telah Kami terangkan kepadamu ayat-ayat (Kami), jika kamu memahaminya” , (QS Ali Imran, 118)

Beginilah kamu, kamu menyukai mereka, padahal mereka tidak menyukai kamu, dan kamu beriman kepada kitab-kitab semuanya. Apabila mereka menjumpai kamu, mereka berkata “Kami beriman”, dan apabila mereka menyendiri, mereka menggigit ujung jari antaran marah bercampur benci terhadap kamu. Katakanlah (kepada mereka): “Matilah kamu karena kemarahanmu itu”. Sesungguhnya Allah mengetahui segala isi hati“. (QS Ali Imran, 119)
Jadi pada hakikatnya penguasa negeri yang mengaku memerintah dengan berlandaskan syariat Islam atau pemerintahan Islami, tidak sepenuhnya berlandaskan syariat Islam. Contohnya mereka masih menjadikan kaum kafir sebagai “pemimpin” mereka seperti dalam PBB.

Peringatan telah disampaikan kepada kaum muslim, sebagaimana sabda Rasulullah yang diriwayatkan dari Ibnu Abbas: “Barangsiapa memilih seseorang menjadi pemimpin untuk suatu kelompok, yang di kelompok itu ada orang yang lebih diridhai Allah dari pada orang tersebut, maka ia telah berkhianat kepada Allah, Rasul-Nya dan orang-orang yang beriman.” (HR. Hakim)

Hedonisme

Hedonisme adalah menuhankan kesenangan, keyakinan bahwa kesenangan atau kenikmatan merupakan tujuan hidup dan tindakan manusia.

Dengan hedonisme menjadikan negara Indonesia sebagai tujuan pertama untuk meluncurkan / memasarkan produk HP Nokia dan produk-produk gaya hidup lainnya.

Hedonisme, manusia membeli produk tidak sekedar memenuhi fungsi atau kebutuhan namun rasa kebanggaan / gaya hidup

Lihatlah kenapa orang membeli kendaraan Toyota Alphard sedangkan dengan Toyota Innova saja sebenarnya sudah cukup untuk memenuhi fungsi atau kebutuhan.

Lihat pula hedonisme disekelililng Makkah al Mukarromah, boleh jadi orang kafir tidak ada sekitar itu namun produk-produk orang kafir merajalela disana menawarkan kesenangan dan kenikmatan. Begitupula fasilitas penginapan dengan kamar yang luas, mewah, glamour , menjanjikan kesenangan dan kenikmatan.  Berapa banyak devisa yang mengalir ke negara-negara kaum kafir dan tentu dengan devisa yang mereka peroleh dapat untuk membeli  “peluru” pembunuh kaum muslim diberbagai negara kaum muslim ?

Hedonisme adalah lawan dari Zuhud

Dari Abul Abbas — Sahl bin Sa’ad As-Sa’idy — radliyallahu ‘anhu, ia berkata: Datang seorang laki-laki kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan berkata: “Wahai Rasulullah! Tunjukkan kepadaku suatu amalan yang jika aku beramal dengannya aku dicintai oleh Allah dan dicintai manusia.” Maka Rasulullah menjawab: “Zuhudlah kamu di dunia niscaya Allah akan mencintaimu, dan zuhudlah terhadap apa yang ada pada manusia niscaya mereka akan mencintaimu.” (Hadist shahih diriwayatkan oleh Ibnu Majah dan lainnya).

Orang yang zuhud adalah orang yang meninggalkan segala sesuatu yang dapat melalaikan dari mengingat Allah.

Orang yang zuhud adalah tidak adanya ketergantungan dan terpusatnya perhatian terhadap segala sesuatu selain Allah.

Orang yang zuhud bersikap qana’ah terhadap rizki yang halal dan ridho terhadapnya serta bersikap ‘iffah (menahan diri) dari perbuatan haram dan hati-hati atau bahkan menghindari terhadap syubhat

Secara sederhana qana`ah ini dapat diartikan dengan mencukupkan apa yang ada, mensyukuri karunia Allah yang telah dianugerahkan-Nya kepada kita tanpa ada keluhan-keluhan yang keluar sedikit juapun.

Imam Syafi`i mengatakan: “Jika engkau mempunyai sifat qana`ah, sama halnya engkau dengan seorang raja”

Maksudnya, seseorang yang mempunyai sifat qana`ah keadaannya selalu cukup, karena sikapnya mencukupkan atau mensyukuri apa yang ada padanya. Hatinya kaya dan gembira karena sifat qana`ah itu.

Jiwa yang merasa cukup dan iffah serta berkorban dengan harta dan jiwa di jalan Allah merupakan hakikat zuhud.

Zuhud terhadap apa yang dimiliki manusia, berarti menjauhkan diri dari merasa iri hati terhadap apa yang dimiliki oleh manusia serta mengosongkan hati dari mengingati harta milik orang.

Firman  Allah Ta’ala yang artinya… (Kami jelaskan yang demikian itu) supaya kamu jangan berduka cita terhadap apa yang luput dari kamu, dan supaya kamu jangan terlalu gembira terhadap apa yang diberikan-Nya kepadamu. Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong lagi membanggakan diri. (QS Al-Hadiid :23)

Ibnu Mas’ud ra. melihat Rasulullah shallallahu alaihi wasallam tidur di atas kain tikar yang lusuh sehingga membekas di pipinya, kemudian berkata, ”Wahai Rasulullah saw., bagaimana kalau saya ambilkan untukmu kasur?” Maka Rasulullah saw. menjawab, ”Untuk apa dunia itu! Hubungan saya dengan dunia seperti pengendara yang mampir sejenak di bawah pohon, kemudian pergi dan meninggalkannya.” (HR At-Tirmidzi)

Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda, “Demi Allah, bukanlah kefakiran yang aku takuti atas kalian, tetapi aku takut pada kalian dibukakannya dunia bagi kalian sebagaimana telah dibuka bagi umat sebelum kalian. Kemudian kalian berlomba-lomba sebagaimana mereka berlomba-lomba, dan menghancurkan kalian sebagaimana telah menghancurkan mereka.” (Muttafaqun ‘alaihi)

Hedonisme menyebabkan orang melakukan korupsi

Wartawan : kenapa anda melakukan korupsi ?
Koruptor   : loh memang siapa yang membiayai Black Berry saya

Coba tanyakan kepada koruptor, mafia hukum/pengadilan, penguasa negeri yang mengaku muslim namun memimpin tidak adil, penguasa negeri mengaku muslim namun berteman dengan Amerika (kaum Zionis Yahudi),  penguasa negeri mengaku muslim namun berdusta (antara ucapan dengan kenyataan berbeda) kepada rakyatnya,  apakah mereka takut siksa neraka ?

Pasti jawaban mereka adalah takut siksa neraka. Namun seolah-olah mereka mengatakan , itu kan nanti, jadi bagaimana nanti saja.

Begitu juga kita lihat adanya demo dengan diikuti pengrusakan pos polisi yang dilakukan oleh mahasiswa sebuah universitas Islam,  mereka menggunakan tutup kepala berwarna hijau kesukaan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam

Kita lihat adanya pengrusakan pondok pesantren di Madura walaupun pemahaman mereka salah paham.

Apa yang salah ?

Setelah kami kaji dan analisa selama ini , kesimpulannya adalah mereka tidak lagi menjalankan tasawuf dalam Islam atau mereka tidak mendapakan pengajaran tasawuf dalam Islam. Walaupun mereka takut siksa neraka namun mereka tidak takut bahwa Allah Azza wa Jalla melihat sikap dan perbuatan mereka.

Imam Syafi’i ra menyampaikan nasehat (yang artinya) ,”Berusahalah engkau menjadi seorang yang mempelajari ilmu fiqih dan juga menjalani tasawuf, dan janganlah kau hanya mengambil salah satunya. Sesungguhnya demi Allah saya benar-benar ingin memberikan nasehat padamu. Orang yang hanya mempelajari ilmu fiqih tapi tidak mahu menjalani tasawuf, maka hatinya tidak dapat merasakan kelezatan takwa. Sedangkan orang yang hanya menjalani tasawuf tapi tidak mahu mempelajari ilmu fiqih, maka bagaimana bisa dia menjadi baik (ihsan)?” [Diwan Al-Imam Asy-Syafi’i, hal. 47]

Begitupula dengan nasehat Imam Malik ra bahwa menjalankan tasawuf agar manusia tidak rusak dan menjadi manusia berakhlak baik

Imam Malik ra menyampaikan nasehat (yang artinya) “Dia yang sedang tasawuf tanpa mempelajari fikih (perkara syariat) rusak keimanannya , sementara dia yang belajar fikih tanpa mengamalkan Tasawuf rusaklah dia ., hanya dia siapa memadukan keduanya terjamin benar” .

Sejak dahulu kala di perguruan tinggi Islam, tasawuf adalah pendidikan akhlak.

Ahmad Shodiq, MA-Dosen Akhlak & Tasawuf, UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, menceritakan kisah sedih pendidikan akhlak dalam sistem pendidikan. Ia merupakan dilema, antara jauhnya standar akhlak menurut kualitas hidup sufi, dengan angkuhnya sistem pendidikan. Dilema sistemik ini dipersedih oleh fakta bahwa para gurupun ternyata jauh dari standar akhlak, dalam sebuah ruang kelas, dimana para murid hanya mencari coretan nilai, atau sebatas titik absensi. Selengkapnya dalam tulisan pada https://mutiarazuhud.wordpress.com/2010/06/07/pendidikan-akhlak/

Tasawuf adalah jalan (thariqat) untuk mencapai muslim yang Ihsan

Jalan menelusuri jalan (tharikat) yang telah dilalui oleh Rasulullah, dimulai dengan Beliau berkhalwat (mengasingkan diri dari keramaian) dan bertahanuts (perenungan/kontemplas dirii) di gua hira. Kemudian Beliau menerima wahyuNya tentang perkara syariat , syarat untuk menjadi hamba Allah yang berisikan perintahNya dan laranganNya. Kemudian setelah syarat dipenuhi/dijalankan maka dilakukanlah perjalanan diri melalui maqom-maqom hakikat hingga sampai (wushul) kepada Allah Azza wa Jalla. menjadi muslim yang Ihsan atau muslim yang berma’rifat, muslim yang menyaksikan Allah Azza wa Jalla.

Ada dua kondisi yang dicapai oleh muslim yang ihsan atau muslim yang telah berma’rifat.

Kondisi minimal adalah mereka yang selalu merasa diawasi oleh Allah Azza wa Jalla.
Kondiri terbaik adalah mereka yang dapat melihat Allah Azza wa Jalla dengan hati (ain bashiroh)

Apakah Ihsan ?

قَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ مَا الْإِحْسَانُ قَالَ أَنْ تَخْشَى اللَّهَ كَأَنَّكَ تَرَاهُ فَإِنَّكَ إِنْ لَا تَكُنْ تَرَاهُ فَإِنَّهُ يَرَاكَ

Lalu dia bertanya lagi, ‘Wahai Rasulullah, apakah ihsan itu? ‘ Beliau menjawab, ‘Kamu takut (takhsya / khasyyah) kepada Allah seakan-akan kamu melihat-Nya, maka jika kamu tidak melihat-Nya maka sesungguhnya Dia melihatmu.’ (HR Muslim 11) Link: http://www.indoquran.com/index.php?surano=2&ayatno=3&action=display&option=com_muslim

Rasulullah bersabda “Iman paling afdol ialah apabila kamu mengetahui bahwa Allah selalu menyertaimu dimanapun kamu berada“. (HR. Ath Thobari)

Imam Sayyidina Ali r.a. pernah ditanya oleh seorang sahabatnya bernama Zi’lib Al-Yamani,
“Apakah Anda pernah melihat Tuhan?”
Beliau menjawab, “Bagaimana saya menyembah yang tidak pernah saya lihat?”
“Bagaimana Anda melihat-Nya?” tanyanya kembali.
Sayyidina Ali ra menjawab “Dia tak bisa dilihat oleh mata dengan pandangan manusia yang kasat, tetapi bisa dilihat oleh hati”

Sebuah riwayat dari Ja’far bin Muhammad beliau ditanya: “Apakah engkau melihat Tuhanmu ketika engkau menyembah-Nya?” Beliau menjawab: “Saya telah melihat Tuhan, baru saya sembah”. Bagaimana anda melihat-Nya? dia menjawab: “Tidak dilihat dengan mata yang memandang, tapi dilihat dengan hati yang penuh Iman.”

Muslim yang telah mencapai Ihsan atau muslim yang telah berma’rifat, minimal mereka yang selalu merasa diawasi oleh Allah Azza wa Jalla atau yang terbaik mereka yang dapat melihat Allah dengan hati maka mereka mencegah dirinya dari melakukan sesuatu yang dibenciNya , menghindari perbuatan maksiat, menghindari perbuatan keji dan mungkar hingga terbentuklah muslim yang berakhlakul karimah sesuai dengan tujuan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam diutus oleh Allah Azza wa Jalla

Rasulullah menyampaikan yang maknanya “Sesungguhnya aku diutus (Allah) untuk menyempurnakan Akhlak.” (HR Ahmad).

Amalan dan konsep dasar tasawuf telah diuraikan dalam tulisan pada https://mutiarazuhud.wordpress.com/2011/12/25/amalan-dasar-tasawuf/

Pada hakikatnya kekasih Allah atau Wali Allah adalah muslim yang Ihsan (ihsan artinya baik/terbaik). Kekasih Allah atau Wali Allah berbagai tingkatan (maqom / derajat). Minimal adalah muslim yang sholeh atau muslim yang berakhlakul karimah

Kekasih Allah atau Wali Allah adalah muslim yang disisiNya

Hanya 4 golongan manusia yang disisiNya yakni para Nabi (yang utama Rasulullah), para Shiddiqin, para Syuhada dan orang-orang sholeh

Firman Allah ta’ala yang artinya
Tunjukilah kami jalan yang lurus” (QS Al Fatihah [1]:6 )
(yaitu) Jalan orang-orang yang telah Engkau beri ni’mat kepada mereka….” (QS Al Fatihah [1]:7 )
Dan barangsiapa yang menta’ati Allah dan Rasul(Nya), mereka itu akan bersama-sama dengan orang-orang yang dianugerahi ni’mat oleh Allah, yaitu : Nabi-nabi, para shiddiiqiin, orang-orang yang mati syahid, dan orang-orang saleh. Dan mereka itulah teman yang sebaik-baiknya .” (QS An Nisaa [4]: 69 )

Muslim yang terbaik untuk bukan Nabi , menjadi kekasih Allah (wali Allah) dengan mencapai shiddiqin dan bermacam tingkatan shiddiqin sebagaimana yang diuraikan dalam tulisan pada https://mutiarazuhud.wordpress.com/2011/01/14/2011/09/28/maqom-wali-allah/

Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda “sesungguhnya ada di antara hamba Allah (manusia) yang mereka itu bukanlah para Nabi dan bukan pula para Syuhada’. Mereka dirindukan oleh para Nabi dan Syuhada’ pada hari kiamat karena kedudukan (pangkat) mereka di sisi Allah Swt seorang dari shahabatnya berkata, siapa gerangan mereka itu wahai Rasulullah? Semoga kita dapat mencintai mereka. Nabi Saw menjawab dengan sabdanya: Mereka adalah suatu kaum yang saling berkasih sayang dengan anugerah Allah bukan karena ada hubungan kekeluargaan dan bukan karena harta benda, wajah-wajah mereka memancarkan cahaya dan mereka berdiri di atas mimbar-mimbar dari cahaya. Tiada mereka merasa takut seperti manusia merasakannya dan tiada mereka berduka cita apabila para manusia berduka cita”. (HR. an Nasai dan Ibnu Hibban dalam kitab shahihnya)

Hadits senada, dari ‘Umar bin Khathab ra bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda, “Sesungguhnya diantara hamba-hambaku itu ada manusia manusia yang bukan termasuk golongan para Nabi, bukan pula syuhada tetapi pada hari kiamat Allah ‘Azza wa Jalla menempatkan maqam mereka itu adalah maqam para Nabi dan syuhada.”Seorang laki-laki bertanya : “siapa mereka itu dan apa amalan mereka?”mudah-mudahan kami menyukainya. Nabi bersabda: “yaitu Kaum yang saling menyayangi karena Allah ‘Azza wa Jalla walaupun mereka tidak bertalian darah, dan mereka itu saling menyayangi bukan karena hartanya, dan demi Allah sungguh wajah mereka itu bercahaya, dan sungguh tempat mereka itu dari cahaya, dan mereka itu tidak takut seperti yang ditakuti manusia, dan tidak susah seperti yang disusahkan manusia,” kemudian beliau membaca ayat : ” Ingatlah, sesungguhnya wali-wali Allah itu, tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati. (QS Yunus [10]:62 )

Jadi indikator seorang muslim telah beri’tiqod, beragama dengan baik dan benar adalah minimial menjadi muslim yang sholeh atau muslim yang berakhlakul karimah

Berdustalah mereka yang mengatakan ittiba’ li Rasulihi , pengikut Rasulullah ataupun mengaku-aku mengikuti pemahaman Salafush Sholeh namun tidak berakhlakul karimah.  Mereka lupa kenapa disebut Salaf yang Sholeh dan tentu karena ada Salaf yang tidak sholeh. Pembagian atau periodisasi ulama Salaf dan ulama khalaf tidak pernah disampaikan oleh Rasulullah maupun oleh Salafush Sholeh. Pembagian atau periodisasi ini ditengarai adalah bagian dari hasutan atau ghazwul fikri (perang pemahaman) dari kaum Zionis Yahudi untuk memecah belah umat Islam. Hal ini telah diuraikan dalam tulisan pada https://mutiarazuhud.wordpress.com/2011/12/27/salaf-dan-khalaf/

Salafush Sholeh artinya kaum muslim terdahulu yang sholeh pada masa tiga generasi. Namun harus kita ingat bahwa kaum muslim baik ulama salaf maupun ulama khalaf (ulama kemudian / ulama setelah tiga generasi) mempunyai kesempatan yang sama untuk menjadi muslim yang sholeh atau muslim disisiNya, generasi tidak membatasi untuk menjadi sholeh.

Kesimpulannya, cara lain kaum Zionis Yahudi merusak akhlak kaum muslim adalah dengan menjauhkannya dari tasawuf dalam Islam.

Salah satunya adalah perwira Yahudi Inggris bernama Edward Terrence Lawrence yang dikenal oleh ulama jazirah Arab sebagai Laurens Of Arabian. Laurens menyelidiki dimana letak kekuatan umat Islam dan berkesimpulan bahwa kekuatan umat Islam terletak kepada ketaatan dengan mazhab (bermazhab) dan istiqomah mengikuti tharikat-tharikat tasawuf. Laurens mengupah ulama-ulama yang anti tharikat dan anti mazhab untuk menulis sebuah buku yang menyerang tharikat dan mazhab. Buku tersebut diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa dan dibiayai oleh pihak orientalis.

Para penguasa dinasti Saudi dan para ulama menyusun kurikulum pendidikan agama bekerjasama dengan Amerika yang dibelakangnya adalah kaum Zionis Yahudi sebagaimana yang telah diuraikan dalam tulisan pada https://mutiarazuhud.wordpress.com/2011/12/25/2011/02/07/muslim-bukanlah-ekstrimis/

Abuya Prof. DR. Assayyid Muhammad bin Alwi Almaliki Alhasani dalam makalahnya dalam pertemuan nasional dan dialog pemikiran yang kedua, 5 s.d. 9 Dzulqo’dah 1424 H di Makkah al Mukarromah, menyampaikan bahwa dalam kurikulum tauhid kelas tiga Tsanawiyah (SLTP) cetakan tahun 1424 Hijriyyah di Arab Saudi berisi klaim dan pernyataan bahwa kelompok Sufiyyah (aliran–aliran tasawuf) adalah syirik dan keluar dari agama. Kutipan makalah selengkapnya ada pada https://mutiarazuhud.wordpress.com/2010/08/18/ekstrem-dalam-pemikiran-agama/

Bahkan seorang ulama yang merupakan dosen di Universitas Islam Madinah menuliskan pada kitabnya berjudul “al-Majmu’ al-mufid min ‘Aqidati al Tauhid” hal. 55

لاينفع اسلامكم اذا أعلنتم الحرب العشواء على هذه الطرق الصوفية فقضيتم عليها قاتلوا هم قبل أن تقاتلوا اليهود والمجوس

Tidak berguna Islam kalian sebelum kalian mengumumkan perang terhadap torikoh sufi dan kalian membantainya, perangilah mereka sebelum memerangi yahudi dan majusi

Mereka adalah contoh ulama korban hasutan atau ghazwul fikri (perang pemahaman) dari kaum Zionis Yahudi. Seharusnya mereka menjadi kiblat ilmu sebagaimana yang telah diuraikan dalam tulisan pada https://mutiarazuhud.wordpress.com/2011/12/30/kiblat-ilmu/

Firman Allah Azza wa Jalla yang artinya,

“Orang-orang beriman itu sesungguhnya bersaudara. ( Qs. Al-Hujjarat :10)

Hai orang-orang yang beriman, barang siapa di antara kamu yang murtad dari agamanya maka kelak Allah akan mendatangkan suatu kaum yang Allah mencintai mereka dan merekapun mencintaiNya, yang bersikap lemah lembut terhadap orang yang mu’min, yang bersikap keras terhadap orang-orang kafir, yang berjihad dijalan Allah, dan yang tidak takut kepada celaan orang yang suka mencela. Itulah karunia Allah, diberikan-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya, dan Allah Maha Luas (pemberian-Nya), lagi Maha Mengetahui.” (QS Al Ma’iadah [5]:54)

Diriwayatkan hadits dari Abu Hurairah, Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Demi Allah, kalian tidak akan masuk surga hingga kalian beriman. Belum sempurna keimanan kalian hingga kalian saling mencintai.” (HR Muslim)

Wassalam

Zon di Jonggol, Kab Bogor 16830

Iklan

Read Full Post »

Older Posts »