Feeds:
Pos
Komentar

Posts Tagged ‘israel raya’

Mesir dalam keadaan terfitnah

Dalam tulisan pada https://mutiarazuhud.wordpress.com/2013/07/20/muttabi-ahli-istidlal/ telah disampaikan bahwa konflik yang terjadi di Somalia, Afghanistan, Suriah, Libya, Pakistan, Mesir dan lain lain adalah diakibatkan orang-orang yang meninggalkan Imam Mazhab yang empat dan para ulama yang mengikuti Imam Mazhab yang empat.

Konflik terjadi karena mereka memaksakan syariat Islam berlandaskan Al Qur’an dan As Sunnah namun bersandarkan mutholaah (menelaah kitab) secara otodidak (shahafi) dengan akal pikiran sendiri

Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda, “Barangsiapa menguraikan Al Qur’an dengan akal pikirannya sendiri dan merasa benar, maka sesungguhnya dia telah berbuat kesalahan”. (HR. Ahmad)

Apakah orang yang otodidak dari kitab-kitab hadits layak disebut ahli hadits

Syaikh Nashir al-Asad menjawab pertanyaan ini: “Orang yang hanya mengambil ilmu melalui kitab saja tanpa memperlihatkannya kepada ulama dan tanpa berjumpa dalam majlis-majlis ulama, maka ia telah mengarah pada distorsi. Para ulama tidak menganggapnya sebagai ilmu, mereka menyebutnya shahafi atau otodidak, bukan orang alim.  Para ulama menilai orang semacam ini sebagai orang yang dlaif (lemah). Ia disebut shahafi yang diambil dari kalimat tashhif, yang artinya adalah seseorang mempelajari ilmu dari kitab tetapi ia tidak mendengar langsung dari para ulama, maka ia melenceng dari kebenaran. Dengan demikian, Sanad dalam riwayat menurut pandangan kami adalah untuk menghindari kesalahan semacam ini” (Mashadir asy-Syi’ri al-Jahili 10)

Pada umumnya mereka yang memahami Al Qur’an dan As Sunnah secara otodidak (shahafi) memahaminya dari sudut arti bahasa (lughot) dan istilah (terminologi) saja atau bermazhab dzahiriyyah yakni berpendapat, berfatwa, beraqidah (beri’tiqod) selalu berpegang pada nash secara dzahir (makna dzahir) sebagaimana yang telah disampaikan dalam tulisan pada https://mutiarazuhud.wordpress.com/2013/07/24/arti-bahasa-saja/

Mereka kurang memperhatikan ilmu-ilmu untuk memahami Al Qur’an dan As Sunnah seperti ilmu tata bahasa Arab atau ilmu alat seperti nahwu, sharaf, balaghah (ma’ani, bayan dan badi’) ataupun ilmu fiqih maupun ushul fiqih dan lain lain.

Begitupula dalam sejarah negara kita, dahulu terjadi pemberontakan yang dilakukan oleh mereka yang menyebut dirinya Darul Islam atau Tentara Islam Indonesia (yang biasa disingkat DI/TII) di bawah pimpinan SM. Kartosuwiryo. Dia mempunyai latar belakang pendidikan Barat bukan seorang santri dari sebuah pesantren. Bahkan diceritakan orang bahwa ia tidak pernah mempunyai pengetahuan yang benar tentang bahasa Arab dan agama Islam.

Sebagaimana yang telah disampaikan dalam tulisan pada https://mutiarazuhud.wordpress.com/2013/07/29/di-balik-ajakan/ bahwa slogan yang disebarluaskan agar kaum muslim meninggalkan para ulama yang sholeh yang mengikuti Imam Mazhab yang empat atau slogan yang merupakan ajakan untuk memahami Al Qur’an dan As Sunnah bersandarkan mutholaah (menelaah kitab) secara otodidak (shahafi) dengan akal pikiran masing-masing adalah

“Kembali kepada Al Qur’an dan As Sunnah sesuai dengan pemahaman para Sahabat, Tabi’in, Tabi’ut Tabi’in atau pemahaman Salafush Sholeh dan para imam yang mengikuti jalan mereka”

Bagaimana mereka dikatakan mengikuti pemahaman Salafush Sholeh sedangkan pada kenyataannya mereka tidak bertemu dengan Salafush Sholeh untuk mendapatkan pemahaman Salafush Sholeh

Pada hakikatnya apa yang dikatakan oleh mereka sebagai “pemahaman Salafush Sholeh” adalah ketika mereka membaca hadits, tentunya ada sanad yang tersusun dari Tabi’ut Tabi’in, Tabi’in dan Sahabat. Inilah yang mereka katakan bahwa mereka telah mengetahui pemahaman Salafush Sholeh. Bukankah itu pemahaman mereka sendiri terhadap hadits tersebut.

Mereka berijtihad dengan pendapatnya terhadap hadits tersebut. Apa yang mereka katakan tentang hadits tersebut, pada hakikatnya adalah hasil ijtihad dan ra’yu mereka sendiri. Sumbernya memang hadits tersebut tapi apa yang mereka sampaikan semata lahir dari kepala mereka sendiri. Sayangnya mereka mengatakan kepada orang banyak bahwa apa yang mereka sampaikan adalah pemahaman Salafush Sholeh.

Tidak ada yang dapat menjamin hasil upaya ijtihad mereka pasti benar dan terlebih lagi mereka tidak dikenal berkompetensi sebagai Imam Mujtahid Mutlak. Apapun hasil ijtihad mereka, benar atau salah, mereka atasnamakan kepada Salafush Sholeh. Jika hasil ijtihad mereka salah, inilah yang namanya fitnah terhadap Salafush Sholeh.

Perkataan-perkataan ulama lainnya yang disalahgunakan sebagai ajakan untuk meninggalkan Imam Mazhab yang empat telah disampaikan dalam tulisan pada https://mutiarazuhud.wordpress.com/2013/06/12/ungkapan-menyesatkan/

Protokol Zionis yang ketujuhbelas

…Kita telah lama menjaga dengan hati-hati upaya mendiskreditkan para ulama non-Yahudi (Imam Mazhab yang empat dan para ulama yang mengikuti mereka) dalam rangka menghancurkan misi mereka, yang pada saat ini dapat secara serius menghalangi misi kita. Pengaruh mereka atas masyarakat mereka berkurang dari hari ke hari. Kebebasan hati nurani yang bebas dari paham agama telah dikumandangkan dimana-mana. Tinggal masalah waktu maka agama-agama itu akan bertumbangan…..

Selain dengan upaya mendiskreditkan Imam Mazhab yang empat dan para ulama yang mengikuti mereka dengan tujuan agar kaum muslim menyibukkan diri atau membuang-buang waktu untuk mengulang kembali apa yang telah dikerjakan dan dihasilkan oleh Imam Mazhab yang empat sedangkan mereka bukan ahlil istidlal sehingga timbul konflik atau perselisihan karena perbedaan pendapat yang berujung saling bunuh membunuh, dipergunakan upaya lain untuk menumbuhkan konflik melalui kekutan media massa atau pers.

Protokol Zionis yang ketujuh,

“Kita harus memaksa pemerintahan bukan-Yahudi untuk menerima langkah-langkah yang akan meningkatkan secara luas rencana yang telah kita buat yang telah kian dekat dengan tujuannya dengan cara meletakkan tekanan pada pendapat umum (opini) yang telah kita agendakan yang harus didorong oleh kita dengan bantuan apa yang dinamakan ‘kekuatan besar’ media massa (pers.) Dengan sedikit perkecualian, tak perlu terlalu dipikirkan, kekuatan itu telah berada dalam genggaman kita”.

Sebuah analisa mengatakan bahwa keadaan gunjang-ganjing di Timur Tengah adalah upaya untuk memudahkan mewujudkan Israel Raya setelah negara-negara kaum muslim di sekitar Zionis Yahudi Israel, hancur luluh berantakan karena kaum muslim saling bunuh membunuh

****** awal kutipan ******
Agen-agen Israel diduga akan melakukan false-flag operation di sejumlah wilayah di Mesir yang mengesankan kelompok Islam telah melakukan aksi-aksi kekerasan. Pemerintah Mesir akan terpancing untuk mengirim pasukan ke wilayah-wilayah yang “memanas” tersebut.

Propaganda media pun akan dijalankan, dimana media mainstream akan menayangkan “kelompok pemberontak” (baca:agen Israel) sedang beraksi. Selanjutnya media akan menayangkan mobilisasi militer Mesir untuk memerangi pemberontak.

Berikutnya akan disebarkanlah gambar-gambar dan video-video palsu ala Hollywood melalui jejaring sosial yang menampilkan kekejaman tentara Mesir terhadap pemberontak dan penduduk sipil.

Kelompok-kelompok Islam yang asli akan percaya terhadap propaganda media tadi. Keluarlah seruan jihad dari negara-negara kaum muslim lainnya untuk membantu “saudara” mereka yang tertindas di Mesir. Jadilah sekarang Mesir sebagai Suriah ke-2.
****** akhir kutipan *******

Silahkan download file dari situs http://www.dropbox.com/s/57leve7b1vxa8xw/Pemalsuan%20data%20konflik%20syria2.pdf atau baca tulisan pada http://kabarislam.wordpress.com/2013/07/18/kumpulan-pemalsuan-data-foto-konflik-suriah/ bagaimana dengan menggunakan media massa, melalui dunia nyata seperti televisi, surat kabar atau melalui dunia maya (internet) untuk menghasut kaum muslim di Timur Tengah saling bunuh membunuh sehingga memudahkan Zionis Yahudi mewujudkan Israel Raya

Tentulah mereka akan berterima kasih kepada kaum muslim yang turut menyebarluaskannya

Kalau kita membaca informasi dari http://www.pkspiyungan.org/2013/07/36-syahid-ratusan-luka-luka-pembantain.html dikabarkan

****** awal kutipan ******
KAIRO – Sebuah pembantaian sadis telah terjadi terhadap massa pro Mursi yang sedang menjalankan shalat shubuh di Kairo pagi ini (8/7). Massa demonstran yang tengah sholat subuh di lokasi demo di depan mabes Garda Republik (paspampres) diserbu dan ditembaki saat rokaat kedua dari dua sisi oleh tentara Garda Republik dan Polisi.

Sampai berita ini ditulis, menurut sumber Al Quds TV korban sudah 36 yang Syahid dan 500 luka luka.
****** akhir kutipan *******

Kalau di Al Jazeera disebut bahwa 37 korban yang tewas itu terjadi karena bentrokan antara Pendukung Mursi dengan penentangnya. Jadi bukan saat sholat Subuh, lalu tentara membantainya. Bahkan di berita di bawah disebut pendukung Mursi yang bersenjata menyerbu Kantor Pemprov Sinai dan menaikkan bendera hitam Al Qaida

Sumber: http://www.aljazeera.com/news/middleeast/2013/07/20137614383778288.html

***** awal kutipan ******
Fighting during the night between Morsi’s supporters and opponents elsewhere in the capital and in the Mediterranean city of Alexandria, where pitched battles raged in the streets, killed at least 37 people and injured around 1,000, medics said.

The bloodletting continued on Saturday with gunmen killing a Coptic Christian priest by dragging him from his car and riddling him with bullets in the restive north of the Sinai peninsula, security souces said.

That came after armed Morsi supporters had stormed the provincial headquarters in the Sinai town of El-Arish and raised the black banner of al-Qaeda-inspired fighters on Friday night, AFP news agency reported.
***** akhir kutipan ******

Di berita Al Jazeera yang lain disebut cuma 3 orang Pendukung Mursi yang tewas ditembak aparat. Itu pun karena mereka menyerbu tempat penahanan Mursi. Penembakan pun dilakukan dengan memakai penembak burung:

Sumber: http://www.aljazeera.com/news/middleeast/2013/07/20137542647286931.html

****** awal kutipan ******
At least three supporters of deposed Egyptian President Mohamed Morsi were killed by gunfire as a crowd of several hundred tried to march towards the military barracks in Cairo where he is believed to be held.

Al Jazeera’s Matthew Cassel, reporting from near the military barracks, said several dozen people were also injured by shotgun pellets fired by the army.

“One protester broke away from the rally to stick a pro-Morsi poster on the barbed-wire around the barracks. He was shot in the head with birdshot,” he said.
****** akhir kutipan ******

Inilah sikap ulama Al-Azhar terkait kondisi di Mesir bersumber dari: http://www.mosleminfo.com/index.php/berita/ulama-al-azhar-bantah-hasutan-yang-ditujukan-kepada-rakyat-mesir/

***** awal kutipan *****
Mosleminfo, Kairo – Kelompok Ikhwanul Muslimin menganggap kudeta terhadap presiden mereka, DR. Muhammad Mursi merupakan kudeta terhadap agama Islam. Mereka mengungkapkan bahwa agama Islam saat ini telah dilenyapkan dan wajib hukumnya menolong agama Allah berlandaskan munculnya tindakan anarkis dan korban tak berdosa yang berjatuhan. Karena munculnya cara berpikir yang salah ini, para ulama Al-Azhar menegaskan bahwa apa yang terjadi saat ini bukanlah merupakan konflik agama dan tidak ada hubungannya sama sekali dengan agama. Ini hanyalah konflik antar partai dan golongan, serta sama sekali tidak bertujuan untuk agama. Para ulama Al-Azhar juga menyatakan bahwa pembunuh dan korban sama-sama akan masuk neraka.

Kondisi saat ini adalah fitnah, menghimbau warga Mesir untuk tetap tinggal rumah masing-masing sampai fitnah ini berlalu.

DR. Ali Jumah, mantan Mufti Mesir menjelaskan bahwa bentrokan, pertikaian dan tindak kekerasan yang terjadi di jalanan hanyalah memperparah terjadinya fitnah dan kekacauan. Mempertahankan kekuasaan bukanlah sesuatu yang diajarkan oleh Islam.

“Menghalalkan darah dan menyerukan jihad terkait situasai saat ini sangat tidak tepat. Menghasut warga baik Muslim maupun Ahli Kitab dan menyerang militer adalah pelanggaran berat yang harus dipertanggungjawabkan di dunia dan akhirat. Dan ini tidak bisa didiamkan, sebab hal ini akan mengguncang kepercayaan generasi kita terhadap agama dan mengancam hidup dan masa depan keimanan mereka. Agama Islam adalah agama yang universal, berbudi-pekerti luhur dan menebarkan rahmat untuk seluruh alam,” jelas Ali Jumah.

Dekan fakultas Ushuluddin Universitas Al-Azhar cabang Asyuth, DR. Mukhtar Marzuq menjelaskan, “Kita sedang hidup di zaman fitnah, dan solusi tepat yang ditawarkan oleh Nabi Muhammad saw. adalah tetap tinggal di rumah masing-masing.”

“Ini adalah konflik politik dan bukan konflik antara umat Islam dan kaum kafir. Salah bagi mereka yang mengatakan bahwa ini kelompok Islam dan yang lain kelompok kafir. Islam terlalu suci dari semua perkara ini. Dan sudah seharusnya setiap orang sadar bahwa Allah mengetahui setiap apa yang ia katakan dan lakukan,” tambah Mukhtar.

Senada dengan Grand Shaikh Al-Azhar, Prof. DR. Ahmad Thayyib yang menyerukan kepada warga Mesir untuk menjaga kesucian tangan mereka dari tindakan yang buruk dan merusak. Dan seharusnya warga Mesir tidak terbawa oleh arus fitnah hingga tidak mengetahui sebab mengapa seseorang terbunuh? Dan apa motifasi si pembunuh dalam aksinya?.

Beliau juga memperingatkan bahwa fitnah yang terjadi saat ini dapat menarik negara ke jurang yang amat berbahaya dan kemerosotan yang mencoreng nama Mesir. Dalam pidatonya kepada seluruh warga Mesir, Shaikh Ahmad Thayyib menegaskan, “Berhati-hatilah dari fitnah yang menghancurkan persatuan kalian dan fitnah yang mengalihkan tugas asli nasional militer. Agama dan negara tidak bertanggungjawab atas setetes darah yang keluar. Saya berharap rakyat Mesir untuk berhati-hati dari hasutan-hasutan yang mengancam stabilitas negara dan rakyatnya. Semoga Allah menjaga Mesir dan menyelamatkannya dari keburukan apapun dan menjaga darah rakyatnya.”
***** akhir kutipan *****

Begitupula sebagaimana informasi dari http://www.mosleminfo.com/index.php/tokoh/wawancara/dr-ahmad-karimah-ikhwan-dan-salafi-berusaha-tutup-al-azhar-wawancara-eksklusif/ DR. Ahmad Karimah, Guru Besar Syariah Islam Universitas Al-Azhar Kairo bahkan menangis di salah satu acara televisi dan ketika ditanyakan mengapa beliau menangis dan dijawabnya

“Saya memang hanya bisa menangis..saya menangis demi pemahaman Islam yang benar, serta kondisi Mesir saat ini dan masa depannya. Ikhwanul Muslimin dan Salafi (Wahabi) telah berhasil membawa kita semua menjadi bagaikan ‘ghutsa’ sail’, dan sebentar lagi Islam ini akan dianggap asing. Maksudnya adalah buih lautan yang tidak berharga dan diperhitungkan sama sekali oleh musuh, apalagi oleh teman sendiri. Para pemuda yang mengikuti Ikhwan dan Salafi (Wahabi) mengetahui Islam hanya jenggot lebat tidak perlu dirapikan, celana cingkrang, dan terompah. Mereka mengetahui pemikiran Ibnu Taimiyah dan Muhammad bin Abdul Wahab, sebagai ganti dari belajar ajaran Rasulullah, para sahabat, dan ahli bait. Demikian juga mereka mempelajari ‘Ushul Isyriin’ (20 Asas Dasar) Hasan al-Banna sebagai ganti dari prinsip-prinsip dasar Islam itu sendiri. Sedangkan maksud dari keterasingan Islam adalah semakin redupnya ajaran Islam yang benar. Kesalahan terbesar Ikhwanul Muslimin dan Salafi adalah mengubah ajaran Islam yang benar”.

Oleh karenanya untuk mengatasi konflik maupun fitnah adalah sebagaimana yang telah disampaikan dalam tulisan pada https://mutiarazuhud.wordpress.com/2013/07/29/solusi-atasi-konflik/ atau dalam tulisan pada https://mutiarazuhud.wordpress.com/2013/07/29/solusi-untuk-mesir/ dengan mentaati “ulil amri di antara kamu” yakni para mufti yang memiliki sanad ilmu (sanad guru) tersambung kepada Rasulullah shallallahu alaihi wasallam yakni para mufti yang merujuk kepada Imam Mazhab yang empat.

Firman Allah ta’ala yang artinya “Hai orang-orang yang beriman, ta’atilah Allah dan ta’atilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al-Qur’an) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya” (QS An Nisaa [4]:59)

Siapakah ulil amri yang harus ditaati oleh kaum muslim khususnya di Mesir dan kaum muslim pada umumnya agar tidak berjatuhan korban lagi ?

Rasulullah shallallahu alaihi wasallam adalah sosok ulama dan umara sekaligus. Begitu juga para khulafaur Rasyidin seperti Sayyidina Abu Bakar, Sayyidina Umar, Sayyidina Ustman dan Sayyidina Ali radhiyallahuanhum, begitu juga beberapa khalifah dari bani Umayah dan bani Abbas.

Namun dalam perkembangan sejarah Islam selanjutnya, sangat jarang kita dapatkan seorang pemimpin negara yang benar-benar paham terhadap Islam. Dari sini, mulailah terpisah antara ulama dan umara.

Ibnu Abbas ra, sebagaimana yang disebutkan oleh Imam Thobari dalam tafsirnya bahwa yang dimaksud ulil amri dalam ayat tersebut adalah para pakar fiqih.

Syarat atau kompetensi yang harus dipenuhi sebagai seorang mufti adalah sebagaimana yang disampaikan oleh KH. Muhammad Nuh Addawami

***** awal kutipan *****
Di masa hidup Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam menerima risalah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam tersebut relatif mudah, tidak sulit sesulit pada masa setelah wafatnya, apalagi setelah inqiradh para Sahabatnya.

Di masa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam masih hidup di dunia, bagi yang ingin menerima risalahnya hanya tinggal bertanya kepadanya dan mengikuti langsung apa-apa yang dikatakan, dikerjakan dan direstuinya.

Sedangkan pada masa setelah wafat beliau Shallallahu ‘Alaihi Wasallam terutama setelah inqiradh para Sahabatnya apalagi dalam masalah baru seiring dengan perkembangan zaman, kesulitan menerima risalah itu amat terasa sulit sekali, sehingga para penerimanya memerlukan kecermatan yang kuat dalam memahami al-Quran dan as-Sunnah, berijtihad dan beristinbath yang akurat menurut metoda yang dapat dipertanggungjawabkan keabsahannya menurut ukuran prinsip-prinsip risalah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam itu sendiri dengan logika yang benar, berbekal perbendaharaan ilmu yang cukup jumlah dan jenisnya, berlandaskan mental (akhlaq) dan niat semata-mata mencari kebenaran yang diridhai Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Hal semacam itu diperlukan karena keadaan kalam Allah Subhanahu wa Ta’ala dan kalam Rasulillah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam itu adalah kalam yang balaghah sesuai dengan muqtadhal hal dan muqtadhal maqam, keadaan lafadz-lafadznya beraneka ragam, ada lafadz nash, ada lafadz dlahir, ada lafadz mijmal, ada lafadz bayan, ada lafadz muawwal, ada yang umum, ada yang khusus, ada yang mutlaq, ada yang muqoyyad, ada majaz, ada lafadz kinayah selain lafadz hakikat. ada pula nasikh dan mansukh dan lain sebagainya.

Oleh karena itu bagi setiap sang penerima risalah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam pada masa setelah wafat beliau Shallallahu ‘Alaihi Wasallam dan setelah inqiradh para Sahabatnya radhiallahu anhum memerlukan :

a. Mengetahui dan menguasai bahasa arab sedalam-dalamnya, karena al-quran dan as-sunnah diturunkan Allah dan disampaikan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam dalam bahasa Arab yang fushahah dan balaghah yang bermutu tinggi, pengertiannya luas dan dalam, mengandung hukum yang harus diterima. Yang perlu diketahui dan dikuasainya bukan hanya arti bahasa tetapi juga ilmu-ilmu yang bersangkutan dengan bahasa arab itu seumpama nahwu, sharaf, balaghah (ma’ani, bayan dan badi’).

b. Mengetahui dan menguasai ilmu ushul fiqh, sebab kalau tidak, bagaimana mungkin menggali hukum secara baik dan benar dari al-Quran dan as-Sunnah padahal tidak menguasai sifat lafad-lafad dalam al-Quran dan as-Sunnah itu yang beraneka ragam yang masing-masing mempengaruhi hukum-hukum yang terkandung di dalamnya seperti ada lafadz nash, ada lafadz dlahir, ada lafadz mijmal, ada lafadz bayan, ada lafadz muawwal, ada yang umum, ada yang khusus, ada yang mutlaq, ada yang muqoyyad, ada majaz, ada lafadz kinayah selain lafadz hakikat. ada pula nasikh dan mansukh dan lain sebagainya.

c. Mengetahui dan menguasai dalil ‘aqli penyelaras dalil naqli terutama dalam masalah-masalah yaqiniyah qath’iyah.

d. Mengetahui yang nasikh dan yang mansukh dan mengetahui asbab an-nuzul dan asbab al-wurud, mengetahui yang mutawatir dan yang ahad, baik dalam al-Quran maupun dalam as-Sunnah. Mengetahui yang sahih dan yang lainnya dan mengetahui para rawi as-Sunnah.

e. Mengetahui ilmu-ilmu yang lainnya yang berhubungan dengan tata cara menggali hukum dari al-Quran dan as-Sunnah.

Bagi yang tidak memiliki kemampuan, syarat dan sarana untuk menggali hukum-hukum dari al-Quran dan as-Sunnah dalam masalah-masalah ijtihadiyah padahal dia ingin menerima risalah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam secara utuh dan kaffah, maka tidak ada jalan lain kecuali taqlid kepada mujtahid yang dapat dipertanggungjawabkan kemampuannya.

Diantara para mujtahid yang madzhabnya mudawwan adalah empat imam mujtahid, yaitu:

– Imam Abu Hanifah Nu’man bin Tsabit;
– Imam Malik bin Anas;
– Imam Muhammad bin Idris Asy-Syafi’i ; dan
– Imam Ahmad bin Hanbal.

Mengharamkan taqlid dan mewajibkan ijtihad atau ittiba’ dalam arti mengikuti pendapat orang disertai mengetahui dalil-dalilnya terhadap orang awam (yang bukan ahli istidlal) adalah fatwa sesat dan menyesatkan yang akan merusak sendi-sendi kehidupan di dunia ini.

Memajukan dalil fatwa terhadap orang awam sama saja dengan tidak memajukannya. (lihat Hasyiyah ad-Dimyathi ‘ala syarh al- Waraqat hal 23 pada baris ke-12).

Apabila si awam menerima fatwa orang yang mengemukakan dalilnya maka dia sama saja dengan si awam yang menerima fatwa orang yang tidak disertai dalil yang dikemukakan. Dalam artian mereka sama-sama muqallid, sama-sama taqlid dan memerima pendapat orang tanpa mengetahui dalilnya.

Yang disebut muttabi’ “bukan muqallid” dalam istilah ushuliyyin adalah seorang ahli istidlal (mujtahid) yang menerima pendapat orang lain karena dia selaku ahli istidlal dengan segala kemampuannya mengetahui dalil pendapat orang itu.

Adapun orang yang menerima pendapat orang lain tentang suatu fatwa dengan mendengar atau membaca dalil pendapat tersebut padahal sang penerima itu bukan atau belum termasuk ahli istidlal maka dia tidak termasuk muttabi’ yang telah terbebas dari ikatan taqlid.

Pendek kata arti ittiba’ yang sebenarnya dalam istilah ushuliyyin adalah ijtihad seorang mujtahid mengikuti ijtihad mujtahid yang lain.
***** akhir kutipan *****

Oleh karenanya setelah masa kehidupan Imam Madzhab yang empat, para mufti yakni orang yang faqih untuk membuat fatwa selalu merujuk kepada salah satu dari Imam Madzhab yang empat.

Saat ini mufti agung Mesir adalah Prof. Dr. Syauqi Ibrahim Abdul Karim ‘Allam. Salah satu syarat sebagai mufti Agung Mesir adalah lulusan Ph.D. Al-Azhar -tulen Al-Azhar dari sekolah dasar hingga strata tiga-, berpegang teguh kepada metode Al-Azhar.

Sanad talaqqi dalam aqidah dan mazhab fikih yang sampai saat ini dilestarikan salah satunya oleh ulama dan universitas Al-Azhar Asy-Syarif. Hal inilah yang mengapa Al-Azhar menjadi sumber ilmu keislaman selama berabad-abad. Karena manhaj yang di gunakan adalah manhaj shahih talaqqi (mengaji dengan ulama) yang memiliki sanad yang jelas dan sangat sistematis. Sehingga sarjana yang menetas dari Al-azhar adalah tidak hanya ahli akademis semata tapi juga alim serta selalu terjaga kemutawatiran sanad, kemurnian agama dan akidahnya.

Prof. Dr. Syauqi Ibrahim bermazhab Maliki  namun beliau menguasai ke empat Mazhab terlebih sejak Januari 2012 sampai sekarang beliau telah diberi amanah sebagai Kepala Jurusan (Kajur) bidang Fikih di Universitas Al Azhar, Thanta.

Para penguasa negeri seharusnyalah mentaati para pakar fiqih yang mempunyai sanad ilmu (sanad guru) tersambung kepada lisannya Rasulullah shallallahu alaihi wasallam sehingga negara dapat membuat hukum buatan manusia maupun tata cara menyelenggarakan pemerintahan yang tidak bertentangan dengan hukum Allah atau tidak bertentangan dengan Al Qur’an da As Sunnah.

Para pakar fiqih yang dipimpin seorang mufti agung lah yang dapat “berkomunikasi” dengan Allah Azza wa Jalla melalui ayat-ayat qauliyah (Al Qur’an) maupun melalui ayat-ayat kauniyah atas kejadian, peristiwa atau segala apa yang telah ditampakan oleh Allah Azza wa Jalla  yang merupakan tanda-tanda kekuasaanNya

Firman Allah ta’ala yang artinya

“Kami akan memperlihatkan kepada mereka tanda-tanda (kekuasaan) Kami di segenap ufuk dan pada diri mereka sendiri, sehingga jelaslah bagi mereka bahwa Al Qur’an itu adalah benar. Dan apakah Tuhanmu tidak cukup (bagi kamu) bahwa sesungguhnya Dia menyaksikan segala sesuatu?“ (QS. Fush Shilat [41]:53)

“(yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): “Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka.” (QS Ali ‘Imran [3]:191).

“Katakanlah: “Perhatikanlah apa yang ada di langit dan di bumi. Tidaklah bermanfaat tanda kekuasaan Allah dan rasul-rasul yang memberi peringatan bagi orang-orang yang tidak beriman“. (QS Yunus [10] : 101).

Para pakar fiqih yang dipimpin seorang mufti agung adalah termasuk orang-orang yang dekat dengan Allah Azza wa Jalla sehingga mereka dapat mendengar kalam Allah atau petunjukNya tidak melalui alat pendengaran (telinga) namun melalui hati yang disebut dengan ilham maupun firasat

Firman Allah ta’ala yang artinya

maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaannya“. (QS As Syams [91]:8 )

“Dan Kami telah menunjukkan kepadanya dua jalan” (pilihan haq atau bathil) (QS Al Balad [90]:10)

“maka apakah mereka tidak berjalan di muka bumi, lalu mereka mempunyai hati yang dengan itu mereka dapat memahami atau mempunyai telinga yang dengan itu mereka dapat mendengar? Karena sesungguhnya bukanlah mata itu yang buta, tetapi yang buta, ialah hati yang di dalam dada.” (al Hajj 22 : 46)

“Dan barangsiapa yang buta (hatinya) di dunia ini, niscaya di akhirat (nanti) ia akan lebih buta (pula) dan lebih tersesat dari jalan (yang benar).” (QS Al Isra 17 : 72)

shummun bukmun ‘umyun fahum laa yarji’uuna , “mereka tuli, bisu dan buta (tidak dapat menerima kebenaran), maka tidaklah mereka akan kembali (ke jalan yang benar)” (QS Al BAqarah [2]:18)

shummun bukmun ‘umyun fahum laa ya’qiluuna , “mereka tuli (tidak dapat menerima panggilan/seruan), bisu dan buta, maka (oleh sebab itu) mereka tidak mengerti. (QS Al Baqarah [2]:171)

Sedangkan firasat, yakni lintasan pikiran yang terbit dari kekuatan iman dan kedekatan dengan Allah. Dengannya seseorang bisa menyaksikan apa yang tersembunyi dari mata kepala. Sejenis dengannya adalah karamah, yaitu tampilnya hal-hal ajaib dari seseorang yang bukan Nabi yang muncul begitu saja sesuai kehendak-Nya.

Berikut sebuah riwayat yang disampaikan oleh Habib Munzir tentang bagaimana contoh Rasulullah shallallahu alaihi wasallam mendengar kalam Allah (petunjukNya)

****** awal kutipan *****
Ketika diantara wanita itu terdapat Juwairiyah, putri kepala Qabilah Bani Musthaliq, maka Rasul shallallahu alaihi wassalam tidak tega menjadikan putri Raja Qabilah itu sebagai budak. Rasul shallallahu alaihi wassalam  memerintahkan agar menahan Juwairiyah untuk tidak diperbudak, maka ayahnya datang untuk memohon pada Rasul shallallahu alaihi wassalam agar putrinya dibebaskan, ia membawa uang dan dua ekor unta untuk menebus putrinya, namun ditengah jalan ia ragu, dan membatalkan dua ekor untanya dan ditinggal di tengah jalan lalu menghadap Rasul  shallallahu alaihi wassalam

Ketika sampai pada Rasul shallallahu alaihi wassalam maka ia berkata : wahai Muhammad, aku ingin menebus putriku dengan uang ini, maka Rasul shallallahu alaihi wasallam bersabda : kau kemanakan dua ekor unta yang sudah kau niatkan juga untuk menebusnya?, maka Harits (ayah Juwairiyah) kaget, maka ia bersyahadat dan masuk islam.
****** akhir kutipan ******

Begitupula diceritakan bahwa Imam Syafi’i dan Muhammad bin al-Hasan pernah melihat seorang laki-laki.

Imam Syafi’i berkata, “Sesungguhnya lelaki itu adalah seorang tukang kayu.” Sedangkan Muhammad bin al-Hasan berkata, “Sesungguhnya lelaki itu adalah seorang pandai besi.” Lantas keduanya bertanya kepada lelaki tersebut tentang profesinya. Lalu di menjawab, “Dulu saya seorang pandai besi dan saya sekarang tukang kayu.”

Kita dapat mengambil pelajaran dari kerajaan Islam Brunei Darussalam berideologi Melayu Islam Beraja (MIB) dengan penerapan nilai-nilai ajaran Agama Islam dirujuk kepada golongan Ahlus Sunnah wal Jamaah yang dipelopori oleh Imam Al Asyari dan mengikut Mazhab Imam Syafei. Sultan Brunei disamping sebagai kepala negara dan kepala pemerintahan merangkap sebagai perdana menteri dan menteri pertahanan dengan dibantu oleh dewan penasihat kesultanan dan beberapa menteri, juga bertindak sebagai pemimpin tertinggi Agama Islam dimana dalam menentukan keputusan atas sesuatu masalah dibantu oleh Mufti Kerajaan.

Negara kitapun ketika awal berdirinya memiliki lembaga tinggi negara yang bernama “Dewan Pertimbangan Agung” yang berunsurkan ulama yang sholeh yang dapat memberikan pertimbangan dan usulan kepada pemerintah dalam menyelenggarakan pemerintahan agar tidak bertentangan dengan Al Qur’an dan As Sunnah.

Lembaga negara yang berunsurkan kata “agung” seperti Mahkamah Agung , Jaksa Agung pada hakikatnya adalah wakil-wakil Tuhan dalam menegakkan keadilan di muka bumi agar sesuai dengan Al Qur’an dan As Sunnah.

Salah satu contoh ulama yang menjadi anggota “Dewan Pertimbangan Agung” adalah Syaikh Muhammad Jamil Jambek ulama pelopor pembaruan Islam dari Sumatera Barat awal abad ke-20 yang pernah berguru dengan Syeikh Ahmad Khatib Al-Minangkabawi yang merupakan ulama besar Indonesia yang pernah menjadi imam, khatib dan guru besar di Masjidil Haram, sekaligus Mufti Mazhab Syafi’i pada akhir abad ke-19 dan awal abad ke-20.

Namun dalam perjalanannya Dewan Pertimbangan Agung perannya dalam roda pemerintahan di negara kita “dikecilkan”. Bahkan pada zaman era Surharto, singkatan DPA mempunyai arti sebagai “Dewan Pensiun Agung” karena keanggotaanya terdiri dari pensiunan-pensiunan pejabat. Sehingga pada era Reformasi , Dewan Pertimbangan Agung dibubarkan dengan alasan sebagai lembaga yang tidak effisien.

Jadi cara penerapan syariat Islam dalam sistem pemerintahan di negara kita dengan cara mengembalikan wewenang para ahli fiqih untuk menasehati dan membimbing ulil amri sehingga dalam menjalankan roda pemerintahan tidak bertentangan dengan Al Qur’an dan As Sunnah sehingga tidak ada keraguan lagi bagi kaum muslim untuk mentaati ulil amri

Kaum muslimpun harus pula mengikuti semangat piagam Madinah dalan menjaga kesatuan dan persatuan negara di tengah keberagaman warga negara dengan mentaati penguasa negara atau ulil amri di mana mereka tinggal.

Tidaklah mentaati siapapun di luar negara yang dikenal dengan kepemimpinan trans nasional sebagaimana yang dilakukan oleh para pelaku bom bunuh diri di negara kita yang mentaati ulil amri di luar negara kita (trans nasional).

Kita seharusnya mendahulukan ketaatan kepada ulil amri di mana kita tinggal dibandingkan ketaatan pada pemimpin organisasi lintas negara (organisasi trans nasional) sebagaimana yang tercantum dalam piagam Madinah

***** awal kutipan *****
Pasal 1

Sesungguhnya mereka satu bangsa negara (ummat), bebas dari (pengaruh dan kekuasaan) manusia.

Pasal 17

Perdamaian dari orang-orang beriman adalah satu

Tidak diperkenankan segolongan orang-orang yang beriman membuat perjanjian tanpa ikut sertanya segolongan lainnya di dalam suatu peperangan di jalan Tuhan, kecuali atas dasar persamaan dan adil di antara mereka

Pasal 36 ayat 1

Tidak seorang pun diperbolehkan bertindak keluar, tanpa ijinnya Muhammad Shallallahu alaihi wasallam

Pasal 37 ayat 2

Di antara segenap warga negara (Yahudi dan Muslimin) terjalin pembelaan untuk menentang setiap musuh negara yang memerangi setiap peserta dari piagam ini

Pasal 44

Di kalangan warga negara sudah terikat janji pertahanan bersama untuk menentang setiap agresor yang menyergap kota Yathrib
***** akhir kutipan *****

Sebagaimana yang telah disampaikan dalam tulisan pada https://mutiarazuhud.wordpress.com/2013/07/16/perdamaian-islam/ bahwa mewujudkan perdamaian dunia Islam atau mewujudkan Ukhuwah Islamiyah dengan mentaati perintah Rasulullah shallallahu alaihi wasallam untuk mengikuti mayoritas kaum muslim (as-sawadul a’zham) dan menghindari semua sekte atau firqoh yang menyempal keluar (kharaja) dari mayoritas kaum muslim

Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Sesungguhnya Allah tidak menghimpun ummatku diatas kesesatan. Dan tangan Allah bersama jama’ah. Barangsiapa yang menyelewengkan (menyempal), maka ia menyeleweng (menyempal) ke neraka“. (HR. Tirmidzi: 2168).

Al-Hafidz Ibnu Hajar rahimahullah dalam Fathul Bari XII/37 menukil perkataan Imam Thabari rahimahullah yang menyatakan: “Berkata kaum (yakni para ulama), bahwa jama’ah adalah as-sawadul a’zham (mayoritas kaum muslim)“

Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda “Sesungguhnya umatku tidak akan bersepakat pada kesesatan. Oleh karena itu, apabila kalian melihat terjadi perselisihan maka ikutilah as-sawad al a’zham (mayoritas kaum muslim).” (HR.Ibnu Majah, Abdullah bin Hamid, at Tabrani, al Lalika’i, Abu Nu’aim. Menurut Al Hafidz As Suyuthi dalam Jamius Shoghir, ini adalah hadits Shohih).

Pada masa sekarang mayoritas kaum muslim (as-sawadul a’zham) adalah bagi siapa saja yang mengikuti Rasulullah shallallahu alaihi wasallam dengan mengikuti para ulama yang sholeh yang mengikuti Imam Mazhab yang empat.

Sebagaimanapula yang telah disampaikan dalam tulisan pada https://mutiarazuhud.wordpress.com/2013/07/18/islam-adalah-satu/ bahwa Islam adalah satu pada masa sekarang adalah Islam sebagaimana yang telah disampaikan dan dijelaskan oleh para penunjuk yakni para ulama yang sholeh yang mengikuti Imam Mazhab yang empat.

Wassalam

Zon di Jonggol, Kabupaten Bogor 16830

Iklan

Read Full Post »

« Newer Posts