Feeds:
Pos
Komentar

Posts Tagged ‘i’tiqod’


Rasulullah melarang untuk memikirkan atau menanyakan Dzat Allah

Kita prihatin dengan mereka yang secara terang-terangan melanggar larangan Rasulullah yakni larangan untuk memikirkan atau menanyakan Dzat Allah seperti menanyakan “Di mana” Dzat Allah?

Rasulullah bersabda ”Berpikirlah tentang nikmat-nikmat Allah, dan jangan sekali-kali engkau berpikir tentang Dzat Allah“.

Jadi sunnah Rasulullah untuk meyakini KEBERADAAN Allah adalah dengan memikirkan nikmat-nikmat yang telah diberikanNya atau dengan memikirkan tanda-tanda (kekuasaan) Allah Ta’ala.

Oleh karenanya ungkapan seperti “Allah ada di mana-mana” sebaiknya janganlah DIPAHAMI dengan MAKNA DZAHIR atau secara hissi (materi/fisikal) bahwa Allah Ta’ala berada atau bertempat di mana-mana.

NAMUN sesuai sunnah Rasulullah di atas, kita bisa mengetahui dan meyakini KEBERADAAN dan KEBESARAN Allah Ta’ala serta MENGENAL Allah (makrifatullah) adalah dengan memperhatikan alam dan isinya atau semua yang terlihat oleh mata yang merupakan tanda-tanda kekuasaanNya atau disebut juga ayat-ayat kauniyah, ayat-ayat yang meliputi segala macam ciptaan Allah,baik itu yang kecil (mikrokosmos) ataupun yang besar (makrokosmos).

Firman Allah Ta’ala yang artinya

“Kami akan memperlihatkan kepada mereka tanda-tanda (kekuasaan) Kami di segenap ufuk dan pada diri mereka sendiri, sehingga jelaslah bagi mereka bahwa Al Qur’an itu adalah benar. Dan apakah Tuhanmu tidak cukup (bagi kamu) bahwa sesungguhnya Dia menyaksikan segala sesuatu?“ (QS. Fush Shilat [41]:53)

“Katakanlah: “Perhatikanlah apa yang ada di langit dan di bumi. Tidaklah bermanfaat tanda kekuasaan Allah dan rasul-rasul yang memberi peringatan bagi orang-orang yang tidak beriman“. (QS Yunus [10] : 101).

Imam sayyidina Ali bin Abi Thalib mengingatkan bahwa bagi orang-orang yang sudah mendalami tentang aqidah maka pertanyaan “di mana” dan “bagaimana” TIDAK PATUT atau TIDAK BOLEH ditujukan kepada Allah.

وقال سيدنا علي رضي الله عنه :” إن الذي أين الأين لا يقال له أين وإن الذي كيف الكيف لا يقال له كيف

رواه أبو المظفر الإسفراييني في كتابه في التبصير في الدين / ص: 98

“Sesungguhnya yang menciptakan aina (tempat) tidak boleh dikatakan baginya di mana (pertanyaan tentang tempat), dan yang menciptakan kayfa (sifat-sifat makhluk) tidak boleh dikatakan baginya bagaimana” (diriwayatkan oleh Abu Muzhaffar al-Asfarayini dalam kitabnya at-Tabshir fi ad-Din, hal. 98.

Begitupula para ulama mengingatkan bahwa pertanyaan “Di mana” tidak patut atau tidak boleh ditujukan kepada Allah Ta’ala.

Ibnu Hajar al Asqallani dalam Fathu al Bari-nya,1/221:“Karena sesungguhnya jangkauan akal terhadap rahasia-rahasia ketuhanan itu terlampau pendek untuk menggapainya, maka tidak boleh dialamatkan kepada ketetapan-Nya: Mengapa dan bagaimana begini? Sebagaimana tidak boleh juga mengalamatkan kepada keberadaan Dzat-Nya: Di mana?.”

Al Imam Fakhruddin ibn ‘Asakir (W. 620 H) dalam risalah aqidahnya mengatakan: “Allah ada sebelum ciptaan, tidak ada bagi-Nya sebelum dan sesudah, atas dan bawah, kanan dan kiri, depan dan belakang, keseluruhan dan bagian-bagian, tidak boleh dikatakan “Kapan ada-Nya ?”, “Di mana Dia ?” atau “Bagaimana Dia ?”, Dia ada tanpa tempat”.

Imam al Qusyairi menyampaikan, ” Dia Tinggi Yang Maha Tinggi, Luhur Yang Maha Luhur dari ucapan “bagaimana Dia?” atau “dimana Dia?”. Tidak ada upaya, jerihpayah, dan kreasi-kreasi yang mampu menggambari-Nya,atau menolak dengan perbuatan-Nya atau kekurangan dan aib. Karena, tak ada sesuatu yang menyerupai-Nya. Dia Maha Mendengar dan Melihat. Kehidupan apa pun tidak ada yang mengalahkan-Nya. Dia Dzat Yang Maha Tahu dan Kuasa“

Sedangkan pertanyaan Rasulullah aina Allah, di mana Allah kepada seorang budak, Imam Syafi’i dalam Manaqib Imam Syafi’I, al-Baihaqi : 1/396 menjelaskan

النبي – صلى الله عليه وسلم – خاطبها على قَدرِ معرفتها، فإنها وأمثالها قبل الإسلام كانوا يعتقدون فيالأوثان أنها آلهة في الأرض، فأراد أن يعرف إيمانها، فقال لها: أين اللَّه؟ حتى إذا أشارت إلى الأصنام عرف أنها غير مؤمنة، فلما قالت: في السماء، عرفأنها برئت من الأوثان، وأنها مؤمنة بالله الذي في السماء إله وفي الأرض إله

“Nabi –shallallahu ‘alaihi wasallam- bertanya kepada hamba tersebut (budak Jariyah) disesuaikan dengan kadar pemahamannya, karena dia (budak Jariyah) dan kawan-kawannya sebelum masuk Islam, mereka percaya kepada berhala yakni sesembahan mereka yang ada di bumi, maka Nabi ingin mengetahui keimanannya, maka Nabi bertanya : “Di mana Allah ?” sehingga apabila ia menunjuk kepada berhala, Nabi mengetahui bahwa ia bukan Islam (bukan orang yang beriman) , maka manakala ia menunjuk di langit, Nabi mengetahui bahwa ia TERLEPAS dari BERHALA dan bahwa ia adalah orang yang percaya kepada Allah yaitu Tuhan di langit dan Tuhan di bumi.

Para ulama menegaskan bahwa budak perempuan tersebut berisyarat dengan telunjuknya ke arah langit adalah untuk mengungkapkan keagungan atau ketinggian derajat Allah Ta’ala.

Contohnya ulama Hambali Al Imam al-Hafidz Ibn Al Jawzi berkata “Aku (Ibnul Jawzi) berkata: “Adapun bahwa budak perempuan tersebut berisyarat dengan mengatakan di arah langit adalah untuk tujuan mengagungkan.

Bahkan hujjatul Islam Abu Hamid Al Ghazali mengabarkan bahwa budak itu adalah seorang yang bisu dan ia tidak memiliki cara lain untuk menunjukkan ketinggian Allah Yang Maha Kamal kecuali dengan menggunakan bahasa isyarat menunjuk langit. (DR. Muhyiddin Al Shafi, Muhadharat Fie Al `Aqidah Al Islamiyyah Qism Al Ilahiyyat, Maktabah Iman dan Maktabah Al Jami`ah Al Azhariyyah, Kairo, cet. ke II, 2010)

Sedangkan Imam Nawawi (w. 676 H/1277 M) dalam Syarah Shahih Muslim (Juz. 5 Hal. 24-25) maka ia mentakwilnya agar tidak menyalahi Hadis Mutawatir dan sesuai dengan ushulus syariah. Yakni pertanyaan ‘Aina Allah? diartikan sebagai pertanyaan tentang kedudukan Allah bukan tempat Allah, karena aina dalam bahasa Arab bisa digunakan untuk menanyakan tempat dan juga bisa digunakan untuk menanyakan kedudukan atau derajat. Jadi maknanya; “Seberapa besar pengagunganmu kepada Allah?”. Sedangkan jawaban Fis Sama’ diartikan dengan uluwul kodri jiddan (derajat Allah sangat tinggi).

Pokok permasalahannya mereka menjadikan hadits yang diriwayatkan oleh Muawiyah bin al-Hakam as-Sulami yang ketika itu BARU MASUK ISLAM sebagai pokok dalam aqidah.

Hadits yang diriwayatkan oleh Muawiyah bin al-Hakam as-Sulami adalah hadits panjang yang terdiri dari beberapa bagian

Namun KHUSUSNYA pada bagian kisah budak Jariyah, Muawiyah bin al-Hakam as-Sulami meriwayatkan hadits TIDAK dengan MATAN (redaksi) ASLI sabda Nabi shallallahu alaihi wasallam sehingga BERBEDA dengan matan (redaksi) riwayat lainnya yang tidak memuat pertanyaan “di mana Allah”.

Ia meriwayatkannya dengan ma’nan (hanya kandungan maknanya saja) alias MATAN (redaksi) dari Muawiyah bin al-Hakam as-Sulami SECARA PRIBADI berdasarkan penyaksiannya terhadap percakapan secara isyarat yang dapat pula dipengaruhi oleh keadaannya yang baru masuk Islam sehingga ia terjatuh dalam kesalahan.

Hal ini dapat diketahui dari pernyataan Muawiyah bin al-Hakam as-Sulami, “Wahai Rasul shallallahu alaihi wasallam sesungguhnya aku adalah seorang yang baru saja berada di dalam kejahiliyahan kemudian datang Islam”.

Begitupula pada kenyataannya Imam Muslim TIDAK MELETAKKAN hadits tersebut pada BAB AQIDAH atau KEIMANAN melainkan pada BAB SHALAT yakni haramnya berbicara saat shalat karena hal pokok yang SHAHIH dan TIDAK DIPERSELISIHKAN adalah pada bagian sabda Rasulullah shallallahu alaihi wasallam yang artinya, “Sesungguhnya shalat ini, tidak pantas di dalamnya ada percakapan manusia, karena shalat itu hanyalah tasbih, takbir dan membaca al-Qur’an.” (HR Muslim 836)

Ada pula mereka yang ngeyel atau kekeuh (bersikukuh) mengatakan bahwa kebenaran budak Jariyah menunjuk keberadaan Allah di langit, salah satunya dibuktikan dengan peristiwa Rasulullah mi’raj ke tempat Allah, berjumpa dan melihat Allah.

Hal ini sudah diklarifikasi oleh para Sahabat kepada Ummul Mukminin Aisyah radhiyallahu ‘anha

Telah bercerita kepada kami Muhammad bin Yusuf telah bercerita kepada kami Abu Usamah telah bercerita kepada kami Zakariya’ bin Abu Za’idah dari Ibnu Al Asywa’ dari asy-Sya’biy dari Masruq berkata; Aku bertanya kepada ‘Aisyah radhiyallahu ‘anhu bagaimana maksud tentang firman Allah Ta’ala QS an-Najm ayat 8-10:

“Tsumma danaa fa tadallaa. Fa kaana qaaba qausaini aw adnaa”. (“Kemudian dia mendekat lalu bertambah dekat lagi. Maka jadilah dia dekat (pada Muhammad sejarak) sedekat dua ujung busur panah atau lebih dekat (lagi) “).

Dia berkata, “Itulah Jibril ‘Alaihissalam yang pernah datang kepada Beliau shallallahu ‘alaihi wasallam dalam rupa seorang laki-laki dan dalam kesempatan ini (seperti dimaksud ayat ini), Jibril Alaihissalam datang dalam bentuk asli, yang raganya tersebut menutup ufuk langit” – (HR Bukhari 2996 atau versi Fathul Bari 3235 )

Haditsnya bisa diperiksa pada https://hadits.in/bukhari/2996

Jadi Ummul Mukminin Aisyah radhiyallahu’ anha menjelaskan bahwa pada peristiwa mi’raj dimana dikabarkan Rasulullah mendekat lalu bertambah dekat lagi yakni sedekat dua ujung busur panah atau lebih dekat (lagi) bukanlah berjumpa dengan Allah namun Malaikat Jibril mendatangi Rasulullah.

Sayyid Muhammad bin Alwi Maliki dalam kitab karyanya yang berjudul “Wahuwa bi al’ufuq al-a’la” dan telah diterjemahkan oleh penerbit Sahara publisher dengan judul “Semalam bersama Jibril ‘alaihissalam” menjelaskan

***** awal kutipan *****
Walaupun dalam kisah mi’raj yang didengar terdapat keterangan mengenai naik-turunnya Rasulullah, seorang muslim tidak boleh menyangka bahwa antara hamba dan Tuhannya terdapat jarak tertentu, karena hal itu termasuk perbuatan kufur. Na’udzu billah min dzalik.

Meskipun Nabi Muhammad shallallahu alaihi wasallam pada malam Isra’ sampai pada jarak dua busur atau lebih pendek lagi dari itu, tetapi Beliau tidak melewati maqam ubudiyah (kedudukan sebagai seorang hamba).

Nabi Muhammad shallallahu alaihi wasallam dan Nabi Yunus bin Matta alaihissalam, ketika ditelan hiu dan dibawa ke samudera lepas ke dasar laut adalah sama hal ketiadaan jarak Allah Ta’ala dengan ciptaan-Nya, ketiadaan arahNya, ketiadaan menempati ruang, ketidakterbatasannya dan ketidaktertangkapnya. Menurut suatu pendapat ikan hiu itu membawa Nabi Yunus alaihissalam sejauh perjalanan enam ribu tahun. Hal ini disebutkan oleh al Baghawi dan yang lainnya.

Ketahuilah bahwa bolak-baliknya Nabi Muhammad shallallahu alaihi wasallam antara Nabi Musa alaihissalam dengan Allah Subhanahu wa Ta’ala pada malam yang diberkahi itu tidak berarti adanya arah bagi Allah Subhanahu wa Ta’ala. Maha suci Allah dari hal itu dengan sesuci-sucinya.

Ucapan Nabi Musa alaihissalam kepada Rasulullah, “Kembalilah kepada Tuhanmu,” artinya: “kembalilah ke tempat engkau bermunajat kepada Tuhanmu”.

Jadi kembalinya Rasulullah kepadaNya adalah kembali Beliau meminta di tempat itu karena mulianya tempat itu dibandingkan dengan yang lain. Sebagaimana lembah Thursina adalah tempat permohonan Nabi Musa alaihissalam di bumi.
***** akhir kutipan *****

Jadi Rasulullah Mi’raj ke Sidratul Muntaha adalah ke tempat Beliau bermunajat dan bermohon kepada Tuhannya dan sebagaimana lembah Thursina adalah tempat permohonan Nabi Musa alaihissalam di bumi.

Tempat memohon tidak berarti bahwa yang diminta ada di tempat itu atau menempati tempat itu karena Allah Subhanahu wa Ta’ala suci dari arah dan tempat.

Begitupula umat Islam bermunajat ke Baitullah maupun ke Masjid bukan ke tempat atau ke rumah Allah Ta’ala atau bukan Allah Ta’ala berada atau bertempat di tempat hambaNya bermunajat.

Begitupula terkait peristiwa Mi’raj yang dikabarkan Rasulullah diangkat ke TEMPAT yang TINGGI hingga ke Sidrah al-Muntaha, para Sahabat atau Salafush Sholeh telah menyampaikan LARANGAN dari Rasulullah bahwa : “Tidak layak bagi siapapun untuk mengatakan; ‘Aku lebih baik dari Yunus bin Mata.’

Jadi para Sahabat atau Salafush Sholeh telah menyampaikan LARANGAN dari Rasulullah untuk menetapkan arah atas (jihah) maupun tempat bagi Allah sebagaimana contohnya yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari.

حَدَّثَنَا مُسَدَّدٌ حَدَّثَنَا يَحْيَى عَنْ سُفْيَانَ قَالَ حَدَّثَنِي الْأَعْمَشُ عَنْ أَبِي وَائِلٍ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ
عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ مَا يَنْبَغِي لِأَحَدٍ أَنْ يَقُولَ أَنَا خَيْرٌ مِنْ يُونُسَ بْنِ مَتَّى

Telah menceritakan kepada kami Musaddad Telah menceritakan kepada kami Yahya dari Sufyan dia berkata; Telah menceritakan kepadaku Al A’masy dari Abu Wail dari ‘Abdullah dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Tidak layak bagi siapapun untuk mengatakan; ‘Aku lebih baik dari Yunus bin Mata.’ (HR Bukhari 4237)

Silahkan periksa haditsnya pada http://hadits.in/bukhari/4237

Jelaslah dari hadits tersebut dapat kita ketahui bahwa Rasulullah melarang berkeyakinan (akidah/i’tiqod) bahwa Rasulullah diangkat ke TEMPAT yang TINGGI hingga ke Sidrah al-Muntaha TIDAK BOLEH dikatakan LEBIH BAIK atau LEBIH DEKAT secara hissi (materi / fisikal) kepada Allah Ta’ala dibanding Nabi Yunus yang berada di TEMPAT yang RENDAH yakni di dalam perut ikan besar yang kemudian dibawa hingga ke kedalaman lautan.

Imam Malik menjelaskan bahwa seandainya kemuliaan itu diraih karena berada di arah atas, maka tentu Rasulullah tidak akan melarang melebih-lebihkan Beliau atas nabi Yunus ibn Matta

Penjelasan Imam Malik tersebut disampaikan ketika Beliau meriwayatkan sabda Rasulullah

لا تفضلوني على يونس بن متى

“La Tufadl-dliluni ‘Ala Yunus Ibn Matta”

Imam Malik menjelaskan bahwa

****** awal kutipan *****
Rasulullah secara khusus menyebut Nabi Yunus dalam sabdanya, tidak menyebut Nabi lainya, adalah untuk memberikan pemahaman aqidah tanzih (Allah Subhanahu wa Ta’ala suci dari arah dan tempat).

Hal ini karena Rasulullah diangkat ke atas ke arah arsy (ketika peristiwa Mi’raj), sementara nabi Yunus dibawa ke bawah hingga ke dasar lautan yang sangat dalam (ketika Beliau ditelan oleh ikan besar), dan kedua arah tersebut, baik arah atas maupun arah bawah, keduanya bagi Allah Ta’ala sama saja.

Artinya satu dari lainnya tidak lebih dekat kepada-Nya, karena Allah ada tanpa tempat.
****** akhir kutipan ******

Penjelasan Imam Malik tersebut disampaikan oleh

1. Al-Imam al-‘Allamah al-Qadli Nashiruddin ibn al-Munayyir al-Maliki (seorang ulama terkemuka sekitar abad tujuh hijriyah), dalam karyanya berjudul “al-Muqtafa Fi Syaraf al-Musthafa

2. Al-Imam Taqiyyuddin as-Subki dalam karya bantahannya atas Ibn al-Qayyim al-Jaiziyyah (murid Ibn Taimiyah); yang berjudul as-Saif ash-Shaqil Fi ar-Radd ‘Ala ibn Zafil.

3. Al-Imam Muhammad Murtadla az-Zabidi dalam karyanya Ithaf as-Sadahal-Muttaqin Bi Syarah Ihya ‘Ulumiddin.

dan lain lainnya.

Begitupula Al-Imam al-Qurthubi menuliskan

***** awal kutipan *****
وقال أبو المعالي: قوله صلى الله عليه وسلم لا تفضلوني على يونس بن متّى

“Abu al-Ma’ali berkata: Sabda Rasulullah berbunyi “La Tufadl-dlilunî ‘Ala Yunus Ibn Matta”

المعنى فإني لم أكن وأنا في سدرة المنتهى بأقرب إلى الله منه وهو في قعر البحر في بطن الحوت. وهذا يدل على أن البارىء سبحانه وتعالى ليس في جهة

memberikan pemahaman bahwa Nabi Muhammad yang diangkat hingga ke Sidrah al-Muntaha tidak boleh dikatakan lebih dekat kepada Allah dibanding Nabi Yunus yang berada di dalam perut ikan besar yang kemudian dibawa hingga ke kedalaman lautan. Ini menunjukan bahwa Allah ada tanpa tempat dan tanpa arah (al-Jami’ Li Ahkam al-Qur’an, j. 11, h. 333-334, QS. al-Anbiya’: 87)
***** akhir kutipan *****

Al-’Allamah Asy-Syaikh Muhammad Nawawi Asy-Syafi’i Al-Bantani Al-Jawi dalam kitabnya ” Nur Adh-Dhalam” syarah ‘Aqidatul ‘Awam halaman 42 baris 3-6 mengatakan:

***** awal kutipan *****
Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak berada di suatu tempat maupun arah , Maha suci Allah dari yang demikian (bertempat atau berarah) , tempat hanya dinisbatkan kepada Nabi Muhammad shallallahu alaihi wasallam.

Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda :

لا تفضلوني على يونس بن متّى

“La Tufadl-dlilunî ‘Ala Yunus Ibn Matta”

maksudnya : Janganlah kamu berprasangka bahwa aku lebih dekat kepada Allah daripada Nabi Yunus hanya karena Allah mengangkat aku ke atas langit yang tujuh sedangkan Nabi Yunus berada didasar lautan didalam ikan , masing-masing dari kami berdua nisbat kedekatan dari Allah ada pada batasan yang sama.
***** akhir kutipan *****

Wasallam

Zon di Jonggol, Kabupaten Bogor 16830

Read Full Post »

Older Posts »