Feeds:
Pos
Komentar

Posts Tagged ‘Karunia’

Hukum asalnya mubah (boleh)

 

Mereka menuliskan “mas jonggol mengatakan maulid perkara mubah ..berarti dikerjakan atau tdk dikerjakan ga ada hasil alias 0 (nol) ..aneh kan orang ngerjain yang ga dpat pahala ko di gedein ..berarti bukan muslim yg baik sbb kalau ciri muslim yang baik enggan melakukan perbuatan yg tdk berguna atau sia sia karena ga dpt pahala ..trus yang namanya yg menjadi hak Alloh adalah beribadah hanya kepada Nya tanpa menyekutukan dg sesuatu apapun sesuai dg syariat yg telah disyariatkan melalui nabi muhammad yg mulia ..bukan dg berbuat mengada ada atau bidah

Mereka memanggil nama kami tidak lengkap. Jonggol adalah nama tempat tinggal kami di wilayah kabupaten Bogor, sedangkan nama panggilan yang berasal dari bagian nama pemberian orang tua kami adalah  Zon. Seputar kami telah disampaikan dalam tulisan pada https://mutiarazuhud.wordpress.com/2012/03/09/2011/03/05/siapa-kami/

Mereka tidak jujur mengutip tulisan atau pendapat kami karena tidak sesuai dengan apa yang telah kami sampaikan.

Kami sampaikan adalah,

Peringatan Maulid Nabi adalah perkara di luar perkara syariat yang tidak bertentangan dengan Al Qur’an dan Hadits. Hukum asalnya adalah mubah (boleh). Perubahan hukumnya tergantung cara mengiisi peringatan Maulid Nabinya.

Kaum muslim pada umumnya mengisi peringatan Maulid Nabi adalah dengan pembacaan Al Qur’an , Sholawat dan ta’lim seputar kehidupan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam dan implementasinya pada kehidupan masa kini. Peringatan Maulid Nabi seperti itu tentu termasuk amal kebaikan dan berpahala. Segala amal kebaikan berfungsi untuk meraih cinta atau ridhonya Allah Azza wa Jalla.

Kita pun boleh memperingati hari kelahiran kita sebagai intropeksi terhadap apa yang telah dilakukan selama ini. Kaum Nasrani tidaklah berdosa karena memperingati hari kelahiran manusia siapapun namun mereka berdosa karena menjadikan Nabi Isa Alaihissalam sebagai tuhan-tuhan selain Allah.

Firman Allah ta’ala,

Wal tandhur nafsun ma qaddamat li ghad

Perhatikan masa lampaumu untuk hari esokmu” (QS al Hasyr [59] : 18 )

Perkara syariat atau segala perkara yang telah disyariatkanNya (diwajibkanNya) meliputi menjalankan perkara kewajiban yang jika ditinggalkan berdosa dan menjauhi apa yang telah dilarangNya dan menjauhi apa yang telah diharamkanNya yang jika dikerjakan/dilanggar berdosa adalah sarana pembuktian cinta kepada Allah dan RasulNya

Amal kebaikan adalah segala amal kebaikan yang telah dicontohkan oleh Rasulullah shallallahu alaihi wasallam dan segala perkara di luar perkara syariat yang tidak bertentangan dengan Al Qur’an dan Hadits.

Amal kebaikan adalah sarana untuk meraih cintaNya dan cinta RasulNya

Dalam sebuah hadit qudsi, Rasulullah bersabda “Allah berfirman, hamba-Ku tidak bisa mendekatkan diri kepada-Ku dengan sesuatu yang lebih Aku cintai daripada yang telah Aku wajibkan (perkara syariat), jika hamba-Ku terus menerus mendekatkan diri kepadaKu dengan amal kebaikan maka Aku mencintai dia” (HR Bukhari 6021)

Begitupula yang disampaikan oleh Imam Al hafidh Abu Syaamah rahimahullah (Guru imam Nawawi), “merupakan Bid’ah hasanah yang mulia dizaman kita ini adalah perbuatan yang diperbuat setiap tahunnya di hari kelahiran Rasul shallallahu alaihi wasallam dengan banyak bersedekah, dan kegembiraan, menjamu para fuqara, seraya menjadikan hal itu memuliakan Rasul shallallahu alaihi wasallam dan membangkitkan rasa cinta pada beliau shallallahu alaihi wasallam, dan bersyukur kepada Allah ta’ala dengan kelahiran Nabi shallallahu alaihi wasallam

Al Hafidz lebih tinggi derajatnya dari pada al Muhaddits. Al Hafidz adalah orang yang memadukan sifat-sifat muhaddits ditambah dengan hafalan 100.000 hadits baik dalam segi matan maupun sanadnya

Firman Allah ta’ala yang artinya “Katakanlah: “Dengan kurnia Allah dan rahmat-Nya, hendaklah dengan itu mereka bergembira. Kurnia Allah dan rahmat-Nya itu adalah lebih baik dari apa yang mereka kumpulkan“. (QS Yunus [10]:58)

Kaum muslim bergembira memperingati Maulid Nabi adalah bentuk bersyukur atas karunia dan rahmat Allah Azza wa Jalla atas kelahiran manusia yang paling mulia, Sayyidina Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam

Begitupula para ulama yang sholeh dari kalangan ahlul bait, keturunan cucu Rasulullah shallallahu alaihi wasallam yakni para Habib dan para Sayyid yang mendapatkan pengajaran agama dari orang tua-orang tua mereka terdahulu tersambung kepada Imam Sayyidina Ali ra yang mendapatkan pengajaran agama langsung dari Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, juga selalu menyelenggarakan peringatan Maulid kakek mereka, Nabi Besar kaum muslim, Sayyidina Muhammad Shallallahu alaihi wasallam

Bahkan Sayid Ja’far ibn Hasan ibn Abdul Karim ibn Muhammad ibn Sayid Rasul ibn Abdul Sayid ibn Abdul Rasul ibn Qalandar ibn Abdul Sayid ibn Isa ibn Husain ibn Bayazid ibn Abdul Karim ibn Isa ibn Ali ibn Yusuf ibn Mansur ibn Abdul Aziz ibn Abdullah ibn Ismail ibn Al-Imam Musa Al-Kazim ibn Al-Imam Ja’far As-Sodiq ibn Al-Imam Muhammad Al-Baqir ibn Al-Imam Zainal Abidin ibn Al-Imam Husain ibn Sayidina Ali r.a menuliskan kitab Maulid Barzanji, kitab yang berisikan perjalanan hidup Rasulullah shallallahu alaihi wasallam yang juga termasuk sholawat terpanjang. Kitab Maulid Barzanji dituliskan dalam bahasa Arab yang fushahah dan balaghah yang bermutu tinggi, pengertiannya luas dan dalam serta tidak dapat dipahami hanya dengan makna dzahir atau sudut pandang arti bahasa (lughot) atau istilah bahasa (terminologi) saja. Untuk memahaminya diperlukan ilmu-ilmu yang bersangkutan dengan bahasa arab itu seumpama nahwu, sharaf, balaghah (ma’ani, bayan dan badi’).dan lain lain

Datuk-datuk Sayyid Ja’far semuanya ulama terkemuka yang terkenal dengan ilmu dan amalnya, keutamaan dan keshalihannya.

Beliau mempunyai sifat dan akhlak yang terpuji, jiwa yang bersih, sangat pemaaf dan pengampun, zuhud, amat berpegang dengan Al-Quran dan Sunnah, wara’, banyak berzikir, sentiasa bertafakkur, mendahului dalam membuat kebajikan bersedekah,dan pemurah.

Semasa kecilnya beliau telah belajar Al-Quran dari Syaikh Ismail Al-Yamani, dan belajar tajwid serta membaiki bacaan dengan Syaikh Yusuf As-So’idi dan Syaikh Syamsuddin Al-Misri.

Antara guru-guru beliau dalam ilmu agama dan syariat adalah : Sayid Abdul Karim Haidar Al-Barzanji, Syeikh Yusuf Al-Kurdi, Sayid Athiyatullah Al-Hindi.

Sayid Ja’far Al-Barzanji telah menguasai banyak cabang ilmu, antaranya: Shoraf, Nahwu, Manthiq, Ma’ani, Bayan, Adab, Fiqh, Usulul Fiqh, Faraidh, Hisab, Usuluddin, Hadits, Usul Hadits, Tafsir, Hikmah, Handasah, A’rudh, Kalam, Lughah, Sirah, Qiraat, Suluk, Tasawuf, Kutub Ahkam, Rijal, Mustholah.

Manakah yang lebih mungkin keliru mereka yang berpendapat bahwa Maulid Nabi termasuk bid’ah dholalah dan pelakunya akan bertempat di neraka atau Sayyid Ja’far Al-Barzanji, seorang mufti di Madinah, mufti zaman dahulu yang lebih terjaga kemutawatiran sanad serta kemurnian agama dan aqidahnya.

Ironis, mereka membolehkan merayakan dan berbahagia dalam rangka khitan namun tidak membolehkan merayakan dan berbahagia atas kelahiran Sayyidina Muhammad Shallallahu alaihi wasallam. Berikut kutipan fatwa mereka.

***** awal kutipan *****
Dalam fatwa al-Lajnah ad-Daimah nomor 2392 pertanyaan pertama, “Apa hukum menari, merayakan dan berbahagia dalam rangka khitan?”

Jawab, Adapun menari dan merayakan maka kami tidak mengetahui dasarnya dalam syariat yang suci, adapun berbahagia dengan khitan maka ia disyariatkan karena khitan termasuk perkara-perkara yang disyariatkan, Allah Ta’ala telah berfirman, “Katakanlah, ‘Dengan karunia Allah dan rahmatNya, hendaknya dengan itu mereka bergembira.” (Yunus: 58). Khitan termasuk karunia dan rahmat Allah, dan tidak mengapa membuat makanan dalam rangka ini sebagai ungkapan syukur kepada Allah atas hal itu.

Sumber: http://www.alsofwah.or.id/cetakfiqih.php?id=99

***** akhir kutipan *****

Mereka membolehkan menyelenggarakan peringatan Muhammad bin Abdul Wahhab selama sepekan dengan nama acara “Pekan Memorial Muhammad bin Abdul Wahhab” daripada memperingati Sayyidina Muhammad bin Abdullah. Mereka beralasan bahwa pekan memorial Muhammad bin Abdul Wahhab sebagai rasa bersyukur atas nikmat yang Allah berikan kepada kaum muslimin melalui tangan Muhammad bin Abdul Wahhab. Sumber: http://sunnah-hasanah.blogspot.com/2012/04/perayaan-maulid-muhammad-bin-abdul.html dan http://kangaswad.wordpress.com/2011/02/28/antara-pekan-muhammad-bin-abdul-wahhab-dan-maulid-nabi/

Terlihat jelas mereka lebih mengidolakan Muhammad bin Abdul Wahhab sedangkan kaum muslim tentu lebih bersyukur atas nikmat yang Allah Azza wa Jalla berikan melalui tangan Sayyidina Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam bin Abdullah.

Oleh karenanya,  berhati-hatilah dalam memilih dan mengikuti hasil pemahaman (ijtihad) seorang ulama. Apalagi jika hasil pemahaman (ijtihad) ulama tersebut sering dikritik atau dibantah oleh banyak ulama lainnya.

Apalagi mengikuti pendapat seorang ulama yang sudah dinyatakan oleh ulama yang sholeh keturunan cucu Rasulullah shallallahu alaihi wasallam sebagai ulama yang dapat menyesatkan kaum muslim sebagaimana yang terurai dalam tulisan pada http://majelisrasulullah.org/index.php?option=com_simpleboard&Itemid=34&func=view&id=22475&catid=9

Jangan menimbulkan penyesalan di akhirat kelak karena salah mengikuti ulama.

Firman Allah ta’ala yang artinya,

(Yaitu) ketika orang-orang yang diikuti itu berlepas diri dari orang-orang yang mengikutinya, dan mereka melihat siksa; dan (ketika) segala hubungan antara mereka terputus sama sekali.” (QS al Baqarah [2]: 166)

Dan berkatalah orang-orang yang mengikuti: “Seandainya kami dapat kembali (ke dunia), pasti kami akan berlepas diri dari mereka, sebagaimana mereka berlepas diri dari kami.” Demikianlah Allah memperlihatkan kepada mereka amal perbuatannya menjadi sesalan bagi mereka; dan sekali-kali mereka tidak akan keluar dari api neraka.” (QS Al Baqarah [2]: 167)

 

Wassalam

 

 

Zon di Jonggol, Kab Bogor 16830

Iklan

Read Full Post »

Older Posts »