Feeds:
Pos
Komentar

Posts Tagged ‘kasus Ahok’


Perbedaan kasus Ahok dengan kasus Sukmawati

Salah satu perbedaan antara kasus Ahok dengan kasus Sukmawati adalah puteri Proklamator Bung Karno, Sukmawati Soekarno Puteri meminta maaf dan mengakui kesalahannya sedangkan mantan Gubernur DKI, Basuki Tjahaja Purnama atau yang lebih dikenal Ahok meminta maaf namun tidak secara langsung mengakui kesalahannya. Bahkan para pendukung Ahok “mati-matian” mencari alasan bahkan berdalilkan Al Qur’an dan Hadits untuk membenarkan kesalahannya.

Salah satu hal yang memberatkan, menurut hakim adalah terdakwa tidak merasa bersalah sebagaimana yang diberitakan pada http://aceh.tribunnews.com/2017/05/09/tidak-merasa-bersalah-jadi-hal-yang-memberatkan-vonis-ahok

Bukan hanya merasa tak bersalah tapi yang bersangkutan pada waktu yang lalu juga bilang dalam wawancara dengan Al Jazeera bahwa tidak menyesal dan bersedia mengulangi perbutannya lagi di kepulauan seribu sebagaimana yang diberitakan pada http://suaranasional.com/2017/01/31/dalam-wawancara-al-jazeera-ahok-tak-menyesal-dan-akan-ulangi-lagi-terkait-al-maidah-51/

Majelis hakim menyatakan, meski kejadian ini berdekatan dengan momen Pilkada DKI Jakarta, kasus penodaan agama oleh Ahok ini tidak terkait dengan pilkada itu. Namun, hakim menegaskan, kasus ini adalah murni tindak pidana berupa penodaan agama.

“Ini bukan terkait pilkada, tetapi murni perkara pidana tentang penodaan agama,” kata hakim ketua membacakan pertimbangan hukum dalam putusan Ahok pada sidang di Auditorium Kementerian, Jalan Harsono Harsono RM, Jakarta Selatan, Selasa (9/5). sebagaimana yang diberitakan pada http://nasional.republika.co.id/berita/nasional/hukum/17/05/09

Ada dua hal yang kontroversial dari syair puisi yang dikumandangkan oleh Sukmawati yakni

1.Sari konde dengan cadar.

Jika yang dimaksud cadar adalah purdah atau kain penutup muka (wajah) perempuan dalam bahasa Arab disebut juga dengan niqab maka ini tidak termasuk syariat Islam namun budaya atau kebiasaan dan hukumnya mubah (boleh).

Salah satu alasan bahwa cadar bukanlah sebuah kewajiban adalah karena adanya keperluan yang menuntut seorang wanita untuk menampakkan wajah untuk identifikasi, dalam jual beli, dan menampakkan telapak tangan ketika memberi dan menerima sesuatu berdalilkan tidak dijadikan wajah dan telapak tangan sebagai aurat.

Rasulullah tidak pernah bersabda yang dapat diterjemahkan dan dipahami sebagai kewajiban menggunakan cadar.

Para fuqaha (ahli fiqih) mengingatkan bahwa perkara yang disyariatkan dan merupakan suatu kewajiban yang jika ditinggalkan berdosa maupun perkara larangan yang jika dikerjakan berdosa haruslah berdasarkan dalil yang qath’i (jelas dan mudah dipahami)

Oleh karenanya para fuqaha (ahli fiqih) mengatakan bahwa perkara apapun yang tidak ada dalil yang menjelaskan kewajiban atau keharaman sesuatu secara jelas, maka perkara tersebut merupakan amrun mubah atau hukum asalnya adalah mubah (boleh) sebagaimana yang telah disampaikan pada https://mutiarazuhud.wordpress.com/2015/05/15/amrun-mubah/

Justru akan terjerumus BID’AH dalam URUSAN AGAMA jika menganggap baik sesuatu sehingga mewajibkan yang tidak diwajibkan oleh Allah Ta’ala dan Rasulullah sebagaimana yang telah disampaikan pada https://mutiarazuhud.wordpress.com/2018/01/12/belum-paham-taklifi/ atau sebaliknya menganggap buruk sesuatu sehingga melarang (mengharamkan) yang tidak dilarang (diharamkan) oleh Allah Ta’ala dan Rasulullah sebagaimana yang telah disampaikan pada https://mutiarazuhud.wordpress.com/2018/04/04/contoh-bidah-urusan-agama/

Ada kewajiban di balik tabir namun berlaku khusus bagi istri Nabi.

Begitupula di sisi lain Rasulullah shallallahu alaihi wasallam melarang wanita ketika ihram memakai cadar dan sarung tangan.

Seandainya wajah dan telapak tangan merupakan aurat, Rasulullah tentu tidak akan melarang untuk menutupinya.

Berikut contoh riwayat bagaimana Istri Nabi ketika melaksanakan thawaf, mentaati kewajiban di balik tabir dan larangan cadar dan sarung tangan ketika ihram.

Dan berkata, kepadaku ‘Amru bin ‘Ali telah menceritakan kepada kami Abu ‘Ashim berkata, Ibnu Juraij telah mengabarkan kepada kami berkata,

“Aku berkata: Bagaimana mereka berbaur dengan kaum lelaki?. Ia menjawab: Mereka tidak berbaur dengan kaum lelaki, dan ‘Aisyah radliallahu ‘anha thawaf dengan menyendiri dan tidak berbaur dengan kaum lelaki.

Lalu ada seorang wanita berkata, kepadanya: Beranjaklah wahai Ummul Mukminin, mari kita mencium hajar aswad. ‘Aisyah radliallahu ‘anha menjawab: Engkau saja yang pergi. Sedangkan ia enggan untuk pergi.

Dahulu kaum wanita keluar pada malam hari tanpa diketahui keberadaannya, lalu mereka thawaf bersama kaum lelaki. Namun mereka jika memasuki masjid, mereka berdiri hingga mereka masuk saat para lelaki telah keluar.

Dan aku bersama ‘Ubaid bin ‘Umair pernah menemui ‘Aisyah radliallahu ‘anha yang sedang berada disisi gunung Tsabir. Aku bertanya: Hijabnya apa? Ia menjawab: Ia berada di dalam tenda kecil buatan Turki. Tenda itu memiliki penutup yang tipis dan tidak ada pembatas antara kami dan Beliau selain tenda itu, dan aku melihat Beliau mengenakan gamis bermotif mawar. (HR Bukhari 1513)

Cara ini akan sulit dilakukan bagi wanita muslim secara umum karena pada masa kini begitu banyaknya jumlah jama’ah haji dan umrah sebagaimana yang telah disampaikan pada https://mutiarazuhud.wordpress.com/2018/03/16/cadar-sulit-diwajibkan/

Tentu Allah Ta’ala tidak mewajibkan sesuatu yang akan sangat sulit dilaksanakan oleh hambaNya.

2.Kidung ibu lebih merdu dari suara adzan

Kalau kita mau belajar dan mengikuti kebijakan Rasulullah terhadap orang-orang yang melakukan pelecehan terhadap suara adzan maka “hukuman” bagi Sukmawati yang berdasarkan konfirmasi dari menteri Agama bahwa Sukmawati beragama Islam adalah keharusan untuk mengikuti “kelas khusus” untuk mengenal syariat Islam dan belajar membaca Al Qur’an jika beliau belum dapat membaca Al Qur’an serta jika memang sangat diperlukan melakukan “bakti” atau pelayanan di yayasan yatim piatu dan duafa.

Berikut contoh kutipan informasi tentang contoh kebijakan Rasulullah terhadap orang-orang yang melakukan pelecehan terhadap suara adzan yang bersumber dari http://www.facebook.com/groups/warposan/permalink/1736290309742547/

***** awal kutipan *****
Apa yang dilakukan Sukmawati ternyata juga pernah terjadi di masa Rasulullah shallallahu alaihi wasallam.

Saat itu ada seorang pemuda Quraisy yang melakukan pelecehan terhadap suara adzan yang dikumandangkan mu’adzin atau juru adzan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam dengan meniru-meniru suara adzan itu.

Diluar dugaan ternyata Rasulullah memaafkan orang tersebut bahkan membimbingnya dan mengajarinya adzan hingga akhirnya menyatakan beriman bahkan menjadi mu’adzin di Masjidil Haram hingga akhir hayatnya.

Dikisahkan di dalam kitab Al Isti’ab bahwa ada seorang laki-laki bernama Abu Mahdzuroh. Suatu ketika dia keluar bersama kurang lebih 10 orang sahabat-sahabatnya lalu di tengah jalan berpapasan dengan pasukan Baginda Rasulullah shallallahu alaihi wasallam yang baru saja pulang dari Hunain.

Kemudian salah seorang mu-‘adzin Rasulullah shallallahu alaihi wasallam mengumandangkan adzan sholat sebagai tanda masuknya waktu sholat.

Abu Mahdzuroh dan kawan-kawannya yang mendengar suara itu lalu meniru dengan tujuan mengejek dan melecehkan adzan tersebut.

Mendengar suara ejekan tersebut Rasulullah langsung mengutus pasukannya agar menjumpai sekawanan orang tersebut yang diantara mereka terdapat Abu Mahdzuroh. Maka dipanggillah sekelompok orang itu ke hadapan Baginda Nabi shallallahu alaihi wasallam.

Di hadapan Baginda Nabi, dengan rasa takut hingga gemetar tubuhnya, di luar dugaan, Rasulullah shallallahu alaihi wasallam justru memyambutnya dengan penuh keramah-tamahan.

فقال ايكم الذى سمعت صوته قد ارتفع

Dengen lembut Nabi bertanya “Siapa diantara kalian yang tadi terdengar suaranya begitu keras?”.

فاشار القوم كلهم اليه وصدقوا

Kemudian kawan-kawannya menunjuk kepada Abu Mahdzuroh, seolah mereka sepakat bahwa yang meniru dan mengejek suara adzan tadi adalah Abu Mahdzurah.

Padahal banyak diantara mereka yang juga ikut-ikutan. Namun Abu Mahdzuroh menjadi korban atas apa yang mereka lakukan.

Selanjutnya, Nabi mengutus pasukan untuk menangkap dan menawan orang-orang tersebut terutama Abu Mahdzurah.

ثم قال قم فاذن بالصلاة

Kemudian Nabi bersabda kepada Abu Mahdzuroh “Berdirilah, kumandangkan adzan untuk melaksanakan sholat!”.

فقمت، ولا شيء أكره إليَّ من رسول الله صلى الله عليه وسلم

Kemudian Abu Mahdzuroh berdiri mengikuti perintah Nabi dan saat itulah tiba-tiba hilang rasa benci kepada Nabi shallallahu alaihi wasallam.

Yang tadinya membenci Nabi, memusuhi kaum muslimin bahkan melecehkan adzan tapi begitu dipanggil oleh Nabi, diminta mendekat dan diperintah untuk mengumandangkan adzan, tiba-tiba lenyaplah rasa kebenciannya kepada baginda Nabi shallallahu alaihi wasallam.

ولا مما يأمرني به

Dan juga tidak merasa benci kepada apa yang diperintah.

Abu Mahdzuroh tak membenci saat ditangkap dan diminta mendekat hingga ia berdiri dan diperintah untuk mengumandangkan adzan. Karena baginya perintah itu merupakan perintah yang harus dita’ati. Sehingga ia melaksanakan perintah tersebut dengan sepenuh hati.

فقمت بين يديه، فألقى علي رسول الله – صلى الله عليه وسلم – التأذين هو بنفسه

Kemudian aku berdiri di depan Nabi. Kepadaku Nabi mengajarkan cara mengumandangkan adzan.

Beliau sendiri yang mengajarkan secara langsung.

فقال: قل: الله أكبر الله أكبر

Nabi bersabda “ucapkanlah Allohu Akbar, Allohu Akbar.

Maka kemudian Abu Mahdzurah mengikutinya dengan penuh ketaatan.

فذكر الأذان

Hingga Nabi menyelesaikan pelajaran adzan dan diikuti oleh Abu Mahdzurah dengan penuh ketenangan, keimanan dan penuh keridhoan tanpa paksaan.

ثم دعاني حين قضيت التأذين فأعطاني صرة فيها شيء من فضة

Kemudian Nabi memanggilku ketika selesai membacakan adzan. Lalu Nabi memberikan hadiah sejenis perhiasan dari perak.

ثم وضع يده على ناصيتي، ثم من بين ثديي

Kemudian Nabi meletakkan tanganya yang harum semerbak bunga mawar di atas ubun-ubunku kemudian mengusap dadaku.

ثم على كبدي، حتى بلغت يد رسول الله – صلى الله عليه وسلم – سرتي

Kemudian di bagian dadaku, hingga tangan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam mengusap sampai bagian perutku.

ثم قال رسول الله صلى الله عليه وسلم “بارك الله فيك، وبارك الله عليك

Kemudian Rasulullah shallallahu alaihi wasallam berdoa, Allah memberkahimu dan memberkahi atasmu.

فقلت: يا رسول الله مرني بالتأذين بمكة، قال “قد أمرتك به”

Aku menjawab “Ya Rasulullah perintahkan untukku menjadi juru adzan di kota Mekah”.

Inilah peristiwa yang sungguh luar biasa. Seorang Abu Mahdzuroh yang semula membenci Nabi, Syari’at Islam bahkan membenci adzan. Tapi dengan kelembutan baginda Nabi, ketulusannya, usapan lembut tangannya dan dengan do’a barokah Beliau, Abu Mahdzuroh justru beriman bahkan menjadi juru adzan di kota Mekah atas perintah Nabi di bawah kepemimpinan Gubernur Attab bin Asid sebagai wakil Rasulullah di kota suci Mekkah saat itu.

Konon, Abu Mahdzuroh {Madzkurah} adalah orang pertama yang mengumandakan adzan setelah Rasulullah meninggalkan Mekah menuju Madinah.

Ia terus menjadi mu-‘adzin di Masjid al-Haram hingga akhir hayatnya. Kemudian dilanjutkan oleh keturunan-keturunannya hingga waktu yang lama. Ada yang mengatakan hingga masa Imam asy-Syafi’i.

Dikisahkan pula, Abu Mahdzuroh setelah dibelai rambutnya oleh Baginda Nabi Muhammad shallallahu alaihi wasallam, ia tidak pernah mencukur rambutnya seraya berkata : “Demi Alloh saya tidak akan pernah mencukur rambut saya ini sampai akhir hayat”.
***** awal kutipan *****

Wassalam

Zon di Jonggol, Kabupaten Bogor 16830

Iklan

Read Full Post »

Older Posts »