Feeds:
Pos
Komentar

Posts Tagged ‘meletakkan tangan’


Imam Ahmad memakruhkan meletakkan tangan di atas dada karena Rasulullah melarang Al-Takfir

Riwayat seperti,

كَانَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ وَسَلَّمَ يَضَعُ يَدَهُ الْيُمْنَى عَلَى يَدِهِ الْيُسْرَى ثُمَّ يَشُدُّ بَيْنَهُمَا عَلَى صَدْرِهِ وَهُوَ فِي الصَّلاَةِ

Dari Sulaiman bin Musa, dari Thawus berkata, Rasulullah shollallaahu ‘alaihi wa sallam meletakkan tangan yang kanan di atas tangan kirinya kemudian mengencangkannya di atas dadanya dan beliau dalam keadaan Sholat”

Para ulama menjelaskan bahwa hadits ini tidak dapat dijadikan dalil, karena tergolong hadits dha’if, sebab ada perawi yang tidak mencukupi syarat sebagai perawi tsiqah, yaitu Sulaiman bin Musa.

Kata al-Bukhari, Sulaiman bin Musa tersebut banyak meriwayatkan hadits munkar.
Kata an-Nasa’i, dia salah seorang ahli fiqh tetapi tidak kuat dalam periwayatan

Selain itu hadits tersebut termasuk hadits mursal karena Thawus adalah seorang Tabi’in

Sedang riwayat seperti, dari Wail bin Hujr

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَضَعُ يَدَهُ الْيُمْنَى عَلَى يَدِهِ الْيُسْرَى ثُمَّ يَشُدُّ بَيْنَهُمَا عَلَى صَدْرِهِ وَهُوَ فِي الصَّلَاةِ

“Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam meletakkan tangan kanannya di atas tangan kirinya kemudian mengencangkan keduanya di atas dadanya ketika beliau shalat” (HR,. Abu Daud 759, Al Baihaqi 4/38, Ath Thabrani dalam Mu’jam Al Kabir 3322)

Para ulama menjelaskan bahwa hadits diperselisihkan karena kelemahannya pada perawi Mu’ammal bin Isma’il.

Adz Dzahabi menjelaskan: “Abu Hatim berkata: ‘Ia shaduq, tegar dalam sunnah, namun sering salah’. Sebagian ulama mengatakan bahwa kitab-kitabnya dikubur, lalu ia menyampaikan hadits dengan hafalannya sehingga sering salah”.

Ibnu Hajar juga mengatakan: “Shaduq, buruk hafalannya”. Sehingga yang tepat ia berstatus shaduq, wallahu’alam.

Dengan statusnya yang shaduq, ia tafarrud dalam meriwayatkan hadits ini.

Jadi kesimpulannya riwayat tersebut adalah syadz.

Periwayatan Mu’ammal dari Sufyan Ats Tsauri bermasalah. Periwayatan Mu’ammal menyelisihi para perawi lain yang tsiqah, contohnya riwayat dari Sufyan Ats Tsauri dengan TANPA tambahan lafadz عَلَى صَدْرِهِ (di atas dadanya).

Oleh karenanya jika hadits tersebut tetap ingin diterima maka para ulama menjelaskan bahwa lafadz عَلَى صَدْرِهِ yang artinya secara dzahir “di atas dada” maknanya adalah bagian akhir dari dada (antara dada dan pusar) karena para ulama justru ada yang berpendapat bahwa meletakkan tangan di atas dada hukumnya makruh seperti,

Imam Ibnu Muflih al-Hanbali (w. 763 H) menyebutkan:

ويكره وضعهما على صدره نص عليه مع أنه رواه أحمد

Makruh meletakkan kedua tangan di atas dada, ini adalah nash dari Imam Ahmad padahal beliau meriwayatkan hadits itu. (Muhammad bin Muflih al-Hanbali w. 763 H, al-Furu’, h. 2/ 169)

Al-Buhuti al-Hanbali (w. 1051 H):

ويكره) جعل يديه (على صدره) نص عليه، مع أنه رواه

Makruh meletakkan tangan diatas dada, sebagaimana nash dari Imam Ahmad bin Hanbal, padahal beliau meriwayatkan haditsnya. (Manshur bin Yunus al-Buhuti al-Hanbali (w. 1051 H), Kassyaf al-Qina’, h. 1/ 334).

Imam Abu Daud dalam persoalan yang ditanyakan kepada Imam Ahmad bin Hanbal

قلتُ لأحمد وضع اليمين على الشمال في الصلاة تختاره ؟ (أتذهب إليه؟) ..؟؟. قال : نعم وسمعته سُئِلَ عن وضعه ، فقال : فوق السرة قليلاً وإن كان تحت السرة فلا بأس ، وسمعته يقول : يكره أن يكون يعني اليدين عند الصدر

Suatu ketika saya mendengar (Imam Ahmad bin Hanbal) ditanya di manakah tangan diletakkan saat shalat? Beliau menjawab: Di atas pusar sedikit. Kalaupun di bawahnya maka tidak apa-apa. Dan aku mendengar dia juga berkata, “Dibenci (makruh) jika kedua tangan di dada” (Masaail Abu Daud lil-Imam Ahmad bin Hanbal, hal. 47-48)

Bahkan salah satu ulama panutan bagi pengikut paham Wahabisme seperti Ibnu Qayyim al-Jauziyyah (w. 751 H) murid dari Ibnu Taimiyyah juga berkata ,

ه أن يجعلهما على الصدر، وذلك لما روى عن النبي صلى الله عليه وسلم أنه نهي عن التكفير وهو وضع اليد على الصدر

Makruh meletakkan kedua tangan diatas dada, karena telah ada riwayat dari Nabi yang menyebutkan bahwa beliau mencegah “Al-Takfir”; yaitu meletakkan tangan diatas dada. ( Ibnu Qayyim al-Jauziyyah, Bada’i al-Fawaid, h. 3/ 91)

قال أبو عبيد: التكفير: أن يضع الرجل يديه على صدره

Abu ‘Ubaid berkata, “Al-Takfir” adalah (perbuatan) seseorang itu (ketika sholat) meletakkan kedua tangannya di atas dadanya” (Tahzib Al-Lughah)

Para ulama menjelaskan bahwa Imam Ahmad memakruhkan “Al-Takfir” yakni “meletakkan kedua tangan di atas dada ketika sholat karena termasuk bertasyabbuh dengan kaum Yahudi.

Diriwayatkan oleh Al-Muqhlatayy dalam kitabnya Al-‘Ilam bin Sunnatihi ‘Alaih Al-Salam yang merupakan syarah kepada Sunan Ibn Majah, bahwa Imam Ahmad melarang keras mereka yang bersedekap di atas dada sehingga beliau berhujah dengan sebuah atsar shahih yang menceritakan bahwa Sa’id bin Jubair – yang merupakan seorang Tabi’in yang “Tsiqah tsabit” lagi “Faqih” – sangat tidak menyukai mereka yang melakukan ‘Al-Takfir’ dalam sholat, yaitu bersedekap di atas dada, sehingga beliau akan memukul tangan-tangan mereka yang bersholat dengan bersedekap di dada. (Al-‘Ilam bin Sunnatihi ‘Alaih Al-Salam – Syarah Sunan Ibn Majah – , Al-Muqhlatayy, 5/131)

Salah satu ulama panutan mereka yang ngeyel atau keukeuh (bersikukuh) memaknai lafaz عَلَى صَدْرِهِ dalam makna dzahir “di atas dada” bukan “bagian akhir dari dada” adalah ahli (membaca) hadits mereka, Al Albani.

Padahal di sisi lain, dalam “shahih an Nasa-i” , ahli (membaca) hadits mereka, Albani juga menshahihkan riwayat,

Dari Wa’il bin Hujr radhiallahu’anhu:

رأيتُ رسولَ اللَّهِ إذا كانَ قائمًا في الصَّلاةِ قبضَ بيمينِهِ على شمالِهِ

“Aku melihat Nabi shallallahu’alaihi wasallam berdiri dalam shalat beliau melingkari (lengan) tangan kirinya dengan tangan kanannya” (HR. An Nasa-i 886, Al Baihaqi 2/28)

Dari Sahl bin Sa’ad radhiallahu’anhu:

كان الناسُ يؤمَرون أن يضَع الرجلُ اليدَ اليُمنى على ذِراعِه اليُسرى في الصلاةِ

“Dahulu orang-orang diperintahkan untuk meletakkan tangan kanan di atas lengan kirinya ketika shalat” (HR. Al Bukhari 740)

Jadi kalau ahli (membaca) hadits mereka, Albani konsisten maka “di atas dada” BUKANLAH dengan sekedar meletakkan telapak tangan kanan di atas punggung tangan kiri namun “melingkari (lengan) tangan kirinya dengan tangan kanannya”

Para ulama ulama ada juga yang berpendapat bahwa dengan melingkari lengan tangan kiri dengan tangan kanannya dalam arti condong ke kiri dan di bawah dada masudnya adalah posisi hati

Contohnya dalam i’anatuththolibin juz 1 halaman 135:

ﻗﻮﻟﻪ ﺗﺤﺖ ﺻﺪﺭﻩ ﻭﻓﻮﻕ ﺍﻟﺴﺮﺗﻪ : ﺍﻯ مائلا ﺍﻟﻰ ﺟﻬﺔ ﻳﺴﺎﺭﻩ ﻻﻥ ﺍﻟﻘﻠﺐ ﻓﻴﻬﺎ، ﻭﺍﻟﺤﻜﻤﺔ ﻓﻰ ﻭﺿﻌﻬﻤﺎ ﻛﺬﺍﻟﻚ ﺍﻥ ﻳﻜﻮﻧﺎ ﻋﻠﻰ ﺍﺷﺮﻑ ﺍﻷﻋﻀﺎﺀ ﻭﻫﻮ ﺍﻟﻘﻠﺐ

(Maksud dari di bawah dadanya dan di atas pusarnya): “Artinya condong ke arah kirinya, karena hati berada padanya, dan rahasia hikmah tentang meletakkan keduanya seperti itu, bahwa keduanya di atas semulia-mulianya anggota, yaitu hati”

Imam Abu Isa at-Tirmidzi (w. 279 H) menjelaskan:

ورأى بعضهم أن يضعهما فوق السرة، ورأى بعضهم: أن يضعهما تحت السرة، وكل ذلك واسع عندهم

Imam at-Tirmidzi (w. 279 H) berkomentar: Ada sebagian ulama yang meletakkan di atas pusar, sebagian lain lagi di bawah pusar. Ini adalah masalah yang luas di antara mereka. (Muhammad bin Isa at-Tirmidzi w. 279 H, Sunan at-Tirmidzi, h. 2/ 32)

Wassalam

Zon di Jonggol, Kabupaten Bogor 16830

Read Full Post »