Feeds:
Pos
Komentar

Posts Tagged ‘mendukung PRabowo’

menyaksikan berita

Saya menyaksikan keduanya bukan membaca berita

“Saya menyaksikan keduanya bukan membaca berita” itulah yang dikatakan oleh Nanik S Deyang seorang jurnalis atau wartawati sebagai modal pertimbangannya dalam memilih calon Presiden dari pilihan yang tersedia pada pilpres kali ini

Nama Nanik S. Deyang naik daun di jejaring sosial pada masa pilpres 2014 karena dia dikenal sebagai sosok yang semula mengusung Jokowi menjadi gubernur DKI namun dalam pilpres pada akhirnya menjadi pendukung Prabowo.

Contoh berita yang mengutip tulisan Nanik S Deyang pada http://beritahukum.com/detail_berita.php?judul=Wartawati%20Senior%20Bongkar%20Kebohongan%20dan%20%27Rakus%20Jabatan%27%20Jokowi#.U7ot4UDy-Ju

***** awal kutipan *****
Wartawati Senior Bongkar Kebohongan dan ‘Rakus Jabatan’ Jokowi

Sunday 01 Jun 2014 07:23:07

JAKARTA, Berita HUKUM – Calon Presiden (Capres) Joko Widodo atau Jokowi mempunyai ambisi dan sifat rakus akan kekuasaan. Setelah satu bulan dilantik jadi Gubernur DKI Jakarta, Jokowi sudah punya ambisi penjadi Presiden Indonesia.

“Sejak Desember 2012 atau hanya satu bulan setelah dilantik jadi Gubernur DKI, otaknya sudah nafsu mau jadi Presiden,” tulis wartawati senior Nanik S Deyang di akun Facebook-nya.

Nanik yang kenal dekat dengan Jokowi mengatakan, untuk mewujudkan ambisinya itu, mantan Wali Kota Solo ini merancang proyek monumental yang nantinya dikenang masyarakat, padahal ia tahu kerjaannya itu ala kadarnya.

“Monorel dipaksakan supaya dalam setahun pemerintahan proyek itu ada dan lihatlah sekarang mangkrak karena ketidakmampuan investor yang ditunjuk. Lihat itu proyek Market Night, beritanya sampai mana-mana sampai ada satu media besar yang mengulas satu halaman apa hasilnya hanya berlangsung beberapa malam saja,” ungkap Nanik.

Nanik melanjutkan, proyek MRT rencana menghabiskan anggaran puluhan triliun rupiah yang dibiayai dengan hutang tersebut akan sama dengan Monorel, mangkrak. Karena dia tahu dari awal bahwa proyek MRT itu tidak layak dibangun, tapi sekali lagi Jokowi mengejar proyek ini agar dalam setahun pemerintahan dia terlihat punya prestasi.

“Mau dengar apa yang dia katakan soal MRT oleh Jokowi, “sudahlah yang penting saya dukir-dukir tanahnya, yang penting kelihatan pembangunannya dimulai” (pembicaraan ada saksinya, jadi bukan fitnah, dan saksinya ada di wall saya),” paparnya.

Kata Nanik, masih soal ambisi pada Maret 2013, Jokowi sudah menunjukkan ke dirinya, satu hasil survei yang dibawanya ke ruangannya. “Dan seminggu berikutnya sudah tiga hasil survei di antar stafnya ke kantor saya. Dia mengatakan, “Mbak gila ini, popularitas saya sudah melebihi SBY. SBY hanya sekitar 64 persen saya sudah 80 persen,” jelas Nanik, seperti yang diilansir petikan.com.

Menurut Nanik, salah satu hasil survei internal yang disewa Jokowi bahkan dirinya pernah menyerahkan hasilnya ke Dahlan Iskan. “Jadi kalau menganggap apa yang saya omongkan ini fitnah, silahkan tanya sama Dahlan Iskan, dia pernah gak saya kasih hasil surveinya Jokowi, pada tahun lalu. Seminggu lalu saya tanya ke Dahlan, dia janjikan mau cari,” paparnya.

Lanjut Nanik, waktu Jokowi tidak mikir saat ditanya soal capres, dia sudah menyiapkan semua. “Bahkan waktu Lebaran hari kedua, dia telpun saya, bahwa saat malam Lebaran sudah ditegur Bu Mega karena ketahuan diam-diam sudah membentuk tim Sukses. Nah, betulkah saya ditelpon Jokowi, kalau Anda mengenal Jokowi, ada ajudannya namanya Ivan, dialah yg menyambungkan ke saya,” papar Nanik.

Sementara, pada update media sosial facebook Nanik S Deyang pada Jumat (30/5) mengatakan, MARI KITA SEMUA BERFIKIR CERDAS. Jokowi menjamin akan menyelesaikan Lapindo . Dari mana duitnya? Dari APBN ! Kalau begitu apa hebatnya dia dari SBY atau dari Ical sebagai pemilik proyek.

Selama ini duit ganti rugi berasal dari Ical (sudah Rp 9 Triliun) dan dari APBN. Dari APBN dikeluarkan secara bertahap kalau tidak salah sudah 8 Triliun, tapi totalnya nanti akan 22 T , dan ini sudah keputusan yg disahkan DPR.

Pertanyaannya, dimana letak kehebatan Jokowi terhadap kasus lumpur Lapindo? Apakah dengan mengatakan akan mempercepat itu dia menjadi hebat? Bukankah itu memang sudah menjadi jadwal pemerintahan SBY?

Marilah kita berfikir cerdas dan realistis, tidak ada istimewa dari apa yg diucapkan Jokowi , kecuali sebagai hiburan sesaat untuk raktyat korban Lapindo.
***** akhir kutipan *****

Namun disayangkan akun Facebook milik pribadi Nanik S Deyang yang biasa dipergunakan untuk menuliskan apa yang disaksikannya telah di-hack oleh orang yang tidak menyukai tulisan-tulisannya nya sehingga Nanik S Deyang membuat fan page pada http://www.facebook.com/prokebangkitan

Sosok lain yang semula mendukung Jokowi menjadi gubernur DKI namun pada akhirnya untuk pilihan capres mendukung Prabowo adalah Cameo Project.

Cameo Project mengerjakan fun campaign untuk pasangan Jokowi-Ahok saat Pilkada DKI Jakarta 2012 lalu dan pada akhirnya mengeluarkan video kampanye terakhirnya yang diunggah pada http://www.youtube.com/watch?v=eXs4Kdg9C4M Video ke lima ini diberi judul ‘CAMEO Fun Campaign – Ketika Harus Memilih, Prabowo atau Jokowi?’

Akibatnya Cameo Project mendapatkan hujatan dari pendukung Jokowi sebagaimana yang diberitakan pada http://www.rmol.co/read/2014/07/06/162552/Cameo-Project-Kerap-Dihujat-Pendukung-Jokowi

***** awal kutipan *****
“Banyak konsekuensi, hujatan dan dianggap penghianat,” ujar Martin saat ditemui dalam acara bertajuk “Kenapa Prabowo” yang digelar di FX PLaza, Senayan, Jakarta, Sabtu (5/7).

Bahkan, tak sedikit orang yang mencibir aksi Martin dan teman-temannya. Masyarakat menilai tim Prabowo memberi bayaran lebih mahal kepada Cameo Project ketimbang dari Jokowi. Apakah benar demikian?

“Bayarannya lebih mahal dari Jokowi pasti milih Jokowi katanya, tapi ada yang pikir ini tidak dibayar. Kenapa pikirannya sesempit itu? Kami bikin video itu pakai uang kami sendiri. Sebetulnya tidak perlu dilihat dari materi tetapi effort dan value video ini,” jelas Martin.

“Kami ingin memandang ini sebagai suatu karya seni yang tidak memandang agama dan ras. Ini untuk Indonesia yang lebih baik. Saat kita buat video ini kita dihujat oleh pemilih nomor dua (Jokowi-JK). Bahkan seluruh pemain didalamnya juga dihujat,” tambahnya.

Dari empat video lainnya Martin mengaku mendapat respon dari masyarakat agar Cameo Project kembali mendukung pasangan Jokowi-JK.

Namun, seiring jalan, ternyata pekerja kreatif ini menentukan pilihan pada pasangan Prabowo-Hatta.

“Intinya ekspektasi masyarakat, kita akan mendukung nomor 2, along the way setelah mempertimbangkan dari awal pilih 1 atau 2 akhirnya kita pilih nomor 1 karena cocok visi dan misinya dengan harapan kita. Kita yakin nomor 1 mampu memimpin Indonesia lebih baik,” tutur Martin.

Dia menambahkan, dari lima video yang dibuat, video terakhir ini adalah jawaban atas sikap mereka dalam memilih capres.
***** akhir kutipan *****

Sosok lainnya adalah Prayudi Azwar dan contoh tulisan pada http://www.facebook.com/prayudhi.azwar/posts/10202293613162788

***** awal kutipan *****
~ Memilih di Tengah Kampanye Separatisme ~

Rintik hujan di musim winter, pukul satu siang itu. Usai memarkir mobil, saya melangkah menuju KJRI Perth, menunaikan tugas sebagai warga negara hari ini, mencoblos. Alangkah kagetnya saya, ada beberapa orang bule melakukan kampanye mendukung separatisme Papua di depan gedung KJRI, diawasi dua orang polisi Australia.

Mereka membawa bendera bintang kejora, menuntut referendum dan membawa poster bertulis NO PRABOWO. Mereka memanggil saya dan meminta saya memilih pasangan no. urut 2 dan mengatakan Prabowo adalah kriminal, brutal, penjahat dan orang berbahaya. Jangan dipilih.

Tersentak, dalam hati saya berkata, “Apa urusan kalian mengurus urusan domestik negara saya? Bukankah hanya kampanye sosmed satu-satunya yang dibolehkan saat ini?” Sambil membatin saya melangkah menuju tempat pencoblosan di halaman parkir KJRI. Menunaikan tugas saya, mencoblos. Usai mencoblos dan bercengkrama dengan home staffs KJRI, saya pamit kepada Pak Konjen dan berniat pulang.

Di luar pagar, pihak pendemo memanggil dan memberikan saya brosur-brosur separatisme. Maka saat itu spontan saya bertanya, “Kenapa kalian berkampanye menyuruh kami memilih Jok**i dan melakukan kampanyi hitam terhadap Prabowo? Kalian tahu tidak, 1 minggu sebelum pemilihan, pemerintah Indonesia menetapkan ini sebagai minggu tenang. Kalian mestinya tidak melakukan hal ini, karena ini sangat tidak etis.”

Seorang wanita, berkulit putih, membantah, “kami berhak berkampanye karena kami adalah negara demokratis yang bebas, dan kami tidak terikat sama sekali dengan peraturan Indonesia”, arogan wanita itu menjawab.

Jawab saya, “Okay, berarti kalian warga negara Australia tidak bisa menghargai negara kami. Kalau kalian mau demo, itu bukan urusan saya. Tapi kalau kalian melakukan kampanye hitam terhadap salah satu calon presiden RI yang sah (legitimate), apalagi di minggu tenang, maka itu artinya anda melanggar urusan domestik negara kami.”

“Tapi kami tidak mau negara dipimpin oleh seorang pembunuh dan pelanggar HAM yang jahat”, timpal temannya, masih ngotot. “

“Apa kalian yang lebih tahu tentang pemimpin kami dibandingkan rakyat Indonesia sendiri? Kalian lihat, di Mahkamah Internasional, yang dijatuhi vonis sebagai pelanggar HAM bukan Prabowo tapi mantan Panglima TNI. Dan orangnya juga tidak berada di kubu Prabowo. Justru Prabowo itu jenderal yang sangat memperhatikan kemanusiaan. Dalam operasi pembebasan sandera asing dari UK dan Belanda, yang ditawan di Mapenduma, anda lihat di youtube. Lihat betapa Prabowo sangat peduli dengan keselamatan nyawa setiap manusia. Tidak hanya nyawa sandera, tapi juga nyawa para penyandera. Karena bagi Prabowo, setiap manusia punya ibu dan keluarga yang membutuhkan dan menyayangi mereka, seperti juga kalian”, saya masih mencoba bersabar menjelaskan kepada mereka.

“Tapi hingga kini di Papua tetap terjadi pembunuhan oleh tentara terhadap rakyat Papua. Dan, mereka tetap hidup dalam kemiskinan yang parah”, seolah tak mau kalah, wanita berlogat Australia yang kental itu terus mempertahankan argumentasinya.

“Kalian dengar ya baik-baik. Sekitar tanggal 7 Juni lalu, tentara Indonesia dibunuh saat patroli di Papua oleh pasukan separatisme. Lalu, TNI melakukan penangkapan, dan dalam proses baku tembak menelan korban pimpinan separatisme. Yang terjadi tidak hanya kriminal tapi juga melanggar kedaulatan negara. Apa membunuh tentara yang bertugas bukan aksi pelanggaran Ham?”, gugat saya.

“Dan kenapa kalian orang Australia mengurusi urusan domestik Indonesia, sedang kalian sendiri menyimpan banyak masalah dengan penduduk asli disini, bangsa Aborigin. Bandingkan, di Papua, kami menempatkan saudara-saudara Papua kami sebagai gubernur, anggota parlemen, dan di jabatan-jabatan strategis negara lainnya. Setidaknya, saudara Papua kami selalu ada yang menjadi menteri dalam kabinet yang dibentuk Presiden kami. Apa kalian melakukan hal itu terhadap kaum Aborigin disini?”, agak naik nada bicara saya kali ini.

“Dan, kalian tahu tidak, anggaran daerah Papua sekarang ini sangat besar, bahkan dibandingkan provinsi lainnya. Itu terjadi sejak Papua mendapatkan status otonomi khusus. Kemiskinan adalah tanggung jawab bersama, rakyat dan pemerintah daerah Papua, yang kekuasaannya dipegang orang Papua asli. Dan, kesejahteraan rakyat secara keseluruhan semakin diperhatikan pemerintah RI saat ini. Jadi lebih baik kalian mengurus urusan domestik negeri kalian sendiri!”. tutup saya tegas.

Lalu saya meninggalkan mereka yang terdiam. Dalam hati saya berkata, “untung waktu mencoblos tadi, saya tidak mengikuti apa yang kalian mau. Karena saya ingin NKRI selamanya utuh!”.

Prayudhi Azwar
Perth, 6 Juli 2014
***** akhir kutipan ******

Sebagaimana yang dikabarkan oleh Nanik S Deyang pada http://www.facebook.com/prokebangkitan/posts/1504694329760898 bahwa Prayudhi Azwar dahulu mendukung habis Jokowi-Ahok , dan pada awalnya dia juga tidak mendukung Prabowo

Berikut kutipan selanjutnya

****** awal kutipan *****
Apa yg terjadi pada Pak Prayudhi sama dengan saya, yaitu berangkat dari “sentuhan bathin”….apakah para Jokowers juga akan membully bahwa Pak Prayudhi menulis itu karena dibayar???

Untung Pak Prayudhi bukan wartawan atau pernah menjadi wartawan, jadi gak dapat sebutan wartawan pelacur kayak saya, ketika sy berpindah tidak mendukung Jokowi.
Seolah saat ini siapapun yg berubah dari membela Jokowi ke Prabowo karena dibayar.
Padahal saya tau Pak Prayudhi ini kenal saja gak sama Prabowo, dia bahkan hanya inbox ke saya , untuk titip salam sama pak Prabowo
***** akhir kutipan *****

Dalam status Nanik S Deyang di atas dikabarkan bahwa perubahan dirinya dari mendukung Jokowi menjadi Gubernur DKI Jakarta namun untuk pilihan capres mendukung Prabowo mendapatkan hujatan dan bully-an

Contohnya dituduh sebagai wartawan yang menulis karena dibayar atau bahkan mendapatkan sebutan “wartawan pelacur” yakni menistakan profesinya sebagai wartawan karena memberitakan atau membuat tulisan berdasarkan kepentingan orang yang membayar sebagaimana contohnya pada
https://twitter.com/PartaiSocmed/status/481452467968692225
https://twitter.com/ekosusilo/status/481485065407324160

Nanik S Deyang dalam statusnya pada https://www.facebook.com/prokebangkitan/posts/1506431016253896 mengadukan perlakuan aktivis dunia maya kepada Prabowo

***** awal kutipan *****
Puasa ini memberikan pelajaran kehidupan yg luar biasa hebat pada saya, bagaimaan seorang (pak Prabowo) yg sudah diberi kotoran paling jorok di dunia ini, tapi membalasnya dengan memberi bunga mawar yang wangi. Tidak ada dendam, tidak ada sakit di hatinya pada media.

Empat hari lalu karena gak tahan dengan perasaan saya, saya menangis saat saya bercerita pada Pak PS, bahwa saya dibully habis di dunia maya.
Dengan wajah teduh dan senyum bak seorang ayah dia mengatakan pada saya, “Mbak Nanik orang yg difitnah dan didzolimi itu akan diangkat derajatnya, terima saja ya, jangan sedih. Saya sudah puluhan tahun saja kuat, masak mbak nanik baru seebentar gak kuat, ” katanya menepuk bahu sambil tersenyum.
***** akhir kutipan ******

Contoh tulisan-tulisan lain yang mengkritisi tulisan-tulisan Nanik S Deyang dapat dibaca pada
http://edukasi.kompasiana.com/2014/06/04/murid-harus-lebih-baik-dari-guru-tanggapan-untuk-tulisan-nanik-s-deyang-663078.html
http://politik.kompasiana.com/2014/05/24/bukan-soal-prabowo-atau-jokowi-catatan-untuk-nanik-s-deyang-659672.html

atau tulisan yang senada yang menganggap Nanik S Deyang sebagai wartawan yang melacurkan profesi sehingga patut dipertanyakan integritasnya adalah seperti pada http://politik.kompasiana.com/2014/07/04/mempertanyakan-integritas-wartawan-studi-kasus-tulisan-nanik-s-deyang-bagian-2-666123.html

***** awal kutipan *****
Di sini kita melihat fenomena menarik bahwa seorang wartawan menyajikan berita tergantung dari untuk siapa ia bekerja. Kalau sudah begini berarti wartawan sudah kehilangan idealisme dan integritasnya. Berita-berita yang ditulisnya dipertanyakan kredibilitas.

Di tengah maraknya situs-situs yang hobi menebar rumor dan fitnah, kita membutuhkan kehadiran wartawan-wartawan yang memiliki integritas, yang mampu menyajikan berita yang kredibel, sehingga mampu menjadi referensi masyarakat ketika mereka mencari kebenaran; bukan wartawan-wartawan yang justeru semakin menumbuh-suburkan situs-situs sumber rumor.
***** akhir kutipan *****

Salah satu hal yang dikritisi oleh penulis di atas terhadap Nanik S Deyang adalah adanya kata-kata kasar dalam tulisannya

Dalam mengkritisi seorang penulis maka perlu melihat sisi ke-manusia-annya. Mengapa seorang Nanik S Deyang berubah dari mengusung Jokowi sebagai gubernur DKI namun untuk perkara capres mendukung Prabowo.

Boleh jadi munculnya kata-kata kasar dikarenakan luapan emosional menyaksikan perubahan orang yang dikenalnya selama ini.

Salah satu kelemahan seorang wanita tampaknya adalah penguasaan emosional sehingga lupa mempergunakan tata bahasa seperti gaya bahasa untuk meluapkan emosional agar tidak muncul kata-kata kasar.

Berikut kutipan tulisan Nanik S Deyang ketika mengusung Jokowi sebagai gubernur DKI yang bersumber: http://www.facebook.com/naniks.deyang/posts/605549896136258 (setelah di-hack tidak bisa di akses ) bahwa beliau mendukung Jokowi bukan karena dibayar oleh Jokowi namun karena keinginan yang besar bahwa keadaan harus berubah, bahwa dia sudah muak dengan keadaan, sudah lelah melihat kemiskinan dan kebobrokan moral para aparat.

Berikut arsip yang masih sempat menyimpan pada http://www.kaskus.co.id/thread/51ac89a559cb17df5c000013/suka-duka-dibalik-pencalonan-jokowi/

***** awal kutipan *****
Dulu sy dikritik habis -habisan dikatakan sebagai wartawan yg tidak obyektif saat saya setiap hari menulis Jokowi di wall saya. Tak hanya itu, saya sampai ditulis oleh sebuah berita Portal yg cukup terkenal dimana waktu itu pemiliknya menjadi PR-nya Foke , bahwa saya adalah seorang wartawan senior yg tdk etis karena menjadi Tim Sukses Jokowi (padahal secara struktural organisai di Tim Sukses Resmi nama saya gak ada).

Sudahlah yg namanya pelecehan seolah saya seorang wartawan yg “dibayar” Jokowi saya terima setiap hari. Bahkan suatu malam saya di Loji Gandrung (di rumah Dinas ) Jokowi, saat curhat alias gendu-gendu rasa , saya sampai nangis sesenggukan luar biasa, dan Jokowi pun sampai ikut meneteskan air matanya.

“Mbak Nanik , Gustiallah mboten sare (red: GustiAllah tidak tidur). Yg tau apa yang Mbak Nanik dan Mas Budi lakukan hanya saya, dan Devid serta Anggo (dua ajudan Jokowi).

Di luar dua ajudan Pak Jokowi tersebut sebetulnya yg tau sebenarnya apa yg saya lakukan adalah Mbak Linda Djalil dan Mas Susetyo Lit.

Mereka sangat tau bagaimana saya punya keinginan yg besar bahwa keadaan harus berubah, bahwa saya sudah muak dengan keadaan, bahkan saya sudah capai melihat kemiskinan dan kebobrokan moral para aparat. sebagai Walikota mendorong langsung Jokowi menjadi Presiden tentu itu sama dengan pungguk merindukan bulan. Sehingga saya dan sahabat saya Budi Purnomo Karjodihardjo berfikir , apa salahnya dia dicoba menjadi Gubernur DKI.

Waduh saat pertama menyebut nama Jokowi untuk saya presentasikan pada tokoh , dan teman-teman pengusaha , yg ada saya dihina-hina, sampai ada yg bilang mau keramas air got, kalau Jokowi jadi Gubernur. Selain saya dan Budi, ada juga kawan-kawan lain yg “gila” seperti kami , yaitu Prof Hamdi Muluk dokter Adrinof Chaniago, dan anak muda lulusan luar negeri yg menurut sy hebat banget yg bernama Hasan.

Yg paling berat saat awal membawa Jokowi ke Jakarta adalah meyakinkan Jokowi sendiri bahwa dia mampu. Jokowi selalu bimbang, takut , bahkan gak yakin. Belum lagi di PDIP Jokowi belum begitu “dikenal”, restu dari Bu mega pun hanya 80 %.
Di sinilah yg banyak orang lupa, Prabowolah yg jadi penentu “iya”-nya Bu Mega. Kalau malam itu Prabowo tdk mati-matian mendesak Bu Mega, hari ini kita gak akan lihat Jokowi jadi Gubernur…..(jadi sy ikut sedih waktu Prabowo dikatakan sbg penumpang gelap ), bagaimana pun ia ikut andil Jokowi menjadi Gubernur DKI. Kwalat kita kalau mengingkari itu!! … waduh bisa dua buku kalau diceritakan awal2 berjuang untuk Jokowi, intinya yg ingin saya sampaikan siang ini adalah, APA YG SAYA LAKUKAN TIDAK SALAH. Itu juga yg saya sampaikan pada manajemen perusahaan saya, ketika saya “membobol” duit buat memenuhi hasrat saya dan Budi mengusung Jokowi.

Untunglah saya dan Budi sbg pemegang saham , mungkin kalau tdk menjadi pemegang saham, saya dan Budi sudah masuk penajara karena menggunakan dana perusahaan dan gak bisa dipertangungjawabkan. Saya bilang ke manajemen , saya bertanggungjawab, dan saya minta sekian tahun saya dan Budi tdk menerima deviden.

Oh dulu pernah ada yg menulis di wall saya, seoarang wartawan yg juga suaminya wartawan, bahwa orang-orang semacam saya itu berjuang motivasinya adalah untuk mendapat proyek dan bayaran, atau jabatan.
Jadi lewat tulisan ini pula saya ingin sampaikan kepada siapa saja utk menanyakan langsung pada Jokowi atau Pemda DKI, apakah ada proyek untuk Nanik S Deyang, atau ada pembayaran , atau jabatan .
Yg ada saya bahagia luar biasa setiap kali menbaca media bahwa Jokowi ratingnya makin tak terbendung, saya bahagia lihat Jokowi wira-wiri di media, padahal dulu untuk meliput Jokowi kami harus mengemis-ngemis, yg ada sy sangat bahagia karena sampai hari ini saya masih bisa guyonan denga Jokowi sebagai sahabat. Dan tentu banyak kebahagian sy yg tdk bisa saya tulis, karena memang tidak bisa diucapkan atau ditulis.

Setelah “ikut” mengantar Jokowi menjadi pemimpin yg memenuhi haus dahaga rakyat akan sosok pemimpin, saya belakangan terpanggil membantu meluruskan hal-hal miring (yg saya tahu persis tdk seperti itu) terhadap sahabat saya DAHLAN ISKAN. 23 tahun saya mengenal dan bersahabat dengan Dahlan.
Seperti Jokowi, Dahlan adalah sedikit dari anak bangsa ini yg punya “hati” pada rakyat. Layaknya wartawan, Dahlan hidup “apa adanya” (tapi selalu disebut pencitraan), dan sebagai pejabat ia terbilang lurus, pintar dan pekerja keras luar biasa, dan punya komitmen tinggi akan masa depan bangsa ini.

Tapi ketika dunia maya mengadili dengan sepihak termasuk media , saya JUJUR terpanggil MEMBELA. Mengapa terpanggil, saya khawatir orang-orang yg jumlahnya di Indonesia tinggal beberapa manusia ini (yg memenuhi syarat sebagai pejabat, dan bisa berbuat untuk rakyat), akan lenyap dan hancur oleh provokasi , fitnah dan berita-berita yang di setting oleh orang-orang bejat tapi bernafsu menjadi pemimpin.

Bahwa Dahlan masih ada salah dan kekuarangannya, tentu itu wajar, karena dia manusia, dan mari kita memberi masukan dan mengkritiknya kalau dia salah. Tapi bahwa Dahlan banyak berbuat atau bahkan lebih dari pejabat lain, itu mustinya kalau kita mau jujur dengan hati kita, seharusnya kita mengakuinya.

Sayangnya sikap Dahlan sebagai orang jAwa Timur dan juga wartawan, kadang membuatnya terkesan KADI (karepnya sendiri) dan pecicilan serta arogan. Meski itu hanya sebaga “style” ternyata orang lebih senang mengadili dari “style”nya tersebut, sehingga kadang karya besar atau hasil kerja kerasnya tertutup oleh “style”nya itu.

Dan belakangan hal ini saya diskusikan serius dengan beliau .”Pak, kita ini masih berhadapan dengan masyarakat yg punya madzab bahwa pejabat itu harus santun, berwibawa dan semuanya serba tertata,” ..berkali-kali saya minta agar dia sedikit bertingkah ” kalem”, spy orang melihat kinerja dan kecerdasannya sebagai pejabat.

Tadinya sangat berat dia menerima pendapat saya, tapi setelah saya katakan, bahwa itulah bagian dari “pengorbanan” agar dia bisa bekerja lebih tenang , dan tidak terus-menerus dihantam orang yg tdk suka, maka beliau paham.

Saya yakin , apa yg saya lakukan terhadap Dahlan Iskan , membantu meluruskan dan mensosialisasikan kerjanya yg kadang tdk dilihat orang atau media, akan membuat saya lagi-lagi akan dihakimi orang sebagai wartawan yg tdk independen, atau bahkan sudah ada yg menyebut saya sebagai PR Dahlan Iskan, tapi Insyallah saya tidak PEDULI. setelah melewatai masa dihantam kanan-kiri saat mensosialisasikan Jokowi, sekarang rasanya saya lebih EGP.

Apapun yg kita kerjakan hasilnya bisa hari ini, lusa, atau bahkan beberapa tahun lagi . Tapi yg penting saya sudah menyampaikan menurut keyakinan hati saya benar dan baik.

Saya hanya ingin ada perubahan, ada harapan , dan dari sekian orang saya baru melihat Jokowi,

Dahlan Iskan dan mungkin Prabowo (karena sy gak begitu mengenal sebagai sahabat dan dia belum pernah jadi pejabat yg melakukan sesuatu, sehingga saya belum melihat kerja nyatanya, tapi Prabowo termasuk sosok yg punya idealisme bangsa ini maju dan besar).

Maaf kalau pandangan saya salah…tapi inilah keyakinan saya, dan saya siap dihujat seperti saat saya setiap hari menulis kebaikkan Jokowi utk menjadi Gubernur DKI saat itu.

Lalu apa harapan saya terhadap mereka, jadi presidenkah? saya menyerahkan pada masyrakat, saya hanya ingin terus menyuarakan dan mensosialisasikan, orang yg dalam keyakinan saya masih layak dan baik untuk membawa bangsa ini maju , dan tidak terpuruk seperti sekrang ini!
***** akhir kutipan *****

Namun beberapa saat kemudian Nanik S Deyang menuliskan pada wallnya http://www.facebook.com/naniks.deyang/posts/788021161222463 bahwa semula mengusung Jokowi sebagai gubernur DKI namun dalam perkara capres mendukung Prabowo.

Salah satu yang menyalin statusnya pada http://www.facebook.com/notes/retno-sunarihati/saya-menyaksikan-keduanya-bukan-membaca-berita/10152490391274136

***** awal kutipan *****
Kebetulan Allah SWT selalu menempatkan saya di saat-saat terakhir bagaimana seorang akan dinaikkan derajatnya oleh SWT menjadi pemimpin.

Dua tahun lalu, saya sakit perut karena hanya kurang dari 2 x24 jam Jokowi belum dapat restu dari Bu Mega. Bukan hanya Jokowi yg senewen, Prabowo sebagai orang yg ngotot Jokowi jadi Gubernur DKI juga senewen. Untuk keempat kalinya Prabowo menghadap Bu Mega, hingga akhirnya Bu Mega mau merestui Jokowi sebagai Cagub. Kenapa alot karena Bu Mega sudah memberi persetujuan bahawa PDIP mendukung Foke.

Saat bertemu terakhir antara Prabowo dan Bu Mega, Prabowo sudah nekat kalau Bu Mega tdk mengijinkan Jokowi, maka Prabowo akan “meminjam” Jokowi saja (tidak mencabut dari PDIP), dan Prabowo akan mengumpulkan partai kecil agar bisa mendaftarkan Jokowi ke KPU . Namun Bu Mega akhirnya trenyuh pada kegigihan Prabowo yg menghendaki Jokowi jadi pemimpin di Jakarta. Namun BU Mega bilang PDIP tdk memiliki dana untuk membiayai Jokowi, maka Prabowo pun menyatakan sanggup untuk membiayai .

Ketika restu datang, persoalan muncul, yakni siapa wakil Jokowi yg tepat?. Maka Prabowo yg sudah mengagumi Ahok, lantas membajak Ahok dari Golkar (karena Golkar mendukung Foke waktu itu). Prabowo sangat yakin Ahok orang bersih dan mau bekerja keras.

Saat disodorkan Ahok, Jokowi kurang sreg , bahkan dia lebih memilih Deddy Miswar. Tengah malah sebelum esok hari mendaftar di KPU, Jokowi menilpun saya soal Ahok ini. Waktu itu sy bilang…”Sudah lah terima saja dulu, dari pada milih2 ini-itu besok malah gak jadi daftar. Lagi pula Ahok ini akan bisa mendulang suara di Jakarta yg selama ini golput ,” pokoknya aku yakinkan Jokowi sampai hampir satu jam, bahwa Ahok pilihan terbaik dari nama lainnya.

Hari ini saya melihat “manusia-manusia ” baik ini terbelah menjadi berhadapan atau satu sama lain menjadi lawan. Saat saya melihat Prabowo menonton TV di pendopo rumah SBY, dimana di sebuah stasiun TV tengah di putar ulang liputan deklarasi Jokowi_JK ….entah kenapa air mata saya hampir jatuh..” dari samping saya lihat Prabowo menatap gambar di TV itu tanpa bicara sepatah kata pun, meski di sampingnya mulai dari Hatta Rajasa, Menteri Jero Wacik, Cicip Syarif Sutardja, Djan Faris dll berkomentar …Prabowo memilih diam…dan perlahan dia mundur di kerumunan itu..dan memilih tdk mendongakkan lagi waajhnya untuk melihat TV. Saya membayangkan betapa campur aduknya rasa di hatinya saat “anak” yg dibantu naikkan derajatnya itu kini menjadi “lawannya”.

Prabowo pernah berkata, kalau toh Jokowi yg “dibesarkannya” akhirnya jadi lawan , ia pernah bilang tdk masalah. Namun yg mengecewakannya adalah sejak dilantik hingga Jokowi nyapres, ternyata Jokowi itu mengucapkan terimakasih saja tidak pada Prabowo. (saya sebetulnya pernah mengingtkan Jokowi utk bertemu Prabowo , tapi kyaknya dia cuek, dan malah mengatakan yg membuat dia jadi Gubernur itu orang banyak, bukan Prabowo saja).

Sebagai orang jawa dimana saya menjujung tinggi toto kromo mikul duwur mendem jero , saya melihat apa yg saat ini saya saksikan sungguh menyayat batin saya. Bagimana tidak? Terhadap guru saya yg menjadikan saya dan teman-teman wartawan, yaitu Alm Om Valens Doi, bukan saja saya dan kawan saya Budi , bertanggung jawab terhadap keluarganya setelah Om Valens wafat, tapi kami tiap tahun juga memberingati wafatnya beliau , sebagai ungkapan rasa terimaksih kami , bahwa kami bisa seperti sekarang karena Om Valens. Kami juga selalu mengajarkan pada anak-anak wartawan, dimana ada sebagian sempat mengenal dan sebagain tdk mengenal Om Valens untuk selalu hormat, karena beliaulah kami semua bisa membangun perusahaan di mana kami bisa mencari makan dan berkarier. Kami pasang foto Om VAlens di ruang tamu kantor kami, dan kami selalu membuat kaos bergambar alm Om, sebagai rasa cinta dan hormat kami.

Hari ini saya menyaksikan seorang calon Pemimpin Negara yang dalam pandangan saya sebagai orang Jawa atau orang Indonesia MINUS MORAL, karena jangankan dia paham dengan konsep kesantunan mikul duwur mendem jero, mengucapakan terimaksih pun ternyata tdk dilakukan terhadap orang yg sudah menjadikannya dia hebat dan populer.

Ini bisa tdk penting , tapi buat saya pribadi menjadi penting, karena buat saya seorang pemimpin itu harus memiliki keteladanan moral yg baik, dan juga memiliki hati nurani yg baik . Bila tidak ? Maka yg akan dilakukan hanya mengumbar nafsu-nafsu yg ada di kepalanya dengan menghalalkan segala cara untuk mencapai tujuannya.
***** akhir kutipan *****

Nanik S Deyang menyampaikan alasannya berubah, dalam hal capres mendukung Prabowo karena dia melihat Prabowo lebih punya kwalitas moral yang baik berikut kutipan selengkapnya

****** awal kutipan ******
Jujur salah satu yg membuat keputusan saya mendukung Prabowo , karena sy melihat Prabowo lebih punya kwalitas moral yg baik. Misalnya sebiji jarak saja orang pernah melakukan kebaikan padanya itu akan diingatnya. Sebagai contoh ada sopir pribadinya yg sudah 13 tahun pensiun , karena usia, Prabowo masih menggaji sang sopir ..bukan hanya para sopir, para judannya mulai dia jadi komandan grup sampai jdi Pangkostrad masih diperhatikan hidupnya. Alasannya, karena Prabowo sering dibantu oleh sopir dan ajudannya.

Itulah sebabnya, sy tdk pernah habis pikir kalau ada orang yg tdk mengenal Prabowo dengan seenak perutnya menyebut Prabowo sebagi manusia fasis, kejam, maniak , kasar dll….Padahal orang yg dikatakan jahat itu, memiliki hati yg jauh lebih mulia, bahkan jauuuuuuuh sekali mulianya dibandingkan yg secara fisik disebut santun, ramah, dan merakyat itu…..SAYA MENYAKSIKAN KEDUANYA BUKAN MEMBACA BERITA!
***** akhir kutipan *****

Kita dapat saksikan bahwa Nanik S Dayang ,  Martin dari Cameo Project ataupun Prayudi Azwar  pada awalnya  termakan fitnah yang menyerang Prabowo.

Bahkan pada masa tenang tiga hari ini pun masih kita temukan “serangan” kepada Prabowo sebagaimana yang kami rekam dari http://edukasi.kompasiana.com/

Arsip tampak layar pada 07 Juli 2014 pk 05.00 disimpan pada https://mutiarazuhud.files.wordpress.com/2014/07/edukasikompasianacom-070714-pk-0500.jpg

Pada banner atas dan samping kanan tertulis
“Koruptor kelas kakap dan gembong mafia berkuasa jika Prabowo menjadi Presiden kalian.
Selamatkan Indonesia dari Prabowo-Hatta!

Arsip tampak layar pada 07 Juli 2014 pk 09.00 disimpan pada https://mutiarazuhud.files.wordpress.com/2014/07/edukasikompasianacom-070714-pk-0900.jpg

Pada banner atas dan samping kanan tertulis
“Pengangguran, Kemiskinan, Hidup dalam Kesengsaraan jika Prabowo menjadi Presiden kalian.
Tolak Prabowo-Hatta !

Kalau diklik banner pada kompasiana.com tersebut dan akan menuju pada http://www.hentikanprabowo.com/

Tampak dengan jelas bahwa serangan terhadap Prabowo sudah terstruktur rapi sebagaimana pula yang dituliskan oleh Linda Djalil pada http://lindadjalil.com/2014/07/saat-fitnah-untuk-prabowo-saya-cermati/

***** awal kutipan *****
Staf saya di kantor bahkan pernah menyampaikan cerita ngeri.

Dia bilang bahwa dia melihat dengan mata kepala sendiri bahwa Fadli Zon digampari oleh Prabowo di suatu acara.

Saya kaget setengah mati, sehingga saya makin yakin saat itu bahwa tidak akan pernah maulah saya memilih dia. Saya sempat geram termakan cerita itu.

Lama-lama, saya berpikir ulang kembali. Kok gampang banget saya percaya cerita semacam itu?

Lalu saya memberanikan diri untuk bertanya langsung kepada Fadli Zon, sebagai adik kelas saya di UI dan orang yang selalu sangat berperhatian kepada seni budaya Indonesia dan sangat ikhlas bila merangkul para seniman Indonesia, juga kepada Idris Sardi hingga tutup usia.

Fadli sangat kaget luar biasa. Ia berani bersumpah di atas Al Qur’an bahwa hal itu sama sekail tidap pernah terjadi.

“Mbak Linda, berani-beraninya Prabowo gampar saya? Dia tidak pernah sekalipun melakukan hal itu kepada saya. Tentu akan saya gampar balik…hahahhaaa!,” begitu kata Fadli.

Saya agak kecewa dengan staf saya, yang sudah dengan seenaknya mengarang cerita. Ketika saya bilang bahwa saya sudah cek ke ybs, ia panik. Tampaknya ia memang mengarang cerita…

Lalu, saya dengar lagi cerita dari anak saya bahwa temannya yang bekerja di PH juga melihat ia menggampar ajudannya di depan pekerja PH yang akan membuat filmnya.

Cerita hampir senada dengan cerita staf saya. Ajudan Prabowo saya kenal. Tak satupun yang tidak heran mendengar cerita itu. Ya, semua heran dan ‘kagum’, karena betapa dahsyatnya karangan-karangan semacam itu. Ya, karangan yang sudah terstruktur.
**** akhir kutipan *****

Bahkan mereka pun dalam tabloid obor rahmatan lil alamin telah mencatut nama kiai dan MUI sebagaimana arsip berita pada https://mutiarazuhud.wordpress.com/2014/07/04/catut-nama-kiai/

Dalam tabloid obor rahmatan lil alamin yang kami peroleh dari pendukung Jokowi-JK pada halaman 23 dimuat pernyataan dari KH Maimun Zubair “Saya pribadi cenderung ke pak JK”

Beliau tidak menyatakan “saya pribadi cenderung mendukung Jokowi” karena banyak pihak (termasuk hasil jajak pendapat rektor se-Indonesia) berpendapat bahwa yang pantas menjadi Presiden berdasarkan kompetensi adalah Jusuf Kalla namun permasalahannya tidak ada partai politik yang mengusung JK sebagai calon Presiden

Sedangkan kalau memilih antara capres Prabowo atau Jokowi maka KH Maimun Zubair mengeluarkan pernyataan dalam bentuk doa sebagaimana yang dapat kita ketahui dari http://www.facebook.com/photo.php?v=10152133941156179 atau pada http://www.youtube.com/watch?v=X1xgSPu8ZQE

KH. Maimoen Zubair berkata “dengan kemenangan pa Prabowo insya Allah Indonesia akan menjadi negara yang gemah ripah loh jinawi”

Habib Luthfi bin Yahya berkata: pemimpin itu harus berjiwa kesatria, untuk menjaga Agama dan martabat Bangsa, Insya Allah itu ada pada diri Bapak Prabowo

Tokoh intelektual NU, mantan ketua MK, Mahfud Md berkata “saya mendukung Prabowo Subianto karena Indonesia saat ini butuh pemimpin yang tegas dan ikhlas untuk mengangkat rakyat dari ketepurukan”

Wakil Sekretaris Jenderal PBNU KH Masduki Baidlowi menyampaikan bahwa Indonesia membutuhkan pemimpin yang menjadi dalang, bukan wayang.sebagaimana arsip berita pada https://mutiarazuhud.wordpress.com/2014/06/16/firqah-di-putaran-pilpres/

“Maka kita lebih memilih Prabowo yang memiliki komitmen terhadap kemandirian nasional,” katanya.

KH. Dr. Zuhrul Anam Hisyam Leler Banyumas meyampaikan bahwa Indonesia butuh pemimpin yang tegas dan berwibawa yang disegani dan dihormati oleh pemimpin-pemimpin dunia, dan itu ada pada H. Prabowo Subianto sebagaimana informasi dari http://www.facebook.com/photo.php?fbid=515309108591852&set=a.108915092564591.10893.100003383019823

Begitupula berita seperti dari http://www.aktual.co/politik/141941inilah-alasan-ulama-dan-habib-jatim-dukung-prabowo

****** awal kutipan ******
Ratusan Ulama dan habib se-Jawa Timur sepakat memberikan dukungan kepada pasangan calon presiden dan calon wakil presiden Prabowo- Hatta pada Pilpres 9 Juli 2014 mendatang.

“Jadi Forum ulama dan habib di Jawa Timur termasuk area tapal kuda, setelah melakukan musyawarah dan menimbang secara syariat, kesimpulannya kita memberikan dukungan kepada pasangan Prabowo – Hatta,” ujar Habib Zaid Alwi Alkaf saat menghadiri forum silaturahmi ulama dan habib se-Jatim, di rumah salah tokoh agama di Surabaya, Ali Badri Zaini, Rabu (4/6).

“Jadi jangan melihat figur capres. Tapi siapa saja dikelilingnya dan pendukungnya seperti partai dan ormas Islam. Dan lagi ini demi kepentingan umat Islam di Indonesia,” lanjut Habib zaid Alwi alkaff

Sementara alim ulama Madura setapal kuda, KH Ainur Rahman asal Bangkalan yang turut hadir, juga memintah masyarakat untuk tidak golput. “Ingat!. Jangan golput. Jangan tekena money politik, sebab yang dipilih bukan sosok pasangan capres, tapi menentukan nasib umat Islam di Indonesia,” sahutnya.
***** akhir kutipan *****

Begitupula sebagaimana diberitakan pada http://beritajatim.com/nasional/207909/kyai_sepuh_sidoarjo_dukung_prabowo.html bahwa KH Sholeh Qosim pengasuh Ponpes Bahauddin Ngelom Sepanjang Taman, tidak pakai ‘tedeng aling-aling’ (basa basi) akan mendukung Prabowo sebagai Capres 2014 mendatang.

Ungkapan itu disampaikan mantan Pendiri PKB Sidoarjo saat acara silaturrahmi para Kyai NU di rumah H Nadhim Amir Jalan Yos Sudarso Sidoarjo. “Saya akan dukung Prabowo sebagai Presiden 2014,” ucap KH Soleh Qosim Sabtu (24/5/2014).

Dia menadaskan, pilihan itu dijatuhkan karena ia mendapatkan pesan dari KH Imam Muzakki Jember yang mengemukakan akan mendukung mantan Danjen Kopassus itu. “Kalau bukan KH Imam Muzakki, mungkin saya akan pikir-pikir,” tukasnya.

Dia menceritakan, pesan itu didapatkan saat KH Sholeh Qosim sowan ke pondok KH Imam Muzakki beberapa hari lalu. Namun saat tiba di Jember, tidak ketemu dan ditemui Gus Hilmy putra KH Imam Muzakky. Gus Hilmy juga berpesan akan mendukung Prabowo. Sepulang dari Jember, juga mampir ke Gus Firjon putra almarhum KH Ahmad Shddiq.

“Gus Firjon juga saya mintai dawuh soal capres nanti. Tidak lama, Gus Firjon lansung telpon KH Imam Muzakki dan meminta saya untuk pilih Prabowo. Pilihan ini akan saya pegang, dan akan saya sampaikan kepada semua tamu saya,” tuturnya.

Hadir dalam silaturrahmi Kyai-kyai Sidoarjo itu, Agoes Ali Masyhuri Tulangan, KH Sholeh Qosim Taman, KH Rofiq Siradj Jabon, KH Nurul Huda dan KH Abd Rohim Buduran, KH Abdi Manaf Sukodono, H Utsman Ikhsan Gedangan, KH Hasyim Ahmad Tanggulangin, KH Syafii Jabon dan ulama lainnya.

Ketua Forum Komunikasi Kiai Kampung Jawa Timur (FK3JT) KH Fahrur Rozi didampingi sejumlah kiai kampung dan sejumlah kiai pemangku pondok pesantren dari Pasuruan, Probolinggo, Kediri, Bondowoso, Situbondo, Sidoarjo, Bangkalan dan beberapa daerah lain di Surabaya, Kamis (22/5/2014) menyatakan bahwa kedua orang tersebut memiliki kriteria pemimpin yang sesuai dengan keinginan kiai yakni memiliki ketegasan, lugas dan cepat dalam menyelesaikan persoalan bangsa serta sosoknya sederhana, tampil apa adanya dan bersih dari KKN

“Insya Allah pasangan yang ideal ini mampu menjadikan negara ini Baldatun Thayyibatun Wa Robbun Ghafur,”

“Sebelum mendeklarasikan dukungan, kami juga sowan dengan para kiai sepuh, seperti KH Nawawi Abdul Jalil (Ponpes Sidogiri Pasuruan) dan KH Abdullah Kafabi (Ponpes Lirboyo Kediri). Mereka juga sepakat mendukung Prabowo-Hatta,” tegas Gus Fahrur sapaan akrab KH Fahrur Rozi sebagaimana yang diberitakan pada http://beritajatim.com/politik_pemerintahan/207716/kiai_kampung_dukung_prabowo,_awcb_ke_jokowi.html

Sebagaimana diberitakan pada http://beritajatim.com/nasional/207810/lirboyo_deklarasi_dukung_capres_prabowo.html bahwa dukungan para kiai sepuh di berbagai daerah di Jawa Timur terhadap capres dan cawapres Prabowo Subianto-Hatta Rajasa ternyata juga diikuti keluarga besar Pondok Pesantren (Ponpes) Lirboyo Kediri. Para pengasuh mengeluarkan tausiyah berisi instruksi dan himbauan memilih pasangan Prabowo-Hatta.

Inilah Tausiyah tersebut ” Dalam upaya ikhtiyar memilih pemimpin Bangsa Indonesia untuk kemakmuran dan kesejahteraan rakyat serta menjaga akidah Islam Ahlussunnah wal Jamaah, KH. Idris Marzuqi, KH. Moh. Anwar Mansur dan KH. Abdulloh Kafabihi Mahrus menginstruksikan kepada seluruh alumni dan menghimbau kepada masyarakat agar mendukung dan memilih H. Prabowo Subianto dan Ir. Hatta Rajasa pada pemilu presiden yang akan dilaksanakan pada hari Rabu, 9 Juli 2014″

Begitupula para Habib, contohnya Habib Abdurrahman bin Muhammad bin Ali AlHabsyi di depan Majlis Ta’lim Habib Ali AlHabsyi Kwitang Jakarta pada tanggal 18 Mei 2014 menyatakan dukungannya bagi Prabowo karena melihat keadaan yang krisis dalam kepemimpinan dan dengan doa dan harapan agar negeri ini menjadi baik dan bermartabat sebagaimana kabar pada http://www.facebook.com/noerozil.neuerterry/posts/407362986071899 atau dalam video pada http://www.youtube.com/watch?v=aHKIajGzpUk namun suaranya kurang jelas.

Habib Muhammad Rizieq bin Husin Syihab menyampaikan bahwa DPP FPI dalam Pemilihan Presiden (Pilpres) 2014 ISTIQOMAH menyerukan umat Islam agar tetap memberikan suaranya untuk PARTAI ISLAM yaitu PPP, PKS dan PBB dengan menitipkan 10 Amanat Perjuangan Islam kepada Capres dan Cawapres yang didukung oleh Ketiga PARTAI ISLAM tersebut sebagaimana yang tercantum pada http://fpi.or.id/122-Sikap%20Politik%20FPI%20Menjelang%20Pilpres%202014.html

Cak Anam (Choirul Anam) tokoh NU Jatim mengatakan bahwa warga Jatim sangat mendambakan pemimpin yang jujur dan tegas. Jujur dalam artian apa adanya, tidak mengada-ada ataupun berpura-pura

“Misalnya, kalau biasa naik becak ya tetap naik becak. Biasa naik mobil, ya naik mobil. Bukan naik bajaj tapi besoknya pakai Alphard atau jet pribadi. Itu bukan kejujuran namanya,” ungkap cak Anam sebagaimana yang diberitakan pada http://web.inilah.com/read/detail/2108744/cak-anam-prabowo-bisa-juara-di-jatim

Sedangkan pada http://suarapubliknews.net/index.php/peristiwa-6/item/1977-gerak-aswaja-dan-10-elemen-jatim-nyatakan-dukung-prabowo-hatta Choirul Anam, menuturkan bahwa dirinya beberapa hari yang lalu ditelpon wartawan dari ibukota. Ditanya perihal kesediannya mau menjadi panitia pemenangan Prabowo.

“Saya jawab bahwa saya sudah lama mendukung Prabowo, jauh sebelum ini.

Ini pemimpin unik, karena ingin membawa rakyatnya maju. Saya banyak bicara dengan pemimpin-pemimin nasional, tapi tidak seperti ini,” ujar Cak Anam, panggilan akrab Choirul Anam.

Ditanya apa tidak takut dengan Prabowo, khan terkesan angker? Cak Anam menuturkan bahwa selama berdiskusi dengannya , Prabowo terkesan bersahabat dan hangat dalam diskusi

“Jadi itu digambarkan oleh orang luar. Hatinya bagus dan bersahabat. Jadi gambaran selama ini merugikan Prabowo,” jelasnya.

Pendiri dan Pimpinan Pondok Pesantren Daarut Tahid Bandung KH Abdullah Gymnastiar mengingatkan bahwa pada masa awal reformasi , ada seorang jenderal petinggi TNI yang amat disegani dan selalu menjadikan umat Islam sebagai target kebenciannya (deislamisasi) dan Prabowo lah perwira militer yang terang-terangan membela umat Islam dan tak rela melihat umat Islam dipinggirkan sebagaimana arsip berita pada http://nasional.inilah.com/read/detail/2101958/aa-gym-sambut-gembira-deklarasi-prabowo-hatta

Berikut kutipannya

****** awal kutipan *****
Menurut Aa Gym dirinya sudah mengenal Prabowo pada tahun 1990-an, saat Prabowo menyandang jabatan Danjen Kopassus.

Pada saat itu, ada seorang jenderal petinggi TNI yang amat disegani dan selalu menjadikan umat Islam sebagai target kebenciannya.

“Setahu saya, pada waktu itu hanya Prabowo yang terang-terangan membela umat Islam. Ini kenangan luar biasa saya tentang sosok Prabowo yang sulit dilupakan. Ia perwira militer yang tak rela melihat umat Islam dipinggirkan. Karena alasan ini, saya mendukung Prabowo,” ujarnya.
******* akhir kutipan ******

Sebagaimana yang telah disampaikan pada https://mutiarazuhud.wordpress.com/2014/06/30/di-belakang-petugas-partai/ bahwa pokok permasalahan atau keberatan yang disampaikan oleh beberapa ulama adalah terhadap orang-orang dibelakang Jokowi-JK terutama partai pendukung utamanya yakni PDI-P. yang membuat kebijakan  yang akan dijalankan oleh Jokowi sebagai “petugas partai”

Hal yang harus kita ingat bahwa partai pendukung utama Jokowi-JK adalah PDIP yang merupakan fusi (gabungan) dengan partai-partai non muslim.

Sebagaimana yang telah disampaikan pada https://mutiarazuhud.wordpress.com/2014/07/03/yang-bukan-radikal/ bahwa boleh kita bergaul dengan non muslim asalkan yang bukan radikal

Non muslim yang radikal adalah non muslim yang memerangi agama Islam atau anti Islam atau Islam Phobia atau pendukung deislamisasi

Firman Allah Ta’ala yang artinya, “Allah tiada melarang kamu untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tiada memerangimu karena agama dan tidak (pula) mengusir kamu dari negerimu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil.” (QS. Al-Mumtahanah [60]:8 )

Dikalangan petinggi PDIP yang merencanakan dan membuat kebijakan ada pula yang non muslim

Firman Allah Ta’ala yang artinya “Dan sabarkanlah dirimu beserta orang-orang yang menyeru Rabbnya di waktu pagi dan petang dengan mengharap keridhaan-Nya, dan janganlah kamu palingkan wajahmu dari mereka hanya karena kamu menghendaki perhiasan dunia, dan janganlah kamu ikuti orang-orang yang telah Kami lalaikan hatinya dari mengingat Kami, dan menuruti hawa nafsunya, dan adalah keadaannya sangat melewati batas.” (QS. Al-Kahf [18] : 28)

Tujuan berpolitik adalah meraih kekuasaan, oleh karenanya sebaiknyalah umat Islam, apapun kelompok dan ormasnya memilih pemimpin yang merencanakan, membuat dan menjalankan kebijakan untuk kemasalahan umat Islam dan rakyat Indonesia pada umumnya sebagaimana yang telah diuraikan dalam tulisan pada https://mutiarazuhud.wordpress.com/2014/06/14/berpolitik-meraih-kekuasaan/

Putra pengasuh Pondok Pesantren Al Anwar, Sarang Rembang KH Maimoen Zubair, KH Muhammad Najih MZ secara tegas menolak bakal calon presiden dari Partai Demokrasi Indonesia (PDIP) Joko Widodo atau Jokowi. Menurut Gus Najih, panggilan akrabnya, tidak rela PPP berkoaliasi dengan partai kaum abangan yang anti Islam. sebagaimana yang diberitakan pada http://fpi.or.id/119-KH-Muhammad-Najih-Tak-Rela-PPP-Berkoalisi-dengan-Partai-Anti-Islam.html

Hal serupa disampaikan oleh Sekretaris DPW PPP Jateng, Suryanto SH pada http://news.detik.com/pemilu2014/read/2014/05/02/092146/2571075/1562/sekretaris-dpw-jateng-mayoritas-warga-ppp-tak-ingin-koalisi-dengan-pdip

****** awal kutipan ******
“Saya sekretaris DPW yang sering bertemu dengan konstituen di akar rumput hingga para pengurus struktural dari tingkat paling bawah hingga di tingkat pimpinan cabang maupun wilayah. Aspirasi paling kuat yang kami tangkap adalah mereka tidak menginginkan partai ini (PPP -red) berkoalisi dengan PDIP dalam Pilpres mendatang,” ujar Suryanto kepada wartawan di Solo, Jumat (2/5/2014) pagi.

Menurut Suryanto, ada berbagai alasan yang disampaikan oleh kader dan simpatisan PPP terkait aspirasi tersebut. Diantara yang sering disampaikan adalah sejumlah fakta bahwa selama ini PDIP dinilai kurang memperjuangkan aspirasi umat Islam, terutama dalam keputusan-keputusan politik yang diambil di parlemen. Sikap PDIP di parlemen itu dijadikan tolok ukur penting bagi warga PPP karena selama 10 tahun terakhir PDIP berada di luar pemerintahan sehingga kiprah perjuangan politiknya lebih banyak dilakukan di parlemen.

“PDIP dinilai banyak mementahkan UU yang mengatur kemaslahatan umat. PDIP sering menyampaikan sikap bertentangan dengan PPP dalam hal pengesahan regulasi bagi kemaslahatan umat. Hal-hal seperti itu menjadi catatan penting dan selalu diingat oleh konstituen kami untuk dijadikan pertimbangan menentukan arah pilihan dalam dukungannya terhadap bakal capres yang mengemuka saat ini,” paparnya
***** akhir kutipan *****

Wasekjen MUI Pusat, Ustadz Tengku Zulkarnaen menyatakan kekecewaannya karena masyarakat awam banyak yang belum mengetahui bahaya Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan dan memilihnya dalam pemilu 2014 lalu. Ia juga mengatakan bahwa PDIP adalah partai yang anti Islam.

“Ini partai anti Islam. Kenapa banyak yang tidak tahu? Kita semua harus ngomong,” jelas beliau.

Hal itu dibuktikan dari berbagai produk legislasi Islami yang coba dijegal oleh PDIP.

“Semua RUU yang kita ajukan ke DPR dan berbau Islam, pasti PDI menolak. UU Pendidikan mereka walk out, UU Bank Syariah, UU Ekonomi Syariah mereka tidak setuju, UU Pornografi juga mereka tidak setuju. Nah, sekarang UU Jaminan Produk Halal untuk makanan dan obat-obatan mereka juga tidak setuju.” jelas beliau.

Ustadz Tengku Zulkarnaen juga mengingatkan bahwa “Selain itu, dalam pemilu 2014 lalu, PDI-P memasang 52% caleg non Muslim dalam Daftar Caleg Tetap-nya. PDI-P sendiri sebenarnya merupakan fusi dari partai Nasionalis dan partai Kristen seperti IPKI, PNI, Murba, Partai Katolik, dan Parkindo (Partai Kristen Indonesia)”

Uraian selengkapnya tentang mengapa PDIP dikenal sebagai partai yang cenderung anti Islam ada dalam tulisan pada https://mutiarazuhud.wordpress.com/2014/06/27/parpol-anti-islam/

Selain itu, hal yang perlu diwaspadai oleh kaum muslim adalah kaum liberal dibelakang Jokowi-JK karena sudah ada fatwa Majelis Ulama Indonesia No: 7/MUNAS VII/MUI/II/2005 tentang kesesatan paham pluralisme, liberalisme dan sekuarisme agama sebagaimana yang telah disampaikan contohnya pada https://mutiarazuhud.wordpress.com/2014/06/30/alasan-bicara-politik/

Wassalam

 

Zon di Jonggol, Kabupaten Bogor 16830

Read Full Post »

Older Posts »