Feeds:
Pos
Komentar

Posts Tagged ‘Menentang’

beda qoul dan praktek

Mereka yang mengatakan qoul dan yang dipraktekkan Rasulullah berbeda

Dalam sebuah diskusi di jejaring sosial Facebook, salah seorang pengikut paham Wahabisme penerus kebid’ahan Ibnu Taimiyyah dengan logika atau akal pikirannya, secara tidak langsung menentang sabda Rasulullah yang telah memberikan batasan jelas, tegas dan tanpa perlu ditakwil yakni “barangsiapa menjulurkan sarungnya karena sombong”.

Berikut kutipan pendapatnya,

***** awal kutipan *****
Cara memahami dalil yang benar adalah dengan mengadakan sinkronisasi antara dalil qoul dengan dalil fi’liyah atau taqririyah. maka akan menjadi terang makna yang sebenarnya.

Jika Nabi berkata “karena sombong” maka lihat fi’liyahnya ( praktek perbuatan nabi) ??

Ternyata prakteknya Nabi selalu menerintahkan orang yang isbal untuk menaikan pakaianya diatas mata kaki..!

Nah, jika menemukan pertentangan antara qoul dengan praktek, maka buatlah metode pertanyaan kritis untuk mendapatkan jawabanya.

Contoh : Jika isbal haram karena sombong,, lalu kenapa Rosul memerintahkan orang yang isbal untuk menaikan pakaianya??,, bukankah sombong itu amalan hati? kenapa dzohirnya yang harus diperbaiki??

Nah,, dari semua dalil qoul dan fi’liyah dikompromikan serta disinkronkan maka makna yang paling mendekati benar adalah bahwa makna kalimat “karena sombong” adalah menjulurkan pakaian melebihi batas ketentuan atau disebut Isbal, inilah yang dimaksud “sombong”
***** akhir kutipan *****

Jadi menurut pendapat akhir mereka bahwa sabda Rasulullah “karena sombong” adalah “menjulurkan pakaian melebihi batas ketentuan” atau disebut isbal

Kalau definisi mereka “karena sombong” tersebut dimasukkan ke dalam sabda Rasulullah ,

“Barangsiapa yang kainnya melebihi mata kaki KARENA SOMBONG, ia akan menginjaknya di neraka Jahannam”

maka bunyinya menjadi

“Barangsiapa yang kainnya melebihi mata kaki MENJULURKAN PAKAIAN MELEBIHI BATAS KETENTUAN , ia akan menginjaknya di neraka Jahannam”

Jadi secara tidak langsung mereka menganggap sayyidina Abu Bakar radhiyallahu’anhu tetap akan masuk neraka jahannam walaupun Rasulullah telah bersabda , “Engkau bukan termasuk orang yang melakukan hal itu karena sombong.”

Sayyidina Abu Bakar radhiyallahu’anhu sering melorot alias sering isbal namun Rasulullah mengatakannya tidak ada masalah karena Beliau melakukannya bukan karena sombong.

حَدَّثَنَا أَحْمَدُ بْنُ يُونُسَ حَدَّثَنَا زُهَيْرٌ حَدَّثَنَا مُوسَى بْنُ عُقْبَةَ عَنْ سَالِمِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ عَنْ أَبِيهِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ مَنْ جَرَّ ثَوْبَهُ خُيَلَاءَ لَمْ يَنْظُرْ اللَّهُ إِلَيْهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ قَالَ أَبُو بَكْرٍ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّ أَحَدَ شِقَّيْ إِزَارِي يَسْتَرْخِي إِلَّا أَنْ أَتَعَاهَدَ ذَلِكَ مِنْهُ فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَسْتَ مِمَّنْ يَصْنَعُهُ خُيَلَاءَ

Telah menceritakan kepada kami Ahmad bin Yunus telah menceritakan kepada kami Zuhair telah menceritakan kepada kami Musa bin ‘Uqbah dari Salim bin Abdullah dari Ayahnya radliallahu ‘anhu dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam beliau bersabda: “Siapa yang menjulurkan pakaiannya (hingga ke bawah mata kaki) karena sombong, maka Allah tidak akan melihatnya pada hari Kiamat kelak.” Lalu Abu Bakar berkata; “Wahai Rasulullah, sesungguhnya sarungku sering turun sendiri (melorot), kecuali jika aku selalu menjaganya?” lalu Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Engkau bukan termasuk orang yang melakukan hal itu karena sombong.” (HR Bukhari 5338)

Begitupula dengan dengan mereka mengatakan bahwa jika menemukan pertentangan antara qoul dengan praktek maka mereka secara tidak langsung mengatakan qoul (sabda) Rasulullah tidak sesuai dengan prakteknya alias mereka menuduh Rasulullah munafik.

Perintah Rasulullah kepada sesorang untuk menaikkan pakaiannya di atas mata kaki boleh jadi akibat orang itu memang isbal karena sombong.

Jadi perintah Rasulullah untuk menaikkan pakaian pada hakikatnya untuk menghilangkan kesombongan orang itu.

Rasulullah pernah pula memerintahkan seseorang untuk mengulangi wudhunya karena orang tersebut shalat dalam keadaan isbal -celananya menjulur di bawah mata kaki- itu memang sombong dan wudhu adalah untuk menghilangkan kesombongan.

Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda, “Sesungguhnya syaitan itu daripada api (an nar) dan sesungguhnya dipadamkan api itu dengan air, maka apabila seorang kamu marah, maka ambillah wudhu” HR Abu Daud.

Sifat pemarah itu berasal daripada sifat sombong sehingga pada hakikatnya untuk menghilangkan kesombongan maka ambillah wudhu”

Dengan hakikat bahwa menghilangkan kesombongan dengan wudhu maka kita dapat pula memahami riwayat berikut ini

Seorang laki-laki yang bertanya kepada Nabi, “Apakah kami harus wudhu karena makan daging kambing?” Beliau bersabda, “Kalau kamu mau (silakan berwudhu lagi).” Laki-laki itu bertanya lagi, “Apakah kami (harus) wudhu karena makan daging onta?” Beliau bersabda, “Ya.” Laki-laki itu bertanya, “Bolehkah shalat di kandang kambing?” Beliau bersabda, “Ya boleh.” Laki-laki itu bertanya lagi, “Bolehkah shalat di kandang onta?” Nabi bersabda, “Tidak boleh.”[HR. Ahmad dan Muslim]

Onta adalah salah satu hewan yang disifatkan dengan sombong. Setiap hewan yang sombong biasa diungkapkan sebagai setan.

Dalam hadits Al Baro’ bin ‘Azib radhiyallahu’anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah ditanya mengenai shalat di tempat menderumnya unta, beliau bersabda, “Janganlah shalat di tempat menderumnya unta karena ia dari setan.” (HR. Abu Daud)

Dalam lafazh Ibnu Majah disebutkan,

فَإِنَّهَا خُلِقَتْ مِنْ الشَّيَاطِينِ

“Karena ia diciptakan dari setan.” (HR. Ibnu Majah).

Dari Hamzah bin ‘Amr Al Aslami radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Di setiap punggung unta itu ada setan. Jika kalian menungganginya, sebutlah nama Allah.” (HR. Ahmad)

Dari Abdullah bin Mughffal Al Muzanni, ia berkata: “Aku mendengar Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda:, “Janganlah shalat di kandang unta, karena ia diciptakan dari jin, lihatlah kalian pada mata dan debunya bila ia berlari. Dan shalatlah kalian di kandang kambing, karena ia lebih dekat dengan rahmat (Musnad Ahmad 19648)

Jadi tidak membatalkan wudhu memakan makanan secara mutlaq. meskipun makanan yang dipanggang atau dibakar kecuali orang yang makan daging unta maka ia cenderung sombong sehingga untuk menghilangkan kesombongan maka ambillah wudhu kembali.

Wassalam

Zon di Jonggol, Kabupate Bogor 16830

Iklan

Read Full Post »

Older Posts »