Feeds:
Pos
Komentar

Posts Tagged ‘menetap tinggi’


Contoh mereka yang memfitnah Imam Malik dan Imam Abu Hanifah

Berikut kutipan dari gambar di atas, contoh mereka yang secara tidak langsung memfitnah Imam Malik dan Imam Abu Hanifah dengan MENTERJEMAHKAN dan MEMAKNAI atau MENAKWIL ISTAWA yang artinya BERSEMAYAM dengan ISTAQARRA yang artinya BERTEMPAT atau MENETAP TINGGI karena kedua Imam tersebut TIDAK PERNAH MENAKWIL ISTAWA dengan ISTAQARRA

***** awal kutipan *****

الاستواء معلوم والكيف مجهول والإيمان به واجب والسؤال عنه بدعة

“Istiwa’-nya Allah ma’lum (sudah diketahui maknanya), dan kaifiyatnya tidak dapat dicapai nalar atau tidak diketahui (majhuul), dan beriman kepadanya wajib, bertanya tentang hal tersebut adalah perkara bid’ah, dan aku tidak melihatmu kecuali dalam kesesatan.”

Di dalam ayat disebutkan Ar-Rahmaanu ‘alal ‘arsyistawaa (QS Thaahaa : 5). Secara bahasa istiwa’ itu memiliki empat makna yaitu: ‘ala (tinggi), Irtafa’a (terangkat), Sho’uda (naik), Istaqarra (menetap)

Sehingga makna Allah istiwa’ di atas ‘Arsy ialah menetap tinggi di atas ‘Arsy.

Jadi sebagaimana yang dikatakan oleh Imam Abu Hanifah, “Barangsiapa yang mengingkari bahwa Allah Azza wa Jalla berada di atas langit yakni menetap tinggi di atas ‘Arsy, maka ia telah kafir.
***** akhir kutipan *****

Kami belum mendapatkan siapa yang meriwayatkan perkataan Imam Malik sebagaimana yang mereka kutip yakni

الاستواء معلوم والكيف مجهول

Istiwa’ Ma’lum Wa al-Kayf Majhulah

Ada riwayat dari al-Hafizh al-Baihaqi dalam al-Asma’ Wa ash-Shifat, hal 408 menuliskan sebagai berikut:

َاْلإِسْتِوَاءُ غَيْرُ مَجْهُوْلٍ، وَالْكَيْفُ غَيْرُ مَعْقُوْلٍ، وَاْلإِيْمَانُ بِهِ وَاجِبٌ، وَالسُّؤَالُ عَنْهُ بِدْعَةٌ، وَمَا
أَرَاكَ إِلاَّ ضَالاًّ

Istiwa’ ghair Majhul

“jelas diketahui (penyebutan “istawa” dalam al-Qur’an)”

Wa al-Kayf Ghair Ma’qul

adanya al-Kayf (sifat benda bagi Allah) adalah sesuatu yang tidak masuk akal,

“beriman dengan adanya “istawa” adalah kewajiban, mempertanyakan bagaimana istawa (Kayf istawa?) adalah bid’ah, dan saya melihatmu dalam kesesatan (seorang ahli bid’ah) ”

Jadi jelaslah bahwa “istawa sudah jelas diketahui atau disebutkan dalam Al Qur’an, beriman kepada lafaz al-Istawa adalah wajib”

Imam Malik meyebut orang ini sebagai ahli bid’ah karena mempertanyakan kaifiyyah Istawa bagi Allah atau karena bertanya bagaimanakah Istawa Allah.

Jelaslah Imam Malik tidak mengatakan dan memilih “MENAKWIL ISTAWA dengan ISTAQARRA” .

Terjemahan atau takwilan tersebut adalah sisipan si penulis semata.

Sedangkan Al-Qaraafiyy, salah satu ulama besar dari mazhab Imam Malik meriwayatkan dan menjelaskan sebagai berikut

***** awal kutipan ******
ﻗﺎﻝ ﺍﻟﻘﺮﺍﻓﻲ:ﻭﻣﻌﻨﻰ ﻗﻮﻝ ﻣﺎﻟﻚ ﺍﻻﺳﺘﻮﺍﺀ ﻏﻴﺮ ﻣﺠﻬﻮﻝ ﺃﻥ ﻋﻘﻮﻟﻨﺎ ﺩﻟﺘﻨﺎ ﻋﻠﻰ ﺍﻻﺳﺘﻮﺍﺀ ﺍﻟﻼﺋﻖ ﺑﺎﻟﻠﻪ ﻭﺟﻼﻟﻪ ﻭﻋﻈﻤﺘﻪ ﻭﻫﻮ ﺍﻻﺳﺘﻴﻼﺀ ﺩﻭﻥ ﺍﻟﺠﻠﻮﺱ ﻭﻧﺤﻮﻩ ﻣﻤﺎ ﻻ ﻳﻜﻮﻥ ﺇﻻ ﻓﻲ ﺍﻷﺟﺴﺎﻡ.

Makna ucapan Imam Malik “istawa diketahui” adalah bahwa pikiran kita menuntun kita untuk istawa ‘yang layak bagi Allah Yang Mulia dan layak dengan keagungan-Nya yakni istiilaa’ (menguasai) dan bukan makna duduk atau sejenisnya yang tidak bisa kecuali untuk jisim (benda)
***** akhir kutipan *****

Jadi para ulama terdahulu mengatakan “makna istawa yang diketahui” sesuai dengan keagunganNya maksudnya makna istawa yang biasa DIKETAHUI dan DIGUNAKAN oleh masyarakat Arab dan layak bagi Allah, sesuai dengan keagungan-Nya yakni istiilaa’ (menguasai).

Contoh lainnya lafadz wajhu yang ARTINYA wajah, biasa DIKETAHUI dan DIGUNAKAN oleh masyarakat Arab dalam MAKNA MAJAZ (makna kiasan) untuk MENGUNGKAPKAN SOSOK seseorang demi MEMULIAKANNYA.

Contohnya mereka berkata: “jaa’a wajhul qoumi” , “telah datang wajah kaum”

Jadi kalau ulama terdahulu mengatakan “makna yang diketahui” sesuai dengan keagunganNya dari Wajhu (artinya wajah) bagi Allah Ta’ala adalah UNGKAPAN untuk sosok diri-Nya atau Dzat-Nya demi memuliakanNya.

Mereka keliru kalau menterjemahkan dan memahami seperti

“Allah MEMILIKI wajah, wajah yang sesuai dengan keagunganNya atau Allah MEMILIKI wajah namun wajahNya tidak serupa dengan wajah makhlukNya” .

Karena menurut para ulama hal ini sudah termasuk ‘AASHIN yakni DURHAKA atau MENGHINA Allah Ta’ala

Contohnya Syaikh Al-Akhthal dalam kitab ilmu tauhid berjudul “Hasyiyah ad-Dasuqi ‘alaUmmil Barahin” menjelaskan

***** awal kutipan *****
– Barangsiapa mengi’tiqadkan (meyakinkan) bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala mempunyai jisim (bentuk seperti tangan, kaki) sebagaimana jisim-jisim (bentuk tangan, kaki) makhlukNya, maka orang tersebut hukumnya kafir (orang yang kufur dalam i’tiqod)

– Barangsiapa mengi’tiqadkan (meyakinkan) bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala mempunyai jisim (bentuk seperti tangan, kaki) namun tidak serupa dengan jisim (bentuk tangan, kaki) makhlukNya, maka orang tersebut hukumnya ‘aashin atau orang yang telah berbuat durhaka kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.

– I’tiqad yang benar adalah i’tiqad yang menyatakan bahwa sesungguhnya Allah Subhanahu wa Ta’ala itu bukanlah seperti jisim dan bukan pula berupa sifat. Tidak ada yang dapat mengetahui Dzat Allah Subhanahu wa Ta’ala kecuali Dia.
***** akhir kutipan *****

Contoh mereka yang terjerumus DURHAKA atau MENGHINA Allah Ta’ala akibat METODE PEMAHAMAN mereka SELALU dengan MAKNA DZAHIR sehingga mengatakan bahwa Tuhan bertangan dua dan kedua-duanya kanan https://moslemsunnah.wordpress.com/2010/03/29/benarkah-kedua-tangan-allah-azza-wa-jalla-adalah-kanan/

Ironisnya tulisan ulama panutan mereka tersebut dinisbatkan sebagai pemahaman para Sahabat atau pemahaman Salafush Sholeh.

Jelas sekali apa yang mereka sampaikan BUKAN akidah atau PEMAHAMAN PARA SAHABAT (Salafush Sholeh) melainkan akidah atau PEMAHAMAN MEREKA SENDIRI menurut akal pikiran mereka sendiri terhadap nash atau dalil yang mereka baca.

Mereka secara terang-terangan melanggar larangan Allah yakni mereka mengikuti ayat-ayat mutasyabihat (selalu dengan makna dzahir) sehingga menimbulkan fitnah (Q.S. Al Imran [3] : 7)

Mereka memfitnah seolah-olah Rasulullah yang bersabda bahwa Tuhan BERTANGAN DUA dan KEDUA-DUANYA KANAN.

Padahal Rasulullah sudah menjelaskan bahwa yang dimaksud “kedua tangan-Nya adalah kanan” adalah “orang-orang yang berlaku adil dalam hukum, adil dalam keluarga dan adil dalam melaksanakan tugas yang dibebankan kepada mereka.” (HR Muslim 3406 atau Syarah Shahih Muslim 1827)

Jadi akibat pemahaman mereka selalu dengan makna dzahir sehingga mereka beribadah bukanlah kepada Allah Ta’ala namun mereka beribadah kepada sesuatu yang bertangan dua dan kedua-duanya kanan.

Ada DUA CARA atau PILIHAN dalam memahami ayat-ayat mutasyabihat (banyak makna) JIKA DIPAHAMI (dimaknai) dengan MAKNA DZAHIR akan terjerumus mensifatkan Allah dengan sifat yang tidak patut (layak) bagi Allah yakni,

PILIHAN atau CARA PERTAMA yang disodorkan oleh ulama khalaf (kemudian) dikarenakan pada masa mereka sudah berkembang ahli bid’ah yang mensifati Allah dengan sifat makhluk, maka mereka menafsirkan nash atau lafadz mutasyabihat tersebut dengan makna yang patut (layak) bagi Allah yang sesuai dengan KAIDAH-KAIDAH atau TATA BAHASA Arab itu sendiri karena “bacaan Al Qur’an dalam bahasa Arab” (QS Fush shilat [41]:3).

PILIHAN atau CARA KEDUA dan cocok bagi orang awam yang belum menguasai KAIDAH-KAIDAH atau TATA BAHASA Arab adalah kembali mengikuti cara yang dipilih oleh kebanyakan para Sahabat (Salafush Sholeh) dan ulama Salaf (terdahulu) yakni membiarkan khabar-khabar tersebut (ayat mutasyabihat) sebagaimana datangnya maksudnya MEMBIARKAN SEBAGAIMANA LAFADZnya dan MENYERAHKAN MAKNANYA kepada Allah Ta’ala.

Jadi boleh bagi orang awam hanya sampai lafadznya saja contohnya Yadullah atau sampai artinya saja yakni “Tangan Allah” dan menyerahkan maknanya kepada Allah

Ulama Hambali, Al-Imam al-Hafizh Ibn al Jawzi memberikan pedoman cara menghadapi AYAT-AYAT MUTASYABIHAT yakni AYAT-AYAT YANG MEMPUNYAI BANYAK MAKNA terkait sifat Allah yang ditetapkanNya.

Beliau berkata, “Sesungguhnya dasar teks-teks itu harus dipahami dalam makna dzahirnya jika itu dimungkinkan namun jika ada tuntutan (kebutuhan) takwil maksudnya jika dipahami dengan makna dzahir akan terjerumus mensifatkan Allah dengan sifat yang tidak layak (tidak patut) bagiNya maka berarti teks tersebut bukan dalam dzahirnya tetapi dalam makna majaz (metaforis atau makna kiasan)”.

Jadi mereka yang memahami ayat-ayat mutasyabihat menolak takwil dengan makna majaz (makna kiasan) adalah serupa dengan mereka yang berpendapat tanpa ilmu sehingga mereka sesat dan menyesatkan

Telah menceritakan kepada kami Isma’il bin Abu Uwais berkata, telah menceritakan kepadaku Malik dari Hisyam bin ‘Urwah dari bapaknya dari Abdullah bin ‘Amru bin Al ‘Ash berkata; aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: Sesungguhnya Allah tidaklah mencabut ilmu sekaligus mencabutnya dari hamba, akan tetapi Allah mencabut ilmu dengan cara mewafatkan para ulama hingga bila sudah tidak tersisa ulama maka manusia akan mengangkat pemimpin dari kalangan orang-orang bodoh, ketika mereka ditanya mereka berfatwa tanpa ilmu, mereka sesat dan menyesatkan (HR Bukhari 98)

Wassalam

Zon di Jonggol, Kabupaten Bogor 16830

Read Full Post »

Older Posts »