Feeds:
Pos
Komentar

Posts Tagged ‘menjadikan non muslim’

Penjaga dua tanah suci

 

Mereka mengatakan “percayalah Allah selalu menjaga Mekkah dan Madinah dari kerusakan tauhid” , maksudnya ulama-ulama mereka terjaga dari kesesatan karena tinggal di dua tanah suci bahkan menjadi pelayan dua tanah suci.

Tentulah Allah Azza wa Jalla menjaga dua tanah suci, namun manusia-manusia di sana tergantung ketaatannya kepada Allah Azza wa Jalla dan RasulNya, tidak ada jaminan mereka tidak tersesat.

Contohnya kaum muslim menunaikan ibadah haji, tidak ada jaminan semuanya akan menjadi haji yang mabrur, semua tergantung ketaatannya kepada Allah Azza wa Jalla dan RasulNya

Perhatikan bagaimana mereka menentang Allah Azza wa Jalla menjadikan Amerika yang merupakan representatif kaum Zionis Yahudi sebagai teman kepercayaan, penasehat, pelindung dan pemimpin.

Bahkan mereka menyusun kurikulum pendidikan agama bekerjasama dengan Amerika yang merupakan representatif kaum Zionis Yahudi, sebagaimana yang dapat diketahui dari tulisan pada https://mutiarazuhud.wordpress.com/2011/02/07/muslim-bukanlah-ekstrimis/

Firman Allah Azza wa Jalla, yang artinya,

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu ambil menjadi teman kepercayaanmu orang-orang yang, di luar kalanganmu (karena) mereka tidak henti-hentinya (menimbulkan) kemudharatan bagimu. Mereka menyukai apa yang menyusahkan kamu. Telah nyata kebencian dari mulut mereka, dan apa yang disembunyikan oleh hati mereka adalah lebih besar lagi. Sungguh telah Kami terangkan kepadamu ayat-ayat (Kami), jika kamu memahaminya” , (QS Ali Imran, 118)

Beginilah kamu, kamu menyukai mereka, padahal mereka tidak menyukai kamu, dan kamu beriman kepada kitab-kitab semuanya. Apabila mereka menjumpai kamu, mereka berkata “Kami beriman”, dan apabila mereka menyendiri, mereka menggigit ujung jari antaran marah bercampur benci terhadap kamu. Katakanlah (kepada mereka): “Matilah kamu karena kemarahanmu itu”. Sesungguhnya Allah mengetahui segala isi hati“. (QS Ali Imran, 119)

Tidakkah kamu perhatikan orang-orang yang menjadikan suatu kaum yang dimurkai Allah sebagai teman? Orang-orang itu bukan dari golongan kamu dan bukan (pula) dari golongan mereka. Dan mereka bersumpah untuk menguatkan kebohongan, sedang mereka mengetahui“. (QS Al Mujaadilah [58]:14 )

Mereka benar memperlakukan kaum kafir zimmi (terikat perjanjian) namun mereka dapat membunuh kaum muslim yang menurut prasangka mereka tidak bertauhid uluhiyah.

Informasi kekejaman mereka dahulu,  di dapat dari keturunan ulama-ulama yang sholeh, yang mendapatkan cerita dari kakek-kakek mereka ketika kakek mereka memiliki tanah dan pesantren di Madinah  atau Mekah.

Contohnya

http://www.aswaja-nu.com/2010/01/dialog-syaikh-al-syanqithi-vs-wahhabi_20.html

Kitapun dapat mengetahui dari ulama-ulama yang hidup pada abad 12 H yang hidup semasa dengan ulama Muhammad bin Abdul Wahhab.

Ulama madzhab Hanbali, al-Imam Muhammad bin Abdullah bin Humaid al-Najdi dalam kitabnya al-Suhub al-Wabilah ‘ala Dharaih al-Hanabilah ketika menulis biografi Syaikh Abdul Wahhab, ayah pendiri Wahhabi, menuliskan sebagai berikut: Demikian pula putra beliau, Syaikh Sulaiman (kakak Muhammad bin Abdul Wahhab), juga menentang terhadap dakwahnya dan membantahnya dengan bantahan yang baik berdasarkan ayat-ayat al-Qur’an dan hadits-hadits Nabi shallallahu alaihi wa sallam. Syaikh Sulaiman menamakan bantahannya dengan judul Fashl al-Khithab fi al-Radd ‘ala Muhammad bin Abdul Wahhab. Allah telah menyelamatkan Syaikh Sulaiman dari keburukan dan tipu daya adiknya meskipun ia sering melakukan serangan besar yang mengerikan terhadap orang-orang yang jauh darinya. Karena setiap ada orang yang menentangnya, dan membantahnya, lalu ia tidak mampu membunuhnya secara terang-terangan, maka ia akan mengirim orang yang akan menculik dari tempat tidurnya atau di pasar pada malam hari karena pendapatnya yang mengkafirkan dan menghalalkan membunuh orang yang menyelisihinya.” (Ibn Humaid al-Najdi, al-Suhub al-Wabilah ‘ala Dharaih al-Hanabilah, hal. 275). “

Ulama madzhab Hanafi, al-Imam Muhammad Amin Afandi yang populer dengan sebutan Ibn Abidin, juga berkata dalam kitabnya, Hasyiyah Radd al-Muhtar sebagai berikut: “Keterangan tentang pengikut Muhammad bin Abdul Wahhab, kaum Khawarij pada masa kita. Sebagaimana terjadi pada masa kita, pada pengikut Ibn Abdil Wahhab yang keluar dari Najd dan berupaya keras menguasai dua tanah suci. Mereka mengikuti madzhab Hanabilah. Akan tetapi mereka meyakini bahwa mereka saja kaum Muslimin, sedangkan orang yang berbeda dengan keyakinan mereka adalah orang-orang musyrik. Dan oleh sebab itu mereka menghalalkan membunuh Ahlussunnah dan para ulamanya sampai akhirnya Allah memecah kekuatan mereka, merusak negeri mereka dan dikuasai oleh tentara kaum Muslimin pada tahun 1233 H.” (Ibn Abidin, Hasyiyah Radd al-Muhtar ‘ala al-Durr al-Mukhtar, juz 4, hal. 262).

Ulama madzhab al-Maliki, al-Imam Ahmad bin Muhammad al-Shawi al-Maliki, ulama terkemuka abad 12 Hijriah dan semasa dengan pendiri Wahhabi, berkata dalam Hasyiyah ‘ala Tafsir al-Jalalain sebagai berikut: “Ayat ini turun mengenai orang-orang Khawarij, yaitu mereka yang mendistorsi penafsiran al-Qur’an dan Sunnah, dan oleh sebab itu mereka menghalalkan darah dan harta benda kaum Muslimin sebagaimana yang terjadi dewasa ini pada golongan mereka, yaitu kelompok di negeri Hijaz yang disebut dengan aliran Wahhabiyah, mereka menyangka bahwa mereka akan memperoleh sesuatu (manfaat), padahal merekalah orang-orang pendusta.” (Hasyiyah al-Shawi ‘ala Tafsir al-Jalalain, juz 3, hal. 307).

Akibat kekejaman mereka dahulu  maka ulama-ulama yang sholeh dari negeri kita yang bermukim di sana maupun ulama-ulama yang sholeh keturunan cucu Rasulullah shallallahu alaihi wasallam , hijrah meninggalkan dua tanah suci.

 

Wassalam

 

 

Zon di Jonggol, Kab Bogor 16830

Read Full Post »