Feeds:
Pos
Komentar

Posts Tagged ‘Mereka fatwakan’

sebelum turunnya wahyu

Mereka yang memfatwa Rasulullah sesat sebelum turunnya wahyu

Salah satu akibat mereka selalu berpegang pada nash secara dzahir atau pemahaman mereka selalu dengan makna dzahir sehingga mereka memfatwakan bahwa Rasulullah sesat dari kebenaran sebelum turunnya wahyu

Berikut kutipan contoh tulisan pengikut Wahabisme penerus kebid’ahan Ibnu Taimiyyah yang berguru atau mengambil pendapat dari orang-orang yang “kembali kepada Al Qur’an dan As Sunnah” bersandarkan mutholaah (menelaah kitab) secara otodidak (shahafi) dengan akal pikiran mereka sendiri dari sebuah blog pada http://mantankyainu.blogspot.com/2011/07/al-albani-mendakwa-nabi-muhammad-sesat.html

***** awal kutipan *****
Komentarku ( Mahrus ali )

وَوَجَدَكَ ضَالّاً فَهَدَى

93.7. Dan Dia mendapatimu sebagai seorang yang bingung , lalu Dia memberikan petunjuk.

Komentarku ( Mahrus ali )
Terjemahan seperti itu adalah kutipan dari tafsir depag, namun arti seperti itu tidak cocok dengan arti di kebanyakan tafsir para pakarnya . Arti sebenarnya dalam al quran dari kalimat Dhollan adalah sesat sebagaimana ayat :

قَالُوا رَبَّنَا غَلَبَتْ عَلَيْنَا شِقْوَتُنَا وَكُنَّا قَوْمًا ضَالِّينَ(106)

Mereka berkata: “Ya Tuhan kami, kami telah dikuasai oleh kejahatan kami, dan adalah kami orang-orang yang sesat. Al mu`minun 106 .

Di ayat lain di katakan :

إِنَّهُمْ أَلْفَوْا ءَابَاءَهُمْ ضَالِّينَ(69)

Karena sesungguhnya mereka mendapati bapak-bapak mereka dalam keadaan sesat. Soffat 69 .

Komentarku ( Mahrus ali )
Mengapa kalimat : ضَالِّينَ dalam dua ayat itu tidak di artikan bingung .
***** akhir kutipan *****

Tulisan tersebut sebagai pembelaan terhadap ulama panutannya yakni Al Albani yang memfatwakan bahwa Nabi Muhammad Shallallahu alaihi wasallam sebelum turunnya wahyu dalam keadaan sesat.

Berikut fatwa Albani selengkapnya, “Saya katakan kepada mereka yang bertawassul dengan wali dan orang sholeh bahwa saya tidak segan sama sekali menamakan dan menghukum mereka sebagai sesat sesat dari kebenaran, tidak ada masalah untuk menghukum mereka sebagai sesat dari kebenaran dan ini selaras dengan penghukuman Allah atas Nabi Muhammad sebagai sesat dari kebenaran sebelum turunnya wahyu”

Dalam tulisan di atas, meraka mengatasnamakan kebanyakan ahli tafsir telah menafsirkan “wa wajadaka dhollan fa hada” sebagai “dan Dia mendapatimu sebagai seorang yang sesat lalu Dia memberikan petunjuk”

Dhalal atau dhalalah. Ia merupakan mashdar (gerund) dari dhalla–yadhillu–dhalal[an] wa dhalalat[an]; maknanya di antaranya: ghaba wa khafa (tersembunyi), zahaba (pergi / lenyap), dha’a (sia-sia), halaka (rusak), nasiya (lupa), al-hayrah (bingung), dan khatha’a (keliru). (Lihat: ash-Shahib Ibn al-‘Ibad, al-Muhîth fî al-Lughah, bag. dhalla; Ibn Darid, Jumhurah al-Lughah, bag. dha-la-la; Al-Jawhari, ash-shihâh fî all-Lughah, bag. dhalala; Al-Fayruz Abadi, al-Qâmûs al-Muhîth, bag. adh-dhalâl; Zainuddin ar-Razi, Mukhtâr ash-Shihâh, bag. dhalala;; Abu al-Abbas al-Fayyumi, Mishbâh al-Munîr fî Gharîb Syarh al-Kabîr, bag. dhalala; Al-Jurjani, at-Ta’rifat, 1/44, bag adh-dhalâlah)

Tentang kesalahpahaman terhadap (QS Adh Dhuha [93] : 7), Prof Dr. Sayyid Muhammad Alawi al Maliki menyatakan di dalam bukunya al Zakhair al Muhammadiyyah,

***** awal kutipan *****
“ Ayat ini sering dieksploitasi oleh sebagian ahli fitnah yang buta basirah dan tertutup pintu hati sehingga mereka tidak dapat melihat hakikat kedudukan Nabi dan Rasul yang sebenar.

Mereka hanya melihat Nabi Muhammad shallallahu alaihi wasallam sebagai manusia biasa semata-mata yang berjalan di muka bumi, berjalan-jalan di pasar, memikul dosa, melakukan dosa dan kesalahan, pernah hidup dalam kesesatan lalu Allah Ta’ala memberi hidayah kepadanya, pernah hidup dalam kemiskinan lalu Allah memberikannya kekayaan dan dilahirkan dalam keadaan yatim lalu Allah memberi perlindungan kepadanya. Sehinggalah ke akhir perbicaraan yang hanya membangkitkan kekeliruan orang awam karena dia memahami nas-nas yang terdapat di dalam al Quran dan Sunnah secara dzahir”

Begitupula Al Allamah al Qadhi Iyadh menyatakan dalam kitabnya al Syifa bi Tarif Huquq al Mustafa, “Terdapat banyak khabar dan athar yang saling mendukung di antara satu sama lain yang mensucikan para nabi daripada kekurangan ini semenjak mereka dilahirkan dan mereka membesar di atas tauhid dan iman.” Beliau menambah lagi: “Tidak pernah seorang pun ahli hadis berpendapat bahwa seorang daripada mereka yang dipilih menjadi nabi daripada kalangan orang yang dikenali dengan kekufuran dan kesyirikannya sebelum itu.”

Oleh karena itu kita tidak pernah mendengar para nabi dan rasul terdahulu sebelumnya mereka mengikuti keyakinan yang sesat yang dianuti oleh kaum mereka.

Kemuliaan ini adalah terlebih utama dianugerahkan ke atas Rasulullah dan tiada satu sebab atau dalil yang menghalangi baginda daripada memperoleh nikmat dan keistimewaan itu karena baginda adalah penghulu segala nabi dan rasul.

Jangan sekali-kali kita berpaling kepada pendapat bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wasallam berada di atas agama kaumnya sebelum Nubuwwah, lalu Allah menghidayahkan Islam kepada baginda karena Nabi Muhammad Shallallahu alaihi wasallam dan para nabi yang lain sejak dilahirkan membesar atas ketauhidan dan keimanan. Sesungguhnya mereka terpelihara sebelum Nubuwwah daripada jahil tentang sifat-sifat Allah dan mentauhidkan-Nya.
***** akhir kutipan *****

Mereka tampaknya belum mengenal Rasulullah yang sejak dilahirkan membesar atas ketauhidan dan keimanaan, terperlihara (maksum) sejak sebelum Nubuwwah atau sejak sebelum turunya wahyu akibat mereka selalu berpegang pada nash secara dzahir atau pemahaman mereka selalu dengan makna dzahir.

Kita periksa kitab tafsir Jalalain yang lebih menonjolkan pembahasan mengenai penganalisaan segi susunan kalimat, asal usul katanya, dan bacaannya. Dengan kata lain, menonjolkan penganalisaan dari sudut tata bahasa Arab atau ilmu alat seperti nahwu, sharaf, balaghah dan lain lain.

Penafsirannya sebagai berikut, “(Dan Dia mendapatimu sebagai seorang yang bingung)” mengenai syariat yang harus kamu jalankan (lalu Dia memberi petunjuk) Dia menunjukimu kepadanya.

Asbabun Nuzul “Dan sungguh kelak Tuhanmu pasti memberikan karuniaNya kepadamu, sehingga engkau menjadi puas” (QS Adh Dhuhaa [93]:5)

Dari Ibnu Abbas ra, dari ayahnya dia berkata , “telah ditampakkkan kepada Rasulullah shallallahu alaihi wasallam sesuatu yang akan diberikan kepada umatnya tahap demi tahapan. Karena itu Rasulullah shallallahu alaihi wasallam merasa sangat gembira . Lalu turunlah ayat ini” (HR Hakim, Baihaqi, dan Thabarani)

Jadi tidak ada ahli tafsir (mufassir) yang mengatakan bahwa Rasulullah sesat dari kebenaran sebelum turunnya wahyu namun Rasulullah bingung dalam menghadapi kaumnya kemudian turun petunjuk atau wahyu dari Allah yang akan diberikan kepada umatnya tahap demi tahapan.

Allah Subhanahu wa Ta’ala menurunkan petunjukNya kepada Rasulullah yakni syarat-syarat bagi manusia untuk dapat menyaksikan Allah kembali yang dinamakan perkara syariat.

Pada hakikatnya semua manusia telah menyaksikan Allah ketika mereka belum lahir ke alam dunia, pada keadaan fitri , sebelum panca inderanya berfungsi.

Firman Allah Ta’ala yang artinya, “Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): “Bukankah Aku ini Tuhanmu?” Mereka menjawab: “Betul (Engkau Tuhan kami), kami menjadi saksi”. (QS- Al A’raf 7:172)

Setelah manusia terlahir ke alam dunia , maka mereka lupa akan kesaksian atau penyaksian terhadap Allah.

Hakikat kata insan (manusia) adalah nasiya , nis yan, tidak tahu, lupa.

Fitrah manusia adalah bertuhan, mencari Allah, ingin kembali menyaksikan Allah.

Syarat untuk dapat menyaksikan Allah Ta’ala kembali adalah fitri, suci sebagaimana sebelum manusia lahir ke dunia

Manusia terhalang atau menghijabi dirinya sehingga tidak dapat menyaksikan Allah dengan hatinya adalah karena dosa mereka.

Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda, “Seandainya bukan karena setan menyelimuti jiwa anak cucu Adam, niscaya mereka menyaksikan malaikat di langit” (HR Ahmad)

Tidak semua manusia dapat menggunakan hatinya

Orang kafir itu tertutup dari cahaya hidayah oleh kegelapan sesat.
Ahli maksiat tertutup dari cahaya taqwa oleh kegelapan alpa
Ahli Ibadah tertutup dari cahaya taufiq dan pertolongan Allah Ta’ala oleh kegelapan memandang ibadahnya

Setiap dosa merupakan bintik hitam hati, sedangkan setiap kebaikan adalah bintik cahaya pada hati. Ketika bintik hitam memenuhi hati sehingga terhalang (terhijab) dari menyaksikan Allah. Inilah yang dinamakan buta mata hati.

Firman Allah Ta’ala yang artinya,

shummun bukmun ‘umyun fahum laa yarji’uuna , “mereka tuli, bisu dan buta (tidak dapat menerima kebenaran), maka tidaklah mereka akan kembali (ke jalan yang benar)” (QS Al BAqarah [2]:18)

shummun bukmun ‘umyun fahum laa ya’qiluuna , “mereka tuli (tidak dapat menerima panggilan/seruan), bisu dan buta, maka (oleh sebab itu) mereka tidak mengerti. (QS Al Baqarah [2]:171)

“maka apakah mereka tidak berjalan di muka bumi, lalu mereka mempunyai hati yang dengan itu mereka dapat memahami atau mempunyai telinga yang dengan itu mereka dapat mendengar? Karena sesungguhnya bukanlah mata itu yang buta, tetapi yang buta, ialah hati yang di dalam dada.” (al Hajj 22 : 46)

“Dan barangsiapa yang buta (hatinya) di dunia ini, niscaya di akhirat (nanti) ia akan lebih buta (pula) dan lebih tersesat dari jalan (yang benar).” (QS Al Isra 17 : 72)

Para ulama Allah mengatakan bahwa hijab itu meliputi antara lain nafsu hijab, dosa hijab, hubbub al-dunya hijab, cara pandang terhadap fiqh yang terlalu formalistik juga hijab, terjebaknya orang dalam kenikmatan ladzatul ‘ibadah, sampai karomah juga bisa menjadi hijab, dll. Salah satu bentuk nafsu hijab terbesar itu justru kesombongan, karena sombong itu, membuat, manusia hanya melihat dirinya. Kita bisa bayangkan, kalau keadaan batin itu hanya melihat dirinya sendiri, orang lain tidak kelihatan, bagaimana dia bisa menyaksikan Allah dengan hatinya (ain bashiroh).

Ubadah bin as-shamit ra. berkata, bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wasallam berkata: “Seutama-utama iman seseorang, jika ia telah mengetahui (menyaksikan) bahwa Allah selalu bersamanya, di mana pun ia berada“

Rasulullah shallallahu alaihi wasallm bersabda “Iman paling afdol ialah apabila kamu mengetahui bahwa Allah selalu menyertaimu dimanapun kamu berada“. (HR. Ath Thobari)

Imam Sayyidina Ali r.a. pernah ditanya oleh seorang sahabatnya bernama Zi’lib Al-Yamani, “Apakah Anda pernah melihat Tuhan?” Beliau menjawab, “Bagaimana saya menyembah yang tidak pernah saya lihat?” “Bagaimana Anda melihat-Nya?” tanyanya kembali. Sayyidina Ali ra menjawab “Dia tak bisa dilihat oleh mata dengan pandangan manusia yang kasat, tetapi bisa dilihat oleh hati”

Muslim yang menyaksikan Allah Ta’ala dengan hati (ain bashiroh) atau muslim yang bermakrifat adalah muslim yang selalu meyakini kehadiranNya, selalu sadar dan ingat kepadaNya.

Imam Qusyairi mengatakan “Asy-Syahid untuk menunjukkan sesuatu yang hadir dalam hati, yaitu sesuatu yang membuatnya selalu sadar dan ingat, sehingga seakan-akan pemilik hati tersebut senantiasa melihat dan menyaksikan-Nya, sekalipun Dia tidak tampak. Setiap apa yang membuat ingatannya menguasai hati seseorang maka dia adalah seorang syahid (penyaksi)”

Lalu dia bertanya lagi, ‘Wahai Rasulullah, apakah ihsan itu? ‘ Beliau menjawab, ‘Kamu takut (khasyyah) kepada Allah seakan-akan kamu melihat-Nya (bermakrifat), maka jika kamu tidak melihat-Nya (bermakrifat) maka sesungguhnya Dia melihatmu.” (HR Muslim 11)

Firman Allah Ta’ala yang artinya “Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah ulama” (QS Al Faathir [35]:28)

Muslim yang takut kepada Allah karena mereka selalu yakin diawasi oleh Allah Azza wa Jalla atau mereka yang selalu menyaksikan Allah dengan hatinya (ain bashiroh), setiap akan bersikap atau berbuat sehingga mencegah dirinya dari melakukan sesuatu yang dibenciNya , menghindari perbuatan maksiat, menghindari perbuatan keji dan mungkar sehingga terbentuklah muslim yang berakhlakul karimah atau muslim yang sholeh atau muslim yang ihsan.

Jadi syarat untuk dapat menyaksikan Allah Ta’ala kembali adalah berakhlak baik atau berakhlakul karimah.

Allah Azza wa Jalla menciptakan tauladan bagi manusia pada diri Rasulullah shallallahu alaihi wasallam.

Firman Allah Ta’ala yang artinya,

“Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri tauladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan Dia banyak menyebut Allah”. (QS Al-Ahzab:21)

“Sungguh dalam dirimu terdapat akhlak yang mulia”. (QS Al-Qalam:4)

Beliau sejak kecil dikenal berakhlak baik, jujur, amanah , dapat dipercaya dan sifat-sifat baik lainnya ditengah-tengah masyarakat jahiliyah.

Jadi hal yang dimaksud “seorang yang bingung” adalah kebingungan – kehilangan arah sehingga memperoleh kebenaran mutlak (al-Haqiqah al-Muthlaqah) , kebenaran yang tidak bisa dicapai oleh akal pikiran, atau kebenaran yang bukan berasal dari akal alias diwahyukan oleh Allah Azza wa Jalla kepada Rasulullah shallallahu alaihi wasallam sebagai jalan untuk memimpin ummat (masyarakat jahiliyah yang tidak berakhlak baik atau terjangkiti penyakit moral – minum-minuman keras, membunuh, mencuri, main judi, makan riba, main perempuan) untuk dapat kembali menyaksikan Allah , menuju kebaikan di dunia dan keselamatan di akhirat.

Fitrahnya untuk menyaksikan Allah menghantarkan Rasulullah untuk berkhalwat (mengasingkan diri dari keramaian) dan bertahanuts (perenungan/kontemplas dirii) di gua hira untuk mencari solusi mengatasi kerumitan masyarakat jahiliyah.

Pada akhirnya Allah Subhanahu wa Ta’ala berkenan menurunkan kepadanya wahyu Al-Quran. Yang berisi perintah dan laranganNya atau perkara syariat agar manusia dapat meneladani manusia paling mulia yakni Sayyidina Muhammad Rasulullah shallallahu alaihi wasallam sehingga menjadi muslim yang ihsan atau muslim yang berakhlakul karimah.

Allah Subhanahu wa Ta’ala memberi petunjuk kepada manusia untuk dapat menyaksikanNya kembali dimulai dengan menyaksikan Allah secara lisan yang dikenal dengan syahadat

Seluruh umat manusia setelah Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam diutus oleh Allah Ta’ala maka wajib bagi seluruh manusia mengakui kenabiannya, karena sesungguhnya berita kedatangan Nabi Muhammad shallallahu ’alaihi wassalam telah disampaikan pada kitab-kitab Allah sebelumnya.

Firman Allah Ta’ala yang artinya, “Orang-orang (Yahudi dan Nasrani) yang telah Kami beri Al Kitab (Taurat dan Injil) mengenal Muhammad seperti mereka mengenal anak-anaknya sendiri. Dan sesungguhnya sebahagian diantara mereka menyembunyikan kebenaran, padahal mereka mengetahui.” ( QS Al Baqarah [2]:146 )

Katakanlah:”Hai Ahli Kitab, kamu tidak dipandang beragama sedikitpun hingga kamu menegakkan ajaran-ajaran Taurat, Injil, dan Al Qur’an yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu“. (QS Al Maa’idah [5]:68 )

“Sekiranya Ahli Kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka..” (QS.Ali Imran [3] : 110)

Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda, “ Demi Allah, yang diriku ada dalam genggaman tanganNya, tidaklah mendengar dari hal aku ini seseorangpun dari ummat sekarang ini, Yahudi, dan tidak pula Nasrani, kemudian tidak mereka mau beriman kepadaku, melainkan masuklah dia ke dalam neraka.”

Hamad bin Salamah meriwayatkan dari Adi bin Hatim, dia berkata, “Saya bertanya kepada Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam ihwal ‘bukan jalannya orang-orang yang dimurkai’. Beliau bersabda, “Yaitu kaum Yahudi.’ Dan bertanya ihwal ‘bukan pula jalannya orang-orang yang sesat’. “Beliau bersabda, ‘Kaum Nasrani adalah orang-orang yang sesat.’

Jadi anak manusia dikatakan berada pada “on track” (jalur) untuk dapat kembali menyaksikan Allah adalah setelah mereka mengucapkan syahadat.

Firman Allah Ta’ala yang artinya
“Dan (ingatlah), ketika Allah mengambil perjanjian dari para nabi: “Sungguh, apa saja yang Aku berikan kepadamu berupa kitab dan hikmah kemudian datang kepadamu seorang rasul yang membenarkan apa yang ada padamu, niscaya kamu akan sungguh-sungguh beriman kepadanya dan menolongnya”. Allah berfirman: “Apakah kamu mengakui dan menerima perjanjian-Ku terhadap yang demikian itu?” Mereka menjawab: “Kami mengakui”. Allah berfirman: “Kalau begitu saksikanlah (hai para nabi) dan Aku menjadi saksi (pula) bersama kamu“. ( QS Ali Imran [3]:81 )

Sayyidina Ali bin Abi Thalib kw. berkata: ‘Setiap kali Allah Subhanahu wa Ta’ala mengutus seorang nabi, mulai dari Nabi Adam sampai seterusnya, maka kepada nabi-nabi itu Allah Subhanahu wa Ta’ala menuntut janji setia mereka bahwa jika nanti Rasulallah Subhanahu wa Ta’ala diutus, mereka akan beriman padanya, membelanya dan mengambil janji setia dari kaumnya untuk melakukan hal yang sama’.

Dalam kitabnya, Al-Hawi lil Fatawi,as-Suyuthi mengisahkan, “Sesungguhnya Adam alaihissalam telah melihat disetiap tempat di surga, pada gedung gedungnya, dikamar kamarnya, dileher leher bidadari, di daun Thuba, di daun daun pepohonan Sidratil Muntaha, di ujung ujung benteng, dan disetiap dahi para malaikat, nama Muhammad shallallahu alaihi wasallam senantiasa berdampingan dengan asma Allah, yaitu pada kalimat “Laa ilaaha illallah Muhammadur Rasulullah.”

Suatu saat, Allah meletakkan nur Muhammad itu pada punggung (sulbi) Adam alaihissalam. “Kemudian Allah meletakkan nur Muhammad dalam punggungnya (Adam alaihissalam), sehingga para malaikat bersujud dan berbaris rapi dibelakang Adam, serta menghaturkan salam kepada nur Muhammad,” demikian as-Suyuthi mengisahkan.

Dengan demikian, sebagaimana Ibn Marzuqi mengomentari hal ini, secara lahiriyah Nabi Adam adalah perantara adanya nur Muhammad pada diri manusia. Sementara itu Imam Fakhruddin Al-Razi menjelaskan dalam kitab tafsirnya bahwa para malaikat diperintahkan bersujud kepada Adam karena didalam diri Adam terdapat nur Muhammad, dan diperintah bersujud itu adalah sebagai penghormatan kepada Nabi Muhammad, sebagaimana juga hal itu dijelaskan oleh Al-Imam Sahl bin Muhammad , yang dikutip oleh An-Nabhani dalam Al-Anwar Al-Muhammadiyah.

Syaikh Nawawi al-Bantani dalam kitab Madarijush Shu’ud mengisahkan , para malaikat senantiasa berbaris rapi dibelakang punggung Adam, ia heran dengan perbuatan para malaikat itu dan bertanya kepada Allah, “Ya Allah, kenapa para malaikat senantiasa berbaris dibelakangku?”

Allah menjawab, “Wahai Adam, ketahuilah olehmu bahwa para malaikat Ku senantiasa berdiri dibelakangmu karena memandang kepada nur kekasih Ku, Nabi Akhir Zaman, Muhammad Shallallahu alaihi wasallam”

Adam alaihissalam pun memohon kepada Allah kiranya nur itu diletakkan didepan nya, agar ia dapat berhadapan dengan para malaikat.

Maka Allah pun meletakkan nur itu di dahinya.

Kala itu Allah memerintahkan Iblis agar sujud kepada Nabi Adam alaihissalam, namun ia membangkang kerena kesombonganya, sebagaimana disebutkan dalam firman Allah surat Al-Baqarah ayat 34, “Dan (ingatlah) ketika Kami berfirman kepada para malaikat, ‘Sujudlah kalian kepada Adam’, maka sujudlah mereka semua kecuali Iblis. Ia enggan dan takabur, dan sesungguhnya ia termasuk golongan yang kafir.”

Membicarakan nur Muhammad tak terlepas dari sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Abdurrazzaq bin Umar bin Muslim ad-Dimasyqi ash-Shan’ani (126-211 H/744-826 M), yang menceritakan kala sahabat Jabir bin Abdullah Al-Anshari RA bertanya kepada Rasulullah, “Demi ayah dan ibuku, ya Rasulullah, beritahukan lah kepadaku sesuatu yang pertama kali dicilptakan Allah sebelum yang lainnya.”

Maka jawab Rasulullah, “Wahai Jabir, sesungguhnya Allah telah menciptakan nur nabimu, Muhammad, dari nur-Nya, sebelum Dia menciptakan segala sesuatu.”

Sebagaimana yang dikemukakan Syaikh Yusuf bin Ismail An-Nabhani dalam kitab Al-Anwar al-Muhammadiyyah, konsep Nur Muhammad itu memiliki dua sisi. Sisi pertama yaitu sebagai konsep makhluk yang pertama diciptakan, kemudian segala sesuatu tercipta darinya. Sisi kedua dari sisi hakikat nur Muhammad yang Allah letakkan pada diri Nabi Adam alaihissalam, kemudian berpindah kepada Siti Hawa, lalu kepada putranya, Syits alaihissalam, dan terus berpindah pindah kepada para nabi dan orang orang suci yang tak lain adalah para leluhur Nabi Muhammad Shallallahu alaihi wasallam.

Mengutip dari kelanjutan hadits diatas, desebutkan bahwasannya kemudian nur itu beredar “haitsu sya Allah”, dengan ketentuan yang dikehendaki Allah, saat itu, tidak ada sesuatu apapun lainnya yang ada. Tidak lauhil mahfuzh, al-qalam, surga dan neraka, para malaikat, tidak pula langit ataupun bumi. Tiada pula matahari, rembulan, bintang, jin, ataupun manusia. Belum ada sesuatu pun yang diciptakan, kecuali nur ini. Kemudian Allah dengan iradat-Nya, menghendaki adanya ciptaan.

Nur Muhammad itu sedemikian agung. Hingga disebutkan, bila bukan karena Nabi Muhammad shallallahu alaihi wasallam, Allah tak akan menciptakan segala sesuatu. Sebagaimana yang disebutkan dalam sebuah hadits qudsi, “Kalau bukan karena engkau (Wahai Muhammad), sungguh Aku tak akan menciptakan alam semesta.”

Imam Suyuthi, dalam kitab Ad-Durarul Hisan fil Ba’tsi wa Na’imil Jinan Hamisy Daqa’iqul Akhbar, menuturkan bahwasanya nur Muhammad itu senantiasa bertasbih kepada Allah dengan diikuti oleh para malaikat dan arwah dialam malakut, puluhan ribu tahun sebelum wujudnya Adam alaihissalam.

Hal senada juga desebutkan oleh Ad-Diba’i dalam kitab Maulid-nya dengan mengutip sebuah hadits yang diriwayatkan Abdullah bin Abbas Ra.

Nur Muhammad dan sosok Muhammad Shallallahu alaihi wasallam itu sendiri merupakan kesinambungan yang tak terpisahkan. Kedudukan nya sebagai seorang nabi telah ditahbiskan jauh hari sebelum kelahirannya. Syaikh Al-Barzanji melukiskannya dengan ungkapan “Beliau adalah nabi terakhir dalam wujud, namun nabi pertama secara maknawi”.

Ungkapan itu sejalan dengan sebuah hadits yang dicantumkan oleh as-Suyuthi dalam Jami’ ash-Shagir –nya dan Habib Ali bin Muhammad Al-Habsy dalam kitab Maulid-nya Simthud Durar, “Aku adalah nabi yang pertama dalam hal penciptaan, tapi yang terakhir dalam hal kebangkitan.”

Sementara itu pada kitab Adh-Dhiyaullami’ , Habib Umar bin Hafidz menampilkannya dalam sebuah dialog saat Rasulullah ditanya, “Sejak kapankah kenabianmu?”

Rasulullah shallallahu alaihi wasallam menjawab, “Kenabianku sejak Adam masih berupa air dan tanah.” Dalam sebuah riwayat yang disebutkan as-Suyuthi, “…sejak Adam masih diantara ruh dan jasad.”

Kemudian, Allah menciptakan Adam alaihissalam, manusia yang pertama kali ada dan menjadi nenek moyang seluruh umat manusia. Karenanya, ia dijuluki Abul Basyar (Bapak umat manusia). Namun Allah selalu memanggilnya dengan panggilan “Abu Muhammad”.

Lebih terperinci, Syaikh Ahmad Zaini Dahlan mengisahkannya dalam kitab as-Sirah An-Nabawiyah, “Bahwa sesungguhnya, setelah menciptakan Adam, Allah mengilhami Adam untuk bertanya kepada-Nya: Ya Allah, kenapa Engkau memanggilku dengan ‘Abu Muhammad?”

Maka Allah berfirman: Wahai Adam, angkatlah kepalamu.

Adam pun mengangkat kepalanya. Seketika itu Adam melihat nur Muhammad meliputi sekitar ‘Arsy. Kemudian Adam bertanya: Ya Allah, cahaya siapa ini”

Allah berfirman: ini adalah cahaya seorang nabi dari keturunanmu, di langit namanya Ahmad, di bumi namanya Muhammad. Kalau bukan karenanya, niscaya Aku tak akan menciptakanmu, langit, dan bumi,”

Nabi Muhammad shallallahu alaihi wasallam adalah sebagai nabi pertama dan terakhir.

Ia disebut sebagai nabi pertama dalam arti bapaknya para ruh (abu al-warh al-wahidah), nabi terakhir karena memang ia sebagai khatam an-nubuwwah wa al-mursalin. Sedangkan, Nabi Adam alaihissalam dikenang sebagai bapak biologis atau bapak dari jasad (abu al-jasad).

Jadi hal yang harus kita ingat selalu bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wasallam dan para nabi yang lain sejak dilahirkan membesar atas ketauhidan dan keimanan, selalu terpelihara (maksum) walaupun belum turunnya wahyu.

Begitupula terkait kedua orang tua Rasulullah, As Suyuthi menjelaskan bahwa beberapa hadits dengan redaksi (matan) berbeda namun intinya sama menjelaskan bahwa orang tua dan kakek-nenek Nabi shallallahu alaihi wasallam suci dari kotoran syirik dan kekafiran, tidak ada di antara mereka yang kafir karena orang kafir tidak laik disebut manusia terbaik, suci atau bersih, orang kafir disebut najis.

Allah Ta’ala berfirman yang artinya, “Hai oran-orang yang beriman, sesungguhnya, orang-orang yang musyrik itu najis (QS At Taubah : 28)

Ibnu Hajar Al Makki menjelaskan, hadits-hadits secara redaksi dan inti dengan tegas menjelaskan bahwa kakek nenek Nabi shallallahu alaihi wasallam sampai ke Adam alaihissalam adalah manusia-manusia terbaik dan mulia. Orang kafir tidak bisa disebut manusia terbaik, mulia ataupun suci tapi najis.

Seperti itulah Allah Subhanahu wa Ta’ala membersihkan RasulNya dengan menjaganya di balik tulang-tulang punggung dan rahim-rahim suci, seperti itu juga saat masih kecil, beranjak remaja hingga dewasa Allah Subhanahu wa Ta’ala menyucikannya dengan kenabian.

Rasulullah bersabda, Allah telah memindahkan aku dari sulbi-sulbinya para lelaki yang suci ke dalam rahim wanita-wanita yang suci yang tidak mencemariku sama sekali noda-noda jahiliah yaitu syirik dan menyembah berhala

Rasulullah bersabda, Aku senantiasa dipindahkan dari sulbi-sulbi laki-laki yang suci ke dalam rahim-rahim wanita-wanita yang suci.

Rasulullah juga bersabda “ Allah Subahanhu wa Ta’ala menempatkanku di kelompok yang terbaik lalu aku terlahir di antara kedua orang tuaku, aku tidak pernah tersentuh oleh perzinahan jahiliyah, aku terlahir dari pernikahan bukan perzinahan sejak Nabi Adam hingga sampai pada ayah dan ibuku, karena itu aku adalah yang terbaik nasab dan ayahnya di antara kalian”

Ibnu Abbas berkata, “Di antara Adam dan Nuh bersela sepuluh abad, mereka semua berada di atas syariat Allah Subhanahu wa Ta’ala, setelah itu mereka berselisih lalu Allah Subhanahu wa Ta’ala mengutus para Nabi”

As- Suyuthi dalam Al-Hawi dan Ibnu Abi Hatim dalam tafsirnya menyebutkan, antara Nabi shallallahu alaihi wasallam dan Adam alaihissalam terdapat empat puluh sembilan keturunan”

Firman Allah Ta’ala yang artinya, “dan Kami jadikan anak cucunya orang-orang yang melanjutkan keturunan” (QS Ash Shaffat : 77)

Selanjutnya As-Suyuthi menyebutkan serangkain atsar yang secara keseluruhan bisa diketahui bahwa keturunan Nabi shallallahu alaihi wasallam mulai dari Nabi Adam alaihissalam semuanya beriman, selanjutnya tauhid terus berlanjut pada keturunan Ibrahim dan Ismail alahissalam.

Sedangkan pengikut Wahabisme penerus kebid’ahan Ibnu Taimiyyah yakni Khalid Basalamah dalam sebuah video yang dipublikasikan pada http://www.youtube.com/watch?v=4FIZCE3Tmx8

Pada menit ke 37:20 Khalid Basalamah ketika menjawab pertanyaan “apakah Ayah dan Ibu Nabi shallallahu alaihi wasallam termasuk orang kafir ?”

Beliau menjawab “Ya, Ayah dan Ibu Nabi shallallahu alaihi wasallam meninggal dalam keadaan menyembah berhala”

Pernyataan tersebut adalah sebuah kedustaan karena Rasulullah shallallahu alaihi wasallam tidak pernah bersabda bahwa Ayah dan Ibunya menyembah berhala.

Begitupula mereka mengutip pendapat Imam Nawawi sebagai berikut

Imam Nawawi rahimahullah berkata: ”Makna hadits ini adalah bahwa barangsiapa yang mati dalam keadaan kafir, ia kelak berada di neraka dan tidak berguna baginya kedekatan kerabat. Begitu juga orang yang mati pada masa fatrah dari kalangan orang Arab penyembah berhala, maka ia berada di Neraka. Ini tidak menafikan penyampaian dakwah kepada mereka, karena sudah sampai kepada mereka dakwah nabi Ibrahim Alaihissalam dan yang lainnya.”

Pendapat Imam Nawawi tersebut adalah pendapat terhadap orang tua si penanya bahwa “tidak menafikan penyampaian dakwah kepada mereka, karena sudah sampai kepada mereka dakwah nabi Ibrahim Alaihissalam dan yang lainnya bahwa orang yang mati pada masa fatrah jika menyembah berhala maka ia berada di neraka”

Sedangkan orang tua Nabi pada masa fatrah dan tidak pula menyembah berhala.

Allah Subhanahu wa Ta’ala juga menuturkan doa Nabi Ibrahim yang artinya, “Ya Tuhanku, jadikanlah negeri ini (Mekah), negeri yang aman, dan jauhkanlah aku beserta anak cucuku, daripada menyembah berhala-berhala” (QS Ibrahim : 35)

Ibnu Mundzir meriwayatkan dalam tafsirnya dengan sanad shahih dari Ibnu Jarir tentang firman Allah Subhanahu wa Ta’ala yang artinya, “Ya Tuhanku, jadikanlah aku dan anak cucuku, orang-orang yang tetap mendirikan shalat, ya Tuhan kami, perkenankanlah doaku” (QS Ibrahim : 40)

Ibnu Jarir berkata, “Di antara keturunan Ibrahim alaihissalam terdapat sekelompok manusia yang senantiasa berada di atas fitrah, selalu menyembah Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Mengingat di antara keturunan Nabi Ismail ada yang menyembah berhala berarti jelas bahwa Nabi Ibrahim dalam doanya mengkhususkan sekelompok manusia di antara keturunannya senantiasa berada di atas fitrah, tetap berpegangan pada agama yang tidak lenyap meski waktu berganti hingga Allah Subhanahu wa Ta’ala mengutus RasulNya, Muhammad shallallahu alaihi wasallam.

Jadi kedua orang tua Rasulullah shallallahu alaihi wasallam sampai kepada Nabi Adam alaihissalam senantiasa terjaga oleh Allah Azza wa Jalla, senantiasa berada di atas fitrah, selalu menyembah Allah Subhanahu wa Ta’ala walaupun pada masa fatrah (masa kosong dari kenabian).

Berikut riwayat yang menginformasikan bagaimana Ibunda Rasulullah Sayyidah Aminah terjaga dari kekufuran sebagimana contoh informasi dari http://www.facebook.com/note.php?note_id=189857864382154

***** awal kutipan *****
Diriwayatkan oleh Ibn Saad dan Baihaqi dari Ibn Ishak, dia berkata: “Aku mendengar bahwa di saat Aminah hamil, ia berkata: Aku tidak merasa bahwa aku hamil dan aku tidak merasa berat sebagaimana dirasakan oleh wanita hamil lainnya, hanya saja aku tidak merasa haid dan ada seseorang yang datang kepadaku. Apakah engkau merasa hamil? Aku menjawab: Tidak tahu. Kemudian orang itu berkata: Sesungguhnya engkau telah mengandung seorang pemuka dan Nabi dari umat ini, dan hal itu pada hari Senin, dan tandanya dia akan keluar bersama cahaya yang memenuhi istana Basrah di negeri Syam, apabila sudah lahir berilah nama Muhammad?

Aminah berkata: “Itulah yang membuatku yakin kalau aku telah hamil. Kemudian aku tidak menghiraukannya lagi hingga di saat masa melahirkan dekat, dia datang lagi dan mengatakan kata-kata yang pernah aku utarakan? Aku memohon perlindungan untuknya kepada Dzat yang Maha Esa dari kejelekan orang yang dengki?”

“Kemudian aku menceritakan semua itu kepada para wanita keluargaku, mereka berkata: Gantunglah besi di lengan dan lehermu? Kemudian aku mengerjakan perintah mereka, tidak lama besi itu putus dan setelah itu aku tidak memakainya lagi.”
****** akhir kutipan ******

“Besi itu putus” adalah salah satu bentuk penjagaan dari Allah Azza wa Jalla agar Sayyidah Aminah terhindar dari kekufuran.

Dalam riwayat tersebut Sayyidah Aminah memohon perlindungan hanya kepada Dzat yang Maha Esa.

Jadi dapat kita simpulkan bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wasallam senantiasa terjaga dari kesalahan (maksum) sejak dari lahir sedangkan selain Rasulullah termasuk kedua orang tua Beliau dan siapapun yang dikehendaki oleh Allah seperti para kekasih Allah (wali Allah) bentuk penjagaan Allah dinamakan dengan ishmah.

Al-Hakim al-Tirmidzi (205-320H/ 820-935M) menyakini adanya tiga peringkat ‘ishmah, yakni ‘ishmah al-anbiya (‘ishmah Nabi), ‘ishmah al-awliya (‘ishmah para wali), ‘ishmah al-’ammah (‘ishmah kaum beriman pada umumnya).

Bagi umumnya orang-orang beriman ‘ishmah berarti terpelihara dari kekufuran dan terus menerus berbuat dosa; sedangkan bagi al-awliya (para wali Allah) ‘ishmah berarti mahfudz (terjaga) dari kesalahan sesuai dengan derajat, jenjang, dan maqamat mereka.Mereka mendapatkan ‘ishmah sesuai dengan peringkat kewaliannya.

Jadi jika Allah telah mencintai hambaNya maka akan terpelihara (terhindar) dari dosa atau jikapun mereka berbuat kesalahan maka akan diberi kesempatan untuk menyadari kesalahan mereka ketika masih di dunia.

Sedangkan ulama su’ (ulama yang buruk) adalah mereka yang tidak menyadarinya atau tidak disadarkan oleh Allah Azza wa Jalla atas kesalahannya atau kesalahpahamannya sehingga mereka menyadarinya di akhirat kelak.

As-Suyuthi menjelaskan bahwa redaksi (matan) hadits “Sungguh bapakku dan bapakmu berada di neraka” tidak disepakati oleh para perawi.

Redaksi (matan) tersebut hanya disebut oleh Hammad bin Salamah dari Tsabit dari Anas.

Masih ada redaksi (matan) lainnya seperti yang disampaikan oleh Thabarani dan Baihaqi, riwayat dari Ibrahim bin Sa’ad Az-Zuhri dari Amir bin Sa’ad dari ayahnya ketika Rasulullah menjawab pertanyaan si Badui, “Lantas bapakmu di mana” dan Rasulullah menjawab, “saat kau melintasi makam orang kafir, sampaikan kabar gembira neraka kepadanya”

Thabrani dan Baihaqi memberi tambahan di akhir hadits, “Si Badui kemudian masuk Islam, setelah itu kemudian berkata, Rasulullah shallallahu alaihi wasallam memerintahkan suatu hal berat padaku; sehingga tidaklah aku melintasi makam orang kafir melainkan aku sampaikan berita gembira neraka padanya”.

Oleh karenannya matan (redaksi) yang disampaikan oleh Thabrani dan Baihaqi sebaiknya dijadikan pedoman dan lebih diprioritaskan dari yang lain karena tidak bertentangan dengan Al Qur’an dan sabda Rasulullah lainnya.

Adapula yang menyampaikan dari kitab tafsir Ibnu Katsir dan Thabari tentang turunnya surat Al Baqaroh ayat 119 adalah untuk ayah dan ibu Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam sebagaimana yang diriwayatkan oleh Imam Thobari:

. أخبرنا الثوري ، عن موسى بن عبيدة ، عن محمد بن كعب القرظي ، قال : قال رسول الله صلى الله عليه وسلم : ” ليت شعري ما فعل أبواي ، ليت شعري ما فعل أبواي ; فنزلت إنا أرسلناك بالحق بشيرا ونذيرا ولا تسأل عن أصحاب الجحيم[Jami’ul Bayan Tafsir Thobari hal.748 Jilid 1]

Adalah riwayat mursal yang sangat dho’if. Ulama telah berijma’ akan jatuhnya sanadnya dan tidak dapat dijadikan hujjah. Yang pasti, telah ijma’ ayat ini turun untuk orang-orang kafir daripada ahlul kitab.(‘Ismatun Nabi Zaki Ibrahim hal.96 )

Hal yang perlu kita ingat bahwa Ibnu Katsir maupun Thabari dalam membuat kitab tafsir memilih metodologi tafsir bil matsur. Kitab tafsir yang mempergunakan metodologi tafsir bil matsur bukanlah kitab yang memuat hasil ijtihad dan istinbat melainkan penafsiran sebatas menyampaikan ayat Al Qur’an dan Hadits yang terkait dengan ayat yang ditafsirkan.

Prof, DR Ali Jum’ah menjelaskan bahwa dalam hadits “Saya minta kepada Allah untuk diampuni dosa nya namun tidak diizinkan” tidak ada keterangan yang jelas bahwa ibu Rasulullah shallallahu alaihi wasallam berada di neraka. Tidak dizinkannya Rasulullah shallallahu alaihi wasallam untuk memintakan ampunan bagi ibunya tidak menunjukkan bahwa ia seorang musyrik. Jika tidak, tentu Rabb-nya tidak akan mengizinkan Beliau untuk menziarahi makam ibnunya, karena menziarahi kuburan orang-orang musyrik itu dilarang oleh Allah Azza wa Jalla.

Begitupula dengan sabda Rasulullah “Sesungguhnya bapakku dan bapakmu di neraka” , Prof, DR Ali Jum’ah menjelaskan bahwa orang Arab yang dijelaskan dalam ilmu tata bahasa Arab bahwa ketika menyebut kata ayah, dapat pula yang dimaksud adalah paman.

Contohnya firman Allah Ta’ala yang artinya “Dan (ingatlah) di waktu Ibrahim berkata kepada bapaknya Aazar, ‘Pantaskah kamu menjadikan berhala-berhala sebagai tuhan-tuhan ? sesungguhnya aku meihat kamu dan kaummu dalam kesesatan yang nyata “(QS Al An’am [6]:74)

Para ahli tafsir atau mufassirin telah menyampaikan bahwa yang dimaksud dengan “Abiihi” (bapaknya) ialah “pamannya” karena ayahnya Nabi Ibrahim alaihisalam sebenarnya bernama Tarih atau Tarikh.

Ibnu Mundzir meriwayatkan dengan sanad shahih dari Ibnu Juraij, ia berkata “Azar bukanlah ayah Ibrahim, Ibrahim adalah putra Tairakh atau Tarikh bin Fakhur bin Falih, orang Arab biasa menyebut ayah untuk paman seperti yang Allah Ta’ala sampaikan dalam firmanNya pada (QS Al Baqarah : 133)

Begitupula Imam Nawawi terhadap sabda Rasulullah “Sesungguhnya bapakku dan bapakmu di neraka” menjelaskan

. وَقَوْله صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : ( إِنَّ أَبِي وَأَبَاك فِي النَّار ) هُوَ مِنْ حُسْن الْعِشْرَة لِلتَّسْلِيَةِ بِالِاشْتِرَاكِ فِي الْمُصِيبَة

Dan sabdanya shallallahu alaihi wasallam : (Sesungguhnya bapakku dan bapakmu di neraka) ia daripada bentuk luwesnya pergaulan (Rasulullah) untuk menghibur (si penanya) dengan mengatakan sama-sama tertimpa musibah (maksudnya neraka) dengan cara menyamarkan antara bapak kandung dengan bapak dalam artian paman.

Bahkan ulama dari kalangan mereka sendiri yakni Muhammad Al Amin Assyinqiti menjelaskan bahwa kedua orang tua Rasulullah selamat di akhirat kelak karena Beliau memahami dan menjelaskan tidak dari sudut arti bahasa saja sebagaimana informasi pada http://generasisalaf.wordpress.com/2016/02/22/kedua-orang-tua-nabi-saw-selamat-di-akhirat/

Contoh biografi dari Syaikh Muhammad Al Amin Assyinqiti dapat dibaca pada http://abumusa81.wordpress.com/2013/01/09/biografi-ringkas-syaikh-muhammad-al-amin-asy-syinqithi/

Assyinqiti menjelaskan bahwa hadits “Sungguh bapakku dan bapakmu berada di neraka” dan hadits “Saya minta kepada Allah untuk diampuni dosa nya namun tidak diizinkan” adalah hadits ahad (hanya satu jalur riwayat) walaupun ada dalam kitab riwayat Muslim, shahih atau tsiqah dalam sanad (jalur perawi) namun dalam matan (redaksi) bermasalah. Salah satu masalahnya adalah zhanniy matan dan zhanniy dilalah

Berikut kutipannya,

***** awal kutipan *****
Syaikh Abdullah memperlihatkan kepada syaikh Assyinqiti buku syarah Imam Nawawi tentang hadits – sesungguhnya bapak ku dan bapak kamu masuk neraka.

Syaikh assyinqiti berkata: saya sudah tahu hadits ini.

Syaikh abdullah azzahim berkata: kemaren antum menyampaikan di pengajian Nabawi bahwa kedua orang tua nabi termasuk ahli fatrah.

Syaikh Assyinqiti menjawab: iya. Karena jawaban saya berdasarkan al Qur’an yg qot’iy matan dan qot’iy dilalah,

saya tidak bisa menolak nash yg qot’iy matan dan qot’iy dilalah dengan nash yg zhanniy matan dan zhanniy dilalah

ketika mentarjih, hadits ini termasuk khabar ahad. Sama dengan hadits Abi Hurairah riwayat Muslim: saya minta izin ke Allah utk mengunjungi ibuku saya diberi izin, lalu saya minta kepada allah utk di ampuni dosa nya namun tidak diizinkan. hadits diatas zhanniy matan maka tidak bisa menolak qot’iy matan yaitu firman Allah:

( al isra’: 15)ۗ وَمَا كُنَّا مُعَذِّبِينَ حَتَّىٰ نَبْعَث رَسُولًا

“Dan Kami tidak akan mengazab sebelum Kami mengutus seorang rasul.”

Jelas sekali ayat diatas qot’iy matan dan qot’iy dilalah.

Berbeda dengan hadits: إن أبي وأباك في النار، hadits ini zhanniy matan dan zhanniy dilalah.

Ada kemungkinan أبي maknanya paman nabi: Abu Thalib. Karena orang arab kadang kadang memanggil paman dengan الأب، bisa kita temukan pemakaian ini di dalam al quran
***** akhir kutipan ******

Dalam penjelasan di atas Assyinqiti ketika mencontohkan kemungkinan makna Abi, paman Nabi adalah Abu Thalib padahal contoh yang tepat adalah Abu Lahab.

Contoh kajian tentang keimanan Abu Thalib dapat dibaca pada https://mutiarazuhud.files.wordpress.com/2017/03/keimanan-abu-thalib.pdf

Ulama lain Ust. Ahmad Sarwat, Lc., MA yang memahami dan menjelaskan tidak dari sudut arti bahasa saja, menyimpulkan dan disampaikan pada bagian akhir tulisannya bahwa “kita tidak boleh menyakiti hati Beliau (Rasulullah) dengan memvonis bahwa kedua orang tua beliau kafir. Sedangkan dalil yang kita dapat masih belum melahirkan kesimpulan yang pasti. Maksudnya masih belum tegas menyatakan bahwa mereka itu kafir” sebagaimana yang dipublikasikan pada http://www.rumahfiqih.com/x.php?id=1138173832&=kafirkah-orang-tua-rasullulloh.htm

Ust Ahmad Sarwat di atas mengingatkan bahwa kita tidak boleh menyakiti hati Rasulullah akibat selalu berpegang pada nash secara dzahir atau pemahamannya selalu dengan makna dzahir.

Jadi mereka yang salah memahami Al Qur’an dan As Sunnah karena mereka selalu berpegang pada nash secara dzahir atau pemahaman mereka selalu dengan makna dzahir dapat berakibat dilaknat oleh Allah dan amal ibadah sepanjang hidupnya tidak diterima oleh Allah .

Telah berkata sebagian ulama: “Telah ditanya Qodhi Abu Bakar bin ‘Arobi, salah seorang ulama madzhab Maliki mengenai seorang laki-laki yang berkata bahwa bapak Nabi berada di dalam neraka. Maka, beliau menjawab bahwa orang itu terlaknat, karena Allah Ta’ala berfirman yang artinya, ”Sesungguhnya orang-orang yang menyakiti Allah dan Rasul-Nya, niscaya Allah akan melaknat mereka di dunia dan akherat dan menyiapkan bagi mereka itu adzab yang menghinakan”. (QS. Al-Ahzab: 57).

Dan tidak ada perbuatan yang lebih besar dibandingkan dengan perkataan bahwa bapak Nabi berada di dalam neraka.

Betapa tidak! Sedangkan Ibnu Munzir dan yang lainnya telah meriwayatkan dari Abu Hurairah bahwa seseorang berkata: “Engkau anak dari kayu bakar api neraka’, maka berdirilah Rasulullah Shollallaahu ‘alaihi wa sallam dalam keadaan marah, kemudian berkata yang artinya: “Bagaimana keadaan kaum yang menyakiti aku dalam hal kerabatku, dan barangsiapa menyakiti aku maka sesungguhnya dia telah menyakiti Allah.

Wassalam

Zon di Jonggol, Kabupaten Bogor 16830

Read Full Post »