Feeds:
Pos
Komentar

Posts Tagged ‘meremehkan’

Contoh orang yang fasik

 

Firman Allah ta’ala yang artinya

Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu” (QS Al Hujuraat [49]:6 )

Pengertian orang yang fasik adalah orang yang secara sadar melanggar larangan atau hukum agama.

Orang yang fasik sebagaimana yang disampaikan dalam firman Allah ta’ala yang artinya, “(yaitu) orang-orang yang melanggar perjanjian Allah sesudah perjanjian itu teguh, dan memutuskan apa yang diperintahkan Allah (kepada mereka) untuk menghubungkannya dan membuat kerusakan di muka bumi. Mereka itulah orang-orang yang rugi.” (QS Al Baqarah [2]:27)

Bagi orang-orang yang fasik, tempat mereka adalah neraka jahannam

Firman Allah ta’ala yang artinya, “Dan adapun orang-orang yang fasik maka tempat mereka adalah jahannam” (QS Sajdah [32]:20)

Siapakah contoh orang yang fasik yang harus diperiksa berita atau perkataan yang disampaikannya

Salah satu contoh orang-orang yang fasik adalah orang-orang yang mempunyai cela karena melanggar larangan dari Rasulullah seperti orang-orang yang menyampaikan atau berdakwah dengan celaan atau mentertawakan, meremehkan, merendahkan, memperolok-olok, menghujat atau berdakwah dengan kekerasan

Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda, “mencela seorang muslim adalah kefasikan, dan membunuhnya adalah kekufuran”. (HR Muslim)

Ada ulama yang gemar mencela karena salah memahami istilah  jarh wa ta’dil

Dalam permasalahan periwayatan hadits memang dikenal istilah jarh yakni melihat apakah orang itu ‘adil (kuat riwayat) atau majruh (lemah riwayat), disebut majruh karena ia mungkin punya cela seperti pernah berdusta, atau pernah kena penyakit lupa, maka ia majruh (terluka=maksudnya ada cela atau aib pada riwayatnya). Jadi jarh artinya mempunyai cela bukan mencela.

Imam Bukhari rahimahulllah yg menjadi raja seluruh Muhaddits berkata : “aku tak mau menyebut aib aib orang dalam riwayatku, karena aku tak mau dikumpulkan oleh Allah dalam kelompok ahlul ghibah” (Siyar fii a’lamunnubala dan Tadzkiratul Huffadh).

Celalah sebuah kesalahpahaman atau kesesatan namun jangan mencela orang yang salahpaham atau pelaku kesesatan.

Celalah perbuatan maksiat namun jangan mencela pelaku maksiat (orangnya).

Celalah kekafiran namun jangan mencela orang kafir.

Pada hakikatnya kita tidak dibenarkan mencela seseorangpun dari makhluk Allah.  Pelaku kesesatan, pelaku maksiat maupun orang kafir selama mereka masih hidup pada hakikatnya masih mempunyai peluang untuk berubah.

Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda “sungguh ada salah seorang diantara kalian yang melakukan amalan-amalan penghuni surga hingga tak ada jarak antara dia dan surga selain sehasta, namun kemudian takdir telah mendahului dia, lantas ia pun melakukan amalan penghuni neraka dan akhirnya masuk neraka. Dan sungguh ada salah seorang diantara kalian yang melakukan amalan penghuni neraka, hingga tak ada jarak antara dia dan neraka selain sehasta, namun kemudian takdir mendahuluinya, lantas ia pun mengamalkan amalan penghuni surga sehingga ia memasukinya.” (HR Bukhari 6900)

Sahabat Abu Dzar pernah memanggil Bilal, “Hai si hitam.” Rasul pun mendengar dan berkata, “Hai, apakah orang putih itu lebih mulia dari mereka yang hitam. Tidak, tidak ada keutamaan dalam diri seseorang kecuali taqwa.” Lantas Abu Dzar sadar dan berkata pada Bilal, “Aku telah mengolokmu dan aku mengaku salah.” “Aku telah memaafkanmu,” kata Bilal. “Tidak, belum, ini wajahku kutaruh di tanah dan injaklah hingga keluar virus kesombongan dariku,” kata Abu Dzar. “Aku telah mengampunimu,” kata Bilal. “Tidak demi Allah hatiku takkan tenang hingga kau menaruh kaki di wajahku ini, hingga penyakit ini hilang,” kata Abu Dzar.

Begitulah Rasulullah shallallahu alaihi wasallam mendidik umat la ilaha illallah agar saling menghormati, toleran, tidak menyakiti dan sikap inilah yang mesti kita implementasikan ketika bertemu dengan sesama umat la ilaha Illallah walaupun berbeda pendapat (pemahaman) atau dari sekte apapun. Agar dakwah untuk mengajak umat kembali pada Allah terus langgeng dan tidak mandeg gara-gara disibukkan dengan saling jegal, saling tahdzir antar sekte.

Seorang lelaki bertanya pada Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam “Musllim yang bagaimana yang paling baik ?”

“Ketika orang lain tidak (terancam) disakiti oleh tangan dan lisannya” Jawab Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam.

Rasulullah shallallahu aliahi wasallam bersabda “Tiada lurus iman seorang hamba sehingga lurus hatinya, dan tiada lurus hatinya sehingga lurus lidahnya“. (HR. Ahmad)

Begitupula pesan dari Sayyidina Umar ra,

“Jangan pernah tertipu oleh teriakan seseorang (dakwah bersuara / bernada keras). Tapi akuilah orang yang menyampaikan amanah dan tidak menyakiti orang lain dengan tangan dan lidahnya“

“Orang yang tidak memiliki tiga perkara berikut, berarti imannya belum bermanfaat. Tiga perkara tersebut adalah santun ketika mengingatkan orang lain; wara yang menjauhkannya dari hal-hal yang haram / terlarang; dan akhlak mulia dalam bermasyarkat (bergaul)“.

“Yang paling aku khawatirkan dari kalian adalah bangga terhadap pendapatnya sendiri. Ketahuilah orang yang mengakui sebagai orang cerdas sebenarnya adalah orang yang sangat bodoh. Orang yang mengatakan bahwa dirinya pasti masuk surga, dia akan masuk neraka“

Wassalam

 

Zon di Jonggol, Kabupaten Bogor 16830

Iklan

Read Full Post »

« Newer Posts