Feeds:
Pos
Komentar

Posts Tagged ‘namun kemajuan akhlak’

parade tauhid

Parade tauhid serukanlah pendidikan akhlak jalan kebangkitan Islam

Salah satu tujuan dari tiga tujuan Parade Tauhid Indonesia 2015 adalah merealisasikan amanah pada Konggres Umat Islam VI di Yogyakarta yang digelar dari tanggal 8-11 Februari sebagaimana yang diberitakan pada http://www.republika.co.id/berita/dunia-islam/khazanah/15/08/07/nspi5p313-tiga-tujuan-parade-tauhid-indonesia-2015

Sedangkan salah satu hasil Konggres Umat Islam VI sebagaimana yang diarsip pada https://mutiarazuhud.files.wordpress.com/2015/08/hasil-kongres-umat-islam-indonesia-vi-2015.pdf adalah perlunya peningkatan pendidikan akhlak dalam menangkal budaya yang tidak sesuai dengan nilai syariat Islam.

***** awal kutipan ******
5. Menyeru pemerintah dan seluruh lapisan masyarakat untuk mewaspadai dan menghindarkan diri dari budaya yang tidak sesuai dengan nilai syariat Islam dan budaya luhur bangsa seperti penyalahgunaan narkoba, minuman keras, pornografi dan pornoaksi, serta pergaulan bebas dan perdagangan manusia. Hal itu perlu dilakukan dengan meningkatkan pendidikan akhlak di sekolah atau madrasah dan keluarga, penguatan ketahanan keluarga, dan adanya keteladanan para pemimpin, tokoh, dan orangtua. Seiring dengan itu menyerukan kepada pemerintah untuk menghentikan regulasi dan kebijakan yang membuka pintu lebar-lebar masuknya budaya yang merusak serta melakukan penegakan hukum yang tegas dan konsisten.
***** akhir kutipan *******

Begitupula dalam promosinya tertulis dengan Parade Tauhid Indonesia 2105 “menyongsong kebangkitan Islam di Indonesia”

Istilah “kebangkitan Islam” mengingatkan kami kepada tulisan Adian Husaini peneliti Institute for the Study of Islamic Thought and Civilizations (Insist) dalam sebuah Catatan Akhir Pekan ang kami arsip pada https://mutiarazuhud.wordpress.com/2011/02/20/kebangkitan-islam/

******* awal kutipan ******
Pada sesi pembahasan saya menyampaikan bahwa soal kebangkitan Islam sebenarnya sudah banyak dipaparkan dalam al-Quran. Misalnya, dalam al-Quran Surat Al-Maidah ayat 54.

Disitu disebutkan ciri-ciri satu kaum yang dijanjikan Allah yang akan meraih kemenangan: mereka dicintai Allah dan mereka mencintai Allah; mereka saling mengasihi sesama mukmin; mereka memiliki sikap ‘izzah terhadap orang-orang kafir; mereka berjihad di jalan Allah; dan mereka tidak takut dengan celaan orang-orang yang memang suka mencela.

Kaum seperti inilah yang harus mampu dibentuk oleh umat Islam, khususnya lembaga-lembaga pendidikan Islam.

Hanya saja, saat bicara tentang kebangkitan Islam, maka yang perlu didefinisikan terlebih dahulu adalah apa yang sebenarnya disebut dengan “bangkit”. Sebab, jangan-jangan, makna kata “bangkit” itu sendiri sudah kabur di benak banyak kaum Muslimin. Seperti kaburnya makna kata “kemajuan”, “pembangunan”, “kebebasan”, dan sebagainya.

Misalnya, negara-negara Barat membuat definsi yang materialistis terhadap makna “kemajuan”. Mereka membagi negara-negara di dunia menjadi negara maju, negara sedang berkembang dan negara terbelakang.

Tentu saja, ukuran-ukuran yang digunakan adalah ukuran kemajuan materi. Faktor akhlak tidak masuk dalam definisi “kemajuan” atau “pembangunan” tersebut.

Jadi, jika dikatakan suatu negara sudah maju, maka yang dimaksudkan adalah kemajuan materi, khususnya dalam ekonomi, sains dan teknologi. Padahal, secara akhlak, negara itu sebenarnya hancur-hancuran.

Kita, kaum Muslimin, yang masih memiliki keimanan dan menjaga akhlak mulia, sudah selayaknya tidak merasa hina dan rendah martabat saat berhadapan dengan dunia Barat yang serba gemerlap dalam dunia materi.

Kita sungguh kasihan kepada sebagian pejabat kita yang rela begadang, bersorak-sorai, menghambur-hamburkan uang hanya untuk menyambut pergantian Tahun Baru dalam tradisi Barat. Mestinya, jika mereka Muslim, mereka mengajak rakyatnya untuk beribadah, mensyukuri setiap tambahan nikmat umur yang mereka terima dari Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Jika kita memiliki kebanggaan akan nilai-nilai dan akhlak kita, maka kita justru akan bersikap sebaliknya. Kita kasihan pada orang-orang sekular – di mana pun — yang tidak tahu lagi kemana hidup mereka harus diarahkan.

Hidup mereka hanya ditujukan untuk memuaskan syahwat, tidak beda jauh dengan peri hidup binatang. Mereka tidak ingat lagi perjanjian azali dengan Allah, saat berada di alam arwah, bahwa mereka pernah mengakui Allah sebagai Tuhan mereka, dan mereka adalah hamba Allah. (QS 7:172).

Maka, ketika negara kita diminta mengejar kemajuan, kita melihat, yang lebih difokuskan adalah kemajuan materi, bukan kemajuan akhlak.

Padahal, dalam UU Sisdiknas disebutkan, tujuan pendidikan nasional juga mencakup persoalan akhlak. Juga, sesuai lagu “Indonesia Raya”, kita harus membangun jiwa, baru membangun badan/raga. “Bangunlah jiwanya, bangunlah badannya!” begitu katanya. Tapi, apakah setiap tahun, ada laporan pemerintah kita tentang keberhasilan atau kegagalan membangun jiwa?
****** akhir kutipan ******

Jadi kesimpulannya tujuan atau sasaran kebangkitan Islam bukanlah kemajuan materi melainkan kemajuan akhlak sehingga hal yang paling pokok atau pondasi bagi kebangkitan Islam adalah pendidikan akhlak.

Tujuan beragama adalah menjadi muslim yang ihsan atau muslim yang berakhlakul karimah

Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda “Sesungguhnya aku diutus (Allah) untuk menyempurnakan Akhlak.” (HR Ahmad)

Firman Allah Ta’ala yang artinya,

“Sungguh dalam dirimu terdapat akhlak yang mulia”. (QS Al-Qalam:4)

“Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri tauladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan Dia banyak menyebut Allah”. (QS Al-Ahzab:21)

Awaluddin makrifatullah, akhiruddin makrifatullah. Awal beragama adalah mengenal Allah dan akhir beragama adalah menyaksikan Allah dengan hati (ain bashiroh)

Lalu dia bertanya lagi, ‘Wahai Rasulullah, apakah ihsan itu? ‘ Beliau menjawab, ‘Kamu takut (khasyyah) kepada Allah seakan-akan kamu melihat-Nya (bermakrifat), maka jika kamu tidak melihat-Nya (bermakrifat) maka sesungguhnya Dia melihatmu.” (HR Muslim 11)

Firman Allah Ta’ala yang artinya “Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah ulama” (QS Al Faathir [35]:28)

Muslim yang takut kepada Allah karena mereka selalu yakin diawasi oleh Allah Azza wa Jalla atau mereka yang selalu menyaksikan Allah dengan hatinya (ain bashiroh), setiap akan bersikap atau berbuat sehingga mencegah dirinya dari melakukan sesuatu yang dibenciNya , menghindari perbuatan maksiat, menghindari perbuatan keji dan mungkar sehingga terbentuklah muslim yang berakhlakul karimah atau muslim yang sholeh atau muslim yang ihsan.

Berikut kutipan wawancara Cahaya Sufi dengan Ahmad Shodiq, dosen akhlak dan tasawuf di UIN Syarif Hidayatullah, Jakarta tentang “kisah sedih pendidikan akhlak dalam sistem pendidikan kita” yang kami arsip pada https://mutiarazuhud.wordpress.com/2010/06/07/pendidikan-akhlak/

***** awal kutipan ******
Bagaimana penerimaan tasawuf di ruang pendidikan kita, pak?

Ada kecenderungan beberapa mahasiswa yang anti tasawuf. Kemungkinan karena ada unsur ideologi Wahabi atau salafi yang anti tasawuf. Itu karena tasawuf memang tidak langsung bisa dijelaskan, apalagi pada masa-masa awal kita menjelaskan, pasti ada yang menyangsikan.

Apakah ia merupakan realitas yang bisa dipahami?

Itu kan yang sering dipertanyakan. Anak-anak yang kritis kadang mengambil posisi kontra dulu. Tapi setelah pertemuan tiga sampai empat kali, kecenderungannya menjadi mereda, kemudian akomodatif, dan cenderung memahami.

Menyikapi keadaan ini?

Saya lebih menggunakan pendekatan persuasif, lebih mencari cara yang rasional. Karena menurut saya, perubahan akhlak itu tidak mungkin terjadi tanpa melalui rasionalisasi. Kecuali kalau kita menggunakan metodologi robbani, intuitif. Kalau itu kerjanya para masyayikh, mursyid, dan orang yang belum mencapai walayah (kewalian) saya kira kalau kita tidak akan mampu seperti itu.

Kalau dalam dunia akademis, maka harus melalui rasionalisasi. Karena sesungguhnya, jika ada perilaku salah, itu pasti karena konstruk batin yang salah. Karena menurut Imam al-Ghazali, akhlak itu gambaran keadaan batin (‘ibaaratun an al-hayatin nafsih) yang sudah tertanam mendalam (raasikhun) dimana semua perilaku menyandar pada keadaan yang mendalam itu (tashduuru fiihal af’al) yang kemunculannya secara gampang (bisuhuulatin wa yusrin).

Karena sudah mengalami internalisasi yang lama, sehingga perilaku itu menjadi kebiasaan yang tidak disadari lagi, maka ia muncul sebagai bentuk perilaku negatif atau positif. Ketika ada perilaku negatif, persoalannya bukan memarahi, tetapi lebih kita pahami, bahwa ini adalah tampilan dari kondisi dalam yang harus dibenahi secara intens.

Oleh karena itu keadaan batin ini nggak akan berubah selama sikap batin orang tidak berubah. Dari sini, perubahan harus dimulai dari sisi wacana, selayak Imam al-Ghazali yang selalu taqdiimul ‘ilmi.

Maksudnya perubahan wacana?

Ya dalam arti, berbagai konsep tentang kebaikan dan keburukan menurut murid harus di dekonstruksi dulu.

Nah dekonstruksi ini tidak perlu mencaci-maki, tetapi lebih mendudukkan persoalan baik-buruk secara proporsional menurut dasar agama. Ketika itu dijelaskan, dia bisa mengerti, apa sebenarnya kebaikan dan alasan mengapa orang berbuat baik. Kenapa orang harus tunduk pada aturan Allah, dan kenapa orang harus mengikutinya.

Biasanya, saya memulai penjelasan dengan menjelaskan jati diri manusia. Saya lebih mengenalkan hakikat ruhani itu apa, supaya dia bisa mengenali dirinya sendiri. Dalam waktu terbatas, kita menginginkan dia mengintorspeksi diri, dan sedikit banyak bisa membenahi apa yang salah.

Karena ini pembelajaran orang dewasa kan tidak bisa murni indoktrinasi, tetapi harus melalui proses penyadaran. Kalau penyadaran ini berhasil, dia akan melakukan pilihan ulang terhadap sandaran hidup yang selama ini dia pegang. Nah pada saat dia melakukan pilihan-pilihan ulang, kita berharap ada rasionalisasi yang lebih lurus.

Pada saat itu, kalau dia berpihak pada kebenaran yang lebih lurus, baru kita bisa berharap, sikap atau akhlak yang lama terbentuk, kemudian terkoreksi. Maka dia akan menjadi gamang untuk melakukan keburukan lagi. Nah gamang ini menjadi pertanda baik.

Tapi mungkin dia tidak sesegera itu berubah. Ini adalah masa dimana kita harus sabar menunggu orang untuk berubah. Karena semua bi ‘aunillah, semua dengan pertolongan Allah. Kalau Allah memberikan hidayah dengan kecepatan tertentu, orang bisa berubah sewaktu-waktu, tapi dalam proses normal biasanya butuh waktu.

Bagaimana anda menyikapi akhlak murid yang kurang baik?

Saya memegang qaul Imam Syafi’i yang menyatakan bahwa orang yang buruk itu seperti pantatnya dandang (tempat menanak nasi) yang hitam. Kata Imam Syafi’i, dia hitam, dan dia ingin menempelkannya ke kulit kita. Kalau kita terpancing, maka yang hitam itu dua. Jadi kalau sampai kita sadar bahwa ada ruhani yang tidak stabil, dan kita terpancing untuk tidak stabil, maka sesungguhnya yang terjadi adalah dua ketidakstabilan, karena kita terpancing.

Saya teringat muridnya Aby Yazid al-Busthami, yang selama 30 tahun selalu qiyamullail, shaimunnahar, puasa dan sholat malam tiap hari. Tapi ketika bertanya kepada Abu Yazid, “Syekh, perasaan saya, selama 30 tahun mendampingin Anda, saya tidak pernah merasakan apapun dari kenikmatan batin yang engkau ceritakan itu”.

Abu Yazid kemudian berkata, “Sampai mati kamu puasa dan sholat malam terus, kamu tidak akan merasakan apa-apa”.

Dia kaget dan dia meminta terapi ruhani yang bisa mengobatinya.

Kata Abu Yazid, “Ada, tapi kamu tidak akan mampu”.

Abu Yazid kemudian memberitahu, “Kamu harus mencukur jenggotmu, menjual semua hartamu, kemudian bajumu diubah dengan baju gembel, setelah hartamu yang kamu jual itu, kamu belikan mainan dan makanan anak-anak, kemudian dironce (dikalungkan) di leher, dan pergi ketempat dimana anak-anak kecil berada. Mintalah anak-anak itu untuk meludahimu, dan setiap satu kali ludahan, kau beri anak-anak itu satu mainan dan makanan, sampai makanan itu habis. Kalau itu sudah selesai, kamu pergi ke pasar, dimana kau terkenal sebagai orang terhormat, kemudian dengan pakaian seperti itu kamu tidak boleh beranjak sebelum orang-orang sepasar itu melihat kamu dalam keadaan seperti itu”.

Nah sang murid itu kemudian berkata, “Subhanallah”.

Subhanallah-mu musyrik, kata Abu Yazid, karena Subhanallah kau ucapkan untuk menyanjung dirimu, yang tidak pantas kau perlakukan seperti itu.

Akhirnya si murid tidak mampu melakukan itu, karena ada kesombongan dalam dirinya.

Memang kalau saya analisis penjelasan para sufi, hijab itu kan banyak. Nafsu hijab, dosa hijab, hubbub al-dunya hijab, cara pandang terhadap fiqh yang terlalu formalistik juga hijab, terjebaknya orang dalam kenikmatan ladzatul ‘ ibadah, sampai karomah juga hijab.

Tetapi para ulama menyebut, hijab terbesar itu justru kesombongan, karena sombong itu, membuat, manusia hanya melihat dirinya. Kita bisa bayangkan, kalau keadaan batin itu hanya melihat dirinya sendiri, orang lain nggak kelihatan, bagaimana dia bisa melihat Allah.

Hal yang sama terjadi, ketika seorang sufi besar menemukan cara untuk menyembuhkan kesombongan muridnya. Jadi pada saat itu sang mursyid menyatakan, kalau kau mau sembuh dari kesombongan itu, kau harus menjadi orang miskin, dan membawa mangkok pengemis. Dan kau harus meminta-minta kesemua kampung dimana kau tinggal.

Tapi kenyataannya setelah dilakukan, dan dia pulang ke mursyid, sang mursyid mengatakan, “Saya tidak tahu lagi caranya. Setelah kau lakukan saran saya, ternyata kau itu, kalau dulu sombong karena kekayaan, hari ini kau sombong karena mampu melaksanakan cara hidup seperti orang miskin”.

Bisa jadi kita itu bisa tidak sombong karena memakai baju mewah, tapi jangan lupa, menggunakan baju sederhanapun bisa sombong.

Seberapa efektifnya pendidikan akhlak dan tasawuf dalam sistem pendidikan kita?

Bagi saya, pendidikan formal dalam rangka mewarisi akhlak yang digambarkan oleh para sufi, saya sebenarnya termasuk orang yang pesimis.

Kenapa?

Karena pendidikan kita itu lucu. Kalau saya analisis kurikulum madrasah ibtidaiyyah (mata pelajaran aqidah akhlak), setelah saya lihat, saya jadi bingung sendiri. Ini yang menyusun sadar atau tidak ya?

Karena kalau dari kaca mata pendidikan, sesungguhnya sangat verbalistik, dan kognitif oriented.

Kalau pembelajaran akhlak seperti itu, menurut saya tidak bisa. Kalau saya kembali ke penjelasan Imam al-Ghazali di Ihya’, beliau mengharuskan akhlak itu dalam bentuk pembiasaan, tidak bisa dengan pembelajaran.

Kalau kita ingin menjadikan orang melakukan suatu hal, maka Imam al-Ghazali mengharuskan ia melakukan perbuatan orang seperti yang ia inginkan. Jadi kalau dia ingin menjadi faqih, maka dia harus melakukan apa yang dilakukan faqih, sampai dia menjadi faqih.

Kalau ingin menjadi orang sabar, dia harus berbuat seperti orang sabar, meskipun dia susah melakukan itu.

Kalau melihat itu, maka pendidikan akhlak kita nggak mengacu kesana. Jadi pendidikan itu hanya masuk dalam logika-logika dangkal, yang tidak meresap dalam batin.

Itu saja, kalau kita ngomong kurikulum, seburuk apapun, asal sang guru ‘alim, saya kira nggak masalah. Guru bisa melakukan itu. Tapi persoalannya berapa persen guru yang benar-benar bisa mendidik anak-anaknya?

Karena akhlak itu tidak bisa terwujud jika seseorang tidak melakukannya kan. Itu yang repot di pendidikan akhlak. Bagaimana seseorang bisa mengajarkan sabar, kalau dia sendiri nggak sabar.

Bukankah di Risalah Qusyairiyah dijelaskan, bahwa al-tashawwufu khuluqun faman zaada ‘alaika fi khuluqi zaada ‘alaika fi al-shifa’. Tasawuf itu kan akhlaq. Semakin akhlaknya tambah bagus, pasti ruhaninya tambah bersih.

Bahkan sufi lain mendefinisikan laisa al-tashawwuf al-rasman walaa ‘ilman, tasawuf itu bukan keterampilan, bukan juga ilmu. Kalau tasawuf itu keterampilan, lafashala bil mujahadah, dia pasti bisa dicapai dengan mujahadah, training.

Seandainya tasawuf adalah ilmu, pasti dia bisa diperoleh melalui ta’lum, belajar. Tapi tasawuf itu sesungguhnya adalah takhalluq bi akhlaaqillah, bagaimana mengakhlakkan batin ruhani ini menjadi baik, sehingga tampil diluar menjadi baik, sebagai refleksi batin.

Contoh simple, ketika saya bertemu dengan Romo Yai Asrori (KH Ahmad Asrori Al Ishaqi) , ketika beliau menjelaskan masalah ini.

Beliau bilang, “Gampang ngukur orang itu sabar atau punya ilmu tentang sabar. Kalau ada kyai cerita tentang kesabaran, coba buang sandalnya. Kalau kemudian dia marah, berarti dia baru punya ilmu sabar, tetapi belum sabar”.

Jadi batasnya sandal ya, ha..ha..

Lha iya. Apalagi kalau kyai itu sambil marah mengatakan, “Kamu bisa dilaknat Allah, sandalnya kyai dibuang!”,

Ya itu, semakin menjustifikasi kemarahannya dengan dalil.

Jadi dalam kaitan ini, maka orang tidak menjadi mudah dalam mengukur orang lain. Karena ukuran-ukuran substantif itu menjadi lebih esensial dalam tasawuf, daripada ukuran formal.

Bisa jadi orang itu tidak bisa mengeluarkan satu dalilpun tentang tasawuf, tetapi bisa jadi ruhaninya sampai pada Allah.

Orang-orang tua yang tulus mencarikan rejeki untuk anak-anaknya dengan penuh kesabaran. Meskipun anaknya kuliah dan master dalam bidang ketasawufan, belum tentu dia bisa mengalahkan kesabaran bapak-ibunya.

Nah menurut saya, itu yang membuat Imam al-Ghazali mengatakan, sesungguhnya yang disebut ilmu ladunni dalam definisi luas, itu ya semua bentuk kesadaran batin yang mengantarkan orang untuk konsisten kembali kepada Allah.

Termasuk sabar, sebenarnya bagian dari mawahid. Kalau orang tidak diberi kesadaran ya nggak akan bisa.

Jadi kalau hadits Rasul mengatakan idza ahabballahu ‘abdan ibtalaahu wa idzabtalaahu shobbaraahu. Kalau Allah sayang kepada seorang hamba-Nya, maka ia akan dicoba, tapi ia dijadikan sabar oleh Allah. Kalau sudah sabar, innallaha ma’a al-shabirin.

Bagaimana anda memaknai tugas sebagai guru, dalam sistem pendidikan yang sebenarnya membuat para guru hanya fungsional, cari pekerjaan?

Ya benar. Dan saya tahu kita mengerti benar bagaimana hakikat mendidik dalam Islam. Tentu saja Sayyidina Ali mensyaratkan ada keikhlasan, tapi ya bagaimana wong sekarang ini anak-anak kuliah itu nyari nilai. Nah itu kan masalahnya.

Ya. Dan ketika masuk harus diabsen, sehingga absen itu lebih penting dari ilmunya kan.

Saya kira perjuangan yang sangat berat bagi orang yang memahami benar posisi pendidik, akan sepakat dengan Imam al-Ghazali di kitab Risalah, bahwa sesungguhnya pendidik itu seperti dokter, dan anak-anak itu pasien yang mengalami sakit. Yakni sakit ruhani yang terjadi karena pengalaman-pengalaman negatif setelah fitrah. Karena fitrah itu suci.

Imam al-Ghazali mengatakan kesucian fitrah itu bima’na ahlul ma’rifah.. Bahkan semua orang menurut Imam al-Ghazali punya kemungkinan untuk ma’rifat, tentu dalam skala yang berbeda, dan kualitas berbeda. Tetapi karena kemudian tarikan nafsu, syahwat, ghodlob, ketertarikan dunia, dsb membuat noktah-noktah hitam semakin banyak.

Ini membuat orang terjebak dalam sakit, dan tidak seorangpun lepas dari penyakit ruhani itu. Termasuk sang guru.

Maka sebenarnya guru harus belajar menyembuhkan dirinya. Dan dia harus punya guru, karena kalau dia nggak punya guru, konsultasinya sama siapa. Karena orang yang tidak punya guru akan cenderung menyebut baik dirinya.

Dan tentu saja, pengalaman sebaik-baiknya dari eksperimentasi sendiri, itu tidak akan lebih baik dari kesimpulan yang diambil dari sekian ribu guru yang sudah terwarisi, dan sudah disarikan dalam tradisi thariqah.

Saya tetap mengatakan bahwa seharusnya kalau kita bicara tasawuf yang hakiki, pasti tidak ada jalan selain thariqah, dan harus ada mursyid. Kalau kita bicara tentang posisi guru yang hakiki ya mursyid thariqah saya kira. Hanya persoalannya, mencari mursyid yang hakiki juga tidak mudah.

Tentang mursyid itu saya kira berat sekali persyaratannya. KH Hasyim Asy’ari misalnya dalam ad-Duratul Muntatsirah, memberi syarat mursyid itu harus mutabakhir, ilmunya melaut. Dia harus ahli fiqh, tafsir, hadist, dan syarat yang paling berat adalah dia harus waashil ilallah (sudah sampai kepada Allah).

Kalau dia tidak menguasai fiqh, tafsir, hadist, dan tidak waashil, KH Hasyim menyatakan, berada diluar thariqah lebih baik daripada didalam thariqah (tidak perlu jadi Mursyid).

Tapi kalau ketemu orang seperti itu, maka didalam thariqah (tetap menjadi murid thariqah saja) lebih baik daripada diluar thariqah. Hanya bagi saya, meskipun ini belum ada penelitian, tapi saya sangat yakin, bahwa guru sufi, saya tidak pernah menemukan guru sufi yang tidak cerdas. Jarang sekali ada mursyid yang tidak kokoh dalam berbagai keilmuan.

Apakah guru sekolah bisa menjadi mursyid?

Nah persoalannya itu. Apakah guru dalam pendidikan formal bisa menjadi mursyid?

Terlalu berharap banyak kalau kita memberi syarat seperti itu. Guru itu bisa konsisten dengan standar akhlak yang standar saja, itu sudah baik. Guru itu bisa memberi contoh untuk tidak rakus ketika makan, tidak gampang marah, benar-benar berfungsi sebagai bapak bagi anak didiknya, itu sudah bagus.

Kalau kita tuntut untuk menjadi mursyid, itu terlalu tinggi. Meskipun saya berupaya untuk melakukan itu. Tapi menurut saya butuh usaha keras.

Ada satu hal yang menarik, ketika saya memberikan pelajaran tentang pemikiran ulama Indonesia. Waktu itu selesai mengkaji tentang Sultan Hasanudin Banten. Saya ingin ngajak anak-anak ke Banten, supaya mereka tahu kondisi di lapangan. Ternyata, ketika saya pinjam kendaraan ke fakultas, fakultas nggak mau menfasilitasi.

Jadi saya berpikir, pendidikan itu tidak sekadar formalistik, dan tidak betul-betul membentuk keruhanian anak yang baik. Itu yang membuat saya mengambil keputusan, harus berjalan sendiri. dan karena itu akhirnya, forum tersebut saya alihkan ke rumah. Karena menurut saya kita tidak bisa berharap banyak dari model sistem sekolah.
***** akhir kutipan ******

Di awal wawancara di atas dosen Ahmad Shodiq mengatakan bahwa comtoh orang-orang yang anti tasawuf adalah firqah Wahabi atau yang menamakan golongan mereka sebagai salafi

Bahkan mereka menganggap umat Islam yang mengamalkan tasawuf adalah syirik dan keluar dari agama sebagaimana contoh yang tercantum dalam kurikulum tauhid kelas tiga Tsanawiyah (SLTP) cetakan tahun 1424 Hijriyyah di wilayah kerajaan dinasti Saudi sebagaimana yang dikabarkan oleh Prof. Dr. Assayyid Muhammad bin Assayyid Alawi bin Assayyid Abbas bin Assayyid Abdul Aziz Almaliki Alhasani Almakki Alasy’ari Assyadzili atau yang lebih dikenal dengan panggilan Abuya Sayyid Muhammad bin Alawi al-Maliki dalam makalahnya pada pertemuan nasional dan dialog pemikiran yang kedua, 5 s.d. 9 Dzulqo’dah 1424 H di Makkah al Mukarromah

Berikut kutipannya
***** awal kutipan ****
Materi kurikulum tersebut menjadikan sebagian pengajar terus memperdalam luka dan memperlebar wilayah perselisihan. Padahal, 3/4 penduduk muslim seluruh dunia adalah sufiyyah dan seluruhnya terikat dan meramaikan padepokan (zaawiyah) mereka dengan tasawuf.

Bahkan, harus dimengerti bahwa zawiyah–zawiyah tersebut memiliki jasa besar dalam memerangi penjajahan, membela negara, menyebarkan agama, dan memberikan pengajaran kepada kaum muslimin. Inilah sikap dan perilaku zawiyah Sanusiyyah, Idrisiyyah, Tijaaniyyah, Qoodiriyyah, Rifaa’iyyah, Syadziliyyah, Mahdiyyah, Naqsyabandiyyah, dan Marghoniyyah.

Sejarah yang objektif dan terpercaya mengakui akan hal ini. Sementara itu, generasi berikut dari para imam thoriqot tersebut seperti Syekh Umar al Mukhtar, Syekh Abdul Qodir al Jazairi, al Imam al Mahdi, Syekh Umar al Fauti at Tiijani, Syekh Utsman bin Faudi al Qodiri juga mempunyai jasa–jasa yang perlu dihargai dalam berjihad di jalan Allah. Para imam tersebut melayani agama dan menyebarluaskan ilmu pengetahuan untuk memerangi kebodohan dan tindakan bid’ah.

Adapun (lebih jauh lagi) para imam tasawuf pendahulu mereka yang terkenal dalam abad–abad terdahulu seperti Imam Rifai, Imam al Badawi, Imam Syadzili, dan para imam lain setingkat mereka serta para imam dari generasi tabi’in dan para pengikutnya dari para ahli Hilyah, Shofwah, Risalah dan Madarijis saalikin. Usaha dan jihad mereka semua di jalan Allah merupakan suatu hal yang banyak memenuhi sejarah dan telah banyak dikisahkan oleh buku–buku biografi (Manaaqib/Taroojim).
***** akhir kutipan ******

Begitupula dikabarkan kerajaan dinasti Saudi menyusun kurikulum pendidikan bersama Amerika pendukung Zionis Yahudi Israel untuk menghilangkan kebencian terhadap kaum yang dimurkai oleh Allah Azza wa Jalla yakni kaum Yahudi atau yang kita kenal sekarang dengan kaum Zionis Yahudi sebagaimana yang dapat kita saksikan dalam video dimulai pada menit ke 2:56 pada http://www.youtube.com/watch?v=690j3fAWIZY

Berikut transkript subtitle yang kami dapatkan dari melihat video tersebut

***** awal transkript subtitle *****
Perwakilan pemerintah Amerika:

”Selama bertahun-tahun kami bekerja sama dengan pemerintahan Saudi untuk urusan menghapus segala apa yang mengarah kepada fanatisme terhadap kelompok-kelompok agama lain di dalam kurikulum pelajaran di Arab Saudi dan di beberapa tempat lainnya”. ”Hasilnya, pemerintahan Saudi di bulan Juli 2006 telah menetapkan untuk keperluan mengkoreksi dan memperbaharui buku-buku pelajarannya, juga menghilangkan semua celah besar yang mengarah pada kebencian terhadap berbagai kelompok dan agama lain” ”Sedangkan pemerintah Saudi telah menyebutkan bahwa mereka akan menyelesaikan proyek ini, di awal tahun pelajaran 2008”
***** akhir transkript subtitle *****

Rasulullah telah menubuatkan bahwa akan bermunculan orang-orang seperti Dzul Khuwaishirah penduduk Najed dari bani Tamim yakni orang-orang yang memahami Al Qur’an dan As Sunnah dan berkesimpulan atau menuduh kaum muslim lainnya telah musyrik (menyembah selain Allah) seperti menuduh menyembah kuburan atau menuduh berhukum dengan selain hukum Allah, sehingga membunuhnya namun dengan pemahaman mereka tersebut mereka membiarkan penyembah berhala yang sudah jelas kemusyrikannya.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: Dari kelompok orang ini, akan muncul nanti orang-orang yang pandai membaca Al Qur`an tetapi tidak sampai melewati kerongkongan mereka, bahkan mereka membunuh orang-orang Islam, dan membiarkan para penyembah berhala; mereka keluar dari Islam seperti panah yang meluncur dari busurnya. Seandainya aku masih mendapati mereka, akan kumusnahkan mereka seperti musnahnya kaum ‘Ad. (HR Muslim 1762)

Dari Hudzaifah Radhiyallahu anhu, Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda “Sesungguhnya yang paling aku khawatirkan atas kamu adalah seseorang yang telah membaca al-Qur’an, sehingga ketika telah tampak kebagusannya terhadap al-Qur’an dan dia menjadi pembela Islam, dia terlepas dari al-Qur’an, membuangnya di belakang punggungnya, dan menyerang tetangganya dengan pedang dan menuduhnya musyrik”. Aku (Hudzaifah) bertanya, “Wahai nabi Allah, siapakah yang lebih pantas disebut musyrik, penuduh atau yang dituduh?”. Beliau menjawab, “Penuduhnya”.

Penyembah berhala yang terkenal adalah kaum Yahudi atau yang sekarang dikenal sebagai kaum Zionis Yahudi atau disebut juga dengan freemason, iluminati, lucifier yakni kaum yang meneruskan keyakinan pagan (paganisme)

Allah Ta’ala berfirman yang artinya, “Dan setelah datang kepada mereka seorang Rasul dari sisi Allah yang membenarkan apa (kitab) yang ada pada mereka, sebahagian dari orang-orang yang diberi kitab (Taurat) melemparkan kitab Allah ke belakang (punggung)nya, seolah-olah mereka tidak mengetahui (bahwa itu adalah kitab Allah). Dan mereka mengikuti apa yang dibaca oleh syaitan-syaitan pada masa kerajaan Sulaiman (dan mereka mengatakan bahwa Sulaiman itu mengerjakan sihir), padahal Sulaiman tidak kafir (tidak mengerjakan sihir), hanya syaitan-syaitan lah yang kafir (mengerjakan sihir).” (QS Al Baqarah [2]:101-102)

Mereka bukan sekedar membiarkan namun bekerjasama dengan para penyembah berhala, kaum yang dimurkai oleh Allah Azza wa Jalla. Mereka menjadikannya teman kepercayaan, penasehat, pemimpin dan pelindung.

Firman Allah Ta’ala yang artinya

“Tidakkah kamu perhatikan orang-orang yang menjadikan suatu kaum yang dimurkai Allah sebagai teman? Orang-orang itu bukan dari golongan kamu dan bukan (pula) dari golongan mereka. Dan mereka bersumpah untuk menguatkan kebohongan, sedang mereka mengetahui“. (QS Al Mujaadilah [58]:14 )

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu ambil menjadi teman kepercayaanmu orang-orang yang, di luar kalanganmu (karena) mereka tidak henti-hentinya (menimbulkan) kemudharatan bagimu. Mereka menyukai apa yang menyusahkan kamu. Telah nyata kebencian dari mulut mereka, dan apa yang disembunyikan oleh hati mereka adalah lebih besar lagi. Sungguh telah Kami terangkan kepadamu ayat-ayat (Kami), jika kamu memahaminya” , (QS Ali Imran, 118)

“Beginilah kamu, kamu menyukai mereka, padahal mereka tidak menyukai kamu, dan kamu beriman kepada kitab-kitab semuanya. Apabila mereka menjumpai kamu, mereka berkata “Kami beriman”, dan apabila mereka menyendiri, mereka menggigit ujung jari antaran marah bercampur benci terhadap kamu. Katakanlah (kepada mereka): “Matilah kamu karena kemarahanmu itu”. Sesungguhnya Allah mengetahui segala isi hati“. (QS Ali Imran, 119)

Hamad bin Salamah meriwayatkan dari Adi bin Hatim, dia berkata, “Saya bertanya kepada Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam ihwal ‘bukan jalannya orang-orang yang dimurkai’. Beliau bersabda, “Yaitu kaum Yahudi.’ Dan bertanya ihwal ‘bukan pula jalannya orang-orang yang sesat’. “Beliau bersabda, ‘Kaum Nasrani adalah orang-orang yang sesat.’

Mereka adalah korban hasutan atau korban ghazwul fikri (perang pemahaman) yang dilancarkan oleh kaum Yahudi atau yang kita kenal sekarang dengan Zionis Yahudi karena kaum yang diciptakan Allah Azza wa Jalla mempunyai rasa permusuhan terhadap umat Islam adalah kaum Yahudi

Firman Allah Ta’ala yang artinya, “orang-orang yang paling keras permusuhannya terhadap orang beriman adalah orang-orang Yahudi dan orang-orang musyrik” (QS Al Maaidah [5]: 82)

Contoh penghasut pada masa keruntuhan kekhalifahan Turki Ustmani adalah seperti Thomas Edward Lawrence, perwira Yahudi Inggris yang dikenal oleh ulama jazirah Arab sebagai Laurens Of Arabian

Laurens Of Arabian telah membuat kajian-kajian tentang puncak-puncak kekuatan umat Islam dan didapati bahwasanya kekuatan umat Islam adalah karena di barisan depannya adalah terdiri dari ahlil-ahli tasawuf dan ahli-ahli tharikat. Mereka adalah orang-orang yang paling gigih menentang penjajahan dan menangkis kepura-puraan yang ditaburkan oleh musuh-musuh Islam. Laurens telah membuktikan hujjahnya dengan sejarah, bagaimana gerakan tharikat Idrisiah di Maghribi (Maroko) berhasil dengan gemilang merebut kemerdekaan dari penjajajah. Raja-raja kerajaan Osmaniah dan para tentaranya adalah terdiri dari ahli-ahli tharikat. Mereka berkhalwat beberapa hari sebelum keluar berperang.

Selain itu pihak orientalis atas arahan pihak kolonial telah menyelidiki juga tharikat-tharikat, antara lain Idrisiah di Libya dan beberapa negara Islam lainnya, termasuk kepulauan Melayu oleh Snouck Hurgronje orientalis Belanda di Indonesia. Hasil kajian dan laporan yang diberikan kepada pemerintah kolonial itulah yang menyebabkan lahirnya kecurigaan terhadap gerakan tharikat dalam Islam.

Laurens Of Arabian telah diarahkan supaya menyelidiki ke dalam masyarakat Islam dengan menyamar sebagai ulama dan mendalami ilmu Islam di Mekah dan Mesir dan ia telah bertemu dengan ratusan ulama besar yang masyur, memperbincangkan tentang cara untuk membiasakan umat Islam di segi kemajuan dunia seperti kebiasaan barat serta ia menyebarkan faham supaya umat Islam tidak terikat dan tidak fanatik kepada aliran mazhabiah.

Pihak penjajajah memandang gerakan tharikat berbahaya bagi kekuasaan mereka. Untuk menyekat dan menghapuskannya, Prof. Haji Abu Bakar Acheh dalam bukunya Syariat telah menyampaikan puncak timbulnya ordinan’s guru tahun 1925 di Indonesia. Melalui ordinan’s itu katanya, bagi guru-guru agama yang hendak mengajar agama terutamanya bidang tarikat hendaklah mendaftarkan diri dan mendaftarkan sekaligus kitab-kitab yang hendak diajarkan.

Laurens Of Arabian mengupah seorang ulama yang anti tharikat dan anti mazhab untuk menulis sebuah buku yang menyerang tharikat. Buku tersebut diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa dan dibiayai oleh pihak orientalis. Akibatnya kerajaan Arab Saudi setelah diambil alih oleh pemimpin yang bermazhab Wahabiah telah mengharamkan Tasawuf dan Tharikat. Sedangkan di situlah (Mekah dan Madinah) asal mulanya pusat gerakan tharikat. Aliran faham anti tasawuf dan tharikat itu telah menguasai di pusat-pusat pengajian di Timur Tengah dan pusat pengajian di Eropa, sehingga para pelajar termasuk di negara ini yang sekarang telah bergelar ulama mengikuti aliran itu.

Selain menggunakan media masa (buku dan majalah) untuk menghapuskan tharikat sufi, pihak musuh Islam juga menggunakan berbagai cara lain, diantaranya mereka menciptakan tharikat sesat (palsu) dan menyelewengkan tharikat yang sebenarnya dengan menyelundupkan ajaran-ajaran mereka ke dalam gerakan tharikat. Ajaran mereka itulah yang mendakwa konon mendapat wahyu, dilantik menjadi nabi, menjadi Nabi Isa, Imam Mahdi dan lain sebagainya. Di antaranya yang jelas kepada kita adalah gerakan Qadiani, Bahai, Ismailiah di India, pimpinan Agha Khan dll.

Gerakan tharikat sesat (palsu) telah dikembangkan di seluruh dunia dan ini menjadi alasan bagi ulama anti tharikat untuk menguatkan hujjah mereka bahwa tharikat bukanlah ajaran Islam termasuk bertawassul itu suatu perbuatan sirik. Gerakan tharikat sesat tersebut tidak mustahil datang (tersebar) di negara kita sehingga merusak tharikat yang sebenarnya. Akibatnya pihak yang berwenang melakukan penyelidikan atas tharikat sesat tersebut kemudian membuat kesimpulan menyalahkan semua tharikat-tharikat yang ada termasuk tharikat yang haq.

Kalau pihak tertentu membuat kesimpulan mendakwa aliran tharikat semuanya sesat, lalu bagaimana kita hendak menghukumkan kepada ulama-ulama terdahulu yang mengasaskan, mengajarkan dan mengamalkan tharikat seperti Al Ghazali (Tharikat Al Ghazaliah), Syeikh Abdul Qadir Al Jaelani (Tharikat Qadiriah), Abdul Hasan Ali Asysily (Tharikat Syaziliyah), Muhammad Bin Bahaudin Naqsyabandi (Tharikat Naqsyabandiah) dan yang lainnya seperti Rafieyah, Dasuqiyah, Satariyah dan sebanyak lebih dari 40 buah tharikat ?

Kalau terdapat kesilapan dari segi pelaksanaan oleh khalifah atau syeikh tharikat yang kemudian (mutaakhirin) ini, itu adalah disebabkan kelemahan pribadi mereka sebagai manusia. Maka tidaklah sepantasnya diambil kesimpulan mengharamkan tharikat yang haq, sama seperti menuduh pengikutnya juga sesat. Sedang mereka terdiri dari orang-orang yang salih dan para Wali Allah.

Dr. Syamsuddin Arif (peneliti INSIST) mengatakan bahwa banyak bertaburan ayat-ayat yang mengajarkan zuhud, dzikir, tawakkal, mengutamakan kebahagiaan akhirat, pertemuan dengan Allah, dan lain sebagainya, yang semuanya ini adalah bagaian dari konsep tasawwuf.

Masih menurut Dr. Syamsuddin Arif, justru pernyataan yang mengatakan bahwa ajaran para sufistik ini tidak dari rahim Islam adalah pendapat dari para orientalis. Adalah Margareth Smith seorang orientalis yang menyatakan bahwa tasawwuf produk samping dari persinggungan antara Islam dengan tradisi agama-agama tua sekelilingnya semisal Yahudi dan Keristen.

Kemudian Alferd von Kremer, R.C orientalis yang beranggapan bahwa tasawwuf lahir dari ajaran Upanishad dan Vedanta Hindu. Ignaz Goldziher dengan teorinya bahwa tasawwuf pengaruh ajaran Budhaisme karena mengajarkan perilaku menolak keduniaan atau asketisme dan pola hidup sederhana.

Dan masih banyak teori orientalis lainnya semisal tasawwuf hasil dari akulturasi budaya Helenisme, tasawwuf wujud reaksinasionalisme Arya terhadap dominasi bangsa Smit dan terakhir bahwa sufisme adalah amalgasi (percampuran) dari ajaran India (Budha dan Hindhu), Persia (Zoroastrianisme), Nashrani, Neo Platonisme, Pseudo-Ariestotelisme, dan Gnotisisme, hasilnya adalah Singkretisme. (Dr. Syamsuddin Arif, Orientalisme dan Diabolisme Pemikiran,hal. 58)

Contoh hasutan yang cukup terkenal dan bahkan dipergunakan sebagai bahan olok-olokan atau celaan adalah potongan perkataan Imam Syafi’i yang dikutip dari Manaqib Al Imam As Syafi’i yang ditulis oleh Imam Al Baihaqi yakni ungkapan “Jika seorang belajar tasawuf di pagi hari, sebelum datang waktu dhuhur engkau akan dapati dia menjadi orang dungu.”

Imam Al Baihaqi ketika menjelaskan perkataan Imam Syafi’i , “Kalau seandainya seorang laki-laki mengamalkan tashawuf di awal siang, maka tidak tidak sampai kepadanya dhuhur kecuali ia menjadi kekurangan akal (dungu).” mengatakan bahwa “sesungguhnya yang dituju dengan perkataan itu adalah siapa yang masuk kepada ajaran sufi namun mencukupkan diri dengan sebutan daripada kandungannya, dan tulisan daripada hakikatnya, dan ia meninggalkan usaha dan membebankan kesusahannya kepada kaum Muslim, ia tidak perduli terhadap mereka serta tidak mengindahkan hak-hak mereka, dan tidak menyibukkan diri dengan ilmu dan ibadah, sebagaimana beliau sifatkan di kesempatan lain.” (Al Manaqib Al Imam As Syafi’i li Al Imam Al Baihaqi, 2/208)

Imam Al Baihaqi juga menjelaskan maksud perkataan Imam Syafi’ , ”Seorang sufi tidak menjadi sufi hingga ada pada dirinya 4 perkara, malas, suka makan, suka tidur dan berlebih-lebihan.” mengatakan bahwa ”Sesungguhnya yang beliau ingin cela adalah siapa dari mereka yang memiliki sifat ini. Adapun siapa yang bersih kesufiannya dengan benar-benar tawakkal kepada Allah Azza wa Jalla, dan menggunakan adab syari’ah dalam muamalahnya kepada Allah Azza wa Jalla dalam beribadah serta mummalah mereka dengan manusia dalam pergaulan, maka telah dikisahkan dari beliau (Imam As Syafi’i) bahwa beliau bergaul dengan mereka dan mengambil (ilmu) dari mereka.” (Al Manaqib Al Imam As Syafi’i li Al Imam Al Baihaqi, 2/207)

Kemudian Imam Al Baihaqi menyebutkan satu riwayat, bahwa Imam As Syafi’i pernah mengatakan,”Aku telah bersahabat dengan para sufi selama sepuluh tahun, aku tidak memperoleh dari mereka kecuali dua huruf ini,”Waktu adalah pedang” dan “Termasuk kemaksuman, engkau tidak mampu” (maknanya, sesungguhnya manusia lebih cenderung berbuat dosa, namun Allah menghalangi, maka manusia tidak mampu melakukannya, hingga terhindar dari maksiat).

Jelas, bahwa Imam Al Baihaqi memahami bahwa Imam As Syafi’i mengambil manfaat dari para sufi tersebut. Dan beliau menilai bahwa Imam As Syafi’i mengeluarkan pernyataan di atas karena perilaku mereka yang mengatasnamakan sufi namun Imam As Syafi’i menyaksikan dari mereka hal yang membuat beliau tidak suka. (lihat, Al Manaqib Al Imam As Syafi’i li Al Imam Al Baihaqi, 2/207)

Bahkan di satu kesempatan, Imam As Syafi’I memuji salah satu ulama ahli qira’ah dari kalangan sufi. Ismail bin At Thayyan Ar Razi pernah menyatakan,”Aku tiba di Makkah dan bertemu dengan As Syafi’i. Ia mengatakan,’Apakah engkau tahu Musa Ar Razi? Tidak datang kepada kami dari arah timur yang lebih pandai tentang Al Qur`an darinya.’Maka aku berkata,’Wahai Abu Abdillah sebutkan ciri-cirinya’. Ia berkata,’Berumur 30 hingga 50 tahun datang dari Ar Ray’. Lalu ia menyebut cirri-cirinya, dan saya tahu bahwa yang dimaksud adalah Abu Imran As Shufi. Maka saya mengatakan,’Aku mengetahunya, ia adalah Abu Imran As Shufi. As Syafi’i mengatakan,’Dia adalah dia.’” (Adab As Syafi’i wa Manaqibuhu, hal. 164)

Walhasil, Imam As Syafi’I disamping mencela sebagian penganut sufi beliau juga memberikan pujian kepada sufi lainnya. Dan Imam Al Baihaqi menilai bahwa celaan itu ditujukan kepada mereka yang menjadi sufi hanya dengan sebutan tidak mengamalkan ajaran sufi yang sesungguhnya dan Imam As Syafi’i juga berinteraksi dan mengambil manfaat dari kelompok ini.

Begitupula adanya upaya pemalsuan kitab diwan al-Imam asy-Syafi’i sebagaimana yang telah dijelaskan contohnya pada http://www.sarkub.com/2011/pemalsuan-kitab-diwan-imam-asy-syafii/

Mereka menghilangkan beberapa bait syair Imam Syafi’I yang sangat vital terkait tasawuf yakni

Jadilah ahli fikih dan sufi sekaligus, jangan hanya salah satunya. Sungguh demi Allah, saya benar-benar ingin memberikan nasehat padamu. Orang yang ini (yang hanya mempelajari ilmu fikih tapi tidak mau menjalani tasawuf), maka hatinya keras dan tidak dapat merasakan lezatnya taqwa. Sebaliknya, orang yang itu (yang hanya menjalani tasawuf tapi tidak mau mempelajari fikih), maka ia akan bodoh, sehingga bagaimana bisa dia menjadi baik (muslim yang ihsan)

Begitupula Imam Malik ~rahimahullah menasehatkan agar kita menjalankan perkara syariat sekaligus menjalankan tasawuf agar tidak menjadi manusia yang rusak (berakhlak tidak baik).

Imam Malik ~rahimahullah menyampaikan nasehat (yang artinya) “Dia yang sedang tasawuf tanpa mempelajari fiqih (menjalankan syariat) rusak keimanannya , sementara dia yang belajar fiqih (menjalankan syariat) tanpa mengamalkan Tasawuf rusaklah dia, hanya dia siapa memadukan keduanya terjamin benar“

Sebelum belajar Tasawuf, Imam Ahmad bin Hambal menegaskan kepada putranya, Abdullah ra. “Hai anakku, hendaknya engkau berpijak pada hadits. Anda harus hati-hati bersama orang-orang yang menamakan dirinya kaum Sufi. Karena kadang diantara mereka sangat bodoh dengan agama.” Namun ketika beliau berguru kepada Abu Hamzah al-Baghdady as-Shufy, dan mengenal perilaku kaum Sufi, tiba-tiba dia berkata pada putranya “Hai anakku hendaknya engkau bermajlis dengan para Sufi, karena mereka bisa memberikan tambahan bekal pada kita, melalui ilmu yang banyak, muroqobah, rasa takut kepada Allah, zuhud dan himmah yang luhur (Allah)” Beliau mengatakan, “Aku tidak pernah melihat suatu kaum yang lebih utama ketimbang kaum Sufi.” Lalu Imam Ahmad ditanya, “Bukanlah mereka sering menikmati sama’ dan ekstase ?” Imam Ahmad menjawab, “Dakwah mereka adalah bergembira bersama Allah dalam setiap saat…”

Imam Nawawi ~rahimahullah berkata : “Pokok-pokok metode ajaran tasawuf ada lima : Taqwa kepada Allah di dalam sepi maupun ramai, mengikuti sunnah di dalam ucapan dan perbuatan, berpaling dari makhluk di dalam penghadapan maupun saat mundur, ridha kepada Allah dari pemberian-Nya baik sedikit ataupun banyak dan selalu kembali pada Allah saat suka maupun duka “. (Risalah Al-Maqoshid fit Tauhid wal Ibadah wa Ushulut Tasawuf halaman : 20, Imam Nawawi)

Salah satu pelopor tasawuf dari kalangan Tabi’in , Al Hasan al-Basri ra (Madinah,21H/642M – Basrah,110 H/728M), berkata: ”Barangsiapa yang memakai tasawuf karena tawaduk (kepatuhan) kepada Allah akan ditambah Allah cahaya dalam diri dan Hatinya, dan barang siapa yang memakai tasawuf karena kesombongan kepadanya akan dicampakkan kedalam neraka”.

Tasawwuf sendiri menurut Imam Abdullah bin Alwi al-Haddad adalah hijarahnya seorang hamba dari akhlak tercela menuju akhlak mulia. Seorang sufi kamil (sempurna) adalah orang yang membersihkan amal, perkataan, niat dan akhlak dari riya’, dan segala yang dapat menimbulkan murka Allah, pun pula pendekatan dhohir dan bathin kepada Allah. (Imam Abdullah bin Alwi al-Haddad, Nafaisu al-uluwiyyah fi al-masail al-shufiyyah wat takhafu al-saail bi jawab al-masaail, hal 103),

Sayid Muhammad Alwi al-Maliki ulama muhadits menyatakan: “Kami mengenal tasawwuf sebagai madrasah ilmiah dan ilmu pengetahuan. Tassawuf juga merupakan metodologi, praktik tasawwuf adalah wawasan tertinggi dari khazanah pemikiran Islam.Tasawwuf juga merupakan sisi yang sempurna dari peradabandan cita-cita Islam.Ia juga merupakan gambaran kesempurnaan keimanan dan berbagaisisi kehidupan Muslim”. (Prof. Dr. Sayyid Muhammad bin Alwi al-Maliki, Pemahaman yang Harusdiluruskan, hal. 67)

Al-Imam Junaid al-Baghdadi imam para sufi berkata: “semua jalan telah tertutup bagi makhluk kecuali mereka yang mengikuti jejak Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wassalam, Sunnahnya, dan setia pada jalan yang ditempuh beliau. Karena semua jalan kebaikan terbuak untuk beliau dan mereka yang mengikutinya.” (Al-Hafidz Abi Ahmad bin Abdillah al-Ishhafani, Hilyahal-Auliya’wa Thaqat al-Ashfiya’)

Syeikh Dzunnun al-Mishri berkata: “Pokok pembicaraan tasawwuf ada empat yaitu, cinta kepada Allah yang Maha Agung, benci kepada dunia, mengikuti al-Qur’an, khawatir menjadi manusia tercelaka dan takut menjadi kafir”.

Abu yazid al-Bustami berkata: “Jika engkau memandang seseorang diberi kelebihan hingga mampu terbang ke udara, janganlah engkau tertipu sampai engkau melihat bagaimana sikapnya kepada perintah dan larangan Allah, menjaga batas-batas yang digariskan Allah dan pelaksanaan terhadap syariah.” Inti tasawwuf ialah istiqamah pada adab syariah dengan dalil yang shahih (istiqamah ‘alaadabi al-syariah al-tsabitati bi al-adillati al-shahihati). (Syaikh Hasyim Asy’ari, “al-Duraru al-Muntatsiru fi al-Masaail al-tis’a ‘asyarah”,hal. 06)

Dari beberapa pernyataan para ulama sufi di atas dapat disimpulkan; bahwa hakikat sufisme adalah sebuah metode beribadah kepada Allah dalam rangka menuju ridho Allah, dengan meningkatkan kwalitas tuntunan syariah yang ada. Menurut Dr. Ugi Suharto (Pendiri INSIST), mereka (para sufi) berusaha menerapkan ajaran syariah sesuai dengan apa yang dilakukan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wassallam baik dhohir maupun bathinnya.

Agama meliputi 3 (tiga) unsur terpenting yaitu, Islam, Iman dan Ihsan.

Tentang Islam kita dapat temukan dalam ilmu fiqih, sasarannya syari’at lahir, umpanya, sholat, puasa, zakat, naik haji, perdagangan, perkawinan, peradilan, peperangan, perdamaian dll.

Tentang Iman kita dapat temukan dalam ilmu tauhid (usuluddin), sasarannya i’tiqad (akidah / kepercayaan), umpamanya bagaimana kita (keyakinan dalam hati) terhadap Tuhan, Malaikat-Malaikat, Rasul-Rasul, Kitab-kitab suci, kampung akhirat, hari bangkit, surga, neraka, qada dan qadar (takdir).

Tentang Ihsan kita dapat temukan dalam ilmu tasawuf, sasarannya akhlak, budi pekerti, bathin yang bersih, bagaimana menghadapi Tuhan, bagaimana muraqabah dengan Tuhan, bagaimana membuang kotoran yang melengket dalam hati yang mendinding (hijab) kita dengan Tuhan, bagaimana Takhalli, Tahalli dan Tajalli. Inilah yang dinamakan sekarang dengan Tasawuf.

Tasawuf adalah istilah yang dipergunakan untuk segala perkara terkait dengan akhlak atau segala perkara terkait dengan ihsan

Silahkan periksa kurikulum atau silabus pada perguruan tinggi Islam maka tasawuf adalah ihsan atau akhlak. Contoh silabus pada tingkatan sekolah lanjutan dapat dilihat pada http://img.docstoccdn.com/thumb/orig/125464278.png

Al Habib Luthfi ketika ditanya apa pandangan-pandangan beliau tentang tasawuf. Beliau menjelaskan sebagaimana yang termuat pada http://www.habiblutfi.net/index.php/berita/item/338-pengamalan-tasawuf-ala-al-habib-luthfi

***** awal kutipan *****
Tasawuf adalah pembersih hati. Dan tasawuf itu ada tingkatan-tingkatannya. Yang terpenting, bagaimana kita bisa mengatur diri kita sendiri. Semisal memakai baju dengan tangan kanan dahulu, lalu melepaskannya dengan tangan kiri.

Bagaimana kita masuk masjid dengan kaki kanan dahulu. Dan bagaimana membiasakan masuk kamar mandi dengan kaki kiri dulu dan keluar dengan kaki kanan. Artinya bagaimana kita mengikuti sunah-sunah Nabi. Itu sudah merupakan bagian dari tasawuf.

Para orang tua kita dulu sebenarnya sudah mengeterapkan tasawuf. Hanya saja hal itu tak dikatakannya dengan memakai istilah tasawuf. Mereka terbiasa mengikuti tuntunan Rasulullah. Seperti ketika mereka menerima pemberian dengan tangan kanan, berpakaian dengan memakai tangan kanan dahulu. Mereka memang tak mengatakan, bahwa itu merupakan tuntunan Nabi shallallahu alaihi wasallam.

Tapi mereka mengajarkan untuk langsung diterapkannya. Kini kita tahu kalau yang diajarkannya itu adalah merupakan tuntunan Nabi. Itu adalah tasawuf. Sebab tasawuf itu tak pernah terlepas dari nilai-nilai akhlaqul karimah. Sumber tasawuf itu adalah adab. Bagaimana adab kita terhadap kedua orang tua, bagaimana adab pergaulan kita dengan teman sebaya, bagaimana adab kita dengan adik-adik atau anak-anak kita. Bagaimana adab kita terhadap lingkungan kita.

Termasuk ucapan kita dalam mendidik orang-orang yang ada di bawah kita. Kepada anak-anak kita yang aqil baligh, kita harus bener-bener menjaganya agar jangan sampai mengeluarkan ucapan yang kurang tepat kepada mereka. Sebab ucapan itu yang diterima dan akan hidup di jawa anak-anak kita.
***** akhir kutipan *****

Oleh karenanya janganlah mengikuti salafnya adalah mengikuti orang-orang seperti Dzul Khuwaishirah penduduk Najed dari bani Tamim yakni orang-orang yang gigih mengamalkan sunnah Rasulullah namun tidak menjadikannya muslim yang ihsan atau muslim yang berakhlakul karimah.

Seseorang gigih mengamalkan sunnah Rasulullah namun tidak menjadikannya muslim yang ihsan atau muslim yang berakhlakul karimah adalah menunjukkan amal ibadah mereka tidak diterima.

Apa yang menyebabkan amal ibadah tidak diterima silahkan baca tulisan pada https://mutiarazuhud.wordpress.com/2015/08/11/nubuat-tentang-perselisihan/

Wassalam

Zon di Jonggol, Kabupaten Bogor 16830

Iklan

Read Full Post »