Feeds:
Pos
Komentar

Posts Tagged ‘Nariyah’

Selain kesalahpahaman sebagian ulama (ahli ilmu) dalam memahami maksud firman Allah ta’ala bahwa Rasulullah adalah manusia biasa sebagaimana yang telah kami uraikan dalam tulisan pada https://mutiarazuhud.wordpress.com/2011/03/11/manusia-paling-mulia/

Ada Kesalahpahaman lain yang berlarut-larut dan menimbulkan perselisihan diantara kita kaum muslim adalah akibat kesalahpahaman sebagian ulama (ahli ilmu) yang telah berpendapat sesat bagi beberapa ungkapan cinta (sholawat) kepada Rasulullah yang berisikan tawasul dengan (bihi) Rasulullah.

Sebagai contoh apa yang termuat dalam Sholawat Nariyah

أللّهُمَّ صَلِّ صَلَاةً كَامِلَةً وَسَلِّمْ سَلَامًا تَامًّا عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدِ الّذِي تَنْحَلُّ بِهِ الْعُقَدُ وَتَنْفَرِجُ بِهِ الْكُرَبُ وَتُقْضَى بِهِ الْحَوَائِجُ وَتُنَالُ بِهِ الرَّغَائِبُ وَحُسْنُ الْخَوَاتِمِ وَيُسْتَسْقَى الْغَمَامُ بِوَجْهِهِ الْكَرِيْمِ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ فِيْ كُلِّ لَمْحَةٍ وَنَفَسٍ بِعَدَدِ كُلِّ مَعْلُوْمٍ لَكَ

Ya Allah, limpahkanlah shalawat yang sempurna dan curahkanlah salam kesejahteraan yang penuh kepada junjungan kami Nabi Muhammad, yang dengan (sebab) beliau semua kesulitan dapat terpecahkan, semua kesusahan dapat dilenyapkan, semua keperluan dapat terpenuhi, dan semua yang didambakan serta husnul khatimah dapat diraih, dan berkat dirinya yang mulia hujanpun turun, dan semoga terlimpahkan kepada keluarganya serta para sahabatnya, di setiap detik dan hembusan nafas sebanyak bilangan semua yang diketahui oleh Engkau.

Mereka memahami bahwa sholawat tersebut mempunyai makna bahwa yang bersholawat meminta kepada Rasululllah agar kesulitan dapat terpecahkan, kesusahan dapat dilenyapkan, semua keperluan dapat terpenuhi dstnya.

Padahal makna sesungguhnya sholawat Nariyah adalah bertawasul dengan Rasulullah sehingga atas kehendak Allah ta’ala kesulitan dapat terpecahkan, kesusahan dapat dilenyapkan, semua keperluan dapat terpenuhi dstnya.

Tidak ada larangan bertawasul dengan Rasulullah, bahkan Umar bin Khatab ra pernah mencontohkan bertawasul dengan  Rasulullah bahkan bertawasul dengan paman nabi Rasulullah.

Telah menceritakan kepada kami Al Hasan bin Muhammad berkata, telah menceritakan kepada kami Muhammad bin ‘Abdullah Al Anshari berkata, telah menceritakan kepadaku bapakku ‘Abdullah bin Al Mutsanna dari Tsumamah bin ‘Abdullah bin Anas dari Anas bin Malik bahwa ‘Umar bin Al Khaththab radliallahu ‘anhu ketika kaum muslimin tertimpa musibah, ia meminta hujan dengan berwasilah kepada ‘Abbas bin ‘Abdul Muththalib seraya berdo’a, Ya Allah, kami meminta hujan kepada-Mu dengan perantaraan Nabi kami, kemudian Engkau menurunkan hujan kepada kami. Maka sekarang kami memohon kepada-Mu dengan perantaraan paman Nabi kami, maka turunkanlah hujan untuk kami. Anas berkata, Mereka pun kemudian mendapatkan hujan. (Shahih Bukhari hadits no 954 dan no 3434)
Sumber: http://www.indoquran.com/index.php?surano=11&ayatno=128&action=display&option=com_bukhari
dan
http://www.indoquran.com/index.php?surano=43&ayatno=205&action=display&option=com_bukhari

Begitupula kesalahpahaman sebagian ulama (ahli ilmu) memahami sholawat badar

shalatullah salamullah ‘ala thoha rosulillah
shalatullah salamullah ‘ala yaasiin habibillah
tawasalnaa bibismillah wa bil hadi rosulillah
wa kulli majahid fillah
bi ahlil badri ya Allah

Shalawat Allah dan salam-Nya semoga tercurah kepada Thaha Rasulullah
Shalawat Allah dan salam-Nya semoga tercurah kepada Yasin Habibillah
Kami bertawassul dengan nama Allah dan dengan pemberi petunjuk, Rasulullah
Dan dengan seluruh orang yang berjihad di jalan Allah, serta dengan ahli Badr, ya Allah

Mereka berpendapat sesat karena sholawat ba’dar didalamnya bertawasul dengan Rasulullah dan bertawasul para mujahidin dan ahli Badr.

Dari hadits di atas dapat kita ketahui bahwa Umar bin Khatab ra pernah bertawasul dengan Nabi dan bertawasul dengan Paman Nabi yang merupakan bagian dari orang yang “melihat” Rasulullah dan tentu tidak ada larangan bertawasul dengan para mujahidin dan ahli Badr yang merupakan juga bagian dari orang-orang yang “melihat” Rasulullah.

Pada prinsipnya boleh kita bertawasul dengan orang-orang yang telah dikaruniakan ni’mat oleh Allah ta’ala yakni mereka yang istiqomah pada jalan yang lurus yakni Rasulullah, para Nabi, Shiddiqin , para Syuhada dan orang-orang sholeh

“Dan barangsiapa yang menta’ati Allah dan Rasul(Nya), mereka itu akan bersama-sama dengan orang-orang yang dianugerahi ni’mat oleh Allah, yaitu : Nabi-nabi, para shiddiiqiin, orang-orang yang mati syahid, dan orang-orang saleh. Dan mereka itulah teman yang sebaik-baiknya .” (QS An Nisaa [4]: 69 )

Rasulullah, para Nabi, Shiddiqin, para Syuhada dan orang-orang sholeh adalah orang-orang yang bertaqwa sehingga mereka termasuk orang-orang yang mulia.

Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal“. (QS al Hujurat [49]:13 )

Mereka mendapatkan kemulian di sisi Allah ta’ala sebagaimana para Syuhada

Janganlah kamu mengira bahwa orang-orang yang gugur di jalan Allah (syuhada) itu mati; bahkan mereka itu hidup disisi Tuhannya dengan mendapat rezki.” (QS Ali Imran [3]: 169)

Hamba-hamba Allah yang dicintaiNya akan diperlakukan khusus atau dimuliakanNya dan mereka berkumpul di sisi Allah Azza wa Jalla, yang terdekat denganNya dan paling mulia tentulah Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam.

Sholawat adalah ungkapan cinta kita kepada Rasululullah. Rasulullah tidak pernah melarang bagaimanapun ungkapan sholawat asalkan ungkapan sholawat itu tidak bertentangan dengan Al-Qur’an dan hadits.

[47.76]/4750 Telah menceritakan kepada kami Musaddad Telah menceritakan kepada kami Bisyr bin Al Mufadldlal Telah menceritakan kepada kami Khalid bin Dzakwan ia berkata; Ar Rubayyi’ binti Mu’awwidz bin ‘Afran berkata; suatu ketika, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dan masuk saat aku membangun mahligai rumah tangga (menikah). Lalu beliau duduk di atas kasurku, sebagaimana posisi dudukmu dariku. Kemudian para budak-budak wanita pun memukul rebana dan mengenang keistimewaan-keistimewaan prajurit yang gugur pada saat perang Badar. Lalu salah seorang dari mereka pun berkata, “Dan di tengah-tengah kita ada seorang Nabi, yang mengetahui apa yang akan terjadi esok hari.” Maka beliau bersabda: “Tinggalkanlah ungkapan ini, dan katakanlah apa yang ingin kamu katakan.“
Sumber: http://www.indoquran.com/index.php?surano=47&ayatno=76&action=display&option=com_bukhari

Dari hadits ini dapat pula kita ketahui bahwa amal kebaikan yang tidak dicontohkan oleh Rasulullah bukanlah termasuk bid’ah dlolalah atau terlarang karena Rasulullah tidak melarang kita mengungkapkan sholawat menurut ungkapan hati kita sendiri sebagaimana perkataan Rasulullah dalam hadits tersebut “katakanlah apa yang ingin kamu katakan”

Kullu bid’atin dlalalah adalah sesuatu yang tidak dicontohkan oleh Rasulullah, Sahabat, Tabi’in, Tabi’it tabi’in dalam urusan kami atau dalam syariat atau dalam syarat atau dalam sesuatu yang telah disyaratkan/ditetapkan oleh Allah ta’ala baik dalam perkara yang hukumnya wajib maupun perkara hukumnya haram.

Jadi tidak boleh mengatakan sesuatu itu hukumnya haram atau hukumnya wajib kecuali apa yang telah ditetapkan oleh Allah ta’ala dan Allah ta’ala tidaklah lupa.

Pada masa kini ada fatwa ulama (hasil kesepakatan banyak ulama) untuk sesuatu yang baru dan hukumnya haram berdasarkan Al-Qur’an dan Hadits atau “turunan” dari sesuatu yang hukumnya haram pula.
Landasan pendapat kami ini adalah
Rasulullah saw bersabda, “Sesungguhnya Allah telah mewajibkan beberapa kewajiban, maka jangan kamu sia-siakan dia; dan Allah telah memberikan beberapa batas, maka jangan kamu langgar dia; dan Allah telah mengharamkan sesuatu, maka jangan kamu pertengkarkan dia; dan Allah telah mendiamkan beberapa hal sebagai tanda kasihnya kepada kamu, Dia tidak lupa, maka jangan kamu perbincangkan dia.” (Riwayat Daraquthni, dihasankan oleh an-Nawawi).

Sedangkan bid’ah untuk perkara/perbuatan yang “telah Allah ta’ala diamkan” adalah baik atau amal baik atau amal kebaikan atau amal sholeh selama tidak melanggar Al-Qur’an dan Hadits.

Sholawat adalah perkara/perbuatan yang tidak ditetapkan oleh Allah ta’ala atau bukan perkara yang hukumnya wajib.
Jadi sholawat termasuk perkara/perbuatan yang “telah Allah ta’ala diamkan” artinya jika dilakukan/dibacakan, kita akan mendapatkan pahala dan tidak dilakukan oleh kita maka Allah ta’ala akan diamkan.

Sholawat bukan perkara hukumnya wajib harus sebagaimana yang dicontohkan oleh Rasulullah namun dibolehkan kita bersholawat sesuai dengan keinginan hati kita asalkan matan/isi sholawat tidak bertentangan dengan Al-Qur’an dan Hadits.

Ungkapkanlah rasa cinta kepada Rasulullah shallallahu alaihi wasallam dengan sholawat penuh rasa cinta shingga kita akan mengikuti sunnah Rasulullah dengan rasa senang maupun rasa ikhlas.  Tidaklah seperti sebagian orang yang mengikuti sunnah Rasululllah sekedar melepaskan kewajiban.

Bersholawatlah dengan penuh rasa cinta kepada Rasulullah shallallahu alaihi wasallam karena Rasulullah shallallahu alaihi wasallam amat mencintai umatnya.

Abu Dzar Radhiallahu anhu meriwayatkan dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, bahwa beliau mendirikan shalat malam, sambil menangis dengan membaca satu ayat yang diulang-ulangi, yaitu, Jika Engkau menyiksa mereka, maka sesungguhnya mereka adalah hamba-hamba Engkau juga. (QS. al-Maidah [5]: 118).

Dan diriwayatkan saat hari kiamat tiba, beliaulah orang yang pertama kali dibangkitkan. Yang diucapkannya pertama kali adalah, Mana umatku? Mana umatku? Mana umatku? Beliau ingin masuk surga bersama-sama umatnya. Beliau kucurkan syafaat kepada umatnya sebagai tanda kecintaan beliau terhadap mereka. Beliau juga sering berdoa, Allahumma salimna ummati. Ya Allah selamatkan umatku.

Keadaan diri Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam digambarkan Allah Subhanahu wata’ala. dalam firman-Nya, Sungguh telah datang kepadamu seorang Rasul dari kaummu sendiri, berat terasa olehnya penderitaanmu, sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, amat belas kasihan lagi penyayang terhadap orang-orang mukmin. (QS. at-Taubah [9]: 129).

Alangkah buruknya akhlak kita bila tak mencintai Nabi, sebagaimana Nabi mencintai kita, berkorban untuk kita, dan meneteskan airmatanya untuk kita.

Tangisan sang Nabi hendaknya menjadi pengingat kita, untuk lebih mencintainya

Ya Allah, berilah kami karunia untuk mecintai Nabi-Mu dan menapaki jalannya yang lurus, bukan sebagai orang yang sesat lagi menyesatkan.

Ya Allah, curahkan shalawat untuk baginda Muhammad shallallahu alaihi wasallam selama siang dan berganti malam

Ya Allah, curahkanlah shalawat untuk baginda Muhammad shallallahu alaihi wasallam selama ahli dzikir dan para shalihin melantunkan dzikirnya.

Ya Allah, kumpulkanlah kami dengan Nabi kami Muhammad shallallahu alaihi wasallam di Surga Firdaus yang tinggi dan sejukkanlah pandangan dan mata hati kami dengan melihatnya dan berilah kami kesempatan untuk minum dari telaganya, hingga kami tidak akan haus dan dahaga selamanya.

Shalawat dan salam semoga tercurah atas Nabi kita Muhammad shallallahu alaihi wasallam , atas segenap keluarga dan sahabat beliau.

Wassalam

Zon di Jonggol, Kab Bogor 16830

Read Full Post »

« Newer Posts