Feeds:
Pos
Komentar

Posts Tagged ‘Pangeran’

Penguasa Wahhabi

Dari keseluruhan raja-raja dinasti Saudi hanya Raja Faisal bin ‘Abd al ‘Aziz Al Sa’ud (1906-25 Maret 1975) yang mendesak ayahandanya supaya memutuskan hubungan dengan Amerika Serikat, ketika beliau masih belum jadi raja dan dipanggil pangeran Faisal

Namun desakannya itu ditolak oleh ayahandanya.  Pangeran Faisal menjadi Raja setelah Raja Saud (putra sulung) di usir keluar dari Arab Saudi ke Yunani.  Sedikit riwayat tentang Raja Saud bisa dibaca pada http://id.wikipedia.org/wiki/Saud_dari_Arab_Saudi

Raja Faisal mewujudkan keinginannya untuk menghilangkan pengaruh Amerika Serikat seperti penghentian ekspor minyak Arab Saudi ke Amerika Serikat. Namun atas kehendak Allah ta’ala beliau terbunuh “melalui”  anak adiknya, yaitu Faisal bin Musad, Selengkapnya silahkan baca tulisan pada
https://mutiarazuhud.wordpress.com/2011/01/26/bersekutu-dengan-amerika/

Raja Faisal adalah satu-satunya Raja dari dinasti Saudi yang mentaati perintah Allah ta’ala untuk tidak menjadikan teman kepercayaan orang-orang yang tidak bersyahadat.

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu ambil menjadi teman kepercayaanmu orang-orang yang, di luar kalanganmu (karena) mereka tidak henti-hentinya (menimbulkan) kemudharatan bagimu. Mereka menyukai apa yang menyusahkan kamu. Telah nyata kebencian dari mulut mereka, dan apa yang disembunyikan oleh hati mereka adalah lebih besar lagi. Sungguh telah Kami terangkan kepadamu ayat-ayat (Kami), jika kamu memahaminya” , (Ali Imran, 118)

Beginilah kamu, kamu menyukai mereka, padahal mereka tidak menyukai kamu, dan kamu beriman kepada kitab-kitab semuanya. Apabila mereka menjumpai kamu, mereka berkata “Kami beriman”, dan apabila mereka menyendiri, mereka menggigit ujung jari antaran marah bercampur benci terhadap kamu. Katakanlah (kepada mereka): “Matilah kamu karena kemarahanmu itu”. Sesungguhnya Allah mengetahui segala isi hati“. (Ali Imran, 119)

Kamu tidak akan mendapati sesuatu kaum yang beriman kepada Allah dan hari akhirat, saling berkasih sayang dengan orang-orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya, sekalipun orang-orang itu bapak-bapak, atau anak-anak, atau saudara-saudara ataupun keluarga mereka.
(Qs. Al Mujadilah : 22)

Janganlah orang-orang mu’min mengambil orang-orang kafir menjadi wali dan meninggalkan orang-orang mu’min. Barang siapa berbuat demikian, niscaya lepaslah ia dari pertolongan Allah…” (Qs. Ali-Imran : 28)

Tidakkah kamu perhatikan orang-orang yang menjadikan suatu kaum yang dimurkai Allah sebagai teman? Orang-orang itu bukan dari golongan kamu dan bukan (pula) dari golongan mereka. Dan mereka bersumpah untuk menguatkan kebohongan, sedang mereka mengetahui“. (QS Al Mujaadilah [58]:14 )

Paham Wahhabi  “disusun” dan “disyiarkan” dibawah pertemanan dengan orang-orang yang tidak bersyahadat. Bahkan mereka menyusun bersama kurikulum pendidikan/pengajaran dengan orang-orang yang tidak bersyahadat , sebagaimana yang telah kami sampaikan dalam tulisan https://mutiarazuhud.wordpress.com/2011/02/07/muslim-bukanlah-ekstrimis/ berikut kutipannya,

*****awal kutipan*****
Perwakilan pemerintah Amerika:
”Selama bertahun-tahun kami bekerja sama dengan pemerintahan Saudi untuk urusan menghapus segala apa yang mengarah kepada fanatisme terhadap kelompok-kelompok agama lain di dalam kurikulum pelajaran di Arab Saudi dan di beberapa tempat lainnya”. ”Hasilnya, pemerintahan Saudi di bulan Juli 2006 telah menetapkan untuk keperluan mengkoreksi dan memperbaharui buku-buku pelajarannya, juga menghilangkan semua celah besar yang mengarah pada kebencian terhadap berbagai kelompok dan agama lain”
”Sedangkan pemerintah Saudi telah menyebutkan bahwa mereka akan menyelesaikan proyek ini, di awal tahun pelajaran 2008”
*****akhir kutipan*****

Dalam tulisan kami itu, dapat pula diketahui bagaimana pluralisme-nya  Raja Abdullah , berikut kami kutip

*****awal kutipan*****
Raja Abdullah:
”Saya meminta kepada seluruh agama yang turun dari langit” (samawi)
”Untuk berkumpul dengan saudara-saudara mereka dalam satu iman dan ketaatan kepada seluruh agama, karena kita menghadap kepada satu Tuhan”
”Saya pernah berpikiran untuk mengunjungi Vatican, dan sayapun telah mengunjunginya”
”Sayapun bertemu dengan Paus dan saya berterima kasih padanya”
”Saya berterima kasih (karena) dia menemui saya”
”Saya tidak akan melupakan pertemuan seorang manusia dengan seorang manusia”
”dan ketika itu aku tawarkan ide ini kepadanya yaitu untuk menghadap kepada Tuhan ~ Yang Maha Perkasa lagi Mulia ~”
”Menghadap kepada Tuhan Yang Maha Perkasa lagi Mulia, dalam apa yang Dia perintahkan dalam agama-agama yang turun dari langit dalam Taurat, Injil dan Al Qur’an”
”Kita meminta kepada Tuhan Yang Maha Mulia lagi Perkasa agar memberi petunjuk pada kita semua”
”Semua agama-agama ini kepada satu kalimat yang diperintahkan oleh Tuhan ~Yang Maha Perkasa lagi Mulia ~ untuk dilaksanakan oleh manusia”
”Insyaallah dalam waktu sedekat mungkin, dan ketika kita berkumpul dan telah disetujui, Insyaallah, semuanya dalam kebaikan ~ semua agama”
”Saya akan pergi ke PBB, Saya juga yakin hingga orang yang beriman dengan Abrahamisme”
”Saya juga menginginkan mereka …. tapi ketiganya ini wajib bagi mereka Taurat, Injil dan Al-Qur’an dan selebihnya Insyaallah semuanya baik”
”Pada mereka ada kebaikan, karena kemanusiaan mereka juga bagus”
”karena moral mereka juga bagus dan karena negara mereka juga bagus dan karena semuanya adalah keluarga”
*****akhir kutipan*****

Kami telah uraikan bahwa tiada agama selain agama Islam. Dalam Al-Qur’an mereka hanya disebut kaum Yahudi dan kaum Nasrani. Silahkan baca tulisan kami pada
https://mutiarazuhud.wordpress.com/2011/02/07/2011/01/21/agama-hanya-islam/

Dari sejak Nabi Adam a.s sampai Khataman Nabiyin baginda Muhammad Shallallahu alaihi wasallam adalah agama Islam, agama tauhid dan bersyahadah

Berikut cuplikan tulisan kami

*****awal kutipan *****
Sayyidina Ali bin Abi Thalib kw. berkata:  ‘Setiap kali Allah swt. mengutus seorang nabi, mulai dari Nabi Adam sampai seterusnya, maka kepada nabi-nabi itu Allah swt. menuntut janji setia mereka bahwa jika nanti Rasulallah saw. diutus, mereka akan beriman padanya, membelanya dan mengambil janji setia dari kaumnya untuk melakukan hal yang sama’.

“Dan (ingatlah), ketika Allah mengambil perjanjian dari para nabi: “Sungguh, apa saja yang Aku berikan kepadamu berupa kitab dan hikmah kemudian datang kepadamu seorang rasul yang membenarkan apa yang ada padamu, niscaya kamu akan sungguh-sungguh beriman kepadanya dan menolongnya”. Allah berfirman: “Apakah kamu mengakui dan menerima perjanjian-Ku terhadap yang demikian itu?” Mereka menjawab: “Kami mengakui”. Allah berfirman: “Kalau begitu saksikanlah (hai para nabi) dan Aku menjadi saksi (pula) bersama kamu“. ( QS Ali Imran [3]:81 )

“Ataukah kamu (hai orang-orang Yahudi dan Nasrani) mengatakan bahwa Ibrahim, Isma’il, Ishaq, Ya’qub dan anak cucunya, adalah penganut agama Yahudi atau Nasrani?” Katakanlah: “Apakah kamu lebih mengetahui ataukah Allah, dan siapakah yang lebih zalim dari pada orang yang menyembunyikan syahadah dari Allah  yang ada padanya?” Dan Allah sekali-kali tiada lengah dari apa yang kamu kerjakan. (QS Al Baqarah [2]:140 )
*****akhir kutipan*****

Kaum Yahudi dan Kauym Nasrani tidak menegakkan syahadah maka mereka bukanlah orang-orang beriman. Sebagaimana yang disampaikan Allah Azza wa Jalla dalam firmanNya yang artinya

Katakanlah:”Hai Ahli Kitab, kamu tidak dipandang beragama sedikitpun hingga kamu menegakkan ajaran-ajaran Taurat, Injil, dan Al Qur’an yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu“. (QS Al Maa’idah [5]:68 )

Sekiranya Ahli Kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka..” (QS.Ali Imran [3] : 110)

Kami uraikan dalam tulisan pada
https://mutiarazuhud.wordpress.com/2011/01/21/2010/10/27/orang-orang-beriman/

Berikut cuplikannya

*****awal kutipan *****
Buya Hamka menulis dalam Tafsir al-Azhar: ”Beriman kepada Allah niscaya menyebabkan iman pula kepada segala wahyu yang diturunkan Allah kepada para RasulNya; tidak membeda-bedakan diantara satu Rasul dengan Rasul yang lain, percaya kepada keempat kitab yang diturunkan.” (Ibid, hal. 213).

Justru disinilah persoalan bagi kaum Yahudi dan Kristen, karena mereka menolak kenabian Muhammad saw dan kebenaran al-Quran. Karena itu, dalam tafsirnya ini, Hamka juga mengutip hadits Rasulullah saw yang diriwayatkan Imam Muslim:

Berkata Rasulullah s.a.w.: “ Demi Allah, yang diriku ada dalam genggaman tanganNya, tidaklah mendengar dari hal aku ini seseorangpun dari ummat sekarang ini, Yahudi, dan tidak pula Nasrani, kemudian tidak mereka mau beriman kepadaku, melainkan masuklah dia ke dalam neraka.”

Perlakuan kita terhadap mereka yang tidak bersyahadat, perlakukanlah mereka sebaik-baiknya sebagaimana ciptaan Allah Ta’ala yang lainnya.  Rasulullah pernah mencontohkan berhubungan dengan kaum non muslim dalam hal transaksi jual beli, menolong, memberikan perlindungan, membuat perjanjian, berlaku adil kepada orang kafir bukan bekerjasama ataupun berteman dengan mereka. Rasulullah pernah mencontohkan menjadikan mereka penunjuk jalan namun tentu tidak memberikan kesempatan mereka untuk memasukkan pemahaman (ghazwul fikri).

Perintah Allah Azza wa Jalla, jangan menjadikan mereka teman kepercayaan, atau penasehat dan jangan doakan mereka kecuali doakan mereka agar memperoleh petunjukNya.

Tidak boleh bagi Nabi dan orang-orang yang beriman memintakan ampun (kepada Allah) bagi orang-orang musyrikin walaupun orang-orang musyrik tersebut adalah kaum kerabat(nya), sesudah jelas bagi mereka , bahwasannya orang-orang musyrik itu adalah penghuni neraka jahannam” (QS at-Taubah [9]:113)

Begitupula dengan riwayat paham Wahhabi, sampai sekarang kami belum dapat membuktikan atau mengetahui dengan pasti bagaimana riwayat perjalanan dakwah Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab yang menurut informasi dalam dakwahnya beliau atau akibat dakwah/pemahaman beliau, kaum Wahhabi telah membantai saudara-saudara muslim yang menurut prasangka mereka telah menjadi kafir dan halal darah mereka.

Padahal orang-orang sebenar-benarnya kafir walaupun statusnya halal darahnya, bukan berarti boleh dibunuh begitu saja. Namun maksud dari status halal darahnya adalah ketika terpaksa membunuh mereka atau tidak ada jalan lain selain membunuh mereka atau adanya kemungkinan bahaya terbunuh bagi kita maka pembunuhan itu tidaklah berdosa. Sungguh setiap manusia pada dasarnya tidak boleh dibunuh kecuali dengan alasan-alasan syar’i . Kesalahan besar bagi mereka yang membunuh hamba-hamba Allah yang telah bersyahadat hanya berdasarkan prasangka dan pemahaman mereka sendiri.

dan janganlah kamu membunuh jiwa yang diharamkan Allah (membunuhnya) melainkan dengan sesuatu (sebab) yang benar. Demikian itu yang diperintahkan kepadamu supaya kamu memahami(nya)”  (QS Al An’aam [6]:151 ).

Wassalam

Zon di Jonggol, Kab Bogor, 16830

Read Full Post »