Feeds:
Pos
Komentar

Posts Tagged ‘Pembagian tauhid jadi tiga’

Tidak ada pembagian tauhid

Ternyata ustadz mereka mengakui bahwa,

TIDAK ADA PEMBAGIAN TAUHID. Yang membagi tauhid adalah orang-orang musyrikin yang menyimpang.

Silahkan saksikan pengakuannya dalam video pada https://youtu.be/j-FNV5Ds3Uc

PEMBAGIAN TAUHID jadi tiga adalah contoh BID’AH SAYYIAH dalam PERKARA AQIDAH karena tidak pernah disabdakan oleh Rasulullah dan bertentangan dengan Al Qur’an dan Hadits.

Contohnya dengan mereka mengatakan bahwa ORANG KAFIR BERTAUHID Rububiyah MEMBUKTIKAN bahwa Pembagian Tauhid jadi Tiga BERTENTANGAN dengan firman Allah (Al Qur’an) dan sabda Rasulullah (Hadits)

Orang-orang kafir tidak bisa dikatakan BERIMAN dalam tauhid rububiyah namun musyrik dalam tauhid uluhiyah karena sampai kapanpun, orang-orang kafir TIDAKLAH dapat DIKATAKAN BERIMAN atau BERTAUHID.

SEANDAINYA orang kafir DIAKUI BERIMAN atau BERTAUHID oleh Allah Ta’ala tentu mereka akan dikeluarkan dari neraka karena iman (tauhid) sebesar biji sawi pun akan mengeluarkannya dari neraka sebagaimana yang disabdakan oleh Rasulullah.

ثُمَّ يَقُولُ اللَّهُ تَعَالَى أَخْرِجُوا مِنْ النَّارِ مَنْ كَانَ فِي قَلْبِهِ مِثْقَالُ حَبَّةٍ

Lalu Allah Ta’ala berfirman: “Keluarkan dari neraka siapa yang didalam hatinya ada iman sebesar biji sawi”.

مِنْ خَرْدَلٍ مِنْ إِيمَانٍ فَيُخْرَجُونَ مِنْهَا قَدْ اسْوَدُّوا فَيُلْقَوْنَ فِي نَهَرِ الْحَيَا أَوْ الْحَيَاةِ

Maka mereka keluar dari neraka dalam kondisi yang telah menghitam gosong kemudian dimasukkan ke dalam sungai hidup atau kehidupan. (HR Bukhari 21 atau versi Fathul Bari No. 22)

Mereka mengatakan bahwa bertauhid rububiyah tidak cukup memasukkannya ke dalam Islam

Padahal kita tahu bahwa syarat orang masuk Islam adalah dengan mengucapkan syahadat.

Bagi orang yang telah bersyahadat (umat Islam) maka Tauhid Rububiyyah dengan Tauhid Uluhiyyah mempunyai keterkaitan yang sangat erat sehingga TIDAK TERBAGI atau TIDAK TERPISAH dan suatu KEMESTIAN (TALAZUM) artinya JIKA seseorang telah mengakui tauhid rubbubiyyah bagi Allah maka secara otomatis dia juga telah mengakui tauhid uluhiyyah karena RABB, Pencipta dan Pengurus semesta raya itu tak lain pasti juga ILAH yang layak disembah.

Dalam logika paling sederhana dapat diketahui bahwa RABB yang mencipta dan merawat alam semesta (aspek rububiyah) adalah satu-satunya ILAH yang layak disembah (aspek uluhiyah)

Jadi mustahil seorang manusia berakal akan melakukan penyembahan (aspek uluhiyah) pada sosok yang sama sekali tak terlibat dalam penciptaan dan perawatan alam semesta (aspek rububiyah).

Istilah tauhid uluhiyah dan rububiyah memang sudah dikenal sejak lama namun yang membuat menjadi konsep berjenjang dalam pembagian tauhid menjadi tiga adalah ulama panutan mereka, Ibnu Taimiyah (W 728H).

Sedangkan tauhid asma’ wa shifat mereka definisikan contohnya sebagai berikut:

توحيد الأسماء والصفات: وهو الإيمان بكل ما ورد في القرآن الكريم والأحاديث النبوية الصحيحة من أسماء الله وصفاته التي وصف بها نفسه أو وَصفه بها رسوله على الحقيقة.

“Tauhid al-Asma’ was-Shifat, yakni beriman pada semua yang ada dalam al-Qur’an yang mulia dan hadits-hadits nabi yang sahih yang terdiri dari nama-nama Allah dan sifat-sifatnya yang disifati sendiri oleh Allah dan Rasul secara hakikat.” (Syahatah Muhammad Saqar, Kasyf Syubahât as-Shûfiyah, halaman 27).

KEKELIRUAN terjadi karena mereka MENTERJEMAHKAN dan MEMAHAMI apa yang telah Allah Ta’ala sifatkan untuk diriNya dengan METODE PEMAHAMAN mereka SELALU dengan MAKNA DZAHIR dan MENGINGKARI MAKNA MAJAZ (makna kiasan /metafor) meneruskan KEBID’AHAN Ibnu Taimiyyah.

Ibnu Taimiyyah menggunakan METODE PEMAHAMAN SELALU dengan MAKNA DZAHIR dan mengingkari MAKNA MAJAZ (Ma’alim Ushulil Fiqh hal. 114-115).

Bahkan Ibnu Qoyyim al Jauziyah (w 751 H) murid dari Ibnu Taimiyyah mengatakan bahwa majaz adalah thaghut yang ketiga (Ath thaghut Ats Tsalits), karena dengan adanya majaz, akan membuka pintu bagi ahlu tahrif untuk menafsirkan ayat dan hadist dengan makna yang menyimpang (As Showa’iqul Mursalah 2/632)

Ulama Hambali, Al-Imam al-Hafizh Ibn al Jawzi memberikan pedoman cara menghadapi AYAT-AYAT MUTASYABIHAT yakni AYAT-AYAT YANG MEMPUNYAI BANYAK MAKNA terkait sifat Allah yang ditetapkanNya.

Beliau berkata, “Sesungguhnya dasar teks-teks itu harus dipahami dalam makna dzahirnya jika itu dimungkinkan namun jika ada tuntutan (kebutuhan) takwil maksudnya jika dipahami dengan makna dzahir akan terjerumus mensifatkan Allah dengan sifat yang tidak layak (tidak patut) bagiNya maka berarti teks tersebut bukan dalam dzahirnya tetapi dalam makna majaz (metaforis atau makna kiasan)”.

Jadi mereka yang memahami ayat-ayat mutasyabihat menolak takwil dengan ilmu balaghah yakni dengan makna majaz (makna kiasan) adalah serupa dengan mereka yang berpendapat tanpa ilmu sehingga mereka sesat dan menyesatkan.

Rasulullah bersabda, “ketika mereka ditanya mereka berfatwa tanpa ilmu, mereka sesat dan menyesatkan” (HR Bukhari 98)

Begitupula apabila diteliti dengan seksama makna yang tersembunyi (hidden meaning) di balik pembagian Tauhid menjadi tiga tersebut adalah takfir atau pengkafiran umat Islam secara terselubung.

Dengan konsep pembagian tauhid jadi tiga, mereka menganggap atau menuduh umat Islam baru memenuhi tauhid rububiyah seperti keyakinan bahwa yang menciptakan alam ini, yang memberikan rezeki hanya Allah Ta’ala namun tidak memenuhi tauhid uluhiyyah karena dianggap atau dituduh tidak mau beribadah hanya kepada Allah Ta’ala.

Prof. Dr. Assayyid Muhammad bin Assayyid Alwi al-Maliki yang biasa dipanggil Abuya menyampaikan bahwa “Pembagian Tauhid jadi Tiga sebagai faktor terpenting dan dominan yang menjadi sebab munculnya ekstremisme atau radikalisme.

Abuya menjelaskan bahwa pembagian (taqsim) tersebut tak lebih merupakan ijtihad yang dipaksakan dalam masalah ushuluddin (akidah/i’tiqod) serta tak ubahnya seperti tongkat yang berfungsi membuat perpecahan di antara umat Islam dengan konsekuensi hukumnya yang memunculkan sebuah konklusi (berupa anggapan/tuduhan) bahwa kebanyakan umat Islam telah kafir, menyekutukan Allah, dan lepas dari tali tauhid sebagaimana yang disampaikan dalam sebuah makalah pada “Pertemuan Nasional dan Dialog Pemikiran” kedua di Makkah Almukarramah : 5 s.d. 9 Dzulqo’dah 1424 H

Syaikh Ali Jum’ah (mantan mufti agung Mesir) menyampaikan bahwa Ibnu Taimiyah telah memelopori atau telah menciptakan bid’ah yang belum pernah terjadi sebelumnya yakni pembagian tauhid jadi tiga sehingga seseorang muslim tapi dianggap (dituduh) seorang kafir menurut pandangan (pembagian/taqsim) Ibnu Taimiyah dan para penerus kebid’ahannya dan ini adalah alasan utama bagi kemunculan ekstremisme atau radikalisme sebagaimana yang diperlihatkan ISIS dan lainnya.

Begitupula dalam wasiat Tuanku Imam Bonjol kepada puteranya sebelum meninggal dunia di pembuangan pada 1864 tersirat bahwa “pembagian tauhid jadi tiga” telah menjadi faktor terpenting munculnya ekstremisme atau radikalisme.

***** awal kutipan ****
“Akui hak para penghulu adat,” pesannya. “Taati mereka. Kalau ini tidak bisa ditaati, maka ia bukan penghulu yang benar dan hanya memiliki gelar saja.

Dan kalau pengetahuannya belum cukup, pelajarilah dua puluh sifat-sifat Allah”.
***** akhir kutipan *****

Dikatakan oleh Beliau “akui hak para penghulu adat” karena penghulu adat yang sebenarnya di Minangkabau berpegang pada prinsip Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah.

Jadi dalam wasiat Tuanku Imam Bonjol terungkap bahwa sebagai pengganti Pembagian Tauhid jadi tiga adalah pelajarilah kembali dua puluh sifat-sifat Allah.

Aqidatul khomsin yang menguraikan 20 sifat yang wajib bagi Allah adalah hasil istiqro (telaah) para ulama yang bersumber dari Al Qur’an dan Hadits yang juga dapat dipergunakan sebagai batasan-batasan atau pedoman untuk dapat memahami ayat-ayat mutasyabihat tentang sifat-sifat Allah sebagaimana yang telah disampaikan https://mutiarazuhud.wordpress.com/2020/02/26/manfaat-20-sifat-wajib/

Oleh karenanya SEJAK DINI sebaiknya disampaikan tentang aqidatul khomsin (lima puluh aqidah) dimana di dalamnya diuraikan tentang 20 sifat wajib bagi Allah sebagai SARANA untuk MENGENAL Allah.

“Awaluddin makrifatullah, akhiruddin makrifatullah”.

Artinya, awal beragama adalah makrifatullah (mengenal Allah) dan akhir beragama makrifatullah dalam arti menyaksikan Allah dengan hati (ain bashiroh).

Orang-orang yang BERAKHLAK BURUK kepada manusia tampaknya berkaitan dengan akhlak buruk mereka kepada Allah yakni orang-orang yang ‘Aashin (DURHAKA) atau MENGHINA Allah seperti mereka yang “menjauhkan” Allah dengan menetapkan arah (jihah) atau tempat bagi Allah di atas Arsy AKIBAT mereka belum bermakrifat yakni mereka belum dapat memandang Allah dengan hatinya (ain bashirah)

Mereka yang belum bermakrifat yakni mereka yang belum dapat memandang Allah dengan hatinya (ain bashirah) adalah BERAWAL dari mereka BELUM MENGENAL Allah (MAKRIFATULLAH) “dengan sebenar keagungan-Nya”.(QS Az Zumar [39]:67) AKIBAT METODE PEMAHAMAN mereka selalu dengan MAKNA DZAHIR.

Padahal jika BELUM MENGENAL Allah dapat berakibat amal ibadah sepanjang hidupnya tidak diterima oleh Allah Azza wa Jalla.

Imam Ghazali berkata:

لا تصح العبادة إلا بعد معرفة المعبود

“Tidak sah ibadah (seorang hamba) kecuali setelah mengetahui (mengenal Allah) yang wajib disembah”.

Imam Sayyidina Ali berkata

من زعمأن إلهنا محدود فقد جهل الخالق المعبود

”Barang siapa menganggap bahwa Tuhan kita mahdud/terbatas maka ia telah jahil, tidak mengenal Tuhan Sang Pencipta.” (Hilyatul Awliyâ’; Abu Nu’aim al Isfahani,1/73)

KH Thobary Syadzily salah satu cucu dari Syaikh Nawawi Al Bantani menyampaikan bahwa salah satu faedah Aqidatul Khomsin adalah supaya sah melakukan amal-amal sholeh di dunia sebagaimana tulisan yang telah diarsip pada https://mutiarazuhud.wordpress.com/2012/08/07/50-akidah/

Abdul Karim bin Hawazin al-Qusyairi an-Naisaburi asy-Syaf’i (W 465 H) dalam Lata’if al-Isyarat mengingatkan bahwa,

Langit maupun arsy dalam makna dzahir atau secara hissi (materi/fisikal) arah atas (jihah) adalah kiblat bagi doa seluruh makhluk

Sedangkan langit, arsy dalam makna majaz atau secara maknawi adalah terkait melihat Al-Haq, Yang Maha Tinggi.

Allah Ta’ala memudahkan siapa yang dikehendakiNya untuk melihat Allah dengan hatinya (ain bashirah) sebagaimana yang telah disampaikan pada https://mutiarazuhud.wordpress.com/2020/02/27/dimudahkan-melihat-allah/

Wassalam

Zon di Jonggol, Kabupaten Bogor 16830

Read Full Post »

Older Posts »