Feeds:
Pos
Komentar

Posts Tagged ‘Pembagian tauhid menjadi tiga’


Pembagian Tauhid menjadi Tiga adalah contoh bid’ah sayyiah dalam perkara akidah

Orang-orang yang hidup pada zaman now atau zaman khalaf (kemudian) NAMUN merasa atau mengaku-ngaku mengikuti mazhab salaf atau manhaj salaf dan menisbatkan sebagai SALAFI bingung dengan KENYATAAN bahwa PEMBAGIAN TAUHID menjadi TIGA tidak didapati pada zaman Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ataupun zaman para Sahabat (zaman Salaf) dan tidak pula disebutkan dalam Al Qur’an dan Hadits.

Mereka juga mengakui bahwa “Pembagian Tauhid jadi Tiga” adalah muhdats (PERKARA BARU/BID’AH) namun mereka BERALIBI serupa dengan pembagian para pakar ilmu Nahwu terhadap kata dalam bahasa Arab menjadi isim (nama), fi’il (kata kerja) dan harf (imbuhan) sebagaimana tulisan mereka pada http://almanhaj.or.id/2333-pembagian-tauhid.html

“Pembagian Tauhid menjadi tiga” adalah PERKARA BARU (BID’AH) dalam perkara AKIDAH/I’TIQOD termasuk PERKARA BARU (BID’AH) dalam URUSAN AGAMA.

Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda “Barang siapa yang membuat perkara baru (BID’AH) dalam URUSAN AGAMA yang tidak ada sumbernya (tidak diturunkan keterangan padanya) maka TERTOLAK.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Penguasaan ilmu tata bahasa Arab atau ilmu alat seperti nahwu, sharaf, balaghah (ma’ani, bayan dan badi’) sebagai syarat dasar untuk dapat memahami Al Qur’an dan Hadits ADALAH contoh BID’AH HASANAH atau BID’AH WAJIB sebagaimana yang disampaikan contohnya oleh Imam ‘Izzuddin bin Abdussalam (wafat 660 H/ 1262 M) atau dipanggil pula Imam Ibnu Abdis Salam di dalam kitab “Qawa’idul Ahkam fi Mashalihul Anam”

BID’AH tersebut hukumnya WAJIB, karena memelihara syari’at juga hukumnya wajib.

Tidak mudah memelihara syari’at terkecuali harus mengetahui tata bahasa Arab.

Sebagaimana kaidah ushul fiqih: “Maa laa yatimmul waajibu illa bihi fahuwa wajibun”. Artinya: “Sesuatu yang tidak sempurna kecuali dengannya, maka hukumnya wajib”.

Sedangkan “Pembagian Tauhid jadi Tiga” adalah contoh BID’AH SAYYIAH yakni PERKARA BARU (muhdats) yang BURUK sehingga ternasuk BID’AH DHOLALAH karena BERTENTANGAN dengan firman Allah (Al Qur’an) dan sabda Rasulullah (Hadits)

Contohnya mereka mengatakan bahwa “orang kafir MENGAKUI atau PERCAYA (BERIMAN) dalam Tauhid Rububiyah namun itu tidak cukup memasukkannya ke dalam Islam.

Dengan mereka mengatakan bahwa ORANG KAFIR BERTAUHID Rububiyah MEMBUKTIKAN bahwa Pembagian Tauhid jadi Tiga BERTENTANGAN dengan firman Allah (Al Qur’an) dan sabda Rasulullah (Hadits)

Orang-orang kafir tidak bisa dikatakan PERCAYA atau BERIMAN dalam tauhid rububiyah namun musyrik dalam tauhid uluhiyah karena sampai kapanpun, orang-orang kafir TIDAKLAH dapat DIKATAKAN BERIMAN atau BERTAUHID.

SEANDAINYA orang kafir DIAKUI BERTAUHID atau beriman oleh Allah Ta’ala tentu mereka akan dikeluarkan dari neraka karena tauhid (iman) sebesar biji sawi pun akan mengeluarkannya dari neraka sebagaimana yang disabdakan oleh Rasulullah.

ثُمَّ يَقُولُ اللَّهُ تَعَالَى أَخْرِجُوا مِنْ النَّارِ مَنْ كَانَ فِي قَلْبِهِ مِثْقَالُ حَبَّةٍ

Lalu Allah Ta’ala berfirman: “Keluarkan dari neraka siapa yang didalam hatinya ada iman sebesar biji sawi”.

مِنْ خَرْدَلٍ مِنْ إِيمَانٍ فَيُخْرَجُونَ مِنْهَا قَدْ اسْوَدُّوا فَيُلْقَوْنَ فِي نَهَرِ الْحَيَا أَوْ الْحَيَاةِ

Maka mereka keluar dari neraka dalam kondisi yang telah menghitam gosong kemudian dimasukkan ke dalam sungai hidup atau kehidupan. (HR Bukhari 21 atau versi Fathul Bari No. 22)

Mereka mengatakan bahwa bertauhid rububiyah tidak cukup memasukkannya ke dalam Islam

Padahal kita tahu bahwa syarat orang masuk Islam adalah dengan mengucapkan syahadat.

Bagi orang yang telah bersyahadat (umat Islam) maka Tauhid Rububiyyah dengan Tauhid Uluhiyyah mempunyai keterkaitan yang sangat erat sehingga TIDAK TERBAGI atau TIDAK TERPISAH dan suatu KEMESTIAN (TALAZUM) artinya JIKA seseorang telah mengakui tauhid rubbubiyyah bagi Allah maka secara otomatis dia juga telah mengakui tauhid uluhiyyah karena RABB, Pencipta dan Pengurus semesta raya itu tak lain pasti juga ILAH yang layak disembah.

Dalam logika paling sederhana dapat diketahui bahwa RABB yang mencipta dan merawat alam semesta (aspek rububiyah) adalah satu-satunya ILAH yang layak disembah (aspek uluhiyah)

Jadi mustahil seorang manusia berakal akan melakukan penyembahan (aspek uluhiyah) pada sosok yang sama sekali tak terlibat dalam penciptaan dan perawatan alam semesta (aspek rububiyah).

Istilah tauhid uluhiyah dan rububiyah memang sudah dikenal sejak lama namun yang membuat menjadi konsep berjenjang dalam pembagian tauhid menjadi tiga adalah ulama panutan mereka, Ibnu Taimiyah (W 728H).

Sedangkan tauhid asma’ wa shifat mereka definisikan contohnya sebagai berikut:

توحيد الأسماء والصفات: وهو الإيمان بكل ما ورد في القرآن الكريم والأحاديث النبوية الصحيحة من أسماء الله وصفاته التي وصف بها نفسه أو وَصفه بها رسوله على الحقيقة.

“Tauhid al-Asma’ was-Shifat, yakni beriman pada semua yang ada dalam al-Qur’an yang mulia dan hadits-hadits nabi yang sahih yang terdiri dari nama-nama Allah dan sifat-sifatnya yang disifati sendiri oleh Allah dan Rasul secara hakikat.” (Syahatah Muhammad Saqar, Kasyf Syubahât as-Shûfiyah, halaman 27).

Mereka secara TERANG-TERANGAN melanggar larangan Rasulullah akibat mereka MENTERJEMAHKAN dan MEMAHAMI apa yang telah Allah Ta’ala sifatkan untuk diriNya dengan METODE PEMAHAMAN mereka SELALU dengan MAKNA DZAHIR atau secara hissi (materi/fisikal) seperti MENETAPKAN arah atas (jihah) maupun tempat bagi Allah.

Para Sahabat menafikan arah dan tempat bagi Allah terkait dengan larangan dari Rasulullah

Rasulullah bersabda “Tidak layak bagi siapapun untuk mengatakan; ‘Aku lebih baik dari Yunus bin Mata.’ (HR Bukhari 4237)

Rasulullah melarang berkeyakinan (akidah/i’tiqod) bahwa Rasulullah diangkat ke TEMPAT yang TINGGI hingga ke Sidrah al-Muntaha TIDAK BOLEH dikatakan LEBIH BAIK atau LEBIH DEKAT secara hissi (materi / fisikal) kepada Allah Ta’ala dibanding Nabi Yunus yang berada di TEMPAT yang RENDAH yakni di dalam perut ikan besar yang kemudian dibawa hingga ke kedalaman lautan.

Imam Malik menjelaskan bahwa seandainya kemuliaan itu diraih karena berada di arah atas, maka tentu Rasulullah tidak akan melarang melebih-lebihkan Beliau atas nabi Yunus ibn Matta

Penjelasan Imam Malik tersebut disampaikan ketika Beliau meriwayatkan sabda Rasulullah

لا تفضلوني على يونس بن متى

“La Tufadl-dliluni ‘Ala Yunus Ibn Matta”

Imam Malik menjelaskan bahwa

****** awal kutipan *****
Rasulullah secara khusus menyebut Nabi Yunus dalam sabdanya, tidak menyebut Nabi lainya, adalah untuk memberikan pemahaman aqidah tanzih (Allah Subhanahu wa Ta’ala suci dari arah dan tempat).

Hal ini karena Rasulullah diangkat ke atas ke arah arsy (ketika peristiwa Mi’raj), sementara nabi Yunus dibawa ke bawah hingga ke dasar lautan yang sangat dalam (ketika Beliau ditelan oleh ikan besar), dan kedua arah tersebut, baik arah atas maupun arah bawah, keduanya bagi Allah Ta’ala sama saja.

Artinya satu dari lainnya tidak lebih dekat kepada-Nya, karena Allah ada tanpa tempat.
****** akhir kutipan ******

Penjelasan Imam Malik tersebut disampaikan oleh

1. Al-Imam al-‘Allamah al-Qadli Nashiruddin ibn al-Munayyir al-Maliki (seorang ulama terkemuka sekitar abad tujuh hijriyah), dalam karyanya berjudul “al-Muqtafa Fi Syaraf al-Musthafa

2. Al-Imam Taqiyyuddin as-Subki dalam karya bantahannya atas Ibn al-Qayyim al-Jaiziyyah (murid Ibn Taimiyah); yang berjudul as-Saif ash-Shaqil Fi ar-Radd ‘Ala ibn Zafil.

3. Al-Imam Muhammad Murtadla az-Zabidi dalam karyanya Ithaf as-Sadahal-Muttaqin Bi Syarah Ihya ‘Ulumiddin.

dan lain lainnya.

Begitupula Al-Imam al-Qurthubi menuliskan

***** awal kutipan *****
وقال أبو المعالي: قوله صلى الله عليه وسلم لا تفضلوني على يونس بن متّى

“Abu al-Ma’ali berkata: Sabda Rasulullah berbunyi “La Tufadl-dlilunî ‘Ala Yunus Ibn Matta”

المعنى فإني لم أكن وأنا في سدرة المنتهى بأقرب إلى الله منه وهو في قعر البحر في بطن الحوت. وهذا يدل على أن البارىء سبحانه وتعالى ليس في جهة

memberikan pemahaman bahwa Nabi Muhammad yang diangkat hingga ke Sidrah al-Muntaha tidak boleh dikatakan lebih dekat kepada Allah dibanding Nabi Yunus yang berada di dalam perut ikan besar yang kemudian dibawa hingga ke kedalaman lautan. Ini menunjukan bahwa Allah ada tanpa tempat dan tanpa arah (al-Jami’ Li Ahkam al-Qur’an, j. 11, h. 333-334, QS. al-Anbiya’: 87)
***** akhir kutipan *****

Al-’Allamah Asy-Syaikh Muhammad Nawawi Asy-Syafi’i Al-Bantani Al-Jawi dalam kitabnya ” Nur Adh-Dhalam” syarah ‘Aqidatul ‘Awam halaman 42 baris 3-6 mengatakan:

***** awal kutipan *****
Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak berada di suatu tempat maupun arah , Maha suci Allah dari yang demikian (bertempat atau berarah) , tempat hanya dinisbatkan kepada Nabi Muhammad shallallahu alaihi wasallam.

Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda :

لا تفضلوني على يونس بن متّى

“La Tufadl-dlilunî ‘Ala Yunus Ibn Matta”

maksudnya : Janganlah kamu berprasangka bahwa aku lebih dekat kepada Allah daripada Nabi Yunus hanya karena Allah mengangkat aku ke atas langit yang tujuh sedangkan Nabi Yunus berada didasar lautan didalam ikan , masing-masing dari kami berdua nisbat kedekatan dari Allah ada pada batasan yang sama.
***** akhir kutipan *****

Sebaliknya mereka mengkafirkan umat Islam yang tidak mau mengikuti PENDAPAT atau PEMAHAMAN mereka yang SELALU dengan MAKNA DZAHIR atau secara hissi (materi/fisikal) seperti MENETAPKAN arah atas (jihah) atau tempat bagi Allah sebagaimana yang telah disampaikan pada https://mutiarazuhud.wordpress.com/2020/03/02/kafirkan-berbeda-pemahaman/

Adapula mereka yang berkeyakinan (akidah/i’tiqod) bahwa di atas Arasy ada “bukan tempat” atau ada yang mengatakan Al Makan Al ‘Adami (tempat ketiadaan) sebagaimana yang telah disampaikan pada https://mutiarazuhud.wordpress.com/2020/02/14/ada-bukan-tempat/

Begitupula apabila diteliti dengan seksama makna yang tersembunyi (hidden meaning) di balik pembagian Tauhid menjadi tiga tersebut adalah takfir atau pengkafiran umat Islam secara terselubung.

Dengan konsep pembagian tauhid jadi tiga, mereka menganggap atau menuduh umat Islam baru memenuhi tauhid rububiyah seperti keyakinan bahwa yang menciptakan alam ini, yang memberikan rezeki hanya Allah Ta’ala namun tidak memenuhi tauhid uluhiyyah karena dianggap atau dituduh tidak mau beribadah hanya kepada Allah Ta’ala.

Prof. Dr. Assayyid Muhammad bin Assayyid Alwi al-Maliki yang biasa dipanggil Abuya menyampaikan bahwa “Pembagian Tauhid jadi Tiga sebagai faktor terpenting dan dominan yang menjadi sebab munculnya ekstremisme atau radikalisme.

Abuya menjelaskan bahwa pembagian (taqsim) tersebut tak lebih merupakan ijtihad yang dipaksakan dalam masalah ushuluddin (akidah/i’tiqod) serta tak ubahnya seperti tongkat yang berfungsi membuat perpecahan di antara umat Islam dengan konsekuensi hukumnya yang memunculkan sebuah konklusi (berupa anggapan/tuduhan) bahwa kebanyakan umat Islam telah kafir, menyekutukan Allah, dan lepas dari tali tauhid sebagaimana yang disampaikan dalam sebuah makalah pada “Pertemuan Nasional dan Dialog Pemikiran” kedua di Makkah Almukarramah : 5 s.d. 9 Dzulqo’dah 1424 H

Syaikh Ali Jum’ah (mantan mufti agung Mesir) menyampaikan bahwa Ibnu Taimiyah telah memelopori atau telah menciptakan bid’ah yang belum pernah terjadi sebelumnya yakni pembagian tauhid jadi tiga sehingga seseorang muslim tapi dianggap (dituduh) seorang kafir menurut pandangan (pembagian/taqsim) Ibnu Taimiyah dan para penerus kebid’ahannya dan ini adalah alasan utama bagi kemunculan ekstremisme atau radikalisme sebagaimana yang diperlihatkan ISIS dan lainnya.

Begitupula dalam wasiat Tuanku Imam Bonjol kepada puteranya sebelum meninggal dunia di pembuangan pada 1864 tersirat bahwa “pembagian tauhid jadi tiga” telah menjadi faktor terpenting munculnya ekstremisme atau radikalisme.

***** awal kutipan ****
“Akui hak para penghulu adat,” pesannya. “Taati mereka. Kalau ini tidak bisa ditaati, maka ia bukan penghulu yang benar dan hanya memiliki gelar saja.

Dan kalau pengetahuannya belum cukup, pelajarilah dua puluh sifat-sifat Allah”.
***** akhir kutipan *****

Dikatakan oleh Beliau “akui hak para penghulu adat” karena penghulu adat yang sebenarnya di Minangkabau berpegang pada prinsip Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah.

Jadi dalam wasiat Tuanku Imam Bonjol terungkap bahwa sebagai pengganti Pembagian Tauhid jadi tiga adalah pelajarilah kembali dua puluh sifat-sifat Allah.

Aqidatul khomsin yang menguraikan 20 sifat yang wajib bagi Allah adalah hasil istiqro (telaah) para ulama yang bersumber dari Al Qur’an dan Hadits yang juga dapat dipergunakan sebagai batasan-batasan atau pedoman untuk dapat memahami ayat-ayat mutasyabihat tentang sifat-sifat Allah sebagaimana yang telah disampaikan https://mutiarazuhud.wordpress.com/2020/02/26/manfaat-20-sifat-wajib/

Oleh karenanya SEJAK DINI sebaiknya disampaikan tentang aqidatul khomsin (lima puluh aqidah) dimana di dalamnya diuraikan tentang 20 sifat wajib bagi Allah sebagai SARANA untuk MENGENAL Allah.

“Awaluddin makrifatullah, akhiruddin makrifatullah”.

Artinya, awal beragama adalah makrifatullah (mengenal Allah) dan akhir beragama makrifatullah dalam arti menyaksikan Allah dengan hati (ain bashiroh).

Orang-orang yang BERAKHLAK BURUK kepada manusia tampaknya berkaitan dengan akhlak buruk mereka kepada Allah yakni orang-orang yang ‘Aashin (DURHAKA) atau MENGHINA Allah seperti mereka yang “menjauhkan” Allah dengan menetapkan arah (jihah) atau tempat bagi Allah di atas Arsy AKIBAT mereka belum bermakrifat yakni mereka belum dapat memandang Allah dengan hatinya (ain bashirah)

Mereka yang belum bermakrifat yakni mereka yang belum dapat memandang Allah dengan hatinya (ain bashirah) adalah BERAWAL dari mereka BELUM MENGENAL Allah (MAKRIFATULLAH) “dengan sebenar keagungan-Nya”.(QS Az Zumar [39]:67) AKIBAT METODE PEMAHAMAN mereka selalu dengan MAKNA DZAHIR.

Padahal jika BELUM MENGENAL Allah dapat berakibat amal ibadah sepanjang hidupnya tidak diterima oleh Allah Azza wa Jalla.

Imam Ghazali berkata:

لا تصح العبادة إلا بعد معرفة المعبود

“Tidak sah ibadah (seorang hamba) kecuali setelah mengetahui (mengenal Allah) yang wajib disembah”.

Imam Sayyidina Ali berkata

من زعمأن إلهنا محدود فقد جهل الخالق المعبود

”Barang siapa menganggap bahwa Tuhan kita mahdud/terbatas maka ia telah jahil, tidak mengenal Tuhan Sang Pencipta.” (Hilyatul Awliyâ’; Abu Nu’aim al Isfahani,1/73)

KH Thobary Syadzily salah satu cucu dari Syaikh Nawawi Al Bantani menyampaikan bahwa salah satu faedah Aqidatul Khomsin adalah supaya sah melakukan amal-amal sholeh di dunia sebagaimana tulisan yang telah diarsip pada https://mutiarazuhud.wordpress.com/2012/08/07/50-akidah/

Abdul Karim bin Hawazin al-Qusyairi an-Naisaburi asy-Syaf’i (W 465 H) dalam Lata’if al-Isyarat mengingatkan bahwa,

Langit maupun arsy dalam makna dzahir atau secara hissi (materi/fisikal) arah atas (jihah) adalah kiblat bagi doa seluruh makhluk

Sedangkan langit, arsy dalam makna majaz atau secara maknawi adalah terkait melihat Al-Haq, Yang Maha Tinggi.

Allah Ta’ala memudahkan siapa yang dikehendakiNya untuk melihat Allah dengan hatinya (ain bashirah) sebagaimana yang telah disampaikan pada https://mutiarazuhud.wordpress.com/2020/02/27/dimudahkan-melihat-allah/

PERSELISIHAN TIMBUL karena Ibnu Taimiyyah MELABELI KEBID’AHANNYA dengan label MAZHAB SALAF atau MANHAJ SALAF sehingga mereka merasa pasti benar atau mereka merasa berada di atas kebenaran.

Berikut kutipan fatwa Ibnu Taimiyyah dalam Majmu Fatawa 4/149

***** awal kutipan *****
Barangsiapa mengingkari penisbatan kepada salaf dan mencelanya, maka perkataannya terbantah dan tertolak ‘karena tidak ada aib untuk orang-orang yang menampakkan mazhab salaf dan bernisbat kepadanya bahkan hal itu wajib diterima menurut kesepakatan ulama, karena MAZHAB SALAF itu PASTI BENAR
***** akhir kutipan *****

Prof. Dr. Muhammad Sa’id Ramadhan Al-Buthi menjelaskan bahwa “istilah salaf itu bukanlah suatu mazhab dalam Islam, sebagaimana yang dianggap oleh sebagian mereka yang mengaku sebagai salafi, tetapi istilah salaf itu sendiri merujuk kepada suatu zaman awal umat Islam“.

Istilah mazhab Salaf adalah keliru karena penisbatan nama mazhab adalah kepada nama perorangan bukan pada suatu kelompok atau nama generasi.

Penisbatan nama mazhab adalah kepada fuqaha (ahli fiqih) atau ahli istidlal yang telah meraih kompetensi sebagai Mujtahid Mutlak atau Mufti Mustaqil

Ibnu Taimiyyah tidak pernah mengklaim dirinya sebagai ulama Hanbali karena Beliau berpendapat pintu ijtihad selalu terbuka namun belum berkompetensi sebagai ahli istidlal.

Para ulama terdahulu menggolongkan Ibnu Taimiyyah sebagai ahli hadits dalam arti ahli (membaca) hadits.

Begitupula mereka yang merasa atau mengaku-ngaku sebagai ahlussunnah dalam arti ahli (membaca) sunnah alias ahli (membaca) hadits.

Jadi mereka secara TERANG-TERANGAN melanggar larangan Rasulullah yakni mereka MENTERJEMAHKAN dan MEMAHAMI DALIL (Al Qur’an dan Hadits) atau “Kembali kepada Al Qur’an dan Hadits” secara otodidak (shahafi) menurut AKAL PIKIRAN mereka sendiri dan KEKELIRUAN terjadi karena METODE PEMAHAMAN mereka SELALU dengan MAKNA DZAHIR.

Rasulullah bersabda “Barangsiapa menguraikan Al Qur’an dengan akal pikirannya sendiri dan merasa benar, maka sesungguhnya dia telah berbuat kesalahan”. (HR. Ahmad)

Ibnu Taimiyyah menggunakan METODE PEMAHAMAN SELALU dengan MAKNA DZAHIR dan mengingkari MAKNA MAJAZ (Ma’alim Ushulil Fiqh hal. 114-115).

Bahkan Ibnu Qoyyim al Jauziyah (w 751 H) murid dari Ibnu Taimiyyah mengatakan bahwa majaz adalah thaghut yang ketiga (Ath thaghut Ats Tsalits), karena dengan adanya majaz, akan membuka pintu bagi ahlu tahrif untuk menafsirkan ayat dan hadist dengan makna yang menyimpang (As Showa’iqul Mursalah 2/632)

Ulama Hambali, Al-Imam al-Hafizh Ibn al Jawzi memberikan pedoman cara menghadapi AYAT-AYAT MUTASYABIHAT yakni AYAT-AYAT YANG MEMPUNYAI BANYAK MAKNA terkait sifat Allah yang ditetapkanNya.

Beliau berkata, “Sesungguhnya dasar teks-teks itu harus dipahami dalam makna dzahirnya jika itu dimungkinkan namun jika ada tuntutan (kebutuhan) takwil maksudnya jika dipahami dengan makna dzahir akan terjerumus mensifatkan Allah dengan sifat yang tidak layak (tidak patut) bagiNya maka berarti teks tersebut bukan dalam dzahirnya tetapi dalam makna majaz (metaforis atau makna kiasan)”.

Jadi mereka yang memahami ayat-ayat mutasyabihat menolak takwil dengan ilmu balaghah yakni dengan makna majaz (makna kiasan) adalah serupa dengan mereka yang berpendapat tanpa ilmu sehingga mereka sesat dan menyesatkan.

Rasulullah bersabda, “ketika mereka ditanya mereka berfatwa tanpa ilmu, mereka sesat dan menyesatkan” (HR Bukhari 98)

Al-Hafidz Ibnu Hajar Al-Asqalani yang “membela” ke-Syaikhul Islam-an Ibnu Taimiyyah MENGINGATKAN bahwa AMBIL YANG BAIK dan TINGGALKAN YANG BURUK dari Ibnu Taimiyyah

*** awal kutipan ***
ومع ذلك فهو بشر يخطئ ويصيب ، فالذي أصاب فيه – وهو الأكثر – يستفاد منه ، ويترحم عليه بسببه ، والذي أخطأ فيه لا يقلد فيه

“Meskipun demikian, beliau (Ibnu Taimiyyah) adalah manusia yang terkadang keliru dan terkadang benar. Kebenaran yang berasal dari beliau –dan kebanyakan pendapat beliau mencocoki kebenaran- maka kita ambil dan kita doakan beliau dengan rahmat. Ketika beliau keliru, maka tidak boleh diikuti pendapatnya”.
*** akhir kutipan ****

Al-Hafidz Ibnu Hajar Al-Asqalani yang “membela” ke-Syaikhul Islam-an Ibnu Taimiyyah mengingatkan HAL YANG BURUK atau MENCONTOHKAN KEBID’AHAN Ibnu Taimiyyah adalah Ibnu Taimiyyah MEN-JISM-KAN Dzat Allah. Di antaranya Ibnu Taimiyyah mengatakan, “Sesungguhnya tangan, telapak kaki, betis dan wajah adalah sifat hakikat bagi Allah, dan sesungguhnya Allah beristiwa di atas Arsy dengan Dzat-Nya”

Pertanyaannya adalah siapakah yang menyodorkan kitab-kitab Ibnu Taimiyyah (setelah wafat lebih dari 350 tahun) kepada ulama Najed dari bani Tamim, Muhammad bin Abdul Wahhab sehingga diberi julukan “duplikat (salinan) Ibnu Taimiyyah” sebagaimana contoh informasi dari kalangan mereka sendiri yang mengakui bahwa Muhammad bin Abdul Wahhab sebagai imam mereka.

***** awal kutipan *****
Untuk itu, beliau mesti mendalami benar-benar tentang aqidah ini melalui kitab-kitab hasil karya ulama-ulama besar di abad-abad yang silam.

Di antara karya-karya ulama terdahulu yang paling terkesan dalam jiwanya adalah karya-karya Syeikh al-Islam Ibnu Taimiyah.

Demikianlah meresapnya pengaruh dan gaya Ibnu Taimiyah dalam jiwanya, sehingga Syeikh Muhammad bin `Abdul Wahab bagaikan duplikat (salinan) Ibnu Taimiyah.

Lengkaplah sudah ilmu yang diperlukan oleh seorang yang pintar yang kemudian dikembangkan sendiri melalui metode otodidak (belajar sendiri) sebagaimana lazimnya para ulama besar Islam mengembangkan ilmu-ilmunya. Di mana bimbingan guru hanyalah sebagai modal dasar yang selanjutnya untuk dapat dikembangkan dan digali sendiri oleh yang bersangkutan
***** akhir kutipan *****

Pertanyaan ini perlu disampaikan karena para ulama terdahulu justru telah melarang untuk membaca kitab-kitab Ibnu Taimiyyah dan para pengikutnya.

Contohnya Syaikh Ibnu Hajar Al-Haitami berkata, ” Maka berhati-hatilah kamu, jangan kamu dengarkan apa yang ditulis oleh Ibnu Taimiyyah dan muridnya Ibnul Qoyyim Al-Jauziyyah dan selain keduanya dari orang-orang yang telah menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya dan Allah telah menyesatkannya dari ilmu serta menutup telinga dan hatinya dan menjadikan penghalang atas pandangannya. Maka siapakah yang mampu memberi petunjuk atas orang yang telah Allah jauhkan?”. (Al-Fatawa Al-Hadithiyyah : 203)

Begitupula pendiri ormas Nahdlatul Ulama (NU), KH. Hasyim Asyari telah mengingatkan kita untuk menghindari meneruskan kebid’ahan Muhammad bin Abdul Wahab al-Najdi, pendiri firqah Wahabi dan penerus kebid’ahan Ibnu Taimiyah sebelum bertaubat serta kedua muridnya, Ibnul Qoyyim Al Jauziah dan Abdul Hadi, sebagaimana yang termuat dalam Risalatu Ahlissunnah wal Jama’ah halaman 5-6

******* awal kutipan *******
Diantara mereka (sekte yang muncul pada kisaran tahun 1330 H.), terdapat juga kelompok yang mengikuti pemikiran Muhammad Abduh dan Rasyid Ridha. Mereka melaksanakan kebid’ahan Muhammad bin Abdul Wahhab an-Najdi, Ahmad bin Taimiyah serta kedua muridnya, Ibnul Qoyyim dan Abdul Hadi.

Al-‘Allamah Syaikh Muhammad Bakhit al-Hanafi al-Muth’i menyatakan dalam kitabnya Thathhir al-Fuad min Danas al-I’tiqad (Pembersihan Hati dari Kotoran Keyakinan) bahwa: “Kelompok ini sungguh menjadi cobaan berat bagi umat Muslim, baik salaf maupun khalaf. Mereka adalah duri dalam daging (musuh dalam selimut) yang hanya merusak keutuhan Islam.”

Maka wajib menanggalkan/menjauhi (penyebaran) ajaran mereka agar yang lain tidak tertular. Mereka laksana penyandang lepra yang mesti dijauhi. Mereka adalah kelompok yang mempermainkan agama mereka. Hanya bisa menghina para ulama, baik salaf maupun khalaf
****** akhir kutipan *******

Ibnu Taimiyyah dipenjara oleh keputusan atau fatwa Qodhi empat mazhab dengan menghadirkan kitab aqidahnya Ibnu Taimiyyah, Al-Wasithiyyah dan dibacakan dalam persidangan yang kemudian diputuskan bahwa pemahaman Ibnu Taimiyyah adalah sesat dan menyesatkan.

Sultan Muhammad bin Qolaawuun memenjarakan Ibnu Taimiyyah di salah satu menara Benteng Damascus di Syria berdasarkan Fatwa Qodhi Empat Madzhab, yaitu :

1. Mufti Hanafi Qodhi Muhammad bin Hariri Al-Anshori rhm.

2. Mufti Maliki Qodhi Muhammad bin Abi Bakar rhm.

3. Mufti Syafi’i Qodhi Muhammad bin Ibrahim rhm.

4. Mufti Hanbali Qodhi Ahmad bin Umar Al-Maqdisi rhm.

Bahkan Syeikhul Islam Imam Taqiyuddin As-Subki rhm dalam kitab “Fataawaa As-Subki” juz 2 halaman 210 menegaskan :

“وحبس بإحماع العلماء وولاة الأمور”.

“Dia (Ibnu Taimiyyah) dipenjara dengan Ijma’ Ulama dan Umara.”

Selain qodhi empat mazhab di atas, berikut adalah nama-nama para ulama yang hidupnya semasa dengan Ibnu Taimiyah (W 728 H) dan berdebat dengannya atau yang hidup setelahnya dan membantah serta membuat tulisan-tulisan untuk menjelaskan tentang kesesatan Ibnu Taimiyyah.

Mereka adalah para ulama dari empat madzhab; Syafi’i, Hanafi, Maliki dan Hanbali:

1. Syekh Shalih ibn Abdillah al Batha-ihi, pimpinan para ulama di Munaybi’ ar-Rifa’i, kemudian menetap di Damaskus dan wafat tahun 707 H. Beliau adalah salah seorang yang menolak pendapat Ibnu Taimiyah dan membantahnya seperti dijelaskan oleh Ahmad al-Witri dalam karyanya Raudlah an- Nazhirin wa Khulashah Manaqib ash-Shalihin. Al Hafizh Ibnu Hajar al ‘Asqalani juga menuturkan biografi Syekh Shalih ini dalam ad-Durar al Kaminah.

2. Syekh Kamal ad-Din Muhammad ibn Abu al Hasan Ali as-Siraj ar-Rifa’i al Qurasyi dalamTuffah al Arwah wa Fattah al Arbah. Beliau ini semasa dengan Ibnu Taimiyah.

3. Qadli al Qudlah (Hakim Agung) di Mesir; Ahmad ibn Ibrahim as-Surrruji al Hanafi (W710 H) dalam I’tiraadlat ‘Ala Ibn Taimiyah fi ‘Ilm al Kalam.

4. Qadli al Qudlah (Hakim Agung) madzhab Maliki di Mesir; Ali ibn Makhluf (W 718 H). Beliau berkata: “Ibnu Taimiyah berkeyakinan Tajsim. Dalam madzhab kami, orang yang meyakini ini telah kafir dan wajib dibunuh”.

5. Asy-Syekh al Faqih Ali ibn Ya’qub al Bakri (W 724 H). Ketika Ibnu Taimiyah datang ke Mesir beliau mendatanginya dan mengingkari pendapat-pendapatnya

6. Al Faqih Syams ad-Din Muhammad ibn ‘Adlan asy-Syafi’i (W 749 H). Beliau mengatakan: “Ibnu Taimiyah berkata; Allah di atas ‘Arsy dengan keberadaan di atas yang sebenarnya, Allah berbicara (berfirman) dengan huruf dan suara”.

7. Al Hafizh al Mujtahid Taqiyy ad-Din as-Subki (W 756 H) dalam berapa karyanya:

– Al I’tibar Bi Baqa al Jannah Wa an-Nar
– Ad-Durrah al Mudliyyah Fi ar-Radd ‘Ala Ibn Taimiyah
– Syifa as-Saqam fi Ziyarah Khairi al Anam
– An-Nazhar al Muhaqqaq fi al Halif Bi ath-Thalaq al Mu’allaq
– Naqd al Ijtima’ Wa al Iftiraq fi Masa-il alAyman wa ath-Thalaq
– at-Tahqiq fi Mas-alah at Ta’liq
– Raf’ asy-Syiqaq ‘An Mas-alah ath-Thalaq.

8. Al Muhaddits al Mufassir al Ushuli al Faqih Muhammad ibn ‘Umar ibn Makki, yang lebih dikenal dengan Ibn al Murahhil asy-Syafi’i (W 716 H) beliau membantah dan menyerang Ibnu Taimiyah.

9 Al Hafizh Abu Sa’id Shalah ad-Din al ‘Ala-i (W. 761 H). Beliau mencela Ibnu Taimiyah seperti dijelaskan dalam:

– Dzakha-ir al Qashr fi Tarajim Nubala al ‘Ashr, hlm .32-33, buah karya Ibnu Thulun.
– Ahadits Ziyarah Qabr an-Nabi Shallallahu ‘alayhi wasallam.

10. Qadli al Qudlah (Hakim Agung) di al Madinah al Munawwarah; Abu Abdillah Muhammad ibn Musallam ibn Malik ash-Shalihi al Hanbali (W 762 H).

11. Syekh Ahmad ibn Yahya al Kullabi al Halabi yang lebih dikenal dengan Ibn Jahbal (W 733 H). Beliau semasa dengan Ibnu Taimiyah dan menulis sebuah risalah untuk membantahnya, berjudul Risalah fi Nafyi al Jihah, yakni menafikan Jihah (arah) bagi Allah.

12. Al Qadli Kamal ad-Din ibn az-Zumallakani (W 727 H). Beliau mendebat Ibnu Taimiyah dan menyerangnya dengan menulis dua risalah bantahan tentang masalah talak dan ziarah ke makam Rasulullah.

13. Al Qadli Kamal Shafiyy ad-Din al Hindi (W715 H), beliau mendebat Ibnu Taimiyah.

14. Al Faqih al Muhaddits ‘Ali ibn Muhammad al Bajiyy asy-Syafi’i (W 714 H). Beliau mendebat Ibnu Taimiyah dalam empat belas majelis dan berhasil membungkamnya.

15. Al Mu-arrikh al Faqih al Mutakallim al Fakhr Ibn al Mu’allim al Qurasyi (W 725 H) dalam karyanya Najm al Muhtadi wa Rajm al Mu’tadi.

16. Al Faqih Muhammad ibn ‘Ali ibn ‘Ali al Mazini ad-Dahhan ad-Dimasyqi (W 721 H) dalam dua risalahnya:

– Risalah fi ar-Radd ‘Ala Ibn Taimiyah fi Masalahath-Thalaq.
– Risalah fi ar-Radd ‘Ala Ibn Taimiyah fi Masalah az-Ziyarah.

17. Al Faqih Abu al Qasim Ahmad ibn Muhammad asy-Syirazi (W 733 H) dalam karyanya Risalah fi ar-Radd ‘Ala ibn Taimiyah..

18. Al Faqih al Muhaddits Jalal ad-Din Muhammad al Qazwini asy-Syafi’i (W 739 H)

19. Surat keputusan resmi yang dikeluarkan oleh Sultan Ibnu Qalawun (W 741 H) untuk memenjarakannya.

20. Al Hafizh adz-Dzahabi (W 748 H). Ia semasa dengan Ibnu Taimiyah dan membantahnya dalam dua risalahnya : – Bayan Zaghal al ‘Ilm wa ath-Thalab. – An-Nashihah adz-Dzahabiyyah

21. Al Mufassir Abu Hayyan al Andalusi (W 745 H) dalam Tafsirnya: An-Nahr al Maadd Min al Bahr al Muhith.

22. Syekh ‘Afif ad-Din Abdullah ibn As’ad al Yafi’i al Yamani al Makki (W 768 H).

23. Al Faqih Taj ad-Din as-Subki (W 771 H) dalam karyanya Thabaqat asy-Syafi’iyyah alKubra.

24. Al Muarrikh Ibnu Syakir al Kutubi (W 764H); murid Ibnu Taimiyah dalam karyanya :‘Uyun at-Tawarikh.

25. Syekh ‘Umar ibn Abu al Yaman al Lakhami al Fakihi al Maliki (W 734 H) dalam at-Tuhfah al Mukhtarah Fi ar-Radd ‘Ala Munkir az-Ziyarah.

Dan masih banyak ulama lainnya

Wassalam

Zon di Jonggol, Kabupaten Bogor 16830

Read Full Post »

Older Posts »