Feeds:
Pos
Komentar

Posts Tagged ‘pemilihan langsung’


Bukan salah Jokowi

Ada yang bertanya apa salah Jokowi sehingga sebagian rakyat mendeklarasikan gerakan #2019gantipresiden

Bukan salah Jokowi namun mungkin sebagian rakyat sudah bosan dan lelah dengan pencitraan atau “sandiwara” nya

Contohnya ada dugaan “konsultan pencitraan” yang paksa Jokowi nonton film Dilan sebagaimana yang diberitakan pada http://politik.rmol.co/read/2018/03/06/329461/Diduga,-Konsultan-Pencitraan-Yang-Paksa-Jokowi-Nonton-Film-Dilan-

Bahkan pihak asing atau media internasional juga menyoroti pencitraan Jokowi sebagaimana contoh yang dipublikasikan media online Asia Times oleh wartawan senior John McBeth dalam tulisannya berjudul “Widodo’s Smoke and Mirrors Hide Hard Truths” pada 23 Januari 2018.

Pemerintahan Jokowi disebut lihai bermain yakni membuat orang lain percaya atau yakin bahwa sesuatu yang sedang dilakukan atau benar telah dilakukan namun kenyataannya tidak. (smoke and mirrors, Cambridge Dictionary) sebagaimana contoh berita pada http://politik.rmol.co/read/2018/01/30/324707/Permainan-Smoke-and-Mirrors-Presiden-Jokowi-

Kalau menurut pendapat kami, bukan salah Jokowi namun salah pihak yang mengusung demokrasi kebablasan yakni mengganti sistem pemilihan yang semula berdasarkan demokrasi Pancasila sila ke 4 permusyawaratan / perwakilan menjadi pemilihan langsung, satu rakyat satu suara sehingga ada kemungkinan pihak asing dengan kepentingannya mengintervensi dengan pola pencitraan dan penggiringan opini melalui mass media.

Kalau dahulu sistem permusyawaratan dan perwakilan gagal merepresentasikan suara rakyat karena lembaga legeslatif dikuasai oleh Golkar yang menjadi perpanjangan tangan dari lembaga eksekutif yakni Presiden

Hal itu dikarenakan tidak adanya batas masa jabatan Presiden sehingga mirip seperti “Power Tends To Corrupt” , dalam hal ini KORUPSI SUARA RAKYAT artinya lembaga legislatif tidak lagi mewakili (merepresentasikan) suara rakyat.

Jadi reformasi UUD 1945 bukanlah dengan merubah keputusan para pendahulu dan pendiri negara yakni pemilihan tidak langsung melalui permusyawaratan dan perwakilan menjadi pemlihan langsung namun cukuplah mereformasi masa jabatan Presiden untuk mencegah timbulnya “absolute power” dilingkungan lembaga eksekutif.

Demokrasi Pancasila adalah demokrasi berdasarkan ketuhanan, kemanusiaan, persatuan dan berdasarkan kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan/perwakilan dalam upaya mencapai keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.

Hal yang dimaksud oleh ulama-ulama kita dahulu yang ikut mendirikan negara kita dalam menetapkan sila ke 4 dari Pancasila yakni “Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijksanaan dalam permusyawaratan / perwakilan” adalah memberikan kepercayaan kepada wakil-wakil yang berkompeten dan dipercayai untuk melaksanakan musyawarah untuk suatu mufakat.

Namun dalam perkembangannya di negara kita, orang-orang kemudian merubahnya menjadi demokrasi kebablasan, sebebas-bebasnya dengan pemilihan langsung sehingga tidak ada bedanya antara pemilih yang jahat dengan pemilih yang baik, pemilih yang awam dengan pemilih yang berkompeten, semua satu suara dalam menetapkan Presiden dan Wakil presiden, Kepala Pemerintahan Daerah seperti Gubernur dan Bupati.

Sebaiknya pemilihan Presiden dan Wakil Presiden, Gubernur, Bupati maupun Walikota tidak lagi secara langsung.

Rakyat pemilih kembali hanya memilih partai politik saja dengan program kerja yang disampaikan oleh para perwakilannya perwilayah sehingga dapat bertemu langsung dangan rakyat pemilih dan tersosialisasi dengan baik.

Perwakilan perwilayah bertanggung jawab untuk menyalurkan aspirasi rakyat pemilih jika program kerja yang dijanjikan tidak direalisasikan. Peyaluran aspirasi rakyat pemilih melalui perwakilan perwilayah dapat mengurangi akibat-akibat negatif demontrasi di jalan-jalan.

Rakyat memilih wakilnya dari lingkungan yang terdekat memudahkan untuk mengenal sosok yang akan dipilih, rekam jejak maupun keturunannya

Diriwayatkan dari Ibnu Abbas, Rasulullah bersabda: “Barangsiapa memilih seseorang menjadi pemimpin untuk suatu kelompok, yang di kelompok itu ada orang yang lebih diridhai Allah dari pada orang tersebut, maka ia telah berkhianat kepada Allah, Rasul-Nya dan orang-orang yang beriman.” (HR Hakim)

Cara bermusyawarah dan mufakat sistem perwakilan yang berkompetensi dan terpercaya atau ahlu a-halli wa al-‘aqdi telah dicontohkan oleh para Khulafaur Rasyidin dalam menetapkan khalifah pertama setelah wafatnya Sayyidina Muhammad shallallahu alaihi wasallam.

Setelah Nabi wafat, berkumpullah orang Muhajirin dan Anshar di Madinah, guna bermusyawarah siapa yang akan dibaiat (diakui) jadi Khalifah. Orang Anshar menghendaki agar Khalifah itu dipilih dari golongan mereka, mereka mengajukan Sa’ad bin Ubadah. Kehendak orang Anshar ini tidak disetujui oleh orang Muhajirin. Maka terjadilah perdebatan diantara keduanya, dan hampir terjadi fitnah diantara keduanya.

Sayyidina Abu Bakar ra segera berdiri dan berpidato menyatakan dengan alasan yang kuat dan tepat, bahwa soal Khalifah itu adalah hak bagi kaum Quraisy, bahwa kaum Muhajirin telah lebih dahulu masuk Islam, mereka lebih lama bersama bersama Rasulullah, dalam Al-Qur’an selalu didahulukan Muhajirin kemudian Anshar.

Khutbah Abu Bakar ini dikenal dengan Khutbah Hari Tsaqifah, setelah khutbah ini ummat Islam serta merta membai’at Abu Bakar, didahului oleh Umar bin Khattab, kemudian diikuti oleh para sahabat yang lain.

Adapun Abu Bakar Siddiq adalah sahabat nabi yang tertua yang amat luas pengalamannya dan amat besar ghirahnya kepada agama Islam. Dia adalah seorang bangsawan Quraisy, berkedudukan tinggi dalam kaumnya, hartawan dan dermawan. Jabatannya dikala Nabi masih hidup, selain dari seorang saudagar yang kaya, diapun seorang ahli nasab Arab dan ahli hukum yang jujur. Dialah yang menemani Nabi ketika hijrah dari Makkah ke Madinah. Dia telah merasakan pahit getirnya hidup bersama Rasulullah sampai kepada hari wafat beliau. Dialah yang diserahi nabi menjadi imam sembahyang ketika beliau sakit. Oleh karena itu, ummat Islam memandang dia lebih berhak dan utama menjadi Khalifah dari yang lainnya.

Jelaslah apa yang telah dicontohkan bahwa pemilihan berdasarkan permusyawaratan dan diwakili oleh orang-orang berkompeten untuk memilih atau dikenal sebagai Ahlul Halli wal Aqdi.

Dengan digantinya sistem demokrasi Pancasila berdasarkan permusyawaratan / perwakilan menjadi demokrasi kebablasan dengan pemilihan langsung maka timbul tuntutan calon pemimpin yang memiliki elektabilitas dan popularitas yang tinggi bukan kapabilitas atau kompetensi yang tinggi.

Sedangkan dengan demokrasi Pancasila berdasarkan permusyawaratan / perwakilan dapat diproses calon pemimpin berdasarkan kapabilitas atau kompetensi yang tinggi berdasarkan masukkan wakil rakyat yang berkompeten maupun dari survey atau dari kalangan akademisi.

Keadaan saat ini mengingatkan kami kepada pengakuan Jusuf Kalla bahwa “bisa hancur dan kacau negara ini kalau dipimpin Jokowi” sebagaimana contoh tulisan pada http://www.kompasiana.com/yakusa/pengakuan-jk-negara-ini-bisa-kacau-kalau-dipimpin-jokowi_54f7389ba3331152748b47a5

Tulisan tersebut berdasarkan video wawancara pada http://www.youtube.com/watch?v=cxP_LWhLkos

Jadi pada kenyataannya kepempinan Jokowi pada saat ini secara tidak langsung “terbantu” oleh wakil presidennya yakni Jusuf Kalla yang sudah teruji pula pada saat kepimpinan presiden SBY dan bahkan dijuluki “the Real Presiden”

Bung Karno telah berpesan, “Ingatlah… ingatlah… ingat pesanku lagi: “Jika engkau mencari pemimpin, carilah yang dibenci, ditakuti atau dicaci maki asing, karena itu yang benar. Pemimpin tersebut akan membelamu di atas kepentingan asing itu. “Dan janganlah kamu memilih pemimpin yang dipuji-puji asing, karena ia akan memperdayaimu.”

Kita harus mewaspadai adanya pihak asing yang akan mengadu domba antar kelompok kelompok komunal yang berbasiskan suku dan agama agar selalu benturan ,berkelahi satu dengan lainnya.

Panglima TNI Jenderal TNI Gatot Nurmantyo dalam acara Indonesia Lawyers Club di TVOne, Selasa, 8 November 2016 menyampaikan perspektif ancaman bagi NKRI yang menjadi incaran negara negara lain karena memiliki sumber daya alam (SDA) yang kaya dan karenanya sekarang dan nantinya sangat dibutuhkan oleh kekuatan asing sebagaimana yang dapat disaksikan dalam video yang di upload pada http://www.youtube.com/watch?v=aHzvADFHaFU

Panglima TNI menggambarkan keadaan dunia saat ini yang sedang mengalami krisis ekonomi dan juga disisi lain terjadinya persaingan global yang kesemuanya ini akan membuat mereka “melirik” Indonesia.

Beliau mengingatkan kembali ucapan Presiden Sukarno yang mengingatkan bahwa “suatu saat kelak negara-negara (lain) akan iri atas kekayaan NKRI”

Panglima TNI menyampaikan enam ancaman yakni

1. Menipisnya cadangan minyak terkait peak oil theory
2. Meningkatnya jumlah penduduk dunia.
3. Berkurangnya sumber pangan, air dan energi.
4. Ancaman Narkoba
5. Ancaman Terorisme.
6. Persaingan ekonomi global yang ketat.

Terkait ancaman Narkoba, Panglima TNI mengingatkan bahwa Tiongkok pernah kalah dengan Perancis dan Inggris yang didahului dengan perang candu.

Terkait sumber daya alam, energi , Panglima TNI menyampaikan tentang konflik laut Cina Selatan, keberadaan Marinir Amerika dengan kekuatan 1.250 – 2.500 di Darwin Australia dan posisi mereka ke Blok Masela hanya berjarak ratusan kilometer.

Beliau juga mengingatkan “keberadaan” Five Power Defence Arrangements (FPDA) yakni hubungan pertahanan negara-negara Persemakmuran Inggris, yang meliputi Inggris, Australia, Selandia Baru, Malaysia dan Singapura.

Sedangkan terkait ancaman Terorisme, Panglima TNI menyampaikan kenyataan bahwa Libya, Irak, Syria, pertama kali hanya permasalahan dalam negeri, lalu dicap teroris, pasukan koalisi masuk lalu bagi-bagi karena mempunyai energi.

Energi habis, akan pindah ke Indonesia.

Bahrun Naim mengatakan bahwa basis teroris nanti adalah Filipina Selatan, Jolo. Kita datang ke Jolo bawa senjata tidak diapa-apain. Pakai bendera ISIS tidak diapa-apain.

Panglima TNI mengingatkan bahwa keenam ancaman diatas tersebutlah, pasti, semua kejadian di dalam negeri akan dimanfaatkan untuk menggoyang.

Berikut kutipan transkript dari video di atas

****** awal kutipan ******
Mengapa demikian ? , Karena Indonesia kaya akan energi, kaya akan cadangan pangan, lautnya dan ini pasti ada invisible hand.

Inilah sebenarnya yang saya khawatirkan, tetapi saya katakan tadi, saya bersyukur, bahwa umat muslim Indonesia yang menjadi benteng terakhir.

Islam yang demokrasi, yang paling terakhir menjadi gambaran Islam yang rahmatan lilalamin bisa dibuktikan.

dan yang paling parah lagi adalah kebijakan Presiden, pemerintah untuk memberikan peluang bisnis menengah ke bawah, secara bebas berkompetensi sehingga tumbuh dan pembangunan tidak bersentral di Jawa tapi disudut sudut. Inilah yang juga membawakan pertumbuhan kita lebih optimis. Inilah yang sebenarnya ditakuti.

Ini kira-kira perspektif ini, sehingga saya mengajak semuanya, kita melihat benar-benar bahwa kita ini akan diganggu, diganggu, diganggu terus karena kalau kita maju, negara-negara lain juga akan khawatir
***** akhir kutipan *****

Bagi umat Islam, jika berbeda pendapat maka kembalikanlah kepada Allah Ta’ala (Al Qur’an) dan RasulNya (Hadits) dengan mengikuti “ulil amri di antara kamu” yakni para fuqaha (ahli fiqih)

Firman Allah Ta’ala yang artinya “Hai orang-orang yang beriman, ta’atilah Allah dan ta’atilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu”. (QS An Nisaa [4]:59)

Siapakah ulil amri yang harus ditaati oleh kaum muslim ?

Rasulullah shallallahu alaihi wasallam adalah sosok ulama dan umara sekaligus. Begitu juga para khulafaur Rasyidin seperti Sayyidina Abu Bakar, Sayyidina Umar, Sayyidina Ustman dan Sayyidina Ali radhiyallahuanhum, begitu juga beberapa khalifah dari bani Umayah dan bani Abbas.

Namun dalam perkembangan sejarah Islam selanjutnya, sangat jarang kita dapatkan seorang pemimpin negara yang benar-benar paham terhadap Islam. Dari sini, mulailah terpisah antara ulama dan umara.

Oleh karenanyalah penguasa negeri yang seharusnya mengakui ketidak mampuannya dalam pemahaman terhadap Al Qur’an dan As Sunnah dalam memimpin negara seharusnya dibawah nasehat dan pembinaan para ulama yang menguasai fiqih (hukum-hukum dalam Islam) sehingga warga negara mentaati ulil amri yang sudah dibina dan dibimbing oleh para ulama yang menguasai fiqih (hukum-hukum dalam Islam)

Ibnu Abbas ra sebagaimana yang disebutkan oleh Imam Thobari dalam tafsirnya telah menyampaikan bahwa ulil amri yang ditaati adalah para pakar fiqih atau para ulama yang menguasai hukum-hukum Allah sehingga negara dapat membuat hukum buatan manusia yang tidak bertentangan dengan hukum Allah atau tidak bertentangan dengan Al Qur’an da As Sunnah.

Begitupula dalam tafsir Ibnu Katsir QS An Nisa [4]:59 Juz 5 hal 271-272 Penerbit Sinar Baru Algensindo , Ali ibnu Abu Talhah meriwayatkan dari Ibnu Abbas sehubungan dengan makna ulil amri adalah ahli fiqih dan ahli agama. Hal yang sama telah dikatakan oleh Mujahid, Ata, Al-Hasan Al-Basri dan Abul Aliyah, bahwa makna ulil amri adalah para ulama.

Ketaatan umat Islam kepada ulil amri setempat yakni para fuqaha (mufti) yang dipimpin oleh mufti agung lebih didahulukan dari pada ketaatan kepada pemimpin ormas maupun penguasa negeri (umaro) dalam rangka menyunjung persatuan dan kesatuan kaum muslim sesuai semangat piagam Madinah yang memuat keharusan mentaati Nabi Muhammad Shallallahu alaihi wasallam yang ketika itu sebagai ulil amri dalam jama’atul muslimin

***** awal kutipan *****
Pasal 1

Sesungguhnya mereka satu bangsa negara (ummat), bebas dari (pengaruh dan kekuasaan) manusia.

Pasal 17

Perdamaian dari orang-orang beriman adalah satu

Tidak diperkenankan segolongan orang-orang yang beriman membuat perjanjian tanpa ikut sertanya segolongan lainnya di dalam suatu peperangan di jalan Tuhan, kecuali atas dasar persamaan dan adil di antara mereka

Pasal 36 ayat 1

Tidak seorang pun diperbolehkan bertindak keluar, tanpa ijinnya Muhammad Shallallahu alaihi wasallam
***** akhir kutipan *****

Dalam sejarah negara kita, dahulu terjadi pemberontakan yang dilakukan oleh mereka yang menyebut dirinya Darul Islam atau Tentara Islam Indonesia (yang biasa disingkat DI/TII) di bawah pimpinan SM. Kartosuwiryo.

Dia mempunyai latar belakang pendidikan Barat bukan seorang santri dari sebuah pesantren. Bahkan diceritakan orang bahwa ia tidak pernah mempunyai pengetahuan yang benar tentang bahasa Arab dan agama Islam.

Pemberontakan DI / TII ini bukan hanya membahayakan kesatuan negara dan ancaman yang serius terhadap negara yang sedang belajar mengisi kemerdekaan, tetapi juga membahayakan masa depan Islam di negara Republik Indonesia yang justru karena mengatasnamakan agama Islam.
Apalagi karena Kartosuwiryo mengangkat dirinya sebagai Kepala Negara Islam Indonesia, maka kedudukan Presiden Sukarno bisa goyah di mata umat Islam.

Hal itu mendorong K.H. Masjkur, Menteri Agama ketika itu “mengundang para ulama dari seluruh Indonesia untuk memberi kata putus tentang kedudukan Presiden Sukarno dalam pandangan keagamaan (Islam).”

Hal itu dirasakan sebagai sesuatu yang penting oleh karena beberapa hal.

Antara lain oleh karena untuk daerah-daerah tertentu ummat Islam harus melakukan pilihan terhadap adanya “Kepala Negara” selain Presiden Soekarno. Misalnya S.M. Kartosuwiryo yang di daerah Jawa Barat menyebut dirinya sebagai Kepala Negara dari Negara Islam Indonesia.

Juga oleh karena sebagai Presiden Republik Indonesia, Soekarno harus mengangkat pegawai-pegawai yang menangani urusan-urusan yang langsung berkaitan dengan masalah—keagamaan seperti wakaf, waris, pernikahan dan lain-lain.

Sedang dalam pandangan ulama di Indonesia urusan-urusan itu harus dilakukan oleh pejabat yang berwenang yang diangkat oleh kekuasaan yang sah dilihat dari hukum Islam.

Pertemuan ulama yang diprakarsai oleh K.H. Masjkur itu berlangsung di Cipanas Jawa Barat pada akhir tahun 1953 (awal tahun 1954).

Pertemuan — yang disebut oleh Choirul Anam sebagai Muktamar Alim Ulama Se-Indonesia itu memutuskan memberi gelar kepada Presiden Sukarno sebagai Waliyul Amri Dharuri Bis Syaukati, “pemerintah yang sekarang ini sedang berkuasa (dan harus dipatuhi berdasarkan (QS An Nisaa [4]:59)

Menarik untuk disimak penjelasan A. Yusuf Ali mengenai istilah ini dalam komentarnya tentang (QS An Nisaa [4]:59), Ulu-l-amr adalah orang-orang yang melaksanakan kekuasaan atau tanggung jawab atau keputusan atau penyelesaian urusan.

Kekuasaan yang mutlak ada pada Allah. Umat Allah menerima kekuasaan dari Dia. Karena Islam tidak mengenal perbedaan yang tajam antara urusan yang sakral dan sekuler, maka diharapkan pemerintahan-pemerintahan biasa akan melakukan kebenaran, berlaku sebagai imam yang benar, dan kita harus menghormati dan mematuhi keluasaan itu; jika tidak demikian tidak akan ada ketertiban dan kepatuhan.

Kesimpulannya rakyat mentaati umaro (penguasa negeri) dan penguasa negeri mentaati para fuqaha (ahli fiqih).

Jadi cara mengawal syariat Islam dalam sistem pemerintahan di negara kita dengan cara mengembalikan wewenang para fuqaha (ahli fiqih) untuk menasehati dan membimbing penguasa negeri (umaro) sehingga dalam menjalankan roda pemerintahan tidak bertentangan dengan Al Qur’an dan Hadits sehingga tidak ada keraguan lagi bagi kaum muslim untuk mentaati penguasa negeri.

Pada prinsipnya jika memang akan ditegakkan kekhalifahan maka mustahil adanya banyak khalifah (pemimpin) karena dari Abu Said al Khudriy bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda,”Apabila ada baiat kepada dua orang khalifah maka bunuhlah yang terakhir dari keduanya.” (HR. Ahmad)

Imam Nawawi dalam mengomentari hadits ini berkata,”Arti hadits ini ialah apabila seorang khalifah yang dibaiat setelah ada seorang khalifah maka baiat pertama itulah yang sah dan wajib ditaati. Sedangkan bai’at kedua dinyatakan batil dan diharamkan untuk taat kepadanya.

Dahulu semenjak Nabi shallallahu ’alaihi wasallam menjadi kepala negara Daulah Islamiyyah (Negara Islam) pertama di Madinah, umat Islam hidup dan “terikat” pada kesatuan dalam aqidah (aqidah state) atau JAMA’ATUL MUSLIMIN (jama’ah kaum muslim) selama ribuan tahun dan berakhir pada masa kekhalifahan Turki Ustmani pada tahun 1924.

Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda, ”Ikatan-ikatan Islam akan lepas satu demi satu. Apabila lepas satu ikatan, akan diikuti oleh lepasnya ikatan berikutnya. Ikatan islam yang pertama kali lepas adalah pemerintahan (kekhalifahan) dan yang terakhir adalah shalat.” (HR. Ahmad)

Pada masa tegaknya kekhalifahan, kaum muslim dalam kesatuan aqidah (aqidah-state) maka seluruh kaum muslimin hanya diikat oleh satu jama’ah yaitu JAMA’ATUL MUSLIMIN dengan satu kepemimpinan yaitu khalifah.

Kita sebaiknya menerima kenyataan bahwa kaum muslim terpecah belah kedalam kesatuan negara (nation state) maka hilanglah JAMA’ATUL MUSLIMIN dan yang tertinggal sekarang adalah JAMA’AH MINAL MUSLIMIN sehingga hadits-hadits yang melarang bahkan mengancam seseorang melepaskan baiatnya terhadap imam atau khalifah dari JAMA’ATUL MUSLIMIN tidak berlaku lagi pada JAMA’AH MINAL MUSLIMIN seperti hadits yang diriwayatkan dari Ibnu Umar bahwasanya Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda,”Barangsiapa yang melepaskan tangannya (baiat) dari suatu keaatan maka ia akan bertemu Allah pada hari kiamat tanpa adanya hujjah (alasan) baginya. Dan barangsiapa mati sementara tanpa ada baiat di lehernya maka ia mati seperti kematian jahiliyah.” (HR. Muslim)

Para ahli fiqih mengatakan bahwa yang dimaksud dengan baiat didalam hadits diatas adalah baiat imam kaum muslimin atau khalifah kaum muslimin yang dibaiat oleh ahlul halli wal ‘aqdi dari umat Islam.

Hadits ini tidak bisa diterapkan kepada para penguasa negeri di zaman ini atau pembesar partai (jamaah) karena setiap dari mereka bukanlah imam (pemimpin) dari seluruh kaum muslimin.

Al Mawardi mengatakan bahwa apabila ahlul halli wal ‘aqdi di dalam pemilihan melihat ahlul imamah memenuhi persyaratan maka hendaklah ahlul halli wal ‘aqdi mengedepankan untuk dibaiat orang yang lebih utama dan lebih sempurna persyaratannya diantara mereka dan hendaklah manusia segera menaatinya dan tidak berhenti untuk membaiatnya.

Untuk itu ahlul halli wal ‘aqdi dari kaum muslimin adalah orang-orang yang berwenang memilih imam kaum muslimin dan khalifah mereka dan pendapat orang-orang awam tidaklah dianggap terhadap kesahan baiat. Ar Romli dari ulama Syafi’i mengatakan bahwa baiat yang dilakukan oleh selain ahlul halli wal ‘aqdi dari kalangan awam tidaklah dianggap.

Imam Nawawi meletakkan hadits Ibnu Umar diatas pada bab “Kewajiban Bersama Jamaah Kaum Muslimin..”. Maksud dari hadits itu adalah bahwa barangsiapa yang mati tanpa ada baiat dilehernya maka matinya seperti kematian jahiliyah yaitu ketika terdapat imam syar’i saja. Inilah pemahaman yang benar dari hadits itu bahwa jika terdapat imam syar’i yang memenuhi berbagai persyaratan kelayakan untuk dibaiat dan tidak terdapat padanya hal-hal yang menghalanginya maka wajib bagi setiap muslim untuk bersegera memberikan baiatnya apabila ahlul halli wal ‘aqdi memintanya atau meminta darinya dan tidak boleh bagi seorang pun yang bermalam sementara dirinya tidak memiliki imam.

Kesimpulannya pada saat kondisi yang ada pada masa sekarang adalah JAMA’AH MINAL MUSLIMIN atau kaum muslim dalam kesatuan negara (nation state) maka ketaatan kepada ulil amri sebenarnya yakni para fuqaha atau pakar fiqih atau para ulama yang menguasai hukum-hukum Allah lebih tinggi kedudukannya dibandingkan ketaatan kepada pemimpin kelompok atau ormas maupun para umara atau penguasa negeri.

Kebijakan penguasa negeri (umaro) sebaiknya janganlah “diukur” atau dihukumi dengan Al Qur’an dan Hadits yang dipahami secara otodidak (shahafi) menurut akal pikiran sendiri karena akan menimbulkan perpecahan dan tindakan radikalisme.

Tindakan radikalisme dan bahkan “menghalalkan” terorisme seperti para pelaku bom bunuh diri yang mengaku muslim kemungkinan besar disebabkan keyakinan, prinsip hidup atau cara pandang mereka terhadap umat Islam pada umumnya.

Pelaku bom bunuh diri yang mengaku muslim adalah orang-orang yang mempunyai keyakinan atau prinsip bahwa POKOKNYA jika TIDAK SESUAI dengan apa yang mereka baca, terjemahkan dan pahami dari kitab Al Qur’an dan Hadits maupun kitab atau perkataan (pendapat) ulama terdahulu secara otodidak (shahafi) menurut akal pikiran mereka sendiri maka mereka menyalahkan, menganggap sesat dan bahkan mengkafirkan sehingga menghalalkan darah umat Islam sebagaimana yang telah disampaikan pada https://mutiarazuhud.wordpress.com/2018/05/13/waspada-bom-bunuh-diri/

Mereka terjerumus mengikuti orang-orang yang secara terang-terangan melanggar larangan Rasulullah yakni mereka memahami atau “kembali kepada Al Qur’an dan As Sunnah” secara otodidak (shahafi) menurut akal pikiran mereka sendiri.

Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda “Barangsiapa menguraikan Al Qur’an dengan akal pikirannya sendiri dan merasa benar, maka sesungguhnya dia telah berbuat kesalahan”. (HR. Ahmad)

Orang yang berguru tidak kepada guru tapi kepada buku saja maka ia tidak akan menemui kesalahannya karena buku tidak bisa menegur tapi kalau guru bisa menegur jika ia salah atau jika ia tak faham ia bisa bertanya, tapi kalau buku jika ia tak faham ia hanya terikat dengan pemahaman dirinya sendiri menurut akal pikirannya sendiri.

Boleh kita menggunakan segala macam wasilah atau alat atau sarana dalam menuntut ilmu agama seperti buku, internet, audio, video dan lain lain namun kita harus mempunyai guru untuk tempat kita bertanya karena syaitan tidak berdiam diri melihat orang memahami Al Qur’an dan Hadits

“Man la syaikha lahu fasyaikhuhu syaithan” yang artinya “barang siapa yang tidak mempunyai guru maka gurunya adalah syaitan

Al-Imam Abu Yazid Al-Bustamiy , quddisa sirruh (Makna tafsir QS.Al-Kahfi 60) ; “Barangsiapa tidak memiliki susunan guru dalam bimbingan agamanya, tidak ragu lagi niscaya gurunya syetan” Tafsir Ruhul-Bayan Juz 5 hal. 203.

Jadi pengikut syaitan atau wali syaitan dapat diakibatkan karena salah memahami Al Qur’an dan Hadits seperti orang-orang yang mengaku muslim namun pengikut radikalisme dan terorisme.

Kekerasan yang radikal adalah kekerasan yang memperturutkan hawa nafsu sehingga menzhalimi orang lain karena salah memahami Al Qur’an dan Hadits

Kekerasan yang tidak radikal adalah kekerasan yang dilakukan berdasarkan perintah ulil amri sebenarnya yakni para fuqaha (ahli fiqih)

Mantan mufti agung Mesir Syeikh Ali Jum’ah telah mengajukan untuk menyatukan lembaga fatwa di seluruh dunia untuk membentuk majelis permusyawaratan ulama tingkat dunia yang terdiri dari para fuqaha (ahli fiqih).

Pihak yang dapat mengeluarkan fatwa sebuah peperangan adalah JIHAD (mujahidin) atau JAHAT (teroris) sehingga dapat diketahui apakah MATI SYAHID atau MATI SANGIT adalah “ulil amri di antara kamu” yakni para fuqaha (ahli fiqih) di negara setempat karena ulama di luar negara tidak terbebas dari fitnah.

Umat Islam boleh mengingkari kebijakan penguasa negeri (umaro) yang bertentangan dengan Al Qur’an dan Hadits menurut pendapat “ulil amri sebenarnya” yakni para fuqaha (ahli fiqih) NAMUN dengan tetap menjaga persatuan dan kesatuan.

Dari Ummu Salamah radliallahu ‘anha berkata, telah bersabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, “akan terjadi sesudahku para penguasa yang kalian mengenalinya dan kalian mengingkarinya. Barangsiapa yang mengingkarinya maka sungguh ia telah berlepas diri. Akan tetapi siapa saja yang ridha dan terus mengikutinya (dialah yang berdosa, pent.).” Maka para sahabat berkata : “Apakah tidak kita perangi saja mereka dengan pedang?” Beliau menjawab : “Jangan, selama mereka menegakkan shalat bersama kalian.” (HR. Muslim dalam Shahih-nya).

An-Nawawi rahimahullah mengatakan, “Di dalam hadits ini terkandung dalil yang menunjukkan bahwa orang yang tidak mampu melenyapkan kemungkaran tidak berdosa semata-mata karena dia tinggal diam, akan tetapi yang berdosa adalah apabila dia meridhai kemungkaran itu atau tidak membencinya dengan hatinya, atau dia justru mengikuti kemungkarannya.” (Syarh Muslim [6/485])

Sedangkan bagi yang mampu melenyapkan kemungkaran maka lakukanlah dengan cara-cara yang baik mengikuti hukum konstitusi yang berlaku dan tidak menimbulkan kerusakan di muka bumi.

Firman Allah Ta’ala yang artinya “Dan bila dikatakan kepada mereka:”Janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi”. Mereka menjawab: “Sesungguhnya kami orang-orang yang mengadakan perbaikan.” (QS Al Baqarah [2]:11)

Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda “Barang siapa melihat kemungkaran, maka hendaknya ia merubah dengan tangannya, jika tidak mampu, maka hendaknya merubah dengan lisannya, jika tidak mampu, maka dengan hatinya. Dan yang demikian itulah selemah-lemahnya iman”. (HR. Muslim)

Asy‐Syaikh Muhammad Nawawi bin Umar al‐Bantani Rahimahullah Ta’ala, di dalam kitabnya, Nasha‐ihul Ibad fi bayani al‐Faadzi al‐Munabbihaat ‘alal Isti’daadi Li Yaumil Ma’adi membawakan sepotong hadits yang memperingatkan akibat meninggalkan atau tidak mentaati ulil amri sebenarnya yakni para fuqaha (ahli fiqih).

Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda, “Akan datang satu zaman atas umatku dimana mereka lari (menjauhkan diri) dari (ajaran dan nasihat) ulama’ dan fuqaha (ahli fiqih), maka Allah Taala menimpakan tiga macam musibah atas mereka, iaitu

1. Allah mengangkat (menghilangkan) keberkahan dari rizki (usaha) mereka,

2. Allah menjadikan penguasa yang zalim untuk mereka dan

3. Allah mengeluarkan mereka dari dunia ini tanpa membawa iman

Penguasa yang zalim berkuasa salah satunya dipengaruhi oleh garakan Zionis Yahudi sebagaimana contoh analisa Howard Nema, TBN broadcaster yang dipublikasikan pada http://www.howardnema.com/2015/11/14/paris-terrorism-and-the-new-world-order/

Kutipan terjemahan analisa Howard Nema termuat dalam http://arrahmahnews.com/2015/11/15/howard-nema-tragedi-paris-operasi-hitam-cia-mossad-wujudkan-tatanan-dunia-baru/

Berikut beberapa kutipannya

**** awal kutipan ****
Ini adalah sesuatu yang telah CIA dan MOSSAD lakukan lagi dan lagi di Timur Tengah. Dimulai sejak tahun 1953 ketika CIA menggulingkan Mohammed Mossadegh yang terpilih secara demokratis melalui sebuah kudeta miiliter, setelah ia megancam akan manasionalisasikan perusahaan minyak Inggris.

CIA menggantikannya dengan seorang diktator, yaitu Shah Iran, dimana polisi rahasianya, SAVAK, adalah orang-orang brutal seperti Gestapo. Dan di saat yang sama, program pengendalian pemikiran, MK ULTRA, didirikan. Didanai sebagian oleh yayasan Rockefeller and Ford, yang risetnya meliputi, propaganda, cuci otak, hubungan masyarakat, periklanan, hipnosis, dan berbagai bentuk pengendalian pemikiran lainnya.

Pengendalian pemikiran adalah sesuatu yang NYATA. Bagaimana para Islam radikal ini sampai-sampai rela melakukan bunuh diri adalah reaksi dari bagaimana MK ULTRA bekerja pada mereka. Sebelum 1953, tidak pernah ada yang namanya “bom bunuh diri”, selain dari Kamikaze. Tapi kita semua menyaksikan banyak sekali (bom bunuh diri) semenjak awal tahun 1980 an.

CIA telah terbukti berkali-kali mendanai musuh kita dan melaksanakan aksi teroris untuk kepentingan kepentingan besar Amerika dan bank-bank internasional, termasuk operasi CIA, Gladio. CIA berada di balik pemboman stasiun kereta api Bologna pada tahun 1980.

Di tahun 2000, ada 7 negara dimana Rothschild tak memiliki satupun Central Bank, dan negara-negara itu antara lain, Afghanistan, Iraq, Sudan, Libya, Kuba, KoreaUtara, dan Iran.

Adalah bukan suatu kebetulan bahwa negara-negara yang disebutkan diatas dari dulu dan hingga saat ini masih selalu diserang oleh propaganda media barat. Dan alasan utama mengapa negara-negara itu dijadikan target adalah karena mereka tidak mengizinkan berdirinya Central Bank milik Rothschild.

Langkah pertama untuk bisa memiliki sebuah Central Bank di suatu negara adalah dengan memaksa mereka untuk menerima pinjaman yang sangat besar, yang akan menempatkan negara tersebut dalam hutang mendalam kepada Central Bank dan kemudian negara tersebut akan berada di bawah kendali Rothschilds.

Jika negara yang dimaksud tidak mau menerima pinjaman, maka pemimpin dari negara yang bersangkutan akan dibunuh dan pemimpin baru yang merupakan aliansi Rothschild akan ditempatkan dalam posisi tersebut. Dan jika pembunuhan tidak berhasil, maka negara tersebut akan diserang dan Central Bank akan dipaksa untuk didirikan, dan semua itu akan dilakukan dibawah nama terorisme.

Central Bank (Bank sentral) adalah sebuah Bank swasta yang diciptakan dan dimiliki secara ilegal oleh keluarga perbankan Rothschild. Keluarga itu telah ada selama lebih dari 230 tahun dan telah membuat jalan ke setiap negara di planet ini, mengancam setiap pemimpin dunia dan pemerintah serta kabinet mereka dengan kematian kehancuran baik secara fisik maupun ekonomi, dan kemudian menggantikan posisi mereka dengan orang-orangnya di bank-bank sentral untuk mengontrol dan mengelola buku saku masing-masing negara.

Lebih buruknya adalah, walaupun Rothschilds mengendalikan intrik setiap pemerintah di tingkat makro, dan tidak mengurus di tingkat mikro, tapi mereka tetap akan menyingkirkan per individu jika sudah dianggap bertindak terlalu jauh.

Serangan 11 September adalah sebuah pekerjaan orang dalam dengan tujuan menyerang Afghanistan dan Irak untuk kemudian mendirikan Bank Sentral di negara-negara tersebut. Saya (penulis) menduga, hal ini sama benar dengan serangan teror kemarin di Paris. Waktu nanti yang akan menjawabnya.

Hari ini, negara-negara yang tersisa tanpa memiliki Central Bank yang dimiliki oleh keluarga Rothschild hanyalah, Kuba, Korea Utara, Iran.

Kuba mulai dekat terhadap kapitulasi yang diinginkan Rothschild. Namun hal yang sama tidak bisa dikatakan untuk Korea Utara dan Iran sehingga perang terhadap mereka akan selalu dikobarkan, seperti yang bisa kita lihat di Suriah, dalam waktu yang belum terlalu lama.

Setelah menghasut dan menciptakan demonstrasi dan kerusuhan di negara-negara Arab, Rothschild akhirnya membuka jalan mereka untuk mendirikan Central Bank, dan menyingkirkan banyak pemimpin, dimana hal itu menempatkan mereka ke dalam kekuasaan lebih besar.

Jenderal Wesley Clark mengungkapkan bahwa agenda kebijakan luar negeri AS adalah untuk mengambil alih tujuh negara tersebut dalam lima tahun. Lihat “Kami akan mengambil 7 negara dalam 5 tahun: Irak, Suriah, Lebanon, Libya, Somalia, Sudan & Iran

Negara-negara ini disebutkan oleh Jenderal Clark dalam wawancara tahun 2007 dengan Amy Goodman dalam Demokrasi Now mengenai agenda sesungguhnya di balik serangan 9/11

Timur tengah sengaja dikacaukan, pertama dengan Bush dan kebohongan tentang “senjata pemusnah massal” dan yang terbaru saat Obama menarik pasukan dari Irak.

Lalu ada Benghazi. Khaddafi yang dikesankan sebagai tiran, kemudian Saddam Hussein, keduanya digulingkan untuk menciptakan kevakuman yang kemudian diisi oleh kaum radikal dan opsi hitam CIA.

Yang benar adalah Khaddafi membuat kaum radikal tak berkutik. Menghapus “tiran” ini telah menciptakan kekacauan yang berlangsung hari ini. Meninggalkan sebuah pesan – Selamat datang di Tatanan Dunia Baru (New World Order).

Alasan palsu yang dibuat Bush, membawa kita kedalam perang itu, dan kemungkinan lebih kuat lagi, alasan palsu yang sama, sekarang akan membawa kita ke dalam perang untuk menggulingkan Assad di Suriah.

Khaddafi digulingkan saat ia berniat untuk menciptakan sistem perbankan bebas hutang untuk benua Afrika dan ingin agar ekspor minyak dibayar dengan emas dan bukan dolar Amerika, dolar FIAT Rothschild.

Kinipun mereka ingin sekali lagi menggulingkan Assad demi kepentingan para elit Amerika. Inilah Tatanan Dunia Baru,
****** akhir kutipan ******

ZA Maulani (mantan kabakin era Habibi) menyatakan bahwa yang meledak di Sari Club pada peristiwa Bom Bali adalah bom mikro nuklir. Sementara yang memiliki akses nuklir hanyalah beberapa negara tertentu, seperti Amerika dan Israel sebagaimana yang telah disampaikan pada https://mutiarazuhud.wordpress.com/2010/03/18/bom-bali/

ZA Maulani menulis sebuah buku berjudul “Zionisme – Gerakan Menaklukan dunia”. Unduh (download) pada http://www.rajaebookgratis.com/2010/05/zionisme-gerakan-menaklukkan-dunia.html

Pada Bab II hal 50 Beliau menyampaikan protokol Zionisme yang keempat belas yakni upaya menghapuskan semua agama, menghapus tiang-tiang kebajikan kehidupan dan menggantikannya dengan “New World Order” , “ Tatanan Dunia Baru” menurut versi mereka.

Strategi dibidang ekonomi, salah satunya tertuang pada protokol zionis yang keenam

“Membangun kekuatan Zionisme melalui manipulasi ekonomi, terutama melalui monopoli perbankan dan kekuatan keuangan”

Protokol Zionisme yang kedelapan

…Untuk sementara waktu sampai saat yang cukup aman tiba untuk memberikan jabatan-jabatan pemerintahan kepada saudara-saudara kita kaum Yahudi, kita akan mempercayakan jabatan-jabatan itu kepada mereka yang track-record dan wataknya sedemikian rupa, yaitu adanya jurang yang lebar antara mereka dengan rakyatnya…

…Kita akan mengepung pemerintahan yang ada dengan para ekonom kita. Karena alasan inilah ilmu ekonomi menjadi mata pelajaran utama yang dituntut dan diajarkan oleh kaum Yahudi. Kita akan dikelilingi oleh galaksi yang terdiri dari para banker, industrialis, kapitalis, dan terutama kaum milyuner, karena sebenarnya segala sesuatu akan ditentukan oleh daya tarik kepada angka-angka…

“Berikan kepada saya kewenangan mencetak uang dan mengatur keuangan suatu negara, dan sesudah itu terjadi saya tidak perlu ambil peduli kepada para pembuat hukum di Negara tersebut”. (Meyer Amschel Rothschild, 1743-1812, pendiri dinasti Rothschilds)

Untuk mewujudkan mimpi-mimpinya, sejak tahun 1999, seluruh wilayah belahan bumi sudah dikuasai oleh jaringan kekuasaan Lucifer.

Semua umat manusia harus memandang pada satu arah, yaitu kekuatan mata uang, sebagaimana yang dilambangkan oleh mata uang satu dolar Amerika –novus ordo seclorum.

Seluruh struktur perekonomian global telah dikuasai oleh kaum Iluminasi, gerak World Bank dan IMF telah menjadi “dewa Lucifer” yang akan menyelamatkan umat manusia sekaligus menguasainya.

Prof. J.S. Malan dalam tulisannya, New Age Reforms bahwa seluruh sumber daya alam dunia, seperti moneter dan industri harus dikontrol sepenuhnya oleh “pemerintahan dunia” karena dengan cara seperti ini, sistem persamaan ekonomi serta kesejahteraaan dunia dapat dilaksanakan serta dinikmati secara merata. Seluruh dunia hanya mempunyai satu sistem moneter yang pengawasannya di bawah satu badan yang tersentralisasi. Dengan cara seperti ini memungkinkan “pemerintahan dunia” menjalankan kebijaksanaannya untuk mengendalikan seluruh negara dan rakyatnya. Inilah yang dinamakan the New World Order (NWO); tatanan dunia baru.

Dunia harus “tunduk” dan “menyembah” kepada dolar sebagai medium untuk mendapatkan karunia dari tuhan (setan) Lucifer. Mereka yang mendapatkan limpahan dolar akan mampu menjadi manusia unggul. Dan mereka yang menguasai dolar –di bidang ekonominya– adalah mereka yang menguasai dunia.

Seluruh lembaga keuangan internasional yang telah dirintis oleh Meyer Rothchild harus menunjukkan keperkasaannya dalam bidang finansial. Pemilikan saham perbankan, multinasional, dan teknologi termasuk microchip harus dimiliki secara mayoritas oleh persaudaraan anggota freemason.

Keberhasilan mereka “memutuskan” hubungan alat tukar/uang dengan karunia Allah adalah ketika mereka tidak lagi menggunakan emas sebagai patokan alat tukar. Sesungguhnya emas adalah salah satu bentuk referensi terhadap karunia Allah.

Salah satu firman Allah yang mengutarakan tentang alat tukar emas,

“Sesungguhnya orang-orang yang kafir dan mati sedang mereka tetap dalam kekafirannya, maka tidaklah akan diterima dari seseorang diantara mereka emas sepenuh bumi, walaupun dia menebus diri dengan emas (yang sebanyak) itu. Bagi mereka itulah siksa yang pedih dan sekali-kali mereka tidak memperoleh penolong.” (Ali Imran (3):91)

Tujuan serta misi dari New World Order (tatanan dunia baru) sangat sederhana.

– Menciptakan satu pemerintahan dunia.
– Satu pemimpin dunia.
– Satu kepercayaan dunia.
– Menjaga dan melindungi ras unggul melalui pengendalian jumlah penduduk.
– Warga negara dunia ketiga akan menjadi pembantu dan buruh.

Jadi ada kemungkinan pihak asing akan menyusupkan sosok yang diinginkan mereka melalui berbagai cara seperti survey, pencitraan, penggiringan opini melalui kekuatan besar pers yang mereka kuasai secara langsung maupun tidak langsung sebagaimana yang mereka tuangkan dalam 24 buah protokol Zionisme.

Berikut sebagian kutipannya.

Protokol Zionis kedua

Zionis akan memilih dan mendukung tokoh-tokoh pemimpin yang tidak berpengalaman, bodoh, dan tidak memiliki wawasan luas sebagai presiden atau pemimpin negara, agar kekuatan dan lobi Yahudi tetap bisa mempengaruhi dan mengontrolnya.

Zionis akan menciptakan situasi di mana para Goyim, manusia di luar bangsa Yahudi, selalu berada dalam kondisi membutuhkan mereka dalam peperangan.

Media harus digunakan untuk mempengaruhi dan menciptakan opini publik. Dan Zionis menyebutnya sendiri, “Sesungguhnya kita sudah berhasil dengan gemilang. Kemenangan ideologi kita sudah tercapai dengan terbaginya manusia pada pemikiran-pemikiran yang lahir melalui otak tokoh-tokoh Yahudi. Pikiran-pikiran mereka mampu menggerakkan masyarakat di dunia”.

Protokol Zionis ketiga

Zionis akan menciptakan situasi yang mempertajam ketegangan antara rakyat dan pemerintahnya di semua negara, agar wibawa pemerintah lemah dan rakyat memiliki kekuatan untuk bergerak. Aktivis-aktivis partai akan dibuat penuh semangat untuk berebut kursi pemerintahan.

Kita harus menjadikan para buruh tetap hidup dalam gelimang kemiskinan dan kerendahan, agar supaya mereka tetap tunduk kepada perintah dan kemauan kita, dengan cara menebar rasa cemburu, iri hati, dan saling mencurigai antarsesama buruh.

Buruh dan serikat pekerja akan dibuat merasa puas dengan secarik kertas perjanjian dan undang-undang, padahal semua adalah kebohongan. Dengan begitu agen-agen Yahudi akan dikirimkan untuk mengatur roda pemerintah dan perusahaan.

Kita akan skenariokan Krisis Ekonomi Dunia, melalui emas yang ada di tangan kita. Kita akan provokasi para buruh untuk menuntut hak-hak mereka kepada majikan mereka, kita manfaatkan kebencian para buruh kepada majikan mereka yang mendarah daging untuk mengobarkan disharmoni di antara kedua belah pihak.

Zionis yakin dengan mudah akan mampu mencapai tujuannya, karena agama masyarakat sudah lemah.

Protokol Zionis kelima

Zionis akan melakukan pencemaran nama baik ulama agar dipandang hina, bahkan oleh gelandangan.

Lewat opini umum Zionis harus memasarkan berbagai pandangan yang akan menggoyahkan keyakinan masyarakat. Jika usaha ini belum berhasil, maka masyarakat harus diberi pandangan baru yang akan terus digali sesuai dengan kebutuhan zaman. Dengan demikian, keyakinan yang lama yang sudah tertanam di dalam hati manusia lambat laun akan goyah dan pada akhirnya akan tersingkirkan karena sudah dianggap tidak sesuai dengan zaman.

Cara paling ideal untuk mengkondisikan dan menguasai opini publik, adalah dengan memfokuskan tindakan pengaburan polemik yang diwacanakan publik, melalui lontaran dan pemikiran dan gagasan masing-masing pihak yang saling berpolemik, kemudian menggiring publik non Yahudi ke lembah kesesatan informasi, serta membiarkan mereka pada polemik sesat tidak berujung.

Kita harus memfasilitasi gerakan-gerakan yang sengaja ingin menciptakan kekisruhan kehidupan sosial, menggugat tradisi, dan penentang kekuasaan yang sah.

Kita harus membenturkan golongan-golongan yang ada dalam masyarakat dunia. Dengan begitu akan tercipta perpecahan antar masyarakat di mana saja. Dengan sendirinya, jika hal tersebut tercipta maka kekuatan yang melawan Yahudi akan sirna. Keterfokusan para non Yahudi kepada gerakan rahasia kita teralihkan kepada konflik internal.

Kita harus menaburkan benih-benih permusuhan dan pertikaian di kalangan para pegiat agama, agar supaya mereka meminta bantuan kepada kita untuk menengahi gesekan yang terjadi di antara mereka. Dan kita akan menolong mereka dengan syarat, mereka menuruti kemauan kita.

Dengan menguasai penguasa otorita agama, langkah kita menuju penaklukan para penguasa negeri akan terbuka lebar. Dan ketika negeri-negeri itu berhasil kita ‘cengkeram’, kita akan memposisikan diri kita sebagai pimpinan tertinggi dunia, yang menentukan semua arah kebijakan masing-masing negeri.

Kekuasaan dunia yang bakal kita terapkan, adalah dengan sistem jaringan laba-laba, kita kuasai negara paling digdaya, kemudian kita pola semua bangsa melalui negara adidaya itu, untuk memenuhi semua keinginan dan keputusan kita. Dengan begitu kita akan menjadi pengendali dunia, meski di balik layar.

Protokol Zionis ketujuh,

“Kita harus memaksa pemerintahan bukan-Yahudi untuk menerima langkah-langkah yang akan meningkatkan secara luas rencana yang telah kita buat yang telah kian dekat dengan tujuannya dengan cara meletakkan tekanan pada pendapat umum yang telah kita agendakan yang harus didorong oleh kita dengan bantuan apa yang dinamakan ‘kekuatan besar’ pers. Dengan sedikit perkecualian, tak perlu terlalu dipikirkan, kekuatan itu telah berada dalam genggaman kita”.

Protokol Zionis kesembilan

Pejabat-pejabat negara yang berasal dari orang selain Yahudi harus dikuasai, agar mudah diarahkan sesuai dengan yang Zionis inginkan. Selain itu, Zionis akan menempatkan orang-orang Yahudi pada posisi-posisi penting di negara-negara penting. Situasi politik harus dibuat terus menerus timpang terutama antara legislatif dan eksekutif. Lagi-lagi, untuk tugas ini Zionis akan mengarahkan visi dan misi surat kabar dan media informasi. Zionis juga akan berjuang sangat keras untuk merusak generasi sekarang dan menodai generasi mendatang baik secara pemikiran, perbuatan, akhlak, dan moral.

Protokol Zionis keduabelas

Kita akan lebarkan dominasi pers kita ke media massa lokal, kita akan awasi dengan sensor ketat, sehingga berita-berita yang yang dirilis benar-benar sesuai misi dan tujuan propaganda kita. Dan tidak ada satupun berita yang dimuat kecuali atas ijin kita.

Kita akan menerapkan beban pajak tinggi kepada setiap penerbit yang menerbitkan buku-buku besar, kita bebaskan pajak bagi penerbitan buku-buku ringan, terutama yang dibenci dan dilarang para petinggi agama untuk diterbitkan.

Kita dukung penerbitan-penerbitan majalah-majalah pengumbar nafsu. Kita akan beli pers milik perusahaan keluarga, untuk mengkonter berita-berita yang menyudutkan misi kita.

Protokol Zionis ketigabelas

Opini umum harus dijauhkan dari kebenaran dan informasi yang sesungguhnya. Buah pikiran yang benar akan dihambat dan dikubur dalam-dalam dengan cara menampilkan berita populer yang menyita perhatian publik secara luas di surat kabar. Agen-agen Yahudi yang bekerja di surat kabar akan bekerja keras untuk mengalihkan perhatian masyarakat dengan hiburan, seni, olahraga, bahkan gosip.

Protokol Zionis kelimabelas

…Dibawah pengaruh kita, pelaksanaan hukum kaum non_yahudi harus dapat diredusir seminim mungkin. Penghormatan kepada hukum harus dirongrong dengan cara interpretasi sebebas mungkin sesuai dengan apa yang telah kita perkenalkan pada bidang ini. Pengadilan akan memutuskan apa yang kita dikte, bahkan dalam kasus-kasus yang mungkin mencakup prinsip-prinsip dasar atau isu-isu politik melalui jalur pendapat surat kabar dan jalur lainnya.

Protokol Zionis ketujuhbelas

Peran tokoh agama bahkan tokoh agama itu sendiri akan dimusnahkan. Nama mereka akan dicemarkan, agar umat tak lagi percaya dan hormat pada mereka.

Kita harus mencari-cari kesalahan para petinggi agama non Yahudi, berikut merumuskan cara terbaik untuk membusukkan karakter mereka di hadapan publik. Kita tidak boleh lengah terhadap ajaran-ajaran yang diserukan para petinggi agama, sebab hal tersebut menjadi kendala (penghalang) utama pecapaian cita-cita kita.

Protokol Zionis keduapuluh

Kita akan kuasai mata uang negara-negara asing, kita akan ‘mainkan’ kurs (nilai tukar) mata uang mereka untuk mengukur rasa simpati dan dukungan mereka terhadap kedaulatan kita.

Ciptakan citra bahwa utang luar negeri sebagai bantuan. Padahal mereka sedang terjerat utang. Situasi seperti ini harus terus dipelihara, agar kekayaan-kekayaan negara pengutang terus mengalir ke dalam perbendaharaan kelompok Yahudi. Akal bangsa-bangsa Goyim tidak akan mengerti bahwa utang mereka kepada negara-negara kapitalis akan menguras kekayaan negeri mereka, sebab bunga utang-utang itu akan dibayar dengan hasil bumi dan sumber daya alam mereka.

Kita akan menguasai aset kekayaan dunia, melalui penanaman modal dan memainkan peran penting di dunia moneter. Tidak ada bantuan gratis bagi mereka, uang yang kita keluarkan harus ada kompensasi ‘super’ menguntungkan bagi kita. Dan kita akan jadikan negara-negara penghutang kaki tangan ‘agama’ kapitalisme kita.

Segera setelah Zionis menguasai kekayaan, menguasai negara-negara dan pemerintahannya, mereka akan menciptakan penguasa-penguasa dan pemerintah yang akan terus berutang dari jaringan finansial Yahudi, sehingga negara dan pemerintahan tersebut semakin tergenggam dalam kekuatan kapitalis.

Protokol Zionis keduapuluh satu

Zionis akan mendukung pemerintahan seperti di atas dengan para pemikir dan sejumlah ahli ekonomi yang memberikan saran dan nasihat yang seolah-olah dipandang sebagai jalan keluar. Padahal seluruh nasihat tersebut hanya membuat negara dan pemerintah semakin lumpuh dan kekuatan Yahudi semakin berkuasa. Zionis akan mengerahkan banker, industrialis, pemodal, dan milioner Yahudi seolah-olah membantu negara dan pemerintah. Segala sesuatu tampak bisa diatur dengan sempurna dan angka-angka bermunculan di mana-mana, tetapi akhir dari semuanya adalah kebinasaan untuk bangsa dan negara.

Kita akan tenggelamkan pemerintah negara-negara gentile dengan hutang-hutang besar. Kita provokasi mereka untuk meminjam modal pembangunan dan belanja negara kepada kita.

Kita harus membeli saham di bursa-bursa tiap negara, ketika kita telah menguasai bursa saham, kita guncang ‘pasar uang’ di negara-negara tersebut, agar terjadi krisis moneter. Dengan cara inilah kita dapat mempertahankan nilai tukar mata uang kita, dan menjaga dominasi kita di dunia moneter.

Protokol Zionis keduapuluh dua

Emas dan sumber emas harus dikuasai karena emas memegang peranan penting. Dan setelah menguasainya, emas akan dijadikan senjata untuk mencapai tujuan dan cita-cita Zionis menguasai dunia. Dan untuk itu tak ragu-ragu Zionis akan menggunakan kekerasan.

Kita butuh tindakan terorisme untuk mengguncang perdamaian dunia, kemudian kita ciptakan dan giring opini dunia bahwa perdamaian sejati tidak akan pernah terwujud, kecuali jika kendali dunia di bawah panji para Zionis.

Protokol-protkol Zionis lainnya dapat dibaca dalam tulisan sebelumnya pada https://mutiarazuhud.wordpress.com/2014/09/22/andaikan-pidato-itu-ada/

Wassalam

Zon di Jonggol, Kabupaten Bogor 16830

Iklan

Read Full Post »

Older Posts »