Feeds:
Pos
Komentar

Posts Tagged ‘Pendiri dan Pimpinan’

Pemberitaan media pendukung mulai tidak lagi dipercayai oleh masyarakat.

 

Media pendukung Jokowi-Jk dalam beberapa pemberitaannya menimbulkan polemik dan ketidakpercayaan masyarakat.

Contohnya sebagaimana yang diberitakan pada http://www.rmol.co/read/2014/05/29/157224/Bacaan-Shalat-Jokowi-Masih-Jadi-Masalah- bahwa terjadi kutipan yang dikatakan sebagai pernyataan Ketua Umum PP Muhammadiyah Din Syamsuddin ketika membantah isu Jokowi bukan muslim tidak sesuai dengan pernyataan sebenarnya sehingga menimbulkan polemik.

Kutipan yang dikatakan sebagai pernyataan Din Syamsuddin diberitakan oleh media pendukung Jokowi-JK bersumber ketika acara Tanwir Muhammadiyah di Kalimantan Selatan.

***** awal kutipan *****
“Tenyata memang tak seperti yang diisukan. Cara salatnya bagus, bacaan Al-Qurannya pun panjang-panjang,” ujar Din bercerita di sela-sela mengomentari pidato politik Jokowi di Tanwir Muhammadiyah, Kalimantan Selatan, Sabtu, 24 Mei 2014.

Din juga mengatakan meski masih ada logat Jawa tapi Jokowi apik membacakan ayat Al-Quran. Menanggapi intermezzo dari Din ini, Jokowi pun hanya tersenyum kecil dan banyak mengangguk. “Jadi memang benar H itu bukan Herbertus, tapi haji,” kata Din. Jokowi tertawa agak lebar menanggapi ini.
****** akhir kutipan *****

Pernyataan Din Syamsuddin terkait dengan peristiwa ketika Jokowi tbersilaturrahmi ke pimpinan Muhammadiyah di gedung dakwah Muhammadiyah, Menteng, Jakarta. Shalat berjamaah dilakukan di Masjid At Taqwa, Gedung Dakwah Muhammadiyah.

Din Syamsuddin menegaskan bahwa setiap tamu kehormatan yang berkunjung ke PP Muhammadiyyah selalu dipersilahkan untuk menjadi imam sholat sebagai penghormatan. Bukan berarti mendukung.

Dalam video tersebut Din Syamsudin menjelaskan bahwa ketika itu Jokowi menjadi imam sholat dzuhur.

Kita ketahui bahwa pada sholat dzuhur, imam sholat tidak mengeraskan (jahar) bacaan Al Fatihah maupun surah setelahnya. Jadi sungguh janggal timbul pernyataan Din Syamsudin yang menilai bacaan Jokowi maupun logatnya.

Hal ini telah diklarifikasi oleh salah satu peserta Tanwir Muhammadiyah kepada gemaislam.com sebagaimana yang diberitakan pada http://gemaislam.com/berita/indonesia-news-menuitem/2451-klarifikasi-din-syamsuddin-tak-pernah-puji-jokowi-bacaan-shalatnya-panjang-dan-bagus

“Pak Din Syamsuddin tidak pernah mengatakan bahwa ketika jadi imam sholat Dzuhur, Jokowi bacaan Al-Qurannya panjang-panjang dan tidak pernah pula mengatakan bahwa meski masih ada logat Jawa tapi Jokowi apik membacakan ayat Al-Quran,” kata Arief Rahman, salah satu peserta Tanwir Muhammadiyah kepada gemaislam.com, Kamis (29/5/2014)

Setelah berita klarifikasi ini mucul diberbagai media, tampaknya portal Tempo melakukan “perubahan” redaksi berita seperti tampak sekarang pada http://pemilu.tempo.co/read/news/2014/05/25/269580193/Din-Syamsudin-Salat-Jokowi-Bagus-Quran-nya-Apik

Judulnya semula

Din Syamsuddin: Salat Jokowi Bagus, Quran-nya Apik

menjadi

Din Syamsuddin: Salat Jokowi Bagus

Sedangkan kutipan yang dikatakan pernyataan Din Syamduddin menjadi

***** awal kutipan *****
“Tenyata memang tak seperti yang diisukan. Cara salatnya bagus,” ujar Din bercerita di sela-sela mengomentari pidato politik Jokowi di Tanwir Muhammadiyah, Kalimantan Selatan, Sabtu, 24 Mei 2014.

Din juga mengatakan meski masih ada logat Jawa tapi ucapan Jokowi apik. Menanggapi intermezzo dari Din ini, Jokowi pun hanya tersenyum kecil dan banyak mengangguk. “Jadi memang benar H itu bukan Herbertus, tapi haji,” kata Din. Jokowi tertawa agak lebar menanggapi ini.
**** akhir kutipan *****

Tampak terjadi penghilangan kalimat “bacaan Al-Qurannya pun panjang-panjang” sebagaimana kutipan yang beredar di tempat lain yang berumber dari portal tempo sebelum dilakukan perubahan seperti pada http://www.kaskus.co.id/show_post/5381711e148b46357c8b460c/1/din-syamsuddin-salat-jokowi-bagus-quran-nya-apik

Penghilangan kalimat “bacaan Al-Qurannya pun panjang-panjang” menimbulkan kejanggalan baru yakni antara pujian “Cara salatnya bagus” dengan “meski masih ada logat Jawa tapi ucapan Jokowi apik”

Disamping itu url atau link berita masih menunjukkan Din-Syamsudin-Salat-Jokowi-Bagus-Quran-nya-Apik.

Oleh karenanya pada situs berita tersebut pada akhirnya ditambahkan catatan redaksi yang berbunyi,

“Ada kesalahan dalam naskah ini sebelumnya, soal bacaan salat Jokowi dalam judul dan tubuh berita. Setelah mendapat masukan dari berbagai pihak, soal bacaan itu kami hapus”.

Tentu hal yang berbeda antara kesalahan dengan berita bohong.

Kementrian Komunikasi dan Informatika RI (kemenkominfo) bekerjasama dengan pemprov Bali pernah menyelenggarakan pertemuan forum penguatan literasi media sebagaimana yang diberitakan pada http://metrobali.com/2012/04/27/banyak-alasan-mengkritisi-media/

Dalam pertemuan tersebut disampaikan pentingnya literasi media dengan alasan

Pertama, sebagaimana kondisi nasional, pertumbuhan industri media dan perkembangannya begitu pesat. Pertumbuhan itu pada satu sisi dapat dimaknai secara positif membawa peningkatan pada kedewasaan berdemokrasi dan mekanisme kontrol masyarakat. Namun pada sisi lain, telah mengakibatkan persaingan semakin ketat dalam industri media dan mempertajam motif pencarian keuntungan sehingga menyebabkan terkikisnya nilai-nilai ideologis yang mendasari idealisme media. Hal ini menjauhkan sebagian media dari fungsi yang semestinya.

Media massa yang seharusnya menjadi sarana menciptakan masyarakat yang lebih baik, lebih cerdas, lebih dewasa, lebih kritis dan lebih berpikiran terbuka, justru sebaliknya telah menjadikan masyarakat yang lebih baik tetapi bukan untuk kepentingan masayarakat itu sendiri, melainkan untuk kepentingan kapitalis pemilik media. Masyarakat lebih sering menjadi semata-mata komoditas yang dijual untuk kepentingan profit atau keuntungan finansial dalam kancah persaingan industri media.

Kedua, di tengah himpitan motif keuntungan dan semakin pudarnya ideologi yang melingkupi industri media, masyarakat konsumen media menjadi sulit mengakses informasi yang tidak berpihak. Sajian media umumnya telah terkontaminasi oleh kapitalisme media dan mengakibatkan kesenjangan komunikasi antara pengelola lembaga media dengan publiknya, yaitu masyarakat.

Oleh karena itu, menghadapi orientasi media yang demikian itu, masyarakat membutuhkan literasi media agar tidak terombang ambing pesan berita yang tidak semestinya. Masyarakat perlu diberdayakan. Dan pemberdayaan itu dapat dilakukan melalui literasi media atau media literasi: pembekalan kemampuan memilah dan menilai isi media massa secara kritis sehingga masyarakat mampu memilah dan menilai isi media secara kritis.

Dengan literasi media, masyarakat akan dapat memilah berita media yang bermanfaat dan yang sekedar memenuhi kepentingan pemilik atau pengelolanya. Masyarakat juga mampu memilah berita yang sesuai fakta, berimbang, adil, independen dan tidak beritikad baik sebagaimana ketentuan Kode Etik Jurnalistik dan berita yang merugikan dirinya, bahkan merugikan sendi-sendi persatuan dan kesatuan, kejujuran, dan kebenaran. Dengan begitu, masyarakat mengurangi ketergantungannya terhadap media.

Media literasi ini sangat penting. Pertama, karena banyak media (secara nasional) kurang seimbang dalam memainkan fungsi dan perannya di masyarakat. Kedua, literasi media relatif sangat rendah di masyarakat, dan Ketiga, media massa berikut sumber daya manusianya perlu meningkatkan tanggungjawabnya terhadap upaya-upaya peningkatan mutu dan kemajuan bangsa dan negara.

Harapan yang ingin diwujudkan media literasi adalah :

1. Masyarakat yang faham isu-isu liputan media.
2. Masyarakat yang menyadari bahwa media memiliki kemampuan mempengaruhi gaya, sikap dan nilai.
3. Masyarakat mampu bersikap kritis terhadap pesan media.
4. Mengembangkan sikap kritis masyarakat terhadap isu media karena berkaitan dengan kebudayaan dan pluralisme.
5. Mendidik masyarakat memahami aspek kepemilikan, finansial dan regulasi media berpengaruh terhadap industri dan pesan media.
6. Mendidik masyarakat memperhitungkan peran media dalam membuat keputusan individual; dan 7. Mengajak masyarakat mampu mempengaruhi media.

Jika masyarakat mampu bersikap dan bertindak seperti itu, maka media literasi bertujuan mengajak media bermitra dengan masyarakat untuk kembali pada orientasi awalnya yaitu menyajikan pemberitaan yang mendidik, mencerahkan, dan memberdayakan.

Berita dan tayangan media bersifat meredam konflik serta membangun ruang publik yang sehat demi optimalisasi partisipasi masyarakat dalam kehidupan berbangsa dan bernegara yang pada akhirnya akan mampu meningkatkan kelangsungan hidup dan kesejahteraan industri media itu sendiri.

Kembali pada permasalahan rakyat Indonesia dalam memilih calon pemimpin dari pilihan yang tersedia saat ini antara Jokowi-Jusuf Kalla atau Prabowo-Hatta maka ketidakpercayaan masyarakat terhadap media pendukung, sekecil apapun dapat mempengaruhi rakyat pemilih.

Peristiwa atau kejadian yang ditampakkan oleh Allah Azza wa Jalla sebagai bahan untuk kita ambil hikmah atau pelajaran sebagai dasar pertimbangan untuk kita memilih calon presiden dan wakilnya dari pilihan yang tersedia demi kemaslahatan rakyat Indonesia khususnya umat Islam untuk 5 tahun mendatang

Terkait ketidak percayaan rakyat pemilih, ada sebuah artikel yang menarik berjudul “Jumat di Sunda Kelapa, Jokowi Disuguhi Khatib “Pentingnya Amanah” sebagaimana yang disampaikan pada http://politik.kompasiana.com/2014/05/30/jumat-di-sunda-kelapa-jokowi-dusuguhi-kahtib-pentingnya-amanah-655689.html

Berikut kutipannya

***** awal kutipan *****
Ditulis oleh Abdul Munir Sara

Seperti biasa, aktivitas Mingguan saya, shalat jumat di Masjid Sunda Kelapa. Kesukaan saya di Masjid samping istana wapres itu, karena khatibnya berkualitas, dan imamnya rata-rata masih muda dan penghafal Al quran.

Selain itu, menikmati kuliner di plaza masjid selepas jumat, juga fardhu ‘ain sejak menginjakkan kaki di Jakarta. Tentu karena sate Padang-nya pedas menggoda dan soto Lamongan yang gurihnya menyengat lida.

Hari ini, Jumat, (30/5/14) begitu panas. Melewati kawasan Matraman seperti dipanggang saja. Sedikit terburu-buru, akhirnya sampai juga di masjid Sunda Kelapa.

Jamaah di masjid padat_merayap. Penuh hingga lapangan tenis. Taman masjid pun dipadati jamaah. Saya nyaris tak ada tempat duduk. Terpaksa selonjor saja di pojok pintu ruang bawah. Duduk berdesak-desakan dintara ribuan jamaah. Untungnya masjid Sunda Kelapa punya AC sentral, jadi panas dari luar tadi ditepis menjadi adem.

Seperti biasa, sebelum khatib ke mimbar, ada beberapa pengumuman yang disampiakn pengurus (ta’mir) masjid. Dan spesialnya dalam pengumuman itu, Jokowi hendak bersilaturahim dengan jamaah masjid ba’da shalat Jumat.

Ketika nama Jokowi disebut, tak ada yang gubris, semua orang khsuyuk shalat sunnah dan membaca Al quran atau wirit. Saya bahkan pensaran memandang wajah setiap jamaah yang ada, kok tak seheboh yang dikira. Biasanya tempat yang dikunjungi, sorak suara menggemuru, tak peduli itu masjid. Atau ada teriakan shalawat dan takbir mengiringi Jokowi.

Bahkan seorang pegawai Bappenas (terlihat dari ID Card) di samping saya celetuk ketika nama Jokowi disebut pengurus masjid ; “Jokowi ga ngaruh”. Mungkin jamaah ini orang jawa. Ujung katanya medok. Jamaah lainnya juga sama, bahkan ada pak Haji di samping juga berseloroh “emang Jokowi hebat apa?”. Beginilah. Yang jelas saya tak tahu haluan politik dua jamaah yang ketus itu.

Jokowi duduk di baris syaf pertama. Persis dekat mihrab. Ketika khatib naik mimbar, ia memegang dagu, dua bola matanya bergerak ke arah khatib. Di samping Jokowi ada Aksa Mahmud (adik Ipar Jusuf Kalla; Cawapres Jokowi). Aksa ketua ta’mir masjid Sunda Kelapa. Tak mengerti apa kehadiran Jokowi itu atas undangan Aksa.

Tema khutbah jumat ini menimpuk Jokowi. Khatib menyampaikan dengan tajam soal “amanah”. Contohnya pun diintrodusir dengan seorang pejabat yang tak amanah atau meninggalkan jabatannya, demi jabatan lain yang lebih tinggi atau ; meminjam istilah khatib serakah.

Kata khatib, pemimpin dengan model ini, hanya menghasilkan kehancuran. Ceramah khatib itu bertemali dengan pernyataan JK waktu lalu, bahwa kalau Jokowi jadi presiden “Bisa rusak negara ini”. Mungkin ada hubungannya.

Dari layar LCD, kening Jokowi kerut memerah. Ceramah itu menghujam batinya. Ia terkoyak dengan soal amanah memimpin Jakarta. Bukan cuma saya yang mengira, disaat menuju tempat titipan sandal, bisik-bisi suara mengemuka, salah satu jamaah bilang, “cerama tadi kena Jokowi…sudah betul ceramah tadi.”

Selepas jumat Jokowi hendak turun menghampiri jamaah. Hanya 10 hingga 20 orang yang mendatanginya dan bersalaman.

Ia menuruni anak tangga dengan gesture tubuh tak cerah. Senyumnya pudar. Pesonanya tak nampak. Rupanya ceramah khatib tadi memanggang batinnya. Mungkin juga kecewa dengan Aksa Mahmud yang mengerjainya.

Karena sepi dan ditinggal pergi Jamaah, Jokowi terpaksa masuk ke ruang sekretariat Masjid. Akibat jamaah yang sepi, pengurus masjid berulang-ulang menyampaikan pengumuman. Tapi tak ada yang peduli.

Jamaah jumat sibuk dengan diskusi-diskusi kecil di pojok masjid, dan lebih tertarik dengan tawaran aneka makanan yang ada di plaza masjid. Saya yang dari tadi penasaran menunggu acara itu, pun jenuh dan pergi karena kelamaan.

Tak berapa lama, Jokowi pun kabur dari Masjid Sunda Kelapa. Tak ada yang peduli. Hanya beberapa wartawan yang memotretnya dari luar masjid. Mungkin untuk pencitraan.
**** akhir kutipan *****

Apa yang disampaikan oleh khatib Jumat di Sunda Kelapa tentang “Pentingnya Amanah” senada dengan apa yang disampaikan oleh para ulama lainnya seperti contohnya Pendiri dan Pimpinan Pondok Pesantren Daarut Tauhid Bandung KH Abdullah Gymnastiar sebagaimana yang diberitakan pada http://politik.rmol.co/read/2014/05/30/157495/Kata-Aa-Gym,-Memilih-Prabowo-Menjadikan-Jokowi-Amanah-

****** awal kutipan *****
Bagi Aa Gym, demikian penceramah kondang itu disapa, ada persoalan lain yang perlu disorot dalam kontestasi antara Jokowi dengan Prabowo. Dengan memilih Prabowo, berarti menjadikan Jokowi amanah mengemban tugasnya lima tahun di Jakarta.

“Yang pilih Jokowi artinya memilih ahok jadi gubernur, yang pilih prabowo artinya memilih Jokowi jadi gubernur Jakarta,” kata Aa Gym dalam akun twitternya, @aagym (Jumat, 30/5).

Pencapresan Jokowi diusung koalisi PDIP, PKB, Nasdem, dan PKPI. Padahal, Jokowi belum genap dua tahun memimpin DKI Jakarta.

Janji memimpin Jakarta selama lima tahun atau satu periode disampaikan Jokowi saat kampanye pemilihan gubernur DKI Jakarta 2012 lalu. Dalam jumpa pers di rumah Megawati Soekarnoputri pada 20 September 2012, Jokowi menegaskan tidak akan menjadi kutu loncat dengan mengikuti Pemilu 2014. Janji ini merupakan satu dari 19 janji yang disampaikan Jokowi.
***** akhir kutipan *****

Begitupula sebagaimana yang diberitakan pada http://news.metrotvnews.com/read/2014/05/11/240460/ini-sikap-rhoma-irama-terhadap-koalisi-pkb-pdip-nasdem Rhoma Irama menolak keras koalisi PKB-PDIP alasannya, Gubernur DKI Jakarta yang biasa disapa Jokowi itu calon capres yang tidak amanah terhadap warga DKI. Menghianati janji gubernur.

“Rhoma Irama dan seluruh pendukungnya baik yang struktural (Forsa, Fahmitamami, Pamfata, Seniman, Fuhab) dan nonstruktural, menarik dukungan dari PKB dalam pemilu presiden nanti,” tulis Rhoma dalam rilis yang diterima Metrotvnews.com, Ahad (11/5/2014).

Fans Rhoma Irama dan Soneta (Forsa) dipersilakan menyampaikan aspirasi kekecewaan melalui media asalkan tidak sampai anarkis dan disusupi pihak ketiga.

“Utamakan media online, televisi dan koran lokal masing-masing. Bisa konferensi pers, demo damai, kirim FB-twitter, spanduk dan yang lain,” tulis Rhoma.

Sebagaimana arsip berita pada https://mutiarazuhud.wordpress.com/2014/05/27/asal-bukan-jokowi/ sebuah nasehat disampaikan oleh Imam besar Front Pembela Islam (FPI) Habib Rizieq Syihab dalam ceramahnya di Perumahan Yasmin, Bogor, Sabtu (24/05/2014) bahwa dalam pemilihan presiden mendatang, umat Islam diharapkan untuk tidak memilih calon presiden yang bisa menjadikan Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok (Wakil Gubernur Jakarta) naik menjadi Gubernur. Alasannya, umat Islam haram dipimpin oleh orang kafir.

Wakil Sekretaris Jenderal (Wasekjend) MUI Pusat, Tengku Zulkarnain dalam tulisan pada http://www.republika.co.id/berita/pemilu/hot-politic/14/03/21/n2siql-mui-muslim-jangan-memilih-pemimpin-nonmuslim menjelaskan bahwa “Larangan memilih pemimpin non-muslim jelas bukan larangan MUI, tapi larangan Allah dan Rasul-Nya yang wajib dipatuhi oleh semua golongan umat Islam, termasuk MUI sendiri”

Firman Allah ta’ala yang artinya

“Janganlah orang-orang mukmin mengambil orang-orang kafir menjadi wali (pemimpin) dengan meninggalkan orang-orang mukmin. Barang siapa berbuat demikian, niscaya lepaslah ia dari pertolongan Allah, kecuali karena (siasat) memelihara diri dari sesuatu yang ditakuti dari mereka. Dan Allah memperingatkan kamu terhadap diri (siksa)-Nya. Dan hanya kepada Allah kembali(mu). (QS Al Imran [3];28 )

“Kabarkanlah kepada orang-orang munafik bahwa mereka akan mendapat siksaan yang pedih, (yaitu) orang-orang yang mengambil orang-orang kafir sebagai pemimpin dengan meninggalkan orang-orang mukmin. Apakah mereka mencari kekuatan di sisi orang kafir itu? Maka sesungguhnya semua kekuatan kepunyaan Allah”. (QS An Nisaa [4]:138-139)

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani menjadi pemimpin-pemimpin(mu); sebahagian mereka adalah pemimpin bagi sebahagian yang lain. Barangsiapa diantara kamu mengambil mereka menjadi pemimpin, maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim. (QS Al Maidah [5]:51 )

Ibnu Katsir menjelaskan ayat ini: “Allah Ta’ala melarang hamba-Nya yang beriman untuk loyal kepada orang Yahudi dan Nasrani. Mereka itu musuh Islam dan sekutu-sekutunya. Semoga Allah memerangi mereka. Lalu Allah mengabarkan bahwa mereka itu adalah auliya terhadap sesamanya. Kemudian Allah mengancam dan memperingatkan bagi orang mu’min yang melanggar larangan ini Barang siapa di antara kamu mengambil mereka menjadi pemimpin, maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang lalim“” (Tafsir Ibni Katsir, 3/132).

Boleh jadi akan muncul gerakan “asal bukan Jokowi” dengan tujuan untuk mengembalikan Jokowi memenuhi amanah sebagai Gubernur DKI Jakarta.

Salah satu isi fatwa ulama adalah pilih pemimpin yang amanah .

Fatwa Ijtima’ Ulama di Padang Panjang tahun 2009

1. Pemilihan Umum dalam pandangan Islam adalah upaya untuk memilih pemimpin atau wakil yang memenuhi syarat-syarat ideal bagi terwujudnya cita-cita bersama sesuai dengan aspirasi umat dan kepentingan bangsa.

2. Memilih pemimpin dalam Islam adalah kewajiban untuk menegakkan imamah dan imarah dalam kehidupan bersama.

3. Imamah dan Imarah dalam Islam menghajatkan syarat-syarat sesuai dengan ketentuan agar terwujud kemaslahatan dalam masyarakat.

4. Memilih pemimpin yang beriman dan bertakwa, jujur (siddiq), terpercaya (amanah), aktif dan aspiratif (tabligh), mempunyai kemampuan (fathonah), dan memperjuangkan kepentingan umat Islam hukumnya adalah wajib.

5. Memilih pemimpin yang tidak memenuhi syarat-syarat sebagaimana disebutkan dalam butir 4 (empat) atau tidak memilih sama sekali padahal ada calon yang memenuhi syarat hukumnya adalah haram.

Sebagaimana informasi dari http://mui.or.id/mui/homepage/berita/partisipasi-pemilih-jangan-sampai-menurun.html bahwa pemimpin yang selayaknya dipilih adalah pemimpin yang beriman, bertaqwa, jujur, amanah, aspiratif, mampu, berakhlakul karimah dan memiliki komitmen kenegarawanan dan kebangsaan yang tinggi.

Sebagaimana yang disampaikan oleh Anggota Komisi Fatwa MUI Pusat K.H Sholahuddin al-Ayyubi bahwa memilih pemimpin dilalui dengan berjerih payah, termasuk dalam memelihara imamah dan imarah. Oleh karenanya, kalau tidak ada yang ideal maupun yang mendekati ideal, MUI berpaku pada kaidah Fiqhiyyah “akhaffu al dhararain” “Misalnya, kalau kita memilih “A” berisiko ada kerusakan dan memilih “B” juga mempunyai risiko, maka kita harus memilih seseorang yang dampak risiko (kerusakan)nya sekecil mungkin,”

Jadi berdasarkan tuntunan Majelis Ulama Indonsia maka kaum muslim dapat memilih capres yang terbaik dan paling kecil mudharatnya di antara pilihan yang ada.

Wassalam

Zon di Jonggol, Kabupaten Bogor 16830

Read Full Post »