Feeds:
Pos
Komentar

Posts Tagged ‘pengertian’


Sedekah tahlil atau tahlilan adalah adab dalam berdoa

AMAL KEBAIKAN berupa SEDEKAH (HADIAH) BACAAN seperti SEDEKAH (HADIAH) TAHLIL atau yang lebih dikenal dengan TAHLILAN adalah,

“ADAB dalam BERDOA kepada Allah Ta’ala yang diawali BERTAWASSUL dengan AMAL KEBAIKAN yakni SEDEKAH (HADIAH) BACAAN berupa Tahlil, bacaan Al Fatihah, Yasin, sebagian Al Baqarah, dan lain lain, SEBELUM DOA INTI dipanjatkan kepada Allah Ta’ala untuk ahli kubur, keluarga ahli kubur maupun kepentingan sendiri”.

Tidak ada satupun ulama yang mengingkari dalil dari hadits tentang BERTAWASUL dengan AMAL KEBAIKAN berdasarkan kisah tiga orang yang terperangkap dalam gua.

Dari Abu ‘Abdir Rahman, yaitu Abdullah bin Umar bin al-Khaththab radhiyallahu ‘anhuma, katanya: Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda yang artinya,

“Ada tiga orang dari orang-orang sebelum kalian berangkat bepergian. Suatu saat mereka terpaksa mereka mampir bermalam di suatu goa kemudian mereka pun memasukinya. Tiba-tiba jatuhlah sebuah batu besar dari gunung lalu menutup gua itu dan mereka di dalamnya. Mereka berkata bahwasanya tidak ada yang dapat menyelamatkan mereka semua dari batu besar tersebut kecuali jika mereka semua BERDOA kepada Allah Ta’ala dengan menyebutkan AMAL KEBAIKAN mereka.”

Mereka BERTAWASUL dengan AMAL KEBAIKAN yang mereka lakukan berupa berbuat baik kepada kedua orangtua, meninggalkan perbuatan zina, dan menunaikan hak orang lain, maka Allah mengabulkan doa mereka sehingga mereka dapat keluar dari goa karena sebab tawasul dalam doa yang mereka lakukan.

Ini menunjukkan diperbolehkannya sesorang BERTAWASUL dengan AMAL KEBAIKAN

Rasulullah bersabda bahwa AMAL KEBAIKAN (SEDEKAH) tidak selalu dalam bentuk harta

Rasulullah bersabda “Setiap kalimat tasbih adalah sedekah, setiap kalimat takbir adalah sedekah, setiap kalimat tahmid adalah sedekah, setiap kalimat tahlil adalah sedekah, amar ma’ruf nahi munkar adalah sedekah.(HR Muslim 1674)

AMAL KEBAIKAN berupa SEDEKAH (HADIAH) BACAAN seperti SEDEKAH (HADIAH) TAHLIL atau yang lebih dikenal dengan TAHLILAN pada hakikatnya TIDAK TERKAIT dengan PAHALA BACAAN untuk ahli kubur.

Berapa banyak pahala bacaan Al Qur’an yang harus dikirimkan kepada ahli kubur sehingga timbangannya lebih berat pahala daripada dosanya?

Begitupula pada hakikatnya kita masuk surga bukan karena pahala semata yang kita hadapkan kepada Allah namun karena keridhoan Allah Ta’ala.

Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda dalam sebuah hadits, “Lan yadhula ahadukumul jannata bi ‘amalihi”. Seseorang tidak akan masuk surga karena amalnya semata-mata. Kemudian salah seorang bertanya, “Wa laa anta yaa Rasuulallaahi?” Tidak pula engkau ya Rasulullah? Lalu Nabi shallallahu alaihi wasallam menjawab, “Wa laa anaa illa an yataghamada niiyallaahu bi rahmatih” Tidak juga aku, melainkan Allah mengkaruniai aku dengan rahmat-Nya

Jadi boleh jadi doa LEBIH MUSTAJAB sehingga meraih ridho Allah Ta’ala dan mengampuni dosa-dosa ahli kubur karena AMAL KEBAIKAN berupa SEDEKAH (HADIAH) BACAAN seperti SEDEKAH (HADIAH) TAHLIL atau yang lebih dikenal dengan TAHLILAN adalah ADAB dalam BERDOA kepada Allah Ta’ala

Sunnah Rasulullah agar doa inti yang kita panjatkan kepada Allah lebih mustajab maka kita disunnahkan diawali bertawasul dengan amal kebaikan berupa memuji Allah Subhanahu wa Ta’ala dan bertawasul dengan amal kebaikan berupa sholawat (menghadiahkan doa selamat bagi Rasulullah) sebelum doa inti kita panjatkan kepada Allah Azza wa Jalla

Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda “Jika salah seorang di antara kalian berdoa maka hendaknya dia memulainya dengan memuji dan menyanjung Allah, kemudian dia bershalawat kepada Nabi -shallallahu alaihi wasallam-, kemudian setelah itu baru dia berdoa sesukanya.” (HR Ahmad, Abu Dawud dan dishahihkan oleh At Tirmidzi)

Anas bin Malik r.a meriwayatkan bahwa Nabi Muhammad shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Tiada doa kecuali terdapat hijab di antaranya dengan di antara langit, hingga bershalawat atas Nabi shallallahu alaihi wasallam, maka apabila dibacakan shalawat Nabi, terbukalah hijab dan diterimalah doa tersebut, namun jika tidak demikian, kembalilah doa itu kepada pemohonnya“.

KH. Maimoen Zubair berwasiat tentang pentingnya wasilah (Tawassul). Beliau mengingatkan bahwa, “yang termasuk orang yang tidak punya adab terhadap Allah Subhanahu wa Ta’ala itu nak, orang yang selalu berdo’a langsung minta yang diinginkan tanpa memuji Allah dahulu, tanpa wasilah menggunakan salah satu Asma’ul Husnahnya Allah tanpa wasilah kepada baginda Nabi Muhammad shallallahu alaihi wasallam dahulu, sukanya langsung minta apa yang di inginkan”.

Contoh mereka yang melarang (mengharamkan) yang tidak dilarang (diharamkan) oleh Allah Ta’ala dan Rasulullah yakni mereka melarang (mengharamkan) TAHLILAN dengan menyalahgunakan sabda Rasulullah tentang tiga perkara yang terus menerus diperhitungkan pahalanya.

Redaksi haditsnya adalah inqatha’a ‘amaluhu pada umumnya diterjemahkan “terputus amalannya” namun maknanya adalah “terputus kesempatan beramalnya”

Jadi perbuatan atau amalan apapun ketika memasuki alam barzakh tidak diperhitungkan lagi kecuali tetap diperhitungkan amalan ketika masih hidup yakni sedekah jariyah, ilmu yang disampaikan dan bermanfaat bagi orang lain dan anak shalih yang selalu mendoakannya.

Redaksi haditsnya BUKAN inqata`a intifa`uhu artinya “terputus kesempatan memperoleh manfaat” dari amalan orang lain.

Amalan orang lain adalah milik orang yang mengamalkannya, namun jika ia ingin menghadiahkan kepada orang yang sudah mati, maka akan sampai pahala orang yang mengamalkan itu kepadanya.

Jadi walaupun ia telah mati, ia masih dapat menerima manfaat atau pahala dari orang yang mengamalkan.

Contoh masih memperoleh manfaat dari orang lain walaupun bukan keluarga.

Ketika Abu Qatadah radhiyallahu anhu menjamin akan membayar hutang seorang mayit sebanyak dua dinar. Setelah ia tunaikan utang itu Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda:

أَلآنَ بَرَدْتَ عَلَيْهِ جِلْدَتَهُ

“Sekarang engkau telah mendinginkan kulitnya”. (Musnad Ahmad 14009)

Contoh lainnya mereka yang melarang (mengharamkan) yang tidak dilarang (diharamkan) oleh Allah Ta’ala dan Rasulullah yakni mereka melarang (mengharamkan) TAHLILAN dengan MENYALAHGUNAKAN firman Allah Ta’ala, wa-an laysa lil-insaani illaa maa sa’aa, “dan bahwasanya seorang manusia tiada memperoleh selain apa yang telah diusahakannya” (QS An Najm [53]:39)

Ayat Al-Qur’an itu tidak menafikan adanya kemanfaatan untuk seseorang dengan sebab usaha orang lain.

Ayat itu hanya menafikan “kepemilikan seseorang terhadap usaha orang lain”.

Allah Subhanahu wa Ta’ala hanya mengabarkan bahwa “laa yamliku illa sa’yah (orang itu tidak akan memiliki kecuali apa yang diusahakan sendiri).

Adapun usaha orang lain, maka itu adalah milik bagi siapa yang mengusahakannya.

Jika dia mau, maka dia boleh memberikannya atau mensedekahkannya kepada orang lain dan begitupula jika ia mau, dia boleh menetapkannya untuk dirinya sendiri.

Jadi huruf “lam” pada lafadz “lil insane” itu adalah “lil istihqaq” yakni menunjukan arti “milik”.

Begitupula ayat (QS An Najm [53]:39) bukan tentang sedekah atau amal kebaikan yang diberikan kepada orang lain namun tentang dosa atau disiksanya seseorang sebab kejahatan orang lain, hal ini dapat diketahui dari ayat sebelumnya yakni

allaa taziru waaziratun wizra ukhraa, “(yaitu) bahwasanya seorang yang berdosa tidak akan memikul dosa orang lain” (QS An Najm [53]:38)

Jadi sesungguhnya dalam bentuk lengkapnya adalah

“(yaitu) bahwasanya seorang yang berdosa tidak akan memikul dosa orang lain dan bahwasanya seorang manusia tiada memperoleh selain apa yang telah diusahakannya dan bahwasanya usaha itu kelak akan diperlihat (kepadanya) Kemudian akan diberi balasan kepadanya dengan balasan yang paling sempurna. dan bahwasanya kepada Tuhanmulah kesudahan (segala sesuatu)” (QS An Najm [53]:38 s/d 42)

Potongan ayat atau potongan firman Allah Ta’ala lainnya yang sering disalahgunakan adalah (QS Yaa Siin [36]:54)

Berikut kutipan contoh penjelasan ulama dalam syarah thahawiyah hal. 456 bahwa

**** awal kutipan ****
“ Tidaklah mereka diberi balasan kecuali terhadap apa yang mereka kerjakan ” (QS Yaa Siin [36]:54)

Ayat ini tidak menafikan hadiah pahala terhadap orang lain karena pangkal ayat tersebut adalah : “Pada hari dimana seseorang tidak akan didhalimi sedikitpun dan seseorang tidak akan diberi balasan kecuali terhadap apa yang mereka kerjakan ”

Jadi dengan memperhatikan konteks ayat tersebut dapatlah dipahami bahwa yang dinafikan itu adalah disiksanya seseorang sebab kejahatan orang lain, bukan diberikannya pahala terhadap seseorang dengan sebab amal kebaikan orang lain.
***** akhir kutipan *****

Contoh lainnya mereka yang melarang (mengharamkan) yang tidak dilarang (diharamkan) oleh Allah Ta’ala dan Rasulullah yakni mereka melarang (mengharamkan) TAHLILAN dengan MENYALAHGUNAKAN qaul masyhur Imam Syafi’i bahwa “bacaan Al Qur’an tidak sampai kepada yang wafat”.

Mereka TIDAK MENYAMPAIKAN PENJELASANNYA dan mereka TIDAK BERHAK pula menyampaikan penjelasan terhadap qoul Imam Syafi’i SEHINGGA dapat TERJERUMUS MEMFITNAH Imam Syafi’i dan menyesatkan orang banyak.

Padahal yang dimaksud tidak sampai jika tidak terpenuhi salah satu syarat dari tiga syarat sebagaimana penjelasan dari para ulama mazhab Syafi’i sebagai berikut,

Syaikhul Islam al-Imam Zakariyya al-Anshari dalam Fathul Wahab menyampaikan penjelasan dari Imam An Nawawi :

“Dan apa yang dikatakan sebagai qaul masyhur dibawa atas pengertian apabila pembacaannya tidak di hadapan mayyit, tidak meniatkan pahala bacaannya untuknya atau meniatkannya, dan tidak mendo’akannya bahkan Imam as-Subkiy berkata ; “yang menunjukkan atas hal itu (sampainya pahala) adalah hadits berdasarkan istinbath bahwa sebagian al-Qur’an apabila diqashadkan (ditujukan) dengan bacaannya akan bermanfaat bagi mayyit dan diantara yang demikian, sungguh telah di tuturkannya didalam syarah ar-Raudlah”. (Fathul Wahab bisyarhi Minhajit Thullab lil-Imam Zakariyya al-Anshari asy-Syafi’i [2/23]).

Syaikhul Islam al-Imam Ibnu Hajar al-Haitami dalam Tuhfatul Muhtaj :

“Sesungguhnya pendapat masyhur adalah diatas pengertian apabila pembacaan bukan dihadapan mayyit (hadlirnya mayyit), pembacanya tidak meniatkan pahala bacaannya untuk mayyit atau meniatkannya, dan tidak mendo’akannya untuk mayyit” (Tuhfatul Muhtaj fiy Syarhi al-Minhaj lil-Imam Ibn Hajar al-Haitami [7/74].)

Jadi kesimpulannya Al Imam Syafi’i ~rahimahullah mensyaratkan sampai pahala bacaan jika memenuhi salah satu dari syarat-syarat berikut

1. Pembacaan dihadapan mayyit (hadlirnya mayyit),
2. Pembacanya meniatkan pahala bacaannya untuk mayyit
3. Pembacanya mendo’akannya untuk mayyit.

Berkata Muhammad bin ahmad almarwazi : “ Saya mendengar Imam Ahmad bin Hanbal berkata : “Jika kamu masuk ke pekuburan, maka bacalah Fatihatul kitab, al-ikhlas, al falaq dan an-nas dan jadikanlah pahalanya untuk para penghuni kubur, maka sesungguhnya pahala itu sampai kepada mereka. Tapi yang lebih baik adalah agar sipembaca itu berdoa sesudah selesai dengan: “ Ya Allah, sampaikanlah pahala ayat yang telah aku baca ini kepada si fulan …” (Hujjatu Ahlis sunnah waljamaah hal. 15)

Latar belakang Al Imam Syafi’i ~rahimahullah mengatakan bahwa bacaan Al Qur’an tidak sampai kepada yang wafat, karena orang-orang kaya yang di masa itu jauh hari sebelum mereka wafat, mereka akan membayar orang-orang agar jika ia telah wafat mereka menghatamkan Al Qur’an berkali-kali dan pahalanya untuknya, maka Al Imam Syafi’i ~rahimahullah mengatakan bahwa pahala bacaan Al Qur’an tidak bisa sampai kepada yang wafat.

Syarat sampai pahala bacaan tergantung niat (hati) jika niat tidak lurus seperti niat “jual-beli” maka pahala bacaan tidak akan sampai. Dituntut keikhlasan bagi setiap yang bersedekah baik dalam bentuk harta maupun dalam bentuk bacaan Al Qur’an.

Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda, “Allah tidak memandang rupa dan harta kamu tetapi Dia memandang hati dan amalan kamu.” (HR Muslim 4651).

Berkata Syaikh Ali bin Muhammad bin Abil lz : “ Adapun Membaca Al-qur’an dan menghadiahkan pahalanya kepada orang yang mati secara sukarela dan tanpa upah, maka pahalanya akan sampai kepadanya sebagaimana sampainya pahala puasa dan haji ”. (Syarah aqidah Thahawiyah hal. 457).

Nabi shallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

اقرءوا يس على موتاكم

“Bacalah surat Yaasiin untuk orang yang mati di antara kamu.” (Riwayat Imam Abu Dawud; kitab Sunan Abu Dawud, Juz III, halaman 191)

Al-Faqih al-Hanbali al-Ushuli al-Mutqin al-‘allamah Qadhi qudhah, Ibnu an-Najjar berkomentar :

الحديث يَشْمَلُ الْمُحْتَضَرَ وَالْمَيِّتَ قَبْلَ الدَّفْنِ وَبَعْدَهُ , فَبَعْدَ الْمَوْتِ حَقِيقَةٌ , وَقَبْلَهُ مَجَازٌ

“ Hadits tersebut mencangkup orang yang sekarat maupun sudah wafat, baik sebelum dimakamkan atau pun sudah dimakamkan. Setelah dimakamkan, maka itu adalah makna hadits secara hakikat (dhahir) dan sebelum dimakamkan, maka itu makna hadits secara majaz “ (Mukhtashar at-Tahrir syarh al-Kaukab al-Munir : 3/193)

Sayyiduna Ma’aqal ibn Yassaar radiyallau ‘anhu meriwayatkan bahwa Rasulullah sallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Yasin adalah kalbu dari Al Quran. Tak seorangpun yang membacanya dengan niat menginginkan akhirat melainkan Allah akan mengampuninya. Bacalah atas orang-orang yang wafat di antaramu.” (Sunan Abu Dawud).

Imam Haakim mengklasifikasikan hadits ini sebagai sahih di Mustadrak al-Haakim juz 1, halaman 565; lihat juga at-Targhiib juz 2 halaman 376.

Imam Nawawi berkata

قَالَ الشَّافِعِيُّ رَحِمهُ اللَّه: ويُسْتَحَبُّ أنْ يُقرَأَ عِنْدَهُ شيءٌ مِنَ القُرآنًِ

“Imam asy-Syafi’i rahimahullah berkata : “disunnahkan agar membaca sesuatu dari al-Qur’an disisi quburnya” (Riyadlush Shalihin [1/295] lil-Imam an-Nawawi ; Dalilul Falihin [6/426] li-Imam Ibnu ‘Allan ; al-Hawi al-Kabir fiy Fiqh Madzhab asy-Syafi’i (Syarah Mukhtashar Muzanni) [3/26] lil-Imam al-Mawardi dan lainnya.

قال الشافعى : وأحب لو قرئ عند القبر ودعى للميت

Imam Syafi’i mengatakan “aku menyukai sendainya dibacakan al-Qur’an disamping qubur dan dibacakan do’a untuk mayyit” ( Ma’rifatus Sunani wal Atsar [7743] lil-Imam al-Muhaddits al-Baihaqi.)

Abdul Haq berkata : telah diriwayatkan bahwa Abdullah bin ‘Umar –radliyallahu ‘anhumaa- memerintahkan agar dibacakan surah al-Baqarah disisi quburnya dan diantara yang meriwayatkan demikian adalah al-Mu’alla bin Abdurrahman

Adapula mereka yang melarang (mengharamkan) yang tidak dilarang (diharamkan) oleh Allah Ta’ala yakni mereka melarang (mengharamkan) TAHLILAN dengan POTONGAN perkataan atau pendapat ulama terdahulu seperti

Berkata Shahibul Mughniy :

فأما صنع أهل الميت طعاما للناس فمكروه لأن فيه زيادة على مصيبتهم وشغلا ل
إلى شغلهم وتشبها بصنع أهل الجاهلية

Bila keluarga mayyit membuat makanan untuk orang orang, maka makruh, karena hal itu menambah atas musibah mereka dan menyibukkan, dan meniru–niru perbuatan jahiliyah. (Almughniy Juz 2 hal 215)

Mereka kembali memotong ucapan Shahibul Mughniy sampai disini, padahal ada kelanjutannya

Lalu Shohibul Mughniy menjelaskan kemudian :

وإن دعت الحاجة إلى ذلك جاز فإنه ربما جاءهم من يحضر ميتهم من القرى والأماكن
البعيدة ويبيت عندهم ولا يمكنهم إلا أن يضيفوه

Bila mereka melakukannya karena ada sebab atau hajat, maka hal itu diperbolehkan, karena barangkali diantara yang hadir mayyit mereka ada yang berdatangan dari pedesaan, dan tempat – tempat yang jauh, dan menginap dirumah mereka, maka tak bisa tidak terkecuali mereka mesti dijamu (Almughniy Juz 2 hal 215).

Contoh lainnya mereka yang melarang (mengharamkan) yang tidak dilarang (diharamkan) oleh Allah Ta’ala yakni mereka melarang (mengharamkan) TAHLILAN dengan menyampaikan perkataan ulama yang merupakan sebuah JAWABAN dan mereka MENYEMBUNYIKAN atau tidak menyampaikan bagian PERTANYAANNYA.

Berikut Jawabannya,

“Iya.., apa yang dilakukan oleh manusia dari berkumpul ditempat ahlu (keluarga) mayyit dan menghidangkan makanan, itu bagian dari bid’ah munkarah, yang diberi pahala bagi yang mencegahnya dan menyuruhnya. Allah akan mengukuhkan dengannya kaidah-kaidah agama dan mendorong Islam serta umat Islam” Kitab I’anatuth Thalibin, Al-‘Allamah Asy-Syekh Al-Imam Abi Bakr Ibnu As-Sayyid Muhammad Syatha Ad-Dimyathiy Asy-Syafi’i.

Padahal pertanyaannya adalah tentang sikap kebiasaan pentakziyah yang menunggu disajikan makanan sehingga keluarga ahli kubur menyediakan makanan dengan terpaksa atau merasa terbebani.

Berikut kutipan pertanyaannya,

العرف بأنهم ينتظرون الطعام، ومن غلبة الحياء على أهل الميت يتكلفون التكلف التام، ويهيئون لهم أطعمة عديدة، ويحضرونها لهم بالمشقة الشديدة.

lalu terjadi kebiasaan bahwa mereka (pentakziyah) itu menunggu (disajikan) makanan dan karena rasa sangat malu telah meliputi ahlu (keluarga mayyit) maka mereka membebani diri dengan beban yang sempurna (التكلف التام), dan (kemudian keluarga mayyit) menyediakan makanan yang banyak (untuk pentakziyah) dan menghadirkannya kepada mereka dengan rasa kasihan.

Contoh lainnya mereka melarang (mengharamkan) yang tidak dilarang (diharamkan) oleh Allah Ta’ala dan Rasulullah yakni mereka melarang (mengharamkan) tahlilan dengan mengutip hasil muktamar I Nahdlatul Ulama (NU) Keputusan masalah Dinniyah No. 18/13 Rabi’uts Tasaani 1345 H / 21 Oktober 1926 Di Surabaya

******* awal kutipan ******
Keluarga Mayit Menyediakan Makanan Kepada Penta’ziyah

Soal : Bagaimana hukumnya keluarga mayat menyediakan makanan untuk hidangan kepada mereka yang datang berta’ziyah pada hari wafatnya atau hari-hari berikutnya, dengan maksud bersedekah untuk mayat tersebut? Apakah ia (keluarga) memperoleh pahala sedekah tersebut?

Jawab : Menyediakan makanan pada hari wafat atau hari ketiga atau hari ketujuh itu hukumnya makruh, apabila harus dengan cara berkumpul bersama-sama dan pada hari-hari tertentu, sedang hukum makruh tersebut TIDAK MENGHILANGKAN pahala sedekah itu.
****** akhir kutipan *******

Jelas dalam keputusan tersebut bahwa jamuan untuk keramaian hukumnya makruh namun tidak menghilangkan pahala sedekah.

Perkara yang dimakruhkan oleh para ulama bukan SEDEKAH TAHLIL atau TAHLILAN namun “jamuan makan untuk keramaian” yakni jamuan makan demi mengundang orang berkumpul sekedar keramaian, untuk menghilangkan kesedihan.

Bahkan tradisi lama, bila ada orang meninggal, maka sanak famili dan tetangga berkumpul di rumah duka.

Mereka bukannya mendoakan mayit tetapi begadang dengan bermain judi atau mabuk-mabukan atau ke-riang-an lainnya.

Begitupula dimasa jahiliyah ada pula jamuan makan untuk perkumpulan ratapan dan tangisan.

Inilah yang dimaksud perkataan Imam Syafi’i dalam Al Umm (I/318)

”Aku benci al ma’tam yaitu berkumpul-kumpul di rumah ahli mayit meskipun tidak ada tangisan, karena sesungguhnya yang demikian itu akan memperbaharui kesedihan.”

atau

وَاَكْرَهُ الْمَاْتَمَ وَهِيَ الْجَمَاعَةُ وَاِنْ لَمْ يَكُنْ لَهُمْ بُكَاءٌ.

“Dan aku telah memakruhkan al ma’tam, yiaitu berkumpul di rumah (si Mati) walaupun bukan untuk tangisan (ratapan)”. (Al-Umm. Juz 1. Hlm. 248) .

Makna sebenarnya ma’tam adalah perkumpulan ratapan dan tangisan.

Orang orang Jahiliyah jika ada yang mati di keluarga mereka maka mereka membayar para “penangis” untuk meratap dirumah mereka, semacam adat istiadat mereka seperti itu, memang sudah ada orangnya yang bertugas dan dibayar.

Perkumpulan ratapan dan tangisan yang tidak disukai oleh Imam Syafii, dan tentunya Imam Syafii mengetahui bahwa hal itu buruk dan dimasa Beliau masih ada sisa sisanya yaitu tidak meratap dan menjerit-menjerit, tapi disebut perkumpulan duka,

namun Beliau tak menjatuhkan hukum haram, akan tetapi makruh, karena ma’tam yang ada dimasa beliau sudah jauh berbeda dengan ma’tam yang dimasa Jahiliyah,

karena jika ma’tam yang dimasa jahiliyah sudah jelas jelas haram, dan Beliau melihat dimasa beliau masih ada sisa sisa perkumpulan tangisan dirumah duka, maka beliau memakruhkannya.

Jadi jelaslah bahwa perkara yang dimakruhkan oleh para ulama bukan SEDEKAH TAHLIL atau TAHLILAN tapi “Ittikhadzuddhiyafah” yakni “jamuan makan sekedar untuk keramaian” seperti untuk menghilangkan kesedihan.

Sedangkan jamuan makan karena ada sebab atau hajat seperti sedekah tahlil (tahlilan) atas nama ahli kubur hukum asalnya adalah mubah (boleh)

Di dalam kitab Hasiyatul Jamal ‘alaa Syarh al-Minhaj (karangan Al-‘Allamah asy-Syekh Sulaiman al-Jamal) menetapkan bahwa jamuan makan untuk keramaian hukum asalnya makruh

بل كل ذلك حرام إن كان من مال محجور، أو من ميت عليه دين، أو يترتب عليه ضرر، أو نحو ذلك.

menjadi haram jika (dibiayai) dari harta yang terlarang (haram), atau dari (harta) mayyit yang memiliki (tanggungan) hutang atau (dari harta) yang bisa menimbulkan bahaya atasnya, atau yang lain sebagainya”

Imam Ibnu Abidin Al-Hanafy menjelaskan “Ittikhadzuddhiyafah” hukumnya makruh. Itikhadzuddhiyafah maksudnya mengadakan perjamuan. Inilah yang dikatakan makruh oleh Imam Ibn Abidin (Beliau tak mengatakannya haram) , kebiasaan ini sering dilakukan dimasa jahiliyah jika ada yang wafat, maksudnya menghibur keluarga mayyit dengan mengundang orang ramai dan membuat jamuan besar, itu selalu dilakukan dimasa jahiliyah untuk melupakan kesedihan.

Imam Nawawi menjelaskan “Ittikhadzuddhiyafah” yakni jamuan makan untuk keramaian hukumnya Ghairu Mustahibbah berarti bukan hal yang disukai (bukan haram)

Imam Ad-Dasuqi Al-Maliki berkata berkumpulnya orang dalam hidangan makan makan dirumah mayit hukumnya bid’ah yang makruh (bukan haram tentunya), dan maksudnya pun sama dengan ucapan diatas, yaitu mengumpulkan orang dengan jamuan makanan untuk keramaian, melupakan kesedihan, namun beliau mengatakannya makruh, tidak sampai mengharamkannya.

Syaikh An-Nawawi Al-Banteni rahimahullah menjelaskan adat istiadat baru berupa “Wahsyah” yaitu adat berkumpul di malam pertama saat mayyit wafat dengan hidangan makanan macam – macam, hal ini makruh, (bukan haram).

Wassalam

Zon di Jonggol, Kabupaten Bogor 16830

Read Full Post »

Older Posts »